Anda di halaman 1dari 167

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) DIARE


AKUT INFEKSI PADA PASIEN PEDIATRI DI INSTALASI
RAWAT INAP RS “X” DI KOTA TANGERANG SELATAN
PERIODE JANUARI-DESEMBER 2015

SKRIPSI

NABILAH URWATUL WUTSQO


NIM: 1112102000095

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JULI 2016
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) DIARE


AKUT INFEKSI PADA PASIEN PEDIATRI DI INSTALASI
RAWAT INAP RS “X” DI KOTA TANGERANG SELATAN
PERIODE JANUARI-DESEMBER 2015

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi

NABILAH URWATUL WUTSQO


NIM: 1112102000095

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JULI 2016

ii
ABSTRAK

Nama : Nabilah Urwatul Wutsqo

Program Studi : Farmasi

Judul Skripsi : Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Diare


Akut Infeksi Pada Pasien Pediatri di Instalasi
Rawat Inap RS “X” Kota Tangerang Selatan
Periode Januari- Desember 2015.

Diare akut merupakan masalah kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia,


diperkirakan lebih dari 10 juta anak yang berusia kurang dari 5 tahun meninggal
setiap tahunnya, sekitar 20% anak meninggal karena infeksi diare. Penyakit diare
akut dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri dan parasit, Pada penyakit diare
infeksi yang disebabkan bakteri dan parasit, obat yang paling banyak digunakan
adalah antibiotik. Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik
digunakan secara tidak tepat (Kemenkes, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui drug related problems (DRPs) meliputi obat tanpa indikasi, indikasi
tanpa obat, ketepatan pemilihan obat, dosis obat terlalu tinggi, dosis obat terlalu
rendah dan interaksi obat pada pasien anak di instalasi rawat inap yang menderita
diare akut infeksi di RS “X” Di Kota Tangerang Selatan. Pengambilan data
dilakukan melalui data sekunder berupa rekam medik pasien periode Januari-
Desember 2015 dengan desain secara cross sectional. Data yang diperoleh dikaji
secara deskriptif, teknik pengambilan data berupa total sampling, didapatkan 40
sampel yang sesuai kriteria inklusi penelitian. Penelitian ini menunjukan bahwa
penyakit penyerta yang sering dialami pasien adalah Kejang Demam Kompleks
(KDK) (47,05%) dengan kejadian DRPs terbanyak ialah interaksi obat (31,18%),
diikuti dosis obat melebihi dosis terapi (30,10%), dosis obat kurang dari dosis
terapi (18,27%), obat tanpa indikasi (9,67%), indikasi tanpa obat (8,60%) dan
ketidaktepatan pemilihan obat (2,15%), jumlah penyakit penyerta berpengaruh
terhadap jumlah DRPs (P=0,028), jumlah penggunaan obat tidak berpengaruh
secara bermakna terhadap jumlah DRPs (P=0,100)

Kata kunci: Drug Related Problems, diare akut infeksi, obat diare akut infeksi

vi
ABSTRACT

Name : Nabilah Urwatul Wutsqo

Program Study : Farmasi

Tittle : Identification Drug Related Problems (DRPs)


Inpatient Acute Diarrhea Infectious Pediatric in the
”X” Hospital in Tangerang Selatan City Ports
Januari- Desember 2015.

Acute diarrhea is a health problem in developing countries such as Indonesia,


estimated at more than 10 million children aged less than 5 years old die every
year, about 20% of children die from infectious diarrhea. Acute diarrheal diseases
can be caused by infection with viruses, bacteria and parasites, On diarrheal
disease infections caused by bacteria and parasites, the drug most widely used
antibiotics. Various studies have found that about 40-62% of antibiotics are used
inappropriately (Kemenkes RI, 2011). This study aims to determine the drug
related problems (DRPs) covering the drug without indication, indications without
drugs, the accuracy of selection of drugs,inproper dosage adjusment,and drug
interactions in pediatric patients suffering from acute diarrhea infection in RS “X”
In Kota Tangerang Selatan. Data were collected through secondary data such as
patient’s medical record from January to December 2015 and designed using
cross-sectional. The data obtained were examined by descriptive, data collection
techniques by total sampling method, 40 data complying to the inclusion criteria.
This study shows that comorbidities that are often experienced by patients are
Kejang Demam Kompleks (KDK) (47,05%) with the highest incidence of DRPs
drug interactions (31,18%), dose of the drug is too high (30,10%),the drug dose is
too low (18,27%),drug without no indication (9,67%), indication without no drug
(8,60%) and improper drug selection (2,15%). Age does not affect significantly
the number of DRPs (P = 0.426), number of comorbidities significantly affect the
number of DRPs (P = 0.028), the amount of drug use did not affect significantly
the number of DRPs (P = 0.100).

Keywords: Drug Related Problems, acute infectious diarrhea, acute infectious


diarrhea drug

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat, karunia serta nikmat iman dan islam yang tak terhingga, Shalawat serta
salam kepada Nabi Muhammad SAW. Syukur atas limpahan nikmat dan kasih
sayangNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang
berjudul “Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Diare Akut Infeksi Pada
Pasien Pediatri di Instalasi Rawat Inap RS “X” Kota Tangerang Selatan Periode
Januari-Desember 2015” bertujuan guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Pada kesempatan ini penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan


bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan
skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena
itu, saya mengucapkan terimakasi dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Dr.Delina Hasan, M.Kes., Apt dan Ibu Dr. Azrifitria Msi., Apt selaku
dosen pembimbing yang telah banyak memberikan ilmu, waktu dan tenaga
dalam penelitian ini juga kesabaran pembimbing serta saran, dukungan
dan kepercayaanya selama penelitian ini berlangsung hingga tersusunya
skripsi ini.
2. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah memberikan banyak motivasi dan bantuan.
3. Ibu Dr.Nurmeilis, M.si.,Apt selau Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
4. Seluruh pihak dosen pengajar Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
atas ilmu dan pengetahuan selama penulis menempuh pendidikan.

viii
5. Seluruh civitas Departemen Farmasi RS “X” Kota Tangerang Selatan yang
telah banyak membantu dan memberikan kesempatan untuk melakukan
penelitian.
6. Kedua orang tua saya, ibunda tersayang Esti Risnawati dan ayahanda Drs.
Fauzan Bustomi, yang selalu memberikan kasih sayang,dukungan dan doa
yang tidak pernah henti serta dukungan baik moril dan materil.
7. Adik tersayang Royyan Iftikhor Amani serta seluruh keluarga besar atas
semangat, dukungan dan doa yang tiada henti kepada penulis. Alvin Fauzi
Murod yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.
8. Miranda, Annisaa, Novilia, Verona, Harisah, Amirah, Lilia, Nita Fitriani,
Ade Rachma, Nurul Fitri, dan Annisa Florensia yang telah menjadi teman
yang telah menjadi penyemangat dan menjadi teman terbaik penulis.
9. Teman seperjuangan Rouli Meparia Utami atas masukan, bantuan,
kesabaran dan semangat selama masa penelitian hingga penyusunan
skripsi. Dan teman-teman Farmasi 2012 khususnya Farmasi 2012 kelas
BD atas kebersamaan, serta berbagi suka dan duka selama perkuliahan,
terimakasih atas kebersamaan kita selama 4 tahun ini.
10. Seluruh pihak yang banyak membantu penulis dalam penelitian dan
penyelesaian skripsi baik secara langsung maupun tidak langsung yang
tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah


membantu. Akhirnya, dengan segala kerendahan hari penulis berharap kritik dan
saran atas kekurangan dan keterbatasan penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini
bermanfaat untuk banyak pihak dan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya
dunia kefarmasian.

Ciputat, Juli 2016

Penulis

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... ii


HALAMAN PERSYARATAN ORISINILITAS.............................................. iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. v
ABSTRAK ........................................................................................................... vi
ABSTRACT ......................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... xi
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................... x
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xvii
BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum ................................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................ 5
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................. 5
1.4.1 Manfaat Teoritis .............................................................. 5
1.4.2 Manfaat Metodologi ........................................................ 5
1.4.3 Manfaat Aplikatif ............................................................ 6
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ................................................................. 6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 7
2. 1. Diare ................................................................................................. 7
2.1.1 Definisi Diare ................................................................. 7
2.1.2 Klasifikasi Diare............................................................. 9
2.1.3 Epidemiologi Diare ........................................................ 12
2.1.4 Etiologi Diare ................................................................. 13

xi
2.1.5 Patofisiologi Diare ......................................................... 13
2.1.6 Penyebab Diare .............................................................. 14
2.1.7 Gejala Diare ................................................................... 15
2.1.8 Pemeriksaan Diare ......................................................... 16
2.1.9 Penatalaksanaan Diare ................................................... 17
2.1.10 Pengobatan Diare ........................................................... 26
2. 2. Drug Related Problems ................................................................... 33
2.2.1 Klasifikasi Drug Related Problems......................................... 33
2.2.1.1 Butuh Tambahan Obat ................................................ 33
2.2.1.2 Obat Tanpa Indikasi .................................................... 33
2.2.1.3 Ketidaktepatan Pemilihan Obat .................................. 34
2.2.1.4 Dosis Kurang dari Dosis Terapi.................................. 34
2.2.1.5 Dosis Melebihi Dosis Terapi ...................................... 35
2.2.1.6 Ketidakpatuhan ........................................................... 36
2.2.1.7 Reaksi Obat yang Merugikan ..................................... 36
2. 3. Interaksi obat ................................................................................... 37
2. 4. Indikasi Tanpa Obat ......................................................................... 38
2. 5. Pediatri ............................................................................................ 39
2. 6. Rumah Sakit ..................................................................................... 40
2.6.1 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit............................................... 40
2.6.2 Jenis dan Klasifikasi Rumah Sakit .......................................... 41
2.6.2.1 Jenis Rumah Sakit Secara Umum ............................... 41
2.6.2.2 Klasifikasi Rumah Sakit Secara Khusus ..................... 41
2. 7. Rekam Medik ................................................................................... 42
2. 8. Review Literatur............................................................................... 43
2.8.1 Latar Belakang Diare .............................................................. 43
2.8.2 Epidemiologi Diare ................................................................. 43
2.8.3 Manifestasi Klinik Diare ......................................................... 43
2.8.4 Pengobatan Diare Akut Infeksi ............................................... 44
2.8.5 Terapi Farmakologi Diare ....................................................... 45
BAB 3. KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ............. 49
3.1. Kerangka Konsep ............................................................................... 49

xii
3.2. Definisi Operasional ........................................................................... 50
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN ............................................................ 54
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 54
4.1.1 Lokasi Penelitian .................................................................... 54
4.1.2 Waktu Penelitian .................................................................... 54
4.2 Desain Penelitian ................................................................................. 54
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian .......................................................... 54
4.3.1 Populasi .................................................................................... 54
4.3.2 Sampel ...................................................................................... 54
4.3.2.1 Kriteria Inklusi Sampel ................................................ 55
4.3.2.2 Kriteria Ekslusi Sampel................................................ 55
4.4 Metode Pengumpulan Data .................................................................. 55
4.5 Prosedur Penelitian .............................................................................. 56
4.5.1 Persiapan ..................................................................................... 56
4.5.2 Pengolahan Data.......................................................................... 56
4.6 Analisis Data ......................................................................................... 57
4.6.1 Analisis Univariat ........................................................................ 57
4.6.2 Analisis Bivariat ........................................................................... 57
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 58
5.1 Hasil Penelitian ................................................................................... 58
5.1.1 Karakteristik Pasien.................................................................... 58
5.1.2 Penggunaan Obat Pada Pasien Diare Akut Infeksi .................... 59
5.1.2.1 Jumlah Penggunaan Obat .............................................. 61
5.1.3 Drug Related Problems .............................................................. 62
5.1.4 Hasil Analisa Bivariat ................................................................ 63
5.1.4.1 Analisa Hubungan Antara Jumlah Penyakit Penyerta
dengan DRPs ................................................................... 63
5.1.4.3 Analisa Hubungan Antara Jumlah Obat dengan DRPs .. 63
5.2 Pembahasan ......................................................................................... 64
5.2.1 Karakteristik Pasien................................................................... 64
5.2.2 Penggunaan Obat Diare Akut Infeksi ........................................ 66
5.2.2.1 Jumlah Penggunaan Obat Diare Akut Infeksi ............... 68

xiii
5.2.3 Drug Related Problems ............................................................. 68
5.2.3.1 DRPs Ketidaktepatan Pemilihan Obat .......................... 70
5.2.3.2 DRPs Obat Tanpa Indikasi ............................................ 70
5.2.3.3 DRPs Indikasi Tanpa Obat ............................................ 71
5.2.3.4 DRPs Dosis Obat Kurang dari Dosis Terapi ................ 73
5.2.3.5 DRPs Dosis Obat Melebihi Dosis Terapi ..................... 74
5.2.3.6 DRPs Interaksi Obat ..................................................... 75
5.2.4 Hasil Analisa Bivariat ............................................................... 76
5.2.4.1 Analisa Hubungan Antara Penyakit Penyerta dengan
DRPs .................................................................................. 77
5.2.4.3 Analisa Hubungan Antara Jumlah Penggunaan Obat
dengan DRPs ..................................................................... 77
5.3 Keterbatasan Penelitian ....................................................................... 78
5.3.1 Kendala ....................................................................................... 78
5.3.2 Kelemahan .................................................................................. 78
5.3.3 Kekuatan ..................................................................................... 78
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 79
6.1 Kesimpulan ....................................................................................... 79
6.2 Saran .................................................................................................. 80
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 81
LAMPIRAN ......................................................................................................... 88

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 2.1 Cara Menilai Derajat Dehidrasi ..........................................................8


Tabel 2.2 Gejala Diare ........................................................................................15
Tabel 2.3 Pemberian Cairan Intravena Anak dengan Dehidrasi Berat ...............19
Tabel 2.4 Pemberian Cairan Intravena Anak dengan Dehidrasi Ringan ............21
Tabel 2.5 Kebutuhan Oralit Perkelompok Umur ................................................27
Tabel 2.6 Antibiotik yang Digunakan Untuk Diare Akut Infeksi .......................31
Tabel 3.1 Definisi Operasional ...........................................................................50
Tabel 5.1 Karakteristik Pasien Diare Akut Infeksi .............................................58
Tabel 5.2 Data Distribusi Penggunaan Obat Pasien Diare Akut Infeksi.............60
Tabel 5.3 Data Distribusi Jenis Penggunaan Obat Diare Akut Infeksi ...............61
Tabel 5.4 Data Distribusi Pasien Berdasarkan Kategori DRPs...........................62

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ...........................................................49

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Pengambilan Data dan Izin Penelitian dari
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta .........................................88
Lampiran 2. Peniliaian DRPs yang Dialami Pasien Penyakit Diare
Akut Infeksi ...................................................................................89
Lampiran 3. Evaluasi DRPs Ketidaktepatan Pemilihan Obat .............................91
Lampiran 3. Evaluasi DRPs Obat Tanpa Indikasi ..............................................92
Lampiran 4. Evaluasi DRPs Indikasi Tanpa Obat ..............................................93
Lampiran 5. Evaluasi DRPs Dosis Kurang dari Dosis Terapi ............................95
Lampiran 6. Evaluasi DRPs Dosis Melebihi Dosis Terapi .................................96
Lampiran 7. Evaluasi DRPs Interaksi Obat ........................................................98
Lampiran 8. Hasil Analisis Hubungan Antara Penyakit Penyerta
Dengan DRPs .................................................................................103
Lampiran 9. Hasil Analisis Hubungan Antara Jumlah Obat Dengan DRPs .......105
Lampiran 10 Data Obat Pasien Anak Diare Akut Infeksi ...................................106
Lampiran 11 Data Pasien Anak Diare Akut Infeksi............................................110

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diare merupakan suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering
(biasanya tiga kali atau lebih). Kebanyakan pasien diare menderita diare akut
ringan sampai sedang yang berlangsung kurang dari 14 hari, diare ini dapat
sembuh sendiri dalam waktu 3 sampai 7 hari (Depkes RI, 2011; Soegijanto,2009).
Penyakit diare merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara
berkembang seperti Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih
tinggi. Diare menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian anak
di dunia. Diperkirakan lebih dari 10 juta anak yang berusia kurang dari 5 tahun
meninggal setiap tahunnya, sekitar 20% anak meninggal karena diare (Kemenkes
RI, 2011)
Berdasarkan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor 949
tahun 2004, Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya
kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada
suatu daerah dalam kurun waktu tertentu (Permenkes RI, 2004). Penyakit diare
merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga penyakit potensial KLB yang
sering disertai dengan kematian (Kemenkes RI, 2015). Berdasarkan data dari
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007, diare merupakan penyebab
kematian tertinggi pada anak umur 1-4 tahun yaitu sebesar 25,2% (Riskesdas
RI,2007). Berdasarkan data Riskesdas pada tahun 2013, Insiden dan prevalensi
diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3,5% dan 7,0%. Insiden
diare pada kelompok usia anak adalah 10,2%. Lima provinsi dengan insiden diare
tertinggi adalah Aceh, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Banten
(Riskesdas RI,2013).
Berdasarkan data dari dinas kesehatan (Dinkes) provinsi Banten tahun 2011,
diare merupakan salah satu penyakit yang sering menyebabkan kematian karena

1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


2

kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) apabila tidak segera mendapat penanganan


secara cepat dan tepat. Di provinsi Banten, kasus diare mengalami kenaikan dari
tahun 2010 sampai 2011. Pada tahun 2010 kasus diare sebesar 816.802 kasus,
sedangkan pada tahun 2011 jumlah kasus diare meningkat hingga 6,6 % menjadi
971.269 kasus (Dinkes Banten,2011).
World Health Organization (WHO) tahun 2007 melaporkan bahwa secara
global, sebanyak 527.000 kematian anak-anak terjadi setiap tauhnnya disebabkan
karena penyakit diare infeksi. Diare infeksi disebut juga dengan gastroenteritis
yaitu peradangan pada lambung, usus kecil dan usus besar dengan berbagai
kondisi patologis dari saluran gastrointestinal (Rachmawati, 2014). Penyebab
terjadinya infeksi adalah infeksi virus, bakteri dan parasit. Beberapa bakteri
penyebab penyakit ini antara lain bakteri Escherchia coli, Salmonella, Shigella,
Vibrio dan Staphy lococus (Rachmawati, 2014). Sehingga perlu diberikan
antibiotik dan antifungi yang tepat untuk mengatasi penyebab diare infeksi pada
anak.
Terapi dengan menggunakan obat diare bertujuan untuk meningkatkan
kualitas dan mempertahankan hidup pasien, hal ini dilakukan dengan cara
mengobati pasien, mengurangi atau meniadakan gejala sakit, menghentikan atau
memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya.
Berdasarkan Kemenkes RI (2011), tatalaksana diare akut pada anak meliputi
pemberian oralit, pemberian obat zinc, pemberian Air Susu Ibu (ASI), pemberian
nasehat dan pemberian antibiotik, pemberian antibiotik tidak boleh digunakan
secara rutin. Pada penyakit diare infeksi yang disebabkan bakteri dan parasit, obat
yang paling banyak digunakan adalah antibiotik. Antibiotik merupakan obat yang
paling banyak diresepkan di dunia, pada tahun 2006 WHO melaporkan lebih dari
seperempat anggaran rumah sakit dikeluarkan untuk penggunaan antibiotik
(Halawiyah, 2015). Pada pengobatan diare akut infeksi yang disebabkan bakteri
dan parasit, penggunaan obat antibiotik yang tidak sesuai dengan pedoman terapi
akan meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, akan tetapi munculnya
resistensi dapat dicegah dengan menggunakan antibiotik secara rasional dan
terkendali. Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


3

digunakan secara tidak tepat, 30-80% kualitas penggunaan antibiotik diberbagai


Rumah Sakit ditemukan tidak berdasarkan pada indikasi (Permenkes RI, 2011).
Dalam pemberian obat diare terdapat peristiwa yang tidak diinginkan dalam
terapi pengobatan. Peristiwa yang tidak diinginkan dalam terapi disebut sebagai
Drug Related Problems (DRPs). DRPs merupakan suatu peristiwa yang tidak
diinginkan yang dialami oleh pasien yang berpotensi atau terbukti dapat
mengganggu pencapaian terapi obat. (Cipolle, dkk., dalam review Adusumilli dan
Adepu, 2014). Menurut Cipolle dkk, peristiwa tersebut meliputi butuh tambahan
obat, obat tanpa indikasi, ketidaktepatan pemilihan obat, dosis melebihi dosis
terapi, dosis kurang dari dosis terapi, efek samping dan kepatuhan pasien. Namun
penelitian mengenai DRPs terkait efek samping dan kepatuhan pasien tidak
dilakukan karena penelitian dilakukan secara retrospektif, dan diganti dengan
DRPs mengenai interaksi obat, dan indikasi tanpa obat.
Penanganan DRPs pada pasien pediatri atau anak-anak harus diprioritaskan
karena kondisi fisiologisnya masih belum sempurna, sehingga faktor-faktor
metabolisme dan absorbsi obat tidak bisa disamakan begitu saja dengan pasien
dewasa. Dosis pada anak harus ditetapkan secara seksama dengan merujuk pada
panduan dosis anak atau dihitung menggunakan rumus (Prest,2003).
Penelitian yang dilakukan di Indonesia salah satunya dilakukan di Rumah
Sakit Bhayangkara Sulawesi Tenggara tahun 2013 tercatat sebesar 65,8% anak
yang berjenis kelamin laki-laki menderita diare dengan mayoritas umur 13-24
bulan (57,44%) yang mengalami DRPs, dan kategori yang dialaminya yaitu, tidak
tepat indikasi (46,2%), dosis obat yang terlalu tinggi (19,4%), dan dosis obat
terlalu rendah (9,7%) (La Ode M, 2014). Penelitian serupa yang dilakukan di
RSUP. H.Adam Malik Medan pada tahun 2011 menyatakan kejadian DRPs pada
pasien anak diare akut infeksi di instalasi rawat inap sebesar 63,83% dengan
mayoritas umur 7 bulan-2 tahun sebesar 55,32%, dan kategori DRPs yang dialami
yaitu, obat tanpa Indikasi (29,69%), indikasi tanpa obat (17,19 %), dosis obat
kurang (21,88%), dosis obat lebih (15,63%), dan interaksi obat (15,63%) (Erlina,
2013) .
Rumah Sakit “X” di Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu Rumah
Sakit umum tipe C, dan tergolong menjadi Rumah Sakit baru dan juga menjadi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


4

Rumah Sakit rujukan bagi masyarakat Tangerang Selatan. Berdasarkan data tahun
2015 pasien anak dengan penyakit diare akut dengan atau tanpa penyakit penyerta
yang berobat di rumah sakit ini berjumlah 98 orang. Data ini dianggap peneliti
cukup besar dan sangat memungkinkan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan
dalam pengobatan (DRPs). Penelitian mengenai DRPs diare akut infeksi pada
pasien anak belum pernah dilakukan di Rumah Sakit “X” di Kota Tangerang
Selatan sebelumnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian DRPs dengan kategori
indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, ketidaktepatan pemilihan obat, dosis, dan
interaksi obat pada pasien anak yang menderita diare akut infeksi. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat digunakan sebagai dokumentasi dan sebagai bahan evaluasi
terhadap pelayanan baik oleh dokter maupun farmasis dan juga berguna untuk
meningkatkan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit “X” di Kota Tangerang
Selatan.

. 1.2. Rumusan Masalah

a. Kasus penyakit diare pada anak masih menjadi masalah yang serius
dengan presentase insiden sebesar 10,2 % di Indonesia pada tahun 2013
(Riskesdas, 2013).
b. Pada pengobatan diare infeksi yang disebabkan bakteri dan parasit,
penggunaan obat antibiotik yang tidak sesuai dengan pedoman terapi akan
meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, berbagai studi
menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat
(Kemenkes, 2011).
c. Terapi dengan obat biasanya akan menimbulkan beberapa hal selain
kesembuhan, yaitu terjadi masalah-masalah DRPs antara lain butuh
tambahan obat, obat tanpa indikasi, salah obat, dosis dibawah dosis terapi,
dosis melebihi dosis terapi, dan interaksi obat khususnya pada anak-anak.
d. Rumah Sakit “X” di Kota Tangerang Selatan sangat memungkinkan
terjadinya masalah DRPs diare akut infeksi pada anak. Namun sebelumnya
belum pernah dilakukan penelitian terkait hal tersebut.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


5

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui adanya Drug Related Problems(DRPs) pada pasien anak yang


menderita diare akut infeksi di Instalasi Rawat Inap RS “X” di Kota Tangerang
Selatan periode Januari – Desember 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik pasien diare akut infeksi yang diwarat inap di RS


“X” di Kota Tangerang Selatan periode Januari-Desember 2015
b. Mengetahui profil penggunaan obat yang digunakan pasien pediatri yang
menderita diare akut infeksi di RS “X” di Kota Tangerang Selatan periode
Januari-Desember 2015.
c. Mengetahui presentase kejadian DRPs pada pengobatan pasien diare akut
infeksi di RS “X” di Kota Tangerang Selatan periode Januari-Desember
2015.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1 Secara teroritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan serta


wawasan tentang Drug Related Problem (DRPs) khususnya mengenai indikasi
tanpa obat, obat tanpa indikasi, ketidaktepatan pemilihan obat, dosis, dan interaksi
obat diare akut infeksi pada anak.

1.4.2 Secara Metodologi

Metode penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan diharapkan dapat


dijadikan referensi untuk diaplikasikan pada penelitian farmasi klinis sejenis di
RS “X” di Kota Tangerang Selatan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


6

1.4.3 Secara Aplikatif

Secara aplikatif penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu bahan


pertimbangan ataupun kebijakan dalam peresepan obat diare akut pada anak di
instalasi rawat inap RS “X” di Kota Tangerang Selatan dan dapat memberikan
saran bagi dokter dan tenaga kefarmasian dalam meningkatkan pemberian terapi
optimal sehingga diperoleh terapi yang efektif,aman dan efisien.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

a. Penelitian dengan judul “Identifikasi Drug Related Problems (DRPs)


Diare Akut Infeksi Pada Pasien Pediatri di Instalasi Rawat Inap RS “X” di
Kota Tangerang Selatan Periode Januari – Desember Tahun 2015”
b. Penelitian ini hanya dibatasi pada identifikasi DRPs yang ditinjau dari
indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, ketidaktepatan pemilihan obat,
dosis dibwah dosis terapi, dosis melebihi dosis terapi, dan interaksi obat.
c. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 40 sampel.
d. Pada penelitian ini desain yang dilakukan adalah cross sectional dengan
pendekatan secara retrospektif.
e. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Juni di Instalasi Rawat
Inap RS “X” di Kota Tangerang Selatan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diare
2.1.1 Definisi Diare
Diare (berasal dari bahasa Yunani dan Latin: dia, artinya melewati, dan
rheein, yang berarti mengalir atau berlari) merupakan masalah umum untuk yang
menderita “pengeluaran feses yang terlalu cepat dan terlalu encer”. Tetapi agar
lebih kuantitatif, ilmuan biasanya mendefinisikan diare sebagai kelebihan bobot
cairan (Joel G.Hardman & Lee Limbird,2002).
Diare infeksi adalah diare yang disebabkan karena infeksi virus,bakteri
dan parasit. Beberapa bakteri penyebab penyakit ini antara lain bakteri Eschercia
coli, Salmonella, Shigella, Vibrio cholera dan Staphylococcus (Suharyono, 2008).
Penyebab diare dapat berupa bakteri yang mengkontaminasi makanan
maupun minuman, infeksi virus, alergi makanan dan adanya parasit yang masuk
ke tubuh melalui makanan dan minuman. Diare dapat mengakibatkan terjadinya
beberapa hal berikut:
a. Dehidrasi
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) yang lebih banyak dari
pemasukannya (input). Dehidrasi yang parah dapat juga menyebabkan
gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis) akibatnya
hilangnya Na bikarbonat bersama feses. Kehilangan cairan akibat diare
akut menyebabkan dehidrasi yang bersifat ringan, sedang atau berat.
Volume cairan yang hilang melalui tinja bervariasi dari 5ml/kg BB sampai
200 ml/kg BB, atau lebih. Total kehilangan natrium tubuh pada anak-anak
dengan dehidrasi berat akibat diare biasanya sekitar 70-110 mmol/L air
yang hilang (WHO, 2005).
Hilangnya cairan 5-10% berat badan mengakibatkan dehidrasi sedang
yang ditandai dengan rasa haus, sedangkan hilangnya cairan 10% atau
lebih akan terjadi dehidrasi berat dan penderita mungkin akan sangat haus.

