Anda di halaman 1dari 16

Upacara Ngaben Masal

Secara umum pelaksanaan upacara Ngaben, sebagai salah satu upacara keagamaan,
memerlukan biaya yang besar pada Dadia Pasek Gelgel Seraya di Desa Seraya Tengah.
Berdasarkan pengamatan penulis,terutama besarnya dana Ngaben yang diperlukan berkisar
antara seratus dua puluh juta rupiah. Dengan besarnya biaya upacara seperti itu,
pada sebagian besar masyarakat terdapat
anggapan bahwa untuk bisa Ngaben harus mempunyai dana ngabehin
(melebihi). Dengan pemahaman seperti itu, Ngaben menjadi “label” atau
“cap” bagi masyarakat kaya secara harta.

Dengan cap atau label seperti itu, tentunya masyarakat yang secara ekonomi
kurang mampu, tidak akan pernah bisa melakukan kewajiban Ngaben untuk para leluhurnya,
karena biaya upacara Ngaben yang dilakukan secara pribadi sangat besar. Kalaupun misaalnya,
masyarakat
bisa melakukannya tetapi harus mengorbankan dengan cara menjual harta benda yang dimiliki
nya seperti tanah warisan. Cara melakukan yadnya dengan cara seperti
itu terutama bagi masyarakat yang belum berkecukupan secara ekonomi,
dengan menjual tanah warisan hanya untuk kepentingan yadnya
(ngaben), apa lagi sampai memiskinkan masyarakat yang melakukannya sebenarnya tidak sesu
ai menurut ajaran sastra Agama Hindu yang mengajarkan ambeg parama arta dan Ahara
legawa yaitu menggunakan keuangan sesuai dengan skala prioritas dan prinsip keseedrhanaan.

Akhir-akhir ini Sebuah solusi bagi masyarakat untuk


meringankan beban dari biaya upacara Ngaben yang sangat besar tersebut
adalah melalui Ngaben massal. Ngaben Massal
sebagai sebuah praktek, adalah relatip baru dalam tradisi penyelenggaraan upacara Ngaben
di Desa Seraya Tengah. Awalnya upacara Ngaben massal belum bisa diterima
secara meluas oleh masyarakat karena beberapa faktor seperti faktor gengsi, sugesti
dan faktor-faktor sosio-kultural lainnya.
Pada saat sekarang di Desa Seraya
Tengah, telah terjadi perubahan dalam pelaksanaan upacara Ngaben dengan diterimanya
cara Ngaben massal oleh masyarakat luas. Penerimaan masyarakat terhadap
Ngaben massal ini, dapat dilihat dari suksesnya pelaksanaan Ngaben massal
yang kepertama pada tahun 2004 yang melibatkan 14 dadia dari 20 dadia yang ada di Desa
Pakraman Sudaji, dengan jumlah sawa sebanyak 337 sawa. Dalam konteks perubahan
seperti itu, dapat diduga adanya cara penginterfretasian kembali (reinterfretasi)
oleh masyarakat baik secara teosofis maupun sosio-kultural sehingga sangat menarik
untuk diteliti dengan judul : Reinterfretasi Makna Ngaben Massal Di Desa Pakraman
Sudaji: Sebuah Kajian Budaya”.

Dari uraian latar belakang di atas,


selanjutnya dikemukakan rumusan masalah penelitian yaitu : “bagaimanakah
masyarakat memberikan re-interfretasi makna pada pelaksanaan upacara Ngaben Massal di
Desa Pakraman Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng?”

2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka dapat dipahami adanya beberapa re-
interfretasi makna dari pelaksanaan Upacara Ngaben Massal di Desa Pakraman Sudaji,
seperti pada uraian berikut.

2.1 Reinterpretasi Makna Filosofi Agama.

Secara filosofis, makna Upacara


Ngaben yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya,
termasuk Upacara Ngaben Massal adalah sebagai proses untuk mempercepat pengembalian
unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya atau ke sumbernya masing-
masing. Upacara Ngaben juga mempunyai makna sebagai
membantu perjalanan Atman menuju Brahman. Dengan kembalinya unsur-
unsur Panca Maha Bhuta yang membentuk Sthula Sarira maka Atman telah meningkatka
n perjalanannya dari Bhur
Loka sampai pada Bhuwah Loka. Dalam Bhuwah Loka ini Atman masih berbadankan Suk
sma Sarira. Dengan demikian Upacara Ngaben itu adalah upacara penyucian Pitara tahap
pertama yaitu dengan melepaskan Pitara dari ikatan Panca Maha Bhuta.

