Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dalam dunia industri logam, penentuan kekerasan logam sangat bermanfaat untuk
menentukan jenis- jenis logam untuk berbagai macam keperluan. Pada umumnya yang
dimaksud dengan logam adalah unsur- unsur yang memiliki sifat yang kuat, ulet, keras,
mengkilap, penghantar listrik dan panas. Karena sifat- sifat tersebut maka logam banyak
digunakan orang untuk berbagai keperluan. Sebagai akibat dari penggunaan logam, maka
timbullah pengetahuan yang semakin luas dan mendalam.
Kekerasan dari suatu logam sangat menentukan apakah logam itu sudah dapat digunakan
karena kadang- kadang logam bersifat sangat keras tapi rapuh dan getas. Kekerasan suatu
bahan/ logam menunjukkan sifat logam tahan terhadap deformasi plastis atau perubahan
bentuk yang tetap. Didorong oleh kebutuhan-kebutuhan akan logam dan paduannya, maka
muncullah pengetahuan logam yang lebih luas lagi, misal dalam mikroskop electron, dan ion
pemotongan dan penyambungan dengan sinar laser.
Untuk menentukan sifat- sifat keras dari suatu logam yang akan menjadi ilmu tambahan/
pelengkap pengetahuan mahasiswa yang diperolehnya secara teoritis. Oleh karena itu,
praktikum dalam uji kekerasan sangat penting untuk dilakukan oleh para mahasiswa
khususnya ,mahasiswa teknik mesin .

1. 2. Tujuan dan Manfaat Pengujian

A. Tujuan dari Percobaan ini meliputi:

1. Mengetahui distribusi kekerasan pada bahan mampu keras


2. Memberikan contoh aplikasi di lapangan.
3. Menjelaskan definisi, tujuan dan prosedur pengujian kekerasan.
4. Menentukan nilai kekerasan logam dengan cara penekanan
5. Membua grafik hasil pengujian kekerasan
6. Mengetahui hubungan kekerasan pada setiap proses perlakuan panas.
2

B. Manfaat dari Pengujian:

a. Manfaat pengujian bagi praktikan:


- Mengetahui hasil pengerasan logam yang telah mengalami pengujian kekerasan.
- Mengetahui perbedaan antara pengujian kekerasan Brinell dengan Vickers.
- Dapat melakukan perhitungan pada suatu bahan yang telah dilakukan pengujian
kekerasan.

b. Manfaat pengujian bagi dunia industri:

- Dapat menentukan tingkat kekerasan suatu produk yang digunakan dalam industri
- Dapat menentukan unsur dari logam untuk digunakan dalam pembuatan produk.
- Memudahkan dalam pemliharaan bahan yang akan digunakan pada proses
pemeliharaan.
3

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 TEORI DASAR

Hardness
Kekerasan ( hardness ) merupakan kemampuan dari suatu bahan/ material terhadap
gaya tekan/ goresan/ pengikisan.
Pengujian kekerasan adalah satu dari sekian banyak pengujian yang dipakai, karena
dapat dilaksanakan pada benda uji yang kecil tanpa kesukaran mengenai spesifikasi.
Pengujian paling banyak dipakai ialah dengan menekankan penekan tertentu kepada benda uji
dengan beban tertentu dan dengan mengukur ukuran bekas penekanan yang terbentuk di
atasnya, cara ini dinamakan cara kekerasan penekanan.

A. PENENTUAN KEKERASAN

Kekerasan adalah suatu sifat dari bahan logam yang sangat penting karena banyak
sifat lain dari bahan logam yang berhubungan dengan kekerasan. Kekerasan ini adlaah suatu
kemampuan dari bahan untuk menahan sdeformasi plastik yang terjadi atau perbedaan dari
bahan terhadap bentuk tetap. Kekerasan berhubungan dengan kekuatan, oleh karena itu dalam
hal kekerasan suatu bahan dengan angka-angka sudah menggambarkan kekuatan tersebut.
Kemampuan suatu logam akan meningkat apabila kekerasan semakin meningkat,
sementara kekerasan itu sendiri dipengaruhi oleh media pendingin. Pada umumnya ada 3 cara
pengujian kekerasan, yaitu:

1. Metode goresan
2. Metode elastis atau pantulan ( rebound )
3. Metode indentasi
4

1. Metode Goresan
Uji Kekerasan dengan goresan merupakan perhatian utama para ahli mineral. Dengan
mengukur kekerasan, berbagai mineral dan bahan-bahan yang lain disusun
berdasarkan kemampuan goresan yang satu terhadap yang lain. Kekerasan goresan
diukur dengan skala Mohs. Skala ini terdiri atas sepuluh standar mineral,disusun
berdasarkan kemampuannya untuk digores. Mineral yang paling lunak pada skala ini
adalah talk (kekerasan goresan 1), kuku jari mempunyai nilai kekerasan sekitar 2,
tembaga yang dilunakkan kekerasannya 3, martensit 7, logam yang paling keras
mempunyai harga kekerasan pada skala Mohs antara 4 sampai 8. Sedangkan intan
mempunyai kekerasan 10. kelemahan dari penilaian kekerasan dengan skala Mohs
adalah penilaiannya tidak cocok untuk logam karena interval skala pada nilai
kekerasan.