7
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8

Tabel 2.1 Cara menilai derajat dehidrasi


No Tanda dan A B C
Gejala
1 Keadaan Sadar,gelisah Gelisah, rewel Lesu, lunglai atau
umum dan haus,baik tidak sadar
2 Mata Normal Cekung Sangat cekung dan
kering
3 Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
4 Rasa haus Minum biasa Haus, ingin Malas minum atau
tidak haus minum banyak tidak bisa minum
6 Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat lambat
7 Hasil Diare Tanpa Diare Dehidrasi Diare Dehidrasi berat
pemeriksaan dehidrasi ringan/ sedang
Sumber : WHO, 2005.

b. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% pasien diare. Hal ini terjadi karena adanya
gangguan penyimpanan glikogen dalam hati dan adanya gangguan
absorbsi glukosa.
c. Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat.
Hal ini terjadi karena makanan yang diberikan tidak dapat dicerna dan
diabsorpsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
d. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat dari daire ialah dapat terjadinya renjatan (shock)
hipovolemik, sehingga perfusi jaringan berkurang. Akibat selanjutnya
ialah terjadi hipoksia dan asidosis bertambah berat, dapat terjadi
pendarahan otak, kesadaran menurun, dan bila tidak segera diatasi maka
pasien dapat meninggal.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


9

2.1.2 Klasifikasi Diare


1. Menurut Onset Terjadinya
Berdasarkan waktu onset dan durasi, diare dikelompokkan menjadi akut
dan kronis. Episode diare akut umummnya hilang dalam waktu 72 jam dari onset.
Diare kronis menyebabkan frekuensi buang air besar yang lebih sering dan
periode diare yang lebih panjang (Elin, et al., 2009). Menurut WHO (2005) diare
terdiri dari beberapa jenis yaitu:
a. Diare Akut
Diare akut adalah penurunan konsistensi feses, feses menjadi cair biasanya
Buang Air Besar (BAB) terjadi lebih dari 3 kali sehari dan berlangsung
kurang dari 14 hari. Kebanyakan pasien diare menderita diare akut ringan
sampai sedang. Diare ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 3 sampai 7
hari (Guarino dkk, 2014).
b. Diare Akut Berdarah
Diare akut berdarah yang disebut juga disentri, mempunyai bahya utama
yaitu kerusakan mukosa usus, sepsis dan gizi buruk, mempunyai
komplikasi seperti dehidrasi.
c. Diare persisten
Adalah diare yang berlangsung selama 14 hari atau lebih, bahaya
utamanya adalah malnutrisi dan infeksi non-usus serius dan dehidrasi.
d. Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiokor)
Adalah diare yang mempunyai bahawa utama infeksi sistemik yang parah,
dehidrasi, gagal jantung dan kekurangan vitamin dan mineral.

2. Menurut Penyebabnya
a. Diare Osmotik
Diare osmotik terjadi bila bahan-bahan tertentu yang tidak dapat
diserap ke dalam darah, tertinggal di usus. Bahan tersebut
menyebabkan peningkatan kandungan air dalam tinja, sehingga terjadi
diare. Makanan tertentu ( buah dan kacang-kacangan ) dan sorbitol
juga manitol ( pengganti gula dalam makanan dietetik, permen dan
permen karet) dapat menyebabkan diare osmotik. Kekurangan laktase

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


10

juga bisa menyebabkan diare osmotik. Laktase adalah enzim yang


secara alami ditemukan dalam usus halus, yang mengubah gula susu
(laktosa) menjadi glukosa dan galaktosa sehingga dapat diserap ke
dalam aliran darah. Jika orang mengalami keurangan laktase minum
susu atau makan produk olahan susu, maka laktosa tidak akan diubah
tapi terkumpul di usus dan menyebabkan diare osmmotik. Beratnya
diare ini tergantung pada jumlah bahan osmotik yang masuk. Diare
akan berhenti jika penderita berhenti memakan atau meminum bahan
tersebut (Soegijanto, 2009).
b. Diare Sekretorik
Diare sekretorik terjadi jika usus kecil dan usus besar mengelurakan
garam (terutama natrium klorida) dan air dalam tinja. Hal ini juga bisa
disebabkan oleh toksin tertentu seperti pada kolera dan diare infeksius
lainnya. Diare bisa sangat banyak, bahkan pada kolera bisa lebih dari 1
liter/hari. Bahan lainnya yang juga menyebabkan pengeluaran air dan
garam adalah asam empedu (yang terbentuk setelah pengangkatan
sebagian usus kecil). Tumor tertentu (misalnya, karsinoid, gastrinoma
dan vipoma, juga dapat menyebabkan diare sekretorik (Soegijanto,
2009).
c. Sindrom Malabsorpsi
Sindrom malabsorpsi juga bisa menyebabkan diare. Penderita sindrom
ini tidak dapat mencerna makanannya secara normal. Pada malabsorpsi
yang menyeluruh, lemak tertinggal di usus besar dan menyebabkan
diare sekretorik, sedangkan adanya karbohidrat dalam usus besar
menyebabkan diare osmotik. Malabsorpsi mungkin juga disebabkan
oleh beberapa keadaan seperti:
 Sariawan nontropikal
 Insufisiensi pankreas
 Pengangkatan sebagian usus
 Aliran darah ke usus besar yang tidak adekuat
 Kekurangan enzim tertentu di usus halus
 Penyakit hati (Soegijanto, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


11

d. Diare Eksudatif
Diare eksudatif terjadi jika lapisan usus besar mengalami peradangan
dan membentuk tukak, lalu melepaskan protein, darah, lendir dan
cairan lainnya, yang akan meningkatkan kandungan serat dan cairan
pada tinja. Diare ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit
seperti:
 Kolitis ulserativa
 Penyakit Crohn
 Tuberkulosis
 Limfoma
 Kanker
jika mengenai lapisan rektum penderita akan merasakan desakan untuk
buang air besar dan sering buang air besar karena rektum yang
mengalami peradangan lebih sensitif terhadap peregangan oleh tinja
(Soegijanto, 2009).
e. Pertumbuhan Bakteri berlebih
Pertumbuhan bakteri berlebih adalah pertumbuhan bakteri alami usus
dalam jumlah yang sangat banyak atau pertumbuhan bakteri yang
secara alami tidak ditemukan di usus. Hal ini bisa menyebabkan diare.
Bakteri alami usus memegang peranan penting dalam proses
pencernaan. Karena itu, gangguan pada bakteri usus bisa menyebabkan
diare (Soegijanto, 2009).

3. Berdasarkan Derajat Dehidrasinya


a. Diare dengan Dehidrasi Berat
Anak yang menderita dehidrasi berat memerlukan rehidrasi intravena
secara cepat dengan pengawasan yang ketat dan dilanjutkan dengan
rehidrasi oral segera setelah anak membaik. Pada daerah yang sedang
mengalami kolera, berikan pengobatan antibiotik yang efektif terhadap
kolera (WHO,2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


12

b. Diare dengan Dehidrasi Sedang/ Ringan


Pada umumnya, anak-anak dengan dehidrasi ringan/ sedang harus diberi
larutan oralit, dalam waktu 3 jam pertama di klinik saat anak berada dalam
pemantauan dan ibunya diajari cara menyiapkan dan memberikan larutan
oralit (WHO,2009).

c. Diare Tanpa Dehidrasi


Anak yang menderita diare tetapi tidak mengalami dehidrasi harus
mendapatkan cairan tambahan di rumah guna mencegah terjadinya
dehidrasi. Anak harus terus mendapatkan diet yang sesuai dengan umur
mereka,termasuk meneruskan pemberian ASI (WHO,2009).

2.1.3 Epidemiologi Diare


Diare masih merupakan salah satu diantara penyebab-penyebab utama
dari morbiditas dan mortalitas anak-anak di negara-negara yang sedang
berkembang, dengan perkiraan sekitar 3-5 miliar kasus setiap tahun di dunia.
Sekitar 5-18 juta kematian setiap tahunnya disebakan karena diare. Kematian ini
dapat disebabkan karena dehidrasi akut. Khususnya bayi dan anak-anak adalah
rawan karena kebutuhan akan cairan dan pergantian untuk ukurannya adalah
relatif lebih besar, daya tahannya yang kurang dan kerentanannya terhadap agen
fekal-oral .
Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 200-400 kejadian diare diantara
1000 penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian dapat diperkirakan ada lebih
dari 60 juta kejadian diare setiap tahunnya. Sebagian besar dari penderita-
penderita ini (60-80%) adalah anak-anak dibawah usia 5 tahun sehingga dengan
demikian terdapat kurang lebih 40 juta kejadian diare pada usia ini setiap
tahunnya.
Sampai dengan tahun 1985 penyakit diare masih menempati urutan
pertama kematian di Indonesia terutama bagi golongan anak bayi dan balita dan
mencapai sekitar 350.000 anak pertahun.
Setelah tahun 1992 diare tidak lagi menempati urutan pertama penyebab
kematian bayi di Indonesia. Penyakit penyebab kematian didominasi saat ini oleh

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


13

penyakit saluran pernapasan dan gangguan perinatal. Hal ini mungkin disebabkan
karena perbaikan kesehatan lingkungan dan perorangan dan mungkin pula karena
meningkatnya penggunaan oralit dalam penanganan diare oleh masyarakat
(Soegijanto,2009).

2.1.4 Etiologi Diare


Etiologi diare akut pada 25 tahun yang lalu sebagian besar belum
diketahui, akan tetapi sekarang lebih dari 80% penyebabnya telah diketahui.
Terdapat 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare. Penyebab
utama oleh virus adalah rotravirus(40-60%) sedangkan virus lainnya ialah virus
norwalk, astrovirus, calcivirus, coronavirus, minirotavirus, dan virus bulat kecil
(Depkes RI, 2005).
Bakteri penyebab diare dapat dibagi dalam dua golongan besar, ialah
bakteri non invasif dan bakteri invasif. Termasuk dalam golongan bakteri
noninvasif adalah: Vibrio cholerae, E coli, sedangkan golongan bakteri invasif
adalah Salmonella sp (Vila J et al, .2000).

2.1.5 Patofisiologi Diare


Diare adalah suatu kejadian ketidakseimbangan dalam penyerapan dan
sekresi air dan elektrolit. Diare dapat berhubungan dengan penyakit tertentu dari
saluran pencernaan atau dengan penyakit diluar saluran pencernaan Empat
mekanisme patofisiologis umum yang mengganggu keseimbangan air dan
elektrolit, menyebabkan diare :
(1) Perubahan dalam transportasi ion aktif dengan menurunkan penyerapan
natrium atau peningkatan sekresi klorida. Transport aktif akibat rangsangan
bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal
mengalami iritasi sehingga menyebabkan peningkatan sekresi cairan dan
elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal
sehingga menurunkan area permukaan intestinal, mengubah kapasitas
intestinal dan mengganggu cairan dan elketrolit (Wells,et al., 2006).
(2) Perubahan motilitas usus.
(3) Peningkatan osmolaritas luminal.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


14

(4) Peningkatan tekanan hidrostatik dalam jaringan. Mekanisme ini telah


berhubungan dengan empat kelompok besar diare klinis : sekretori, osmotik,
eksudatif, dan perubahan transit usus.

Diare sekretorik terjadi ketika zat yang merangsang (misalnya vasoaktif


peptida usus [VIP], obat pencahar, atau racun bakteri) meningkatkan sekresi atau
menurukan penyerapan sejumlah besar air dan elektrolit. Zat yang penyerapannya
buruk akan menahan cairan usus, mengakibatkan diare osmotik. Penyakit
inflamasi pada saluran pencernaan dapat menyebabkan diare eksudatif oleh debit
lendir, protein, atau darah yang masuk ke dalam saluran cerna. Motilitas usus
dapat diubah dengan mengurangi waktu kontak di usus, pengosongan dini pada
usus besar, dan oleh pertumbuhan bakteri yang berlebih (Dipiro.JT,2009).

2.1.6 Penyebab Diare


1. Diare akibat virus
Diare ini disebabkan oleh virus yang melekat pada sel-sel mukosa usus
yang rusak sehingga kapasitas reabsorbsi menurun. Diare akan
berlangsung selama beberapa hari, yaitu berkisar 3-6 hari, hingga virus
benar-benar hilang. Contohnya antara lain: rotravirus, adenovirus,
norwalk (Atmaja.W., 2011).
2. Diare akibat bakteri
Diare ini disebabkan oleh kurangnya higienisitas makanan. Bakteri masuk
ke dalam mukosa dan memperbanyak diri serta membentuk toksin-toksin
yang dapat direabsorpsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala hebat
seperti demam tinggi, nyeri kepala dan kejang, serta feses berdarah dan
berlendir. Contohnya antara lain: Salmonella, Shigella, dan E. Coli
(Atmaja.W., 2011).
3. Diare akibat parasit
Diare akibat parasit ditandai dengan eksresi tinja yang terus-menerus dan
bertahan lebih dari satu minggu. Gejala lainnya dapat berupa nyeri perut,
demam, anoreksia, nausea, muntah-muntah dan rasa letih (malaise).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


15

Contohnya antara lain: protozoa Entamoeba histolytica, Giardia Llambia,


Cryptosporidium (Atmaja.W., 2011).
4. Diare akibat enterotoksin
Diare ini disebabkan oleh kuman-kuman yang membentuk enterotoksin.
Toksin melekat pada sel mukosa dan merusaknya. Diare ini akan sembuh
dengan sendirinya tanpa pengobatan dalam waktu lima hari setelah sel-sel
mukosa yang baru. Contohnya antara lain: enterotoksin dari E. Coli dan
Vibrio cholera, enterotoksin dari Shigella, Salmonella, dan Entamoeba
histolytica (Atmaja.W., 2011).

2.1.7 Gejala Diare


Tabel 2.2 Gejala Diare
Klasifikasi Tanda-tanda atau Gejala
Dehidrasi Berat  Letargis/tidak sadar
 Mata cekung
 Tidak bisa minum atau malas
minum
 Cubitan kulit perut kembali
sangat lambat (≥ 2 detik).
Dehidrasi Ringan/Sedang  Rewel,gelisah
 Mata cekung
 Minum dengan lahap,haus
 Cubitan kulit kembali lambat
Tanpa Dehidrasi  Sadar, gelisah
 Mata normal
 Minum biasa, tidak merasa haus
 Turgor kulit kembali dengan
cepat
Diare karena infeksi  Muntah-muntah
 Demam
 Nyeri perut atau kejang perut
Sumber : WHO, 2009; Zulkifli, 2015.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


16

2.1.8 Pemeriksaan Diare


1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap sangat penting. Dari anamnesis, dokter
dapat menduga apakah gejala timbul dari kelainan organik atau fungsional,
membedakan malabsorpsi kolon atau bentuk diare inflamasi, dan menduga
penyebab spesifik (Atmaja.W., 2011).

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik lebih berguna untuk menentukan keparahan
diare daripada menemukan penyebabnya. Status volume dapat ditentukan
dengan mencari perubahan ortostatik tekanan darah dan nadi. Demam dan
adanya tanda toksisitas lain juga perlu dicatat. Pemeriksaan abdomen
dilakukan dengan melihat dan meraba distensi usus, memastikan nyeri
terlokalisr atau merata, melihat adanya pembesaran hari dan
mendengarkan bising usus .
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh,
frekuensi denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya
perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor
kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ada tidaknya air mata,
bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah (Juffrie,2010).
Tanda-tanda dehidrasi ringan atau dehidrasi berat:
a. Rewel atau gelisah
b. Letargis/kesadaran berkurang
c. Mata cekung
d. Cubitan kulit perut kembalinya lambat atau san gat lambat
e. Haus/ minum dengan lahap, atau malas minum atau tidak bisa minum.
(WHO,2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


17

3. Pemeriksaan Awal
a. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses dibedakan menjadi tes spesifik dan tes
nonspesifik. Pemeriksaan spesifik diantaranya tes untuk enzim pankreas
seperti elastase feses. Pemeriksaan nonspesifik diantaranya osmolalitas
tinja dan perhitungan osmotik gap untuk membedakan diare osmotik, dan
sekretorik. Pemeriksaan tinja baik mikroskopik maupun makroskopik
dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti. Secara
makroskopik harus diperhatikan bentuk, warna tinja, ada tidaknya dara,
lender, lemak dan lain-lain. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada
tidaknya leukosit,telur cacing, parasit, bakteri dan lain-lain (Hadi,2002).

4. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umunya tidak
diperlukan, Hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan, misalnya
penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare
akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat (Juffrie,2010).
Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium pasien diare infeksi
dimulai dari pemeriksaan feses adanya leukosit. Pada keadaan normal,
kotoran tidak mengandung leukosit. Apabila ditemukan adanya leukosit,
maka hal itu dianggap sebagai penanda inflamasi kolon, baik akibat infeksi
maupun non-infeksi. Karena netrofil akan berubah, sampel harus diperiksa
sesegera mungkin (Atmaja.W.,2011).

2.1.9 Penatalaksanaan Diare


Pengetahuan dan pemahaman mengenai proses yang menyebabkan
terjadinya diare memungkinkan klinis untuk mengembangkan terapi obat yang
paling efektif . Pada banyak pasien, onset diare terjadi tiba-tiba tetapi tidak terlalu
parah dan dapat sembuh dengan sendiri tanpa memerlukan pengobatan atau
evaluasi. Pada kasus yang parah, risiko terbesar adalah dehidrasi dan
ketidakseimbangan elektrolit, terutama pada bayi, anak-anak, dan manula yang
lemah. Oleh karena itu, terapi rehidrasi oral merupakan kunci utama penanganan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


18

untuk pasien sakit akut yang menyebabkan diare yang signifikan. Hal ini sangat
penting terutama untuk negara berkembang, karena terapi ini telah
menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya. Terapi ini menggunakan fakta
bahwa pada kebanyakan kasus diare akut, transpor air dan elektrolit bersama
dengan nutrien di usus halus tidak terganggu. Absorpsi natrium dan klorida
berkaitan dengan ambilan glukosa olen enterosit; yang diikuti oleh gerakan air
dalam darah yang sama. Campuran yang seimbang antara glukosa dan elktrolit
dalam volume yang setara dengan cairan yang hilang dapat mencegah terjadinya
dehidrasi. WHO merekomendasikan formula larutan rehidrasi oral yang ideal;
campuran lain atau obat-obatan rumah kemungkinan komposisinya kurang
seimbang (Joel G.Hardman & Lee Limbird,2002).
Farmakoterapi diare harus dilakukan pada pasien yang menunjukan gejala
diare yang signifikan dan terus menerus (presisten). Obat antidiare nonspesifik
biasanya tidak mengacu pada patofisiologi penyebab diare; prinsip pengobatan ini
hanya menghilangkan gejala pada kasus diare akut yang ringan. Obat-obat ini
kebanyakan bekerja dengan menurunkan motilitas usus, dan sedapat mungkin
tidak boleh diberikan pada penderita penyakit diare akut yang disebabkan oleh
organisme. Pada kasus seperti ini, obat-obat tersebut dapat menutupi gambaran
klinis, menunda bersihan organisme, dan meningkatkan risiko infeksi sistemik
oleh organisme, dan juga meningkatkan komplikasi lokal seperti megakolon
toksis (dilatasi kolon akut yang disertai dengan kolitis amebik atau ulseratif) (Joel
G.Hardman & Lee Limbird,2002).
Menurut Kemenkes RI tahun 2011, prinsip tatalaksana diare pada anak
adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh
Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-
satunya cara untuk mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta
mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah kekurangan gizi
akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun program LINTAS
DIARE yaitu:
1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan pemberian ASI dan makanan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


19

4. Antibiotik selektif
5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh (Kemenkes RI,2011).

1. Tatalaksana Diare Akut Pediatri Berdasarkan Derajat Dehidrasinya


1) Tatalaksana Diare Akut Dehidrasi Berat
Anak dengan dehidrasi berat harus diberi rehidrasi intravena secara cepat
yang diikuti dengan terapi rehidrasi oral.
a. Mulai berikan cairan intravena segera
pada saat infus disiapkan, beri larutan oralit jika anak bisa minum.
Catatan : larutan intravena terbaik adalah larutan ringer laktat (disebut
pula larutan Hartman untuk penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer
Asetat. Jika larutan Ringer Laktat tidak tersedia, larutan garam normal
(NaCl 0,9%) dapat digunakan. Larutan glukosa 5% (dextrosa) tunggal
tidak efektif dan jangan digunakan.

b. Beri 100 ml/kg larutan yang dipilih dan dibagi sesuai tabel
dibawah.

Tabel 2.3 Pemberian Cairan Intravena Anak dengan Dehidrasi Berat


Pertama, berikan 30 Selanjutnya, berikan 70
ml/kg dalam : ml/kg dalam :
Umur < 12 bulan 1 jam 5 jam
Umur ≥ 12 bulan 30 menit 2½ jam
Sumber dari: WHO, 2009.

2) Tatalaksana Diare Akut Dehidrasi Ringan/Sedang


a. Pada 3 jam pertama, beri anak larutan oralit dengan perkiraan jumlah
sesuai dengan berat badan anak (atau umur anak jika berat badan anak
tidak diketahui). Namun jika anak ingin minum lebih banyak, beri
minum lebih banyak.
b. Tunjukan pada ibu cara memberi larutan oralit pada anak, satu
sendok teh tiap 1-2 menit jika anak berumur di bawah 2 tahun; dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


20

pada anak yang lebih besar, berikan minuman oralit lebih sering
dengan menggunakan cangkir.
c. Lakukan pemeriksaan rutin jika timbul masalah
Jika anak muntah, tunggu 10 menit; lalu beri larutan oralit lebih
lambat (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).
Jika kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan
beri minum air matang atau asi.
d. Nasihati ibu untuk terus menyusui anak kapanpun anaknya mau.
e. Jika ibu tidak dapat tinggal di klinik hingga 3 jam, tunjukan pada ibu
cara menyiapkan larutan oralit dan beri beberapa bungkus oralit
secukupnya kepada ibu agar bisa menyelesaikan rehidrasi di rumah
ditambah untuk rehidrasi dua hari berikutnya.
f. Nilai kembali anak setelah 3 jam untuk memeriksa tanda dehidrasi
yang terlihat sebelumnya.
(catatan: periksa kembali anak sebelum 3 jam bila anak tidak bisa
minum larutan oralit atau keadaannya terlihat memburuk).
Jika tidak terjadi dehidrasi , ajari ibu mengenai empat aturan untuk
perawatan di rumah:
I. Beri cairan tambahan
II. Beri tablet zinc selama 10 hari
III. Lanjutkan pemberian minum/makan
IV. Kunjungan ulang jika terdapat tanda berikut:
-anak tidak bisa atau malas minum susu
-kondisi anak meburuk
-anak demam
-terdapat darah dalam tinja anak
Jika anak masih mengalami dehidrasi sedang/ringan, ulangi
pengobatan untuk 3 jam berikutnya dengan larutan oralit, dan mulai
beri anak makanan, susu atau jus dan berikan asi sesering mingkin.
Meskipun belum terjadi dehidrasi berat tetapi bila anak sama sekali
tidak bisa minum oralit misalnya karena anak muntah, dapat diberikan
infus dengan cara diberikan cairan intravena secepatnya. Berikan 70

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


21

ml/kg BB cairan Ringer Laktat atau Ringer asetat (atau jika tidak
tersedia,gunakan larutan NaCl) yang dibagi sebagai berikut.

Tabel 2.4 Pemberian Cairan Ringer Laktat Anak Dehidrasi


Ringan/Sedang.
Umur Pemberian 70 ml/kg selama:
Bayi (di bawah umur 12 bulan) 5 jam
Anak (12 bulan sampai 5 2 ½ jam
tahun)
Sumber dari: WHO,2009
 Periksa kembali anak setiap 1-2 jam
 Beri oralit (kira-kira 5ml/kg.jam) segera setelah anak mau minum
 Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam
(WHO,2009).

3) Tatalaksana Diare Tanpa Dehidrasi


a. Anak dirawat jalan
b. Ajari ibu mengenai 4 aturan untuk perawatan di rumah :
1. Beri cairan tambahan
2. Beri tablet Zinc
3. Lanjutkan pemberian makan
4. Nasihati kapan harus kembali
c. Beri cairan tambahan, sebagai berikut :
a) Jika anak masih mendapat ASI, nasihati ibu untuk menyusui
anaknya lebih sering dan lebih lama pada setiap pemberian ASI.
Jika anak mendapat ASI ekslusif, beri larutan oralit atau air matang
sebagai tambahan ASI dengan menggunakan sendok. Setelah diare
berhenti, lanjutkan kembali ASI ekslusif kepada anak, sesuai
dengan umur anak.
b) Pada anak yang tidak mendapat ASI ekslusif, beri satu atau lebih
cairan dibawah ini :
1. Larutan oralit

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


22

2. Cairan rumah tangga (seperti sup dan kuah sayuran)


3. Air matang
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, nasihati ibu untuk memberi
cairan tambahan sebanyak yang anak minum :
1. Untuk anak berumur 2 tahun, beri ± 50-100 ml setiap kali
anak BAB.
2. Untuk anak berumur 2 tahun atau lebih, beri ± 100-200 ml
setiap kali anak BAB (WHO, 2009).

2. Tatalaksana Diare Akut Karena Infeksi Bakteri


a. Escherichia coli
Sampai saat ini, seperempat dari semua penyebab diare di negara
berkembang adalah E.coli. penularan biasanya terjadi melalui makanan
yang terkontaminasi dan air. Lima kelompok E.coli adalah:
1. Enterotoxigenic E.coli (ETEC).
2. Enteropathogenic E.coli (EPEC)
3. Enteroinvasive E.coli (EIEC).
4. Enterohaemorrhagic E.coli (EHEC)
(World Gastroenterology Organisation Global
Guidline, 2012).
Kebanyakan pasien dengan ETEC mengalami gejala mual dan kejang,
ETEC merupakan penyebab utama diare akut pada anak-anak dan orang
dewasa di negara-negara berkembang, terutama selama musim panas dan
musim hujan (WHO, 2005)
Tatalaksana : Meneggunakan antibiotik azithromycin dengan dosis anak-
anak sebesar 10 mg/kg selama 3 hari sebagai antibiotik pilihan utama, dan
cefixime dengan dosis 8 mg/kg/hari, trimetropan/sulfametoxazole dengan
dosis 8 mg/kg/hari sebagai antibiotik pilihan kedua (Guarino Alfredo,
2014).

b. Vibrio cholerae
Kolera adalah penyakit endemik dan banyak terjadi pada banyak negara di
Afrika, Asia dan Amerika Latin, dimana sering terjadi setiap tahun,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


23

biasanya selama panas dan musim hujan. Kolera terjadi paling sering pada
anak-anak dengan usia 2-9 tahun, dan banyak kasus yang parah. di daerah
yang baru terkena wabah, orang dewasa juga terpengaruh. Penyebaran
kolera melalui air yang terkontaminasi dan makanan. Vibrio cholerae
adalah bakteri gram-negatif, berbentuk koma dan menyebabkan diare yang
menimbulkan dehidrasi berat, kematian dapat terjadi setelah 3-4 jam pada
pasien yang tidak dirawat. Gejala awalnya adalah distensi abdomen dan
muntah, yang secara cepat menjadi diare berat, pasien kekurangan
elektrolit dan volume darah. Target utama terapi adalah penggantian cairan
elektrolit, kebanyakan kasus dapat diterapi dengan cairan oral. Kasus yang
parah memerlukan cairan intravena (Zein U.,dkk 2004).
Tatalaksana : Pemberian antibiotik dapat mengurangi volume dan masa
berlangsungnya diare, dosis tertracycline untuk anak adalah 12,5 mg/kg 4
kali sehari selama 3 hari (WHO, 2005).

c. Shigella
Shigella merupakan penyebab 10-15% dari diare akut pada anak di bawah
5 tahun, dan merupakan penyebab paling umum dari diare berdarah pada
anak-anak (WHO, 2005). Secara klasik, gejala umum yang ditimbulkan
dengan adanya nyeri abdomen, demam, diare cair tanpa darah, kemudian
feses berdarah setelah 3-5 hari kemudian (Zein U.,dkk 2004).
Tatalaksana : Terapi dengan rehidrasi yang adekuat secara oral atau
intravena, tergantung dari keparahan penyakit, terapi antibiotik diberikan
untuk mempersingkat berlangsungnya penyakit dan penyebaran bakteri,
antibiotik yang digunakan untuk anak adalah Ciprofloxacin dengan dosis
15 mg/kg 2 kali sehari selama 3 hari, Pivmecillinam dengan dosis 20
mg/kg 4 kali sehari selama 5 hari atau Ceftriaxone dengan dosis 50-100
mg/kg 1 kali sehari secara intramuscular selama 2-5 hari (World
Gastroenterology Organization Global Guidline, 2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


24

d. Salmonella (non-thypoid)
Salmonella menyebabkan 1-5% dari kasus gastroenteritis di kebanyakan
negara berkembang. Infeksi biasanya terjadi akibat konsumsi produk
hewani yang terkontaminasi (WHO, 2005). Terdapat lebih dari 2000
serotipe, sekitar 6-10 yang menjelaskan sebagian episode Salmonella
gastroenteritis pada manusia. Salmonella biasanya menyebabkan diare
akut dengan mual, kram dan demam.
Tatalaksana : Pemberian antibiotik pilihan utama yang digunakan adalah
ceftriaxone dengan dosis 50-100 mg/kg/hari, dan azithromycin dengan
dosis 10 mg/kg/hari sebagai antibiotik pilihan kedua (Guarino Alfredo,
2014).

e. Campylobacter jejuni
Campylobacter jejuni menyebabkan 5-15% diare pada anak-anak di
seluruh dunia, masa inkubasi selama 24-72 jam setelah organisme masuk.
Gejala yang mungkin timbul adalam demam, mual, muntah dan malaise.
Masa inkubasi berlangsungnya penyakit ini selama 7 hari.
Tatalaksana : Pemberian antibiotik azitromycin dengan dosis untuk anak
30 mg/kg (World Gastroenterology Organization Global Guidline, 2012).

3. Tatalaksana Diare Akut Karena Infeksi Protozoa


a. Giardia duodenalis
Giardia duodenalis paling sering menginfeksi anak-anak berusia 1-5
tahun (WHO, 2005).
Tatalaksana : Menggunakan antibiotik metronidazole dengan dosis
anak 5 mg/kg 3 kali sehari selama 5 hari (WHO, 2005).

b. Etamoeba Histolytica
Etamoeba histolytica ditemukan hampir di seluruh dunia, tetapi
prevalensi tertinggi didapatkan di negara-negara berkembang terutama
di daerah endemik seperti Durban, Ibadan dan Kampala di Afrika.
Gejala yang sering ditimbulkan adalah nyeri abdomen, diare, anoreksia

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


25

dan malaise. Pada infeksi kronik, diare dapat diselingi oleh fase
konstipasi.
Tatalaksana : Menggunakan antibiotik Nitazoxanide dengan dosis 100
mg (5ml) untuk anak 1 sampai 4 tahun setiap 12 jam selama 3 hari atau
200 mg (10 ml) setiap 12 jam selama 3 hari untuk anak usia 4 sampai
11 tahun (World Gastroenterology Organization Global Guidline,
2012).

c. Cryptosporidium
Cryptosporidium merupakan penyebab 5-15% diare pada anak yang
terjadi di negara-negara berkembang. Diare akut yang disebabkan oleh
Cryptosporidium tidak memiliki gambaran klinis yang khas, sehingga
diagnosa bandingnya dapat meliputi semua organisme yang memiliki
manifestasi klinis yang mirip dengan cryptosporidium, yaitu diare
encer tanpa darah.
Tatalaksana : menggunakan Nitazoxanide dengan dosis 100 mg (5ml)
untuk anak 1 sampai 4 tahun setiap 12 jam selama 3 hari atau 200 mg
(10 ml) setiap 12 jam selama 3 hari untuk anak usia 4 sampai 11 tahun
(World Gastroenterology Organization Global Guidline, 2012).

