Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PSIKOLOGI
(Psikologi Ibu Bersalin)

Dosen Pembimbing
Dr. Hasnidar, S.ST., M.Kes

Oleh :

Kelompok III
Fitriani (BSN 18957)
Aldira (BSN 18951)
Saprinah (BSN 18982)
Nur Aisyah (BSN 18966)
Riska Damayanti (BSN 18971)
Andi Dian Purwati P. (BSN 18983)

AKBID BINA SEHAT NUSANTARA BONE


tahun akademik 2018-2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Psikologi Ibu
Bersalin” untuk melengkapi materi Psikologi. Tetapi, makalah ini disusun bukan
hanya sebagai pelengkap materi mata kuliah saja, namun juga untuk dapat
menambah wawasan mahasiswi yang membaca makalah ini.
Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
dosen pembimbing mata kuliah Psikologi kami yaitu Dr. Hasnidar, S.ST., M.Kes
yang telah membimbing kami dan kepada teman-teman semua yang memberikan
dukungan.
Akhri kata ada sebuah pepatah yang mengatakan “Tak ada gading yang tak
retak” begitu juga makalah ini. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini
masih banyak sekali kekurangan dalam hal isi makalah. Oleh sebab itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan juga saran yang membangun dari pembaca agar
kami dapat melakukan hal yang lebih baik lagi kedepannya. Terima kasih.

Watampone, 15 Februari 2019

Penyusun

Kelompok III

Psikologi Ibu Bersalin ii


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
a. Latar Belakang ........................................................................................ 1
b. Rumusan Masalah ................................................................................... 2
c. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2
d. Manfaat Penulisan ................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3
a. Pengertian Psikologi ............................................................................... 3
b. Pengertian Persalinan .............................................................................. 3
c. Tahap-Tahap Persalinan .......................................................................... 4
d. Jenis-Jenis Persalinan .............................................................................. 5
e. Penyebab Gangguan Psikologi pada Ibu Bersalin .................................. 6
f. Perubahan Psikologi pada Masa Persalinan ............................................ 7
g. Reaksi Sikap Ibu Menanti Kelahiran ...................................................... 10
h. Cara Pencegahan Gangguan Psikologi pada Ibu Bersalin ...................... 13
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 14
a. Kesimpulan ............................................................................................. 14
b. Saran ........................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 15

Psikologi Ibu Bersalin iii


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan adalah proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya,
tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang
membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan-
pengawasan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai (Manuaba, 1998,
dikutip dalam buku prawirohardjo Psikologi Kehamilan, 2001). Beberapa
penyesuaian dibutuhkan oleh perempuan dalam menghadapi aktivitas dan
peran barunya sebagai ibu pada minggu-mingggu atau bulan-bulan pertama
setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis.
Sebagian perempuan berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi
sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-
gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindroma (Iskandar, 2009).
Salah satu yang harus dipersiapkan ibu menjelang persalinan yaitu hindari
kepanikan dan ketakutan dan bersikap tenang, dimana ibu hamil dapat melalui
saa-saat persalinan dengan baik dan lebih siap serta meminta dukungan dari
orang-orang terdekat, perhatian dan kasih sayang tentu akan membantu
memberikan semangat untuk ibu yang akan melahirkan. Keluarga baik dari
orang tua maupun suami merupakan bagian terdekat bagi calon ibu yang dapat
memberikan pertimbangan serta bantuan sehingga bagi ibu yang akan
melahirkan merupakan motivasi tersendiri sehingga lebih tabah dan lebih siap
dalam mengahadapi persalinan. (Sjahfriani, 2007).

Psikologi Ibu Bersalin 1


B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian psikologi?
2. Apa pengertian persalinan?
3. Apa saja tahap-tahap persalinan?
4. Apa saja jenis-jenis persalinan?
5. Apa saja penyebab gangguan psikologi pada ibu bersalin?
6. Apa saja perubahan psikologi pada masa persalinan?
7. Bagaimana reaksi sikap ibu menanti kelahiran?
8. Bagaimana cara pencegahan gangguan psikologi pada ibu bersalin?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa pengertian psikologi.
2. Unutk mengetahi apa pengertian persalinan.
3. Untuk mengetahui apa saja tahap-tahap persalinan.
4. Untuk mengetahi apa saja jenis-jenis persalinan.
5. Untuk mengetahui apa saja penyebab gangguan psikologi pada ibu
bersalin.
6. Untuk mengetahui apa saja perubahan psikologi pada masa persalinan.
7. Untuk mengetahui bagaimana reaksi sikap ibu menanti kelahiran.
8. Untuk mengetahui agaimana cara pencegahan gangguan psikologi pada
ibu bersalin.

