Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan inklusi merupakan seseuatu yang baru di dunia pendidikan Indonesia.


Istilah pendidikan inklusif atau inklusi, mulai mengemuka sejak tahun 1990, ketika
konferensi dunia tentang pendidikan untuk semua, yang diteruskan dengan
pernyataan tentang pendidikan inklusif pada tahun 1994.

Pendidikan khusus merupakan pendidikan yang diperuntukan bagi peserta didik


yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena
memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa. Oleh karena itu, untuk mendorong kemampuan
pembelajaran mereka dibutuhkan lingkungan belajar yang kondusif, baik tempat
belajar, metoda, sistem penilaian, sarana dan prasarana serta yang tidak kalah
pentingnya adalah tersedianya media pendidikan yang memadai sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.

Seiring dengan perjalanan kehidupan sosial bermasyarakat, ada pandangan bahwa


mereka anak-anak penyandang dissabilitas dianggap sebagai sosok individu yang
tidak berguna, bahkan perlu diasingkan. Namun, seiring dengan perkembangan
peradaban manusia, pandangan tersebut mulai berbeda. Keberadaannya mulai
dihargai dan memiliki hak yang sama seperti anak normal lainnya. Hal ini sesuai
dengan apa yang diharapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1
dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dapat disimpulkan bahwa Negara memberikan jaminan sebenarnya kepada anak-
anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang
berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus
mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak normal lainnya dalam
pendidikan. Hanya saja, jika ditinjau dari sudut pandang pendidikan, karena
karakteristiknya yang berbeda dengan anak normal pada umumnya menyebabkan
dalam proses pendidikannya mereka membutuhkan layanan pendekatan dan
metode yang berbeda dengan pendekatan khusus

Pemerintah sebagai faktor utama dalam membuat kebijaksanaan pendidikan


mengupayakan program pemerataan pendidikan dengan penyelenggaraan
pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif adalah suatu kebijaksanaan pemerintah
dalam mengupayakan pendidikan yang bisa dinikmati oleh setiap warga negara
agar memperoleh pendidikan tanpa memandang anak berkebutuhan khusus dan
anak normal agar bisa bersekolah dan memperoleh pendidikan yang layak dan
berkualitas untuk masa depan hidupnya.

Ruang lingkup media pendidikan inklusif sebaiknya mencakup semua jenis media
pendidikan untuk semua peserta didik termasuk didalamnya anak berkebutuhan
khusus, seperti: Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, Tunalaras, Tuna
Wicara, Tunaganda, HIV/AIDS, Gifeted, Talented, Kesulitan Belajar, Lamban
Belajar, Autis, Korban Penyalahgunaan Narkoba, Indigo, dan lain sebagainya.

Khusus untuk pembelajaran MIPA, memang tidaklah mudah mengajarkan dan


mengaplikasikan konsep-konsep materi pada anak yang berkebutuhan khusus atau
memiliki bakat istimewa. Tetapi hal itu bukan berarti mata pelajaran MIPA tidak
dapat diberikan kepada mereka. Dengan dilatarbelakangai hal tersebut maka
dirasa perlu untuk mempelajari lebih mendalam tentang kajian pendidikan inklusif
khususnya pada mata pelajaran MIPA.
1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, dapat dirumuskan permasalahan


sebagai berikut:
1. Apa pengertian pendidikan inklusif?
2. Apa landasan pendidikan inklusif?
3. Apa tujuan pendidikan inklusif?
4. Apa prinsip-prinsip pendidikan inklusif?
5. Apa faktor-faktor keberhasilan pendidikan inklusif?
6. Apa manfaatnya pendidikan inklusif?
7. Apa saja kurikulum dalam model pendidikan inklusif?
8. Siapa saja unsure pelaksana pendidikan inkusif ?
9. Bagaimana evalusi pembelajaran pada pendidikan inklusif ?
10. Bagaimana bentuk Model Media Pembelajaran Inklusif ?
11. Bagaimana cara mengaplikasikan pembelajaran MIPA pada konsep pendidikan
inklusif?

1. 3 Tujuan Penulisan Makalah


Tujuan penulisan makalah ini adalah sbagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian pendidikan inklusif.
2. Untuk mengetahui landasan pendidikan inklusif.
3. Untuk mengetahui tujuan pendidikan inklusif.
4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pendidikan inklusif.
5. Untuk mengetahui factor-faktor keberhasilan pendidikan inklusif
6. Untuk mengetahui manfaat pendidikan inklusif
7. Untuk mengetahui bentuk kurikulum dan model pendidikan inklusif
8. Untuk mengetahui unsure pelaksana pendidikan inklusif
9. Untuk mengetahui cara evaluasi pembelajaran pada pendidikan inklusif
10. Untuk mengetahui bentuk model media pembelajaran pada pendidikan inklusif
11. Untuk mengetahui cara mengaplikasikan pembelajaran MIPA menggunakan
pendidikan inklusif.
1. 4 Manfaat Penulisan Makalah

