Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Politeknik Negeri Manado merupakan perguruan tinggi negeri yang


menekankan penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
mendukung era industrialisasi. Sebagai mahasiswa Politeknik Negeri Manado Jurusan
Teknik Sipil D-IV Konstruksi Bangunan Gedung semester VI, kami diwajibkan untuk
mengikuti program Praktek Kerja Lapangan (PKL) selama 4 bulan pada awal semester
VI yaitu dari 6 Agustus 2018 sampai 30 November 2018 yang mana merupakan salah
satu persyaratan bagi mahasiswa semester VI untuk lanjut ke semester berikutnya.
Banyak manfaat yang di dapat dalam praktek kerja lapangan ini yaitu, memberi
gambaran pada mahasiswa tentang dunia kerja yang sesungguhnya, merubah pola pikir
mahasiswa, menambah ilmu pengetahuan dan yang terpenting adalah menjadikan
mahasiswa siap berkerja pada saat ia telah lulus kuliah karena bekal yang dimiliki
mempuni untuk modal dasar ia bekerja.
Kebutuhan fasilitas gedung kuliah di Universitas Sam Ratulangi Manado terus
meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Hal ini
menyebabkan perlu adanya pembanguan fasilitas yang dapat menjadi sarana belajar
untuk menunjang proses belajar mahasiswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan
yang terus berkembang untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam proses
belajar mengajar.
Dengan tujuan pemenuhan kebutuhan belajar sebagai fasilitas penunjang
pembelajaran, maka dibuatlah proyek pembangunan gedung baru yang didukung oleh
Universitas Sam Ratulangi Manado dengan melibatkan kalangan ahli dalam bidangnya
kerena pembangunan fasilitas ruang belajar mahasiswa ini juga harus
mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan para penggunanya. Salah satu
fasilitas pendukung yang ada dalam gedung adalah struktur dan arsitekturnya.
Dengan adanya pembangunan gedung ini merupakan peluang bagi kami
mahasiswa Politeknik Negeri Manado untuk melakukan pengamatan dengan kata lain
Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang di programkan oleh jurusan kami, program ini
2

merupakan salah satu pembelajaran bagi mahasiswa Politeknik sendiri, khususnya


Teknik Sipil D-IV Konstruksi Bangunan Gedung, penepatan mahasiswa pada suatu
proyek kontruksi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan berpikir dan
pengetahuan praktis lapangan yang lebih luas.
Praktek kerja lapangan yang biasa disebut dengan PKL ini adalah salah satu
bentuk emplementasi secara sistematis dan sinkronis antara program pendidikan di
sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja
secara lansung di dunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Pada praktek
kerja lapangan (PKL) kami sebagai mahasiswa teknik sipil di tuntut memahami dan
mengetahui proses pelaksanaan pengerjaan yang sesungguhnya sebagai
pengaplikasian ilmu yang kami peroleh ketika berada di kampus, sehingga ilmu yang
kami dapatkan dapat berguna setelah lulusnya kami dari Politeknik Negeri Manado.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Praktek Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Teknik Sipil D-IV


Konstruksi Bangunan Gedung Politeknik Negeri Pontianak secara umum bertujuan
untuk:
1. Dapat memahami dan menjelaskan proses pelaksanaan suatu kegiatan
proyek/industri konstruksi.
2. Agar mahasiswa memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas.
3. Dapat mempersiapkan diri dalam mengisi kebutuhan dunia industri konstrusi.

1.3 Sistematika Penulisan

Penulisan laporan ini berdasarkan rangkuman dari seluruh rangkaian kegiatan


praktek kerja lapangan, dimana sistematika dari tugas ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang Praktek Kerja Lapangan, maksud
dan tujuan, serta sistematika penulisan

BAB II IDENTIFIKASI / GAMBARAN UMUM PROYEK


Bab ini berisi tentang gambaran umum proyek Pembangunan Gedung
Pendidikan FMIPA
3

BAB III DASAR TEORI


Bab ini berisi tentang dasar teori penunjang materi dalam membuat
tugas khusus

BAB IV PEMBAHASAN DAN / TUGAS KHUSUS


Bab ini berisi tentang metode pelaksanaan dan pembahasan tugas
khusus

BAB V PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.
4

BAB II
IDENTIFIKASI PROYEK

2.1 Gambaran Umum Proyek

Berikut data dan spesifikasi dari proyek Pembangunan Gedung Pendidikan


FMIPA di Universitas Sam Ratulangi Manado :

Pekerjaan : Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA


Nomor Kontrak : 3698/SP/PPK.02/UNSRAT/VII/2018
Waktu Pelaksanaan : 150 (Seratus Lima Puluh) Hari Kalender
Lokasi : Kampus Unsrat Manado (Sulawesi Utara)
Luas Bangunan : 817 m²
Nilai Kontrak : Rp. 9.944.824.000,00 (Sembilan Miliyar Sembilan
Ratus Empat Puluh Empat Juta Delapan Ratus Dua
Puluh Empat Ribu Rupiah)
Sumber Dana : BLU Unsrat
Tahun Anggaran : 2018
Pelaksana : PT. Global Cipta Perkasa
Pengawas : PT. Pitagoras Pradipa
5

2.2 Prosedur Mendapatkan Proyek

Proses untuk mendapatkan proyek dapat dilakukan dengan penunjukan


secara lansung ataupun pelelangan. Dikatakan penunjukan secara lansung adalah
suatu proses pelelangan yang dilakukan oleh pemilik proyek dengan menunjuk
lansung kontraktor yang sudah dianggap mampu untuk melaksanakan
pembangunan di lapangan tanpa melalui proses pelelangan terlebih dahulu,
sedangkan yang dimaksudkan dengan pelelangan adalah serangkaian kegiatan
untuk menyediakan barang atau jasa dengan cara menciptakan persaingan yang
sehat antara penyedia barang atau jasa yang setara dan memenuhi syarat.

2.3 Data Stuktur Bangunan

1. Luas Bangunan
Luas bangunan pada Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA adalah
817 m2. Bangunan yang dibangun terdiri dari 3 lantai.

Gambar 1. Denah Kolom


Sumber Gambar: Gambar Kerja Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA
6

2. Elevasi Bangunan
Gambaran untuk elevasi bangunan ialah 4 meter.
3. Pondasi
Pondasi yang digunakan pada proyek ini adalah pondasi sumuran dan pondasi
telapak.
a. Pondasi Sumuran
Pondasi Sumuran memiliki dimensi bor 200 cm dengan kedalaman
510cm.
b. Pondasi Telapak
Pondasi Telapak memiliki lebar 150 cm dengan kedalaman 160cm.