Tabel 2.1 : Skala Kekerasan Mohs

2. Metode Elastis atau Pantulan


Untuk mengetahui nilai kekerasan suatu material dintentukan oleh alat yang
dinamakan Scleroscop yang merupakan contoh paling umum dari suatu alat penguji
kekerasan dinamik, mengukur kekerasan yang dinyatakan dengan tinggi lekukan atau tinggi
pantulan. Semakin tinggi pantulan maka kekerasan suatu benda uji semakin tinggi.

Gambar 2.1 : Scleroscop (alat uji Metode Elastis atau Pantulan)


5

3. Metode Indentasi
Metode ini dilakukan dengan penekanan benda uji dengan menggunakan indentor
dengan gaya tekan dan waktu indentasi yang ditentukan. Prinsip kerja dari metode ini dengan
menentukan jejak dari indentasi yang dihasilkan. Nilai kekerasan dari suatu bahan dilihat dari
kedalaman jejak yang ditinggalkan. Jejak yang ditinggalkan menandakan bahwa logam
tersebut telah terdeformasi plastis. Metode indentasi ini di klasifikasikan menjadi 3, yaitu :

3.1.Metode Brinell
Pengujian kekerasan dilakukan dengan memakai bola baja yang diperkeras (hardened steel
ball). Hasil penekanan adalah jejak berbentuk lingkaran bulat, yang harus dihitung
diameternya dibawah mikroskop khusus pengukur jejak.
Angka kekerasan brinel (BHN) dinyatakan sebagai beban P dibagi luas permukaan lekukan.
Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diameter jejak. BHN
dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

…………………………………………………Rumus ( 2.1 )
Dimana :
P = Gaya tekan (kgf)
D = Diameter identor bola baja (mm)
d = Diameter hasil identasi (mm)
Persamaan diatas diperoleh dari :

Gambar 2.2 : Pengujian metode brinell


6

X2 = (½ D)2 – (½ d)2
= ¼ (D2 – d2)
X = ½ (D2 – d2)1/2
X
h =½D–X
= ½ D – ½ (D2 – d2)1/2
= ½ {D – (D2 – d2)}
A = π.D.H
= ½ (πD) {D-(D2 – d2)1/2}
BHN = P/A
= 2P / (πD) {D-(D2 – d2)1/2}
Kelebihan :
 Pengerjaan lebih mudah dilakukan
 Biaya relatif ringan.
 Menghasilkan jejak yang relatif kecil
 Tidak dipengaruhi oleh kekerasan permukaan.

Kekurangan :
 Tidak dapat dilakukan pada logam dengan ukuran permukaan kecil.
 Tidak dapat dilakukan pada logam dengan tingkat kekerasan yang tinggi.

3.2.Metode Vickers
Pada metode ini digunakan indentor intan berbentuk piramida dengan sudut 136o. Prinsip
pengujian adalah sama dengan metode brinell, walaupun jejak yang dihasilkan berbentuk
bujur sangkar berdiagonal. Panjang diagonal diukur dengan skala pada mikroskop pengukur
jejak. Uji kekerasan Vickers banyak dilakukan pada pekerjaan penelitian karena metode
tersebut memberikan hasil berupa skala kekerasan yang kontinyu, untuk suatu beban tertentu;
dan digunakan pada logam yang sangat lunak, yakni DPH nya 5 hingga logam yang sangat
keras, dengan DPH 1500.
Identor yang digunakan adalah intan yang berbentuk pyramid yang beralas bujur
sangkar dengan sudut puncak antara dua sisi yang berhadapan adalah 136o, Pada dasarnya
semua beban bisa digunakan, kecuali untuk pelat yang tipis harus digunakan beban yang
ringan. Pada pelaksanaannya, pengujian kekerasan ini dilakukan dengan menekan identor
pada permukaan specimen selama 10 – 30 detik. Nilai kekerasan pengujian ini dinyatakan
7

dalam satuan DPH (Vickers Diamond Pyramid Hardness) yang dihitung berdasarkan diagonal
identasi dengan persamaan sebagai berikut :

…………………………………..…………Rumus
2.2
Untuk : α = 136o
Dimana : P = Gaya tekan (kgf)
d = diagonal identasi (mm)

Gambar 2.3 : Pengujian metode vickers

d = d1+d2 L Δ AOB = ½ X.Y

2 = (½ . ½ d .½d ) / Cos 22o

X = d Cos 45o = (½ . ½ d .½d ) / Cos 22o

=½d A = 4 L Δ AOB
Y = ½ X / Cos 22o = 4 (1/8 d2) / Cos 220

= (½ d ) / Cos 22o = (½ d2) / Cos 22o

HVN = P/A
= 1,854 P/d2

Kelebihan :
 Tingkat ketelitian tinggi
 Specimen yang digunakan tidak mengalami kerusakan yang berarti dibanding dengan
metode lain
8

 Memberikan hasil berupa skala yang kontinyu untuk suatu bahan tertentu.
Kekurangan :
 Waktu operasi relatif lama.
 Proses pengerjaannya sedikit rumit
 Tidak dapat digunakan untuk pengujian fisik, karena pengujian permukaan lambat
memerlukan persiapan permukaan benda uji yang sangat hati-hati dan terdapat pengaruh
kesalahan manusia terhadap penentuan panjang diagonalnya.

