Anda di halaman 1dari 110

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

SPESIFIKASI TEKNIS UMUM

1. SPESIFIKASI UMUM

1.1 Uraian Umum

a. Sebelum memulai pelaksanaan, pemborong wajib mempelajari dengan seksama gambar kerja dan syarat
pelaksanaan serta Berita Acara penjelasan pekerjaan. Selain itu pemborong wajib pula membuat metoda
kerja, time schedule, daftar peralatan yang dimiliki serta personil yang terlibat dan harus mengikuti
seluruh peraturan yang masih berlaku di Indonesia.
b. Setelah pekerjaan selesai pemborong harus menyerahkan as built drawing kepada direksi. Gambar as
built drawing ini digambar dalam kertas kalkir ukuran A1.
c. Pemborong diwajibkan melaporkan kepada direksi setiap ada perbedaan ukuran diantara gambar-
gambar, perbedaan antara gambar kerja dan rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) untuk mendapatkan
keputusan. Tidak dibenarkan sama sekali bagi pemborong memperbaiki sendiri perbedaan tersebut di
atas. Akibat-akibat dari kelalaian pemborong dalam hal ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab
pemborong.
d. Daerah kerja (construction area) akan diserahkan kepada pemborong (selama pelaksanaan) dalam
keadaan seperti diwaktu pemberian kerja dan dianggap bahwa pemborong mengetahui benar-benar
mengenai.
- Letak bangunan yang akan dibangun
- Batas-batas persil/kaveling maupun keadaannya pada waktu itu
- Keadaan kontur tanah.
e. Pemborong wajib menyerahkan pekerjaannya hingga selesai dan lengkap yaitu membuat (menyuruh
membuat) memasang serta memesan maupun menyediakan bahan-bahan bangunan alat-alat kerja dan
pengangkutan, membayar upah kerja dan lain-lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan.
f. Pemborong wajib menyediakan sekurang-kurangnya 1 (satu) salinan gambar-gambar dan RKS di tempat
pekerjaan untuk dapat digunakan setiap saat oleh pemilik proyek dan direksi.
g. Atas perintah direksi, kepada pemborong dapat dimintakan membuat gambar-gambar penjelasan dan
perincian membuat bagian-bagian khusus, semuanya atas beban pemborong. Gambar tersebut setelah
disetujui oleh direksi secara tertulis membuat gambar pelengkap dari pelaksanaan.
h. Setiap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanannya maupun yang sedang dilaksanakan, pemborong
diwajibkan berhubungan dengan direksi, untuk ikut menyaksikan sejauh tidak ditentukan lain, untuk
mendapatkan pengesahan/ persetujuan.
i. Setiap usul perubahan dari pemborong ataupun persetujuan pengesahan dari direksi dianggap berlaku,
sah serta mengikat jika dilakukan secara tertulis.
j. Semua bahan yang akan dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan proyek ini harus benar-benar baru
dan diteliti mengenai mutu, ukuran dan lain-lain yang disesuaikan standar peraturan-peraturan yang
dipergunakan di dalam RKS ini. Semua bahan-bahan tersebut diatas harus mendapat
pengesahan/persetujuan dari direksi sebelum akan dimulai pelaksanaannya.
k. Ketelitian dan kerapihan kerja dan sangat dinilai (bobotnya tinggi) oleh direksi, terutama yang
menyangkut pekerjaan penyelesaian maupun perapihan (finishing works).
l. Pengawasan terus menerus terhadap pelaksanaan penyelesaian/perapihan, harus dilakukan oleh tenaga-
tenaga dari pihak pemborong yang benar-benar ahli.

Bab XIA -1
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

m. Semua barang-barang yang tidak berguna selama pelaksanaan pembangunan harus dikeluarkan dari
lapangan pekerjaan.
n. Cara menimbun bahan-bahan di lapangan maupun di gudang harus memenuhi syarat teknis, dan dapat
dipertanggungjawabkan.

1.2 Pekerjaan Persiapan

1.2.1 Kantor Direksi, Kantor Pemborong dan Gudang

a. Pemborong wajib menyediakan kantor direksi, tempat para staf direksi melakukan tugasnya, yang
biasanya menjadi tanggungan pemborong.
b. Kantor direksi tersebut merupakan bangunan sementara dengan lantai rabat beton diplester, konstruksi
rangka kayu, dinding multipleks, penutup atap asbes semen gelombang, diberi pintu dan jendela
secukupnya untuk pengawasan dan pencahayaan. Letak kantor direksi harus cukup dekat dengan kantor
pemborong tetapi terpisah dengan tegas.
c. Kantor direksi (direksi keet) dijelaskan sebagai berikut
1. Dengan luas 6 x 10 m2 yang terbagi :
- Ruang rapat
- Ruang Direksi
- Gudang
- KM dan WC
2. Perlengkapan Kantor Direksi :
- 1 (satu) buah meja rapat ukuran 1,2 x 2 m diplitur, dengan 12 (dua belas) buah kursi lipat
- 1 (satu) buah filling cabinet 3 rak
- 1 (satu) unit lemari kayu dari multipleks ukuran 50 x 210 cm panjang sesuai kebutuhan untuk
penyimpanan contoh bahan/material dan peralatan
- 2 (dua) buah white board ukuran 1,2 x 2,4 m, untuk ruang rapat dan ruang direksi.
- 1 (satu) unit foto camera
- 1 (satu) unit meja gambar ukuran A1 dari kayu yang dapat dilipat, dengan kursi putar
- 3 (tiga) buah lampu petromaks
- 1 (satu) buah mesin tik portable
- 1 (satu) unit alat waterpass
3. Perlengkapan Personil dan Tamu Proyek
- 1 (satu) set jangka sorong
- 1 (satu) unit teropong.
d. Kantor untuk pemborong diproyek dibuat oleh pemborong sendiri, luas ruangan minimal 6 x 10 m 2.
Pemborong juga membuka/menyediakan fasilitas ruangan untuk para pemborong atau kontraktor-
kontraktor khusus yang akan melaksanakan pekerjaan di luar lingkup pekerjaan.
e. Gudang bahan-bahan serta tempat penimbunan material yang harus terlindung seperti pasir, besi beton,
dan lain-lain dibuat secukupnya dan dapat dikunci. Khusus untuk gudang semen agar lantainya dibuat
bebas dari kelembaban udara, minimal 30 cm di atas permukaan lantai plesteran.