4. Tatalaksana Diare Akut karena Infeksi Jamur


a. Candida albicans
Candida albicans sering dikaitkan dengan diare akut pada bayi baru
lahir. Candida albicans dapat menyerang usus kecil dan usus besar
pada anak-anak yang sakit parah (Elzauki., dkk, 2012).
Tatalaksana : menggunakan antifungi fluconazole dengan dosis anak-anak :
6 -12 mg/kg/hari atau Itraconazole dengan dosis anak-anak: 5 -10
mg/kg/hari secara oral , dalam 2x sehari (Allen UD, 2010).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


26

2.1.10 Pengobatan Diare


1. Dietary management
Pengobatan dietetik adalah pemberian makanan dan minuman
khusus pada klien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan.
Adapun hal yang perlu diperhaikan adalah untuk anak dibawah satu
tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan yang
diberikan adalah memberikan asi dan susu formula yang mengandung
laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, lalu makanan setengah padat
(bubur, makanan padat nasi tim). Memberikan makanan yang
mengandung kalori, protein,vitamin, mineral dan makanan yang bersih,
prinsip pengobatan dietetik yaitu O-B-E-S-E singkatan dari Oralit,
Breast feeding, Early feeding, Stimulaneously with Education (Iswari
Yeni, 2011).
Pemberian oralit, ASI, dan zat gizi akan menolong tubuh yang
telah terkuras cadangan gizinya. ASI memiliki zat antibodi yang dapat
membantu tubuh melawan kuman penyakit. Berkat ASI, sedikit sekali
muncul kontaminasi, seperti yang terjadi pada penyiapan makanan biasa.
Disamping itu, ASI menjalin hubungan psikologis antara ibu dan anak.
ASI memiliki sifat sebagai berikut:
a. Makanan alami yang ideal, mengandung nutrien lengkap dan memiliki zat
kekebalan tubuh yang berguna bagi bayi.
b. Kandungan gizi terbaik ASI terdapat pada kolostrum, air susu pertama
yang keluar ketika ibu habis melahirkan.
c. Pada anak diare, ASI sangat menolong melawan kuman penyakit dan
mencegah terjadinya kekurangan gizi.
d. Jika pemberian ASI terus dilakukan, ketika sembuh dari diare, anak tidak
akan terancam kekurangan gizi (Widjaja M.C, 2002).
Pemberian ASI pada bayi dan anak harus tetap dilanjutkan dengan
pemberian makanan selama tahap rehidrasi (World Gastroenterology
Organization Global Guidline,2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


27

2. Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari
rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak
tersedia berikan cairan rumah tangga seperti kuah sayur dan air matang.
Oralit saat ini yang beredar dipasaran merupakan oralit baru dengan
osmolaritas yang rendah, yang dapat menurangi rasa mual dan muntah.
Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk
mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus
segera dibawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan
melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi
(Kemenkes RI,2011).
a. Diare tanpa dehidrasi
Umur <1 tahun : ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret
Umur 1-4 tahun : ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret
Umur diatas 5 tahun : 1-1 ½ gelas setiap kali anak mencret
b. Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75ml/kg BB dan
selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa
dehidrasi.
c. Diare dengan dehidrasi berat
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke
puskesmas (Kemenkes RI, 2011).

Tabel 2.5 Kebutuhan Oralit Perkelompok Umur


Umur <4 Bulan 4-11 12-23 2-4 Tahun 5-14 Tahun 15 Tahun
Bulan Bulan atau Lebih
Berat < 5 kg 5-7,9 kg 8-10,9 kg 11-15,9 kg 16-29,9 kg 30 kg atau
Badan lebih
Dalam ml 200-400 400-600 600-800 800-1200 1200-2200 2200-4000
Sumber : WHO, 2005.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


28

Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok
dengan cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit. Pemberian dengan botol
tidak boleh dilakukan. Anak yang lebih besar dapt meminum langsung dari
gelas. Bila terjadi muntah hentikan dulu selama 10 menit kemudian mulai
lagi perlahan-lahan misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit. Pemberian cairan
ini dilanjutkan sampai dengan diare berhenti (Juffrie, 2010).

5. Injeksi Larutan Ringer Laktat


Infus ringer laktat diberikan secara intravena pada pasien diare
dengan dehidrasi berat atau diare dengan dehidrasi ringan sedang karena
pasien tidak mungkin menerima cairan secara oral. Untuk diare ringan-
sedang infus ringer laktat diberikan sebanyak 75cc/kgBB selama 4 jam
(WHO, 2005).
Penilaian kembali pasien dilakukan setiap 1-2 jam. Jika hidrasi
tidak membaik, berikan infus lebih cepat. setelah enam jam (bayi) atau tiga
jam (pasien yang lebih tua), evaluasi pasien menggunakan grafik
penilaian. Kemudian pilih Rencana Perawatan yang sesuai untuk
melanjutkan pengobatan (WHO, 2005).

6. Vitamin A
Sejak awal abad ke 20, vitamin A telah digolongkan sebagai
vitamin anti infeksi, Diare mengurangi proses absorpsi, dan meningkatkan
kebutuhan vitamin A. Anak-anak dengan diare akut atau persisten dapat
dengan cepat mengembangkan lesi mata karena kekurangan vitamin A
(xerophthalmia) dan bahkan menjadi buta. Xerophtalmia adalah suatu
istilah yang menerangkan gangguan pada mata akibat kekurangan vitamin
A, termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi
sel retina yang dapat menyebabkan kebutaan. Dosis untuk anak usia 1-5
tahun adalah 1 kapusl merah (200.000 IU) yang diberikan pada seluruh
balita serentak pada bulan Februari dan Agustus (Depkes RI, 2009).
Anak-anak tanpa tanda-tanda mata yang memiliki gizi buruk atau
memiliki campak dalam sebulan terakhir harus menerima perlakuan yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


29

sama. Ibu juga harus diajarkan secara rutin untuk memberikan anak-anak
mereka makanan yang kaya karoten; termasuk buah-buahan berwarna
kuning atau oranye atau sayuran, dan sayuran yang berdaun hijau gelap.
Jika memungkinkan, telur, hati, atau susu penuh lemak juga harus
diberikan (WHO, 2005).

7. Zinc
Zinc merupakan mikronutrien penting untuk kesehatan dan
perkembangan anak. Zinc hilang dalam jumlah banyak selama diare.
Penggantian zinc yang hilang ini penting untuk membantu kesembuhan
anak dan menjaga anak tetap sehat di bulan-bulan berikutnya. Telah
dibuktikan bahwa pemberian zinc selama episode diare, mengurangi
lamanya tingkat keparahan episode diare dan menurunkan kejadian diare
pada 2-3 bulan berikutnya. Berdasarkan bukti ini, semua anak dengan
diare harus diberi zinc segera setelah anak tidak muntah (WHO, 2009).
Dosis pemberian Zinc pada anak:
a. Umur < 6 bulan: ½ tablet (10mg) per hari selama 10 hari.
b. Umur > 6 bulan: 1 tablet (20mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.
Cara pemberian tablet zinc adalah dengan melarutkan tablet dalam 1
sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan pada anak diare
(Kemenkes RI, 2011).

8. Probiotik
Probiotik didefinisikan sebagai bakteri hidup yang diberikan
sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh yang
menguntungkan terhadap kesehatan, dengan memperbaiki keseimbangan
mikroflora intestinal. Efek yang menguntungkan dari bakteri tersebut
dapat mencegah dan mengobati kondisi patologik usus bila bakteri
tersebut diberikan secara oral (Firmansyah, 2001).
Probiotik telah dibuktikan melalui penelitian efektif untuk
pencegahan dan pengobatan terhadap berbagai kelainan gastrointestinal,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


30

misalnya diare oleh karena pemakaian antibiotik yang berlebihan, diare


oleh karena infeksi bakteri maupun virus, intoleransi laktosa dan traveller
diarrhea (Firmansyah,2001). Probiotik mempunyai keuntungan daam
penyakit diare pada anak melalui stimulasi sistem imunitas terutama
infeksi rotravirus pada bayi, dimana suplementasi probiotik mengurangi
durasi penyebaran virus, meningkatkan sel yang mensekresi IgA
antirotavirus, menurunkan peningkatan permeabilitas usus (yang secara
normal berhubungan dengan infeksi rotravirus) dan mengurangi durasi
diare dan lamanya perawatan di rumah sakit.
Bakteri probiotik yang sering digunakan untuk memperpendek
durasi diare adalah Lactobacillus GG, Lactobacillus acidophillus,
Bifidobacterium bifidum dan Enterococcus faecium. Penggunaan bakteri
probiotik untuk pencegahan diare oleh bakteri maupun virus tidak terlalu
kuat bila dibandingkan penggunaannya untuk memperpendek diare.
Mekanisme probiotik untuk meningkatkan ketahanan mukosa usus antara
lain melalui stimulan imunitas mukosa usus, kompetisi untuk nutrien
tertentu, mencegah adhesi mukosa dan epitel oleh bakteri patogen,
mencegah invasi (translokasi) terhadap epitel usus dan produksi materi
antimikrobial. Mekanisme kerja probiotik untuk menghambat
pertumbuhan bakteri patogen dalam mukosa usus diduga dengan cara
kompetisi untuk mengadakan perlekatan dengan enterosit, enterosit yang
telah jenuh dengan bakteri probiotik tidak dapat lagi melakukan perlekatan
dengan bakteri lain. Jadi dengan adanya bakteri probiotik didalam mukosa
usus dapat mencegah kolonisasi bakteri patogen (Simatupang, 2009).
Lactobacillus banyak digunakan sebagai probiotik karena bakteri
ini lebih stabil sehingga proses penyiapannya lebih mudah dan
stabilitasnya selama penyimpanan lebih terjamin (Hegar B,2007). Belum
ada rekomendasi dari WHO tentang dosis dan lama suplementasi probiotik
pada diare akut. Dosis yang digunakan berbagai penelitian berkisar 5.5-40
x 109 Lactobacillus GG, L. Sporogens atau Saccharomyces boulardii.
Dosis yang secara signifikan memberikan efek adalah 5 x 109 colony

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


31

forming units (CFU) (Johnston BC,2006). Lama pemberian untuk terapi


rata-rata 5 hari dan untuk pencegahan diare diberikan minimal 6 hari.

9. Antibiotik
Antibiotik direkomendasikan untuk diare yang berhubungan
dengan infeksi gastroenteritis. Keadaan yang dapat diberikan antibiotik
empiris adalah apabila diare lebih dari 3 hari, demam lebih dari 38,5oC
(101,3oF) atau feses berdarah. Obat antibiotik tidak boleh digunakan
secara rutin (Zein, 2004). Antibiotik hanya bermanfaat pada anak dengan
diare berdarah (kemungkinan besar shigellosis), suspek kolera, dan infeksi
berat lain yang tidak berhubungan dengan saluran pencernaan (WHO,
2009).

Tabel 2.6 Antibiotik yang digunakan untuk mengobati diare akut infeksi
Penyebab Antibiotik Pilihan Alternatif
Cholera Doxycyline Erythromycin
Dewasa : 300 mg sekali Anak –anak : 12,5 mg/kg 4
atau kali per hari selama 3 hari.
Tetracycline Dewasa : 250 mg 4 kali per
Anak-anak : 12,5 mg/kg hari selama 3 hari
4 kali per hari x 3 hari.
Dewasa : 500 mg 4 kali per
hari x 3 hari
E.coli Azithromycin Cefixime
Anak-anak: 10 mg/kg/hari Anak-anak: 8 mg/kg/hari
digunakan selama 3 hari. selama 5 hari.
Trimetropan/Sulfametoxazole
Anak-anak: 8 mg/kg/hari
Ciprofloxacin
Anak-anak: 20-30 mg /kg/hari
diberikan secara oral.
Shigella Ciprofloxacin Pivmecillinam
Anak-anak : 15 mg/kg 2 Anak-anak: 20 mg/kg 4 kali
kali per hari x 3 hari. per hari x 5 hari.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


32

Secara I.V : 20-30 Dewasa : 400 mg 4 kali per


mg/kg/hari setiap 12 jam hari x 5 hari.
sehari. Dosis maksimum Ceftriaxone
800 mg/hari. Anak-anak : 50-100 mg/kg 1
Dewasa : 500 mg 2 kali per kali per hari IM selama 2-5
hari x 3hari. hari
Amoebiasis Metronidzole
Anak-anak: 10 mg/kg 3
kali per hari x 5 hari (10
hari pada kasus berat).
Dewasa : 750 mg 3 kali per
hari x 5 hari (10 hari pada
kasus berat).
Giardiasis Metronidazole
Anak-anak: 5 mg/kg 3 kali
per hari x 5 hari
Dewasa : 250 mg 3 kali per
5 hari.
Champylobacter Azithromycin
Anak-anak: 30 mg/kg
Dewasa : 500 mg 1 kali per
hari x 3hari.
Cryptosporidium Nitazoxanide
Anak-anak: 100 mg (5ml)
untuk anak 1 sampai 4
tahun setiap 12 jam selama
3 hari atau 200 mg (10 ml)
setiap 12 jam selama 3 hari
untuk anak usia 4 sampai
11 tahun.
Sumber : World Gastroenterology Organisation Global Guidline,2012;Guarino
Alfredo, Shai Ashkenazi dkk (2014).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


33

2.2 Drug Related Problems


Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) mendefinisikan DRPs
adalah suatu kondisi kejadian terkait dengan terapi obat yang secara nyata atau
potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang diinginkan (PCNE, 2010).
DRPs dapat juga dikatakan sebagai suatu pengalaman atau kejadian yang tidak
menyenangkan yang dialami oleh pasien yang melibatkan atau diduga berkaitan
dengan terapi obat dan secara aktual maupun potensial mempengaruhi outcome
terapi pasien (Yusshiamanti, 2015).

2.2.1 Klasifikasi Drug Related Problems


Cipolle, R.J., dkk, dalam review Adusumili dan Adepu (2014) secara luas
mengkategorikan DRPs kedalam 7 kelompok.

2.2.1.1 Butuh Tambahan Obat (Need for additional therapy)


Pasien mempunyai kondisi medis yang membutuhkan terapi obat,
Penderita diare akut bisa mengalami komplikasi yang tidak diharapkan, oleh
karena itu perlu mencermati apakah ada indikasi penyakit yang tidak diobati.
Adanya indikasi penyakit yang tidak tertangani ini dapat disebabkan oleh:
a. Penderita mengalami gangguan medis baru yang memerlukan terapi obat.
b. Penderita memiliki penyakit kronis lain yang memerlukan keberlanjutan
terapi obat
c. Penderita mengalami gangguan medis yang memerlukan kombinasi
farmakoterapi untuk menjaga efek sinergi/potensiasi obat
d. Penderita berpotensi untuk mengalami risiko gangguan penyakit baru
yang dapat dicegah dengan penggunaan terapi obat profilaktik.
(Cippole, dkk., dikutip dalam Depkes RI, 2005).

2.2.1.2 Obat Tanpa Indikasi (Unnecessary therapy)


Obat yang berada dalam resep tidak sesuai dengan indikasi dengan
indikasi keluhan pasien. Pemberian obat tanpa indikasi dapat terjadi ketika
seseorang menggunakan obat tanpa indikasi yang tepat, dapat membaik
kondisinya dengan terapi non obat, meminum beberapa obat padahal hanya satu

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


34

terapi obat yang diindikasikan, minum obat untuk mengobati efek samping, pasien
mendapatan pengobatan polifarmasi untuk kondisi dimana dia seharusnya hanya
mendapat terapi obat tunggal (Cipolle, dkk., dikutip dalam Depkes RI, 2005).

2.2.1.3 Ketidaktepatan Pemilihan Obat (Wrong Drugs)


Ketidaktepatan pemilihan obat, merupakan pemilihan obat yang dipilih
bukan obat yang terbukti paling bermanfaat, paling aman, paling sesuai, dan
paling ekonomis (Depkes, 2000). Terapi obat dapat menunjukan obat yang salah
jika pasien tidak mengalami hasil yang memuaskan, adapun faktor-faktor
keberhasilan dan keefektifan terapi obat tergantung pada identifikasi dan
diagnosis akhir dari masalah medis pasien. Sebagai contoh dari ketidaktepatan
pemilihan obat yaitu seperti pada pasien yang mempunyai alergi dengan obat-obat
tertentu atau menerima terapi obat ketika ada kontraindikasi, serta obat efektif
tetapi obat tersebut mahal. Hal-hal tersebut dapat menunjukan bahwa pasien telah
menggunakan obat yang salah (Cipolle et al.,1998).
Pemilihan obat yang tidak tepat dapat mengakibatkan tujuan terapi tidak
tercapai sehingga penderita dirugikan.Penyebab lainnya, pada pemilihan obat
yang tidak tepat dapat disebabkan oleh:
a. Obat yang digunakan berkontraindikasi
b. Penderita resisten dengan obat yang digunakan
c. Penderita menolak terapi obat yang diberikan, misalnya pemilihan bentuk
sediaan yang kurang tepat (Cippole, dkk., dikutip dalam Depkes RI, 2005).

2.2.1.4 Dosis kurang dari dosis terapi (dosage is too low)


Meskipun mendasar, bahwa prinsip dari homeopati dimana jika dosis
terlalu sedikit (suboptimal) obat diklasifikasikan sebagai DRP,yaitu ketika hasil
yang diinginkan pada pasien tidak tercapai (yaitu, infeksi tidak merespon dengan
pengobatan antibiotik yang suboptimal). Pada dasarnya, dosis semua obat
dipertimbangkan berdasarkan penyakit, dan informasi riwayat pasien. Dosis dapat
dikatakan kurang optimal jika konsentrasi obat di serum tidak tercapai bersamaan
dengan adanya (tanda-tanda dan gejala) maka hal ini dapat dikatakan DRP.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


35

Terdapat parameter lainnya, jika terdapat dosis dibawah dosis terapi.


Pasien menerima dosis yang sesuai atau obat dilanjutkan cukup lama namun tidak
mencapai efek yang diinginkan maka dapat dikatakan dosis dibawah dosis
terapi.(Strand, dkk., 1990). Pemberian obat dengan dosis subterapeutik
mengakibatkan ketidakefektifan terapi obat. Hal ini dapat disebabkan oleh:
a. Dosis yang digunakan terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang
dikehendaki
b. Konsentrasi obat dalam plasma penderita berada di bawah rentang terapi
yang dikehendaki
c. Obat, dosis, rute, formulasi tidak sesuai (Cippole, dkk., dikutip dalam
Depkes RI, 2005).

2.2.1.5 Dosis melebihi dosis terapi (Dose is too high)


keadaan ini sama halnya dengan dosis terlalu rendah, dimana dosis
melebihi dosis terapi memberikan efek yang berlawanan dengan seharusnya.
Keadaan dimana dosis ditingkatkan secara cepat dan peningkatan menyebabkan
komplikasi lainnya maka hal ini dapat dikatakan adanya DRP. Hal ini juga
memungkinkan adanya akumulasi obat dalam jangka yang panjang sehingga
menyebabkan efek toksik pada pasien.(Strand, dkk., 1990).
Pemberian obat dengan dosis berlebih mengakibatkan toksisitas. Hal ini
dapat disebabkan oleh:
a. Dosis obat terlalu tinggi untuk penderita
b. Konsentrasi obat dalam plasma penderita di atas rentang terapi yang
dikehendaki
c. Dosis obat penderita dinaikkan terlalu cepat
d. Penderita mengakumulasi obat karena pemberian yang kronis
e. Obat, dosis, rute, formulasi tidak sesuai
f. Fleksibilitas dosis dan interval tidak sesuai (Cippole, dkk., dikutip dalam
Depkes RI, 2005).
Dapat disimpulkan bahwa, pasien yang mengalami atau berpotensi untuk
mengalami keracunan yang ditimbulkan oleh dosis obat yang berlebih
merupakan masalah umum yang terdapat pada praktek klinis. Pemantauan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


36

farmakokinetik dan penyesuaian dosis tidak bisa terlalu ditekankan/terlalu cepat


hal ini untuk mencegah terjadinya DRP.(Strand, dkk., 1990).

2.2.1.6 Ketidakpatuhan (Adherence problem)


Ketidakpatuhan merupakan sikap dimana pasien tidak disiplin atau tidak
maksimal dalam melaksanakan pengobatan yang telah diinstruksikan oleh dokter
kepadanya. Ketidakpatuhan akan mengakibatkan penggunaan suatu obat yang
kurang, dengan demikian pasien akan kehilangan manfaat terapi dan
kemungkinan mengakibatkan kondisi secara bertahap memburuk. Ketidakpatuhan
juga dapat berakibat dalam penggunaan suatu obat berlebih. Apabila dosis yang
digunakan berlebihan atau apabila obat dikonsumsi lebih sering daripada yang
dimaksudkan. Masalah ini dapat berkembang misalnya seorang pasien
mengetahui bahwa ia lupa suatu dosis obat dan menggandakan dosis berikutnya
untuk mengisinya (Siregar,2006).
Menurut Tambayong (2002) dan Siregar (2006), beberapa faktor ketidapatuhan
pasien terhadap pengobatan antara lain :
a. Kurang pahamnya pasien tentang tujuan pengobatan
Alasan utama untuk tidak patuh adalah kurang mengerti tentang
pentingnya manfaat terapi obat dan akibat yang mungkin jika obat
tidak digunakan.
b. Tidak mengertinya pasien tentang pentingnya mengikuti aturan
pengobatan yang ditetapkan.
c. Sukarnya memperoleh obat diluar rumah sakit

2.2.1.7 Reaksi Obat yang Merugikan (Adverse Drug Reaction)

Efek samping obat adalah respon terhadap suatu obat yang merugikan
dan tidak diinginkan dan yang terjadi pada dosis yang biasanya digunakan pada
manusia untuk pencegahan, diagnosis atau terapi penyakit atau untuk modifikasi
fungsi fisiologik (BPOM RI, 2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


37

2.3 Interaksi Obat (Drug Interaction)


Interaksi obat mewakili satu dari delapan kategori DRPs yang telah
diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan dan terapi obat yang dapat
mempengaruhi outcome pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika
farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran
suatu atau lebih zat yang berinteraksi.

1. Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik adalah interaksi yang dapat terjadi ketika suatu
obatt mempengaruhi absorpsi,distribusi,metabolisme dan eksresi (ADME).
Interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa tipe:
a. interaksi pada absorpsi obat
ketika obat diberikan secara oral maka akan terjadi penyerapan
melalui membran mukosa dari saluran pencernaan dan sebagian
besar interaksi terjadi pada penyerapan di usus.
b. Interaksi pada distribusi obat
Pada interaksi ini dapat terjadi melalui beberapa hal, yaitu:
interaksi ikatan protein dan induksi atau inhibisi transpor protein
obat.
c. Interaksi pada metabolisme obat
Reaksi-reaksi yang dapat terjadi pada saat tahap
metabolisme,yaitu: yang pertama perubahan pada first pass
metabolism adalah salah satu pada perubahan aliran darah ke hati
dan inhibisi atau induksi first pass metabolism, kedua induksi
enzim, ketiga inhibisi enzim, keempat faktor genetik dan yang
terakhir adanya interaksi isoenzim CYP450.
d. Interaksi pada eksresi obat
Sebagian besar obat dieksresikan melalui empedu atau urin,
pengecualian untuk obat anastesi inhalasi. Interaksi dapat dilihat
pada perubahan pH, perubahan aliran darah di ginjal, eksresi
empedu dan eksresi tubulus ginjal (Stockley,I.H.,2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


38

2. Interaksi Farmakodinamik
Merupakan interaksi dimana efek suatu obat diubah oleh obat lain. Hal ini
dapat terjadi akibat kompetisi pada reseptor yang sama atau interaksi obat
pada sistem fisiologi yang sama. Interaksi yang paling aman terjadi
sinergisme antara dua obat yang bekerja pada sistem, organ, sel atau enzim
yang sama dengan efek farmakologi yang sama, sebaliknya antagonisme
terjadi bila obat yang berinteraksi memiliki efek farmakologi yang
berlawanan. Hal ini mengakibatkan pengurangan hasil yang diinginkan
dari satu atau lebih obat (Aslam et al., 2003).

Tingkat Keparahan Interaksi Obat


Keparahan interaksi dapat diklasifikasikan ke berdasarkantingkatan
keparahanan :minor, moderate, atau major.
1. Keparahan minor
Interaksi obat minor biasanya memberikan potensi yang rendah secara
klinis dan tidak membutuhkan terapi tambahan.
2. Keparahan moderate
Interaksi moderate sering membutuhkan pengaturan dosis atau dilakukan
pemantauan.
3. Keparahan major
Interaksi major pada umumnya harus dihindari bila memungkinkan,
karena dapat menyebabkan potensi toksisitas yang serius.

2.4 Indikasi Tanpa Obat


Indikasi tanpa obat adalah terjadi ketika pasien mengalami gangguan
medis baru yang memerlukan terapi obat, pasien menderita penyakit kronis lain
sehingga membutuhkan terapi obat lanjutan, pasien membutuhkan kombinasi obat
untuk memperoleh efek sinergis, pasien berpotensi untuk mengalami risiko
gangguan penyakit baru yang dapat dicegah dengan penggunaan terapi obat
profilaskis atau premedikasi (Yusshiamanti, 2015).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


39

2.5 Pediatri
Istilah Pediatri mula-mula dikenal berasal dari bahasa yunani yang berasal
dari dua kata yaitu, pedos berartikan anak dan latrika berarti pengobatan. Jika
dikaji menurut bahasa Indonesia pediatri berarti ilmu pengobatan untuk Anak.
WHO atau nama lainnya World Health Organization merubah nama pediatri
menjadi child health. Namun ditahun berikutnya, tepatnya tahun 1963 diubah
menjadi ilmu kesehatan anak yaitu dikarenakan dalam ruang lingkup pediatri
lebih luas cakupan ilmunya dari pada sebelumnya. Dulu ruang lingkup pediatri
hanya mengobati anak-anak yang sakit namun sekarang juga mengarah ataupun
mencakup hal-hal lain yang lebih luas ruang lingkupnya.
Menurut The British Pediatric Association (BPA), kelompok anak dibagi
dalam beberapa kategori menurut perubahan biologis yang terjadi yaitu:
1. Neonatus, adalah awal kelahiran usia 1 bulan.
2. Bayi, adalah usia 1 bulan sampai 2 tahun.
3. Anak-anak adalah usia 2 tahun sampai 12 tahun, dengan subseksi
bahwa anak usia dibawah 6 tahun memerlukan bentuk sediaan yang
sesuai.
4. Remaja, adalah usia 12 sampai 18 tahun (Prest,2003).

Menurut Ranuh GDE (2013) tahapan tumbuh kembang anak dibagi menjadi
beberapa kategori:
1. Masa neonatus dini (Early neonate) adalah usia dari lahir sampai
dengan 7 hari.
2. Masa neonatus lanjut (Late neonate) usia 7 hari -28 hari
3. Masa bayi (Infant) adalah usia 0-12 bulan.
4. Masa batita (Toodler) adalah usia 1-3 tahun.
5. Masa balita (Under-five) adalah usia 1-5 tahun.
6. Masa sekolah (School-age) adalah usia 6-15 tahun.
7. Masa pra-remaja (Pre-adolescent) adalah usia 10-15 tahun
(perempuan) dan usia 12-15 tahun (laki-laki).
8. Masa remaja (Adolescent) adalah usia 15-18 tahun.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


40

2.6 Rumah Sakit


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI)
Nomor 340 Tahun 2010 tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat. Rumah sakit juga merupakan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan
yaitu setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
Upaya kesehatan dilakukan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu
serta berkesinambungan.

2.6.1 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340
Tahun 2010 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Pelayanan kesehatan paripurna
adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340 Tahun 2010 rumah sakit umum mempunyai fungsi:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
d. enyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalamrangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


41

2.6.2 Jenis dan Klasifikasi Rumah Sakit


2.6.2.1 Jenis Rumah Sakit Secara Umum
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340
Tahun 2010 tentang rumah sakit, rumah sakit dapat dibagi berdasarkan jenis
pelayanan dan pengelolaannya:
1. Berdasarkan jenis pelayanan
a. Rrumah sakit umum
Memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
b. Rumah sakit khusus
Memberikan pelayanan utama pada satubidang atau satu jenis penyakit
tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit,
atau kekhususan lainnya.
2. Berdasarkan pengelolaan
a. Rumah sakit publik
Dapat dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan badan hukum
yang bersifat nirlaba. Rumah sakit publik yang dikelola pemerintah dan
pemerintah daerah diselenggarakan berdasarkan pengelolaan Badan
Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Rumah sakit privat
Dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk
Perseroan Terbatas atau Persero.

2.6.2.2 Klasifikasi Rumah Sakit Secara Khusus


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340
Tahun 2010 tentang rumah sakit, rumah sakit umum diklasifikasikan berdasarkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit:
a. Rumah sakit umum kelas A
Adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik luas.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


42

b. Rumah sakit umum kelas B


Adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik sekurang-kurangnya sebelas spesialistik dan
subspesialistik luas.
c. Rumah sakit umum kelas C
Adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik spesialistik dasar.
d. Rumah sakit umum kelas D
Adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik dasar (Depkes RI 2009; Siregar, 2004).

