Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PEMINATAN KURIKULUM 2013

Dosen Pengampu

Fitra Herlinda, M.Pd

Oleh:

Kelompok 7

M Arrahman Ibrahim : 11713102277

Ilham Hadii : 11710314046

Ilham Muhammadir : 11713102464

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


KONSENTRASI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
1440 H/2019 M

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
karunia dan hidayah-Nya. Karena dengan berkat-Nya Makalah Pengembangan
kurikulum yang berjudul “Peminatan dalam kurikulum 2013” ini dapat selesai
walaupun masih banyak kekurangan. Dan tidak lupa kita hadiahkan nabi besar
kita Muhammad SAW dengan mengucapkan “allahuma shali’ala sayyida
muhammad waala ali muhammad”. Demikian makalah ini kami susun dengan
rasa tanggung jawab dan kerja keras agar dosen yang bersangkutan serta kawan-
kawan merasa puas dengan hasil kerja keras kami.Dan semua orang yang
membaca makalah ini dapat mengerti dan menambah pengetahuan bagi kita
semua.
Selanjutnya saya ucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Fitra Herlinda, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah
Pengembangan Kurikulum .
2. Orang Tua yang telah memberikan kami dukungan baik segi material
maupun non material.
3. Teman teman yang telah membantu dan memberikan semangat.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang


membacanya. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini skami
mohon maaf, kritik dan saran dari semua sangat kami butuhkan untuk
sempurnanya makalah ini. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Pekanbaru, 14 Mei 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG ................................................................................... 4
RUMUSAN MASALAH ............................................................................... 5
TUJUAN ........................................................................................................ 5
BAB II
PEMBAHASAN ........................................................................................... 6
A. Mengenal Pelaksanaan Kurikulum 2013 ................................................ 6
B. Sistem Evaluasi dalam Kurikulum 2013................................................. 7
C. Implikasi Kurikulum 2013 bagi Guru Bimbingan Konseling ................. 8
D. Kelebihan dan Kelemahan kurikulum 2013 ......................................... 14
E. Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ..................................... 15
F. Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ....................................... 17
G. Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP ................................................. 17
BAB III
PENUTUP ................................................................................................... 20
A. Kesimpulan ........................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan.
Persoalan itu memang tidak akan pernah selesai, karena substansi yang
ditransformasikan selama proses pendidikan dan pembelajaran selalu berada di
bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan masyarakat.
Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih menonjol saat ini adalah adanya
kurikulum yang silih berganti dan terlalu membebani anak tanpa ada arah
pengembangan yang betul-betul diimplementasikan sesuai dengan perubahan
yang diinginkan pada kurikulum tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah pada
perbaikan sistem pendidikan.Perubahan tersebut dilakukan karena dianggap
belum sesuai dengan harapan yang diinginkan sehingga perlu adanya revitalisasi
kurikulum. Usaha tersebut mesti dilakukan demi menciptakan generasi masa
depan berkarakter, yang memahami jati diri bangsanya dan menciptakan anak
yang unggul, mampu bersaing di dunia internasional.
Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan
perkembangan dan tantangan zaman.Semakin maju peradaban suatu bangsa, maka
semakin berat pula tantangan yang dihadapinya.Persaingan ilmu pengetahuan
semakin gencar dilakukan oleh dunia internasional, sehingga Indonesia juga
dituntut untuk dapat bersaing secara global demi mengangkat martabat bangsa.
Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan yang akan menimpa dunia
pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya sangat dibutuhkan
untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal dengan negara-negara
maju di dunia.
Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta
didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi

4
faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia
sepanjang jaman.
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan
salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan
proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal
lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi
sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi:
(1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman
yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, man-diri;
dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pengembangan
dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi
pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pentingnya mengenal Pelaksanaan Kurikulum 2013 ?
2. Bagaimana sistem Evaluasi dalam Kurikulum 2013 ?
3. Apa saja prinsip Pengembangan Kurikulum 2013 ?
4. Bagaimana implikasi Kurikulum 2013 bagi Guru SD/MI ?
5. Apa kelebihan dan kelemahan kurikulum 2013 ?
6. Apa aja metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ?
7. Apa saja model Pembelajaran dalam Kurikulum ?
8. Apa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP ?