4. Sloof
Sloof pada konstruksi ini menggunakan dua tipe sloof, yaitu :
a. Sloof tipe 1 (S1) dengan ukuran 30 cm x 50 cm, menggunakan tulangan
utama D19 mm dan tulangan beugel Ø10 mm dengan selimut beton 3
cm.

Gambar 2. Detail Sloof S1


Sumber Gambar: Gambar Kerja Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA
7

b. Sloof tipe 2 (S2) dengan ukuran 20 cm x 30 cm, menggunakan tulangan


utama D12 mm dan tulangan beugel Ø8 mm dengan selimut beton 3 cm.

Gambar 3. Detail Sloof S2


Sumber Gambar: Gambar Kerja Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA

5. Kolom
Pada proyek ini dipakai beberapa tipe kolom dengan dimensi dan diameter
tulangan yang berbeda-beda, menurut kebutuhan dan perhitungan. Gambaran umum
kolom adalah sebagai berikut:
a. Tulangan utama menggunakan besi D22 mm untuk K1 dan D16 mm untuk
K2, K3 dan K4
b. Sengkang yang digunakan adalah besi polos dengan Ø10 mm
c. Selimut beton 3 cm.

Gambar 4. Detail Kolom


Sumber Gambar: Gambar Kerja Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA

\
8

6. Balok
Balok pada konstruksi ini digunakan beberapa tipe,dimensi dan jumlah
tulangan yang berbeda-beda berdasarkan hasil perhitungan akibat beban yang di pikul
oleh balok tersebut. Berikut gambaran umum balok pada konstruksi ini:
a. Tabel dimensi balok
Tabel Dimensi Balok
BALOK
Dimensi Balok
Jenis Balok
Lebar (cm) Tinggi (cm) Selimut Beton (cm)
B1 35 60
B2 30 50
B3 20 40 3
B4 25 40
RB1 20 40

b. Gambar detail balok


9

Gambar 5. Detail Balok


Sumber Gambar: Gambar Kerja Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FMIPA

7. Plat
Gambaran umum plat pada konstruksi ini adalah sebagai berikut :
a. Ketebalan plat yaitu 13 cm.
b. Wiremesh yang digunakan adalah wiremesh M-10.
c. Bondek yang digunakan adalah bondek t.0.95
d. Selimut Beton 3 cm.
10

8. Tangga
Tangga berfungsi untuk mengakses lantai satu dengan lantai berikutnya.
Berikut adalah gambaran umum tangga pada konstruksi ini :
a. Dimensi anak tangga 20 cm x 30 cm.
b. Diameter tulangan utama tangga adalah Ø12 mm.
9. Atap
Konstruksi atap yang digunakan pada bangunana ini ialah menggunakan
rangka atap baja WF 150.75.5.7 dengan menggunakan gording C. 100.50.20.3,2 dan
penutup atapnya menggunakan penutup atap spandek 28 mm.

2.4 Identifikasi Masalah

1. K3 yang sudah disediakan tapi tidak digunakan oleh pekerja.


2. Perubahan pada tulangan dan dimensi balok.
3. Keterlambatan pemasukan bahan.
4. Sampah proyek yang berserakan.
5. Keterlambatan pembayaran gaji pekerja.
11

BAB III
DASAR TEORI

3.1 Pengertian Praktek Kerja Lapangan (PKL)

Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu mata kuliah yang
dilaksanakan mahasiswa semester VII guna lebih memahami ilmu pengetahuan yang
diperoleh selama perkuliahan sehinga dapat mengaplikasikan pada dunia industri.

3.2 Definisi Rencana Anggaran Biaya

RAB adalah Suatu acuan atau metode penyajian rencana biaya yang harus
dikeluarkan dari awal pekerjaan dimulai hingga pekerjaan tersebut selesai
dikerjakan. Rencana biaya harus mencakup dari keseluruhan kebutuhan pekerjaan
tersebut, baik itu biaya material atau bahan yang diperlukan, biaya alat (Sewa atau
beli), Upah Pekerja, dan biaya lainnya yang diperlukan.
Secara garis besar RAB terdiri dari 2 Komponen utama yaitu, Volume pekerjaan dan
Harga satuan Pekerjaan. Volume pekerjaan dapat diperoleh dengan cara melakukan
perhitungan dari gambar rencana yang tersedia atau berdasarkan kebutuhan real di
lapangan. Sedangkan Harga satuan didapat dari analisa harga satuan dengan
mempertimbangkan banyak hal, diantaranya:

 Bahan atau material

Dalam harga bahan harus sesuai dengan kondisi dilapangan dan harus turut
memperhitungkan fluktuasi harga serta ketersediaan bahan atau material tersebut
dipasaran. Selain itu, Faktor susut atau Faktor kehilangan material juga harus turut
diperhitungkan mengingat hal tersebuat akan berpengaruh cukup besar pada biaya.

 Upah Tenaga Kerja

Penetapan biaya Tenaga kerja dipengaruhi beberapa hal seperti, kondisi tempat kerja,
lama waktu kerja, dan keterampilan tenaga kerja itu sendiri.
12

 Biaya Peralatan

Biaya Peralatan diperhitungkan tidak hanya mempertimbangkan biaya pembelian


alat atau sewa,mobilisasi/demobilisasi, dan biaya pengeporesian selama pekerjaan
berlangsung, tapi juga memperhitungkan kapasitas Produksi dari peralatan tersebut.

 Biaya lain-lain

Biaya lain lain seperti biaya sewa kantor, biaya perjalanan, dokumentasi, pajak,
asuransi, biaya pengujian atau pengetesan, dan biaya lain yang diperlukan selama
pekerjaan berlangsun
13

BAB IV
PEMBAHASAN DAN TUGAS KHUSUS
4.1 Metode Pelaksanaan

4.1.1 Pekerjaan Persiapan


Merupakan pekerjaan persiapan awal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
proyek. Sebelumnya semua izin yang dibutuhkan sudah diurus, time schedule
telah dibuat, dan kontraktor telah memiliki Shop Drawing. Pekerjaan pendahuluan
yang dilakukan dalam proyek ini meliputi :
1. Mobilisasi dan Demobilisasi
Tujuan kegiatan mobilisasi adalah untuk mengadakan/mendatangkan
tenaga kerja, bahan material dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan
untuk pelaksanaan dilapangan, sedangkan demobilisasi dilakukan apabila
pekerjaan telah selesai.
2. Pembersihan Area Pekerjaan
Pembersihan dilakukan sebelum pekerjaan konstruksi di kerjakan.
Pembersihan yang dimaksud adalah pembersihan bagian-bagian konstruksi
gedung sebelumnya yang telah dibongkar serta lingkungan sekitarnya.
Pekerjaan ini dikerjakan sesuai Petunjuk Direksi Lapangan.
3. Air dan Listrik Kerja
Air harus memenuhi kriteria tidak berwarna, tidak berasa dan tidak bau.
Juga air harus bersih dan tidak mengandung zat-zat kimia (garam-garam)
yang merusak. Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh
mengandung minyak, asam, garam-garam, bahan-bahan organik atau bahan-
bahan lain yang dapat merusak beton/baja tulangan. Sumber listrik untuk
pelaksanaan pekerjaan akan menggunakan sambungan listrik dari pihak
Universitas Sam Ratulangi.
14

4.1.2 Pekerjaan Struktur


4.1.2.1 Beton Bertulang
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan cor beton bertulang
adalah:
a. Pekerjaan Pembesian.
Pabrikasi pembesian dilakukan di lokasi yang sudah disiapkan. Penulangan
besi beton dibentuk sesuai dengan shop drawing dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
 Jenis besi utama dan sengkang.
 Diameter besi utama dan sengkang.
 Jumlah tulangan utama.
 Jarak sengkang.
 Overlap/Panjang penyaluran antar tulangan harus sesuai spesifikasi.
b. Pengecoran
1. Penuangan beton
Untuk mendapatkan hasil beton yang baik maka cara penuangan harus
benar yaitu :
 Pengecoran harus berkelanjutan sejak pengecoran dimulai sampai
mencapai siar pelaksanaan (sambungan) yang ditetapkan.
 Perihal pengecoran maka ada peralatan khusus dipersiapkan, yaitu
beton molen, vibrator beton dan gerobak.
Pemakaian alat ini sangat penting guna mendapatkan kualitas beton
yang baik menggunakan beton molen dan vibrator beton.
Penggunaan gerobak berguna buat penghantaran campuran beton
mengingat pengecoran dak beton berada pada level-level tertentu.
 Beton harus dituang vertical dan sedekat mungkin dengan bagian
yang dicor. Jika diperlukan meratakan beton, harus dilakukan
dengan sekop dan bukan membuat beton mengalir, pengunaan
gerobak praktis dan efisien dalam pengecoran
 Beton tidak boleh dituangkan kedalam bekisting dengan jarak yang
tinggi (maksimum 2m), maka harus memakai talang/ corong/ tremi
 Beton molen ditempatkan pada area yang mudah dijangkau baik
dalam penuangan maupun pencampurannya
15

 Gerobak dorong difungsikan bagi pengecoran di tempat-tempat yang


jauh dari beton molen dengan kapasitas gerobak yang besar sehingga
efisien dalam pengejaran target pengecoran dan menjaga kualitas
beton dalam pengeringan
 Pengecoran harus dimulai dari sudut-sudut bekisting dan dari level
terendah jika permukaannya miring
 Beton harus dituang pada tumpukan beton sebelumnya
(overlapping) dan bukan jauh darinya
 Beton harus dicorkan dalam lapisan-lapisan datar, dan tiap lapisan
harus dipadatkan sebelum lapisan dibawahnya mengeras. Untuk
pengecoran dinding yang panjang sekali, dimana cara lapisan-
lapisan horizontal akan menyebabkan terjadinya sambungan dingin
(cold join) pada beton, pengecoran harus dilakukan dengan
ketinggian penuh yang akan membuat kemiringan pada permukaan
beton.
2. Pemadatan
Disamping cara penuangan yang benar, cara pemadatan yang benar
juga merupakan faktor penting guna mencapai tujuan pembetonan.
Cara pemadatan dengan vibrator yang benar yaitu :
 Besarnya kepala vibrator harus disesuaikan dengan jenis struktur
beton yang akan dicor dan jarak antar tulangan terkecil.
 Vibrator harus dapat dimasukkan ke dalam jaringan/ anyaman besi
beton dan harus diusahakan sedikit mungkin menempelkan vibrator
pada besi. Menggetarkan besi beton dapat mengakibatkan mutu
beton yang jelek, dimana terjadi arus pengumpulan pasir disekitar
besi, bahkan apabila besi digetarkan terus menerus akan berakibat
lebih kritis karena getaran ini merambat kebeton disampingnya
yang sudah mulai mengeras, sehingga mengakibatkan retak atau
terjadinya rongga antar besi dan beton. Rongga ini akan
mengakibatkan bahaya koros pada tulangan.
 Tidak boleh meletakkan kepala vibrator terlalu lama dalam beton
karena akan menyebabkan sefregasidan bleeding terutama untuk
16

beton dengan slump tinggi. Lama penggetaran cukup antara 10 s/d


15 detik.
 Kepala vibrator jangan terlalu dekat dengan bekisting, karena
apabila bekisting tergetar akan terbentuk lapisan pasir lepas dan
juga dapat merusak bekisting. Jarak minimal ke bekisting adalah 10
cm.
 Beton tidak boleh digetarkan berulang-ulang pada tempat yang
sama, karena dapat mengakibatkan rongga-rongga udara di dalam
betonnya.
 Vibrator harus dimasukkan ke dalam beton yang belum terpadatkan
secara tepat dan dicabut pelan-pelan. Kecepatan memasukkan
vibrator diperlukan agar tidak sempat terjadi pemadatan awal pada
beton lapisan atas sehingga menyulitkan lolosnya udara dan air
yang terperangkap dibawahnya. Sedangkan pencabutan harus
dilakukan pelan-pelan untuk memberikan kesempatan vibrator
menyalurkan secara penuh energi pemadatan pada beton.
Kecepatan pencabutan berkisar 4 s/d 8 cm/ detik.
 Pada pengecoran plat beton yang tipis, vibrator boleh dimasukkan
ke dalam beton secara miring. Dalam hal ini vibrator akan
menyentuh besi tulangan, tetapi harus diusahakan sedikit dan
secepat mungkin.
c. Curing (perawatan)
Curing (perawatan) dilakukan sehari (24 jam) setelah pengecoran selesai
dilakukan dengan dibasahi air dan dijaga/dikontrol untuk tetap dalam
keadaan basah.

4.1.3 Pekerjaan Struktur Beton


4.1.3.1 Pekerjaan Kolom
Kolom adalah konstruksi untuk meneruskan semua beban ke pondasi.
Prosedurnya sebagai berikut:
 Pekerjaan kolom harus membentuk kesinambungan dengan kolom
bawah dan dilaksanakan setelah beton balok/sloof dan plat selesai
dicor.
17

 Tanda posisi kolom harus dikontrol dengan bantuan bouwplank


atau bentuk yang lain.
 Tempatkan pembesian kolom dengan menggunakan dowel bar pada
bagian bawahnya, kemudian besi begel ditempatkan dan diikat kuat
pada saat yang sama dan jarak antara besi begel disesuaikan dengan
gambar konstruksi.
 Jaga agar pembesian dan bekisting tetap pada tempatnya.
 Pengecoran dilaksanakan setelah mendapat persetujuan direksi.
 Sebelum pelaksanaan, ambil sample beton untuk digunakan sebagai
sample test compressive strength di laboratorium.
 Selama pelaksanaan pengecoran, dibantu dengan concrete vibrator
(electric) secara periodic agar didapatkan hasil beton yang padat dan
tidak keropos.

4.1.3.2 Pekerjaan Pembesian


 Produksi besi harus jelas dari pabrik nama besi tersebut, serta data-
data yang mendukungnya.
 Besi tulangan harus baru, bersih dan ukuran sesuai dengan yang
tertera pada shop drawing dengan panjang utuh 12m.
 Dimensi tulangan diukur keadaan fisik.
 Pemotongan besi tulangan menggunakan mesin pemotong dan
gunting manual.
 Pembengkokan/pembentukan tulangan sesuai dengan shop drawing
yang telah disepakati.
 Pemasangan tulangan harus rapi, kokoh dan diikat oleh kawat beton
yang cukup rapat dan kuat agar tidak berubah posisi.

4.1.3.3 Bekisting dan Perancah


 Perancah dibuat dari bambu.
 Bekisting untuk balok dan kolom dibuat dari papan-papan atau
multipleks 9 mm. Agar mudah dalam pembongkaran dan tidak
18

merusak beton, bekisting dilapisi dengan minyak bekisting


sebelumnya.
 Bekisting harus kuat menahan beban yang terjadi dan tidak boleh
berubah bentuk. Bekisting harus menjamin konstruksi yang dicetak
sesuai gambar.
 Pemasangan bekisting harus teliti agar sesuai dengan as yang telah
ditentukan.

4.1.3.4 Persiapan Pekerjaan Pengecoran


 Untuk melakukan pengecoran harus dilakukan persiapan berupa
peralatan, penerangan, molen adukan, persiapan tenaga dan lain-
lain.
 Bagian yang akan dicor harus dibersihkan dari segala kotoran
dengan semprotan kompresor dan dibasahi air sampai jenuh tetapi
tidak ada genangan air.
 Semua peralatan-peralatan harus tersedia lengkap dan cukup
berjalan baik yaitu, misalnya : cetakan kubus beton dan lain-lain.
 Pengehentian pengecoran balok dan kolom harus mengikuti cara-
cara yang disebut dalam PB171.
 Penghentian pengecoran harus diusahakan merupakan bidang datar.
 Lokasi penghentian pengecoran harus dilaporkan kepada Direksi
Pengawas Pekerjaan.
 Sebelum melakukan pengecoran perlu dilakukan kontrol kualitas
yaitu kontrol kualitas terhadap posisi dan kondisi bekisting, posisi
dan penempatatan pembesian, jarak antar tulangan, panjang
penjangkaran dan ukuran baja tulangan yang digunakan. Kontrol
Kualitas kedua yaitu kontrol kualitas saat pengecoran. Pada saat
berlangsungnya pengecoran, campuran dari Concrete mixer Truck
diambil sampelnya. Sampel diambil menurut ketentuan yang
tercantum dalam spesifikasi. Pekerjaan Kontrol kualitas ini
dilakukan bersama-sama dengan konsultan pengawas untuk
selanjutnya dibuat berita acara pengesahan kontrol kualitas.
19

4.1.3.5 Proses Pengecoran


 Cara pengecoran akan dilakukan sesuai dengan rencana yang sudah
disepakati bersama dengan pengawas lapangan.
 Slump harus mendapatkan persetujuan dari Pengawas.
 Semua pengecoran harus dipadatkan dengan alat pemadat beton
(vibrator) sampai semua gelembung-gelembung udara keluar.
Pemadatan ini harus dikerjakan seteliti mungkin.
 Pengecoran harus rapih, bersih dan skematis tidak boleh
menimbulkan kesan sembarangan.
 Harus dipersiapkan pula pengaman jika sewaktu-waktu pada saat
pengecoran tiba-tiba turun hujan lebat.

4.1.3.6 Pembongkaran bekisting kolom


 Jika tidak ditentukan, bekisting kolom dapat dibuka paling cepat
setelah usia 14 hari.
 Untuk membuka bekisting kontraktor harus mendapat izin pengawas
lapangan.
 Pembukaan bekisting tidak boleh dengan cara-cara yang dapat
merusak beton.
 Bahan-bahan bekas bongkaran seperti dolken papan multipleks yang
masih baik kondisinya dapat dipakai lagi pada lantai berikutnya.
Tetapi jika ada yang kondisinya sudah rusak, dilarang untuk
digunakan kembali.

4.1.3.7 Pekerjaan Balok dan Ring Balok


Tahapan-tahapan pelaksanaan pekerjaan ini sama dengan pelaksanaan
pekerjaan kolom, hanya saja dalam pengerjaan bekisting perlu adanya
tambahan kayu dolken. Kayu ini berfungsi sebagai steger/penopang dari
bekisting agar bekisting tetap pada tempatnya (tidak terjadi lendutan). Kayu
steger tersebut ditegakkan dengan jarak sekitar 30-40 cm. Pelaksanaan
pengecoran balok atau ring balok, biasanya seiringan dengan pelaksanaan
plat lantai.
20

4.1.3.8 Pekerjaan Plat Lantai


Pekerjaan plat lantai akan menggunakan plat bondek dan besi wiremesh.
Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan ini yaitu:
1. Pekerjaan Pengukuran dan Bekisting
Pemasangan bekisting pelat lantai didahului dengan pengukuran posisi
balok. Pengukuran dilakukan dengan cara memberi tanda as bangunan
pada kolom lantai bawah yang tadinya ada pada lantai bawah.
Pengukuran ini ditujukan untuk mengantisipasi kesalahan pada posisi
balok.
2. Dari hasil pengukuran tersebut maka bekisting balok dan plat bondek
dapat dipabrikasi pada posisi yang benar diatas perancah yang telah
disiapkan. Pengaturan level balok dan pelat dapat dilakukan dengan
mengatur ketinggian perancah (Bambu).
3. Pekerjaan Pembesian
Setelah bekisting siap, besi tulangan yang telah siap dipasang dan
dirangkai dilokasi. Pembesian balok dilakukan terlebih dahulu, setelah
itu diikuti dengan pembesian plat lantai. Pembesian plat lantai
menggunakan besi wiremesh yang dipasang sebanyak 1 lapis pada
daerah tumpuan tengah dan 2 lapis pada sisi-sisi pertemuan antara plat
lantai dan balok.
4. Leveling Pengecoran pelat lantai
Agar pengecoran pelat lantai mencapai level yang benar dan tidak
terjadi perbedaan tinggi finishing cor, maka perlu dibuat alat bantu
leveling pengecoran. Leveling pengecoran dibuat dari besi siku
L.50.50.5 yang ditumpukan pada beberapa titik besi beton. Besi beton
ini ditancapkan hingga posisi besi siku tidak lagi bergeser. Penempatan
besi siku diukur dengan waterpass dan diukur pada level sesuai gambar
desain.
5. Pekerjaan Kontrol Kualitas
Kontrol kualitas yang dilakukan sama dengan kontrol kualitas yang
dilakukan pada pekerjaan kolom.
21

6. Pengecoran beton
Sebelum melakukan pengecoran, perlu dilakukan penyempurnaan
pemasangan bondek dengan cara:
- Penutupan lubang rusuk dek pada sisi bidang lantai cor dengan
menggunakan pita perekat, beton yang sudah dicetak, dsb.
- Penyempurnaan sambungan antar bondek menggunakan rivet 5
mm.
Pengecoran dilakukan dengan Ready Mix truck yang dibantu dengan
penggunaan Concrete Pump. Dalam hal ini pengecoran dilakukan
secara sekaligus balok dan plat seluruh lantai. Untuk mempercepat
proses pengecoran dipakai Concrete Pump. Pengecoran dibantu dengan
alat vibrator untuk meratakan dan memadatkan campuran. Selanjutnya
finishing lantai cor ini adalah rata namun dibiarkan kasar karena
selanjutnya akan dilakukan pekerjaan lantai.
7. Pekerjaan curing
Sama hal nya dengan pekerjaan kolom, Curing (Perawatan) dilakukan
sehari setelah dilakukan pengecoran.

4.1.3.9 Pekerjaan Kolom Praktis


 Kolom praktis dipasang diantara dinding bata dan sesuai gambar
kerja.
 Pelaksanaan pengecoran kolom praktis prosedurnya sama dengan
pekerjaan beton diatas.
 Pekerjaan ini mempermudah juga dalam pemasangan kusen yang
nantinya menjadi tiang tegak dan pelindung kusen.
 Supaya efisien pengerjaannya dan tegak, terlebih dahulu diposisikan
dengan unting-unting sehingga tidak miring.
 Pelaksana memasang besi dengan ukuran yang tepat dan campuran
beton yang sesuai sehingga kualitas terjaga.
22

4.1.4 Pekerjaan Arsitektur


4.1.4.1 Pekerjaan Pasang Dinding Bata
Pekerjaan akan dilaksanakan secara serentak pada seluruh jalur rencana
dinding dengan tahapan sebagai berikut:
- Pekerjaan diawali pembuatan/perakitan tulangan kolom praktis
yang terdiri dari tulangan pokok dan tulangan sengkang dengan
dengan dimensi besi, jarak tulangan dan bentuk tulangan mengikuti
gambar kerja sampai diperoleh kandungan berat besi sebagaimana
dinyatakan dalam spesifikasi teknis.
- Selanjutnya tulangan kolom praktis yang telah dirakit, dipasang
diatas permukaan sloof/balok yang telebih dahulu telah dipasangi
tulangan stek pada posisi sebagaimana yang ditunjukan dalam
gambar.
- Untuk menjaga vertikalitas dari tulangan kolom praktis ini,
selanjutnya dibuatkan skor pengaku.
- Material batu bata yang digunakan adalah batu bata yang
memenuhi persyaratan teknis baik menyangkut dimensi serta
kualitasnya.
- Pemasangan dinding bata dimulai dari dinding bagian bawah
selanjutnya disusun satu persatu dengan perekat mortar sesuai
spesifikasi teknis. Mortar yang digunakan berupa campuran pasir
dan semen.
- Sebelum dipasang, batu bata terlebih dahulu dibasahi sampai jenuh.
- Seiring dengan bertambahnya ketinggian pasangan dinding ½
bata, kolom praktis secara bersamaan juga dikerjakan yang dimulai
dengan penulangan dilanjutkan dengan pemasangan begisting
kemudian dilakukan pengecoran dengan campuran 1Pc : 2Ps : 3Kr.
23

4.1.4.2 Pekerjaan Plesteran dan Acian


Pekerjaan plesteran ini akan dilaksanakan setelah dinding pasangan
bata telah mengering dengan baik, dikerjakan dengan tahapan sebagai
berikut:
- Pekerjaan plesteran dengan campuran 1Pc : 3Ps d a n 1Pc : 4Ps
akan dikerjakan pada bidang permukaan dinding dan kolom serta
balok maupun listplank.
- Untuk area luar bangunan sebelumnya akan dibuat steling kerja
agar dapat menjangkau bidang permukaan yang tinggi.
- Sebelum diplester, permukaan terlebih dahulu akan dibasahi
dengan air kemudian diplester yang dimulai dari bagian atas kearah
bawah.
- Akan dipastikan kembali ukuran-ukuran lobang pintu dan jendela
agar sesuai dengan ukuran kusen dan jendela aluminium yang akan
dipasang.
- Permukaan yang akan diplester terlebih dahulu dibuatkan kepala
plesteran sebagai bidang acuan untuk mendapatkan permukaan
yang rata kemudian setelah kepala plesteran telang mengering
dilanjutkan dengan plesteran penutup antara kepala plesteran
sampai seluruh permukaan dinding pasangan bata diplester.
- Setelah pleseteran telah mengering dilanjutkan dengan pekerjaan
acian dan pada bagian yang akan dipasang keramik tidak akan di
aci.

