Anda di halaman 1dari 7

64

Laporan Praktikum Acara VI


Pembibitan Indigofera

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Pembibitan tanaman merupakan proses penciptaan calon tanaman baru (bibit)
melalui biji/benih. Biji yang cocok untuk pembibitan ialah biji yang bulat, permukaaan
halus, kadar air rendah, bebas hama penyakit dan lain sebagainya. Pembibitan dapat
dilakukan melalui berbagai media. Media yang sering digunakan dalam pembibitan ialah
tanah, sekam padi maupun rockwoll. Kelembapan yang tinggi dalam media dapat
mendorong biji untuk berkecambah.
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) adalah suatu senyawa organik bukan hara yang
berfungsi mempengaruhi proses fisiologis pada tanaman. Tanaman pada dasarnya telah
memproduksi sendiri hormon (endogen) untuk pertumbuhannya secara alami tetapi
terkadang tidak maksimal. Sehingga dibutuhkan ZPT yang dibuat secara organik untuk
memicu pertumbuhan tanaman dari luar (exogen). ZPT terdiri dari berbagai macam.
Fungsi umum dari ZPT adalah untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.
Indigofera merupakan leguminosa dengan spesies dan kegunaan sangat beragam.
Masyarakat industry pakaian mengenal Indigofera sebagai tanaman sumber pewarna
alami yang sudah digunakan turun temurun. Spesies Indigofera zollingeriana telah
banyak digunakan karena kelebihannya secara agronomis maupun nutrisi menjadikannya
salah satu pilihan sumber pakan berkualitas. Pengetahuan agronomi tanaman Indigofera
masih perlu disosialisaikan kepada masyarakat agar penggunaan hijauannya lebih luas.
Beberapa informasi yang berhasil diperoleh dari penelitian selama ini menunjukan
bahwa Indigofera secara agronomis mudah untuk dikembangkan secara generatif dan
memiliki kemampuan produksi hijauan yang tinggi serta regrowing yang cepat, selain
itu memiliki kemampuan adaptasi kekeringan.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakannya praktikum Pembibitan Indigofera adalah untuk
mengetahui pengarah konsentrasi ZPT terhadap pertumbuhan indigofera.
B. Tinjauan Pustaka
Indigofera sp adalah tanaman leguminosa pohon tropis yang memiliki kandungan
nutrisi yang baik untuk ternak ruminansia. Indigofera dahulu dikenal dengan nama tanaman
tarum (nila) karena mengandung zat pewarna alami biru nila, memiliki sekitar 700 spesies

64
65

lebih, berasal dari daerah tropis Afrika, Asia, Australia, Amerika Utara dan Selatan. Sekitar
280 spesies tanaman nila merupakan tumbuhan asli Afrika dan lebih dari 40 spesies asli
berasal dari Asia Tenggara (Tjelele 2016) .
Indigofera zollingeriana adalah legum yang dapat digunakan sebagai pakan ternak
dan relatif baru dikembangkan di Indonesia. Tanaman ini memiliki kandungan protein kasar
yang tinggi setara dengan alfalfa (25-31%), kandungan mineral yang tinggi ideal bagi ternak
perah, struktur serat yang baik dan nilai kecernaan yang tinggi bagi ternak ruminansia.
Indigofera sp. tergolong tanaman yang baik sebagai sumber bahan baku pakan berkualitas,
namun peternak belum banyak memanfaatkan hijauan tanaman ini karena masih terbatas
ketersediaannya akibat belum banyak diproduksi (Abdullah et al. 2010).
Indigofera memiliki perawakan perdu, perdu kecil, terna (berkayu di pangkal
batangnya) atau pohon kecil dengan percabangan yang tegak atau memencar, tertutup
indumentum berupa bulu bercabang. Daun berseling, biasanya bersirip ganjil, kadang
beranak daun tiga atau tunggal. Bunga-bunga tersusun dalam suatu tandan di ketiak daun,
bertangkai, daun kelopak berbentuk genta bergerigi lima, daun mahkota berbentuk kupu-
kupu. Buah umumnya bertipe polong, variasi bentu buah menjadi pembeda karakter setiap
jenis, berisi 1-20 biji yang berbentuk bulat-menjorong (Muzzazinah 2016).
Indigofera sp. sangat balk dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak dan
mengandung protein kasar 27,9%, serat kasar 15,25%, kalsium 0,22% dan fosfor 0,18%.
Leguminosa Indigofera sp. memiliki kandungan protein yang tinggi, toleran terhadap musim
kering, genangan air dan tahan terhadap salinitas. Dengan kandungan protein yang tinggi
(26 - 31%) disertai kandungan serat yang relatif rendah dan tingkat kecernaan yang tinggi
(77%) tanaman ini sangat baik sebagai sumber hijauan baik sebagai pakan dasar maupun
sebagai pakan suplemen sumber protein dan energi, terlebih untuk ternak dalam status
produksi tinggi (Iaktasi). Keunggulan lain tanaman ini adalah kandungan taninnya sangat
rendah berkisar antara 0,6 - 1,4 ppm (jauh di bawah taraf yang dapat menimbulkan sifat anti
nutrisi). Rendahnya kandungan tanin ini juga berdampak positif terhadap palatabilitasnya
(disukai ternak) (Hassen et al. 2017)
Budidaya Indigofera meliputi 4 langkah: pembenihan, pesemaian, persiapan lahan,
pemeliharaan dan pemanenan. Dalam pembenihan dipilih biji dari tanaman yang sudah tua
berumur sekitar 12 bulan dan belum pernah dipanen sama sekali. Buah dijemur hingga
kering dan diremas untuk dipisahkan dengan bijinya, setelah itu biji yang diambil dijemur
selama 2 hari. Biji dihindarkan dari kelembapan sehingga perlu dikering anginkan selama
24 jam, selanjutnya siap disimpan dalam bentuk kemasan yang rapat dan dapat dibuka
66

kembali saat hendak disemai. Langkah yang dilakukan dalam persemaian antara lain adalah
menyiapkan media dalam polibag atau tray semai dengan pupuk organik sebagai pupuk
dasarnya. Tahap kedua adalah merendam benih di dalam air untuk memisahkan benih yang
baik dan tidak baik, dimana benih yang baik adalah benih yang tenggelam di dasar. Tahap
ketiga adalah menjemur benih selama 2 hari. Benih yang sudah dijemur 2 hari diangin-
anginkan semalam dan dapat disemaikan pada pagi harinya. Benih yang digunakan
sebanyak dua butir untuk satu lubang tanam. Pemupukan selama dalam pesemaian tidak
boleh lebih dari 1,5 gram pupuk makro, sedangkan penyiraman dapat dilakukan sebelum
jam enam pagi dan setengah lima pada sore harinya. Bibit siap dipindah tanam setelah
berumur 30 hari setelah semai (Muzazzinah 2014).
Budidaya Indigofera dapat dilakukan secara generatif dengan biji dan vegetatif
melalui stek batang. Tanaman dapat menghasilkan biji setiap saat, tidak seperti halnya pada
jenis leguminosa pohon lain yang umumnya hanya berbunga dan berbuah satu musim sekali
yaitu pada musim kemarau. Penanaman dengan biji dilakukan melalui beberapa tahap,
antara lain perendaman biji dengan air dingin selama satu malam, pengecambahan selama
satu bulan, pemindahan ke polybag dan penanaman. Penanaman dapat dilakukan secara
monokultur, tanaman sela (intercroping), tanaman campuran dengan tanaman pangan (alley
croping) dan tanaman pagar (hedgrow). Jarak tanam yang direkomendasikan untuk produksi
hijauan pakan dengan pola tanam monokultur yaitu 3x3 m dan dipanen setiap 90 hari,
sehingga tinggi tanaman dipertahankan 1,5 m dari tanah. Pola tanam intercroping dan alley
croping, jarak tanam yang direkomendasikan untuk leguminosa pohon adalah 4-5 m dengan
tinggi tanaman dipertahankan 1,5 m, guna menghindari terjadinya penaungan (shading)
terhadap tanaman utama. Perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan dengan
stek cabang dari yang paling baik pertumbuhannya, terutama pada lahan yang sudah
berproduksi. Pemotongan perlu dilakukan dengan pisau yang tajam untuk menghindari
memar/sobek sepanjang ±30 cm. Stek - stek tersebut tidak segera ditanam tetapi diikat dan
dibiarkan selama satu sampai tiga hari di tempat teduh/dingin dengan ujung stek diletakkan
di atas, setelah itu stek dapat ditanam di lapangan (Herdiawan dan Krisnan 2014).
Kadar air benih Indigofera untuk penyimpanan bisa mencapai 8-9%. Benih normal I.
zollingeriana berkecambah pada umur 4 hari dengan persentase perkecambahan (daya
kecambah) 28-35% jika benih pernah mengalami penyimpanan selama 2 bulan. Pada
umumnya daya kecambah yang rendah disebabkan oleh kulit benih yang tebal dan invasi
jamur pada saat perkecambahan. Pengalaman di laboratorium Agrostologi Fakultas
Peternakan IPB menunjukkan pemberian bahan 66egetat (pupuk 66egetat) pada media
67

penyemaian meningkatkan daya kecambah menjadi 67%-74%. Perlakuan benih dengan


skarifikasi pemanasan kering dari 30Oc menjadi 45Oc menurunkan daya kecambah dari
58% menjadi 29% pada pengamatan umur perkecambahan 7 hari. Benih I. zollingeriana
tergolong benih dengan sifat fotoblastik 67egetati, karena benih yang berkecambah pada
germinator gelap lebih banyak dibandingkan germinator terang (44% - 57% vs 24% - 29%;
P<0,05). Karakteristik fisiologi lainnya dari benih I. zollingeriana adalah menurunnya daya
kecambah benih jika mengalami penyimpanan dan penundaan waktu berkecambah.
Penyimpanan lebih dari 4 minggu menurunkan daya kecambah benih hingga 24% (Abdullah
2014).
Adanya salah satu zat pengatur tumbuh tertentu dapat meningkatkan daya aktivitas
zat pengatur tumbuh lainnya. Jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang tepat untuk
masing-masing tanaman tidak sama karena tergantung pada 67egetati serta kondisi fisiologi
jaringan tanaman. Mendapatkan hasil yang optimum maka penggunaan media dasar dan zat
pengatur tumbuh yang tepat merupakan faktor yang penting (Lestari 2011).
Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman adalah
dengan penggunaan pupuk majemuk baik terdiri atas gabungan beberapa unsur makro saja,
kombinasi makro-mikro, multi mikro, hara mikro dan 67egetat, maupun zat pengatur
tumbuh telah banyak diaplikasikan. Metode aplikasinya juga beragam termasuk yang
diberikan melalui daun (Irfan 2013). Korelasi tumbuh tanaman adalah pengaruh suatu
bagian tanaman tertentu terhadap bagian lain dari tanaman. Korelasi tumbuh tanaman
dipengaruhi oleh ketersediaan serta pembagian makanan pada bagian-bagian lain tanaman,
penggunaaan air atau zat hara yang lebih banyak pada suatu bagian tanaman, adanya zat
pengatur tumbuh, atau adanya pembentukan zat-zat tertentu dalam tanaman (Darmawan dan
Baharsjah, 2010).
Peranan zat pengatur tumbuh antara lain mengatur kecepatan pertumbuhan dari
masing-masing jaringan dan mengintegrasikan bagian-bagian tersebut guna menghasilkan
bentuk yang kita kenal sebagai tanaman. Aktivitas zat pengatur tumbuh di dalam
pertumbuhan tergantung dari jenis, struktur kimia, konsentrasi, vegetati tanaman serta fase
fisiologi tanaman. Pemberian zat pengatur tumbuh bertujuan untuk mempercepat proses
fisiologi pada tanaman yang memungkinkan tersedianya bahan pembentuk organ
67egetative, sehingga dapat meningkatkan zat hara yang tersedia (Mahardika et al. 2013).
68

C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara 6 Pembibitan Indigofera dilaksanakan pada hari Selasa, 9
Oktober 2018 pukul 13.00-15.00 WIB di Laboratorium Ekologi dan Manajemen
Produksi Tanaman dan Rumah Kaca C, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Gelas aqua
2) Cetok
3) Penggaris
4) Alat tulis
b. Bahan
1) ZPT dengan berbagai konsetrasi
2) Benih indigofera (Indigofera sp.)
3) Campuran tanah dan pupuk (1:1)
3. Cara Kerja
a. Rendam benih indigofera dalam konsentrasi ZPT (0, 100, 200, 300, 400) ppm.
b. Isi gelas aqua dengan media tanah+pupuk.
c. Tanam benih indigofera dalam media.
69

4. Pengamatan yang dilakukan


Pengamatan yang dilakukan pada acara Pembibitan Indigofera antara lain
a. Saat muncul tunas (HST),
b. Tinggi tanaman,
c. Jumlah daun,
d. Jumlah benih yang tumbuh.
70

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah L. 2014. Prospektif agronomi dan ekofisiologi Indigofera zollingeriana sebagai


tanaman penghasil hijauan pakan berkualitas tinggi. J Pastura 3(2): 79-83.
Abdullah L., Nahrowi, and Suharlina, 2010. Herbage yield and quality of two vegetative parts
of Indigofera at different time of first regrowth defoliation. Med. Pet., 1(33): 44-49.
Darmawan J. dan JS Baharsjah. 2010. Dasar-dasar fisiologi tanaman. Jakarta: (ID) SITC.
Hassen A. Van Niekerk and TJ Tjelele. 2017. Influence of season/year and species on chemical
composition and in vitro digestibility of five Indigofera accessions. Anim. Feed Sci.
Technol. 136: 312-322.
Herdiawan I dan Krisnan R. 2014. Produktivitas dan pemanfaatan tanaman leguminosa pohon
Indigofera zollingeriana pada lahan kering. J Wartazoa 24(2) : 75-82.
Irfan Mokhamad. 2013. Response of Shallot (Allium ascalonicum L.) to plant regulator and
leaf fertilizer. J Agroteknologi 3 (2):35-40.
Lestari Endang G. 2011. Peranan zat pengatur tumbuh dalam perbanyakan tanaman melalui
kultur jaringan. J AgroBiogen 7(1):63-68
Mahardika IKD, IN Rai, dan I Wiratmaja. 2013. Pengaruh komposisi campuran bahan media
tanaman konsentrasi iba terhadap pertumbuhan bibit ngumpen Bali (Mangiforea caesia
jack). Program Studi Agrokoteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Uayana. Bali.
Muzzazinah. 2014. Indigofera: “Kini dan Nanti”. J Bioedukasi 7(2): 23-26.
Muzzazinah. 2016. Ethnobotany of indigofera in Indonesia. J Bioedukasi
9(2): 7-13.
Tjelele TJ. 2016. Dry Matter production, intake and nutritive value of certain Indigofera
spesies. Thesis. University of Pretoria.