Anda di halaman 1dari 166

UNIVERSITAS INDONESIA

APLIKASI MODEL ADAPTASI ROY


PADA ANAK KANKER YANG MENGALAMI
MASALAH NYERI DI RUANG NON INFEKSI
RSUPN Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO

KARYA ILMIAH AKHIR

NURHIDAYATUN
1006800983

PROGRAM NERS SPESIALIS ILMU KEPERAWATAN


PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
JANUARI, 2014

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

APLIKASI MODEL ADAPTASI ROY


PADA ANAK KANKER YANG MENGALAMI
MASALAH NYERI DI RUANG NON INFEKSI
RSUPN Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mendapatkan


Gelar Ners Spesialis Keperawatan Anak

NURHIDAYATUN
1006800983

PROGRAM NERS SPESIALIS ILMU KEPERAWATAN


PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
JANUARI, 2014

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala ridho dan limpahan rahmat-NYA
penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah Akhir dengan judul
“Aplikasi Model Adaptasi Roy Pada Anak Penderita Kanker Yang Mengalami
Masalah Nyeri di Ruang Non Infeksi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo”.

Dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini, penulis banyak mendapatkan bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan rasa hormat dan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Nani Nurhaeni, S.Kp., MN, selaku supervisor utama (pembimbing I)
yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya
dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.
2. Ibu Ns. Happy Hayati, M.Kep., Sp.Kep.An., selaku supervisor (pembimbing
II) yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan
saya dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.
3. Ibu Dra. Junaiti Sahar, M.App.Sc.Ph.D, sebagai Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia
4. Ibu Astuti Yuni Nursasi, MMn, selaku Ketua Program Pasca Sarjana Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
5. Direktur RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta, yang telah memberikan
izin untuk melakukan praktek Residensi Keperawatan di RSUPN Dr.Cipto
Mangunkusumo Jakarta.
6. Supervisor, Head Nurse beserta staf ruang Non Infeksi anak Lantai 1 Gedung
A di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, yang telah memberikan
tempat selama praktik residensi
7. Suami, anak-anakku dan keluargaku yang telah memberikan do’a, kasih
sayang, dukungan dan motivasi dalam penyelesaian program spesialis
keperawatan anak ini.
8. Seluruh Dosen Pengajar Program Pasca Sarjana Keperawatan, khususnya
kekhususan anak dan Staf Akademik yang telah mendukug proses Residensi
Keperawatan Anak.

vi 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
9. Rekan-rekan kekhususan anak yang saling memberikan dukungan, motivasi
dan semangat dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.
10. Teman-teman sejawat RSUP Fatmawati, khususnya ruang Teratai 3 Utara
yang telah memberikan perhatian dan dukungan dalam penyelesaian program
Spesialis Keperawatan Anak.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan limpahan rahmat-NYA untuk semua


kebaikan yang telah diberikan dan semoga Karya Ilmiah Akhir ini dapat
memberikan manfaat bagi kemajuan keperawatan, khususnya keperawatan anak di
Indonesia.

Depok, Januari 2014

Penulis

vii 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama : Nurhidayatun
NPM : 1006800983
Program Studi : Ners Spesialis
Departemen : Peminatan Keperawatan Anak
Fakultas : Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: “Aplikasi Model Adaptasi Roy
pada Anak Kanker yang Mengalami Masalah Nyeri di Ruang Non Infeksi RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo”, beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan
Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini, Universitas Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataa ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Tanggal : 3 Januari 2014
Tanda tangan :

viii 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
ABSTRAK

Nama : Nurhidayatun

Program Studi : Spesialis Keperawatan Anak Fakultas Ilmu Keperawatan


Universitas Indonesia

Judul : Aplikasi Model Adaptasi Roy Pada Anak Kanker yang


Mengalami Masalah Nyeri di Ruang Non Infeksi RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo

Praktik spesialis Keperawatan Anak peminatan non infeksi ini bertujuan untuk
melakukan praktik dengan mengaplikasikan peran perawat melalui pendekatan
Model Adaptasi Roy. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan diterapkan pada
5 orang pasien anak kanker yang mengalami masalah nyeri, dan satu orang pasien
kelolaan utama yaitu pasien limfoma non hodgkin yang mengalami infiltrasi ke
dalam sistem saraf pusat. Peran sebagai peneliti dalam melakukan penerapan
tindakan keperawatan yang berbasis pembuktian ilmiah (evidence based nursing
practice) yaitu dengan membuktikan terapi musik sebagai salah satu teknik
penanganan nyeri pada anak dengan kanker. Peran sebagai inovator melalui
penyusunan program pemberian terapi musik pada anak dengan kanker yang
bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien anak
kanker, dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan. Hasil praktik ini
menunjukkan bahwa Model Adaptasi Roy efektif digunakan pada pasien anak
kanker yang mengalami masalah nyeri, dan terapi musik efektif untuk mengurangi
nyeri yang dialami anak kanker, terutama pada nyeri ringan sedang.

Kata kunci : Praktik Keperawatan Anak, Model Adaptasi Roy, Nyeri Kanker,
Terapi musik.

ix 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
ABSTRACT

Name : Nurhidayatun

Programe : Program Specialist Nurses of Nursing Science, Majoring


in Pediatric Nursing, Faculty of Nursing, University
of Indonesia

Title : Application of Roy Adaptation Model In Children with


Cancer Pain at Child Non Infections Room, RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo.

Pediatric Nursing Practice specialist in non-infection aims to practice by applying


the role of nurses through the Roy Adaptation Model approach. Role as nursing
care was applied to 5 patients of cancer pain, and a patient with non-Hodgkin’s
lymphoma with infiltration into the central nervous system is the main case. Role
as researcher was caried out by applying evidence based nursing practice to prove
that music therapy as a pain management technique in children with cancer. Role
as an innovator through the preparation of a program of music therapy in children
with cancer that aims to reduce pain and increase of comfort on children with
cancer pain, and improving the quality of nursing care . This practice results
indicate that the Roy Adaptation Model effective use in pediatric patients with
cancer pain, and music therapy effective for reducing cancer pain on children with
cancer, especially in mild or moderate pain.
.

Keywords : Pediatric Nursing Practice, Roy Adaptation Model , Cancer Pain,


Music Therapy .


 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iv
HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ................................... v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................................... viii
ABSTRAK .......................................................................................................... ix
ABSTRACT ............................................................................................................ x
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii
DAFTAR SKEMA ............................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 10
1.3 Sistematika Penulisan ............................................................................. 10
BAB 2 APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA PRAKTIK
RESIDENSI
2.1 Gambaran Kasus ...................................................... …………..............11
2.2 Tinjauan Teoritis ..................................................................................... 19
2.3 Integrasi Model Adaptasi Roy dan Konsep Keperawatan dalam Proses
Keperawatan ........................................................................................... 38
2.4 Aplikasi Model Adaptasi Roy Pada Kasus Terpilih ............................... 46
BAB 3 PENCAPAIAN KOMPETENSI
3.1 Kompetensi Program Pendidikan Ners Spesialis ...... ………………… 59
3.2 Kompetensi Sesuai Area Peminatan Selama Praktik Residensi ............. 60
3.3 Peran Ners Spesialis Keperawatan Anak ................................................ 61
BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan Penerapan Model Adaptasi Roy Dalam Asuhan
Keperawatan Pada Anak Kanker Yang Mengalami Masalah Nyeri ...... 67
4.2 Pembahasan Praktik Spesialis Keperawatan Anak Dalam Pencapaian
Target ………………………………………… ................................. …80
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 83
5.2 Saran ....................................................................................................... 84

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xi 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Wong Baker Faces Pain Rating Scale............................................ 33

Gambar 2.2 Numeric Rating Scale ..................................................................... 33

xii 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
DAFTAR SKEMA

Halaman

Skema 2.1 Manusia sebagai Sistem Adaptasi ................................................... 41

Skema 2.2 Integrasi Model Adaptasi Roy dan Konsep Keperawatan dalam Proses
Keperawatan Anak dengan Masalah Nyeri ....................................................... 45

xiii 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Format Pengkajian Keperawatan Anak dengan Pendekatan Model


Adaptasi Roy

Lampiran 2: Kontrak Belajar Residensi I dan II

Lampiran 3: Target Pencapaian Kasus dan Keterampilan

Lampiran 4: Laporan Hasil Proyek Inovasi

xiv 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker merupakan penyakit kronik yang semakin meningkat dari tahun ke
tahun. Kejadian kanker pada anak setiap tahun juga semakin meningkat.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2008
insidensi kanker di dunia yaitu 12,6 juta, dan diperkirakan akan terus
meningkat menjadi 15,5 juta di tahun 2030. Menurut International Agency for
Research on Cancer (IARC) tahun 2008 1 dari 600 anak akan menderita
kanker sebelum umur 16 tahun, kanker pada anak diperkirakan mencapai 1%
dari jumlah penyakit kanker secara keseluruhan (IARC, 2008). Kejadian
kanker pada anak-anak di dunia pada tahun 2008 adalah sebesar 175 ribu,
leukemia sebesar 30%, kanker otak dan sistem saraf sebesar 12,3%, non-
Hodgkin limfoma sebesar 10,7%, tumor wilms sebesar 5,3%, Hodgkin
limfoma sebesar 4,2%, kanker hati sebesar 2,1% (IARC, 2008).

Kanker merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak di seluruh


dunia, yang terjadi setelah anak melewati usia bayi (Hockenberry & Wilson,
2009). Menurut laporan IARC pada tahun 2008 diperkirakan 7,6 juta orang di
dunia meninggal karena kanker atau sekitar 13% dari semua penyebab
kematian, dan 70% kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan
rendah, dan sekitar 96 ribu terjadi pada anak usia 0-14 tahun, sedangkan
menurut WHO (2011) angka kematian akibat kanker di seluruh dunia
diprediksikan akan terus meningkat dengan perkiraan sekitar 12 juta di tahun
2030.

Menurut data WHO dari 10 juta penduduk di dunia yang terkena kanker
sebanyak 30%-nya meninggal dengan nyeri kanker, sedangkan di Indonesia
dari total penderita kanker sebanyak 70% mengalami nyeri seumur hidupnya.
Prevalensi nyeri pada saat diagnosis kanker dan pada awal perjalanan penyakit
diperkirakan sekitar 50%, meningkat menjadi 75% pada stadium lanjut (IASP,

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


2009). Pada kanker jenis tumor, nyeri yang sering dirasakan adalah pada
kepala dan leher sebesar 67-91%, pada prostat 56-94%, uterus 30-90%,
perkemihan 58-90%, payudara sebesar 40-89%, pankreas 72-85% (IASP,
2009).

Kanker merupakan salah satu penyakit paling ditakuti. Ketika seseorang


didiagnosis menderita kanker, yang terbayang di benak adalah tingginya biaya
pengobatan. Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan yang dihubungkan dengan jaringan yang rusak, cenderung
rusak atau segala keadaan yang menunjukkan adanya kerusakan jaringan
(Sherwood, 2001; IASP, 2009). Nyeri kanker termasuk nyeri kronik yang
tidak mempunyai efek protektif dan makin lama makin memperjelek
penyakitnya serta fungsi dari organ-organ (Tomlinson & Kline, 2005).

Nyeri merupakan salah satu gejala yang paling umum pada anak-anak yang
mengalami kanker (IASP, 2009). Rasa nyeri pada anak dengan kanker dapat
terjadi kapan saja, dan dimana saja. Nyeri dapat juga terjadi pada anak kanker
yang menjelang kematian (Hooke, Hellsten, Stutzer, & Forte, 2001). Menurut
Duelt et al (1982) dalam Monga dan Grabois (2002) pasien dengan kanker
84% mengalami nyeri, 40-50% diantaranya mengalami nyeri sedang-berat,
dan 30% nya mengalami nyeri berat. Dalam perjalanan penyakitnya, 45%-
100% penderita mengalami nyeri yang sedang sampai yang berat, dan 80%-
90% nyeri itu dapat ditanggulangi dengan pengelolaan nyeri kanker yang tepat
sesuai dengan pedoman dari WHO (IASP, 2009).

Nyeri kanker merupakan salah satu yang terpenting diantara sindroma nyeri
akut dan nyeri kronik. Nyeri kanker mempunyai arti tersendiri khususnya bagi
penderita dan keluarganya. Nyeri kanker bisa bersifat nociceptive yaitu nyeri
yang langsung berhubungan dengan kerusakan organ, dan bersifat neuropatik
yaitu nyeri yang timbul akibat kerusakan atau disfungsi sistem saraf, dan bisa
juga bersifat kombinasi antara keduanya. Menurut Mishra (2009) dalam
penelitiannya didapatkan bahwa dari 84 anak dengan kanker, yang mengalami

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


nyeri karena nociceptive sebanyak 26 orang (31%), nyeri karena neuropatik
sebanyak 12 orang (14,3%) dan karena keduanya sebanyak 46 orang (54,8%).

Nyeri pada anak penderita kanker biasanya dikarenakan penyakit itu sendiri
atau karena terapi yang diberikan (WHO, 1998; Tomlinson & Kline, 2005;
Hockenberry & Wilson, 2009). Nyeri yang berasal dari kanker itu sendiri
seperti pada osteosarkoma atau tumor otak, sedangkan nyeri karena terapi
misalnya nyeri yang diakibatkan oleh prosedur tindakan, mukositis ataupun
infeksi, atau bisa juga karena akibat pemberian kemoterapi. Rasa nyeri juga
bisa dikarenakan tumor, terutama bila diagnosis telah tertunda (IASP, 2009).
Menurut Hooke, Hellsten, Stutzer, dan Forte (2001) nyeri dapat disebabkan
oleh karena distensi atau infiltrasi jaringan atau tulang, peradangan dari
infeksi, nekrosis, atau obstruksi, efek samping dari pengobatan seperti
kemoterapi, pembedahan maupun radioterapi, kegagalan organ, mukositis,
kerusakan kulit, dan nyeri neuropatik terjadi ketika saraf yang terluka oleh
infiltrasi tumor atau sebagai efek samping dari beberapa obat kemoterapi atau
radioterapi. Nyeri juga dapat dikarenakan tumor yang menimpa jaringan yang
berdekatan (IASP, 2009)

Penyebab nyeri adalah kerusakan jaringan, iskemia, dan destruksi yang akan
menyebabkan pengeluaran lokal prostaglandin, serotonin, bradikinin,
norepinefrin, ion hidrogen, ion kalium dan substance P yang merupakan
neurotransmitter nyeri perifer (Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, &
Abdulsalam, 2006). Substance P menyebabkan peningkatan kepekaan dari
nosiseptor perifer terhadap rangsangan nyeri. Hal ini menyebabkan timbul
suatu perasaan nyeri dan terjadi respon sistemik.

Hormon yang dikeluarkan saat keadaan stres adalah epinefrin, norepinefrin,


glukagon, kortisol, aldosteron, TSH (thyroid stimulating hormone), dan
hormon pertumbuhan (growth hormon). Hormon-hormon tersebut
menyebabkan peningkatan kerusakan jaringan tubuh dan retensi air. Keadaan
ini juga dapat menaikkan glukosa darah, meningkatkan metabolisme tubuh,

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


gangguan saluran pencernaan. Akibatnya terjadi peningkatan denyut jantung,
tekanan darah dan curah jantung (Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, &
Abdulsalam, 2006).

Nyeri kanker mengakibatkan penderitaan berminggu-minggu, berbulan-bulan


bahkan bertahun-tahun, bahkan menjelang akhir hidupnya berada dalam
penderitaan dan ketidakmampuan. Rasa nyeri merupakan salah satu stimulus
yang dapat menimbulkan stres dan ketegangan dimana individu dapat
berespon secara biologis dan perilaku yang menimbulkan respon fisik dan
psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan umum, wajah, denyut nadi,
pernapasan, suhu badan, sikap badan, dan apabila napas makin berat dapat
menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan syok, sedangkan respon psikis akibat
nyeri dapat merangsang respon stres yang dapat mengurangi sistem imun
dalam peradangan, menghambat penyembuhan, dan respon yang lebih parah
akan mengarah pada ancaman merusak diri sendiri (Monga & Grabois, 2002).

Mengendalikan nyeri kanker penting, karena nyeri yang tidak segera ditangani
akan membahayakan. Nyeri yang dialami anak dengan kanker menyebabkan
anak gelisah pada malam hari, mengalami gangguan tidur, dan juga gangguan
makan (WHO, 1998). Nyeri yang tak teratasi menyebabkan penderitaan
karena nyeri akan membatasi aktivitas, menurunkan selera makan, dan
menganggu waktu tidur, selanjutnya membuat pasien lemah dan tidak
berdaya. Nyeri yang terus menerus berpengaruh terhadap psikologis pasien,
diantaranya akan menghilangkan semangat dan harapan hidup pasien. Nyeri
kanker akan menyebabkan penderitaan bagi pasien, pasien mengalami
keterbatasan aktivitas dan penurunan kualitas hidup (Hooke, Hellsten, Stutzer,
& Forte, 2001; Monga & Grabois, 2002).

Nyeri juga dapat menyebabkan luka menjadi semakin parah, terhambatnya


kesembuhan, timbulnya infeksi, mengganggu waktu istirahat tidur,
memperpanjang masa rawat inap, dan akhirnya akan menambah biaya
perawatan (Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam, 2006).

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


Sebagian penderita kanker usia remaja terkadang merasa tidak mampu
menghadapi rasa nyeri yang dialaminya, yang akhirnya mengakibatkan
depresi, bahkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya (Hooke, Hellsten,
Stutzer, & Forte, 2001). Hal tersebut menjadi alasan utama pentingnya
penanganan nyeri kanker untuk dapat mengontrol nyeri yang dialami penderita
kanker.

Manajemen nyeri harus dimulai sejak pasien pertama kali didiagnosis kanker,
dan harus dilanjutkan (WHO, 1998). Prinsip penanganan pada nyeri kanker
adalah penilaian skala nyeri secara terus menerus, meskipun nyeri bersifat
subyektif, tetapi hasil penilaian harus dilaporkan untuk mendapatkan
penanganan yang tepat. Derajat nyeri pada anak dapat dinilai menggunakan
Wong Baker Faces Pain Rating Scale, Visual Analog Scale (VAS) ataupun
numerical rating scale (Hockenberry & Wilson, 2009). Persepsi anak tentang
nyeri dipengaruhi oleh usia, tingkat kognitif, pengalaman nyeri sebelumnya,
serta harapan mereka untuk mengurangi rasa nyeri tersebut (Mishra, 2009).

WHO merekomendasikan tiga langkah pendekatan terapi farmakologis pada


anak dengan kanker yang mengalami nyeri, yaitu langkah pertama untuk nyeri
ringan diberikan obat-obat nyeri non-opiat, yaitu analgetik atau antinyeri
(asetaminofen), Non Steroid Anti Inflamatory Drugs (NSAID), adjuvant atau
tambahan (antidepresan, antikonvulsan, dan antimuntah). Langkah kedua
untuk nyeri sedang diberikan obat-obatan jenis opiat lemah ditambah dengan
obat nyeri lainnya. Apabila dengan langkah pertama nyeri tidak berkurang,
maka bisa diberikan opiat dan kombinasi dengan langkah pertama. Opiat jenis
lemah misalnya codein dan darvon. Langkah ketiga untuk nyeri berat adalah
pemberian obat opiat kuat ditambah obat nyeri lainnya. Opiat kuat antara lain
morfin, methadone, dilaudid, numorphan (WHO, 1998).

Manajemen nyeri untuk anak dengan kanker selain terapi dengan


farmakologis, bisa dilakukan terapi non-farmakologis (WHO, 1998). Terapi
non farmakologi terdiri dari terapi supportiv, terapi kognitiv, terapi

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


behavioural, atau terapi fisik (WHO, 1998). Terapi musik merupakan terapi
komplementer dalam penanganan nyeri pada pasien kanker (Monga &
Grabois, 2002).

Terapi musik diketahui efektif dalam mengurangi nyeri dan tingkat kecemasan
pasien (Klassen et al., 2008), misalnya pada pasien anak kanker yang
menjalani pemeriksaan lumbal punksi atau pemberian kemoterapi intratekal
(Nguyen, Nilsson, Hellstrom, & Bengston, 2010). Selain itu terapi musik juga
diketahui efektif dalam mengurangi nyeri saat dilakukan injeksi (Noguehi,
2006; Caprili, Anastasi, Grotto, Scollo, & Messeri, 2007), dapat mengurangi
nyeri, kecemasan, dan ketegangan otot pada pasien luka bakar yang menjalani
perawatan luka (Tan, Yowler, Super, & Fratianne, 2010). Terapi musik juga
dapat meningkatkan kualitas hidup pasien (Wesa, Gubili, & Cassileth, 2008;
Lindenfelser, Hense, & McFerran, 2012), karena mendengarkan musik dapat
meningkatkan relaksasi, dan mengurangi kecemasan.

Salah satu teori keperawatan yang mendukung praktik keperawatan adalah


model adaptasi dari Sister Calista Roy. Teori ini telah banyak diterapkan di
area praktik keperawatan, seperti yang sudah diterapkan oleh Bakan dan
Akyol (2007) yang mengaplikasikan model adaptasi Roy pada pasien yang
mengalami gagal jantung, yang menunjukkan hasil yang efektif. Selain itu
menurut Afrasiabifar, Karimi, dan Hassani (2013) model adaptasi Roy dapat
digunakan pada pasien yang menjalani hemodialisa. Aplikasi pada area
keperawatan anak kanker dengan masalah nyeri model adaptasi Roy belum
diketahui keefektifannya.

Model Adaptasi Roy berfokus pada konsep adaptasi manusia. Konsepnya


meliputi keperawatan, manusia, sehat dan lingkungan yang kesemuanya itu
merupakan hubungan dan merupakan suatu sistem yang saling
berkesinambungan. Sistem tersebut terdiri dari input, proses kontrol, output
dan umpan balik. Input merupakan suatu stimulus dari lingkungan baik
internal maupun eksternal dari individu. Proses kontrol meliputi mekanisme

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


koping secara regulator maupun kognator. Output merupakan respon perilaku
adaptif dan respon inefektif. Umpan balik adalah informasi mengenai respon
perilaku yang ditunjukkan sebagai input. Keempat sistem tersebut saling
berhubungan (Tomey & Alligood, 2010).

Menurut Roy, ada model adaptasi yang berhubungan dengan respon sistem
manusia untuk melakukan stimulus dari lingkungan. Sistem adaptasi tersebut
dipelajari pada kedua tahapan individu dan kelompok. Perilaku dari individu
dan kelompok merupakan hasil dari aktivitas koping yang dapat dilihat dari
empat kategori dan merupakan kerangka perawat dalam melakukan
pengkajian dan perencanaan asuhan keperawatan.

Empat mode adaptasi menurut Roy tersebut adalah mode adaptasi fisiologis,
mode adaptasi konsep diri, mode fungsi peran, dan mode adaptasi
interdepedensi. Mode adaptasi fisiologis ini dihubungkan dengan proses fisik
dan kimiawi yang termasuk didalamnya fungsi dan aktivitas organisme
kehidupan (Tomey & Alligood, 2010). Ada lima kebutuhan yang
diidentifikasi dalam hubungannya dengan kebutuhan dasar dari mode
fisiologis yaitu oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, dan
proteksi. Selain itu ada empat proses kompleks yang berkontribusi dalam
mode fisiologis yaitu sensasi, cairan dan elektrolit, fungsi neurologi, dan
endokrin.

Mode adaptasi konsep diri didefinisikan sebagai kepercayaan dan keyakinan


yang dibentuk dalam dirinya, konsep diri merupakan bentuk dari reaksi
persepsi internal dan persepsi lainnya. Mode fungsi peran adalah satu dari
mode sosial dan fokus terhadap peran seseorang dalam masyarakat. peran
diproyeksikan sebagai peran primer, sekunder dan tersier. Mode adaptasi
interdependensi berfokus pada hubungan seseorang dengan orang lain,
hubungan interdependen didalamnya mempunyai keinginan dan kemampuan
memberi ke orang lain dan menerima semua aspek seperti cinta, menghormati,
nilai, rasa memiliki, waktu dan bakat (Tomey & Alligood, 2010).

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


8

Model adaptasi Roy menjelaskan bahwa keperawatan merupakan profesi yang


berfokus pada proses kehidupan manusia dalam memberikan asuhan dan
peningkatan promosi kesehatan pada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat secara keseluruhan. Roy mendefinisikan tujuan keperawatan
sebagai peningkatan adaptasi dalam setiap jenis adaptasi sehingga
berkontribusi pada kesehatan seseorang (Tomey & Alligood, 2010).

Tujuan model Adaptasi Roy adalah meningkatkan perilaku adaptif dan


merubah perilaku maladaptif menjadi adaptif. Adaptasi akan meningkatkan
integritas untuk meningkatkan kesehatan seseorang, kualitas hidup dan
meninggal dunia dalam keadaan damai. Roy juga menekankan bahwa
keperawatan dibutuhkan untuk mengurangi respon yang tidak efektif dan
meningkatkan respon adaptif sehingga hasil akhirnya adalah tingkah laku yang
sehat (Tomey & Alligood, 2010).

Kondisi nyeri merupakan stimulus yang menyebabkan stres fisik maupun


psikologis yang harus dihadapi oleh anak dengan kanker. Stres fisik ini
merupakan salah satu gangguan pada mode adaptasi fisiologis, mode adaptasi
fisiologis ini dapat mempengaruhi mode adaptasi yang lainnya dan proses
adaptasi pasien dalam mencapai adaptasi yang adaptif. Anak penderita kanker
sebagian besar akan mengalami nyeri, dan nyeri yang dialaminya tidak dapat
hilang atau sembuh total meskipun sudah diberikan terapi, baik terapi secara
farmakologis maupun nonfarmakologis. Karena nyeri yang dialami oleh anak
dengan kanker dapat terjadi terus-menerus, sehingga pasien anak penderita
kanker memerlukan bantuan untuk beradaptasi terhadap nyeri yang
dialaminya. Oleh karena itu, pasien anak membutuhkan tindakan keperawatan
untuk membantu mereka dalam beradaptasi terhadap kondisi nyeri yang
dihadapinya dan mencapai adaptasi yang adaptif.

Intervensi keperawatan didefinisikan oleh Roy adalah suatu pendekatan


perawat dalam meningkatkan adaptasi dengan merubah stimulus atau
menguatkan proses adaptasi. Intervensi keperawatan dapat difokuskan kepada

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
9

proses koping dan stimulus. Intervensi keperawatan dapat mendorong


aktivitas kognator dan regulator (Tomey & Alligood, 2010).

Berdasarkan data kasus terbanyak yang dijumpai dalam 3 bulan (Juni –


Agustus 2013) di ruang Non Infeksi Anak Rumah Sakit dr. Cipto
Mangunkusumo (RSCM) antara lain ALL, AML, retinoblastoma,
neuroblastoma, limfoma non hodgkin, rabdomiosarkoma, osteosarkoma,
karsinoma nasofaring, dan yolk salc tumor. Hampir pada semua kasus tersebut
sangat memungkinkan terjadinya nyeri, dari nyeri ringan sampai nyeri berat.
Nyeri yang dialami pasien tersebut membutuhkan penanganan yang tepat, agar
terapi yang diberikan memberikan manfaat, selain itu pasien memerlukan
intervensi untuk dapat meningkatkan adaptasinya terhadap rasa nyeri yang
dialami.

Berdasarkan pemahaman inilah, residensi keperawatan anak mencoba untuk


meningkatkan kompetensi keperawatan melalui upaya penerapan Model
Adaptasi Roy dalam asuhan keperawatan pada anak penderita kanker dengan
masalah nyeri di ruang Non Infeksi Anak Rumah Sakit Umum Pusat Nasional
dr. Cipto Mangunkusumo. Selain itu, mahasiswa residensi keperawatan anak
juga berupaya meningkatkan kompetensi spesialis keperawatan anak
berdasarkan target kompetensi perawat anak kanker selama praktik di ruang
Non Infeksi Anak RSCM. Keseluruhan deskripsi pencapaian target
kompetensi spesialis keperawatan anak tersebut akan dijabarkan dalam karya
ilmiah akhir ini.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
10

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Umum
Mendeskripsikan pengalaman praktik residensi serta penerapan Model
Adaptasi Sister Calista Roy dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien anak penderita kanker yang mengalami masalah nyeri di
ruang Non Infeksi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto
Mangunkusumo.

1.2.2 Khusus
1.2.2.1 Mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan berdasarkan
Model Adaptasi dari Sister Calista Roy pada anak penderita
kanker yang mengalami masalah nyeri.
1.2.2.2 Menganalisis efektivitas penggunaan Model Adaptasi dari
Sister Calista Roy dalam asuhan keperawatan pada anak
kanker yang mengalami masalah nyeri.
1.2.2.3 Mendeskripsikan pencapaian kompetensi praktik spesialis
keperawatan anak yang telah dicapai.

1.3 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan karya ilmiah akhir ini terdiri dari 5 Bab, yaitu: Bab I
Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan dan sistematika
penulisan; Bab II Aplikasi Model Adaptasi dari Sister Calista Roy dalam
asuhan keperawatan pada anak kanker yang mengalami masalah nyeri yang
terdiri dari gambaran kasus, tinjauan teoritis kanker dan nyeri, integrasi teori
keperawatan dalam proses keperawatan serta aplikasi teori keperawatan pada
kasus yang dipilih; Bab III Pencapaian kompetensi melalui pelaksanaan target
asuhan keperawatan dan target prosedur oleh residen; Bab IV Pembahasan;
dan Bab V Kesimpulan dan Saran.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB 2
APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA PRAKTIK RESIDENSI

2.1 Gambaran Kasus


2.1.1 Kasus 1
Anak Sy, laki-laki, usia 16 tahun dengan diagnosis limfoma non
hodgkin (limfoma burkit), tersangka infiltrasi intrakranial, dan vomitus
dehidrasi ringan sedang, masuk ke rumah sakit dengan keluhan muntah
sejak 1 hari sebelum rumah sakit pasien muntah 9x isi cairan, tidak ada
darah, setiap ada cairan yang masuk dimuntahkan kembali, pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala. Keluhan nyeri kepala sudah dirasakan sejak
3 hari sebelum masuk rumah sakit. Saat masuk ruang non infeksi hasil
pemeriksaan fisiknya adalah kesadaran compos mentis, tekanan darah
120/80 mmHg, nadi 100x/menit, respirasi 24/menit, suhu 36,9oC, BB
56kg, TB 170cm (kesan status gizi baik), nyeri kepala skala 6, nyeri
seperti ditusuk-tusuk, bertambah nyeri bila digerakkan, keluarga
mengatakan anaknya menangis sambil memukul kepalanya bila nyeri,
leher terpasang tracheostomi karena ada massa di saluran pernapasan
atas, tidak sesak, tidak sianosis, tidak pucat, tidak ikterik, mukosa bibir
lembab, abdomen datar, lemas, turgor kulit elastis, akral hangat,
capilary refil < 2detik, bunyi jantung I/II normal, tidak ada gallop dan
murmur.

Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 11 September 2013


didapatkan Hb 12,1 gr/dl, leukosit 6140 /ul, trombosit 331.000/ul, Ht
40,2%, eritrosit 3,43, MCV 72,1 pg, MCH 21,8 fl, MCHC 30,2 fl,
hitung jenis leukosit basofil 0%, eosinofil 0%, neutrofil 78%, limfosit
18% dan monosit 3%. natrium 140 mEq/L, kalium 4,3mEq/L, clorida
99,0 mEq/L, sedangkan hasil pemeriksaan MRI kesan infark multipel
kecil-kecil di peri ventrikel lateralis bilateral, ventrikulomegali ventrikel
lateralis bilateral ventrikel III suspect atrofi cerebri. Hasil pemeriksaan
lumbal punksi dalam cairan serebrospinal ditemukan sel blast. Terapi

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


yang diberikan makan cair 6x350 cc/NGT, farmadol 3x800 mg
intravena, tramadol 4x100 mg, ondansentron 3x4 mg intravena, dan
inhalasi dengan Nacl+ventolin 4x sehari, kemudian dikonsulkan ke
APS anestesi dan mendapatkan MST 4x15 mg peroral, Gabapentin
3x200 mg peroral, amitripilin 1x25 mg diminum malam hari.

Masalah keperawatan yang ditemukan pada An. Sy yaitu 1) nyeri akut,


2) gangguan perfusi jaringan cerebral, 3) bersihan jalan nafas tidak
efektif, 4) risiko kekurangan volume cairan, dan 5) koping tidak efektif.
Tujuan yang ditetapkan pada an. Sy adalah setelah dilakukan asuhan
keperawatan pasien mampu beradaptasi terhadap nyeri yang dialami,
perfusi jaringan cerebral optimal, bersihan jalan nafas efektif, status
cairan adekuat, koping adaptif.

