Anda di halaman 1dari 28

Hemoroid grade 1-2

SOP No. Dokumen :


No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/3
Puskesmas Danga Ttd Kepala Puskesmas Kepala Puskesmas

Klaudia Pau
197908182005012020

1. Pengertian Pelebaran vena-vena di dalam pleksus hemoroidalis

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana


Hemoroid grade 1-2
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
1. Sarung tangan

Bahan :
2. Jelly

3. Flash light
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan :
keluar darah pada saat berak, warna merah segar, menetes
beberapa saat setelah berak, keluar benjolan pada saat berak dan
bisa kembali spontan ataupun dikembalikan secara manual,
mengeluh gatal di daerah perianal ataupun nyeri, dan ada gejala
anemia.
3. Dokter meminta persetujuan tindakan Colok Dubur
4. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
 Periksa tanda-tanda anemia
 Pemeriksaan status lokalis
o Inspeksi:
 Hemoroid derajat 1, tidak menunjukkan adanya
suatu kelainan di regio anal.
 Hemoroid derajat 2, tidak terdapat benjolan mukosa
yang keluar melalui anus, akan tetapi bagian
hemoroid yang tertutup kulit dapat terlihat sebagai
pembengkakan.
 Hemoroid derajat 3 dan 4 yang besar akan segera
dapat dikenali dengan adanya massa yang menonjol
dari lubang anus yang bagian luarnya ditutupi kulit
dan bagian dalamnya oleh mukosa yang berwarna
keunguan atau merah.
o Palpasi:
 Hemoroid interna pada stadium awal merupaka
pelebaran vena yang lunak dan mudah kolaps
sehingga tidak dapat dideteksi dengan palpasi.
 Setelah hemoroid berlangsung lama dan telah
prolaps, jaringan ikat mukosa mengalami fibrosis
sehingga hemoroid dapat diraba ketika jari tangan
meraba sekitar rektum bagian bawah.
5. Dokter meminta pemeriksaan penunjang : darah lengkap.
6. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang.
7. Dokter memberikan Penatalaksanaan : obat antinyeri, pencahar
8. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
9. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : I84 Haemorrhoids
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang 1. Konseling dan edukasi
perludiperhati 1. Konsumsi serat 25-30 gram perhari. Hal ini bertujuan
kan untuk membuat feses menjadi lebih lembek dan besar,
sehingga mengurangi proses mengedan dan tekanan pada
vena anus

2. Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari

3. Mengubah kebiasaan buang air besar. Segerakan ke kamar


mandi saat merasa akan buang air besar, jangan ditahan
karena akan memperkeras feses. Hindari mengedan

2. Kriteria rujukan :
Hemoroid interna grade 2, 3, dan 4 dan hemoroid eksterna
memerlukan penatalaksanaan di pelayanan kesehatan sekunder.
9. Unit 1. Poli Umum
2. Apotek
Terkait
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan
Hepatitis A
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/2

1. Pengertian Infeksi akut di liver yang disebabkan oleh hepatitis A virus (HAV), yang
disebarkan melalui rute fekal oral.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Hepatitis A
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Sarung tangan
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer aneroid
Bahan :
- Tidak ada
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan :
Demam, mata dan kulit kuning, nafsu makan turun, nyeri otot dan
perut kanan atas, kencing seperti teh, berak seperi dempul, lemah,
letih, lesu, mual, mutah.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
 Periksa tanda-tanda ikterus ( sklera, kulit, palatum mole)

 Pemeriksaan vital sign : suhu, nadi, laju pernafasan,


tekanan darah
 Pemeriksaan abdomen : hepatomegali.
4. Dokter meminta pemeriksaan penunjang :
 Pemeriksaan darah : Darah lengkap, SGOT, SGPT
 Pemeriksaan Urin : Bilirubin
5. Dokter menegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan penunjang.
6. Dokter memberikan penatalaksanaan
a. Asupan nutrisi yang adekuat.
b. Tirah baring
c. Pengobatan simptomatik : ibuprofen 3x400mg, anti emetik :
metoklopramid atau domperidon 3x10mg.
7. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
8. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : B15 Acute Hepatitis A
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang 1. Konseling dan edukasi
perludiperhati 1. Sanitasi dan higiene mampu mencegah penularan virus
kan
2. Vaksinasi Hepatitis A diberikan kepada orang-orang yang
berisiko tinggi terinfeksi

