Anda di halaman 1dari 23

INISIASI AKAR

LAPORAN

OLEH :

KRISTIAN PATAR HASUDUNGAN SITINDAON


150301145
AGROEKOTEKNOLOGI 3A

LABO RATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A NI A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
INISIASI AKAR

LAPORAN

OLEH :

KRISTIAN PATAR HASUDUNGAN SITINDAON


150301145
AGROEKOTEKNOLOGI 3A

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat untuk dapat Memenuhi Komponen Penilaian
di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi Agrokekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Diperiksa Oleh,
Asiten Korektor :

(Lailasari Hutabarat)
NIM. 120301217

LABO RATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A NI A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan jurnal ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul jurnal ini adalah “Inisiasi Akar” yang merupakan salah satu

syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ir. Meiriani M.P., Ir. Rosanty Lahay M.P., Ir. Haryati M.P.,

Ir. Revandy I.M Damanik M.Sc., Ir. Emmy Harso Kardhinata, M.Sc.,

Ir. Hot Setiado, M.S., Ph.D., selaku dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan serta

kakak dan abang asisten yang telah membantu dalam menyelesaikan jurnal ini.

Penulis menyadari bahwa jurnal ini masih belum sempurna. Oleh karena

itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan

jurnal ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga jurnal ini

bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Medan, Juni 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tujuan Praktikum

Kegunaan Penulisan

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Bunga Asoka

Syarat Tumbuh

Iklim

Tanah

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Stek

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Praktikum

Bahan dan Alat

Prosedur Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pembahasan

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Teknik perbanyakan secara vegetatif stek dapat membantu untuk

memperbanyak tanaman yang memiliki kesulitan dalam memperoleh buah dan

biji serta benihnya cepat rusak secara masal sesuai tata waktu, terutama

memperbanyak klon-klon unggul. Teknik ini juga sangat membantu dan

mempercepat proses pemuliaan pohon (Danu dan Kurniawati, 2014).

Inisiasi perakaran dapat dirangsang dengan auksin (IAA, NAA dan IBA).

IBA merupakan jenis auksin yang paling sering digunakan dalam menginduksi

akar dibandingkan jenis auksin lainnya, karena memiliki kemampuan yang tinggi

dalam mengendalikan inisiasi akar. Disamping itu, IBA juga lebih

stabil dan tingkat toksisitas yang rendah dibandingkan NAA dan IAA

(Kristina dan Sitti, 2012).

Hormon tanaman memainkan peranan penting dalam perkembangan dan

diferensiasi kalus menjadi akar baru atau jaringan pembuluh. Hormon tumbuhan

adalah zat kimia, yang terdapat secara alami dalam tanaman pada konsentrasi

yang sangat rendah. Selain (endogen) hormon alami, ada beberapa zat-zat sintetis

atau alami yang memiliki efek yang sama. Zat-zat tersebut bersama dengan

hormon tanaman, biasanya gabungan dalam istilah zat pengatur tumbuh (ZPT)

(Rahman et al., 2012).

Persiapan dan ketersediaan sumber eksplan menjadi syarat utama

keberhasilan inisiasi dan regenerasi budidaya jaringan. Deberg dan Maene (1981)

mengelompokkan tersendiri fase tersebut sebagai fase awal yaitu penyiapan

tanaman sumber eksplan. Fase tersebut merupakan fase penting dalam


perbanyakan budidaya jaringan dan memerlukan metode yang berbeda untuk

setiap spesies (Putri dan Jayusman, 2012).

Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara

perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-

bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar,

untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya.

Perbanyakan tanaman secara vegetatif tersebut tanpa melalui perkawinan atau

tidak menggunakan biji dari tanaman induk. Prinsipnya adalah merangsang tunas

adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman

sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus (Rahman et al., 2012).

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati pertumbuhan

akar dan tunas stek tanaman bunga asoka (Saraca indica) dengan atau tanpa daun

pada konsentrasi zat pengatur tumbuh yang berbeda.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Bunga Asoka (Saraca indica)

Menurut Steenis (1978) tanaman bunga kertas dapat diklasifikasikan

sebagai berikut : Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Sub Divisi :

Angiospermae, Kelas : Dicotyledoneae, Ordo : Fabales, Family :

Caesalpiniaceae, Genus : Saraca, Spesies : Saraca indica.

Daun menyirip berdaun satu, helaian daun lebar bulat sampai memanjang,

bertepi rata, bertulang menyirip atau betulang tiga sampai lima. Pasangan daun

yang sama dihubungkan dengan tonjolan yang melintang. Asoka memiliki bauh

buni yang masak hitam mengkilat, panjang 1 cm, berbiji dua atau karena

kegagalan berbiji satu dan tidak memiliki lekukan (Steens, 1978).

Tanaman asoka memiliki tinggi tanaman kira-kira 1-7 meter. Sistem

perakaran tunggang. Dengan akar-akar cabang yang melebar ke semua arah

dengan kedalaman 40 cm- 80 cm. Akar yang terletak dekat permukaan tanah

kadang tumbuh terus atau bakal tanaman baru (Hasim, 1995).

Batang asoka memiliki cabang berkayu bulat, beruas dan memiliki

diameter 5 mm – 8 mm, berwarna cokelat dan majemuk. Bougenville merupakan

perdu yang memanjat dan menggantung, tinggi 1 m – 7 m. (Surowinoto, 2002).

Bunga Bougenville termasuk bunga majemuk, payung 3-15 bunga. Bunga

beranekaragam, ada kuning,jingga dan merah. Bunganya tumbuh secara

bergerombol dan berderet dengan benang sari yang mencuat keluar seperti kembang

api.Kelopak bunga berbentuk tabung 2-4 mm. Tajuk bunga 5-8 mm, berbentuk

paku, berambut halus (Bustami, 2011).


Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman asoka menghendaki suhu siang 28oC – 36oC dan suhu udara

pada malam hari 24oC – 30oC agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kelembaban udara (RH) yang cocok untuk budidaya tanaman ini adalah 50% -

80%. Selain itu pengembangan paling cocok didaerah yang cukup mendapatkan

sinar matahari (Suryowinoto, 2002).

Bougenville sangat menyukai sinar matahari, maka sangat cocok ditanam

ditempat yang terbuka dan terkena sinar matahari secara langsung. Asoka

menghendaki curah hujan 112-199 mm/bulan dengan 6-9 hari hujan tiap bulan,

serta mempunyai iklim kering dan 5-6 bulan basah (Wudianto, 1999).

Tanah

Tanaman asoka dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada

ketinggian tempat 1000-1600 mdpl. Tanaman asoka dapat tumbuh dan

berkembang dengan baik pada tanah yang memiliki keasaman (pH) netral yaitu

pada pH 5-7 (Lakitan, 1995).

Dalam penanamannya hanya lubang tanaman yang perlu diolah. Struktur

tanah yang gembur akan sangat mendukung pertumbuhan akar, sehingga

tanamannya akan dapat tumbuh baik. Tanaman bougenville tumbuh pada jenis

tanah pedsolik merah kuning (PMK) latosol dan andosol (Wudiarto, 1999).

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Inisiasi perakaran dapat dapat dirangsang dengan auksin (IAA,

NAA dan IBA). IBA merupakan jenis auksin yang paling sering digunakan dalam
menginduksi akar dibandingkan jenis auksin lainnya, karena memiliki

kemampuan yang tinggi dalam mengendalikan inisiasi akar. Disamping itu, IBA

juga lebih stabil dan tingkat toksitas yang rendah dibandingkan NAA dan IAA.

IBA digunakan untuk menginduksi akar pada stek (Kristina dan syahid, 2012).

Ahli biologi tumbuhan telah mengidentifikasi 5 tipe utama ZPT, yaitu

auksin, sitokinin, giberelin, asam absisat dan etilen. Tiap kelompok ZPT dapat

menghasilkan beberapa pengaruh yaitu kelima kelompok ZPT mempengaruhi

pertumbuhan, namun hanya 4 yang mempengaruhi diferensiasi sel. Asam absisat

(ABA) berfungsi menghambat pertumbuhan. Asam absisat terdapat pada daun,

batang, akar dan buah berwarna hijau (Dewi, 2008).

Zat pengatur tumbuh tanaman berperan penting dalam mengontrol proses

biologi dalam jaringan tanaman. Perannya antara lain mengatur kecepatan

pertumbuhan masing-masing jaringan dan mengintegrasi bagian-bagian tersebut.

Aktivitas zat pengatur tumbuh di dalam pertumbuhan tergantung dari jenis, strutur

kimia, konsentrasi, genotipe tanaman serta fase fisiologi tanaman (Lestari, 2011).

Pada umumnya ZPT yang digunakan adalah merupakan campuran antara

sitokinin dan auksin. Sitokinin dalam hal ini berfungsi untuk merangsang

tumbuhnya tunas-tunas aksilar, sedangkan auksin berfungsi untuk merangsang

pertumbuhan akar dan tunas. Tingkat keberhasilan dalam penggunaan ZPT ini

pada dasarnya tergantung pada jenis dan konsentrasi yang digunakan, dan

diharapkan dapat meningkatkan elongasi tunas (Mulyono, 2010).

Konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon. Auksin

hanya efektif pada jumlah tertentu, konsentrasi yang terlalu tinggi mampu

merusak bagian tanaman sedangkan konsentrasi hormon dibawah optimal menjadi


tidak efektif. Proses-proses fisiologi ini terutama tentang proses pertumbuhan,

diferensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-prosen lain seperti pengenalan

tanaman, pembukaan stomata dan lain-lain dipengaruhi oleh hormon tanaman

(fitohormon) (Mulyono, 2010).

Stek

Salah satu teknik pembibitan vegetatif adalah stek. Keunggulan metode

perbanyakan tersebut diantaranya lebih mudah, cepat dan ekonomis. Keberhasilan

perbanyakan stek dipengaruhi banyak faktor diantaranya yang paling berpengaruh

adalah konsentrasi auksin dan kondisi bahan stek yang digunakan dalam

penyetekan. Auksin merupakan salah satu hormon tumbuhan yang disusun di

daerah tunas ujung, sehingga ketersediaan auksin sangat penting dalam proses

inisiasi pembentukan akar adventif. Keberadaan hormon auksin juga berperan

penting dalam proses diferensiasi dan perpanjangan sel sehingga dapat

meningkatkan kualitas dan kuantitas akar stek (Putri dan Danu, 2014).

Secara fisiologis inisiasi akar adventif dipengaruhi oleh kandungan auksin

dalam jaringan. Auksin alami yang dihasilkan oleh tanaman berperan untuk

mengubah cadangan karbohidrat menjadi gula larut yang sangat diperlukan untuk

pembelahan sel serta meningkatkan mobilisasi gula dari daun ke pangkal stek

untuk pembentukan primordia akar menjadi akar. Kondisi nutrisi bahan stek

dalam hal ini keseimbangan antara karbohidrat dan nitrogen mempengaruhi

keberhasilan stek (Putri dan Danu, 2014).

Selain dipengaruhi oleh hormon auksin, pertumbuhan akar juga

dipengaruhi oleh adanya karbohidrat dalam stek, dimana karbohidrat merupakan

sumber energi dan sumber karbon (C) terbesar selama proses perakaran.
Pembentukan akar pada stek didahului dengan proses deferensiasi sel pada daerah

yang berbatasan dengan permukaan potongan stek, sehingga sel-sel tersebut

kembali bersifat meristematik. Awal terbentuknya akar dimulai oleh adanya

metabolisme cadangan nutrisi yang berupa karbohidrat yang menghasilkan energi

yang selanjutnya mendorong pembelahan sel dan membentuk sel-sel baru dalam

jaringan (Pamungkas et al., 2009).

Penundaan waktu inisiasi akar pada eksplan terinokulasi kemungkinan

besar disebabkan karena transformasi yang terjadi pada sel tanaman memiliki

implikasi terhadap jaringan tanaman. Pertumbuhan jaringan transforman biasanya

kalah oleh pertumbuhan jaringan non transforman. Hal ini disebabkan karena

jaringan transforman mengandung gen sisipan yang mengganggu proses

metabolisme tanaman. Terganggunya proses metabolisme pada jaringan

transforman selanjutnya menyebabkan terganggunya proses pembelahan sel,

sehingga pertumbuhannya menjadi lebih lambat, yang berakibat pada tertundanya

proses pembentukan akar pada eksplan tertransformasi. Penundaan inisiasi akar

pada eksplan terinokulasi disebabkan oleh substansi-substansi kimia yang

disekresikan oleh bakteri (Nufus et al., 2015).

Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) pada stek (dalam penyetekan)

bertujuan untuk mempertinggi prosentase stek dalam membentuk akar dan

mempercepat proses inisiasi akar sedangkan untuk merangsang pembentukan

akar, biasanya konsentrasi zat tumbuh yang digunakan relatif rendah, karena

pemakaian dengan konsentrasi tinggi akan menghambat pemanjangan akar.

Penggunaan ZPT adalah salah satu usaha dalam memacu pertumbuhan tanaman

sehingga akan diperoleh peningkatkan hasil tanaman. Telah diketahui bahwa


auksin, karbohidrat dan nitrogen yang dikandung dalam bahan tanaman

merupakan bahan baku yang memungkinkan terbentuknya akar (Djamhari, 2010).

Perlakuan basah (perendaman) memudahkan stek menyerap zat dalam

ZPT perangsang. Tinggi rendahnya hasil dari penggunaan ZPT tergantung pada

beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah lamanya stek direndam dalam

larutan. Semakin lama stek berada dalam larutan semakin meningkat larutan

dalam stek. Perendaman juga harus dilakukan di tempat yang teduh dan lembab

agar penyerapan ZPT yang diberikan berjalan teratur, tidak fluktuatif karena

pengaruh lingkungan (Sulastri, 2004).

Pembentukan tunas pada stek sangat penting untuk memproduksi auksin

dan mentransfer auksin tersebut ke bawah yang berperan untuk menstimulir

pembentukan akar sebelum stek layu dan akhirnya mati. Selain itu keberadaan

tunas juga penting untuk proses asimilasi CO yang sangat diperlukan untuk

kelangsungan pertumbuhan stek selanjutnya hingga siap untuk diaklimatisasi dan

dipindah ke lapangan untuk penanaman. Namun demikian parameter

pertumbuhan tunas bukan indikator yang dominan dalam penilaian keberhasilan

penyetekan karena pembentukan tunas belum berarti akan terbentuk akar. Stek

yang mampu bertunas tetapi permukaan dasar stek kadang-kadang sudah

membusuk (Putri dan Danu, 2014).

ZPT yang paling baik digunakan untuk penyetekan adalah IBA, karena

kandungan kimia yang lebih stabil, daya kerja yang lebih lama dan relatif lambat

ditranslokasikan dalam tanaman sehingga respon akan lebih baik terhadap

pertumbuhan akar. Pada NAA bersifat merangsang dalam pembentukan akar

dengan stabilitas kimia yang lebih besar dan konsentrasi optimum. Begitu pula
IAA, bersifat mudah menyebar dan akan menghambat pertumbuhan tanaman

sebelum waktunya, sehingga kurang efektif pemakaiannya (Djamhari, 2010).


BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program

Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, pada hari

Jumat 18 Maret 2016 smapai dengan 06 Mei 2016 pukul 13.00-14.40 WIB, pada

ketinggian ± 25 mdpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah batang bunga

asoka(Saraca indica) yang akan ditanam, tanah top soil dan pasir sebagai media

tanam, plastik sebagai penutup batang, polybag sebagai media tanah, air sebagai

pelarut dan larutan IAA sebagai zat pengatur tumbuh.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gunting dan pisau

yang digunakan untuk memotong batang tanaman, gelas beker untuk tempat

larutan, penggaris untuk mengukur tanaman, alat tulis untuk mencatat data dan

buku data untuk media mencatat data hasil pengamatan.

Prosedur Percobaan

1. Disiapkan alat dan bahan

2. Dicampurkan media tanam top soil dan pasir dengan perbandingan 2:1 dan

disiram dengan air

3. Dipilih cabang tanaman yang baik, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda

sepanjang ± 30 cm. Setiap pasangan menyiapkan 3 potong dengan daun

tanaman tetap melekat pada cabang dan 3 potong yang daunnya dibuang

semua.
4. Direndam cabang bagian bawah, masing-masing 1 potongan dengan daun

dan tanpa daun tanaman selama 15 menit dengan :

a. Air destilata

b. Larutan 0,1 mg IAA/liter

c. Larutan 1,0 mg IAA/liter

5. Ditanam bahan stek ke dalam polybag dan diberi label

6. Disiram sedikit air, sungkup dengan plastik tranparan dan ditempatkan

pada tempat teduh. Setelah 1 minggu sungkup plastik dibuka

7. Disiram tanaman setiap hari bila perlu. Diamati pertumbuhan tanaman

setiap minggunya

8. Diamati pertumbuhan akar setelah 6 minggu.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Komoditi : Asoka (Saraca indica)

Parameter : Jumlah Tunas

Tanggal Jumlah Tunas


Pengamatan Direndam Air Direndam IAA 1 Direndam IAA 0,1
Destilata mg/L mg/L
Dengan Tanpa Dengan Tanpa Dengan Tanpa
Daun Daun Daun Daun Daun Daun
25 Maret 2016 0 0 0 0 0 0
01 April 2016 0 1 0 0 1 0
08 April 2016 0 2 1 0 1 0
15 April 2016 0 2 0 0 0 0
22 April 2016 0 0 1 0 0 0
29 April 2016 1 0 0 0 1 0
06 Mei 2016 0 0 0 0 0 0

Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan disimpulkan bahwa perendaman tumbuhan

asoka dengan perendaman air destilata memiliki jumlah enam tunas, perlakuan

dengan daun dan tanpa daun, pada konsentrasi IAA 1 mg/L memiliki jumlah dua

tunas, perlakuan dengan daun, dan pada IAA 0,1 mg/L memiliki jumlah tiga

tunas, perlakuan dengan daun. Halini sesuai dengan literatur Lestari (2011) yang

menyatakan bahwa dosis auksin yang terlalu tinggi akan menggganggu

pembentukan akar, namun pada dosis rendah atau sedang justru akan memacu

pembentukan akar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akar pada tanaman setek

salah satunya adalah media tanam. Hal ini sesuai dengan literatur Putri dan Danu

(2014) yang menyatakan bahwa perakaran pada setek dapat dipercepat dengan

perlakuan khusus, yaitu dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)

golongan auksin. Inisiasi akar dalam waktu relatif singkat dan sistem perakaran

yang baik, dapat diperoleh dengan penambahan ZPT pada konsentrasi optimal.

Inisiasi akar berkaitan dengan adanya pelukaan yang merangsang

terbentuknya karna dari sumber pelukaan. Halini sesuai dengan literatur

Djamhari (2010) yang menyatakan bahwa tempat dimana akar mula-mula

terbentuk berkaitan dengan adanya pelukaan akan merangsang dan menginduksi

akar, yang biasanya didahului atau bersamaan dengan terbentuknya kalus yang

kemudian diikuti oleh akar adventif.

Dalam praktikum digunakan perlakuan perendaman dengan auksin dengan

konsentrasi 0,1 mg/L dan 1 mg/L yang mengakibatkan perbedaan jumlah tunas

yang tumbuh pada tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Lestari (2011) yang

menyatakan bahwa auksin merupakan ZPT yang banyak dihasilkan di jaringan-

jaringan yang masih giat membelah, seperti bagian pucuk tumbuhan. Peranan

auksin antara lain dalam pembelahan dan pembesaran sel serta differensiasi sel.

Pada praktikum ini dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan akar

pada bagian batang tanaman melati yang disetek. Dimana stek merupakan salah

satu perbanyakan vegetatif yang banyak dilakukan untuk memperoleh hasil yang

sama dengan indukannya. Hal ini sesuai dengan literatur Putri dan Danu (2014)

yang menyatakan bahwa setek merupakan salah satu cara perbanyakan


menggunakan teknik perbanyakan vegetatif dengan cara menanam bagian

tanaman tertentu yang mampu membentuk akar dengan cepat. Bagian tanaman

yang biasa digunakan untuk setek adalah batang, cabang, akar dan anakan.

Adapun pengaruh ZPT ( Zat Pengatur Tumbuh ) terhadap

pengamatan Inisiasi akar adalah mengedalikan pertumbuhan dan perkembangan

tanaman khusus nya pada akar . Hal ini sesuai dengan pernyataan Putri dan Danu

(2014) yang mengatakan bahwa perakaran pada setek dapat dipercepat dengan

perlakuan khusus, yaitu dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)

golongan auksin. Inisiasi akar dalam waktu relatif singkat dan sistem perakaran

yang baik, dapat diperoleh dengan penambahan ZPT pada konsentrasi optimal.
KESIMPULAN

1. Perbedaan konsentrasi auksin akan mempengaruhi jumlah tunas yang tumbuh

pada pengamatan ini.