Intervensi keperawatan yang telah dilakukan antara lain memantau


nyeri, manajemen nyeri dengan tekhnik relaksasi, memberikan distraksi
berupa terapi musik, membantu pasien dalam menggunakan teknik
manajemen nyeri saat nyeri muncul, memantau status neurologis dan
peningkatan tekanan intrakranial, memposisikan kepala 15-30o,
kolaborasi pemberian kemoterapi intratekal dan pemeriksaan cairan
serebrospinal, mempertahankan patensi bersihan jalan napas, kolaborasi
pemberian terapi inhalasi, melakukan suction, melakukan fisioterapi
dada, dan membantu pasien untuk beradaptasi dalam menerima
stressor, perubahan dan ancaman, mendukung penggunaan mekanisme
pertahanan yang sesuai. Hasil evaluasi pada hari kelima nyeri kepala
yang dirasakan makin bertambah dengan skala 7 disertai dengan mata
berair, penglihatan berbayang, dan mata kanan tidak dapat dibuka, dan
bersihan jalan nafas efektif respirasi reguler, tidak ada retraksi dada,
tidak sianosis, saturasi oksigen 98%. Hari perawatan kesepuluh perfusi
jaringan cerebral baik, nyeri kepala berkurang, mual muntah berkurang,
sel blast tidak ditemukan dalam cairan serebrospinal, nyeri berkurang,
skala nyeri 2, tampak lebih rileks, status cairan adekuat ditandai dengan

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


mukosa bibir lembab, turgor elastis, diuresis 2,2cc/kgBB/jam, dan pada
hari perawatan ke-10 koping efektif, saat mengalami nyeri pasien tidak
memukul-mukul kepalanya, melainkan berdzikir dengan tasbih.

2.1.2 Kasus 2
Anak Rd laki-laki, usia 13 tahun, telah didiagnosis Osteosarkoma
stadium III sejak September 2013, dan sebelumnya telah menjalani
kemoterapi siklus I. Kemudian pasien masuk IGD RSCM dengan
keluhan perdarahan dari lubang hidung atau mimisan, disertai demam
naik turun, muntah dan diare. Saat masuk ruang non infeksi hasil
pemeriksaan fisik kesadaran kompos mentis, tekanan darah 100/70
mmHg, Nadi 110 x/menit, suhu 39,6oC, respirasi 26x/menit, berat
badan 31 kg, tinggi badan 138cm (kesan status gizi baik), lingkar
lengan atas 18 cm, terdapat nyeri tekan epigastrik, dan nyeri pada
benjolan pada siku tangan kiri skala 4, nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri
hilang timbul, benjolan dengan konsistensi keras berdiameter 12 cm,
permukaan eritema dan terdapat krusta diatasnya, pasien merasa sedih
dengan tangannya yang mengalami kanker, serta sakit ketika
digerakkan.

Hasil pemeriksaan laboratorium Hb 11,1 gr/dl, Ht 31,4%, leukosit


3.220/ul, trombosit 152.000/ul, eritrosit 2,86, hitung jenis leukosit
basofil 0,3%, eosinofil 1,2%, neutrofil 76,3%,4 limfosit 13,1%, monosit
9,1%, PT 16,8 (11,0) detik, APTT 42,1 (32,2) detik. SGOT 97u/l,
SGPT 65 u/L, albumin 2,47 mg/dl, bilirubin total 4,03mg/dl bilirubin
direct 2,26mg/dl, bilirubin indirect 1,77mg/dl, ureum 26 mg/dl,
creatinin 0,50 mg/dl, natrium 123 mEq/L, Kalium 3,2 mEq/L, clorida
90,3mEq, hasil kultur urin isolate candida tropicalis colony count lebih
dari 100.000 sel ragi, dan infeksi jamur.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


Diagnosis keperawatan yang ditemukan pada anak Rd yaitu 1) defisit
volume cairan, 2) hipertermia, 3) nyeri akut, 4) gangguan integritas
kulit, 5) risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, dan 6)
gangguan citra tubuh. Tujuan yang ditetapkan pada anak Rd adalah
setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien mampu beradaptasi
terkait dengan diagnosis keperawatan yang ditegakkan, yaitu status
cairan adekuat, suhu tubuh dalam batas normal, nyeri berkurang,
integritas kulit baik, dan status nutrisi seimbang, serta citra tubuh baik.

Intervensi keperawatan yang telah dilakukan antara lain memantau


status cairan, manajemen cairan, memberikan transfusi Packed Red Cell
(PRC) dan Trombocyte Concentrate (TC), manajemen demam,
melakukan kompres, memantau nyeri, manajemen nyeri dengan teknik
relaksasi dan memberikan terapi musik, membantu pasien dalam
menggunakan teknik manajemen nyeri saat nyeri muncul, kolaborasi
pemberian analgesik (farmadol 3x300 mg drip intravena), melakukan
perawatan luka, memberikan nutrisi melalui NGT, memberikan
kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, dan memotivasi untuk
menerima perubahan yang terjadi. Hasil evaluasi pada hari perawatan
keempat nyeri pada siku kiri berkurang dengan skala 2, tampak lebih
rileks dan istirahat tidur tidak terganggu. Pada hari kesembilan nyeri
mengalami peningkatan menjadi skala 5, gelisah berbicara melantur,
dan pada hari keduabelas pasien mengalami nyeri yang semakin
meningkat skala 6, sering menangis dan merintih, gelisah, mengalami
peradarahan lewat mulut, batuk darah, takikardi, takipnea, hipotensi,
kejang serta penurunan kesadaran. Pada hari perawatan ketigabelas
pasien dinyatakan meninggal karena syok sepsis dan DIC.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


2.1.3 Kasus 3
Anak Ic perempuan, usia 5 tahun, didiagnosis limfoma non hodgkin
(LMNH) dari hasil BMP dua bulan yang lalu. Saat ini pasien masuk ke
RS untuk melakukan kemoterapi LMNH stadium III fase induksi,
terdapat benjolan di bahu dan punggung kanan mulai mengecil, tetapi
masih terasa nyeri skala 6 (Faces Pain Rating Scale), dan kaki tangan
kanan masih lemah. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran
komposmentis, tekanan darah 92/67 mmHg, nadi 92 x/menit, suhu 36,2
C, respirasi 28x/menit, berat badan 22 Kg, tinggi badan 110 cm (kesan
status gizi baik), rambut tipis efek kemoterapi, kepala normal tidak ada
deformitas, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, mukosa bibir
lembab, dada simetris, suara paru vesikuler, tidak ada ronchi atau
wheezing, bunyi jantung I/II normal, abdomen supel, bising usus dalam
batas normal, terdapat benjolan kecil berdiameter 1 cm dibahu dan
punggung kanan dan terasa nyeri, tidak bisa duduk, tidur semi fowler
menggunakan bantal, kedua kaki lemas.

Hasil pemeriksaan laboratorium Hb 10,7 g/dl, Ht 33,4%, trombosit


636.000/ul, leukosit 2.950/ul, eritrosit 3,52 juta/ul, hitung jenis leukosit
basofil 0,0%, eosinofil 0,0%, neutrofil 76,79%, limfosit 10,8%, monosit
12,5%, MCV 80,3 pg, MCH 25,7 fl, MCHC 33,3 fl, SGOT 14u/l, SGPT
14 u/L, albumin 4,54 mg/dl, bilirubin total 0,20 mg/dl, bilirubin direct
0,06 mg/dl, bilirubin indirect 0,14 mg/dl, ureum 23 mg/dl, creatinin
0,20 mg/dl, LED 60 mm, Gamma Gt 54 u/L.

Diagnosis keperawatan yang ditemukan pada anak Ic yaitu 1) nyeri


akut, 2) gangguan mobilitas fisik, 3) risiko kekurangan volume cairan.
Tujuan yang ditetapkan pada anak Ic adalah setelah dilakukan tindakan
keperawatan pasien mampu beradaptasi terkait dengan dignosis
keperawatan yang ditegakkan, yaitu nyeri berkurang, mobilitas fisik
mengalami peningkatan, dan status cairan adekuat. Intervensi
keperawatan yang telah dilakukan antara lain memantau nyeri,

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


16 
 

manajemen nyeri dengan teknik distraksi berupa terapi musik,


memberikan posisi yang nyaman, membantu proses ambulasi,
mengajarkan keluarga melakukan Range of Motion (ROM) pasif,
memantau status cairan, dan manajemen cairan. Hasil evaluasi pada
hari perawatan ketiga nyeri berkurang skala 2 (Faces Pain Rating
Scale), menangis berkurang, dapat tidur pulas dan hari keempat
masalah risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi, tidak muntah,
makan minum mau, turgor elastis, mukosa bibir lembab, dan pada hari
kelima pasien dipulangkan.

2.1.4 Kasus 4
Anak Ms, laki-laki, usia 6 tahun, masuk ke rumah sakit dengan keluhan
perut sakit dan semakin membesar, keluhan disertai demam naik turun,
mimisan, serta nyeri sendi. Dari hasil pemeriksaan fisik kesadaran
komposmentis, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 100/menit, suhu
36oC, respirasi 30x/menit, berat badan 23,75 kg, dan tinggi badan
134cm, anak tampak pucat, terdapat pembesaran kelenjar getah bening
di leher, dada simetris, retraksi dinding dada, suara paru vesikuler,
bunyi jantung I/II dalam batas normal, tidak ada ronchi dan tidak ada
wheezing, abdomen cembung, lingkar perut 69 cm, hepar teraba, lien
teraba, anggota gerak dalam batas normal, terdapat pembesaran kelenjar
getah bening multipel di axilla.

Hasil pemeriksaan laboratorium Hb 5,41 g/dl, Ht 15,1%, trombosit


55.200/ul, leukosit 163.000/ul, eritrosit 1,52 juta/ul, hitung jenis
leukosit basofil 5%, eosinofil 2%, neutrofil 17%, limfosit 29%, monosit
14%, MCV 73,7 fl, MCH 26,4, MCHC 35,9, blas 27%, metamielosit
4%, mielosit 2%, SGOT 62u/l, SGPT 66 u/L, albumin 4,14 mg/dl,
bilirubin total 0,53, bilirubin direct 0,33 , bilirubin indirect 0,2, ureum
23,4 mg/dl, creatinin 0,34 mg/dl, as urat 4,57 mg/dl. LED 100 mm,
natrium 139 mEq/L, Kalium 4,2 mEq/L, clorida 103mEq, Ca ion 1,24

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
17 
 

mmol/L, fosfat inorganik 4mg/dl, magnesium 2,23 mg/dl, prokalsitonin


1,40 ng/ml.

Diagnosis keperawatan yang ditemukan pada An. Ms yaitu 1) pola


nafas tidak efektif, 2) gangguan perfusi jaringan perifer, 3) nyeri akut,
4) hipertermia. Tujuan yang ditetapkan pada An. Ms adalah setelah
dilakukan asuhan keperawatan pasien mampu beradaptasi terkait
diagnosis keperawatan yang ditemukan, yaitu pola nafas efektif, perfusi
jaringan perifer baik, nyeri berkurang, dan suhu tubuh dalam batas
normal. Intervensi yang telah dilakukan adalah memberikan posisi
elevasi 15-30o, mengkaji penggunaan otot bantu nafas, kolaborasi
pemberian oksigen, mengkaji kapilari refil, mengkaji adanya
perdarahan, kolaborasi pemberian transfusi PRC dan TC, memantau
nyeri, melakukan teknik relaksasi nafas dalam, distraksi dengan
pemberian terapi musik, membantu pasien dalam menggunakan teknik
manajemen nyeri saat nyeri muncul, dan melakukan kompres.

Hasil evaluasi pada hari perawatan keempat pola nafas efektif, ditandai
dengan retraksi dinding dada minimal, tidak ada nafas cuping hidung,
dan hari keenam nyeri berkurang skala 2, tampak lebih rileks, hari
perawatan kedelapan gangguan perfusi jaringan perifer teratasi, Hb
9,4gr/dl, trombosit 137.000/ul, tidak ada perdarahan dan peteki, dan
hari perawatan kesembilan hipertermia teratasi, suhu tubuh 37oC. Pada
hari perawatan kesepuluh pasien dipulangkan sebelum pemberian
kemoterapi, hal ini terkait dengan masalah jaminan kesehatan.

2.1.5 Kasus 5
Anak An, laki-laki, usia 13 tahun, dengan Osteosarkoma stadium II,
masuk ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada lutut kanan semakin
memberat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Riwayat kesehatan
pada bulan Agustus pasien tampak berjalan pincang, tidak ada benjolan,
tidak ada mual, muntah dan demam, kemudian pada September 2013

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
18 
 

muncul benjolan sebesar kelereng, terasa nyeri dan bengkak, dan


dibulan September 2013 dilakukan biopsi dengan hasil conventional
osteosarkoma. Dari hasil pemeriksaan fisik kesadaran pasien
komposmentis, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 90/menit, suhu
36,6oC, respirasi 24x/menit, berat badan 42 kg, tinggi badan 152 cm
(kesan status gizi baik), mengeluh nyeri pada lutut skala 7, nyeri seperti
ditusuk-tusuk, hilang timbul kurang lebih 30-60 menit, terutama pada
malam menjelang pagi hari, terdapat massa di genue dextra ukuran
diameter 37cm, pasien merasa malu dan sedih karena ada benjolan di
lututnya yang mengakibatkan jalannya pincang.

Hasil pemeriksaan laboratorium (9/11/2013) Hb 14,3 g/dl, Ht 40,3%,


trombosit 353.000/ul, leukosit 8,120/ul, hitung jenis leukosit basofil
0,5%, eosinofil 0,2%, neutrofil 52%, limfost 34,7%, monosit 12,6%,
SGOT 96u/l, SGPT 34 u/L, albumin 4,689 mg/dl, bilirubin total 0,51
mg/dl, bilirubin direct 0,17 mg/dl, bilirubin indirect 0,34 mg/dl, ureum
37 mg/dl, creatinin 0,20 mg/dl, natrium 139 mEq/L, kalium 4,68
mEq/L, clorida 96mEq/L.

Diagnosis keperawatan yang ditemukan pada anak An yaitu 1) nyeri


akut, 2) risiko kekurangan volume cairan, 3) gangguan mobilitas fisik,
3) gangguan citra tubuh. Tujuan yang ditetapkan pada anak An adalah
setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien mampu beradaptasi
terkait dengan dignosis keperawatan yang ditemukan, yaitu nyeri
berkurang, mobilitas fisik optimal sesuai toleransi, gambaran citra
tubuh baik. Intervensi keperawatan yang telah dilakukan antara lain
memantau nyeri, melakukan teknik relaksasi nafas dalam, distraksi
dengan pemberian terapi musik, kolaborasi pemberian analgesik
(morphin 6x8mg secara intravena menggunakan shrynge pump),
memantau status cairan, manajemen cairan, membantu pasien dalam
ambulasi, mengajarkan teknik ambulasi yang benar, memberikan
kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, dan memotivasi untuk

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
19 
 

menerima perubahan yang terjadi. Hasil evaluasi pada hari perawatan


ketiga pasien nyeri berkurang skala 3, morphin ganti peroral, dan hari
kelima pasien mengalami gangguan tidur karena nyeri, Pada hari
perawatan kedelapan pasien dipulangkan setelah pemberian kemoterapi
siklus pertama.

2.2 Tinjauan Teoritis


2.2.1 Kanker pada Anak
2.2.1.1 Pengertian
Kanker adalah pertumbuhan jaringan baru yang bersifat ganas dengan
massa abnormal, tidak berfungsi normal, dan motilitas abnormal, atau
disebut juga neoplasma maligna (Otto, 2001). Kanker biasa disebut
karsinoma yaitu sekelompok penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan
dan perkembangan sel-sel yang tidak terkontrol dan tidak normal (Price
& Wilson, 2005). Menurut National Cancer Institute (NCI) tahun 2011
kanker adalah istilah yang digunakan untuk penyakit di mana sel-sel
abnormal membelah tanpa kontrol dan mampu menyerang jaringan lain.
Sel-sel kanker dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh melalui darah
dan sistem getah bening.

2.2.1.2 Etiologi
Sampai saat ini penyebab kanker secara pasti belum bisa dipastikan
(Otto, 2001; Tomlinson & Kline, 2005), tetapi kanker dapat dicetuskan
oleh faktor eksternal dan faktor internal yang memicu terjadinya proses
karsinogenesis (proses pembentukan kanker). Faktor internal dapat
berupa mutasi gen (baik yang diturunkan maupun akibat metabolisme),
hormon dan kondisi sistem imun, sedangkan faktor eksternal dapat
berupa infeksi, radiasi, zat kimia tertentu, dan juga konsumsi tembakau
(American Cancer Society, 2008).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
20 
 

2.2.1.3 Jenis Kanker pada Anak dan Tanda Gejala


Menurut Tomlinson dan Kline (2005) jenis kanker pada anak berbeda
dengan jenis kanker pada orang dewasa, jenis kanker pada anak
mempunyai karakteristik tertentu. Jenis kanker pada anak dibagi
menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu kanker darah dan tumor solid.
Kanker darah disebut juga leukemia, yang termasuk leukemia adalah
Akut Lymphoblastic Leukemia (ALL), Akut Myeloid Leukemia (AML),
dan Chronic Myeloid Leukemia (CML), sedangkan yang termasuk
tumor solid diantaranya adalah retinoblastoma, neuroblastoma, limfoma
non hodgkin, limfoma hodgkin, osteosarkoma, dan rhabdomiosarkoma.

Pada ALL terjadi proliferasi sel limfoblastik, sehingga pasien akan


mengalami pansitopenia (Lanszkowsky, 2005; Tomlinson & Kline,
2005). AML mempunyai kesamaan dengan ALL, AML merupakan
keganasan pada darah yang disebabkan oleh sarcoma granulocytic atau
myeloblastoma. CML disebut juga sebagai fase kronis leukemia. Fase
ini umumnya terjadi resistensi terhadap pengobatan yang diberikan.

Pada leukemia tidak membentuk massa tumor, tetapi terjadi gangguan


fungsi sel darah normal. Tanda gejala dari leukemia meliputi anemia,
perdarahan, demam, kelemahan, infeksi, nyeri tulang, dan muncul
gejala neurologis. Gejala neurologis yang muncul diantaranya sakit
kepala, mual, muntah, dan gangguan penglihatan. Pada leukemia terjadi
peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit), yang mengakibatkan
terjadinya gumpalan dari sel-sel, dan berisiko timbulnya komplikasi
neurologis, selain itu juga sering dijumpai adanya limfadenopati dan
hepatosplenomegali (Otto, 2001; Lanszkowsky, 2005; Tomlinson &
Kline, 2005).

Retinoblastoma adalah tumor endoocular pada anak yang mengenal


saraf embrionik retina (Lanszkowsky, 2005; Tomlinson & Kline, 2005;
Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam, 2006).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
21 
 

Gejala retinoblastoma adalah tumor di intraocular, dengan keluhan


leukocoria, strabismus, mata merah, nyeri mata yang sering disertai
glukoma, dan visus yang menurun (Tomlinson & Kline, 2005;
Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam, 2006).
Neuroblastoma adalah suatu jenis kanker saraf yang dapat
menunjukkan gejala yang bervariasi, tergantung dari lokasinya (Otto,
2001; Tomlinson & Kline, 2005; Permono, Sutaryo, Ugrasena,
Windiastuti, & Abdulsalam, 2006).

Hodgkin limfoma adalah tumor ganas pada sistem retikuloendotelial


dan limfatik, yang memiliki pola penyebaran melalui nodus yang
berdekatan (Otto, 2001; Lanszkowsky, 2005; Tomlinson & Kline,
2005). Non Hodgkin Limfoma (NHL) merupakan kanker pada kelenjar
getah bening yang berasal dari sistem imun sel limfosit (Tomlinson &
Kline, 2005). Gambaran klinis pada NHL adalah massa intrabdomen
dan intratorakal, disertai efusi pleura, nyeri, disfagia, sesak nafas,
pembengkakan daerah leher, muka dan sekitar leher, pembesaran
kelenjar limfe (Tomlinson & Kline, 2005; Permono, Sutaryo, Ugrasena,
Windiastuti, & Abdulsalam, 2006).

Osteosarkoma adalah kanker pada tulang yang diperkirakan timbul


karena pembentukan sel mesenkim tulang, yang ditandai dengan
diproduksinya osteoid (Otto, 2001; Tomlinson & Kline, 2005). Tanda
gejala yang biasa pada penderita osteosarkoma adalah nyeri pada
tulang, jaringan lunak bengkak di daerah yang terkena, ada massa,
vaskularisasi lebih pada massa dan penurunan rentang gerak pada
anggota badan yang terkena (Otto, 2001; Lanszkowsky, 2005;
Tomlinson & Kline, 2005). Rabdomiosarkoma ialah kanker jaringan
lunak yang paling sering pada anak dengan derajat keganasan tinggi,
yang diperkirakan timbul dari sel-sel mesenkimal primitif yang
kemudian menjadi otot lurik, dapat dijumpai dimana saja didalam tubuh

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
22 
 

(Otto, 2001; Lanszkowsky, 2005; Tomlinson & Kline, 2005; Permono,


Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam, 2006).

Pada tumor solid, salah satu tanda gejalanya adalah nyeri. Nyeri pada
tumor solid dapat disebabkan oleh karena massa tumor yang
menginvasi ke organ-organ tubuh. Massa tumor tersebut semakin hari
akan semakin bertambah besar, yang dapat mengakibatkan trauma pada
jaringan sekitarnya, sehingga mengaktifkan reseptor nyeri. infiltrasi sel
tumor pada tulang, sendi, otot, atau jaringan yang lainnya (Monga &
Grabies, 2002; IASP, 2009). Pada tumor solid dapat terjadi sindroma
nyeri neurologis. Sindroma nyeri neurologis terjadi akibat adanya
infiltrasi tumor pada tulang, dan juga adanya infiltrasi tumor pada saraf
(Paice, 2003).

2.2.1.4 Penanganan
Secara umum penanganan kanker terdiri dari kemoterapi, radioterapi,
dan pembedahan, karena prevalensi leukemia dan limfoma pada anak
cukup tinggi, maka kemoterapi menjadi urutan utama (Permono,
Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam, 2006). Kemoterapi
adalah penggunaan obat-obat sitotoksik yang diberikan untuk pasien
kanker (Otto, 2001). Kemoterapi dapat diberikan pada pasien kanker
hematologi (leukemia) maupun tumor solid (Catane et al., 2006).

Menurut National Cancer Institute (NCI) tahun 2011, jenis sitostatika


berdasarkan mekanisme kerjanya dibagi menjadi 6 macam yaitu
alkylating agen, antimetabolit, inhibitor mitosis, topoisomerase
inhibitor, antibiotika sitostatika, dan golongan sitostatika lain
(miscellaneous). Alkylating agen merupakan obat antitumor yang
paling banyak digunakan. Obat ini bekerja dengan cross-linking DNA
melalui ikatan gugus alkyl secara kovalen mencegah terjadinya
replikasi DNA pada semua fase siklus sel (Tomlinson & Kline, 2005).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
23 
 

Penatalaksanaan kanker yang lain adalah radioterapi. Radioterapi


menyebabkan kerusakan sel-sel, terutama kerusakan pada DNA, dengan
cara menghambat pembelahan sel. Pembedahan merupakan terapi yang
penting yang dipilih untuk penanganan pada tumor ganas (Otto, 2001).
Teknik pembedahan yang dilakukan pada anak dengan kanker meliputi
biopsi, debulking yaitu pengangkatan massa tumor ketika tidak
mungkin untuk diangkat seluruhnya (Otto, 2001; Tomlinson & Kline,
2005). Keadaan infeksi dapat menunda untuk dilakukannya
pembedahan (Otto, 2001; Tomlinson & Kline, 2005).
Pemberian kemoterapi dapat diberikan secara tunggal maupun
kombinasi, pemberian kemoterapi kombinasi mempunyai keberhasilan
yang lebih tinggi (Otto, 2001). ALL, AML dan CML adalah jenis
kanker yang biasanya hanya ditangani dengan pemberian kemoterapi
(Tomlinson & Kline, 2005). Kemoterapi juga sebagai tambahan terapi
yang disebut kemoterapi ajuvan, yaitu kemoterapi yang diberikan
sebagai tambahan dari pengobatan utama, misalnya pada tumor wilms
atau retinoblastoma, terapi utama adalah pembedahan, pasca
pembedahan diberikan kemoterapi ajuvan. Pada beberapa kanker
pemberian kemoterapi dapat dikombinasikan dengan pemberian
radioterapi, misalnya pada karsinoma nasofaring (Otto, 2001;
Tomlinson & Kline, 2005).

2.2.2 Nyeri
2.2.2.1. Pengertian
Menurut Sherwood (2001) nyeri adalah mekanisme protektif yang
ditujukan untuk menimbulkan kasadaran bahwa telah atau akan terjadi
kerusakan jaringan, serta disertai perilaku termotivasi dan reaksi emosi.
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial
(Monga & Grabois, 2002; Tomlinson & Kline, 2005; IASP, 2009).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
24 
 

Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak


menyenangkan, yang berhubungan dengan jaringan rusak, cenderung
rusak atau segala keadaan yang menunjukkan adanya kerusakan
jaringan (Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam,
2006). Menurut Pasero dan Mc Caffery (2011) dalam James, Nelson
dan Ashwill (2013) nyeri adalah apapun yang pasien alami dan
katakan, meskipun menurut orang lain tidak merasakan yang sama.

2.2.2.2. Patofisiologi Nyeri


Menurut Sherwood (2001) terdapat tiga reseptor nyeri yaitu nosiseptor
mekanis, nosiseptor termal, dan nosiseptor polimodal. Nosiseptor
mekanis adalah reseptor yang berespon terhadap kerusakan mekanis
seperti tusukan, benturan, atau cubitan. Nosiseptor termal adalah
reseptor yang berespon terhadap suhu yang berlebihan terutama panas.
Sedangkan nosiseptor polimodal adalah reseptor nyeri yang berespon
terhadap semua jenis rangsangan yang merusak, termasuk zat kimia
yang dikeluarkan dari jaringan yang cedera. Semua nosiseptor dapat
disensitisasi oleh adanya prostaglandin.

Impuls nyeri yang berasal dari nosiseptor disalurkan ke sistem saraf


pusat melalui salah satu dari dua jenis serat aferen. Sinyal-sinyal yang
berasal dari nosiseptor mekanis dan termal disalurkan melalui serat A-
delta (jalur nyeri cepat), sedangkan impuls dari nosiseptor polimodal
diangkut oleh serat C (jalur nyeri lambat). Stimulus nyeri
ditransmisikan ke medula spinalis ke thalamus dan otak tengah. Dari
thalamus serabut mentransmisikan pesan nyeri ke berbagai area otak,
termasuk korteks sensori dan korteks asosiasi (di kedua lobus
parietalis), lobus frontalis, dan sistem limbik. Sistem limbik berperan
aktif dalam memproses reaksi emosi terhadap nyeri. Setelah transmisi
saraf berakhir di dalam pusat otak yang lebih tinggi, maka individu
akan mempersepsikan rasa nyeri (Sherwood, 2001; Guyton & Hall,
2008).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
25 
 

Teori nyeri yang dikenal salah satunya adalah teori Gate Control
(Melzack & Wall, 2003; Guyton & Hall, 2008). Menurut teori ini,
sensasi nyeri dihantarkan sepanjang saraf sensoris menuju ke otak dan
hanya sejumlah sensasi atau pesan tertentu dapat dihantar melalui jalur
saraf ini pada saat bersamaan. Teori Gate Control menyatakan bahwa
sinaps pada akar dorsal yang dikenal sebagai substansia gelatinosa
berperan sebagai gerbang yang dapat meningkatkan atau menurunkan
rangsang nyeri dari saraf perifer ke otak. Gerbang ini terbuka atau
tertutup tergantung input dari serabut saraf besar dan kecil.
Peningkatan aktivitas serabut saraf kecil akan membuka gerbang dan
menyebabkan sensasi nyeri sampai ke otak. Sedangkan peningkatan
aktivitas serabut saraf besar akan menutup pintu gerbang sehingga
sensasi nyeri tidak sampai ke otak (Sherwood, 2001; James, Nelson &
Ashwill 2013).

Serabut saraf A delta dan serabut saraf C berespon secara maksimal


terhadap nyeri (Sherwood, 2001; Guyton & Hall, 2008). Pada
mekanisme teori ini, serabut saraf A-Beta yang menyampaikan sensasi
sentuhan akan melewati mekanisme gerbang, ketika diaktifkan, serbut
saraf ini berlomba dengan serabut saraf A delta sehingga memblok
impuls nyeri, bila gerbang terbuka beberapa impuls nyeri dapat masuk
sehingga nyeri dapat dirasakan dan bila gerbang tertutup, impuls nyeri
akan terhambat.

Mekanisme dasar terjadinya nyeri secara umum melalui empat proses


yaitu transduksi, transmisi, persepsi, dan modulasi. Transduksi adalah
proses konversi energi dari rangsangan noksius (suhu, mekanik, atau
kimia) menjadi energi listrik (impuls saraf) oleh reseptor sensorik
untuk nyeri (nosiseptor). Sedangkan transmisi yaitu proses
penyampaian impuls saraf yang terjadi akibat adanya rangsangan di
perifer ke pusat. Persepsi merupakan proses apresiasi atau pemahaman
dari impuls saraf yang sampai ke Sistem Saraf Pusat sebagai nyeri.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
26 
 

Modulasi adalah proses pengaturan impuls yang dihantarkan, dapat


terjadi di setiap tingkat, namun biasanya diartikan sebagai pengaturan
yang dilakukan oleh otak terhadap proses di kornu dorsalis medulla
spinalis (Sherwood, 2001).

Nyeri kanker umumnya diakibatkan oleh infiltrasi sel tumor pada


struktur yang sensitif dengan nyeri seperti tulang, jaringan lunak,
serabut saraf, organ dalam, dan pembuluh darah (WHO, 1998; Regan
& Peng, 2000; Manthy et al., 2002; Carver & Foley, 2008). Nyeri juga
dapat diakibatkan oleh terapi pembedahan, kemoterapi, atau
radioterapi (Monga & Grabies, 2002; Tomlinson & Kline, 2005;
Hockenberry & Wilson, 2009;).

Invasi tumor secara langsung pada tulang atau berkembangnya


metastese osseus menyebabkan nyeri persisten (Manthy et al., 2002;
Carver & Foley, 2008). Nyeri pada tulang dikarenakan teregangnya
periosteum akibat ekspansi tumor, mikrofraktur lokal yang
menyebabkan kerusakan tulang, kompresi saraf akibat kolapsnya
vertebra atau kerusakan langsung oleh tumor, serta pelepasan substansi
algesik lokal dari sumsum tulang. Pada kondisi metastase juga terjadi
peningkatan aktivitas osteoklast. Osteoklast ini akan menstimulasi
nosiseptor.

Pada jenis tumor yang dikarenakan oleh sel sistem imun, makrofag,
netrofil dan sel T akan mensekresi berbagai faktor yang mensensitisasi
atau secara langsung merangsang neuron aferen primer, dan
prostaglandin (Manthy et al., 2002; Carver & Foley, 2008). Adanya
tumor akan menyebabkan trauma pada jaringan disekitarnya, hal ini
akan menyebabkan terjadinya penurunan pH (asidosis). Keadaan
asidosis akan mengaktivasi pengiriman sinyal oleh acid-sensing
channel yang diekspresikan oleh nosiseptor, sehingga pasien akan
mengalami nyeri (Manthy et al., 2002).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
27 
 

Pada kanker juga terjadi nyeri neuropatik. Nyeri neuropatik ini


disebabkan oleh terjadinya kerusakan atau inflamasi sistem saraf, baik
perifer maupun sentral (Regan & Peng, 2000; Carver & Foley, 2008).
Aktivitas simpatis juga berperan dalam mekanisme nyeri spontan.
Ekspresi a-adrenoreseptor pada akson yang trauma maupun tidak,
dapat terjadi setelah trauma saraf, menyebabkan reseptor ini sensitif
terhadap katekolamin. Trauma saraf dapat menginduksi pertumbuhan
akson simpatis disekitar neuron sensorik pada dorsal root ganglion.

Pertumbuhan tumor yang sangat cepat juga akan menyebabkan trauma


saraf, menimbulkan trauma mekanik, kompresi, iskemik atau
proteolisis (Regan & Peng, 2000; Manthy et al., 2002; Holdcroft &
Power, 2003; Carver & Foley, 2008). Enzim proteolitik yang
diproduksi oleh sel tumor juga bisa mengenai serabut saraf sensorik
dan simpatis, menyebabkan nyeri neuropatik.

