Anda di halaman 1dari 9

BAB V

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas kesenjangan antara asuhan keperawatan


yang diharapkan berdasarkan landasan teori dengan asuhan keperawatan
nyata yang dilakukan dilapangan. Proses asuhan keperawatan yang dilakukan
akan dibahas berdasarkan langkah-langkah atau tahapan dalam perawatan
kesehatan keluarga.
A. Pengkajian

Pengkajian yang dilakukan penulis telah sesuai dengan konsep


pengkajian asuhan keperawatan keluarga dengan Artritis Reumatoid. Data
yang dikaji telah sesuai dengan data dasar pengkajian menurut Muhlisin
(2012). Pengkajian pada keluarga meliputi data umum, riwayat dan tahap
perkembangan keluarga, lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga,
stres dan koping keluarga, pemeriksaan fisik, dan harapan keluarga
terhadap asuhan keperawatan keluarga.
Melalui metode wawancara/anamnesa keluarga Ny. “N”, didapat
keterangan mengenai keluarga Ny.”N” yaitu merupakan keluarga dengan
anak dewasa atau pelepasan (launching center families). Ny. “N” memiliki
riwayat penyakit rematik sejak 3 tahun yang lalu dan kondisi kesehatan
dari anaknya dalam keadaan sehat.
Menurut NANDA (2013), faktor resiko yang memperberat artritis
rheumatoid antara lain yaitu aktivitas yang terlalu berat atau berlebihan.
Saat pengkajian, Ny. “N” mengungkapkan dirinya menderita rematik sejak
3 tahun yang lalu, rasa nyeri akan terasa jika Ny. “N” terlalu banyak
beraktivitas dan setelah selesai melakukan aktivitas seperti mencuci
baju/piring, atau terlalu lama beraktivitas menggunakan air dan jika cuaca
dingin. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan Ny. “N” dan
keluarga mengenai artritis rheumatoid sehingga keluarga tidak dapat
melakukan perawatan terhadap kondisi Ny. “N”. Saat dilakukan
pengkajian, Ny. “N” mengatakan nyeri masih terasa dan Ny. “N” sering

76 Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


77

merasakan kaku serta kesemutan pada bagian persendian tangan dan kaki
sebelah kiri.
Pada saat melakukan pengkajian penulis tidak mendapatkan
hambatan yang berarti yang dapat menggangu proses pengkajian. Faktor
pendukung yang didapatkan penulis selama pengkajian antara lain
keluarga Ny. “N” yang koperatif selama dilakukan pengkajian dan terbuka
mengenai masalah kesehatannya dan keadaan keluarganya. Namun ketika
melakukan pengkajian, penulis menemukan hambatan yaitu terdapat
angota keluarga yang tidak hadir pada saat pengakajian yaitu karena sibuk
bekerja, namun untuk mengatasinya penulis melakukan pengkajian selama
2 hari untuk melengkapi data pengkajian berupa pemeriksaan fisik pada
anggota keluarga yang belum dikaji yaitu Ny. “M”

B. Diagnosa Keperawatan
Tahap kedua pada proses asuhan keperawatan yaitu diagnosa
keperawatan. Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan
data yang didapatkan pada pengkajian dan berhubungan dengan etiologi
dari data pengkajian fungsi perawatan keluarga. Sebelum penulis
menyusun diagnosa keperawatan, penulis melakukan analisa data
berdasarkan data pengkajian yang telah didapat dan skoring masalah untuk
menentukan masalah yang paling tinggi prioritasnya untuk ditangani
sesegera mungkin.
Berdasarkan penyusunan diagnosa keperawatan, penulis mengacu
pada rumusan diagnosa keperawatan Doengoes (2000) dalam Lukman
(2013). diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada keluarga yang
menderita Artritis Reumatoid ada 6 yaitu nyeri akibat proses inflamasi,
gangguan mobilitas fisik akibat penurunan kekuatan otot, resiko cedera
akibat penurunan fungsi motorik, kurangnya pengetahuan keluarga,
gangguan citra tubuh/perubahan penampilan peran, deficit perawatan diri.
Sedangkan menurut pendapat NANDA (2013) diagnosa keperawatan yang
mungkin muncul pada keluarga yang menderita Artritis Reumatoid ada 7
yaitu gangguan citra tubuh, nyeri akibat perubahan patologis, defisiensi

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


78

pengetahuan, hambatan mobilitas fisik, deficit perawatan diri dan ansietas.