Terkadang di tengah masyarakat terdapat pemahaman yang kurang sesuai dengan


sastra agama, mengenai hakekat dan tujuan dari Upacara Ngaben tersebut.
Sering pelaksanaan Ngaben di interpretasi secara keliru,
yaitu untuk mencarikan tempat roh para leluhurnya di Sorga. Dalam perjalanan roh leluh
ur menuju sorga,
memerlukan bekal atau beya yang banyak dalam bentuk banten yang besar. Dengan
adanya interpretasi masyarakat seperti ini, maka terutama
masyarakat yang kaya akan berusaha untuk melakukan Upacara Ngaben dengan sarana b
anten yang besar (ngabehin) agar rokh para leluhurnya dapat mencapai Sorga.

Jika dikembalikan kepada hakikat Ngaben secara filosopisnya, seperti diuraikan di


atas, maka sebenarnya Upacara Ngaben tidak bisa dikaitkan dengan pencapaian sorga atau
pun neraka. Masalah sorga dan neraka adalah persoalan lain dari Upacara Ngaben.
Sebab itu ditentukan oleh sisa hasil perbuatan di waktu hidupnya (karma
wasana) seseorang. Hukum Karmaphala
salah satu kepercayaan Agama Hindu menggariskan bahwa karma baik maupun karma bu
ruk tidak bisa dikurangi, dan harus diterima seutuhnya (Cudamani,1998 dalam Atmadja,
2001 : 142).

Dari hasil analisis terhadap data yang dikumpulkan, dapat dijelaskan bahwa
masyarakat Desa Pakraman Sudaji, melalui Ngaben Massal, telah melakukan re-interfretasi
secara filosofis, menyangkut keyakinan sorga dan neraka. beberapa responden
mengatakan “kalaupun dengan upacara
besar, upacara kecil tidak akan menentukan rokh itu mencapai sorga.
Konon yang menentukan kedudukannya di akhirat nantinya adalah baik buruknya
perbuatan yang dilakukan semasih hidupnya
Pandangan seperti itu adalah sesuai pendapatnya Hadiwijono dalam Atmadja
(2001:142) dengan mengemukakan bahwa Agama Hindu tidak mengenal ritual penebusan
dosa, sebagaimana yang berlaku pada keyakinan agama tertentu. Dosa
seseorang hanya dapat ditebus dengan berbuat kebajikan, semasa hidupnya. Kalau orang s
udah mati, maka yang bersangkutan akan membawa karma pada perbuatannya di dunia
(Surya Kanta, 1925 dalam Atmadja, 2001 : 143).

Adanya re-interpretasi secara filosofis terhadap hakikat Upacara Ngaben, seperti


itu mengindikasikan adanya pemahaman masyarakat yang lebih jelas terhadap Ngaben
berdasarkan ajaran (sastra) agama. Dengan pemahaman ini,
ini berarti telah timbul pencerahan masyarakat,
yang tidak lagi memandang bahwa Ngaben itu harus dilakukan dengan ngabehin (biaya
besar) sehingga masyarakat dapat menerima cara Ngaben massal dengan biaya yang lebih
ringan.

