Anda di halaman 1dari 14

Penerapan Balanced Scorecard sebagai Alat Pengukuran Kinerja Pada

PT Asuransi MSIG Indonesia

“Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah AKUNTANSI MANAJEMEN”


Dosen pembimbing : Patria Prasetio Adi S.AB.,M.Ak

Disusun oleh:

Vici Muthia Saraswati 5211171246


Nurlaila Handayani 5211171258
Elizabeth Dame Ully H 5211171259

KELAS H

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHAMAD YANI
CIMAHI
2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
1.1 SEJARAH DAN LATAR BELAKANG BSC ............................................................ 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................ 2
1.3 TUJUAN PEMBAHASAN ......................................................................................... 2
BAB II........................................................................................................................................ 3
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 3
2.1 DEFINISI BSC ............................................................................................................ 3
2.2 KEUNGGULAN BSC SEBAGAI ALAT PENGUKURAN KINERJA .................... 3
2.3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .................................................................... 5
2.4 PENERAPAN BSC ..................................................................................................... 6
2.5 Simulasi Balanced Scorecard pada PT Asuransi MSIG Indonesia ............................. 7
BAB III .................................................................................................................................... 10
PENUTUP................................................................................................................................ 10
3.1 KESIMPULAN ......................................................................................................... 10
3.2 SARAN ..................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 11

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami rahmat dan karunia-NYA sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang “Penerapan Balanced Scorecard
Sebagai Alat Pengukuran Kinerja Perusahaan pada PT Asuransi MSIG Indonesia.”

Kami juga mengucapkan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk bapak Patria
Prasetio Adi S.AB.,M.Ak selaku dosen mata kuliah Akuntansi Manajemen yang telah
menyerahkan kepercayaan kepada kami guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Kami juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta
bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait Penerapan Balanced
Scorecard Sebagai Alat Pengukuran Kinerja Perusahaan pada PT Asuransi MSIG Indonesia.

Selain itu kami juga sadar bahwa pada makalah kami ini dapat ditemukan banyak kekurangan
serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami benar-benar menanti kritik dan saran
untuk kemudian kami revisi dan kami tulis di masa yang selanjutnya, sebab sekali lagi kami
menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna

Di akhir kami berharap makalah ini dapat di mengerti oleh setiap pihak yang membaca. Kami
pun memohon maaf sebesar-besarnya apabila dalam makalah kami terdapat perkataan yang
tidak berkenaan di hati.

Cimahi, 6 juni 2019

Penyusun

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 SEJARAH DAN LATAR BELAKANG BSC

Nolan Norton menyeponsori studi tentang “pengukuran kinerja dalam organisasi masa
depan”. Bersama robert kaplan melakukan riset tersebut,kemudian hasil studi tersebut
diterbitkan dalam jurnal”balanced scorecard- Measures that driver performence”. Hasil studi
tersebut menyimpulkan untuk mengukur kinerja di dalam organisasi masa depan diperlukan
ukuran kinerja yang komprehensif, yang mencakup 4 (empat) perspektif: keuangan,
customer, proses bisnis/intern, inovasi dan pembelajaran. Perspektif keuangan dan costomer
merupakan faktor eksternal sedangkan proses bisnis/intern, inovasi dan pembelajaran
merupakan faktor internal. Secara sederhana BSC adalah kartu skor (scorecard) yang
digunakan untuk mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan (balance) dari
perspektif keuangan dan non keuangan serta melibatkan faktor internal dan eksternal
perusahaan. Kalau menurut buku Management Control Systems di atas, pengertian BSC
adalah alat pengukuran kinerja yang menekankan keseimbangan antara ukuran-ukuran
strategis yang berlainan satu sama lain, dalam usaha mencapai keselarasan tujuan (goal
congruence) sehingga mendorong karyawan bertindak yang terbaik demi kepentingan
perusahaan. Jadi, ada empat pertanyaan pokok yang harus dijawab dalam pendekatan BSC,
yaitu:
 Perspektif keuangan: Bagaimana pandangan perusahaan menurut para
pemegang saham?
 Perspektif bisnis internal: Apa yang menjadi keunggulan perusahaan
 Perspektif customer (palanggan): Bagaimana pandangan konsumen terhadap
perusahaan?
 Perspektif inovasi dan pembelajaran: Apakah perusahaan terus melakukan
pembelajaran dan melakukan inovasi terus-menerus sesuai dengan tuntutan
eksternal?
Idealnya, setiap manajemen perusahaan memerlukan suatu alat ukur untuk mengetahui
seberapa baik performa perusahaan. Objek yang selalu diukur adalah bagian keuangan,
mengapa hanya bagian keuangan ? Jawabannya sederhana karena keuangan berbicara
mengenai angka, sesuatu yang mudah dihitung dan dianalisa. Dengan perkembangan ilmu
manajemen dan kemajuan teknologi informasi, sistem pengukuran kinerja perusahaan yang
hanya mengandalkan perspektif keuangan dirasakan banyak memiliki kelemahan dan
keterbatasan. Sesungguhnya ada perspektif non keuangan yang lebih penting yang dapat
digunakan dalam mengukur kinerja perusahaan. Kenyataan inilah yang menjadi awal
terciptanya konsep balanced scorecard.
Balanced Scorecard dimana terdapat tambahan balanced di depan kata score maksudnya
bahwa angka atau score tersebut harus mencerminkan keseimbangan antara sekian banyak
elemen penting dalam kinerja.(Yuwono,2002). Anthony, Banker, Kaplan dan Young (1997)
mendefinisikan balaced score card sebagai:”ameansurement and management system that
viewsa business unit’s performence from fourperspective : financial, customer internal
process and learning growth .”
Dengan demikian Balanced Scorecard merupakan suatu sistem manajement, pengukuran,
dan pengendalian yang secara cepat, tepat, dan kompehensif dapat memberikan pemahaman
kepada manajer tentang performance bisnis.
Menurut kaptan dan Norton defisini Balanced Scorecard adalah sebuah misi dan strategi
organisasi kedalam seperangkat ukuran kinerja yang memberikan kerangka kerja bagi

