Anda di halaman 1dari 46

35 Candi Peninggalan Agama Hindu di

Indonesia
Sponsors Links

Agama hindu di Indonesia dibawa oleh para musafir dari India dan Tiongkok. Dari beberapa
musafir yang terkenal adalah Maha Resi Agastya dari India yang lebih terkenal dengan sebutan
Batara Guru atau Dwipayana. Gaung budaya hindu mulai terdengar pada abad ke-4 dengan
berdirinya Kerajaan Tarumanegara. Serta kerajaan hindu kuno adalah Kerajaan Mataram.

Teori Vaishya adalah teori kedatangan agama hindu di Indonesia yang dibawa oleh pedagang
Hindustan yang melakukan perkawinan dengan penduduk asli Indonesia. Ada juga teori
Kshatrya yang berpendapat prajurit Hindustan setelah perang pergi berlibur ke nusantara. Teori
Brahmana mengambil sudut pandang tradisional dengan berpendapat misionaris hindu
menyebarkan agama kepada penduduk local. Teori terakhir adalah teori nasionalis yang
berpendapat para bangsawan menganut agama ini ketika kembali dari perjalanan di Hindustan.

Seiring berkembangnya agama hindu, didirikanlah candi-candi yang digunakan untuk ibadah,
upacara ritual dan juga pemujaan terhadap dewa. Ada tiga dewa dalam agama hindu. Dewa
Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai pelebur.

Candi-candi ini tersebar di sepanjang Pulau Jawa yaitu, Jawa Tengah, jawa Timur dan jawa
Barat. Pada dasarnya candi-candi tersebut memiliki arsitektur yang sama. Namun yang
membedakan adalah aksen dan ornament didalamnya. Ada beberapa candi di Indonesia yang
bisa dikunjungi.

Baca juga : Peristiwa Bandung Lautan Api

1. Candi Prambanan – Yogyakarta

Candi Prambanan atau disebut juga sebagai Candi Roro Jonggrang karena erat kaitannya dengan
legenda Roro Jongrang yang ingin dipersunting oleh Bandung Bondowoso. Karena Roro
Jongrang tidak berniat menikah dengannya. Maka Roro Jongrang membuat syarat dengan harus
membangun 1000 candi dalam satu malam.

Karena syarat itu Bandung Bondowoso mengerahkan seluruh keahliannya dengan bantuan jin.
Candi-candi tersebut akhirnya akan selesai sebelum fajar, tapi Roro Jongrang dengan akalnya
dapat membuat candi-candi tersebut gagal terbangun. Bandung Bondowoso mengetahui kalau
Roro Jongrang lah yang menggagalkannya. Maka dikutuklah Roro jongrang dan menjadi bagian
dari candi.

Candi ini dibangun pada masa Kerajaan Mataram yang menurut arkeolog dibangun pada abad
ke-9. Candi ini dibangun untuk menghormati Dewa Siwa. Hal ini diperkuat dengan tulisan dalam
prasasti Siwagraha yang dalam bahasa sansekerta yang artinya Rumah Siwa. Di dalam candi ini
terdapat patung Dewa Siwa setinggi 3 meter yang konon patung itu adalah Roro Jonggrang.
2. Candi Arca Gupolo – Yogyakarta

Keunikan candi ini, karena candi ini satu-satunya yang hanya terdiri dari arca. Terdapat 7 arca
yang memiliki aksen candi agama hindu pada umumnya. Seperti arca agastya yang besarnya
mencapai 2 meter. Arca agastya ini identik dengan trisula. Dimana trisula adalah simbol dewa
Siwa.

Candi ini terdapat di kelurahan Sambirejo, kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Candi ini
memiliki kekhasan karena terdapat sumur abadi di dalam kompleks candi. Sumur yang banyak
digunakan penduduk di kala musim kemarau panjang. Karena tidak pernah kering sejak
ditemukan.

Candi ini kononnya masih memiliki hubungan dengan candi Prambanan. Gupolo adalah nama
patih untuk raja Ratu Boko yang memiliki candi ratu boko. Ratu boko sendiri adalah nama dari
ayah Roro Jonggrang (Candi Prmabanan) jadi ketika candi tersebut masih memiliki hubungan

3. Candi Cetho _ Jawa Tengah

Candi yang dibangun pada abad ke-15 ini berada di bagian barat pegunungan lawu, daerah
karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun pada masa Sejarah Kerajaan Majapahit akhir.
Candi ini ditemukan oleh pemerintah Hindia-belanda karena terkubur dialam tanah reruntuhan.

Program penggalian dimulai pada tahun 1928. Hal tersebut tertuang dalam tulisan Van de Vlies
ada tahun 1842 dan dipertegas oleh penelitian A.J. Bernet Kempers.

4. Candi Sukuh – Jawa Tengah

Candi yang memiliki arsitektur unik seperti Suku Maya di Meksiko, Suku Inca di Peru dan
bentuknya mirip piramida di Mesir. Candi yang terletak di Karanganyar, Jawa Tengah. Letaknya
tidak jauh dari Cnadi Cetho. Candi ini adalah candi terkecil di Jawa Tengah dan area candi yang
tergolong sempit.

Para arkeolog meyakini bahwa candi ini adalah candi peninggalan agama hindu. Hal ini ditandai
dengan adanya tempat pemujaan Lingga dan Yoni. Menurut para ahli Lingga dan Yoni adalah
simbol seksualitas manusia.

ads

5. Candi Dieng – Jawa Tengah

Dieng yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu Dihyang yang memiliki arti arwah para leluhur.
Candi ini terdapat did daerah dataran tinggi Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Dieng. Menurut
penilitian candi ini dibangun pada masa kerjaan Mataram Hindu.

Di dalam candi ini terdapat beberapa arca Dewa Siwa, Dewa Wisnu, Agatsya dan juga Ganesha.
Kompleks Candi Dieng memiliki keunikan. Candi candi yang terdapat dalam komplek candi
dinamakan seperti tokoh pewayangan. Contohnya Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima,
Candi Semar, Candi Srikanci, Candi Dwarawati, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada.

Baca juga : Sejarah Kerajaan Majapahit

6. Candi Gedong Songo – Jawa Tengah

Kompleks Candi Gedong Songo memiliki jumlah candi sebanyak 9 buah. Oleh sebab itu
dinamakan Gedong Songo yang artinya Gedung sembilan. Candi yang diperkirakan dibangun
pada periode Wangsa Seilendra atau sekitar abad ke 9 Masehi. Candi ini dibangun pada masa
Mataram hindu.

Candi ini baru ditemukan pada tahun 1840 oleh Stamford raffles ketika melakukan penelitian di
gunung Ungaran. Tepatnya di desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Semarang Jawa Tengah.

7. Candi Penataran – Jawa Timur

Candi yang khusus memuja dewa Siwa ini dibangun pada masa raja Srengga dari kerjaan kediri.
Candi ini juga masih digunakan pada masa raja Wirakramawardhana di era sejarah kerajaan
majapahit sekitar 1415 masehi. Candi ini Masih digunakan untuk upacara keagamaan.

Menurut sejarah Candi ini awalnya bernama Candi palah menurut prasasti yang terdapat
disekitar candi. namun karena candi ini terletak di daerah Penataran, kecamatan Nglegok Blitar.
Maka candi ini dinamakan candi Penataran dan merupakan kompleks candi termegah di daerah
Jawa Timur dan sekitar gunung Kelud.

8. Candi Kidal – Jawa Timur

Candi ini terdapat didaerah Malang Jawa Timur. Candi ini dibangun sekitar 1248 dan dilakukan
pemugaran pada tahun 1990 oleh pemerintah Indonesia. Uniknya candi Kidal adalah candi ini
tidak saja digunakan untuk upacara pemujaan dewa semata. Candi ini dibangun untuk
penghormatan kepada raja kedua kerajaan Singosari, Raja Anuspati.

Karena pada zaman Anuspati, kerajaan Singosari merengkeh kemakmuran selama 20 tahun
sebelum berakhir karena Anuspati dibunuh oleh Panji Tohjaya saat terjadi kudeta. Kejadian ini
terjadi karena legenda kutukan Mpu Gandring.

9. Candi Pringapus – Jawa Timur

Candi Pringapus dibangun berdasarkan bentuk Gunung Mahameru. Gunung Mahameru


dipercaya oleh masyarakat Hindu Kuno sebagai tempat berdiamnya para dewa. Pemahaman ini
dapat dilihat dari relief hapsara hapsari yang terdapat di dinding candi. Hapsara hapsari adalah
perwujudan manusia setengah dewa.
Candi ini dinamakan candi Pringapus karena terdapat di daerah Pringapus, Kecamatan
Ngadirejo, Temanggung, Jawa tengah. Tepatnya 22 km daerah barat pusat kota Temanggung.
Candi ini hanya digunakan untuk pemujaan dewa Siwa saja.