3. Keluarga ikut menjaga asupan kalori dancairan yang


adekuat, dan membatasi aktivitas fisik pasien selama fase
akut

2. Kriteria rujukan :
1. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan penunjang
laboratorium
2. Penderita Hepatitis A dengan keluhan ikterik yang menetap
disertai keluhan yang lain.
3. Penderita Hepatitis A dengan penurunan kesadaran dengan
kemungkinan ke arah ensefalopati hepatik.
9. Unit 1. Poli Umum
2. Apotek
Terkait
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan

Hepatitis B
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/3
1. Pengertian Infeksi virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan
tubuh dari seseorang yang terinfeksi yang disebabkan HBV.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Hepatitis B
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Sarung tangan
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer aneroid
Bahan :
- Tidak ada
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan :
 Umumnya tidak menimbulkan gejala terutama pada anak-
anak.
 Gejala timbul apabila seseorang telah terinfeksi selama 6
minggu, antara lain:
a. gangguan gastrointestinal, seperti: malaise,
anoreksia, mual dan muntah;
b. gejala flu: batuk, fotofobia, sakit kepala, mialgia.
 Gejala prodromal seperti diatas akan menghilang pada saat
timbul kuning, tetapi keluhan anoreksia, malaise, dan
kelemahan dapat menetap.
 Ikterus didahului dengan kemunculan urin berwarna gelap.
Pruritus (biasanya ringan dan sementara) dapat timbul
ketika ikterus meningkat. Pada saat badan kuning, biasanya
diikuti oleh pembesaran hati yang diikuti oleh rasa sakit bila
ditekan di bagian perut kanan atas. Setelah gejala tersebut
akan timbul fase resolusi.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
 Periksa tanda-tanda ikterus ( sklera, kulit, palatum mole)
 Pemeriksaan vital sign : suhu, nadi, laju pernafasan,
tekanan darah
 Hepatomegali
 Splenomegali dan limfadenopati (10-20%)
4. Dokter meminta pemeriksaan penunjang :
 Pemeriksaan darah : Darah lengkap, SGOT, SGPT
 Pemeriksaan Urin : Bilirubin
 Serologi : HbsAg
5. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang.
6. Dokter memberikan penatalaksanaan
a. Asupan nutrisi yang adekuat.
b. Tirah baring
c. Pengobatan simptomatik : ibuprofen 3x400mg, anti emetik :
metoklopramid atau domperidon 3x10mg.
7. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
8. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : B16 Acute Hepatitis B
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang 1. Konseling dan edukasi
a. Memberi edukasi pada keluarga untuk ikut mendukung pasien
perlu
agar teratur minum obat karena pengobatan jangka panjang.
diperhatikan
b. Pada fase akut, keluarga ikut menjaga asupan kalori dan
cairan yang adekuat, dan membatasi aktivitas fisik pasien.
c. Pencegahan penularan pada anggota keluarga dengan
modifikasi pola hidup untuk pencegahan transmisi dan
imunisasi
2. Kriteria rujukan :

Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan penunjang


laboratorium di pelayanan kesehatan sekunder
Penderita hepatitis B dengan keluhan ikterik yang menetap
disertai keluhan yang lain.
9. Unit Terkait 1. Poli Umum
2. KIA
3. Rawat Inap
4. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan
Appendisitis Akut
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/4