1.2.2 Papan Nama Proyek

a. Pemborong diwajibkan memasang papan nama proyek ditempat lokasi proyek dan dipancangkan di
tempat yang mudah dilihat umum.

Bab XIA -2
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

b. Pemasangan papan nama proyek dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan proyek dan dicabut
kembali setelah mendapat persetujuan pemilik proyek.
c. Bentuk, ukuran, dan isi papan nama proyek akan ditentukan kemudian oleh direksi.
d. Pemborong diwajibkan memasang pagar di sekeliling lokasi pekerjaan.
e. Pemasangan pagar proyek dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan proyek dan dicabut kembali
sebelum penyerahan pertama.
f. Pagar proyek dibuat dari seng gelombang BJLS 32 dengan tiang kayu kelas 2 yang ditanam di atas pondasi
batu kali setempat, bentuk ukuran dan finishing pagar proyek selanjutnya diusulkan kepada direksi untuk
mendapatkan persetujuan.
g. Batas-batas pemindahan barang-barang tersebut di atas dikerjakan oleh pemborong atas biayanya.

1.2.3 Pengukuran dan Pematokan

a. Pemborong harus mengerjakan pematokan dan pengukuran untuk menentukan batas-batas pekerjaan
serta garis-garis kemiringan tanah sesuai dengan gambar rencana.
b. Dari pengukuran ini dibuat gambar kerja yang memuat tentang pembagian lokasi/areal kerja untuk
disetujui direksi, sehingga jadwal pelaksanaan pekerjaan berikutnya dapat dilaksanakan. Bilamana ada
perbaikan dari direksi, maka Pemborong harus melaksanakan pengukuran ulang. Dalam pengukuran ini
harus ada patok referensi tetap yang tidak boleh diganggu. Patok-patok yang ada akan digunakan terdiri
dari 2 macam patok :
- Patok utama yang terbuat dari beton dengan ukuran 20 x 20 x 70 cm,
- Patok-patok yang lain digunakan untuk pembatas site, terbuat dari pipa PVC paralon dan diberi tulang
besi bergaris tengah 12 mm, dicor beton 1 : 2 : 3 dan diberi tanda koordinat.
c. Sebelum dimulainya pekerjaan tersebut, pemborong harus memberitahukan kepada direksi dalam waktu
tidak kurang dari 48 (empat puluh delapan) jam sebelumnya, secara tertulis.
d. Pekerjaan pematokan yang telah selesai diukur oleh pemborong, dimintakan persetujuan direksi. Hanya
hasil pengukuran yang telah disetujui oleh direksi yang dapat digunakan sebagai dasar pekerjaan
selanjutnya.
e. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari gambar pelaksanaan, pemborong harus mengajukan 3
(tiga) gambar penampang dari daerah yang dipatok itu.
f. Direksi akan membubuhkan tanda tangan persetujuan pada satu lembar gambar tersebut dan
mengembalikannya kepada pemborong, gambar ini merupakan gambar pelengkap dan merupakan satu
kesatuan dengan gambar nyata.
g. Apabila terdapat revisi, maka setelah diperbaiki pemborong mengajukan kembali kepada direksi untuk
dimintakan persetujuan.
h. Gambar tersebut (butir g di atas) harus digambar di atas kertas kalkir dengan 3 lembar hasil
reproduksinya. Ukuran maupun huruf yang dipakai pada gambar harus sesuai dengan ketentuan direksi
dan dijadikan gambar pelaksanaan pengganti gambar lama.