1. Manfaat Penulisan
Sebagai bahan pembelajaran untuk menambah wawasan mahasiswa agar
dapat mengetahui hal-hal mengenai psikologi ibu bersalin.

Psikologi Ibu Bersalin 2


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikologi
Ada banyak ahli yang mengemukakan pendapat tentang pengertian psikologi,
diantaranya :
1. Menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 13 (1990). Psiologi adalah
ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat
dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
2. Menurut Dakir (1993). Psikologi membahas tingkah laku manusia dalam
hubungannya dengan lingkungannya.
3. Menurut Muhibin (2001). Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku
individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang
meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan, dan lain sebagainya,
sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan,
berperasaan dan lain sebagainya.

B. Pengertian Persalinan
Persalinan merupakan awal dan akhir, puncak semua yang telah terjadi
dari mulai masa pembuahan (Papalia, 2008). Mudah atau tidaknya proses
persalinan akan menentukan kehidupan bayi prenatal. Selama menuju
persalinan (kelahiran) akan terjadi peningkatan hormone estrogen yang
dramatis untuk merangsang uterus untuk berkontraksi. Serviks pun menjadi
lebih fleksibel.
Sebelum persalinan (proses kelahiran), berlangsung sirkulasi darah,
pernafasan, makanan, pembuangan kotoran dan regulasi suhu. Semua itu
dilaksanankan melalui tubuh ibu. Ibu dan janin memiliki sistem sirkulasi dan
detak jantung yang berbeda. Darah janin akan dibersihkan melalui tali pusat
yang akan membawa darah bekas ke plasenta dan kembali dengan suplai yang

Psikologi Ibu Bersalin 3


lebih segar. Setelah lahir, sirkulasi bayi harus beroperasi secara mandiri. Detak
jantung si bayi sangat cepat dan tidak teratur. Sirkulasi darahnya pun tidak
stabil sampai hari ke-10 setelah kelahiran (Papalia, 2008).

C. Tahap-Tahap Persalinan
Menurut Papalia, Old, dan Feldman, (2008) proses kelahiran seorang bayi
dapat dibagi menjadi empat tahap, antara lain :
1. Tahap Pertama : Vaginal Childbirth
Pada tahap ini fetus bergerak ke arah cervix dalam waktu kira-kira 12-
24 jam untuk anak pertama (anak kedua lebih singkat, kira-kira separuh
dari waktu anak pertama). Tahap ini dimulai dengan kontraksi (Braxton
Hicks Contraction) yang berlangsung setiap 15-20 menit yang
mengakibatkan leher rahim terenggang dan terbuka. Kontraksi rahim
sudah kering terjadi sejak dua bulan sebelum masa persalinan dating.
Kontraksi biasanya tidak terasa sakit, frekuensi dan lamanya kontraksi
juga tidak teratur. Kontraksi merupakan tanda awal persalinan akan segera
lahir yang bersifat teratur. Kemudian kontraksi makin sering terjadi setiap
2-5 menit yang disertai dengan keluarnya cairan ketuban beberapa saat
setelah kontraksi. Cairan ini tidak bisa dikontrol seperti air seni. Selain itu,
sebelum dan sesudah terjadi kontraksi muncul bercak-bercak darah
sebagai tanda menuju proses persalinan. Pada akhir tahap ini, kontraksi
menjadi setiap 1 menit dan memperlebar cervix (leher rahim) hingga
terbuka sekitar 4 inci sehingga bayi dapat bergerak dari rahim ke saluran
kelahiran.
2. Tahap Kedua : Vaginal Canal
Yakni proses melahirkan yang berlangsung kira-kira 1,5 jam atau
lebih, diawali kepala bayi mulai bergerak melalui cervix menuju lubang
vaginal canal dan berakhir ketika seluruh tubuh bayi keluar dari rahim ibu.
Pada tahap ini bayi masih terselubung dengan plasenta ibu oleh umbilical
cord, yang kemudian harus dipotong. Bila proses ini membutuhkan waktu