2.2 Reinterpretasi Makna Sebagai Dekonstruksi Wacana Hegemoni Kultural

Tradisi Upacara Ngaben yang dilakukan


dengan menonjolkan aspek seremonial yang megah dan meriah, sebenarnya
dalam perkembangan situasi saat ini, sudah tidak cocok untuk dilaksanakan,
apalagi dilakukan dengan cara memaksakan diri secara
ekspresif hanya untuk sebuah kesan bahwa seseorang bisa atau mampu mengikuti tradisi
yang ada sehingga dapat memberikan suatu kebanggaan tersendiri untuk suatu prestise
secara sosial
bagi mereka yang melakukannya. Jika misalnya masyarakat berusaha untuk mengikuti tra
disi upacara dalam takarannya yang lebih besar, hal itu disebabkan
karena adanya suatu kekhawatiran terhadap gunjingan atau penilaian masyarakat melalui
“cap-cap sosial” seperti kikir, pelit (demit) dan ungkapan-ungkapan lainnya
yang dinilai dapat menganggu citra atau nilai sosial terhadap pelaksanaan Upacara Ngaben
tersebut.
Terjadinya kekhawatiran masyarakat seperti itu, disebabkan pula oleh karena pada
masyarakat lokal terdapat wacana kultural yang
hegemonik, terhadap cara pelaksanaan upacara yang lebih kecil (sederhana). Wacana
kultural hegemonik seperti itu, seolah-
olah memberikan legitimasi yang kuat terhadap cara pelaksanaan upacara yang dilakukan
secara besar-besaran, sehingga dapat mensubordinasikan cara pelaksanaan Ngaben
yang sederhana atau yang kecil. Wacana kultural hegemonik secara struktur kebahasaan,
yang hidup dan sering diucapkan oleh masyarakat setempat, adalah misalnya dalam
ungkapan kalimat “ yen ngelah gae
sing dadi demit” artinya jika orang mempunyai upacara (yajña) tidak boleh pelit
atau kikir. Ungkapan “sing
dadi demit” yang ditujukan kepada orang yang melakukan yajña adalah menjadi
belenggu tradisi, yang menghegemoni masyarakat yang berkeinginan untuk menggelar up
acara dengan lebih sederhana, sehingga di sini masyarakat akan merasa malu (lek)
jika ia melakukannya. Rasa malu (lek)
bagi masyarakat tersebut, menjadi kecendrungan masyarakat untuk selalu
melakukan upacara secara besar-
besaran walaupun dengan cara memaksakan diri hanya untuk selamat dari gunjingan masy
arakat tersebut.

Menurut Sutarya (Bali Post, 29 Oktober 2005), adanya


kecendrungan masyarakat untuk menggelar upacara yajña secara berlebihan yang terkadan
g diluar kemampuannya,
disebabkan karena adanya keterplesetan tradisi dalam pelaksanaan upacara yajña. Hal ini
berawaldari tradisi upacara yajña yang bersumber dari filosofi
“pembebasan” atau “pelepasan kepemilikan”, yang pada jaman dahulu biasanya dilakukan
oleh para pertapa. Secara agama, mereka yang tinggal bertapa
dengan kesederhanaannya, memiliki nilai yang lebih tinggi dari yang lain. Sebab mereka
adalah calon orang yang akan duduk pada singasana yang disediakan Tuhan,
yaitu “pembebasan”. Seberapa besar seseorang berani melepaskan atau membebaskan kepe
milikannya, semakin bernilai orang itu secara spiritual. Ajaran ini kemudian berkembang
menjadi yajña yang diinterpretasi secara keliru.

Ketika doktrin
“pembebasan” atau pelepasan kepemilikan” berkembang menjadi tradisi upacara, maka keb
esaran upacara, kemudian mendapatkan “nilai” di
mata masyarakat. Semakin besar upacara maka semakin besar rasa kepemilikan yang diko
rbankan. Semakin besar rasa kepemilikan yang dikorbankan, semakin tinggi status orang
yang melakukan pengorbanan tersebut dimata masyarakat, demikianlah penilaian masyarak
at pada awalnya. Di sinilah letak mis-interpretasi masyarakat tentang konsep
“pembebasan” tersebut, sehingga diterjemahkan ke dalam ungkapan lokal yang masih hidup
di tengah masyarakat yaitu “ yen ngelah gae sing dadi demit” seperti disebutkan di atas.

Dalam konteks pemikiran seperti itu menurut Wiana (2002 :171) diperlukan
adanya suatu reformasi pemikiran dan tindakan. Di sini,
konsep reformasi Hindu dipergunakan sebagai dasar dalam melakukan upacara yajña
pada umumnya termasuk Upacara Ngaben.
Konsep reformasi Hindu itu adalah Utpati, Stithi dan Pralina. Utpati artinya harus selalu
dapat mengembangkan cara-
cara berupacara yajña yang baik dan benar sesuai dengan sastra agama Hindu agar dapat
mengikuti perkembangan zaman. Stithi artinya harus selalu konsisten memelihara nilai-
nilai yang paling substantif dari upacara yajña tersebut. Hal-
hal yang masih sesuai dengan perkembangan zaman harus dipertahankan dengan baik. Se
dangkan Pralina artinya tradisi-
tradisi yang sudah usang, apalagi bertentangan dengan sastra agama Hindu haruslah denga
n besar hati ditinggalkan.

