Anda di halaman 1dari 7

ANARKISME

Nama anggota kelompok:


1. Christophorus adi 9B/4
2. Darrel A.T 9B/5
3. Darryl Lienata 9B/7
4. Jason Setiawan 9B/14
5. William Paul 9B/34
6. Yohanes.K 9B/36
Bentuk-bentuk anarkisme:
1. Anarkisme-kolektif
Kelompok anarkisme-kolektif sering diasosiasikan dengan kelompok anti-otoritarian
pimpinan Mikhail Bakunin yang memisahkan diri dari Internasional Pertama. Kelompok
ini kemudian membentuk pertemuan sendiri di St. Imier (1872). Di sinilah awal
perbedaan antara kaum anarkis dengan Marxis, dan sejak saat itu kaum anarkis
menempuh jalur perjuangan yang berbeda dengan kaum Marxis. Perbedaan itu
terutama dalam hal persepsi terhadap negara.
Doktrin utama dari anarkis-kolektif adalah "penghapusan segala bentuk negara" dan
"penghapusan hak milik pribadi dalam pengertian proses produksi". Doktrin pertama
merupakan terminologi umum anarkisme, tetapi kemudian diberikan penekanan pada
istilah "kolektif" oleh Bakunin sebagai perbedaan terhadap ide negara sosialis yang
dihubungkan dengan kaum Marxis. Sedangkan pada doktrin kedua, anarkis-kolektif
mengutamakan penghapusan adanya segala bentuk hak milik yang berhubungan
dengan proses produksi dan menolak hak milik secara kolektif yang dikontrol oleh
kelompok tertentu. Menurut mereka, pekerja seharusnya dibayar berdasarkan jumlah
waktu yang mereka kontribusikan pada proses produksi dan bukan "menurut apa yang
mereka inginkan".
Pada tahun 1880-an, para pendukung anarkis kebanyakan mengadopsi pemikiran
anarkisme-komunis, suatu aliran yang berkembang terutama di Italia setelah kematian
Bakunin. Ironisnya, label "kolektif" kemudian secara umum sering diasosiasikan dengan
konsep Marx tentang negara sosialis.
2. Anarkisme komunis
Ide-ide anarkis bisa ditemui dalam setiap periode sejarah, walaupun masih banyak
penelitian yang harus dilakukan dalam bidang ini. Kita menemuinya dalam karya filsuf
Tiongkok, Lao-Tse (yang berjudul Arah dan Jalan yang Benar[22].) dan juga filsuf-filsuf
Yunani seperti kelompok Hedonis[23] dan Cynics[24] dan orang-orang yang mendukung
‘hukum alam’, khususnya Zeno yang menemukan aliran stoik yang berlawanan dengan
Plato.
Mereka menemukan ekspresi dari ajaran-ajaran Gnostics, Karpocrates di Alexandria dan
juga dipengaruhi oleh beberapa aliran Kristen di Zaman Pertengahan di Perancis, Jerman
dan Belanda. Hampir semua dari mereka menjadi korban represi. Dalam sejarah
reformasi Bohemia, anarkisme ditemui dalam karya Peter Chelciky (The Net of Faith)
yang mengadili negara dan gereja seperti yang dilakukan oleh Leo Tolstoy di kemudian
hari.
Humanis besar lainnya adalah Rabelais yang dalam karyanya menggambarkan
kehidupan yang bebas dari semua cengkraman otoritas. Sebagian dari pemrakarsa
ideologi libertarian lainnya adalah La Boetie, Sylvan Marechal, dan Diderot.
Karya William Godwin yang berjudul Pertanyaan Mengenai Keadilan Politik dan
Pengaruhnya Terhadap Moralitas dan Kebahagiaan, merupakan bagian penting dari
sejarah anarkisme kontemporer. Dalam karyanya tersebut Godwin menjadi orang
pertama yang memberikan bentuk yang jelas mengenai filsafat anarkisme dan
meletakannya dalam konteks proses evolusi sosial pada saat itu. Karya tersebut, boleh
kita bilang adalah ‘buah matang’ yang merupakan hasil dari evolusi yang panjang dalam
perkembangan konsep politik dan sosial radikal di Inggris, yang meneruskan tradisi yang
