Anda di halaman 1dari 6

Formulasi yang digunakan untuk krim ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale

Rosc. var. rubrum) menggunakan basis vanishing cream merupakan modifikasi formula
dari Ikhsanudin (2012) <Formulasi Vanishing Cream Minyak Atsiri Rimpang Jahe
(Zingiber officinale Roxb) Dan Uji Aktivitas Rapelan Terhadap Nyamuk Aedes aegypti
Betina. Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 2, No.2 : 175-186 > dan cold cream merupakan
modifikasi formula dari Putra&Setyawan (2014) <Pengembangan Basis Cold Cream
Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Yang Memenuhi Sifat Farmasetis.
Media Farmasi, Vol. 11 No.2 :133-142>.

1. Asam Stearat

Acidum Stearicum, Cetylacetic Acid. Pemerian berupa kristal tajam, putih kekuningan,
agak mengkilap. Larut dalam 1:2 kloroform; 1:5 carbon tetrachloride; 1:15 etanol; praktis
larut air. Suhu lebur pada 66–69°C. Asam stearat tidak kompatibel dengan sebagian besar
logam hidroksida dan mungkin tidak sesuai dengan basa, zat pereduksi, dan oksidator.
Dalam formulasi topikal, asam stearat digunakan sebagai pengemulsi dan pelarut agen.
Ketika sebagian dinetralkan dengan alkali atau trietanolamin, asam stearat digunakan
dalam penyusunan krim. Asam stearat membentuk krim dasar bila dicampur dengan 5- 15
kali sendiri berat cairan berair, penampilan dan plastisitas krim yang ditentukan oleh
proporsi alkali yang digunakan. Konsentrasi penggunaan pada krim adalah 1-20% (Rowe
et al., 2009).

2. Cera Alba
Memiliki sinonim white beeswax atau malam putih. Tidak berasa, zat padat, lapisan tipis
bening, putih kekuningan, serpihan putih dan sedikit tembus cahaya. Larut dalam
kloroform, eter, minyak menguap; Sedikit larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut
dalam air. Suhu lebur pada 61 - 65oC. Inkompatibilitas dengan bahan pengoksidasi.
Penggunaan sebagai bahan pembentuk basis 5-20%. Cera alba digunakan untuk
meningkatkan konsistensi dari krim dan salep, dan untuk menstabilkan air dalam minyak.
Bahan ini juga dapat menambah laju absorbsi obat-obat yang digunakan secara topikal.
Selain itu sebagai basis minyak, stabilisator emulsi. Inkompatibel dengan agen
pengoksidasi (Rowe et al., 2009).

3. Vaselin Putih

Memiliki nama lain White soft paraffin, White Petrolatum. Dengan pemerian massa lunak
putih, translucent, dan tidak berasa. Praktis tidak larut dalam air, gliserin, etanol (95%) dan
aseton. Penggunaan dalam formulasi sediaaan salep dengan fungsi utama sebagai emolient.
Vaselin adalah campuran hidrokarbon jenuh setengah padat yang dimurnikan, diperoleh
dari minyak bumi. Vaselin putih adalah vaselin yang telah dihilangkan seluruh atau hampir
seluruh warnanya, sehingga mengurangi reaksi hipersensitivitas dan lebih dipilih untuk
penggunaan kosmetik dan sediaan farmasetika lain. Vaselin putih digunakan dalam
formulasi sediaaan salep dengan fungsi utama sebagai emolient. Vaselin banyak digunakan
dalam formulasi sediaan topikal sebagai basis yang bersifat emolient. Vaselin album
digunakan sebagai emolien krim, topikal emulsi, topikal ointments dengan konsentrasi
antara 10-30% (Rowe et al., 2009).

4. Triethanolamin
Trietanolamin, berwarna kuning pucat cairan kental yang memiliki sedikit abu amoniak.
Trietanolamin banyak digunakan dalam formulasi topikal, terutama dalam pembentukan
emulsi .Bila dicampur dengan proporsi yang sama dengan asam lemak, seperti asam stearat
atau asam oleat, triethanolamine membentuk sebuah sabun anionic dengan Ph sekitar 8,
yang dapat digunakan sebagai pengemulsi untuk sediaan oil-in-water emulsi yang stabil
stabil. Konsentrasi yang biasanya digunakan untuk emulsifikasi adalah 2-4% v/v dari
trietanolamina dan 2- 5 kali dari asam lemak. Dalam kasus minyak mineral, 5% v/v dari
trietanolamin akan diperlukan, dengan peningkatan yang tepat dalam jumlah asam lemak
yang digunakan. Persiapan yang berisi sabun trietanolamin cenderung gelap pada
penyimpanan. Namun, perubahan warna dapat dikurangi dengan menghindari paparan
cahaya dan kontak dengan logam dan ion logam. Titik lebur 20 – 210C. derajat keasaman
10,5 (Sumber : Rowe et al., 2009).

5. Propilenglikol

Memiliki nama lain yaitu 1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2 hydroxypropanol; methyl


ethylene glycol; methyl glycol; propane-1,2-diol; propylenglycolum. Tidak berwarna,
kental, praktis tidak berbau, cair, dengan rasa manis, rasa sedikit pedas menyerupai gliserin.
Larut dengan aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan air; larut pada 1 : 6 bagian eter;
tidak larut dengan minyak atau tetap minyak mineral ringan, tetapi akan larut beberapa
minyak esensial. Suhu lebur pada -59oC. Inkompatibilitas dengan bahan pengoksidasi
seperti kaliuum permanganat. Penggunaan sebagai humektan humektan dengan persentase
kadar 1- 15%. Propilenglikol telah banyak digunakan sebagai pelarut, ekstraktan, dan
pengawet dalam berbagai parenteral dan nonparenteral formulasi farmasi. Ini adalah
pelarut umum lebih baik dari gliserin dan melarutkan berbagai macam bahan, seperti
kortikosteroid, fenol, obat sulfa, barbiturat, vitamin (A dan D), yang paling alkaloid, dan
banyak anestesi lokal. Propilenglikol digunakan dalam berbagai macam formulasi farmasi
dan umumnya dianggap sebagai bahan yang tidak beracun (Rowe et al., 2009).