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengenal Pelaksanaan Kurikulum 2013


Hal mendasar dari kurikulum 2013, menurut Mulyoto adalah masalah pendekatan
pembelajarannya.Selama ini, pendekatan yang digunakan adalah materi.Jadi
materi di berikan pada anak didik sebanyak-banyaknya sehingga mereka
menguasai materi itu secara maksimal.Bahkan demi penguasaan materi itu,
drilling sudah diberikan sejak awal, jauh sebelum siswa menghadapi ujian
nasional.Dalam pembelajaran seperti ini, tujuan pembelajaran tujuan
pembelajaran yang dicapai lebih kepada aspek kgnitif dengan menafikan aspek
psikomotrik dan afektif.
Ketiga aspek tersebut sebenarnya sudahmendapat penekanan pada kurikulum kita
selama ini.Pada saat pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003,
aspek kognitif, psikomotorik dan afektif (yang dikenal dengan taksonomi Bloom
tentang tujuan pendidikan), telah juga menjadi kompetensi integral yang harus
dicapai. Lalu pada saat pemberlakuan Kurikulum 2006, melalui pendidikan
karakter, aspek afektif yang seolah dilupakan para praktisi pendidikan,
digaungkan.
Tapi dalam dataran praksis, hanya aspek kognitif yang dikejar.Penyebabnya
adalah kurikulum tidak dikawal dengan kebijakan yang sinergis, tetapi malah
dijegal dengan kebijakan ujian nasional.
Soal-soal ujian nasional hanya menguji pencapaian aspek kognitif.Pencapaian
aspek psikomotorik dan afektif tidak bisa diukur dengan menggunakan tes
ini.Padahal tes ini adalah penentu kelulusan.Maka pembelajaran yang terjadi
adalah pembelajaran yang berbasis materi tanpa memedulikan penanaman
keterampilan dan sikap.
Pada kenyataannya, sejak awal siswa-siswa telah dibiasakan menghadapi soal-soal
model ujian nasional. Pembelajaran mengacu pada kompetensi dasar yang yang
nanti akan diujikan dalam ujian nasional. Bahkan ada pula guru yang
menggunakan soal-soal ujian nasional yang telah diujikan pada tahun sebelumnya

6
sebagai acuan dalam pembelajaran.Menjelang menghadapi ujian nasional, guru
memberikan pembelajaran ujian nasional pada siswanya.Apapun yang tidak ada
kaitannya dengan ujian nasional ditiadakan.
Berdasarkaan pengalaman selama ini, hal tersebut harus didukung dengan
kebijakan yang konsisten, yaitu sistem avaluasi yang mengukur pencapaian
kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif secara berimbang.Tidak bisa
dipungkiri bahwa ujian nasional harus dihapuskan, sehingga penentu kelulusan
nantinya adalah transkrip nilai yang diperoleh dari nilai rapor tiap semester.
Karena nilai-nilai rapor sebagai hasil evaluasi pembelajaran mengandung ketiga
aspek secara menyeluruh, maka pembelajaran juga akan diberikan seccara
benyeluruh dalam ketiga aspek itu.
Dengan dihapusnya ujian nasional, wewenang mengadakan evaluasi
kembali kepada guru sehingga lengkaplah kewenangan guru; menyusun rencana
pembelajaran, melaksanakn kegiatan pembelajaran dan melaksanakan kegiatan
evaluasi.Hal ini sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.1

B. Sistem Evaluasi dalam Kurikulum 2013


Kesalahan fatal dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selama ini menurut
saya adalah kemunculan kebijakan yang sejatinya tidak konsisten dengan
kurikulum-kurikulum tersebut.Kebijaksanaan yang dimaksud adalah pelaksanaan
ujian nasional dengan standar kelulusannya. Dimana siswa dikatakan berhasil jika
ia telah mampu menembus jarring ujian nasional. Sebuah sekolah dikatakan
bermutu apabila kelulusan siswnya 100% dan banyak siswanya yang
mendapatkan nilai 10.Bahkan untuk tujuan itu, kecurangan sistematis selalu
terjadi.Penanaman nilai moral seolah tak diperhatikan.
Oleh karena itu, jika nantinya Kurikulun 2013 diterapkan dan ditujukan
agar guru memperoleh ruang yang lebih leluasa untuk mengembangkan potensi

1Mulyoto, Strategi Pembelajaran di Era Kurikulm 2013, (Jakarta: Prestasi Pustaka Raya, 2013).
Hal 114-115