Pemberian kemoterapi (seperti paclitaxel dan vinkristin) dapat


menyebabkan neuropati perifer diantaranya karena kemampuan
mereka merusak fungsi tubulin (Carver & Foley, 2008; Hockenberry &
Wislon, 2009). Polimerisasi tubulin penting untuk transport aksonal
dari faktor tropik, dan obat-obat yang terkait proses ini dapat
menyebabkan degenerasi neuron sensorik serta pelepasan sitokin-
sitokin pro-inflamatorik yang secara langsung mensensitasi nosiseptor
aferen primer. Cisplatin (Platinol), ifosfamide (Ifex), paclitaxel, dan
vinkristin telah diketahui menyebabkan neuropati perifer (Manthy et
al., 2002; Paice,2003; Hockenberry & Wilson, 2009).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
28 
 

2.2.2.3. Klasifikasi Nyeri


Nyeri dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria. Diantaranya
adalah :
a. Berdasarkan Sumber Nyeri
Sumber nyeri bisa berasal dari mana saja seperti kulit, ligamen,
otot, dan lain-lain. Berdasarkan mekanisme neurofisiolgi dapat
dibedakan menjadi: (1). Cutaneus/superfisial yaitu nyeri yang
mengenai kulit/jaringan subkutan, biasanya bersifat burning
(seperti terbakar), misalnya terkena ujung pisau atau gunting,
(2). Deep somatik yaitu nyeri yang muncul dari ligament,
pembuluh darah, tendin dan saraf, nyeri ini menyebar dan lebih
lama daripada cutaneus, contohnya nyeri sendi, (3) Visceral
yaitu nyeri pada organ dalam, dimana reseptor nyeri dalam
rongga abdomen, kranium dan thorak. Biasanya terjadi karena
spasme otot, iskemia dan regangan otot (Monga & Grobais,
2002).

b. Berdasarkan Penyebab Nyeri


Nyeri yang dialami pasien dapat disebabkan oleh hal-hal
tertentu, oleh karena itu berdasarkan penyebabnya, nyeri dapat
dibedakan atas tiga kategori yaitu nyeri nosiseptif, nyeri
neurogenik, dan nyeri psikogenik (Benzon, et al., 2005). Nyeri
nosiseptif, merupakan nyeri yang dikarenakan oleh kerusakan
jaringan baik somatik maupun viseral. Stimulasi nosiseptor baik
secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan
pengeluaran mediator inflamasi dari jaringan, sel imun dan
ujung saraf sensoris dan simpatik. Nyeri neurogenik disebabkan
oleh cedera pada jalur serat saraf perifer, infiltrasi sel kanker
pada serabut saraf, dan terpotongnya saraf perifer. Nyeri
psycogenik, yaitu nyeri yang penyebabnya kurang jelas atau
susah diidentifikasi bersumber dari emosi atau psikis dan

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
29 
 

biasanya tidak disadari, contohnya orang yang marah, tiba-tiba


merasa nyeri pada dadanya.

c. Berdasarkan Lama/Durasi Nyeri


Lama atau durasi nyeri yang dialami oleh pasien sangat
beraneka ragam. Hal ini tentu sangat mengganggu aktivitas dari
penderita nyeri tersebut. Nyeri berdasarkan lama dibedakan atas
nyeri akut dan nyeri kronik (Monga & Grobais, 2002). Nyeri
akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang
aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan
sedemikian rupa (IASP), awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung kurang dari 6 bulan
(Nanda, 2012).

Nyeri kronis adalah pengalaman sensori dan emosional yang


tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan
yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal
kerusakan sedemikian rupa (IASP), awitan yang tiba-tiba atau
lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat, terjadi secara
konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung lebih dari 6 bulan (Nanda, 2012).

2.2.2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri


Menurut Potter dan Perry (2012) nyeri merupakan sesuatu yang
kompleks, oleh karena itu banyak faktor yang mempengaruhi
pengalaman nyeri individu, yaitu sebagai berikut:
a. Usia
Usia merupakan salah satu yang paling mempengaruhi nyeri,
khususnya pada anak-anak dan lansia. Perbedaan perkembangan,
yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
30 
 

bagaimana bereaksi terhadap nyeri. Anak belum bisa


mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon
nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri
jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi, mereka
cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka
menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan
mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika
nyeri diperiksakan.

b. Kebudayaan
Menurut Calvillo dan Flaskerud dalam Potter dan Perry (2012)
keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu
mengatasi nyeri. Individu belajar dari budayanya, bagaimana
seharusnya mereka berespon terhadap nyeri, misalnya suatu
daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang
harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka
tidak mengeluh jika ada nyeri.

c. Makna nyeri
Nyeri yang dialami seseorang dipengaruhi oleh pengalaman nyeri
sebelumnya dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Hal
ini dikaitkan secara dekat dengan latar belakang budaya individu
tersebut. Individu akan mempersepsikan nyeri dengan cara yang
berbeda-beda, apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman,
suatu kehilangan, hukuman, dan tantangan maka setiap respon
terhadap nyeri akan berbeda berdasarkan setiap makna nyeri yang
diterima (Kozier, 2008).

d. Perhatian
Menurut Gill (1990) dalam Potter dan Perry (2012) tingkat
perhatian seseorang dapat mempengaruhi persepsi nyeri.
Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
31 
 

meningkat, sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan


dengan respons nyeri yang menurun. Konsep ini merupakan salah
satu konsep yang perawat terapkan di berbagai terapi untuk
menghilangkan nyeri, seperti relaksasi, guided imagery,
mendengarkan musik dan massase, dengan memfokuskan
perhatian dan konsentrasi klien pada stimulus lain, maka perawat
menempatkan nyeri pada kesadaran yang perifer, sehingga
menyebabkan toleransi nyeri individu meningkat, khususnya
terhadap nyeri berlangsung hanya selama waktu distraksi.

e. Ansietas
Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansietas
seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat
menimbulkan suatu perasaan ansietas. Keletihan meningkatkan
persepsi nyeri. Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri
semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping.

f. Koping
Nyeri dapat menyebabkan ketidakmampuan, baik sebagian
maupun keseluruhan. Pasien seringkali menemukan berbagai cara
untuk mengembangkan koping terhadap efek fisik dan psiologis
nyeri. Penting untuk memahami sumber-sumber seperti
berkomunikasi dengan keluarga pendukung. Melakukan latihan,
atau menyanyi dapat digunakan dalam rencana asuhan
keperawatan dalam upaya mendukung klien dan mengurangi
nyeri sampai tingkat tertentu (Kozier, 2008).

g. Dukungan keluarga dan sosial


Kehadiran orang-orang terdekat klien akan mempengaruhi respon
nyeri yang dialami. Individu yang mengalami nyeri seringkali
bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk
memperoleh dukungan, bantuan atau perlindungan, walaupun

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
32 
 

nyeri tetap dirasakan klien, kehadiran orang yang dicintai klien


akan meminimalkan kesepian dan ketakutan. Apabila tidak ada
keluarga atau teman, seringkali pengalaman nyeri membuat klien
semakin tertekan.

2.2.2.5. Penilaian Intensitas Nyeri


Nyeri tidak dapat diukur secara obyektif misalnya dengan pemeriksaan
rontgen atau tes darah (IASP, 2009; Potter & Perry, 2012), namun
nyeri yang muncul dapat diperkirakan berdasarkan tanda dan
gejalanya. Pasien diminta untuk menggambarkan nyeri yang
dialaminya tersebut sebagai nyeri ringan, sedang atau berat.

Ada beberapa metode yang umumnya digunakan untuk mengukur


intensitas nyeri yaitu Faces Pain Rating Scale, Visual Analogue Scale,
dan Numeric Rating Scale (Hockenberry & Wilson, 2009; James,
Nelson, & Ashwill, 2013).
1. Faces Pain Rating Scale
Wong-Baker Faces Pain Rating Scale atau biasa disebut skala
wajah, terdiri atas enam wajah kartun yang memiliki rentang dari
wajah tersenyum “untuk tidak ada nyeri” sampai wajah terurai air
mata untuk “nyeri yang paling berat. Skala ini dapat digunakan
untuk anak-anak yang berusia minimal 3 tahun atau lebih.
Kelebihan dari skala wajah ini yaitu anak dapat menunjukkan
sendiri rasa nyeri yang baru saja dialaminya sesuai dengan gambar
yang telah ada dan skala wajah ini direkomendasikan untuk anak-
anak (Hockenberry & Wilson, 2009; James, Nelson & Ashwill,
2013).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
33 
 

Gb.2.1 Wong Baker faces Pain Rating Scale

2. Visual Analogue Scale (VAS)


Skala VAS menggunakan suatu garis lurus yang mewakili
intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada
setiap ujungnya. Skala ini memberi pasien kebebasan penuh untuk
mengidentifikasi tingkat nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran
tingkat keparahan nyeri yang lebih sensitif karena pasien daoat
mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa
memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2012).

3. Numeric rating Scale


Metode ini menggunakan angka-angka untuk menggambarkan
range dari intensitas nyeri. Pasien menilai nyeri menggunakan
skala 0-10. Skala biasanya digunakan saat mengkaji intensitas nyeri
sebelum dan sesudah intervensi terapeutik. Skala 0 tidak nyeri,
skala 1-3 nyeri ringan, 4- 6 nyeri sedang, dan skala 7-10 nyeri
hebat.

Gb.2.2 Numeric Rating Scale

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
34 
 

2.2.2.7 Penanganan Nyeri


1. Farmakologi
WHO (1998) telah mengembangkan tiga langkah untuk
penatalaksanaan nyeri. Model ini memberikan pendekatan yang
telah teruji dan sederhana untuk seleksi yang rasional dalam
pemberian dan titrasi analgesik. pemberian terapi dimulai sesuai
tingkatan nyeri. Lima konsep penting dari pendekatan WHO
untuk terapi obat pada pasien nyeri kanker yaitu : By the mouth,
By the clock, By the ladder, For the individual, With attention to
detail.

Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis menurut WHO


mengikuti tiga langkah (three step analgesic ladder) yaitu tahap
pertama dengan menggunakan analgesik nonopiat seperti non
steroid anti inflamatory drug (NSAID) atau cyclooxygenase-2
spesific inhibitors, contohnya asetaminofen dan aspirin. Tahap
kedua dilakukan jika dengan penanganan tahap pertama, tetapi
pasien masih mengeluh nyeri, yaitu diberikan obat-obatan tahap
pertama ditambah obat analgesik jenis opiat secara intermiten,
contohnya codeine, oxycodone, hydrocodone, dan tramadol.
Tahap ketiga dilakukan dengan memberikan obat pada tahap
kedua ditambah opiat yang lebih kuat, contohnya morfin,
oxycodone, methadone, dan fentanyl (WHO, 1998)

Obat analgesik jenis NSAID mempunyai titik tangkap dengan


mencegah kerja enzim cyclooxygenase untuk mensintesis
prostaglandin. Obat-obat jenis ini efektif untuk menangani nyeri
akut dengan intensitas ringan sampai sedang. Penggunaan
analgesik NSAID dalam jangka waktu yang lama, akan
menimbulkan efek samping berupa iritasi mukosa lambung,
maka untuk melindungi lambung dari efek samping obat

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
35 
 

tersebut diberikan antagonis H2, misalnya ranitidin (WHO,


1998).

Obat analgesik jenis opiat bekerja dengan cara mengaktifkan


reseptor opoid yang terdapat pada sistem saraf pusat. Sistem
saraf pusat mempunya lima macam reseptor opoid, yaitu Mu,
Kappa, Sigma, Delta, dan Epsilon. Penggunaan obat dengan
dosis dapat menimbulkan efek samping berupa mual, muntah,
konstipasi, bahkan bila diberikan dengan dosis tinggi dapat
menyebabkan depresi pusat nafas. Pemberian obat analgesik
opiat dapat diberikan secara peroral, intravena, intramuskular,
epidural, maupun intratekal (WHO, 1998; Monga & Grabois,
2002).

Menurut Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, dan


Abdulsalam (2006) dasar pengobatan analgesik pada anak
penderita kanker yang mengalami nyeri yaitu: mencegah
timbulnya dan bukan hanya menghilangkan nyeri yang telah
ada; memilih obat yang tidak menurunkan kesadaran; pemberian
kombinasi obat hanya untuk meningkatkan efek analgesik atau
mengurangi efek samping obat; tidak dibenarkan menggunakan
plasebo untuk menilai nyeri; dosis ditentukan secara individual;
pemberian analgesik sebisa mungkin secara peroral; dan
menggunakan cara “WHO three step analgesic ladder”.

Penanganan nyeri pada anak kanker menurut WHO, selain


diberikan obat-obat analgesik, juga diberikan terapi tambahan
yang sesuai dengan kondisi pasien. Obat-obat sebagai terapi
tambahan tersebut diantaranya adalah dengan pemberian
antidepresan, antikonvulsi, kortikosteroid, antiemetik,
antihistamin, dan laksatif (Monga & Grabois, 2002; IASP, 2009;
Mishra et al., 2009).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
36 
 

2. Non Farmakologi
Terapi non farmakologi merupakan upaya-upaya mengatasi atau
menghilangkan nyeri dengan menggunakan pendekatan non
farmakologi (Monga & Grabies, 2002; Hockenberry & Wilson,
2009; Potter & Perry, 2012). Upaya-upaya tersebut berupa
suportif, kognitif, perilaku, maupun fisik (WHO, 1998). Metode
supportif yang bisa dilakukan adalah dengan cara menerapkan
“family centered care, memberikan informasi, berempati pada
pasien, serta terapi bermain. Metode kognitif dalam penanganan
nyeri pada kanker diantaranya dengan distraksi, musik, imagery
guidance, dan hipnosis. Metode perilaku yang bisa dilakukan
adalah dengan nafas dalam dan relaksasi, sedangkan metode
fisik untuk penanganan nyeri yang bisa dilakukan adalah dengan
sentuhan (terapi pijat), terapi hangat dan dingin, serta
transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS).

Terapi musik adalah terapi yang mengunakan musik dimana


tujuannya adalah meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik,
emosi, kognitif dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan
usia. Musik merupakan stimulus yang dikirim dari serabut saraf
asendens ke neuron-neuron reticular activating system (RAS).
Ketika musik dimainkan maka semua area yang berhubungan
dengan sistem limbik akan terstimulasi sehingga menghasilkan
perasaan dan ekspresi. Musik menimbulkan perubahan pada
status gelombang otak dan hormon pasien (Halim, 2002; Snyder
& Lindquist, 2002). Musik diketahui efektif dalam mengurangi
nyeri pada anak, diantaranya nyeri pada anak penderita kanker
(Klassen et al., 2008; Naylor, Kingsnorth, Lamont, McKeever,
& Macarthur, 2010; Nguyen, Nilsson, Hellstrom, & Bengston,
2010).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
37 
 

Relaksasi adalah teknik untuk mengurangi ketegangan otot


skeletal dan menurunkan kecemasan (Potter & Perry, 2012).
Teknik didasarkan pada keyakinan bahwa tubuh berespon pada
ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri atau kondisi
penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan ketegangan
fisiologis. Teknik ini dapat dilakukan dengan kepala ditopang
dalam posisi berbaring atau duduk di kursi. Hal utama yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik relaksasi adalah klien
dengan posisi yang nyaman, klien dengan pikiran yang
beristirahat, dan lingkungan yang tenang. Salah satu teknik
relaksasi adalah relaksasi autogenic. Prinsipnya klien harus
mampu berkonsentrasi sambil membaca mantra atau doa atau
dzikir dalam hati seiring dengan ekspirasi paru-paru.

Hypnosis adalah suatu teknik yang menghasilkan suatu keadaan


tidak sadar diri (Monga & Grabois, 2002). Mekanisme kerja
hypnosis tidak jelas tetapi tidak tampak diperantarai oleh system
endokrin. Keefektifan hypnosis tergantung pada kemudahan
hipnotik individu. Distraksi adalah mengalihkan perhatian
pasien dari nyeri (Hockenberry & wilson, 2009; Potter & Perry,
2012). Penggunaan teknik distraksi akan menurunkan perhatian
pasien ke hal yang lain, sehingga dapat meningkatkan toleransi
terhadap nyeri (Monga & Grabois, 2002).

Terapi pijat merupakan terapi komplementer dalam penanganan


nyeri pada kanker (Monga & Grabois, 2002; IASP, 2009; British
Pain Society, 2010). Terapi pijat adalah stimulasi kutaneus
tubuh secara umum, sering dipusatkan pada punggung dan bahu.
Terapi pijat tidak secara spesifik menstimulasi reseptor tidak
nyeri pada bagian reseptor yang sama seperti reseptor nyeri.
Terapi pijat membuat pasien lebih nyaman karena membuat

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
38 
 

relaksasi otot, dan juga mengurangi stres dan kecemasan


(Gecsedi, 2002; Corbin, 2005).

Terapi dingin dapat menurunkan prostaglandin yang


memperkuat sensitivitas reseptor nyeri dan subkutan lain pada
area cedera dengan menghambat proses inflamasi. Agar efektif,
es diletakkan pada tempat cedera segera setelah cedera terjadi.
Penggunaan panas dapat meningkatkan aliran darah ke suatu
area dan memungkinkan menurunkan nyeri dengan
mempercepat kesembuhan (James, Nelson & Ashwill, 2013).

Menurut Lander dan Fawler-Kerry (1991) dalam WHO (1998),


TENS dilakukan dengan cara menggunakan unit yang
dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada
kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau
mendengung pada area nyeri. TENS dapat menurunkan nyeri
dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non- nosiseptor).
Mekanisme ini sesuai dengan teori nyeri gate kontrol.

2.3 Integrasi Model dan Konsep Keperawatan Dalam Proses Keperawatan


2.3.1 Gambaran Model Adaptasi Roy
Pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan masalah nyeri pada
anak dengan kanker dalam penulisan karya ilmiah ini menggunakan
pendekatan teori keperawatan model adaptasi Roy. Model Adaptasi
Roy pertama kali dikembangkan oleh Sister Calista Roy pada tahun
1964-1966 dan baru diaplikasikan tahun 1968. Berdasarkan
filosofinya, Roy menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk
biopsikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam memenuhi
kebutuhannya, manusia selalu dihadapkan berbagai persoalan yang
kompleks, sehingga dituntut untuk melakukan adaptasi. Penggunaan
koping atau mekanisme pertahanan diri adalah berespon melakukan
peran dan fungsi secara optimal untuk memelihara integritas diri dari

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
39 
 

keadaan rentang sehat sakit dari keadaan lingkungan sekitarnya


(Tomey & Alligood, 2010).

Model adaptasi Roy ini berdasarkan asumsi yang ada bahwa ada
empat faktor yang akan menjelaskan adaptasi antara lain adalah
manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Menurut Roy
manusia adalah holistik dan merupakan sistem adaptasi. Sebagai suatu
sistem adaptasi, sistem manusia menggambarkan bahwa keseluruhan
bagian atau fungsinya merupakan satu kesatuan untuk mencapai suatu
tujuan (Tomey & Alligood, 2010).
Manusia sebagai suatu sistem mempunyai proses internal yang
berperan untuk mempertahankan kesatuan individu. Proses internal ini
dikategorikan sebagai subsistem regulator dan kognator. Subsistem
regulator melibatkan proses fisiologi seperti respon kimia, sistem
saraf, dan endokrin yang memungkinkan tubuh untuk mengatasi
perubahan lingkungan. Subsistem kognator melibatkan proses kognitif
dan emosional untuk berinteraksi dengan lingkungan (Tomey &
Alligood, 2010).

Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi, keadaan yang


dapat mempengaruhi sekitarnya dan berpengaruh terhadap
perkembangan dan perilaku individu atau kelompok. Interaksi
lingkungan adalah input untuk individu atau kelompok yang disebut
sebagai sistem adaptasi. Input tersebut meliputi faktor internal atau
eksternal yang dikategorikan sebagai stimulus fokal, kontekstual dan
residual.

Stimulus fokal merupakan internal atau eksternal yang paling


langsung dalam menyadarkan individu atau kelompok. Stimulus
kontekstual adalah semua stimulus yang ada pada suatu situasi atau
berkontribusi mempengaruhi atau memicu stimulus fokal. Stimulus
residual diartikan sebagai faktor lingkungan yang ada didalam atau

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
40 
 

diluar sistem manusia, yang mempengaruhi situasi yang belum jelas


saat ini meliputi kepercayaan sikap, sifat individu yang berkembang
sesuai pengalaman yang lain.

Tahapan adaptasi, dimana dapat menjelaskan kapasitas koping


individu. Perubahan tahapan tersebut merupakan kemampuan internal
yang mempengaruhi perilaku adaptif. Tahapan adaptasi tersebut
dijelaskan oleh Roy ada tiga tahap. Tahapan adaptasi tersebut adalah
integreted, compensatory, dan compromised.

Roy menyatakan bahwa kesehatan sebagai proses dimana sehat dan


sakit merupakan hal berdampingan. Sehat sakit merupakan suatu
dimensi yang tak dapat dihindarkan dan berdampingan dari total
pengalaman hidup seseorang. Adaptasi merupakan proses dan hasil
dimana dengan berfikir dan merasakan seperti individu dan kelompok,
menggunakan kesadaran dengan memilih untuk membuat kesatuan
individu dan lingkungan. Respon adaptif dalam kesehatan merupakan
respon yang meningkatkan integritas dalam masa antara tujuan dan
sistem individu.

Roy mendefinisikan keperawatan merupakan profesi kesehatan yang


berfokus pada proses dan pola kehidupan manusia, yang menekankan
pada peningkatan kesehatan untuk individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Tujuan keperawatan Roy adalah meningkatkan
kemampuan adaptasi individu dan kelompok pada setiap empat mode
adaptasi yang berkontribusi kepada kesehatan, kualitas hidup, dan
kematian dengan tenang. Perawat melakukan peran yang unik sebagai
fasilitator dari proses adaptasi dengan mengkaji perilaku di setiap
empat mode adaptasi dan faktor yang mempengaruhi adaptasi.
Intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan
interaksi terhadap lingkungan (Tomey & Alligood, 2010).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
41 
 

Model Adaptasi Roy berfokus pada konsep adaptasi manusia.


Konsepnya meliputi keperawatan, manusia, sehat dan lingkungan
yang kesemuanya itu merupakan hubungan dan merupakan suatu
sistem yang saling berkesinambungan. Sistem tersebut terdiri dari
input, proses kontrol, output dan umpan balik. Input adalah suatu
stimulus dari lingkungan baik internal maupun eksternal dari individu.
Proses kontrol meliputi mekanisme koping secara regulator dan
kognator. Output merupakan respon perilaku adaptif dan respon
inefektif. Umpan balik adalah informasi mengenai respon perilaku
yang ditunjukkan sebagai input. Keempat sistem tersebut saling
berhubungan dan dapat digambarkan pada skema berikut:

Skema 2.1
Manusia Sebagai Sistem Adaptasi

Input Proses Kontrol Efektor Output

Mode Adaptasi:
Tahapan Mekanisme Fisiologis Respon
Koping: Konsep Diri
stimulus Adaptif
Regulator Fungsi
adaptasi Kognator Inefektif
interdependensi

Umpan Balik

Sumber: Tomey &Alligood, 2010

Ada empat mode adaptasi yang ada hubungannya dengan respon sistem
manusia untuk melakukan stimulus dari lingkungan. Yaitu mode adaptasi
fisiologis, mode adaptasi konsep diri, mode adaptasi fungsi peran, dan
mode adaptasi interdependensi. Mode adaptasi fisiologis dihubungkan
dengan proses fisik dan kimiawi yang termasuk didalamnya fungsi dan
aktivitas organisme kehidupan (Tomey & Alligood, 2010). Ada lima
kebutuhan yang dididentifikasikan dalam hubungannya dengan kebutuhan

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
42 
 

dasar dari mode fisiologi, yaitu: oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan
istirahat, dan proteksi. Selain itu ada empat proses kompleks yang
berkontribusi dalam mode fisiologis didalamnya yaitu sensasi, cairan dan
elektrolit, fungsi neurologis, dan endokrin.

Mode adaptasi konsep diri, fokus spesifiknya pada psikologi dan spiritual
pada sistem manusia. Konsep diri didefinisikan sebagai kepercayaan dan
keyakinan yang dibentuk dalam dirinya. Konsep diri merupakan bentuk
dari reaksi persepsi internal dan persepsi lainnya. Mode konsep diri terdiri
dari physical Self didalam Body Sensation dan Body Image, dan Personal
Self didalamnya terdapat Self Consistency, Self Ideal dan moral-ethic-
spiritual. Body Sensation yaitu bagaimana seseorang merasakan keadaan
fisik dirinya sendiri. Body Image yaitu bagaimana seseorang memandang
fisiknya sendiri. Self Consistency yaitu bagaimana upaya seseorang untuk
memelihara dirinya sendiri dan menghindari dari ketidakseimbangan. Self
Ideal hubungannya dengan apa yang seharusnya dilakukan dan moral ethic
spiritual yaitu keyakinan seseorang dan evaluasi diri (Tomey & Alligood,
2010).

Mode adaptasi fungsi peran merupakan satu dari dua mode sosial dan
fokus terhadap peran seseorang dalam masyarakat. Teori peran
menjelaskan perilaku yang bertindak sebagai harapan seseorang dalam
menerima posisi. Fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang
berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-
pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain. Peran
diproyeksikan sebagai peran primer, sekunder dan tersier. Peran primer
yaitu peran seseorang yang ditentukan oleh jenis kelamin, usia dan tahapan
tumbuh kembang. Peran sekunder yaitu peran yang seharusnya harus
diselesaikan oleh tugas peran primer. Peran tersier merupakan cara
individu menemukan harapan dari peran mereka (Tomey & Alligood,
2010).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
43 
 

Mode adaptasi interdependensi berfokus pada hubungan seseorang dengan


orang lain. Hubungan interdependen didalamnya mempunyai keinginan
dan kemampuan memberi ke yang lainnya dan menerima dari semua aspek
seperti cinta, menghormati, nilai, rasa memiliki, waktu dan bakat (Tomey
& Alligood, 2010).

2.3.2 Proses Keperawatan menurut Model Adaptasi Roy


Proses keperawatan yang dijelaskan dalam Model Adaptasi Roy ada enam
tahapan yaitu pengkajian perilaku, pengkajian stimulus, diagnosis
keperawatan, penetapan tujuan (goal setting), intervensi keperawatan dan
evaluasi.
a. Pengkajian Perilaku
Pengkajian tahap pertama ini mengkaji data tentang perilaku dari
manusia sebagai sistem adaptasi. Pengkajian perilaku untuk
mendapatkan respon dari empat mode adaptasi yaitu mode adaptasi
fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi. Pengkajian
perilaku ini dapat diambil dengan cara observasi dan non observasi.
b. Pengkajian Stimulus
Pengkajian stimulus untuk mengkaji adanya perubahan yang ada
didalam maupun diluar. Pada pengkajian stimulus ini apabila
ditemukan data inefektif atau adaptif maka perawat harus
mengumpulkan data stimulus yang didalamnya ada stimulus fokal,
kontekstual dan residual.
c. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian yang menghasilkan
pernyataan yang menyatakan status adaptasi pada sistem adaptasi pada
sistem adaptasi manusia. Pernyataan tersebut berdasarkan tingkah laku
yang dikaji pada tahapan pertama dengan stimulus yang
mempengaruhi perilaku yang dikaji. Diagnosis keperawatan yang
digunakan melihat pada NANDA sesuai konsep yang dinyatakan oleh
Roy.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
44 
 

d. Penetapan Tujuan
Tujuan ditetapkan setelah perawat mengkaji perilaku dari individu atau
kelompok dan stimulus yang mempengaruhi serta telah teridentifikasi
diagnosis keperawatan. Penetapan tujuan didefinisikan sebagai
pernyataan yang jelas tujuan perilaku dari asuhan keperawatan.
Penetapan tujuan juga menjaga dan meningkatkan perilaku adaptif dan
merubah inefektif menjadi adaptif.
e. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan didefinisikan oleh Roy adalah suatu
pendekatan perawat dalam meningkatkan adaptasi dengan merubah
stimulus atau menguatkan proses adaptasi. Intervensi keperawatan
dapat difokuskan kepada proses koping dan stimulus. Intervensi
keperawatan dapat juga mendorong aktivitas kognator dan regulator.
f. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian terhadap intervensi keperawatan yang
dihubungkan langsung perilaku individu dan kelompok. Perawat harus
memiliki keterampilan saat menilai intervensi keperawatan seperti
observasi, intuisi, pengukuran dan wawancara. Bila tujuan tercapai,
artinya intervensi efektif. Bila tujuan tidak tercapai, kaji lebih lanjut,
pertimbangkan kembali penetapan tujuan dan intervensi.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
45 
 

Skema 2.2 Integrasi Model Adaptasi Roy


dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan Anak
dengan Masalah Nyeri

Pengkajian Nyeri nosiseptif


Perilaku dan Nyeri neurogenik
Stimulus 4 mode Nyeri psikogenik
adaptasi
ƒ Usia
ƒ Budaya
ƒ Makna Nyeri
ƒ Perhatian
ƒ Ansietas
ƒ Koping
ƒ Dukungan
keluarga/sosial

Diagnosis Nyeri Akut


Keperawatan Nyeri Kronis

Penetapan Tujuan Membantu pasien


beradaptasi terhadap
nyeri yang dialami

Farmakologi Non
Intervensi Farmakologi

Kolaborasi ƒ Regulator: memantau nyeri,


Implementasi pemberian
manajemen nyeri (relaksasi,
analgetik distraksi, terapi musik)
ƒ Kognator: membantu pasien
dalam menggunakan teknik
manajemen nyeri saat nyeri
muncul,

Tingkat
Evaluasi adaptasi pasien
terhadap nyeri

Sumber: Tomey & Alligood, 2010

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
46 
 

2.4 Aplikasi Model Adaptasi Roy pada Kasus Terpilih


Aplikasi model adaptasi Roy akan diterapkan pada salah satu kasus kelolaan
yang terpilih, yaitu kasus pasien An. Sy usia 16 tahun dengan limfoma non
hodgkin dengan infiltrasi intrakranial. Proses asuhan keperawatan akan
dimulai dari tahap pengkajian yang meliputi pengkajian berdasarkan 4 prinsip
mode adaptasi (fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi),
penegakkan diagnosis keperawatan, menyusun setting goal (penentuan tujuan
keperawatan), intervensi, implementasi sampai dengan evaluasi.
2.4.1 Pengkajian Perilaku dan Stimulus
a. Mode Adaptasi Fisiologis
1. Oksigenasi
a) Pengkajian perilaku
Pasien terpasang tracheostomi, respirasi 24x/menit, tidak
sesak, gerakan dada simetris, bunyi napas vesikuler, tidak
ada ronchi maupun wheezing, tekanan darah 120/80 mmHg,
nadi 100x/menit, tidak sianosis, konjungtiva ananemis,
capilary refil < 2detik, bunyi jantung I/II reguler, tidak ada
gallop dan murmur. Hasil pemeriksaan laboratorium Hb
12,1 gr/dl, leukosit 6140 /ul, trombosit 331.000/ul, Ht
40,2%, eritrosit 3,43, MCV 72,1 pg, MCH 21,8 fl, MCHC
30,2 fl. Adanya massa di saluran pernapasan atas
b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : adanya massa yang menghalangi jalan
napas bagian atas
Stimulus kontekstual : pasien terdiagnosa limfoma burkit,
dan terdapat massa yang menghalangi jalan napas bagian
atas.
Stimulus residual : tracheostomi kontak dengan lingkungan
luar.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
47 
 

2. Nutrisi
a) Pengkajian perilaku
Pasien mengalami mual dan muntah sebanyak 9 kali isi
cairan, setiap ada cairan yang masuk dimuntahkan kembali,
konjungtiva ananemis, sklera anikterik, bising usus ada,
tidak asites, BB 56 kg, TB 170 cm (Kesan status gizi baik).
Pasien diberikan makanan cair 6 x 350 cc lewat NGT,
pasien masih mengalami mual dan muntah, tidak ada
stomatitis, mukosa bibir lembab, LLA 25 cm, bising usus
10/menit, abdomen lunak, supel, tidak teraba pembesaran
hati.
b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : peningkatan intrakranial
Stimulasi kontekstual : adanya infiltrasi sel kanker dalam
sistem saraf pusat.
Stimulus residual : -
3. Eliminasi
a) Pengkajian perilaku
Buang air besar dan buang air kecil normal, buang air kecil
spontan 5-7 kali sehari, warna kuning jernih, tidak ada
distensi kandung kemih, balance cairan dalam 4 jam +354
cc, dan diuresis 0,9cc/KgBB/jam. Buang air besar 1 kali,
konsistensi lembek warna kuning.
b) Pengkajian stimulus
Tidak ada masalah adaptif
4. Aktivitas dan Istirahat
a) Pengkajian perilaku
Kesadaran komposmentis, terpasang infus di vena perifer,
pasien bedrest total, nyeri kepala bertambah bila bergerak
dan posisi setengah duduk, keluarga pasien mengatakan
anaknya tidak bisa tidur bila nyeri kepala dan mual muntah.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
48 
 

b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : Nyeri kepala
Stimulus kontekstual : peningkatan tekanan intrakranial
Stimulus residual : lingkungan yang kurang nyaman
5. Proteksi
a) Pengkajian perilaku
Suhu 36,9oC, terpasang infus di vena perifer, terpasang
tracheostomi, rambut dan kuku bersih, dan leukosit 6140 /ul.
b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : insisi tracheostomi
Stimulus kontekstual : penggunaan tracheostomi untuk
proses bernapas
Stimulus residual : nutrisi inadekuat, lubang tracheostomi
kontak langsung dengan udara luar
6. Sensasi
a) Pengkajian perilaku
Penglihatan pasien dalam keadaan normal, fungsi
pendengaran dan sentuhan pasien tidak mengalami kelainan,
fungsi penghidu mengalami penurunan karena adanya masa
pada saluran napas atas. Pasien mengalami nyeri kepala
skala 6, nyeri seperti ditusuk-tusuk, wajah meringis
kesakitan, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 100x/menit,
pemberian terapi farmadol 3 x 800 mg drip intravena, dan
tramadol 3x100mg intravena.
b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : peningkatan intrakranial karena adanya
infiltrasi sel kanker pada sistem saraf pusat.
Stimulus kontekstual : kurangnya efek pemberian terapi
farmadol
Stimulus residual : ketidaktahuan pasien dalam melakukan
manajemen nyeri, dan lingkungan yang kurang kondusif.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
49 
 