1
pengukuran dan sistem menejemen strategis. Balanced Scorecard diukur dalam 4 perspektif
yaitu:keuangan, custumer, proses bisnis/internal serta pembelanjaran dan pertumbuhan.
Balanced scorecard pertama kali dikembangkan pada awal tahun 1990-an oleh Drs.
Robert kaplan (Hardvard Business School) dan David Norton. Permulaan BSC di latar
belakangi oleh kondisi persaingan pasar yang semakin kompleks. Dengan adanya tekanan
globalisasi yang membuka pintu perdagangan bagi perusahaan-perusahaan asing untuk
berkompetensi di dalam negeri, informasi finansial(sistem tradisional) menjadi tidak cukup
untuk menumpuk perusahaan juga membutuhkan informasi non-finansial untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan serta memfasilitasi evaluasi dan kontrol
terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Selain itu permasalahan lain yang ditemui perusahaan adalah tidak terimplementasinya
strategi yang ditetapkan dalam kegiatan operasional perusahaan sehari-hari( Paul Niven,
2002). Hal ini menjadi penghambat perusahaan karena untuk bertahan dan bertumbuh
dibutuhkan aligment dan fokus anatara strategi yang di jalankan perusahaan dengan kegiatan
sehari-hari.
Perusahaan-perusahaan berlomba melakukan penciptaan nilai berbagai derversifikasi
produk yang tak terhitung varaiaannya . kemungkinan perusahaan menciptakan nilai-nilai di
masa mendatang yang telah bergeser dari pengelolaan ‘aktiva berwujus’(tangeble asset) ke
pengeloaan berbagai strategi berbasis pengetahuan dengan menggali aktiva tidak berwujud
perusaan (intageble asset) seperti:
a) Menciptakan hubungan harmonis dan langgeng dengan pelanggan
b) Mengarahkan produk dan jasa yang inovativ dan kompettitif
c) Meneliti teknologi informasi dan komunikasi yang canggih
d) Menstimuli keterampulan dan motivasi karyawan
jika kita melihat kebelakang,kita melewati 3 era revolusi dengan ciri khasnya masing-
masing:
a) Revolusi pertanian
Ciri era revolusi pertanian adalah penciptaan nilai tambahnya (value added)
yang dicapai dengan menggunakan otot manusi dan hewan.
b) Revolusi industri
c) Ciri era revolusi industri adalah penciptaan nilai tambahnya yang dicapai
dengan menggunakan sumber daya mesin dan bahan bakar minyak,basis
persaingannya adalah efisiensi dalam alokasi financial dan phsycal/visible
assets yang mudah dijabarkan dalam dimensi keuangan
d) Revolusi informasi
Ciri refolusi informasi adalah penciptaan nilai tambah yang dicapai dengan
menggunakan dangan kemampuan otak manusi, basis persaingannya adalah
dalam hal mobilisasi dan eksploitasi invisible/intagible assets yang tidak
mudah di jabarkan dalam dimensi keuangan

1.2 RUMUSAN MASALAH

 Apa yang dimaksud dengan BSC?


