Anda di halaman 1dari 17

SUHU DAN PERUBAHANNYA

1. Pengertian Suhu

Konsep suhu berakar dari ide kualitatif “panas” dan “dingin” yang berdasarkan pada

indra sentuhan kita. Suatu benda yang terasa panas umumnya memiliki suhu yang lebih

tinggi daripada benda seruppa yang dingin. Hal ini tidak cukup jelas, dan indra dapat

terkelabui (Sears dan Zemangky, 2002: 457). Tetapi banyak sifat benda yang dapat diukur

tergantung pada suhu. Panjang batang logam, tekanan uap dalam boiler, kemampuan suatu

kawat mengalirkan arus listrik dan warna suatu benda panas yang berpendar semua

tergantung pada suhu.

Untuk mengunakan suhu sebagai ukuran panas atau dingin, kita perlu membuat skala

suhu. Untuk melakukan, kita dapat memakai suatu sifat terukur apapun dari sebuah sistem

yang panas atau dinginnya dapat berubah-ubah. Gambar 1.1 menunjukan sistem yang baisa

dipakai untuk mengukur suhu. Ketika sistem menjadi lebih panas, cairan berwarna (

umumnya raksa atau alkohol) berekspansi dan naik dalam tabung, dan harga L meningkat

(Sears dan Zemangky, 2002: 458).

1
gambar 1. 1 termometer

Untuk mengukur suhu suatu benda, sentuhkan termometer dengan benda tersebut.

Jika kita ingin mendapatkan suhu secangkir kopi panas , masukan termometer kedalam kopi,

saat keduanya berinteraksi, termometer menjadi lebih panas dan kopi menjadi sedikit lebih

dingin. Setelah termometer mencapai nilai yang pas dalam arti tidak lagi naik maupun turun,

baca suhunya. Sistem telah mencapai kondisi kesetimbangan, dimana interaksi antara

termometer dan kopi tidak menyebabkan perubahan lebih jauh dari sistem. Kita menyebut

keadaan ini sebagai Kesetimbangan Termal ( Sears dan Zemangsky, 2002: 458).

Untuk embuat perangkat cairan dalam tabung seperti pada gambar 1.1 menjadi

termometer yang dapat digunakam, kita perlu membuat skala pada tabung dengan angka.

Angka-angka tersebut adalah sembarang dan sejarah menunjukan berbagai skema telah

dilakukan. Anggaplah kita menandai ketinggian cairan suhu air beku pada nol dan

ketinggian suhu didih pada 100, dan membagi jarak diantaranya menjadi sama besar yang

disebut derajat. Contoh pada skala celcius dimana pada keadaan lebih dingin dari air beku

ditandai dengan angka negatif ( Sears dan Zemangsky, 2002: 458).

Jenis termometer lain yang umu adalah lembaran bimetal, terbuat dari dua buah

lembaran logam dengan bahan yang berbeda dan saling direkatkan seperti pada gambar 1.2.

saat dipanaskan , salah satu logam berekspansi lebih jauh dibanding logam lainnya, sehingga

2
gabungan lembaran akan melengkung jika suhu berubah. Lembaran ini umumnya dibuat

dalam bentuk spiral, dengan ujung dalam dihubungkan kepetunjuk penunjuk berputar sebagai

reaksi terhadap perubahan suhu ( Sears dan Zemangsky, 2002: 459).

gambar1. 1 termometer Bimetal

dalam skala fahrenheit, yang umum digunakan adalah suhu beku air adalah 32oF

dan suhu didih 212oF ,keduanya pada tekanan atmosfer standar. Ada 180 derajat diantara

titik beku dan didih, dibandingkan terhadap 100 skala Celcius, sehingga satu skala

100 5
Fahrenheit mewakili hanya , atau , dari perubahan suhu sejauh satu derajat Celcius.
180 9

Untuk mengubah suhu dari celcius ke Fahrenheit, harus diperhatikan bahwa suatu

suhu Celcius TC adalah besar derajat celcius diatas titik beku; besar derajat Fahrenheit diatas

9
titik beku adalah dari suhu Celcius. Tetapi, titik beku pada skala fahrenheit adalah 320F,
5

sehingga untuk memperoleh suhu fahrenheit TF yang sebenarnya, kalikan nilai Celcius dengan

9
lalu tambahkan 32o. Atau dapat dituliskan :
5

9
TF  TC  32 O
5

3
Untuk mengubah Fahrenheit ke Celcius, turunkan persamaan tersebut untuk

memperoleh TC:

5
TC  (TF  32 o )
9

Dengan kata lain, kurangi 32o untuk memperoleh derajat fahrenheit diatas titik beku, lalu

5
kalikan untuk mendapatkan besar derajat Celcius di atas titik beku, yaitu suhu Celcius
9

( Sears dan Zemangsky, 2002: 459 - 460).

Menurut Marten ( 2006 : 52) mendefinisikan suhu, yaitu suatu besaran yang

menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda. Konsep suhu berasal dari

perasaan kita tentang kepanasan ( kegerahan) dan kedinginan. Karena itu, secara alamiah

kita menyatakan suatu benda itu panas atau dengan menyentuhnya dengan tangan.

Ketika menyentuh dua benda, misalnya ember berisi air hangat dan ember berisi air

es, dengan telapak tangan maka berdasarkan perasaan dapat menyatakan air mana yang

suhunya lebih tinggi. Tentu saja, air yang suhu lebih tinggi adalah air yang oleh telapak

tangan terasaa lebih panas. Namun tepatkah tangan sebagai alat ukur suhu?

Tangan sebagai indra peraba tidak dapat digunakan sebagai alat pengukur. Hal ini

dikarenakan suhu yang dirasakan tangan bergantung pada auhu yang diraba tangan

sebelumnya. Contohnya suhu air ledeng terasa hangat bagi tangan yang sebelumnya meraba

benda dingin, misalnya es, tetapi terasa dingin bagi tangan yang sebelumnya meraba benda

hangat, misalnya air hangat. Selain,itu tangan tidak tahan meraba benda yang sangat panas

atau sangat dingin.

4
Tangan sebagai sensor suhu juga tidak dapat digunakan untuk mengukur derajat panas

pada sakit demam. Dimana ketika sedang demam kamu menyentuh dahi yang terasa panas,

kamu segera tahu bahwa suhu tubuh sedang tinggi. Akan tetapi, informasi ini tidak cukup

untuk memutuskan apakah harus segera dirawat dirumah sakit ataukah cukup diberi obat

penurun panas.

2. Jenis – jenis Alat Ukur Suhu

Alat yang digunakan untuk mengukur suhu dengan tepat dan menyatakan dengan suatu

angka adalah termommeter. Saat ini terdapat beberapa Jenis termometer.Jenis termometer

yang akan dipilih untuk digunakan bergantung pada jangkauan suhu yang diukur, ketelitian

yang diinginkan dan sifat – sifat fisik dari bahan yang digunakan.

Agar bisa digunaksan untuk mengukur suhu, termometer harus mengandung zat yang

sifat fisiknya berubah terhadap suhu. Contoh sifat-sifat fisika zat yang digunakan untuk

membuat termometer adalah :

a. Pemuaian suatu kolom cairan dalam suatu pipa kapiler,

b. Hambatan listrik pada seutas kawat pipa,

c. Beda potensial pada suatu termokopel,

d. Pemuaian suatu keping bimetal,

e. Tekanan gas pada volum tetap,

f. Radiasi yang dipancarkan benda.

Beberapa sifat yang mutlak dibutuhkan oleh sebuah termometer adalah :

1) Skalanya mudah dibaca,

2) Aman untuk digunakan

5
3) Kepekaan pengukurannya,

4) Lebar jangkauan suhu yang mampu diukur.