1. Pengertian Adalah radang yang timbul secara mendadak pada apendik, merupakan
salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui, dan jika tidak
ditangani segera dapat menyebabkan perforasi.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Appendisitis akut
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Sarung tangan
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer aneroid
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan :
 Nyeri perut kanan bawah, mula-mula daerah epigastrium
kemudian menjalar ke Mc Burney. Apa bila telah terjadi
inflamasi (>6 jam) penderita dapat menunjukkan letak nyeri
karena bersifat somatik.
 Gejala Klinis
a. Muntah (rangsangan viseral) akibat aktivasi nervus
vagus.
b. Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul
beberapa jam sesudahnya, merupakan kelanjutan
dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan.
c. Disuria juga timbul apabila peradangan apendiks
dekat dengan vesika urinaria.
d. Obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan
beberapa penderita mengalami diare, timbul
biasanya pada letak apendiks pelvikal yang
merangsang daerah rektum.
e. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi,
yaitu suhu antara 37,50C - 38,50C tetapi bila suhu
lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi.
f. Variasi lokasi anatomi apendiks akan menjelaskan
keluhan nyeri somatik yang beragam. Sebagai contoh
apendiks yang panjang dengan ujung yang
mengalami inflamasi di kuadran kiri bawah akan
menyebabkan nyeri di daerah tersebut, apendiks
retrosekal akan menyebabkan nyeri flank atau
punggung, apendiks pelvikal akan menyebabkan
nyeri pada supra pubik dan apendiks retroileal bisa
menyebabkan nyeri testikuler, mungkin karena
iritasi pada arteri spermatika dan ureter
3. Dokter meminta persetujuan tindakan Colok Dubur
4. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
 Inspeksi : Penderita berjalan membungkuk sambil
memegangi perutnya yang sakit, Kembung bila terjadi
perforasi, Penonjolan perut kanan bawah terlihat pada
appendikuler abses.
 Palpasi : Terdapat nyeri tekan Mc Burney , Adanya rebound
tenderness (nyeri lepas tekan), Adanya defans muscular ,
Rovsing sign positif , Psoas sign positif , Obturator Sign
positif
 Perkusi : Nyeri ketok (+)
 Auskultasi : Peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada
illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat
appendisitis perforata.
 Colok dubur : Nyeri tekan pada jam 9-12
5. Dokter meminta pemeriksaan penunjang :
 Laboratorium darah perifer lengkap
a. Pada apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium
nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat.
b. Pada anak ditemukan lekositosis 11.000-
14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung jenis
menunjukkan pergeseran ke kiri hampir 75%.
c. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka
umumnya sudah terjadi perforasi dan peritonitis.
 Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi
dan menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan
nyeri abdomen.
 Pengukuran kadar HCG bila dicurigai kehamilan ektopik
pada wanita usia subur.
6. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang.
7. Dokter memberikan penatalaksanaan
a. Pasien yang telah terdiagnosis apendisitis akut harus segera
dirujuk ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi cito.
b. Penatalaksanaan di pelayanan kesehatan primer sebelum
dirujuk:
1. Bed rest total posisi fowler (anti Trandelenburg)
2. Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak
diberikan apapun melalui mulut.
3. Penderita perlu cairan intravena untuk mengoreksi jika
ada dehidrasi.
4. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan
lambung agar mengurangi distensi abdomen dan
mencegah muntah.
8. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
9. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : K.35.9 Acute Appendicitis
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang Kriteria rujukan : Pasien yang telah terdiagnosis harus dirujuk ke layanan
perlu sekunder untuk dilakukan operasi cito.
diperhatikan
9. Unit Terkait 1. UGD
2. Poli Umum
3. Rawat Inap
4. Laboratorium
5. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
3. Surat Rujukan
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan
Parotitis/ Mumps
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/3