 Bagaimana penerapan BSC pada PT Asuransi MSIG Indonesia?

1.3 TUJUAN PEMBAHASAN

 Memahami pengertian dari BSC.


 Mengetahui penerapan BSC yang diterapkan oleh PT Asuransi MSIG Indonesia

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI BSC

Kartu skor berimbang (bahasa Inggris: balanced scorecard, BSC) adalah suatu metode
untuk pengukuran dan penilaian kinerja suatu perusahaan dengan mengukur empat perspektif
yaitu: perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan. suatu konsep untuk mengukur apakah aktivitas-aktivitas
operasional suatu perusahaan dalam skala yang lebih kecil sejalan dengan sasaran yang lebih
besar dalam hal visi dan strategi. BSC pertama kali dikembangkan dan digunakan pada
perusahaan Analog Devices pada tahun 1987. Dengan tidak hanya berfokus pada hasil
finansial melainkan juga masalah manusia, BSC membantu memberikan pandangan yang
lebih menyeluruh pada suatu perusahaan yang pada gilirannya akan membantu organisasi
untuk bertindak sesuai tujuan jangka panjangnya. Sistem manajemen strategis membantu
manajer untuk berfokus pada ukuran kinerja sambil menyeimbangkan sasaran finansial
dengan perspektif pelanggan, proses, dan karyawan.
Balanced Scorecard membantu organisasi untuk menghadapi dua masalah fundamental:
mengukur performa organisasi secara efektif dan mengimplementasikan strategi dengan
sukses. Secara tradisional, pengukuran terhadap bisnis berkisar pada aspek finansial, yang
kemudian banyak mendatangkan kritik. Ukuran finansial tidaklah konsisten dengan
lingkungan bisnis saat ini, punya daya prediktif yang lemah, mengakibatkan munculnya silo
fungsional, menghambat cara berpikir jangka panjang, dan tidak lantas bisa relevan bagi
kebanyakan level organisasi. Mengimplementasikan strategi secara efektif menjadi
permasalahan tersendiri. Setidaknya terdapat empat pembatas implementasi strategi di
organisasi: pembatas visi, pembatas orang, pembatas sumberdaya, dan pembatas manajemen.
Balanced Scorecard memberi organisasi elemen yang dibutuhkan untuk berpindah dari
paradigma ‘melulu finansial’ menuju model baru yang mana hasil Scorecard menjadi titik
awal untuk me-review, mempertanyakan, dan belajar tentang strategi yang dipunya. Balanced
Scorecard akan menerjemahkan visi dan strategi ke dalam serangkaian ukuran koheren dalam
empat perspektif yang berimbang. Kita akan dengan cepat bisa dapatkan informasi untuk
dipertimbangkan lebih dari sekadar ukuran financial.

2.2 KEUNGGULAN BSC SEBAGAI ALAT PENGUKURAN KINERJA

Hasil evaluasi pengukuran kinerja berdasarkan balanced scorecard yang mencakup


keempat perspektifnya baik keuangan maupun non-keuangan ternyata mampu menimbulkan
rencana strategis yang bisa dirumuskan, ditetapkan dan dicapai di masa yang akan datang
dalam usaha memperbaiki atau meningkatkan kinerja perusahaan. Keunggulan balanced
scorecard ini tertuang dalam empat karakteristik (Mulyadi, 2005:11-15) yaitu: komprehensif,
koheren, seimbang dan terukur. Keempat karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

1. Komprehensif
Balanced scorecard memperluas perspektif yang dicakup dalam perencanaan strategik,
yaitu dari yang sebelumnya hanya terbatas pada perspektif keuangan, meluas ketiga
perspektif yang lain seperti pelanggan, proses, serta pembelajaran dan pertumbuhan.
Perluasan perspektif rencana strategik ke perspektif non keuangan tersebut menghasilkan
manfaat, yaitu menjanjikan kinerja keuangan yang berlipat ganda dan berkesinambungan

3
serta memampukan organisasi untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks. Strategi-
strategi yang ditetapkan ke dalam tiap perspektif memperluas lingkup bisnis perusahaan
dalam mencapai misi dan visi perusahaan. Kekomprehensifan atas sasaran strategis ini adalah
respon yang tepat bagi perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang kompleks.