3.3. Metode Rockwell


Metode Rockwell merupakan uji kekerasan dengan pembacaan langsung (direct reading).
Metode ini banyak dipakai dalam industri karena pertimbangan praktis. Indentor yang
digunakan terbuat dari baja diperkeras berbentuk bola dan selain itu ada juga yang berbentuk
kerucut intan. Uji kekerasan Rockwell sangat berguna dan mempunyai kemampuan ulang
(reproducible) sejumlah kondisi sederhana yang diperlukan dapat dipenuhi. Uji kekerasan
Rockwell ini paling banyak dipergunakan. Hal ini disebabkan oleh sifat–sifatnya yaitu cepat,
bebas dari kesalahan manusia, mampu untuk membedakan perbedaan kekerasan yang kecil
pada baja yang diperkeras, dan ukuran lekukannya kecil sehingga bagian yang mendapat
perlakuan panas yang lengkap dapat diuji kekerasannya tanpa menimbulkan kerusakan.
Pengujian ini menggunakan kedalaman lekukan pada beban yang konstan sebagai ukuran
kekerasan. Metoda pengujian kekerasan Rockwell yaitu mengindentasi material contoh
dengan indentor kerucut intan atau bola baja.

Gambar 2.4 : Metode pengujian Rockwell

Makin keras suatu logam yang akan dijui maka semakin dangkal masuknya bola baja
atau kerucut baja. Begitu pula sebaliknya, karena pengukuran dalamnya penekanan terbatas
pada kemampuan alat dan mengingat segi-segi praktis lainnya. Maka dibuat segi dari skala
yang disebut skala A, B, dan C.
9

 Skala A
Digunakan pada pengukuran kekerasan logam yang sangat keras dengan menggunakan
kerucut intan dengan beban 60 Kg.
 Skala B
Digunakan pada pengukuran kekerasan logam agak lunak dengan menggunakan bola baja
berukuran 1/16 inchi dengan beban 100 Kg.
 Skala C
Digunakan pada pengukuran kekerasan logam yaitu yang telah dikeraskan dengan
menggunakan kerucut intan dengan penekanan 150 Kg.
Beban Mayor
Skala Tipe Indentor Tipe Material Uji
(Kgf)
A 60 1/16” bola intan kerucut Sangat keras, tungsten, karbida
Kekerasan sedang, baja karbon rendah
B 100 1/16” bola
dan sedang, kuningan, perunggu
Baja keras, paduan yang dikeraskan, baja
C 150 Intan kerucut
hasil tempering
Besi cor, paduan alumunium, magnesium
D 100 1/8” bola
yg dianealing
E 100 Intan Kerucut Baja kawakan
F 60 1/16” bola Kuningan yang dianealing dan tembaga
G 150 1/8” bola Tembaga, berilium, fosfor, perunggu
H 60 1/8” bola Pelat alumunium, timah
K 150 ¼” bola Besi cor, paduan alumunium, timah
L 60 ¼” bola Plastik, logam lunak
M 100 ¼” bola Plastik, logam lunak
R 60 ¼” bola Plastik, logam lunak
S 100 ½” bola Plastik, logam lunak
V 150 ½” bola Plastik, logam lunak
Tabel 2.2 : Skala Kekerasan Rockwell
Skala Indenter Beban Mayor ( kgf )
15N Diamond 15
30N Diamond 30
45N Diamond 45
15T 1/16 in. Ball 15
30T 1/16 in. Ball 30
45T 1/16 in. Ball 45
15W 1/8 in. Ball 15
30W 1/8 in. Ball 30
45W 1/8 in. Ball 45
Tabel 2.3 : Skala Kekerasan Superficial Rockwell
10

Kelebihan :
 Pengamatan dapat dilakukan dengan mudah
 Waktu operasinya praktis dan cepat.
 Mampu membedakan ukuran tekanan yang kecil sehingga bagian yang mendapatkan
perlakuan panas yang lengkap dapat diuji kekerasannya.
Kekurangan :
 Dalam menentukan kekerasan bahan, harus memiliki permukaan yang halus dan rata.
 Efektifitas dalam pengambilan data kurang.
 Ketelitian kurang.
11