Berikut jenis-jenis termometer :

a) Termometer cairan

Jenis termometer yang banyak kita jumpai dalam keseharian adalah termometer yang

pipa kacanya berisi cairan, misalnya termometer raksa. Umumnya , cairan akan memuai

dengan laju berbeda untuk jangkauan suhu yang berbeda. Pengecualian adalah pada raksa

yang memiliki pemuaian yang teratur.

1. Termometer Raksa

Termometer yang pipa kacanya diisi dengan raksa disebut termometer raksa.

Termometer raksa dengan skala celcius adalah termometer yang umum dijumpai dalam

keseharian.Raksa dalam pipa termometer akan memuai jika dipanaskan. Pemuaian mendorong

kolom cairan (raksa) keluar dari pentolan pipa menuju pipa kapiler.

Pipa kapiler mempunyai lubang kecil agar termometer peka, karena pemuaian volum

raksa yang kecil saja akan menimbulkan perubahan yang besar pada panjang kolom raksa.

Pentolan termometer dibuat dari kaca tipis agar kalor segera dapat dihantarkan secara

konduksi oleh pentolan kepada cairan di dalamnya.

Pipa termometer dibungkus oleh tangkai kaca berdinding tebal. Tangkai kaca ini

bertindak sebagai suatu lensa pembesar yang memungkinkan suhu dibaca dengan mudah.

6
Keuntungan mengunakan raksa sebagai zat cair pengisi pipa termometer

dibandingakan dengan zat cair lainnya adalah :

1)Raksa mudah dilihat karena mengkilap

2)Volum raksa berubah secara teratur ketika terjadi perubahan suhu,

3)Raksa tidak membasahi kaca ketika memuai atau menyusup,

4)Jangkauan suhu raksa cukup lebar dan sesuai untuk pekerjaan-pekerjaan

laboratorium (- 40oC sampai dengan 350oC),

5)Raksa dapat terpanasi secara merata sehingga menunjukkan suhu dengan

cepat dan tepat.

Kerugian mengunkan raksa sebagai cairan pengisi pipa termometer adalah:

1) Raksa mahal,

2) Raksa tidak dapat digunakan untuk suhu yang sangat rendah

(misalnya suhu di kutub utara atau kutub selatan),

3) Raksa termasuk zat berbahaya ( sering dinamakan “air keras”,

sehingga termometer raksa bebahaya jika tabungnya pecah.

2. Termometer Alkohol

Keuntungan mengunakan alkohol sebagai cairan pengisi pipa termometer

adalah :

1) Alkohol lebih murah jika dibandingkan dengan raksa,

2) Alkohol teliti, karena untuk kenaikan suhu yang kecil, alkohol

mengalami perubahan volum yang lebih besar,

7
3) Alkohol dapat diukur suhu yang sangat dingin ( misalnya suhu

didaerah kutub) karena titik beku alkohol sangat rendah yakni – 112oC.

Kerugian mengunakan alkohol sebagai cairan pengisi pipa termometer adalah :

1) Alkohol memiliki titik rendah, yaitu 78oC, sehingga pemakaian

terbatas( antara llain tidak dapat mengukur suhu air ketika mendidih),

2) Alkohol tidak berwarna, sehingga harus diberi warna terlebih

dahulu agar mudah terlihat,

3) Alkohol membasahi atau melengket pada dindimg kaca.

Mengapa kita mengunakan cairan yang jarang kita jumpai dalam kehidupan

sehari-hari, seperti raksa atau alkohol? Mengapa kita tidak mengunakan cairan yang

umum kita jumpai, seperti air untuk mengisi pipa termometer?

Air tidak digunakan untuk mengisi pipa termometer karena lima alasan berikut :

1) Air membasahi dinding kaca, sehingga menimbulkan titik – titik air

pada kaca dan ini akan mempersulit membaca ketinggian air tabung,

2) Air tidak berwarna, sehingga sulit dibaca batas ketinggiannya,

3) Jangkauan suhu air terbatas ( 0o – 100oC),

4) Perubahan suhu air sangat kecil ketika suhunya dinaikan,

5) Hasil bacaan yang didapat kurang teliti karena air termasuk

penghantar panas yang sangat jelek. Agar semua bagian air mencapai suhu

yang sama, diperlukan waktu yang lama.