dimulai oleh George Buchanan sampai Richard Hooker, Gerard Winstanley, Algernon
Sydney, John Locke, Robert Wallace dan John Bellers sampai Jeremy Bentham, Joseph
Priestley, Richard Price dan Thomas Paine.
3. Anarko-Sindikalisme
Bendera yang digunakan dalam gerakan Anarko-Sindikalisme.
Salah satu aliran yang berkembang cukup subur di dalam lingkungan anarkisme adalah
kelompok anarko-sindikalisme. Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarko-
sindikalisme antara lain Rudolf Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide dasar dari
pergerakan ini, apa tujuannya, dan kenapa pergerakan ini sangat penting bagi masa
depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul Anarchosyndicalism pada tahun 1938.[25]
Pada awalnya, Bakunin juga adalah salah satu tokoh dalam anarkisme yang gerakan-
gerakan buruhnya dapat disamakan dengan orientasi kelompok anarko-sindikalisme,
tetapi Bakunin kemudian lebih condong pada anarkisme-kolektif.
Anarko-sindikalisme adalah salah satu cabang anarkisme yang lebih menekankan pada
gerakan buruh (labour movement). Sindikalisme, dalam bahasa Perancis, berarti “trade
unionism”. Kelompok ini berpandangan bahwa serikat-serikat buruh (labor unions)
mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mewujudkan suatu perubahan sosial secara
revolusioner, mengganti kapitalisme serta menghapuskan negara dan diganti dengan
masyarakat demokratis yang dikendalikan oleh pekerja. Anarko-sindikalisme juga
menolak sistem gaji dan hak milik dalam pengertian produksi. Dari ciri-ciri yang
dikemukakan di atas, anarko-sindikalisme sepertinya tidak mempunyai perbedaan
dengan kelompok-kelompok anarkisme yang lain.
4.Anarkisme individualisme
Anarkisme individualisme atau Individual-anarkisme adalah salah satu tradisi filsafat dalam
anarkisme yang menekankan pada persamaan kebebasan dan kebebasan individual. Konsep ini
umumnya berasal dari liberalisme klasik. Kelompok individual-anarkisme percaya bahwa "hati
nurani individu seharusnya tidak boleh dibatasi oleh institusi atau badan-badan kolektif atau
otoritas publik". Karena berasal dari tradisi liberalisme, individual-anarkisme sering disebut juga
dengan nama "anarkisme liberal".
Tokoh-tokoh yang terlibat dalam individual-anarkisme antara lain adalah Max Stirner, Josiah
Warren, Benjamin Tucker, John Henry Mackay, Fred Woodworth, dan lain-lain. Kebanyakan dari
tokoh-tokoh individual-anarkisme berasal dari Amerika Serikat, yang menjadi basis liberalisme.
Oleh karena itu, pandangan mereka terhadap konsep individual-anarkisme kebanyakan
dipengaruhi juga oleh alam pemikiran liberalisme.
Individual-anarkisme sering juga disebut "anarkisme-egois", karena salah satu tokohnya, Max
Stirner, menulis buku "Der Einzige und sein Eigentum" (b.Inggris: The Ego and Its Own /
b.Indonesia: Ego dan Miliknya)[26] yang dengan cepat dilupakan, tetapi mengalami kebangkitan
lima puluh tahun kemudian, buku tersebut lebih menonjolkan peran individu. Buku Stirner itu
pada dasarnya adalah karya filsafat yang menganalisis ketergantungan manusia dengan apa
yang dikenal sebagai ‘kekuasaan yang lebih tinggi’ (higher powers). Dia tidak takut memakai
kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari hasil survei. Buku tersebut merupakan
pemberontakan yang sadar dan sengaja yang tidak menunjukan kehormatan kepada otoritas
dan karenanya sangat menarik bagi pemikir mandiri.

