Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Pengertian Pendidikan Inklusif


Menurut Permen No.70 Tahun 2009 Pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan
pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi
kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam llingkungan pendidikan secara
bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
2.2 Landasan Pendidikan Inklusif
1. Landasan filosofis
2. Landasan Relegius
3. Landasan Yuridis
4. Landasan Pedagogis
5. Landasan Empiris
2.3 Tujuan Pendidikan Inklusif
Tujuan dari pendidikan inklusi itu sendiri menurut Abdul SalimChoiri (2012) yaitu:
1. Memberikan kesempatan yangseluas-luasnya kepada semua anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan
kebutuhannya
2. Membantu mempercepat program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun
3. Membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah
4. Menciptakan system pendidikan yang menghargai keberagaman, tidak diskriminatif serta ramah terhadap pembelajaran.
2.4 Prinsip-Prinsip Pendidikan Inklusif
a) Prinsip Pemerataan dan Peningkatan Mutu
b) Prinsip Kebutuhan Individual
c) Prinsip Kebermaknaan
d) Prinsip Keberlanjutan
e) Prinsip Keterlibatan
2. 5 Faktor-faktor keberhasilan pendidikan inklusif
1. Adanya kerangka yang kuat
2. Pendidikan inklusif perlu didukung oleh kerangka nilai-nilai keyakinan, prinsip, dan indikator keberhasilan
3. Implementasi berdasarkan budaya
4. Pengalaman menunjukan bahwa solusi harus dikembangkan dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada
5. Partisipasi berkesinambungan
6. Pendidikan inklusif merupakan proses dinamis.
7. Pengembangan kerangka
8. Pengembangan kerangka yang kuat yang merupakan komponen utama pendidikan inklusif yang berfungsi sebagai tulang
program.
2. 6 Manfaat Pendidikan Inklusif
a. Bagi siswa
1. Sejak dini siswa memiliki pemahaman yang baik terhadap perbedaan dan keberagaman
2. Munculnya sikap empati pada siswa secara alamiah
3. Munculnya budaya saling menghargai dan menghormati antar siswa
4. Menurunkan terjadinya stigma dan labeling kepada semua anak, khususnya pada anak berkebutuhan khusus dan
penyandang cacat
5. Timbulnya budaya kooperatif dan kolaboratif pada siswa sehingga memungkinkan adanya saling bantu antar satu
dengan yang lainnya
b. Bagi guru
1. Lebih tertantang untuk mengembangkan berbagai metode pembelajaran
2. Bertambahnya kemampuan dan pengetahuan guru tentang keberagaman siswa
3. Terjalinnya komunikasi dan kerja sama dalam kemitraan antar guru dan guru ahli bidang lain
4. Menumbuh kembangkan sikap empati guru terhadao siswa termasuk siswa penyandang cacat/ siswa berkebutuhan
khusus
c. Bagi sekolah
1. Memberikan kontribusi yang sangat besar bagi program wajib belajar
2. Memberikan peluang terjadinya pemerataan pendidikan bagi semua kelompok masyarakat
3. Menggunakan biaya yang relatif lebih efisien
4. Mengakomodasi kebutuhan masyarakat
5. Meningkatkan kualitas layanan pendidikan
2 .7 Bentuk Kurikulum dan Model Pendidikan Inklusif
1. Model kurikulum regular penuh
2. Model kurikulum regular dengan modifikasi
3. Model kurikulum PPI (Program Pembelajaran Individual)
2.8 Unsur Pelaksana Pendidikan inklusif
1. Guru di sekolah biasa, 7. Konselor,
2. Dokter, 8. Sosial Worker,
3. Guru Pendidkan Khusus, 9. Speechtherapi,
4. Psikolog, 10. Fisiotherapi,
5. Ahli pendidikan luar biasa, 11. Ahli Teknologi Komunikasi / ICT; dan lain-lain
6. Ahli olah raga,

2 . 9 Evaluasi Pembelajaran pendidikan inklusif


a. Sekolah harus menyediakan kondisi kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima keanekaragaman dan menghargai
perbedaan dengan menerapkan kurikulum dan pembelajaran yang interaktif.
b. Guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya alam lain dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.
c. Guru dituntut melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses pendidikan.
d. Kepala sekolah dan guru yang nanti akan jadi Guru Pembimbing Khusus (GPK), harus mendapatkan pelatihan bagaimana
menjalankan sekolah inklusi.
e. GPK harus mendapatkan pelatihan teknis memfasilitasi anak ABK.
f. Asesmen di sekolah dilakukan untuk mengetahui ABK dan tindakan yang diperlukan. Mengadakan bimbingan khusus, atas
kesalahpahaman dan kesepakatan dengan orang tua ABK.
g. Mengidentifikasi hambatan berkait dengan kelainan fisik, social, dan maslah lainnya terhadap akses dan pembelajaran.
h. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu pendidikan bagi semua anak. (Suyanto &
Mudjito AK. 2012: 39)