10. Candi Cangkuang – Jawa Barat

Candi ini ditemukan oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita. Candi ini dipercaya
berdiri pada abah ke 8 masehi pada masa Purnawarman dari Tarumahegara dan awal kerajaan
Pajajaran. Candi ini merupakan candi untuk sekte Siwaistik, atau pemuja dewa Siwa

Candi Cangkuang merupakan satu-satunya candi hindu yang terdapat di tanah Sunda. Candi ini
dapat ditemui di daerah kampung Pulo, Leles, Garut. Tepatnya disamping makam sesepuh Islam
kampung Pulo, Mbah Dalem Arief Muhammad, di desa Cangkuang.

Cangkuang sendiri berarti daun yang sering digunakan masyarakat setempat untuk membuat
tikar. Candi ini telah mendapatkan pemugaran pada tahun 1974-1975. Namun baru pada tahun
1976 di rekontruksi. Rekonstruksi menggunakan hanya 40% batu candi sisanya semen dan pasir.
serta besi.

Baca juga: Pertempuran Medan Area

11. Candi Gunung Sari – Jawa Tengah

Candi yang terletak di gunung Wukir, Kecamatan Salam, Magelang. Terletak di dataran tinggi
dan candi ini khusus menyembah Dewa Siwa atau masuk dalam golongan Siwaistik. Candi ini
berumur lebih tua dari candi Gunung Wukir yang terletak tidak jauh dari kompleks candi ini. Hal
itu didapat dari prasasti yang terdapat dalam area candi.

12. Candi Gunung Wukir – Jawa Tengah

Candi yang terletak di lokasi yang sama dengan candi Gunung Sari ini berusia lebih muda. Hal
ini ditandai dengan usia batu andesit yang diperkirakan berusia 732 tahun. Luas area candi 50 x
50 m ditemukan prasasti canggal, altar yoni, ptung lingga dan patung Andini (lembu betina).
Candi ini tidak banyak mendapat pemugaran sejak ditemukan. Itu dibuktikan masih banyaknya
bebatuan candi yang berserakan.

13. Candi Jago – Jawa Timur

Candi yang menurut penelitian dibangun abad ke 13 masehi pada masa kerajaan Singosari ini.
candi ini terdapat di daerah Tumpang, Malang Jawa timur. Di Candi Jago terdapat dua cerita
relief yang menjadi dasar pendirian candi, yakni relief Kunjakarna dan Pancatantra. relief itu
banyak menceritakan kisah-kisah hindu salah satunya pernikahan Arjuna dengan Dewi Suparba.

Dalam area candi juga di temukan prasasti Arca manjusri. Arca menceritakan tentang asal mula
pembangunan candi. Konon candi ini dibangun oleh Raja Kertanegara untuk menghormati
mendiang ayahnya Raja Wisnuwardhana.
14. Candi Sambisari – Yogyakarta

Candi ini memiliki luas 50m x 48m ini dibangun di daerah Purwomartani, Sleman, Yogyakarta.
Candi yang memiliki keunikan karena berbentu puzzle. Namunpada abad ke-11 candi ini tertutup
tanah vulkanis akibat letusan Gunung Merapi. Candi ini diketahui pertama kali pada tahun 1966
oleh petani desa Sambisari. Letak dari batuan candi ini berada di kedalaman 6,5 meter dari
permukaan tanah.

Bentuk candi ini memiliki keunikan. Pada bagian luar dikelilingi tembok berbentuk persegi. Di
dallam area itu terdapat tiga bangunan candi. Dua candi pendamping dan satu candi utama. Di
bagian utara ada patung Durga, di bagian selatan ada patung Agastya, di bagian timur ada patung
Ganesha, sedangkan di bagian barat terdapat dua patung penjaga, yakni patung Mahakala dan
Nandiswara. Dibagian candi utama terdapat lingga dan yoni yang berukuran cukup besar.

15. Candi Asu – Jawa Tengah

Candi ini terletak 11 km arah utara dari candi Ngawen. Sedangkan disekitar candi Asu juga
terdapat candi hindu lainnya yakni Candi Pendem dan Candi Lumbung. Candi Asu dinamakan
karena masyarakat lokal melihat bentuk anjing. Padahal itu adalah patung Anandi yang
merupakan lembu betina tunggangan Dewa Siwa.

Baca juga: Peristiwa Rengasdengklok

Sponsors Link

16. Candi Kedulan – Yogyakarta

Candi yang ditemukan oleh penambang pasi pada tahun 1993 ini terletak di daerah kedulan,
Kecamatan Kalasan Yogyakarta. Candi yang memiliki arsitektur dengan berciri khas mulut kala
bertaring bawah. Candi ini diperkirakan berdiri sekitar abad ke-9 yaitu pada zaman Kerajaan
mataram Kuno. Candi ini menurut penelitian pernah tertimbun oleh berbagai lapisan tanah yang
diperkirakan akibat letusan gunung merapi pada abad ke-11 masehi

17. Candi Kimpulan – Yogyakarta

Satu-satunya candi di daerah Yogyakarta yang berada di dalam area kampus. Tepatnya di
kampus Universitas Islam Indonesia. Pada tahun 2009 ditemukan berkat adanya proyek
pembanguna perpustakaan UII yang sedang melakukan pembangunan pondasi sedalam lima
meter dibawah tanah. Candi dengan arsitek Siwaistik ini diperkirakan dibangun pada kurun
waktu antar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pada zaman kerajaan Mataram kuno. Masyarakat
sekitar menyebutnya sebagai Candi UII karena terletak di daerah kampus. namun pihak yayasan
kampus menamainya Pustakasala yang dalam bahasa sansekerta berarti perpustakaan.

18. Candi Barong – Yogyakarta


Candi yang dinamakan barong karena banyak arsitektur relief yang mirip barong ini berada
didaerah prambanan. Candi yang meurut para ahli merupakan peninggalan Kerajaan Medang
pada abad ke-9. Berbeda daripada candi-candi lain di Yogyakarta yang bersifat siwaistik atau
pemujaan kepada dewa Siwa. Candi barong yang memiliki kekhasan dua candi utama diatas
undakan. Diperkirakan memuja Dewa Wisnu dan Dewi Sri.

Baca juga : Sejarah Kerajaan Kutai Kertanegara

19. Candi Ijo – Yogyakarta

Candi yang kira-kira berlokasi 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko. Candi yang
ditemukan dengan luas sekitar 0.8 hektare ini diperkirakan memiliki luas yang lbih besar
dibandingkan saat ini. Dinamakan Candi Ijo karena berada di daerah Gumuk atau dalam bahasa
Indonesia disebut Bukit Hijau. Candi ini tidak hanya dibangun untuk Dewa Siwa tapi kepada
Trimurti atau tiga dewa utama agama hindu. Yaitu Dewa Brahma, Dew Wisnu dan Dewa Siwa.
Candi Ijo berbentuk kompleks yang terdiri dari Candi Utama, Candi Pengapit dan candi perwara
yang menghadap ke arah barat.

20. Candi Gebang – Yogyakarta

Candi yang ditemukan pada tahun 1936 ditemukan oleh arkeolog Belanda Van Remondt.
Setahun setelah ditemukan dilakukan pemugaran dari tahun 1937-1939. Candi ini terletak di
daerah Wedomartani, di dusun Gebang, Sleman. Pembangunan candi ini berawal pada masa
kepemimpinan Wangsa Sanjaya pada abad ke-8 yang berkuasa di kerajaan Mataram kuno.

21. Candi Jawi – Jawa Timur

Candi Jawi atau nama asalnya Candi Jajawa di bangun pada masa kerajaang Singosari yaitu pada
abad ke-13. Candi yang dibangun untuk peribadatan Raja Kertanegara ini merupakan candi
siwaistik. Candi yang menjadi tempat peribadatan Raja kertangera ini memiliki sebagian abu
bekas kremasi raja Kertanegara. Sebagian di simpan di Candi Jago yang juga merupakan candi
peribadatan raja Kertanegara. Candi ini terdapat di kaki Gunung Welirang Kecamatan Prigen,
Pasuruan, Jawa Timur.

22. Candi Jago – Jawa Timur

Candi yang terletak di kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Biasa juga disebut Candi
Jajaghu. Candi ini didirikan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari untuk menghormati
mendiang ayahnya Raja Wisnuwardhana yang meninggal pada tahun 1268. Di Candi ini dulu
terdapat arca Manjusri yang di simpan oleh Adityawarman. Saat ini arca tersebut di simpan di
Museum Nasional.

