Anda di halaman 1dari 41

PENENTUAN KADAR LOGAM BERAT (Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, Ni) DALAM

LIMBAH PADAT (FLY ASH) DENGAN METODE TOXICITY


CHARACTERISTIC LEACHING PROCEDUR (TCLP)

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

RIBBIALIF WIGA FATHULLAH

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2019 M / 1440 H
PENENTUAN KADAR LOGAM BERAT (Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, Ni) DALAM
LIMBAH PADAT (FLY ASH) DENGAN METODE TOXICITY
CHARACTERISTIC LEACHING PROCEDUR (TCLP)

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Oleh :

RIBBIALIF WIGA FATHULLAH

NIM : 11160960000008

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2019 M / 1440 H
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Penentuan Kadar Logam Berat (Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, Ni) dalam

Limbah Padat (Fly ash) dengan Metode Toxicity Characteristic

Leaching Procedure (TCLP)

Nama : Ribbialif Wiga Fathullah

NIM : 11160960000008

Program Studi : Kimia

Fakultas : Sains dan Teknologi

Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Ness Kaptarina S,Si Isalmi Aziz, M.T


NIP. NIP. 19751110 200604 2 001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Kimia

Drs. Dede Sukandar, M.Si


NIP. 19650104 199103 1 004
IDENTITAS MAHASISWA

Nama : Ribbialif Wiga Fathullah

NIM : 11160960000008

Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 4 Juni 1998

Jenis Kelamin : Laki - Laki

Program Studi : Kimia

Fakultas : Sains dan Teknologi

Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Alamat : Jln. HK Kademangan, Citra Prima Serpong Blok

B4.No.17,Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu,

Tangerang Selatan
IDENTITAS UNIVERSITAS

Nama Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Alamat : Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, 15412

Telepon/Fax : (021) 7401925 / (021) 7403982

Rektor Universitas :

Dekan FST : Dr. Agus Salim, M.Si

Ketua Prodi Kimia : Drs. Dede Sukandar, M.Si

Pembimmbing PKL : Isalmi Aziz, M.T


IDENTITAS LEMBAGA PENELITIAN

Nama : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan

Pengembangan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup

dan Kehutanan (P3KLL-KLHK)

Alamat : Jalan Raya Puspitek Serpong, Puslitbang KPL, Kawasan

Puspitek Serpong, Gedung 210, Serpong, Tangerang

Selatan, Banten, Indonesia 15310

Telepon : (021) 7563114 / (021) 7563331

Fax : (021) 7563115 / (021) 75872028

Email : pusarpedal@menlh.go.id

Website : http://www.menlh.go.id dan http://www.dephut.go.id

Kepala : Dr. Wahyu Marjaka, M.Eng

Ketua Bidang : Dr. Herry Hamdani

Pembimbing : Ness Kaptarina S,Si


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan pada Allah SWT karena berkat rahmat dan

hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta

keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul “Penentuan Kadar

Logam Berat (Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, Ni) dalam Limbah Padat (Fly ash) dengan

Metode Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP)” ini disusun untuk

memenuhi mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL).

Penulis menyadari bahwa Laporan PKL ini masih jauh dari sempurna,

sehingga penulis mengharap saran dan kritikan yang membangun guna

memperbaiki Laporan ini agar dimasa yang akan datang akan lebih baik lagi.

Semoga Laporan ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya. Adanya

bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak akhirnya laporan ini dapat selesai tepat

pada waktunya. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya terutama kepada :

1. Allah SWT yang telah memberi kelancaran dalam menjalankan Praktek Kerja

Lapangan sehingga dapat menyelesaikan laporan ini.

2. Ness Kaptarina S,Si selaku pembimbing I yang telah memberikan wawasan,

ilmu, bimbingan, dan arahan selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan

(PKL) dan kemudahan dalam penulisan.


3. Isalm Aziz M,T selaku pembimbing II yang telah memberikan ilmunya dan

kemudahan dalam penulisan.

4. Drs. Dede Sukandar, M.Si. selaku Ketua Program Studi Kimia Fakultas Sains

dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Dr. Agus Salim, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

6. Ir. Luthfi Sulandjana M.M selaku kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan

Kualitas dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah

memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan Praktek Kerja

Lapangan (PKL) di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan

Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

7. Bapak Munazat dan ibu Dewi, terimakasih yang tak terhingga atas doa,

semangat, kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusannya dalam mendampingi

saya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridho-Nya kepada

keduanya.

8. Staff laboratorium tanah Bu Siti, Mas Bro Hisyam, Mba Endah, dan Ka Riris

yang telah memberikan bantuan dan bimbingannya selama analisa di

laboratorium Tanah.

9. Seluruh staf Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas Laboratorium

Lingkungan (P3KLL) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

(KLHK).
10. Teman-teman yang melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan di berbagai

universitas yang selalu memberikan semangat dan tidak bisa saya sebutkan

satu persatu.

Penulisan laporan ini tentunya tidak terlepas dari berbagai kekurangan, baik

dalam hal penulisan maupun dalam pemaparan dan pengolahan data. Hal ini

dikarenakan kurangnya informasi dan keterbatasan ilmu yang dimiliki penulis.

Demikian buku ini kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dan

memiliki kontribusi bagi perkembangan laporan praktek kerja lapangan ini.

Aamiin.