2. Koheren
Balanced scorecard mewajibkan personel untuk membangun hubungan sebab-akibat
(causal relationship ) di antara berbagai sasaran strategik yang dihasilkan dalam perencanaan
strategik. Setiap sasaran strategik yang ditetapkan dalam perspektif non keuangan harus
mempunyai hubungan kausal dengan sasaran keuangan, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Kekoherenan antara strategi dan sasarannya di berbagai perspektif akan mampu
memperbaiki kinerja keuangan yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan yang berada atau
yang akan memasuki iklim bisnis yang turbulen.

3. Seimbang
Keseimbangan sasaran strategik yang dihasilkan oleh sistem perencanaan strategik
penting untuk menghasilkan kinerja keuangan berkesinambungan.

4. Terukur
Keterukuran sasaran strategik yang dihasilkan oleh sistem perencanaan strategik
menjanjikan ketercapaian berbagai sasaran strategik yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
Balanced scorecard mengukur sasaran-sasaran strategik yang sulit untuk diukur

Sedangkan (Rangkuti, 2012: 94) beberapa keunggulan utama sistem Balanced scorecard
dalam mendukung proses manajemen strategi antara lain:
 Memotivasi personel untuk berpikir dan bertindak strategis. Untuk meningkatkan
kinerja keuangan perusahaan, personel perlu menempuh langkah-langkah strategis
dalam hal pemodalan yang memerlukan langkah besar berjangka panjang. Selain itu
sistem ini juga menuntut personel untuk mencari inisiatif-inisiatif strategis dalam
mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
 Menghasilkan program kerja yang menyeluruh. Sistem Balanced scorecard
merumuskan sasaran strategis melalui keempat perpektif. Ketiga perspektif non
keuangan hendaknya dipicu dari aspek keuangan.
 Menghasilkan business plan yang terintegrasi. Sistem Balanced scorecard dapat
menghasilkan dua macam integrasi, yaitu (1) Integrasi antara visi dan misi perusahaan
dengan program , dan (2) Integrasi program dengan rencana meningkatkan profit
bersih.

Dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki Balanced Scorecard maka dewasa ini


semakin banyak perusahaan mulai menerapkan metode ini sebagai dasar pengukuran kinerja
perusahaannya, otomatis kebutuhan atas para ahli yang menguasai metode ini pun turut
meningkat.

4
2.3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

PT MSIG adalah perusahaan induk regional dan anak perusahaan dari Mitsui Sumitomo
Insurance Company, Limited yang tergabung dalam MS&AD Insurance Group. MSIG Asia
dipimpin oleh Chairman, Mr Noriaki Hamanaka, dan Regional CEO, Mr Alan J. Wilson.
Mitsui Marine and Sumitomo Marine merupakan perusahaan asuransi non-jiwa terkemuka
dengan catatan sejarah yang panjang, dimana Mitsui Marine telah didirikan pada tahun 1918
dan Sumitomo Marine pada tahun 1893. PT MSIG memiliki 4 kantor cabang, dan 3 kantor
perwakilan, yang bertujuan untuk memperlancar hubungan kerja dengan client di luar
Jakarta, 4 kantor cabang, dan 3 kantor perwakilan yang dimiliki perusahaan MSIG Indonesia
yaitu:
1. Cabang Surabaya, sejak 24 Juni 1992
2. Cabang Medan, sejak 24 Juni 1992
3. Cabang Bandung, sejak 27 Oktober 1992
4. Cabang Batam, sejak 24 Februari 1995
5. Perwakilan Semarang, sejak 1 April 2003
6. Perwakilan Denpasar, sejak 1 Juli 2004
7. Perwakilan Palembang, sejak 1 Maret 2005
Beberapa produk unggulan asuransi yang dilayani PT Asuransi MSIG Indonesia adalah:
 Asuransi Properti
 Asuransi Pengangkutan Barang
 Asuransi Teknik
 Asuransi Kendaraan Bermotor

Selain itu ada juga layanan produk Asuransi Home Shield, Asuransi Kecelakaan Diri,
Asuransi Perjalanan Internasional, Asuransi Perjalanan Domestik, Asuransi Harta Benda,
Asuransi Tanggung Gugat.