1.2.4 Pembersihan dan Penebangan Pohon

a. Pembersihan di luar batas lapangan pekerjaan ini tidak diberikan pembayaran kepada pemborong, kecuali
pekerjaan semacam itu di atas permintaan direksi. Penebangan pohon dilakukan seperlunya, pohon-
pohon rindang atau tanaman ornamen tertentu dipertahankan dari penebangan.
b. Semua pohon-pohon, batang-batang pohon, akar-akar dan lain sebagainya yang ditebang harus dibongkar
sampai kedalaman 50 cm di bawah permukaan lahan seperti tripping dan permukaan akhir (ditentukan

Bab XIA -3
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

oleh permukaan mana yang lebih rendah), dan bersama-sama dengan segala bentuknya harus dibuang
pada tempat-tempat yang tampak dari tempat pekerjaan, menurut cara yang praktis yang telah disetujui
direksi.
c. Seluruh kerusakan, termasuk kerusakan pagar milik orang lain yang terjadi pada saat pembersihan harus
diperbaiki oleh pemborong atas tanggung jawab sendiri. Pada pelaksanaan pembersihan, pemborong
harus hati-hati untuk tidak mengganggu setiap patok-patok pengukur, atau tanda-tanda lainnya.
d. Pekerjaan pembersihan terdiri dari pembersihan segala macam tumbuh-tumbuhan, pohon-pohon, semak-
semak, tanaman lain, sampah-sampah dan bahan-bahan lain yang menggangu, termasuk pencabutan
akar-akar, sisa-sisa konstruksi, sisa-sisa material dari sisa-sisa pekerjaan, dan hal-hal lainnya sehubungan
dengan persiapan pelaksanaan pekerjaan berikutnya, kecuali bila direksi menentukan lain.

1.2.5 Pembuangan Tanah dan Sampah

Material-material yang tidak dikehendaki (seperti sampah, sisa-sisa bahan, akar-akar dan lain-lain) atau tanah
yang tidak diizinkan direksi untuk dipakai, harus disingkirkan/dibuang keluar daerah lokasi proyek, sedemikian
rupa sehingga tidak mengganggu jalannya pekerjaan atau lingkungan sekitarnya.

1.3 Pelaksanaan Peil, Ukuran Tinggi dan Ukuran Dasar

a. Sebelum pelaksanaan dimulai, pemborong diwajibkan mempelajari dengan seksama gambar-gambar,


uraian dan syarat dan lain-lainnya.
b. Pemborong diwajibkan melaporkan kepada direksi pelaksanaan,setiap ada perbedaan-perbedaan ukuran
diantara gambar-gambar dan uraian dan syarat-syarat untuk mendapatkan keputusan. Tidak dibenarkan
sama sekali bagi pemborong untuk memperbaiki sendiri perbedaan-perbedan tersebut di atas. Akibat-
akibat dari kelalaian pemborong dalam hal ini, sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemborong.
c. Pemborong bertanggungjawab penuh atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan menurut peil-peil dan ukuran-
ukuran yang ditetapkan dalam gambar-gambar dan uraian dan syarat-syarat pelaksanaan ini.
d. Setiap akan memulai suatu bagian pekerjaan, pemborong harus memberitahu direksi pelaksanaan, untuk
diperiksa terlebih dahulu ketepatan peil, ukuran dan sebagainya.
e. Mengingat setiap kesalahan baik peil maupun ukuran pada satu bagian pekerjaan akan selalu dapat
mempengaruhi bagian-bagian pekerjaan/ selanjutnya, maka ketepatan peil dan ukuran tersebut mutlak
perlu diperhatikan sungguh-sungguh.
f. Kelalaian Pemborong dalam hal ini tidak akan ditolerir dan direksi pelaksanaan berhak memerintah untuk
memperbaiki/membongkar pekerjaan yang telah dilakukan atas beban pemborong.
g. Pemborong diwajibkan senantiasa mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lainnya dalam tiap bagian
pekerjaan, dan segera melaporkan kepada direksi pelaksanaan setiap terdapat selisih/perbedaan ukuran.
Pemborong tidak dibenarkan untuk membetulkan sendiri kekeliruan tersebut tanpa persetujuan direksi
pelaksanaan
h. Sebagai peil dasar/induk pekerjaan ini adalah peil setempat yang telah dibuat oleh konsultan.
i. Penetapan titik/peil dilakukan pemborong di lapangan dengan alat teropong waterpass atau theodolite
yang baik dan ditera kebenarannya terlebih dahulu.
j. Ketidakcocokan antara gambar dan keadaan di lapangan harus segera dilaporkan kepada direksi
pelaksana untuk diperiksa.
k. Kebenaran hasil pengukuran sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemborong. Adanya pengawasan dari
direksi tidak mengurangi tanggung jawab tersebut.Pengukuran sudut siku hanya dilakukan dengan
pesawat theodolite. Pengukuran siku dengan benang secara azas segitiga pytagoras hanya dilakukan
untuk bagian-bagian ruang yang kecil menurut pertimbangan direksi pelaksanaan.

Bab XIA -4
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

l. Papan bangunan (bowplank) harus dipasang pada patok-patok kayu yang nyata dan kuat bertancap di
dalam tanah, sehingga tidak bisa bergerak-gerak ataupun berubah-ubah. Setelah pemasangan papan
bangunan selesai, harus dilaporkan kepada direksi untuk diperiksa sebelum pekerjaan selanjutnya
dilakukan.

1.4 Pekerjaan Jalan Masuk

Jalan masuk ke lokasi pekerjaan, termasuk pada sarana pelengkap lain harus disiapkan oleh pemborong.
Pemborong wajib memelihara semua sarana tersebut, dan semua biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan
tersebut menjadi tanggungjawab pemborong. Pada akhir pekerjaan, atas perintah direksi maka segala sarana
tersebut kalau tidak dipergunakan lagi, harus dibongkar, dirapihkan kembali seperti semula, atau seperti yang
disyaratkan oleh direksi.