Psikologi Ibu Bersalin 4


lebih lama berarti bayi membutuhkan bantuan lebih dari bidan atau dokter,
misal menggunakan vakum untuk menariknya keluar dari tubuh ibu.
3. Tahap Ketiga : Pelepasan Plasenta
Pada tahap ini berlangsung selama 5-30 menit di mana plasenta dan
tali pusar yang masih tersisa dikeluarkan dari dalam tubuh ibu.
4. Tahap Keempat : Pemulihan
Setelah pelepasan plasenta dari tubuh ibu, tubuh ibu akan melakukan
pemulihan dan keseimbangan sebagai akibat proses persalinan. Pemulihan
tubuh ibu harus tetap dipantau bidan atau dokter. Tugas bidan atau dokter
memerhatikan detak jantung ibu dan khususnya detak jantung bayinya.
Prosedur ini bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana kebutuhan oksigen
dalam otak bayi.

D. Jenis-jenis Persalinan
Berdasarkan pendapat Hurlock (1980) dan Papalia (2008), disimpulkan
bahwa terdapat lima jenis persalinan, yakni :
1. Persalinan Alamiah (Spontan)
Ini jenis persalinan yang berlangsung secara alamiah dengan posisi
dan besar janin dalam hubungannya dengan alat-alat reproduksi ibu untuk
mempermudah kelahiran bayi secara normal dengan posisi berada di
bawah. Yang perlu diperhatikan dalam persalinan alamiah (vaginal) ialah
kondisi kesehatan fisik yang prima dan kesiapan psikologis ibu, seperti
rasa kecemasan.
2. Persalinan Sungsang
Bentuk persalinan ini dimulai dengan keluarnya bokong bayi baru
disusul dengan kaki dan berakhir dengan keluarnya kepala. Tindakan
operasi Caesar merupakan salah satu tindakan pertolongan dalam
persalinan sungsang. Penyebab terjadinya janin sungsang ialah bentuk
rahim yang tak normal, air ketuban yang terlalu banyak, adanya tumor,
plasenta di bawah, bobot janin yang rendah, rahim yang sangat elastis,

Psikologi Ibu Bersalin 5


hamil kembar, hidramnion (kembar air), Hidrochepalus dan Plasenta
previa yang menutupi jalan lahir.
3. Persalinan Melintang
Ditandai dengan letak posisi bayi yang melintang (posisi tubuh janin
membujur memanjang) dalam rahim ibu. Dalam persalinan ini dipastikan
membutuhkan alat-alat (operasi caesar). Namun, apabila posisi janin
sudah tidak lagi dalam posisi tidak melintang (normal) sebelum persalinan,
prosedur pembelahan abdomen dapat dibatalkan.
4. Persalinan dengan Alat
Persalinan jenis ini dilakukan jika bentuk tubuh bayi terlampau besar
sehingga sulit keluar secara spontan atau akibat posisi bayi yang tidak
memungkinkan untuk berlangsungnya proses persalinan normal (spontan).
5. Persalinan Caesar
Bentuk persalinan ini dilakukan dengan menggunakan prosedur
pembedahan untuk mengangkat bayi dari rahim dengan cara membelah
abdomen. Operasi biasanya dilakukan ketika perkembangan persalinan
terlalu lambat atau ketika janin tampak berada dalam masalah. Ketika ibu
mengalami pendarahan vaginal, atau ketika letak posisi janin sungsang
(kaki ke bawah), posisi melintang (tubuh janin membujur melintang),
bentuk dan ukuran tubuh bayi yang besar atau persalinan dengan usia ibu
yang relatif dewasa. Bahaya operasi Caesar ialah robeknya uterus sebagai
akibat persalinannya yang induksi (Lydon, dkk, 1996).

E. Penyebab Gangguan Psikologi pada Ibu Bersalin


1. Perubahan Hormon
Perlu diketahui, ketika mengandung bahkan setelah melahirkan terjadi
“fluktuasi” hormonal dalam tubuh. Hal inilah yang antara lain
menyebabkan terjadinya gangguan psikologis pada ibu yang baru
melahirkan.