Baca juga : Pahlawan Nasional Wanita

23. Candi Singhasari – Jawa Timur


Candi yang didirikan oleh kerajaan Singosari ini sering disebut juga Candi Singosari. Terletak di
Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Malang, Jawa Timur. Candi ini terletak diantara dua
lembah di pegununggan Tengger dan gunung Arjuna. Candi yang dibangun dengan cara diukir
dari atas kebawah dipercaya belum selesai pembangunannya. pemugaran dilakukan oleh
pemmerintah kolonial di Abad ke-20 tahun 1934-1936

24. Candi Surawana – Jawa Timur

Candi yang aslinya bernama Candi Wishnubhawanapura ini dibangun untuk menghormati Bhre
Wengker pada abad ke-14. Bhre Wengker adalah raja kerajaan Wengker yang berada dalam
wilayah Sejarah Kerajaan Majapahit. Raja Wengker wafat pada tahun 1388. Raja Hayam Wuruk
semasa pemerintahannya pernah menginap di candi ini. Candi ini bisa dikunjungi di Desa
Canggu, Pare, Kediri.

25. Candi Brahu – Jawa Timur

Menurut Prasasti Alasantan, asal nama Brahu adalah Warahu atau wanaru yang artinya bangunan
suci. Menurut prasasti mpu sendok, candi ini dibangun untuk melakukan kremasi terhadap raja-
raja. Namun menurut penelitian tidak pernah ditemukan bekas abu pembakaran di candi ini.
Candi ini dibangun menggunakan bata merah dan telah dilakukan pemugaran selama lima tahun.
Dari tahun 1990 sampai tahun 1995.

26. Candi Gentong – Jawa Timur

Tidak banyak yang dapat dilihat dari candi ini. Candi yang berada dalam satu komplek trowulan.
Saat ini hanya berupa tumpukan batu bata merah. menurut Verbeek pada tahun 1889, Candi
Gentong masih terlihat sebagai bangunan. Namun tahun 1907 candi gentong sudah tidak
berbentuk lagi. Candi Gentong pernah di lakukan pemugaran dari tahun 1995 sampai tahun
2000. Hasilnya sudah bisa terlihat bentuk candi yang sesungguhnya.

27. Candi Bajang Ratu – Jawa Timur

Candi ini berberntuk seperti gapura. Dibangun pada masa kerjaan Majapahit yaitu abad ke-14.
Pembangunan candi ini yang dikenal sebagai Gapura Bajang Ratu, untuk memperingati wafatnya
Raja kedua Majapahit yaitu Jayanegara pada tahun 1328. Bajang yang artinya orang kerdil.
Menurut cerita Raja Jayanegara dinobatkan pada saat masih kecil atau Bujang.

28. Candi Tikus – Jawa Timur

Terletak di kompleks trowulan. Candi yang ditemukan kembali pada tahun 1914. Penemuan
diinisiasi oleh Bupati Mojokerto saat itu R.A.A Kromojoyo adinegoro. Candi ini dipugar 1984
sampai 1985. Penamaan candi ini dikarenakan awal penemuannya sebagai sarang Tikus.

Baca juga : Peristiwa G30S/PKI

29. Candi Mojongmende – Jawa Barat


Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan untuk Candi ini. Candi ini diperkirakan dibangun
pada abad ke-7 lebih muda dari pada Candi Dieng. Namun banyak yang memperkirakan Candi
ini berumur lebih tua dibandingkan candi yang terdapat di daerah Jawa Tengah dan jawa Timur.
Candi ini terdapat di Dusun Bojongmende, Rancaekek, Bandung, Jawa Barat.

Sponsors Link

30. Candi Losari – Jawa Tengah

Candi unik ini di temukan di Dusun Losari Desa Salam, magelang Jawa Tengah. Candi ini
ditemukan oleh petani salak pada tanggal 11 Mei 2004. Menurut Badri sang penemu candi.
Dirinya hendak menggali parit disekitaran kebun salaknya. Penemuan ini kemudian
ditindaklanjuti dengan ekskavasi arkeologis dan rekonstruksi oleh pemerintah melalui Balai
Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dan Balai Arkeologi Yogyakarta.

31. Candi Liyangan – Jawa Tengah

Candi ini ditemukan pada tahun 2008 di lereng Gunung Sundoro di Dusun Liyangan, Ngadirejo,
Kecamatan Temanggung, Jawa Tengah. Menurut peneliti Candi Liyangan merupakan kompleks
candi yang memiliki struktur kompleks. Candi Liyanga diindikasi sebagai kompleks pemukiman,
ritual, sekaligus pertanian. Candi ini mengalami pemugaran pada tahun 2010 dan 2011 oleh
Balai arkeologi Yogyakarta.

32. Candi Morangan – Yogyakarta

Candi ini diperkirakan memiliki zaman yang sama dengan Candi Prambanan. Candi yang
dibangun pada zaman Mataram Kuno. Ditemukan pada tahun1884 di kedalaman 6.5 meter
dibawah permukaan tanah. Candi ini terletak di Dusun Morangan, Ngemplak, Kabupaten
Sleman, Yogyakarta. Candi ini terdiri dari dua candi yaitu candi induk dan candi perwara. Candi
induk menghadap ke barat, berbilik satu dan berdenah bujur sangkar berukuran 7,95 m x 7,95 m
serta mempunyai selasar selebar 90 m.

33. Candi Abang – Yogyakarta

Candi ini terletak di Kelurahan Jogotirto, Sleman. Candi ini berbentuk piramida. Dinamakan
candi abang karena menggunakan bata merah. Keunikan candi ini karena terdapat yoni atau arca
dewa Siwa yang berbentuk segidelapan. Biasanya yoni berbentuk segiempat.

34. Candi Jabung – Jawa Timur

Candi ini terdapat di Desa Jabung, Probolinggo, Jawa Timur. Candi yang dibangun pasa masa
sejarah kerajaan majapahit. Candi ini mengalami pemugaran pada tahun 1983-1987. Candi ini
berdiri diatas lahan seluas 35 x 40 meter. Bangunan candi terdiri dari satu bangunan induk dan
satu bangunan kecil yang disebut bangunan sudut. Candi ini dibangun dengan batu bata kualitas
tinggi untuk relief

35. Candi Lor – Jawa Timur


Candi ini dianggap sebagai candi cikal bakal berdirinya Kabupaten nganjuk. Dalam areal candi
ini terdapat dua makam abdi dalem Mpu Sendok. Abdi dalem tersebut adalah Eyang Kerto dan
Eyang Kerti. Raja Mataram Hindu yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikrama
Dharmottunggadewa memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai
Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta
sebagai pertanda penetapan kawasan Anjuk Ladang \ sebagai kawasan swatantra atas jasa warga
Anjuk Ladang dalam peperangan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Memilih Judul

Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini
adalah sebagai berikut:
1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui
2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya
3. Sebagai siswa tertarik kepada keindahan dan seni budaya bangunan Candi Borobudur
4. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Candi Borobudur

B. Batasan Masalah

Agar pembahasan sesuai dengan yang di inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar
maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?

2. Apakah Arti Borobudur?


3. Benda – Benda Apa Saja Yang Ada Di Candi Borobudur?
4. Bagaimana Peranan Candi Borobudur Bagi Obyek Wisata?

C. Tujuan Yang Ingin Di Capai

Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2. Sebagai siswa harus tahu latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3. Untuk mengetahui makna dan arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi
Borobudur
4. Mengetahui peranan Candi Borobudur sebagai objek Wisata

D. Sumber – Sumber Yang Di Gunakan

Sumber – Sumber bahasan yang di gunakan untuk pembuatan karya tulis ini adalah sebagai
berikut:
1. Metode Deskriptif: yaitu Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2. Metode Biografi: Yaitu metode dengan cara meneliti batu – batu majalah dan media lainya
3. Metode Observasi: yaitu penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah
mendapat data – data
4. Dan informasi dari beberapa tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur

BAB II
SEJARAH SINGKAT CANDI BOROBUDUR

A. Waktu Di Dirikan

Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan Candi
Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan dapat di
peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur (
Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir
abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa
Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.
Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah Indonesia
pada umumnya dan juga sejrah yang berada di daerah jawa tengah paa khususnya periode antara
abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa Syailendra
kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng gunung
kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran – dataran
adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa
Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan
mengagungkan agama Budha Mahayana.

B. Penemuan Kembali

Borobudue yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah di
sekelilingnya
Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil
karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur
pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang cukup
lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses
kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah,
waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit
alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu
SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M
pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam –
macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada
kira – kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul
dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di
kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang pemandangan
oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur
sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing –puing yang masih menutupi candi di
sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong dari bangunan candi di singkirkan semua
shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.