7
siswa secara seimbang dalam tiga aspek, yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan
afektif. Kurikulum ini harus dikawal dengan kebijakan yang sinergis.Dan
akhirnya siswa dapat belajar dengan semangat, antusias, tidak bosan dan mampu
menyerap nilai-nilai moral yang terkandung secara tersitat dalam setiap materi.2

C. Implikasi Kurikulum 2013 bagi Guru Bimbingan Konseling


1. Peran Dan Fungsi BK Dalam Implementasi Kurikulum 13
Peminatan peserta didik yang difasilitasi oleh bimbingan dan konseling, tidak
berakhir pada penetapan pilihan dan keputusan bidang keahlian yang dipilih
peserta didik, melainkan harus diikuti layanan pembelajaran yang mendidik,
aksesibilitas perkembangan yang luas, dan penyiapan lingkungan
perkembangan belajar yang mendukung. Untuk itu, bimbingan dan konseling
berperan secara kolaboratif dalam hal sebagai berikut:
a) Menguatkan Pembelajaran yang Mendidik
Untuk mewujudkan arahan Pasal 1 (1), 1 (2), Pasal 3, dan Pasal 4 (3) UU
No. 20 tahun 2003 secara utuh, kaidah-kaidah implementasi Kurikulum
2013 sebagaimana dijelaskan harus bermuara pada perwujudan suasana
dan proses pembelajaran mendidik yang memfasilitasi perkembangan
potensi peserta didik. Suasana belajar dan proses pembelajaran dimaksud
pada hakikatnya adalah proses mengadvokasi dan memfasilitasi
perkembangan peserta didik yang dalam implementasinya memerlukan
penerapan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Bimbingan dan
konseling harus meresap ke dalam kurikulum dan pembelajaran untuk
mengembangkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan
potensi peserta didik. Untuk mewujudkan lingkungan belajar dimaksud,
guru hendaknya:
 memahami kesiapan belajar peserta didik dan penerapan prinsip
bimbingan dan konseling dalam pembelajaran.
 melakukan asesmen potensi peserta didik

2Ibid. Hal 121

8
 melakukan diagnostik kesulitan perkembangan dan belajar peserta
didik.
 mendorong terjadinya internalisasi nilai sebagai proses individuasi
peserta didik.
2. Memfasilitasi Advokasi dan Aksesibilitas
Kurikulum 2013 menghendaki adanya diversifikasi layanan, jelasnya
layanan peminatan.Bimbingan dan konseling berperan melakukan
advokasi, aksesibilitas, dan fasilitasi agar terjadi diferensiasi dan
diversifikasi layanan pendidikan bagi pengembangan pribadi, sosial,
belajar dan karir peserta didik. Untuk itu kolaborasi guru bimbingan dan
konseling/konselor dengan guru mata pelajaran perlu dilaksanakan dalam
bentuk:
 memahami potensi dan pengembangan kesiapan belajar peserta
didik,
 merancang ragam program pembelajaran dan melayani kekhususan
kebutuhan peserta didik,
 membimbing perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir.
3. Menyelenggarakan Fungsi Outreach
Untuk mendukung prinsip dimaksud bimbingan dan konseling tidak
cukup menyelenggarakan fungsi-fungsi inreach tetapi juga melaksanakan
fungsi outreach yang berorientasi pada penguatan daya dukung
lingkungan perkembangan sebagai lingkungan belajar. Dalam konteks ini
kolaborasi guru bimbingan dan konseling/konselor dengan guru mata
pelajaran hendaknya terjadi dalam konteks kolaborasi yang lebih luas,
antara lain:
 kolaborasi dengan orang tua/keluarga
 kolaborasi dengan dunia kerja dan lembaga pendidikan“intervensi”
terhadap institusi terkait lainnya dengan tujuan membantu
perkembangan peserta didik.

9
4. Layanan Peminatan Di Satuan Pendidikan
Dengan memperlihatkan konsep peminatan dipahami bahwa pada satuan
pendidikan (SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK) terdapat kelompok
mata pelajaran peminatan studi meliputi peminatan akademik, peminatan
vokasional, peminatan pendalaman, dan lintas mata pelajaran dan
peminatan studi lanjut. Untuk SMA/MA/SMALB peminatan akademik
meliputi peminatan matematika, dan sains, peminatan sosial dan
peminatan bahasa ; sedangkan untuk SMK/MAK meliputi peminatan
akademik dan vokasional. Guru BK atau konselor melalui pelayanan BK
membantu peserta didik dalam memenuhi arah peminatan peserta didik
sesuai dengan kemampuan mental dasar, bakat, minat dan kecenderungan
pribadi mereka masing-masing.
5. Tingkat dan Arah Peminatan
Memperhatikan pengertian, fungsi, dan tujuan diatas, tingkat arah
peminatan yang perlu dikembangkan sebagai berikut :
 Arah peminatan pertama perlu dikembangkan pada siswa
SD/MI/SDLB yang akan melanjutkan pendidikan ke
SMP/MTs/SMPLB. Mereka dibantu untuk memperoleh informasi
memilih SMP/MTs/SMPLB
 Arah peminatan kedua perlu dikembangkan pada siswa
SMP/MTs/SMPLB yang akan melanjutkan studi ke
SMA/MA/SMALB atau SMK/MAK. Mereka dibantu untuk
memperoleh informasi yang cukup lengkap tentang jenis dan
program penyelenggaraan masing-masing SMA/MA/SMALB atau
SMK/MAK, pilihan peminatan mata pelajaran dan arah karir yang
ada, serta kemungkinan studi lanjutan.
 Arah peminatan ketiga umum perlu dikembangkan pada siswa
SMA/MA/SMALB untuk memilih peminatan akademik, pilihan dan
pendalaman mata pelajaran lintas peminatan, serta pilihan arah
pengembangan karir.

10
 Arah peminatan ketiga kejuruan perlu dikembangkan pada siswa
SMK/MAK untuk memilih peminatan vokasional, pilihan mata
pelajaran lintas peminatan dan mata pelajaran praktik/kejuruan yang
ada di SMK/MAK
 Arah peminatan keempat perlu dikembangkan pada siswa di
SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK yang akan melanjutkan studi ke
perguruan tinggi, mereka dibantu untuk memilih salah satu fakultas
dengan program studinya yang ada di perguruan tinggi, sesuai
dengan bakal dan minat, serta pilihan peminatan/pendalaman mata
pelajaran yang bersifat akademik atau vokasional di
SMA/MA/SMALB atau SMK/MAK
6. Langkah Pokok Pelayanan Peminatan
Pelayanan peminatan peserta didik dimulai sejak sedini mungkin, yaitu
sejak peserta didik menyadari bahwa ia berkesempatan memilih jenis
sekolah dan mata pelajaran dan arah karir dan studi lanjut. Ketika itulah
langkah-langkah pelayanan peminatan secara sistematik dimulai,
mengikuti langkah yang disesuaikan dengan tingkat dan arah peminatan
yang ada.
LANGKAH PERTAMA : pengumpulan data dan informasi
Langkah ini dilakukan untuk mengumpulkan data tentang :
 Data pribadi siswa : kemampuan mental dasar (intelegensi), bakat
dan minat serta kecenderungan khusus
 Kondisi keluarga dan lingkungan
 Mata pelajaran wajib dan pilihan jalur peminatan yang ada
 Sistem pembelajaran, termasuk system Satuan Kredit Semester
(SKS)
 Informasi pekerjaan/karir
 Imformasi pendidikan lanjutan dan kesempatan kerja
 Data kegiatan dan hasil belajar
 Data khusus tentang pribadi peserta didik
LANGKAH KEDUA : layanan informasi/orientasi arah peminatan