2.7 Rekam Medik


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.269/MENKES/PER/III/2008
yang dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada paien. Suatu rekam medik yang
lengkap mencakup data identifikasi dan sosiologis, sejarah famili pribadi, sejarah
kesakitan yang sekarang, pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus seperti:
konsultasi, data laboratorium klinis, pemeriksaan sinar X dan pemeriksaan lain,
diagnosis sementara, diagnosis kerja, penanganan medik atau bedah, patologi
mikroskopik dan nyata, kondisi pada waktu pembebasan, tindak lanjut dan temuan
otopsi (Siregar, 2004).
Kegunaan dari rekam medik :
a) Digunakan sebagai dasar perencanaan berkelanjutan perawatan penderita.
b) Merupakan suatu sarana komunikasi antar dokter dan setiap professional
yang berkontribusi pada perawatan penderita.
c) Melengkapi bukti dokumen terjadinya atau penyebab kesakitan atau
penderita dan penanganan atau pengobatan selama tiap tinggal di rumah
sakit.
d) Digunakan sebagai dasar untuk kajian ulang studi dan evaluasi perawatan
yang diberikan kepada pasien.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


43

e) Membantu perlindungan kepentingan hukum penderita, rumah sakit dan


praktisi yang bertanggung jawab.
f) Menyediakan atau untuk digunakan dalam penelitian dan pendidikan.
g) Sebagai dasar perhitungan biaya, dengan menggunakan data rekam medik,
bagian keuangan dapat menetapkan besarnya biaya pengobatan seorang
penderita (Siregar dan Lia, 2003)

2.8 Review Literatur


2.8.1 Latar belakang

Gastroenteritis akut atau diare karena infeksi secara umum didefinisikan


sebagai penurunan konsistensi tinja menjadi cair atau lembek dan peningkatan
frekuensi BAB (biasanya ≥ 3 dalam 24 jam), dengan atau tanpa demam dan
muntah. diare akut inbiasanya berlangsung <7 hari tidak > 14 hari (Guarino
Alfredo, 2014). Gastroenteritis akut masih menjadi masalah kesehatan di negara-
negara maju dan berkembang. gastroenteritis akut menjadi peringkat pertama
sebagai salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Kematian karena
gastroenteritis akut lebih besar terjadi pada negara berkembang dibandingkan di
negara-negara maju. Di negara-negara berkembang, gastroenteritis adalah
penyebab umum kematian pada anak-anak yang berusia <5 tahun (Kanti Shuvra.
dkk, 2014).

2.8.2 Epidemiologi

Di eropa, kejadian diare berkisar dari 0,5 sampai 2 episode per anak per
tahun pada anak-anak dengan usia <3. Gastroenteritis merupakan alasan utama
untuk rawat inap di kisaran usia anak, agen bakteri yang paling umum adalah
campylobacter atau salmonella tergantung masing-masing negara (Guarino
Alfredo, 2014).

2.8.3 Manifiestasi Klinik

Terdapat gejala klinik pada diare infeksi karena virus dan bakteri, yaitu
berupa demam tinggi ≥40oC, terdapat darah pada feses dan sakit perut. muntah
dan pernapasan merupakan gejala yang berhubungan dengan diare yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


44

disebabkan oleh virus.terapat tanda klinik gastroenteritis akut yang bersal dari
bakteri dengan diare yang disebabkan karena virus, yaitu anak-anak dengan
infeksi virus dengan frekuensi muntah yang lebih sering daripada anak-anak
dengan infeksi karena bakteri.

2.8.4 Pengobatan Diare Akut Infeksi


a. Rehidrasi
Penggunaan oralit merupakan penanganan pertama pada anak dengan
gastroenteritis akut, oralit efektif dalam mengurangi output tinja, mengurangi
muntah dan mengurangi kebutuhan untuk terapi IV tambahan. World Health
Organization (WHO) menetapkan standar cairan rehidrasi oral (oralit) harus
mengandung natrium, kalium, klorida, sitrat, dan glukosa. Meskipun oralit
membantu dalam manajemen diare, namun oralit tidak dapat mengurangi
durasi diare atau volume tinja.
Dalam rangka mengoptimalkan khasiat oralit, WHO merekomendasikan
oralit dimodifikasi dengan mengurangi osmolaritasnya, administrasi seng
glukonat, karbohidrat yang tidak dicerna, tepung beras, dan semua bakteri
probiotik dengan hasil yang beragam. Di negara-negara berkembang, upaya
untuk rehidrasi mengguna kan cairan rumah tangga sering memperburuk
kehilangan cairan usus dengan meningkatkan beban osmotik dan
mengganggu penyerapan air dan elektrolit (Dover Arthur, 2015).

b. Manajemen Nutrisi
Guidline dari Europeas Society for Pediatric Gastroenterology,
Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) / European Society of Pediatric
Infectious Disease (ESPID) dan institute nasional untuk pedoman kesehatan
dan perawatan keunggulan setuju pada rekomendasi yang berhubungan
dengan diagnosis dan pengelolaan gastroenteritis akut, termasuk rehidrasi
oral yang cepat. semua pedoman menyatakan bahwa menyusui harus terus
berlanjut sepanjang rehidrasi, sebuah diet yang sesuai sesuai dimulai selama
atau setelah rehidrasi awal (4-6 jam).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


45

2.8.5 Terapi Farmakologi


1. Antiemetik

Ondansetron :Ondansetron yang digunakan tersedia dan diberikan secara


oral atau intravena, efektif pada anak-anak dengan muntah yang
berhubungan dengan gastroenteritis. ondansetron tidak direkomendasikan
pada anak-anak dengan gastroenteritis akut moderat sampai berat,karena
salah satu efek samping yang paling umum pada ondansetron adalah
peningkatan frekuensi diare (Guarino Alfredo, 2014).

Berdasarkan penelitian secara RCT menunjukkan bahwa ondansetron dan


domperidone dapat digunakan dalam mengobati anak-anak menderita
gejala AGE (Acute Gastroenteritis). Keduanya menunjukkan khasiat yang
dapat diterima anak-anak serta profil keamanan yang baik. Kebanyakan
Anak-anak yang dapat mentolerir dosis pertama dapat dengan aman
dipulangkan setelah petunjuk penting untuk orang tua disediakan.
Sebagian besar pasien akan pulih dari gejala mereka dalam waktu 72 jam
setelah dimulainya pengobatan. Ondansetron dapat dianggap sebagai
alternatif yang aman sebanding dengan domperidone yang sering
digunakan pada anak-anak Thailand yang menderita gejala gastroenteritis.
uji klinis lebih besar diperlukan untuk lebih mengeksplorasi efektivitas
kedua obat tersebut. Namun, terlihat kecenderungan khasiat yang lebih
baik pada ondansetron, penelitian ini tidak bisa menunjukkan perbedaan
yang signifikan antara ondansetron dan domperidone dalam
mengendalikan muntah pada pasien dengan AGE. Namun, pasien dalam
kelompok domperidone rata-rata harus menerima jumlah dosis yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pasien dalam kelompok ondansetron.
Pemilihan domperidone karena umumnya domperidone banyak digunakan
pada masyarakat asia khususnya di Thailand (Reksuppaphol, 2013).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


46

2. Antimotalitas atau obat antiperistatik


Loperamide :penggunaan loperamide tidak dianjurkan dalam manajemen
pengobatan gastroenteritis akut pada anak.

3. Adsorben
Diosmectite : diosmectite dapat digunakan dalam management untuk
gastroenteritis akut, namun masih belum direkomendasikan dalam
pengobatan untuk anak karena hanya bermanfaat pada anak yang terkena
diare karena rotavirus (Guarino Alfredo, 2014).

4. Obat Antisecretory
Zinc : penggunaan zinc untuk anak dengan usia > 6 bulan di negara
berkembang sangat bermanfaat karena dapat mengurangi durasi dari diare
pada anak. suplemen zinc secara oral untuk penanganan diare akut dan
persisten telah terbukti dapat mengurangi durasi, tingkat keparahan,
frekuensi dan mortalitas diare pada anak-anak berusia kurang dari 5 tahun.
Zinc dapat mencegah serangan diare dalam 2-3 bulan setelah suplementasi.
Tidak ada studi menunjukkan efek samping yang serius dari zinc pada
anak-anak muda dengan diare (Samani Nijamudin.,dkk, 2014).

5. Probiotik
Probiotik efektif dalam mengurangi durasi dan intensitas gejala
gastroenteritis.probiotik dapat digunakan pada anak dengan gastroenteritis
akut. bukti baru telah mengkonfirmasi bahwa probiotik efektif dalam
mengurangi durasi gejala gastroenteritis akut pada anak.

f. Antibiotik
1. Shigella spp : antibiotik pilihan utama untuk shigella adalah
azitromycin yang digunakan selama 5 hari dengan dosis 12
mg/kg/hari secara oral dan caftriaxone yang digunakan dengan
dosis 50 mg/kg selama 2-5 hari secara IV atau IM (Guarino

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


47

Alfredo, 2014). Di Amerika Serikat shigella sudah resistent dengan


antibiotik ampicilin dan trimetroprim/sulfametoxazole. Isolat dari
Shigella yaitu S.flexneri (78%) lebih resisten terhadap amoxicilin
daripada S.sonnei (12,5%), namun keduanya memiliki tingkat
resisten yang tidak jauh berbeda dengan obat cotrimoxazole
(Langedorf Celine, Simon Le Hello.,dkk, 2015).
2. Salmonella spp : antibiotik pilihan utama untuk salmonella adalah
ceftriaxone dengan dosis anak-anak 50-100 mg/kg/hari selama 2-5
hari. lebih efektif dibandingkan golongan beta laktam (ampicilin).
3. Campylobacter : campylobacter ssp menggunakan antibiotik
azithromycin dengan dosis 30 mg/kg (Guarino Alfredo, 2014).
Ciprofloxacin, tetracycline merupakan antibiotik alternatif namun
tidak boleh diberikan pada anak-anak (Medscape, 2016).
4. E.coli : E.coli biasanya terjadi pada traveler’s diarrhea atau
pelancong, antibiotik yang biasa digunakan adalah azithromycin
dengan dosis 10 mg/kg/hari selama 3 hari (Guarino Alfredo, 2014).
Trimetroprim-sulfametoxazole juga digunakan untuk mengatasi
diare yang disebabkan karena e.coli dengan dosis 8 mg/kg/hari
(Guarino Alfredo ,2014; Lynn Jennifer ,2015).
5. Vibrio cholerae : antibiotik yang digunakan untuk mengatasi diare
yang disebabkan oleh vibrio cholerae adalah azithromycin dengan
dosis 10 mg/kg/hari dengan single dose 20 mg/kg (Guarino
Alfredo, 2014).
6. Giardiasis : antibiotik yang digunakan adalah metronidazole
dengan dosis 5 mg/kg 3x perhari selama 5 hari.
7. Clostridium difficle : antibiotik yang digunakan adalah
metronidazole dengan dosis 30 mg/kg/hari selama 10 hari (Guarino
Alfredo, 2014). Berdasarkan hasil uji meta analisis, vancomycin
dipilih sebagai antibiotik pilihan utama untuk clostridium difficle
kategori severe (Braz J, 2015).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


48

8. Candida Albicans : antifungal yang digunakan adalah fluconazole


dengan dosis 6-12 mg/kg/hari dan juga itraconazole dengan dosis
5-10 mg/kg/hari 2x sehari (Allen UD, 2010)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Rekam Medik Pasien Diare Akut Memenuhi


Infeksi Pediatri (40 Pasien) Kriteria Inklusi
dan Ekslusi
Periode Januari – Desember 2015

Karakteristik Pasien :

 Usia
 Berat Badan
 Jenis Kelamin
 Obat Diare  Penyakit penyerta
Akut Infeksi
Pediatri
 Obat lain

Drug Related Problems

Interaksi
Ketidaktepatan obat
pemilihan obat

Indikasi tanpa Obat tanpa Dosis obat Dosis obat


obat indikasi melebihi dosis kurang dari
terapi dosis terapi

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

49 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


50

3.2 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Nama Variable Definisi Cara Skala Kategori


Operasional Pengukuran ukur
1 Karakteristik
Pasien :
1) Jenis 1) Kondisi fisik membaca data
kelamin yang rekam medik Nominal 0: laki-laki
menentukan pasien 1:perempuan
status
seseorang laki-
laki atau
perempuan

2) Usia 2) Lamanya membaca data Rasio 2-12 tahun


Pediatri hidup rekam medik (Prest, 2003)
seseorang pasien
dilihat dari
tanggal lahir
atau ulang
tahun terakhir.
2 Penyakit Penyakit lain Melihat data Nominal 0: Tidak
Penyerta selain diare akut rekam medis Terdapat
a. Deman yang dialami oleh pasien Penyakit
b. TBC pasien. Penyerta
c. Mual 1: Terdapat
d. Demam Penyakit
tifoid Penyerta
e. kejang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


51

f. ISPA
g. DHF
h. Hipokalemia
i. Pneumonia
j. Diabetik

3 Obat Diare Akut Obat yang Dengan Pasien


Pediatri: digunakan dalam membaca data mendapat
a. Oralit pengobatan diare rekam medik pengobatan
b. Zinc akut baik itu obat- pasien Diare akut
c. Antibiotik obatan kimiawi
d. Probiotik ataupun non
kimiawi.
4 Drug Related Masalah yang Dengan Nominal 1: Terjadi
Problems timbul karena melihat rekam DRPs
penggunaan obat- medik pasien 0: Tidak
obat diare akut terjadi DRPs
pediatri yang
telah diresepkan.
Berupa :
 Ketidaktepatan
pemilihan obat
 Indikasi tanpa
obat
 Obat tanpa
indikasi
 Dosis obat
melebihi dosis
terapi
 Dosis obat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


52

kurang dari
dosis terapi
 Interaksi Obat.
5 Dosis Takaran obat Dengan Nominal 0 : Tepat
dengan jumlah melihat catatan Dosis
tertentu yang rekam medik 1 : Tidak
diberikan kepada pasien, Tepat dosis
pasien diare akut Dikatakan
pediatri. tepat dosis,
jika dosis yang
diberikan
sesuai dengan
dosis yang ada
di
formularium.
Dikatakan
tidak tepat
dosis jika dosis
yang diberikan
kurang atau
melebihi dosis
yang terdapat
pada
formularium.
6 Interaksi Obat Keadaan yang Melihat Nominal 1 : Terdapat
terjadi ketika kita referensi pada interaksi obat
menggunakan 2 Drugs.com, 2 : Tidak
atau lebih jenis Medscape, terdapat
obat. ,Pediatric Interaksi obat
Dossage

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


53

Handbook dan
Drug
Information
Handbook.
7 Indikasi tanpa Pasien pengalami Melihat data Nominal 1: Terdapat
obat indikasi namun rekam medik indikasi
tidak diberikan pasien. tanpa obat
obat untuk 2: Tidak
indikasi tersebut. terdapat
indikasi
tanpa obat.
8 Obat tanpa Pasien Melihat data Nominal 1: Terdapat
indikasi menggunakan rekam medik Obat Tanpa
obat yang tidak pasien, Indikasi
sesuai dengan kemudian 2: Tidak
indikasi dibandingkan Terdapat
penyakitnya dengan Obat Tanpa
(Cipolle, dkk, Guidlines Indikasi.
dikutip dalam penyakit diare
depkes RI,2005). pada anak.
9 Ketidaktepatan Pasien menerima Dengan Nominal 1: Tepat obat
pemilihan obat obat yang tidak melihat data 2: Tidak
efektif mengobati rekam medik tepat obat
penyakitnya. pasien,
kemudian
dibandingkan
dengan
Guidlines
penyakit diare
pada anak.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.1.1 Lokasi Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit “X” di Kota Tangerang Selatan,
Banten 15417.

4.1.2 Waktu Penelitian


Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai
dengan Juni 2016.

4.2 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross sectional,
yaitu pengumpulan data variabel untuk mendapatkan gambaran evaluasi Drug
Related Problems pada pasien diare akut pediatri, diharapkan dengan desain
penelitiaan ini tujuan pengambilan data dapat tercapai.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian

4.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diare akut anak yang
diarawat inap di RS “X” di Kota Tangerang Selatan periode Januari-Desember
2015 yaitu sebanyak 98 sampel.

4.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah bagian dari populasi yang memenuhi
kriteria inklusi dan ekslusi yaitu sebanyak 40 sampel, sehingga besar sampel
dalam penelitian ini adalah sebanyak 40 sampel. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan adalah total sampling, yaitu semua rekam medis pasien yang
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi diambil sebagai penelitian.

54 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


55

4.3.2.1 Kriteria Inklusi Sampel


Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili
dalam sampel penelitian, memenuhi syarat sebagai sampel. Kriteria inklusi untuk
sampel kasus dalam penelitian ini ialah :

1) Pasien diare akut anak yang dirawat inap di Rumah Sakit “X” di Kota
Tangerang Selatan pada bulan Januari- Desember 2015.
2) Pasien anak usia 2-12 tahun.
3) Pasien dengan rekam medik yang lengkap.
4) Pasien dengan diare yang disebakan karena infeksi bakteri dan jamur.

4.3.2.2 Kriteria Eksklusi Sampel


Kriteria ekslusi merupakan keadaan yang menyebabkan subjek tidak dapat
diikutsertakan dalam penelitian. Adapun yang termasuk kriteria eksklusi adalah:

1) Pasien yang tidak memiliki rekam medis lengkap dan jelas. Lengkap dan
jelas seperti terdapat nomor rekam medis,identitas pasien (nama, jenis
kelamin, dan usia), tanggal perawatan pasien.
2) Pasien pulang paksa.
3) Pasien dengan diare karena alergi dan virus.

4.4 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan metode


retrospektif yaitu dengan menggunakan data rekam medik pasien meliputi :

a. Kriteria Pasien:
1. Nama Pasien
2. Jenis kelamin
3. Usia Pasien
4. Berat badan pasien
5. Penyakit penyerta
6. Nomor rekam medik pasien
7. Diagnosa penyakit, riwayat penyakit pasien dan
keluhan pasien

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


56

8. Tanggal perawatan
b. Data Penggunaan Obat, yaitu:
1. Obat diare akut infeksi
2. Obat lain
3. Dosis obat

4.5. Prosedur Penelitian


4.5.1 Persiapan
1. Pembuatan dan penyerahan surat permohonan izin pelaksanaan
penelitian dari Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kepada Kepala Instalasi
RS “X” di Kota Tangerang Selatan.
2. Penyerahan surat persetujuan penelitian dari RS”X” di Kota Tangerang
Selatan kepada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4.5.2 Pengolahan Data

1. Editing data.
Sebelum melakukan penilaian pada data mentah, terlebih dahulu
dilakukan pemeriksaan kembali kebenaran data yang diperoleh dan
mengeluarkan data yang tidak memenuhi kriteria penelitian.
2. Coding data.
Coding berupa kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap
data yang terdiri atas beberapa kategori. Penelitian melakukan coding
terhadap data yang terpilih dari proses seleksi untuk mempermudah
analisis di program Microsoft Excel.
3. Entry data.
Setelah dilakukan coding lalu data dimasukan ke dalam program
Microsoft Excel dalam bentuk tabel.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


57

4. Cleaning data.
Data yang sudah dimasukan diperiksa kembali sebelum dilakukan
analisis lebih lanjut, untuk menghindari terjadinya ketidaklengkapan
atau kesalahan data.

4.6 Analisis Data

Analisis data yang dilakukan menggunakan program Microsoft Excel 2010


dan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Variabel
dianalisis dengan menggunakananalisa univariat dan bivariat.

4.6.1 Analisis Univariat.

Analisis univariat adalah analisis yang digunakan untuk menganalisis


setiap variabel (terikat maupun bebas) yang akan diteliti secara deskriptif
(Notoatmodjo,2003). Tujuannya adalah untuk melihat sebaran data setiap
variabel. Adapun analisis data dengan menggunakan analisis univariat adalah:

1) Karakteristik pasien:
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Penyakit penyerta
2) Penggunaan obat diare akut infeksi
4.6.2 Analisis bivariat.

Analisis bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang
diduga berhubungan / berkorelasi dan untuk melihat kemaknaan antara variabel.
Adapun pengolahan data dengan menggunaan analisis bivariat adalah penggunaan
obat diare akut infeksi dan Penyakit Penyerta terhadap Drug Related Problems
(DRPs) yang meliputi indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, ketidaktepatan
pemilihan obat, dosis dibwah dosis terapi, dosis melebihi dosis terapi dan
interaksi obat.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian


5.1.1 Karakteristik Pasien
Demografi pasien meliputi jenis kelamin, usia, dan jenis penyakit
penyerta. Evaluasi Drug Related Problems pada pasien yang digambarkan secara
deskriptif dalam bentuk persentase. Jumlah pasien diare akut di RS “X” di Kota
Tangerang Selatan, terdapat 98 pasien anak yang menderita diare akut karena
infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta, dan didapat 40 pasien yang masuk
kriteria inklusi dan ekslusi. Dalam penelitian ini, pasien yang memenuhi kriteria
inklusi adalah pasien rawat inap anak dengan diare akut infeksi yang memiliki
rekam medik yang lengkap.

Tabel 5.1 Karakteristik Pasien Penyakit Diare Akut Infeksi di RS “X” di Kota
Tangerang Selatan Periode Januari-Desember 2015, Berdasarkan
Jenis Kelamin.

Karakteristik Pasien N Presentase (%)


Berdasarkan Jenis Kelamin
Laki-laki 24 60
Perempuan 16 40
Total 40 100
Berdasarkan Usia Pasien
2-5 tahun 36 90
6-12 tahun 4 10
Total 40 100
Berdasarkan penyakit penyerta
Status penyakit penyerta
Tanpa penyakit penyerta 23 57,50
Dengan penyakit penyerta 17 42,50
Total 40 100

58 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


59

Jenis penyakit penyerta


Kejang Demam Kompleks 8 47,05
(KDK)
Anemia 3 17,64
Tuberculosis 2 11,76
Infeksi Saluran Pernafasan 1 5,88
Atas (ISPA)
Diabetik 1 5,88
Hiperpirexia 1 5,88
Demam tifoid 1 5,88
Total 17 100

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa pasien anak yang menderita
diare akut karena infeksi yang paling banyak adalah pasien anak dengan jenis
kelamin laki-laki yaitu sebanyak 24 pasien (60 %) sedangkan yang berjenis
kelamin perempuan hanya sebanyak 16 pasien (40%). Pasien anak yang menderita
diare akut karena infeksi yang paling didominasi usia 1-5 tahun yaitu sebanyak 36
pasien (90 %) sedangkan sisanya anak usia 6-12 tahun hanya sebanyak 4 pasien
(10 %). Jenis penyakit penyerta yang paling banyak terjadi pada pasien anak yang
menderita diare akut infeksi di instalasi rawat inap RS “X” di Kota Tangerang
Selatan adalah Kejang Demam Kompleks (KDK) yaitu sebanyak 8 pasien
(47,05%), diikuti anemia sebanyak 3 pasien (17,64%), tuberculosis sebanyak 2
pasien (11,76%) serta penyakit lainnya yang berada dibawah 10% (ISPA,
diabetik, hiperpirexia dan demam tifoid).

5.1.2 Penggunaan Obat Pada Pasien Diare Akut Infeksi


Profil penggunaan obat pada pasien anak rawat inap yang menderita diare
akut dengan dan tanpa penyakit penyerta di RS “X” di Kota Tangerang Selatan
dapat dilihat pada tabel berikut:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


60

Tabel 5.2 Data Distribusi Penggunaan Obat Pasien Diare Akut Infeksi di RS “X”
di Kota Tangerang Selatan Periode Januari- Desember 2015.

Golongan Terapi Obat N Presentase (%)

1 Obat diare akut Infeksi


Cairan Rehidrasi Oral
 Oralit 13 5,01
Cairan Rehidrasi Parenteral
 IVFD KaEN 3B 25 9,65
 IVFD Ringer Laktat 5 1,93
 IVFD Asering 5 1,93
Antibiotik
 Cefotaxime 3 1,1
 Gentamycin 1 0,38
 Ceftriaxone 26 10,03
 Metronidazole 5 1,93

 Meropenem 1 0,38

 Cefixime 1 0,38

Probiotik 40 15,44
Suplemen Zinc 39 15,05
2 Obat Lain

Diazepam 9 3,47
Candistatin 4 1,54
Ambroxol 3 1,15
Paracetamol 28 10,81
Ondancentron 23 8,88
KSR 4 1,54
Methisoprinol 5 1,93
Omeprazole 1 0,38
Dexamethasone 2 0,77
Phenytoin 2 0,77
Phenobarbital 1 0,38
Ranitidine 8 3,08
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
61

Ferriz 1 0,38
Furosemide 2 0,77
Captopril 1 0,38
Spironolactone 1 0,38

Total 259 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pasien anak yang menderita diare
akut karena infeksi, obat yang paling banyak digunakan adalah probiotik yaitu
lacto B sebanyak 40 pasien (15,44%) lalu penggunaan suplemen zinc yang
digunakan 39 pasien (15,05%), dan sebanyak 37 pasien menggunakan obat
golongan antibiotik (cefotaxime 3+ gentamicin 1+ ceftriaxone 26 + metronidazole
5 + meropenem 1 + cefixime 1) (14,2%) untuk penggunaan obat lainnya dibawah
11%. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.2.

5.1.2.1 Jumlah Penggunaan Obat


Berdasarkan profil penggunaan obat yang digunakan oleh pasien anak
dengan diare akut karena infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta pada bulan
Januari sampai dengan Desember 2015 bahwa total penggunaan obat selama
dirawat inap sebanyak 259 jenis obat. Terdapat pengelompokan jenis penggunaan
obat yang terdapat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Data Distribusi Jenis Penggunaan Obat Pasien Anak Diare Akut Infeksi
di Instalasi Rawat Inap RS “X” di Kota Tangerang Selatan Periode
Januari-Dsemeber 2015

Jenis Penggunaan Obat Pasien Jumlah Pasien


1-5 obat 11
6-10 obat 28
>10 obat 1
Total 40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


62

Dari Tabel 5.3 dapat dilihat jumlah penggunaan obat pada pasien anak
yang menderita diare akut infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta selama
dirawat. Jumlah penggunaan obat 6-10 obat merupakan jenis obat yang paling
banyak diterima pasien yaitu sebanyak 28 pasien, diikuti jenis obat 1 – 5 obat
sebanyak 11 pasien dan sebanyak 1 pasien yang menerima jenis obat > 10 obat.
Jumlah seluruh obat yang diterima oleh 40 pasien anak yang menderita diare akut
dengan dan tanpa penyakit penyerta yang dianalisa adalah sebanyak 259 terapi
obat (Tabel 5.2).

5.1.3 Drug Reated Problems (DRPs)


Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien digambarkan secara
deskriptif dalam bentuk presentase. Kejadian Drug Related Problems (DRPs)
pada pasien anak diare akut karena infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta di
RS “X” di Kota Tangerang Selatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.4 Data Distribusi Pasien Berdasarkan Kategori DRPs Pada Pasien Anak
Diare Akut Infeksi di RS “X” di Kota Tangerang Selatan Periode
Januari- Desember 2015
Kategori DRPs Pasien Presentase (%) Frekuensi Presentase (%)
(N=40) (N=93)

Obat Tanpa Indikasi 6 15 9 9,67


Indikasi Tanpa Obat 8 20 8 8,60
Ketidaktepatan Pemilihan 2 5 2 2,15
Obat
Ketidaktepatan
Penyesuaian Dosis
a. Dosis obat melebihi 21 52,50 28 30,10
dosis terapi
b. Dosis obat kurang dari 12 30 17 18,27
dosis terapi
Interaksi Obat 12 30 29 31,18
Total 93 100

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


63

Hasil dari tabel diatas terlihat bahwa kategori DRPs yang paling tinggi
adalah interaksi obat sebesar 31,18% lalu dosis obat melebihi dosis terapi sebesar
30,10%, diikuti dosis obat kurang dari dosis terapi sebesar 18,27%, obat tanpa
indikasi sebesar 9,67%, indikasi tanpa obat sebesar 8,60% dan untuk
ketidaktepatan pemilihan obat sebesar 2,15%.

5.1.4 Hasil Analisa Bivariat


5.1.4.1 Analisa Hubungan Antara Jumlah Penyakit Penyerta dengan DRPs
Berdasarkan analisis hubungan penyakit penyerta dengan DRPs
menggunakan metode Chi-Square dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Gambar 5.1 Hasil Analisis Hubungan Antara Penyakit Penyerta dengan DRPs
Pada Pasien Diare Akut Infeksi di RS “X” di Kota Tangerang
Selatan Periode Januari- Desember 2015.
Kejadian DRPs
Tidak terjadi DRPs Terjadi DRPs
Penyakit penyerta N % N % Nilai P
Tanpa penyakit 8 40 12 60
penyerta
Dengan penyakit 2 10 18 90 0,028
penyerta
Total 10 25 30 75

Dari gambar 5.1 Menunjukkan bahwa pengaruh penyakit penyerta


terhadap DRPs dengan menggunakan metode Chi-Square didapatkan P = 0,028
(P< 0,05), maka diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara penyakit penyerta dengan DRPs.

5.1.4.2 Analisis Hubungan Antara Jumlah Obat dengan DRPs


Berdasarkan analisis hubungan jumlah obat dengan DRPs menggunakan
metode Chi-Square dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


64

Gambar 5.2 Hasil Analisis Hubungan Antara Jumlah Penggunaan Obat dengan
DRPs di RS “X” di Kota Tangerang Selatan periode Januari-
Desember 2015.
Kejadian DRPs
Tidak terjadi DRPs Terjadi DRPs
Jumlah Obat N % N % Nilai P
1-5 obat 5 50 5 50
6-10 obat 5 17,2 24 82,8
> 10 obat 0 0 1 100 0,100
Total 10 25 30 75

Dari gambar 5.2 Menunjukkan bahwa pengaruh jumlah jenis obat terhadap
DRPs dengan menggunakan metode Chi-Square didapatkan P = 0,100 (P > 0,05),
maka diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
jumlah jenis obat dengan kejadian DRPs.