Varian-varian anarkisme lainnya


Selain aliran-aliran yang disebut di atas, masih banyak lagi aliran lain yang memakai pemikiran
anarkisme sebagai dasarnya. Antara lain:
Pasca-anarkisme, yang dikembangkan oleh Saul Newman dan merupakan sintesis antara teori
anarkisme klasik dan pemikiran post-strukturalis.
Anarki pasca-kiri, yang merupakan sintesis antara pemikiran anarkisme dengan gerakan anti-
otoritas revolusioner di luar pemikiran “kiri” arus utama.
Anarka-Feminisme, yang lebih menekankan pada penolakan terhadap konsep patriarkal yang
merupakan perwujudan hierarki kekuasaan. Tokohnya antara lain adalah Emma Goldman.
Eko-Anarkisme dan Anarkisme Hijau, yang lebih menekankan pada lingkungan.
Anarkisme insureksioner, yang merupakan gerakan anarkis yang menentang segala organisasi
anarkis dalam bentuk yang formal, seperti serikat buruh, maupun federasi. Definisi tentang
anarkisme insureksioner dijelaskan dalam jurnal Do or Die dan pamflet-pamflet grup Venomous
Butterfly yang insureksionis:
Adalah suatu bentuk, yang tidak dapat terbakukan dalam satu kubu, serta sangat beragam
dalam perspektifnya. Anarkisme Insureksioner bukanlah sebuah solusi ideologis bagi masalah-
masalah sosial, dan juga bukan komoditi dalam pasar ideologi yang digelar kapitalisme.
Melainkan, ia adalah praktik berkelanjutan yang bertujuan untuk mengakhiri dominasi negara
dan berteruskembangnya kapitalisme, yang membutuhkan analisis-analisis dan diskusi-diskusi
untuk menjadikannya semakin maju dan berkembang. Menurut sejarahnya, kebanyakan
anarkis, kecuali mereka yang percaya bahwa peradaban kapitalisme akan terus berkembang
hingga titik kehancurannya sendiri, percaya bahwa sebentuk aktivitas insureksioner dibutuhkan
untuk dapat mentransformasikan masyarakat secara radikal. Dalam artian ini, negara harus
dipukul mundur dari eksistensinya oleh mereka yang tereksploitasi dan termarjinalkan, dengan
demikian para anarkis harus menyerang: menunggu sistem ini lenyap dan menghancurkan
dirinya sendiri adalah sebuah kekalahan telak

Contoh-contoh Anarkisme:
- Demonstrai nika

Sementara kerusuhan biasanya berlangsung satu atau dua hari, Nika kerusuhan
di 532 SM. berlangsung seminggu, dan hari ini kerusuhan yang dikenal sebagai
mematikan yang pernah, dengan ratusan ribu kiri mati di seluruh kota.
Setengah dari kota itu dibakar menjadi abu dan puing-puing dan jumlah orang
yang meninggal benar-benar mengejutkan.
Kerusuhan terjadi di Konstantinopel di Hippodrome dan menjadi sangat
kekerasan setelah berita kaisar waktu, Justinianus I, tidak membawa merilis dua
orang yang dituduh melakukan pembunuhan.Nama kerusuhan, “nika” berarti
menaklukkan, yang benar-benar menetapkan panggung untuk kerusuhan.
Sebagai kota yang tumbuh dengan terlalu banyak kontrol, mereka yang bekerja
dengan Justinianus, para senator, memutuskan ini adalah waktu yang tepat untuk
menggulingkannya karena mereka tidak setuju dengan peraturan pajak baru.
Karena itu, para senator yang tergabung dalam demo dan tutntutannya
menyerukan kaisar baru serta John the Cappadocian dan Tribonian untuk turun
karena mendukung ide-ide pajak Justinianus’s. Namun, ini tidak terjadi dan
kerusuhan terus, Justinian memiliki dua penjaga itu pergi ke Hippodrome dan
mengunci pintu untuk menjaga orang di dalam.
Kedua orang itu membunuh semua orang yang di dalam. Pada akhir semua itu,
30.000 orang tewas dan mayoritas kota itu ditinggalkan dalam keadaan bencana.
Justinian memang akhirnyamenguasai kota sebelum dia diasingkan mereka yang
berbalik melawan dia.

- Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939 (5.600 Meninggal)


• Selama pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939, mereka yang
mengambil bagian dalam kerusuhan itu memprotes dua masalah utama:
imigrasi Yahudi besar ke area Palestina serta kembalinya pemerintahan
kolonial Inggris.
• Tahun-tahun pertama Demonstrasi dipimpin oleh Komite Tinggi Arab
(AHC). Selama ini masalah kerusuhan hanya isu besar yang digembar
gemborkan; kenyataannya aksi demo mereka hanya pemogokan dan jenis
lain dari protes politik yang tidak menimbulkan kekerasan atau bahaya
kepada siapapun. Namun,hal iniberubah pada tahun 1937 setelah Inggris
telah berhasil menenangkan demonstrasi yang pertama
• Pada September 1937 kerusuhan demonstrasi berubah menjadi kekerasan
dan ribuan orang dibunuh. Dikatakan bahwa saat kerusuhan sekitar 10%
dari populasi Palestina laki-laki antara usia 20-60 dibunuh, dipenjarakan,
diasingkan, atau terluka. Namun, pada akhirnya, demonstrsi yang menjadi
kerusuhan ini tidak membuahkan hasil.
• Bagaimana dimulai
• Pada bulan April 1936, beberapa pemimpin Arab yang berbeda bersatu
untuk memprotes Invasi Zionis di Palestina. Para pemimpin ini, yang lebih
dikenal sebagai AHC, yang menyerukan pekerja Arab untuk mogok dan
boikot semua jenis produk Yahudi.