Anda di halaman 1dari 6

Kebebasan Berpendapat

Democracy may not be a panacea to cure all ills, but it has its origins in the political
rights of the individual as they are laid down in all conventional instrumental and on its part it
also contributes to stabilizing and strengthening human right, 1memiliki arti dimana Demokrasi
mungkin bukan obat mujarab untuk menyembuhkan semua penyakit, tetapi ia berawal pada hak-
hak politik individu karena mereka diletakkan dalam semua instrument konvensional. Kebebasan
Pendapat merupakan hasil dari sekian panjang perjuangan manusia dalam upayanya untuk lepas
dari kolonialisme. Hal ini dimulai di Yunani, dimana seorang tokoh terkenal yakni Socrates
dalam menumbuhkan bibit demokrasi di Yunani ribuan tahun yang lalu, dimana pada saat itu
beliau yang suka memberikan pendapat yang pada saat itu belum diatur dalam undang-undang
apapun harus menerima akibatnya, karena hal itulah beliau dieksekusi. Setelah kematian
Sokrates tersebutlah, demokrasi baru benar-benar tegak di Yunani dimana membuat masyarakat
untuk berani mengemukakan pendapatnya dan pikirannya yang selama ini dikekang oleh rezim
pada saat itu, orang-orang Yunani pada saat itu berfikir bahwa kebebasan berpendapat
merupakan hal yang harus diperjuangkan bagaimanapun caranya. Tentunya dalam kebebasan
berpendapat, orang-orang memiliki kepentingannya sendiri entah itu kepentingan individu,
kolektif ataupun global. Kepentingan itulah yang memotivasi orang untuk memberikan
pendapatnya, merealisasikan pikirannya untuk mengetahui bahwa ia memiliki pendapat yang
mungkin berbeda dengan pendapat orang lain. Perbedaan pemikiran yang didasarkan pada
kepentingan, tentunya akan membuat "penguasa" membungkam entitas yang memiliki perbedaan
pendapat yang dimana tentunya mereka melakukan hal tersebut untuk mempertahankan
eksistensinya. Hal ini telah terjadi di beberapa Negara pada zaman dahulu pun di Indonesia,
dimana yang memiliki perbedaan pendapat dengan yang utama, maka yang memiliki perbedaan
pendapat tersebut akan dibungkam dengan cara yang melanggar hak asasi manusia, dan para
penguasa jaman itu memberikan alasan terkait hal tersebut yakni masalah stabilitas sosial. Kita
bisa melihat pada masa pemerintahan Orde Baru, dimana para wartawan dan jurnalis haruslah
membuat berita yang dimana tidak boleh mengkritik pemerintahan pada zaman itu, pun juga
dengan masyarakat terutama mahasiswa, pada saat itu tidak bisa melakukan demonstrasi, apabila
melakukan hal tersebut orang-orang akan berkata "apabila yang memiliki perbedaan pendapat,
maka ia akan hilang", hal tersebut benar adanya yang dimana orang-orang yang memiliki
1 Christian Tomuschat.2008.Human Rights: Between Idealism and Realism.Oxford University Press.hlm.60
perbedaan pendapat tersebut akan dianiaya oleh kaum-kaum yang telah melanggar suatu HAM.2
Hal ini tentu menjadi perdebatan besar setiap kalangan, hal tersebut tentu telah melanggar
konsep HAM yang diterapkan oleh UDHR (Universal Declaration of Human Rights) dimana
setiap orang memiliki hak untuk berpendapat dan juga hak untuk hidup, akan tetapi
pemerintahan pada zaman itu tidak peduli dengan penegakan HAM pada saat itu, berbagai
tindakan telah dilakukan oleh kalangan aktivis untuk membuat presiden Soeharto pada saat itu
turun dari jabatannya. Akhirnya pada saat itu kaum-kaum yang ingin Soeharto turun, melakukan
demonstrasi besar-besaran pada tahun 1998 atau yang kita kenal dengan jaman Reformasi, dan
pada saat itu Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden, dan disaat itu pula
kebebasan berpendapat masyarakat Indonesia diberlakukan tetapi dengan batasan-batasan
tertentu dan dibuatlah suatu Undang-undang yang berkaitan dengan HAM yakni Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dengan mengacu terhadap UDHR
(Universal Declaration of Human Rights).

Dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan istilah mengenai mengeluarkan pikiran-
pikiran yang dimana pada prinsipnya sama artinya dengan menyatakan pendapat, atau
menyampaikan pandangan. Istilah pandangan berarti suatu pendapat, pertimbangan, pikiran,
hasil pemikiran. Artinya Berpendapat mengeluarkan pendapat atau pikira yang dimana dapat
dilakukan secara lisan maupun dalam bentuk tulisan. 3 Meski memiliki kebebasan dalam
berpendapat tentu tidak bisa memberikan pendapat tanpa memperhatikan beberapa aspek yang
disebutkan pada Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia. Penggunaan istilah "berpendapat pada prinsipnya berdasarkan pertimbangan efisiensi
kata, dari pada penggunaan kata-kata mengeluarkan pendapat sebagaimana disebutkan dalam
Undang-Undang Dasar 1945, tidak dipergunakan karena istilah tersebut lebih luas. Istilah
kebebasan berpendapat dalam bahasa Inggris sering disebut dengan istilah freedom of expression
dan freedom of speech.4 Pembahasan konsep kebebasan berpendapat, yang dimana merupakan
salah satu bagian dari hak asasi manusia ini juga buah pikir dari Negara-negara barat karena

2 Erik Prasetya.2018.Hari-hari jelang Reformasi, 20 tahun, dalam gambar dan catatan. Diakses pada:
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44192970 tanggal 8 Mei 2019 pada pukul 17:10
3 Prof.Dr.Yohanes Usfunan.2011.HAM POLITIK: Kebebasan Berpendapat di Indonesia.Udayana University Press.hlm
37
4 Prof.Dr.Yohanes Usfunan.2011.Ibid.hlm.38
yang mulai mempersoalkan tentang hak-hak asasi manusia yang dimana kebebasan berpendapat
salah satunya dimulai dari orang barat itu sendiri meskipun di kawasan lain terdapat pemikiran-
pemikiran seperti itu akan tetapi lebih dominan orang-orang barat. Anehnya, tolak ukur ini tidak
muncul dalam Pasal 19 CCPR (Covenant on Civil and Political Rights) jaminan kebebasan
berbicara yang merupakan paradigma hak demokratis. Dalam Article 19 CCPR hanya
menjelaskan tentang bagaimana berpendapat yang dimana tidak dijelaskan secara detail
mengenai batasan-batasan mengenai kebebasan berpendapat. Batasan-batasan ini malah diatur
dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Lalu pada musim
Semi tahun 1999, Komisi mengadopsi resolusi yang menegaskan secara ringkas prinsip-prinsip
dasar dari suatu pemerintahan yang demokratis, menekankan secara khusus interkoneksi antara
bentuk pemerintahan demokratis dan hak asasi manusia dengan menyatakan bahwa "demokrasi
mendorong tercapainya realisasi penuh semua hak asasi manusia."Setahun kemudian,
HRC(Human Rights Campaign) memperluas teks dengan sangat baik dan mencakup hampir
semua hak yang diberikan kepada warga negara di negara Liberal.