Praktik Ngaben Massal seperti yang dilakukan oleh masyarakat di


Desa Pakraman Sudaji, dari sudut wacana, dapat memperlihatkan
makna dekonstruksi terhadap tradisi upacara yajña secara besar-
besaran, seperti yang dilakukan pada jaman Brahmana, yang lebih menonjolkan kwantitas
dalam pelaksanaannya yang dilakukannya bak festival. Dengan cara
upacara seperti itu akan dapat menggeser makna upacara itu sendiri ketingkat makna den
gan maksud terselubung untuk menegakkan status simbol dalam kedudukan sosial di
dalam masyarakat ketimbang makna filosofis dan teosofis upacara itu sendiri.

Pemikiran-pemikiran peodal dalam cara pelaksanaan upacara Ngaben


seperti disebutkan di atas, telah dilakukan reformasi, dengan mereinterpretasikan makna
Ngaben Massal sebagai dekonstruksi terhadap tradisi hegemonik dalam wacana Ngaben,
melalui bangkitnya kesadaran masyarakat dalam memahami makna Ngaben sesuai
sastra agama.

Terjadinya perubahan terhadap pola pikir masyarakat seperti itu, sangat beralasan,
karena saat ini, masyarakat mempunyai akses yang luas kepusat-
pusat pertumbuhan yang disebabkan oleh semakin lancarnya sarana
perhubungan dan komunikasi dengan lingkungan luar yang berakibat pada semakin
intensifnya kontak-kontak dengan unsur-unsur modernisasi. Perubahan pemikiran seperti itu,
didukung pula semakin
meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, dan juga semakin meluasnya institusi sosial-
keagamaan yang telah melakukan misi pencerahan agama
kepada masyarakat, seperti yang dilakukan oleh Desa Pakraman.

Secara kebahasaan, pemikiran yang dekonstruktif terhadap tradisi


Upacara Ngaben secara besar-besaran, nampak dari pernyataan-
pernyataan masyarakat seperti berikut :

“Cara janine, ede suba iraga lek ngae upacara ane cenik, yan
jani iraga ngae upacara ngaben, mituutin anak sugih ulihan maksaang dewek,
peragatne iraga masih lakar ngerasaang baatne. Paling melah suba jani bareng-
bareng ngemiluin ngaben massal, medasar baan keeningan keneh. .
( Jaman seperti sekarang, jangan kita merasa gengsi
untuk melakukan upacara secara sederhana. Jika sekarang,
kita mengikuti seperti orang kaya, dengan cara memaksakan diri,
toh juga akibatnya yang berat kita rasakan sendiri,sekarang lebih baik
pakai kemampuan kita sendiri berdasarkan pada ketulus ikhlasan dengan cara iku
t Ngaben massal).

Dari pandangan di atas, ada rei-nterpretasi bahwa praktik ritual Ngaben Massal
yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Pakraman Sudaji, dalam tatanan sebuah diskursus,
telah mendekonstruksi tradisi upacara secara besar-besaran yang terasa sangat hegemonik.
Hal ini juga dapat dimaknai adanya kebangkitan
kesadaran masyarakat untuk melakukan suatu perubahan dalam memaknai
upacara Ngaben dengan lebih mendekatkannya kepada sastra agama. Sehingga
masyarakat tidak lagi memaknai Ngaben sebagai ngabehin dari segi biaya yang diperlukan.