6. Cetaceum

Pemerian : massa hablur, bening, licin, putih mutiara, bau dan rasa lemah.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, dalam air dingin, larut dalam 20 bagian etanol
mendidih, dalam kloroform pekat, dalam minyak lemak, minyak atsiri.
Titik lebur : 44 – 52 0C
Konsentrasi : topical cream dan ointment 1 -15 %
Kegunaan : zat pengeras, (stiffening agent)
OTT : asam kuat Stabilitas
Penyimpanan : dalam wadah tertutup di tempat yang sejuk dan kering.
Bobot jenis : 0.95
(Rowe et al., 2009).

7. Parafin Cair

Pemerian : cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak berwarna, hampir tidak
berbau, hampir tidak mempunyai rasa.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, etanol 95%, gliserin. Mudah larut dalam aseton,
benzene, kloroform, eter, karbondisulfida, petroleum eter, minyak menguap.
Titik leleh : > 300 0C
Konsentrasi : topical ointment 0,1 – 0,5 %
Kegunaan : emollient, solvent.
OTT : Zat pengoksidasi kuat
Stabilitas : akan teroksidasi dalam keadaan terbuka.
Penyimpanan : dalam wadah kedap udara di tempat sejuk dan hindarkan dari cahaya.

8. Aquades
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
Kelarutan : Larut pada kebanyakan pelarut polar.
Inkompabilitas : Air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain yang rentan
terhadap hidrolisis (dekomposisi di keberadaan air atau uap air) di kamar dan suhu tinggi.
Air dapat bereaksi dengan logam alkal dan oksida lainnya, seperti kalsium oksida dan
magnesium oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk membentuk hidrat dari
berbagai komposisi, dan dengan bahan organic tertentu dan kalsium karbida
Titik lebur/ titik didih : Titik didih 100 ᵒ C, Titik lebur 0 ᵒ C.
Kegunaan/fungsi : Pelarut (Rowe et al, Ed. 6, 2009)

9. Ekstrak Jahe Merah

Rimpang Jahe merah biasa digunakan sebagai obat masuk angin, obat gosok pada
pengobatan sakit encok dan sakit kepala, bahan obat, bumbu masak, penghangat tubuh,
menghilangkan flu, mengatasi keracunan, gangguan pencernaan, sebagai antioksidan,
antitusif, analgesik, antipiretik, antiinflamasi, menurunkan kadar kolesterol, mencegah
depresi, impotensi, dan lain-lain (Hapsoh et al., 2010).
Efek analgesik perasan rimpang jahe merah berhubungan dengan unsur-unsur yang
terkandung dalam jahe merah. Senyawa-senyawa gingerol, shogaol, zingerone,
diarylheptanoids dan derivatnya terutama paradol diketahui dapat menghambat enzim
siklooksigenase sehingga terjadi penurunan pembentukan atau biosintesis dari
prostaglandin yang menyebabkan berkurangnya rasa nyeri (Mantiri et al., 2013).

Jumlah ekstrak kental jahe merah yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10% dari
bobot total krim yaitu 10 gram untuk setiap formula. Digunakan ekstrak kental jahe merah
sebanyak 10 %, karena pada konsentrasi ini kelompok ekstrak Zingiber officinale 10%
lebih mendekati efikasi maksimal sebagai analgetik dibandingkan kelompok Zingiber
officinale 20 %. Menurut Setyawan (2013), pada dasarnya efikasi maksimal ditentukan
oleh sifat obat dan sistem reseptor-efektor yang dicerminkan dalam hubungan konsentrasi-
efek.

Pada pencampuran antara asam stearate dengan triethanolaminin terjadi proses penyabunan
yang menghasilkan sabun stearat terjadi pada suhu ±65oC. Sabun stearat berupa trietanolamin-
stearat yang terbentuk juga berfungsi sebagai emulgator yang menstabilkan emulsi melalui
pembentukan monolayer yang stabil (Kim, 2004). Trietanolamin Stearat adalah garam
trietanolamin dari asam stearat yang digunakan sebagai zat pembersih surfaktan dan zat
pengemulsi surfaktan dalam berbagai macam formulasi kosmetik (Andersen, 1995).Penggunaan
emulgator anionik yaitu trietanolamin dan asam stearat, mengingat bahwa krim yang dibuat
ditujukan untuk penggunaan luar. Basis yang dipilih dalam suatu sediaan krim untuk penggunaan
luar pada umumnya dibentuk dari fase minyak yang tidak terabsorbsi kedalam kulit yaitu dari
golongan minyak mineral, misalnya parafin liquid. Sedangkan asam stearat akan membentuk krim
yang stabil jika digabungkan dengan trietanolamina (TEA) (Hamzah et al., 2014).

Sedangkan pada penggunaan kombinasi cetaceum dengan cera albe akan membentuk krim
setengah padat dan tidak berair.

Penetrasi krim jenis W/O jauh lebih kuat dibandingkan dengan O/W karena komponen
minyak menjadikan bentuk sediaan bertahan lama di atas permukaan kulit dan mampu menembus
lapisan kulit lebih jauh. Namun krim W/O kurang disukai secara kosmetik karena komponen
minyak yang lama tertinggal di atas permukaan kulit. Krim O/W memiliki daya pendingin lebih
baik dari krim W/O, sementara daya emolien W/O lebih besar dari O/W.