Psikologi Ibu Bersalin 6


2. Kurangnya Persiapan Mental
Yang dimaksud di sini adalah kondisi psikis atau mental yang kurang
dala menghadapi berbagai kemungkinan seputar peran ganda merawat
bayi, pasangan dan diri sendiri. Terutama hal-hal baru dan luar biasa yang
bakal dilami setelah melahirkan. Ini tentunya dapat menimbulkan masalah.
Penderitaan fisik dan beban jasmaniah selama berminggu-minggu terakhir
masa kehamilan itu menimbulkan banyak gangguan psikis dan pada
akhirnya meregangkan jalinan hubungan ibu dan anak yangsemula tunggal
dan harmonis. Maka beban inilah yang menjadi latar belakang dari impuls-
impuls emosional yang diwarnai oleh sikap permusuhan terhadap bayinya.
Lalu ibu tersebut mengharapkan jika bayi yang dikandungnya untuk segera
dikeluarkan dari rahimnya.
3. Keinginan Narsitis
Keinginan yang narsitis ini cenderung menolak kelahiran bayinya, dan
ingin mempertahankan bayinya selama mungkin di dalam kandungan.
Peristiwa ini disebabkan oleh :
b. Fantasi tentang calon banyinya yang akan menjadi objek kasih sayang
c. Beban fisik oleh semakin membesarnya bayi dalam kandungan.

F. Perubahan Psikologi pada Masa Persalinan


Pada ibu hamil banyak terjadi perubahan, baik fisi maupun psikologis.
Begitu juga pada ibu bersalin, perubahan psikologis pada ibu bersalin wajar
tejadi pada setiap orang namun ia perlu memerlukan bimbingan dari keluarga
dan penolong persalinan agar ia dapat menerima keadaan yang terjadi selama
persalinan dan dapat memahaminya sehingga ia dapat beradaptasi terhadap
perubahan yang terjadi pada dirinya. Perubahan psikologis persalinan prlu
diketahui oleh penolong persalinan dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pendamping atau penolong persalinan.

Psikologi Ibu Bersalin 7


Perubahan psikologi persalinan kala I
1. Perasaan Takut Mati
Sekalipun peristiwa kelahiran sebaagi fenomenal fisiologis yang
normal, kenyataannya proses persalinan berdampak terhadap pendarahan
dan kesakitan luar biasa serta bisa menimbulkan ketakutan kematian, baik
ibu atau bayinya. Ketakutan kematian yang mendalam menjelang
kelahiran bayi disebut ketakutan primer, yang menjadi intens bila ibu,
suami dan semua orang yang bersimpati padanya ikut panic atau gelisah.
Sikap menghibur dan melindungi dari suami atau keluarga sangat
diperlukan, karena merupakan dukungan moril mengatasi konflik batin,
kegelisahan dan ketakutan-ketakutan lainnya.
Ketakutan primer biasanya dating bersamaan dengan ketakutan
sekunder, seperti kurangnya dukungan suami atau kondisi ekonomi sulit.
Ketakutan mati bisa dikurangi dengan mekanisme pertahanan diri yang
kuat, seperti persiapan mental menghadapi persalinan dan menghindari
konflik yang serius.
2. Perasaan Bersalah atau Berdosa
Perasaan ini berhubungan erat dengan kehidupan emosi dan cinta
kasih yang diterima ibu hamil dari orangtuanya, terutama pada ibunya. Ma
nakala dva menerima kasih sayang yang baik, kemungkinan perasaan
berslaah lebih kecil ketimbang dengan mereka yang memiliki kehidupan
emosi yang kurang menyenangkan. Hal ini sangat jelas berlaku jika anak
yang akan dilahirkan adalah hasil pemerkosaan atau anak yang tidak
diinginkannya sehingga cenderung ingin melakukan aborsi. Selain itu,
proses identifikasi yang diterima ibu hamil. Jika proses identifikasi
menjadi bentuk yang salah, maka kemungkinan besar akan
mengembangkan mekanisme rasa bersalah atau berdosa pada ibunya.
Keadaan rasa bersalah atau berdosa akan membuat ibu semakin lebih takut
pada kematian. Salah satu usaha yang dilakukan adalah meminta ibunya
untuk selalu menemuinya sebelum, selama dan pasca persalinan.
Kehadiran ibunya dianggap sebagai obat pengganti rasa bersalahnya.