Ngaben Massal, yang telah diterima oleh sebagian besar kelompok masyarakat di
Desa Pakraman Sudaji, berdasarkan teori dekonstruksi sebagaimana
dikemukakan oleh Derrida, dalam Piliang (2003: 126) adalah bentuk penyangkalan akan
oposisi biner antara ucapan/tulisan, ada/tak ada, murni/tercemar,
moral/amoral dan penolakan akan kebenaran dan logos itu sendiri.
Dalam relasi oposisi biner tersebut, istilah-istilah yang pertama dianggap lebih
superior dibanding yang kedua. Demikian pula dalam cara berupacara Ngaben di
Desa Pakraman Sudaji, dengan lebih menempatkan tradisi upacara secara besar-
besaran sebagai yang lebih superior, lebih bermoral/bermartabat bagi
yang melaksanakannya. Sedangkan istilah kedua yaitu tradisi upacara yang kecil
hanya nampak sebagai sesuatu yang nista
dalam pengertian kurang bermoral atau kurang berbakti kepada para leluhur,
padahal rasa hormat dan bhakti itu tidak bisa ditetapkan dengan besar kecilnya suatu up
acara dalam Ngaben. Dalam praktek seperti itu menurut
Derrida, disebut sebagai logosentrisme
(logocentrism) yang telah menjadi tradisi dalam filsafat
Barat dan menjadi penolakan Derrida. Berdasarkan teori Dekonstruksi,
istilah logosentrisme digunakan Derrida untuk menerangkan asumsi adanya hak
istimewa yang disandang oleh istilah pertama (speech) dan pelecehan istilah kedua
(writing), yang dianggap tak lebih dari bentuk yang sudah tercemar,
yang ada diluar kawasan kebenaran (speech).
Melalui penerimaan masyarakat terhadap Ngaben Massal di
Desa Pakraman Sudaji, merupakan suatu bentuk penolakan terhadap oposisi biner seperti
dipikirkan Derrida, karena di
sini masyarakat tidak lagi melihat secara logosenrisme daripada cara upacara dengan trad
isi secara besar-besaran tersebut. Di sini ada yang lain
(the others) yaitu Upacara Ngaben yang dapat dilakukan secara kolektiv dengan biaya ya
ng lebih hemat.

Dekonstruksi yang dilakukan terhadap tradisi yang hegemonik dalam wacana


Ngaben secara besar-besaran di Desa Pakraman Sudaji, dilakukan terhadap struktur bahasa,
yang terdapat pada masyarakat di Desa Pakraman Sudaji. Dekonstruksi yang dilakukan di
sini sebagai upaya dalam membongkar struktur
bahasa dalam kerangka memberikan pemahaman dan
membangkitkan kesadaran masyarakat pada makna
upacara yang sesuai dengan ajaran agama itu sendiri. Kesadaran di sini adalah kesadaran
yang dapat menumbuhkan kesucian hati dalam melakukan upacara yajña yang dilandasi
oleh ajaran agama Hindu yaitu Trikaya parisudha.

Reinterpretasi makna Ngaben Massal sebgai dekonstruksi wacana


hegemoni kultural, dalam tatanan praktik Ngaben Massal yang dilakukan oleh masyarakat
di Desa Pakraman Sudaji, merupakan sebuah cara yang adaptif
dalam perkembangan dan perubahan masyarakat saat ini. Cara Ngaben Massal,
yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara lebih efisien
dari segi biaya, adalah merupakan wacana penting yang mampu melakukan suatu
pendobrakan terhadap tradisi Upacara Ngaben sebelumnya, yang dilakukan secara besar-
besaran yang sangat berkonotasi dengan pengertian ngabehin.

Dapat dikemukakan di sini, bahwa hakekatnya pula yang dilakukan


oleh masyarakat adalah suatu penolakan terhadap tatanan oposisi biner yang menempatkan
tradisi Upacara Ngaben secara besar-besaran adalah lebih bermoral dan juga
lebih memiliki perasaan bhakti kepada leluhur di bandingkan dengan cara Upacara Ngaben
yang lebih kecil. Sebab dengan cara manapun (nista, madhya, utama)
yang dipergunakan dalam cara berupacara Ngaben itu dilakukan asalkan didasari dengan
suatu keikhlasan itulah yang mulia.

Dengan demikian, Dekonstruksi yang terjadi adalah pada aras pemikiran


masyarakat dengan menempatkan makna Ngaben bukan sebagai ngabehin yang artinya me
lebihi dari segi biaya. Tetapi masyarakat menyadarinya bahwa Ngaben itu adalah
sebagai suatu kewajiban moral yang harus dilakukan kepada leluhur sebagai
pembayaran utang (rnam). Dari kesadaran akan kewajiban itu
muncul pemikiran masyarakat, agar Ngaben itu dapat dilaksanakan seringan-ringannya,
dengan tidak lagi berorientasi pada kebiasaan upacara secara besar-besaran dalam hal
penyelenggaraan Upacara Ngaben.