1. Bagi penyusun
Bagi penyusun dengan dibuatnya makalah ini dapat lebih memahami tentang
pendidikan inklusif, dan penulis dapat mengaplikasikannya dalam bentuk nyata
apabila terdapat dalam kelas penyusun ada anak yang mempunyai kebutuhan
khusus.
2. Bagi pembaca
Pembaca dapat mengetahui tentang motivasi dan membangkitkan belajar dan
dapat memilih suatu pendekatan yang tepat untuk pembelajaran dalam rangka
pendidikan inklusif.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Inklusif


Definisi pendidikan inklusif terus menerus berkembang sejalan dengan semakin
mendalamnya renungan orang terhadap praktik yang ada. Jika pendidikan inklusif ingin
tetap menjadi jawaban yang nyata dan berharga untuk mengatasi tentang pendidikan
dan hak asasi manusia. Akhirnya definisi pendidikan inklusif hanya berupa versi lain
dari pendidikan luar biasa untuk anak berkebutuhan khusus.

Beberapa definisi pendidikan inklusif yaitu sebagai berikut:


1. Pendidikan inklusif adalah penggabungan pendidikan regular dan pendidikan
khusus kedalam satu sistem persekolahan yang dipersatukan untuk
mempertemukan perbedaan kebutuhan semua siswa.
2. Pendidikan inklusif bukan sekedar metode atau pendekatan pendidkan melainkan
suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebhinekaan antar manusia
yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih
baik dalam rangka meningkatkan kualitas pengabdian kepada Tuhan yang Maha
Esa.
3. Menurut Permen No.70 Tahun 2009 Pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan
inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan
kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi
kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau
pembelajaran dalam llingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan
peserta didik pada umumnya.
4. Pendidikan inklusif adalah pendidikan regular yang disesuaikan dengan
kebutuhan peserta didik yang memiliki kelainan dan atau memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang
sistemik. Pendidkan inklusif mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus
yang mempunyai IQ normal diperuntukan bagi yang memiliki kelainan, bakat
istimewa, kecerdasan istimewa dan atau yang memerlukan pendidkan layanan
khusus.
5. Pengertian pendidikan inklusif yang dirumuskan dalam seminar AGRA dan
disetujui oleh 55 negara ( terutama dari selatan) yaitu :
 Pengertian pendidikan inlusif lebih luas dari pada pendidikan formal karena
mencakup pendidikan dirumah, masyarakat, sistem non formal dan informal.
 Mengakui bahwa semua anak dapat belajar
 Memungkinkan stuktur, system, dan metodologi pendidikan memenuhi
kebutuhan semua anak
 Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak meliputi usia,
jenis kelamin, etika, bahasa, kecacatan, status HIV /AIDS.
 Merupakan proses dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan
budaya dan konteksnya
6. Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak
berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama
teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil 1994).

Indonesia dan dunia memiliki banyak keberagaman. Seperti yang kita tahu negeri ini
kaya akan suku, bangsa dan bahasa, itu salah satu contoh keberagaman. Contoh
lain ada pribadi yang “lengkap”, dalam artian memiliki dua mata, satu hidung, dua
telinga, satu mulut, dua tangan, dua kaki dan anggota – anggota tubuh lain yang
berfungsi dengan baik. Tetapi ada juga pribadi yang berbeda dengan kita (manusia
mayoritas), yaitu tuna rungu, tuna wicara, tidak punya kaki, lumpuh (difable), dll.

2.2 Landasan Pendidikan Inklusif


Landasan pendidikan inklusif adalah Undang-undang tentang Sistem Pendidikan
Nasional bab IV pasal V tentang hak dan kewajiban warga negara.
Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Hak dan kewajiban warga Negara:


1. Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu.
2. Warga Negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual
atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus
3. Warga Negara yang berada didaerah terprncil atau terbelakang serta
masyarakat adt yan terpencil berhak mendapatkan layanan pendidikan khusus
4. Warga Negara yang memiliki kecerdasan khusus dan bakat istimewa berhak
mendapatkan pendidikan khusus
5. Setiap warga Negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan
pendidikan sepanjang hayat