B. Macam-macam Pengerasan
1. Pengerasan Permukaan
Adanya beberapa cara untuk melakukan penerasan permukaan yaitu:
1.1 Karburasi
Cara ini sudah lama dikenal oleh orang sejak dahulu. Dalam cara ini, besi dipanaskan
diatas suhu dalam lingkukngan yang mengandung karbon, baik dalam bentuk padat, cair,
ataupun gas. Beberapa bagian dari karburasi yaitu: karburasi padat, karburasi cair, dan
karburasi gas.
1.2. Karbonitriding
Adalah suatu proses pengerasan [permukaan dimana baja dipanaskan diatas suhu kritis
didalam lingkungan gas yang terjadi penyerapan karbon dan nitrogen.
1.3.Cyaniding
Adalah proses dimana terjadi absorbsi karbon dalam nitrogen untuk memperoleh
permukaan yang keras pada baja karbon rendah yang sulit dipanaskan.
.1.4. Nitriding
Adalah proses pengerasan permukaan yang dipanaskan sampai + 510OC didalam
lingkungan gas amonia selama beberapa waktu.

2. Pengerasan Induksi
Penggunaan arus listrik untuk pencairan logam, penerasan dan perlakuan panas
lainnya. Arus bolak-balik berfrekuensi tinggi berasal dari pembangkit, konventer merkuri,
osilator spark atau asilator tabung. Frekueni pada umumnya tidak melebihi 500.000 Hz untuk
benda yang tipis digunakan frekuensi tingg, sedangkan untuk benda-benda berukuran sedang
atau tebal digunakan frekuensi rendah.

2.1. Pengerasan Nyala


Dasar pengerasan nyala adalah sama dengan pengerasan induksi yaitu pemanasan yang
cepat disusul dengan pencelupan permukaan, tebal lapisan yang mengeras tergantung pada
kemampuan pengerasan bahan. Karena selama proses penerasan tidak ada penambahan unsur-
unsur lainnya. Pemanasan dilakukan dengan nyala oksiasilaen yang dibiarkan memanasi
permukaan logam sampai mencapai suhu kritis.
Pada alat dipanaskan aliran air pendingin sehingga seera setelah suhu yang diinginkan
tercapai , permukan langsung disemprot dengan ai. Bila dikendalikan dengan baik, bagian
12

dalam tidak berpengaruh. Tebal lapisan yang keras tergantung pada waktu pemanasan pada
suhu nyala.

2.2. Pengerasan Endapan


Pengerasan endapan hanya dapat diterapkan pada paduan dimana daya larut suatu
komponen berkurang dengan menurunnya suhu. Paduan dipanaskan beberapa lama sehingga
terbentuk paduan yang homogen kemudian didinginkan dengan cepat sampai suhu ruang.
Paduan masih berupa larutan padat yang lewat jenuh, suatu keadaan tidak stabil, Al2Cu
akanmulai mengendap bila dibiarkan pada suhu ruang. Proses ini disebut proses pengerasan
sepuh alamiah.
Partikel yang mengendap dari larutan padat terbentuk pada batas butir dan bidang
geser, menghasilkan hambatan sehingga pergeseran atau slip antar partikel/kristal berkurang.
Kekerasan akan berkurang dan bertambah dengan semakin berkurangnya atau bertambahnya
besar partikel diiringi meningkatnya kerapuhan dan berkurangnya kekuatan.

C. Cara Meningkatkan Kekerasan

1. Perlakuan Panas
Kekerasan dapat diperoleh dengan melakukan perlakuan panas yang disertai
pendinginan yang cepat. Pemanasan diatas suhu kritis kemudian disusul pendingan yang cepat
akan membentuk fasa martensit yang bersifat sangatkeras dan getas.

2. Penambahan Unsur Paduan


Unsur paduan karbon paling banyak digunakan untuk meningkatkan kekerasan bajka.
Unsur karbon memiliki sifaty sebagai pengikat molekul logam sehingga penambahan karbon
dapat meningkatkan ikatan antar molekul sehingga mengakibatkan baja tersebut kuat,tapi
akan menurunkan keuletan.

D. Beberapa Macam Unsur Paduan


1) Chrom (Cr) dapat menambah kkekuatan tarik dan meningkatkan ketahanan terhadap
korosi pada suhu tinggi.
2) Mangan (Mn) menambah kekuatan dan elastisitas, kekerasan dan keuletan.
3) Silikon (Si) menambah kekuatan, ketahanan terhadap asam pada suhu tinggi dan
ketahanan listrik.
13

4) Nikel (Ni) meningkatkan sifat mekanis, keuletan, kemampukerasan dan mengurangi sifat
magnet.
5) Molibden dan Wolform menambah kekuatan dan kekerasan terutama pada suhu tinggi.
6) Phospor (P) berpengaruh dalam kekerasan sehingga harus dijaga seminimal mungkin
dengan batas hingga 40 %.
7) Sulfur (S) bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan sifat mekanik.
8) Vanadium (V) digunakan untuk poros dan bagian mesin yang membutuhkan
kekuatan tarik dan regangan