Jika melihat kebebasan berpendapat pada saat ini, dimana tentunya di era saat ini
mengemukakan pendapat tidak hanya melalui demonstrasi dan juga melalui surat kabar, tetapi
sekarang masyarakat sudah mulai menggunakan sosial media untuk mengemukakan pendapat
mereka, akan tetapi terdapat dampak massif terhadap melimpahnya informasi baik di media
masa maupun media daring.5 Fenomena disrupsi ini juga mendorong masyarakat untuk secara
bebas mengeluarkan pendapatnya, akan tetapi sering sekali kita melihat bahwa hal-hal yang
diutarakan oleh masyarakat berbau kebohongan, mencaci maki, menyerang secara personal, dan
lain hal. Dan beberapa masyarakat yang menyebarkan pendapat terkait kebohongan, mencaci
maki, menyerang secara personal itu menganggap bahwa semua orang memiliki kebebasan untuk
berpendapat. Tentunya masyarakat yang berfikir seperti demikian memiliki konsep yang berbeda
tentang kebebasan berpendapat, dimana kebebasan berpendapat ini telah diatur dalam Undang-
Undang Dasar 1945 dan juga Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
tentu masyarakat tidak bisa sewenang-wenang mengemukakan pendapat tanpa melihat undang-
undang yang terkait. Ini berbeda dengan Amerika Serikat, kebebasan berpendapat merupakan hal
yang utama di negeri paman Sam tersebut, jika di Amerika Serikat sangat bebas tanpa batasan,

5 Ispan Fauzi.2019.Paradoks: Kebebasan Berpendapat.Diakses pada: https://geotimes.co.id/opini/paradoks-


kebebasan-berpendapat/ 8 Mei 2019 pada pukul 17:30
lantas norma yang berlaku di Indonesia sangat banyak untuk menjadi batasan bebas pendapat. Ini
membuat kebebasan berpendapat di Indonesia menjadi ambigu atau sulit dipahami karena
memiliki banyak arti. Jika begini maka kebebasan berpendapat di Indonesia masih
dipertanyakan. Karena pada saat warga Negara mengeluarkan suatu pendapat, maka mereka
khawatir pendapatnya akan dicap sebagai penista. Akan tetapi di Indonesia, bukannya khawatir
pendapatnya akan dicap sebagai penista, tetapi pendapat dari orang lain yang akan menyerang
dirinya dan tentu saja hal tersebut dapat berakibat buruk. Sebagai salah satu contoh
mengemukakan pendapat yang menyerang secara personal atau hate speech merupakan
prasangka yang dimunculkan dalam ruang public melalui sarana orasi kampanye, spanduk,
ceramah agama, jejaring media sosial, dan orasi dalam demonstrasi yang telah menyerang hal-
hal primordial yakni suku,agama,aliran kepercayaan, ras dan antar golongan. Contohnya pada
Pilpres kemarin kita melihat bahwa banyak masyarakat yang mengemukakan pendapat dengan
menyerang bahkan menjelek-jelekan kedua pasangan calon, bukan tidak lain adalah untuk
menebar kebencian, bahkan ada yang menebar berita yang dimana berita tersebut yakni berita
kebohongan atau identik yang dikenal dengan berita Hoax. Berita Hoax adalah informasi
dusta/kebohongan yang telah siap ditayangkan ditutupi oleh topeng seakan itu mengandung
kebenaran, berita Hoax begitu familiar dikalangan masyarakat saat ini, banyak masyarakat
memanfaatkan berita hoax untuk mendapatkan keuntungan ataupun sekedar candaan. Pesatnya
arus informasi dan kemudahan akses teknologi informasi membuat masyarakat dengan mudah,
mencari, membuat, dan menerima informasi yang belum tentu kebenaraannya tanpa menyaring
dari mana sumber informasi tersebut. Salah satu contoh Hoax yakni salah satu tokoh di Indonesia
diberitakan dipukuli oleh beberapa oknum hingga wajahnya babak belur, akan tetapi masyarakat
tidak memverifikasi kebenaran dari pengeroyokan tersebut, hingga kepolisian memeriksa dan
akhirnya diketahui bahwa tokoh tersebut melakukan operasi plastic dan bukannya dipukuli.
Tentunya hal ini sebelum di verifikasi kebenarannya bisa saja menebar kebencian beberapa
masyarakat dan membuat masyarakat salah tangkap terkait dengan kasus tersebut, salah satu
contoh di Amerika Serikat, dimana pada tahun 1944 silam terdapat bocah berkulit hitam yang
bernama George Stinney, ia mendapat hukuman mati pada saat itu dikarenakan mendapat berita
hoax bahwa ia telah memperkosa dan membunuh dua gadis berketurunan kulit putih, dimana
yang menyebarkan berita hoax tersebut merupakan orang berkulit putih, tentu hal tersebut
membuat pihak yang terkait melakukan kesalahan besar karena mempercaya berita dengan
mudah begitu saja. Meskipun di Indonesia mengemukakan pendapat merupakan kebebasan
setiap kalangan akan tetapi tidak serta-merta mengungkapkan pendapat disertai dengan
kebohongan yang tentunya akan merugikan orang lain. Kepala Dinas Penerangan TNI AD
Brigjen TNI M.S Fadhilah berkata bahwa "yang menjadi perhatian saat ini adalah berkaitan
dengan ketahanan informasi, Negara Indonesia sedang mengalami darurat informasi", lalu beliau
juga menambahkan "arus informasi yang beredar, khususnya melalui media sosial saat ini
semakin sulit untuk dikendalikan dan sangat besar dampaknya terhadap cara berfikir maupun
perilaku masyarakat. 6Semakin sulit untuk menyaring mana yang termasuk berita kebohongan
dan mana yang masuk berita kebenaran dan bermanfaat, apabila hal ini terus terjadi tentunya
akan merusak moral dan karakter bangsa. Jadi tidak hanya berita Hoax yang akan menganggu
keamanan Negara, tetapi juga pendapat yang menyerang secara personal pun dapat menganggu
keamanan dan stabilitas Negara, karena tentunya apabila seseorang telah diserang dengan
pendapat orang lain tentu akan dibalas dengan pendapat yang tentunya juga menyerang orang
tersebut, tentu saja hal ini menyebabkan perselisihan dan menganggu stabilitas Negara, jadi tidak
hanya pemerintah yang harus menanggulangi permasalahan Hoax akan tetapi seluruh kalangan
masyarakat untuk tidak menyebarkan berita yang bersifat kebohongan yang nantinya akan
menimbulkan reaksi-reaksi dari kalangan tertentu, apabila itu terjadi pemerintah telah
menyiapkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik telah mengatur hal-hal yang
berkaitan dengan Hoax, tidak hanya Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE) tetapi juga KUHP pun mengatur tentang Hoax, UU ITE tidak hanya
mengatur tentang Hoax tetapi juga mengatur tentang Berpendapat yang menyerang secara
personal atau Hate Speech sehingga apabila terdapat masyarakat yang melakukan penyebaran
berita hoax ataupun Hate Speech tentu undang-undang dan KUHP tersebut siap memprosesnya.