8
3. Skala Termometer

Untuk menentukan skala sebuah termometer diperlukan dua titik tetap. Untuk suhu

yang tidak terlalu tinggi, digunakan titik lebur es sebagai titik tetap bawah dan titik didih

air sebagai titik tetap atas.

Skala suhu yang ditetapkan berdasarkan titik lebur es dan titik didih air ini disebut

skala Celcius, sesuai dengan nama orang yang pertama kali mengusulkan cara ini, yaitu

seorang astronom Swedia bernama Anders Celcius (1701 – 1744).

1) Kalibrasi Termometer

Kalibrasi termometer adalah proses memberi skala pada sebuah termometer polos.

Kalibrasi sebuah termometer dilaksanakan menurut empat langkah berikut:

a) Menetukan titik tetap bawah. Masukan pentolan termometer secara tegak

ke dalam corong yang berisi es murni. Ketika air hasil leburan es menetes

jatuh dari corong, biarkan beberapa saat sampai tinggi permukaan raksa

dalam pipa kapiler sudah tidak berubah. Ini berarti suhu termometer sudah

sama dengan suhu es yang sedang melebur. Tandai ketinggian raksa dengan

garis dan tulislah angka disampingnya. Pada skala Celcius, titik tetap

bawah ditandai dengan angka 0oC.

b) Menentukan titik tetap atas. Masukan termometer kedalam bejana yang

berisi air murni dengan ujung pentolan berada sedikit di atas permukaan air

(jangan sampai menyentuh permukaan air). Panaskan airtersebut sampai

9
mendidih. Biarkan beberapa lama sampai suhu termometer sama dengan

suhu uap air. Tandai ketinggian raksa dengan garis dan tulislah angka

disampingnya. Pada skala Celcius, titik tetap atas ditandai dengan angka

disampingnya. Pada skala celcius titik tetap atas ditandai dengan angka

100oC.

c) Bagilah jarak antara kedua titik tersebut menjadi beberapa bagian yang

sama.

2) Termometer Kelvin

d) Dalam teori partikel yang akan dipelajari pada bab 3 dinyatakan bahwa jika

suhu bertambah, gerak partikel bertambah cepat.jika suhu turun, gerak

partikel bertambah lambat. Saat suhu mencapai – 273,16oC ( dibulatkan -

273oC), gerak partikel berhenti. Suhu -273oC ini merupakan suhu paling

rendah yang masih mungkin dicapai oleh suatu zat. Karena itu, suhu ini

disebut nol mutlak.

Ilmuwan pertama yang mengusulkan pengukuran suhu berdasarkan suhu

nol mutlak adalah Lord Kelvin ( 1824 – 1907), seorang ahli fisika berkebangsaan

Inggris. Skala suhu yang ditetapkannya dinamakan skala kelvin. Suhu- suhu

pada skala kelvin diukur dalam derajat yang dinamakan Kelvin, diberi lambang

K ( bukan oK). Suhu terendah pada skala ini diberi angka 0 K, yaang sama

dengan -273oC. Pada skala kelvin tidak dikenal angka-angka negatif.

Oleh karena praktis, skala suhu yang digunakan dalan SI ( Sistem

Internasional) adalah skala Kelvin. Pada skala Kelvin, titik lebur es diberi angka

273 dan titik didih air diberi angka 373.

Jadi, 00C = 237 kelvin

10
100oC = 373 kelvin

t o C  (t  273) K atau

t K  t  273) o C

3) Termometer fahrenheit

Dalam pengunaan sehari-hari, di Inggris dan Amerika Serikat masih

digunakan termometer dengan skala Fahrenheit. Skala suhu ini diberi nama

sesuai dengan nam ilmuwan yang pertama kali membuatnya, yaitu Gabriel

Fahrenheit (1686-1736), seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman.