C. Penyelamatan I

Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali
bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan
gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di
adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah
untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur
walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah sebelah
Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi
para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van Erp tersebut untuk
sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah
mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di
lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi
adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur,
Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat
membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan
tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada
kerusakan yang lebih parah

D. Pemugaran Candi Borobudur

Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan
pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan
pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA dan
SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam
bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur
sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang
sudah retak dan pecah, pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh
badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan
transportasi pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA
KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE
FILIPINE ).
Bagian – bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat
dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III
dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah
pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar
di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan
dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta
yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

E. Bangunan Candi Borobudur

a. Uraian Banguan Candi Borobudur


Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi
Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4 sisinya (
Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak
bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam
tiga bagian besar di antaranya :
1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada
hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada
bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang
melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah
meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini
terdapat pada lorong satu sampai lorong empat
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini
terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.
b. Patung
Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya
sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah

Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya
perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap
tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap tangan patung
Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra
yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu
langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama
maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it adalah Bhumispara – Mudra Wara –
Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra.
c. Patung Singa
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa
seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang
karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga
menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan
anggun.
d. Stupa
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang
merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk
+ 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan
juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di
mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada
pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang
menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan
bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II
saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil
jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
e. Relief
Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan
aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai
penutup
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang
secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan
juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya.
Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:
- Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan –
perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
- Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci
bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman
hidup dan dapat pahala
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil
kesimpulan sebagai berikut:

1. Sejarah Candi Borobudur

Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu
perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli
Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari
prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik
kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.

2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi

Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan
+ 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di
kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah
timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung
Sindoro.

3. Nama Dan Arti Candi Borobudur

Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta
berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama ( Menurut
Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di
Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas
bukit

B. Saran – Saran

Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
1. kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan
berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara
tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3. penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi
muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan
kebudayaan bangsa sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

1. MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993


2. Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980
Daftar website
http://www.anakciremai.com/2008/05/makalah-sejarah-tentang-candi-borobudur.html
http://www.google.co.id/search?q=makalah+sejarah&ie=utf-8&oe=utf-
8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-

BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Memilih Judul

Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini
adalah sebagai berikut:
1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui
2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya
3. Sebagai siswa tertarik kepada keindahan dan seni budaya bangunan Candi Borobudur
4. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Candi Borobudur

B. Batasan Masalah

Agar pembahasan sesuai dengan yang di inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar
maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?

2. Apakah Arti Borobudur?


3. Benda – Benda Apa Saja Yang Ada Di Candi Borobudur?
4. Bagaimana Peranan Candi Borobudur Bagi Obyek Wisata?

C. Tujuan Yang Ingin Di Capai

Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2. Sebagai siswa harus tahu latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3. Untuk mengetahui makna dan arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi
Borobudur
4. Mengetahui peranan Candi Borobudur sebagai objek Wisata

D. Sumber – Sumber Yang Di Gunakan

Sumber – Sumber bahasan yang di gunakan untuk pembuatan karya tulis ini adalah sebagai
berikut:
1. Metode Deskriptif: yaitu Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2. Metode Biografi: Yaitu metode dengan cara meneliti batu – batu majalah dan media lainya
3. Metode Observasi: yaitu penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah
mendapat data – data
4. Dan informasi dari beberapa tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur

BAB II
SEJARAH SINGKAT CANDI BOROBUDUR

A. Waktu Di Dirikan

Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan Candi
Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan dapat di
peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur (
Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir
abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa
Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.
Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah Indonesia
pada umumnya dan juga sejrah yang berada di daerah jawa tengah paa khususnya periode antara
abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa Syailendra
kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng gunung
kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran – dataran
adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa
Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan
mengagungkan agama Budha Mahayana.

B. Penemuan Kembali

Borobudue yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah di
sekelilingnya
Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil
karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur
pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang cukup
lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses
kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah,
waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit
alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu
SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M
pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam –
macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada
kira – kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul
dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di
kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang pemandangan
oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur
sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing –puing yang masih menutupi candi di
sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong dari bangunan candi di singkirkan semua
shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.

C. Penyelamatan I

Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali
bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan
gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di
adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah
untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur
walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah sebelah
Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi
para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van Erp tersebut untuk
sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah
mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di
lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi
adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur,
Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat
membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan
tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada
kerusakan yang lebih parah

D. Pemugaran Candi Borobudur

Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan
pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan
pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA dan
SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam
bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur
sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang
sudah retak dan pecah, pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh
badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan
transportasi pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA
KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE
FILIPINE ).
Bagian – bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat
dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III
dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah
pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar
di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan
dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta
yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

E. Bangunan Candi Borobudur

a. Uraian Banguan Candi Borobudur


Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi
Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4 sisinya (
Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak
bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam
tiga bagian besar di antaranya :
1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada
hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada
bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang
melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah
meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini
terdapat pada lorong satu sampai lorong empat
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini
terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.
b. Patung
Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya
sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah

Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya
perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap
tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap tangan patung
Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra
yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu
langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama
maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it adalah Bhumispara – Mudra Wara –
Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra.
c. Patung Singa
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa
seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang
karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga
menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan
anggun.
d. Stupa
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang
merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk
+ 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan
juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di
mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada
pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang
menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan
bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II
saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil
jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
e. Relief
Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan
aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai
penutup
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang
secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan
juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya.
Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:
- Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan –
perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
- Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci
bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman
hidup dan dapat pahala

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil
kesimpulan sebagai berikut:

1. Sejarah Candi Borobudur

Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu
perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli
Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari
prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik
kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.

2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi

Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan
+ 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di
kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah
timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung
Sindoro.

3. Nama Dan Arti Candi Borobudur

Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta
berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama ( Menurut
Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di
Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas
bukit

B. Saran – Saran

Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
1. kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan
berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara
tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3. penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi
muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan
kebudayaan bangsa sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

1. MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993


2. Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980
Daftar website
http://www.anakciremai.com/2008/05/makalah-sejarah-tentang-candi-borobudur.html
http://www.google.co.id/search?q=makalah+sejarah&ie=utf-8&oe=utf-
8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-

Makalah Candi Borobudur

KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas Bahasa Indonesia mengenai hasil study tour kami yang berjudul “objek wisata Candi
Borobudur”.

Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengucapkan terima kepada:

1. Drs. Agus Yudhono, S.pd,M.Pd. selaku Bapak Kepala Sekolah;

2. Para Guru dan staf – staf tata laksana;

3. Ibu Ela selaku Wali kelas 8B;

Ibu Cucu heryani selaku Wali kelas 8E;

Ibu Ineu Anggraeni Wali kelas 8H;

4. Ibu Guru bahasa Indonesia;

Bapak Jahidin Guru bahasa Indonesia;


5. Orang tua kami yang telah memberikan dukungannya, sehingga kami dapat mengikuti kegiatan
study tour ke jogjakarta, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna, oleh karenaitu kritik dan saran yang
sifatnya membangun akan kami terima dengan senang hati.

Ciamis, 16 Februari 2015

Penulis

Daftar isi

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI .................................................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................................4

1.1 Latar belakang...............................................................................................................................5

1.2 Tujuan................................................................................................................................................5

BAB II ISI

2.1 pengertian Candi Borobudur .........................................................................................................6

2.2 maksud dan tujuan dibangunnya Candi Borobudur............................................................6

2.3 Sejarah Candi Borobudur.................................................................................................................7

2.4 Letak Candi Borobudur...................................................................................................................19


2.5 Fasilitas Candi Borobudur..............................................................................................................19

2.6 Faktor – faktor yang mempengaruhi kerusakkan pada Candi Borobudur.................22

2.7 Cara Merawat Dan Melestarikan Candi Borobudur............................................................23

2.8 Pengelola Candi Borobudur.........................................................................................................24

2.9 Penyesuaian Tiket.............................................................................................................................25

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................................................................27
3.2 Saran...............................................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................................28
LAMPIRAN...................................................................................................................................................29

BAB I
Pendahuluan
Candi Borobudur merupakan salah satu aset budaya Indonesia. Candi Borobudur juga
merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia. pertama diperkenalkan kepada anak-anak, dalam
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar (SD) sebagai bangunan
peninggalan kerajaan Buddha di Indonesia. Pengetahuan yang diberikan sebatas pada tahun
pembangunan, raja yang memimpin dan membangun, serta nama tingkatan pada candi. Candi
Borobudur, sampai saat ini menjadi pusat perhatian masyarakat dunia, baik dari segi
kepariwisataan, arkeologi dan pengetahuan. Selain Candi Borobudur, disini juga terdapat dua
Candi lainnya, yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon sebagai Tri Tunggal Candi.