Sedangkan menurut Kushariyadi (2012) diagnosa keperawatan yang
mungkin muncul pada keluarga yang menderita Artritis Reumatoid ada 5
yaitu nyeriakut, kerusakan mobilitas fisik, gangguan gambaran diri, kurang
perawatan diri, kurang pengatahuan.
Saat dilakukan perumusan diagnosa keperawatan penulis
menemukan 3 diagnosa yang muncul pada keluarga Ny.”N” yaitu sesuai
dengan pendapat Doenges (2000), NANDA (2013) dan Kushariyadi
(2012) yaitu nyeri akibat proses inflamasi, gangguan mobilitas fisik akibat
penurunan kekuatan otot dan kurangnya pengetahuan keluarga.
Menurut NANDA (2013), kurangnya pengetahuan keluarga adalah
ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik
tertentu. Pada saat pengkajian, penulis mendapatkan data subjektif yaitu
Ny. “N” dan Ny. “M” mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit yang
diderita dan penyebab nyeri yang Ny. “N” rasakan
Menurut NANDA (2013), Nyeri akibat proses inflamasi merupakan
suatu keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak
menyenangkan dalam berespons akibat proses peradangan yang terjadi
pada sendi. Diagnosa keperawatan ini didukung oleh data subjektif yang
diperoleh penulis yaitu Ny. “N” mengatakan sering sakit di persendian
khususnya saat nyeri terasa di tangan, lutut dan kaki sebelah kiri dan nyeri
disertai kesemutan dan bengkak akan terasa apabila kaki dan tangannya
sudah melakukan aktivitas seperti mencuci baju atau piring atau terlalu
lama beraktivitas menggunakan air dan jika cuaca dingin.
Diagnosa keperawatan yang terdapat dalam NANDA (2013) yang
ditemukan pada keluarga Ny.”N” yaitu Gangguan mobilitas fisik.
Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam kebebasan untuk
pergerakan fisik tertentu pada bagian tubuh atau satu atau lebih
ekstremitas. Pada saat pengkajian Ny. “N” mengatakan susah berjalan, jika
berjalan kaki Ny. N terasa keram dan kaku sehingga sulit untuk melakukan
aktifitas, saat nyeri terasa di tangan, lutut dan kaki sebelah kiri sehingga
tidak dapat mengangkat tangan ke atas terlalu tinggi karena nyeri.