2 .10 Model Media pembelajaran pada pendidikan inklusif


Berdasarkan karakteristiknya, model media pendidikan dapat digolongkan menjadi 2. (dua) bagian yaitu:
1. Media dua dimensi
Media dua dimensi meliputi media grafis, media bentuk papan, dan media cetak
2. Media tiga dimensi
Media tiga dimensi dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup atau mati, dan dapat pula berwujud sebagai tiruan yang
mewakili aslinya.
Pemanfaatan model media pembelajaran berdasarkan ketentuannya :
1. Tunanetra: Peta timbul, radio, audio, penggaris Braille, blokies, papan baca, model anatomi mata, meteran braille,
puzzel buah-buahan, talking watch, kompas Braille, botol aroma, bentuk-bentuk geometri, tape recorder, komputer
dengan software jaws,dll.
2. Tunarungu: Foto-foto, video, kartu huruf, kartu kalimat, anatomi telinga, miniatur benda, finger alphabet, torso setengah
badan, puzzle buah-buahan, puzzle binatang, puzzle konstruksi, silinder, model geometri, dll.
3. Tunagrahita dan anak lamban belajar: Gardasi kubus, gradasi balok, silinder, manara gelang, kotak silinder, multi
indra, puzzle binatang, puzzle konstruksi, puzzle bola, boks sortor warna, geometri tiga dimensi, papan geometri,
konsentrasi mekanik,dll.
4. Tunadaksa: Kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat, torso seluruh badan, geometri shape, menara gelang, menara segi
tiga, gelas rasa, botol aroma, abacus dan washer, papan pasak, kotak bilangan.
5. Tunalaras: Animal maching games, sand pits, konsentrasi mekanik, animal puzzle, fruits puzzle, rebana, flute, torso,
constructive puzzle, organ.
6. Anak berbakat: Buku paket, buku referensi, buku pelengkap, buku bacaan, majalah, koran, internet, modul, lembar
kerja, komputer, VCD, museum, perpustakaan, TV, OHP, chart, dsb.
7. Kesulitan Pembelajaran:
a. Disleksia: kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat
b. Disgrafia: kartu abjad, kartu kata, kartu kalimat, balok bilangan, pias angka, kotak bilangan,papan bilangan
8. Autis: Kartu huruf, kartu kata, katu angka, kartu kalimat, konsentrasi mekanik, komputer, mnara segi tiga, menara
gelang, fruit puzzel, construktiv puzzle.
9. Tunaganda: Disesuaikan dengan karakteristik kelainannya
10. HIV dan AIDS: Disesuaikan dengan kondisi anak, berat ringan penyakit, dan setting pelayanan pendidikan
11. Korban Penyalahgunaan Narkoba: Disesuaikan dengan kondisi anak, tergantung berat ringannya kondisi anak.
12. Indigo: Digunakan media seperti anak pada umumnya.

2.11 Pendidikan Inklusif MIPA


Berikut ini beberapa media pembelajaran MIPA pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif diantaranya:
1. Buku pelajaran menggunakan huruf braille bagi tunarungu 7. Anatomi tubuh manusia
2. Alat ukur fisika berhuruf braille 8. TV/ VCD/ DVD
3. Garputala 9. Komputer
4. Cermin 10. Kaset Rekaman
5. Sikat getar 11. Laboratorium MIPA
Selain itu dapat pula digunakan model modifikasi bahan ajar.
Contoh model modifikasi bahan ajar
MODEL MODIFIKASI BAHAN AJAR
Jenis Kekhususan : Tuna Netra
Model Modifikasi : IPA

NO JENIS ABK BAHAN AJAR MODIFIKASI BAHAN AJAR


1 Tunanetra Penampakan permukaan bumi Bentuk permukaan bumi
dan langit. Mengidentifikasi dimodifikasi dengan menggu-nakan
berbagai bentuk permukaan globe timbul.
bumi (daratan dan dataran air Untuk dataran dan daratan
seperti laut, danau dan sungai) menggunakan peta timbul yang
menampilkan penampakan alam.

MODEL MODIFIKASI BAHAN AJAR


Jenis Kekhususan : Tuna Grahita Ringan
Model Modifikasi : Matematika
A. Standar Kopetensi : Siswa mampu menjumlahkan bilangan 3 angka.
B. Kompetensi dasar : Menjumlahkan bilangan 3 angka dengan cara susun ke bawah.
C. Indikator : - Menjumlah dengan teknik menyimpan
NO Jenis ABK Bahan Ajar Modifikasi Bahan Ajar
1 Tunagrahita/Lamban
479 Bahan ajar dimodifikasi dengan menurunkan
Belajar 876 bobot soal.
------- + 124
.......... 237__+
...........