Psikologi Ibu Bersalin 8


3. Ketakutan Konkrit
Kebanyakan wanita hamil akan dirundung rasa ketakutan konkrit
menjelang persalinan seperti ketakutan jikalau anak lahir cacat atau
keadaan patologis, takut bayinya bernasib buruk akibat dpsanya, ketakutan
atas beban hidup yang semakin berat dengan kehadiran anak, sikap
penolakan dan regresi kalau dirinya dipisahkan dengan bayinya.
4. Trauma Kelahiran
Trauma kelahiran biasanya berkaitan erat dengan sikap ibu yang
selalu dirundung ketakutan untuk berpisah dengan anak dari rahimnya,
sikap protektif ibu yang berlebihan atau perasaan tidak mampu merawat
bayinya. Jadi, terdapat perasaan takut akan kehilangan bayi atau
postmatur.
5. Halusinasi Hipnagogik
Mendekatnya saat-saat kelahiran bayi, periode interval istirahat
semakin pendek dan saat itu ibu bisa tidur sebentar (tidur semu). Saat tidur
semu inilah ibu hamil mengalami mimpi-mimpi dan halusinasi
hipnagogik. Halusinasi hipnagogik adalah gambaran-gambaran tanpa
disertai rangsang yang adekuat (cocok, pas) yang berlangsung saat
setengah tidur dan setengah jaga. Selama interval relaksasi ini akan
bermunculan berbagai konflik batin, tendensi psikologis yang tidak
terselesaikan yang masih terus mengganggu ketenangannya hingga
menjelang proses persalinan.
6. Harapan
Adanya harapan mengenai jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan.
Timbullah dualitas perasaan, yaitu :
a. Harapan cinta kasih
b. Impuls bermusuhan dan kebencian
7. Rasa tegang
Timbulnya, rasa tegang, takut, kesakitan, kecemasan dan konflik
batin. Hal ini disebabkan oleh semakin membesarnya janin dalam
kandungan yang dapat mengakibatkan calon ibu mudah capek, tidak bisa

Psikologi Ibu Bersalin 9


tidur nyenyak, sering kesulitan berbafas dan macam-macam beban
jasmaniah lainnya diwaktu kehamilannya.
Perubahan psikologi ibu saat persalinan
1. Fase laten : pada fase ini ibu biasanya merasa lega dan bahagia karena
masa kehamilannyaakan segera berakhir. Namun pada awal persalinan
wanita biasanya gelisah, gugup, cemas dan khawatir sehubungan dengan
rasa tidak nyaman karena kontraksi. Biasanya ia ingin berbicara, perlu
ditemani, tidak tidur, ingin berjalan-jalan dan menciptakan kontak mata.
Pada wanita yang dapat menyadari bahwa proses ini wajar dan alami akan
mudah beradaptasi dengan keadaan tersebut.
2. Fase aktif : saat kemajuan persalinan sampai pada waktu kecepatan
maksimum rasa khawatir meningkat. Kontraksi semakin kuat dan
frekuensinya lebih sering sehingga wanita tidak dapat mengontrolnya.
Dalam keadaan ini wanita akan lebih serius, wanita tersebut menginginkan
seseorang untuk mendampinginya karena dia merasa takut tidak mampu
beradaptasi dengan kontraksinya.

G. Reaksi Sikap Ibu Menanti Kelahiraan


Reaksi sikap pasif atau aktif saat ibu menunggu proses persalinan secara
umum banyak dipengaruhi oleh sikap ibu. Beberapa tipe sikap reaksional dari
wanita dalam masa penantian kelahiran ialah :
1. Reaksi Ibu yang Total Pasif
Gambaran universal dari reaksi sikap wanita yang pasif secara total
ialah sejak awal dia menerima kehamilan dan proses persalinan sebagai
hal yang normal, tidak perlu dicemaskan atau ditakutkan sebagai bentuk
responnya saat mendengarkan nasehat atau sugesti bidan atau dokter.
Namun, ketika merasakan tanda-tanda rasa sakit menjelang proses
persalinan yang sesungguhnya, dia menjadi marah hebat, tidak sabra dan
selalu menuntut segera kehadiran dokter atau bidan. Ketidakhadiran bidan
atau dokter meningkatkan rasa kecemasan dan kemarahannya.