7. Cairan dan Elektrolit


a) Pengkajian perilaku
Setiap ada cairan yang masuk dimuntahkan kembali,
tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 100x/menit, respirasi
24/menit, suhu 36,9oC, mukosa bibir lembab, turgor kulit
elastis, akral hangat, capilary refil < 2detik, suara paru
vesikuler, buang air kecil 200cc/4 jam, intake 740 cc/4jam,
diuresis 0,9cc/KgBB/jam. Hasil pemeriksaan laboratorium
Hb 12,1 gr/dl, trombosit 331.000/ul, Ht 40,2%, natrium 140
mEq/L, kalium 4,3mEq/L, clorida 99,0 mEq/L.
b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : peningkatan tekanan intrakranial
Stimulus kontekstual : infiltrasi sel kanker ke sistem saraf
pusat
Stimulus residual : intake cairan peroral inadekuat
8. Fungsi Neurologi
a) Pengkajian perilaku
Kesadaran kompos mentis, pasien tidak mengalami
disorientasi waktu, tempat dan orang. Pasien mengeluh nyeri
kepala, tidak ada gangguan fungsi memori, sensorik,
motorik, pasien tidak dapat berkomunikasi secara lisan
dikarenakan terpasang tracheostomi. Hasil pemeriksaan
MRI terdapat infark multipel kecil-kecil di peri ventrikel
lateralis bilateral, ventrikulomegali ventrikel lateralis
bilateral ventrikel III suspect atrofi cerebri. Hasil
pemeriksaan lumbal punksi dalam cairan serebrospinal
ditemukan sel blast.
b) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : adanya sel blast dalam cairan serebrospinal
Stimulus kontekstual : metastase sel kanker ke sistem saraf
pusat
Stimulus residual : -

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
50 
 

9. Fungsi Endokrin
a) Pengkajian perilaku
regulasi hormon dalam batas normal. Keluarga tidak ada
riwayat penyakit DM,
b) Pengkajian dan stimulus
Semua perilaku adaptif
b. Mode Adaptasi Konsep Diri
1. Pengkajian perilaku
a) Physical self (memandang diri sendiri dan berhubungan
dengan kehilangan)
1) Sensasi diri : ibu pasien mengatakan anaknya sangat
merasa kesakitan, dan saat kesakitan anaknya
memukul-mukul kepalanya, anaknya sering
mengatakan apakah saya masih mungkin sembuh.
2) Gambaran diri : ibu pasien mengatakan anaknya sering
menanyakan apakah masih bisa normal lagi, berapa
lama lagi pengobatan yang diberikan, dan merasa sedih
tidak bisa sembuh seperti anak-anak yang lain.
b) Personal self
1) Moral/etik/spiritual
Pasien beragama Islam dan selalu mengingatkan ibunya
untuk sholat.
2) Self consistency
Ibu pasien mengatakan meskipun anaknya sangat merasa
kesakitan, tetapi dia berusaha mengikuti program
pengobatan yang diberikan.
3) Ideal diri
Ibu pasien mengatakan anaknya ingin sembuh dan bisa
sekolah lagi.
c) Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : adanya ancaman terhadap status kesehatan
pasien

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
51 
 

Stimulus kontekstual : perasaan tidak berdaya, pasien berada


dalam kecemasan
Stimulus residual : tidak yakin untuk sembuh, terlalu
memikirkan keadaannya

c. Mode Adaptasi Fungsi Peran


1. Pengkajian perilaku
Pasien merupakan seorang anak bungsu. Sebelumnya anak
sekolah SMA kelas 1, tetapi karena sakitnya, sehingga sering
keluar masuk rumah sakit, pasien sudah tidak bersekolah di
sekolah formal. Pasien merasa sedih tidak dapat bersekolah
seperti teman-temannya, dan ingin sekolah lagi bila sudah
sembuh.
2. Pengkajian stimulus
Stimulus fokal : adanya ancaman perubahan kesehatan
Stimulus kontekstual : sakit LMNH yang mengalami infiltrasi
intrakranial
Stimulus residual : ketidakmampuan pasien dalam menjalani
sekolah formal

d. Mode Adaptasi Interdependensi


1. Pengkajian perilaku
a) Affectional adequacy
Pasien selalu ditemani oleh ibunya saat di rumah sakit, dan
kadang-kadang bapaknya menemaninya. Ibu dan bapaknya
selalu memberikan perhatian yang khusus dan memahami
keadaan pasien, semua kebutuhan pasien selalu dipenuhi.
b) Developmental adequacy
Kakak-kakak pasien tidak bisa terus menemani pasien di
rumah sakit, akan tetapi selalu memantau pasien melalui
handphone. Pasien merasa senang apabila bisa komunikasi
dengan kakak dan teman-temannya.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
52 
 

c) Resource Adequacy
Pasien berobat menggunakan sarana Asuransi Kesehatan,
dan tidak memiliki masalah keuangan karena dibantu oleh
kakak-kakaknya.
2. Pengkajian stimulus
Semua perilaku adaptif

2.4.2 Diagnosis Keperawatan


Diagnosis keperawatan ditegakkan berdasarkan analisis hasil
pengkajian perilaku dan stimulus pada keempat mode adaptasi yang
didalamnya terdapat mode adaptasi fisiologis, konsep diri, fungsi peran
dan interdependensi. Berdasarkan kasus pada An. Sy maka diagnosis
yang ditegakkan adalah sebagai berikut :
a. Mode Adaptasi Fisiologis
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan
intrakranial
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan
infiltrasi sel kanker ke dalam sistem saraf pusat
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya
massa dalam saluran pernapasan bagian atas
4. Resiko kekurangan voume cairan berhubungan dengan muntah
b. Mode adaptasi Konsep diri
1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan adanya
ancaman perubahan kesehatan
c. Mode Adaptasi Fungsi Peran : -
d. Mode Adaptasi Interdependensi : adaptif

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
53 
 

2.4.3 Goal Setting (Penetapan Tujuan)


Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan An. Sy mampu
beradaptasi terkait dengan penegakkan keperawatan sebagai berikut :
a. Setelah 3x24 jam dilakukan perawatan nyeri pasien berkurang
ditunjukkan dengan menurunnya skala numerik nyeri 3-4, tampak
lebih rileks, beradaptasi terhadap nyeri yang dirasakan (NOC:
tingkat kenyamanan, kontrol nyeri, tingkat nyeri)
b. Setelah 10x24 jam dilakukan perawatan perfusi jaringan cerebral
adekuat, dengan menunjukkan tidak ada tanda-tanda peningkatan
tekanan intrakranial, seperti hipertensi, muntah, dan nyeri kepala
(NOC: Status neurologi)
c. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam bersihan jalan
napas efektif, dengan menunjukkan jalan napas paten, dapat
mengeluarkan sekret, irama dan frekuensi napas normal, saturasi
oksigen > 95% (NOC: jalan napas paten)
d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam status
cairan adekuat, dengan menunjukkan diuresis 1-2cc/KgBB/jam,
tekanan darah, nadi dan suhu dalam batas normal, mukosa bibir
lembab, turgor elastis. (NOC: keseimbangan cairan, hidrasi)
e. Selama dilakukan tindakan keperawatan selama 10x24 jam
diharapkan koping individu menjadi efektif, dengan ditunjukkan
dengan motivasi pasien untuk sembuh meningkat, menggunakan
perilaku yang efektif untuk menurunkan stress, mengembangkan
koping yang efektif (NOC: koping)

2.4.4 Intervensi Keperawatan


Intervensi keperawatan disusun sesuai dengan masalah pasien untuk
mencapai tujuan pada saat evaluasi menggunakan pedoman Nursing
Intervention Classification (NIC) yang melalui proses koping secara
regulator dan kognator dan diuraikan sebagai berikut :
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
54 
 

Intervensi keperawatan: memantau nyeri, manajemen nyeri,


kolaborasi pemberian analgesik.
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan infiltrasi sel
kanker ke dalam sistem saraf pusat
Intervensi keperawatan: memantau status neurologi, pengaturan
posisi, manajemen pengobatan.
3. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan adanya
massa di saluran pernapasan atas
Intervensi keperawatan : manajemen jalan napas, suction jalan
napas.
4. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah
Intervensi keperawatan : manajemen cairan, memantau status cairan,
manajemen hipovolemia.
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan adanya ancaman
perubahan kesehatan
Intervensi keperawatan : Coping Enhancement, Decision Making
Support.

2.4.5 Implementasi Keperawatan


Asuhan keperawatan pada An. Sy diberikan selama 23 hari ( 12
September – 4 Oktober 2013), selanjutnya dari 16 Oktober – 21
November mengikuti peerkembangan pasien melalui laporan dari teman
sejawat di ruangan. Residen memberikan implementasi keperawatan
sesuai dengan diagnosis, antara lain :
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
Implementasi yang bersifat regulator yaitu memantau nyeri:
mengkaji penyebab nyeri, memantau skala nyeri (ringan, sedang,
atau berat), mengkaji kualitas dan karakteristik nyeri, mengkaji saat
timbulnya nyeri, memantau vital sign, mengobservasi reaksi nyeri
secara nonverbal. Manajemen nyeri: memberikan posisi yang
nyaman, memberikan terapi musik, membantu pasien beradaptasi
terhadap nyeri yang dialami, kolaborasi pemberian obat analgesik

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
55 
 

(farmadol 4 x 1 gr, tramadol 4x100 mg, MST 4x15 mg), kolaborasi


pemberian obat antidepresan (amitripilin 1x25 mg). Implementasi
yang bersifat kognator yaitu manajemen nyeri: mengeksplorasi
pengetahuan pasien terhadap nyeri, mengajarkan pasien
menggunakan teknik nonfarmakologi (teknik distraksi: terapi
musik, guide imagery).
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan infiltrasi
sel kanker ke dalam sistem saraf pusat
Implementasi yang bersifat regulator yaitu : memantau status
neurologi: memantau vital sign, memantau status neurologis
(glasgow coma scale), memantau reflek fisiologis dan patologis,
memantau ukuran pupil, mencatat adanya keluhan nyeri kepala,
memantau status hemodinamik. Pengaturan posisi: memposisikan
kepala 15 – 30 o. Manajemen pengobatan : kolaborasi pemberian
obat pencahar, mempersiapkan pemeriksaan lumbal punksi, dan
kolaborasi pemberian kemoterapi MTX intratekal, mengobservasi
pemberian kemoterapi MTX high dose, kolaborasi pemberian obat
antikonvulsan (gabapentin 3x200 mg). Implementasi yang bersifat
kognator yaitu memantau status neurologi: mengajarkan pasien
untuk menghindari aktifitas yang dapat meningkatkan TIK
(valsavah manuver).
3. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan adanya
massa di saluran pernapasan atas
Implementasi yang bersifat regulator yaitu manajemen jalan napas:
mengobesrvasi tracheostomi, memposisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi, melakukan fisioterapi dada, melakukan
inhalasi (NaCl+Ventolin 4x1). Suction jalan napas: melakukan
suction, mendengarkan suara paru sebelum dan sesudah suction.
Implementasi yang bersifat kognator: Manajemen jalan napas:
mengajarkan keluarga melakukan inhalasi, suction jalan napas:
mengajarkan keluarga melakukan suction.
4. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
56 
 

Implementasi yang bersifat regulator yaitu manajemen cairan:


mengkaji mukosa bibir, mengkaji turgor kulit, memberikan susu
6x350 cc melalui NGT, memantau hasil pemeriksaan laboratorium
darah lengkap, mengelola pemberian cairan infus (N5+ KCl 10mEq
Æ 90 cc/jam), kolaborasi pemberian obat antiemetik (ondansentron
3x4 mg intravena). Memantau status cairan: mengukur vital sign,
menghitung intake dan output cairan, memantau terjadinya mual
muntah, mengobservasi adanya perdarahan (peteki, ekimosis,
epitaksis, melena). Manajemen hipovolemia: memantau tanda-
tanda syok (nadi cepat tapi lemah, hipotensi berat, rentang sistole
dan diastole < 20 mmHg, hipertermia), mengkaji akral, mengkaji
kapilari refil. Implementasi yang bersifat kognator yaitu manajemen
cairan: menganjurkan pasien untuk minum sedikit sedikit tapi
sering. Memantau status cairan menganjurkan keluarga untuk
melaporkan kepada perawat bila semakin sering muntah.
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan adanya ancaman
perubahan kesehatan
Implementasi yang bersifat regulator yaitu Coping Enhancement:
mengkaji tingkat perubahan konsep diri pasien, mengkaji dampak
terhadap peran dan hubungan dengan orang lain, mengkaji tingkat
pemahaman pasien terhadap penyakitnya, membantu pasien untuk
dapat menilai keadaannya sekarang, membantu pasien dalam
melakukan pendekatan spiritual, membantu pasien dalam proses
penerimaan penyakitnya dan keterbatasannya, Anxiety reduction :
mengontrol stimulus yang menimbulkan rasa cemas. Implementasi
yang bersifat kognator yaitu Coping Enhancement : memotivasi
pasien untuk mengidentifikasi perubahan yang realistik dalam
peran, memotivasi pasien untuk mengungkapkan perasaan,
persepsinya. Anxiety reduction : mendengarkan keluhan yang
disampaikan pasien, memberikan umpan balik positif bila pasien
telah melakukan program pengobatan dengan baik, membantu
pasien menggunakan teknik relaksasi.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
57 
 

2.4.6 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi keperawatan dilakukan setelah 10 hari dilakukan tindakan
keperawatan dan sampai praktek residensi berakhir pasien belum
diperbolehkan pulang. Evaluasi ini diuraikan berdasarkan diagnosa
berikut ini:
1. Nyeri akut
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 10x24jam pasien
mampu beradaptasi secara kompensasi terhadap nyeri ditunjukkan
dengan pengurangan nyeri, nyeri dikaji dengan skala numerik
didapatkan nyeri kepala skala 2, wajah tidak meringis dan pasien
masih merasa nyeri kepala saat duduk.
Analisa intervensi : tindakan keperawatan manajemen nyeri
dilanjutkan, menganjurkan agar pasien menggunakan teknik-teknik
relaksasi dan distraksi dalam pengurangan nyeri yang akan datang.
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 10x24 jam
gangguan perfusi jaringan cerebral dapat diatasi, pasien
menujukkan perilaku adaptif, pasien sudah menunjukkan nyeri
kepala berkurang, mual muntah berkurang, dan hasil pemeriksaan
lumbal punksi tanggal 20 September tidak ditemukan sel blast.
Analisa intervensi : masalah keperawatan gangguan perfusi jaringan
cerebral sudah teratasi sebagian, pasien mampu beradaptasi,
tindakan keperawatan dilanjutkan.
3. Bersihan jalan napas tidak efektif
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam bersihan
jalan napas efektif, pasien menunjukkan perilaku adaptif, pasien
tetap terpasang tracheostomi, sudah menunjukkan kepatenan jalan
napas, respirasi reguler, tidak ada retraksi dada, suara paru
vesikuler, dahak minimal.
Analisa intervensi : masalah bersihan jalan napas menjadi efektif,
pasien mampu beradaptasi, tindakan keperawatan dilanjutkan.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
58 
 

4. Risiko kekurangan volume cairan


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam pasien
menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap risiko kekurangan
volume cairan dengan menunjukkan hasil mukosa bibir lembab,
turgor elastis, mual muntah tidak ada, balance cairan (+) 516cc,
diuresis 2,2cc/KgBB/jam, tekanan darah 120/80mmHg, nadi
98x/menit, suhu 36,9oC, hematokrit 40,9%, Natrium 130mmol/L,
Kalium 3,96 mmol/L, Clorida 98,8 mmol/L, Ureum 47 mg/dl,
creatinin 0,40 mg/dl.
Analisa intervensi: masalah keperawatan risiko kekurangan volume
cairan tidak terjadi, pasien mampu beradaptasi, tindakan
keperawatan dilanjutkan.
5. Koping individu tidak efektif
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 10x24jam koping
pasien menjadi efektif, ditunjukkan dengan saat pasien mengalami
nyeri tidak memukul-mukul kepalanya, tetapi saat mengalami nyeri
pasien berdzikir dengan tasbih, pasien menjalani program
pengobatan.
Analisa intervensi: koping individu menjadi efektif, lanjutkan
intervensi dengan tetap memberikan motivasi pada pasien dan
keluarga.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB 3
PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.1 Kompetensi Program Pendidikan Ners Spesialis


Kompetensi berkaitan dengan aplikasi secara efektif dari kombinasi
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan penilaian yang ditampilkan oleh
individu dalam praktik mereka sehari-hari. Dalam keperawatan, kompetensi
dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi
mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan atau tugas dengan standar kinerja (performance) yang ditetapkan
(PPNI, AIPNI, & AIPDiKI, 2012).

Program Pendidikan Ners Spesialis yang ditempuh oleh residen keperawatan


anak merupakan upaya mencapai kompetensi sebagai Ners Spesialis
Keperawatan Anak sehingga memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien anak dan keluarga secara
mandiri. Sebagaimana definisi Ners Spesialis menurut International Council
of Nurses (ICN) (2003) bahwa Ners Spesialis merupakan seorang perawat
yang memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang melebihi perawat
generalis dan bertanggung jawab dalam praktiknya sebagai seorang spesialis
dengan keahlian yang lebih maju di bidang keperawatan.

Sebagai seorang ners spesialis keperawatan anak, ners spesialis harus mampu
melaksanakan praktik klinik berbasis 3 ranah utama kompetensi perawat,
yaitu 1) praktik profesional, etis, legal dan peka budaya; 2) pemberian asuhan
dan manajemen asuhan keperawatan; 3) pengembangan profesional, personal
dan kualitas (PPNI, AIPNI, AIPDiKI, 2012). Untuk itu, sebagai calon ners
spesialis keperawatan anak, residen keperawatan anak dalam menjalani
praktik klinik keperawatan anak, melakukan pencapaian kompetensi
berdasarkan ketiga ranah kompetensi tersebut.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


3.2 Kompetensi Sesuai Area Peminatan Selama Praktik Residensi
Praktik klinik yang menjadi peminatan khusus keperawatan anak yang dipilih
oleh residen keperawatan anak adalah praktik klinik di ruang Non Infeksi
Anak. Adapun kompetensi khusus yang ingin dicapai oleh residen
keperawatan anak selama praktik di ruang Non Infeksi Anak adalah
memberikan asuhan keperawatan pada pasien anak kanker dengan masalah
nyeri. Untuk mencapai kompetensi tersebut, residen keperawatan anak
meningkatkan dan menerapkan kemampuan dalam proses pengkajian,
penentuan masalah dan diagnosis keperawatan, merencanakan tindakan yang
akan dilakukan, melakukan praktik keperawatan baik mandiri maupun
kolaborasi, serta melakukan evaluasi.

Proses pengkajian pada pasien anak dengan masalah nyeri dilakukan untuk
mendapatkan data terkait riwayat, pengkajian fisik, maupun pengkajian fokus
terkait masalah utama yang menjadi penyebab terjadinya nyeri yang dialami
pasien. Setelah melakukan pengkajian, residen menentukan masalah dan
diagnosis keperawatan yang muncul akibat kondisi yang dialami pasien.
Berdasarkan diagnosis yang muncul, residen kemudian melakukan
penyusunan rencana tindakan yang akan dilakukan (intervensi keperawatan)
sesuai masalah yang muncul, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan rencana
tindakan (implementasi keperawatan) yang diantaranya dapat berupa
memantau nyeri, mengkaji penyebab nyeri, mengkaji skala nyeri mengkaji
kualitas dan karakteristik nyeri, memantau tanda-tanda vital, mengobservasi
reaksi nyeri secara nonverbal, memberikan posisi yang nyaman, mengajarkan
teknik relaksasi, nafas dalam, distraksi dengan terapi musik, kolaborasi
pemberian analgesik.

Pada setiap tahapan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien


tersebut, residen keperawatan anak menerapkan prinsip etik dan peka budaya
sebagai bentuk pelayanan keperawatan yang profesional dengan menghargai
harkat, martabat, keunikan dan keberagaman budaya yang dimiliki masing-
masing pasien. Pengembangan profesionalisme sebagai seorang perawat juga

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


61
 

dicapai oleh residen keperawatan anak dengan meningkatkan beberapa


keterampilan khusus agar dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan
yang berkualitas (PPNI, 2010).

Pencapaian kompetensi atau keterampilan khusus yang ingin dicapai oleh


residen keperawatan anak berdasarkan peminatan yang dipilih adalah peran
sebagai seorang perawat kanker anak. Peran ini berbeda dengan perawat anak
di unit lainnya, dimana perawat kanker anak harus memiliki kompetensi
dalam merawat pasien anak dalam penyakit kronis dengan keterampilan
khusus, berkomitmen pada kode etik keperawatan dan berdasarkan nilai-nilai
kemanusiaan. Keterampilan khusus tersebut antara lain adalah mengelola
pasien kanker yang mengalami febril neutropenia, pasien yang akan
menjalani kemoterapi, dengan mempersiapkan pemeriksaan BMP (Bone
Marrow Punctin), pemberian kemoterapi peroral, intravena, dan intratekal,
mengobservasi efek samping kemoterapi, memberikan transfusi PRC, TC
serta mengobservasi reaksi selama pemberian transfusi. Kompetensi tersebut
diaplikasikan tergantung pada masalah pasien yang dihadapi. Selain itu, hal
utama yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan perawat untuk dapat
berkolaborasi dan menjalin hubungan kerjasama yang baik sebagai mitra
dengan dokter, ahli gizi, ahli farmasi, fisioterapis, laboratorium, elektro
medik dan tenaga administrasi, sehingga setiap perubahan kondisi yang
terjadi pada pasien dapat segera didiskusikan dan keputusan medik maupun
keperawatan dapat ditetapkan secara tepat.

3.3 Peran Ners Spesialis Keperawatan Anak


Kompetensi keperawatan anak lainnya yang juga harus dicapai oleh residen
keperawatan anak yang merupakan target pencapaian kompetensi berdasarkan
Program Pendidikan Ners Spesialis Keperawatan Anak, adalah residen
keperawatan anak secara mandiri harus berperan sebagai: 1) praktisi asuhan
keperawatan pada area keperawatan anak yang membutuhkan pelayanan
keperawatan anak lanjut, 2) pendidik dan konsultan dibidang keperawatan
anak, 3) advokat bagi klien dalam area keperawatan anak, 4) pengelola

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
62
 

asuhan keperawatan anak pada tingkat menengah dan tinggi pada berbagai
institusi pelayanan kesehatan, 5) peneliti terkait keperawatan anak (Tim
Program Ners Spesialis Keperawatan Anak, 2012). Beberapa peran mandiri
tersebut akan dipaparkan sebagai berikut:

1. Praktisi asuhan keperawatan pada area keperawatan anak


Dalam pencapaian peran ini, residen keperawatan anak memberikan
asuhan keperawatan pada pasien anak dibeberapa area praktik klinik yang
dilalui residen keperawatan anak, diantaranya adalah area praktik unit
perawatan perinatologi, ICU Anak, dan unit perawatan Non Infeksi. Pada
praktik klinik di perinatologi, residen keperawatan anak telah melakukan
asuhan keperawatan pada kasus bayi dengan masalah prematur, bayi berat
lahir rendah, hidrosefalus, hidronefrosis, hyaline membran disease
(HMD), gastroskizis, sepsis neonatus awitan dini (SNAD), distres
pernapasan, hipoglikemi, hiperbilirubinemia.

Asuhan keperawatan yang dilakukan residen keperawatan anak pada ICU


anak antara lain: anak dengan extopi buli post op prekonstruksi buli dan
post operasi pelvicosteomy dan symphysioplasty; anak dengan Tumor
Intraabdomen post operasi debulking dengan laparatomi, reduksi massa
tumor reseksi anastomisis disertai penurunan kesadaran dan efusi pleura;
anak dengan hernia diafragma morgagini kiri Post Rekonstruksi
diafragma; anak dengan Ensefalitis disertai diare dehidrasi berat,
hiperleukositosis, atresia billier, gagal ginjal kronis. Asuhan keperawatan
yang dilakukan residen keperawatan anak pada area praktik Non Infeksi
antara lain pada kasus neuroblastoma, SLE, hipertensi, VSD, patent
ductus arteriosus (PDA), hiperlekositosis ALL, AML, tumor medula
spinalis, angiofibroma, karsinoma nasofaring, cushing syndrom, decom
cordis, tumor rectovesica, sindrom nefrotik, gizi buruk marasmik.

Selanjutnya area praktik klinik yang menjadi peminatan yang residen


keperawatan anak pilih dan dijalani selama 3 bulan adalah praktik klinik

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
63
 

di ruang Non Infeksi Anak. Sebagaimana yang telah dipaparkan


sebelumnya terkait asuhan keperawatan yang telah dilakukan oleh residen
keperawatan anak di ruang Non Infeksi Anak sebagai peminatan yang
dipilih, residen keperawatan anak memberikan asuhan keperawatan pada
beberapa pasien anak kanker dengan fokus utama masalah nyeri di ruang
Non Infeksi Anak. Residen keperawatan anak melakukan asuhan
keperawatan tersebut melalui proses pengkajian, penentuan masalah dan
diagnosis keperawatan, merencanakan tindakan yang akan dilakukan,
melakukan praktik keperawatan baik mandiri maupun kolaborasi, serta
melakukan evaluasi pada tiap pasien anak yang mengalami masalah nyeri.
Adapun diagnosis medis pada pasien anak yang menimbulkan masalah
nyeri tersebut antara lain adalah LMNH, LMNH dengan infiltrasi
intrakranial, Osteosarkoma, ALL, CML. Asuhan keperawatan pada setiap
pasien anak tersebut diatas disertai dengan beberapa kompetensi praktik
klinik keperawatan yang dilakukan sesuai dengan masalah pasien yang
ditemukan residen keperawatan anak .

2. Peran pendidik dan konsultan di bidang keperawatan anak


Peran sebagai pendidik dan konsultan yang residen keperawatan anak
lakukan di setiap area praktik klinik yang dilalui, diantaranya berupa
komunikasi yang baik dalam berdiskusi dan berbagi ilmu dengan perawat
ruangan terkait perkembangan ilmu keperawatan anak terkini yang dapat
menjadi dasar dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang diberikan
pada pasien anak. Peran ini dilakukan residen keperawatan anak melalui
pendekatan interpersonal dengan perawat ruangan. Selain itu melakukan
pendidikan kesehatan mengenai manajemen laktasi, pemberian ASI, cara
melakukan perawatan metode kanggoro, mengajarkan orang tua untuk
melakukan beberapa tindakan perawatan yang dapat dilakukan keluarga
secara mandiri, memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga
manajemen nyeri, dan melakukan pendampingan pada perawat NTC
(Nurse training centre) yang memberikan asuhan keperawatan di ruang
Non Infeksi.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
64
 

3. Peran advokat bagi klien dalam area keperawatan anak


Peran sebagai advokasi diberikan pada pasien dan keluarga oleh residen
keperawatan anak sebagai upaya meningkatkan kualifikasi seorang calon
perawat spesialis anak sebagai perawat profesional yang berfokus pada
prinsip etik yang bersifat beneficence dan nonmaleficence. Advokasi yang
dilakukan secara langsung pada pasien adalah intervensi terapeutik
(seperti meminimalkan kontak yang terlalu sering pada pasien neonatus;
saling mengingatkan sesama perawat, dokter, staf lain dan keluarga untuk
menerapkan developmental care terutama noise, melakukan hand rub
sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dalam upaya mencegah
penyebaran infeksi, serta beberapa tindakan keperawatan dan medis yang
harus dilakukan berdasarkan prosedur yang tepat sesuai standar
operasional untuk mencegah injuri pada pasien. Sedangkan pada keluarga,
perawat memastikan bahwa keluarga mendapatkan informasi yang
lengkap terkait perkembangan kondisi anak dan membantu keluarga
untuk memilih keputusan yang tepat untuk kemajuan kondisi anak,
melakukan pendekatan pada keluarga anak yang mengalami osteosarkoma
dalam menetapkan keputusan yang tepat terkait dengan program
pengobatan.

4. Peran pengelola asuhan keperawatan anak


Peran yang dimaksud adalah merupakan peran perawat sebagai
koordinator pelayanan keperawatan anak. Peran ini dilakukan residen
keperawatan anak dengan berkoordinasi dengan tim keperawatan
diruangan maupun tim kesehatan lainnya. Koordinasi yang dilakukan
dengan sesama perawat adalah berupa komunikasi yang terintegrasi
terkait perkembangan kondisi pasien pada setiap operan atau pergantian
dinas. Tim kesehatan lain yang dapat berkoordinasi langsung dengan
perawat antara lain adalah dokter, ahli gizi, ahli farmasi, fisioterapis, dan
staf administrasi. Peran koordinasi tersebut dapat berupa koordinasi pada
upaya manajemen nyeri, manajemen cairan, manajemen resusitasi,
manajemen nutrisi, dan manajemen farmakoterapi. Bentuk koordinasi

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
65
 

dengan tim kesehatan lain ini merupakan bentuk kerjasama lintas bidang
keahlian yang sering disebut sebagai kolaborasi (Canadian Nurses
Association, 2010).

5. Peran peneliti terkait keperawatan anak


Peran ini ditempuh oleh residen keperawatan anak dengan melakukan
proyek inovasi. Proyek inovasi yang pertama kali dilakukan adalah
menerapkan program developmental care khususnya terkait kebisingan,
di ruang Perinatologi pada semester pertama. Proyek inovasi ini
dilaksanakan berdasarkan tahapan penelitian melalui pengumpulan data
dengan menggunakan alat ukur kuesioner dan wawancara langsung
dengan kepala ruangan dan perawat pelaksana, selanjutnya melakukan
analisis, pelaksanaan tindakan hasil pengkajian dan evaluasi dari tindakan
yang dilakukan.

Pada proyek inovasi yang kedua dilakukan di ruang Non Infeksi Anak dalam
upaya menerapkan evidence based nursing (EBN) terkait dengan manajemen
nyeri dengan teknik distraksi khususnya pemberian terapi musik pada pasien
anak dengan kanker yang mengalami nyeri, baik nyeri karena kanker itu sendiri
maupun karena tindakan prosedur yang diberikan. Pelaksanaan pemberian terapi
musik pada pasien anak dengan kanker untuk melihat pengaruh dan manfaatnya
terhadap peningkatan rasa nyaman dan mengurangi respon nyeri pada pasien.

Kompetensi tambahan yang dicapai oleh residen keperawatan anak selama


menjalani praktik keperawatan anak adalah peran sebagai agen pembaharuan
yang seiring dengan peran perawat sebagai peneliti. Kompetensi tersebut adalah
pemberian terapi musik pada pasien anak dengan kanker. Alasan mahasiswa
memilih penerapan EBN ini dikarenakan di ruangan Non Infeksi Anak belum
menerapkan penggunaan terapi musik secara optimal, pemberian terapi musik
sebagai salah satu teknik distraksi dalam manajemen nyeri diketahui dapat
mengurangi nyeri pada pasien serta meningkatkan kenyamanan pada pasien
yang mengalami nyeri. Upaya penerapan EBN ini dapat dilaksanakan dengan
baik saat residen keperawatan anak menjalani praktik.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
66
 

Terapi musik yang diberikan bersifat pasif yaitu pasien diajak untuk
mendengarkan lagu-lagu anak-anak menggunakan musik box portable,
implementasi dilakukan pada tanggal 11 – 20 November 2013 yang dilakukan di
ruang perawatan sebanyak 6 kamar, dengan total sampel 30 orang, yang terbagi
11 orang pasien yang menjalani kemoterapi, 7 orang mendapatkan prosedur
tindakan yang menyebabkan nyeri, dan 7 orang pasien mengalami nyeri,
diantaranya adalah kelima kasus kelolaan. Implementasi yang diberikan hasilnya
menunjukkan bahwa terapi musik dapat meningkatkan kenyamanan dan dapat
mengurangi nyeri pada pasien anak dengan kanker.

Pencapaian kompetensi ini dirasakan residen keperawatan anak sudah


mewakili target kompetensi yang ingin dicapai sebagai calon ners spesialis
keperawatan anak, namun residen keperawatan anak tetap harus terus
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lebih lanjut melalui seminar dan
pelatihan-pelatihan di bidang keperawatan anak, terutama dibidang
keperawatan onkologi anak yang secara terus menerus akan berkembang
seiring kemajuan ilmu dan teknologi. Setelah pelaksanaan praktik klinik dan
upaya pencapaian kompetensi sebagai calon perawat spesialis anak yang
ditempuh selama 2 semester, residen keperawatan anak melakukan
penyusunan Karya Ilmiah Akhir (KIA) sebagai laporan akhir hasil
pelaksanaan praktik keperawatan anak yang telah dilalui. Penyusunan Karya
Ilmiah Akhir ini akan disampaikan dalam seminar akhir sebagai syarat
pencapaian gelar Ners Spesialis Keperawatan Anak.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan Penerapan Model Adaptasi Roy dalam Asuhan


Keperawatan pada Anak Kanker yang Mengalami Masalah Nyeri
Asuhan keperawatan yang dilakukan pada 5 kasus kelolaan dalam karya
ilmiah ini menggunakan pendekatan teori keperawatan yang dikembangkan
oleh Sister Calista Roy yaitu model adaptasi dalam pencapaian adaptasi
pasien untuk mencapai adaptasi yang adaptif. Asuhan keperawatan tersebut
dimulai dari tahap pengkajian perilaku dan pengkajian stimulus, penentuan
diagnosis keperawatan, penetapan tujuan (goal setting), intervensi, dan
evaluasi.

Asuhan keperawatan yang diberikan pada 5 pasien kelolaan, seluruhnya


memiliki permasalahan yang hampir sama saat  dirawat di ruang Non Infeksi
Anak RSCM, yaitu pasien yang mengalami masalah nyeri, sehingga
membutuhkan perawatan, kemoterapi, dan penanganan nyeri. Penanganan
nyeri yang diberikan berupa cara farmakologis yaitu memberikan obat 
antinyeri (analgetik), maupun secara non farmakologis misalnya dengan
menggunakan teknik distraksi dengan pemberian terapi musik.