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


79

Diagnosa keperawatan yang tidak muncul pada kasus namun sudah


dirumuskan berdasarkan Doenges (2000) dalam Lukman, 2013, NANDA
(2013) dan Kushariyadi adalah :
Masalah pertama yaitu gangguan citra tubuh/perubahan penampilan
peran berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal
masalah kesehatan keluarga dengan Artritis Reumatoid. Diagnosis ini
tidak muncul karena penulis tidak memperoleh data yang mendukung
diagnosa ini. Menurut Doenges (2000) dan Kushariyadi (2012), gangguan
citra tubuh ditandai dengan bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada
kekuatan atau fungsi masa lalu, perubahan pada keterlibatan sosial, rasa
terisolasi, perasaaan tidak berdaya dan putus asa sedangkan saat
pengkajian Ny.”N” tidak ada pernyataan negative tentang dirinya dengan
keadaanya sekarang.
Masalah selajutnya yaitu kurang perawatan diri berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang
sakit dengan Artritis Reumatoid, diagnosa ini tidak diangkat karena dari
penampilan fisik Ny.”N” sendiri terlihat rapi dan bersih, Ny.”N”
mengatakan selalu berusaha tampil bersih dan rapi, sedangkan menurut
teori Doenges (2000) diagnosa ini bisa diangkat jika pada klien ditemukan
data berupa ketidakmampuan klien mengatur aktivitas kehidupan sehari-
hari seperti makan, minum, berpakaian, eliminasi.
Selanjutnya yaitu ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan
keluarga dalam mengenal masalah kesehatan keluarga dengan Artritis
Reumatoid. Diagnosa ini juga tidak diangkat karena penyakit Ny.”N”
sudah ia alami sejak 3 tahun yang lalu, sehingga rasa cemas pada Ny.”N”
maupun keluarga sudah tidak ada lagi atau berkurang.
Masalah terakhir adalah risiko cidera berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan yang aman
bagi penderita dengan Artritis Reumatoid, masalah ini tidak diangkat
karena saat pengkajian Ny.”N” mengatakan tidak pernah jatuh, dan
barang-barang yang ada di rumah tertata dengan rapi sehingga tidak
menganggu aktivitas dan pergerakan Ny.”N” walaupun pada saat

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


80

pengkajian di dapatkan pencahayaan yang kurang ini tidak terlalu


menganggu Ny. N.
Dalam merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga Ny.”N”,
penulis menemukan faktor pendukung yaitu terdapat data-data yang
menunjang untuk merumuskan diagnosa keperawatan serta terdapat
refrensi-refrensi yang dapat membantu penulis dalam merumuskan
diagnosa keperawatan dan adanya partisipasi dari keluarga. Adapun faktor
penghambatnya adalah kurangnya refrensi-refrensi buku terbaru tentang
asuhan keperawatan keluarga di perpustakaan. Pemecahan masalahnya
adalah diharapkan perpustakaan dikampus menyediakan buku-buku
asuhan keperawatan keluarga yang terbaru sehingga penulis dapat
merumuskan masalah yang tepat bagi keluarga.

C. Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan,
mencakup tujuan umum dan khusus, rencana intervensi serta di lengkapi
dengan rencana evaluasi yang memuat kriteria dan standar. Tujuan di
rumuskan secara spesifik, dapat di ukur (measurable), dapat di capai
(achievable), rasional dan menunjukkan waktu (SMART). Perencanaan ini
dibuat berdasarkan sifat masalah dan sumber-sumber yang ada baik pada
keluarga maupun pada masyarakat yang bisa dipakai untuk memecahkan
masalah yang ada.
Berdasarkan skoring dan prioritas masalah yang sudah disusun,
penulis dapat membuat perencanaan sesuai prioritas masalah yang ada,
namun sebelum penulis menyusun rencana yang akan dilakukan, penulis
membuat tujuan dari tindakan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan
khusus, dan hasil/evaluasi yang diharapkan dengan kriteria dan standar
yang telah ditetapkan.
Dalam menyusun rencana tindakan keperawatan keluarga ini,
penulis menyusun rencana menyesuaikan dengan teori, penulis juga
menyesuaikan antara tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