DAFTAR PUSTAKA:

Buku:

6 Iin Suwandi.2017.Antara Hoax dan Kebebasan Berpendapat.diakses pada:


https://www.kompasiana.com/oktina21/5887ee4a2123bd37048b4568/antara-hoax-dan-kebebasan-berpendapat#
tanggal 8 Mei 2019 pada pukul 18:00
Tomuschat,Christian.2008.Human Rights: Between Idealism and Realism.Oxford University
Press

Usfunan, Prof.Yohannes.2011.HAM Politik: Kebebasan Berpendapat di Indonesia.Udayana


University Press

Website:

Erik Prasetya.2018.Hari-hari jelang Reformasi, 20 tahun, dalam gambar dan catatan. Diakses pada:
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44192970 tanggal 8 Mei 2019 pada pukul 17:10

Ispan Fauzi.2019.Paradoks: Kebebasan Berpendapat.Diakses pada:


https://geotimes.co.id/opini/paradoks-kebebasan-berpendapat/ 8 Mei 2019 pada pukul 17:30

Iin Suwandi.2017.Antara Hoax dan Kebebasan Berpendapat.diakses pada:


https://www.kompasiana.com/oktina21/5887ee4a2123bd37048b4568/antara-hoax-dan-kebebasan-berpendapat#
tanggal 8 Mei 2019 pada pukul 18:00

Peraturan Perundang-Undangan:

Undang-Undang Dasar 1945


Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Universal Declaration of Human Rights
Covenant on Civil and Political Rights