4.1.4.3 Pekerjaan Atap


Pekerjaan atap dilaksanakan setelah pekerjaan ring balok pada lantai
3 selesai dilaksanakan dan telah mengering dengan baik. Adapun
tahapan pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Pemasangan Rangka Atap Baja
- Memastikan seluruh permukaan atas ring balok dalam keadaan rata dan
siku, dengan menggunakan selang air (waterpass) dan penyiku sebagai
alat bantu.
24

- Memastikan bahwa rangkaian ring balok telah mengikat semua bagian


bangunan dan tersambung secara benar (monolith) dengan kolom yang
ada di bawahnya.
- Memberi tanda posisi perletakan kuda-kuda (truss), sesuai dengan
gambar rencana atap.
- Mengukur jarak antar kuda-kuda.
- Mengangkat kuda-kuda secara hati-hati, agar tidak mengakibatkan
kerusakan pada rangkaian kuda-kuda yang telah selesai dirakit.
- Memastikan posisi kiri dan kanan (L-R) kuda-kuda tidak terbalik.
Sisi kanan dan kiri kuda-kuda dapat ditentukan dengan acuan posisi
saat pekerja melihat kuda-kuda, dengan mulut web dapat dilihat oleh
pekerja. Bagian di sebelah kiri pekerja disebut sisi kiri, sedangkan yang
berada di sebelah kanannya adalah sisi kanan.
- Mengontrol posisi berdirinya kuda-kuda agar tegak lurus dengan ring
balok menggunakan benang dan lot (unting-unting)
- Mengencangkan kuda-kuda dengan plat L (L bracket), dengan
menggunakan 4 buah screw 12 – 14 x 20 HEX.
- Mengencangkan plat L dengan ring balok menggunakan dynabolt, dan
menambahkan balok penopang sementara, agar posisi kuda-kuda tidak
berubah.
- Mengulangi langkah ke-1 sampai ke-6 untuk mendirikan semua kuda-
kuda, sesuai dengan posisinya dalam gambar kerja.
- Memeriksa ulang jarak antar kuda-kuda dari as ke as.
- Memeriksa kedataran (leveling) semua puncak kuda-kuda (Apex), dan
memastikan garis nok memiliki ketinggian yang sama (datar).
- Memasang balok nok.
- Memasang bracing (pengikat) sebagai perkuatan, jika bekerja beban
angin.
- Bracing dipasang di atas top-chord dan di bawah reng.
- Memasang reng (roof battens) dengan jarak menyesuaikan jenis
penutup atap yang digunakan. Setiap pertemuan reng dengan kuda-kuda
diikat memakai screw ukuran 10-16×16 sebanyak 2 (dua) buah.
25

- Memasang outrigger (gording tambahan setelah kuda-kuda terakhir


yang menumpu ringbaok). Pada atap jenis pelana, outrigger dapat
dipasang sebagai overhang dengan panjang maksimal 120 cm dari
kuda-kuda terluar, dan jarak antar outrigger 120 cm. Outrigger harus
diletakkan dan di-screw dengan dua buah kuda-kuda yang terdekat.

2. Pemasangan Penutup Atap


- Memeriksa ulang pemasangan kuda-kuda sesuai dengan nomor,
kedataran nok maupun sisi atap, dan memastikan support overhang
terpasang dengan benar.
- Menentukan jarak reng sesuai dengan penutup atap yang ak an
digunakan yaitu spandek, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan
reng (roof battens) dengan screw 10 – 16 x 16 HEX.
- Memasang satu jalur penutup terlebih dahulu dari bawah ke atas.
- Pemasangan penutup atap seng gelombang akan dibuat lurus dan rapi
agar polanya menjadi rapi dan tidak berbelok – belok.
- Pemasangan penutup atap spandek dengan menggunakan paku
screw.
26

4.2 Tugas Khusus


4.2.1 Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Tanah Dan Struktur Lantai 1
Gedung Kuliah FMIPA
A. Pekerjaan Tanah, Pasir dan Pondasi
1. Galian Tanah Untuk Pilecap
Volume : P x L x T
P= 2 m, L = 2 m, T = 0,8 m
= 2 x 2 x 0,8
= 3,2 m3 x 32 jumlah PC
= 102 m3
2. Pengeboran Tanah Pondasi Sumuran
Volume : Luas x T
L= π x r x r
L= 3,14 x 0,6 x 0,6 = 1,1304 m2
= 1,1304 m2 x 6 m = 6,7824 m3
= 6,7824 x 32 = 217,0368 m3
3. Galian tanah pondasi jalur
 Dimensi Galian
L= 0,9 m
T= 1,35 m
27

 Denah Pondasi Jalur

 Panjang Total pondasi jalur


SPJ = Sloof dan Pondasi Jalur
Jadi panjang pondasi jalur adalah:
Arah x = 31 + 4 + 4 + 4 + 23 + 8 + 8 + 19
= 101 m
Arah y = 31 + 31+ 12 + 8 + 8 + 23
= 113 m
P total = 214 m

 Volume
= P total x Luas
= 215 x (0,9 x 1,35)
= 261,225 m3
28

4. Urugan Tanah Dibawah Lantai

Luas Lantai / Bagian


 1,3,4,10,12,13,15,17 = 7,4 x 7,4
= 54,76 m2 x 8
= 438,08 m2
 2,5,7,8,11,16 = 2,4 x 7,4
= 17m,76 m2 x 6
= 106,56 m2
 14,18,20,21 = 3,4 x 7,4
= 35,16 m2 x 4
= 140,64 m2
Luas Lantai Total
= 438,08 m2 x 106,56 m2 x 140,64 m2
= 685,26 m2
Volume = L total x T
= 685,26 m2 x 0,5 m
= 342,63 m3

Perlu difahami saat mengurug tanah itu terjadi pemadatan, nilainya


sekitar 1,2 x volume urugan tanah.

Jadi, tanah yang dibutuhan adalah 1,2x 342,63 m3 = 411,156 m3


29

5. Urugan Pasir Dibawah Pondasi Dan Lantai


 Urugan Pasir dibawah pondasi
Luas =TxL
= 0,05 x 0,9
= 0,045m2

Panjang Total Pondasi

= 214 m

V =PxL

= 214 x 0,045

= 9,63 m3

 Urugan Pasir dibawah Lantai

Luas Lantai = 685,26 m2

T = 0,05

V = Luas X Tinggi

= 685,26 m2 x 0,05 m

=34,263 m3

Volume Total = 9,63 m3 + 34.263 m3 = 43,893 m3

6. Pasangan Batu Kosong Pondasi Jalur

Luas =TxL

= 0,2 x 0,9
= 0,18m2

Panjang Total Pondasi

= 214 m

V = P x L = 214m x 0,18m2 = 214 m x 0,18m2 = 38,52 m3


30

7. Pasangan Pondasi Batu Pecah


Luas = ½ x (0,7 + 0,4) x 0,8
= 0,44 m2
V = L x Panjang Total
= 0,112 m2 x 214 m
= 94,16 m3

8. Cor Lantai Kerja Dibawah Sloof Camp 1:3:5

 Panjang Total Sloof Tampa Pondasi Jalur


Arah x = 31 + 8 + 19
= 58 m
Arah y = 31 + 19 + 11
= 61 m
P total = 119 m
31

 Dimensi
Tinggi = 0,07 m
Lebar = 0,4 m

Luas = 0,07 x 0,4


= 0,028 m2

 Volume
= Luas x P total
= 0,028 m2 x 119 m
= 3,332 m3
9. Pondasi Sumuran Diameter 120 cm
- Pekerjaan Beton K-250
Luas = π𝑟 2
= 3,14 x 0,6 x 0,6
= 1,1304 m2
Tinggi =6m
Jumlah = 32 buah

V = 1,1304 m2 x 6 m
= 6,7824 m3
Total = V x 32 = 6,7824 m3 x 32
= 217,0368 m3
- Pekerjaan Pembesian
Pembesian besi tulangan
 D16 = 18 bh x 6 m
= 108 m
 D10 = 6/0,15
= 40 bh
S = 0,05
32

Panjang 1 ujung tulangan sengkang

D’= D – S = 1,20 m – 0,05 m – 0,05 m

D’ = 1,1 m = r 0,55 m

Keliling = 2πr

= 2 x 3,14 x 0,55 m

= 3,454 m

P total = 3,454 x 40 bh

= 138,16 m

Mencari Berat Besi


 Berat Besi D16
Berat Besi D16 per meter adalah
= 0,006165 x 16 x 16 x 1
= 1,57824 kg
Total D16 = 1,57824 kg x P total
= 1,57824 kg x 108 m
= 170,44992 kg
 Berat Besi D10
Berat Besi D10 per meter adalah
= 0,006165 x 10 x 10 x 1
= 0,6165 kg
Total D10 = 0,6165 kg x P total
= 0,6165 kg x 138,16 m
= 85,17564
- Berat Total Dalam 1 Sumuran
= Total D16 + Total D10
= 170,44992 kg + 85,17564 kg
= 255,62556
 Berat Total 32 pembesian sumuran
= 32 x 255,62556 kg = 8180,01792 kg
33

- Pekerjaan Bekisting
= Keliling x T x jumlah sumuran
K = 2πr
= 2 x 3,14 x 0,6
= 3,768 m
T =6m
Jmlh = 32 bh
Jadi, bekisting yang diperlukan adalah
= 3,768 m x 6 m x 32 bh
= 723,456 m2
10. Pilecap 200/200/60
 Pekerjaan Beton K-300

V =PxLxT

= 2 x 2 x 0,6

= 2,4 m3

V total = V x 32

= 2,4 m3 x 32 buah

= 76,8 m3

 Pekerjaan Pembesian
Tulangn Atas = 10 bh
Tulangan bawah = 10 bh
Selimut Beton = 0,03 m
Panjang 1 ujung = 1,94 m
Jadi Untuk 20 bh = 1,94 m x 20 bh
= 38,8 m
Berat Besi D 22 permeter adalah
= 0,006165 x 22 x 22 x 1
= 2,98386 kg
Berat Tulangan = 2,98386 kg x 38,8 m
= 115,773768 kg
34

Sengkang = 10 bh
Panjang 1 ujung = 0,54 + 0,54 + 1,94 + 1,95
= 4,96 m
Jadi Untuk 10 bh = 4,96 m x 10 bh
= 49,6 m
Berat sengkang = 2,98386 kg x 49,6 m
= 147,999456 kg
Total = 115,773768 kg + 147,999456 kg
= 263,768328 kg

 Pekerjaan Bekisting
Luas = ((0,6 x 2) 2) + (2 x 2)
= 4,72 m

Total = 4,75 m x 32 bh

Dari hasil perhitungan volume dari masing masing item, dapat dibuat Rencana
anggaran biaya sebagai berikut:

= 151,04 m2
35

B. Struktur Lantai 1
1. Sloof 30/50 Pembesihan 200 kg/m3

- Pekerjaan Beton K-300


Panjang Total
Arah x = 162 m
Arah y = 162 m
P total = 324 m
V = L x T x P total
= 0,3 m x 0,5 m x 324 m
= 48,6 m3

- Pekerjaan Pembesian
 Tulangan atas 4D19
P total = 4 x 324 m
= 1296 m
36

Berat besi
Berat Besi D19 per meter
= 0,006165 x 19 x 19 x 1
= 2,225565 kg
Berat total = 2,225565 kg x 1.296 m
= 2.884,33224 kg
 Tulangan Bawah 4D19
P total = 4 x 324 m
= 1296 m
Berat besi
Berat Besi D19 per meter
= 0,006165 x 19 x 19 x 1
= 2,225565 kg
Berat total = 2,225565 kg x 1.296 m
= 2884,33224 kg
 Tulangan tengah 2D16
P total = 2 x 324 m
= 648 m
Berat besi
Berat Besi D16 per meter
= 0,006165 x 16 x 16 x 1
= 1,57824 kg
Berat total = 1,57824 kg x 648 m
= 1022,69952 kg
 Tulangan Sengkang