Kesetaraan antara skala Fahrenheit dan skala Celcius ditunjukan pada

gambar. Pada skala fahrenheit titik tetap bawah ( titik lebur es) diberi angka 32.

Supaya dimulai dari angka 0 maka angka ini harus ditambah dengan -32.

Karena itu, dalam rumus perbandingan harus ditulis ( F- 32).

Pada skala Fahrenheit, titik tetap bawah adalah 32 dan titik tetap atas

adalah 212. Antara kedua titik tetap ini dibagi atas 180 skala yang sama

panjang. Dengan demikian, rumus perbandingan antara skala fahrenheit dan

skala celcius adalah

( F  32) : C  180 : 100

( F  32) : C  9 : 5

11
4. Perubahan Akibat Suhu

Apa yang akan terjadi pada benda jika suhunya berubah? Salah satu perubahan yang

terjadi pada benda adalah ukuran benda itu berubah. Jika suhu benda naik, secara umum

ukuran benda bertambah. Peristiwa ini disebut dengan pemuaian.

a. Pemuaian Zat Padat

Zat padat dapat mengalami pemuaian. Gejala ini memang sulit untuk diamati secara

langsung, tetapi seringkali kita dapat melihat pengaruhnya. Misalnya, saat kamu

menuangkan air panas kedalam gelas, tiba-tiba gelas itu retak. Retaknya gelas ini karena

terjadinya pemuaian yang tidak merata pada gelas itu. Kamu akan pelajari lebih dalam

tentang pemuaian pada zat padat.

Pada umumnya, benda atau zat padat akan memuai atau mengembang jika

dipanaskan dan menyusut jika didinginkan. Pemuaian dan penyusutan itu terjadi pada semua

bagian benda, yaitu panjang,lebar,dan tebal benda tersebut. Jika benda padat dipanaskan,

suhunya akan naik. Pada suhu yang tinggi, atom dan molekul penyusun logam tersebut akan

bergetar lebih cepat dari biasanya sehingga logam tersebut akan memuai ke segala arah.

Para perancang bangunan, jembatan dan jalan raya harus memperhatiakn sifat

pemuaian dan penyusutan bahan karena perubahan suhu. Jembatan umumnya dibuat dari

12
besi baja yang saling disambungkan satu dengan lainnya. Untuk itu, agar sambungan besi

baja tidak melengkung karena memuai akibat terik panas matahari atau menyusut pada

malam hari, sambungan-sambungan besi baja tidak boleh di pasang saling rapat satu dengan

lainnya. Harus ada rongga yang cukup diantara sambungan-sambungan.

Bimetal dibuat berdasarkan sifat pemuaian zat padat. Bimetal antara lain

dimanfaatkan pada termostat. Prinsip kerja thermostat dimana jika udara diruangan

dingin,keping bimetal akan menyusut membengkok ke kiri dan menyentuh logam biasa

sehingga kedua ujungnya saling bersentuhan. Sentuhan antara kedua ujung logam itu

menjadikan rangkaian tertutup dan menyalakan pemanas sehingga ruangan menjadi hangat.

Jika untuk mengontrol ruangan berpedingin, cara kerjanya serupa. Saat ruangan mulai panas,

thermostat bengkoko dan menghubungkan rangkaian listrik sehingga pendingin kembali

bekerja.

Besaran yang menetukan pemuaian panjang zat padat adalah koefisien muai

panjang. Koefisien muai panjang suatu zat padat adalah bilangan yang menunjukan

pertambahan panjang. Koefisien muai panjang suatu zat padat adalah bilangan yang

menunjukan pertambahan panjang tiap satu satuan panjang zat jika suhunya 1oC.