Candi Borobudur dipercaya sebagai perwujudan dari kitab suci yang berisi cerita-cerita
tentang dewa, kehidupan manusia, hewan, dan perwujudan ‘Boddhisatva’ yang diarahkan
sebagai monumen atas intisari kehidupan dari dasar hingga puncak bangunan. Kemegahan
Candi Borobudur menjadikannya salah satu tujuan wisata para turis lokal maupun internasional
sehingga menjadi aset kebanggaan Indonesia. Bersama dengan situs manusia purba Sangiran
dan Candi Prambanan, Candi Borobudur menjadi situs warisan dunia UNESCO dari Indonesia
yang dikategorikan dalam World Heritage of Culture yang harus dilestarikan

Bagi para peziarah yang ingin mencapai tingkat Bodhisatwa, terlebih dahulu datang ke
Mendut untuk menyampaikan penghormatan kepada Budha. Kemudian ke Candi Pawon yang
jaraknya kurang lebih 2km sebagai peristirahatan untuk mensucikan diri sebelum menginjak
Borobudur, untuk menyatakan sembahyang dan doa untuk mencapai tingkat kebudhaan dan
pembebasan mutlak dan abadi.

Tiga serangkai Candi Mendut, Pawon dan Borobudur tersebut terbujur pada satu garis
lurus, merupakan kesatuan perlambang.

1.1 Latar Belakang


Bangsa Indonesia dikaruniai tanah air yang memiliki keindahan alam yang melimpah,
dan mempunyai daya tarik yang sangat mengagumkan. Hal ini perlu disyukuri oleh seluruh
bangsa Indonesia. Kita sebagai pelajar, diharapkan dapat memelihara dan melestarikannya.
Untuk itu, kita perlu belajar dengan baik, supaya dapat menjadikan bangsa Indonesia yang
dikagumi oleh bangsa lain.

Belajar tidak hanya dilakukan didalam ruangan atau di dalam kelas. Belajar dapat
dilakukan di berbagai tempat. Bisa di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat. Kegiatan
belajar, akan lebih bermakna apabila siswa/siswi terlibat secara langsung dalam pembelajaran.
Salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan hasil belajar siswa, maka dapat dilaksanakan
dengan cara study tour. Sekolah kami, memilih study tour untuk tahun ajaran 2014/2015 ke
Yogyakarta.

1.2 Tujuan
Tujuan study tour yang kami laksanakan, adalah sebagai berikut :

1. Untuk menambah wawasan para siawa/siswi SMPN 2 CIAMIS bahwa di Negara Indonesia,
tepatnya di Yogyakarta memiliki kekayaan budaya yang sagat berharga. Diantaranya:
Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.
2. Untuk menunjang pembelajaran di sekolah, terutama mengenai Sejarah.
3. Untuk melatih siswa/siswi melakukan penelitian secara langsung mengenai objek - objek yang
tersebut.
4. Untuk menambah pengalaman kepada siswa/siswi dalam mengenal Daerah Istimewa
Yogyakarta.
5. Untuk mempererat tali persaudaraan antar siswa/siswi SMPN 2 Ciamis.
6. Melatih siswa/siswi untuk menyesuaikan diri untuk disiplin waktu.
7. Supaya siswa/siswi dapat berlatih membuat laporan berupa makalah sederhana sebagai hasi
dari kegiatan Study Tour

BAB II ISI
2.1 Pengertian Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi budha terbesar didunia. Candi ini merupakan salah satu
keajaiban dunia yang merupakan salah satu icon kebanggan Indonesia. Bangunan candi
memiliki wujud triangga yaitu kepala, badan dan kaki. Masing-masing bagian ini memiliki arti
secara simbolis yaitu :

1. Kepala melambangkan alam atas, yang merupakan alam para dewa;

2. Badanmelambangkan alam antara yang mempunyai makna sebagai tempat manusiayang telah
meninggalkan tempat suci; dan

3. Kaki yang melambangkan alam bawah yaitu tempat manusia biasa.

Beberapa peninggalan bersejarah tersebut adalah Candi Prambanan dari kerajaan Hindu dan
Candi Borobudur dari kerajaan Buddha. Kegunaan candi adalah sebagai tempat pemujaan dewa
oleh agama Hindu atau Buddha dan tempat disemayamkannya raja atau pemuka agama.

2.2 Maksud dan Tujuan Dibangunnya Candi Borobudur


Menurut catatan sejarah, candi dibangun untuk memuliakan orang yang sudah
meninggal, khususnya para raja dan keluarganya. Abu jenazah aja atau keluarganya itu ditaruh
didalam candi, lalu pada candi ditaruh arca yang menggambarkan almarhum sebagai Dewa.
Biasanya didepan arca itu orang, menaruh sesaji untuk memuliakan almarhum. Namun kadang –
kadang pembuatan candi itu untuk tempat pemujaan dewa atau tempat beribadah candi yang
digunakan tempat ibadah biasanya candi yang bercorak agama Budha. Candi yang dibuat dari
batu – batu yang dipahat. Batu – batu yang telah dipahat itu disusun rapi, sehingga terbentuklah
candi. Pada dinding candi terdapat pahatan yang disebut relief pada candi yang memiliki
makna. Makna pada bangunan dan relief itu menunjukkan betapa tinggi peradapan nenek
moyang kita. Candi Borobudur adalah canti agama Budha, candi didirikan pada tahun 824 M.
pada masa pemerintahan raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra.

Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah
Indonesia pada umumnya dan juga sejarah yang berada di daerah Jawa Tengah pada khususnya
periode antara abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa
Syailendra kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng
gunung kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran –
dataran adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu. Dengan demikian
dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra yang
terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan
agama Budha Mahayana.

Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur. Akan tetapi kapan
Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan
dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi
Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati
di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik
kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan kurang lebih sekitar tahun 800 M.

2.3 Sejarah Candi Borobudur

Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 sebelum masehi atau abad ke 9 . Borobudur

dibangun oleh pengikut Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Dinasti Dinasti. Candi ini

dibangun pada masa kejayaan dinasti dinasti. Pendiri Candi Borobudur, Raja Samaratungga dari

atau dinasti dinasti dinasti. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar 824 AD dan selesai sekitar

900 Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani putri Samaratungga. Sementara
arsitek yang membantu membangun candi ini untuk cerita turun-temurun bernama

Gunadharma.

Beberapa Penafsiran Nama Borobudur

Dari beberapa literarur yang ada, dapat disebutkan berbagai pendapat yang berbeda dari
para ahli, antara lain:

a) Kitab negara kertagema

Naskah dari tahun 1365 M yaitu kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca,
menyebutkan kata “Budur” untuk sebuah bangunan Agama Budha dari aliran Wajradha.
Kemungkinan yang ada nama “Budur” tersebut tidak lain adalah Candi Borobudur. Karena tidak
ada keterangan lain kiranya tak dapat diambilsuatu kesimpulan.

b) Sir Thomas Stamford Raffles

Penafsiran tentang Borobudur juga telah dilakukan oleh Raffles berdasarkan keterangan dari
masyarakat luas yang menafsirkan bahwa:
 Budur merupakan bentuk lain dari “Budo” yang dalam bahasa Jawa berarti Kuno.Tetapi bila
dikaitkan dengan Borobudur berarti “Boro jaman Kuno” jelas tidak mengandung suatu
pengertian yang dapat dikaitkan dengan Candi Borobudur.Budha.Dengan demikian Borobudur
berarti Sang Budha yang Agung.
 Namun kerana “Bhara” dalam bahasa Jawa Kuno dapat diartikan banyak,maka Borobudur dapat
juga berarti “Budha yang Banyak”.
 Jika dikaji secara teliti,maka keterangan yang dikemukakan oleh Raffles memang tidak ada yang
memuaskan.”Boro jaman Kuno” kurang mengena. ”Sang Budha yang Agung” maupun “Budha
yang banyak”.Kurang mencapai sasaran.Perubahan kata “Budha menjadi Budur” misalnya
perubahan demikian tidak dapat diterangkan dari segi ilmu bahasa,karena sukar dapat
diterima.(Soekmono, 1981)

c) Poerbatjaraka
Menurut Beliau “Boro” berarti “Biara” dengan demikian Borobudur berati “Biara
Budur”.Penafsiran ini memang sangat menarik karena mendekati kebenaran berdasarkan bukti-
bukti yang ada.
Penyelidikan dan penggalian yang dilakukan tahun 1952 di halaman sebelah barat laut
bangunan Candi Borobudur telah berhasil menemukan fondasi batu-batu dan genta perunggu
berukuran besar.Penemuan fondasi batu-batu dan genta ini memperkuat dugaan yaitu
merupakan sisa-sisa dari sebuah biara.
Selanjutnya jika dihubungkan dengan Kitab Negara Kertagama mengenai “Budur” maka
besar kemungkinan penafsiran Poerbatjaraka adalah benar dan tepat.Namun demikian masih
merupakan suatu pertanyaan mengapa Biara dalam hal ini penamaan menggantikan
Candinya,padahal Candi jauh lebih penting dari biaranya.

