Anda di halaman 1dari 4

Penatalaksanaan HDI

Penatalaksanaan HDI diberikan untuk meredakan gejala akut dan mengatasi etiologi. Pada kasus
HDI, terapi dibagi berdasarkan terapi konservatif dan bedah.
a) Terapi konservatif
Tujuan terapi konservatif adalah mengurangi iritasi saraf, memperbaiki kondisi fisik pasien dan
melindungi dan meningkatkan fungsi tulang punggung secara keseluruhan. 90% pasien akan
membaik dalam waktu 6 minggu, hanya sisanya yang membutuhkan pembedahan. Terapi
konservatif akibat HDI meliputi:
1. Tirah baring
Tujuan tirah baring untuk mengurangi nyeri mekanik dan tekanan intradiskal, lama yang
dianjurkan adalah 2-4 hari. Tirah baring terlalu lama akan menyebabkan otot melemah.
Pasien dilatih secara bertahap untuk kembali ke aktivitas biasa. Posisi tirah baring yang
dianjurkan adalah dengan menyandarkan punggung, lutut dan punggung bawah pada
posisi sedikit fleksi. Fleksi ringan dari vertebra lumbosakral akan memisahkan
permukaan sendi dan memisahkan aproksimasi jaringan yang meradang.
2. Medikamentosa
 Analgetik dan NSAID
 Pelemas otot: digunakan untuk mengatasi spasme otot
 Opioid: tidak terbukti lebih efektif dari analgetik biasa. Pemakaian jangka panjang
dapat menyebabkan ketergantungan
 Kortikosteroid oral: pemakaian masih menjadi kontroversi namun dapat
dipertimbangkan pada kasus HNP berat untuk mengurangi inflamasi.
 Analgetik ajuvan: dipakai pada HNP kronis
b) Terapi Fisik
1. Diatermi/kompres panas/dingin
Tujuannya adalah mengatasi nyeri dengan mengatasi inflamasi dan spasme otot. Keadaan
akut biasanya dapat digunakan kompres dingin, termasuk bila terdapat edema. Untuk
nyeri kronik dapat digunakan kompres panas maupun dingin.
2. Korset lumbal
Korset lumbal tidak bermanfaat pada nyeri punggung bawah (NPB) akut namun dapat
digunakan untuk mencegah timbulnya eksaserbasi akut atau nyeri NPB kronis. Sebagai
penyangga korset dapat mengurangi beban diskus serta dapat mengurangi spasme.
3. Latihan
Direkomendasikan melakukan latihan dengan stres minimal punggung seperti jalan kaki,
naik sepeda atau berenang. Latihan lain berupa kelenturan dan penguatan. Latihan
bertujuan untuk memelihara fleksibilitas fisiologik, kekuatan otot, mobilitas sendi dan
jaringan lunak.
4. Latihan kelenturan
Latihan untuk kelenturan punggung adalah dengan membuat posisi meringkuk seperti
bayi dari posisi terlentang. Tungkai digunakan sebagai tumpuan tarikan. Untuk
menghasilkan posisi knee-chest, panggul diangkat dari lantai sehingga punggung
teregang, dilakukan fleksi bertahap punggung bawah bersamaan dengan fleksi leher dan
membawa dagu ke dada. Dengan gerakan ini sendi akan mencapai rentang
maksimumnya. Latihan ini dilakukan sebanyak 3 kali gerakan, 2 kali sehari.
5. Latihan penguatan
 Latihan pergelangan kaki: Gerakkan pergelangan kaki ke depan dan belakang dari
posisi berbaring.
 Latihan menggerakkan tumit: Dari posisi berbaring lutut ditekuk dan kembali
diluruskan dengan tumit tetap menempel lantai (menggeser tumit).
 Latihan mengangkat panggul: Pasien dalam posisi telentang, dengan lutut dan
punggung fleksi, kaki bertumpu di lantai. Kemudian punggung ditekankan lantai dan
panggul diangkat pelan-pelan dari lantai, dibantu dengan tangan yang bertumpu
lantai. Latihan ini untuk meningkatkan lordosis vertebra lumbal.
 Latihan berdiri: Berdiri membelakangi dinding dengan jarak 10-20 cm, kemudian
punggung menekan dinding dan panggul direnggangkan dari dinding sehingga
punggung menekan dinding. Latihan ini untuk memperkuat muskulus kuadriseps.
 Latihan peregangan otot hamstring: Peregangan otot hamstring penting karena otot
hamstring yang kencang menyebabkan beban vertebra lumbosakral termasuk pada
anulus diskus posterior, ligamen dan otot erector spinae. Latihan dilakukan dari
posisi duduk, kaki lurus ke depan dan badan dibungkukkan untuk berusaha
menyentuh ujung kaki. Latihan ini dapat dilakukan dengan berdiri.
 Latihan berjinjit: Latihan dilakukan dengan berdiri dengan seimbang pada 2 kaki,