Masing-masing pasien kelolaan dalam karya ilmiah ini memiliki kasus yang
sama yaitu semua menderita penyakit kanker, yang berbeda adalah jenis
kankernya. Variasi jenis kanker  yang dialami oleh kelima pasien kelolaan
tersebut antara lain: 1 pasien dengan penyakit LMNH, 1 pasien dengan
LMNH dengan infiltrasi intrakranial, dan 2 pasien dengan osteosarkoma, dan
1 pasien dengan CML. Pada kelima kasus tersebut, nyeri terjadi sebagai
gejala utama maupun kondisi penyerta dari adanya penyakit utama yang
mereka alami.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Monga
& Grabois, 2002; Tomlinson & Kline, 2005; IASP, 2009). Nyeri yang tak
teratasi menyebabkan penderitaan karena nyeri membatasi aktivitas,
mempengaruhi selera makan, dan tidur, selanjutnya membuat pasien lemah
dan tidak berdaya. Nyeri yang terus menerus berpengaruh terhadap psikologis
pasien, diantaranya akan menghilangkan semangat dan harapan hidup pasien.
Dengan demikian nyeri kanker umumnya akan menyebabkan penderitaan
bagi pasien, yaitu pasien mengalami keterbatasan aktivitas dan penurunan
kualitas hidup.

Nyeri kanker umumnya diakibatkan oleh infiltrasi sel tumor pada struktur
yang sensitif dengan nyeri seperti tulang, jaringan lunak, serabut saraf, organ
dalam, dan pembuluh darah (WHO, 1998; Regan & Peng, 2000; Manthy et
al., 2002; Carver & Foley, 2008). Nyeri juga dapat diakibatkan oleh terapi
pembedahan, kemoterapi, atau radioterapi (Monga & Grabies, 2002;
Tomlinson & Kline, 2005; Hockenberry & Wilson, 2009;). Nyeri juga dapat
terjadi akibat pemeriksaan diagnostik (Nguyen, et al., 2010).

Berikut akan diuraikan pembahasan terkait kasus kelolaan ditinjau dari


langkah-langkah dalam proses keperawatan, meliputi pengkajian, diagnosis
keperawatan, intervensi keperawatan, dan evaluasi keperawatan.

4.1.1 Pengkajian
Pengkajian dalam pemberian asuhan keperawatan pada 5 pasien
kelolaan dalam karya ilmiah ini akan dijelaskan berdasarkan 4 mode
adaptasi yang dikembangkan oleh Sister Calista Roy, yaitu mode
adaptasi fisiologis  mode adaptasi konsep diri, mode adaptasi fungsi
peran, dan mode adaptasi interdependensi.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


69 
 

Pada pengkajian mode adaptasi fisiologis, pada status oksigenasi


didapatkan data pasien (An. Sy) terpasang tracheostomi, tracheostomi
ini dibuat oleh karena adanya massa pada saluran napas bagian atas.
Adanya massa ini menyebabkan udara tidak dapat masuk melalui
saluran napas atas menuju ke paru-paru, sehingga agar status
oksigenasi pasien tetap baik, maka pasien dilakukan pemasangan
tracheostomi. Sedangkan pada keempat kasus yang lainnya tidak
ditemukan data bahwa pasien mengalami masalah pada status
oksigenasi.

Pada kasus An Sy adanya massa dalam saluran napas atas sangat sulit
untuk dilakukan pengangkatan massa, sehingga penanganannya
adalah dengan dilakukan pemasangan tracheostomi. Meskipun salah
satu penanganan tumor adalah dengan dilakukan pembedahan, namun
ada beberapa massa atau tumor yang terletak di bagian tubuh yang
sulit untuk dilakukan pembedahan, sehingga pembedahan dengan
melakukan pengangkatan tumor tidak dilakukan, karena komplikasi
yang ditimbulkan dari proses pembedahan yang membahayakan jiwa
dapat terjadi (Otto, 2001; Tomlinson & Kline, 2005).

Pada pengkajian status nutrisi pada kasus kelolaan umumnya berada


pada status nutrisi baik, meskipun pasien mengalami mual muntah,
begitupula pada keempat kasus yang lainnya tidak ditemukan masalah
nutrisi baik kekurangan maupun kelebihan, tetapi meskipun demikian
pasien-pasien kanker dapat berisiko mengalami ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan, seperti yang dialami oleh kasus 2 (An.
Rd). Pemberian kemoterapi pada anak dengan kanker dapat
mempengaruhi status nutrisi, karena beberapa obat-obatan
antineoplastik mempunyai efek samping mual muntah dan
menyebabkan mukositis, sehingga hal ini akan mempengaruhi asupan
nutrisi pasien (Tomlinson & Kline, 2005; Hockenberry & Wilson,
2009).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
70 
 

Pengkajian pemenuhan kebutuhan eliminasi pada kelima pasien tidak


mengalami masalah, semua kasus dalam batas normal, tetapi
meskipun demikian pada pasien dengan kanker tetap memerlukan
pemantauan terhadap eliminasi urin dan eliminasi fekal. Pada
pemberian kemoterapi ada beberapa obat yang menyebabkan pasien
menjadi diare, bahkan ada yang dapat menyebabkan konstipasi
(Tomlinson & Kline, 2005). Pada pengkajian aktivitas dan istirahat
pada kasus pertama (An. Sy), pasien tidak dapat beraktivitas seperti
anak lain, hal ini dikarenakan pasien mengalami nyeri kepala, dan
pada keempat kasus yang lainnya juga mengalami hal yang serupa,
misalnya pada kasus ke-2 (An. Rd), pasien tidak dapat menggerakkan
tangan kirinya dikarenakan ada massa, atau pada kasus ke-3 (An Ic)
terjadi kelemahan pada ekstermitas bagian kanan.

Pada An Sy, karena nyeri kepala yang dialami, hal ini mempengaruhi
pola istirahat tidurnya, bahkan saat nyeri dirasakan sangat hebat,
pasien tidak bisa tertidur dimalam hari, sehingga menyebabkan
gangguan tidur. Menurut WHO (1998) dan Permono, Sutaryo,
Ugrasena, Windiastuti, dan Abdulsalam (2006) nyeri yang dialami
oleh anak kanker dapat menyebabkan gangguan tidur. Selain itu pada
anak-anak dengan kanker pada umumnya mengalami perubahan pola
istirahat tidur, hal ini dikarenakan oleh kondisi penyakitnya, maupun
karena program pengobatan yang diberikan.

Pada pengkajian pemenuhan kebutuhan perlindungan diri (proteksi)


pada An Sy tidak ditemukan data yang abnormal, tetapi meskipun
demikian dengan kondisi penyakit yang dialami dan tindakan yang
diberikan, hal ini dapat mempengaruhi proteksi pasien seperti adanya
peningkatan suhu tubuh, adanya luka, atau yang lainnya. Pada kasus
ke-2 (An Rd) mengalami hipertermia yang terus-menerus, hal ini
mungkin disebabkan karena adanya penyebaran infeksi ke seluruh
tubuhnya, sedangkan pada kasus ke-4, An Ms mengalami hipertermia

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
71 
 

oleh karena kondisi hiperleukositosis, dimana sel blast ditemukan


dalam pembuluh darah, sehingga leukosit tidak mampu menjalankan
fungsinya sebagai pertahanan tubuh, akibatnya pasien mudah
mengalami infeksi (Otto, 2001; Tomlinson & Kline, 2005;
Hockenberry & Wilson, 2009).

Pada pengkajian cairan dan elektrolit, kasus pertama, An Sy


mengalami mual muntah yang hampir terus menerus, sehingga hal ini
mempengaruhi status hidrasi dari pasien, begitu pula pada kasus yang
lainnya, dikarenakan pemberian kemoterapi, sehingga pasien tersebut
berisiko mengalami mual muntah yang nantinya mempengaruhi status
cairan/hidrasi tubuhnya. Selain itu, pada anak dengan kanker masalah
cairan dapat terjadi dikarenakan adanya perdarahan seperti pada kasus
ke-2 (An. Rd) dan kasus ke-4 (An. Ms). Cairan intravaskular
merupakan komponen cairan tubuh, apabila terjadi kehilangan cairan
tersebut melalui adanya perdarahan, hal ini akan mempengaruhi
volume cairan tubuh (Sherwood, 2001).

Pada pengkajian sensasi, semua pasien mengalami nyeri. Pengkajian


nyeri pada sebagian besar pasien dilakukan dengan menggunakan
skala numerik, sementara pada kasus ke-3 (An. Ic) skala nyeri yang
digunakan adalah faces wong baker scale, hal ini dikarenakan pada
kasus ke-3 (An. Ic) agak sulit diajak komunikasi langsung, sehingga
sulit untuk menentukan skala nyeri. Kasus ke-3 adalah anak usia 5
tahun, dimana skala wajah tepat digunakan untuk anak usia tersebut
dengan kondisi anak kurang kooperatif dalam komunikasi. Menurut
Hockenberry dan Wilson (2009) skala wajah sangat efektif digunakan
pada pasien anak usia diatas 3 tahun yang sulit diajak komunikasi.

Pada pengkajian sistem neurologi kasus kelolaan (An. Sy) ditemukan


adanya sel blast dalam cairan serebrospinal, hal ini menyebabkan
peningkatan tekanan intrakranial, sehingga pasien mengalami nyeri

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
72 
 

kepala yang sangat berat. Pasien dengan limfoma non hodgkin ini
mengalami metastase pada sistem saraf pusat, seperti menurut
Yoshida, Morii, Watanabe, dan Saito (2000) bahwa pasien dengan
limfoma maligna hampir 84,5% mengalami metastase pada sistem
saraf pusat. Sementara pada pengkajian fungsi endokrin pada kelima
kasus tidak ditemukan data yang abnormal.

Pengkajian pada mode adaptasi konsep diri, mengacu pada upaya


dalam pencapaian adaptasi terhadap adanya perubahan citra tubuh
yang dialami pasien. Pengkajian pada mode adaptasi konsep diri
meliputi physical Self didalamnya Body Sensation dan Body Image,
dan Personal Self didalamnya terdapat Self Consistency, Self Ideal
dan moral-ethic-spiritual (Tomey & Alligood, 2010).

Dari pengkajian mode konsep diri tersebut, masalah utama yang


muncul umumnya terdapat pada body image, hal ini diakibatkan pada
pasien anak penderita kanker mengalami perubahan pada tubuhnya.
Pada kasus kelolaan pertama An. Sy terpasang tracheostomi yang
cukup lama, dimana tracheostomi yang terpasang ini menyebabkan
pasien tidak mampu berkomunikasi secara verbal dengan orang lain,
hal ini menyebabkan pasien merasa malu dan takut untuk berinteraksi
dengan orang lain, selain itu juga karena kondisi penyakitnya
menyebabkan pasien harus keluar masuk rumah sakit, untuk menjalani
kemoterapi. Kemoterapi yang diberikan menyebabkan perubahan fisik
pada pasien diantaranya rambut menjadi rontok (Otto, 2001;
Tomlinson & Kline, 2005), sehingga kondisi penyakit dan pengaruh
pemberian kemoterapi menyebabkan terjadinya perubahan tubuh
pasien diantaranya terpasang trakeostomi dan rambut menjadi rontok.

Pada An. Sy, selain adanya perubahan kondisi tubuh, juga mengalami
nyeri kepala yang sangat berat, sehingga pasien merasa tidak sanggup
lagi menahan rasa sakit tersebut, saat timbulnya rasa nyeri pasien

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
73 
 

memukul-mukul kepalanya, ini merupakan koping yang tidak efektif


terhadap stimulus yang dialami pasien. Pada beberapa anak, ada yang
tidak mampu menghadapi nyeri yang dialaminya, sehingga muncul
perasaan depresi, yang akibatnya dapat timbul koping yang tidak
efektif, seperti menyakiti diri sendiri (Hooke, Hellsten, Stutzer, &
Forte, 2001).

Pada pasien kelolaan kedua (An.Rd) yang mengalami osteosarkoma,


terdapat benjolan di siku kirinya, dan juga pasien telah menjalani
kemoterapi sehingga rambutnya rontok, hal ini menyebabkan
gangguan body image. Pasien merasa malu dengan kondisi fisiknya
sekarang. Begitu pula pada kasus kelolaan An. An yang juga
mengalami osteosarkoma, terdapat benjolan pada bagian lutut
kanannya, yang menyebabkan jalannya menjadi tidak seimbang
(pincang), hal ini juga menyebabkan pasien merasa malu terhadap
kondisi yang dialaminya sekarang. Kedua pasien tersebut menginjak
usia remaja dimana usia remaja umumnya berfokus pada gambaran
diri terutama fisiknya, maka bila terjadi perubahan fisik, akan
membuat malu dan gangguan body image terhadap tubuhnya.

Pada kasus kelolaan ketiga (An.Ic) untuk mode konsep diri agak sulit
untuk dikaji, karena anak selalu menangis ketika didekati oleh
perawat, selain itu juga terkait dengan usianya yang masih 5 tahun, hal
ini menyebabkan anak masih belum bisa memberikan gambaran
terhadap perubahan fisik yang dialaminya. Sementara pada kasus
kelolaan keempat (An. Ms) yang mengalami CML mengalami
pembesaran pada perutnya, tetapi tidak menyebabkan gangguan
terhadap citra tubuhnya.

Pada pengkajian fungsi peran, pada umumnya pasien tidak mampu


melakukan perannya sebagai pelajar, terutama pada anak usia sekolah.
Hal ini disebabkan anak kanker menjalani program pengobatan dan

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
74 
 

perawatan yang cukup lama, selain itu juga terkadang dihadapkan


pada kondisi kritis yang mengharuskan pasien mejalani perawatan
dirumah sakit dalam waktu yang cukup lama, sehingga hal ini akan
mempengaruhi perannya sebagai pelajar, dimana anak tidak dapat
mengikuti sekolah formal seperti anak sehat lainnya (Hockenberry &
Wilson, 2009; James, Nelson & Ashwill, 2013). Pada pengkajian
mode adaptasi interdependensi, semua pasien menjalani perawatan
didampingi oleh orang tua atau keluarganya dalam waktu 24 jam,
selain itu orang tua atau keluarganya membantu memenuhi semua
kebutuhan sehari-hari pasien.

4.1.2 Diagnosis Keperawatan


Hasil pengkajian perilaku dan stimulus pada mode adaptasi fisiologis,
didapatkan masalah keperawatan yang muncul pada semua kasus
adalah nyeri akut, dan masalah keperawatan yang sering muncul
adalah risiko kekurangan volume cairan. Seperti yang diungkapkan
oleh Duelt et al (1982) dalam Monga dan Grabois (2002) bahwa 84 %
pasien dengan kanker mengalami nyeri. Nyeri yang dialami oleh An.
Sy adalah nyeri neuropatik, atau sindroma nyeri neurologis, yang
terjadi akibat adanya infiltrasi sel kanker pada sistem saraf pusat
(Paice, 2003).

Nyeri yang dialami oleh kasus ke-1 (An. Sy) adalah karena adanya
infiltrasi sel kanker dalam sistem saraf pusat. Sementara pada kasus
ke-2 dan ke-5, nyeri disebabkan karena kanker itu sendiri, yaitu pasien
mengalami osteosarkoma, dimana dengan adanya massa pada tulang,
nyeri pada osteosarkoma terjadi oleh karena teregangnya periosteum
dan peningkatan aktivitas osteoklast (Manty et al., 2002; Carver &
Foley, 2008).

Pada kasus ke-3 (An. Ic) mengalami nyeri dikarenakan adanya massa
pada bahu dan punggung kanan, dimana pasien mengalami limfoma

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
75 
 

non hodgkin. Limfoma non hodgkin merupakan keganasan yang


menyerang sel sistem imun, dimana sel imun, makrofag, netrofil dan
sel T akan mensekresi berbagai faktor yang mensensitisasi atau secara
langsung merangsang neuron aferen, dan termasuk prostaglandin,
sehingga muncul keluhan nyeri (Manthy et al., 2002; carver & Foley,
2008).

Pada kasus ke-4 (An. Ms) nyeri yang dialami terjadi karena adanya
leukostosis bahkan sampai hiperleukositosis. Hiperleukositosis adalah
jumlah leukosit lebih dari 100.000/ul (Otto, 2001; Tomlinson & Kline,
2005; Permono, Sutaryo, Ugrasena, Windiastuti, & Abdulsalam,
2006). Peningkatan jumlah leukosit, mengakibatkan terjadinya
gumpalan dari sel-sel, dan berisiko timbulnya komplikasi neurologis,
selain itu juga sering dijumpai adanya limfadenopati dan
hepatosplenomegali (Otto, 2001; Lanszkowsky, 2005; Tomlinson &
Kline, 2005). Hepatosplenomegali yang terjadi akan mendesak ruang
abdomen disekitarnya sehingga desakan tersebut menimbulkan
masalah nyeri, seperti yang dialami oleh kasus ke-4 (An. Ms). Nyeri
yang dialami oleh karena perutnya yang besar oleh karena adanya
hepatosplenomegali.

Masalah nyeri yang dialami oleh kelima kasus tersebut adalah


termasuk nyeri akut, dikarenakan nyeri yang dialami oleh kelima
kasus dirasakan kurang dari 6 bulan, meskipun pada nyeri kanker pada
umumnya merupakan nyeri kronis, seperti yang diungkapkan oleh
Tomlinson dan Kline (2005) bahwa nyeri kanker termasuk nyeri
kronik yang tidak mempunyai efek protektif dan makin lama makin
memperjelek penyakitnya serta fungsi dari organ-organ. Nyeri kronis
adalah nyeri dengan awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan
intensitas dari ringan hingga berat, terjadi secara konstan atau
berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan
berlangsung lebih dari 6 bulan (Nanda, 2012).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
76 
 

Selain nyeri, masalah keperawatan lain yang ditemukan adalah


gangguan perfusi jaringan cerebral. Pada pasien An. Sy mengalami
masalah gangguan perfusi jaringan cerebral, karena pada An. Sy
mengalami infiltrasi sel blast ke dalam sistem saraf pusat. Selain itu
pasien juga mengalami infark multipel di ventrikel, sehingga
mempengaruhi perfusi jaringan cerebral. Pada An. Sy juga mengalami
masalah bersihan jalan napas tidak efektif, hal ini dikarenakan adanya
massa di saluran pernapasan atas, sehingga pasien terpasang
tracheostomi.

Pada An.Sy juga mengalami masalah keperawatan risiko kekurangan


volume cairan. Hal ini dikarenakan pada An. Sy mengalami mual
muntah, karena adanya peningkatan tekanan intrakranial, akibat
adanya metastase sel kanker ke dalam sistem saraf pusat. Pada kasus
yang lainnya juga mengalami masalah keperawatan yang sama, hal ini
dikarenakan pada pasien kanker dapat mengalami perdarahan oleh
karena trombositopenia, misalnya pada pasien CML maupun leukemia
jenis yang lainnya.

Pada pasien kanker mengalami masalah kekurangan volume cairan,


hal ini bisa dikarenakan pasien mengalami mual muntah. Mual
muntah yang dialami pasien kanker dapat disebabkan oleh efek
samping pemberian kemoterapi seperti pada kasus ke-3 (An. Ic) dan
kasus ke-5 (An. An), sementara pada kasus ke-1 (An. Sy) mual
muntah terjadi karena adanya peningkatan intrakranial, sehingga
mempengaruhi pusat pengaturan mual muntah. Berbeda dengan yang
dialami oleh kasus ke-2, pasien mengalami kekurangan volume cairan
dikarenakan terjadinya perdarahan.

Secara keseluruhan pada kelima pasien kelolaan, penyakit kanker


yang dialaminya menimbulkan masalah gangguan citra tubuh, dan
koping individu tidak efektif. Hal ini dikarenakan adanya perubahan

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
77 
 

fisik, dan rasa nyeri yang dialami oleh pasien. Sehingga menyebabkan
penggunaan koping yang tidak efektif oleh karena munculnya
perasaan depresi sebagai akibat rasa nyeri yang dirasakan cukup berat.

4.1.3 Intervensi Keperawatan


Intervensi keperawatan utama yang telah dilakukan untuk mengatasi
masalah keperawatan yang muncul, yaitu untuk mengatasi masalah
nyeri antara lain adalah menilai skala nyeri, memantau tanda-tanda
vital, melakukan manajemen nyeri secara non farmakologi yaitu
relaksasi napas dalam, distraksi dengan memberikan terapi musik, dan
kolaborasi pemberian analgesik.

Menurut WHO (1998), Monga dan Grabois (2002), Hockenberry dan


Wilson (2009) penatalaksanaan nyeri selain pemberian analgesik, juga
penilaian skala nyeri merupakan hal yang harus dilakukan, karena hal
ini terkait dengan terapi yang akan diberikan. Secara farmakologis
manajemen nyeri menurut  WHO (1998) mengikuti tiga langkah (three
step analgesic ladder) yaitu tahap pertama dengan menggunakan
analgesik nonopiat seperti non steroid anti inflamatory drug (NSAID)
atau cyclooxygenase-2 spesific inhibitors, contohnya asetaminofen
dan aspirin. Tahap kedua dilakukan jika dengan penanganan tahap
pertama, tetapi pasien masih mengeluh nyeri, yaitu diberikan obat-
obatan tahap pertama ditambah obat analgesik jenis opiat secara
intermiten, contohnya codeine, oxycodone, hydrocodone, dan
tramadol. Tahap ketiga dilakukan dengan memberikan obat pada
tahap kedua ditambah opiat yang lebih kuat, contohnya morfin,
oxycodone, methadone, dan fentanyl (WHO, 1998).

Pada kasus ke-1 (An Sy) saat nyeri dirasakan pasien diberikan terapi
farmadol (asetaminofen) 4x500 mg dan tramadol 4x100 mg intravena,
tetapi dikarenakan nyeri masih belum teratasi kemudian dosis
farmadol dinaikkan menjadi 800 mg. Meskipun dengan pemberian

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
78 
 

farmadol 800 mg, nyeri tetap saja dirasakan, sehingga pasien


dikonsultasikan kepada bagian anastesi untuk penanganan nyerinya,
dari hasil konsultasi tersebut pasien mendapatkan morphin sedasi
therapy (MST) 4x10 mg, setelah dua hari kemudian pasien mengalami
peningkatan skala nyeri menjadi 7, sehingga dikonsulkan kembali ke
bagian anestesi untuk penanganan nyerinya, dan pasien mendapatkan
MST 4x15 mg peroral, Gabapentin 3x200 mg peroral, dan amitripilin
1x25 mg peroral. Setelah ada perubahan terapi yang diberikan, nyeri
yang dialami oleh pasien berkurang dengan skala 2, pasien lebih
rileks, rasa nyeri yang dialami tidak lagi mengganggu waktu istirahat
tidurnya.

MST merupakan jenis opiat kuat, yang bekerja menurunkan nyeri


langsung pada sistem saraf pusat melalui reseptor opiat. Gabapentin
merupakan antikonvulsan, dan amitripilin merupakan obat
antidepresan, pada pasien ini diberikan obat adjuvan (tambahan)
dalam penanganan nyerinya. Sebagaimana menurut WHO (1998),
Monga dan Grabois (2002), IASP (2009), Mishra et al. (2009),
bahwa penanganan nyeri pada anak kanker, selain diberikan obat-obat
analgesik, juga diberikan terapi tambahan yang sesuai dengan kondisi
pasien. Obat-obat sebagai terapi tambahan tersebut diantaranya adalah
dengan pemberian antidepresan, antikonvulsi, kortikosteroid,
antiemetik, antihistamin, dan laksatif.

Penanganan nyeri pada kelima pasien tersebut, selain diberikan terapi


farmakologis, juga diberikan terapi non farmakologis, diantaranya
dengan mengajarkan relaksasi napas dalam, penerapan image guidary,
penerapan teknik distraksi, dan juga pemberian terapi musik. Terapi
musik yang diberikan dengan memutar lagu anak-anak menggunakan
musix box portable, pasien mendengarkan lagu-lagu tersebut diantara
waktu pemberian analgetik kurang lebih 1 jam. Selain menggunakan
musix box portable, residen juga memfasilitasi pemutaran vidoe

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
79 
 

dengan menggunakan video player portable. Pada umumnya


pemberian terapi musik dapat mengurangi nyeri yang dialami oleh
pasien, pasien menjadi lebih rileks, meskipun pada pasien yang
mengalami nyeri hebat, terapi musik tidak dapat mengurangi skala
nyeri. Terapi musik efektif dapat mengurangi nyeri ringan dan sedang,
tetapi kurang efektif untuk pasien yang mengalami nyeri berat (Klassen et
al., 2010).

4.1.4 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi terhadap intervensi yang telah dilakukan adalah dengan
menilai respon yang muncul dari pasien. Setelah evaluasi didapatkan
pasien mampu beradaptasi terhadap rasa nyeri yang dialami, skala
nyeri berkurang, pasien lebih rileks, dan pasien mampu menggunakan
beberapa manajemen nyeri saat nyeri dirasakan. Perfusi jaringan
cerebral teratasi ditunjukkan dengan nyeri kepala berkurang, mual
muntah berkurang, tidak ditemukannya sel blast dalam cairan
cerebrospinal. Bersihan jalan napas efektif, dengan menunjukkan
status oksigenasi baik, tidak sianosis, irama pernafasan reguler. Risiko
kekurangan volume cairan tidak terjadi, dengan menunjukkan status
cairan yang adekuat, mukosa bibir lembab, turgor elastis, tanda-tanda
vital dalam batas normal. Koping individu efektif, dengan
menunjukkan adanya perubahan koping saat mengalami nyeri, hal ini
menunjukkan koping yang adaptif.

Asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada kelima pasien kelolaan


berdasarkan model Adaptasi Roy, secara umum dapat diaplikasikan pada
pasien kelolaan melalui format pengkajian yang dikembangkan oleh
mahasiswa residensi keperawatan anak. Akan tetapi pada pengkajian mode
konsep diri agak sulit dilakukan pada pasien usia prasekolah. 

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
80 
 

4.2 Pembahasan Praktik Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian


Target
Mahasiswa residensi keperawatan anak telah menjalani praktik spesialis
keperawatan anak selama 2 semester di RSCM. Selama menjalani praktik
spesialis keperawatan anak ini, mahasiswa residensi keperawatan anak
melewati beberapa stase ruang perawatan anak, diantaranya adalah ruang
Perinatologi, ruang perawatan Non Infeksi, dan ruang ICU Anak. Peminatan
khusus yang residen pilih adalah keperawatan anak di ruang Non Infeksi
Anak.

Dalam upaya pencapaian target kompetensi sebagai calon spesialis


keperawatan anak, residen secara umum telah mencapai kompetensi yang
telah ditetapkan, terutama menjalani peran sebagai perawat primer dalam
memberikan asuhan keperawatan pada anak di ruang Non Infeksi. Dalam
pencapaian target kompetensi ini tentunya residen didukung oleh pihak
manajemen Gedung A RSCM dan pihak ruang Non Infeksi Anak yang
memberikan kesempatan untuk mengelola pasien anak yang menderita
kanker.

Peran sebagai praktisi asuhan keperawatan dalam area keperawatan anak


dapat terlaksana, residen mempunyai kesempatan dalam mengelola pasien
secara langsung, hal ini membuat mahasiswa residensi keperawatan anak
dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dan mencapai beberapa
target yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi penyakit pasien masing-
masing. Proses asuhan keperawatan diawali dengan melakukan pengkajian,
menentukan masalah keperawatan yang muncul, menyusun rencana
keperawatan, melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan
melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang dilakukan. Asuhan
keperawatan ini dilaksanakan dengan berfokus pada salah satu model
keperawatan yaitu model adaptasi Roy, dan berdasarkan model keperawatan
tersebut, residens sebelumnya telah mengembangkan format pengkajian yang
kemudian digunakan pada setiap pasien kelolaan.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
81 
 

Peran perawat spesialis sebagai pendidik dan konsultan dapat tercapai,


dimana residen keperawatan anak mempunyai kesempatan untuk memberikan
pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarganya, dan juga memberikan
bimbingan kepada perawat NTC yang sedang magang di ruang Non Infeksi
Anak, selain itu residen keperawatan anak dapat berdiskusi langsung dengan
mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak (PPDS Anak), ahli
gizi, dan perawat ruang Non Infeksi Anak terkait kondisi pasien yang
dikelola. Mahasiswa residensi keperawatan anak juga mendapatkan
bimbingan dan supervisi dari pembimbing akademik dalam melakukan
asuhan keperawatan pada pasien kelolaan selama praktik di ruang Non
Infeksi Anak.

Peran perawat spesialis sebagai advokat juga dapat dilakukan, dimana residen
dalam memberikan asuhan keperawatan telah berupaya memberikan praktik
keperawatan yang memegang prinsip profesional, etis, legal dan peka budaya.
Prinsip tersebut dipenuhi melalui pemberian asuhan keperawatan yang
berfokus pada memberikan yang terbaik bagi pasien, mencegah efek tindakan
keperawatan yang merugikan pasien, merawat pasien dengan menjaga privasi
pasien, serta menghargai dan memberikan kesempatan pada keluarga untuk
menerapkan budaya yang mereka percayai pada pasien, selama budaya
tersebut tidak memiliki pengaruh buruk pada kondisi pasien.

Peran perawat spesialis sebagai peneliti juga dapat dilakukan, yaitu


mahasiswa residensi keperawatan anak melakukan proyek inovasi yang
menjadi target kompetesi seorang perawat sebagai change agent untuk dapat
menerapkan hal baru dalam pemberian perawatan pada pasien. Proyek
inovasi yang mahasiswa residensi keperawatan anak lakukan adalah
melakukan intervensi keperawatan dalam manajemen nyeri berdasarkan
Evidence Based Practice menggunakan teknik distraksi berupa pemberian
terapi musik pada anak penderita kanker. Inovasi ini dipilih oleh residen
keperawatan anak untuk diaplikasikan karena ruang Non Infeksi Anak belum

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
82 
 

menerapkan penanganan nyeri melalui teknik distraksi dengan pemberian


terapi musik. Dalam pelaksanaan target kompetensi ini, mahasiswa residensi
keperawatan anak mendapat dukungan dari pihak manajemen Gedung A
RSCM untuk dapat melaksanakan proyek inovasi. Bentuk dukungan yang
diberikan adalah berupa bimbingan dalam memahami proses dan tahapan
dalam penerapan evidence based practice (EBP) atau evidence based nursing
(EBN) pada pasien, bimbingan dalam memilih jurnal-jurnal penelitian yang
mendukung penerapan EBP atau EBN, serta persetujuan pelaksanaan proyek
inovasi di ruang Non Infeksi Anak.

Pelaksanaan penerapan EBN di ruang Non Infeksi Anak yang menjadi proyek
inovasi dan target pencapaian kompetensi mahasiswa residensi keperawatan
anak dapat berjalan sesuai harapan. Hambatan yang dialami adalah saat
implementasi ada keluarga pasien yang berbincang-bincang dengan volume
agak keras, sehingga anak-anak di ruang perawatan terkadang kurang fokus
mendengarkan musik yang diputar, begitu pula saat ronde medis karena
banyak orang yang masuk ke ruangan, hal ini menyebabkan anak-anak
kurang mendengarkan lagu yang diputar. Meskipun demikian diluar waktu
yang ditentukan, pasien dapat memutar lagu atau video secara individu.

Secara umum pelaksanaan dan pencapaian target kompetensi di ruang Non


Infeksi Anak oleh mahasiswa residensi keperawatan anak telah berjalan
dengan baik atas dukungan banyak pihak. Melalui praktik spesialis
keperawatan ini, mahasiswa residensi keperawatan anak mendapat banyak
pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam mengelola pasien anak
terutama pada pasien anak dengan kanker. Mahasiswa residensi keperawatan
anak akan berupaya untuk mempertahankan bahkan mengembangkan lebih
lanjut pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan anak kanker
sebagai suatu kompetensi khusus dari seorang spesialis keperawatan anak.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN 

5.1 Kesimpulan
Pemberian asuhan keperawatan pada lima pasien kelolaan dengan masalah
nyeri berdasarkan model adaptasi Sister Calista Roy secara umum dapat
diterapkan dengan baik. Tahapan asuhan keperawatan menurut model
adaptasi ini diawali dengan tahap pengkajian perilaku dan pengkajian
stimulus, penentuan diagnosis keperawatan, penetapan tujuan, intervensi, dan
evaluasi.

Model Adaptasi Sister Calista Roy menyatakan bahwa adanya gangguan pada
salah satu mode adaptasi maka akan mempengaruhi mekanisme koping
individu dalam beradaptasi, sehingga upaya mengatasi masalah yang muncul
pada salah satu adaptasi adalah membantu pasien untuk dapat beradaptasi
dengan menunjukkan perilaku yang adaptif. Untuk itu, pengkajian perilaku
dan stimulus harus dilakukan berdasarkan empat mode adaptasi yang
dikembangkan oleh Roy, yaitu mode adaptasi fisiologis, mode adaptasi
konsep diri, mode adaptasi fungsi peran, dan mode adaptasi interdependensi.
Secara umum, pasien anak penderita kanker yang menjalani perawatan di
ruang Non Infeksi Anak mengalami masalah nyeri yang terus menerus
sehingga diperlukan intervensi agar pasien mampu beradaptasi terhadap rasa
nyeri yang dialaminya.