Bab XIA -5
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2. SPESIFIKASI TEKNIS PENGADAAN / PEMASANGAN PIPA


2.1. PENGADAAN PIPA BAJA DAN PERLENGKAPANNYA
2.1.1. Umum
Semua pipa dan alat penyambung harus didesain untuk menerima tekanan kerja minimum
sebesar 0.98 Mpa (10.0 kg/cm2) kecuali ditentukan lain.

Referensi
Standar lain yang digunakan adalah :
 SNI 07–0068-1987 Pipa baja untuk konstruksi umum, mutu dan cara uji.
 SNI 07–0242-1989 Pipa baja tanpa kambuh, mutu dan cara uji.
 SNI 07–0822-1989 Baja karbon strip canai panas untuk pipa
 SNI 07–1338-1989 Baja karbon tempa.
 SNI 07–0949-1991 Pipa baja coal-tar enamel lapis lindung bagian luar.
 SNI 07–1769-1990 Penyambung pipa air minum bertekanan dari besi yang kelabu.
 SNI 07–1969-1991 Pipa air minum bertekanan besi tuang kelabu, penyambung.
 SNI 07–2255-1991 Pipa baja saluran air.
 SNI 07–2195-1991 Permukaan pipa flens, dimensi.
 SNI 07–2196-1991 Flensa pipa, toleransi dimensi.
 SNI 07–3080-1991 Pipa spigot dan socket dari besi tuang modular untuk jaringan
pipa bertekanan, bagian 2.
 SNI 07–3025-1992 Persyaratan las-ketentuan umum, persyaratan servis untuk
sambungan las.
 SNI 07–3026-1992 Las, untuk pertimbangan untuk menjamin mutu struktur las.
 SNI 07–3027-1992 Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penilaian
perusahaan yang menggunakan las sebagai cara utama
pabrikasi.
 SNI 07–3078-1992 Flensa logam – flensa besi tuang.
 SNI 07–3073-1992 Penyambung pipa baja tanpa pasuan berulir.
 SNI 07–3360-1994 Penyambung pipa baja dan baja paduan dengan las tumpu.
 SII 2527-90 Water Supply Steel Pipe.
 ISO 7 / 1 Pipe Threads Where Pressuretight Joins are Made on The
Threads.
 ISO 1459 Metalic Coating – Protection Agains Corrosion by Hot Dip
Galvanzing Guilding Principles.
 ISO 1461 Metalic Coating Hot-Dip Galvanized Coating on Fabricated
Ferrous Products Requirments.
 ASTM A 283F Flow and Intermediate tensile strenght Carbon steel Plates,
Shaped and Bars
 ASTM A 570 Steel, Sheet and strip, Carbon Hot Rolled Structural Quality
 AWWA C 200 Steel Water Pipe 6 Inches and Larger
 AWWA C 203 Coal – Tar Protective Coatings and Linings for Steel Water
Pipelines Enamel and Tape Hot Applied

Bab XIA -6
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

 AWWA C 205 Cement Mortar Protective Lining and Coating for Steel Water
Pipe 4 Inches and Larger Shop Applied.
 AWWA C 208 Dimensions for Steel Water Pipe Fittings.
 AWWA Manual M11 Steel Pipe Design and Installation.
 AWWA C 210 Liquid Epoxy Coating System for he Interior and Exterior Steel
Water Pipe.
 JIS G 3101 Rolled Steel for General Structure.
 JIS G 3452 Carbon Steel Pipes for Ordinary Piping.
 JIS G 3457 Arc Welded Carbon Steel Pipe
 JIS B 2311 Steel But-Welding Pipe Fitting for Ordinary Use.
 JIS G 3451 Fitting of Coating Steel Pipes for Water Service.
 JIS G 550 Spheroidal Graphite Iron Castings.
 JIS G 5702 Blackheart Malleable Iron Castings.
 JIS G 3445 Carbon Steel Tubes for Machine Structures Purposes
 JIS G 3454 Carbon Steel Pipes for Pressure Service
 JIS G 6353 Rubber Goods pipes for Water Works.

2.1.2. Pipa Baja dan Fitting


1. Material dan Fabrikasi.
Pipa baja/steel harus dibuat dari pelat atau lembaran baja dan sambungannya
menggunakan pengelasan tumpul (arc-welded) atau pengelasan listrik, dikerjakan
dipabrik, dites dan dibersihkan.
Lembaran atau pelat-pelat baja harus mempunyai batas keruntuhan minimum tidak
kurang dari 226 N/mm2 (2300 kg/cm2) dan harus mempunyai standard berikut :
 SNI 07-0949-1989 Pelat baja carbon untuk uap dan bejana tekan.
 SNI 07-0822-1989 Baja karbon strip canai panas untuk pipa.
 SNI 07-1338-1989 Baja karbon tempa.
 ASTM A 283, Grade D
 ASTM A 570, Grade 33
 JIS G 3101, Class 2
 JIS G 3452, SGP
 JIS G 3457, STPY

Pabrikan piopa baja harus sesuai dengan AWWA C 200 atau SNI-07-0822-1989 atau SII
2527-90 atau JIS G 3452 dan JIS G 3457. ketebalan dan lebar pengelasan harus cukup
merata pada seluruh panjang pipa dan dibuat secara otomatis, kecuali atas
persetujuan Engineer boleh dilakukan pengelasan manual dengan prosedur yang
sesuai oleh tukang yang berpengalaman.
Semua sambungan memanjang atau spiral dan sambungan las keliling yang dibuat
dipabrik harus dengan pengelasan sudut (but welded). Banyaknya pengelasan pabrik
maksimum yang diizinkan adalah satu pengelasan memanjang dan tiga pengelasan
keliling untuk setiap batang pipa. Panjang setiap batang pipa adalah 6 (enam) meter
atau kurang, kecuali ditentukan lain.