d) De Casparis

De Casparis menemukan kata majemuk dalam sebuah prasasti yang kemungkinan


merupakan asal kata Borobudur.Dalam prasasti SRI KAHULUNAN YANG BERANGKA 842 Masehi
dijumpai kata “Bhumi Sambhara Budhara” yaitu suatu sebutan untuk bangunan suci pemujaan
nenek moyang atau disebut kuil.
Penelitian yang mendalam tentang keagamaan yang terungkap dalam prasasti dan
rekonstruksi yang teliti terhadap geografi daerah yang terjadinya peristiwa sejarah bertalian
dengan prasasti tersebut,maka De Casparis itu menyimpulkan bahwa Bhumi Sambhara Budhara
tidak lain adalah Borobudur.(Soekmono,1981)

e) Drs. Soediman

Didalam bukunya “Borobudur salah satu keajaiban Dunia”, menyebutkan bahwa arti
nama Borobudur sampai sekarang masih belum jelas.Dijelaskan pula bahwa Borobudur berasal
dari dua kata yaitu “Bara” dan “Budur”. Bara berasal dari bahasa sansekerta “Vihara”yang berarti
kompleks Candi dan “Bihara”yang berati asrama.”Budur” dalam bahasa Bali Beduhur yang
artinya diatas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau Vihara dan kelompok Candi yang
terletak diatas tanah yang tinggi atau bukit.
Penemuan Kembali

Borobudur yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah yang
ada di daerah sekelilingnya. Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni
terbesar yang merupakan hasil karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila
di katakan Candi Borobudur pernah mengalami kerusakan.
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang
cukup lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada
proses kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat
Ziarah, waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi atau
membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang
sangat terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan
Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke Timur. Demikian
karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam – macam
tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira –
kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan. Baru pada tahun 1814 M berkat
usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles
adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun
1811 M – 1816 M. Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi
penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu
tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut,
puing –puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong
dari bangunan candi di singkirkan semua shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.

A. Penyelamatan I

Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali
bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan
gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di
adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah
untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur
walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah
sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat
mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van
Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih
besar. Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah
mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di
lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi
adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur,
Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat
membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah
akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan
akan ada kerusakan yang lebih parah.

B. Pemugaran Candi Borobudur


Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan
pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan
pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA
dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek
dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA ). Teknologi Arkeologi
bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur sedangkan Chemika
Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang sudah retak dan pecah,
pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi
Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi
pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor (PT NIDYA KARYA dan THE
CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE). Bagian – bagian Candi
Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang
berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk
ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR
Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton. Prasasti peresmian
selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar di buatkan
dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam
prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang
bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

Bangunan Candi Borobudur

a. Uraian Banguan Candi Borobudur

Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan


Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4
sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana
orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.

Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M. Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M.
Pada sudut yang membelok 113 M. Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M. Pada kaki
yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya. Candi
Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga
bagian besar di antaranya:

1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat
pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat
pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang
melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah
meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini
terdapat pada lorong satu sampai lorong empat.
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian
ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.
b. Patung

Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya
sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah Sedangkan pada teras – teras I, II,
III berjumlah : 72 Buah. Jumlah : 504 Buah
Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
i. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
ii. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
iii. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
iv. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
v. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
vi. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
vii. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
viii. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga
perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya
adalah dalam sikap tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap
patung sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam
oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan
Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya
menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it
adalah Bhumispara – Mudra Wara – Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra –
Mudra.

c. Patung Singa
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa
seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang
karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang
juga menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang
megah dan anggun.
d. Stupa
 Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling
atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah
Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas
Padmaganda dan juga terletak di garis Harmika.
 Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II,
III di mana di dalamnya terdapat patung Budha. Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang
seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu:
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa

 Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang
menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan
bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II
saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil
jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.

e. Relief
Bagan Relief

Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura

Kaki candi asli ----- Karmawibhangga 160

a. Lalitawistara 120
dinding
b. jataka/awadana 120
Tingkat I
a. jataka/awadana 372
langkan
b. jataka/awadana 128
Bagan Relief

Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura

dinding Gandawyuha 128


Tingkat II
langkan jataka/awadana 100

dinding Gandawyuha 88
Tingkat III
langkan Gandawyuha 88

dinding Gandawyuha 84
Tingkat IV
langkan Gandawyuha 72

Jumlah 1460

 Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan
aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai
penutup. Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batu
yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah
yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat.
Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura
menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak
saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang
akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan
merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara)
yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk
menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh
pengujung.
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang
secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa
dan juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya. Yang di
perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:
 Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan –
perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
 Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci
bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat
ketentraman hidup dan dapat pahala

 Lalitawistara merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi
bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga
Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini
berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27
pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan,
baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan
terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang
Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri
Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan
wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran
Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan
sebagai roda.

 Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran
Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela
berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain
manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan
tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau
perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan
Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang
berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada
relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat
dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan
Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang
hidup dalam abad ke-4 Masehi.

 Gandawyuha merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana
yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang
Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci
Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan
cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Arca Buddha

Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat
banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra atau sikap
tangan simbolis tertentu. Patung buddha dengan tinggi 1,5 meter ini dipahat dari bahan batu
andesit.

Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi
luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan
pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72
relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di
tingkat Rupadhatu.Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan
di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32
stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72
stupa. Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa
kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai
barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).

Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus
diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara,
Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut
ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan
Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut
menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di
dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-
masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya
tersendiri.

1. Bhumisparca Mudra

Letak: Arca ini menghadap timur dan menjadi tanda khusus bagi Dhyani Buddha
Aksobhya sebagai penguasa Timur.
Makna: Sikap tangan sedang menghadap kebawah, tangan kiri terbuka dan menengadah
di pangkuan, sedangkan tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan jari-jari menunjuk
kebawah. Melambangkan saat sang Buddha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika dia
menangkis serangan iblis Mara.

2. Wara Mudra

Letak: Mudra ini dapat dikenali Dhyani Buddha Ratna Sambawa yang bertahta di Selatan.
Arca ini menghadap selatan.

Makna: Telapak tangan yang kanan menghadap keatas sedangkan jari-jarinya terletak di
lutut kanan. Mudra ini melambangkan pemberian amal.

3. Dyhana Mudra

Letak: Arca ini menghadap ke Barat dan merupakan tanda khusus bagi Dhyani Buddha
Amitabha yang menjadi penguasa daerah Barat.

Makna: Mudra ini menggambarkan sikap semedi, kedua tangan diletakkan di pangkuan,
yang kanan diatas yang kiri dengan telapaknya menengadah dan kedua jempolnya saling
bertemu.

4. Abhaya Mudra

Letak : Arca ini menghadap ke Utara Langkan dan merupakan tanda khusus bagi Dhyani
Buddha Amogasidha yang berkuasa di Utara.

Makna: Tangan kiri terbuka dan menengadah di pangkuan, tangan kanan diangkat
sedikit diatas lutut kanan dengan telapak menghadap muka. Mudra ini menggambarkan sikap
tangan sedang menenangkan dan menyatakan ketidak gentaran.

5. Witarka Mudra

Letak: Mudra ini menjadi ciri khas bagi Dhyani Buddha Waroicana.Arca ini terdapat di
tengah, pada tingkat Rupadhatu di pagar langkan baris kelima (teratas).
Makna: Tangan kiri terbuka dan menengadah di pangkuan, sedangkan tangan kanan
diangkat sedikit diatas lutut kanan dengan telapak menghadap muka, jaritelunjuk dan ibu jari
bersatu. Mudra ini menggambarkan akal budi.

6. Dharmacakra Mudra

Letak: Mudra ini menjadi ciri khas bagi Dhyani Buddha Waroicana yang daerah
kekuasaannya terletak di pusat.

Makna: Kedua tangan diangkat sampai ke depan dada, yang kiri dibawah yang kanan.
Tangan kiri menghadap ke atas dengan jari manisnya, serupa dengan gerakan memutar roda.
Mudra ini melambangkan gerak memutar roda dharma.