81

keluarga dalam melakukannya sehingga tujuan dan hasil yang diinginkan


dapat tercapai dengan maksimal.
Pada masalah keperawatan pertama yaitu kurangnya pengetahuan
keluarga tentang penyakit yang diderita Ny. N berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan, penulis
membuat rencana keperawatan yaitu memberikan pendidikan kesehatan
mengenai penyakit arthritis rheumatoid dan media leaflet. Dengan
diberikan penyuluhan maka individu mendapat pembelajaran yang
menghasilkan suatu perubahan diri yang semula belum diketahui menjadi
diketahui, serta memberikan dampak yang positif kepada individu, serta
proses komunikasi dan proses perubahan perilaku, sikap masyarakat dalam
peningkatan sikap yang mendukung terjadinya perubahan perilaku tersebut
(Notoatmodjo, S., 2007) dan menurut Ngatimin (2003) Adanya
pengetahuan yang baik dan sikap yang baik akan lebih memungkinkan
seseorang untuk bertindak ke arah pola hidup sehat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan individu terhadap
sikap setelah di berikan penyuluhan kesehatan tentang Arthritis Reumatoid
(Petri, 2011) dan menurut Qiong, at. All. (2008) hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pengetahuan responden yang telah mengikuti
penyuluhan kesehatan akan lebih baik pengetahuannya dari pada
responden yang tidak mendapat penyuluhan kesehatan.
Pada masalah keperawatan kedua yaitu nyeri akibat proses
inflamasi pada Ny. N dengan Artritis Reumatoid berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit,
intervensi yang disusun adalah mengkaji pengetahuan keluarga tentang
cara mengatasi nyeri, memberi penjelasan mengenai teknik untuk
mengurangi nyeri, mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan teknik
kompres hangat pada bagian yang mengalami nyeri.
Memberikan pendidikan kesehatan identik dengan penyuluhan,
karena keduanya berorientasi kepada perubahan sikap seseorang. Dengan
adanya pengetahuan yang tinggi dan bertambahnya wawasan dari individu
tersebut menjadikan seseorang bersikap lebih hati-hati dalam mensikapi

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


82

kesehatan dan berusaha mencegahnya (Ranti, 2012). Tidak hanya


pendidikan kesehatan, penulis juga mengajarkan teknik relaksasi nafas
dalam dan teknik kompres hangat. Relaksasi adalah suatu tindakan untuk
“membebaskan” mental dan fisik dari ketegangan dan stres, sehingga
dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri metode yang efektif terutama
pada pasien yang mengalami nyeri kronis (Kristyawati, 2005), dan
pendapat Brunner & Suddarth (2001) teknik relaksasi ini dapat dilakukan
dengan cara penderita memejamkan matanya dan bernafas dengan
perlahan dan nyaman. Irama yang konstan dapat dipertahankan dengan
menghitung dalam hati dan lambat bersama setiap inhalasi (masuknya O2
ke paru-paru) ekshalasi (keluarnya CO2 dari paru-paru). Menurut Perry
dan Potter (2006) pilihan terapi panas dan dingin bervariasi menurut
kondisi penderita, misalnya panas menghilangkan kekakuan pada pagi
hari, tetapi kompres dingin mengurangi nyeri akut dan sendi yang
mengalami peradangan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Mayoclinic (2007)
menunjukkan bahwa relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan
pasien. Sedangkan menurut penelitian Benson (2006) terdapat perubahan
intensitas nyeri sendi pada kasus Artritis Reumatoid sesudah pemberian
teknik relaksasi nafas dalam. Penelitian ini juga membuktikan bahwa
kompres panas sama efektifnya dalam mengurangi nyeri
(Brunner&Suddarth. 2002).
Pada masalah keperawatan ketiga yaitu gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang sakit, penulis membuat rencana keperawatan yaitu
menjelaskan dan mengajarkan kepada keluarga tentang latihan ROM,
memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mempraktikan latihan
ROM. Range Of Motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan
menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan
massa otot dan tonus (Potter & Perry, 2005). Menurut Suratun, et al,
(2008) Range Of Motion (ROM) adalah gerakan dalam keadaan normal