Selanjutnya, dalam menentukan masalah keperawatan atau penegakan


diagnosis keperawatan, digunakan diagnosis keperawatan NANDA 2012-
2014. Setelah diagnosis keperawatan ditegakkan, penetapan tujuan disusun
untuk menentukan kriteria pencapaian masalah yang muncul, rencana
keperawatan disusun dan dilaksanakan sebagai intervensi keperawatan untuk
membantu pasien beradaptasi terhadap masalah yang muncul. Tahap akhir
adalah evaluasi keperawatan, evaluasi keperawatan dilakukan dengan melihat

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


respon adaptasi pasien terhadap tindakan yang diberikan, yang akhirnya
diharapkan tercapainya respon yang adaptif.

Peran yang dijalani residen keperawatan anak dalam memberikan asuhan


keperawatan merupakan salah satu peran sebagai perawat primer, yaitu
sebagai praktisi asuhan keperawatan (care giver). Dalam memberikan asuhan
keperawatan, mahasiswa residensi keperawatan anak juga memegang prinsip
etik, legal dan peka budaya sebagai cerminan praktik profesional seorang
perawat. Peran lainnya yang juga telah dilaksanakan adalah peran pendidik,
advokat, dan peneliti. Peran pendidik dicapai oleh mahasiswa residensi
keperawatan anak dengan melakukan edukasi pada keluarga pasien,
bimbingan kepada perawat NTC RSCM, dan diskusi dengan perawat ruangan
secara informal. Peran advokat dicapai dengan pemberian informasi yang
lengkap pada keluarga dan memberikan yang terbaik serta mencegah tindakan
yang dapat merugikan pasien. Sedangkan peran peneliti dicapai melalui
eksplorasi jurnal-jurnal penelitian dan sosialisasi evidence based nursing
(EBN) kepada perawat ruang Non Infeksi Anak.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Layanan Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien, perawat memiliki
peran penting sebagai pengelola pasien selama 24 jam. Melalui
pengembangan model adaptasi Roy yang telah diterapkan oleh
mahasiswa residensi keperawatan anak, dapat menjadi masukan bagi
layanan keperawatan untuk mengelola pasien berdasarkan pendekatan
teori-teori keperawatan yang sama ataupun teori keperawatan lainnya.
Selain itu perawat dalam menjalani praktik keperawatannya harus
berpegang pada prinsip etik, legal dan peka budaya sebagai bentuk
praktik profesional seorang perawat. Dalam menangani pasien kanker
yang mempunyai masalah nyeri dapat menerapkan manajemen nyeri,
diantaranya dengan memberikan terapi musik, dan juga membantu
pasien untuk beradaptasi terhadap nyeri yang dialaminya, dan selain itu

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


85 

penilaian skala nyeri dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui


efektifias terapi yang sudah diberikan.

5.2.2 Bagi Pendidikan


Dalam menerapkan teori keperawatan yang sesuai dengan kekhususan
atau peminatan yang akan dipilih oleh mahasiswa residensi
keperawatan anak, sebaiknya teori keperawatan yang akan diterapkan,
dilakukan uji coba efektifitas penggunaan terlebih dulu sebelum praktik
residensi keperawatan anak dilaksanakan. Dengan demikian, penerapan
teori keperawatan tersebut akan lebih efektif dan sesuai dengan kasus-
kasus yang ditemukan pada unit perawatan yang diminati oleh
mahasiswa residensi keperawatan anak.

5.2.3 Ners Spesialis Keperawatan Anak


Sebagai seorang ners spesialis keperawatan anak diharapkan dapat terus
mengembangkan ilmu dan pengetahuan dibidang keperawatan anak.
Upaya pengembangan ilmu dan pengetahuan tersebut dapat dilakukan
dengan terus melakukan penelitian berbasis evidence based practice,
meningkatkan keterampilan, dan terus berfikir inovatif, sehingga dapat
meningkatkan kualitas dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien anak penderita kanker serta keluarga pasien.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
DAFTAR PUSTAKA

Ackley, B.J., & Ladwig, G.B., (2011). Nursing Diagnosis Handbook: An


Evidence-Based Guide to Planning Care. Ninth Edition. St. Louis: Mosby.

Afrasiabifar, A., Karimi, Z., & Hassani, P. (2013). Roy’s Adaptation Model-
Based Patient Education for Promoting the Adaptation of Hemodialysis
Patients. Iranian Red Crescent Medical Journal. 15(7).

Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI), Asosiasi Institusi


Pendidikan Diploma Tiga Keperawatan Indonesia (AIPDIKI) dan
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2012). Draft Naskah
Akademik Sistem Pendidikan Keperawatan Di Indonesia. Diunduh dari
www.hpeq.dikti.go.id. Pada tanggal 20 November 2013.

Bakan, G., & Akyol, AD. (2007). Theory Guided Interventions for Adaptation to
Heart Failure. JAN Original Research.

British Pain Society. (2010). Cancer Pain Management A Perspective From the
British Pain Society, Supported By the Association for Paliative Medicine
and the Royal College of General Practitioner. The British Pain Society.

Caprili, S., Anastasi, F., Grotto, RP., Scollo, AM., & Messeri, A. (2007).
Intercative music as a Treatment for Pain and Stress in Children during
Venipuncture: A Randomized Prospective Study. Journal Dev Behaviour
Pediatric. 28(5).

Carver, AC., & Foley, KM., (2008). Complications of Cancer and Its Treatment
In Cancer Medicine. 6th ed. USA: American Pain Society.

Catane, R., Cherny, N.I., Kloke, M., Tanneberger, S., & Schrijvers, D. (2006).
Hanbook of Advanced Cancer Care. USA: Taylor & Francis.

Corbin, L. (2005). Safety and Efficacy of Massage Therapy for Patients with
Cancer. Cancer Control. 12(3).

Gescedi, RA. (2002). Massase Therapy for Patients with Cancer. Clinical Journal
of Oncology Nursing. 6(1).

Guyton, A. C. & Hall, J.E. (2008). Buku ajar fisiologi kedokteran. edisi 11.
Jakarta : EGC.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s Essensial of Pediatric Nursing.
Eight Edition, St. Louis: Mosby.

Holdcroft, A., & Power, I., (2003). Management of Cancer Pain: Recent
Developments. British Medical Journal. 326.

Hooke, C., Hellsten, M.B., Stutzer, C., & Forte, K., (2001). Pain Management for
the Child with Cancer in End of Life Care. Association of Pediatric
Hematology Oncology Nurses.

IARC (2008). Incidence cancer in Indonesian. http://globocan.iarc.fr/. Diunduh 6


Februari 2012

IASP., (2009). Cancer Pain in Children. International association for the Study of
Pain.

International Council of Nurses. (2003). ICN Framework of Competencies for the


Generalis Nurse. Geneva.

James, S.R., Nelson, K.A., & Ashwill, J.W., (2013). Nursing Care of Children
Principles & Practice. Fourth Edition. St. Louis: Elsevier Saunders.

Klassen, J., et al. (2008). Music for Pain and Anxiety in Children Undergoing
Medical Procedures: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials.
Ambulatory Pediatrics.

Kozier, B. (2008). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process and Practice. St


Louis: Elseiver Mosby.

Lanzkowsky, P. (2006). Manual of Pediatric Hematology and Oncology (4th


Edition). USA: Elsevier Academic Press.

Lindenfelser, KJ., Hense, C., & McFerran, K. (2012). Music Therapy in Pediatric
Palliative Care: Family Centered Care to Enhance Quality of Life. AM
Journal Hosital Palliative Care. 29(3).

Manthy, PW., et al. (2002). Molecular Mechanism of Cancer Pain. Nature.


403(2).

Melzack, R., & Wall, P. (2003). Handbook of Pain Management: A Clinical


Companion to Wall and Melzack’s Textbook of Pain. UK: Chruchill
Livingstone.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


88 
 

Mishra, S., et al. (2009). Pediatric Cancer Pain Management at A Regional Cancer
Center: Implementation of WHO Analgesic Ladder. M E J Anesth. 20(2).

Monga, TN., & Grabois, M. (2002). Pain Management in Rehabilitation. New


York: Demos Medical Publishing.

Nanda., (2012). Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta: EGC.

Naylor, K.T., Kingsnorth, S., Lamont, A., McKeever, P., & Macarthur, C., (2010).
The Effectiveness of Music in Pediatric Healthcare : A Systematic Review of
Randomized Controlled Trials. The Cochrane Database.

Nguyen, T.N., Nilsson, S., Hellstrom, A.L., & Bengtson, A., (2010). Music
Therapy to Reduce Pain and Aniety in Children With Cancer Undergoing
Lumbar Puncture: A Randomi Vezed Clinical Trial. The Cochrane Database.

Noguchi, LK. (2006). The Effetct of Music versus Nonmusic on Behavioural


Signs of Distress and self-report of Pain in Pediatric Injection Patients.
Journal Music Therapy. 43(1).

Regan, MJ., & Peng, P., (2000). Neurophisiology of Cancer Pain. Cancer Cont.
7(2).

Otto, S.E. (2001). Oncology Nursing (4th Edition). St Louis: Mosby.

Paice, JA. (2003). Mechanisms and Management of Neuropathic Pain in Cancer.


Journal Support Oncology. 1(2).

Permono, B., Sutaryo., Ugrasena, I.D.G., Windiastuti, E., & Abdulsalam., (2006).
Buku Ajar Hematologi Onkologi Anak (cetakan kedua). Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia.

Perry, A.G., Potter, P.A., & Elkin, M.K. (2012). Nursing Intervention & Clinical
Skills (5th Edition). St Louis: Elseiver Mosby.

PPNI. (2010). Standar Profesi Perawat Indonesia.

Price, S.A., & Wilson, L.M. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit (Edisi 6). Jakarta: EGC.

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
89 
 

Sherwood, L., (2001). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem (Edisi 2). Jakarta:
EGC.

Tan, X., Yowler, CJ., Super, DM., & Fratianne, RB., (2010). The Efficacy of
Music Therapy Protocols for Decreasing Pain, Anxiety, and Muscle Tension
Levels during Burn Dressing Changes: A Prospective Randomized Crossover
Trial. Journal Burn Care Res. 31(4).

Tomey, A.M., & Alligood, M.R. (2010). Nursing Theory Utilization &
Application (3th ed.). St Louis: Mosby Elsevier Inc.

Tomlinson, D., & Kline, N.E. (2005). Pediatric Oncology Nursing Advanced
Clinical Handbook. Germany: Spinger.

Wesa, K., Gubili, J., & Cassileth, B. (2008). Integrative Oncology:


Complementary Therapies for Cancer Survivors. Hematology/Oncology
Clinics of North America. 22(1).

WHO (1998). Cancer Pain Relief and Palliative Care in Children. Geneva:
WHO.

WHO (2011). Cancer. http://www.who.int/features/qa/15/en/index.html. diunduh


29 Januari 2012

Windich-Biermeier, A., Sjoberg, I., Dale, JC., Eshelman, D., & Guzzetta, CE.,
(2007). Effects of Distraction on Pain, Fear, and Distress During Venous
Port Access and Venipuncture in Children and Adolescents With Cancer.
Journal of Pediatric Oncology Nursing. 24(1).

Yeh, C., (2001). Adaptation in Children with Cancer: Research with Roy’s Model.
Nursing Science Quartely. 14(2).

Universitas Indonesia
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
LAMPIRAN 1

Format Proses Keperawatan


Berdasarkan Pendekatan Model Adaptasi Roy

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN PENDEKATAN MODEL ADAPTASI ROY
IDENTITAS PASIEN
Nama : .................................................... No RM : ....................................................
Tanggal lahir : .................................................... Diagnosa Medis : ....................................................
Usia : .................................................... Tanggal Masuk : ....................................................
Jenis Kelamin : .................................................... Tanggal Pengkajian : ....................................................
Agama : ....................................................

RIWAYAT KESEHATAN
Keluahan Utama :
............................................................................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
Riwayat Kesehatan Sekarang
............................................................................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
Riwayat Kesehatan Masa Lalu
1. Penyakit yang pernah diderita : ..........................................................................................................................................
2. Riwayat Imunisasi : ..........................................................................................................................................
3. Riwayat Hospitalisasi : ..........................................................................................................................................
4. Riwayat Alergi : ..........................................................................................................................................
5. Riwayat Tumbuh Kembang : ..........................................................................................................................................

Riwayat Kesehatan Keluarga


Asma Hipertensi Penyakit Jantung Diabetes Militus Kanker Lain-lain : .................................
...........................................................................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................................................................
I. MODE FISIOLOGIS FISIK
A. OKSIGENASI
PERILAKU
Ventilasi Normal : Frekuensi ....... x/menit Teratur Tidak Teratur
Trakeostomi Penggunaan Oksigen : .......... L/menit ................................................
Sekret, karakteristik : ......................................................................................................................

Respirasi Sesak nafas Nafas cuping hidung Retraksi dada Palpitasi


Vesikuler Ronchi Wheezing Krakels
Batuk Hemoptosis Lain-lain : ............................................................

Pertukaran Gas AGD (tgl : ...........) pH: ...................... PaO2 : ............. mmHg PaCO2 : ............. mmHg
HCO3 : ............. mEq/L BE : ................. Saturasi O2 : ...........%

Transport Gas Nadi : ............ x/menit Reguler Irreguler TD : .................. mmHg


Akral : Hangat Dingin
Anemis Pucat Sianosis Clubbing finger Pusing

Bunyi Jantung : BJ I/II Normal Gallop Murmur

Hasil Laboratorium (tgl : ............) : ................................................................................................................................................


............................................................................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
Foto Thorax (tgl: .......) : ............................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................................................................
CT Scan (tgl: .................) : .............................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................................................................

STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


B. CAIRAN DAN ELEKTROLIT
PERILAKU
Minum : .................... Cc/hari, jenis : ...................................
Ubun-Ubun : Rata Cekung
Mata : Cekung Tidak Airmata : Ada Tidak Ada
Mukosa mulut : Lembab Kering Turgor : Elastis Kurang Elastis Tidak Elastis
Edema : Tidak Ya, di ...................... Asites : Tidak Ya, Lingkar perut : .............. Cm
Muntah : Ada Tidak Ada , Frekuensi _____x/hari, Volume : _____cc
Diare : Ada Tidak Ada , Frekuensi _____x/hari, Volume : _____cc
Perdarahan : Tidak Ada Ada : Petekie Ekimosis Purpura , Lokasi : ____________ Volume : _____cc
Cairan Infus : Tidak Ya , Jenis : 1). ............................................
2). ...........................................
Balance cairan: _______ cc Diuresis :____cc/KgBB/Jam
Hasil lab (tgl ..................) : Ht ................, Ur ............. mg/dl Cr ............... mg/dl
Na ....... mEq/L, K ....... mEq/L, Cl ........ mEq/L, Mg ........... mEq/L, CI ......... mEq/L, Ca ........ mEq/
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
C. NUTRISI
PERILAKU
BB saat ini : ______ Kg, BB sebelum sakit: ______Kg, TB : ______cm LLA : ................ Cm
Diet : ASI Susu formula Bubur Nasi Tim Nasi Lain-lain: .............................
Puasa : Ya Tidak Frekuensi makan : ........... x/hari Porsi Makan : ........................
Cara makan/minum : Oral NGT OGT Gastrostomi Jumlah minum : ............... ml/hari
Kualitas makanan : Kurang Cukup Baik
Mual : Ya Tidak Stomatitis : Tidak Ya, Derajat : .............................
Lidah : Bersih Kotor Gigi : Bersih Kotor Karies
Mulut : Normal Labio schizis Palato schiziz Labiopalato schiziz
Abdomen : Supel Kembung Tegang Terdapat Massa, di ..................................
Bising usus : …………. x/mnt Nyeri tekan abdomen : Ya Tidak
Hepar : Tidak teraba Hepatomegali Lien : Tidak teraba Splenomegali
Hasil lab (tgl .......) : GDS : ........ mg/dl, Hb ......... g/dl, Protein total ........ mg/dl, Albumin ....... mg/dl, Globulin: ....... mg/dl
SGOT ......... U/I, SGPT ........ U/I, Bilirubin total ........ mg/dl, Bilirubin direk ........ mg/dl, Bilirubin indirek...... mg/d
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
D. ELIMINASI
PERILAKU
Buang Air Kecil : Frekuensi ........... x/hari Oliguria Disuria Anuria incontinentia Retensi
Eliminasi urin : Spontan Dower Kateter Sitostomi Nefrostomi Volume : ................. cc/hari
Nyeri saat berkemih : Ada Tidak Ada
Warna Urin : Kuning Jernih Kuning Pekat Merah
Nyeri tekan ginjal : Ya Tidak Bladder : Penuh Kosong
Buang Air Besar : Frekuensi .......... x/hari Normal Diare Konstipasi
Karakteristik Feses : Lembek Cair Padat Berbusa Bau Asam
Warna Feses : Kuning Hijau Merah
Anus : Ada lubang Tidak berlubang
Kolostomi / Ilestomi : Ya Tidak
Hasil Lab (tgl ..........)
Laboratorium Urin lengkap/Urin Kultur : ...........................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................................................
Laboratorium Feses lengkap/ Feses Analisa: ...................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................................................
USG Ginjal dan saluran kemih : ............................................................................................................................................................
Lain-lain : ,...............................................................................................................................................................................................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


E. AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT
PERILAKU
Postur tubuh : Normal Tidak normal
Berjalan : Normal Tidak normal
Aktivitas anak : Hiperaktif Aktif Pasif
Keterbatasan Pembatasan Kelemahan ekstermitas
Gerakan : Aktif Lemah
Paralise : Tidak Ya, Tangan, kiri / kanan / keduanya Kaki, kiri / kanan /keduanya
Tonus Otot : Normal Atrofi Hipertrofi
Mobilisasi : Bedrest total Ditempat tidur
Gangguan neuromuskuler : ..............................................................................
Jumlah jam tidur : Tidur siang ................. jam Tidur malam : ............. jam
Kebiasaan sebelum tidur : Minum susu Bermain Mengangis
Kesulitan Tidur : Ya Tidak
Tidur dgn bantuan obat : Ya Tidak
Hasil Rontgen (tgl ..........) : ............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
F. PROTEKSI
PERILAKU
Kulit : Luka , Karakteristik : ............................................, Lokasi : ...................................
Extravasasi, Penyebab : ......................................, Lokasi : ...................................
Drainase , Karakteristik : ....................................., Lokasi : ...................................
Lainnya, ....................................................................................................................
Rambut : Bersih Kotor
Kuku : Bersih Kotor
Alergi : Tidak ada Ada, jenis : ...........................................
Respon Inflamasi : Kemerahan Panas Tidak ada
Suhu : ................... O C
Leukosit (tgl) : .............................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
G. SENSASI
PERILAKU
Penglihatan : Tak ada kelainan Kacamata/lensa kontak Ptosis Tumor Buta
Pendengaran : Tak ada kelainan Aat bantu dengar Tumor Buta
Keluar cairan, warna : ............................... Kanan/Kiri/Keduanya
Nyeri : Skala : ............................................
Karakteristik : ..................................................................................................
Lokasi : .................................................................................................
Waktu : .................................................................................................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
H. NEUROLOGI
PERILAKU
Kesadaran : E.... M ..... V....... Compos mentis Apatis Somnolen Koma
Status Mental : Terorientasi Disorientasi Gelisah Halusinasi Kehilangan memori
Pupil : Ιsokor Anisokor Kaku kuduk : Negatif Positif
Babinsky : Negatif Positif Kerniq Sign : Negatif Positif
Brudzinsky I : Negatif Positif Brudzinsky II : Negatif Positif
Nervus kranialis : .................................................................................................................................................................................
Hasil Laboratorium (tgl .........) : ........................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................................................................

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


Hasil CT Scan Kepala (tgl .........) : ....................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................................................................
Hasil MRI (tgl .........) : ........................................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................................................................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
I. ENDOKRIN
PERILAKU

STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
II. MODE KONSEP DIRI
1. The Physical Self
Perubahan Fisik : Tidak ada Ada , .................................................................................................................................
Respon terhadap kondisi saat ini : ...........................................................................................................................................
Pandangan pasien mengenai kondisi saat ini : ......................................................................................................................
2.T he Personal Self
Kepatuhan terhadap program pengobatan : Patuh Tidak patuh
Motivasi untuk sehat : Tinggi Rendah Tidak terkaji
Perasaan yang muncul dengan kondisi saat ini : Takut /cemas kehilangan kemampuan tubuh
Perasaan tidak berdaya
Harapan dan kepercayaan pasien : ...............................................................................................................................................
STIMULUS
F k l
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
III. MODE FUNGSI PERAN
PERILAKU
Peran Primer:
Jenis Kelamin : ..................................... Tumbuh Kembang : .............................................................................
Peran Sekunder
Anak Pelajar
Kegagalan Peran : Tidak Ya , Penyebab : ..............................................................................................................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
IV. MODE INTERDEPENDENSI
PERILAKU
Tingkat kemandirian : : ........................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
Kemampuan menerima dan memberi : ........................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
Kecemasan : ........................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
Perasaan kesepian : ........................................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................
STIMULUS
Fokal : ...................................................................................................................................................................................
Kontekstual : ...................................................................................................................................................................................
Residual : ...................................................................................................................................................................................
Jakarta, ............................... 2013

(..............................................)

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


INTERVENSI KEPERAWATAN BERDASARKAN PENDEKATAN MODEL ADAPTASI ROY

Nama Pasien : Umur : No.RM :


No Mode Perilaku Stimulus Diagnosa Keperawatan NOC NIC TTd

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
DENGAN PENDEKATAN MODEL ADAPTASI ROY
Nama : Umur : No.RM:
Tgl/Jam Dx Implementasi Evaluasi TTd

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 2

KONTRAK BELAJAR
PRAKTEK RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK I
PRAKTEK RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK II

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

KONTRAK BELAJAR

PRAKTEK RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK I SEMESTER GENAP 2012/2013

Disusun Dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti


Praktek Ners Spesialis Keperawatan Anak

Disusun Oleh : Nurhidayatun


NPM : 1006800983

PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2013
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
KONTRAK BELAJAR PRAKTEK RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK (SPESIALIS I)
PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK
FIK UI, SEMESTER GENAP 2012/2013

Nama Mahasiswa : Nurhidayatun (NPM: 1006800983)


Tujuan Umum : Setelah menyelesaikan kegiatan praktek residensi keperawatan anak (spesialis 1), mahasiswa mampu melaksanakan peran dan fungsi
perawat dalam memberikan asuhan keperawatan anak (0-18 tahun) dengan menerapkan berbagai ilmu kesehatan, konsep dan teori keperawatan, temuan
riset, serta kebijakan pemerintah pada neonatus, maupun anak dengan penyakit akut maupun kronik.

Waktu Pelaksanaan
No. Lingkup Praktek Aktivitas Metode
Feb Maret 2013 April 2013 Mei 2013 Juni 2013
RUANG PERINATOLOGI 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
1 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi baru lahir normal meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam lapangan,
bayi baru lahir lahir, dan jenis kelamin. diskusi,
normal 5 kasus b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi bimbingan
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, dengan
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan supervisor
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit,
keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus, kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia,
anus, reflek fisiologis, reflek patologis.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya:
a. Melakukan perawatan bayi baru lahir: menghangatkan bayi,
membersihkan bayi, oksigenasi, membebaskan jalan nafas,
dan perawatan tali pusat.
b. Melakukan pemberian injeksi vitamin K dan terapi lain
sesuai indikasi.
c. Melakukan tindakan pencegahan hipotermi dengan
memodifikasi ruangan dan mencegah kontak langsung
dalam waktu yang lama antara kulit bayi dengan suhu
ruangan Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
d. Memandikan bayi minimal 6 jam setelah kelahiran
e. Memberikan nutrisi (ASI) sesuai dengan kebutuhan bayi
f. Melakukan pemberian imunisasi untuk usia 0 bulan
(hepatitis B)
g. Memfasilitasi rawat gabung dan laktasi
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
2 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi berat lahir rendah, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam lapangan,
bayi dengan kasus lahir, dan jenis kelamin. diskusi,
BBLR sebanyak 3 b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi bimbingan
kasus saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, dengan
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan supervisor
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BBLR:
1500-2500 gram, BBLSR: <1500 gram, PB, LK, LD, Lila),
vital sign, keadaan umum, warna kulit, keaktifan, tangisan
bayi, wajah neonatus, kepala, mata, telinga, hidung, mulut,
leher, dada, abdomen, genitalia, anus, reflek fisiologis,
reflek patologis.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya:
a. Melakukan perawatan bayi baru lahir: menghangatkan bayi
(menempatkan dalam inkubator), membersihkan bayi,
oksigenasi, membebaskan jalan nafas, dan perawatan tali
pusat.
b. Melakukan pemberian injeksi vitamin K dan terapi lain
sesuai indikasi.
c. Melakukan tindakan pencegahan hipotermi dengan
memodifikasi ruangan dan mencegah kontak langsung
dalam waktu yang lama antara kulit bayi dengan suhu
ruangan
d. Memandikan bayi minimal 6 jam setelah kelahiran
e. Memberikan nutrisi (ASI) sesuai dengan kebutuhan bayi,
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
memberikan nutrisi parenteral atau tube feeding sesuai
dengan kebutuhan bayi.
f. Melakukan perawatan metode kanggoro dan memfasilitasi
laktasi.
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
3 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi prematur, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam lapangan,
bayi pematur lahir, dan jenis kelamin. diskusi,
sebanyak 2 kasus b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi bimbingan
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, dengan
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan supervisor
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit,
keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus, kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia,
anus, reflek fisiologis, reflek patologis. Menilai usia gestasi
dengan menggunakan ballard skor.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya
a. Melakukan perawatan bayi baru lahir: menghangatkan bayi
(menempatkan dalam inkubator), membersihkan bayi,
oksigenasi, membebaskan jalan nafas, dan perawatan tali
pusat.
b. Melakukan pemberian injeksi vitamin K dan terapi lain
sesuai indikasi.
c. Melakukan tindakan pencegahan hipotermi dengan
memodifikasi ruangan dan mencegah kontak langsung
dalam waktu yang lama antara kulit bayi dengan suhu
ruangan
d. Memandikan bayi minimal 6 jam setelah kelahiran
e. Memberikan nutrisi (ASI) sesuai dengan kebutuhan bayi,
dan memberikan nutrisi parenteralAplikasi
sesuaimodel…,
denganNurhidayatun,
kebutuhan FIK UI, 2014
bayi.
f. Melakukan perawatan metode kanggoro dan memfasilitasi
laktasi.
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
4 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi dengan masalah respirasil Praktik
keperawatan pada meliputi: lapangan,
bayi dengan a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam diskusi,
masalah respirasi lahir, dan jenis kelamin. bimbingan
sebanyak 3 kasus b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi dengan
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, supervisor
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit,
keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus, kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada (bentuk dada, tarikan
dinding dada, suara paru), abdomen, genitalia, anus, reflek
fisiologis, reflek patologis, adanya sianosia, saturasi
oksigen.
d. Kolaborasi pemeriksaan analisa gas darah, darah lengkap,
dan pemeriksaan thorax foto.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya
a. Memberikan oksigen melalui nasal kanul, sungkup, atau
CPAP.
b. Memonitor vital sign dan saturasi oksigen(status kardio
respirasi)
c. Memberikan terapi sesuai indikasi
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
5 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi dengan hipoglikemia, Praktik
keperawatan pada meliputi: lapangan,
bayi dengan a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam diskusi,
hipoglikemi lahir, dan jenis kelamin. bimbingan
sebanyak 1 kasus b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi dengan
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, supervisor
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit,
keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus, kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia,
anus, reflek fisiologis, reflek patologis.
d. Kolaborasi pemeriksaan glukosa darah (glukosa darah < 20
mg/dl, prematur 1-72 jam: <30 mg/dl, aterm 1-72 jam: <45-
60 mg/dl)
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya
a. Memberikan koreksi glukosa secara parenteral
b. Memonitor gejala hipoglikemia dan kadar glukosa darah
c. Menghangatkan bayi untuk menghindari penggunaan energi
yang berlebih, dengan menerapkan teori konservasi energi.
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
6 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi dengan hiperglikemi, Praktik
keperawatan pada meliputi: lapangan,
bayi dengan a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam diskusi,
hiperglikemi lahir, dan jenis kelamin. Riwayat ibu dengan diabetes bimbingan
sebanyak 1 kasus militus. dengan
b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi supervisor
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6,
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit,
keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus, kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia,
anus, reflek fisiologis, reflek patologis.
d. Kolaborasi pemeriksaan glukosa darah (glukosa darah >300
mg/dl), urin lengkap, keton darah, HbA1c.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
7 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi dengan hiperbilirubin, Praktik
keperawatan pada meliputi: lapangan,
bayi dengan a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam diskusi,
hiperbilirubinemia lahir, dan jenis kelamin. bimbingan
sebanyak 2 kasus b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi dengan
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, supervisor
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit
(kuning/jundice), keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus,
kepala, mata (sklera ikterik), telinga, hidung, mulut, leher,
dada, abdomen, genitalia, anus, reflek fisiologis, reflek
patologis. Menilai usia gestasi dengan menggunakan ballard
skor.
d. Kolaborasi pemeriksaan kadar biliribun.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya
a. Memonitor warna kulit, sklera
b. Menyiapkan bayi untuk dilakukanAplikasi
fototerapi (perlindungan
model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
organ vital dan mata)
c. Menghitung dan memenuhi kebutuhan cairan bayi
d. Memberikan fototerapi (blue light) sesuai indikasi.
e. Memfasilitasi pemberian ASI
f. Memonitor efek neurlogis dari hiperbilirubinemia
g. Memonitor kadar bilirubin
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
8 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada bayi dengan penyakit infeksi Praktik
keperawatan pada meliputi: lapangan,
bayi dengan a. Identifikasi bayi, meliputi: nama orang tua, tanggal dan jam diskusi,
penyakit infeksi lahir, dan jenis kelamin. bimbingan
sebanyak 1 kasus b. Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat badan, keadaan bayi dengan
saat lahir, nilai APGAR skor (asfiksia ringan sedang 4-6, supervisor
asfiksia berat:0-3), jenis persalinan, warna ketuban dan
lama ketuban pecah, karakteristik plasenta dan tali pusat.
c. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, PB,
LK, LD, Lila), vital sign, keadaan umum, warna kulit,
keaktifan, tangisan bayi, wajah neonatus, kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia,
anus, reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa), menilai usia
gestasi dengan menggunakan ballard skor.
d. Kolaborasi pemeriksaan kadar biliribun.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada bayi baru lahir,
diantaranya:
a. Memonitor vital sign
b. Memonitor tanda-tanda infeksi
c. Menggunakan universal precaution
d. Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi,
sebelum dan sesudah melakukan tindakan infasiv pada bayi.
e. Menghindari bayi terpapar dengan lingkungan yang kurang
bersih.
f. Memberikan terapi sesuai indikasiAplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
g. Melakukan pemeriksaan darah lengkap, kultur darah, kultur
urin.
h. Mencegah terjadinya sepsis
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
RUANG PICU (Pediatric Intensive Care Unit)
1 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
kegawatan respirasi b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
sebanyak 2 kasus diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, tingkat kesadaran, keadaan umum, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada
(adanya gagal nafas), abdomen, genitalia, anus, reflek
fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi (rubor,
kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan analisa gas darah
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya:
a. Memonitor vital sign pada monitor
b. Memonitor adanya gagal nafas
c. Menyiapkan ventilator
d. Kolaborasi pemasangan endotrakeal tube
e. Memasang ventilator
f. Memonitor status pernafasan pada ventilator
g. Memberikan terapi sesuai indikasi
h. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah.
i. Memenuhi kebutuhan personal hygiene klien
j. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan klien
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
2 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
kegawatan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
neurologi sebanyak diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
1 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi, kejang.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan darah, pemeriksaan thorax foto,
pemeriksaan CT Scan kepala, dan pemeriksaan lumbal
Punksi.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
3 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan syok jenis kelamin. diskusi,
sebanyak 1 kasus b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa), tanda-tanda
syok.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah, dan urin lengkap.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
a. Memonitor vital sign, dan kesadaran
b. Memonitor adanya syok hipovolemik
c. Kolaborasi pemberian resusitasi cairan
d. Monitor intake dan output cairan
e. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium darah
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
4 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
kegawatan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
kardiologi sebanyak diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
1 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada
(bunyi jantung: adanya gallop atau murmur), abdomen,
genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya, reflek
fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi (rubor,
kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan EKG, laboratorium darah ASTO
dan CRP Kuantitatif, pemeriksaan echocardiografi dan
USCOM.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
5 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
kegawatan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
hematologi diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
sebanyak 1 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa). Adanya
perdarahan spontan.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, gambaran darah
tepi.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
6 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
kegawatan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
metabolik sebanyak diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
1 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, glukosa, protein
total, albumin, globulin, analisa gas darah, elektrolit.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
RUANG NON INFEKSI
1 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak yang jenis kelamin. diskusi,
mengalami b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
gangguan nutrisi diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
sebanyak 5 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan darah, darah lengkap, glukosa,
protein total, albumin, globulin, analisa gas darah.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya:
a. Monitor vital sign
b. Menilai status nutrisi Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
c. Menghitung kebutuhan kalori
d. Menimbang berat badan dan mengukur Lila setiap hari
e. Mengkaji karakteristik fisik
f. Kolaborasi pemberian F75/F100/F135 sesuai indikasi
g. Kolaborasi pemasangan naso gastric tube
h. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
i. Kolaborasi pemberian mikronutrien: asam folat, dan
vitamin A
j. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga
mengenai cara memilih jenis makanan, cara menyiapkan
makan, dan cara memberikan makanan.
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
2 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak yang jenis kelamin. diskusi,
mengalami b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
gangguan diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
darah/kelainan imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
darah sebanyak 4 c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
kasus alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa), adanya
perdarahan.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, gambaran darah
tepi, faktor pembekuan darah atau BMP (Bone Marrow
Punction).
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
3 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
gangguan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
kardiovaskuler diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
sebanyak 1 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada
(bunyi jantung: adanya gallop atau murmur), abdomen,
genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya, reflek
fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi (rubor,
kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan EKG, laboratorium darah ASTO
dan CRP Kuantitatif, pemeriksaan echocardiografi.

