Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

URETEROLITHIASIS

Dosen Pembimbing :
Ns. Asnah, S.Kep., M.Pd
Sri Hazanah, S.ST, SKM, M.P.H

Disusun Oleh :

Fanny Fatmawaty
P07220116095

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

KELAS BALIKPAPAN

TAHUN 2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

URETROLITHIASIS

Pokok Bahasan : Sistem Perkemihan

Sub Pokok Bahasan : Urolithiasis

Sasaran : Tn.H dan istri

Hari/ Tanggal : Rabu 10 April 2019

Waktu : 16.00 – 16.10

Tempat : Flamboyan B

Penyuluh : Fanny Fatmawaty

A. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pengkajian keluarga ,maka didapat beberapa permasalahan.

Salah satunya yaitu keluarga Tn. H dengan diagnose medis uretrolithiasisi , Oleh

karena itu informasi mengenai ureterolithiasis sangat diperlukan oleh Tn.H

karena Tn. H dan Istri kurangan paham tentang uretrolithiasis.

B. TUJUAN UMUM

Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 1 x 60 menit, Tn. H dan

istri diharapkan mampu memahami tentang Urolithiasis.

C. TUJUAN KHUSUS

Setelah dilakukan tindakan penyuluhan peserta dapat memahami tentang:

1. Pengertian Urolithiasis

2. Penyebab Urolithiasis
3. Tanda dan gejala Urolithiasis.

4. Penatalaksanaan Urolithiasis

D. Sasaran
Sasaran dari penyuluhan ini adalah keluarga Tn. H

E. Materi
(terlampir)

F. Metode
a. Diskusi
b. Tanya jawab
G. Media
a. Leaflet
b. Lembar balik
H. Kegiatan Penyuluhan
(Terlampir)

Lampiran 1
Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta


1. 2 menit Pembukaan :
a. 1. Memberikan salam Menjawab salam,
b. 2. Menjelaskan tujuan pembelajaran Mendengarkan dan
c. 3.Menyebutkan materi atau pokok memperhatikan
bahasan yang akan disampaikan
2. 25 menit Pelaksanaan :
Melaksanakan materi penyuluhan secara
berurutan dan teratur

Materi : Menyimak,
1. Definisi Uretrolithiasis memperhatikan dan
2. Etiologi Uretrolithiasis bertanya
3. Patofisiologi Uretrolithiasis
4. Gejala klinis Uretrolithiasis
5. Pengobatan Uretrolithiasis.
.

3. 15 menit Evaluasi :
1. Menjelaskan yang dimaksud Bertanya dan
dengan ureterolithiasis menjawab
2. Menjelaskan etoligi uretrolithiasis pertanyaan
3. Menyebutkan 2 dari 4 penyebab
ureterolithiasis
4. Menyebutkan 3 tanda dan gejala
ureterolithiasis
5. Menjelaskan pengobaran
ureterolithiasis

4. 2 menit Penutup :

1. Menyimpulkan meteri yang telah Menjawab salam


disampaikan
2. Menyampaikan terima kasih atas
perhatiaan dan waktu yang telah
diberikan kepada peserta
3. Mengucapkan salam
Lampiran 2
Materi

Ureterolithiasis

A. Definisi

Uretrolitiasis adalah pembentukan batu didalam saluran kemih.Batu saluran

kemih adalah keadaan tidak normal di dalam ginjal, mengandung komponen

kristal dan matriks organik yang secara khas dijumpai di kaliks atau pelvis

dan bila akan keluar dapat berhenti di ureter/kandung kemih.

Urolithiasis adalah terdapatnya batu di saluran urinary (traktus urinarius).

Neprolithiasis: batu yang terbentuk di paremkim ginjal. Ureterolithiasis:

terbentuknya batu di ureter. Batu yang terbentuk dapat ditemukan disetiap

bagian ginjal sampai ke kandung kemih dan uretra dan ukurannya sangat

bervariasi dari deposit granuler yang kecil yang disebut pasir atau kerikil,

sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna oranye. Perbedaan letak

batu akan berpengaruh pada keluhan penderita dan tanda/gejala yang

menyertainya.

Urolithiasis atau Batu ginjal merupakan batu pada saluran kemih

(urolithiasis), Urolithiasis sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir

kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu

saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem

kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk

di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang


terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti

pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di

dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal

kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa

mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih

yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000)

B. Epidemologi

Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di

negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara

maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan

ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-

hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk

menderita batu saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu saluran kemih

diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik,

infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum

terungkap (idiopatik) Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang

mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor

intrinsik dan faktor ekstrinsik

C. Etiologi

Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsertrasi substansi tertentu seperti

Ca oksalat,kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat


terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat yang

secara normal pencegah kristalisasi dalam urin. Kondisi lain yang

mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup PH urine dan status cairan

pasien.