5
2.4 PENERAPAN BSC

Penafsiran dampak hasil analisis lingkungan internal dan eksteral PT MSIG dengan
pengukuran balance scorecard

Pembelajaran
Internal
Keuangan Pelanggan dan
Bisnis
Pertumbuhan
Peluang Dukungan Mendapatkan Memiliki Memiliki team
(Opportunities) finansial dari berbagai macam kerjasama pengembangan
pemegang penghargaan yang baik pelatihan
saham layanan yang dengan eksternal, dan
bermanfaat beberapa keahlian
dalam perusahaan eksternal yang
peningkatan dalam proses profesional
promosi, dan peningkatan
layanaan. layanan
produk.
Ancaman Persaingan Pengembangan Persaingan Proses adopsi
(Threats) sistem dalam retail sesuai perusahaan pengembangan
penerbitan dengan baru yang teknologi
polis pada kebijakan memiliki kompetitor
section peraturan teknologi yang tinggi,
underwriting pemerintah dan yang lebih dan cepat
turunnya daya unggul
beli konsumen.
Kekuatan Dukungan Pelayanaan yang Para pekerja Pelatihan per
(Strengths) stabilitas sangat yang telah periodik yang
office yang memuaskan banyak diberikan
sangat kuat berdasarkan memiliki perusahaan
dan memiliki kepuasan sertifikasi dalam
rasio capital konsumen dan asuransi meningkatkan
yang cukup memiliki nasional dan keahlian dalam
besar departemen risk internasional, pekerjaan
survey yang dan tenaga
kuat kerja yang
handal dalam
berbagai
bidang
Kelemahan Penyesuaian Explorasi retail Menentukan Kesempatan
(Weakneasses) dengan yang sikap atau mendapatkan
regulator menguntungkan behavior dari promosi
mengenai masing- jabatan, dan
penyesuaian masing peningkatan
kebijakan karyawan dan jenjang karir
dengan komitmen yang sulit.
pemerintah pegawai yang
rendah

6
Analisis SWOT berkaitan dengan perumusan strategi yang disesuaikan dengan visi, dan
misi perusahaan. Perumusan strategi menerjemahkan visi, misi, dan strategi PT MSIG terhadap
perspektif balanced scorecard (BSC) menjadi sasaran-sasaran strategik, melalui analisis SWOT,
PT MSIG dapat mengetahui pengaruhnya terhadap perspektif BSC.

2.5 Simulasi Balanced Scorecard pada PT Asuransi MSIG Indonesia


Penilaian simulasi kinerja yang dilakukan oleh pihak peneliti, dan dibantu oleh
manajemen perusahaan untuk mengukur pencapaian yang telah ditentukan berdasarkan target
yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen perusahaan. Penilaian tersebut dapat mengukur
kinerja yang dilakukan perusahaan, dan menentukan ketercapaian kinerja perusahaan selama
tahun tertentu. Berikut simulasinya.

Sasaran Ukuran Raelisasi Target Simulasi Inisiatif Bobot Skor


strategi startegi (%) (%) (%) strategi (%)
Lag indikator Lead Indikator
Perspektif keuangan
Memen Tingkat Pertumb 12 20 60 Peningk 4,60 2,76
uhi Pengem uhan atan
Harapan balian laba efisiensi
pemega modal penggu
ng naan
saham aset
Pertumb Peningk Margin 41 40 102,50 Peningk 20,70 21,22
uhan atan laba atan
penjuala keuntun bersih pengend
n gan alian
kegiatan
marketi
ng
dalam
penjuala
n
produk
Efisiens Pelaksa Penurun -1,17 10 -11,7 Pengen 6,2 -0,73
i biaya naan aan dalian
produks kegiatan biaya dan
i operasio operasio efektivit
nal nal as
(marketi pelayan
ng, an
underwr section
iting) produks
secara i
efektif
dan
efisien
31,50 23,25
Sasaran Ukuran Raelisasi Target Simulasi Inisiatif Bobot Skor (%)
strategi startegi (%) (%) (%) strategi
Lag indikator Lead Indikator