5.2 Pembahasan
5.2.1 Karakteristik Pasien
Berdasrkan tabel 5.1, pasien anak yang menderita diare akut karena infeksi
yang paling banyak adalah anak dengan jenis kelamin laki-laki, hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan Santoso (2005) yang menyatakan bahwa
resiko kesakitan diare pada anak perempuan lebih rendah dibandingkan dengan
anak laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh La Ode (2014) di daerah Kendari
menunjukan bahwa sebagian besar yang menderita diare adalah anak dengan jenis
kelamin laki-laki yaitu sebesar 65,8% sedangkan untuk anak perempuan yang
menderita diare hanya sebesar 29,78%. Penelitian serupa dilakukan oleh Iswari
Yeni pada tahun 2011 dengan besar sampel sebanyak 108 responden, sebagian
besar anak yang menderita diare akut karena infeksi berjenis kelamin laki-laki
dengan 72 pasien (66,7%). Hasil dari ketiga penelitian tersebut sama-sama
mengungkapkan bahwa diare lebih sering terjadi pada anak laki-laki hal tersebut
sejalan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (2013), dimana pasien diare akut lebih
banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar (5,5%).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


65

Berdasarkan hasil penelitian, usia pasien anak yang menderita diare akut
karena infeksi yang paling banyak adalah anak dengan usia 2-5 tahun yakni
sebanyak 36 pasien sedangkan sisanya anak dengan usia 6-12 tahun yaitu
sebanyak 4 pasien. Pada anak dengan kelompok usia 2-5 tahun rentan terkena
infeksi bakteri penyebab diare pada saat bermain di lingkungan yang kotor serta
melalui cara hidup yang kurang bersih. Selain itu hal ini terjadi karena secara
fisiologis sistem pencernaan pada anak belum cukup sempurna sehingga rentan
terkena penyakit saluran pencernaan seperti diare (Juffrie, 2010). Hasil penelitian
Sumali M.Atmojo (1998) menunjukan bahwa besar pengaruh umur anak terhadap
frekuensi kejadian diare hanya sebesar 8,77%. Hasil survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia tahun 1991 (BPS, 1993) menemukan bahwa semakin muda
usia anak maka semakin besar kecenderungan terkena penyakit diare, kecuali pada
kelompok usia kurang dari 6 bulan, yang mungkin disebabkan makanan bayi
masih sangat tergantung pada Air Susu Ibu (ASI). Tingginya angka diare pada
anak yang berusia semakin muda dikarenakan semakin rendah usia anak maka
daya tahan tubuhnya terhadap infeksi penyakit terutama penyakit diare semakin
rendah, terlebih lagi jika status gizinya kurang dan berada pada lingkungan yang
kurang memadai (Sinthamurniwaty, 2006).
Berdasarkan tabel 5.1 penyakit penyerta terbanyak adalah KDK (Kejang
Demam Kompleks) yang diderita 8 pasien, kemudian diikut oleh anemia sebanyak
3 pasien, lalu TBC sebanyak 2 pasien. Kejang umumnya terjadi pada 24 jam
pertama dan berhubungan dengan infesi saluran pernafasan akut, infeksi saluran
kemih serta gangguna gastroenteritis. Penyakit gastroenteritis menimbulkan
manifestasi klinis yaitu demam, dan hal tersebut dapat memicu terjadinya kejang
karena peningkatan 1oC dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan basal
metabolisme 10-15% dan juga peningkatan kebutuhan oksigen sehingga
mengganggu stabilitas membran sel. Ion Na+ pada keadaan normal lebih
mendominasi diluar sel karena kejadian demam pada tubuh sehingga ion Na+
berdifusi kedalam sel sehingga terjadilah depoarisasi yang memicu timbulnya
bangkitan kejang (Nugroho W, 2014).
Menurut United Nations International Childrens Emergency Fund
(UNICEF) pada tahun 1998, diare dapat memperberat kejadian anemia. Di

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


66

Indonesia anemia disebabkan karena kekurangan zat besi, penyakit diare dapat
mengganggu nafsu makan yang akhirnya dapat menurunkan tingkat konsumsi gizi
dan mengakibatkan kekurangan zat besi.

5.2.2 Penggunaan Obat Diare Akut Infeksi


Berdasarkan hasil penelitian pasien anak yang menderita diare akut
infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta paling banyak menggunakan zinc
probiotik dalam penanganan kasus diare akut infeksi.
Pada pasien yang menderita diare, dehidrasi merupakan gejala yang paling
sering dijumpai. Dehidrasi memicu gangguan kesehatan mulai dari gangguan
ringan seperti mudah mengantuk hingga penyakit berat seperti penurunan fungsi
ginjal. Pada awalnya anak akan merasa haus karena telah terjadi dehidrasi, bila
tidak ditolong dehidrasi akan bertambah berat dan timbul gejala-gejala diare. Oleh
karena itu pengobatan awal untuk mencegah dan mengatasi keadaan dehidrasi
sangat penting pada anak dengan diare. Pemberian cairan yang tepat dengan
jumlah yang memadai merupakan modal yang utama untuk mencegah dehidrasi.
Cairan harus diberikan sedikit demi sedikit dengan frekuensi sesering mungkin.
Hasil penelitian dari tabel 5.2 menunjukan bahwa pengobatan diare anak yang
menggunakan cairan rehidrasi oral sebanyak 13 pasien dan penggunaan cairan
rehidrasi secara parenteral sebanyak 35 pasien. Pemberian terapi cairan pengganti
merupakan pengobatan utama pada penyakit diare yaitu dengan menggunakan
cairan elektrolit (Depkes, 2010).
Pengobatan selanjutnya dengan pemberian terapi zinc, setelah penderita
diare diketahui derajat dehidrasinya maka pasien diberi tablet zinc yang berguna
untuk menguramhi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi volume air
besar, mengurangi volume tinja dan menurunkan kekambuhan diare pada tiga
bulan berikutnya (Fontaine, 2008). Hasil dari tabel 5.2 menunjukan pasien yang
menerima terapi zinc sebesar 39 pasien yang menerima terapi zinc. WHO dan
UNICEF merekomendasikan penggunaan zinc karena berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa pengobatan diare dengan pemberian oralit disertai zinc lebih
efektif dan berdasarkan studi WHO selama lebih dari 18 tahun, manfaat zinc

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


67

sebagai pengobatan diare adalah zinc dapat mengurangi prevalensi diare sebesar
34%, mengurangi durasi diare akut sebesar 20% (Kemenkes RI, 2011).
Sebanyak 40 pasien diberi terapi berupa probiotik. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan Shinta Ken dkk tahun 2011 probiotik diketahui memiliki dampak
yang menguntungkan dalam pengobatan diare akut pada anak. Probiotik dapat
mengurangi frekuensi dan durasi diare dengan meningkatkan respon imun,
produksi substansi antimikroba dan menghambat pertumbuhan kuman patogen
penyebab diare, diharapkan dengan dampaknya terhadap sistem imunitas,
probiotik dapat dijadikan referensi sebagai terapi tambahan yang efektif pada
diare akut infeksi, mengurangi beban ekonomi dengan menurunkan frekuensi dan
durasi diare sehingga menurunkan lama rawat inap di rumah sakit.
Penggunaan antibiotik pada penderita diare akut infeksi dibutuhkan untuk
mengatasi infeksi yang disebabkan bakteri dan jamur. Pemberian antibiotik yang
tidak tepat dapat membunuh flora normal yang justru dibutuhkan tubuh. Anak
memiliki risiko mendapatkan efek merugikan lebih tinggi akibat infeksi bakteri
karena sistem imunitas anak yang belum berfungsi secara sempurna dan beberpa
antibiotik yang cocok digunakan pada dewasa belum tentu tepat jika diberikan
kepada anak-anak karena proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi
obat termasuk antibiotik berbeda pada anak dan orang dewasa, sehingga bisa
terjadi perbedaan respon terapeutik atau efek samping. Efek samping dari
penggunaan antibiotik yang tidak rasional adalah timbulnya gangguann fungsi
ginjal dan hati. Hal ini juga akan mengeluarkan biaya pengobatan yang
seharusnya tidak diperlukan (Kemenkes, 2011). Hasil penelitian menunjukan
jenis antibiotik yang ditunjukan untuk terapi diare yaitu paling banyak diberikan
adalah ceftriaxone sebanyak 26 pasien dan metronidazole sebanyak 5 pasien.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat baik dalam hal indikasi, maupun cara
pemberian akan merugikan penderita serta dapat menimbulkan efek samping. Hal-
hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian dosis yang tepat bagi anak-anak
dengan cara memperhaikan keadaan patofisiologi pasien secara tepat, diharapkan
dapat memperkecil edek samping yang akan terjadi (Prest, 2003).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


68

5.2.2.1 Jumlah Penggunaan Obat Diare Akut Infeksi


Pasien diare akut selama dirawat tidak hanya menerima obat untuk
mengurangi gejalanya tetapi juga obat lain untuk mengatasi masalah penyakit
penyerta dan keluhan lain yang dialami pasien diare akut, sehingga jumlah obat
yang digunakan oleh pasien bervariasi. Penggunaan obat yang lebih dari satu yang
diterima oleh pasien dapat disebut dengan polifarmasi, penggunaan obat lebih dari
satu dapat menyebabkan masalah ketidaksesuaian pengobatan seperti interaksi
obat, ketidakpatuhan pasien dan efek samping obat yang tidak diinginkan (Hajar,
dkk.,2007).
Contoh pada pasien nomor 31 yang menggunakan 10 obat selama
perawatan. Pada pasien tersebut, banyak terjadi interaksi obat seperti yang terlihat
pada lampiran, salah satu obat yang menimbulkan interaksi obat adalah
fenobarbital dengan obat fenitoin dimana Fenobarbital akan menghambat
metabolisme dari fenitoin dengan menginduksi enzim CYP450 sehingga
mengakibatkan penurunan aktivitas fenitoin.

5.2.3 Drug Related Problems (DRPs)


Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) mendefinisikan Drug
related problems (DRPs) adalah suatu kondisi kejadian terkait dengan terapi obat
yang secara nyata atau potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang
diinginkan (PCNE, 2010). Pada pemberian terapi untuk pasien anak yang
menderita diare akut karena infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta
cenderung mengalami DRPs karena pada pasien anak faktor fisiologis yang belum
sempurna sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam pemberian obat-obatan.
Pada masalah ini, peran farmasi sangat dibutuhkan untuk meminimalisir
terjadinya DRPs pada penggunaan obat. Evaluasi DRPs sangat mendukung untuk
menghindari terjadinya DRPs, evaluasi ini bertujuan untuk menjadmin
pengobatan yang diberikan kepada pasien dapat mencapai efek terapi dan pasien
mendapat pengobatan yang aman, berkhasiat dan bermutu (Sari Novita, 2015).
Evaluasi DRPs terdiri dari beberapa kategori yaitu: ketidaktepatan pemilihan obat,
dosis obat kurang, dosis obat berlebih, indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi,
interaksi obat, dan ketidakpatuhan pasien. Namun, pada penelitian ini tidak
dilakukan evaluasi kategori ketidakpatuhan pasien dikarenakan penelitian ini

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


69

bersifat retrospektif. Pada evaluasi DRPs, pasien dikatakan mengalami DRPs pada
pengobatannya jika pasien mengalami salah satu dari kategori DRPs tersebut.
Pasien dikatakan tidak mengalami DRPs jika seluruh obat yang digunakan oleh
pasien tidak satupun mengalami DRPs. Gambaran penilaian evaluasi DRPs
berdasarkan pemberian obat pada pasien anak yang menderita diare akut infeksi
dengan dan tanpa penyakit penyerta di RS “X” di Kota Tangerang Selatan dapat
dilihat pada tabel 5.4.
Berdasarkan hasil penelitian oleh Septiani (2015) mengenai evaluasi
penggunaan obat pada pasien anak terkena diare pada pasien rawat inap di Rumah
Sakit X tahun 2014 diketahui bahwa dari 69 pasien yang termasuk kriteria inklusi
terdapat 32 kasus yang tidak tepat dosis yaitu kategori dosis kurang dari dosis
terapi sebanyak 28 kasus (40,48%) dan kategori dosis lebih dari dosis terapi
sebanyak 4 kasus (5,79%).
Penelitian serupa dilakukan La Ode (2014) di Rumah Sakit Bhayangkara
Kendari Sulawesi Tenggara pada tahun 2013 menunjukan bahwa DRPs yang
paling banyak terjadi adalah kejadian tidak tepat indikasi 19 kasus (46,3%).
DRPs lain berturut-turut adalah dosis obat terlalu tinggi sebanyak 8 kasus
(19,5%), dosis terlalu rendah sebanyak 4 kasus (9,7%).
Berdasarkan data DRPs pasien anak yang menderita diare akut karena
infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta di instalasi rawat inap RS “X” di Kota
Tangerang Selatan dapat dilihat bahwa jumlah DRPs yang paling banyak terjadi
adalah interaksi obat, hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Marselin (2008) di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta pada tahun 2007
menunjukan bahwa dari 32 pasien anak yang menderita diare, kejadian DRPs
yang paling banyak adalah kategori obat tanpa indikasi sebanyak 31 pasien
(98,87%), lalu kategori interaksi obat sebanyak 24 pasien (75%), dosis terlalu
rendah sebanya 11 pasien (34,375%), dan dosis terlalu tinggi sebanyak 2 pasien
(6,25%).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


70

5.2.3.1 DRPs Ketidaktepatan Pemilihan Obat


Ketidaktepatan pemilihan obat adalah suatu keadaan dimana pasien
mendapatkan terapi obat yang tidak tepat seperti obat bukan yang paling efektif,
pasien alergi atau kontraindikasi dan tidak sesuai dengan kondisi patologi pasien
(Sari Novita, 2015).
Hasil dari penelitian menunjukan terdapat 2 pasien yang mengalami
ketidaktepatan pemilihan obat yaitu pada pasien nomor 23 dan 25, berdasarkan
hasil uji laboratorium feses, pasien mengalami diare yang disebakan oleh jamur,
namun obat yang diberikan adalah cefotaxime, dimana mcefotaxime merupakan
antibiotik golongan cephalosporin generasi 3 untuk mengobati diare karena
infeksi bakteri. Seharusnya pasien menerima obat antifungal yaitu fluconazole
sesuai dengan formularium rumah sakit RS “X” kota Tangerang Selatan.
Fluconazole digunakan untuk candida species, cryptosporus neoformans dan
aspergillus dengan dosis 3 mg/kg/hari untuk mucosal candidosis dan 6-12
mg/kg/hari untuk systemic candidosis dan cryptococcosis (Richardson
Malcolm,Brian Jones, 2007).

5.2.3.2 DRPs Obat Tanpa Indikasi


Obat tanpa indikasi adalah suatu keadaan dimana pasien memperoleh
terapi obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit yang dideritanya. Pasien
dapat didiagnosa menderita diare akut yang disebabkan oleh berbagai faktor,
secara umum faktor resiko diare pada dewasa yang sangat berpengaruh terjadinya
penyakit diare yaitu faktor lingkungan ( tersedianya air bersih, jamban keluarga,
pembunagan sampah, pembuangan air limbah), prilaku hidup bersih dan sehat,
kekebalan tubuh, infeksi saluran pencernaan, alergi, malabsorbsi, keracunan, gizi,
keadaan sosial ekonomi serta sebab lain. Sedangkan faktor resiko terjadinya diare
selain faktor intrinsik dan ekstrinsik juga sangat dipengaruhi oleh prilaku ibu atau
pengasuhnya, karena untuk anak yang usianya kurang dari 5 tahun belum bisa
menjaga dirinya sendiri dan sangat tergantung pada lingkungannya, jadi apabila
ibu dari anak atau pengasuh anak tidak dapat mengasuh anak dengan baik dan
sehat, maka kejadian diare pada anak tidak dapat dihindari (Depkes RI, 2002).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


71

Penilaian untuk mendiagnosa pasien diare akut pertama-tama adalah


dengan melakukan pengamatan mengenai derajat dehidrasinya, untuk menentukan
pengobatan diare yang tepat berdasarkan derajat dehidrasinya, setelah itu
dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium lengkap pada
diare akut umumnya tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu seperti diare
dengan penyebab dasar yang tidak diketahui atau pada penderita dengan dehidrasi
berat (Juffrie, 2010). Pemeriksaan feses baik makroskopik maupun mikroskopik
dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti. Secara makroskopik
harus diperhatikan bentuk, warna feses, ada tidaknya darah, lendir dan lain-lain.
Pemeriksaan mikroskopik untuk melihat ada tidaknya leukosit, eritrosit, telur
cacing, parasit, bakteri dan lain-lain (Hadi, 2002). Pada diare akut yang
disebabkan karena infeksi terdapat gejala-gejala yang umum terjadi seperti
muntah, demam, nyeri perut dan juga kejang sehingga pasien biasanya menerima
obat-obatan tambahan untuk menangani gejala tersebut.
Berdasarkan hasil dari penelitian, terdapat 8 obat yang diberikan tanpa
indikasi, pasien nomor 1, 33 dan 34 menerima obat batuk berupa ambroxol selama
perawatan tanpa adanya indikasi dan keluhan batuk pada pasien tersebut baik
ketika pasien pertama kali masuk dan ketika masa perawatan di Rumah Sakit.
Pada pasien nomor 17 pasien didiagnosa menderita diare karena infeksi bakteri
dengan gejala demam naik turun, dan BAB lebih dari 3x sehari, pasien tidak
mengeluh mual dan muntah tapi terdapat obat mual muntah yang diberikan pada
pasien yaitu pasien diberikan ondansetron sebagai obat untuk mual dan muntah.

5.2.3.3 DRPs Indikasi Tanpa Obat


Indikasi tanpa obat adalah pemberian terapi tambahan pada pasien atas
dasar diagnosa yang ditegakan, sesuai dengan diagnosa yang tercantum di rekam
medik. Penilaian analisa DRPs indikasi tanpa obat pada pasien anak yang
menderita diare akut dengan dan tanpa penyakit penyerta didasarkan pada
diagnosa masuk pasien, kondisi pasien selama proses perawatan di rumah sakit,
hasil uji laboratorium dan hasil uji feses. Pasien dikatakan butuh tambahan obat
jika obat yang diterima pasien kurang lengkap dan kurang sesuai dengan keluhan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


72

pasien, hasil diagnosa pasien ketika masuk untuk dirawat di instalasi rawat inap
dan juga hasil uji laboratorium pasien.
Diare pada anak selain disebabkan oleh virus juga disebabkan oleh infeksi
bakteri dan jamur. Penyebab diare berupa infeksi masih menjadi permasalahan
yang serius di negara berkembang, diare akut karena infeksi dapat disertai
keadaan muntah-muntah atau demam, nyeri perut atau kejang perut. Pemberian
antibiotik adalah cara untuk menanggulangi diare yang disebabkan oleh infeksi
bakteri dan jamur, pemberian antibiotik diindikasikan pada pasian dengan gejala
dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses, dan
diare pada pelancong (Zein. U, 2004).
Menurut Kemenkes RI tahun 2011, pemberian antibiotik tanpa indikasi
untuk penderita diare pada tahun 2009 masih tergolong tinggi, dan provinsi
dengan jumlah penderita diarenya diberi antibiotik adalah Aceh, Lampung dan
Papua Barat masing-masing sebesar 100%, sementara provinsi dengan jumlah
penderita diare yang diberi antibiotik terendah adalah provinsi Sumatera Barat
(45,6%).
Hasil analisa data deskriptif pada tabel 5.4 menunjukan sebanyak 8 pasien
yang mengalami indikasi tanpa obat. Terdapat beberapa jenis obat yang
dibutuhkan pada pasien diare akut yang mengalami DRPs indikasi tanpa obat
diantaranya obat antibiotik antibakteri, obat batuk, dan antiemetik. Berdasarkan
hasil laboratorium masing-masing dari pasien nomor 6,7,8,18 dan 33 diketahui
bahwa pasien menderita diare akut karena infeksi bakteri. Penggunaan obat yang
diberikan pada pasien masih belum efektif karena pasien tidak diberikan terapi
antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri yang diderita pasien, pemilihan
antibiotik yang sesuai untuk pasien dengan infeksi bakteri adalah antibiotik
chephalosporin generasi ketiga seperti ceftriaxone, cefixime, cefotaxime dan
meropenem. Sedangkan untuk pasien dengan nomor 10 pasien didiagnosa
menderita diare akibat infeksi bakteri, dengan gejala demam, BAB berair lebih
dari 3x sehari dan juga muntah, dimana muntah dan demam merupakan salah satu
gejala diare yang disebabkan karena infeksi, namun pasien tidak diberikan obat
antiemetik seperti ondansetron untuk menangani gejala mual muntah tersebut.
Pemilihan ondansetron dibandingkan dengan domperidone dalam mengatasi mual

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


73

dan muntah pada anak karena ondansetron tersedia secara oral atau intravena, dan
efektif pada anak-anak dengan muntah yang berhubungan dengan gastroenteritis.
Berdasarkan penelitian secara RCT menunjukkan bahwa ondansetron dan
domperidone dapat digunakan dalam mengobati anak-anak menderita gejala AGE
(Acute Gastroenteritis). Keduanya menunjukkan khasiat yang dapat diterima
anak-anak serta profil keamanan yang baik (Reksuppaphol, 2013).
Pada pasien no 9 diketahui ia menderita diare akut infeksi yang
disebabkan karena bakteri dan diberikan kombinasi antibiotik meropenem dan
ceftriaxone.

5.2.3.4 DRPs Dosis Obat Kurang Dari Dosis Terapi


Pemberian obat dengan dosis yang terlalu rendah mengakibatkan
ketidakefektifan dalam mencapai efek terapi yang diinginkan. Dosis yang
diberikan harus sesuai dengan keadaan pasien dan dosis yang ditetapkan pada
literatur (Pediatric Dossage Handbook). Penilaian evaluasi DRPs dosis dibawah
dosis terapi pada pasien didasarkan pada dosis regimen yang diberikan (Sari
Novita.,2015).
Menurut penelitian yang dilakukan Erliani pada tahun 2013 di instalasi
rawat inap RSUP H.Adam Malik Medan pada tahun 2011 mengenai DRPs yang
terjadi pada pasien anak yang mengalami diare menunjukan bahwa terdapat 64
kasus DRPs diantaranya 14 kasus (21,88%) mengenai dosis obat terlalu rendah
dari dosis terapi.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 10 jenis obat (diazepam,
omeprazole, ondansetron, paracetamol, metronidazole, ceftriaxone, ranitidine,
phenobarbital, dexamethasone, dan furosemide) yang berpotensi tidak tepat dosis
obat kurang dari dosis terapi. Jenis obat yang paling sering berpotensi tidak tepat
dosis dibawah dosis terapi adalah diazepam sebanyak 6 kasus, antibiotik golongan
sefalosporin generasi ketiga yaitu ceftriaxson sebanyak 2 kasus, jenis obat yang
lainnya berpotensi tidak tepat dosis dibawah dosis terapi bisa dilihat di lampiran
6.
Pemberian ondansetron juga tidak tepat karena berdasarkan literatur
(Pediatric Dossage Handbook) dosis ondansetron yang diberikan untuk anak yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


74

berusia 6 bulan sampai 18 tahun adalah 0,15 mg/kg/dosis. Pada penggunaan


antibiotik, dosis yang kurang dari dosis terapi adalah pada penggunaan
ceftriaxone dan metronidazole, karena berdasarkan literatur dosis ceftriaxsone
yang tepat pada anak adalah 50-75 mg/kg/hari, sedangkan untuk antibiotik
metronidazole dosis untuk anak yang tepat adalah sebesar 30 mg/kg/hari.
Penggunaan obat yang kurang dari dosis terapi tidak akan menghasilkan efek
terapeutik yang diinginkan, bahkan sama saja dengan tidak menggunakan obat
tersebut. Suatu obat akan menghasilkan efek terapeutik jika kadar obat dalam
darah atau bioavailabilitas obat mencapai kadar terapi yang dibutuhkan untuk
menghasilkan efek yang diharapkan. Oleh karena itu, penggunaan obat dengan
dosis terapi yang sesuai sangat penting untuk menghasilkan efek terapeutik yang
menandakan bahwa terapi yang diberikan telah berhasil (Yusshiammanti, 2015).

5.2.3.5 DRPs Dosis Obat Melebihi Dosis Terapi


Dosis obat melebihi dosis terapi adalah pasien mendapatkan terapi obat
yang benar namun dosis obat tersebut melebihi dosis lazim terapi. Pemberian obat
dengan dosis melebihi dosis terapi dapat mengakibatkan peningkatan resiko
toksik, dosis yang diberikan harus sesuai dengan keadaan pasien dan dosis yang
sudah ditetapkan pada literatur (Paediatric Dosage Handbook).
Hasil data deskriptif pada tabel 5.4 menunjukan bahwa terdapat 21 pasien
yang mendapat terapi obat melebihi dosis terapi dengan 28 kasus yang mengalami
DRPs dosis melebihi dosis terapi. Pada penelitian yang dilakukan Erliani (2013)
menunjukan bahwa terdapat 10 kasus (15,63%) mengenai dosis obat lebih tinggi
dari dosis terapi pada pasien anak yang menderita diare akut di instalasi rawat
inap RSUP H.Adam Malik Medan .
Berdasarkan hasil penelitian pasien yang berpotensi tidak tepat dosis
melebihi dosis terapi terdapat 11 jenis obat (Methisoprinol, paracetamol,
ambroxol, ondansetron, meropenem, phenobarbital, phenytoin, cefixime,
ranitidine, metronidazole dan captopril). Jenis obat yang paling sering berpotensi
tidak tepat dosis dibawah dosis terapi adalah ondansetron.
Pemberian ondansetron melebihi dosis terapi karena berdasarkan literatur
(Pediatric Dossage Handbook) dosis yang diberikan per harinya untuk anak usia

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


75

4-12 tahun adalah 4 mg, sedangkan untuk anak berusia >4 tahun belum ada dosis
yang aman dan efektif. ondansetron digunakan untuk mengatasi mual dan muntah
pada anak dengan diare akut karena infeksi (Guarino.dkk, 2014). Pemberian dosis
paracetamol untuk anak berusia <12 tahun dihitung berdasarkan berat badan (BB)
pasien, dengan dosis perharinya adalah 10-15 mg/kg/dosis, dan pada pemberin
dosis untuk methisoprinol untuk anak-anak adalah 50 mg/kgBB, sedangkan pada
penelitian ini semua pasien anak menerima methisoprinol dengan dosis 3x1 cth
per hari, dimana 1 cth metisoprinol adalah 250 mg sehingga dosis pemberian
methisoprinol pada beberapa pasien melebihi dosis terapi.

5.2.3.6 DRPs Interaksi Obat


Interaksi obat merupakan hal yang sangat dihindari dari pemberian obat.
Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa 12 pasien dengan 29 kasus yang
mengalami kejadian DRPs interaksi obat pada pasien anak rawat inap diare akut
infeksi dengan dan tanpa penyakit penyerta di RS “X” di Kota Tangerang Selatan.
Interaksi obat yang terjadi merupakan interaksi obat yang mungkin atau potensial
terjadi pada terapi obat yang diberikan kepada 12 pasien, baik interaksi obat yang
dapat dihindari ataupun interaksi obat yang tidak dapat dihindari.
Hal tersebut menunjukan bahwa obat-obat yang diberikan saling
berinteraksi pada sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologi yang sama
sehingga terjadi efek aditif, sinergis (saling memperkuat) dan antagonis (saling
meniadakan). Beberapa alternatif penatalaksanaan interaksi obat adalah
menghindari kombinasi obat dengan memilih obat pengganti yang tidak
berinteraksi, penyesuaian dosis obat, pemantauan pasien atau meneruskan
pengobatan seperti sebelumnya jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut
merupakan pengobatan yang optimal atau bila interaksi tersebut tidak bermakna
secara klinis (Yusshiammanti, 2015). Mekanisme interaksi obat secara
farmakokinetik terjadi sebanyak 31 kasus, hal tersebut menunjukan bahwa salah
satu obat mempengaruhi absorpsi, distribusi, metabolisme atau eksresi obat kedua
sehingga kadar plasma kedua obat meningkat atau menurun. Akibatnya terjadi
peningkatan toksisitas atau penurunan efektifitas obat tersebut (Fradgles, 2003).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


76

Berdasarkan hasil penelitian, tingkat keparahan interaksi obat paling


banyak terjadi adalah pada interaksi obat secara minor yaitu sebanyak 18
kejadian. Interaksi minor merupakan interaksi anatara dua jenis obat yang
menghasilkan efek yang ringan, akibatnya mungkin dapat menyusahkan atau tidak
diketahui tetapi secara signifikan tidak mempengaruhi terapi sehingga treatment
tambahan tidak diperlukan. Interaksi obat dengan tingkat keparahan moderat
menghasilkan penurunan status klinik pasien sehingga dibutuhkan terapi
tambahan atau perawatan di rumah sakit dan interaksi obat dengan tingkat
keparahan mayor harus diutamakan karena risiko yang ditimbulkan berpotensi
mengancam individu atau dapat mengakibatkan kerusakan yang permanen
(Syamsudin, 2011). Namun berdasarkan hasil penelitian, pengaruh tingkat
keparahan interaksi obat (minor, moderat dan mayor) tidak terlihat jelas karena
penelitian bersifat retrospektif.
Contoh pasien nomor 45 dan 46 yang mengalami interaksi obat dengan
tingkat keparahan minor, antibiotik chephalosporins generasi 3 yaitu ceftriaxone
dengan obat furosemide dimana ceftriaxone akan meningkatkan toksisitas
furosemide secara sinergis. Efek sinergis terjadi ketika dua obat atau lebih,
dengan atau tanpa efek yang sama digunakan secara bersama untuk
mengkombinasikan efek yang memiliki outcome yang lebih besar dari jumlah
komponen aktif satu obat saja (Syamsudin, 2011). Penggunaan furosemide
dengan ceftriaxone berpotensi menyebabkan nefrotoksik, sehingga
penggunaannya harus berhati-hati dan direkomendasikan untuk monitoring fungsi
ginjal dengan menghitung laju filtrasi glomerolus, untuk menghindari terjadinya
interaksi obat disarankan untuk memberi jeda pemberian furosemide 3 hingga 4
jam sebelum obat golongan cephalosporins (Baxter, 2008).

5.2.4 Hasil Analisa Bivariat


Analisa bivariat yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh usia, jumlah
penyakit penyerta dan pengaruh jumlah penggunaan obat terhadap jumlah DRPs
pada pasien anak yang menderita diare akut. Analisa ini menggunakan metode
Chi-square. Peneliti harus melihat apakah nilah P>0,05 atau P<0,05. Jika nilai P<

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


77

0,05 maka hasil uji dapat dikatakan memiliki hubungan yang signifikan pada
kedua variabel.

5.2.4.1 Analisa Hubungan Antara Jumlah Penyakit Penyerta dan DRPs


Hasil analisa pada gambar 5.1 menunjukan pengaruh antara penyakit
penyerta dengan jumlah DRPs dengan metode Chi-square, diketahui tidak lebih
dari 4 sel atau sebanyak 66,7% yang mempunyai nilai harapan kurang dari 5 dan
diperoleh nilai P=0,028 (P<0,05) maka diperoleh kesimpulan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara pengaruh jumlah penyakit penyerta terhadap
DRPs. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manley,
H. J., et al (2003), yang menunjukan bahwa DRPs berkorelasi positif dengan
jumlah penyakit penyerta pasien (P < 0,001). Jumlah DRPs meningkat pada
masing-masing pasien sama dengan meningkatnya jumlah kondisi penyerta
(Manley, H. J., et al, 2003).

5.2.4.2 Analisa Hubungan Anatara Jumlah Penggunaan Obat dengan DRPs


Hasil analisa pada gambar 5.2 menunjukan bahwa tidak lebih dari 3 sel
atau sebanyak 50% yang mempunyai nilai harapan kurang dari 5. Didapatkan P =
0,100 Hal ini menunjukan bahwa P>0,05, maka diperoleh kesimpulan bahwa tidak
ada hubungan yang signifikan antara jumlah jenis obat dengan kejadian DRPs.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil studi yang dilakukan Belaiche, S., et
al, (2012) di Prancis, yang menyatakan resiko kejadian DRPs meningkat
signifikan terhadap kondisi lanjut usia (P= 0,0027) dan jumlah pengobatan
(P=0,049) (Belaiche, S., et al, 2012). Hasil penelitian tidak menunjukan hubungan
yang signifikan dan tidak sejalan dengan studi yang dilaikukan Belaiche, S., et al
dikarenakan perbedaan jumlah sampel yang digunakan, pada penelitian ini sampel
yang digunakan hanya sebanyak 40 sedangkan sampel yang digunakan pada
literatur mencapai 396 sampel.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


78

5.3 Keterbatasan Penelitian


5.3.1 Kendala
a. Pengambilan data pasien
Pada proses pengambilan data pasien, banyak pasien yang memiliki
data rekam medik yang tidak lengkap, seperti data laboratorium,
berat badan, dan daftar penggunaan obat.
b. Data laboratorium untuk uji feses tidak spesifik dikarenakan
keterbatasan tenaga ahli dan alat sehingga sulit untuk
mengidentifikasi jenis bakteri dan jamur secara spesifik untuk
menentukan antibiotik yang tepat.

5.3.2 Kelemahan
a. Penelitian deskriptif retrospektif, pada penelitian deskriptif hanya
dapat dilakukan demografi berupahasil analisa ketepatan untuk
mengetahui DRPs pada terapi yang digunakan oleh pasien. Selain itu
metode retrospektif, dimana waktu kejadian sudah terjadi sehingga
tidak dapat dilakukan pertanyaan secara langsung pada pasien.
b. Penelitian ini tidak dapat dikatakan seutuhnya rasional, dikarenakan
penilaian diagnosis pasien tidak dilakukan secara langsung,
melainkan menarik kesimpulan dari diagnosa yang tercatat dalam
rekam medik.
c. Penelitian ini tidak dapat dikatakan seutuhnya rasional, dikarenakan
tidak adanya spesifikasi bakteri dan jamur dalam hasil uji feses
sehingga tidak bisa menentukan antibiotik spesifik yang tepat.

5.3.3 Kekuatan
Penelitian ini sebelumnya belum pernah dilakukan di RS “X” di Kota
Tangerang Selatan. Maka diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dan
gambaran mengenai Drug Related Poblems pada pasien anak di instalasi rawat
inap yang menderita diare akut dengan dan tanpa penyakit penyerta.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Pasien anak yang menderita diare akut infeksi di RS “X” di Kota


Tangerang Selatan periode Januari-Desember 2015 didominasi oleh anak
yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 24 pasien (60%) dengan
mayoritas pasien usia 1-5 tahun sebanyak 36 pasien (90%). Berdasarkan
jumlah penyakit penyerta yang paling banyak adalah KDK sebanyak 8
pasien (47,05%).
2. Penggunaan obat diare akut karena infeksi pada anak yang paling banyak
digunakan adalah probiotik digunakan sebesar 15,44%, penggunaan
suplemen zinc sebesar 15,05% dan total dari penggunaan antibiotik untuk
mengatasi diare yang disesbabkan infeksi adalah sebesar 14,2% antibiotik
yang paling banyak digunakan untuk mengobati infeksi karena bakteri
adalah ceftriaxone sebesar 10,03%, dan metronidazol sebesar 1,93%.
3. Jenis Drug Related Problems (DRPs) yang paling banyak terjadi adalah
interasi obat sebesar 31,18%, diikuti dosis obat melebihi dosis terapi
sebesar 30,10%, dosis obat kurang dari dosis terapi sebesar 18,27%, obat
tanpa indikasi sebesar 9,67%, indikasi tanpa obat 8,60% dan
ketidaktepatan pemilihan obat sebesar 2,15%.
4. Terdapat pengaruh yang bermakna antara kejadian DRPs dengan jumlah
penyakit penyerta dengan nilai P=0,028, dan tidak terdapat pengaruh yang
bermakna antara DRPs dengan jumlah penggunaan obat dengan nilai
P=0,100.

79 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


80

6.2 Saran

1. Perlu adanya monitoring evaluasi penggunaan obat diare akut pada anak
dengan dan tanpa penyakit penyerta pada instalasi rawat inap RS “X” di
Kota Tangerang Selatan untuk menghindari terjadinya masalah DRPs
selama proses pengobatan.
2. Perlu adanya standarisasi kelengkapan pengisian rekam medik pasien
terkait usia pasien, berat badan, obat yang digunakan, dosis obat yang
diberikan, rute pemberian, aturan pakai obat, tanggal pemberian obat dan
hasil pemeriksaan laboratorium pasien yang dilakukan secara
berkelanjutan selama perawatan.
3. Perlunya pemeliharaan rekam medik pasien supaya tidak ada bagian atau
lembar yang hilang atau tercecer.
4. Perlunya dilakukan kultur media pada pemeriksaan feses supaya dapat
mengetahui penyebab penyakit secara spesifik sehingga pengobatan dan
pemilihan obat menjadi lebih tepat dan optimal.
5. Perlunya peningkatan kerjasama dan kolaborasi antara tenaga kesehatan
lain dirumah sakit seperti dokter dan juga perawat untuk meningkatkan
pelayanan pada pasien sehingga didapatkan terapi yang tepat, efektif dan
aman.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


DAFTAR PUSTAKA

Adusumilli PK, Adepu R (2014).” Drug Related Problems : An Over View of


Various Classification Systems” Asian Journal of Pharmaceutical and
Clinical Research,7,1.

Allen UD. Canadian Pediatric Society.(2010). Antifungal Agents for the


Treatment of Systemic Fungal Infections in Children. Pediatric Child Health
vol 15 (9); page 603 http://www.cps.ca/documents/position/antifungal-
agents-fungal-infections (diakses 19 Juni 2016 pukul 08.00 WIB ).

Aslam, M., Tan, C.K., Prayitno, A. (2003). Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy)
Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien.Jakarta:
Elex Media Komputindo.Hal 18.

Atmaja, Wahyu. (2011).Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit


Marinir Cilandak: Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Pasien
Rawat Inap Diare Akut di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Laporan Tugas
Akhir.Jurusan Apoteker Departemen Farmasi Universitas Indonesia.

Baxter (2008). Stockley’s Drug Interactions 8th Edition. Pharmaceutical Press,


London UK,pp.1-3.

Belaiche, Stephanie, et al (2012). Pharmaceutical Care in Chronic Kidney


Diseases:experience at renoble University Hospital from 2006 to 20120.
Journal Nephrol. 25(4),558-565.

BPOM RI.(2012). Pedoman Monitoring Efek Samping Obat (MESO) Bagi


Tenaga Kesehatan. http://www.who-umc.org/graphics/28553.pdf .(Diakses
10 Januari 2016 pukul 22.00)

Braz J.(2015). A Meta-Analysis of Metronidazole and Vancomycin for Treatment


of Clostridium difficile Infection , Stratified by Disease Severity.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26001980 (Diaksies tanggal 16 Juni
2016 pukul 22.00 WIB).

Cippole, R.J;Strand,L.M, Morley, P.C;(1998), Pharmaceutical Care Practice,73-


101, The Me Graw Hill companies.

Depkes RI.(2000). Informatorium Obat Nasional Indonesia.Jakarta:Departemen


Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI (2002) Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare, Jakarta

Depkes RI. (2005). Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Melitus.


Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


81
82

Depkes RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia 2008.Jakarta.

Depkes RI.(2010).Profil Kesehatan Indonesia 2009.Jakarta

Depkes RI. (2011). Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. Jakarta:
Depkes RI. Halaman 14, 18-20

Dinkes. (2011). Profil Kesehatan Provinsi Banten Tahun 2011. Serang: Dinas
Kesehatan Provinsi Banten.

Dipiro..JT.,(2009),Pharmacoterpy Handbook 7th edition, Mc Graw Hill, New


York.

Dover Arthur, Neema Patel, KT Park. (2015). Rapid Cessation of Acute Diarrhea
Using a Novel Solution of Bioactive Polyphenols: A Randomized Trial in
Nicaraguan Children.

Elin Yulinah Iskandar, dkk.2009.ISO Farmakoterapi. Jakarta:PT. ISFI

Elzouki Abdelazis, Harfi Harb, Hisham.M, dkk (2012).Textbook of Clinical


Pediatrics Second Edition.London New York: Springer Heidelberg
Dordrecht

Erliani Ummi. (2013). Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Pasien Anak
Diare di Instalasi Rawat Inap di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2011.
Skripsi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Medan:tidak
diterbitkan.

Firmansyah A.(2001). Terapi Probiotik dan Prebiotik pada Penyakit Saluran


Cerna Anak. Sari Pediatri : 210-14.

Fontaine (2008). Bukti Keamanan dan Kemanjuran Suplemen Zink Pada


Penanganan Diare. Surabaya: Departemen Kesehatan dan Perkembangan
Anak dan Remaja.

Fradgley, S. (2003). Interaksi Obat, Dalam Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy)


Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien.Jakarta:
PT.Elex Media Komputindo Gramedia.

Guarino Alfredo, Shai Ashkenazi,Dominique Gendrel, dkk. (2014). European


Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition/European Society for Pediatric Infectious Diseases Evidence-
Based Guidlines for the Management of Acute Gastroenteritis in Children in
Europe: Update 2014. JPGN.Vol 59, No 1 July 2014.
83

Guyton, A.C (1990). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 5 .EGC, Jakarta.

Halawiyah Athirotin. (2015). Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik


Meropenem Pada Pasien Sepsis BPJS Di Rumkital DR. Mintohardjo Tahun
2014. Skripsi pada FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: tidak diterbitkan.

Hajjar ER, et.al. (2007). Polipharmacy in Elderly Patients. USA: The American
Journal of Geriatric Pharmacology

Hadi. (2002). Gastroenterologi.Bandung:PT alumni.

Hegar B.(2007).Mikroflora Saluran Cerna pada Kesehatan Anak. Dexa Medica.

Iswari Yeni.(2011).Analisis Faktor Risiko Kejadian Diare Pada Anak Usia


Dibawah 2 Tahun di RSUD Koja Jakarta.Tesis. Jakarta:Universitas
Indonesia, Fakultas Ilmu Keperrawatan: tidak diterbitkan.

Johnston BC,Supina AL,Vohra S.(2006).Probiotics for Pediatric Antibiotic-


Associated Diarrhea : a Meta-Analysis of Randomized Placebo-Controlled
Trials.CMAJ.2006;175:377-383.

Juffrie, M., et al,(2010).Buku Ajar Gastroenterologi- Hepatologi Jilid 1.Jakarta:


Balai Penerbit IDAI.

Joel G Hardmand, Lee E.Limbird. (2002). Goodman & Gilman Dasar


Farmakologi Terapi Vol 2. Nashville, Tennessee: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.Hal 1009-1013.

Kanti Shuvra.,dkk.(2014). A Retrospective Analysis of Viral Gastroenteritis in


Asia.Journal of Pediatric Infectious Diseases vol 9 no 2.pp 53-65.

Kementerian kesehatan RI. (2011). Situasi DIARE di Indonesia. Buletin Jendela


Data dan Informasi Kesehatan. 2(2): 1-6.

Kementerian Kesehatan RI. (2011). Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas


Diare. Jakarta: Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Kementrian Kesehatan RI.

Kementrian Kesehatan RI.(2015).Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014.Jakarta:


Kementrian Kesehatan RI.

Kliegman RM,Behrman RE,Jenson HB,Santon BF.Nelson. (2007). Textbook of


Pediatrics. 18th ed. Philadelphia:Elsevier Inc.
84

Langendorf Celine, Simon Le Hello.,dkk (2015). Enteric Bacterial Pathogens in


Children with Diarrhea in Niger: Diversity and Antimicrobial
Resistence.Update NCBI.Vol 10 (3);2015.

La Ode M.(2014).Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Penyakit Diare


Pada Pasien Balita Rawat Inap di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari
Sulawesi Tenggara Tahun 2013. Skripsi pada Fakultas Farmasi Universitas
Halu Oleo. Kendari: tidak diterbitkan.

Lynn Jennifer. (2015).Bacterial Gatroenteritis Medication.


http://emedicine.medscape.com/article/176400-medication (diakses tanggal
10 juni 2016 pukul 09.00WIB).

Manley, Harold J., McClaran, Marcy L., et al (2003), Factor associated with
Medication Related Problems in Ambulantory Hemodialysis Patients
American Journal of Kidney Disease. 41,386-393.

Marselin Amanda.(2008). Evaluasi Peresepan Kasus Pediatri di Bangsal Anak


Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Resep Racikan Periode
Juli 2007 (Kajian Kasus Gangguan Sistem Saluran Cerna). Skripsi pada
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma .Yogyakarta.

Nugroho Wisnu.W.(2014). Penyakit-penyakit yang Menyertai Kejadian Kejang


Demam Anak di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Skripsi pada Fakultas
Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang:tidak
diterbitkan.

PCNE.(2010).PCNE Classification for Drug Related Problems. Pharmaceutical


Care Network Europe Foundation, V6.2 revised 14-01-2010vm, 1-9.

Permenkes RI. (2004). http://dinkes.ntbprov.go.id/sistem/data-


dinkes/uploads/2013/10/Permenkes-949-2004-Pedoman-Penyelenggaraan-
KLB.pdf (Diakses tanggal 10 januari 2016 pukul 11.30 WIB).

Permenkes RI (2010). http://pelayanan.jakarta.go.id/download/regulasi/peraturan-


menteri-kesehatan-nomor-340-tentang-klasifikasi-rumah-sakit.pdf (Diakses
tanggal 10 Januari 2016 Pukul 11.00 WIB)

Permenkes RI. (2011).Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Jakarta.

Prest, M.,(2003), Penggunaan Obat Pada Anak, dalam Aslam, M., Tan, X.K.,
Prayitno, A.,Farmasi Klinis : Menuju Pengobatan Rasional dan
Penghargaan Pilihan Pasien,191-192, PT.Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Jakarta.
85

Rachmawati Yeni.(2014). Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien


Gastroenteritis di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit X Periode Januari-Juni
2013.Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Ranuh GDE.(2013). Beberapa Catatan Kesehatan Anak. Jakarta: Sagung Seto.

Reksuppaphol Sanguansak, Lakkana Reksuppaphol (2013). Randomized Study of


Ondansetron Versus Domperidone in the Treatment of Children With Acute
Gastroenteritis. Vol 5, No 6.

Riskesdas. (2007). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Richardson Malcolm D, Brian Jones (2007).Therapeutic Guidelines in Systemic


Fungal Infections third edition.Departement of Bacteriology & Imunology
University of Helsinki.

Samani Nijamudin, Zhang Jingxiao,Yong-Jie Yin,dkk (2014). Zinc in the


Manage,ent of Diarrhoea In Children Under The Age of 5 Years A-Review.
Vol 2 No.6.

Sari Novita, (2015).Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien


Diabetes Melitus di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara. Skripsi pada
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: tidak diterbitkan.

Septiani,sundari. (2015). Evaluasi Penggunaan Obat Pada Pasien Balita Terkena


Diare Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit X Pada Tahun 2014.

Shinta Ken, Hariantyo, dkk. (2011). Pengaruh Probiotik pada Diare Akut:
Penelitian dengan 3 Preparat Probiotik. Sari Pediatri Vol 13 No. 2.

http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/13-2-2.pdf (Diakses tanggal 10 juni 2016


Pukul 10.00 WIB).

Simatupang Maria Magdalena. (2009). Rotavirus. Medan:Departemen


Mikrobiologi Fakultas Kedokteran USU.

Suharyono (2008). Diare Akut Klinik dan Laboratorik, 1-3,6,18-19,23,Rineka


Cipta:Jakarta.

Strand L,M, Petter CM, Cipolle RJ, Ramsey R, Lamsam GD,(1990). Drug Related
Problems: Their Structure Function. Amerika Serikat: Departemen of
Pharmacy Practice.
86

Sumali M Atmojo. (1998). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare


Anak Balita di Kab. Purworejo, Jawa Tengah.

Siregar, Charles J.P., dan Lia A.(2003).Faramasi Rumah Sakit:Teori dan


Penerapan. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hal.7-18.

Sinthamurniwaty (2006). Faktor-faktor Risiko Kejadian Diare Akut Pada Balita


(Studi Kasus di Kabupaten Semarang).Thesis Pada Program Pasaca Sarjana
Universitas Diponegoro Semarang. Semarang: Tidak diterbitkan.

Siregar,C.JP.,(2004), Farmasi Rumah Sakit, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.

Siregar Charles.(2006). Farmasi Klinik Teori dan Penerapan. Jakarta:EGC.

Stockley, I.H. (2008).Stockley’s Drug Interaction. Edisi Kedelapan. Great Britain:


Pharmaceutical Press.p.1-10.

Soegijanto Soegeng.(2009). Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di


Indonesia jilid 7.Airlangga University Press.

Syamsudin .(2011). Interaksi Obat Konsep Dasar Klinis.Jakarta: Universitas


Indonesia (UI-Press).

Taketomo,Carol K , Jane H. Hodding, Donna M. Kraus .(2009). Pediatric Dosage


Handbook with International Trade Names Index 16th Edition.United State:
Lexi-Comp

Tambayong, (2002), Patofisiologi Untuk Keperawatan, Penerbit Buku


Kedokteran EGC,Jakarta.

UNICEF.(1998).The State on the World Children. Oxford Univ.Press

Verity CM, Golding J. Risk of epilepsy after febrile convulsion: a national cohort
study. Br Med J 1991;303: 1373-6.

Vila J, Vargas M, Ruiz J, Corachan M, De Anta MTJ, Grascon J(2000). Quinolon


Resisten in Enterotoxigenic E.coli Causing Diarrhea in Travelers to India in
Comparison with Othehr Gerographycal Areas. Antimicrobial Agents and
Chemotheraphy.

Widjaja M.C.(2002). Mengatasi Diare dan Keracunan Pada Balita. Jakarta:


Kawan Pustaka

WHO (2005). A Treatment of Diarrhoea A manual for Physicians and Other


Senior Health Workers.
87

WHO Indonesia.(2009).Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit


Rujukan Tingakat Pertama di Kabupaten/Kota.Jakarta :World Health
Organization Indonesia bekerjasama dengan Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

World Gastro Enterology Organization Global Guidline (2012).Acute Diarrhea in


Adults and Children: A Global Perspective.

Yusshiammanti Dana Fitria. (2015). Analisa Drug Related Problems (DRPs)


Pada Pasien Rawat Inap Penyakit Ginjal Kronik Dengan Penyakit Penyerta
di Rumkital Dr. Mintohardjo Tahun 2014.Skripsi pada FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta: tidak diterbitkan.

Zein U,Khalid Huda Sagala, Josia Ginting, (2004).Diare Akut Disebabkan


Bakteri.Fakultas Kedokteran Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Universitas
Sumatera Utara.

Zulkifli Lukman Amin (2015). Tatalaksana Diare Akut.Departemen Ilmu


Penyakit Dalam Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta,Indonesia.Volume42,No7,http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_2
30CME-Tatalaksana%20Diare%20Akut.pdf. (Diakses tanggal 5 juni 2016
pukul 10.00 WIB)
88

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Pengambilan Data dan Izin Penlitian dari
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Farmasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


89

Lampiran 2. Penilaian DRPs yang Dialami Pasien Penyakit Diare Akut Infeksi

Penilaian DRPs
NP KTPO KTPD ITO OTI IO
↑ ↓
1 0 0 1 0 1 0
2 0 1 1 0 0 1
3 0 0 0 0 0 0
4 0 0 0 0 0 0
5 0 1 0 0 0 0
6 0 0 0 1 0 0
7 0 1 1 1 0 1
8 0 1 1 1 0 0
9 0 1 1 1 0 1
10 0 1 0 1 0 0
11 0 1 0 0 0 1
12 0 0 0 0 0 0
13 0 1 1 0 0 0
14 0 0 0 0 0 1
15 0 1 1 0 0 0
16 0 1 0 0 0 0
17 0 1 0 0 1 0
18 0 0 1 1 1 1
19 0 0 0 0 0 0
20 0 1 0 0 0 0
21 0 1 1 0 0 1
22 0 0 0 0 0 0
23 1 0 0 0 0 0
24 0 1 0 0 0 0
25 1 0 0 1 1 0
26 0 0 0 0 0 0
27 0 1 0 0 0 0

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


90

28 0 0 0 0 0 0
29 0 1 0 0 0 0
30 0 0 0 0 0 0
31 0 1 1 0 0 1
32 0 0 0 0 0 1
33 0 1 0 1 1 0
34 0 1 0 0 1 0
35 0 0 1 0 0 0
36 0 0 0 0 0 1
37 0 0 0 0 0 0
38 0 0 0 0 0 0
39 0 1 1 0 0 1
40 0 1 0 0 0 1

Keterangan :
1 = Terjadi DRPs
0 = Tidak Terjadi DRPs
KTPO = Ketidaktepatan Pemilihan Obat
KTPD = Ketidaktepatan Penyesuaian Dosis
↑ = Dosis Melebihi Dosis Terapi
↓ = Dosis Kurang dari Dosis Terapi
ITO = Indikasi Tanpa Obat
OTI = Obat Tanpa Indikasi
IO = Interaksi Obat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


91

Lampiran 3. Ketidaktepatan Pemilihan Obat

Nomor Pasien Hasil Obat yang Obat yang


Pemeriksaan Diterima Seharusnya diterima
Feses
23 Diare disebabkan Cefotaxime Ketoconazole,
karena infeksi itraconazole,
jamur Fluconazole
25 Diare disebabkan Cefotaxime Ketoconazole,
karena infeksi itraconazole,
jamur Fluconazole

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


92

Lampiran 4. Evaluasi DRPs Obat Tanpa Indikasi

Nomor Indikasi Hasil Obat yang Obat Tanpa


Pasien pemeriksaan Diberikan Indikasi
Feses
1 BAB cair lebih Diare Ambroxol syrup Ambroxol syrup.
dari 3x sehari, disebabkan Lacto B
kejang, karena Diazepam Candistatin
demam. bakteri. Candistatin
Caftriaxone.
17 Demam naik Diare Lacto B Ondansentron
turun, BAB disebabkan Zinc
cair 3x karena IVFD Asering
berlendir. bakteri. Ondansentron
Paracetamol
Ceftriaxone
18 Kejang saat Diare Lacto B Ondansentron
dirumah, disebabkan Zinc
dmam ± 3 hari, karena Paracetamol Ranitidine
BAB cair lebih bakteri. Diazepam
dari 3x sehari. Oralit
Ranitidine
Ondansentron
IVFD KaEN 3B
25 BAB cair Diare Lacto B Ondansentron
berlendir ± 5x, disebabkan Zinc
tidak demam karena jamur IVFD KaEN 3B Cefotaxime
Cefotaxime
Ondansentron
33 BAB cair 6x Diare Lacto B Ambroxol
sehari, demam disebabkan Zinc
naik turun, karena Ambroxol
tidak kejang. bakteri. KSR
Ondansentron
Paracetamol
IVFD KaEN 3B
34 BAB cair ± 4 Diare Lacto B Ambroxol
hari, warna disebabkan Zinc
hitam karena IVFD KaEN 3B
berlendir, bakteri. Oralit
demam 4 hari. Paracetamol
Ambroxol
Ceftriaxone

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


93

Lampiran 5. Evaluasi DRPs Indikasi Tanpa Obat

Nomor Indikasi Pasien Obat yang Diterima Indikasi tanpa Tambahan


Pasien obat obat
6 BAB cair lebih IVFD KaEN 3B Diare disebabkan Antibiotik
dari 3x sehari, Ondansetron karena bakteri antibakteri:
demam naik Zinc Ceftriaxone/
turun, muntah Lacto B Cefotaxime/
kurang lebih 2x. Oralit Meropenem/
Hasil pemeriksaan Cefixime
laboratorium diare
disebabkan
karena bakteri
7 BAB cair 3x, IVFD KaEN 3B Diare disebabkan Antibiotik
kejang, demam. Diazepam karena bakteri antibakteri:
Hasil pemeriksaan Zinc Ceftriaxone/
laboretorium diare Paracetamol Cefotaxime/
disebabkan Methisoprinol Meropenem/
karena bakteri Cefixime
8 Mual, muntah, IVFD KaEN 3B Diare disebabkan Antibiotik
pusing, BAB lebih Zinc karena bakteri. antibakteri:
dari 3x sehari. Lacto B Ceftriaxone/
Hasil pemeriksaan Paracetamol Cefotaxime/
laboratorium diare Omeprazole Meropenem/
disebabkan karena Ondansetron Cefixime
bakteri. Ranitidine
9 BAB cair 5x IVFD KaEN 3B Batuk Obat saluran
sehari, demam Diazepam pernafasan
38,2 oC, lemas, Zinc atas mukolitik:
muntah, Lacto B Ambroxol
batuk,pilek. Paracetamol
Ceftriaxone
Dexamethasone
KSR
Meropenem
10 Demam lebih dari Ceftriaxone Muntah Antiemetik :
1 minggu, BAB Lacto B Ondansentron
berair lebih dari Zinc
3x sehari, muntah. Paracetamol
IVFD KaEN 3B
18 Kejang saat Lacto B Diare disebabkan Antibiotik
dirumah, demam Zinc karena bakteri Antibakteri:
lebih dari 3 hari, Paracetamol Ceftriaxone/
BAB lebih dari 3x Diazepam Cefotaxime/
sehari. Hasil Oralit Meropenem/
pemeriksaan Ranitidine Cefixime
Laboratorium, Ondansentron
diare disebabkan IVFD KaEN 3B
karena bakteri
25 BAB cair Lacto B Di are disebabkan Antifungi:
berlendir ± 5x, Zinc karena jamur.
Ketoconazole,
tidak demam. IVFD KaEN 3B

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


94

Hasil pemeriksaan Ondansetron itraconazole,


laboratorium diare Cefotaxime
Fluconazole
diasebabkan
karena jamur.
33 BAB cair 6x Lacto B Diare disebabkan Antibiotik
sehari, demam Zinc karena bakteri Antibakteri:
naik-turun, tidak Ambroxol Ceftriaxone/
kejang,tidak KSR Cefotaxime/
batuk. Hasil Ondansentron Meropenem/
pemeriksaan Paracetamol Cefixime
Laboratorium, IVFD KaEN 3B
diare disebabkan
karena bakteri.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


95

Lampiran 6. Evaluasi DRPs Dosis Kurang dari Dosis Terapi

NP Umur/ Nama obat Dosis Perhitungan Dosis Keterangan


BB standar dosis pakai
seharusnya
1 2/9 Diazepam 1 mg/kg 9x1=9 mg 3x1 mg Dosis kurang
2 2/10,7 Diazepam 1 mg/kg 10,7x1=10,7 mg 3x1 mg Dosis kurang
7 3,3/7,1 Diazepam 1 mg/kg 1x7,1=7,1 mg 3x1 mg Dosis kurang
8 10/42 Omeprazole 20 mg 20x42=840 mg 2x20 mg Dosis kurang
sekali
sehari
10/42 Ondansetron 0,15 0,15x42x3= 3x4 mg Dosis kurang
mg/kg/dosi 18,9 mg
s
9 2/8,5 Diazepam 1 mg/kg 1x8,5=8,5 3x1 mg Dosis kurang
2/7,1 Paracetamol 10-15 71 -106,5 mg 3x100 mg Dosis kurang
mg/kg/dosi (iv)
s
13 7/17 Ceftriaxone 50-75 1050-1575 mg 1x750 mg Dosis kurang
mg/kg/hari (iv)
15 2/9 Ranitidine 2-4 18-36 mg 2x0,5 mg Dosis kurang
mg/kg/hari
18 4/14 Diazepam 1 mg/kg 1x 14= 14mg 3x1,5 mg Dosis kurang
4/14 Ranitidine 2-4 28-56 mg 2x 1,5 mg Dosis kurang
mg/kg/hari (iv)
21 2/8 Metronidazole 30 30x8=240 mg 3x35 mg Dosis kurang
mg/kg/hari
31 2/8,2 Diazepam 1 mg/kg 1x8,2= 8,2 mg 3x1 mg Dosis kurang
2/8,2 Phenobarbital 15-20 123-164 mg 2x35 mg Dosis kurang
mg/kg
2/8,2 Dexamethason 0,5-2 4,1-16,4 mg 3x1 mg Dosis kurang
e mg/kg/hari (iv)
35 2/16,5 Ceftriaxone 50-75 825-1237,5 mg 1x500 mg Dosis kurang
mg/kg/dosi (iv)
s
39 2/8 Furosemide 1-2 8-16 mg 4 mg (iv) Dosis kurang
mg/kg/dosi
s

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


96

Lampiran 7. Evaluasi DRPs Dosis Melebihi Dosis Terapi

NP Umur/ Nama obat Dosis Perhitungan Dosis Keterangan


BB standar dosis yang pakai
seharusnya
2 2/10,7 Methisoprinol 50 mg/kg 50x10,7=535 3x1 cth= Dosis
mg 750 mg berlebih
5 2,1/9 Paracetamol 10-15 90-135 mg 4-5x 1cth Dosis
mg/kg/dosis berlebih
7 3,3/7,1 Paracetamol 10-15 71-106,5 mg 3x ½ Dosis
mg/kg/dosis cth=225 berlebih
mg
3,3/7,1 Methisoprinol 50 mg/kg 50x7,1=355 mg 3x 1 Dosis
cth=750 berlebih
mg
8 10/42 Paracetamol 10-15 420-630 mg 3x500 mg Dosis
mg/kg/dosis (iv) berlebih
9 2/8,5 Paracetamol 10-15 85-127,5 mg 4-5x 100 Dosis
mg/kg/dosis mg berlebih
2/8,5 Meropenem 20 mg/kg 20x8,5=170 mg 3x350 mg Dosis
berlebih
10 2/8 Paracetamol 10-15 80-120 mg 3x ¾ Dosis
mg/kg/dosis cth=337,5 berlebih
mg
11 2/7,1 Fenobarbital 6-8 42,6-56,8 mg 2x40 mg Dosis
mg/kg/hari berlebih
2/7,1 Fenitoin pulv 8-10 mg/kg 56,8-71 mg 2x40 mg Dosis
berlebih
2/7,1 Fenitoin 8-10 mg/kg 56,8-71 mg 2x40,2 Dosis
(iv) berlebih
13 7/17 Ondansetron 0,15 0,15x17x3=7,65 3x4 mg Dosis
mg/kg/dosis mg (iv) berlebih
15 2/9 Methisoprinol 50 mg/kg 50x9=450 mg 3x1 Dosis
cth=750 berlebih
mg
2/9 Ondansetron 0,15 0,15x9x3=4,05 3x2 mg Dosis
mg/kg/dosis mg (iv) berlebih
16 2/10 Cefixime 8 mg/kg/hari 8x10 =80 mg 2x1 Dosis
cth=200 berlebih
mg
17 2/8,2 Paracetamol 10-15 82-123 mg 4x125 mg Dosis
mg/kg/dosis (iv) berlebih
20 2,2/9,5 Ondansetron 0,15 0,15x9,5x2=2,8 2x2 mg Dosis
mg/kg/dosis berlebih
21 2/8 Ondansetron 0,15 0,15x8x3=3,6 3x1,5 mg Dosis
mg/kg/dosis mg berlebih
24 6/14,5 Ondansetron 0,15 0,15x14,5x2= 2x4 mg Dosis
mg/kg/dosis 4,35 mg (iv) berlebih
6/14,5 Ranitidin 2-4 29-58 mg 3x20 mg Dosis
mg/kg/hari berlebih
27 2/9 Ondansetron 0,15 0,15x9x3= 4,05 3x2 mg Dosis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


97

mg/kg/dosis mg (iv) berlebih


29 2/8,2 Ondansetron 0,15 0,15x8,2x2= 2x2 mg Dosis
mg/kg/dosis 2,46 mg (iv) berlebih
31 2/8,2 Metronidazole 30 30x8,2=246 mg 2x600 mg Dosis
mg/kg/hari berlebih
33 2/6,8 Ambroxol 1,2-1,6 8,16-10,88 mg 3x ½ Dosis
mg/kg 2-3 x cth=22,5 berlebih
sehari mg
2/6,8 Ondansetron 0,15 0,15x6,8x3= 3x2 mg Dosis
mg/kg/dosis 3,06 mg berlebih
34 2/12 Ambroxol 1,2-1,6 14,4-19,2 mg 3x1 Dosis
mg/kg 2-3x cth=45 berlebih
sehari mg
39 2/8 Ondansetron 0,15 0,15x8x2=2,4 2x2 mg Dosis
mg/kg/dosis mg (iv) berlebih
40 2/7 Captopril 0,3-0,5 4,2-7 mg 2x6,5 mg Dosis
mg/kg/dosis berlebih

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


98

Lampiran 8. Evaluasi DRPs Interaksi Obat

Nomor Terapi Obat Interaksi Obat Mekanisme Interaksi Jenis Interaksi


Pasien Obat Obat
2 Methisoprinol Diazepam- Diazepam menurunkan Farmakokinetik-
Lacto B Paracetamol kadar paracetamol minor
Zinc dengan cara
Diazepam meningkatkan level
Paracetamol metabolisme, sehingga
dapat meningkatkan
metabolisme
hepatotoksik.
7 IVFD KaEN 3B Diazepam – Diazepam menurunkan Farmakokinetik-
Diazepam Paracetamol kadar paracetamol minor
Zinc dengan cara
Lacto B meningkatkan
Paracetamol metabolisme sehingga
Methisoprinol dapat meningkatkan
metabolisme
hepatotoksik.
9 IVFD KaEN 3B Diazepam – Diazepam menurunkan Farmakokinetik-
Diazepam Paracetamol kadar paracetamol minor
Zinc dengan cara
Lacto B meningkatkan
Paracetamol metabolisme sehingga
Ceftriaxone dapat meningkatkan
Dexamethasone metabolisme
KSR hepatotoksik.
Meropenem
Dexamethasone- Dexamethasone Farmakokinetik-
Diazepam meningkatkan kadar atau minor
efek dari diazepam
dengan cara
mempengaruhi enzim
CYP3A4
11 Fenobarbital Diazepam- Diazepam menurunkan Farmakokinetik-
Lacto B Paracetamol kadar paracetamol minor
Zinc dengan cara
Ceftriaxone meningkatkan
Fenitoin pulv metabolisme sehingga
IVFD Ringer Laktat dapat meningkatkan
Diazepam metabolisme
Paracetamol hepatotoksik.
Fenitoin
Fenobarbital- Fenobarbital akan Farmakokinetik-
Fenitoin menghambat moderate
metabolisme dari
fenitoin,dengan
menginduksi enzim
CYP450.

Fenobarbital- Fenobarbital akan Farmakokinetik-


Diazepam menurunkan efek dari moderate
diazepam dengan
mempengaruhi
metabolisme enzim

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


99

CYP19.

Fenitoin- Menghambat Farmakokinetik-


Diazepam metabolisme dari mederate
fenitoin, fenitoin akan
menurunkan
konsentreraasi plasma
diazepam dengan
menginduksi
metabolisme enzim

Fenitoin– Fenitoin akan Farmakokinetik-


Paracetamol meningkatkan potensi moderate
hepatotoksik dari
paracetamol dan
menurunkan efek
farmakologisnya

Fenobarbital- Fenobarbital akan Farmakokinterik-


Paracetamol meningkatkan potensi minor
hepatotoksik dari
paracetamol dan
menurunkan efek
terapeutik.
14 IVFD Ringer Laktat Metronidazole- Metronidazole akan Farmakokinetik-
Ondansentron Paracetamol meningkatkan efek dari Minor
Metronidazole paracetamol melalui
Lacto B ezim hepatik CYP2E1
Zinc
Paracetamol
18 Lacto B Diazepam- Diazepam menurunkan Farmakokinetik-
Zinc Paracetamol kadar paracetamol minor
Paracetamol dengan cara
Diazepam meningkatkan
Oralit metabolisme sehingga
Ranitidin dapat meningkatkan
Ondansentron metabolisme
IVFD KaEN 3B hepatotoksik.
21 Lacto B Metronidazole – Metronidazole akan Farmakokinetik-
Zinc Paracetamol meningkatkan efek dari minor
IVFD KaEN 3B paracetamol dengan
Paracetamol mempengaruhi
Ondansentron metabolisme enzin
Metronidazole CYP2E1
KSR
Oralit
31 Lacto B Fenobarbital- Fenobarbital akan Farmakokinetik-
Zinc Fenitoin menghambat moderat
Diazepam metabolisme dari
Fenobarbital fenitoin,dengan
Oralit menginduksi enzim
Metronidazole CYP450.
Fenitoin
Ondansentron
Ceftriaxone

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


100

Dexamethasone
Fenobarbital- Penggunaan Farmakokinetik
Dexamethasone dexamethasone Moderat
bersamaan dengan
fenobarbital akan
menurunkan efektifitas
dexamethasone,
fenobarbital akan
menurunkan
konsenterasi plasma
dexamethasone.

Fenobarbital- Fenobarbital akan Farmakokinetik-


Diazepam menurunkan efek dari Moderate
diazepam dengan
mempengaruhi
metabolisme enzim
CYP19.

Fenobarbital- Fenobarbital akan Farmakokinetik-


Ondansentron menurunkan efek dari Minor
ondansentron dengan
mempengaruhi
metabolisme enzim
CYP1A2.

Fenitoin- Fenitoin akan Farmakokinetik-


Dexamethsaone meningkatkan clearence Moderat
metabolik dari
dexamethasone ,
menurunkan kadar
steroid dalam darah dan
aktifitas fisiologis.
Fenitoin akan
menginduksi
metabolisme enzim
CYP450 3A4.

Fenitoin- Fenitoin akan Farmakokinetik-


Ondansentron menurunkan efek dari Moderat
ondansentron dengan
mempengaruhi enzim
CYP3A4

Fenitoin- Diazepam Menghambat Farmakokinetik-


Diazepam metabolisme dari Moderat
fenitoin, fenitoin akan
menurunkan
konsentreraasi plasma
diazepam dengan
menginduksi
metabolisme enzim

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


101

Dexamethasone- Dexamethasone Farmakokinetik-


diazepam meningkatkan kadar atau Minor
efek dari diazepam
dengan cara
mempengaruhi enzim
CYP3A4

Metronidazole- Metronidazole akan Farmakokinetik-


Fenitoin meningkatkan Moderate
konsenterasi serum
fenitoin,dengan
mempengaruhi enzim
CYP450 2C9.

Metronidazole- Metronidazole akan Frmakokinetik-


Dexamethasone meningkatkan efek dari minor
dexamethasone dengan
mempengaruhi
metabolisme enzim CYP
3A4.

Metronidazole- Metronidazole akan Farmakokinetik-


Diazepam meningkatkan efek dari minor
diazepam dengan
mempengaruhi
metabolisme enzim CYP
3A4.

32 Lacto B Dexamethasone Dexamethasone Farmakokinetik-


Zinc – Diazepam meningkatkan kadar atau minor
Diazepam efek dari diazepam
Paracetamol dengan cara
Methisoprinol mempengaruhi enzim
KSR CYP3A4
Oralit
IVFD KaEN 3B
Dexamethasone Diazepam- Diazepam menurunkan Farmakokinetik-
Ceftriaxone Paracetamol kadar paracetamol minor
Ranitidine dengan cara
meningkatkan
metabolisme.
36 Lacto B Metronidazole – Metronidazole akan Farmakokinetik-
Zinc Paracetamol meningkatkan efek dari minor
KSR paracetamol dengan
Ceftriaxone mempengaruhi
Paracetamol metabolisme enzin
Ondansentron CYP2E1
Metronidazole
39 Lacto B Ceftriaxone - Ceftriaxone akan Farmakodinamik-
Zinc Furosemide meningkatkan toksisitas minor
Candistatin furosemide secara
Ondansentron sinergis dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


102

Paracetamol meningkatkan resiko


Ceftriaxone nefrotoksik
Furosemide
Candistatin
40 Lacto B Ceftriaxone - Ceftriaxone akan Farmakodinamik-
Zinc Furosemide meningkatkan toksisitas minor
Methisoprinol furosemide secara
Captopril sinergis dan
Furosemide meningkatkan resiko
Ceftriaxone nefrotoksik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


103

Lampiran 9. Hasil Analisis Hubungan antara Penyakit Penyerta dengan DRPs

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

penyerta * DRPs 40 100.0% 0 .0% 40 100.0%

penyerta * DRPs Crosstabulation

DRPs

tidak terjadi
DRPs terjadi DRPs Total

penyerta tanpa penyakit penyerta Count 8 12 20

% within penyerta 40.0% 60.0% 100.0%

dengan penyakit penyerta Count 2 18 20

% within penyerta 10.0% 90.0% 100.0%

Total Count 10 30 40

% within penyerta 25.0% 75.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 4.800 1 .028
b
Continuity Correction 3.333 1 .068

Likelihood Ratio 5.063 1 .024

Fisher's Exact Test .065 .032

Linear-by-Linear Association 4.680 1 .031


b
N of Valid Cases 40

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,00.

b. Computed only for a 2x2 table

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


104

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for penyerta


(tanpa penyakit penyerta / 6.000 1.082 33.274
dengan penyakit penyerta)

For cohort DRPs = tidak


4.000 .967 16.551
terjadi DRPs

For cohort DRPs = terjadi


.667 .453 .981
DRPs

N of Valid Cases 40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


105

Lampiran 10. Hasil Analisis Hubungan antara Jumlah Obat dengan DRPs

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

obat * DRPs 40 100.0% 0 .0% 40 100.0%

obat * DRPs Crosstabulation

DRPs

tidak terjadi
DRPs terjadi DRPs Total

obat 1-5 obat Count 5 5 10

% within obat 50.0% 50.0% 100.0%

6-10 obat Count 5 24 29

% within obat 17.2% 82.8% 100.0%

>10 obat Count 0 1 1

% within obat .0% 100.0% 100.0%

Total Count 10 30 40

% within obat 25.0% 75.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 4.598 2 .100

Likelihood Ratio 4.462 2 .107

Linear-by-Linear Association 4.382 1 .036

N of Valid Cases 40

a. 3 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is ,25.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


106

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Golongan Terapi Obat Jenis Obat Frekuensi Presentase (%) Dosis Standar per Hari
1.Cairan Rehidrasi Oral 55 18,3
Oralit 14 4,67 Anak dengan usia 1-2 tahun: 600-800 ml, usia 2-4 tahun: 800-
1200ml, usia 5-14 tahun: 1200-2200ml. Pemberian dilakukan tiap
kali anak mengalami mencret (WHO, 2005).
Cairan Rehidrasi
Parenteral
IVFD KaEN 3B 30 10 Dosis dewasa dan anak berusia ≥ 3 tahun atau BB ≥ 15kg 500-1000
mL pada 1x pemberian secara intarvena (mims, )
IVFD Ringer 5 1,67 Untuk diare ringan sedang, diberikan sebanyak 75cc/kgBB selama 4
Laktat jam. Penilaian kembali dilakukan setiap 1-2 jam. Ringer laktat untuk
anak dengan dehidrasi berat diberikan 30ml/kg dalam 30 menit.
Lalu berikan 70 ml/kg dalam 2 ½ jam (WHO, 2005).
IVFD Asering 6 2 Disesuaikan pada setiap individu.
2.Antiinfeksi 42 14,2
Antibiotik Cefotaxime 4 1,3 Larutan injeksi, dosis anak usia 1 bulan-12 tahun: 50-180 mg/kg/hari
(chephalosporin generasi secara IV dibagi setiap 4-6 jam perhari, dan untuk usia >12 tahun 1-
3) 2 g secara IV setiap 4-8 jam. Infeksi karena organisme: usia<12
tahun atau BB<50kg dosis 50-200 mg/kg/hari secara IV setiap 6-8
jam, Pneumonia: usia <12 tahun atau BB <50kg dosis 200mg/kg/hari
secara IV setiap 8 jam, usia >12 tahun atau BB>50kg dosis 1-2 g
secara IV setiap 8 jam (drugs.com). Demam tifoid: usia <12 tahun
atau BB<50 kg dosis 150-200 mg/kg/hari secara IV setiap 6-8 jam,
usia >12 tahun atau BB>50kg: 1-2 g secara IV.

Ceftriaxone 31 10,3 Dosis anak 50-75 mg/kg/hari setiap 12-24 jam, bakteri akut otitis
media: 50 mg/kg (dosis maksimum: 1 g), demam tifoid:IV: 75-80
mg/kgselama 5-14 hari.

Cefixime 1 0,3 Digunakan secara oral, dosis untuk anak: 8 mg/kg/hari terbagi
setiap 12-24 jam, dosis maksimum 400 mg/hari.

104
UIN Syarif Hidyatullah Jakarta
Antibiotik Gentamycin 1 0,3 Sediaan injeksi 10mg/mL dan 40 mg/mL. Untuk anak usia ≥5 tahun
Aminoglikosida 2-2,5mg/kg/dosis secara IV, untuk anak usia >5 tahun: 2,5
mg/kg/dosis secara IV.
Antibiotik Metronidazole Metronidazole 5 1,67 Untuk infeksi bakteri: 30 mg/kg/hari secara oral atau IV dibagi
setiap 6 jam, dosis tidak boleh melebihi 4 g/hari. Amebiasis: 35-50
mg/kg secara oral terbagi setiap 8 jam selama 10 hari, giardiasis: 15
mg/kg/hari secara oral atau IV terbagi setiap 8 jam selama 5 hari. H-
Pylori:dengan amoxicilin dan bismut subsalisilat dengan dosis 15-20
mg/kg/hari secara oral dosis terbagi setiap 12 jam selama 4
minggu.infeksi anaerobik:oral,IV: 30 mg/kg/hari dibagi setiap 6 jam,
dosis maksimum 4 g/hari.
Antibiotik carbapenem. Meropenem 1 0,3 Dosis untuk anak-anak ≥3bulan untuk anak dengan infeksi kulit: 10
mg/kg/dosis setiap 8 jam, dosis maksimum500 mg, infeksi
pencernaan: 20 mg/kg/dosis setiap 8 jam dan dosis maksimum 1 g,
meningitis: 40 mg/kg/dosis setiap 8 jam dengan dosis maksimum 2
g (taketomo, 2009).
3. Probiotik Lacto B 46 15,3 Untuk anak 1-6 tahun 3 sachet/hari, kurang dari 1 tahun 2
sachet/hari (mims).
4. Suplemen Zinc 45 15 Anak usia< 6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari selama 10 hari, anak
usia >6 bulan: 1 tablet (20 mg)perhari selama 10 hari (Kemenkes RI,
2011).
5. Obat Lain 113 37,6
Diazepam 11 3,67 Seizure: usia 2-5 tahun 0,5 mg/kg, usia 6-11 tahun 0,3 mg/kg, usia
>12 tahun 0,2 mg/kg. Status epileptikus: 0,1-0,3 mg/kg dosis
diberikan 3-5 menit , dosis maksimum 10 mg diberikan setiap 5-10
menit secara IV. Ansietas: usia 1-12 tahun 0,12-0,8 mg/kg/hari dosis
terbagi setiap 6-8 jam secara oral 0,04-0,3 mg/kg/hari setiap 2-4
jam dan dosis maksimum 0,6 mg/kg setiap 8 jam secara
intramuscular (IM).
Candistain 5 1,67 Digunakan secara oral, dosis untuk anak dan dewasa adalah
400,000-600,000 unit 4x/hari.
Ambroxol 5 1,67 Dosis anak-anak: 1,2-1,6mg/kg 2-3x sehari.
Paracetamol 31 10,3 Dosis anak secara oral: 10-15 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam, secara

105
UIN Syarif Hidyatullah Jakarta
rektal: 10-20 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam. Untuk anak ≥12 tahun
dosis secara oral dan rektal: 325-650 mg setiap 4-6 jam atau 1000
mg 3-4 kali/hari, jangan melebihi 4g/hari.
Ondancentron 26 8,67 Untuk anak usia <4 tahun secara oral: tidak ada dosis yang disetujui
oleh FDA secara oral.
Usia 4-11 tahun secara oral : 4mg 3 kali/hari digunakan 30 menit
sebelum kemoterapi, lalu gunakan 4-8 jam sehabis dosis yang
pertama. Usia >12 tahun:8 mg 3 kali/hari.
Dosis untuk anak usia> 6 bulan secara IV: 0,1 5 mg/kg/dosis diinfus
selama 30 menit sebelum kemoterapi.
Aminosteril 1 0,3
KSR 5 1,67 Dosis anak: 1-2 tab 2-3 kali/hari.
Metisoprinol 6 2 Dosis anak: 50 mg/kg
Omeprazole 1 0,3 GERD, ulcer, esofagitis: untuk anak usia 1-16 tahun dengan BB 5-
10kg: 5mg sekali sehari, 10-20kg: 10 mg satu kali sehari, >20 kg: 20
mg sekali sehari. Terapi tambahan untuk anak dengan tukak
duodenum yang disebabkan karena bakteri H.pylori dikombinasikan
dengan antibiotik terapi seperti clarithromycin dan amoxicilin
dengan dosis: 10 mg 2 kali/hari untuk anak dengan BB 15-30kg, dan
20 mg 2x/hari untuk anak dengan BB >30 kg.
Dexamethasone 3 1 Dosis anak dengan edema atau ekstubasi secara oral,IV,IM: o,5-2
mg /kg/hari setiap 6 jam. Antiemetik secara IV: 10 mg/m2/dosis
(dosis maksimum: 20 mg) dan 5 mg/ m2/dosis setiap 6 jam.
Antiinflamasi oral,IV,IM: 0,08-0,3 mg/kg/hari atau 2,5-10
mg/m2/hari setiap 6-12 jam. Edema serebral secara oral,IV,IM: dosis
awal: 1-2 mg/kg/dosis, dosis pemeliharaan:1-1,5mg/kg/hari (dosis
maksimum: 16mg/hari)dosis dibagi setiap 6-12 jam.
Fenitoin 3 1 Dosis anak untuk status epileptikus:15-18 mg/kg, dosis
pemeliharaan: dosis awal 5mg/kg/hari dalam 2-3 dosis terbagi, dosis
umum anak usia 0,5-3 tahun: 8-10 mg/kg, 4-6 tahun: 7,5-9
mg/kg/hari, 7-9 tahun: 7-8 mg/kg/hari, 10-16 tahun: 6-7
mg/kg/hari. Antikonvulsi secara oral: dosis awal:15-20 mg/kg dosis
dibagi menjadi 3 dan diberikan etiap 2-4 jam, dosis perawatan:

106
UIN Syarif Hidyatullah Jakarta
sama seperti loading dose, dosis dibagi menjadi 3 dosis/hari.
Fenobarbital 1 0,3 Dosis anak untuk antikonvulsi: status epileptikus dosis awal: 15-20
mg/kg (dosis maksimum 1000 mg/dosis) secara IV, dosis
pemeliharaan: oral, IV anak usia 1-5 tahun: 6-8 mg/kg/hari, 5-12
tahun:4-6 mg/kg/hari. Sedasi : oral 2mg/kg 3 kali/hari, hipnotik:
IV,IM 3-5 mg/kg pada waktu tidur.
Ranitidine 10 3,3 Dosis anak >1 bulan-16 tahun: gastritis/ulkus duodenal: oral:4-8
mg/kg/hari dosis maksimum: 300mg/hari, dosis pemeliharaan: 2-4
mg/kg/hari dengan dosis maksimum: 150 mg/hari , IV:2-4
mg/kg/hari dibagi setiap 6-8 jam, dosis maksimum: 200 mg/hari,
GERD:oral: 4-10 mg/kg/hari 2x sehari dosis maksimum:300 mg/hari,
GERD:IV: 2-4 mg/kg/hari dosis dibagi setiap 6-8 jam, dosis
maksimum: 200mg/hari.
Ferriz 1 0,3
Furosemide 2 0,67 Dosis untuk anak: oral: 1-4 mg/kg/dosis setiap 6-8 jam, tidak boleh
melebihi 6mg/kg/dosis. IM,IV: 1-2 mg/kg/dosis setiap 6-12 jam
dilanjutkan dengan infus 0,05 mg/kg/jam.
Captopril 1 0,3 Dosis anak: dosis awal: 0,3-0,5 mg/kg/dosis, dosis maksimum 6
mg/kg/hari, anak yang lebih tua: dosis awal: 6,25-12,5 mg/dosis
setiap 12-24 jam.
Spironolactone 1 0,3 Dosis untuk anak diuretik,hipertensi: 1-3,3 mg/kg/hari setiap 6-12
jam, jangan melebihi 100 mg/hari.