Tangerang Selatan, Januari 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kegiatan perindustrian pasti akan menghasilkan suatu buangan

berupa limbah, dan angka pertambahan jumlah limbah pasti akan terus

meningkat dari waktu ke waktu. Limbah-limbah tersebut berasal dari berbagai

sektor misalnya dari pabrik (industri), rumah tangga, perusahaan, kantor-

kantor, sekolah dan sebagainya yang berupa cair, padat bahkan berupa zat gas

dan semuanya itu berbahaya bagi kehidupan kita. Tetapi ada limbah yang lebih

berbahaya lagi yang disebut dengan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Limbah tersebut akan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan

maupun kesehatan manusia bila tidak dikelola dengan benar. Keberadaan

limbah B3 sebagian besar memang berasal dari sektor industri yang di satu

pihak akan menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup

rakyat, dan di lain pihak industri itu juga banyak menghasilkan limbah. Diantara

limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri tersebut dapat berupa limbah

bahan berbahaya dan beracun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Limbah

B3. Sebelum limbah tersebut dikatakan sebagai limbah B3 diperlukan sebuah

identifikasi, dalam identifikasi limbah B3 diperlukan uji karakteristik dan uji

toksikologi atas limbah tersebut. Fly ash batubara umumnya dibuang di landfill

atau ditumpuk begitu saja di dalam area industri. Penumpukkan abu terbang

batubara ini menimbulkan masalah bagi lingkungan. Hal ini yang menimbulkan

masalah lingkungan dan kesehatan, karena fly ash hasil dari tempat pembakaran

batubara dibuang sebagai timbunan. Fly ash dan bottom ash ini terdapat dalam
jumlah yang cukup besar, sehingga memerlukan pengelolaan agar tidak

menimbulkan masalah lingkungan, seperti pencemaran udara, atau perairan,

dan penurunan kualitas ekosistem.

Salah satu penanganan lingkungan yang dapat diterapkan adalah

memanfaatkan limbah fly ash untuk adsorbsi udara pembakaran dalam

kendaraan bermotor belum bisa dimasyarakatkan secara optimal, karena

berdasarkan PP. No. 85 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah bahan

berbahaya dan beracun (B3), fly ash dan bottom ash dikategorikan sebagai

limbah B3 karena terdapat kandungan oksida logam berat yang akan mengalami

pelindihan secara alami dan mencemari lingkungan

Dalam menentukan limbah tersebut termasuk limbah B3, uji yang dilakukan

dilengkapi dengan adanya uji TCLP (Toxicity Characteristic Leaching

Procedure) yang merupakan uji pelindian yang digunakan untuk mengetahui

kandungan limbah yang terserap ketanah atau yang mengalir ke berbagai tempat

yang terbawa ketika terjadi hujan. Metode ini mempunyai baku mutu TCLP

yang ditetapkan melalui PP RI nomor 85 tahun 1999.

Limbah B3 bukan merupakan masalah kecil dan sepele, karena apabila

limbah Bahan Berbahaya dan Beracun(B3) tersebut dibiarkan ataupun dianggap

sepele penanganannya, atau bahkan melakukan penanganan yang salah dalam

menanganani limbah B3 tersebut, maka dampak dari Limbah Bahan Berbahaya

dan beracun tersebut akan semakin meluas, bahkan dampaknya pun akan sangat

dirasakan bagi lingkungan sekitar kita, dan tentu saja dampak tersebut akan

menjurus pada kehidupan makhluk hidup baik dampak yang akan dirasakan
dalam jangka pendek ataupun dampak yang akan dirasakan dalam jangka

panjang dimasa yang akan datang.

Namun seiring dengan berjalannya waktu limbah B3 tidak hanya diolah

dengan teknologi tertentu yang akhirnya kemudian dibuang ketempat

pembuangan akhir, sekarang ini ada bentuk pengelolaan limbah B3 yang

berkelanjutan yakni Teknologi perlakuan terhadap limbah untuk menghasilkan

produk lain yang bermanfaat atau yang dikenal dengan ”waste to product”.

Sehingga uji karakteristik dan uji toksisitas tidak hanya digunakan untuk

menentukan apakah limbah tersebut termasuk limbah B3 tetapi juga digunakan

untuk tujuan yang lain, yaitu uji evaluasi dari hasil pengelolaan limbah B3

dengan metode tertentu, maka ketika limbah tersebut dibuang kealam

dampaknya bisa diminimalisir serta limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan

kembali menjadi produk yang lain.

1.2 Perumusan Masalah

Apakah penetapan kadar logam pada limbah padat memenuhi

persyaratan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 18 tahun 1999 tentang

Baku Mutu TCLP Zat Pencemar dalam Limbah untuk Penentuan Karakteristik

Sifat Racun ?
1.3 Tujuan Percobaan

Dari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan tujuan sebagai

berikut:

1. Menentukan kemungkinan terjadinnya pencemaran logam berat (Pb, Cu,

Zn, Ag, Ni, Cd) melalui uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure

(TCLP) pada limbah padat (Fly ash)

2. Mengetahui hasil evaluasi uji toksisitas (Uji LD 50 dan Uji TCLP) dalam

limbah padat

1.4 Manfaat Penelitian

Mengetahui kandungan limbah yang terserap ke tanah atau yang

mengalir ke berbagai tempat yang terbawa ketika terjadi hujan. Salah satu

prosedur pengujian yang dapat dilakukan dengan metode Toxicity

Characteristic Leaching Procedure (TCLP) pada limbah padat yang berasal

dari limbah industri fly ash.


BAB II

PROFIL PUSAT PENGEMBANGAN DAN PENELITIAN KUALITAS

DAN LABORATORIUM LINGKUNGAN (P3KLL)

2.1 Tinjauan Umum

2.1.1 Sejarah Umum P3KLL

P3KLL sebelumnya bernama PUSARPEDAL (Pusat Sarana

Pengendalian Dampak Lingkungan) yang merupakan Laboratorium

Lingkungan Rujukan Nasional yang dibentuk berdasarkan

Keputusan Presiden No. 23 Tahun 1990. Pusarpedal merupakan

lembaga pemerintah nondepartemen yang bertanggung jawab

langsung kepada presiden dan menyelenggarakan fungsi

pengendalian dampak lingkungan. Pusarpedal dikenal juga sebagai

Enviromental Management Center (EMC) yang diresmikan pada

tanggal 12 Agustus 1993 oleh Menteri Lingkungan Hidup Sarwono

Kusumaatmadja melalui kerjasama dalam bentuk hibah antara

Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang yaitu Japan

International Coorperation Agency (JICA) di kawasan Pusat


Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong,

Tangerang Selatan.

Gambar 1. Logo P3KLL

PUSARPEDAL ini akan menjadi lembaga pusat

laboratorium rujukan nasional lingkungan yang bertugas melakukan

pemantauan mutu lingkungan diseluruh provinsi di Indonesia serta

menjadi tempat penelitian dan pengembangan pusat informasi data

lingkungan dan pelatihan untuk tenaga teknis laboratorium

lingkungan daerah.

Persoalan lingkungan di Indonesia ini berhubungan dengan

degradasi suber daya alam, penurunan mutu lingkungan perkotaan

dan pencemaran yang semakin meningkat. Hal ini terutama

disebabkan oleh limbah domestik dan infrastruktur yang tidak

memadai, seperti saluran pembuangan, jaringan jalanan, fasilitas

pengelolaan limbah dan transportasi umum. Berkaitan dengan ini

Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Jepang

merancang pembentukan Pusat Sarana Pengendalian Dampak


Lingkungan (PUSARPEDAL) atau Enviromental Management

Center (EMC). Pemerintah Jepang mengirim tim studi penjajakan

rancangan dasar PUSARPEDAL dan kebutuhan serta kelayakan

dari proyek tersebut. Hasil studi menunjukan Indonesia menghadapi

persoalan lingkungan yang sama beratnya dengan yang dihadapi

negara ASEAN lainnya.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor

16 Tahun 2015 tentang penggabungan Kementerian Lingkungan

Hidup dan Kementerian Kehutanan dan melalui Peraturan Menteri

Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 18 Tahun 2015 maka

PUSARPEDAL bermetamorfosis menjadi P3KLL (Pusat Penelitian

dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan) yang

masuk dalam lingkup BLI-KLHK (Badan Litbang dan Inovasi –

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) pada 27 Okktober

2014 dan diresmikan pada tanggal 21 Januari 2015 oleh Presiden

Joko Widodo.

2.1.2 Visi dan Misi P3KLL

P3KLL memiliki visi :

“Terwujudnya Kementrian Lingkungan Hidup yang handal

dan aktif serta berperan dalam pelaksanaan pembangunan

berkelanjutan dengan menekankan pada ekonoi yang hijau”


Untuk mewujudkan isi tersebut, P3KLL memiliki misi

sebagai berikut :

1. Menyusun kebijakan teknis sarana pengendalian dampak

lingkungan

2. Melakukan koordinasi dan pelaksanaan pemantauan kualitas

lingkungan

3. Melakukan pengembangan laboratorium lingkungan

4. Melakukan fungsi teknis laboratorium rujukan, kajian kualitas

lingkungan serta layanan jasa teknis pengujian dan kalibrasi

2.1.3 Tugas dan Fungsi P3KLL

Tugas P3KLL melaksanakan penelitian, pengembangan dan

inovasi di bidang kualitas lingkungan dan pengelolaan laboratorium

lingkungan.

Dalam melaksanakan tugas Pusat Penelitian dan Pengembangan

Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

menyelenggarakan fungsi :

1. Perumusan kebijakan teknis penelitian, pengembangan dan

inovasi di bidang kualitas lingkungan dan pengelolaan

laboratorium lingkungan;

2. Pelaksanaan tugas penelitian, pengembangan dan inovasi di

bidang kualitas lingkungan dan pengelolaan laboratorium

lingkungan;
3. Pemantauan, evaluasi, diseminasi, kerjasama dan pelaporan

pelaksanaan tugas penelitian, pengembangan dan inovasi serta

sintesa hasil penelitian di bidang kualitas lingkungan dan

pengelolaan laboratorium lingkungan;

4. Pengelolaan laboratorium lingkungan rujukan nasional,

pengujian kualitas lingkungan, pelaksanaan pelayanan teknis

laboratorium lingkungan;

5. Pelaksanaan pengelolaan metrologi lingkungan, pembuatan

bahan acuan dan uji profesiensi, penyelenggaraan uji profesiensi

serta kalibrasi peralatan laboratorium; dan

6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Pusat.

Seluruh tugas dan fungsi tersebut dilaksanakan dibawah

tanggung jawab unit kerja yang saling menunjang satu sama lainnya,

yaitu:

1. Bidang Program, Evaluasi & Diseminasi;

Penyusunan rencana, program, anggaran penelitian,

pengembangan dan inovasi, evaluasi, diseminasi dan pelaporan

pelaksanaan tugas penelitian, pengembangan dan inovasi.

2. Bidang Pengelolaan Laboratorium Lingkungan;

Pengelolaan laboratorium lingkungan rujukan nasional,

pengujian kualitas lingkungan, pelaksanaan pelayanan teknis

laboratorium lingkungan.

3. Bidang Metrologi dan Kalibrasi;


Pengelolaan metrologi lingkungan, pembuatan bahan acuan dan

uji profesiensi, penyelenggaraan uji profesiensi serta kalibrasi

peralatan laboratorium.

4. Bagian Tata Usaha;

Melaksanakan urusan ketatausahaan dan rumah tangga,

kepegawaian dan ketatalaksanaan, keuangan dan barang milik

negara.

2.1.4 Fasilitas dan Sarana

Fasilitas dan saran yang dimiliki P3KLL berupa

laboratorium serta sarana pendidikan dan pelatihan yang memiliki

peralatan instrumen tertentu. Sebagai Laboratorium Lingkungan

Rujukan Nasional, P3KLL memiliki laboratorium terakreditasi,

yaitu:

1. Laboratorium Air & Limbah Cair

2. Laboratorium Udara

3. Laboratorium Tanah dan Limbah Padat

4. Laboratorium Kebisingan dan Getaran

5. Laboratorium Kalibrasi

6. Laboratorium Toksikologi

7. Laboratorium Biologi

Dilengkapi dengan fasilitas Perpustakaan, Pengolahan Data

Informasi, Auditorium kapasitas 300 orang, Ruang rapat, dan lainya.

Peralatan pengujian yang dimiliki oleh P3KLL diantaranya:


Tabel 1. Peralatan Pengujian di P3KLL

1 GC-MS 11 HRGC-MS

2 AAS 12 TCLP

3 Spectrophotometer 13 ICP-MS

4 HPLC 14 Mercury Analyzer

5 TOC 15 Emisi Gas Analyzer

6 Ion Chromatograph 16 Kultur Daphnia

7 Flash Point Tester 17 Pengujian LD50

8 Main Center Calibration 18 Vibration Level Meter

9 Air Quality Monitoring 19 Hand Held Sound

System Intensity

dan beberapa peralatan laboratorium lainnya.


2.2 Struktur Organisasi P3KLL
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Fly ash

Fly ash batubara adalah material yang memiliki ukuran butiran yang halus

berwarna keabu-abuan dan diperoleh dari hasil pembakaran batubara

(Wardani, 2008). Pada pembakaran batubara dalam PLTU, terdapat limbah

padat yaitu abu layang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash). Partikel abu yang

terbawa gas buang disebut fly ash, sedangkan abu yang tertinggal dan

dikeluarkan dari bawah tungku disebut bottom ash. Di Indonesia, produksi

limbah abu dasar dan abu layang dari tahun ke tahun meningkat sebanding

dengan konsumsi penggunaan batubara sebagai bahan baku pada industri

PLTU (Harijono D, 2006, dalam Irwanto, 2010).

Menurut Acosta, 2009, Abu terbang merupakan limbah padat hasil dari

proses pembakaran di dalam furnace pada PLTU yang kemudian terbawa keluar

oleh sisa-sisa pembakaran serta di tangkap dengan mengunakan elektrostatik

precipitator. Fly ash merupakan residu mineral dalam butir halus yang

dihasilkan dari pembakaran batu bara yang dihaluskan pada suatu pusat

pembangkit listrik. Fly ash terdiri dari bahan inorganik yang terdapat di dalam

batu bara yang telah mengalami fusi selama pembakarannya. Bahan ini

memadat selama berada di dalam gas-gas buangan dan dikumpulkan

menggunakan presipitator elektrostatik. Karena partikel-partikel ini memadat

selama tersuspensi di dalam gas gas buangan, maka partikel-partikel fly ash

umumnya berbentuk bulat. Partikel-partikel fly ash yang terkumpul pada

presipitator elektrostatik biasanya berukuran (0.074 – 0.005 mm).


3.2 Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999

Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, limbah

merupakan sisa suatu usaha dan/ atau kegiatan. Sedangkan limbah B3 (Bahan

Berbahaya dan Beracun) adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang

mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat atau

konsentrasinya, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat

mencemarkan dan merusakkan lingkungan hidup, sehingga dapat

membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia

serta makhluk hidup lain. Apabila limbah mengandung salah satu pencemar

yang terdapat Peraturan Pemerintah, dengan konsentrasi sama atau lebih besar

maka limbah tersebut merupakan limbah B3. Bila nilai konsentrasi zat

pencemar labih kecil dari nilai ambang batas maka dilakukan uji toksikologi.

Limbah beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat

racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau

sakit yang serius apabila masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau

mulut. Penentuan sifat racun untuk mengidentifikasi limbah ini dapat

menggunakan baku mutu konsentrasi Toxicity Characteristic Leaching

Procedure (TCLP) pencemar organik dan anorganik dalam limbah

sebagaimana yang tercantum dalam PP No.85 tahun 1999.

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dibuang langsung kedalam

lingkungan dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan

manusia serta makhluk hidup lainnya. Mengingat resiko tersebut, perlu

diupayakan agar setiap kegiatan industri dapat meminimalkan limbah bahan


berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan dan mencegah masuknya limbah

bahan berbahaya dan beracun (B3) dari luar Wilayah Indonesia. Pemerintah

Indonesia dalam pengawasan perpindahan lintas batas limbah bahan berbahaya

dan beracun (B3) telah meratifikasi Konvensi Basel pada tanggal 12 Juli 1993

dengan Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1993.

3.3 Logam Berat

Logam berat umumnya bersifat racun terhadap mahluk hidup,

walaupun beberapa diantaranya diperlukan namun dalam jumlah yang sangat

kecil. Melalui perantara seperti udara, makanan, maupun air yang

terkontaminasi oleh logam berat, logam tersebut dapat terdistribusi ke bagian

tubuh manusia dan sebagian akan terakumulasi. Jika keadaan ini berlangsung

terus menerus dalam jangka waktu yang lama dapat mencapai jumlah yang

sangat membahayakan bagi manusia.

3.3.1 Timbal (Pb)

Keracunan yang ditimbulkan oleh persenyawaan logam Pb

dapat terjadi karena masuknya pesenyawaan logam tersebut ke

dalam tubuh. Prosesnya masuknya Pb ke dalam tubuh yang dapat

melalui beberapa jalur, yaitu melalui makanan, minuman, udara dan

perembesan atau penetrasi pada selaput atau lapisan kulit.

Sebagian besar dari Pb yang terhirup pada saat bernapas akan masuk

ke dalam pembuluh darah paru-paru. Tingkat penyerapan itu sangat

dipengaruhi oleh ukuran partikel dari senyawa Pb yang ada dan

volume udara yang mampu dihirup pada saat peristiwa bernapas

langsung. Makin kecil ukuran partikel debu, serta makin besarnya


volume udara yang mampu terhirup, maka akan semakin besar pula

konsentrasi Pb yang diserap oleh tubuh (Palar, 1994).

3.3.2 Tembaga (Cu)

Bentuk tembaga yang paling beracun adalah debu-

debu Cu yang dapat mengakibatkan kematian pada dosis 3,5 mh/kg.

Garam-garam klorida dan sulfat dalam bentuk terhidrasi yang

sebelumnya di duga mempunyai daya racun paling tinggi, ternyata

memiliki daya racun yang lebih rendah dari debu-debu Cu.

Pada manusia, efek keracunan utama yang ditimbulkan

akibat terpapar oleh debu atau uap logam Cu adalah terjadinya

gangguan pada jalur pernapasan. Efek keracuanan yang timbul

akibat terpapar oleh debu atau uap Cu tersebut adalah terjadinya

kerusakan atropik pada selaput lendir yang berhubungan dengan

hidung. Kerusakan itu, merupakan akibat dari gabungan sifat iritatif

yang dimiliki oleh debu atau uap Cu tersebut (Palar, 1994).

3.3.3 Kadmium (Cd)

Logam Cd dan bermacam-macam bentuk persenyawaan

dapat masuk ke lingkungan terutama sekali merupakan efek

samping dari aktivitas yang dilakukan manusia. Boleh dikatakan

bahwa semua bidang industri yang melibatkan Cd dalam operasional

industrinya menjadi sumber pencemaran Cd. Secara sederhana dapat

diketahui bahwa kandungan logam Cd akan dapat dijumpai di

daerah-daerah penimbunan sampah dan aliran hujan, selain dalam

air buangan. Logam Cd juga akan mengalami proses


biotransformasi dan bioakumulasi dalam organisme hidup. Cd dari

tanah yang berasal dari antropogenik dari endapan penggunaan

pupuk dan limbah. Sebagian besar kadmium dalam tanah

berpengaruh dalam pH, larutan material organik, logam yang

mengandung oksida, tanah liat dan zat organik maupun anorganik.

Rata-rata kadar kadmium alamiah dikerak bumi sebesar 0,1-0,5 ppm

(Sudarmaji dkk.,2006). Pada manusia penyerapan kadmium akan

dipengaruhi oleh kadar kalsium dan protein. Pada kandungan

kalsium dan protein yang rendah kadmium diserap oleh usus dan

paru-paru , lalu di transportasikan oleh darah kejaringan tubuh dan

hati, kadmium akan berikatan dengan metalotionin, kompleks yang

terbentuk akan terabsorbsi ke membran glomelurus dan akhirnya

diserapm oleh ginjal (Merian, 1991).

3.3.4 Seng (Zn)

Kegunaan utama seng pada industri adalah proses

galvanisasi(Pelapisan dengan seng) yang dapat menyebabkan

masuknya seng ke dalam air minum yang dialirkan melalui pipa

yang digalvanisasi (Edvantoro et al. 1998). Tubuh memerlukan seng

untuk proses metabolisme, tetapi dalam kadar tinggi dapat bersifat

racun. Air yang mengandung seng dengan konsentrasi 5,0 mg/L

menimbulkan rasa kesat yang tidak disukai (Slamet,1994)

3.3.5 Perak (Ag)

Pencemaran logam berat perak (Ag) dalam bentuk ion

logamnya jarang terjadi, tapi perak sering dijumpai dalam bentuk


mineral atau berasosiasi dengan unsur lain di lingkungan seperti

sulfida atau bergabung dengan sulfida logam lainnya terutama

logam Pb, Cu, Fe, dan Au. Perak dalam batas-batas tertentu

digolongkan sebagai polutan karena bersifat sangat toksik terhadap

flora dan fauna. Sebagian besar Ag yang masuk ke ekosistem

lingkungan perairan berasal dari industri fotografi, limbah

pertambangan, dan electroplanting ( Rahmalia dkk, 2006)

3.3.6 Nikel

Sekitar 0,08% bumi mengandung nikel. Sumber-sumber

nikel berasal dari mineral yang mengandung copyrite, prhyotite,

pentlandlite. Nikel jarang ditemukan di alam dalam bentuk senyawa

logam. Di alam nikel biasanya ditemukan dalam bentuk garam-

garam nikel, Seperti nikel ammonium sulfat dan nikel klorida, yang

bersifat larut dalam air.

3.4 Metode Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP)

Metode TCLP diterapkan untuk menghitung mobilitas agen

pengkontaminasi baik organik maupun anorganik yang terkandung

dalam limbah padat, cair, maupun multifase. Pengujian ini biasanya

dilakukan apabila pada analisis total menunjukan terdapatnya agen

pengkontaminasi.

3.4.1 Prinsip Pengujian TCLP

Metode TCLP Merupakan metode pengujian karakterisasi

toksisitas limbah potensial yang dikeluarkan oleh Environmental

Protection Agenci (EPA) pada tahun 1990. Metode ini adalah


pembaruan dari uji pelindian sebelumnya yaitu Extraction

Procedure (EP). Dalam metode TCLP ini, ada beberapa asumsi yang

digunakan untuk memperbaiki EP, diantaranya yang umum di

gunakan merupakan asumsi dari kondisi terburuk, misalnya bila

landfill yang dikelola secara tidak baik. Komponen organik maupun

anorganik dari limbah dapat terlindikan khususnya bila limbah

tersebut terpapar dengan air ekternal seperti air hujan atau air proses

degradasi materi organik dalam landfill yang biasanya bersifat asam.

Pengujian ini dirancang untuk mengidentifikasi limbah yang

mampu menyaring unsur berbahaya kedalam air tanah akibat

pengokohan yang tidak baik. Pengujian TCLP merupakan proses

peluluhan (leaching), sehingga peluluhan merupakan bagian penting

dari pengertian pengujian ini. Bila air tanah atau permukaan

bergerak melalui suatu bahan/materi maka masing-masing unsur

utama air tersebut akan larut dengan kecepatan pelarut tertentu.

Kemampuan air (ekstrak) tersebut memungkinkan penetrasi

sejumlah limbah yang akan larut sempurna. Maka pada saat limbah

masuk kedalam air, kecepatan polutan dalam limbah tersebut dapat

ditentukan. Proses inilah yang disebut meluluh (leaching). Air yang

terkontaminasi tersebut disebut “Leachant” dan air terkontaminasi

yang bergerak melintasi limbah disebut “Leachate”. Sedangkan

kapasitas limbah untuk meluluh melalui limbah tersebut disebut

Leachability.
TCLP tidak dapat menstimulasi setiap kondisi secara tepat,

tetapi kondisi lingkungan dapat menciptakan suatu kondisi

lingkungan terburuk bagi peluluhan (leaching) pada tempat

pembuangan. Pembuangan TCLP sebagai acuan tingkat pernyataan

higienis industri yang aman atau bagi tingkat toksisitas akuatik tidak

ada dalam pola atau rancangan prosedur pengujian maupun

peraturan yang ada.

Pengujian TCLP yang semakin meningkat menuntut

perkembangan dari pengujian lindi yang hasilnya lebih fleksibel,

spesifik dan menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

3.5 Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu adalah suatu proses pengendalian dan pengawasan

atas kemajuan dengan membandingkan hasil dan sasaran secara teratur serta

menyesuaikan usaha atau kegiatan dengan hasil pengawasan. Pengendalian

mutu dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang efektif untuk memadukan

pengembangan mutu, pemeliharaan mutu dan usaha-usaha perbaikan mutu.

Data kualitas lingkungan yang dihasilkan dari laboratorium dapat dijadikan

sebagai indikasi adanya pencemaran lingkungan sekaligus dalam membuat

perencanaan dan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

(BLHD,2013).

Untuk mengidentifikasi dan mencari akar permasalahan yang terjadi,

analisis laboratorium harus mencatat data hasil pengujian , sehingga

kecenderungan dapat dideteksi. Aspek-aspek pengendalian mutu hasil uji


analisis dilaboratorium meliputi akurasi, presisi, MDL, uji linearitas dan

kurva kalibrasi.(Synder,1997).

3.5.1 Akurasi

Akurasi adalah ukuran yang menunjukan derajat kedekatan

hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Akurasi

dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (Recovery) analit yang

ditambahkan. Trueness yang sering di nyatakan sebagai akurasi

merupakan perbandingan nilai rerata hasil pengulangan dengan nilai

benar dari bahan acuan bersertifikat (Certified Reference Material,

CRM) yang dinyatakan dalam presentase. (Mutiara,2004). Uji

akurasi dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan matriks

didalam contoh uji terhadap pereaksi yang digunakan atau untuk

mengetahui ketepatan metode pengujian yang digunakan. Uji

akurasi ini dapat menggunakan SRM. SRM (Standard Reference

Material) merupakan standard yang disertifikasi secara

internasional yang tidak dapat diubah-ubah lagi nilainya.


𝑥
% 𝑅𝑒𝑐𝑜𝑣𝑒𝑟𝑦 𝑆𝑅𝑀 = µ 𝑥 100 %

Sedangkan untuk spike dapat dihitung menggunakan rumus sebagai

berikut :

𝐾𝑜𝑛𝑠.𝑆𝑝𝑖𝑘𝑒−𝐾𝑜𝑛𝑠.𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
% 𝑅𝑒𝑐𝑜𝑣𝑒𝑟𝑦 𝑆𝑝𝑖𝑘𝑒 = 𝑥 100 %
𝐾𝑜𝑛𝑠.𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑

Keterangan :

µ= nilai benar atau nilai acuan dalam CRM

x= rata-rata hasil pengujian


3.5.2 Presisi

Presisi adalah ukuran yang menunjukan derajat kesesuaian antar

hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata

jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil

dari campuran yang homogen.(Mutiara,2004)

Jika pengulangan pengujian dilakukan secara duplo maka presisi

ditentukan berdasarkan nilai perbedaan prosentase relative % RPD (relative

percent different) yaitu :

𝑥1 − 𝑥2
% 𝑅𝑃𝐷 = 𝑥 100 %
𝑥

Keterangan :

% RPD = perbedaan presentase relative

x1 = hasil pengujian pertama

x2 = hasil pengujian kedua,

x = rata-rata hasil uji pertama dan kedua

3.5.3 Limit Deteksi Metode (MDL)

Limit deteksi metode adalah konsentrasi terendah yang terbaca dari

pengukuran suatu unsur yang mengaplikasikan secara lengkap metode

pengukuran suatu unsur tersebut dan hasil pembacanya dapat dipercaya

dengan tingkat kepercayaan 99 % bahwa konsentrasi tersebut berbeda

dengan pembacaan blanko. Penentuan limit deteksi metode bertujuan

mengevaluasi kemampuan metode dalam mengkuantitasi

analit.(Greenberg,2005).
3.5.4 Kurva Kalibrasi

Metode kurva kalibrasi dibuat seri larutan standar dengan

berbagai konsentrasi absorbansi. Dengan metode ini dibuat grafik

antara Konsentrasi (C) dengan Absorbansi (A) yang akan

membentuk garis liner atau garis lurus melewati titik nol dengan

slope = Ɛ B atau slope = a. B, Konsentrasi larutan sampel diukur dan

intrapolasi kedalam kurva kalibrasi atau dimasukkan kedalam

persamaan regresi linear pada kurva kalibrasi. Disarankan

absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan

tidak kurang adri asbsorbansi baku terendah. Dengan kata lain,

absorbansi sampel harus terletak pada kisaran absorbansi kurva

kalibrasi. Jika absorbansi terletak diluar kisaran kurva maka

diperlukan pengenceran atau pemekatan (Muzdaleni,2011).

3.6 Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)

Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang

pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau

yang diserap oleh spesi atom atau molekul analit. Salah satu jenis dari

spektrofotometri adalah Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), yang

merupakan metode analisis unsur secara kuantitatif berdasarkan

penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam

dalam keadaan bebas (Skoog et al, 2012)


Gambar x
Prinsip dasar SSA adalah interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan

sampel. Spektrofotometri serapan atom merupakan metode yang sangat tepat

untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini adalah teknik yang paling

umum dipakai untuk analisis unsur. Teknik-teknik ini didasarkan pada emisi dan

absorbansi dari uap atom. Komponen kunci pada metode SSA adalah sistem (alat)

yang dipakai untuk menghasilkan uap atom dalam sampel (UGM,2003).

Gambar mekanisme AAS

Cara kerja SSA adalah berdasarkan atas penguapan larutan sampel, kemudian

logam yang terkandung didalamnya diubah menjadi atom bebas dalam SSA adalah

atomizer. Larutan unsur mula-mula disedot kedalam nebulizer yang berfungsi

untuk mengubah larutan aerosol yaitu butiran-butiran cair yang sangat halus, yang

terdispersi dalam udara). Selanjutnya larutan diubah dalam bentuk kabut (tetesan-

tetesan yang amat halus dalam fasa gas atau aerosol didalam spray chamber) yang

berfungsi untuk membuat campuran yang homogen dari gas oksidan dan bahan

bakar aerosol. Kemudian dengan tambahan gas terjadilah campuran yang homogen

sesaat sebelum dimasukan kedalam burner. Atom tersebut mengabsorbsi radiasi


dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp)

yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi

kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya

(Darmono, 1995)

Beberapa diantara atom yang tereksitasi secara termal oleh nyala, tetapi

kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaam dasar (ground

state). Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang diberikan oleh

sumber radiasi yang terbuat oleh unsur-unsur yang bersangkutan. Panjang

gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan panjang

gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala. Absorbansi mengikuti hukum

Lambert-Beer, yaitu absrobansi berbanding lurus dengan panjang nyala yang dilalui

sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala. Kedua variabel ini sulit untuk

ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat konstan sehingga absrobansi hanya

berbanding langsung dengan konsentrasi analit dalam larutan sampel. Beberapa

teknik analisa berupa kurva kalibrasi, standar tengah, dan kurva adisi standar

(Suryati,2011)

3.6
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanan dari tanggal 21 Januari 2019 sampai dengan 22

Febuari 2019 di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium

Lingkungan (P3KLL) Serpong, Tangerang Selatan.

4.2 Alat dan Bahan

4.2.1 Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah timbangan

analitik, spatula, pipet, gelas kimia, labu ukur 1000 mL, botol ekstraksi

polyethylene 2000 mL, pH meter, pemanas, kertas saring serat gelas (fiber

glass) borosilikat cat no 1825 125, rotary agitator dengan kecepatan 30 ± 2

putaran per menit. Instrumen yang digunakan dalam pembacaan kandungan

logam yaitu spektrofotometer AAS.

4.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian dengan larutan

standar campuran 100 ppm, air suling deionisasi bebas CO2 /ASTM

(D1193-91) tipe 2, asam asetat glasial, HCl, NaOH, larutan ekstrak 1,

larutan ekstrak 2,
4.3 Cara Kerja

4.3.1 Persiapan Contoh Uji

Sampel limbah padat yang telah diambil dilakukan homogenisasi ,

lalu disimpan dalam wadah tertutup yang terbuat dari polietilen, dan

disimpan dalam ruang pendingin dengan temperatur 4 oC.

4.3.2 Penentuan pH Contoh Uji

Ditimbang 5 gr sampel limbah dalam gelas piala lalu ditambahkan

96,5 mL air suling bebas CO2, ditutup dengan kaca arloji dan diaduk

dengan stirer (pengaduk magnet) selama 5 menit. Diukur pH dengan

alat pH meter yang sudah dikalibrasi, jika pH < 5 maka digunakan

larutan ekstrak 1, jika pH > 5 maka ditambahkan 3,5 mL HCl 1,0 N,

ditutup dengan kaca arloji dan dipanaskan 50 oC selama 50 menit,

dibiarkan dingin lalu diukur kembali pH-nya. Bila pH < 5,0 digunakan

larutan ekstraksi 1, dan bila pH > 5,0 maka gunakan larutan ekstraksi

2.

4.3.3 Pembuatan larutan ekstrak

Pembuatan larutan ekstrak 1 dengan ditambahkan-nya 5,70

mL Asam Asetat Glasial 100% kedalam labu ukur 1000 mL, lalu

ditambahkan 64,30 mL NaOH 1 N dan dihimpitkan dengan air

suling bebas CO2 sampai tanda batas. Diukur pH sampai diantara

4,93 ± 0,05 . Bila pH < 4,88 maka ditambahkan ± 1 mL basa (NaOH

10 N) dan bila pH > 4,98 maka ditambahkan ± 1 mL asam


(CH3COOH) sampai nilai pH sesuai rentang tersebut dan percobaan

ini dilakukan 2 kali untuk mencapai volume 2000 mL.

Pembuatan larutan ekstrak 2 dengan ditambahkan-nya 5,70

mL Asam Asetat Glasial 100% kedalam labu ukur 1000 mL dan

dihimpitkan dengan air suling bebas CO2 hingga tanda batas. Diukur

nilai pH sampai diantara 2,88 ± 0,05. Bila pH < 2,83 maka

ditambahkan ± 1 mL basa (NaOH 10 N) dan bila pH > 2,93 maka

ditambahkan ± 1 mL asam (CH3COOH) sampai nilai pH sesuai

rentang tersebut dan percobaan ini dilakukan 2 kali hingga volume

2000 mL.

4.4.4 Ekstraksi Contoh uji

Ditimbang 100 gr sampel limbah dan spike, dimasukan

kedalam botol pengekstrak, dan ditambahkan 2000 mL larutan

ekstraksi sesuai penentuan pH sampel pada contoh uji yang sudah

dilakukan, dan ditambahkan 2000 mL larutan ekstraksi 1 atau 2

(sesuai contoh uji) ke dalam botol pengekstrak sebagai blanko.

Dilakukan ekstraksi selama 18 jam dengan kecepatan rotasi 30 rpm

± 2 pada temperatur kamar. Setelah 30 menit pertama ekstraksi,

matikan alat kemudian buka tutup botol selama 5 menit untuk

mengeluarkan gas yang mungkin terbentuk pada saat proses

ekstraksi. Disaring larutan ekstraksi dengan menggunakan filter

yang terbuat dari fiber gelas borosilikat , dan ditampung dalam botol
polietilen dan diawetkan dengan mengasamkan dengan HNO3

sampai pH < 2.

4.4.4 Pembuatan Spike

Pembuatan spike dilakukan dengan ditambahkan 0,2 mL

larutan baku 100 ppm (Pb,Cu,Zn,Cd,Ni,Ag) dalam 100 ml sampel

sebelum dipanaskan.

4.4.5 Prosedur untuk logam berat (Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, Ni)

Dikocok ekstrak sampel, spike dan blanko lalu di tambahkan

masing-masing sebanyak 100 mL kedalam gelas piala 300 mL, dan

ditambahkan 5 mL HNO3 lalu ditutup dengan kaca arloji.

Dipanaskan contoh uji pada suhu 95 oC sampai volumenya

berkurang sekitar 10 – 20 mL, terjadinya destruksi sempurna

ditunjukan dengan warna larutan yang jernih dan tidak ada endapan.

Diangkat, didinginkan dan disaring kedalam labu ukur 100 mL yang

dihimpitkan dengan air suling bebas CO2 sampai tanda batas.

Sampel siap diukur dengan AAS.

4.4.6 Analisis menggunakan FAAS/ Spektrofotometer Serapan Atom-

Nyala

Pertama dinyalakan komputer terlebih dahulu, lalu di putar tuas

tabung gas asetylene (C2H2) dan kompresor dinyalakan, kemudian ducting

dan main unit. Pada komputer di buka Aplikasi SSA dan dipastikan lampu

katoda logam berat yang ingin dianalisis sesuai dengan penomoran

tempatnya, pada aplikasi SSA dipilih menu select element dan working
mode, dipilih unsur yang akan dianalisis dengan mengklik langsung

simbol unsur, dan disesuaikan dengan urutan nomor lampu katoda, saat

muncul tampilan condition setting, diatur parameter yang dianalisis

dengan mengatur fuel flow, measurement, concentration, number of

sample, unit concentration, number of standard, dan standard list. Pada

aplikasi diklik ikon bergambar burner/pembakar, atau pada SSA ditekan

tombol start, setelah api menyala alat siap digunakan untuk mengukur

logam. Larutan standar diabsorbansi hingga membentuk kurva linear yang

sesuai (dengan r > 0.9995), selanjutnya sebagai QC ( quality kontrol )

SRM, standar tengah, blanko , lalu sampel dan spike diabsorbansi. Setelah

pengukuran selesai, data dapat diperoleh dan klik ikon print untuk

mendapatkan data dalam bnetuk hardcopy.


BAB V

PEMBAHASAN

Uji TCLP diawali dengan penentuan nilai pH dari sampel, sampel yang

digunakan termasuk limbah yang mengandung padatan > 0,5 % sehingga dilakukan

pengekstrakan yang diawali penentuah pH pada sampel. Penentuan pH contoh

bertujuan untuk menentukan jenis larutan pengekstrak yang akan digunakan.

Larutan pengekstrak berhubungan dengan banyaknya logam yang mampu

terekstrak dalam larutan lindi.

Tabel 1 Hasil pengukuran pH sebelum dan sesudah penambahan HCl 1 N

No Kode Contoh pH awal pH Akhir Larutan Pengekstrak

1 07 A 10,575 5,25 Ekstrak 2

2 07 B 9,045 5,72 Ekstrak 2

3 07 C 9,985 4,84 Ekstrak 1

Tabel 1 menunjukan hasil pengukuran pH. Contoh limbah padat dengan

kode 07A, 07B, dan 07C pada pengukuran pH awal menunjukan pH > 5.

Selanjutnya karena pH awal menunjukan nilai pH > 5 maka dilakukan penambahan

HCl 1 N dan dilakukan pemanasan pada suhu 50 oC selama 50 menit. Setelah itu

dilakukan pengukuran pH akhir contoh limbah padat pada kode 07A dan 07B

menunjukan nilai pH > 5, sedangkan pada kode 07C menunjukan nilai pH < 5. Oleh

karena itu, contoh limbah padat pada pengujian TCLP menggunakan larutan ekstrak

1 pada sampel kode 07C dan larutan ekstrak 2 pada sampel 07A dan 07B.
Hasil penentuan konsentrasi Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, dan Ni yang dilakukan

mengacu pada baku mutu TCLP berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia nomor 85 tahun 1999 tentang baku mutu TCLP zat pencemar dalam

limbah untuk penentuan karakteristik sifat racun. Baku mutu ini dapat dilihat pada

bagian Lampiran X.

Tabel X Hasil penentuan konsentrasi Pb, Cu, Cd, Zn, Ag, dan Ni dalam limbah

padat.

Konsentrasi(mg/L)
No Kode Contoh
Pb Cu Cd Zn Ag Ni
07A
1
07B
2
07C
3
Rataan
Baku Mutu
Keterangan : Kode Contoh 07 = kode contoh limbah padat Fly ash