Anda di halaman 1dari 24

22

III. PELAKSANAAN PKL

A. Semprot Piringan,Pasar pikul dan TPH

1. Maksud dan Tujuan

a. Semprot piringan pasar pikul dan TPH merupakan proses pengendalian gulma

yang ada di piringan pasar pikul dan TPHsecara khemis

b. Agar piringan, pasar pikul dan TPH bersih dari gulma, sehingga memudahkan

kegiatan lainnya.

c. Mempermudah dalam kegiatan panen serta perawatan

2. Waktu dan Tempat

Aktivitas semprot dilakukan pada tanggal 22 Mei 2018, di blok H3 divisi 2

3. Alat dan Bahan

a. Alat : Knap sack sprayer (RB 15), jirigen, corong, dan APD

b. Bahan : Herbisida yang akan digunakan, air bersih.

4. Cara Kerja

a. Memakai APD semprot.

b. Menyiapkan air bersih yang akan digunakan untuk campuran herbisida.

c. Membuat larutan dengan cara mencampur bahan ke dalam knapsack Inter.

d. Melangsir larutan ke lapangan.

e. Mandor membagikan ancak kepada karyawan.

f. Memasang amaran larangan melintas.

g. Melakukan penyemprotan piringan dan pasar pikul.


23

5. Hasil Pelaksanaan

Gambar 2. Kegiatan semprot Gambar 3. Gulma sbelum disemprot

Gambar 4. Gulma sesudah disemprot


6. Pembahasan

Pengendalian gulma secara kimia dilakukan dengan menyemprot larutan

herbisida pada gulma. Gulma di piringan dikendalikan untuk mengurangi

persaingan dalam mendapatkan nutrisi. Gulma di pasar pikul dikendalikan

untuk menjaga kelancaran kegiatan panen dan kutip brondol. Gulma di TPH

dikendalikan guna memperlancar kegiatan pengangkutan TBS.

Kegiatan semprot dilakukan dengan tiga rotasi dalam satu tahun. Pada

rotasi kedua menggunakan bahan aktif Rolifos (amonium glufosinat) dengan

kanpsack sprayer. Dilakukan dengan pengaplikasian murni, artinya tanpa

capuran herbisida lain. Konsentrasi yang digunakan untuk satu kep inter adalah

330 cc/kep. Gulma sasaran adalah jenis gulma berdaun lebar seperti Ageratum

conyzoides dan Borreria alata serta gulma berdaun sempit seperti Axonopus
24

compressus. Kelengkapan APD harus dipastikan pada kegiatan semprot. Selain

itu, pengawasan yang baik agar penyemprotan gulma efektif.

B. Rawat Jalan Manual

1. Maksud dan Tujuan

Untuk memperbaiki jalan yang rusak agar dalam trapontrasi menjadi lancar.

2. Waktu dan Tempat :

Rawat jalan manual dilaksanakan pada tanggal 13 juni 2018 di CR antara blok

H6 dan H7.

3. Alat dan Bahan

a. Alat : bodem, cangkul, dan trailer.

b. Bahan : tanah atau batu.

4. Cara Kerja

a. Menyiapkan APD dan alat berupa cangkul.

b. Mengambil tanah atau batu untuk menimbun jalan-jalan yang berlubang.

c. Jalan yang berlubang ditimbun dengan menggunakan batu atau tanah.

d. Jalan yang bergelombang diratakan dengan menggunakan cangkul.

5. Hasil Pelaksanaan

Gambar 5. Pengambilan batu Gambar 6. Penimbunan batu


25

Gambar 7. Pemecahan batu

6. Pembahasan

Rusaknya jalan dapat disebabkan karena sering dilalui kendaraan (terutama

truk transport dengan beban TBS lebih dari tujuh ton) sehingga jalan tidak

mampu menopang bobot transportasi yang berlebi, kandungan bahan organik,

tumbuhnya gulma disepanjang jalan, tergenang oleh air, laterit terbawa oleh

aliran air dan lain sebagainya. Rawat jalan secara manual dilakukan untuk

memperbaiki jalan yang telah rusak, seperti jalan yang berlubang dan jalan

yang bergelombang. Jalan-jalan yang berlubang diisi dengan batu agar

strukturnya menjadi lebih kuat kemudian ditimbun lagi dengan menggunakan

tanah agar jalan menjadi rata.apabila terdapat batu yang besar yang sulit dibawa

maka batu dipecah menggunakan bodem atau palu besar. Untuk jalan yang

bergelombang diratakan dengan menggunakan cangkul.