Faktor tertentu yang dapat mempengaruhi pembentukan batu, mencakup

infeksi, satus urine, periode imobilitas (drainage batu yang lambat dan

perubahan metabolisme kalsium).

Selain itu ada beberapa teori yang ,membahas tentang proses pembentukan

batu yaitu:

1. Teori inti (nucleus): kristal dan benda asing merupakan tempat

pengendapan kristal pada urine yang sudah mengalami supersaturasi.

2. Teori matriks: matriks organik yang berasal dari serum dan protein urine

memberikan kemungkinan pengendapan kristal.

3. Teori inhibitor kristalisasi: beberapa substansi dalam urine menghambat

terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini

memungkinkan terjadinya kristalisasi.

Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi ini

tergantung dari PH urine, kekuatan ion, konsentrasi cairan dan pembentukan

kompleks.

Batu kalsium dapat diakibatkan oleh:


1. Hiperkalsiuria abortif: gangguan metabolisme yang menyebabkan

terjadinya absorbsi khusus yang berlebihan juga pengaruh vitamin D dan

hiperparatiroid.

2. Hiperkal siuria renalis: kebocoran pada ginjal

Batu oksalat dapat disebabkan oleh:

1. Primer autosomal resesif

2. Ingesti-inhalasi: Vitamin C, ethylenglicol, methoxyflurane, anestesi.

3. Hiperoksaloria: inflamasi saluran cerna, reseksi usus halus, by pass

jejenoikal, sindrom malabsorbsi

Batu asam urat disebabkan oleh:

1. Makanan yang banyak mengandung purin

2. Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma

3. Dehidrasi kronis

4. Obat: tiazid, lazik, salisilat

Batu sturvit biasanya mengacu pada riwayat infeksi, terbentuk pada urin yang

kaya ammonia alkali persisten akibat UTI kronik. Batu sistin terjadi terutama

pada beberapa pasien yang mengalami defek absorbsi sistin.

Namun demikian pada banyak paisen mungkin tidak ditemukan

penyebabnya. Batu di saluran kemih juga dapat terjadi pada penyakit

inflamasi usus dan pengobatan dengan antasida, diamox, laksatif, aspirin.


D. Patofisiologi

Terdapat tiga teori yang menyatakan tentang terbentuknya batu pada saluran

kemih, diantaranya yaitu :

1. Teori inti (nukleus) : kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan

kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.

2. Teori matrix : matrix organik yang berasal dari serum atau protein-protein

urin yang memberikan kemungkinan pengendapan kristal.

3. Teori inhibitor kristalisasi : beberapa substansi dalam urin menghambat

terjadi kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini

memungkinkan terjadinya krislisasi.

Adapun faktor-faktor risiko yang mempengaruhi pembentukan batu pada saluran

kemih, diantaranya yaitu :

1. Hiperkalsiuria

Hiperkalsiuria idiopatik meliputi hiperkalsiuria yang terdiri dari 3 bentuk

yaitu :

2. Hiperkalsiuria absorptif; ditandai oleh adanya kenaikan absorpsi kalsium dari

lumen usus, kejadian ini paling banyak dijumpai.

3. Hiperkalsiuria puasa ; ditandai dengan adanya kelebihan kalsium, diduga

berasal dari tulang.

4. Hiperkalsiuria ; yang diakibatkan kelainan reabsorpsi kalsium di tubulus

ginjal.

5. Hiperoksaluria

Merupakan kenaikan ekstensi oksalat diatas normal (< 45mg/hari).


6. Hiperurikosuria

Merupakan suatu peningkatan asam urat air kemih yang dapat memacu

pembentukan batu kalsium.

7. Hipositraturia

Merupakan penurunan eksresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih,

khususnya sitrat merupakan mekanisme lain timbulnya batu ginjal.

8. Penurunan jumlah air kemih

Keadaan ini biasanya disebabkan masukan cairan sedikit yang selanjutnya

dapat menimbulkan batu dengan peningkatan reaktan dan pengurangan aliran

air kemih.

9. Faktor diit

Faktor diit dapat berperan penting dalam mengawali pembentukan batu,

misalnya diit tinggi kalsium, diit tinggi purin, tinggi oksalat dapat

mempermudah pembentukan batu saluran kemih.

Adanya berbagai faktor tersebut diatas akan menyebabkan pengendapan partikel-

partikel jenuh (kristal dan matriks) dalam nukleus (inti batu) yang selanjutnya

akan mengakibatkan kelainan kristaluria dan pertumbuhan kristal dan dapat

mengakibatkan terbentuknya batu pada saluran kemih. Batu saluran kemih dapat

menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. Manifestasi

obstruksi pada saluran kemih adalah retensi urine, nyeri saat kencing, perasaan

tidak enak saat kencing, kencing tiba-tiba berhenti dan nyeri pinggang.

Manifestasi infeksi beruap panas saat kencing, kencing bercampur darah.