2.4 Letak Candi Borobudur

Candi Borobudur didirikan pada sebuah bukit pada ketinggian ± 15m di atas dataran di
sekitarnya.
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang,
Propinsi Jawa Tengah, Negara Indonesia, ± 41 km dari Yogyakarta. ±80km dari Kota Semarang,
Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Candi borobudur juga dikelilingi oleh pegunungan Menoreh di
sisi Selatan, Gunung Merapi (2411m) dan Gunung Merbabu (3142m) di sisi Timur, serta Gunung
Sumbing (2271m) dan Gunung Sindoro (3135m) di sisi Barat Laut. Disebelah Timur Candi
Borobudur juga terdapat Sungai Progo dan Sungai Elo.

2.5 Fasilitas Candi Borobudur


a) Fasilitas Area Taman
1. Museum Karmawibangga / Borobudur
Museum ini menampilkan beragam informasi mengenai Candi Borobudur dari sudut
pandang sejarah, arkeologi, arsitektur, lingkungan, dll. Beragam artifak yang ditemukan di
sekitar Candi Borobudur juga didisplay secara aktif di museum ini.
2. Museum Kapal Samudraraksa
Kapal Samudraraksa merupakan satu dari dua museum yang ada di kawasan Candi
Borobudur. Museum ini menjadi persinggahan terakhir Kapal Samudraraksa atau Kapal
Borobudur yang telah mengarungi Samudera Hindia hingga ke wilayah Afrika. Museum yang
diresmikan pada tanggal 31 Agustus 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhyono ini terdiri
dari tiga bangunan. Bangunan pertama merupakan tempat informasi, display foto, poster, relief,
serta pemutaran film. Bangunan kedua yang berbentuk rumah joglo merupakan tempat kapal
Samudraraksa dipajang. Selain kapal, di bangunan kedua ini disimpan barang-barang yang
dipergunakan oleh para awak kapalnya sewaktu berlayar mengarungi samudera, seperti:
peralatan memasak, peralatan rumah tangga sehari-hari, buku, kaset, cd, vcd, dan obat-obatan.
Sedangkan bangunan ketiga berfungsi sebagai kantor dan tempat penjualan suvenir.
3. Kereta Mini
Berkeliling Candi dapat juga dilakukan dengan mengendarai kereta taman. Dapat
melihart candi dari seluruh arah dan juga melihat taman serta museum yang tersedia di taman
wisata candi
4. Visitor Center & Audio Visual
Tempat pengunjung memperoleh beragam informasi awal mengenai candi. Juga
informasi mengenai beragam fasilitas yang ada di dalam Taman Wisata Candi Borobudur. Disini
juga terdapat audio visual yang memutar film dokumenter mengenai candi Borobudur

5. Sepeda
Dengan Menaiki sepeda, pengunjung semakin mudah eksplorasi kawasan Taman Wisata
Candi dengan lebih leluasa dan menyenangkan, sambil menghirup segarnya udara di sekitar
taman.

b) Fasilitas Lahan
1. Lahan Lumbini
 Lokasi : Sebelah timur laut Candi Borobudur
 Ukuran : 70m x 65m :4.550m2 (posisi rata dan datar)
2. Lahan Marga Utama
 Lokasi : Sebelah timur Candi Borobudur
 Ukuran : 40m x 50m : 2.000m2 (posisi rata dan datar)
3. Lahan Bermain Anak – Anak
o Lokasi : Sebelah barat Candi Borobudur
o Ukuran : 38m x 112m : 4.256m2 (posisi rata dan mendatar)
4. Lahan Bukit Dagi
 Lokasi :Sebelah utara Candi Borobudur
 Ukuran :Radius 160 m,luas 80.384m2
5. Lahan Samudraraksa
 Lokasi :Sebelah barat galery Museun Borobudur/sebelah
utara Galery Museum Samuderaraksa
 Ukuran :90m x 45m = 4.050m2
6. LAHAN KARMAWIBANGGA
 Lokasi :Sebelah utara Candi Borobudur/depan galery Museum Borobudur
 Ukuran :60m x 60m = 3.600m2
7. LAHAN PADMA
 Lokasi :Sebelah Timur Laut Candi Borobudur/sebelah Utara Lahan Lumbini
 Ukuran : 50m x 40m = 2.000m2
Note: Fasilitas Lahan termasuk Parkir, Toilet, Penerangan Lingkungan, Listrik Max 5.000
Watt, Keamanan Intern, Kebersihan

2.6 Faktor – faktor yang mempengaruhi kerusakkan pada Candi


Borobudur
Ada 2 faktor utama yang mempengaruhi kerusakkan bagian – bagian Candi Borobudur,
yaitu faktor dari dalam dan faktor luar.

Faktor dari dalam adalah besarnya tekanan antarbatuan yang menyusun Candi
Borobudur. Karena Candi Borobudur disusun dari banyak sekali batuan yang ditumpuk, maka
sudah pasti batu yang di atas akan menekan batu yang berada di bagian bawah. Sedikit demi
sedikit, batuitu akan retak dan lama kelamaan akan menjadi pecah.

Faktor dari luar yang mempengaruhi rusaknya bangunan Candi Borobudur diantaranta
adalah faktor iklim, faktor lumut dan ganggang, serta faktor manusia.

 Padafaktor iklim, yang mempengaaruhi adalah suhu dan curah hujan. Suhu yang panas ada siang
hari meyebabkan batuan memuai, sedangkan suhu yang dingin pada malam hari menyebabkan
batuan menyusut. Perubahan suhu yang terjadi terus, menyebabkan batuan mengalami retak
pad permukaan. Namun, paktor suhu hanyaberpengaruh pada bagian luar candi yangterkena
sinar matahari. Curah hujan juga berpengaruh terhdap kerusakkan pada batuan. Curah hujan
yang tinggi pada musim hujan, dapat mengikis permukaan batuan sedikit demi sedikit.
Kondisibatuan yang lembap karena hujan, juga dapat memicu tumbuhnya lumut dan ganggang,
serta jamur kerak.
 Lumut, ganggang, serta jamur kerak akan tumbuh di permukaan batuan yang lambap, sehingga
dapat menimbulkan pelapukkan pada batuan, dan mengurangi kekuatan batuan itu. Ketiga jenis
tanaman ini biasanya hidup ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung, ataupun pada
batuan yang ada dibagian dalam Candi. Hal ini sangat menghawatirkan bagi Candi Borobudur.
 Faktor yang terakhir adalah Manusia. Karena sifat Manusia itu berbeda - beda, maka perilaku
seseorang terhadap benda bendapun berbeda – beda. Banyak tangan – tangan jahila manusia
yangmengunjungi Candi Borobudur, mengambil sebagian kecil batuan penyusun candi
borobudur, sekedar hanya sebagai buah tangan. Padahal kerusakkan sedikitsaja pada batuan
akan mempengaruhi kualitas kekuatan batuan lainnya yang mengikat Candi Borobudur yang
dibangun dengan sistem dry masony “tanpa perekat”. Ada pula yang tidak sekedar mengambil
sebagian kecilbagian, tetapi banyak bagian terutama patung – patung Buda di Candi Borobudur.
Harga yang mahal mengingat hal itu merupakan peninggalan sejarah, memicu para penjarah
untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

2.7 Cara Merawat Dan Melestarikan Candi Borobudur


Berikut cara-cara perawatan candi Borobudur berdasarkan setiap faktor yang mempengaruhi
kerusakan candi Borobudur. Berdasarkan faktor tekanan setiap batuan dan faktor suhu, cara
perawatan yang dapat dilakukan hanya memperbaiki batuan yang retak dan mengganti batuan
yang pecah. Hanya cara ini yang dapat dilakukan karena tentunya kita tidak dapat menjadikan
setiap batuan yang ada di candi Borobudur menjadi lebih ringan sehingga tekanan antarbatuan
berkurang atau mengahalangi sinar matahari yang menerpa candi Borobudur, bukan? Cara
memperbaiki batuan yang retak adalah dengan menambal batuan menggunakan campuran
pasir dan semen. Sedangkan untuk mengganti batuan yang pecah digunakan batu andesit yang
telah disesuaikan bentuk dan ukurannya dengan yang asli.

Untuk perawatan terhadap faktor lumut, ganggang, dan jamur kerak, pihak pengelola telah
mempunyai cara tersendiri untuk membasmi lumut, ganggang, dan jamur kerak yang tumbuh
pada batuan di candi Borobudur. Selama ini metode pembersihan lumut yang dilakukan dalam
pembersihan batu di Candi Borobudur adalah pembersihan secara kimiawi dan mekanis.
Metode ini menggunakan cairan kimia Hivar XL. Metode pembersihan kimiawi menggunakan
bahan tersebut dengan konsentrasi 1%. Bahan kimia ini digosok pada setiap permukaan batuan
andesit yang ditumbuhi lumut, ganggang, maupun jamur kerak. Lumut, ganggang, dan jamur
kerak akan mati saat digosok dengan Hivar XL.