11
Dengan langkah ini kepada para peserta didik diberikan informasi
selengkapnya, sesuai dengan jenis dan jenjang satuan pendidikan peserta
didik, yaitu informasi tentang :
 Sekolah ataupun program yang sedang mereka ikuti serta selamat
dari sekolah atau program tersebur, dan selepas dari kelas yang
mereka duduki sekarang.
 Struktur dan isi kurikulum dengan berbagai mata pelajaran yang ada,
baik yang wajib maupun pilihan yang diikuti siswa, terutama
berkenaan dengan jalur peminatan dan pilihan mata pelajaran
pendalaman lintas peminatan.
 Sistem jalur peminatan, sistem SKS serta penyelenggaraan
pembelajarannya.
 Informasi tentang karir atau jenis pekerjaan yang perlu dipahami
atau yang dapat dijangkau oleh tamatan pendidikan yang sedang
ditempuh sekarang, terutama berkenaan dengan peminatan
vokasional.
 Informasi tentang studi lanjut selama pendidikan yang sedang
ditempuh sekarang.
Layanan informasi tentang berbagai hal diatas dapat dilakukan melalui
layanan informasi klasikal. Layanan informasi ini dapat dilengkapi
dengan layanan orientasi melalui kunjungan ke sekolah/madrasah atau
lembaga kerja yang dapat memperkaya arah peminatan peserta didik, dan
layanan (misalnya layanan bimbingan kelompok) yang memungkinkan
peserta didik ber-BMB3 (berfikir, merasa, bersikap, bertindak, dan
bertanggung jawab) berkenaan dengan arah peminatan akademik dan
vokasional serta studi lanjut.
LANGKAH KETIGA : identifikasi dan penetapan arah peminatan
Langkah ini terfokus pada kecocokan antara kondisi pribadi peserta didik
dengan syarat-syarat atau jalur peminatan yang ada dan mata pelajaran
lintas peminatan pada satuan pendidikan, arah pengembangan karir,
kondisi orang tuan, dan lingkungan pada umumnya, terutama dalam

12
rangka peminatan akademik, vokasional, dan studi lanjutan, dan syarat-
syarat pengambilan mata pelajaran dalam sistem SKS yang berlaku.
Langkah ketiga ini dilaksanakan melalui kontak langsung dengan guru
BK atau konselor dengan peserta didik melalui penyajian angket ataupun
modul. Kontak langsung ini disertai pembahasan individu, diskusi
kelompok dan kegiatan lain melalui strategi transformasi-BMB3 atas
berbagai aspek pilihan yang tersedia dan keputusan yang diambil.
LANGKAH KEEMPAT : penyesuaian
Arah penyesuaian yang dimaksud pada garis besarnya adalah sebagai
berikut :
 Apabila pilihan tepat tetapi pada satuan pendidikan yang sedang atau
akan diikuti tidak tersedia pilihan yang diinginkan, maka siswa yang
bersangkutan dapat dianjurkan untuk mengambil pilihan itu di satuan
pendidikan lain.
 Apabila pilihan tepat dan fasilitas pada satuan pendidikan tersedia,
tetapi dukungan finansial tidak ada, maka perlu dilakukan konseling
perorangan dan layanan lain serta kegiatan pendukung yang relevan
terhadap peserta didik dan orang tuanya untuk membahas
kemungkinan mencari bantuan atau beasiswa.
 Apabila pilihan tidak tepat, maka peserta didik yang bersangkutan
perlu menggantikan pilihan lain dan perlu dilakukan penyesuaian-
penyesuaian pada diri peserta didik dan pihak-pihak yang
berkepentingan. Untuk itu diperlukan layanan konseling perorangan
dan layanan lain serta kegiatan pendukung yang relevan bagi siswa
yang bersangkutan.
LANGKAH KELIMA : monitoring dan tindak lanjut
Guru BK atu konselor memonitor penampilan dan kegiatan peserta didik
asuhnya secara keseluruhan dalam menjalani program pendidikan yang
diikutinya, melalui pendampingan oleh guru BK atau konselor dan guru
mata pelajaran, khususnya berkenaan dengan peminatan yang telah
dipilih/ditetapkan. Perkembangan dan berbagai permasalahan peserta

13
didik dalam menjalani peminatannya itu perlu diantisipasi dan meperoleh
pelayanan BK secara komprehensif dan tepat
D. Kelebihan dan Kelemahan kurikulum 20133
1. Kelebihan Kurikulum 2013
a) Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah
(kontekstual) karena berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik
untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan
kompetensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan
subjek belajar dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam
bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi tertentu, bukan
transfer pengetahuan.
b) Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi
mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan
pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan
aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan
standar kompetensi tertentu.
c) Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam
pengembangannya lebih cepat menggunakan pendekatan kompetensi,
terutama yang berkaitan dengan keterampilan.
d) Lebih menekankan pada pendidikan karakter. Selain kreatif dan inovatif,
pendidikan karakter juga penting yang nantinya terintegrasi menjadi satu.
Misalnya, pendidikan budi pekerti luhur dan karakter harus
diintegrasikan kesemua program studi.
e) Asumsi dari kurikulum 2013 adalah tidak ada perbedaan antara anak desa
atau kota. Seringkali anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan
untuk memaksimalkan potensi mereka.