Landasan penyelengaraan pendidikan inklusi di Indonesia didasari oleh lima pilar besar,
yakni landasan filosofis, relegius,yuridis, pedagogis dan empiris.
1. Landasan filosofis, pendidikan inklusi di Indonesia tidak lepas dari tatanan atau
aturan-aturan dasar kehidupan bangsa yang tidak tertulis, namun masih sangat kuat
untuk membangun landasan kebijakan. Falsafah berasal dari lambang burung
Garuda Pancasila yang kakinya mencengkeram pita bertuliskan Bhineka Tunggal
Ika, maknanya adalah berbeda-beda tapi tetap satu. Dalam bentuk kesatuannya
diwujudkan dengan lima sikap atau sila yakni Pacasila.
2. Landasan Relegius, sebagai bangsa yang relegius (beragama), memiliki keyakinan
yang kuat bahwa Tuhan adalah segalanya. Semua yang ada di dunia, semata hanya
milik Nya, dan manusia diciptakan hanyanyah sebagai hamba yang selalu memohon
berkah dan kebaikan. Bangsa yang percaya Kepada Tuhan, meyakini bahwa semua
manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Di hadapan Tuhan manusia adalah sama,
oleh karenanya juga mempunya hak hidup yang sama antara satu dengan lainnya.
3. Landasan Yuridis, berbagai peraturan dan perundang telah diterbitkan dalam rangka
pelaksanaan pendidikan inklusi ini, di antaranya:
1) UUD 1945 (amandemen) pasal 31, ayat 1 dan 2 tentang hak untuk pendidikan.
2) UU no. 20 tahu 2003 pasal 5, ayat 1 sampai dengan 4 tentang system pendidikan
Nasional.
3) UU No. 23 tahun 2002 pasal 48 dan 49, tentang perlindungan anak.
4) UU No. 4 tahun 1997 pasal 5, tentang penyandang anak cacat.
5) PP No. 17 tahun 2010 pasal 127 sampai dengan 142, tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan.
6) Permendiknas No. 70 tahun 2009, tentang Pendidikan inklusif
7) Surat Edaran Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendiknas
No. 380/C.C6/MN/2003, tanggal 20 Januari 2003.
8) Deklarasi Bandung: “Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif” tanggal 11-14
Agustus 2004.
4. Landasan Pedagogis, pada UU No. 20 tahun 2003 pasal 3, disebutkan bahwa
tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Melalui pendidikan peserta
didik berkelainan dibentuk menjadi warga Negara yang demokratis dan
bertanggungjawab, yakni individu yang mampu menghargai perbedaan,
berpartisipasi dalam masyarakat.
5. Landasan Empiris, mengacu dari penelitian yang banyak dilakukan di Negara-
negara Barat sejak tahun 1980-an (diseponsori oleh The National Academy Of
Science), hasilnya menunjukan klasifikasi dan penempatan anak berkelainan di
sekolah, kelas, atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif.

2.3 Tujuan Pendidikan Inklusif


Tujuan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan sosial atau
memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan ynag
bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
Bakat istimewa atau khusus (talent) adalah kemampuan bawaan yang merupakan
potensi khusus yang jika memperoleh kesempatan dengan baik untuk
pengembangannya akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu

Sedangkan, tujuan dari pendidikan inklusi itu sendiri menurut Abdul SalimChoiri (2012)
yaitu:
1. Memberikan kesempatan yangseluas-luasnya kepada semua anak untuk
mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan kebutuhannya
2. Membantu mempercepat program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9
tahun
3. Membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan
menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah
4. Menciptakan system pendidikan yang menghargai keberagaman, tidak
diskriminatif serta ramah terhadap pembelajaran.

2.4 Prinsip-Prinsip Pendidikan Inklusif


Menurut Abdul Salim Choiri (2009: 89) menyebutkan beberapa prinsip pendidikan
inklusi sebagai berikut :
1. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dasar yang lebih baik
2. Setiap anak berhak memperoleh layanan pendidikan pada sekolah-sekolah yang
ada di sekitarnya
3. Setiap anak memiliki potensi, bakat, dan irama perkembangan masing-masing
yang harus diberikan layanan secara tepat.
4. Pendekatan pembelajaran bersifat fleksibel, kooperatif, dan berdayaguna
5. Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat

Sedangkan secara umum prinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia,


dapat dirumuskan sebagai berikut :
a) Prinsip Pemerataan dan Peningkatan Mutu
Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menyusun strategi upaya
pemertaan kesempatan memperoleh layanan pendidikan dan peningkatan mutu.
Pendidikan inklusi merupakan salah satu strategi upaya pemerataan kesempatan
memperoleh pendidikan, selain itu pendidikan inklusi juga merupakan strategi
peningkatan mutu.
b) Prinsip Kebutuhan Individual
Setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda, oleh karena
itu pendidikan harus diusahakan untuk menyesuaikan dengan kondisi anak.
c) Prinsip Kebermaknaan
Pendidikan inklusif harus menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang ramah,
menerima keanekaragaman, dan mengahargai perbedaan.
d) Prinsip Keberlanjutan
Pendidikan inklusif diselenggarakan secara berkelanjutan pada semua jenjang
pendidikan.
e) Prinsip Keterlibatan
Penyelenggaraan pendidikan inklusi harus melibatkan seluruh komponen
pendidikan terkait

2. 5 Faktor-faktor keberhasilan pendidikan inklusif


Dalam merancanakan pendidikan inklusif kita tidak cukup memahami konsepnya saja.
Perencanaa juga harus realistis dan tepat. Adapun faktor-faktor penentu utama yang
perlu diperhatikan agar implementasi pendidikan inklusif tetap bertahan lama adalah:

1. Adanya kerangka yang kuat

2. Pendidikan inklusif perlu didukung oleh kerangka nilai-nilai keyakinan, prinsip, dan
indikator keberhasilan

3. Implementasi berdasarkan budaya

4. Pengalaman menunjukan bahwa solusi harus dikembangkan dengan memanfaatkan


sumber-sumber yang ada

5. Partisipasi berkesinambungan

6. Pendidikan inklusif merupakan proses dinamis. Perlu adanya monitoring yang


berkesinambungan, satu prinsip inti dari pendidikan inklusif adalah harus tanggap
terhadap keberhasilan secara fleksibel yang senantiasa berubah-ubah dan tidak dapat
diprediksi

7. Pengembangan kerangka

8. Pengembangan kerangka yang kuat yang merupakan komponen utama pendidikan


inklusif yang berfungsi sebagai tulang program.
2. 6 Manfaat Pendidikan Inklusif
Pelaksanaan pendidikan inklusi akan mampu mendorong terjadinya perubahan sikap
lebih positif dari peserta didik terhadap adanya perbedaan melalui pendidikan yang
dilakukan secara bersama-sama dan pada akhirnya akan mampu membentuk sebuah
kelompok masyarakat yang tidak diskriminatif dan bahkan menjadi akomodatif terhadap
semua orang. Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai system layanan pendidikan
yang mengikut-sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak
sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian


baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun system
pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu pesertadidik.
1. Membangun kesadaran dan konsensus pentingnya pendidikan inklusif sekaligus
menghilangkan sikap dan nilai yang diskriminatif.
2. Melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasi
pendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik dan
mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah
3. Mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalah
lainnya terhadap akses dan pembelajaran.
4. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu
pendidikan bagi semua anak
Beberapa manfaat juga diperoleh dari pelaksaan pendidikan inklusi diantaranya:
a. Bagi siswa
1. Sejak dini siswa memiliki pemahaman yang baik terhadap perbedaan dan
keberagaman
2. Munculnya sikap empati pada siswa secara alamiah
3. Munculnya budaya saling menghargai dan menghormati antar siswa
4. Menurunkan terjadinya stigma dan labeling kepada semua anak, khususnya
pada anak berkebutuhan khusus dan penyandang cacat
5. Timbulnya budaya kooperatif dan kolaboratif pada siswa sehingga
memungkinkan adanya saling bantu antar satu dengan yang lainnya
b. Bagi guru
1. Lebih tertantang untuk mengembangkan berbagai metode pembelajaran
2. Bertambahnya kemampuan dan pengetahuan guru tentang keberagaman
siswa termasuk keunikan, karakteristik, dan sekaligus kebutuhannya
3. Terjalinnya komunikasi dan kerja sama dalam kemitraan antar guru dan guru
ahli bidang lain
4. Menumbuhkembangkan sikap empati guru terhadao siswa termasuk siswa
penyandang cacat / siswa berkebutuhan khusus
c. Bagi sekolah
1. Memberikan kontribusi yang sangat besar bagi program wajib belajar
2. Memberikan peluang terjadinya pemerataan pendidikan bagi semua
kelompok masyarakat
3. Menggunakan biaya yang relatif lebih efisien
4. Mengakomodasi kebutuhan masyarakat
5. Meningkatkan kualitas layanan pendidikan

2 .7 Bentuk Kurikulum dan Model Pendidikan Inklusif


Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang didalamnya menampung
pengaturan tentang tujuan, isi, proses, dan evaluasi. Dalam pendidikan inklusif,
kurikulum yang digunakan adalah kurikulum sekolah regular atau kurikulum nasional
yang dimodifikasi sesuai dengan tahap perkembangan anak berkebutuhan khusus,
dengan mempertimbangkan karakteristik (ciri-ciri) dan tingkat kecerdasannya.

Model kurikulum pada pendidikan inklusi dapat dibagi tiga, yaitu :


1. Model kurikulum regular penuh
Model kurikulum reguler, yaitu kurikulum yang mengikutsertakan peserta didik
berkebutuhan khusus untuk mengikuti kurikulum reguler sama seperti kawan-
kawan lainnya di dalam kelas yang sama.
2. Model kurikulum regular dengan modifikasi
Model kurikulum reguler dengan modifikasi, yaitu kurikulum yang dimodifikasi
oleh guru pada strategi pembelajaran, jenis penilaian, maupun pada program
tambahan lainnya dengan tetap mengacu pada kebutuhan peserta didik
berkebutuhan khusus. Di dalam model ini bisa terdapat siswa berkebutuhan
khusus yang memiliki PPI.
3. Model kurikulum PPI (Program Pembelajaran Individual)
Model kurikulum PPI (Program Pembelajaran Individual) yaitu kurikulum yang
dipersiapkan guru program PPI yang dikembangkan bersama tim pengembang
yang melibatkan guru kelas, guru pendidikan khusus, kepala sekolah, orang tua,
dan tenaga ahli lain yang terkait.
Kurikulum PPI atau dalam bahasa Inggris Individualized Education Program
(IEP) merupakan karakteristik paling kentara dari pendidikan inklusif. Konsep
pendidikan inklusif yang berprinsip adanya persamaan mensyaratkan adanya
penyesuaian model pembelajaran yang tanggap terhadap perbedaan individu. Maka
PPI atau IEP menjadi hal yang perlu mendapat penekanan lebih. Thomas M.
Stephens menyatakan bahwa IEP merupakan pengelolaan yang melayani kebutuhan
unik peserta didik dan merupakan layanan yang disediakan dalam rangka
pencapaian tujuan yang diinginkan serta bagaimana efektivitas program tersebut
akan ditentukan.
Tujuan modifikasi atau pengembangan kurikulum dalam pendidikan inklusif, yaitu:
a. Membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dan mengatasi
hambatan belajar yang dialami semaksimal mungkin dalam setting sekolah inklusif
b. Membantu guru dan orangtua dalam mengembangkan program pendidikan bagi
peserta didik berkebutuhan khusus baik yang diselenggarakan di sekolah maupun
di rumah.
c. Menjadi pedoman bagi sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan, menilai
dan menyempurnakan program pendidikan inklusif.

2.8 Unsur Pelaksana Pendidikan inklusif


Komponen-komponen yang terkait dengan media pendidikan adalah sebagai berikut
1. Sumber Daya Manusia
2. Bahan
3. Peralatan
4. Lingkungan
5. Teknik
6. Pesan
Sedangkan unsur pelaksana media pendidikan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Guru di sekolah biasa;
2. Guru Pendidkan Khusus;
3. Dokter;
4. Psikolog;
5. Ahli pendidikan luar biasa;
6. Ahli olah raga;
7. Konselor;
8. Sosial Worker;
9. Speechtherapi;
10. Fisiotherapi;
11. Ahli Teknologi Komunikasi / ICT; dan lain-lain

2 . 9 Evaluasi Pembelajaran pendidikan inklusif


Dalam evaluasi belajar, sebagaimana disebutkan dalan Permendiknas No. 70 tahun
2009 pasal 7 samapi 9:
1) Penilaian hasil belajar bagi peserta didik pendidikan inklusif mengacu pada jenis
kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
2) Peserta didik yang mengikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum yang
dikembangkan sesuai dengan standar nasional pendidikan atau di atas nasional
pendidikan wajib mengikuti unjian nasional.
3) Peserta didik yang memiliki kelainan dan mengikuti pembelajaran berdasarkan
kurikulum yang dikembangkan di bawah standar pendidikan mengikuti ujian yang
diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
4) Peserta didik yang menyelesaikan dan lulus sesuai dengan standar nasional
pendidikan mendapatkan ijazah yang blangkonya dikeluarkan oleh pemerintah.
5) Peserta didik yang memiliki kelainan yang menyelasaikan pendidikan berdasarkan
kurikulumyang dikembangkan oleh satuan pendidikan di bawah standar nasional
pendidikan mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar yang blangkonya dikeluarkan
oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
6) Peserta didik yang memperoleh Surat Tamat Belajar dapat melanjutkan pendidikan
pada tingkat atau jenjang yang lebih tinggi pada satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan inklusif atau satuan pendidikan khusus.
Selain itu ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian dalam pelaksanaan
pendidikan inklusif ini:
1. Sekolah harus menyediakan kondisi kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima
keanekaragaman dan menghargai perbedaan dengan menerapkan kurikulum dan
pembelajaran yang interaktif.
2. Guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya alam lain
dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
3. Guru dituntut melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses pendidikan.
4. Kepala sekolah dan guru yang nanti akan jadi Guru Pembimbing Khusus (GPK),
harus mendapatkan pelatihan bagaimana menjalankan sekolah inklusi.
5. GPK harus mendapatkan pelatihan teknis memfasilitasi anak ABK.
6. Asesmen di sekolah dilakukan untuk mengetahui ABK dan tindakan yang
diperlukan. Mengadakan bimbingan khusus, atas kesalahpahaman dan
kesepakatan dengan orang tua ABK.
7. Mengidentifikasi hambatan berkait dengan kelainan fisik, social, dan maslah lainnya
terhadap akses dan pembelajaran.
8. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu
pendidikan bagi semua anak. (Suyanto & Mudjito AK. 2012: 39 )

2 .10 Model Media pembelajaran pada pendidikan inklusif


Berdasarkan karakteristiknya, model media pendidikan dapat digolongkan menjadi 2.
(dua) bagian yaitu:
1. Media dua dimensi
Media dua dimensi meliputi media grafis, media bentuk papan, dan media cetak
2. Media tiga dimensi
Media tiga dimensi dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup atau mati, dan dapat
pula berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya.
Pemanfaatan model media pembelajaran berdasarkan ketunannya :
Berikut adalah contoh-contoh media pembelajaran secara khusus berdasarkan
karakteristik peserta didik, antara lain:
1.Tunanetra
Total: Peta timbul, radio, audio, penggaris Braille, blokies, papan baca, model anatomi
mata, meteran braille, puzzel buah-buahan, talking watch, kompas Braille, botol aroma,
bentuk-bentuk geometri, tape recorder, komputer dengan software jaws, media tiga
dimensi, media dua dimensi, lingkungan sekitar anak, Braille kit, mesin tik Braille,
kamus bicara, kompas bicara, printer braille, collor sorting box.
Low Vision : CCTV, Magnifier Lens Set, View Scan, Televisi, Microscope, large
print/tulisan awas yang diperbesar sesuai kondisi mata anak.

2. Tunarungu
Foto-foto, video, kartu huruf, kartu kalimat, anatomi telinga, miniatur benda, finger
alphabet, torso setengah badan, puzzle buah-buahan, puzzle binatang, puzzle
konstruksi, silinder, model geometri, menara segi tiga, menara gelang, menara segi
empat, atlas, globe, peta dinding, miniatur rumah adat.
3.Tunagrahita dan anak lamban belajar
Gardasi kubus, gradasi balok, silinder, manara gelang, kotak silinder, multi indra, puzzle
binatang, puzzle konstruksi, puzzle bola, boks sortor warna, geometri tiga dimensi,
papan geometri, konsentrasi mekanik, puzzle set, abacus, papan bilangan, kotak
bilangan, sikat gigi, dresing prame set, pias huruf, pias kalimat, alphabet fibre box, bak
pasir, papan keseimbangan, power raider.
4.Tunadaksa
Kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat, torso seluruh badan, geometri shape, menara
gelang, menara segi tiga, gelas rasa, botol aroma, abacus dan washer, papan pasak,
kotak bilangan.
5. Tunalaras
Animal maching games, sand pits, konsentrasi mekanik, animal puzzle, fruits puzzle,
rebana, flute, torso, constructive puzzle, organ.
6. Anak berbakat
Buku paket, buku referensi, buku pelengkap, buku bacaan, majalah, koran, internet,
modul, lembar kerja, komputer, VCD, museum, perpustakaan, TV, OHP, chart, dsb
7. Kesulitan Pembelajaran
Disleksia: kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat
Disgrafia: kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat, balok bilangan, pias angka, kotak
bilangan,papan bilangan
8. Autis
Kartu huruf, kartu kata, katu angka, kartu kalimat, konsentrasi mekanik, komputer,
mnara segi tiga, menara gelang, fruit puzzel, construktiv puzzle
9. Tunaganda
Disesuaikan dengan karakteristik kelainannya

10. HIV dan AIDS


Disesuaikan dengan kondisi anak, berat ringan penyakit, dan setting pelayanan
pendidikan
11. Korban Penyalahgunaan Narkoba
Disesuaikan dengan kondisi anak, tergantung berat ringannya kondisi anak.
13. Indigo
Digunakan media seperti anak pada umumnya.

2.11 Pendidikan Inklusif MIPA


Pada mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), proses dan
kegiatan pembelajaran diutamakan menggunakan media dan model pembelajaran yang
tepat, sesuai dengan konsep pendidikan inklusif. Walaupun dalam satu kelas dalam
sekolah pendidkan inklusif terdapat pencampuran anak berkebutuhan khusus (ABK)
dan anak normal, tetapi dalam proses pembelajaran tetap disatukan. Tetapi khusus
untuk anak berkebutuhan khusus, lebih banyak membutuhkan bimbingan dari pengajar.

Berikut ini beberapa media pembelajaran MIPA pada sekolah penyelenggara


pendidikan inklusif diantaranya:
1. Buku pelajaran menggunakan huruf braille bagi tunarungu
2. Alat ukur fisika berhuruf braille
3. Anatomi tubuh manusia
4. Garputala
5. Cermin
6. Sikat getar
7. TV/ VCD/ DVD
8. Komputer
9. Kaset Rekaman
10. Laboratorium MIPA

Selain menggunakan media yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik


anak, model dan metode pembelajaran pun berpengaruh dalam tercapainya kegiatan
belajar pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Selain itu dapat pula
digunakan model modifikasi bahan ajar.
.
MODEL MODIFIKASI BAHAN AJAR UNTUK PEMBELAJARAN IPA
Berdasarkan uraian di atas, model pengembangan/modifikasi bahan ajar dimaksud
adalah bagaimana cara menemukan atau memberikan bahan ajar yang tepat dalam
pendidikan inklusif sesuai dengan kemampuan individu ( pendekatan individual).

Terdapat tiga kegiatan utama dalam pengembangan/modifikasi bahan ajar dalam


pendidikan inklusi yaitu menyeleksi bahan ajar, mengorganisasi bahan ajar dan
mensintesa bahan ajar. Kegiatan menyeleksi merupakan kegiatan memilih, menetapkan
bahan ajar yang tepat bagi peserta didik. Pemilihan dan penetapan bahan ajar
dilakukan oleh guru atas bahan ajar yang telah ada pada silabus sekolah umum.
Apabila bahan ajar dari sekolah umum tidak tersedia, maka wajib guru untuk
mengusahakannya dengan langsung memerinci dari SK dan KD mata pelajaran yang
terkait.