C. Garuk Piringan

1. Maksud dan Tujuan

a. Garuk piringan merupakan kegiatan pembersihan piringan dari sampah dan

juga pembersihan gulma.

b. Tujuannya yaitu agar mempermudah dalam kegiatan panen dan perawatan


26

2. Waktu dan Tempat

Kegiatan garuk piringan ini dilakukan pada 12 september 2018, di blok I6,

divisi 2.

3. Alat dan Bahan : garukan dan APD

4. Cara Kerja

a. Memakai APD dan menyiapkan alat.

b. Menggaruk piringan dengan luas 1,5 – 2 meter.

c. Membuang hasil garukan ke gawangan mati.

5. Hasil Pelaksanaan

Gambar 8. Alat garuk piringan Gambar 9. Alat garuk piringan

Gambar 10. Piringan belum digaruk Gambar 11. Piringan sudah digaruk
27

6. Pembahasan

Piringan pokok kelapa sawit harus selalu bersih dari gulma. Dalam

mengendalikan gulma di piringan tidak semuanya dapat dilakukan secara

khemis, contohnya di areal-areal sempadan sungai. Areal ini berada 50 meter

dari samping kiri dan kanan sungai. Aplikasi bahan kimia akan mencemari

lingkungan dan dapat membunuh organisme yang ada didalam sungai maupun

organisme yang mengkonsumsi air yang ada di sungai. Oleh karena itu, untuk

mengatasi permasalahan ini dilakukan garuk piringan dan pasar pikul sempadan

sungai dengan menggunakan alat berupa cangkul. Garuk piringan dilakukan

dari dalam ke luar piringan dengan tujuan agar piringan tidak tergenang air

disaaat musim hujan.

D. Pemupukan pada TM Menggunakan Aplikasi Fertilizer Spreader (EMDEK)

1. Maksud dan Tujuan

Aplikasi Fertilizer Spreader merupakan pemupukan mekanis dengan cara tabur

yang menggunakan alat yaitu Emdek. Aplikasi tersebut bertujuan agar

penaburan pupuk lebih merata, dan efisien.

2. Waktu dan Tanggal

Kegiatan pemupukan ini dilakukan pada 03 agustus 2018 di blok H3 Divisi 2.

3. Alat dan Bahan

a. Alat : Traktor, emdek, trailer hopper, pisau, dan terpal.

b. Bahan : pupuk yang akan diaplikasikan.


28

4. Cara Kerja

a. Memuat pupuk di gudang pupuk ke trailer.

b. Pupuk di bawa ke blok dengan menggunakan trailer.

c. Mengatur Flow Control, RPM, Gear Speed

d. Memasang terpal sebagai alas pupuk.

e. Muat pupuk ke hopper emdek sebanyak tujuh karung.

f. Buka karung menggunakan pisau dan masukkan pupuk kedalam hopper.

g. Tutup hopper menggunakan penutup agar pupuk tidak terbuang saat emdek

beroperasi.

h. Mengatur sebaran pupuk pada bagian Deflector

i. Operator emdek mengaplikasikan ke dalam blok.

j. Apabila pupuk habis maka operator memasang bendera sebagai tanda

pupuk habis.

5. Hasil Pelaksanaan

Gambar 12. Pemuatan pupuk Gambar 13. Pupuk dimuat ke Trailer Hopper
29

Gambar 14. Pengaturan Flow Control, Gambar 15. Penuangan pupuk ke emdek
RPM, Gear Speed

Gambar 16. Devlector Gambar 17. Aplikasi Emdek

Gambar 18. Hasil pemupukan


30

6. Pembahasan

Pemupukan menggunakan Fertilizer Spreader dilakukan pada tanaman

menghasilkan umur > 7 tahun dengan topografi datar sampai landai (0-5º) dan

dosis minimum 0,5 kg. Norma 1 unit emdek = 20 ha. Satu hopper emdek

memiliki kapasitas 350 kg sehingga dalam sekali aplikasi karyawan pupuk

memasukkan sebanyak tujuh karung pupuk kedalam hopper. Pupuk yang

diaplikasikan dengan Fertilizer Spreader yaitu MOP, Urea, TSP, Kieserite.