Selimut = 0,03 m

Panjang 1 Sengkang D10-15

= 0,24 m + 0,24 m + 0,44 m + 0,44 m

= 1,36 m
37

Tulangan sengkang yang diperlukan

= 324 m/ 0,15

= 2160 bh

Panjang Total

= 2160 bh x 1,36 m

= 2937,6 m

Berat besi
Berat Besi D10 per meter
= 0,006165 x 10 x 10 x 1
= 0,6165 kg
Berat total = 0,6165 kg x 2937,6 m
= 1811,0304 kg

Berat Total Pembesian Sloof 30/50


= 2884,33224 kg + 2884,33224 kg + 1022,69952 kg
+ 1811,0304 kg
= 8602,3944 kg

- Bekisting
P total x T = 324 x 0,5
= 162 m2 x 2 sisi
= 324 m2
38

2. Sloof 20/30 Pembesihan 150 kg/m3

- Pekerjaan Beton K-300


Panjang Total
Arah x= 3,7 m + 3,7 m + 3,7 m
= 11,11
Arah y = 1,85 + 1,85 + 2.6 m
= 6,3 m
P total = 11,11 + 6,3 m = 17,41 m
V = L x T x P total
= 0,2 m x 0,3 m x 17,41 m
= 1,0446 m3
- Pekerjaan Pembesian
 Tulangan atas 3D16
P total = 3 x 17,41 m
= 52,23 m
Berat besi
Berat Besi D16 per meter
= 0,006165 x 16 x 16 x 1
= 1,57824 kg
Berat total = 1,57824 kg x 52,23 m
= 82,4314752 kg

 Tulangan Bawah 3D16


P total = 3 x 17,41 m
= 52,23 m
39

Berat besi
Berat Besi D16 per meter
= 0,006165 x 16 x 16 x 1
= 1,57824 kg
Berat total = 1,57824 kg x 52,23 m
= 82,4314752 kg
 Tulangan Sengkang

Selimut = 0,03 m

Panjang 1 Sengkang D10-15

= 0,14 + 0,14 + 0,24 + 0,24

= 0,76 m

Sengkang yang diperlukan

= 17,41 m/ 0,15

= 116,067 bh ~ 117 bh

Panjang Total

= 117 bh x 0,76 m

= 88,92 m

Berat besi
Berat Besi D8 per meter
= 0,006165 x 8 x 8 x 1
= 0,39456 kg
Berat total = 0,39456 kg x 88,92 m
= 35,0842752 kg

Berat Total Pembesian Sloof 30/50


= 82,4314752 kg + 82,4314752 kg + 35,0842752 kg
= 199,9472256 kg
40

- Bekisting
P total x T = 17,41 x 0,3
= 5,223 m2 x 2 sisi
= 10,446 m2
3. Kolom 60/60 Pembesian 192 kg/m3

- Pekerjaan Beton K-300

V =PxLxT

= 0,6 m x 0,6 m x 4 m

= 1,44 m3

V total = 1,44 x 32 bh
= 46,08 m3

-
- Pekerjaan Pembesian
 Tulangan Utama 16D22
P total = 16 x 4 m
= 64 m
41

Berat besi
Berat Besi D22 per meter
= 0,006165 x 22 x 22 x 1
= 2,98286 kg
Berat total = (2,98286 kg x 64 m) x 32 bh
= 6108,89728 kg
 Tulangan Sengkang

Selimut = 0,03 m

Panjang 1 Sengkang D10-15

= 0,54 + 0,54 + 0,54 + 0,54

= 2,16 m

Sengkang yang diperlukan

= 4 m/ 0,15

= 26,667 bh ~ 27 bh

Panjang Total

= 27 bh x 2,16 m

= 58,32 m

Berat besi
Berat Besi D10 per meter
= 0,006165 x 10 x 10 x 1
= 0,6165 kg
Berat total = (0,6165 kg x 58,32 m) x 32 bh
= 1150,53696 kg

Berat Total Pembesian Kolom 60/60


= 6108,89728 kg + 1150,53696 kg
= 7259,43424 kg
42

- Pekerjaan Bekisting
Keliling = 0,6 m + 0,6 m + 0,6 m + 0,6 m
= 2,4 m
Luas =KxT
= 2,4 m x 4 m
= 9,6 m2
Total = 9,6 m2 x 32 bh
= 307,2 m2

Dari hasil perhitungan volume dari masing masing item, dapat


dibuat Rencana anggaran biaya sebagai berikut:
43

BAB V
PENUTUP

4.3 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan dengan menghitung pekerjaan
tanah, pasir dan pondasi serta pekerjaan struktur lantai 1 Pembangunan Gedung
Pendidikan FMIPA, dapat hasil sebagai berikut :
 Total biaya pekerjaan tanah, pasir dan pondasi
= Rp 1.085.424.968
 Total biaya pekerjaan struktur lantai 1
= Rp 659.585.088

4.4 Saran
Untuk merencanakan suatu Rencana Anggaran Biaya sangan diperlukan
volume yang tepat. Jadi, untuk mendapatkan hasil yang tepat harus menghitung
volume dengan teliti.
44

DAFTAR PUSTAKA

http://bahanajargurudansiswa.blogspot.com/2011/10/fungsi-sloof-dan-cara-
menghitung.html
http://format-lengkap-administrasi-desa.blogspot.com/2016/10/panduan-lengkap-
menyusun-rab-format-rab.html
https://id.scribd.com/doc/24485305/pondasi-sumuran
https://id.scribd.com/document/360411242/Pengertian-Dan-Fungsi-RAB
https://proyeksipil.blogspot.com/2013/06/cara-mudah-dan-cepat-menghitung-
volume.html
https://projectmedias.blogspot.com/2013/06/cara-menghitung-volume-besi.html
http://sipilworld.blogspot.com/2013/04/contoh-uraian-pekerjaan-untuk.html
http://volumebangunan.blogspot.com/2016/04/menghitung-volume-bekisting-
pondasi.html
https://www.academia.edu/19518598/Perencanaan_Pondasi_Tiang_Sumuran_Bored
_Pile_
http://www.cara.aimyaya.com/2015/06/rumus-luas-dan-keliling-trapesium.html
http://www.menghitung.com/rumus-menghitung-luas-lingkaran/
http://www.struktur-rumah.com/2008/10/cara-menghitung-kebutuhan-material-
upah.html