2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian


3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
4 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan lapangan,
anak dengan jenis kelamin. diskusi,
gangguan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah bimbingan
perkemihan diderita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat dengan
sebanyak 2 kasus imunisasi, riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya
alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB,
Lila), vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna
kulit, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada,
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal, reflek cahaya,
reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa), adanya edema.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, ureum creatinin,
ASTO, CRP Kuantitatif, dan urin lengkap, serta USG
Abdomen dan ginjal.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah
keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang
telah dilaksanakan
Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
PROYEK INOVASI
Proyek Inovasi 1. Melakukan need assesment yang terfokus pada kebutuhan
asuhan keperawatan anak terkini melalui wawancara dan
observasi
2. Melakukan analisis kebutuhan unit/ruangan dengan
pendekatan SWOT
3. Menyusun proposal dan mengkonsultasikannya pada
supervisor dan berkoordinasi dengan lahan praktik
4. Mempresentasikan rencana proyek inovasi di lahan praktik
5. Melaksanakan kegiatan inovasi
6. Mengevaluasi kegiatan

Depok, Februari 2013


Mengetahui
Supervisor Utama Supervisor Supervisor Residen

Nani Nurhaeni, MN. Happy Hayati, Ns., Sp.Kep.An. Elfi Syahreni, Ns., Sp.Kep.An. Nurhidayatun

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

KONTRAK BELAJAR

PRAKTEK RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK II SEMESTER GANJIL 2013/2014

Disusun Dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti


Praktek Ners Spesialis Keperawatan Anak

Disusun Oleh : Nurhidayatun


NPM : 1006800983

PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2013
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
KONTRAK BELAJAR PRAKTEK RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK II
PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK
FIK UI, SEMESTER GANJIL 2013/2014

Nama Mahasiswa : Nurhidayatun (NPM: 1006800983)


Tujuan Umum : Setelah menyelesaikan kegiatan praktek residensi keperawatan anak, mahasiswa mampu melaksanakan peran dan fungsi perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan anak (0-18 tahun) dengan menerapkan berbagai ilmu kesehatan, konsep dan teori keperawatan, temuan riset, serta
kebijakan pemerintah pada anak dengan penyakit non infeksi.

Waktu Pelaksanaan
No. Lingkup Praktek Aktivitas Metode
Sep 2013 Okt 2013 Nov 2013 Des‘13
RUANG NON INFEKSI 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
1 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan jenis lapangan,
anak yang mengalami kelamin. diskusi,
gangguan nutrisi b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah diderita, bimbingan
sebanyak 1 kasus riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, dengan
riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB, Lila),
vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna kulit, kepala,
mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia, anus,
tanda meningeal, reflek cahaya, reflek fisiologis, reflek patologis,
tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan darah, darah lengkap, glukosa, protein
total, albumin, globulin, analisa gas darah.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya:
a. Monitor vital sign
b. Menilai status nutrisi
c. Menghitung kebutuhan kalori
d. Menimbang berat badan dan mengukur Lila setiap hari
e. Mengkaji karakteristik fisik
f. Kolaborasi pemberian F75/F100/F135 sesuai indikasi
g. Kolaborasi pemasangan naso gastric tube
h. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
i. Kolaborasi pemberian mikronutrien: asam folat, dan vitamin A
j. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga mengenai cara
memilih jenis makanan, cara menyiapkan makan, dan cara
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
memberikan makanan.
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang telah
dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
2 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan jenis lapangan,
anak yang mengalami kelamin. diskusi,
gangguan b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah diderita, bimbingan
darah/kelainan darah riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, dengan
sebanyak 3 kasus riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB, Lila),
vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna kulit, kepala,
mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia, anus,
tanda meningeal, reflek cahaya, reflek fisiologis, reflek patologis,
tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa),
adanya perdarahan.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, gambaran darah tepi,
faktor pembekuan darah atau BMP (Bone Marrow Punction).
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak dan teori model
adaptasi Roy pada anak yang mengalami masalah keperawatan nyeri
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang telah
dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
3 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan jenis lapangan,
anak yang mengalami kelamin. diskusi,
kanker tumor solid b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah diderita, bimbingan
sebanyak 5 kasus riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, dengan
riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB, Lila),
vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna kulit, kepala,
mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia, anus,
tanda meningeal, reflek cahaya, reflek fisiologis, reflek patologis,
tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa),
adanya massa.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, gambaran darah tepi,
faktor pembekuan darah atau BMP (Bone Marrow Punction), CT
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Scan, Thorax, MRI, USG.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak dan teori model
adaptasi Roy pada anak yang mengalami masalah keperawatan nyeri
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang telah
dilaksanakan
7. Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan
keluarga
4 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan jenis lapangan,
anak dengan gangguan kelamin. diskusi,
kardiovaskuler b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah diderita, bimbingan
sebanyak 1 kasus riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, dengan
riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB, Lila),
vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna kulit, kepala,
mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada (bunyi jantung: adanya
gallop atau murmur), abdomen, genitalia, anus, tanda meningeal,
reflek cahaya, reflek fisiologis, reflek patologis, tanda-tanda infeksi
(rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa).
e. Kolaborasi pemeriksaan EKG, laboratorium darah ASTO dan CRP
Kuantitatif, pemeriksaan echocardiografi.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang telah
dilaksanakan
Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan keluarga
5 Memberikan asuhan 1. Melakukan pengkajian pada anak, meliputi: Praktik
keperawatan pada a. Identifikasi anak, meliputi: nama, tanggal lahir, umur dan jenis lapangan,
anak dengan gangguan kelamin. diskusi,
perkemihan sebanyak b. Riwayat kesehatan sebelumnya : penyakit yang pernah diderita, bimbingan
1 kasus riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, dengan
riwayat kesehatan keluarga. supervisor
c. Riwayat kesehatan saat ini: tumbuh kembang, adanya alergi.
d. Pemeriksaan fisik umum, meliputi: antropometri (BB, TB, Lila),
vital sign, keadaan umum, tingkat kesadaran, warna kulit, kepala,
mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, genitalia, anus,
tanda meningeal, reflek cahaya, reflek fisiologis, reflek patologis,
tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, tumor, dolor, dan functiolesa),
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
adanya edema.
e. Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap, ureum creatinin, ASTO,
CRP Kuantitatif, dan urin lengkap, serta USG Abdomen dan ginjal.
2. Menginterpretasi dan menganalisa data hasil pengkajian
3. Mengidentifikasi dan menentukan prioritas masalah keperawatan
4. Merencanakan tindakan keperawatan
5. Melaksanakan intervensi keperawatan pada anak, diantaranya
6. Melaksanakan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan yang telah
dilaksanakan
Mengidentifikasi aspek etik legal yang terkait dengan klien dan keluarga
PROYEK INOVASI
Proyek Inovasi 1. Melakukan need assesment yang fokus pada managemen nyeri
pada kebutuhan asuhan keperawatan anak terkini melalui
wawancara dan observasi
2. Melakukan analisis kebutuhan unit/ruangan dengan pendekatan
SWOT
3. Menyusun proposal dan mengkonsultasikannya pada supervisor
dan berkoordinasi dengan lahan praktik
4. Mempresentasikan rencana proyek inovasi di lahan praktik
5. Melaksanakan kegiatan inovasi
6. Mengevaluasi kegiatan

Depok, September 2013


Mengetahui
Supervisor Utama Supervisor Supervisor Residen

Nani Nurhaeni, S.Kp., MN. Happy Hayati, Ns., Sp.Kep.An. Elfi Syahreni, Ns., Sp.Kep.An. Nurhidayatun
 

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 3

LAPORAN PROYEK INOVASI

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PROYEK INOVASI

INTERVENSI KEPERAWATAN BERDASARKAN


EVIDENCE BASEDPRACTICE: PEMBERIAN TERAPI MUSIK
PADA PASIEN ANAK DENGAN KANKER
DI RUANG NON INFEKSI RSUPN Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO

OLEH:
NURHIDAYATUN
1006800983

PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2013

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahirobbilallamin, atas rahmat Allah SWT laporan proyek inovasi Residensi


Keperawatan Anak, Program Ners Spesialis Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan
Tahun 2013 dapat diselesaikan dengan baik meskipun mungkin masih banyak sekali
kekurangan dan jauh dari sempurna.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang
telah membantu penyelesaian tugas ini.
1. Ibu Nani Nurhaeni, S.Kp., MN, selaku koordinator dan supervisor utama Residensi
Keperawatan Anak I.
2. Ibu Happy Hayati, M.Kep., Sp.Kep.An, selaku supervisor Residensi Keperawatan
Anak I
3. Ibu Ns. Tati Mulyati, S.Kep, selaku Clinical Instruktur Ruang Non Infeksi RSUPN
Dr.Cipto Mangunkusumo.
4. Ibu Yunisar, MN, selaku Bagian Diklat Gedung A RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo.
5. Teman sejawat yang telah membantu dalam pelaksanaan Residensi Keperawatan
Anak I.

Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca pada
khususnya, dan bagi profesi keperawatan pada umumnya.

Depok, November 2013

Nurhidayatun

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker merupakan penyakit kronik yang diakibatkan oleh rusaknya mekanisme
pengaturan metabolisme sel, sehingga sel-sel berubah fungsinya dan menjadi ganas
(Price & Wilson, 2005). Penyebab kanker sampai saat ini belum diketahui secara
pasti, tetapi dapat dicetuskan oleh faktor internal maupun eksternal (Otto, 2001).
Faktor internal yang mempengaruhi kanker adalah terjadinya mutasi gen (American
Cancer Society, 2008), sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kanker
adalah terjadinya infeksi, terpapar radiasi, maupun mengkonsumsi zat kimia
tertentu yang bersifat karsinogen.

Kanker merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak di seluruh dunia,


yang terjadi setelah anak melewati usia infant (Hockenberry & Wilson, 2009).
Menurut laporan International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun
2008 diperkirakan 7,6 juta orang di dunia meninggal karena kanker atau sekitar
13% dari semua penyebab kematian, dan 70% kematian akibat kanker terjadi di
negara berpenghasilan rendah, dan sekitar 96 ribu terjadi pada anak usia 0-14
tahun, sedangkan menurut World Health Organization (WHO) (2011) angka
kematian akibat kanker di seluruh dunia diprediksikan akan terus meningkat
dengan perkiraan sekitar 12 juta di tahun 2030.

Insidensi kanker pada anak setiap tahun semakin meningkat. Pada tahun 2008
insidensi kanker di dunia yaitu 12,6 juta, dan diperkirakan akan terus meningkat
menjadi 15,5 juta di tahun 2030 (WHO, 2011). Menurut IARC (2008)
menyebutkan bahwa 1 dari 600 anak akan menderita kanker sebelum umur 16
tahun, kanker pada anak diperkirakan mencapai 1% dari jumlah penyakit kanker
secara keseluruhan (IARC, 2008). Insiden kanker pada anak-anak di dunia pada
tahun 2008 adalah sebesar 175 ribu, leukemia sebesar 30%, kanker otak dan saraf
sistem sebesar 12,3%, non-Hodgkin limfoma sebesar 10,7%, tumor wilms sebesar
5,3%, Hodgkin limfoma sebesar 4,2%, kanker hati sebesar 2,1% (IARC, 2008).

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Di Indonesia insidensi kanker pada anak usia 0-14 tahun dijumpai sekitar 2,5% dari
insidensi secara keseluruhan kanker pada semua usia, insidensi leukemia sebesar
44,8%, kanker otak dan sistem saraf sebesar 9,7%, non-Hodgkin limfoma sebesar
7,5%, tumor wilms sebesar 3,7% (IARC, 2008).

Kanker diketahui dapat menimbulkan berbagai macam keluhan, dan nyeri adalah
keluhan utama yang paling sering diutarakan oleh penderita. Dalam perjalanan
penyakitnya, 45%-100% penderita mengalami nyeri yang sedang sampai yang
berat, dan 80%-90% nyeri itu dapat ditanggulangi dengan pengelolaan nyeri kanker
yang tepat sesuai dengan pedoman dari WHO. Nyeri kanker merupakan salah satu
yang terpenting diantara sindroma nyeri akut dan nyeri kronik. Nyeri kanker
mempunyai arti tersendiri khususnya bagi penderita dan keluarganya.

Nyeri kanker mengakibatkan penderita berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan


bertahun-tahun menjelang akhir hidupnya berada dalam penderitaan dan
ketidakmampuan. Rasa nyeri merupakan stressor yang dapat menimbulkan stress
dan ketegangan dimana individu dapat berespon secara biologis dan perilaku yang
menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan
umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu badan, sikap badan, dan apabila nafas
makin berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan syok, sedangkan respon
psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stress yang dapat mengurangi sistem
imun dalam peradangan, serta menghambat penyembuhan respon yang lebih parah
akan mengarah pada ancaman merusak diri sendiri.

Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri yaitu manajemen
farmakologi dan manajemen non farmakologi. Manajemen nyeri dengan
melakukan teknik relaksasi merupakan tindakan eksternal yang mempengaruhi
respon internal individu terhadap nyeri. Manajemen nyeri dengan tindakan
relaksasi mencakup latihan pernafasan diafgrama, teknik relaksasi progresif,
quided imagery, terapi musik dan meditasi. Musik merupakan bunyi yang dianggap
enak oleh pendengarnya yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau
sekumpulan orang.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Dalam bidang kedokteran, terapi musik dapat digunakan untuk meningkatkan,
mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik mental, emosional atau
spritual dengan menggunakan bunyi atau irama tertentu. Terapi musik ini
mempunyai tujuan untuk membantu mengekspresikan perasaan, membantu
rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan
emosi meningkatkan memori, serta menyediakan kesempatan yang unik untuk
berinteraksi dan membangun kedekatan emosional. Dengan demikian, terapi musik
juga diharapkan dapat membantu mengatasi stress, mencegah penyakit dan
meringankan rasa sakit (Djohan, 2006).

Terapi musik merupakan intervensi alami non invasif yang dapat diterapkan secara
sederhana tidak selalu membutuhkan kehadiran ahli terapi, harga terjangkau dan
tidak menimbulkan efek samping. Alunan musik lembut yang menenangkan dan
stimulasi gelombang otak dengan frekuensi deep delta untuk merangsang kondisi
relaksasi yang dalam. Pada kondisi deep delta, akan terjadi pelepasan endorphin
yang merupakan zat anestesi alami. Membantu menghilangkan atau meringankan
berbagai rasa sakit. Meredakan nyeri akibat suatu penyakit, nyeri punggung,
rematik arthritis, luka bakar, luka kecelakaan, nyeri penderita kanker, nyeri
persendian, nyeri pada otot, nyeri pasca operasi dan jenis nyeri lainnya.

Berdasarkan uraian di atas terkait manfaat pemberian terapi musik pada pasien
anak yang mengalami nyeri, membuat saya tertarik untuk melaksanakan proyek
inovasi yang berjudul “Intervensi keperawatan berdasarkan evidence based nursing
practice tentang pemberian terapi musik Pada pasien anak dengan kanker di Ruang
Non Infeksi Anak Lantai 1 Gedung A RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo”.

B. Tujuan Penerapan EBN


1. Tujuan Umum
Melakukan intervensi keperawatan berdasarkan evidence-based nursing
practice, tentang pemberian terapi musik untuk meningkatkan kenyamanan
pada pasien anak dengan kanker yang mengalami nyeri di Ruang Non Infeksi
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
2. Tujuan Khusus
2.1 Memberikan informasi dan sebagai media edukasi bagi perawat terkait
evidence-based nursing practice tentang pemberian terapi musik pada
pasien yang mengalami nyeri.
2.2 Mengoptimalkan pemberian terapi musik pada pasien anak dengan kanker
yang mengalami nyeri.

C. Manfaat Penerapan EBN


1. Bagi Pasien
Meningkatkan kenyamanan dan mengurangi nyeri yang terjadi pada anak
dengan kanker, baik nyeri karena kondisi sakitnya maupun karena prosedur
tindakan yang dilakukan.
2. Bagi Praktik Keperawatan
2.1 Memberikan informasi yang jelas terkait evidence-based nursing practice
yang tepat terkait pemberian terapi musik pada pasien anak dengan kanker
yang mengalami nyeri.
2.2 Mengoptimalkan pemberian terapi musik pada pasien yang mengalami
nyeri untuk mengurangi nyeri yang dirasakan.
3. Bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan dalam pengembangan kebijakan Rumah Sakit untuk
mengoptimalkan pemberian terapi musik pada pasien yang mengalami nyeri.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB II
PERENCANAAN

A. Hasil Pengkajian Kebutuhan Pelaksanaan Proyek Inovasi


1. Profil Singkat RSUPN Cipto Mangun Kusumo
a. VISI:
Memberikan Pelayanan Keperawatan Paripurna yang bermutu dan
Profesional dalam rangka menuju pelayanan keperawatan terkemuka di
Asia Pasifik tahun 2014.
b. MISI:
• Memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan bermutu serta
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
• Menjadi tempat pendidikan dan penelitian tenaga kesehatan.
• Tempat penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat melalui manajemen yang Dinamis dan
Akuntabel.
c. MOTTO
R = Respek
S = Sigap
C = Cermat
M = Mulia
d. KOMITMEN
“Kesehatan dan kepuasan pelanggan adalah komitmen kami”.
Senantiasa memberikan pelayanan paripurna yang prima untuk
meningkatkan kepuasan dan menumbuhkan kepercayaan pasien sebagai
pelanggan utama kami.

2. Analisis SWOT Penggunaan Closed Suction System


Strength (Kekuatan)
a. Dukungan dari perawat Non infeksi untuk melaksanakan tindakan
keperawatan berdasarkan evidance based practice terkait pemberian terapi
musik.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
b. Adanya SOP mengenai penilaian derajat nyeri dan tatalaksana nyeri pada
pasien, dan skrining dan tatalaksana nyeri pada pasien.
c. Gedung A RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sudah menerapkan pemberian
terapi musik.

Weakness (Kelemahan)
a. Di Ruang Non infeksi penanganan nyeri secara nonfarmakologi masih
menggunakan tehnik relaksasi nafas dalam, penggunaan tehnik distraksi
dengan pemberian terapi musik belum dilakukan.
b. Belum optimalnya pemberian terapi musik di Ruang Non infeksi Anak.

Opportunity (Peluang)
a. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo merupakan rumah sakit rujukan nasional.
b. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo merupakan rumah sakit pendidikan dan
terbuka untuk proses berubah.
c. Visi dan komitmen RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo adalah meningkatkan
mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan.
d. Adanya monitoring dan evaluasi yang terus dilakukan pihak manajemen
Rumah Sakit terkait 6 standar International Patient Safety Goals.
e. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo telah mendapatkan akreditasi dari Joint
Commission International (JCI).
f. Adanya dukungan dari pihak manajemen Gedung A dan ruangan untuk
mengoptimalkan pemberian terapi musik berdasarkan evidance based
practice.

Threat (Ancaman)
a. Undang-undang perlindungan konsumen menuntut adanya peningkatan
kualitas pelayanan keperawatan, sehingga penting untuk memberikan
pelayanan yang terbaik bagi pasien.
b. Responsibilitas dan akuntabilitas perawat telah diatur dalam UU Kesehatan
RI.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
B. Identifikasi Masalah dan Prioritas Masalah
Manajemen nyeri secara nonfarmakologis dengan menggunakan tehnik distraksi
melalui cara pemberian terapi musik dapat mengurangi skala nyeri. Pemberian terapi
musik dapat merangsang pengeluaran endorfin yang merupakan opiate tubuh secara
alami dihasilkan dari gland pituitary yang berguna dalam mengurangi nyeri,
mempengaruhi mood dan memori; musik juga mengurangi pengeluaran katekolamin
seperti epinefrin dan norepinefrin dari medula adrenal, pengeluaran katekolamin dapat
menurunkan frekuensi nadi, tekanan darah, asam lemak bebas dan pengurangan
konsumsi oksigen; selain itu musik juga dapat mengurangi kadar kortikosterid adrenal.

C. Strategi Penyelesaian Masalah


1. Tahap persiapan
a) Menyusun pertayaan masalah berdasarkan model analisis PICO (P=
problem/population/patient; I = intervensi; C= comparation; O=outcome)
b) Melakukan searching literatur/jurnal terutama jenis penelitian dengan
menggunakan metode systematic review dan randomized clinical trial (RCT).
Hasil searching jurnal yang didapatkan yaitu 2 jurnal dengan level evidence
Systematic Review of Randomized Controlled Trials dan 1 jurnal dengan level
evidence uji klinis atau randomized clinical trial. Level jurnal tersebut
merupakan level evidence yang paling tinggi, yang akurasinya dapat
dipertanggungjawabkan. Judul jurnal yang didapatkan adalah Music for Pain
and Anxiety in Children Undergoing Medical Procedures: A Systematic
Review of Randomized Controlled Trials, The Effectiveness of Music in
Pediatric Healthcare : A Systematic Review of Randomized Controlled Trials,
dan Music Therapy to Reduce Pain and Aniety in Children With Cancer
Undergoing Lumbar Puncture: A Randomized Clinical Trial.
c) Appraise literatur/analisis jurnal dengan menggunakan worksheet therapy
ataupun systematic rewiev worksheet. Ketiga jurnal tersebut menyatakan
bahwa terapi musik dapat mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan
prosedur tindakan.
d) Melakukan survei mengenai jenis lagu yang disukai dan waktu pemutaran
music pada pasien anak yang menjalani perawatan di ruang Non Infeksi.
e) Pembuatan proposal proyek inovasi

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
f) Melakukan konsultasi kepada pihak manajemen gedung A RSCM, supervisor
utama dan supervisor akademik FIK UI.
g) Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan dan perawat ruangan.
h) Populasi pada penelitian tersebut adalah pasien anak yang berusia 1-18 tahun,
yang mengalami nyeri baik nyeri karena tindakan prosedur maupun nyeri
karena sakitnya, contohnya nyeri kanker. Sementara karakteristik populasi
pada ruangan yang akan diberikan terapi musik sama dengan karakteristik
populasi pada penelitian, yaitu pasien anak dengan kanker yang berusia 1-18
tahun yang mengalami nyeri baik karena prosedur tindakan maupun nyeri
karena sakitnya.
2. Tahap pelaksanaan
a) Presentasi dan sosialisasi evidence based practice terkait pemberian terapi
musik pada pasien anak dengan kanker yang mengalami nyeri.
b) Memberikan terapi musik pada pasien anak dengan kanker dengan
menggunakan alat musik box dan MP3 portable yang ditempatkan di kamar
pasien atau di ruang tindakan. Jenis musik yang diputar adalah lagu anak-anak.
Waktu pemberian terapi musik pada saat dilakukan tindakan prosedur yang
diberikan diruang tindakan. Sedangkan pemberian terapi musik di ruang
perawatan atau di ruang kemoterapi diberikan jam 09.00 s.d 10.00, sore hari
jam 16.00 s.d 17.00.
c) Melakukan pengamatan atau pemantauan proses pemberian terapi musik
dengan mengevaluasi respon pasien saat dilakukan tindakan prosedur. Dan
melakukan penilaian skala nyeri sebelum, selama dan sesudah pemberian
terapi musik.
3. Tahap Terminasi
Evaluasi pemberian terapi musik yang dilakukan pada beberapa pasien anak
dengan kanker yang mengalami nyeri maupun yang menjalani kemoterapi. Tahap
tindak lanjutnya dengan menunjuk perawat ruangan sebagai penanggung jawab
pemberian terapi musik, untuk melanjutkan intervensi terapi musik pada pasien
anak dengan kanker yang mengalami nyeri, setelah mahasiswa selesai melakukan
praktek residensi keperawatan Anak II.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Jadwal Kegiatan Proyek EBN
Waktu Pelaksanaan PJ
24 Sept – 21-30 6 Nov 6-15 Nov 18 Nov 22 Nov
No. Kegiatan Produk
18 Okt Okt 2013 2013 2013 2013 2013
2013
1. Proses konsultasi dan PICO model, searching
persiapan studi literatur artikel dan critical
(evidance based appriasal
practice)
2. Konsultasi dan Proposal Proyek EBN
pembuatan proposal
3. Presentasi proposal dan Mahasiswa Presentasi dengan
sosialisasi head nurse, CI perawat ruangan Non
Non Infeksi infeksi Anak Gd. A Lt.1
gedung A
lantai 1
4. Perencanaan dan PP dan Penyediaan dan
pelaksanaan perawat pemberian musik therapy
implementasi associate (PA) pada pasien.
5. Evaluasi proses kegiatan Mahasiswa Hasil dokumentasi
dan PP
6. Penyusunan dan Mahasiswa Laporan dan rekomendasi
pengumpulan laporan

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Terapi musik
Terapi musik adalah terapi yang mengunakan musik dimana tujuannya adalah
meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif dan sosial bagi individu
dari berbagai kalangan usia. Terapi musik merupakan terapi yang bersifat nonverbal,
serta merupakan penyembuhan melalui suara yaitu dengan penggunaan vibrasi frekuensi
atau bentuk suara yang dikombinasi.

Musik merupakan stimulus yang dikirim dari serabut saraf asendens ke neuron-neuron
reticular activating system (RAS). Stimulus musik ini kemudian akan ditransmisikan oleh
nuklei spesifik dari thalamus melewati area korteks serebral, sistem limbik, dan korpus
kolosum serta melalui area-area sistem saraf otonom dan neuroendokrin. Sistem limbik
dibentuk oleh cincin yang dihubungkan dengan cigulate gyrus, hippocampus, forniks,
badan-badan mamilari, hipotalamus, traktus mamilotalamik, thalamus anterior, dna
bulbus olfaktorius. Ketika musik dimainkan maka semua area yang berhubungan dengan
sistem limbik akan terstimulasi sehingga menghasilkan perasaan dan ekspresi.

Musik memliki efek yang kompleks pada manusia terhadap aspek fisiologis, psikologi,
dan spiritual. Respon individu terhadap musik dipengaruhi oleh kepribadian, lingkungan,
pendidikan, dan faktor budaya. Musik menimbulkan perubahan pada status gelombang
otak dan hormon pasien. Terdapat peningkatan frekuensi pada bagian kelompok ritme
alfa dan persamaan yang lebih besar (koheren) diantara wilayah yang berbeda pada
korteks serebral, yang paling sering terjadi pada lobus frontal. Aktivasi lobus frontal
kanan turun sehingga terjadi sekresi hormon kortisol dan hormon stress menurun sampai
keduanya berada pada rentang normal (Halim, 2002; Snyder & Lindquist, 2002).

Musik terbukti meningkatkan interleukin-1 (IL-1) pada darah sehingga dapat


meningkatkan immunitas. Musik juga dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskular dan
respirasi. Musik yang lembut dapat melambatkan pernafasan sehingga relaksasi, kontrol
emosional dan metabolisme (Halim, 2002). Musik memiliki efek terhadap immunologi
dan neuroendokrin. Musik dapat meningkatkan Dehidroepiandrosterone (DHEA)
terhadap rasio kortisol, meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami, meningkatkan

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


lymphokine, mengkativasi sel pembunuh alami tanpa gangguan pada plasma interleukin-2
dan interferon-gamma. Glukokortikoid khususnya kortisol merupakan steroid adrenal
yang mempunyai efek anti infalamatori dan efek inhibitor yang keduanya berperan pada
respon imun. Namun, tidak semua efek immunologi dari tingkat fisiologis glukokortikoid
dapat berperan dalam menyeimbangkan produksi sitokine sel T dari TH1 (IL-2, IFN-γ) ke
TH2 (IL-4, IL-10) (Bitmann, et al., 2001).

Menurut Tuner (2010) efek musik dapat memelihara keseimbangan tubuh melalui sekresi
hormon-hormon oleh zat kimia kedalam darah. Efek musik ini terjadi dengan cara: musik
merangsang pengeluaran endorfin yang merupakan opiate tubuh secara alami dihasilkan
dari gland pituitary yang berguna dalam mengurangi nyeri, mempengaruhi mood dan
memori; musik juga mengurangi pengeluaran katekolamin seperti epinefrin dan
norepinefrin dari medula adrenal, pengeluaran katekolamin dapat menurunkan frekuensi
nadi, tekanan darah, asam lemak bebas dan pengurangan konsumsi oksigen; selain itu
musik juga dapat mengurangi kadar kortikosterid adrenal, Cortiocotrophin Releasing
Hormon (CRH) dan Adrenocorticotropic Hormon (ACTH) yang dihasilkan selama stress.

Pada umumnya terapi relaksasi dapat menimbulkan ketenangan dan rasa rileks, sehingga
hipotalamus akan memberi perintah pada midbrain untuk mengeluarkan gamma amino
butyric acid (GABA), enkephalin, dan beta endorphin. Zat tersebut dapat menimbulkan
efek analgesia yang akan mengeliminasi neurotransmitter rasa nyeri pada pusat persepsi
dan interpretasi sensorik somatik pada otak.

Kecemasan merupakan faktor psikologis afektif yang mempengaruhi persepsi rasa nyeri.
Pada banyak kasus, kecemasan tidak hanya meningkatkan ambang rasa nyeri pasien tetapi
pada kenyataannya mengakibatkan persepsi yang seharusnya tidak nyeri menjadi nyeri,
bahkan di bawah kondisi yang berbeda, seorang pasien dapat menunjukkan reaksi yang
berbeda walaupun rangsangannya sama. Kondisi pasien yang diliputi kecemasan akan
memperkuat rangsang nyeri yang diterimanya karena kecemasan menyebabkan zat
penghambat rasa nyeri tidak disekresikan. Dengan adanya musik sebagai fasilitas maka
tingkat kecemasan pasien dapat dikurangi sehingga timbul perasaan tenang dan rileks,
yang mempengaruhi rasa nyeri pada pasien.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


B. Tehnik Pemberian Terapi Musik
Penggunaan terapi musik dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari hanya
mendengarkan (pasif) atau memilih lagu sampai memainkan sebuah alat musik (aktiv).
Beberapa faktor yang berperan dalam pemilihan tehnik spesifik yaitu tipe musik dan
pilihan individu, terlibat aktif maupun pasif, lama waktu pemberian musik dan hasil yang
diinginkan (Synder & Lindquist, 2002).

Untuk mendapatkan efek terapi, idealnya terapi musik diberikan selama kurang lebih 30
menit hingga satu jam tiap hari, namun jika tak memiliki cukup waktu 10 menit pun jadi,
karena selama waktu 10 menit telah membantu pikiran responden beristirahat (Samuel,
2007). Dalam pelaksanaan penggunaan musik untuk mengontrol nyeri dan meningkatkan
kenyamanan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan (Potter & Perry, 2005) yaitu
memilih musik yang sesuai dengan selera klien, mempertimbangkan usia dan
latarbelakang, menggunakan earphone supaya tidak mengganggu klien atau staf yang lain
dan membantu klien berkonsentrasi pada musik. Tombol-tombol kontrol di radio atau
pesawat tape dipastikan mudah ditekan, dimanipulasi, dan dibedakan, apabila nyeri yang
klien rasakan akut, kuatkan volume musik dan apabila nyeri berkurang, kurangi volume
dan untuk memberikan efek terapi musik harus didengarkan minimal selama 15 menit.
Menurut Naylor, et al (2010) durasi pemberian terapi musik untuk mengurangi nyeri yaitu
15 sampai 30 menit dalam satu sesi yang diberikan dua kali.

Jenis musik yang disukai oleh anak-anak dalam beberapa penelitian pemberian terapi
musik adalah jenis musik folk, kontemporer, lagu-lagu populer, lagu yang membuat
relaks, musik klasik, lulaby, lagu anak-anak, dan kisah anak-anak (Klassen, et al. 2010).
Sedangkan menurut Bekhius (2009) jenis musik yang disukai oleh anak-anak adalah
musik folk, kontemporer, musik klasik dan lulaby. Sementara berdasarkan hasil pengisian
kuesioner pada pasien di ruang Non Infeksi Lantai 1 Gedung A, sebagian besar anak
menyukai jenis musik lagu anak-anak, dan lagu-lagu populer.

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


BAB IV
ANALISIS EBN

A. Evidance Based Practice


Pencarian evidance based practice melalui model PICO dan appraise artikel terlampir.
Berikut model PICO diuraikan di bawah ini:

Population : Pasien anak dengan kanker yang mengalami nyeri


Intervention : Pemberian terapi musik
Comparison : Pemberian terapi standar
Outcome : Pemberian terapi musik dapat menurunkan atau mengurangi nyeri.

Write out your question:


Pertanyaan: Apakah pemberian terapi musik dapat mengurangi atau menurunkan nyeri.

List the main topics and terms from your question that you can use to search:
Music is effective in reducing anxiety and pain in children undergoing medical and
dental procedures.