Psikologi Ibu Bersalin 10


2. Reaksi Ibu yang Hiperpasif
Gambaran universal dari reaksi tipe wanita dengan hiperpasif selama
kehamilan sama sekali tidak menyadari bahwa kehamilannya sudah
matang dan menjelang proses persalinan. Gambaran sikap tipe wanita
hiperpasif ialah tidak mau bertanggung jawab segala perubahan
kehamilannya, janin dianggap hanya ketepatan belaka, tidak perlu
mengetahui mengenai tumbuh dan kembangnya janin, karena dianggap
tidak begitu penting, semua urusan mengenai kehamilan dan proses
persalinannya sebagai urusan suaminya atau ibunya, berperilaku keanak-
anakan, sangat tergantung penuh kepada ibu atau pengganti ibu serta
senang menyuruh suaminya untuk melakukan tugas-tugasnya, banyak
mengeluh dan tidak sabaran, merasa tidak takut mati dan selalu
mengharapkan kehadiran orang lain.
3. Reaksi Ibu yang Pasif dan Menyerah
Ciri-ciri wanita pasif menyerah ialah malas bekerjasama dengan bidan
(dokter) menjelang proses persalinannya sehingga memperlambat proses
pengembangan (melebarnya) servix dan saluran vagina. Kondisi ini
menyebabkan kontraksi-kontraksi menjadi lemah. Bahkan berhenti secara
total proses persalinan dan macet total sehingga harus dibantu dengan
proses persalinan caesar.
4. Reaksi Ibu yang Total Aktif
Wanita aktif adalah kebalikan dari wanita pasif secara total dan
ditandai dengan semakin tingginya tingkat kegelisahannya pada saat
mendekati proses persalinan sehingga meningkatkan berbagai macam
aktivitas sehari-hari. Semua kegelisahan dan impuls terus aktif dan
dirasionalisasikan untuk mempersingkat penantiannya dalam persalinan.
Pada hakekatnya aktivitas yang meningkat merupakan persiapan untuk
mengantisipasi secara aktif saat kelahiran bayinya yang banyak didorong
oleh impuls-impuls dalam diri yang begitu kuat.

Psikologi Ibu Bersalin 11


5. Reaksi Ibu yang Hiper Total Aktif
Gambaran sikap dari tipe wanita hiper aktif secara total ialah sikap
yang sangat aktif dan berlebihan untuk melepaskan diri dari ritme
kelahiran normal. Ibu ini akan terus berupaya keras untuk mengatur
keseimbangan irama kontraksi rahim atau bentuk perubahan-perubahan
kehamilannya secara mendetail.
6. Reaksi Ibu ayng Hiper Maskulin
Gambaran umum dari reaksi ibu ini ialah bersikap kejantanan ekstrem
sejak awal dari kehamilannya hingga menjelang kelahiran. Akan tetapi
instingnya selalu berubah-ubah antara keinginan untuk memiliki anak
dengan keengganan melahirkan anak. Hal ini dilakukan karena
menganggap proses kehamilan dan persalinan mengganggu dan
menghambat peningkatan karirnya. Kehidupan emosinya senantiasa
digoyah perasaan kerinduan dan kebencian terhadap anak. Kedua gejala
ini memuncak menjadi suatu gejala neurotis yang obsesif bila tidak disertai
adanya sikap positif dari suami atau anggota keluarga lainnya, karena
walaupun dia terlihat bersikap kejantanan sebenarnya dia cenderung
kurang percaya diri, mengalami gangguan syaraf, sakit kepala (migren)
dan mengalami konflik batin, dan tingginya kualitas konflik maskulin
dengan sikap feminimnya.
7. Reaksi Ibu yang Bersifat Kompleks Maskulin
Gambaran umum reaksi sikap tipe ibu seperti ialah menganggap
bahwa proses persalinan sebagai tugas penghinaan, dipaksakan alam,
sebagai ketidak adilan dengan suami, sikap pembalasan, sikap menolak
penderitaan dan kesakitan melahirkan bayi, menuntut kelahiran operasi,
memaksa bidan atau dokter untuk merawat sepenuhnya. Kondisi ini
memungkinkan timbulnya reaksi kurang sabar dan mudah emosional
hingga menjelang persalinan.