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


83

dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan. Berdasarkan hasil


penelitian bahwa adanya pengaruh besar antara skala nyeri penyakit artritis
rheumatoid pada lansia sebelum dan sesudah dilakukan terapi ROM. Dari
terapi yang dilakukan pada lansia mengatakan bahwa tubuh lebih rileks
dan lebih terasa ringan sesudah melakukan terapi ROM (Tamsuri, 2007)
dan menurut Qittun (2008) Pelaksanaan terapi ROM terbukti dapat
menurunkan skala nyeri penyakit artritis rheumatoid pada lansia.
Hambatan yang dihadapi penulis dalam pembuatan rencana
tindakan untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada keluarga
Ny. “N” yaitu buku-buku referensi mengenai konsep keperawatan
keluarga dengan Artritis Reumatoid yang terbatas, karena buku-buku
referensi mengenai Artritis Reumatoid lebih mengarah ke tindakan
mandiri perawat ke klien, bukan ke keluarga, sehingga rencana tindakan
yang diambil didapatkan dari modifikasi penyebab atau faktor-faktor
pencetus dan pendukung timbulnya masalah keperawatan dengan konsep
penyakit Artritis Reumatoid. Selain faktor penghambat, terdapat juga
faktor pendukung yang ditemui penulis yaitu keluarga yang bersikap
kooperatif dan bekerjasama dengan penulis.
D. Implementasi Keperawatan
Pada tahap implementasi keperawatan, penulis mulai menerapkan
rencana yang telah disusun pada klien dan keluarga berdasarkan prioritas
masalah yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan tindakan tersebut, penulis
melibatkan klien dan anggota keluarga sehingga mampu bekerja sama
dengan baik dalam proses pelaksanaan tindakan ini. Dalam menerapkan
rencana tindakan, penulis dapat mengaplikasikan semua rencana tindakan
pada keluarga.
Implementasi yang dilaksanakan penulis disesuaikan dengan
intervensi yang disusun. Semua intervensi yang disusun penulis telah
dilaksanakan. Tidak terdapat kesenjangan antara intervensi yang disusun
dengan implementasi.
Faktor pendukung yang penulis temukan selama proses
implementasi keperawatan ini yaitu keluarga mempunyai rasa ingin tahu

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016


84

yang tinggi terhadap kondisi Ny. “N” serta kemauan dan motivasi untuk
bekerjasama dengan penulis dalam meningkatkan kesehatannya dan
mengatasi masalah yang ada serta adanya sikap terbuka dan kooperatif
yang ditunjukkan oleh keluarga pada penulis.
Selain faktor pendukung, penulis juga menemukan faktor
penghambat selama proses ini yaitu dalam melaksanakan implementasi
penulis memiliki hambatan dari segi pengaturan waktu untuk
melaksanakan implementasi karena keluarga Ny. “N” memiliki kesibukan
bekerja dari pagi hingga sore hari, sehingga implementasi dilakukan
sampai menunggu anaknya pulang. Selain itu ketika penulis memberikan
leaflet, Ny. “N” tampak sedikit sulit dalam membaca tulisan di leaflet
karena penglihatan Ny. “N” yang sudah sedikit kabur karena faktor usia
sehingga penulis juga memberikan leaflet kepada Ny. “M” agar keluarga
juga mengerti mengenai penyakit yang diderita oleh pasien. Dalam
melaksanakan implementasi peran perawat yang telah dipenuhi oleh
penulis antara lain sebagai pelaksana, edukator, dan kolaborator.

E. Evaluasi Keperawatan
Dalam mencatat evaluasi ini yaitu berupa catatan perkembangan
dari klien dan keluarganya, penulis menyesuaikan hasil yang didapat
dengan tujuan dan kriteria yang telah dibuat untuk menilai keberhasilan
rencana tindakan yang telah dilakukan. Pada proses ini, penulis
menggunakan 2 tahapan evaluasi yaitu evaluasi secara formatif yang
dilakukan selama proses asuhan keperawatan dan evaluasi secara sumatif
yang dilakukan di akhir asuhan keperawatan.
Pada tahap evaluasi ini, penulis memerlukan waktu 2 kali
pertemuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami oleh
keluarga. Dari tiga masalah yang diangkat, semuanya dapat teratasi,
sehingga penulis tidak perlu menambahkan intervensi keperawatan baru,
penulis hanya melanjutkan intervensi yang telah dibuat, karena intervensi
yang dibuat sudah mampu menyelesaikan masalah yang kesehatan yang
ada dan tidak menimbulkan keluhan baru pada keluarga Ny. “N”.

Poltekkes Kemenkes Palembang 2016