Bab XIA -7
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pengelasan memanjang harus dipasang berselang-seling pada sisi yang berlawanan


untuk bagian yang berurutan. Tidak diizinkan adanya ring, pelat ataupun pelana
(saddle) penguat baik pada bagian luar maupun pada bagian dalam pipa.

2. Dimensi Pipa
Kecuali ditentukan lain, pipa dengan ukuran diameter nominal berikut ini harus
mempunyai ukuran diameter luar dan mempunyai ketebalan dinding minimum
sebelum dilapisi pelindung dalam dan luar sebagai berikut :

DIAMETER LUAR DAN KETEBALAN DINDING PIPA BAJA


Diameter Nominal Diameter Luar Ketebalan Dinding
(mm) (mm) Minimum (mm)
100 114.3 4.5
150 168.3 5.0
200 219.1 5.8
250 273.0 6.6
300 323.8 6.9
350 355.6 6.0
400 406.4 6.0

3. Fitting.
Semua fitting baja/steel harus dari bahan yang sama dan difabrikasi sesuai dengan
spesifikasi yang ditentukan pada bagian 3.2 dan harus didesain dengan kekuatan yang
sama dengan pipanya. Ring penguat atau saddle penguat dapat dipasang pada bagian luar
bilamana perlu, sesuai dengan AWWA Manual M11 atau standar yang pembuatan yang
dapat disetujui.ketebalan dinding minimum dan diameter luar dinding fitting harus sesuai
dengan persyaratan yang dispesifikasikan dalam bagian 3.2 dan standar berikut ini :
 Fitting dengan diameter 125 mm atau lebih kecil : JIS B 2311
 Fitting dengan diameter 150 mm atau lebih besar : JIS B 2311 (sampai dengan 500
mm) dan JIS G 3451. atau AWWA C 208.

“Bend” yang mempunyai sudut defleksi sebesar 22.5 derajat dan lebih kecil harus terdiri
dari dua potongan bend. Bend yang mempunyai sudut defleksi lebih besar dari 22.5
derajat sampai dengan 45 derajat harus difabrikasi dengan menggunakan tiga potongan
bend. Bend yang mempunyai sudut defleksi lebih besar dari 45 derajat harus terdiri dari
empat potongan bend.

2.1.3. Coating dan Linning (Lapisan Pelindung Luar dan Dalam)


1. Proteksi Bagian Luar
a. Pemasangan Bawah Tanah

Bab XIA -8
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Permukaan luar pipa dan fitting untuk pemasangan dibawah tanah harus dilapisi coal
tar enamel dan dibalut dengan bounded double asbestos felt sebagaimana
dispesifikasikan pada Appendix A, Sec.A1,2 dalam AWWA C 203. lapisan primer dan
coal tar enamel adalah sebagai berikut :
 Primer : Type B sesuai dengan bagian A.2.4 dari AWWA C 203
 Coal tar enamel : Type 1 sesuai dengan bagian A.25. Table 1 dari AWWA C 203.
Konstruksi dari proteksi luar seperti diuraikan diatas harus terdiri dari berikut ini:
 Primer, Type B yang dispesifikasikan diatas
 Coal Tar enamel, Type I yang dispesifikasikan diatas , ketebalan lapisan kering 2,4
mm +/- 0,8 mm.
 Bonded asbestos felt
 Coal Tar enamel, Type I sama seperti diatas, tebal kering lapisan 0,8 mm minimum.
 Bonded asbestos felt, dan
 Satu lapisan water resistant whitewash
Sistim pelindung luar lainnya yang menjamin kualitas yang sama atau lebih daripada yang
dispesifikasikan diatas dapat diterima atas persetujuan Enggineer tetapi segala system
proteksi yang menggunakan polyethylene tape tidak diperkenankan.

b. Pemasangan diatas Tanah.


Semua pipa dan fittingyang akan digunakan sebagai jembatan dan terpapar
diluar/dapat terlihat langsung, harus dicat dipabrik dengan lapisan primer dan lapisan
pertama (first coat) yang sesuai dengan susunan berikut ini :
 Persiapan permukaan : SSPC-SP-6 atau SP-3
 Primer : etchin primer, ketebalan minimum lapisan kering 20 mikron

Lapisan pertama : Read lead atau lide suboxide primer, ketebalan lapisan kering 35
mikron.
Persiapan permukaan harus dilakukan sesuai dengan yang diisyaratkan oleh steel
structure Painting Council, USA dan kelas yang disebutkan diatas, Primer dan Etching
Primer, Class 2.
Lapisan pertama harus sesuai dengan JIS K 5622, read Lead Anticorrosive Paint, Class 1
atau JIS K 5623, Lead-Suboxide Anticorrosive Paint, Class 1 atau sesuai dengan
persetujuan Enggineer.