Tabel 4.1 koefisien muai panjang beberapa bahan

Jenis Bahan Koefisien Muai Panjang

Kaca biasa 0,000009

13
Kaca pyrex 0,000003

Aluminium 0,000026

Kuningan 0,000019

Baja 0,000011

Tembaga 0,000017

Pengunaan matematika

pertambahan panjang
Koefisien muai panjang =
panjang mula  mula  kenaikan suhu

Jika dalam bentuk lambang :

L

L  T

Pertambahan panjang merupakan panjang akhir dikurangi panjang mula-mula ( Lt  LO ) :

Lt  LO

LO  T

Maka panjang benda setelah pemuaian dapay ditentukan, yakni :

L  Lt  Lo (  L)

b. Pemuaian Luas dan Volume Zat Padat

Jika suatu benda berbentuk lempengan dipanaskan, pemuaian terjadi pada

kedua arah sisi-sisinya. Pemuaian ini disebut pemuaian luas. Pemasangan pelat-pelat

logam selalu memperhatikan terjadinya pemuaian luas. Pemuaian luas memiliki

koefisien muai sebesar dua kali lipat muai panjang.

14
Benda- benda yang berdimensi tiga( memiliki panjanf, lebar, dan tinggi)

akan mengalami muai ruang jika dipanaskan. Pemuaian ruang memiliki koefisien

muai tiga kali koefisien muai panjang. Balok baja jika dipanaskan akan memuai

dengan koefisien muai sebesar 0,000033/oC.

c. Pemuaian Zat Cair dan Gas

Sebagaimana zat padat, zat cair juga memuai jika dipanaskan. Bahkan,

pemuaian zat cair relatif lebih mudah atau lebih cepat teramati dibamdingkan

dengan pemuaian zat padat. Gas juga memuai jika dipanaskan. Sifat pemuaian

gas harus diperhatikan dalam kehidupan sehari – hari, misalnya ketika memompa

ban sepeda jangan terlalu keras, seharusnya sesuai ukuran.

Apakah zat padat dapat langsung berubah wujud menjadi gas tanpa melalui

wujud cair? Tentu saja bisa. Mungkin kamu pernah melihat ibumu menaruh

kapur didalam lemari pakaian. ketika kamu membuka lemari segera tercium bau

uap kapur barus. Jelaslah kapur barus ( wujud padat ) langsung berubah wujud

menjadi uap kapur barus ( wujud gas) tanpa mencair dahulu.

Setiap zat dalam wujud gasnya memiliki energi paling besar, diikuti wujud

cair,kemudian wujud padat.

1) Zat Padat

Dalam zat padat, partikel-partikel saling berdekatan dalam suatu

sususan yang teratur, dan diikat cukup kuat oleh gaya tarik-menarik

antara partikel tersebut. Partikel –partikel dapat bergetar dan berputar

ditempatnya tetapi tidak bebas untuk mengubah kedudukannya. Itulah

sebabnya zat padat mempunyai volum dan bentuk yang tetap.

2) Zat Cair

15
Dalam zat, jarak antara partikel lebih jauh dibandingkan dengan zat

padat. Partikel-partikel zat cair dapat berpindah-pindah tempat tetapi

tidak mudah meninggalkan kelompoknya. Dengan kata lain zat cair

dapat mengalir. Hal ini karena gaya tarik-menarik yang mengikat

partikel-partikel zat cair tidak sekuat partikel-partikel zat padat. Gaya

ini mengikat partikel-partikel zat cair tetap pada kelompoknya, tetapi

zat cair mengalir untuk mengambil bentuk sesuai dengan wadahnya.

Jadi, mengapa zat cair memiliki volume tetap namun bentuknya dapat

berubah.

3) Zat Gas

Dalam gas, jarak antar partikel sangat berjauhan, sehingga gaya tarik-

menarik dapat diabaikan. Partikel-partikel bebas untuk bergerak dalam

wadahnya. Partikel- partikel bergerak sangat cepat dan bertumbukan

satu sama lain dan juga bertumbukan dengan dindingwadahnya. Jadi

dapat dijelaskan mengapa gas memiliki volum dan benuk yang tidak

tetap.

16
17