Check any limit that may pertain to your search:


X_ Age __ Language __ Year of publication

Type of study/publication you want to include in your search:


√ Systematic Review or Meta-Analysis
X Clinical Practice Guidelines
X Critically Appraised Research Studies
9 Individual Research Studies
X Clinical Practice Guidelines

Check the databases you searched:


√ Chocrane X ACP Journal Club
√ Joanna Briggs X Evidence Based Journal
X DARE X CINAHL
X Clinical Evidence √ PubMed
X AHRQ Evidence Reports X Up ToDate
X Guidelines Clearinghouse X MD Consult

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
What information did you find to help answer your question?
1) Cochrane: Ditemukan
Klassen, J.A., Liang, Y., Tjosvold, L., Klassen, T.P., & Hartling, L. (2008).
Music for Pain and Anxiety in Children Undergoing Medical Procedures: A
Systematic Review of Randomized Controlled Trials. The Cochrane Database of
Systematic Reviews.
There was 19 studies that is use in this systematic review and that were randomized
and control trial:
• 11 studies of passive music therapy measured pain, comparing music therapy to
standard prosedures:
9 Significant differences were found in observer-reported behaviors indicative of
pain and discomfort.
9 Significantly lower levels of pain for music therapy combined with
‘uncertainty reduction’ versus standard procedures for venipuncture.
9 Music therapy resulted in significantly less pain for girls, children with low
pain thresholds, and children with low white blood cell count (<12.000)
9 Significant differences in pain favoring music therapy over standard
procedures for intramuscular injection.
9 Significantly lower pain with music therapy compared no music therapy for
immunizations.
9 Significantly less pain in the group receiving the pharmacological intervention
(a lidocain-prilocaine emulsion, EMLA cream) compared with groups
receiving music therapy or placebo cream.
• 2 studies compare music therapy and standard procedures: found significant
reduction in self reported pain for dental procedures.
• 7 studies of passive music therapy evaluated anxiety showed that a low sensory
stimulation intervention was effective in reducing anxiety during the preoperative
period.
• Music therapy delivered the night before and the morning of surgary showed less
observer and parent reported aniety compared with study group receiving music
therapy the night before surgary only and with the standard care group.

2) Joanna Briggs
Tan, L.M.L., Leong, K.S.P., & Yip, W.K., (2010). Effective Pain Management
during Painful Procedures in Children with Cancer: A Systematic Review.
Joanna Briggs Database of Systematic Reviews.
The objective of this review is to critically analyse the literature and present the best
available evidence related to procedural pain management in children cancer, this

Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014


review will consider any randomized control trials (RCts) related to procedural pain in
children with cancer.

3) PubMed
Naylor, K.T., Kingsnorth, S., Lamont, A., McKeever, P., & Macarthur, C.,
(2010). The Effectiveness of Music in Pediatric Healthcare : A Systematic Review
of Randomized Controlled Trials. The Cochrane Database.
There was 17 studies that is use in this systematic review and that were sample
comprised 9 parallel (randomization of individuals), 2 cluster parallel (randomization
of groups of individuals), and 6 crossover RCTs.:
• 2 study investigated the influence of music therapy on normative development and
cognitive functioning in children with developmental delay, the result is no
significant effect of improvisational music therapy on the achievement of
developmental communication.
• 2 study of moderate quality examined the effect of music on cognitive functioning
and social behavior in children with autism, the result is a large and significant
effect size found for the early social communication scales – a structured
assessment of individual differences in nonverbal communication skills.
• 3 study showed that music therapy emphasizing song writing and singing
significantly reduced eternalizing behaviors, such as aggressions, hyperativeity,
and conduct issues among newly arrived immigrant and refugee youth as compared
to a control group, the result no significant.
• 3 study low to moderate quality trials eamined the effects of music therapy on
coping among hospitalized childrem, two trials focused primarily on children with
cancer. A comparison of the effects of creating visual art and composing electronic
music, the result no significants difference between the group aon self concept
from pre to post test.
• 1 study eamined the effect of active music engagement (AME) comsisting of song
and instrumental activities on observable coping related behaviors compared to
listening to recorded children ‘s music (ML) or the use of recorded audio
storybooks (ASB). The result are only AME significant increases in positivie facial
affect and active engagement, however, both AME and ML, led to higher rates of
initiation as compared with ASB.
• 1 study eamined the effect of treatment music or familiar children’s music
compared with no music on child and parent experinces of chets physiotherapy in
infants and toodlers with cystic fibrosis, the result is signifinact more positive
experience for parents and children as compared to familiar music or no music.
• 1 study comparing the effect of individualized music therapy emphasizing relaation
and techniques for coping with pain, butterbut root etract, or a placebo in
combination with education and symtomatic pain treatment on the frequency and
severity of migraine frequency. The results are both interventions reduced

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
migraine frequency over an etended period, music therapy however had a more
immediate and lasting impact compared to the pharmacological approach, with
significant reductions migraine frequency posttreatment and follow up.
• 2 study examined change in affective patterns of EEG responding following
passive listening to recorded music, the result no significant, theother result is
significants differences in EEG patterns accompanied by decreased levels of
salivary cortisol.

Nguyen, T.N., Nilsson, S., Hellstrom, A.L., & Bengtson, A., (2010). Music
Therapy to Reduce Pain and Aniety in Children With Cancer Undergoing
Lumbar Puncture: A Randomized Clinical Trial. The Cochrane Database
The study design was a randomized clinical trial followed by interviews with open-
ended question:
Listening to music with earphones as a from of nonpharmacological intervention
reduced pain and anxiety in children with leukemia who underwent LP, involved low
cost and was easy and safe to use. The music reduced pain scores, heart rate,
respiratory rate, and anxiety scores. When the children had earphones with music,
they felt less pain and were calmer and relaxed during and after the procedure.

B. ANALISIS HASIL APPRAISE

Ketiga jurnal yang didapatkan adalah jenis jurnal dengan level evidence Systematic
Review of Randomized Controlled Trials 2 buah dan level evidence uji klinis atau
randomized clinical trial satu buah. Metodologi jurnal tersebut merupakan level
evidence yang paling tinggi yaitu level pertama, yang akurasinya dapat
dipertanggungjawabkan. Pada ketiga jurnal tersebut menyatakan bahwa terapi musik
dapat mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan prosedur tindakan, baik nyeri karena
prosedur tindakan maupun nyeri karena penyakitnya, seperti nyeri pada kanker. Populasi
pada ketiga penelitian tersebut adalah pasien anak yang berusia 1-18 tahun, hal ini
menegaskan bahwa populasi pada ketiga penelitian tersebut memiliki keseragaman. Dari
hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi musik pada anak usia 1-18
tahun dapat mengurangi nyeri.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Bab ini secara khusus menyajikan dan menjelaskan hasil implementasi proyek inovasi
berdasarkan evidence based practice nursing dan analisa data. Tujuan dari implementasi
proyek inovasi berdasarkan evidence based practice nursing adalah untuk mengetahui
pengaruh terapi musik terhadap kenyamanan pasien anak dengan kanker yang
mengalami nyeri maupun yang menjalani kemoterapi.

Implementasi proyek inovasi ini dilakukan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.


Implementasi dilakukan pada tanggal 11 – 20 November 2013 yang dilakukan di ruang
perawatan sebanyak 6 kamar, dengan total sampel 30 orang, yang terbagi 11 orang
pasien yang menjalani kemoterapi, 7 orang mendapatkan prosedur tindakan yang
menyebabkan nyeri, dan 7 orang pasien mengalami nyeri.

Ruang perawatan yang diberikan terapi musik sebanyak 6 kamar dengan berbagai usia, 4
kamar (203, 204, 109, 110) diberikan terapi musik pada waktu pagi hari yaitu pukul
09.00 s.d 10.00, sedangkan 2 kamar(111 dan 112) dilakukan pada sore hari yaitu pukul
16.00 s.d 17.00. dari hasil pengamatan yang dilakukan pada kamar yang diberikan terapi
musik pada pagi hari mendapat respon yang positif berupa anak-anak mendengarkan
lagu yang diputar, bahkan ada yang ikut menyanyi lagu yang diputar tersebut, terutama
pada anak-anak usia toodler dan sekolah. Bahkan ada anak yang meminta untuk tetap
memutar lagu meskipun waktu yang ditentukan untuk intervensi sudah selesai. Pada
anak-anak usia sekolah sampai remaja pada umumnya kurang tertarik pada lagu yang
diputar, hal ini dapat terlihat dari responnya berupa mendengarkan musik sendiri
menggunakan headset, atau main game bahkan ada yang membaca koran, meskipun
demikian pada umumnya anak-anak yang menjalani perawatan diruangan tersebut
menikmati musik yang diputar.

Pemberian terapi musik pada pagi hari yaitu pukul 09.00 s.d 10.00 dapat didengarkan
dengan baik oleh pasien, meskipun kegiatan di pagi hari berupa ronde medis maupun
banyaknya kegiatan tindakan prosedur dipagi hari, meskipun tidak dapat optimal karena

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
banyaknya aktivitas di pagi hari sehingga pasien tidak fokus mendengarkan musik.
Pemberian terapi musik pada sore hari juga dapat didengarkan oleh pasien.

Pemberian terapi musik pada pasien yang menjalani kemoterapi yaitu sebanyak 11
orang, pada umumnya pasien berespon positif terhadap terapi musik yang diberikan,
terutama pada anak usia toodler dan usia sekolah. Pada anak tersebut terlihat lebih
nyaman, hal ini dapat terlihat dengan responnya berupa mendengarkan lagu dengan
serius, ikut bernyanyi sesuai dengan lagu saat diputar, bahkan ada yang sampai joged
atau menari kecil dengan menggerakkan anggota tubuhnya, dan juga keluarga ikut
menyanyi serta mengajak anaknya untuk mendengarkan dan mengikuti nyanyi.

Pada pemberian terapi musik pada pasien yang menjalani prosedur tindakan yang
menyebabkan nyeri atau tidak nyaman, yaitu pengambilan sampel darah sebanyak 2
orang, pemasangan infus sebanyak 1 orang, pemasangan NGT sebanyak 1 orang,
dressing luka sebanyak 1 orang, dan pemberian kemoterapi sebanyak 2 orang, hasil
implementasi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Respon pasien yang diberikan terapi musik saat menjalani prosedur tindakan
No Prosedur Jumlah Respon pre selama Keterangan
tindakan Responden intervensi intervensi
dan usia
1 Pengambilan darah 1 (17) Takut Diam dan Mendengarkan
kooperatif lagu
2 (5) Takut dan Menangis Mendengarkan
menangis dan kurang lagu
kooperatif
2 Pemasangan infus 1 (4) Takut dan Menangis Mendengarkan
menangis tetapi lagu
kooperatif
3 Pemasangan NGT 1 (4) Takut dan Diam dan Mendengarkan
menangis Kooperatif lagu
4 Dressing luka 1 (4) Takut Kooperatif Mendengarkan
lagu dan ikut
menyanyi
5 Kemoterapi IT 1 (5) Takut dan Menangis Mendengarkan
menangis, tetapi lagu
meronta-ronta kooperatif
2 (4) Takut dan Diam, Lebih Ikut menyanyi
menangis tenang dan
kooperatif

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Dari tabel tersebut respon anak-anak respon anak sebelum dilakukan tindakan prosedur
yang menyebabkan nyeri yaitu anak merasa ketakutan dan menangis, dan menolak untuk
dilakukan tindakan prosedur tersebut, tetapi dengan pemberian terapi musik respon anak
selama prosedur tindakan dilakukan pada umumnya lebih kooperatif, meskipun masih
ada yang menangis. Tetapi ada juga yang memberikan respon berupa ikut bernyanyi
mengikuti lagu yang sedang diputar, meskipun volume suara tidak begitu besar.

Pada pemberian terapi musik pada pasien kanker yang mengalami nyeri, karakteristik
responden berusia prasekolah 3 orang (42%), usia sekolah sebanyak 2 orang (28%), usia
remaja sebanyak 2 orang (28%). Skala nyeri sebelum dilakukan tindakan prosedur yaitu
yang mengalami nyeri ringan sebanyak 2 orang (28%), nyeri sedang 4 orang (57%) dan
nyeri berat (14%). Skala nyeri pada pasien selama pemberian terapi musik yaitu nyeri
berat 1 orang (14%) dan nyeri ringan (86%) begitupula nyeri setelah dilakukan terapi
musik. Dari hasil tersebut maka terdapat perbedaan yang bermakna antara sebelum,
selama dan setelah pemberian terapi musik. Meskipun ada satu pasien yang tidak
mengalami perubahan skala nyeri baik sebelum, selama maupun sesudah pemberian
terapi musik.

Tabel 2. Respom pasien anak dengan kanker saat diberikan terapi musik
No. Usia Skala nyeri
Sebelum Selama Setelah
1 S (16 th) 3 1 1
2 R (13 th) 7 7 7
3 I (5 th) 5 3 3
4 MA (5 th) 5 2 2
5 M S (7 th) 5 2 3
6 A (17 th) 3 1 2
7 V (4 th) 6 3 4

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
B. PEMBAHASAN
Jenis terapi musik yang diberikan adalah lagu anak-anak menggunakan musik box
portable, pada umumnya anak-anak menyukai lagu-lagu yang diputar, khususnya anak-
anak usia toodler dan prasekolah. Dalam pelaksanaan penggunaan musik untuk
mengontrol nyeri dan meningkatkan kenyamanan, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan (Potter & Perry, 2005) yaitu memilih musik yang sesuai dengan selera
klien, mempertimbangkan usia dan latarbelakang, karena responden pada implementasi
ini adalah anak-anak maka pemberian terapi musik berupa lagu anak-anak, hal ini
didukung oleh pendapat Klassen, et al. (2010) bahwa Jenis musik yang disukai oleh
anak-anak dalam beberapa penelitian pemberian terapi musik adalah jenis musik folk,
kontemporer, lagu-lagu populer, lagu yang membuat relaks, musik klasik, lulaby, lagu
anak-anak, dan kisah anak-anak. Sedangkan menurut Bekhius (2009) jenis musik yang
disukai oleh anak-anak adalah musik folk, kontemporer, musik klasik dan lulaby.

Pemberian terapi musik yang diberikan selama intervensi adalah kurang lebih 1 jam,
pemberian musik selama 1 jam ini diketahui dapat mempunyai efek positif pada anak-
anak atau pasien yang mendengarkan, seperti yang diungkapkan Samuel (2007) bahwa
untuk mendapatkan efek terapi, idealnya terapi musik diberikan selama kurang lebih 30
menit hingga satu jam tiap hari, namun jika tak memiliki cukup waktu 10 menit pun jadi,
karena selama waktu 10 menit telah membantu pikiran responden beristirahat (Samuel,
2007). Menurut Naylor, et al (2010) durasi pemberian terapi musik untuk mengurangi
nyeri yaitu 15 sampai 30 menit dalam satu sesi yang diberikan dua kali.

Pada implementasi proyek inovasi berdasarkan evidence based practice nursing


didapatkan bahwa anak-anak yang menjalani kemoterapi selama pemberian terapi musik
lebih rileks dan nyaman, hal ini didukung oleh pendapat bahwa kondisi pasien yang
diliputi kecemasan akan memperkuat rangsang nyeri yang diterimanya karena
kecemasan menyebabkan zat penghambat rasa nyeri tidak disekresikan. Dengan adanya
musik sebagai fasilitas maka tingkat kecemasan pasien dapat dikurangi sehingga timbul
perasaan tenang dan rileks, yang mempengaruhi rasa nyeri pada pasien (Klassen, 2010).

Pemberian terapi musik juga diberikan pada anak-anak yang menjalani prosedur tindakan
yang mengakitbatkan respon nyeri atau tidak nyaman, seperti pengambilan darah,
pemasangan infus, pemasangan NGT, pemberian kemoterapi IT maupun dressing luka,
 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
pada umumnya respon pasien yang mendapatkan terapi musik lebih kooperatif saat
dilakukan prosedur tindakan, hal ini didukung oleh pendapat Klassen et al (2010) bahwa
terapi musik dapat mengurangi respon nyeri pasien yang dilakukan prosedur tindakan
seperti penusukan intravena, pemberian obat intramuskular. Dan juga menurut Nguyen
(2010) pemberian terapi musik dapat mengurangi nyeri dan kecemasan saat pasien
leukemia dilakukan kemoterapi secara intratekal.

Pada implementasi ini juga didapatkan bahwa terapi musik juga dapat menurunkan skala
nyeri terutama nyeri ringan (28%) dan nyeri sedang (57%), selama dan setelah
pemberian terapi musik menjadi nyeri berkurang menjadi nyeri ringan sebanyak 86%,
sementara nyeri berat tidak mengalami perubahan selama pemberian terapi musik, hal ini
didukung oleh pendapat Klassen et al (2010) bahwa terapi musik efektif dapat
mengurangi nyeri ringan dan sedang, tetapi kurang efektif untuk pasien yang mengalami
nyeri berat.

Kendala yang dihadapi saat pelaksanaan implementasi adalah saat pemberian terapi
musik di ruangan, ada keluarga pasien yang berbincang-bincang dengan volume agak
keras, sehingga anak-anak di ruang perawatan terkadang kurang fokus mendengarkan
musik yang diputar, begitu pula saat ronde medis karena banyak orang yang masuk
keruangan, hal ini menyebabkan anak-anak kurang mendengarkan lagu yang diputar.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
BAB VI
KESIMPULAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil implementasi proyek inovasi berdasarkan evidence based practice
nursing mengenai pemberian terapi musik, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Jenis lagu terapi musik disesuaikan dengan usia dan latar belakang anak
2. Pemberian terapi musik meningkatkan kenyamanan anak yang menjalani kemoterapi
3. Pemberian terapi musik dapat mengurangi nyeri pasien anak dengan kanker yang
manjalani prosedur tindakan yang menyebabkan nyeri
4. Pemberian terapi musik membuat anak lebih kooperatif saat dilakukan prosedur
tindakan
5. Pemberian terapi musik dapat mengurangi nyeri pada pasien anak dengan kanker
6. Pemberian terapi musik kurang efektif mengurangi nyeri berat

B. SARAN
1. Pemberian terapi musik tidak hanya diberikan pada pukul 09.00 s.d 10.00 atau 16.00
s.d 17.00
2. Pemberian terapi musik diberikan secara sentral di ruang perawatan anak
3. Pemberian terapi musik bukan hanya secara pasif, tetapi juga secara aktif.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
REFERENSI

Bekhuis, T., (2009). Music Therapy May Reduce Pain and Aniety in Children Undergoing
Medical and Dental Procedures. Journal Evidence Based Dental Practice.

Djohan. (2006). Terapi musik. Yogyakarta: Galangpress.

Halim, S. (2002). Music as Complementary therapy in Medical Treatment. Med J Indonesia, 11(4).
250-257.

Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s Essensial of Pediatric Nursing. Eight
Edition, St. Louis: Mosby.

Klassen, J., et al. (2008). Music for Pain and Anxiety in Children Undergoing Medical
Procedures: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials. Ambulatory Pediatrics.

Naylor, K.T., Kingsnorth, S., Lamont, A., McKeever, P., & Macarthur, C., (2010). The
Effectiveness of Music in Pediatric Healthcare : A Systematic Review of Randomized
Controlled Trials. The Cochrane Database.

Nguyen, T.N., Nilsson, S., Hellstrom, A.L., & Bengtson, A., (2010). Music Therapy to
Reduce Pain and Aniety in Children With Cancer Undergoing Lumbar Puncture: A
Randomized Clinical Trial. The Cochrane Database.

Otto, S.E. (2001). Oncology Nursing (4th Edition). St Louis: Mosby.

Perry, A.G., Potter, P.A., & Elkin, M.K. (2012). Nursing Intervention & Clinical Skills (5th
Edition). St Louis: Elseiver Mosby.

Price, S.A., & Wilson, L.M. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
(Edisi 6). Jakarta: EGC.

Snyder, M., & Lindquist, R., (2002). Complementary Alternative Therapies in Nursiing (4th ed).
Spinger Publishing Company.

Tan, L.M.L., Leong, K.S.P., & Yip, W.K., (2010). Effective Pain Management during Painful
Procedures in Children with Cancer: A Systematic Review. Joanna Briggs Database of Systematic
Reviews.

 
WHO (2011). Cancer. http://www.who.int/features/qa/15/en/index.html. diunduh 29 Januari
2012

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
SYSTEMATIC REVIEW (of Therapy) WORKSHEET
Citation:
Music for Pain and Anxiety in Children Undergoing Medical Procedures: A Systematic Review of
Randomized Controlled Trials
Are the results of this systematic review of therapy valid

Is it a systematic review of randomized trials of the • This SRs were identified of the efficacy of music
treatment? therapy on pain and anxiety in children undergoing
clinical procedures.
• The articles that use in this SRs is only include
randomized control trials.
Does it include a methods section that describes: • The systematic review was carried out by a search for
• Finding and including all the relevant trials ? published studies in MEDLINE, Education Resources
• Assessing their individual validity ? Information Center, the Cochrane Central Register of
Controlled Trials, Cochrane Database of Systematic
Reviews, Online Computer Library Center, Articles
First, Repertoire International de Litterature Musicale
Abstract of Music Literature, Computer Assisted
Information Retrieval Service System for Music,
PsycINFO, Allied and Complementary Medicine
Database, EMBASE, Latin American & Caribbean
Health Sciences Literature, and Web of Science
(search strategies available from authors). Based on
evidence that demonstrates an as sociation between
significant results and publication. Keywords used
were: music therapy and pediatrics. Include nineteen
studies met the inclusion criteria : randomized
controlled trial, children aged 1 month to 18 years
were examined, music was used as an intervention,
and the study measured pain and anxiety.
• The article were screened for relevance by two
independent reviewers, and potentially relevant studies
were retreived as full manuscript. Two independent
reviewers assessed studies for inclusion by using
following criteria: population age 1 month to 18 years
(studies involving the neonatal age group were
excluced), the study examined a music intervention in
clinical setting, measured pain or anxiety.
Were the results consistent from study to study ? • 11 studies of passive music therapy measured pain,
comparing music therapy to standard prosedures:
9 Significant differences were found in observer-
reported behaviors indicative of pain and
discomfort.
9 Significantly lower levels of pain for music
therapy combined with ‘uncertainty reduction’
versus standard procedures for venipuncture.
9 Music therapy resulted in significantly less pain for
girls, children with low pain thresholds, and
children with low white blood cell count (<12.000)
9 Significant differences in pain favoring music
therapy over standard procedures for intramuscular
injection.
9 Significantly lower pain with music therapy
compared no music therapy for immunizations.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
9 Significantly less pain in the group receiving the
pharmacological intervention (a lidocain-prilocaine
emulsion, EMLA cream) compared with groups
receiving music therapy or placebo cream.
• 2 studies compare music therapy and standard
procedures: found significant reduction in self
reported pain for dental procedures.
• 7 studies of passive music therapy evaluated anxiety
showed that a low sensory stimulation intervention
was effective in reducing anxiety during the
preoperative period.
• Music therapy delivered the night before and the
morning of surgary showed less observer and parent
reported anxiety compared with study group receiving
music therapy the night before surgary only and with
the standard care group.
Were individual patient data used in the analysis or --
aggregate data ? (may be important in meta-analysis)

Are the valid results of this systematic review important ?


What is the magnitude of the treatment effect ? Passive music therapy is as effective as active music
therapy. Music therapy may be more effective when part
of a multifaceted intervention aimed at distraction the
patient from the painful or anxiety-provoking stimuli.

How precise is the treatment effect ? Music as an adjunctive intervention demontrates clinical
importance in reducing the amount of pharmaceutical
interventions needed.

Can you apply this valid, important evidence from a systematic review in caring for your patient ?
Do these results apply to your patient ? The result especially using music therapy will be apply
in our patient (children)
Is our patient so different from those in the systematic Our patient have to fit all inclusion criteria of this study.
review that its results can’t help you ?

Is the treatment feasible in our setting ? Music therapy is economically feasible and available in
our setting.
What are our patient’s potential benefits and harms from Potentially benefits from music therapy are efficacious,
therapy ? feasible, and affordable to reduce pain and anxiety in
children. There is no harms from using the music
therapy.
What are our patient’s values and expectations for both ---
the outcome are trying to prevent and the treatment we
are offering ?

Should you believe apparent qualitative differences in the efficacy of therapy in some subgroups of patients?
Only if you can say “yes” to all the following:
Do they really make biologic and clinical sense ?
--
Is the qualitative differences both clinically (beneficial for some but useless or harmful for others) and statistically
significant ?
--
Was this difference hypothesised before the study began (rather than the product of dredging the data), and has it
been confirmed in other, independent studies ?
--
Was this one of just a few subgroup snalysis carried out in this study ?
--
Additional Notes:

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
The systematic review suggest that :
Music is effective in reducing anxiety and pain in children undergoing medical and dental procedures. Music can be
considered an adjunctive therapy in clinical situations that produce pain or anxiety.

SYSTEMATIC REVIEW (of Therapy) WORKSHEET


Citation:
The Effectiveness of Music in Pediatric Healthcare : A Systematic Review of Randomized Controlled
Trials
Are the results of this systematic review of therapy valid
Is it a systematic review of randomized trials of the • This SRs were identified evidence to support the
treatment? effectiveness of music on helath related outcomes
for children and adolescent with clinical diagnoses.
• This article that use in this SRs is sample comprised
9 parallel (randomization of individuals), 2 cluster
parallel (randomization of groups of individuals),
and 6 crossover RCTs.
Does it include a methods section that describes: • The search strategy and data base selection were
• Finding and including all the relevant trials ? developed through consultation with a research
• Assessing their individual validity ? librarian. The search strategy contained a broad
series of subject headings and keywords relating to
music or music therapy. Previously published meta
analyses were also reviewed to guide the
development of the search strategy and identify
pertinent publications. The following international
electronic database were searched on the 4th March
2009: Ovid MEDLINE, 1950 to February Week 3
2009: Embase, 1980-2009, week 9 : psycInfo, 1967
to February, week 4 2009; AMED, 1985-February
2009; and CINAHL, 1983-2008. There were no
language restrictions. The search was limited to
time period 1984-2009 inclusive and by age (0-18
years) using filters unique to each database.
• This SRs of the peer reviewed literature was
undertaken following the guidelines outlined in the
PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic
reviews and Meta –analyses) Statement. This
statement includes a 27 item checklist to improve
the conduct of systematic reviews and meta
analyses of health care interventions by ensuring
transparent and complete reporting.
Were the results consistent from study to study ? This SRs were 17 studies
• 2 study investigated the influence of music therapy
on normative development and cognitive
functioning in children with developmental delay,
the result is no significant effect of improvisational
music therapy on the achievement of developmental
communication.
• 2 study of moderate quality examined the effect of
music on cognitive functioning and social behavior
in children with autism, the result is a large and
significant effect size found for the early social
communication scales – a structured assessment of
individual differences in nonverbal communication
skills.
• 3 study showed that music therapy emphasizing
song writing and singing significantly reduced
eternalizing behaviors, such as aggressions,

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
hyperativeity, and conduct issues among newly
arrived immigrant and refugee youth as compared to
a control group, the result no significant.
• 3 study low to moderate quality trials eamined the
effects of music therapy on coping among
hospitalized childrem, two trials focused primarily
on children with cancer. A comparison of the effects
of creating visual art and composing electronic
music, the result no significants difference between
the group aon self concept from pre to post test.
• 1 study eamined the effect of active music
engagement (AME) comsisting of song and
instrumental activities on observable coping related
behaviors compared to listening to recorded
children ‘s music (ML) or the use of recorded audio
storybooks (ASB). The result are only AME
significant increases in positivie facial affect and
active engagement, however, both AME and ML,
led to higher rates of initiation as compared with
ASB.
• 1 study eamined the effect of treatment music or
familiar children’s music compared with no music
on child and parent experinces of chets
physiotherapy in infants and toodlers with cystic
fibrosis, the result is signifinact more positive
experience for parents and children as compared to
familiar music or no music.
• 1 study comparing the effect of individualized
music therapy emphasizing relaation and techniques
for coping with pain, butterbut root etract, or a
placebo in combination with education and
symtomatic pain treatment on the frequency and
severity of migraine frequency. The results are both
interventions reduced migraine frequency over an
etended period, music therapy however had a more
immediate and lasting impact compared to the
pharmacological approach, with significant
reductions migraine frequency posttreatment and
follow up.
• 2 studyeamined change in affective patterns of EEG
responding following passive listening to recorded
music, the result no significant, theother result is
significants differences in EEG patterns
accompanied by decreased levels of salivary
cortisol.
Were individual patient data used in the analysis or --
aggregate data ? (may be important in meta-analysis)

Are the valid results of this systematic review important ?


What is the magnitude of the treatment effect ? The findings offer limited qualitative evidence to
support the effectivenss of music for children with
learning and development disorders and acute/or
chronic phisically illness, and children experiencing
stressfull live events.
How precise is the treatment effect ? --

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
Can you apply this valid, important evidence from a systematic review in caring for your patient ?
Do these results apply to your patient ? The result especially using music therapy will be
apply in our patient (children)
Is our patient so different from those in the systematic Our patient have to fit all inclusion criteria of this
review that its results can’t help you ? study.

Is the treatment feasible in our setting ? Music therapy is economically feasible and available
in our setting.
What are our patient’s potential benefits and harm s Potentially benefits from music therapy are
from therapy ? efficacious, feasible, and affordable to reduce pain and
anxiety in children. There is no harms from using the
music therapy.
What are our patient’s values and expectations for ---
both the outcome are trying to prevent and the
treatment we are offering ?

Should you believe apparent qualitative differences in the efficacy of therapy in some subgroups of
patients? Only if you can say “yes” to all the following:
Do they really make biologic and clinical sense ?
--
Is the qualitative differences both clinically (beneficial for some but useless or harmful for others) and
statistically significant ?
--
Was this difference hypothesised before the study began (rather than the product of dredging the data), and has
it been confirmed in other, independent studies ?
--
Was this one of just a few subgroup snalysis carried out in this study ?
--

Additional Notes:
The systematic review suggest that :
The effectiveness of music among varied pediatric conditions and setting. The findings offer limited qualitative
evidence to support the effectiveness of music for children wih learning and development disorders and acute
and or chronic physical illness, and children experiencing stressful life events. No evidence support the
effectiveness of music for children with mood disorders and related psychopathology was found. Music may be
used to enhance cognitove abilities, facilitate verbal and nonverbal communication, and influence physiology.
The emotive qualitities of music may reduce the effects of trauma and facilitate coping strategies for difficult
environments. Music may also reduce symtomatology, such as maladaptive behaviors, and migraine frequency.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
THERAPY WORKSHEET
Citation:
Music Therapy to Reduce Pain and Aniety in Children With Cancer Undergoing Lumbar Puncture: A
Randomized Clinical Trial

Are the results of this single preventive or therapeutic trial valid ?


Was the assignment of patients to treatments The study design was a randomized clinical trial
randomized? followed by interviews with open-ended question.
And was the randomization list concealed ? After informed consent, the children were randomized
to either use earphones with music (music group) or
earphones without music (control group).
Randomization was carried out using opaque
envelopes, half of which contained a paper said
“music” and half a paper that said “no music”
Was follow-up of patients sufficiently long and A total of 49 children were asked to participate in the
complete ? study and, of these, 40 agree to participate. Eight
children withdrew because their parents declined for
reasons of time or money, which made an etended stay
at the hospital impossible. One child did not want to
participate because he was shy.
And were they analyzed in the groups to which they This study were the primary outcome was pain scores,
were randomized ? and the secondary was heart rate, blood pressure,
respiratory rate, and oxygen saturation measured
before, during, and after the procedure. Anxiety scores
were measured before and after the procedure.
Interviews with open-ended questions were conducted
in conjunction with the completed procedures.
Were patients and clinicians kept “blind” to treatment The reseacher and the physician did not know to
received ? which group the patient belonged
Were the groups treated equally, apart from the The children in the music group chose songs they like
experimental treatment ? to be played into earphones from an iPod, that is, a
portable music player with earphones. In the control
group, earphone without music were used.
Were the groups similar at the start of the trial ? A total of children were asked to participate in the
study and, of these, 40 agree to participate. The 40
children, 25 boys and 15 girls, were randomly
assigned to 1 of the 2 groups; the music group (n=20)
or the control group (=30). No signifficant differences
were found beetwen the groups with respect to age or
gender and total time with earphones.

Are the valid results of this randomized trial important ?


YOUR CALCULATIONS:
Download Clinical Calculator Relative Risk Absolute Risk Number Needed to
Reduction (RRR) Reduction (ARR) Treat (NNT)
CER EER CER-EER CER – EER 1/ARR
CER
-- -- -- -- --

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014
CER = control event rate EER : Eperimental event rate

Are the valid results, important results applicable to our patient?


Is your patient so different from those in the study that The result especially using music therapy will be
its results cannot apply ? apply in our patient (children)
Is the treatment feasible in our setting ? Our patient have to fit all inclusion criteria of this
study.
How great would the potential benefit of therapy Music therapy is economically feasible and available
actually be for four individual patient? in our setting.
What are our patient’s values and epectations for both --
the outcome we are trying to prevent and the treatment
we are offering ?

Additional Notes:
The systematic review suggest that :
Listening to music with earphones as a from of nonpharmacological intervention reduced pain and anxiety in
children with leukemia who underwent LP, involved low cost and was easy and safe to use. The music reduced
pain scores, heart rate, respiratory rate, and anxiety scores. When the children had earphones with music, they
felt less pain and were calmer and relaxed during and after the procedure.

 
 
Aplikasi model…, Nurhidayatun, FIK UI, 2014