Sebelum emdek diaplikasikan maka perlu mengatur Flow Control, RPM,

dan Gear Speed terlebih dahulu agar pupuk yang keluar sesuai dengan dosis

yang sudah dirokemendasikan. Kemudian mengatur sebaran pupuknya pada

bagian Deflector. Mengatur posisi deflector sesuai dengan jenis pupuk :

 Urea/MOP : 2 baris tanaman sekali jalan (1 baris pada sisi kanan dan kiri)

dan posisi deflector 30 derajat atas

 TSP/Kiieserite Granular : 2 baris sekali jalan dan posisi deflector 0

Gambar 19. Posisi Deflector


31

E. Panen
1. Maksud dan Tujuan

Bertujuan memotong Tandan Buah Segar (TBS), mengutip brondolan, dan

membawa TBS dan brondolan ke TPH.

2. Waktu dan Tempat

Kegiatan panen dilaksanakan pada tanggal 24 september 2018, di blok H7

Divisi 2

3. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Pemanen : Egrek dengan galah aluminium ± 15 meter, angkong, gancu,

kampak, dan batu asah, dan APD .

2. Pembrondol: Angkong, cokeran, karung untuk alas brondolan, dan APD

b. Bahan : -

4. Cara Kerja

a. Potong buah

1.Arahkan pemanen pada kadveld panen dan ancak panennya masing-

masing.

2.Potong pelepah dan buah matang dengan egrek.

3.Potong tangkai buah di piringan menggunakan kampak.

4.Pelepah yang diturunkan harus disusun rapi di gawangan mati.

5.Angkut semua buah yang telah dipanen menuju tempat pengumpulan

hasil (TPH).
32

6.Susun buah di dekat piringan.

7.Tulis nomor pemanen dan jumlah janjang yang dipanen pada tangkai

buah.

8.Kerani panen melakukan grading TPH dan pencatatan ke dalam buku

potong buah (BPtB).

b. Kutip brondol
1. Mandor membagikan lokasi yang akan dibrondol.

2. Pembrondol mengutip brondolan di piringan, pasar pikul.

3. Brondolan dimasukan kedalam karung dan dibawa ke TPH dengan

angkong.

4. Takar brondolan dengan ember (1 ember = 6 kg)

5. Brondolan yang sudah ditakar ditaruh di alas atau karung yang dibelah.

6. Beri keterangan nomor pembrondol dan jumlah tumpukan.

7. Kerani panen melakukan grading TPH dan pencatatan ke dalam buku

kutib berondolan (BKtB).

5. Hasil Pelaksanaan

Gambar 20. Penurunan TBS Gambar 21. TBS diletakkan di piringan


33

Gambar 22. Penomoran TBS Gambar 23. Aktivitas kutip brondol

Gambar 24 brondol yang sudah


dikumpulkan

6. Pembahasan

Buah dikatakan matang jika terdapat dua brondol lepas per kilogram TBS.

Di divisi dua KNTE menggunakan pusingan panen D6 yang berarti seluruh

luasan divisi dipanen dalam enam hari. Pada kegiatan panen dikenal beberapa

istilah seperti pusingan dan rotasi. Panen dilakukan dengan menurunkan

pelepah kemudian menurunkan buah. Pelepah disusun membentuk L-shape.

Tangkai buah dipotong membentuk “V” cut. Buah kemudian dibawa dan

disusun di sekitar piringan kemudian krani menghitung TBS yang telah

terpanen. Buah diberi tanda nomor pemanen. Sedangkan kutib brondol dapat
34

dilakukan setelah TBS yang dipanen diangkut dengan MTG. brondolan yang

telah dikutip kemudian dimasukan ke karung untuk diletakkan di TPH yang di

beri alas karung yang sudah dibelah. Kemudian ditakar dengan ember yang satu

embernya dapat memuat 6 kg.