E. Pengaruh Unsur Paduan Terhadap Kekerasan


Sifat unsur paduan berbeda dengan logam murni, dimana peningkatan kekerasan dan
keuletan disebabkan adanya atom-atom penyusun yang menghambat terjadinya dislokasi
kristal sewaktu deformasi plastis. Hambatan ini terjadi karena adanya dislokasi yang tidak
bergerak bebas melalui unsur-unsur paduan.
Unsur paduan pada baja sangat berpengaruh terhadap nilai kekerasan,keuletan serta
kelelahan suatu baja Unsur Utama penyusun baja adalah Carbon (C)
Karbon merupakan unsur 'pengeras utama' pada baja. Jika kadar Carbon ditingkatkan
maka akan meningkatkan kekuatannya akan tetapi nilai impact baja tersebut akan menurun.
Ada 3 jenis pembagian baja : Baja Construksi (kandungan Karbon antara 0,1-0,6%), baja
karbon perkakas (0,5-1,4%), baja Case hardening (0,005- 0,25%).
Mangan juga sangat berperan dalam meningkatkan kekuatan dan kekerasan suatu logam
baja, menurunkan laju pendinginan sehingga mampu meningkatkan mampu keras baja dan
kekuatan terhadap tahanan abrasi.
Hal ini dikarenakan mampu mengikat belerang yang mampu memperkecil terbentuknya
sulfida besi yang bisa menyebabkab abrasi (HOT-Shortness) dapat diminimalkan. Mangan
banyak dipakai untukkontruksi rel kereta api. Silikon mampu menaikkan kekerasan dan
elastisitas akan tetapi menurunkan kekutan tarik dan keuletan dari baja (baja pegas dan
material tahan asap di perusahaan petro kimia banyak menggunakan jenis baja ini).
Cromium (Cr) didalam Baja cromium ini dapat digunakan untuk meningkatkan mampu
las dan mampu panas baja. Kekuatan tarik, ketangguhan serta ketahanan
terhadap abrasi juga bisa meningkat. Bisa juga meningkatkan Harden Ability material jika
mencapai kandungan 50%. Nikel (Ni) nikel sangat penting untuk kekuatan dan ketangguhan
dalam baja dengan cara mempengaaruhi proses tranformasi fasanya. Jika Ni banyak maka
austenit akan stabil hingga mencapai temperatur kamar. Molibden (Mo) Meningkatkan kadar
14

kekerasan,ketangguhan, keuletan,ketahanan baja terhadap temperatur yang tinggi. Mo juga


bisa menurunkan temper embritment.
Wolfram (Wo) Senyawa ini akan membentuk senyawa Carbidda di dalam material.
Sehingga akan menyebabkan material menjadi lebih kuat, tahan abrasi serta memperlambat
pertumbuhan butir di dalam kawasan HAZ Vanadiun (Va) Memeberikan pengaruh positf
terhadap kekuatan tarik,
kekuatan dan kekerasan pada tmperatur tinggi seta meningkatkan batas mulur juga. Baja
Tahan Karat (Stainless Steel)
Baja tahan karat dapat diartikan sebagai material yang sebagian besar mengandung besi
dan sedikitnya mengandung 11% kromium. [3] Penambahan kromium ini bertujuan untuk
membentuk lapisan krom oksida yang berfungsi sebagai lapisan pasif
unsur paduan lain yang sering ditambahkan adalah nikel, molibdenum, mangan, tembaga,
titanium, aluminium, silikon, sulfur, niobium, nitrogen dan selenium.
Untuk jenis dan tipe baja tahan karat sesuai dengan penambahan dan pengurangan
paduan.

F. Hal-hal yang Mempengaruhi Kekerasan


1. Temperatur
Semakin tinggi temperatur dari perlakuan panas, maka bahan akan semakin lunak, karena
suhu tinggi menyebabkan gaya ikat partikel makin kurang, sehingga mudah berdeformasi
apabila dikenai penetrasi.
2. Waktu Pemanasan
Semakin lama waktu pemanasan, maka temperatur tentu akan bertambah, akibatnya
material akan melunak.
3. Media pendingin
Media pendingin memiliki densitas dan viskositas yang dapat mempengaruhi laju
penyerapan kalor dari benda yang didinginkannya. Apabila densitas media pendingin
semakin rendah maka laju penyerapan kalornyapun rendah, akibatnya struktur butir akan
menghasilkan sifat martensit yang lunak.
4. Unsur paduan
15

Sifat unsur paduan berbeda dengan logam murni, dimana peningkatan kekerasan dan
keuletan disebabkan adanya atom-atom penyusun yang menghambat terjadinya dislokasi
kristal sewaktu deformasi plastis. Hambatan ini terjadi karena adanya dislokasi yang
tidak bergerak bebas melalui unsur-unsur paduan.
5. Kandungan kadar karbon
Semakin tinggi kandungan karbon yang dimiliki oleh suatu material, maka tingkat
kekerasannya akan semakin tinggi.