Supaya dapat melaksanakan kewajibannya seringan mungkin, maka muncul pola


pikir masyarakat untuk melaksanakannya secara bersama-sama yaitu dengan Ngaben Massal.
Dengan praktik Ngaben Massal, yang sebagian besar diikuti oleh masyarakat menengah
kebawah ini, menunjukkan adanya suatu gerakan kontra
hegemoni terhadap cara penyelenggaraan Upacara Ngaben secara besar-besaran di
Desa Pakraman Sudaji.

2.3 Reinterpretasi Makna Solidaritas Kelompok.

Dimensi terpenting dari suatu yajña adalah memberikan makna sosial


religius kepada umat atau masyarakat yang melangsungkan Upacara Ngaben tersebut. Aspek
religiusitas dari suatu upacara, hendaknya dapat diserap oleh umat
sehingga dapat berdaya guna untuk menimbulkan perubahan sosial ke
arah yang makin baik yaitu terciptanya suatu kebersamaan dan kekompakan yang dalam
istilahnya Durkheim, disebut dengan solidaritas,
sehinnga akan dapat menuntun jalannya yajña yang lebih berkualitas (satwika).

Kekompakan dari masyarakat dalam pelaksanaan Upacara Ngaben Massal


pada masyarakat di Desa Pakraman Sudaji,
dapat memberikan makna tersendiri dalam menciptakan atmosfir
kebersamaan dalam meningkatkan keeratan sosial di tengah
kehidupan masyarakat yang semakin individualis dalam kehidupan masyarakat
global. Secara sosial upacara yajña tersebut dapat makin meningkatkan dinamika umat dal
am keakraban sosial yang makin produktif. Keakraban sosial yang dinamis
itu dapat menumbuhkan kondisi sosial yang kondusif untuk mengembangkan pemikiran-
pemikiran, wacana dan perilaku sosial yang dapat menciptakan integrasi sosial yang maki
n meningkat baik dalam lingkungan masyarakat kecil seperti keluarga, maupun lingkung
an masyarakat yang lebih luas. Pandangan seperti ini dikemukakan oleh salah seorang inf
ormen dalam pernyataannya sebagai berikut :

“Sebenarnya pelaksanaan Upacara Ngaben yang dilakukan secara Massal terseb


ut dapat juga
memberikan makna yang sangat besar bagi diri saya untuk meningkatkan keeratan
tali persaudaraan, paling tidak dilingkungan kelompok keluarga besar saya.
Ngaben Massal seperti yang pernah saya ikuti, dapat pula berfungsi sebagai media
penyelesaian konflik dalam keluarga. Seperti misalnya, dulunya, sebelum diadakan
Ngaben Massal,
ada keluarga saya yang datang kerumah saja ia tidak mau, tetapi dengan melakuka
n Upacara Ngaben Massal ia menjadi sadar dan rujuk. Karena ia
merasakan dan menyadari bahwa orang tua yang dibuatkan upacara
itu, juga leluhurnya yang patut juga ia hormati,
dan ini diyakini adalah untuk keselamatan atau kerahayuan bersama.”

Berdasarkan pernyataan informan tersebut, makna Ngaben massal dapat diberikan reinterpretasi
sebagai media untuk mewujudkan solidaritas sosial. Hal ini, dapat dipahami,
karena menurut Teori Interaksi Sosial seperti dikemukakan oleh Gillin and Gillin, (dalam
Soerjono Soekanto, 1981 : 55) pada tingkat interaksi sosial pada proses-
proses sosial yang merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis,
menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan (baca:
sebagai anggota keluarga yang terlibat dalam Ngaben massal), antara kelompok-
kelompok yang melibatkan berbagai soroh
(clan), maupun antara orang perorangan dengan kelompok-kelompok masyarakat tersebut.
Dengan mengacu pada keadaan seperti itu, Kimball Young (dalam Soerjono Soekanto,1981 :
68) menyebutnya dengan akomodasi
(accommodation) yang dipergunakannya dalam dua arti yaitu
sebagai suatu proses dan sebagai suatu keadaan.
Akomodasi sebagai suatu proses adalah menunjuk pada usaha manusia untuk meredakan s
uatu pertentangan, atau usaha untuk mencapai kestabilan, yang dalam hal ini dilakukan
dengan saling menumbuhkan saling pengertian bersama (compromise).
Menurut Gillin and Gillin (Soerjono Soekanto,
1981:65), mengemukakan bahwa kerjasama sebagai salah satu bentuk proses-
proses sosial yang asosiatif akan dapat berkembang apabila orang dapat digerakkan untuk
mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di
kemudian hari mempunyai manfaat bagi semuanya.

Adanya unsur kerekatan sosial di dalam keluarga, secara nyata nampak dari adanya
etika dalam ritual pemerasan sebagai bagian dari Upacara Ngaben. Etika pamerasan yang
secara sosial dapat bermakna untuk menjalin dan meningkatkan suatu persaudaraan di
dalam sebuah keluarga besar. Pemerasan ini disampaikan oleh
pihak keluarga yang melakukan Upacara Ngaben kepada para cucu-cucu atau
cicit pada keluarga kesamping. Penerima pamerasan akan tergelitik
hatinya, bahwa ia mempunyai tugas moril untuk memberikan salam terakhir dengan pelba
gai cara kepada mendiang, pada saat pembakaran jenazah dari mendiang yang dibuatkan
upacara. Disinilah nampak makna dari Upacara Ngaben melalui etika pemerasan
sebagai yang dapat mengukuhkan solidaritas keluarga.

Dampak pelaksanaan Ngaben Massal, di samping sebagai


media untuk menumbuhkan solidaritas keluarga secara internal,
tetapi juga dapat memupuk rasa solidaritas pada lingkungan masyarakat yang lebih luas y
aitu di antara kelompok-kelompok clan (soroh) peserta Ngaben Massal itu sendiri. Dalam
Upacara Ngaben tersebut, masing-
masing kelompok warga peserta Ngaben Massal merasa berada dalam satu kategori sosial
yang sama sebagai masyarakat kurang mampu, yaitu
dengan memiliki latar belakang kehidupan sosial ekonmi yang relatif sama
(kesetaraan) sehingga di sini muncul suatu perasaan bersama (sense of belonging)
dengan dasar simpati
dan semangat yang besar untuk mensukseskan pelaksanaan Ngaben Massal tersebut.

2.4 Reinterpretasi Makna Media Pendidikan Masyarakat

Adanya reinterpretasi makna pendidikan bagi masyarakat, pada Upacara Ngaben


Massal tersebut, karena di sini masyarakat melakukannya secara bersama-
sama secara gotong royong. Pada aktivitas bersama ini, secara struktural
melibatkan berbagai kecakapan dan kemampuan dari orang-orang yang terlibat dalam Ngaben
Massal tersebut, untuk mempersiapkan perlengkapan Upacara Ngaben,
sampai pada pelaksanaan prosesi upacaranya. Melalui interaksi dalam aktivitas bersama ini,
masyarakat melakukan saling tukar pengalaman dan pengetahuannya (social experience).

Dalam aktivitas bersama tersebut, juga dapat terjadi


proses transfer pengalaman dan ketrampilan dari masyarakat yang telah memahami
dengan baik tatanan Upacara Ngaben, kepada masyarakat yang masih awam
pengetahuannya tentang Upacara Ngaben. Dalam setiap upacara (Ngaben),
ada proses transformasi berbagai ketrampilan kepada generasi penerus. Misalnya pengetah
uan dan ketrampilan membuat banten atau sesaji, tata bhoga,
dan juga perlengkapan upacara lainnya.
Semua ketrampilan tersebut dapat ditransformasi dari generasi ke
generasi atau disampaikan kepada masyarakat yang masih awam tentang suatu sarana dan
prasarana upacara (Ngaben).

Hal
penting yang dapat ditumbuhkan dalam pelaksanaan Upacara Ngaben Massal, sebagai me
dia pendidikan, adalah munculnya kesadaran masyarakat akan nilai-
nilai yang bersifat esensial dari suatu upacara yajña seperti Upacara Ngaben itu sendiri.
Sehingga nilai esensi dari suatu upacara yajña
(Ngaben) tidak lagi terkubur oleh rutinitas suatu tradisi, yang tidak lebih dari suatu kewa
jiban tradisional semata yang dapat menimbulkan kesan bahwa upacara yajña seperti haln
ya Ngaben dengan tradisi hegemonik hanyalah beban tradisi yang lepas
dari hakikat dan makna suatu yajña.