2. Lapisan Pelindung Dalam


1. Umum
Semua pipa dan fitting untuk pemasangan dibawah tanah harus diberi lapisan dalam
untuk adukan semen (cement mortar) atau epoxy atau coal tar epoxy sesuai dengan
AWWA C.210. Semua jalur pipa diatas tanah harus menggunakan epoxy atau coal tar
epoxy sebagai lapisan dalam sesuai dengan AWWA C.210.
Semua bahan lapisan pelindung luar dan dalam yang kontak langsung dengan air
bersih harus dilengkapi dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga kesehatan

Bab XIA -9
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

masyarakat yang berwenang untuk penggunaan pada air minum. Kontraktor harus
menyerahkan sertifikat cat yang menjamin persyaratan untuk saluran air minum.
2. Lapisan Adukan Semen (Cement Mortar Lining)
Lapisan adukan semen harus sesuai dengan AWWA C.205 atau standar internasional
lainnya yang disetujui dengan kualitas yang sama atau lebih tinggi daripada standar
yang telah disebutkan diatas.
Lapisan adukan semen tersebut harus mempunyai ketebalan yang sama kecuali pada
sambungan atau pada bagian dinding pipa yang terputus. Ujung dari lapisan harus
dibiarkan menyudut dan lurus kearah sumbu memanjang pipa. Ketebalan lapisan harus
mengikuti table dibawah ini.

KETEBALAN CEMENT MORTAR LINING


Ketebalan Linning Toleransi untuk
( mm )
(mm) Ujung Pipa

100 sampai 250 6 -1.6 to +3.2


300 sampai 600 8 -1.6 to +3.2

3. Sistem Lapisan Epoxy atau Coal Tar Epoxy


System lapisan dengan epoxy dan coal tar epoxy harus sesuai dengan AWWA C.210
dan dilaksanakan dipabrik. System tersebut terdiri dari sebagai berikut :
a. Sistem pelapisan dengan epoxy
i) Satu lapisan liquid two part chemically cured rust inhibitive epoxy primer
ii) Satu lapisan atau lebih liquid
b. Sistem pelapisan dengan coal tar epoxy
i) Satu lapisan liquid two part chemically cured rust inhibitive epoxy primer
ii) Dua lapisan dari two part coal tar epoxy finish coat
Primer dan finish coat harus berasal dari pabrik yang sama.
System pelapisan epoxy ini dapat juga terdiri dari dua atau lebih lapisan dengan epoxy
yang sama tanpa menggunakan primer tersendiri. System alternatif ini harus
memenuhi persyaratan AWWA C.210 dan lapisan pertama dan system alternatif ini
dianggap sebagai lapisan primer.
Ketebalan lapisan kering total dari kedua sistem pelapisan tidak boleh kurang dari 400
mikron dan lebih kecil dari 600 mikron.

2.1.4. Pelapisan Coating dan Lining Pada Ujung Pipa


1. Ujung Rata/Datar
Spesifikasi pelapisan / coating harus dikupas/cutback sebesar 370 mm, Linning yang
sesuai spesifikasi diperpanjang sampai ujung pipa. Ujung pipa dan permukaan luar,
lebih dari 370 mm dari ujung pipa harus dicat dengan epoxy atau coal tar epoxy seperti
yang dispesifikasikan pada bagian 3.5.1. Proteksi Bagian Luar.

Bab XIA -10


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Plat baja ringan (mild steel) dari sambungan ikatan (bonding terminal) pada ujung
datar harus dibuat pada seperti digambarkan pada gambar 3.1 untuk proteksi katodik
yang dipasang pada perpipaan air bersih dari baja yang ditanam dalam tanah. Ukuran
dari plat adalah panjang 50 mm, lebar 30 mm dan ketebalan 5 mm. Detail dari linning
dan coating untuk ujung pipa dapat dilihat pada gambar 3.1.

2. Ujung Bevel
Lining dan coating harus dikupas/cutback untuk dispesifikasikan di bawah ini :

Cutback Lining
Nominal Cutback Coating
Tar Epoxy Mortar
(mm) (mm)
(mm) (mm)

80-350 100 80 3±1


400-700 150 80 3±1

Bagian yang dikupas harus dicat dengan primer seperti dispesifikasikan pada sub
bagian sebelumnya. Detail dari coating dan lining pada ujung bevel seperti pada
ditunjukkan pada gambar 3.1.

3. Ujung Flange
Untuk ujung flange tidak perlu pengupasan lining atau coating. Seluruh permukaan
dari flans harus dicat dengan epoxy atau coal tar epoxy seperti dispesifikasikan pada
3.5.1. Proteksi Bagian Luar, Bagian 3.5 Lapisan Pelindung Luar dan Lapisan Dalam.

4. Coating dan Lining Untuk Pipa-Pipa Khusus dan Fitting


5. Semua bagian luar dan bagian dalam permukaan dari pipa dan fitting khusus berikut
ini harus dicat dengan epoxy atau coal tar epoxy seperti dispesifikasikan pada bagian
3.5.1. Proteksi Bagian Luar, Bagian 3.5. Lapisan Pelindung Luar dan Lapisan Dalam
(Coating dan Lining) ;
 Double Flange Shot Piece digunakan untuk air valve assembly
 Shot Piece digunakan untuk valve assembly
 Flang dan Spigot digunakan untuk valve assembly
 Blange Flange

6. Lapisan Pelindung Sambungan


a. Umum
Lapisan pelindung luar pada sambungan digunakan sebagai proteksi terhadap
korosi pada semua sambungan pipa dengan pengelasan dilapangan dan tertanam
didalam tanah, dan harus diselubungi oleh lembaran yang tahan panas-susut (heat
shrinkable sleeve or sheet).