7
Perspektif pelanggan
Kepuas Kinerja Jumlah 5 10 50 Mening 21,50 10,75
an, bagian pelangg katkan
keperca penjuala an baru promosi
yaan, n, dan secara
dan quality berkela
peroleh conrol njutan
an
pelangg
an
Qulity Client Jumlah 95 100 95 Memba 19,70 18,72
relation retentio pelangg ngun
ship n an aktif kerjasa
pada ma
tahun dengan
2012- client
2013 untuk
dan menngk
peningk atkan
atan loyalitas
mutu dan
layanan mutu
layanan
41,20 29,47
Perspektif bisnis internal
Pengem Produk Jumlah 10 10 100 Peningk 10,10 10,10
bangan diferens produk atan
produk iasi digerens peneliti
diferens iasi an
iasi terhada
p
produk
baru
Penyesu Peningk Pertumb 4 10 40 Penanga 5,60 2,24
aian atan uhan nan
premi bisnis premi dalam
terhada pelayan pada pengend
p bisnis an tahun alian
terhada 2012- premi
p premi 2013
Pengem Tingkat Jumlah 3,02 5 60,40 Pengen 3,00 1,81
bangan pengem persenta dalian
bisnis bangan se bisnis
bisnis market dalam
terhada share penigka
p tan
market market
share share
18,70 14,15
Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

8
Pengem Pendidi Jumlah 80 80 100 Peningk 5,40 5,40
bangan kan dan orang atan
kualitas pelatiha yang pendidi
dan n mengik kan dan
kapabili uti pelatiha
tas pelatiha n
n karyawa
n
Mening Motivas Jumlah 80 80 100 Peningk 3,20 3,20
katkan i kinerja prestasi atan
komitm karyawa yang quality
en n didapat work
karyawa pada life
n tahun
2013
8,60 8,60
Skor total 75,47

9
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa PT Asuransi MSIG Indonesia
memiliki indikator dalam hal pengukuran kinerja yang digunakan yaitu penjualan, analisis
neraca, analisis liabilitas, analisis rentabilitas ekonomi, ROE, dan cash flow, serta laporan
keuangan tahunan sebagai dasar data pengukuran kinerja, secara keseluruhan indikator
pengukuran kinerja melalui persepsi keuangan yang digunakan PT MSIG menunjukkan hal
yang positif, karena semua indikator yang menjadi pengukuran tersebut telah menghasilkan
suatu peningkatan yang baik, yang menunjukkan produktivitas kinerja karyawan semakin
baik.
Rancangan simulasi balanced scorecard yang menjadi penentu dalam mencapai hasil yang
maksimal, hasil rancangan simulasi balanced scorecard secara keseluruhan menunjukkan
hasil yang didapatkan sebesar 75,47%, hasil tersebut sudah optimal dalam mencapai target
yang sudah ditentukan oleh perusahaan, dan berdasarkan skala penilaian, kinerja PT Asuransi
MSIG Indonesia berada pada tahap yang baik, hal ini menjadikan perusahaan dapat lebih
bersaing lagi dalam industri perasuransian, dan berpeluang tetap menjadi market leader dalam
industri general insurance.

3.2 SARAN

Penulis menyarankan beberapa hal terkait ancaman yang ada pada balanced scorecard di
PT Asuransi MSIG Indonesia (Threats) seperti :
 Keuangan : Memperbarui sistem penerbitan polis dan tetap menjaga agar polis tetap
berlaku dengan cara pembayaran premi tepat waktu (pada saat jatuh tempo).
 Pelanggan : Meningkatkan daya beli konsumen dengan tindakan Pemerintah yang
tidak terlalu ketat mengejar pajak masyarakat, mendorong dana yang tersimpan di
Bank-Bank Pemda, program dana desa harus cepat didistribusikan ke masyarakat,
dan Pemerintah membuat program-program spesial yang bersifat cepat.
 Internal Bisnis : Mengembangkan teknologi pada perusahaan serta memperhatikan
dampak dari perkembangan teknologi tersebut, dan manfaat dari adanya teknologi.
 Pembelajaran dan Pertumbuhan : Peranan teknologi sangat penting dalam
perusahaan, harus dilakukan pelatihan khusus untuk karyawan dalam mengikuti
pertumbuhan teknologi yang sangat cepat.

10
DAFTAR PUSTAKA

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kartu_skor_berimbang
https://tipsserbaserbi.blogspot.com/2017/03/keunggulan-dan-kelemahan-balanced-
scorecard.html?m=1
https://www.msig.co.id/id/kisah-msig
https://www.lenterabisnis.com/profil-perusahaan-pt-asuransi-msig-indonesia

11