Pembersihan secara mekanis yang dilakukan berupa penggosokan dengan sikat baik secara
kering maupun basah. Penggosokan dengan sikat menyebabkan rontoknya lumut dan jamur
kerak yang tumbuh pada batuan. Namun pembersihan dengan cara ini dapat mengakibatkan
kerontokan permukaan batuan. Metode lain yang digunakan adalah pembersihan secara fisik
menggunakan steam cleaner. Dari hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan menerangkan
bahwa metode pembersihan yang dipakai mempunyai kelemahan, khususnya pembersihan
secara mekanis dan steam cleaner. Kelemahan tersebut di antaranya adalah
dapat menimbulkan efek kerontokan pada permukaan batuan.

Berdasarkan hasil penelitian metode pembersihan lumut dengan pemanasan lebih efektif
dibandingkan dengan pembersihan secara mekanis, tetapi metode pembersihan dengan
pemanasan ini kurang aman untuk digunakan pada benda cagar budaya karena adanya kontak
langsung antara permukaan benda dengan api. Dari pengamatan mikroskopis terlihat adanya
perubahan pada permukaan batu yang terjadi setelah dilakukan proses pemanasan.

Yang terakhir adalah cara perawatan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Cara
pencegahan dari pengambilan dan perusakan batu candi adalah dengan memberikan
peringatan kepada setiap pengunjung candi Borobudur agar tidak merusak candi. Jika setiap
pengunjung sudah mempunyai kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur, tentunya
tidak akan terjadi masalah. Namun untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, maka diadakan
pemeriksaan barang-barang yang dibawa oleh setiap pengunjung, baik pada pintu masuk
maupun pintu keluar kompleks candi. Bila ada pengunjung yang melanggar peringatan tersebut,
tentunya akan dikenakan sangsi yang setimpal.

Untuk melestarikan candi Borobudur, baik bangunan itu sendiri maupun budaya dan nama
besarnya tentunya diperlukan bantuan dari berbagai pihak, termasuk diri kita sendiri. Dengan
memperkenalkan candi Borobudur di mata internasional kita turut melestarikan kebudayaan
bangsa Indonesia dan ikut mengharumkan nama candi Borobudur. Dengan terkenalnya Candi
Borobudur ke seluruh dunia, maka kebanggaan kita sebagai warga Negara Indonesia pun ikut
terangkat.

2.8 Pengelola Candi Borobudur


Pengelolaan Candi Borobudur Masih Parsial

MAGELANG - Pengelolaan kawasan cagar budaya Candi Borobudur di Kabupaten Magelang


akan dilakukan bersama-sama mulai dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.
Selama ini pengelolaan dinilai masih parsial. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan mengatakan pengelolaan secara gotong royong
mulai dari pusat hingga daerah itu ada aturannya. Tapi dalam pelaksanaannya belum berjalan
sesuai harapan.

“Aturan memang harus begitu, tapi aturan ini kita bumikan dan lebih operasional dan diterima
oleh semua pihak,” katanya seusai menghadiri peluncuran dan bedah buku dalam rangka
memperingati 200 tahun penemuan Candi Borobudur di Borobudur kemarin. Buku tersebut
merupakan trilogi dengan judul besar 100 Tahun Pascapemugaran Candi Borobudur.

Adapun masing-masing buku diberi judul, yakni Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur,
Dekonstruksi dan Rekonstruksi Candi Borobudur, serta Candi Borobudur dalam Multiaspek.
Buku-buku tersebut diterbitkan oleh Balai Konservasi Borobudur dalam rangkaian peringatan
200 tahun penemuan kembali Candi Borobudur.

Kacung menilai pengelolaan Candi Borobudur selama ini masih parsial. Salah satu buktinya
pembagian zona pengelolaan, misalnya zona I dikelola oleh Kemendikbud; zona 2 oleh PT
Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWCBPRB); serta zona III oleh
pemerintah daerah.

“Kita mau bentuk semacam badan pengelola untuk mengelola kawasan cagar budaya secara
keseluruhan, yang itu akan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan kabupaten.
Ada badan usaha di sini PT Taman dan masyarakat nanti kita libatkan,” ucapnya.

Kacung telah bertemu dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Bupati Magelang Zaenal
Arifin terkait dengan rencana pengelolaan cagar budaya Candi Borobudur tersebut pada masa
mendatang. Komunikasi pihaknya dengan PT TWCBPRB juga terus dijalin secara intensif selama
ini untuk pengembangan pengelolaan Candi Borobudur pada masa mendatang.

“Supaya konservasi di Borobudur terjaga secara baik, tetapi pengembangan dan pemanfaatan
lebih baik lagi karena kalau hanya misalnya parsial saja, itu bisa mengganggu konservasi, tapi ini
juga untuk manfaat bagi masyarakat,” paparnya. Sebelumnya, Kepala Balai Konservasi
Borobudur (BKB) Marsis Sutopo mendorong masyarakat bisa ikut bersamasama menjaga
kelestarian atas Candi Borobudur.

“Bagaimana ke depan terus kita lestarikan sebaik-baiknya, bisa kita berikan kepada generasi
bangsa ke depan, kepada anak cucu kita, dan bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi
masyarakat sekitar,” tandasnya.

2.9 Penyesuaian Tiket

Tiket Masuk Borobudur Akan Disesuaikan


PT Taman Wisata Candi Borobudur akan memperbarui harga tiket masuk ke kawasan wisata
cagar budaya tersebut. Penyesuaian harga tiket akan dilakukan secara bertahap mulai tahun ini.

"Tidak semua turis Indonesia miskin dan tidak semua turis asing yang datang kaya," kata
Komisaris Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Darmono, saat
Business Gathering bertema Revitalisasi Borobudur sebagai Tujuan Wisata Tingkat Dunia di
Bellagio Boutique Mall Mega Kuningan, Jakarta, Selasa 11 Februari 2009.

Kesenjangan harga tiket masuk antara wisatawan domestik dan mancanegara, menurut
Darmono, harus segera diperbarui sehingga ada keadilan. Sekarang setiap wisatawan domestik
dikenakan tiket masuk Rp 10.000 per orang, sedangkan tiket wisatawan mancanegara ke
Borobudur US$ 12 per orang.

Perubahan bertahap yang sudah dimulai tahun ini adalah membedakan tiket masuk untuk
kalangan tertentu. Darmono menyontohkan tiket masuk yang berlaku untuk rombongan siswa,
baik domestik maupun mancanegara, lebih murah. Sedangkan tiket kunjungan wisata bagi
kalangan tertentu harga tiketnya lebih mahal.

"Tetapi kita beri benefit lain seperti tambahan sarung atau kebaya khas daerah sehingga
bermanfaat memajukan ekonomi setempat," ujar Darmono.

Penyeragaman harga tiket berdasarkan tingkatan, selain lebih adil bagi wisatawan domestik
maupun mancanegara, menurut Darmono, berpotensi mendatangkan pendapatan yang lebih
besar.

Pendapatan PT Taman Wisata Borobudur tahun lalu dari hasil penjualan tiket mencapai Rp 60
miliar dengan jumlah pengunjung Borobudur mencapai tiga juta orang dan 200.000 orang di
antaranya wisatawan mancanegara. Menurut Darmono, agen perjalanan akan berpengaruh
besar terhadap perubahan ini sekaligus sebagai media promosi daerah pariwisata di dalam dan
luar negeri.

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Borobudur harus dirawat, dan dilesrarikan. Supaya generasi generasi yang akan datang dapat
mengetagui dan mengenal apa itu Candi Borobudur.

3.2 Saran
I. Kita sebagai generasi muda harus menjadi generasi penerus bangsa, dengan cara giat
belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa

II. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan budaya bangsa dengan
memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita.

III. Kami para penulis makalah ini berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di
harapkan pada rekan – rekan generasi muda mampu memilih dan meniliai budaya yang masuk
dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.

IV. Sebaiknya kita sebagai warga negara yang baik turut berperan serta dalam merawat candi
Borobudur. Langkah awal adalah dengan tidak meusak bagian-bagian candi Borobudur.
Langkah selanjutnya adalah dengan memperkenalkan candi Borobudur kepada masyarakat luas
agar candi Borobudur dikenal luas, di Indonesia maupun di Dunia
DAFTAR PUSTAKA
http://www.anakciremai.com/2008/05/makalah-sejarah-tentang-candi-borobudur.html
http://wahyupego.blogspot.com/2012/10/perawatan-dan-pelestarian-candi.html
http://devitaaristia.blogspot.com/2013/05/contoh-laoran-study-tour-ke-candi.html
Madhori. 2008. Borobudur Sepanjang Masa. Yogyakarta: Media Cipta Pustaka.
Samidi. 1975. Penelitian Pendahuluan Pemberantasan Lumut Pada Batuan Candi
Borobudur. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993
Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980