Obstruksi saluran kemih yang tidak mendapatkan penanganan dapat menyebabkan


terjadi komplikasi yaitu hidronefrosis, sednagkan infeksi akan menyebabkan

terjadinya komplikasi yaitu pielonefritis, urosepsis, dan pada akhirnya

menyebabkan terjadinya kerusakan fungsi ginjal yang permanen (gagal ginjal).

E. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada

adanya obstruksi, infeksi dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin,

terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala

ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (peilonefritis & cystitis yang disertai

menggigil, demam dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus.

Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara fungsional

perlahan-lahan merusak unit fungsional ginjal dan nyeri luar biasa dan tak

nyaman.

Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus

menerus di CVA (costa vertebral angle). Hematuria dan piuria jarang. Nyeri

yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita kebawah

mendekati kandung kemih, sedang pada pria mendekati testis. Bila nyeri

mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di seluruh area kostovertebral dan

muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalami kolik renal. Diare dan

ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi.

Batu yang terjebak di ureter, menyebabkan gelombang nyeri yang luar

biasa. Pasien sering merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit yang keluar
dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Umumnya batu

diameter < 0,5-1 cm keluar spontan.

Batu ureter dapat pula tetap tinggal di ureter hanya ditemukan nyeri

tekan. Nyeri letak atau tak ditemukan nyeri sama sekali dan tetep tinggal di

ureter sambil menyumbat dan menyebabkan hidroureter yang asimtomatik

(obstruksi kronik). Tidak jarang terjadi kematian yang didahului oleh kolik. Bila

obstruksi berlanjut, maka kelanjutan dari kelainan ini adalah hidronefrosis

dengan atau tanpa piolonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.

Batu yang terjebak di vesika biasanya menyebabkan gejal iritasi dan

berhubungan dengan infeksi traktus urinariun dan hematuria. Jika batu

menyebabkan onstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin. Jika

infeksi berhubungan dengan adanya batu maka dapat terjadi sepsis.

Batu uretra biasanya berasal dari batu vesika yang terbawa saluran kemih

saat miksi, tetapi tersangkut di tempat yang agak lebar. Gejala yang umum:

sewaktu miksi tiba-tiba terhenti, menetes, nyeri. Penyulitnya adalah vesikal,

abses, fistel proksimal dan uremia, karena obstruksi urine.

F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas, sehingga bukan hanya

mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan penyembuhan penyakit batu

atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan.

Indikasi pengeluaran batu saluran kemih:

1. Obstruksi jalan kemih


2. Infeksi

3. Nyeri menetap/berulang

4. Batu yang kemungkinan menyebabkan infeksi dan obstruksi

5. Batu metabolok yang tumbuh cepat.

Penanganannya berupa terapi medik dan simptomatik atau dengan bahan pelarut.

Dapat pula dengan pembedahan atau pembedahan yang kurang invatif (misal:

nefrostomi perkutan) atau tanpa pembedahan (misal: eswl/litotripsi gelombang

kejut ekstrakorporeal →menghancurkan batu di kaliks ginjal)

Terapi medik/simptimatik:

1. diberikan obat untuk melarutkan batu

2. obat anti nyeri

3. pemberian diuretik untuk mendorong keluarnya batu

Pelarutan: batu yang dapat dilarutkan adalah batu asam urat, dilarutkan dengan

pelarut solutin G

1. Litotripsi

2. Pembedahan:

Pengangkatan batu ginjal secara bedah merupakan mode utama. Namun

demikian saat ini bedah dilakukan hanya pada 1-2% pasien. Intervensi bedah

diindikasikan jika batu tersebut tidak berespon terhadap bentuk penanganan

lain. Ini juga dilakukan untuk mengoreksi setiap abnormalitas anatomik

dalam ginjal untuk memperbaiki drainase urin.

Jenis pembedahan yang dilakukan antara lain:

1. Pielolititomi: jika batu berada di piala ginjal


2. Nefrotomi: bila batu terletak di dalam ginjal atau nefrektomi

3. Ureterolitotomi: bila batu berada dalam ureter

4. Sistolitotomi: jika batu berada di kandung kemih

G. PENCEGAHAN

Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya

adalahupaya mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu

saluran kemih rata-rata 7%/tahun atau kambuh lebih dari 50% dalam 10 tahun.

Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang

telah diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan

adalah:

1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3

liter per hari

2. Diet rendah zat/komponen pembentuk batu

3. Aktivitas harian yang cukup

4. Medikamentosa

Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah:

1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan

menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.

2. Rendah oksalat

3. Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria


DAFTAR PUSTAKA
Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses
keperawatan), Bandung.

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.

Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih
bahasa: Tim PSIK UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta

Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan


Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian perawatan Pasien, Edisi-3,
Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta

McCloskey&Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi,


By Mosby-Year book.Inc,Newyork

NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-


2014. Jakarta: EGC

Nursalam & Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika