Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN ANALISIS EPIDEMIOLOGI LINGKUNGAN

Faktor Resiko Penggunaan Pestisida dan Penyakit Tidak Menular

Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

Disusun sebagai tugas mata kuliah Epidemiologi Lingkungan

Disusun oleh :

1. Atsilah Farah Husna (P07133216002)


2. Tri Wahyuni (P07133216010)
3. Rahma Fitri Nadila (P07133216015)
4. Alfa Baetin Nurul Ilmy (P07133216016)
5. Regita Ika Yasmin (P07133216019)
6. Ulfiatun Nisa (P07133216029)

SARJANA TERAPAN SANITASI LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMNETERIAN KESEHATAN


YOGYAKARTA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit tidak menular adalah penyakit kronik atau bersifat kronik


(menahun) alias berlangsung lama, tapi ada juga yang berlangsung
mendadak misalnya saja keracunan, misalnya penyakit kangker tubuh yang
terpapar unsur kimia dan lain –lain.

Selain itu penyakit tidak menular disebut juga penyakit non infeksi
karena penyebabnya bukan mikroorganisme, namun tidak berarti tidak ada
peranan mikroorganisme dalam terjadinya penyakit tidak menular misalnya
luka karena tidak diperhatikan bisa terjadi infeksi.

Nama lainnya penyakit tidak menular juga disebut penyakit


degenerative karena berhubungan dengan proses degenerasi (ketuaan). Dan
penyakit tidak menular adalah New Communicable Disease karena
dianggap dapat menular melalui life style, life style dapat menyangkut pola
makan, kehidupan seksual dan komunikasi global.

Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular yang bersifat kronis
belum ditemukan secara keseluruhan,

 Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-beda (merokok,


hipertensi, hiperkolesterolemia).
 Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang berbeda-beda,
misalnya merokok, dapat menimbulkan kanker paru, penyakit jantung
koroner, kanker larynx.
 Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang telah diketahui
hanya dapat menerangkan sebagian kecil kejadian penyakit, tetapi
etiologinya secara pasti belum diketahui.

Faktor resiko untuk penggunaan pestisida juga masih berhubungan


dengan penyebab penyakit tidak menular karena sebab munculnya
penyakit karena aktivitas para petani di daerah Ketep, Kabupaten
Magelang, Jaawa Tengah ini terlalu sering terpapar oleh pestisida yang
bisa membahayakan kesehatan para petani tersebut. Zat kimia yang
berbahaya bisa menimbulkan dampak terhadap tubuh para petani, selain
itu juga pola kehidupan sehari – hari mereka yang kurang mendapatkan
pengarahan mengatur pola hidup sehat dari pihak tenaga kesehatan di
daerah tersebut.

B. Tujuan
 Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang penyakit tidak menular di
area pertanian daerah Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
 Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang faktor resiko penggunaan
pestisida di area pertanian daerah Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa
Tengah.
BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Faktor Resiko Penggunaan Pestisida


1. Waktu Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Jum’at, 7 Desember 2018
Tempat : Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

2. Hasil dan Pembahasan

Pada hari Jumat, 7 Desember 2018 kami mewawancarai petani di


Daerah Ketep, Kabupaten Magelang. Kami mendapatkan 35 Responden
untuk diwawancarai tentang Faktor Resiko Penggunaan Pestisida. Dari
beberapa Responden terdapat responden wanita sebanyak 48,57% dan
responden laki-laki sebanyak 51,43 %.

Rata-rata responden laki-laki yang kami wawancarai berkisar umur


50,5 tahun, sedangkan responden perempuan berkisar umur 39,4 tahun.
Dengan umur laki-laki paling tua adalah 75 tahun dan paling muda
adalah 17 tahun, sedangkan umur perempuan paling tua adalah 60 tahun
dan umur perempuan paling muda adalah 19 tahun.

Dari hasil kuisioner Faktor Resiko Penggunaan Pestisida oleh petani


di Daerah Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang kami buat,
maka didapatkan hasil sebagai berikut :

1. Pengalaman Pelatihan Penggunaan Pestisida


Setelah kami wawancarai 35 responden, didapatkan hasil
bahwa petani yang pernah mengikuti pelatihan sebanyak
28,57% , sedangkan yang belum pernah mengikuti pelatihan
sebanyak 71,43%. Maka, didapatkan hasil bahwa lebih banyak
petani yang belum pernah mengikuti pelatihan.

2. Penggunaan Pestisida
Semua responden yang kami wawancarai keseluruhan
terbukti 100% menggunakan pestisida. Dengan prosentase jenis
fungisida sebanyak 37,14%, jenis insektisida sebanyak 62,86%,
sedangkan herbisida dan lain-lain sebanyak 0%.

3. Metode Pemberian Pestisida

Metode pemberian pestisida terdiri dari dusting,


spraying, broadcasting, fogging, baiting, fumigasi, dan diping.
Para petani di Desa Ketep, Magelang menggunakan metode
sprying sebanyak 94,29%, metode broadcasting sebanyak
5,71% dan metode lainnya sebanyak 0%.
4. Pemberian Pestisida

Pemberian pestisida paling banyak dilakukan 1 kali


dalam seminggu dengan prosentase 91,43%, kemudian 2 kali
seminggu sebanyak 5,71% ,dan lebih dari 3 kali seminggu
sebanyak 2,86 %.

5. Penyimpanan Pestisida

Responden yang mempunyai kebiasaan menyimpan


pestisida yang buruk (ruangan tidak terpisah, seperti disimpan
tidak dalam kemasan aslinya, disatukan dengan gudang
makanan, ruangan penyimpanan tidak terkunci, tidak terpisah
dengan dapur dan tidak diletakkan dengan ruangan khusus yang
tidak ada ventilasinya). Dengan penyimpanan pestisida yang
seperti itu dapat mengakibatkan resiko penyakit seperti
timbulnya pusing, mual dan keracunan.
Dari responden yang kami wawancarai bahwa para
petani menyimpan pestisida kebanyak diruang terpisah yaitu
dengan prosentase 62,86% dan diruang tercampur sebanyak
37,14%. Kebanyakan para petani sudah melakukan
penyimpanan pestisida dengan baik dan benar.
Responden yang belum melakukan penyimpanan
pestisida dengan benar, beresiko menimbulkan gangguan
kesehatan. Namun, mereka tidak menyadari gejala yang timbul
akibat pestisida tersebut karena sudah terbiasa terpapar.
Pestisida sebaiknya disimpan di tempat khusus dan aman
bagi siapapun, tempat untuk menyimpan pestisida harus
disimpan di wadah aslinya, bila diganti wadah harus diberi label
(nama) yang besar dan jelas pada wadah tersebut dan peringatan
tanda bahaya (misalnya ; awas racun, berbahaya!)

6. Pencucian Pakaian dan Alat Responden

Dari responden yang kami wawancarai bahwa pencucian


pakaian setelah digunakan untuk menyemprotan pestisida kebanyakan
terspisah dengan prosentase 65,71 % , sedangkan pencucian pakaian
secara tercampur sebanyak 34,29 %.
Kemudian, untuk pencucian alat dari responden yang
menggunakan air mengalir terdapat 45,71 %, di kolam 31,4 % dan
tidak pernah dicuci sebanyak 8,57 %. Untuk responden yang
menggunakan air mengalir dapat mengakibatkan faktor resiko yang
berdampak pada masyarakat. Karena air yang digunakan secara tidak
langsung mengalir ke masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, dalam
jangka waktu yang panjang akan berdampak pada kesehatan
masyarakat.
7. Pencampuran Pestisida
Praktek penanganan pestisida sebelum penyemprotan
meliputi pencampuran pestisida dengan menggunakan air sebagai
pelarut serta penggunaan tidak menggunakan APD pada saat
pencampuan. Banyak dijumpai petani dalam melakukan pencampuran
mulai dari membuka kemasan pestisida, menuangkan ke dalam tong
atau tempat mencampur sampai dengan mengaduk bahan dilakukan di
rumah yang dapat membahayakan anggota keluarganya terutama saat
pencampuran banyak partikel-partikel pestisida yang berterbangan.
Petani tidak memperhatikan masalah pembuangan bekas kemasan
pestisida. Mereka membuang bekas kemasan di sembarang tempat
bahkan ada yang dihanyutkan di sungai. Hal ini sangat membayakan
bagi petani, masyarakat dan lingkungan sekitar.

8. Gejala Akibat Terpapar Pestisida


Terpapar oleh pestisida bisa menimbulkan gejala mual,
pusing, sakit kepala, muntah, sesak nafas, dan gejala lainnya. Setelah
kami wawancarai kebanyakan responden tidak mengeluhkan gejala
akibat terpapar pestisida sebanyak 68,58 %. Sedangkan , responden
mengalami gejala diantaranya yaitu mual (14,29%), muntah (2,86%),
dan pusing (14,29%) hal itu bisa disebabkan karena kurangnya
kesadaran para petani tentang pentingnya penggunaan APD (Alat
Pelindung Diri) seperti yang berhubungan dengan pernafasan yaitu
menggunakan masker.

9. Hubungan antara pelatihan dengan penyimpanan pestisida


Berdasarkan hasil dari nilai OR= 0,1335 < 1, dan nilai RR =
0,259 < 1 maka tidak menyebabkan resiko antara pelatihan dan
penyimpanan. Sedangkan, nilai 2-tailed= 0,580 > 0,05, sehingga
pelatihan pestisida tidak ada hubungannya dengan penyimpanan
pestisida.

10. Hubungan antara jenis insektisida dengan gejala yang ditimbulkan


Berdasarkan analisis di dapatkan hasil bahwa analisis tidak
valid karena nilai Chi-Square < 1. Tetapi, berdasarkan data bahwa ada
banyak yang tidak mengalami gejala yaitu sebesar 68,57 % dari
pemakaian jenis Fungisida 37,14 % dan Insektisida 62,86 %.

11. Hubungan antara pelatihan insektisida dengan pencucian pakaian


responden

Responden yang sudah mengikuti pelatihan sebanyak 28,57 %, yang tidak


mengikuti pelatihan sebayak 71,43 %. Responden yang mencuci pakaian
dengan dicampur ada 34,29 %, sedangkan yang terspisah sebanyak 65,71
%.
Berdasarkan hasil analisis bahwa Nilai OR= 0,01 < 1 dan nilai
RR = 0,22 < 1 . Nilai 2-tailed 0,055 > 0,05 sehingga tidak ada
hubungan antara orang yang mengikuti pelatihan dengan cara
pencucian baju.

B. Penyakit Tidak Menular


1. Waktu Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Jum’at, 7 Desember 2018
Tempat : Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

2. Hasil dan Pembahasan

Pada hari Jumat, 7 Desember 2018 kami mewawancarai petani di


Daerah Ketep, Kabupaten Magelang. Kami mendapatkan 32 Responden
untuk diwawancarai tentang Penyakit Tidak Menular. Terdapat
responden wanita sebanyak 50% dan responden laki-laki sebanyak
50%. Dari semua responden terdapat 7 orang yang mengalami penyakit
tidak menular, diantaranya reumatik, maag, dan hipertensi.

Rata-rata responden laki-laki yang kami wawancarai berkisar umur


49,43 tahun, sedangkan responden perempuan berkisar umur 43,06
tahun. Dengan umur laki-laki paling tua adalah 75 tahun dan paling
muda adalah 25 tahun, sedangkan umur perempuan paling tua adalah
70 tahun dan umur perempuan paling muda adalah 19 tahun.

Dari hasil kuisioner Penyakit Tidak Menular pada petani di Daerah


Ketep, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang kami buat, maka
didapatkan hasil sebagai berikut :

1. Uji Umur dengan Jenis kelamin


Nilai P value berdasarkan data responden yang ada bernilai
0,264 , dimana nilai P.value > 0,05. Sehingga tidak ada beda
antara jenis kelamin dan umur responden.
2. Memiliki saudara yang mempunyai penyakit

Setelah kami mewawancarai 32 responden, didapatkan


hasil bahwa responden yang memiliki saudara yang sedang sakit
sebanyak 71,87% dan yang memiliki saudara yang tidak sakit
sebanyak 28,13%. Dari hasil yang sakit diantaraanya adalah
hipertensi sebanyak 37,50% dan penyakit hipotensi sebayak
6,25% dan penyakit lain-lain sebanyak 28,13%

3. Umur didiagnosis penyakit


Setelah kami wawancarai 32 responden, didapatkan hasil
bahwa umur rata-rata responden yang didiagnosis adalah 45, 21
tahun.

4. Tekanan darah saat terakhir diperiksa


Setelah kami wawancarai 32 responden, didapatkan hasil
bahwa responden yang diperiksa rata-rata tekanan darah 129,93.
5. Berat Badan
Setelah kami mewawancarai responden, didapatkan hasil
bahwa rata-rata responden memiliki berat badan 57,28 kg dari
32 responden.

6. Pernah merokok/ sering terpapar asap rokok


Merokok dapat membahayakan kesehatan yang
menghisapnya dan juga yang terpapar asapnya, karena asap
rokok mengandung zat berbahaya dan bisa berdampak buruk
bagi kesehatan. jika terpapar asap rokok selama 30 menit akan
berpengaruh pada pernapasan kita.

Hasil wawancara kami terhadap responden menunjukkan


bahwa yang memiliki riwayat merokok sebanyak 46,88% dan
yang sering terpapar asap rokok sebanyak 43,75% sedangkan
yang tidak ada riwayat merokok sebanyak 9,38%.

7. Lama merokok/ terpapar asap rokok


Hasil wawanara kami terhadap responden menunjukkan
bahwa lama merokok atau terpapar asap rokok dari umur 1-3
tahun sebanyak 10 % dan umur 3-5 tahun sebanyak 3,33 %,
sedangkan umur > 6 tahun sebanyak 86,67%.

8. Makan-makanan berlemak
Dari 32 responden yang kami wawancarai di Desa Ketep,
Magelang bahwa perilaku ini hampir semua responden sering
mengkonsumi makanan berlemak dengan prosentase 96,88 %.

9. Pola Tidur
Pola tidur yang baik meliputi durasi tidur sesuai dengan
kebutuhan menurut umur, tidur nyenyak tidak terbangun karena
suatu hal di sela-sela tidur. Sedangkan, pola tidur yang buruk
dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan fsiologis dan
psikologis dalam diri seseorang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa responden di Desa
Ketep,Magelang yang mengalami perilaku susah tidur dalam
satu mingu terakhir adalah 34,38 % responden. Sedangkan
responden yang sering terbangun di malam hari sebanyak 53,13
%.

10. Istirahat atau Tidur Siang


Tidur siang yang singkat efektif sebagai cara pemulihan
kondisi kurang tidur yang bersifat sementara, mengingat efek
yang ditimbulkan oleh tidur siang sangat singkat dalam
meningkatkan kesiagaan, memori, dan logical reasoning, yakni
terjadi selama sekitar dua jam pertama setelah bangun dari tidur
siang tersebut, dan menghilang sekitar dua jam yang kedua.

Berdasarkan data responden didapatkan hasil bahwa


yang selalu tidur siang sebanyak 34,38 %, sedangkan yang tidak
tidur siang sebanyak 65,63 %.
11. Tidur Teratur (6-8 Jam)
Kebutuhan waktu tidur bagi setiap orang adalah
berlainan, tergantung pada kebiasaan yang dibawa pada
perkembangannya menjelang dewasa, aktivitas pekerjaan, usia,
kondisi kesehatan dan lain sebagainya. Kebutuhan tidur pada
dewasa 6-9 jamuntuk menjaga kesehatan,usia lanjut 5-8 jam
untuk menjaga kondisi fisik karena usia yang semakin senja
mengakibatkan sebagian anggota tubuh tidak dapat berfungsi
optimal, maka untuk mencegah adanya penurunan kesehatan
dibutuhkan energi yang cukup dengan pola tidur yang sesuai
(Lumbantobing, 2004).

Hasil penelitian mendapatkan jumlah responden yang


tidur secara teratur (6-8 jam) dalam seminggu sebanyak 81,
25%. Sedangkan respnden yang belum melakukan tidur teratur
dalam seminggu sebanyak 18,75%.
12. Mengonsumsi Minuman Berkafein
Salah satu minuman berkafein yang sangat diminati
adalah kopi. Kopi menjadi salah satu minuman paling popular
dan digemari semua kalagan, dari mulai remaja sampai usia
lanjut. Kafein dikaitkan sebagai penyebab berbagai penyakit
khususnya hipertensi (Zhang, 2011).
Kami mendapatkan data berdasar responden sebanyak
62,50% responden mengonsumsi minuman berkafein kurang
dari 3x dalam seminggu, sedangkan sebanyak 37,50%
responden menyatakan mengonsumsi minuman berkafein lebih
dari 3x dalam seminggu.
13. Makan Makanan yang Diasinkan
Mengonsumsi suatu jenis makanan dalam jumlah
berlebih dan terus menerus dalam kuantitas yang banyak tentu
akan memiliki dampak kesehatan. Maka dalam hal ini perlu
dengan bijak melakukan konsumsi jenis makanan yang
diasinkan. Salah satunya ikan asin, ikan asin dapat berpotensi
menjadi penyebab terjadinya kanker.

Dalam hasil penelitian menunjukkan bahwa responden di


Desa Ketep, Magelang yang mengonsumsi makanan yang
diasinkan (ikan asin, udang kering) kurang dari 3 kali dalam
seminggu sebanyak 53,13%. Sedangkan responden yang
mengonsumsi makanan yang diasinkan (ikan asin, udang kering)
lebih dari 3 kali dalam seminggu sebanyak 46,88%.

10. Makan sayuran


Sayuran termasuk salah satu kebutuhan yang penting
untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Banyak sekali manfaat
yang diberikan oleh sayuran, makanan bergizi tinggi namun
rendah lemak, sumber terbesar antioksidan, serta sumber serat
tinggi.
Dari hasil wawancara yang dilakukan sebagian besar
masyarakat telah mengkonsumsi sayur minimal 3 kali dalam
satu minggu adalah 96.88% dan yang tidak memakan sayuran
sebesar 3,13%.
11. Makan Buah-buahan

Mengkonsumsi buah sangat dibutuhkan oleh tubuh,


banyak sekali manfaat yang dihasilkan dari mengkonsumsi buah
mulai dari sumber vitamin, sumber air dan gizi, serta makan
buah secara rutin dapat mencegah penyakit jantung. buah juga
dapat mencegah tekanan darah tinggi dan beberapa penyakit
lainnya.

Hasil penelitian menunjukan bahwa responden di Desa


Ketep,Magelang yang mengkonsumsi buah 3 kali dalam satu
minggu adalah 68,75 responden. Sedangkan responden yang
tidak mengkonsumsi buah sebanyak 31,25%.

12. Mengalami Pusing


Penyakit yang paling sering dirasakan masyarakat adalah
pusing kepala. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pusing
kepala terjadi diantaranya : masalah sirkulasi peredaran darah,
vertigo, kurang mengkonsumsi buah-buahan dan sayur.

Hasil penelitian menunjukan bahwa responden di Desa


Ketep,Magelang yang sering mengalami pusing adalah 37,50%
.

13. Hubungan antara orang yang terbangun waktu malam dengan


pusing.
Diketahui bahwa nilai OR 0,195 <1 dan nilai RR 0,36 <
1, sehingga dapat menurunkan faktor resiko terjadinya pusing
akibat terbangun dimalam hari. Dan nilai 2-tailed 0,7 > 0,05
maka, terbangun dimalam hari tidak ada hubungan atau tidak
menyebabakan pusing.

14. Hubungan antara susah tidur dengan minuman berkafein

Responden yang memiliki kebiasaan minum minuman


berkafein dan tidur secara teratur sebanyak 57,69 %, responden
yang tidak minum minuman berkafein dan tidur secara teratur
sebanyak 43,31 %. Maka, tidak adanya pengaruh antara
responden yang minum minuman berkafein dengan kebiasaan
tidur secara teratur.
Berdasarkan hasil analisis didaptkan bahwa analisis
tidak valid. Maka, tidak adanya hubungan antara responden
yang minum minuman berkafein dengan susah tidur.
PENUTUP
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
- Pestisida
1. Dari hasil kegiatan yang dilakukan kami mendapatkan responden
laki-laki 51,42 % orang dan perempuan 48,58 %. Dengan umur
laki-laki paling tua adalah 75 tahun dan paling muda adalah 17
tahun, sedangkan umur perempuan paling tua adalah 60 tahun dan
umur perempuan paling muda adalah 19 tahun.
2. Yang pernah mengikuti pelatihan sebanyak 28,57 % , sedangkan
yang belum pernah mengikuti pelatihan sebanyak 71,43%.
3. Petani yang menyimpan pestisida diruang terpisah yaitu 62,85 %
dan menyimpan diruang tercampur sebanyak 37,14 %.
4. Berdasarkan hasil dari nilai OR= 0,1335 < 1, dan nilai RR = 0,259 < 1
maka tidak menyebabkan resiko antara pelatihan dan penyimpanan.
Sedangkan, nilai 2-tailed= 0,580 > 0,05, sehingga tidak ada hubungan
antara pelatihan pestisida dengan penyimpanan pestisida.
5. Berdasarkan hasil analisis bahwa Nilai OR= 0,01 < 1 dan nilai RR = 0,22
< 1 . Nilai 2-tailed 0,055 > 0,05 sehingga tidak ada hubungan antara orang
yang mengikuti pelatihan dengan cara pencucian baju.

- Penyakit Tidak Menular


1. Terdapat responden wanita sebanyak 50% dan responden laki-laki
sebanyak 50%.
2. Rata-rata responden laki-laki yang kami wawancarai berkisar umur
49,43 tahun, sedangkan responden perempuan berkisar umur 43,06
tahun.
3. Nilai P value berdasarkan data responden yang ada bernilai 0,264 ,
dimana nilai P.value > 0,05. Sehingga tidak ada beda antara jenis
kelamin dan umur responden.
4. Dari hasil yang sakit diantaraanya adalah hipertensi sebanyak
37,50% dan penyakit hipotensi sebayak 6,25% dan penyakit lain-
lain sebanyak 28,13%.
5. Diketahui bahwa nilai OR 0,195 <1 dan nilai RR 0,36 < 1,
sehingga dapat menurunkan faktor resiko terjadinya pusing akibat
terbangun dimalam hari. Dan nilai 2-tailed 0,7 > 0,05 maka,
terbangun dimalam hari tidak ada hubungan atau tidak
menyebabakan pusing.
6. Responden yang memiliki kebiasaan minum minuman berkafein
dan tidur secara teratur sebanyak 57,69 %, responden yang tidak
minum minuman berkafein dan tidur secara teratur sebanyak 43,31
%. Maka, tidak adanya pengaruh antara responden yang minum
minuman berkafein dengan kebiasaan tidur secara teratur.
LAMPIRAN

Gambar 1. Wawancara kepada salah satu petani di Desa Banyuroto, Mangelang

Gambar 2. Wawancara kepada Bapak Slamet, Desa Banyuroto, Magelang


Gambar 3. Wawancara Ibu Supi, sebagai petani cabai Kec. Sawangan, Magelang

Gambar 4. Wawancara kepada salah satu petani di Dusun Garan, Magelang