kemudian berjinjit (mengangkat tumit) dan kembali seperti semula. Gerakan ini
dilakukan 10 kali.
 Latihan mengangkat kaki: Latihan dilakukan dengan menekuk satu lutut, meluruskan
kaki yang lain dan mengangkatnya dalam posisi lurus 10-20 cm dan tahan selama 1-5
detik. Turunkan kaki secara perlahan. Latihan ini diulang 10 kali.
 Proper body mechanics: Pasien perlu mendapat pengetahuan mengenai sikap tubuh
yang baik untuk mencegah terjadinya cedera maupun nyeri.
Beberapa prinsip dalam menjaga posisi punggung adalah sebagai berikut:
 Dalam posisi duduk dan berdiri, otot perut ditegangkan, punggung tegak dan lurus. Hal ini
akan menjaga kelurusan tulang punggung.
 Ketika akan turun dari tempat tidur posisi punggung didekatkan ke pinggir tempat tidur.
Gunakan tangan dan lengan untuk mengangkat panggul dan berubah ke posisi duduk. Pada
saat akan berdiri tumpukan tangan pada paha untuk membantu posisi berdiri.
 Posisi tidur gunakan tangan untuk membantu mengangkat dan menggeser posisi panggul.
 Saat duduk, lengan membantu menyangga badan. Saat akan berdiri badan diangkat dengan
bantuan tangan sebagai tumpuan.
 Saat mengangkat sesuatu dari lantai, posisi lutut ditekuk seperti hendak jongkok, punggung
tetap dalam keadaan lurus dengan mengencangkan otot perut. Dengan punggung lurus,
beban diangkat dengan cara meluruskan kaki. Beban yang diangkat dengan tangan
diletakkan sedekat mungkin dengan dada.
 Jika hendak berubah posisi, jangan memutar badan. Kepala, punggung dan kaki harus
berubah posisi secara bersamaan.
 Hindari gerakan yang memutar vertebra. Bila perlu, ganti wc jongkok dengan wc duduk
sehingga memudahkan gerakan dan tidak membebani punggung saat bangkit.
c) Terapi operatif
Terapi bedah dipertimbangkan ketika terapi konservatif selama sebulan tidak ada kemajuan,
iskhialgia yang berat/menetap, adanya gangguan miksi/defekasi dan seksual, serta adanya paresis
otot tungkai bawah. (Mahadewa & Maliawan, 2009). Pasien hernia diskus intervertebralis
dengan penanganan bedah menunjukkan perbaikan yang lebih besar dari segi nyeri, fungsi,
kepuasan dan kesembuhan yang dinilai pasien dibandingkan dengan pasien dengan penanganan
non-bedah (Williams, 2009), tetapi tidak dapat mengembalikan kekuatan otot (Mahadewa &
Maliawan, 2009).
Laminektomi dan fusi spinal adalah pembedahan kolumna vertebral paling umum dilakukan
pada orang dewasa. Ini dilakukan untuk dekompresi medula spinalis atau saraf perifer, perbaikan
vertebra tak stabil, dan anomali vaskular spinal.
 Laminektomi meliputi pengangkatan fragmen-fragmen diskus intervertebralis terherniasi
melalui insisi yang dibuat di atas vertebra yang sakit. Untuk mencegah adesi, potongan kecil
dari jaringan lemak subkutan ditempatkan di atas dua meter yang dieksisi.
 Pada fusi spinal, fragmen-fragmen tulang diambil dari krista iliaka pasien yang digunakan
untuk penanaman vertebra bersama-sama untuk menghilangkan ketidakstabilan vertebra.
Komplikasi
Jika penderita yang mengalami HDI tidak segera mendapatkan penanganan, maka akan
mengakibatkan komplikasi seperti kiposis dan lordosis (Evelyn, 2002). Kelainan nyeri punggung
bawah ini prognosisnya kurang baik karena kalau tidak ditangani secara cepat proses penyakitan
akan berkepanjangan menjadi ischialgia. Selain itu, kerusakan permanen pada akar saraf dan
medula spinalis dapat terjadi bersamaan dengan hilangnya fungsi motorik dan sensorik. Hal ini
dapat terjadi pada servikal stenosis dan spondilosis yang menekan medulla spinalis dan
pembuluh darah, sehingga dapat menimbulkan mielopati dengan spastik paraplegia atau
kuadriplegia (Way, 2003).

Sumber:

Kesumaningtyas, Ami. 2009. Hernia Diskus Intervetebralis. Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Indonesia

Lie, Vico. 2013. Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Bogor: Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti

Muttaqin, Arif.2008 .Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Persarafan. Jakarta:Salemba


Medika