Bab XIA -11


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kontraktor harus menyediakan lapisan sambungan (coal) sesuai dengan spesifikasi


dan memasukkannya kedalam Bill of Quantity. Bahan lapisan sambungan kulit ini
harus mencukupi untuk menutup permukaan yang harus dilindungi dan
memasukkan tambahan (allowance) 20%. Kontraktor harus menyerahkan perincian
dari volume bahan tersebut.

b. Selubung atau Lembaran Tahan Panas-Susut (Heat Shrinkable Sleeve Or Sheet).

Selubung atau Lembaran Tahan Panas-Susut harus terdiri dari lapisan luar dan
dalam. Lapisan luar menggunakan cross linked polyethylene dan lapisan dalam
butyl rubber based adhesive.
Panjang selubung tersebut tidak boleh kurang dari 600 mm dan ketebalan lapisan
minimum luar dan lapisan dalam sebelum susut adalah sebagai berikut :

Ketebalan Minimum Ketebalan Minimum dan


Diameter Pipa
Lapisan Luar Lapisan Dalam
(mm)
(mm) (mm)

< = 350 0.6 0.6


400 0.9 0.6
450 1.2 0.6

Karateristik fisik Lapisan luar dan lapisan dalam adalah sebagai berikut :
 Karateristik Fisik Lapisan Luar .
 Specific gravity (min) : 0.91 (JIS K 122)
 Kekuatan Tarik :
- Circumferential (Min, N/mm2): 17.7 (JIS K 6760)
- Axial (Min., N/mm2) : 14.7 (JIS K 6760)

 Elongasi :
- Circumferential (Min, N/mm2): 17.7 (JIS K 6760)
- axial (Min., N/mm2) : 14.7 (JIS K 6760)

 Identification hardness
( Min., Shore D) : 43 (JIS K 72150)

 Dielectric Strenght
( Min., KV/mm) : 30 (JIS K 6911)

 Volume Resistivity
( Min., Ohm-cm) : 1x10^14 (JISK6911)

Bab XIA -12


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

 Srinkage*
- Circumferential (Min.,N/mm2) : 40
- Circumferential (Min.,N/mm2) : 8
Catatan : (.,)menunjukkan standard dari metode pengetesan yang diterapkan
*pada 200 derajat celcius untuk 20 menit.

Kriteria Fisik Lapisan Dalam


 Specific Gravity (Min) : 1.0 (JIS K 7112)
 Consistency (Max) : 80 (JIS K 2220)
 Softening Point (Min degrees C) : 60 (JIS K 2207)
 Penetration (Max) : 90 (JIS K 2207)
Catatan : (.,) memperlihatkan standard dari metoda pengetesan yang diterapkan.
Penyedia barang/jasa (kontraktor) harus menyediakan 6 (enam) set perlengkapan
heat-shrink flame. Setiap set perlengkapan ini terdiri dari pembakar dengan nozzle,
bak sebelum pembakaran dan stop valve, three-layer duty hose, pengatur tekanan gas
dengan pengukur tekanan dan lain sebagainya. Tiga (3) set tambahan dari pembakar
dan pengatur tekanan gas harus juga disediakan.

7. Pengecatan Tanda (Marking)


Semua pipa baja/steel dan fitting harus diberi tanda (marking) dengan jelas pada
bagian tengahnya. Bahan cat tersebut harus dari long oil alkyd resin seperti berikut ini
atau dari mutu yang setara.

P.T. Diment Indonesia VYGARD 260


ICI ICI SUPER
P.T. ICI Paint Indonesia STRUCTURE FINISH
NIPPON PAINT BODELAC 9000
P.T. Nippon Paint Indonesia ALKYD RESIN

8. Perlindungan Korosi Petrolatum (Petrolatum Corrosin Protection Tape)


Perlindungan Korosi Petrolatum harus dari Denso Tape untuk perlindungan korosi dan
harus terbuat dari kain tidak beranyam dari fiber sintetis yang menyerap dengan
kandungan petrolatum, anorganik tak aktif dan pengisi organik. Bahan ini didesain
untuk perlindungan korosi tinggi dan tahan lama dengan mengikat adhesive, insulasi
elektris, insulasi air, tahan cuaca, tahan kimia, anti mikroorganisme, dll.
Setelah petrolatum pelindung korosi digunakan, permukaannya harus dilindungi
dengan pita pembungkus kecuali ditentukan lain. Pita pembungkus harus berupa PVC
adheisf atau material lain yang disetujui oleh engineer. Pita pembungkus harus dari
pabrik yang sama dengan pelindung korosi petrolatum.

9. Sambungan Fleksible dan Kopling


a. Umum.