107
UIN Syarif Hidyatullah Jakarta
Lampiran 12. Data Pasien

Pasien :1 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan


Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 07/07/2015 Hemoglobin 9,2 g/dL Makroskopik :
BB : 9 kg Leukosit 10,0 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 07/07/2015-10/07/2015 Hematokrit 28 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 478 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk : KDK, Diare akut dehidrasi Eritrosit - 103/uL Lendir -
ringan sedang Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair lebih dari 3x Kalium - mmol/L Mikroskopik :
sehari, kejang,demam Klorida - mmol/L Leukosit 5-8
Eritrosit 0-2
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Ambroxol syrup 3x1 cth oral Trichluris -
Lacto B 3x2 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Diazepam 3x1 mg oral Taenia -
Candistatin 4x1 ml oral Enterobius -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Jamur -
Bakteri penuh

110
Pasien :2 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Feses Keluar
Usia : 2 tahun 01/08/2015 Hemoglobin 12,5 g/dL
BB : 10,7 kg Leukosit 9,1 103/uL Makroskopik : Sembuh
Lama dirawat : 01/08/2015-02/08/2015 Hematokrit 37 % Warna kuning
Riwayat Penyakit : - Trombosit 259 103/uL Konsistensi lembek
Diagnosa Masuk : KDK, Diare akut dehidrasi Eritrosit 4,9 103/uL Darah -
ringan sedang Natrium 133 mmol/L Lendir -
Keluhan Masuk : BAB cair, kejang,demam Kalium 3,9 mmol/L Cacing dewasa -
Klorida 104 mmol/L Mikroskopik :
Terapi obat Leukosit 5-8
Eritrosit 0-2
Metisoprinol 3x1 cth oral Telur cacing:
Lacto B 3x2 scht oral Ascaris -
Zinc 1x20 mg oral Trichluris -
Diazepam 3x1 mg oral Oxyuris -
Paracetamol 3x1 cth oral Ankylostoma -
Taenia -
Enterobius -
Jamur -
Bakteri penuh

111
Pasien :3 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 3 tahun 22/08/2015 Hemoglobin 13,8 g/dL Makroskopik :
BB : 13 kg Leukosit 7,1 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 22/08/2015- 24/08/2015 Hematokrit 39 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 339 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk : KDK, Diare akut dehidrasi Eritrosit 5,1 103/uL Lendir -
ringan sedang + vomitus Natrium 133 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair >5x,demam Kalium 3,9 mmol/L Mikroskopik :
Klorida 104 mmol/L Leukosit 5-8
Eritrosit 0-2
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
IVFD KaEN 3B 3cc/kgBB/jam IV Trichluris -
Ceftriaxon 1x500 mg IV Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Lacto B 2x1 scht oral Taenia -
Pracetamol 4-5x 1cth oral Enterobius -
Oralit 1000cc oral Jamur -
Bakteri penuh

112
Pasien :4 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 13/08/2015 Hemoglobin 14,2 g/dL Makroskopik :
BB : 14 kg Leukosit 6,6 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 12/08/2015- 14/08/2015 Hematokrit 41 % Konsistensi cair
Riwayat Penyakit : - Trombosit 382 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk : diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : diare >3x sehari, demam naik Kalium - mmol/L Mikroskopik :
turun,mual dan tidak nafsu makan. Klorida - mmol/L Leukosit 4-8
Eritrosit 1-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Ondancentron 2x2 mg IV Oxyuris -
Metronidazole 3x75 mg IV Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Lacto B 2x1 scht oral Enterobius -
Jamur -
Bakteri penuh

113
Pasien :5 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Feses Keluar
Usia : 2 tahun 22/08/2015 Hemoglobin 13,8 g/dL
BB : 9 kg Leukosit 7,1 103/uL Makroskopik : Sembuh
Lama dirawat : 30/08/2015- 4/08/2015 Hematokrit 39 % Warna kuning
Riwayat Penyakit : - Trombosit 339 103/uL Konsistensi lembek
Diagnosa Masuk : KDK, Diare akut dehidrasi Eritrosit 5,1 103/uL Darah -
ringan sedang Natrium 133 mmol/L Lendir -
Keluhan Masuk : BAB cair >5x,kejang,tidak Kalium 3,9 mmol/L Cacing dewasa -
demam. Namun selama perawatan pasien Klorida 104 mmol/L Mikroskopik :
mengalami demam beberapa hari. Leukosit 5-8
Eritrosit 0-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
IVFD KaEN 3B 3cc/kgBB/jam IV Oxyuris -
Ceftriaxon 1x500 mg IV Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Lacto B 2x1 scht oral Enterobius -
Pracetamol 4-5x 1cth oral Jamur -
Oralit 1000cc oral Bakteri penuh

114
Pasien :6 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 5 tahun 22/08/2015 Hemoglobin 14,5 g/dL Makroskopik :
BB : 16 kg Leukosit 9,7 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 07/09/2015- 09/09/2015 Hematokrit 40 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 405 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk : Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang obs vomitus Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair >3x, demam naik Kalium - mmol/L Mikroskopik :
turun, muntah kurang lebih 2x. Klorida - mmol/L Leukosit 5-8
Eritrosit 0-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
IVFD KaEN 3B 4cc/kgBB/jam IV Oxyuris -
Ondancentron 2x2 mg IV Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Lacto B 2x1 scht oral Enterobius -
Oralit 100cc oral Jamur -
Bakteri penuh

115
Pasien :7 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 3,3 tahun 29/09 /2015 Hemoglobin 8,8 g/dL Makroskopik :
BB : 7,1 kg Leukosit 7,4 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 29/09/2015- 30/09/2015 Hematokrit 28% Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 237 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk : KDK, Diare akut dehidrasi Eritrosit 4,7 103/uL Lendir -
ringan,anemia. Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair 3x,kejang,tidak Kalium - mmol/L Mikroskopik :
demam Klorida - mmol/L Leukosit 2-4
Eritrosit 0-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
IVFD KaEN 3B 16 tpm makro IV Oxyuris -
Diazepam 3x1 mg oral Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Lacto B 3x 1 scht oral Enterobius -
Pracetamol 3x 1½ cth oral Jamur -
Metisoprinol 3x1 cth oral Bakteri +

116
Pasien :8 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Feses Keluar
Usia : 10 tahun 08/12 /2015 Hemoglobin 14,4 g/dL
BB : 42 kg Leukosit 6,5 103/uL Makroskopik : Sembuh
Lama dirawat : 22/09/2015- 23/09/2015 Hematokrit 42% Warna coklat
Riwayat Penyakit : - Trombosit 277 103/uL Konsistensi lembek
Diagnosa Masuk : Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 5,2 103/uL Darah -
sedang, diabetik Natrium - mmol/L Lendir -
Keluhan Masuk : mual, muntah, kepala Kalium - mmol/L Cacing dewasa -
pusing,BAB 3x, selama perawatan pasien Klorida - mmol/L Mikroskopik :
mengalami naik turun demam. Leukosit 2-4
Eritrosit 0-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
IVFD KaEN 3B 10 tpm makro IV Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Lacto B 3x1 scht oral Taenia -
Paracetamol 3x500 mg IV Enterobius -
Omeprazole 2x20 mg IV Jamur -
Ondancentron 3x4 mg IV Bakteri +
Ranitidin 3x50 mg IV

117
Pasien :9 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Feses Keluar
Usia : 2 tahun 10/09 /2015 Hemoglobin 10,1 g/dL
BB : 8,5 kg Leukosit 13,6 103/uL Makroskopik : Sembuh
Lama dirawat : 09/09/2015- 19/09/2015 Hematokrit 29 % Warna coklat
Riwayat Penyakit : sepsis, syok. Trombosit 236 103/uL Konsistensi lembek
Diagnosa Masuk : KDK, Diare akut dehidrasi Eritrosit - 103/uL Darah -
ringan sedang,vomitus Natrium 136 mmol/L Lendir -
Keluhan Masuk : BAB cair 5x,demam 38,2 Kalium 3,0 mmol/L Cacing dewasa -
o
C,lemas,muntah setiap makan,batuk pilek,selama Klorida 106 mmol/L Mikroskopik :
perawatan pasien mengalami 1x kejang dan Leukosit 1-2
panasselama 2 hari. Eritrosit 0-2
Telur cacing:
Ascaris -
Terapi obat Trichluris -
Oxyuris -
IVFD KaEN 3B 10 cc IV Ankylostoma -
Diazepam 3x1 mg oral Taenia -
Zinc 1x20 mg oral Enterobius -
Lacto B 2x 1 scht oral Jamur -
Pracetamol 4-5x 100mg IV Bakteri +
Ceftriaxone 1x500 mg IV
Dexamethason 2x 2,5 mg IV
KSR 3x250 mg oral
Meropenem 3x350 mg IV

118
Pasien : 10 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 24/10 /2015 Hemoglobin 9,7 g/dL Makroskopik :
BB : 8 kg Leukosit 6,8 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 24/10/2015- 25/10/2015 Hematokrit 32% Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 362 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :, Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,7 103/uL Lendir +
sedang,Febris Natrium 130 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : demam lebih dari 1 minggu, Kalium 4,3 mmol/L Mikroskopik :
BAB mencret lebih dari 3x perhari, muntah Klorida 97 mmol/L Leukosit 2-3
kadang-kadang, masih mau makan dan minum. Eritrosit 0-1
Telur cacing:
Ascaris -
Terapi obat Trichluris -
Oxyuris -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Ankylostoma -
Lacto B 2x1 mg oral Taenia -
Zinc 1x20 mg oral Enterobius -
Paracetamol 3x ¾ cth oral Jamur -
IVFD KaEN 3B 500 cc/12 jam (12 tpm) IV Bakteri +

119
Pasien : 11 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 23/10 /2015 Hemoglobin 12,0 g/dL Makroskopik :
BB : 7,1 kg Leukosit 8,2 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 22/10/2015- 26/10/2015 Hematokrit 34 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : kejang Trombosit 257 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :, Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang,KDK Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB ±3x sehari, demam Kalium - mmol/L Mikroskopik :
naik turun. Klorida - mmol/L Leukosit 3-5
Eritrosit 1-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Fenobarbital 2x40 mg oral Oxyuris -
Lacto B 2x1 scht oral Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Ceftriaxon 1x400 mg IV Enterobius -
Fenitoin pulv 2x40 mg oral Jamur -
IVFD RL 10 tpm makro IV Bakteri +
Diazepam 3x1 mg oral
Paracetamol drip 3x100 mg IV
Fenitoin (40,2mg) 2x 40,2 mg IV

120
Pasien : 12 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 31/10 /2015 Hemoglobin 13,0 g/dL Makroskopik :
BB : 8 kg Leukosit 12,2 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 31/10/2015- 02/11/2015 Hematokrit 38 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 339 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 5,2 103/uL Lendir +
sedang, Natrium 132 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB ±3x sehari Kalium 3,2 mmol/L Mikroskopik :
Klorida 102 mmol/L Leukosit 2-4
Eritrosit 0-1
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
Oralit 100cc tiap BAB oral Ankylostoma -
Ceftriaxon 1x400 mg IV Taenia -
IVFD Asering 60 tpm IV Enterobius -
Jamur -
Bakteri +

121
Pasien : 13 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 7 tahun 08/10 /2015 Hemoglobin 12,8 g/dL Makroskopik :
BB : 17 kg Leukosit 26,6 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 08/10/2015- 10/10/2015 Hematokrit 37% Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 466 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut tanpa dehidrasi Eritrosit - 103/uL Lendir -
Keluhan Masuk : demam 3 hari, mencret 3 hari, Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
tidak muntah Kalium - mmol/L Mikroskopik :
Klorida - mmol/L Leukosit -
Eritrosit -
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
Ondancentron 3x4 mg IV Ankylostoma -
Ceftriaxon 1x750 mg IV Taenia -
IVFD KaEN 3B 4cc/kgBB/jam IV Enterobius -
Cefotaxim 3x500 mg IV Jamur -
Oralit 170cc/kgBB oral Bakteri +

122
Pasien : 14 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 01/11 /2015 Hemoglobin 11,6 g/dL Makroskopik :
BB : 9 kg Leukosit 10,1 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 2 5/10/2015- 26/10/2015 Hematokrit 34 % Konsistensi
Riwayat Penyakit : - Trombosit 308 103/uL lembek
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan, Eritrosit - 103/uL Darah -
demam thyfoid. Natrium 135 mmol/L Lendir +
Keluhan Masuk : demam naik turun, BAB cair Kalium 4,4 mmol/L Cacing dewasa -
4x sehari, mual, muntah 4x Klorida 108 mmol/L Mikroskopik :
Leukosit 4-7
Eritrosit 1-3
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
IVFD RL 10 tpm makro IV Trichluris -
Ondancentron 1 mg IV Oxyuris -
Metronidazole 3x50 mg IV Ankylostoma -
Lacto B 3x1 scht oral Taenia -
Zinc 1x20 mg oral Enterobius -
Paracetamol 1x125 mg IV Jamur -
Bakteri +

123
Pasien : 15 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 04/11 /2015 Hemoglobin 10,1 g/dL Makroskopik :
BB : 9 kg Leukosit 5,2 103/uL Warna hijau Sembuh
Lama dirawat : 04/11/2015- 08/11/2015 Hematokrit 28 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 186 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 3,8 103/uL Lendir -
sedang, ISPA. Natrium 135 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : demam naik turun, BAB cair Kalium 4,4 mmol/L Mikroskopik :
4x sehari, mual, muntah 4x Klorida 108 mmol/L Leukosit 3-4
Eritrosit 0-1
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 3x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD Asering 20 tpm IV Taenia -
Ondancentron 3x2 mg IV Enterobius -
Rannitidine 2x0,5 mg IV Jamur -
Paracetamol 4x125 mg IV Bakteri -
Metisoprinol 3x1 cth oral
Cetrizin syrup 1x ½ cth oral

124
Pasien : 16 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 05/11 /2015 Hemoglobin 12,3 g/dL Makroskopik :
BB : 10 kg Leukosit 12,8 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 05/11/2015- 09/11/2015 Hematokrit 34 % Konsistensi
Riwayat Penyakit : kejang tanpa disetai demam Trombosit 269 103/uL lembek
umur 10 bulan. Eritrosit 4,5 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Natrium - mmol/L Lendir +
sedang, Kalium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : demam naik turun, BAB cair Klorida - mmol/L Mikroskopik :
2x berlendir. Leukosit 2-4
Eritrosit 1-3
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 3x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD Asering 16 tpm makro IV Taenia -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Enterobius -
Paracetamol 4x 150 mg IV Jamur -
Cefixime 2x1 cth oral Bakteri +
Oralit oral

125
Pasien : 17 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 09/11 /2015 Hemoglobin 12,2 g/dL Makroskopik :
BB : 8,2 kg Leukosit 12,3 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 09/11/2015- 10/11/2015 Hematokrit 37 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 511 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 5,6 103/uL Lendir +
sedang, Natrium 131 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : demam naik turun, BAB cair 2x Kalium 3,5 mmol/L Mikroskopik :
berlendir. Klorida 100 mmol/L Leukosit 2-4
Eritrosit 0-1
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 3x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD Asering 20 tpm makro IV Taenia -
Ondancentron 3x1mg IV Enterobius -
Paracetamol 4x 125 mg IV Jamur -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Bakteri +

126
Pasien : 18 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 4 tahun 15/11 /2015 Hemoglobin 13,5 g/dL Makroskopik :
BB : 14 kg Leukosit 7,2 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 15/11/2015- 17/11/2015 Hematokrit 38 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : kejang usia 2 tahun Trombosit 427 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,8 103/uL Lendir +
sedang,KDK. Natrium 13,1 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : kejang saat dirumah, demam ±3 Kalium 4,7 mmol/L Mikroskopik :
hari, mencret. Klorida 97 mmol/L Leukosit 2-4
Eritrosit 1-3
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Paracetamol 4-5x 1cth oral Taenia -
Diazepam 3x 1,5 mg oral Enterobius -
Oralit oral Jamur -
Ranitidin 2x 1,5 mg IV Bakteri +
Ondancentron 3x2mg IV
IVFD KaEN 3B 12 tpm makro IV

127
Pasien : 19 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 20/11 /2015 Hemoglobin 17,2 g/dL Makroskopik :
BB : 11,5 kg Leukosit 7,6 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 16/11/2015- 27/11/2015 Hematokrit 40 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : Trombosit 415 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,5 103/uL Lendir +
sedang,anemia,febris. Natrium 131 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : demam, BAB cair ±3x Kalium 2,7 mmol/L Mikroskopik :
Klorida 99 mmol/L Leukosit 2-4
Eritrosit 2-3
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
Paracetamol 4x cth oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 15 tpm makro IV Taenia -
Ceftriaxone 1x750 mg IV Enterobius -
Feriz syrup 2x2 cth oral Jamur -
Bakteri +

128
Pasien : 20 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2,2 tahun 02/12 /2015 Hemoglobin 11,0 g/dL Makroskopik :
BB : 9,5 kg Leukosit 4,9 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 2/12/2015- 4/12/2015 Hematokrit 32 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : Trombosit 182 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,5 103/uL Lendir +
sedang. Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : demam, BAB cair ±3x Kalium - mmol/L Mikroskopik :
Klorida - mmol/L Leukosit 6-9
Eritrosit 2-3
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
IVFD KaEN 3B 15 tpm IV Ankylostoma -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Taenia -
Ondancentron 2x2 mg IV Enterobius -
Metronidazole 3x1 cth oral Jamur -
Paracetamol 4-5x 1 cth oral Bakteri +

129
Pasien : 21 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 03/12 /2015 Hemoglobin 12,0 g/dL Makroskopik :
BB : 8 kg Leukosit 9,3 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 3/12/2015- 6/12/2015 Hematokrit 36 % kehijauan
Riwayat Penyakit : Trombosit 416 103/uL Konsistensi lembek
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 5,1 103/uL Darah -
sedang. Natrium 134 mmol/L Lendir +
Keluhan Masuk : BAB cair ± 5x, demam,muntah Kalium 2,7 mmol/L Cacing dewasa -
lebih dari 5x perhari. Klorida 99 mmol/L Mikroskopik :
Leukosit 1-3
Eritrosit 0-1
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
IVFD KaEN 3B 16 tpm IV Ankylostoma -
Paracetamol 3x100 mg IV Taenia -
Ondancentron 3x1,5 mg IV Enterobius -
Metronidazole 3x35 mg oral Jamur +
KSR 3x200 mg oral Bakteri +
Oralit - oral

130
Pasien : 22 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 03/12 /2015 Hemoglobin 13,1 g/dL Makroskopik :
BB : 11 kg Leukosit 11,7 Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 3/12/2015- 4/12/2015 103/uL Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : Hematokrit 38 % Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Trombosit 386 103/uL Lendir +
3
sedang. Eritrosit - 10 /uL Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair ± 5x, demam. Natrium - mmol/L Mikroskopik :
Kalium - mmol/L Leukosit 3-5
Klorida - mmol/L Eritrosit 0-2
Terapi obat Telur cacing:
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
IVFD KaEN 3B 5cc/kgBB/jam IV Ankylostoma -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Taenia -
Enterobius -
Jamur +
Bakteri +

131
Pasien : 23 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2,2 tahun 24/03 /2015 Hemoglobin 10,4 g/dL Makroskopik :
BB : 11 kg Leukosit 12,7 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 24/03/2015- 26/03/2015 Hematokrit 38 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 653 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir +
sedang. Natrium 135 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair berlendir ± 5x., Kalium 3,0 mmol/L Mikroskopik :
tidak demam, tidak mual. Klorida 104 mmol/L Leukosit 5-7
Eritrosit 1-2
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 14 tpm makro IV Taenia -
Cefotaxime 3x400 mg IV Enterobius -
Ondancentron 3x2 mg IV Jamur +
Bakteri -

132
Pasien : 24 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 6 tahun 24/02 /2015 Hemoglobin 12,2 g/dL Makroskopik :
BB : 14,5 kg Leukosit 11,5 Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 24/02/2015- 27/02/2015 103/uL Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Hematokrit 36 % Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Trombosit 214 103/uL Lendir +
sedang, TB Paru. Eritrosit 4,7 103/uL Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair berlendir ± 5x, Natrium - mmol/L Mikroskopik :
demam naik turun. Kalium - mmol/L Leukosit 5-8
Klorida - mmol/L Eritrosit 0-1
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 13 tpm makro IV Taenia -
Ondancentron 2x4 mg IV Enterobius -
Ranitidine 3x20 mg IV Jamur -
Ceftriaxone 1x650 mg IV Bakteri -
Metronidazole 1x150 mg IV

133
Pasien : 25 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 11/06 /2015 Hemoglobin 13,8 g/dL Makroskopik :
BB : 11 kg Leukosit 18,9 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 11/06/2015- 14/06/2015 Hematokrit 40 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 420 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir +
sedang, Natrium 139 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair berlendir ± 5x. Tidak Kalium 3,1 mmol/L Mikroskopik :
demam. Klorida 107 mmol/L Leukosit -
Eritrosit -
Telur cacing:
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 12 tpm makro IV Taenia -
Ondancentron 3x1 mg IV Enterobius -
Cefotaxime 2x400 mg IV Jamur +
Bakteri -

134
Pasien : 26 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluar
Usia : 2 tahun 12/06 /2015 Hemoglobin 10,6 g/dL Makroskopik :
BB : 10 kg Leukosit 6,5 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 12/06/2015- 15/06/2015 Hematokrit 36 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 297 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang, Natrium 132 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : perut kembung sejak 2 hari Kalium 4,0 mmol/L Mikroskopik :
yang lalu,muntah,BAB cair lebih dari 3x Klorida 102 mmol/L Leukosit 1-3
sehari,demam. Eritrosit 0-2
Telur cacing: -
Ascaris -
Terapi obat Trichluris -
Oxyuris -
Lacto B 2x1 scht oral Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
IVFD KaEN 3B 3cc/kgBB/jam IV Enterobius -
Ondancentron 3x2 mg IV Jamur -
KSR 3x250 mg oral Bakteri -
Paracetamol 4x100 mg oral

135
Pasien : 27 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluar
Usia : 2 tahun 15/06 /2015 Hemoglobin 12,0 g/dL Makroskopik :
BB : 9 kg Leukosit 12,5 103/uL Warna hijau Sembuh
Lama dirawat : 15/06/2015- 17/06/2015 Hematokrit 35 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 422 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,4 103/uL Lendir +
sedang, Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair dan berlendir ±5x Kalium - mmol/L Mikroskopik :
sehari, demam naik turun, muntah 1x. Klorida - mmol/L Leukosit 3-5
Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 3cc/kgBB/jam IV Taenia -
Ondancentron 3x2 mg IV Enterobius -
Ceftriaxone 1x 450 mg IV Jamur +
Paracetamol 3-4x 1cc oral Bakteri -

136
Pasien : 28 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluar
Usia : 4,5 tahun 20/06 /2015 Hemoglobin 11,5 g/dL Makroskopik :
BB : 15 kg Leukosit 8,1 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 16/06/2015- 22/06/2015 Hematokrit 34 % Konsistensi cair
Riwayat Penyakit : - Trombosit 158 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang, Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair ±5x sehari, demam Kalium - mmol/L Mikroskopik :
naik turun. Klorida - mmol/L Leukosit 0-1
Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD Asering 11 tpm makro IV Taenia -
Ondancentron 2 mg IV Enterobius -
Ceftriaxone 1x 700 mg IV Jamur +
Paracetamol 3x1 cth oral Bakteri -
Metisoprinol 3x1 cth oral
Oralit oral

137
Pasien : 29 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluar
Usia : 2 tahun 19/06 /2015 Hemoglobin 8,7 g/dL Makroskopik :
BB : 8,2 kg Leukosit 5,6 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 19/06/2015- 21/06/2015 Hematokrit 29 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 300 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang, Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair dan berlendir ±5x Kalium - mmol/L Mikroskopik :
sehari, demam naik turun, muntah 1x. Klorida - mmol/L Leukosit 1-2
Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 10 tpm makro IV Taenia -
Ondancentron 2x2 mg IV Enterobius -
Paracetamol 4-5x 0,8ml oral Jamur -
Bakteri -

138
Pasien : 30 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2,7 tahun 21/06 /2015 Hemoglobin 9,8 g/dL Makroskopik :
BB : 11,5 kg Leukosit 12,2 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 21/06/2015- 23/06/2015 Hematokrit 31 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 383 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang, Natrium 135 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair lebih dari 3x sehari, Kalium 4,4 mmol/L Mikroskopik :
demam naik turun, muntah tiap kali makan, BB Klorida 107 mmol/L Leukosit 1-3
turun 0,5 kg , anak sulit makan. Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Ascaris -
Terapi obat Trichluris -
Oxyuris -
Lacto B 2x1 scht oral Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Ceftriaxone 1x600 mg IV Enterobius -
Ondancentron 2x2 mg IV Jamur +
Paracetamol 4-5x150 mg IV Bakteri -

139
Pasien : 31 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 24/06 /2015 Hemoglobin 10,5 g/dL Makroskopik :
BB : 8,2 kg Leukosit 10,5 103/uL Warna hijau Sembuh
Lama dirawat : 22/06/2015- 26/06/2015 Hematokrit 31 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 333 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir +
sedang,KDK. Natrium 135 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair lebih dari 3x sehari, Kalium 5,6 mmol/L Mikroskopik :
demam naik turun,kejang. Klorida 111 mmol/L Leukosit 1-3
Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Diazepam 3x1 mg oral Taenia -
Phenobarbital 2x35 mg oral Enterobius -
Oralit oral Jamur -
Metronidazole 2x600 mg oral Bakteri +
Fenitoin 2x 38 mg oral
Ondancentron 2x1,5 mg IV
Ceftriaxone 1x400 mg IV
Dexamethasone 3x1 mg IV

140
Pasien : 32 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 6 tahun 22/06 /2015 Hemoglobin 13,4 g/dL Makroskopik :
BB : 15 kg Leukosit 2,1 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 22/06/2015- 27/06/2015 Hematokrit 39 % Konsistensi cair
Riwayat Penyakit : kejang Trombosit 205 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir +
sedang, Natrium 120 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair lebih dari 5x sehari, Kalium 3,4 mmol/L Mikroskopik :
demam naik turun, tidak kejang,minum Klorida 96 mmol/L Leukosit 4-6
sedikit,lemas Eritrosit 1-3
Telur cacing: -
Ascaris -
Terapi obat Trichluris -
Oxyuris -
Lacto B 2x1 scht oral Ankylostoma -
Zinc 1x20 mg oral Taenia -
Diazepam 3x1,5 mg oral Enterobius -
Paracetamol 3x 1 ½ ml oral Jamur -
Methysoprinol 3x1 cth oral Bakteri +
KSR 3x300 mg oral
Oralit - oral
IVFD KaEN 3B 3 kolf/24jam IV
Dexamethason 3x3 mg IV
Ceftriaxone 1x 750 mg IV
Ranitidine 2x1 cc IV

141
Pasien : 33 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluar
Usia : 2 tahun 23/06 /2015 Hemoglobin 11,7 g/dL Makroskopik :
BB : 6,8 kg Leukosit 17,0 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 23/06/2015- 26/06/2015 Hematokrit 34 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 516 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,6 103/uL Lendir -
sedang, Natrium 131 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair 6x sehari, demam Kalium 2,8 mmol/L Mikroskopik :
naik turun, tidak kejang. Klorida 104 mmol/L Leukosit 2-3
Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Ambroxol 3x ½ cth oral Taenia -
KSR 3x 175 mg oral Enterobius -
Ondancentron 3x2 mg IV Jamur -
Paracetamol 4x 75 mg IV Bakteri +
IVFD KaEN 3B 18 tpm IV

142
Pasien : 34 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-Laki Keluar
Usia : 2 tahun 23/06 /2015 Hemoglobin 11,7 g/dL Makroskopik :
BB : 12 kg Leukosit 14,0 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 23/06/2015- 26/06/2015 Hematokrit 34 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 370 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit 4,6 103/uL Lendir -
sedang, vomitus. Natrium 134 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair ± 4 hari, warna Kalium 4,0 mmol/L Mikroskopik :
hitam berlendir,demam 4 hari. Klorida 103 mmol/L Leukosit -
Eritrosit -
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 4cc/kgBB/jam IV Taenia -
Oralit - oral Enterobius -
Paracetamol 3x1 oral Jamur -
Ambroxol 3x1 oral Bakteri +
Ceftriaxon 1x600 mg IV

143
Pasien : 35 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 24/04 /2015 Hemoglobin 7,3 g/dL Makroskopik :
BB : 16,5 kg Leukosit 14,6 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 24/04/2015- 01/05/2015 Hematokrit 28 % Konsistensi cair
Riwayat Penyakit : - Trombosit 533 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir +
sedang,anemia. Natrium 133 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair ± 2 hari dengan Kalium 3,2 mmol/L Mikroskopik :
frekuensi 5-10x warna kuning dan Klorida 100 mmol/L Leukosit 3-6
berlendir,muntah, demam. Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 10 tpm IV Taenia -
Paracetamol 1,5 ml oral Enterobius -
Nymico 3x1 mg oral Jamur +
Ceftriaxone 1x500 mg IV Bakteri +
Ondancentron 2x2 mg IV

144
Pasien : 36 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 07/05 /2015 Hemoglobin 11,3 g/dL Makroskopik :
BB : 11 kg Leukosit 11,0 103/uL Warna hijau Sembuh
Lama dirawat : 07/05/2015- 11/05/2015 Hematokrit 35 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 422 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang,anemia. Natrium 133 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair ± 6x , muntah. Kalium 3,4 mmol/L Mikroskopik :
Klorida 104 mmol/L Leukosit 5-7
Terapi obat Eritrosit 2-4
Telur cacing: -
Lacto B 2x1 scht oral Ascaris -
Zinc 1x20 mg oral Trichluris -
KSR 3x200 mg oral Oxyuris -
Ceftriaxone 1x500 mg IV Ankylostoma -
Paracetamol 4x150 mg IV Taenia -
Ondancentron 3x2 mg IV Enterobius -
Metronidazole 3x125 mg IV Jamur -
Bakteri +

145
Pasien : 37 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : perempuan Keluar
Usia : 4 tahun 09/05 /2015 Hemoglobin 9,1 g/dL Makroskopik :
BB : 14 kg Leukosit 9,0 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 08/05/2015- 10/05/2015 Hematokrit 29 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 472 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut tanpa dehidrasi. Eritrosit 4,8 103/uL Lendir -
Keluhan Masuk : BAB cair lebih dari 3x sehari Natrium 133 mmol/L Cacing dewasa -
berwarna kuning , demam, muntah 5x kemarin, Kalium 3,4 mmol/L Mikroskopik :
kembung. Klorida 104 mmol/L Leukosit 2-4
Eritrosit 0-2
Terapi obat Telur cacing: -
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
Ranitidine ½ amp IV Ankylostoma -
IVFD KaEN 3B 4cc/kgBB/jam IV Taenia -
Enterobius -
Jamur -
Bakteri -

146
Pasien : 38 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : perempuan Keluar
Usia : 3 tahun 18/05 /2015 Hemoglobin 12,3 g/dL Makroskopik :
BB : 11 kg Leukosit 16,4 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 17/05/2015- 25/05/2015 Hematokrit 37 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 428 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir +
sedang. Natrium 135 mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair 10x berlendir dan Kalium 4,3 mmol/L Mikroskopik :
berwarna kuning,batuk berdahak,tidak demam dan Klorida 99 mmol/L Leukosit 2-3
tidak muntah. Eritrosit 0-1
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Paracetamol 4-5x 1cth oral Taenia -
Ceftriaxone 1x550 mg IV Enterobius -
Ondancentron 2x2 mg IV Jamur +
Ranitidine ½ amp IV Bakteri -
Candistatin 4x1 ml oral
IVFD KaEN 3B 4cc/kgBB/ IV

147
Pasien : 39 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluar
Usia : 2 tahun 20/05 /2015 Hemoglobin 7,3 g/dL Makroskopik :
BB : 8 kg Leukosit 10,9 103/uL Warna kuning Sembuh
Lama dirawat : 20/05/2015- 25/05/2015 Hematokrit 26 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 274 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi berat. Eritrosit 4,3 103/uL Lendir +
Keluhan Masuk : BAB cair ± 4x sehari,muntah Natrium 135 mmol/L Cacing dewasa -
lebih dari 5x, nafsu makan dan minum kuat, Kalium 3,9 mmol/L Mikroskopik :
demam ± 3 hari, batuk dan pilek. Klorida 108 mmol/L Leukosit 6-8
Eritrosit 1-3
Terapi obat Telur cacing: -
Ascaris -
Lacto B 2x1 scht oral Trichluris -
Zinc 1x20 mg oral Oxyuris -
Candistatin 4x1 ml oral Ankylostoma -
Ondancentron 2x2 mg IV Taenia -
Paracetamol drip 80 mg IV Enterobius -
Ceftriaxone 1x400 mg IV Jamur +
Furosemide 4 mg IV Bakteri -
Candistatin 4x1 ml oral

148
Pasien : 40 Tanggal Hasil laboratorium Hasil Pemeriksaan Feses Keadaan
Jenis Kelamin : Perempuan Keluar
Usia : 2 tahun 19/10 /2015 Hemoglobin 11,5 g/dL Makroskopik :
BB : 7 kg Leukosit 5,2 103/uL Warna coklat Sembuh
Lama dirawat : 16/10/2015- 29/10/2015 Hematokrit 39 % Konsistensi lembek
Riwayat Penyakit : - Trombosit 145 103/uL Darah -
Diagnosa Masuk :Diare akut dehidrasi ringan Eritrosit - 103/uL Lendir -
sedang,TBC. Natrium - mmol/L Cacing dewasa -
Keluhan Masuk : BAB cair ± 4x sehari,muntah Kalium - mmol/L Mikroskopik :
lebih dari 5x, nafsu makan dan minum kuat, Klorida - mmol/L Leukosit 2-4
demam ± 3 hari, batuk dan pilek. Eritrosit 0-2
Telur cacing: -
Terapi obat Ascaris -
Trichluris -
Lacto B 2x1 scht oral Oxyuris -
Zinc 1x20 mg oral Ankylostoma -
Metisoprinol 3x ½ cth oral Taenia -
Captopril 2x 6,5 mg oral Enterobius -
Furosemide 1x10 mg oral Jamur -
Ceftriaxone 1x300 mg IV Bakteri +

149