2. Inisiasi akar dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi, umur tanaman yang

dilakukan penetekan dan ZPT yang digunakan.

3. Inisiasi akar berkaitan dengan pelukaan yang merangsang akar.

4. Auksin merupakan ZPT yang banyak dihasilkan dijaringan-jaringan yang masih

giat membelah seperti bagian pucuk tanaman.

5. Stek merupakan salah satu cara perbanyakan vegetatif dengan cara menanam

bagian tanaman tertentu pada media tanam yang disediakan.


DAFTAR PUSTAKA

Bustami, M.U. 2011. Penggunaan 2.4 untuk Induksi Kalus Kacang Tanah.

Tadulako. Palu.

Danu dan K.P. Putri. 2014. Pengaruh Sifat Fisik Media Dan Zat Pengatur Tumbuh

IBA Pada Pertumbuhan Stek Kayu Bawang (Azadirachta excelsa L). Balai

Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor.

Dewi, I.R. 2008. Peran dan Fungsi Fitohormon Bagi Pertumbuhan Tanaman.

Universitas Padjadjaran. Bandung.

Djamhari, S. 2010. Memecah Dormansi Rimpang Temulawak Menggunakan

Larutan Atonik dan Stimulasi Perakaran Dengan Aplikasi Auksin. Pusat

Teknologi Produksi Pertanian – BPPT. Bogor.

Hasim,I. 1995. Permasalahan Tanaman Hias dan Pemecahannya. Penebar

Swadaya. Jakarta.

Kristina, N.N dan S. F. Syahid. 2012. Induksi Perakaran Dan Aklimatisasi

Tanaman Tabat Barito Setelah Konservasi In Vitro Jangka Panjang. Balai

Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor.

Kristina, N.N dan Syahid, S.E. 2012. Induksi Perakaran dan Aklimatisasi dengan

Tanaman Tabat Brito sebelum Konservasi Invitro Jangka Panjang. Balai

Penelitian Tanaman Rempah dan Obar. Bogor.

Lakitan, B. 1995. Hortikultura Teori Budidaya dan Pascapanen. PT Raja

Grafindo. Jakarta.
Lestari, E.G. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan Tanaman

melalui Kultur Jaringan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor.

Mulyono, D. 2010. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Auksin dan Sitokinin dan

Kinetin dalam Elongasi Pertunasan Gaharu. BPPT. Jakarta.

Nufus, N. H., W, Widoretno, dan A.N. Sugiharto. 2015. Transformasi Genetik

Dengan Agrobacterium Rhizogenes Pada Eksplan Akar Tomat

(Lycopersicum Esculentum Mill) untuk Induksi Pembentukan Akar

Rambut. Universitas 45 Mataram. Mataram.

Pamungkas, F.T., S, Darmanti dan B, Raharjo. 2009. Pengaruh Konsentrasi dan

Lama Perendaman Dalam Supernatan Kultur Bacillus Sp.2 Ducc-Br-

K1.3 Terhadap Pertumbuhan Stek Horisontal Batang Jarak Pagar.

Universitas Diponegoro. Semarang.

Putri, A.I., dan Jayusman. 2012. Inisiasi Tunas Aksiler Serta Kalus Toona

Sinensis dan Toona Sureni dengan Sumber Bahan Stek Cabang Balai

Besar Penelitian Bioteknologi Dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Bogor.

Putri, K.P., dan Danu. 2014. Pengaruh Umur Bahan Stek Dan Zat Pengatur

Tumbuh Terhadap Keberhasilan Stek Kemenyan. Balai Penelitian

Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor.

Rahman, E., M. L. Hutagalung., dan Y.T. Surbakti. 2012. Perbanyakan Tanaman

Secara Vegetatif. Universitas Jambi. Jambi.

Steens, C.G.G.J. 1978. Flora untuk Sekolah Indonesia. Pradya Paramitha. Jakarta.
Sulastri, Y.S. 2004. Pengaruh Konsentrasi IBA dan Lama Perendaman Terhadap

Pertumbuhan Stek Pucuk Jambu Air. USU. Medan.

Suryowinoto,S.M. 2002. Flora Eksotika, Tanaman Hias Berbunga. Yogyakarta.

Wudianto,R. 1999. Membuat Stek, Cangkok dan Oskulasi. Penebar Swadaya.

Jakarta.
LAMPIRAN