3E. Mulyasa, Pengembangan dan Impelemtasi Kurikulum 2013. (Bandung: PT Remaja


Rosdakarya) hal.164

14
f) Kesiapan terletak pada guru. Guru juga harus terus dipacu
kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru
untuk meningkatkan kecakapan profesionalisme secara terus menerus.

2. Kelemahan Kurikulum 2013


a) Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas
yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan
langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.
b) Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil
dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan
ujian nasional (UN) masih diberlakukan.
c) Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran
Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena
rumpun ilmu pelajaran-pelajaran tersebut berbeda.

E. Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013


Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam proses
pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang optimal. Adapun berbagai metode
pembelajaran yang dapat digunakan pendidik dalam kegiatan pembelajaran, antara
lain:
1. Metode ceramah, Penyampaian materi dari guru kepada siswa melalui bahasa
lisan baik verbal maupun nonverbal.
2. Metode latihan, Penyampaian materi melalui upaya penanaman kebiasaan-
kebiasaan tertentu sehingga diharapkan siswa dapat menyerap materi secara
optimal.
3. Metode tanya jawab, Penyajian materi pelajaran melalui bentuk pertanyaan
yang harus dijwab oleh anak didik. Bertujuan memotivasi anak mengajukan
pertanyaan selama proses pembelajaran atau guru mengajukan pertanyaan
dan anak didik menjawab.

15
4. Metode karya wisata, Metode penyampaian materi dengan cara membawa
langsung anak didik ke objek diluar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata
agar siswa dapat mengamati atau mengalami secara langsung.
5. Metode demonstrasi, Metode pembelajaran dengan cara memperlihatkan
suatu proses atau suatu benda yang berkaitan dengan bahan pembelajaran.
6. Metode sosiodrama, Metode pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang
terdapat dalam kehidupan sosial.
7. Metode bermain peran, Pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan anak didik dengan cara anak didik memerankan suatu tokoh,
baik tokoh hidup maupun mati. Metode ini mengembangkan penghayatan,
tanggungjawab, dan terampil dalam memaknai materi yang dipelajari.
8. Metode diskusi, Metode pembelajaran melalui pemberian masalah kepada
siswa dan siswa diminta untuk memecahkan masalah secara kelompok.
9. Metode pemberian tugas dan resitasi, Merupakan metode pembelajaran
melalui pemberian tugas kepada siswa. Resitasi merupakan metode
pembelajaran berupa tugas pada siswa untuk melaporkan pelaksanaan tugas
yang telah diberikan guru.
10. Metode eksperimen, Pemberian kepada siswa untuk pencobaan.
11. Metode proyek, Membahas materi pembelajaran ditinjau dari sudut pandang
lain.4
Adapun prinsip dalam pemilihan dalam metode pembelajaran adalah
disesuaikan dengan tujuan, tidak terikat pada suatu alternatif, penggunaannya
bersifat kombinasi. Faktor yang menentukan dipilihnya suatu metode dalam
pembelajaran antara lain:
1. Tujuan pembelajaran
2. Tingkat kematangan anak didik
3. Situasi dan kondisi yang ada dalam proses pembelajaran5

4Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2013) hal.29-30
5Ibid. Hal 30

16
F. Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013
Model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan sabagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajran dalam tutorial dan
untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-
buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.6
Model pembelajaran memiliki empat ciri khusu yang tidak dimiliki oleh
strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut adalah :
1. Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta tau pengembangnya.
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tuuan
pembelajran yang akan dicapai).
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan dengan berhasil.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai.7

H. Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP


Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014
pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas).Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi
pada tanggal 15 Juli 2013.Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan
yang lama.Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan KTSP.8
Berikut ini Persamaan dan Perbedaan Kurikulum KTSP dengan Kurikulum
2013 di Tingkat SMA/MA:
Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP
1. Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014
pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara
resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai
perbedaan dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai
perbedaan dengan KTSP.