2.5 Reinterpretasi Makna Ekonomi

Berdasarkan ungkapan beberapa informan,


reinterpretasi makna secara ekonomi dari upacara Ngaben massal, dapat dipahami dari re
ndahnya biaya yang dikeluarkan untuk Upacara Ngaben jika dibandingkan dengan pelaks
anaan Ngaben secara pribadi (niri).

Jika dianalisis dengan mempergunakan Teori Praktik menurut Bourdieau,


dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan Ngaben Massal di
Desa Pakraman Sudaji, adalah suatu praksis yang tereproduksi dari habitus. Habitus,
dalam pikiran Bourdieau adalah satu kata bahasa Latin yang mengacu kepada kondisi,
penampakkan atau situasi yang tipikal atau habitual (Jenkins dalam Nurhadi, 2004 :
107). Suatu praksis yang merupakan produk dari habitus di
dalamnya mengandung suatu pengertian adanya suatu penyesuaian dengan kondisi obyekti
f, dan terdapat hubungan resiprokal atau dialektis di antara mereka.

Praksis ritual Ngaben


yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat Desa Pakraman Sudaji, dalam konteks i
nteraksi antara habitus dan disposisinya, di satu sisi, dan kendala, permintaan dan kesempatan
arena sosial atau pasar yang disesuaikan dengan habitus atau tempat pergerakan aktor di
sisi yang lain, sehingga habitus ekonomi akan mereproduksi sebuah praksis
upacara Ngaben Massal dengan suatu tatanan yang lebih sederhana dan praktis,
sebagai produk dari interaksi habitus sosial, ekonomis dan teologis.

Reproduksi tindakan dalam bentuk ngaben massal,


adalah sebagai bentuk penyesuaian atau adaptasi terhadap kondisi sosial-ekonomi
masyarakat saat ini yang semakin terdifferensiasi terhadap kebutuhan hidup
yang semakin kompetitif dalam pemenuhannya. Sehingga hal ini
dapat juga dipahami dari “logika tindakan “ menurut Michel Lallement,
yang gagasan umumnya adalah untuk menampilkan alasan-alasan bertindak individu
dengan memperhitungkan keragaman pendorong dan rasionalitasnya
termasuk rasionalitas ekonominya suatu tindakan (Giddens, dalam terjemahan Ninik Rochani
Sjams, 2004 : 283), hal seperti ini merupakan pertimbangan ekonomi dalam pelaksanaan
Ngaben massal,
dan ini adalah merupakan ruh yang dapat menjiwai dan menggerakkan kerjasama masyara
kat di Desa Pakraman Sudaji untuk melangsungkan Upacara Ngaben Massal.

Memang pada jaman sebelumnya, masyarakat


melakukan Upacara Ngaben selalu secara besar-
besaran. Hal ini dapat dipahami karena keadaan atau kondisi
ekonomi masyarakat ketika itu masih memungkinkan dilihat dari sebaran penduduk yang

masih sedikit dengan jumlah lahan yang masih sangat luas sehingga masyarakat tidak ke
sulitan untuk melakukan upacara secara besar. Berbeda keadaannya seperti sekarang dim
ana jumlah penduduk sudah sangat padat, dan juga semakin didesak oleh kebutuhan-
kebutuhan sosial ekonomi yang lainnya. Sehingga di sini masyarakat perlu melakukan
perubahan tradisi menyangkut dari cara penyelenggaraan
upacara kearah yang lebih ekonomis tanpa ada maksud untuk mengurangi makna
upacara tersebut.

3. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan.

Hakekat pelaksanaan upacara Ngaben Massal, merupakan


dekonstruksi wacana hegemonic pada masyarakat di Desa Pakraman Sudaji. Dekonstruksi
terhadap tradisi hegemonik dalam wacana Ngaben, di mulai dari bangkitnya
kesadaran masyarakat secara filosofis yang dimulai dari semakin jelasnya pemahaman
masyarakat secara sastra agama. Dari pemahaman ini muncul rei-nterfretasi - re-
interfretasi yang lain seperti re-interfretasi makna ekonomi,
solidaritas sosial maupun pendidikan.
Rei-
nterfretasi makna upacara Ngaben seperti ini, menjadi dasar apresiasi yang sangat pentin
g sehingga Ngaben massal dapat diterima secara meluas pada sebagian besar kelompok
masyarakat di Desa Pakraman Sudaji.