Psikologi Ibu Bersalin 12


H. Cara Pencegahan Gangguan Psikologi pada Ibu Bersalin
Tugas penting atau yang paling utama dari seorang wanita dalam proses
kelahiran bayinya, khusus pada periode permulaan (periode mulai melebarnya
saluran vagina dan ujung uterus) ialah sebagai berikut :
1. Sepenuhnya patuh mengikuti kekuatan-kekuatan naluriah dari dalam
2. Memberikan partisipasi sepenuhnya
3. Dengan kesabaran sanggup menderita segala kesakitan
Selanjutnya, jika proses kesakitan pertama-tama menjelang kelahiran itu
disertai banyak ketegangan batin dan rasa cemas atau ketakutan yang
berlebihan, atau disertai kecenderungan yang sangat kuat untuk bertingkah
super aktif, dan mau mengatur sendiri proses persalinan maka :
1. Proses kelahiran bayi bisa menyimpang dari pola normal dan spontan
2. Prosesnya akan sangat terganggu (merupakan kelahiran yang abnormal)
Situasi pada periode kedua berlangsung agak berbeda sekarang wanita
harus bekerja keras menahan kesakitan yang semakin hebat. Dan tekanan-
tekanan dalam perut harus disertai usaha merejan secara sungguh-sungguh.
Semua ini dibarengi dengan kontraksi dari dalam, diperkuat oleh kemampuan
sendiri, dan dirangsang oleh dorongan serta sugesti dari luar yaitu dari bidan,
dokter dan lain-lain maka segenap daya psikis dan fisik wanita benar-benar
dikonsentrasikan pada pengabdian diri untuk melanggengkan generasi manusia
dengan dalan melahirkan bayinya.

Psikologi Ibu Bersalin 13


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka
dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam
hubungannya dengan lingkungannya. Persalinan merupakan awal dan akhir,
puncak semua yang telah terjadi dari mulai masa pembuahan (Papalia, 2008).
Mudah atau tidaknya proses persalinan akan menentukan kehidupan bayi
prenatal. Selama menuju persalinan (kelahiran) akan terjadi peningkatan
hormone estrogen yang dramatis untuk merangsang uterus untuk berkontraksi.
Serviks pun menjadi lebih fleksibel.
Gangguan psikologi ibu pada masa persalinan adalah hal yang wajar
terjadi pada setiap ibu menjelang persalinannya, namun ibu bersalin
memerlukan bimbingan dari keluarga dan penolong persalinan agar ia dapat
menerima keadaan yang terjadi selama persalinan dan dapat menerima keadaan
yang terjadi selama persalinan dan dapat memahaminya sehingga ia dapat
beradaptasi terhadap perubahan psikologis selama persalinan perlu diketahui
oleh penolong persalinan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendamping
atau penolong persalinan.

B. Saran
Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermafaat bagi teman-teman
yang membacanya khususnya teman-teman jurusan kebidanan serta dapat
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan menangani masalah
gangguan psikologi ibu pada masa persalinan.

Psikologi Ibu Bersalin 14


DAFTAR PUSTAKA

Bethsaida Janiwarty, Herri Zan Pieter. 2013. Pendidikan Psikologi untuk Bidan.
Yogyakarta : Andi.
Herri Zan Pieter, Namora Lumongga Lubis. 2010. Pengantar Psikologi untuk
Kebidanan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
http://irnawatimalik.blogspot.com/2016/05/makalah-gangguan-psikologi-pada-
ibu.html?m=1
http://mika-rachmika.blogspot.com/2011/11/psikologi-ibu-bersalin.html
Kartini, Kartono. 1990. Psikologi Anak. Bandung : MAndar Maju.
Sjafriani. 2007. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta : Fitramaya
Walgito, Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.
widayatun, Tri Rusmi. 2009. Ilmu Perilaku. Jakarta : Sagung Seto.

Psikologi Ibu Bersalin 15