1. Pengertian Peradangan pada kelenjar parotis. Parotitis dapat disebabkan oleh infeksi
virus, infeksi bakteri, atau kelainan autoimun, dengan derajat kelainan
yang bervariasi dari ringan hingga berat.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Parotitis/ mumps
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Sarung tangan
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer aneroid
Bahan :
- Tidak ada
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan :
 Parotitis mumps
a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga
rahang bawah
b. Bengkak berlangsung tiba-tiba
c. Rasa nyeri pada area yang bengkak
d. Onset akut, biasanya < 7 hari
e. Gejala konstitusional: malaise, anoreksia, demam
f. Biasanya bilateral, namun dapat pula unilateral
 Parotitis bakterial akut
a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga
rahang bawah
b. Bengkak berlangsung progresif
c. Onset akut, biasanya < 7 hari
d. Demam
e. Rasa nyeri saat mengunyah
 Parotitis HIV
a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga
rahang bawah
b. Tidak disertai rasa nyeri
c. Dapat pula bersifat asimtomatik
 Parotitis tuberkulosis
a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga
rahang bawah
b. Onset kronik
c. Tidak disertai rasa nyeri
d. Disertai gejala-gejala tuberkulosis lainnya
 Parotitis autoimun (Sjogren syndrome)
a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga
rahang bawah
b. Onset kronik atau rekurens
c. Tidak disertai rasa nyeri
d. dapat unilateral atau bilateral
e. Gejala-gejala Sjogren syndrome, misalnya mulut kering,
mata kering
f. Penyebab parotitis lain telah disingkirkan Tidak disertai
rasa nyeri
g. Dapat pula bersifat asimtomatik
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
 Lihat keadaan umum pasien dari sakit ringan- sedang,
adanya peningkatan suhu tubuh, dilakukan pemeriksaan di
area periaurikuler apakah ada eritema, edema, nyeri tekan,
pada kasus parotitis karena infesi bakteri sebaiknya
dilakukan palpasi dari posterior ke anterior dan mengamati
keluarnya pus dari duktus parotis.
4. Dokter meminta pemeriksaan penunjang :
 Biasanya tidak diperlukan kecuali terdapat penyakit yang
mendasari ke arah HIV, Tb, Sjorgen syndrome
5. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang.
6. Dokter memberikan penatalaksanaan
 Parotitis mumps
 Nonmedikamentosa
 Pasien perlu cukup beristirahat
 Hidrasi yang cukup
 Asupan nutrisi yang bergizi
 Medikamentosa

 Pengobatan bersifat simtomatik (antipiretik,


analgetik)
 Parotitis bakterial akut
 Nonmedikamentosa
 Pasien perlu cukup beristirahat
 Hidrasi yang cukup
 Asupan nutrisi yang bergizi
 Medikamentosa
 Antibiotik
 Simtomatik (antipiretik, analgetik)

7. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga


pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
8. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : B26. Mumps
7. Bagan Alir -
8. Hal- hal yang Konseling dan Edukasi :
perlu 1. Penjelasan mengenai diagnosis, penyebab, dan rencana tatalaksana.
diperhatikan 2. Penjelasan mengenai pentingnya menjaga kecukupan hidrasi dan
higiene oral.
3. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang adekuat mengenai
pentingnya imunisasi MMR untuk mencegah epidemi parotitis mumps.
Kriteria Rujukan:
1. Parotitis dengan komplikasi
2. Parotitis akibat kelainan sistemik, seperti HIV, tuberkulosis, dan
Sjogren syndrome.
9. Unit Terkait 1. Poli Umum
2. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai diberlakukan
historis
perubahan
Askariasis
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/2

1. Pengertian Suatu penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit

Ascaris lumbricoides.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Askariasis
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Sarung tangan
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer aneroid
Bahan :
- Tidak ada
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan
Nafsu makan menurun, perut membuncit, lemah, pucat, berat
badan menurun, mual, muntah.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
Pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan generalis tubuh,
anemia konjungtiva, tanda-tanda malnutrisi, nyeri abdomen bila
ada tanda obstruksi.
4. Dokter meminta pemeriksaan penunjang : Feses Lengkap
5. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang.
6. Dokter memberikan penatalaksanaan
Dapat diberikan pyrantel pamoate dengan dosis 10 mg/kgbb/hari
dosis tunggal, albendazole untuk anak diatas 2 tahun dengan 2tab
(400mg) dosis tunggal dan tidak boleh diberikan pada ibu hamil.

7. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga


pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
8. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : B77.9 Ascariaris unspecified
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang Konseling dan Edukasi
perlu Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai
diperhatikan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu antara
lain:
1. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga. Sehingga
kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah
disekitar lingkungan tempat tinggal kita.
2. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk.
3. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.
4. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.
5. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas
dengan menggunakan sabun dan air mengalir.
6. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak
lembab.
9. Unit Terkait 1. Poli Umum
2. Laboratorium
3. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan

Tension headache
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/3

1. Pengertian Bentuk sakit kepala yang paling sering dijumpai dan sering dihubungkan
dengan jangka waktu dan peningkatan stres.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Tension Headache
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan
Nyeri yang tersebar secara difus dan sifat nyerinya mulai dari
ringan hingga sedang. Nyeri kepala tegang otot biasanya
berlangsung selama 30 menit hingga 1 minggu penuh. Nyeri bisa
dirasakan kadang-kadang atau terus menerus. Nyeri pada awalnya
dirasakan pasien pada leher bagian belakang kemudian menjalar
ke kepala bagian belakang selanjutnya menjalar ke bagian depan.
Selain itu, nyeri ini juga dapat menjalar ke bahu. Nyeri kepala
dirasakan seperti kepala berat, pegal, rasa kencang pada daerah
bitemporal dan bioksipital, atau seperti diikat di sekeliling kepala.
Nyeri kepala tipe ini tidak berdenyut. Pada nyeri kepala ini tidak
disertai mual ataupun muntah tetapi anoreksia mungkin saja
terjadi. Gejala lain yang juga dapat ditemukan seperti insomnia
(gangguan tidur yang sering terbangun atau bangun dini hari),
nafas pendek, konstipasi, berat badan menurun, palpitasi dan
gangguan haid.

Pada nyeri kepala tegang otot yang kronis biasanya merupakan


manifestasi konflik psikologis yang mendasarinya seperti
kecemasan dan depresi.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan :
Pada pemeriksaan fisik, tanda vital harus normal, pemeriksaan
neurologis normal. Pemeriksaan yang dilakukan berupa
pemeriksaan kepala dan leher serta pemeriksaan neurologis yang
meliputi kekuatan motorik, refleks, koordinasi, dan sensoris.
Pemeriksaan mata dilakukan untuk mengetahui adanya
peningkatan tekanan pada bola mata yang bisa menyebabkan sakit
kepala. Pemeriksaan daya ingat jangka pendek dan fungsi mental
pasien juga dilakukan dengan menanyakan beberapa pertanyaan.
4. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik.
5. Dokter memberikan penatalaksanaan berupa antinyeri seperti
acetaminofen, aspirin, ibuprofen, anti depresan seperti amitriptilin,
serta anticemas gol benzodiazepine.
6. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
7. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : G44.2 Tension–type headache
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang Konseling dan Edukasi
perlu 1. Keluarga ikut meyakinkan pasien bahwa tidak ditemukan kelainan
diperhatikan fisik dalam rongga kepala atau otaknya dapat menghilangkan rasa
takut akan adanya tumor otak atau penyakit intrakranial lainnya.
2. Keluarga ikut membantu mengurangi kecemasan atau depresi
pasien, serta menilai adanya kecemasan atau depresi pada pasien.

Kriteria Rujukan
1. Bila nyeri kepala tidak membaik maka dirujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf.
2. Bila depresi berat dengan kemungkinan bunuh diri maka pasien
harus dirujuk ke pelayanan sekunder yang memiliki dokter spesialis
jiwa.

9. Unit Terkait 1. Poli Umum


2. Apotek
10. Dokumen Rekam Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan
Migrain
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/2