G. Kekerasan Meyer
Meyer mengajukan definisi kekerasan yang lebih rasional dibandingkan dengan
yang diajarkan Brinell yang didasarkan pada luas proyeksi retak, buakn keras permukaannya.
Tekanan rata-rata antara luas penumbuk atau lekukan adalah sama beban luas proyeksi
lekukan.

Meyer mengemukakan bahwa kekerasan/tekanan rata-rata ini dapat diambil sebagai


ukuran kekerasan dan dinamakan kekerasan Meyer.
Kekerasan Meyer mempunyai satuan Kg/mm2, kekerasan kurang peka terhadap
bahan yang diterapkan dibanding kekerasan Brinell. Untuk bahan-bahan yang mengalami
pekerjaan dingin kekerasan Meyer pada dasarnya tetap, sedangkan kekerasan Brinell akan
mengecil bila beban bertambah. Karena lekukan yang terjadi mengakibatkan kekerasan
renggang.

H. Jominy Test
Bagi setiap jenis baja mendapat hubungan langsung dan konsistensi antara
kekerasan dan laju pendinginan. Akan tetapi hubungan ini tidak linear selain itu landasan teori
untuk analisa kuantatif cukup rumit. Karena menyangkut variable seperti: unsure paduan
ketidak murnian, suhu austenit. Untunglah bahwa ada pengujian stendart yang singkat yang
memungkinkan ahli teknik memperkirakan kekerasan. Pada penggunaan tertentu dan
membandingkan kekerasan antar berbagai jenis baja. Percoban uji ini adalah percobaan
jominy dimana batang bulat dengan ukuran tertentu dipanaskan pada daerah austenit dan
disemprot ujungnya dengan air yang mempunyai kecepatan aliran dan tekanan tertentu nilai
kekerasan sepanjang gradien lauju pendinginan diukur dengan pengukuran kekerasan
Rockwell dan hasilnya digabarkan sebagai kurva kemampukerasan.
16
17

BAB III

JURNAL PRAKTIKUM

3.1. Maksud dan tujuan

1. untuk menentukan angka kekerasan suatu material

2. Untuk membandingkan beberapa metode pengukuran kekerasan

3.2. Alat dan bahan

1. Alat pengujian kekerasan Rockwell dengan indentor kerucut intan

2. Material alumunium

3. Material besi

3.3. Langkah kerja

1. Bersihkan permukaan benda kerja, agar benda kerja sejajar dengan meja uji.

2. Tentukan metode pengujian kekerasan dan skala yang digunakan berdasarkan


kebutuhan.

3. Ambil titik mayor load.

5. Lepakan beban setelah jarum penunjuk berhenti.

6. Catat angka kekerasan yang ditunjukan oleh jarum peunjuk.

7. Lakukan pengujian di beberapa titik pada benda uji tersebut.


18

3.4. Tabel metode Rockwell

Jenis mesin : Rockwell

Bahan : 150 kg

Indentor : kerucut intan

bahan skala No Angka


pengujian kekerasan
Besi 1:5 1 150 kgf
1:5 2 138 kgf
1:5 3 140 kgf
1:5 4 141 kgf
1:5 5 144 kgf
Alumunium 1:5 1 156 kgf
1:5 2 152 kgf
1:5 3 157 kgf
1:5 4 149 kgf
1:5 5 152 kgf
19

3.5. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah di lakukan, pengujian kekerasan suatu benda dapat
dilakukan dengan beberapa metode, yang digunakan pada praktek salah satunya adalah
metode Rockwell.
20

BAB IV
PERTANYAAN DAN JAWABAN

4.1 soal
1. Sebutkan 3 cara pengujian kekerasan dan jelaskan ?
2. Sebutkan cara meningkatkan kekerasan pada material dan jelaskan ?
3. Metode apa saja yg digunakan pada metode indentasi ?
4. Apa fungsi skala A,B,C pada metode Rockwell ?
5. Sebutkan hal-hal yang mempengaruhi kekerasan ?
21

4.2 JAWABAN
1. a. Metode Goresan
Kekersana goresan merupakan perhatian utama para ahli mineral. Dengan mengukur
kekerasan, berbagai mineral dan bahan-bahan yang lain disusun berdasarkan kemampuan
goresan yang satu terhadap yang lain. Kekerasan goresan diukur dengan skala Mohs. Skala ini
terdiri atas sepuluh standar mineral disusun berdasarkan kemampuannya untuk digores.
Mineral yang paling lunak pada skala ini adalah talk (kekerasan goresan 1), kuku jari
mempunyai nilai kekerasan sekitar 2, tembaga yang dilunakkan kekerasannya 3, martensit 7,
logam yang paling keras mempunyai harga kekerasan pada skala Mohs antara 4 sampai 8.
Sedangkan intan mempunyai kekerasan 10. kelemahan dari penilaian kekerasan dengan skala
Mohs adalah penilaiannya tidak cocok untuk logam karena interval skala pada nilai kekerasan.
b. Metode Elastis atau Pantulan
Untuk mengetahui nilai kekerasan suatu material dintentukan oleh alat yang
dinamakan Scleroscop yang merupakan contoh paling umum dari suatu alat penguji
kekerasan dinamik, mengukur kekerasan yang dinyatakan dengan tinggi lekukan atau tinggi
pantulan. Semakin tinggi pantulan maka kekerasan suatu benda uji semakin tinggi.
c. Metode Indentasi
Metode ini dilakukan dengan penekanan benda uji dengan menggunakan indentor
dengan gaya tekan dan waktu indentasi yang ditentukan. Prinsip kerja dari metode ini dengan
menentukan jejak dari indentasi yang dihasilkan. Nilai kekerasan dari suatu bahan dilihat dari
kedalaman jejak yang ditinggalkan. Jejak yang ditinggalkan menandakan bahwa logam
tersebut telah terdeformasi plastis.