Sedangkan kegiatan mengorganisasi bahan ajar dimaksudkan sebagai kegiatan guru


menyusun dan membuat urutan susunan bahan ajar dengan tata urutan tertentu. Tata
urutan bahan ajar ada yang berdasarkan kronologis, urutan prosedural, urutan logis
maupun urutan herarchis. Pertimbangan pengurutan dapat menggunakan dasar
tuntutan SK dan KD, atau dapat pula menggunakan dasar karakter mata pelajaran.
Setelah pengorganisasian bahan ajar dilakukan diteruskan dengan mensintesakan
bahan ajar. Kegiatan ini dimaksudkan agar guru yang melaksanakan kegiatan
pembelajaran melakukan upaya agar bahan ajar yang telah tersusun dapat dipadukan
dalam keseluruhan proses pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran kelas umum
bukan terpisah namun terintegrasi.

Seorang guru pada sekolah umum harus mengenal kemampuan dan kararakteristik
seluruh siswa di dalam kelas umum termasuk peserta didik yang berkebutuhan khusus
secara mendalam, baik dari segi kemampuan maupun ketidakmampuannya dalam
menyerap bahan ajar, kecepatan maupun kelambatannnya dalam belajar, dan perilaku,
sehingga setiap kegiatan mendapat perhatian dan perilaku yang sesuai.

Di bawah ini dapat dilihat contoh model modifikasi bahan ajar sesuai dengan jenis
siswa yang berkebutuhan khusus:

Contoh model modifikasi bahan ajar seperti bagan I sebagai berikut.


Bagan I
MODEL MODIFIKASI BAHAN AJAR
Jenis Kekhususan : Tuna Netra
Model Modifikasi : IPA

NO JENIS ABK BAHAN AJAR MODIFIKASI BAHAN AJAR


1 Tunanetra Penampakan permukaan Bentuk permukaan bumi
bumi dan langit. dimodifikasi dengan
Mengidentifikasi berbagai menggu-nakan globe timbul.
bentuk permukaan bumi Untuk dataran dan daratan
(daratan dan dataran air menggunakan peta timbul
seperti laut, danau dan yang menampilkan
sungai) penampakan alam.
Bahan ajar di kelas harus dimodifikasi agar peserta didik yang mempunyai kebutuhan
khusus dapat terlayani secara optimal. Sebagai contoh bahan ajar Mata Pelajaran IPA
kelas 3 dengan pokok bahasan sifat-sifat benda padat dan benda cair untuk anak didik
low vision dapat disimak pada bagan II sebagai berikut.

Bagan II
MODEL MODIFIKASI BAHAN AJAR
Jenis Kekhususan : Low Vision
Model Modifikasi : IPA
Kelas : 3/I

NO Jenis Bahan Ajar Modifikasi


ABK
1 Low Sifat-sifat benda padat dan benda- Sifat-sifat benda padat dan benda cair.
Vision benda cair: Indikator:
Indikator: Membuat daftar sifat-sifat benda padat dan bend
Membuat daftar sifat-sifat benda cair dengan bentuan CCTV atau LUV (kac
padat dan benda cair pembesar)
.Mengelompokkan benda-benda Benda-benda padat seperti kelereng , pens
yang telah dikenalnya sebgai benda penggaris ,meja, kursi dan sebagainya.Benda
padat atau benda cair. benda cair seperti air, minyak sirup, kecap, da
Membandingkan sifat berbagai sebagainya.
benda cair. Benda-benda cair: air, minyak, sirup, keca
Membandingkan sifat berbagai bentuknya berubah-ubah sesuai tempatnya.
benda padat Benda-benda padat: kelereng, pensil, penggaris
Peralatan: meja, kursi, bentuknya tetap.
Kelereng, pensil, penggaris, meja, Catatan: Untuk media pembelajaran disediaka
kursi, gelas, cangkir botol, minyak, dengan bentuk/ukuran lebih besar.
air, sirup, kecap dan sebagainya.

Proses Pembelajaran bagi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus memerlukan
media pembelajaran yang dapat membantu memudahkan pemahaman konsep.
Peserta didik tunangrahita secara intelektual mempunyai intelegensi di bawah rata-rata
anak seusianya. Akibat dari hambatan tersebut tugas akademik yang menggunakan
intelektual, mereka sering menemui kesulitan bahkan kekurangan waktu untuk
mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Dalam berpikir abstrak, mereka sulit untuk membayangkan sesuatu yang tidak bersifat
nyata. Hal ini menuntut seorang guru sekolah umum untuk memikirkan sejauhmana
hambatan ini bisa dicarikan jalan ke luarnya. Apabila bahan ajar atau materi yang
disajikan terlalu berat untuk di sajikan kepada siswa, guru diberi wewenang untuk
menurunkan materi atau bahan ajar kepada anak didik tunagrahita ringan.

Guru hendaknya mengembangkan sedapat mungkin seluruh potensi yang masih


dimiliki peserta didik. Peserta didik tunagrahita ringan di kelas umum, bahan ajar yang
diberikan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan harus diberikan pelayayan
individual. Contoh bahan ajar untuk peserta didik tunagrahita dapat disimak pada bagan
3 sebagai berikut;

Bagan III
MODEL MODIFIKASI BAHAN AJAR

Jenis Kekhususan : Tuna Grahita Ringan


Model Modifikasi : Matematika

A. Standar Kopetensi : Siswa mampu menjumlahkan bilangan 3 angka.


B. Kompetensi dasar : Menjumlahkan bilangan 3 angka dengan cara
susun ke bawah.
C. Indikator : - Menjumlah dengan teknik menyimpan

NO Jenis ABK Bahan Ajar Modifikasi Bahan Ajar


1 Tunagrahita/Lamban Bahan ajar
Belajar 876 dimodifikasi
------- + dengan
.......... menurunkan
bobot soal.
124
237
------ +
.........

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Pendidikan inklusif adalah pendidikan regular yang disesuaikan dengan kebutuhan
peserta didik yang memiliki kelainan dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidkan
inklusif mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus yang mempunyai IQ
normal, diperuntukan bagi yang memiliki kelainan, bakat istimewa, kecerdasan
istimewa dan atau yang memerlukan pendidkan layanan khusus.
2. Landasan pendidikan inklusif adalah Undang-undang tentang Sistem Pendidikan
Nasional bab IV pasal V tentang hak dan kewajiban warga negara.
3. Tujuan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan sosial atau
memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan ynag
bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
4. Prinsip umum pendidikan inklusif adalah: (1)Prinsip Pemerataan dan Peningkatan
Mutu, (2) Prinsip Kebutuhan Individual, (3) Prinsip Kebermaknaan, (4) Prinsip
Keberlanjutan, (5) Prinsip Keterlibatan.
5. Faktor penentu keberhasilan pendidikan inklusif antara lain: Adanya kerangka yang
kuat, implementasi berdasarkan budaya, partisipasi berkesinambungan, dan
pengembangan kerangka.
6. Manfaat pendidikan inklusif antara lain: Membangun kesadaran dan konsensus
pentingnya pendidikan inklusif sekaligus menghilangkan sikap dan nilai yang
diskriminatif, melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis
situasi pendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik
dan mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah, mengidentifikasi
hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalah lainnya terhadap
akses dan pembelajaran, melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan
dan monitoring mutu pendidikan bagi semua anak
7. Model kurikulum pada pendidikan inklusi dapat dibagi tiga, yaitu :Model kurikulum
regular penuh,Model kurikulum regular dengan modifikasi dan Model kurikulum PPI
8. Pada mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), proses dan
kegiatan pembelajaran diutamakan menggunakan media dan model pembelajaran
yang tepat, sesuai dengan konsep pendidikan inklusif.

3.2 Saran
Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan sekolah inklusif sehingga anak yang
berkebutuhan khusus yang berbakat dapat menyakurkan bakat mereka. Pemerintah
juga harus mensosialisasikan adanya sekolah inklusif agar sekolah inklusif diketahui
keberadaanya, dan masyarakat tidak lagi meremehkan sekolah inklusif bahwa anak-
anak inklusif juga bisa berprestasi layaknya anak normal.
DAFTAR PUSTAKA

Mohammad Takdir Ilahi. 2013. Pendidikan Inklusi: Konsep & Aplikasi. Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media.

Mudjito. AK, Harizal, Elfindri. 2012. Pendidikan Inklusif: Tuntunan untuk Guru, Siswa
dan Orang Tua anak berkebutuhan Khusus dan layanan Khusus. Jakarta: Baduose
Media.

Sue Stubbs. 2002. Pendidikan Inklusif: Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber. Judul asli:
Inclusif Education: Where There Are Few Resources. Dialihbahsakan oleh: Susi
Septaviana. Bandung: Jurusan Pendidikan Luar Biasa UPI.
Suyanto & Mudjito. AK. 2012. Masa Depan Pendidikan Inklusif. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar.

Modul Konsep Konsep MIPA Pascasarjana UNINDRA 2018

Choiri, Abdul Salim. dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus secara Inklusif.
Bamper. 2011. http://bamperxii.blogspot.com/2008/12/pendidikan-iklusif.html diakses
pada tanggal 13 APRIL 2018

Ifdlali. 2010. http://smanj.sch.id/index.php/arsip-tulisan-bebas/40-artikel/115-pendidikan


inklusi-pendidikan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus diakses pada tanggal 13
APRIL 2018

Kamalfuadi. 2011. http://fuadinotkamal.wordpress.com/2011/04/12/pendidikan-inklusif/


diakses pada tanggal 13 APRIL 2018

Tarmansyah. 2009. http://pendidikankhusus.blogspot.com/2009/05/konsep-pendidikan-


inklusi_17.html diakses pada tanggal 13 APRIL 2018