1. Pengertian Suatu istilah yang digunakan untuk nyeri kepala primer dengan kualitas
vaskular (berdenyut), diawali unilateral yang diikuti oleh mual, fotofobia,
fonofobia, gangguan tidur dan depresi.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Migrain
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan : Nyeri
kepala sedang- berat dengan lokasi unilateral terasa seperti
berdenyut atu tertusuk tusuk, nyeri di perparah dengan aktivitas,
fotofobia, mual dapat disertai atau tanpa muntah, dan 60 %
penderita melaporkan adanya gejala prodormal yang terjadi
beberapa hari atau jam sebelum terjadinya gejala dengan adanya
perubahan mood, tingkah laku,ataupun gejala psikologis. Nyeri
dapat dipicu oleh menstruasi, kurang istirahat, terlambat makan,
makanan seperti coklat, susu, alkohol, keju dan buah-buahan,dan
cahaya kilat atau berkelip.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik : tidak ada yang khas
4. Dokter tidak memerlukan pemeriksaan penunjang kecuali adanya
nyeri yang persisten, defisit neurologis dan ada penyakit metabolik
yang mendasari.
5. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik.
6. Dokter memberikan penatalaksanaan berupa antinyeri seperti
asetaminofen, NSAID, ergotamine, sumatriptane dengan dosis 50
mg/hari, anti muntah dapat diberikan metoklopramide atau
domperidone, dapat diberikan antidepresan seperti amitriptilin dan
terapi pencegahan dengan beta bloker ataupun calsium chanel
bloker.
7. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
8. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : G43.9 Migraine, unspecified
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang Konseling dan Edukasi
perlu 1. Pasien dan keluarga dapat berusaha mengontrol serangan.
diperhatikan 2. Keluarga menasehati pasien untuk beristirahat dan menghindari
pemicu, serta berolahraga secara teratur.
3. Keluarga menasehati pasien jika merokok untuk berhenti
merokok karena merokok dapat memicu sakit kepala atau
membuat sakit kepala menjadi lebih parah.
Kriteria Rujukan :
Pasien perlu dirujuk jika migren terus berlanjut dan tidak hilang
dengan pengobatan analgesik non-spesifik. Pasien dirujuk ke
layanan sekunder (dokter spesialis saraf).
9. Unit Terkait 1. Poli Umum
2. UGD
3. Laboratorium
4. Rawat Inap
5. Apotek
10. Dokumen Rekam Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan
Vertigo
SOP No. Dokumen :
No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/3

1. Pengertian Persepsi yang salah dari gerakan seseorang atau lingkungan sekitarnya.

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana


Migrain
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Termometer
- Stopwatch
- Spygmomanometer
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan :
Vertigo vestibular
Menimbulkan sensasi berputar, timbulnya episodik, diprovokasi
oleh gerakan kepala, bisa disertai rasa mual atau muntah.
Vertigo vestibular perifer timbulnya lebih mendadak setelah
perubahan posisi kepala dengan rasa berputar yang berat, disertai
mual atau muntah dan keringat dingin. Bisa disertai gangguan
pendengaran berupa tinitus, atau ketulian, dan tidak disertai gejala
neurologik fokal seperti hemiparesis, diplopia, perioralparestesia,
paresis fasialis.
Vertigo vestibular sentral timbulnya lebih lambat, tidak
terpengaruh oleh gerakan kepala. Rasa berputarnya ringan, jarang
disertai rasa mual dan muntah, tidak disertai gangguan
pendengaran. Keluhan dapat disertai dengan gejala neurologik
fokal seperti hemiparesis, diplopia, perioralparestesia, paresis
fasialis.

Vertigo non vestibular


Sensasi bukan berputar, melainkan rasa melayang, goyang,
berlangsung konstan atau kontinu, tidak disertai rasa mual dan
muntah, serangan biasanya dicetuskan oleh gerakan objek
sekitarnya seperti di tempat keramaian misalnya lalu lintas macet.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik secara umum, pemeriksaan
kardiovaskular, pemeriksaan neurologis berupa kesadaran, saraf
kranial, morotik, sensorik, dan pemeriksaan keseimbangan berupa
tes nistagmus, tes romberg, tes fukuda maupun tes past pointing.
4. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik
5. Dokter memberikan penatalaksanaan:
a. Non medikamentosa
Berikan latihan kepada pasien duduk tegak di pinggir tempat
tidur dengan kedua tungkai tergantung, dengan kedua mata
tertutup baringkan tubuh dengan cepat ke salah satu sisi,
pertahankan selama 30 detik. Setelah itu duduk kembali.
Setelah 30 detik, baringkan dengan cepat ke sisi lain.
Pertahankan selama 30 detik, lalu duduk kembali. Lakukan
latihan ini 3 kali pada pagi, siang dan malam hari masing-
masing diulang 5 kali serta dilakukan selama 2 minggu atau 3
minggu dengan latihan pagi dan sore hari.
b. Medikamentosa
Dapat diberikan antihistamin berupa dimenhidrinat,
dipenhidramin, senyawa betahistin berupa betahistin maleate
atau hcl diberikan 3x/ hari dan dapat diberikan CCB berupa
cinarizine 3x 15mg.
6. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
7. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : R42 Dizziness and giddiness
7. Bagan Alir
8. Hal- hal yang Konseling dan Edukasi
perlu
diperhatikan 1. Keluarga turut mendukung dengan memotivasi pasien dalam mencari
penyebab vertigo dan mengobatinya sesuai penyebab.
2. Mendorong pasien untuk teratur melakukan latihan vestibular.
Kriteria Rujukan :
1. Vertigo vestibular tipe sentral harus segera dirujuk.
2. Tidak terdapat perbaikan pada vertigo vestibular setelah diterapi
farmakologik dan non farmakologik.
9. Unit Terkait 1. Poli Umum
2. UGD
3. Rawat Inap
4. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan

Gangguan Psikotik

SOP No. Dokumen :


No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman : 1/4
1. Pengertian Gangguan yang ditandai dengan ketidakmampuan atau hendaya berat
dalam menilai realita, berupa sindroma antara lain dimanifestasikan
dengan adanya halusinasi dan waham.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam melakukan tatalaksana
Gangguan psikotik
3. Kebijakan
4. Referensi Panduan Praktek Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer.
5. Prosedur Alat :
- Alat fiksasi
- Ambulans
6. Langkah- 1. Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan nama,
langkah tanggal lahir, alamat pasien dan mencocokan data dengan rekam
medis
2. Dokter melakukan anamnesis dengan menanyakan keluhan : sulit
tidur, sulit berpikir, perasaan gelisah, berbicara kacau, mendengar
suara yang tidak dapat didengar orang lain, adanya pikiran aneh
yang tidak sesuai dengan realita, marah tanpa jelas, menarik diri
dari lingkungan.
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik secara umum untuk mencari
penyebab organiknya.
4. Dokter meminta pemeriksaan penunjang sesuai penyebabnya.
5. Dokter menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dan sesuai icd 10
dengan adanya waham, halusinasi, gangguan proses berpikir,
agitatif, perawatan diri yang buruk.
6. Dokter memberikan penatalaksanaan
- Intervensi Psikososial

o Informasi penting bagi pasien dan keluarga


 Agitasi dan perilaku aneh merupakan gejala
gangguan mental, yang juga termasuk penyakit
medis.
 Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik,
tetapi perjalanan penyakit jangka panjang sulit
diprediksi. Pengobatan perlu dilanjutkan meskipun
setelah gejala mereda.
 Gejala-gejala dapat hilang timbul. Diperlukan
antisipasi dalam menghadapi kekambuhan. Obat
merupakan komponen utama dalam pengobatan.
Minum obat secara teratur akan mengurangi gejala-
gejala dan mencegah kekambuhan.
 Dukungan keluarga penting untuk ketaatberobatan
(compliance) dan rehabilitasi.
 Organisasi masyarakat dapat menyediakan
dukungan yang berharga untuk pasien dan keluarga.
- Meminimalisasi stres dan stimulasi: Jangan mendebat
pikiran psikotik (anda boleh tidak setuju dengan keyakinan
pasien, tetapi jangan mencoba untuk membantah bahwa
pikiran itu salah). Sedapat mungkin hindari konfrontasi dan
kritik.
- Selama masa gejala-gejala menjadi lebih berat, istirahat dan
menghindari stres dapat bermanfaat.
- Agitasi yang berbahaya untuk pasien, keluarga dan
masyarakat memerlukan rawat inap atau pengamatan ketat
di tempat yang aman.
- Medikamentosa
Berikan obat antipsikotik: Haloperidol 2-3 x 2-5 mg/hari atau
Risperidon 2x 1-3 mg/hari atau Klorpromazin 2-3 x 100-200
mg/hari. Untuk haloperidol dan risperidon dapat digabungkan
dengan benzodiazepin (contoh: diazepam 2-3 mg, lorazepam 1-
3 x 1-2 mg) untuk mengurangi agitasi dan memberikan efek
sedasi. Benzodiazepin dapat ditappering-off setelah 2-4 minggu.
Catatan: klorpromazin memiliki efek samping hipotensi
ortostatik.

Intervensi sementara untuk gaduh gelisah dapat diberikan


injeksi intra muskular haloperidol kerja cepat (short acting) 5
mg, dapat diulangi dalam 30 menit - 1 jam jika belum ada
perubahan yang signifikan, dosis maksimal 30 mg/hari. Atau
dapat juga dapat diberikan injeksi intra muskular klorpromazin
2-3 x 50 mg. Untuk pemberian haloperidol dapat diberikan
tambahan injeksi intra muskular diazepam untuk mengurangi
dosis ntipsikotiknya dan menambah efektivitas terapi. Setelah
stabil segera rujuk ke RS/RSJ.
Untuk pasien psikotik kronis yang tidak taat berobat, dapat
dipertimbangkan untuk pemberian injeksi depo (jangka panjang)
antipsikotik seperti haloperidol decanoas 50 mg atau
fluphenazine decanoas 25 mg. Berikan injeksi I.M ½ ampul
terlebih dulu untuk 2 minggu, selanjutnya injeksi 1 ampul
untuk 1 bulan. Obat oral jangan diberhentikan dahulu selama
1-2 bulan, sambil dimonitor efek samping, lalu obat oral
turunkan perlahan.
Jika timbul efek samping ekstrapiramidal seperti tremor,
kekakuan, akinesia, dapat diberikan triheksifenidil 2-4 x 2 mg;
jika timbul distonia akut berikan injeksi diazepam atau
difenhidramin, jika timbul akatisia (gelisah, mondar mandir
tidak bisa berhenti bukan akibat gejala) turunkan dosis
antipsikotik dan berikan beta-blocker, propranolol 2-3 x 10-20
mg.
- Kunjungan Rumah (home visit)
Kunjungan rumah dilakukan sesuai indikasi untuk:
Memastikan kepatuhan dan kesinambungan pengobatan,
Melakukan asuhan keperawatan Melakukan pelatihan bagi
pelaku rawat.
7. Dokter memberikan edukasi kepada pasien dan atau keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, layanan medis, pengobatan, efek
samping obat dan rujukan bila diperlukan.
8. Dokter mencatat tanggal pemeriksaan, anamnesis, pemeriksaan
fisik, diagnosis/kode ICD 10 : F20 Chronic Psychotic Disorder
7. Bagan Alir
(jika
dibutuhkan)
8. Hal- hal yang Konseling pasien dan keluarga
perlu  Bicarakan rencana pengobatan dengan anggota keluarga dan minta
diperhatikan dukungan mereka. Terangkan bahwa minum obat secara teratur dapat
mencegah kekambuhan. Informasikan bahwa obat tidak dapat
dikurangi atau dihentikan tiba-tiba tanpa persetujuan dokter.
Informasikan juga tentang efek samping yang mungkin timbul dan cara
penanggulangannya.
 Dorong pasien untuk melakukan fungsinya dengan seoptimal
mungkin di pekerjaan dan aktivitas harian lain.
 Dorong pasien untuk menghargai norma dan harapan masyarakat
(berpakaian, berpenampilan dan berperilaku pantas).
 Menjaga keselamatan pasien dan orang yg merawatnya pd fase akut:
 Keluarga atau teman harus menjaga pasien.
 Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi (misalnya makan dan
minum). Jangan sampai mencederai pasien
Kriteria Rujukan :
1. Pada kasus baru dapat dirujuk untuk konfirmasi diagnostik ke
fasyankes sekunder yang memiliki pelayanan kesehatan jiwa
setelah dilakukan penatalaksanaan awal.
2. Kondisi gaduh gelisah yang membutuhkan perawatan inap karena
berpotensi membahayakan diri atau orang lain segera dirujuk
setelah penatalaksanaan awal.
9. Unit Terkait 1. Poli Umum
2. UGD
3. Rawat Inap
4. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam Medis
2. Persetujuan Tindakan Medis
terkait
3. Surat Rujukan
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tangga mulai
historis diberlakukan
perubahan