6Ibid. Hal 34
7Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2013) hal.35
8http://fatkoer.wordpress.com/2013/07/28/perbedaan-kurikulum-2013-dan-ktsp/

17
2. Berikut ini Persamaan dan Perbedaan Kurikulum KTSP dengan Kurikulum
2013 di Tingkat SMA/MA:
a) Perbedaan
No Kurikulum 2013 KTSP
1 SKL (Standar Kompetensi Lulusan) Standar Isi ditentukan terlebih dahulu
ditentukan terlebih dahulu, melalui melaui Permendiknas No 22 Tahun
Permendikbud No 54 Tahun 2013. 2006. Setelah itu ditentukan SKL
Setelah itu baru ditentukan Standar (Standar Kompetensi Lulusan)
Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar melalui Permendiknas No 23 Tahun
Kurikulum, yang dituangkan dalam 2006
Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70
Tahun 2013
2 Aspek kompetensi lulusan ada Lebih menekankan pada aspek
keseimbangan soft skills dan hard pengetahuan
skills yang meliputi aspek kompetensi
sikap, keterampilan, dan pengetahuan
3 di jenjang SD Tematik Terpadu untuk di jenjang SD Tematik Terpadu untuk
kelas I-VI kelas I-III
4 Jumlah jam pelajaran per minggu Jumlah jam pelajaran lebih sedikit
lebih banyak dan jumlah mata dan jumlah mata pelajaran lebih
pelajaran lebih sedikit dibanding banyak dibanding Kurikulum 2013
KTSP
5 Proses pembelajaran setiap tema di Standar proses dalam pembelajaran
jenjang SD dan semua mata pelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan
di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan Konfirmasi
dengan pendekatan ilmiah (saintific
approach), yaitu standar proses dalam
pembelajaran terdiri dari Mengamati,
Menanya, Mengolah, Menyajikan,
Menyimpulkan, dan Mencipta.
6 TIK (Teknologi Informasi dan TIK sebagai mata pelajaran.
Komunikasi) bukan sebagai mata
pelajaran, melainkan sebagai media
pembelajaran
7 Standar penilaian menggunakan Penilaiannya lebih dominan pada
penilaian otentik, yaitu mengukur aspek pengetahuan
semua kompetensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan
berdasarkan proses dan hasil.
8 Pramuka menjadi ekstrakuler wajib Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib
9 Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X Penjurusan mulai kelas XI
untuk jenjang SMA/MA

18
10 BK lebih menekankan BK lebih pada menyelesaikan
mengembangkan potensi siswa masalah siswa

Itulah beberapa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP.Walaupun


kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan
KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan
KTSP.Misal pendekatan ilmiah (Saintific Approach) yang pada hakekatnya
adalah pembelajaran berpusat pada siswa.Siswa mencari pengetahuan bukan
menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan
Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Masalah pendekatan sebenarnya
bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di
kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013
akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila
guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.
b) Persamaan
a. Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 sama-sama
menampilkan teks sebagai butir-butir KD.
b) Untuk struktur kurikulumnya baik pada KTSP atau pada 2013 sama-
sama dibuat atau dirancang oleh pemerintah tepatnya oleh
Depdiknas.
c) Beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP.
d) Terdapat kesamaan esensi kurikulum, misalnya pada pendekatan
ilmiah yang pada hakekatnya berpusat pada siswa. Dimana siswa
yang mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan.

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Hal mendasar dari kurikulum 2013, menurut Mulyoto adalah masalah
pendekatan pembelajarannya.Selama ini, pendekatan yang digunakan adalah
materi.Jadi materi di berikan pada anak didik sebanyak-banyaknya sehingga
mereka menguasai materi itu secara maksimal.Bahkan demi penguasaan materi
itu, drilling sudah diberikan sejak awal, jauh sebelum siswa menghadapi ujian
nasional.Dalam pembelajaran seperti ini, tujuan pembelajaran tujuan
pembelajaran yang dicapai lebih kepada aspek kgnitif dengan menafikan aspek
psikomotrik dan afektif.
Model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan sabagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajran dalam tutorial dan
untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-
buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.

20
DAFTAR PUSTAKA

Mulyoto, Strategi Pembelajaran di Era Kurikulm 2013, (Jakarta: PrestasiPustaka


Raya, 2013).
E. Mulyasa, Pengembangan dan Impelemtasi Kurikulum 2013. (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya)
Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013)
Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013) hal.35
http://fatkoer.wordpress.com/2013/07/28/perbedaan-kurikulum-2013-dan-ktsp/

21