Tabel 3. Kriteria Kematangan Buah di PKS (MCAR, sinarmas)


Target
Kondisi buah Keterangan minimal %
tandan
Buah mentah Memiliki berondolan lepas < 3 butir per
tandan 0

Buah kurang Memiliki berondolan lepas ≥ 3 butir per


matang tandan dan kurang dari standar minimum <5
buah matang

Buah matang Memiliki berondolan lepas antara standar


minimum buah matang sampai 50%
berondolan lepas dari total berondolan per > 85
tandan

Buah terlalu Memiliki > 50% berondolan lepas dari


matang total berondolan per tandan <5

Tandan kosong Memiliki beberapa berondolan yang


tersebar sampai total berondolan lepas <1
habis sama sekali

Total buah normal > 96 %


Buah abnormal : Parthenocarpi 1
Buah keras 3

Buah putus

Buah banci

Total buah
abnormal 4

TOTAL 100
35

Setelah dilakukan panen maka dilakukan inspesi panen detail

Inspeksi. Hal tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah

terdapat kesalah dalam panen dan kutip brondol. Inspeksi panen detail juga

dapat dilakukan bersamaan dengan asisten. Hasil inspeksi harus diisi ke

dalam form Inspeksi Panen Detail (IPD). Kesalahan-kesalahan panen yang

ditemukan saat inpeksi harus dimasukkan juga ke dalam denda di Buku

Potong Buah (BPtB) dan Buku Kutip Berondolan (BKtB). Kesalahan-

kesalahan panen.

Tabel 4. Kesalahan dalam kegiatan panen.

No. Jenis Kesalahan

1 Memotong buah mentah

2 Buah matang tinggal

3 Gagang buah panjang

4 Salah letak di TPH

5 Pelepah tidak disusun rapi

6 Berondolan tinggal

7 Berondolan kotor, kering

8 Berondolan tidak dialas


Takaran berondolan tidak sesuai
9 standard
36

F. Muat Mekanis

1. Maksud dan Tujuan

a. Muat mekanis merupakan pengambilan buah dengan menggunakan alat

atau mesin.

b. Muat mekanis bertujuan untuk mempermudah dalam pengangkatan TBS

apabila terdapat ukuran yang besar.

2. Waktu dan Tempat

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 24 september 2018, di blok H7

Divisi 2

3. Alat dan Bahan

a. Alat : MTG, tojok

b. Bahan : -

4. Cara Kerja

a. Operator MTG menunggu TBS dipanen dan sudah disusun di piringan

bagian luar.

b. Operator MTG memasuki blok yang sudah dipanen.

c. Operator MTG mengambil buah dengan graber dan diletakan di trailer

MTG.

d. Ketika sudah penuh maka dituang ke bin.

5. Hasil Pelaksanaan

Di bawah ini merupakan foto dokumentasi dari pelaksanaan pemuatan

mekanisasi menggunakan MTG.


37

Gambar 25. Pengambilan TBS Gambar 26. Penuangan TBS ke bin


di dalam blok dan penataan TBS

Gambar 27. Penganngkutan TBS ke PKS

6. Pembahasan

MTG (Mini Tractor Graber) merupakan tractor yng dilengkapi dengan

trailer dan graber (penjapit) untuk memuat TBS. MTG tersebut memuat TBS

mengguanakan sistem hidrolik untuk menggerakan grabernya. Hal ini sangat

efisien dilakukan karena tidak mengeluarkan banyak tenaga dalam memuat

buah. Pemuatan buah menggunakan MTG dilakukan di dalam blok. Setelah


38

trailer penuh maka MTG keluar dari blok untuk menuang TBS ke bin sampai

bin penuh. Ketika bin penuh atau melebihi tinggi bin maka TBS disusun

terlebih dahulu. Agar dalam pengiriman TBS ke PKS tidak mengalami

gangguan seperti TBS jatuh di jalan.

G. Rawat Tanaman Inang

1. Maksud dan Tujuan

Kegiatan tersebut merupakan pembersihan gulma yang ada di sekitar tanaman

inang. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mencegah persaingan dalam

penyerapan unsur hara.

2. Waktu dan Tempat

Rawat tanaman inang dilakukan pada tanggal 28 mei 2018, di blok H5 divisi 2.

3. Alat dan Bahan

a. Alat : parang, cangkul, dan APD.

b. Bahan : -

4. Cara Kerja :

a. Memakai APD lengkap dan menyiapkan alat

b. Menebas gulma yang ada di sekitar tanaman inang.

c. Mencabut gulma sampai akarnya dengan cara dicangkul.

5. Hasil Pelaksanaan

Di bawah ini merupakan foto dokumentasi dari pelaksanaan rawat tanaman

inang :
39

Gambar 28. Kegiata rawat tanaman inang

6. Pembahasan

Rawat tanaman inang merupakan bagian perawatan yang bertujuan agar

tanaman inang terhindar dari persaingan dalam perebutan unsur hara dengan

gulma yang ada disekitarnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara

menebas gulma yang berupa rumputan. Apabila terdapat gulma yang berkayu

maka harus dicabut sampai akarnya agar gulma tersebut tidak tumbuh kembali

dengan mrnggunakan cangkul.