2. 1. Perlakuan Panas
Kekerasan dapat diperoleh dengan melakukan perlakuan panas yang disertai
pendinginan yang cepat. Pemanasan diatas suhu kritis kemudian disusul pendingan
yang cepat akan membentuk fasa martensit yang bersifat sangatkeras dan getas.

2. Penambahan Unsur Paduan


Unsur paduan karbon paling banyak digunakan untuk meningkatkan kekerasan bajka.
Unsur karbon memiliki sifaty sebagai pengikat molekul logam sehingga penambahan
karbon dapat meningkatkan ikatan antar molekul sehingga mengakibatkan baja
tersebut kuat,tapi akan menurunkan keuletan.
22

3. a. Metode Brinell
Pengujian kekerasan dilakukan dengan memakai bola baja yang diperkeras (hardened steel
ball). Hasil penekanan adalah jejak berbentuk lingkaran bulat, yang harus dihitung
diameternya dibawah mikroskop khusus pengukur jejak.
Angka kekerasan brinel (BHN) dinyatakan sebagai beban P dibagi luas permukaan lekukan.
Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diameter jejak. BHN
dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

…………………………………………………………..Rumus
2.1
Dimana :
P = Gaya tekan (kgf)
D = Diameter identor bola baja (mm)
d = Diameter hasil identasi (mm)

Persamaan diatas diperoleh dari :

Gambar 2.2 : Pengujian metode brinell


X2 = (½ D)2 – (½ d)2
= ¼ (D2 – d2)
X = ½ (D2 – d2)1/2
X
h =½D–X
= ½ D – ½ (D2 – d2)1/2
= ½ {D – (D2 – d2)}
23

A = π.D.H
= ½ (πD) {D-(D2 – d2)1/2}
BHN = P/A
= 2P / (πD) {D-(D2 – d2)1/2}
Kelebihan :
 Pengerjaan lebih mudah dilakukan
 Biaya relatif ringan.
 Menghasilkan jejak yang relatif kecil
 Tidak dipengaruhi oleh kekerasan permukaan.

Kekurangan :
 Tidak dapat dilakukan pada logam dengan ukuran permukaan kecil.
 Tidak dapat dilakukan pada logam dengan tingkat kekerasan yang tinggi.

b. Metode Vickers
Pada metode ini digunakan indentor intan berbentuk piramida dengan sudut 136o. Prinsip
pengujian adalah sama dengan metode brinell, walaupun jejak yang dihasilkan berbentuk
bujur sangkar berdiagonal. Panjang diagonal diukur dengan skala pada mikroskop pengukur
jejak. Uji kekerasan Vickers banyak dilakukan pada pekerjaan penelitian karena metode
tersebut memberikan hasil berupa skala kekerasan yang kontinu, untuk suatu beban tertentu;
dan digunakan pada logam yang sangat lunak, yakni DPHnya 5 hingga logam yang sangat
keras, dengan DPH 1500.
Identor yang digunakan adalah intan yang berbentuk pyramid yang beralas bujur
sangkar dengan sudut puncak antara dua sisi yang berhadapan adalah 136o, Pada dasarnya
semua beban bisa digunakan, kecuali untuk pelat yang tipis harus digunakan beban yang
ringan. Pada pelaksanaannya, pengujian kekerasan ini dilakukan dengan menekan identor
pada permukaan specimen selama 10 – 30 detik. Nilai kekerasan pengujian ini dinyatakan
dalam satuan DPH (Vickers Diamond Pyramid Hardness) yang dihitung berdasarkan diagonal
identasi dengan persamaan sebagai berikut :
24

…………………………………..…………Rumus
2.2
Untuk : α = 136o
Dimana : P = Gaya tekan (kgf)
d = diagonal identasi (mm)

Gambar 2.3 : Pengujian metode vickers

d = d1+d2 L Δ AOB = ½ X.Y

2 = (½ . ½ d .½d ) / Cos 22o

X = d Cos 45o = (½ . ½ d .½d ) / Cos 22o

=½d A = 4 L Δ AOB
Y = ½ X / Cos 22o = 4 (1/8 d2) / Cos 220

= (½ d ) / Cos 22o = (½ d2) / Cos 22o

HVN = P/A
= 1,854 P/d2

Kelebihan :
 Tingkat ketelitian tinggi
 Specimen yang digunakan tidak mengalami kerusakan yang berarti dibanding dengan
metode lain
25