40

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan Kegiatan Pratek Kerja Lapangan yang telah dilakukan di Kintapura

Estate dapat didimpulkan sebagai berikut :

A. Semprot Piringan,Pasar pikul dan TPH

1. Penyemprotan dilakukan untuk mempermudah dalam kegiatan penen dan

perawatan.

2. Penyemprotan juga berguna untuk mengurang I kompetisi dalam penyerapan

unsur hara.

3. Penyaemprotan dilakukan secara merata agar gulma yang disemprot mati

semua.

B. Rawat Jalan Manual

1. Perawatan jalan dilakukan agar kegiatan transport menjadi lancar.

2. Rawat jalan secara manual dilakukan untuk memperbaiki jalan yang telah

rusak, seperti jalan yang berlubang dan jalan yang bergelombang.

3. Jalan-jalan yang berlubang diisi dengan batu agar strukturnya menjadi lebih

kuat kemudian ditimbun lagi dengan menggunakan tanah agar jalan menjadi

rata.

C. Garuk Piringan

1. Garuk piringan dilakukan untuk mempermudah dalam kegiatan penen dan

perawatan.
41

2. Garuk piringan dilakukan dengan cara menggaruk dari dalam keluar agar

amudah dalam pembuangan sampahnya ke gawangan mati.

D. Pemupukan pada TM Menggunakan Aplikasi Fertilizer Spreader (EMDEK)

1. Pengaturan Flow Control, RPM, dan Gear Speed perlu dilakukan karena hal

tersebutlah yang menentukan dosis pada setiap pokoknya.

2. Pengaturan deflector perlu dilakukan juga untuk menentukan sebaran pupuk

yang diaplikasikan.

E. Panen

1. Kriteria buah matang adalah terdapat dua brondol lepas per kilogram berat buah.

2. Inspeksi Panen Detail wajib dilakukan pada blok yang kemarin telah dipanen

untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan panen.

3. Kegiatan panen harus diperhatikan dan diawasi dengan baik karena kegiatan ini

ujung tombak perusahaan.

F. Muat Mekanis

1. Penggunaan MTG didalam blok untuk memuat TBS sangat efektif dilakukan

karena pemanen tidak perlu lagi mengeluarkan TBS ke TPH untuk

dikumpulkan.

2. Dalam memuat operator MTG menunggu TBS yang sudah dipanen dan

tersusun di sekitar piringan bagian luar.

G. Rawat Tanaman Inang

1. Dilakukan bertujuan untuk mencegah persaingan dalam penyerapan unsur hara.


42

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1992. Pedoman Dasar Tanaman Kelapa Sawit. PT Perkebunan VI. Tebing
Tinggi, Medan.

Anonim, 2003. Vadenikum Bidang Tanaman, PT. Perkebunan Nusantara III. Medan.

Anonim. 2016. Buku Panduan PKL. Institut pertanian stiper. Yogyakarta

Anonim, 2004. Buku Pintar Mandor Tanaman Kelapa Sawit. Lembaga Pendidikan
Perkebunan (LPP). Yogyakarta

Fauzi, Y; Widyastuti Erna, Y; Satyawibawa, I dan Hartono, R, 2006. Kelapa Sawit: Edisi
Revisi Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran.
Penebar Swadaya

Lubis,A.U, 1992. Kelapa Sawit (Eleais guineensis Jacq) di Indonesia. Pusat Penelitian
Perkebunan Marihat Bandar Kuala. Marihat Ulu, Pematang Siantar, Sumatera
Utara.

Mustafa, H, 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karyanusa. Yogyakarta

Mangoensoekarjo, S, dan Semangun, H. 2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit.


Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Pahan, I, 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga
Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta
43

LAMPIRAN
44

1. Peta Kebun KNTE


45

2. Struktur Organisasi KNTE

Agus syah

Manager

Margo Ferdiansyah Joko Wiyono Fadel Alamin Ardiles RA


Iswanto AA H Kana
KTU Asisten Divisi Asisten Divisi
Kanitpam SPO Officer 1 2 Asisten
Divisi 3

Krani Kantor Krani Divisi (Divisi 1-3) & Mandor


Anggota
& Gudang Divisi (1-3)
Satpam

Karyawan
lapangan