 Memberikan hasil berupa skala yang kontinu untuk suatu bahan tertentu.
Kekurangan :
 Waktu operasi relatif lama.
 Proses pengerjaannya sedikit rumit
 Tidak dapat digunakan untuk pengujian fisik, karena pengujian permukaan lambat
memerlukan persiapan permukaan benda uji yang sangat hati-hati dan terdapat pengaruh
kesalahan manusia terhadap penentuan panjang diagonalnya.

c. Metode Rockwell
Metode Rockwell merupakan uji kekerasan dengan pembacaan langsung (direct reading).
Metode ini banyak dipakai dalam industri karena pertimbangan praktis. Indentor yang
digunakan terbuat dari baja diperkeras berbentuk bola dan selain itu ada juga yang berbentuk
kerucut intan. Uji kekerasan Rockwell sangat berguna dan mempunyai kemampuan ulang
(reproducible) sejumlah kondisi sederhana yang diperlukan dapat dipenuhi. Uji kekerasan
Rockwell ini paling banyak dipergunakan. Hal ini disebabkan oleh sifat–sifatnya yaitu cepat,
bebas dari kesalahan manusia, mampu untuk membedakan perbedaan kekerasan yang kecil
pada baja yang diperkeras, dan ukuran lekukannya kecil sehingga bagian yang mendapat
perlakuan panas yang lengkap dapat diuji kekerasannya tanpa menimbulkan kerusakan.
Pengujian ini menggunakan kedalaman lekukan pada beban yang konstan sebagai ukuran
kekerasan. Metoda pengujian kekerasan Rockwell yaitu mengindentasi material contoh
dengan indentor kerucut intan atau bola baja.

Gambar 2.4 : Metode pengujian Rockwell


4.  Skala A
Digunakan pada pengukuran kekerasan logam yang sangat keras dengan
menggunakan kerucut intan dengan beban 60 Kg.
 Skala B
26

Digunakan pada pengukuran kekerasan logam agak lunak dengan


menggunakan bola baja berukuran 1/16 inchi dengan beban 100 Kg.
 Skala C
Digunakan pada pengukuran kekerasan logam yaitu yang telah dikeraskan dengan
menggunakan kerucut intan dengan penekanan 150 Kg.

5. Hal-hal yang Mempengaruhi Kekerasan


1. Temperatur
Semakin tinggi temperatur dari perlakuan panas, maka bahan akan semakin lunak, karena
suhu tinggi menyebabkan gaya ikat partikel makin kurang, sehingga mudah berdeformasi
apabila dikenai penetrasi.
2. Waktu Pemanasan
Semakin lama waktu pemanasan, maka temperatur tentu akan bertambah, akibatnya
material akan melunak.
3. Media pendingin
Media pendingin memiliki densitas dan viskositas yang dapat mempengaruhi laju
penyerapan kalor dari benda yang didinginkannya. Apabila densitas media pendingin
semakin rendah maka laju penyerapan kalornyapun rendah, akibatnya struktur butir akan
menghasilkan sifat martensit yang lunak.
4. Unsur paduan
Sifat unsur paduan berbeda dengan logam murni, dimana peningkatan kekerasan dan
keuletan disebabkan adanya atom-atom penyusun yang menghambat terjadinya dislokasi
kristal sewaktu deformasi plastis. Hambatan ini terjadi karena adanya dislokasi yang
tidak bergerak bebas melalui unsur-unsur paduan.
5. Kandungan kadar karbon
Semakin tinggi kandungan karbon yang dimiliki oleh suatu material, maka tingkat
kekerasannya akan semakin tinggi.

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa didalam
melakukan Hardness Test harus sesuai dengan prosedur kerja yang ada agar dapat
27

diperoleh hasil indentasi yang baik pada material uji yang berpengaruh terhadap hasil
pengamatan bekas hasil indentasi pada material uji yang tampak pada layar mesin
Hardness Test.
Dan dari nilai kekerasan yang diperoleh bahwa di daerah HAZ memiliki nilai
kekerasan paling rendah dikarenakan material sebagai bahan uji mengalami proses flame
heating.
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Daniel A. Brandt [1985] Metallurgy Fundamental. The Goodheart- Willcox. Inc,


USA.
2. http://mayaphobia.blogspot.com/2014/10/laporan-uji-bahan-hardness-test.html
3. Tim labolatorium,[2014], Modul Praktek Uji Bahan, Vol 1, Jurusan Teknik Mesin
UNIVERSITAS PANCASILA.
4. Tim labolatorium, [2014], Jobsheet Praktek Uji Bahan, Jurusan Teknik Mesin
UNIVERSITAS PANCASILA.