Bab XIA -13


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Semua sambungan fleksibel dan kopling didesain untuk tekanan kerja maksimum
sebesar 0.98 Mpa (10.0kg/cm2) kecuali ditentukan lain.

b. Referensi
Yang dipakai sebagai referensi adalah standar-standar berikut :
 AWWA C 219 Bolted, sleeve-Type Coupling for Plain-End Pipe
 JIS G 3101 Rolled Steel Pipes for Water Service
 JIS G 3443 Coating Steel Pipes for Water Service
 JIS G 3445 Carbon Steel Tubes for Machine Structure Purpose
 JIS G 3454 Carbon Steel Pipes for Pressure Service
 JIS G 5502 Spheroidal Graphite Iron Castings
 JIS G 5402 Blackheart Malleable Iron Castings
 JIS G 6353 Rubber Goods for Water Works Service

2.1.5. Sambungan Fleksibel Mekanikal


Sambungan mekanikal fleksibel didesain untuk menerima gaya atau kombinasi gaya-gaya
yang terjadi akibat pemuaian dan penyusutan, shear deflection, distorsi dan gaya-gaya lain
pada jalur pipa.
Sambungan mekanikal fleksibel harus setara dengan Closer Joint, Type CL-A yang
diproduksi oleh Victualic Company Japan Ltd, atau yang setara dan disetujui.
1. Persyaratan Desain
Sambungan mekanikal fleksibel harus didesain dan dibuat untuk memenuhi kondisi
operasi sebagai berikut :
a. Pembebanan dari 2 (dua) meter ketebalan tanah (earth caver) dengan berat jenis
2.0 ton/m3 ditambah sebuah truk berat 20 ton.
b. Lendutan geser minimum sebesar 100 mm
c. Persyaratan0persyaratan lain seperti dibawah ini :

Diameter Panjang Maksimum Minimum Ekspansi Minimum Kontraksi


Nominal Peletakan yang diizinkan yang diizinkan
(mm) (mm) (mm) (mm)

300 to 400 1600 230 80


500 & 600 1700 270 80

2. Bahan-bahan dan Konstruksinya


Sambungan fleksibel mekanikal terdiri dari slip pipes, pipa selubung, 2 (dua) ring karet
dan housing (blok) dll, dan mempunyai flange pada kedua ujungnya.
Setiap slip pipe merupakan type ring yang menerus dengan rangka penguat serta ujung
flange. Slip pipes dan pipa selubung harus difabrikasikan dari lembaran atau pelat baja
yang mempunyai batas keruntuhan sebesar 216 N/mm2 (2200 kg/cmz), sesuai dengan
JIS G 3101 Class, JIS G 3454 STPG 370, atau yang setara.

Bab XIA -14


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Rubber ring housing harus dibuat dari besi cor ductile sesuai dengan JIS G 5502 class 2
FCD 450, JIS G 5702 Class FCMB 310 atau setara. Ring karet harus dari styrene
butadiene rubber (SBR). Karet bekas tidak boleh digunakan.

3. Coating
Semua permukaan luar sambungan mekanikal, kecuali ditentukan lain, harus dilapisi
primer seperti ditentukan dalam 3.5 kecuali permukaan slip pipe yang kontak langsung
dengan air pengecatannya harus dilakukan sesuai dengan yang dispesifikasikan disini.
Semua permukaan luar dan dalam mechanical flexible joint harus dilapisi.
System epoxy atau system coal tar epoxy sesuai dengan spesifikasi dalam 3.5.

2.1.6. Sleeve Coupling


1. Umum
Sleeve coupling harus menggunakan sleeve-type coupling yang dibuat untuk ujung
pipa polos dan terdiri dari center sleeve, 2 (dua) buah gasket, 2 (dua) end ring, dan
mur baut untuk pemasangan coupling. Semuanya harus didesain dan diproduksi sesuai
dengan AWWA C.219 dan sesuai dengan standar pabrik serta mendapat persetujuan
engineer.

2. Bahan-bahan dan Konstruksinya.


 Center Sleeve
Center sleeve ini harus berukuran sesuai dengan ukuran pipa dan fitting yang
digunakan dan terbuat dari carbon steel atau besi ductile atau malleable cast iron
(besi tuang) yang sesuai dengan atau lebih tinggi dari persyaratan dibawah ini :

 Carbon Steel
ASTM A 283 Grade C
JIS G 3101 Class 2
BS 4360 Grade 43 A
DIN 17100 RST 36

 Ductile Iron
ASTM A 536 Grade 65-45-12
JIS G 5502 Class 2 FCD 45
BS 6681 Grade B32-10 or W34-04

 Malleable Cast Iron


ASTM A 47 Grade 32510 or 35018
JIS G 5702 Class 3 FCMB 340
BS 6681 Grade B32-10 or W34-04
DIN 1692 GTS 35 or GTS 4t

Bab XIA -15


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Panjang Center Sleeve harus memenuhi persyaratan berikut ini :


Diamater Nominal Panjang Minimum Center Sleeve
(mm) (mm)
12.5 – 50 89
65 – 250 102
300 – 450 127

1. Gasket
Gasket harus terbuat dari karet sintetis, styrene butadiene rubber (SBR) yang
divulkanisir dicetak (molded) sesuai dengan standar JIS K 6353 atau nitrile butadiene
rubber (NBR) atau ethylene propylene diene monometer (EPDM). Karet bekas tidak
diperkenankan untuk digunakan.

a. End Rings / Ring Ujung


End rings harus dibuat dari carbon steel atau besi ductile atau besi tuang
(malleable cast iron) yang memenuhi atau lebih tinggi dari standar berikut :

 Carbon Steel
ASTM A 576 Grade 1020
JIS G 3101 Class 2
BS 6681 Grade 43 A
DIN 17100 RST 36

 Ductile Iron dan Malleable Cast Iron


Sama dengan standard yang telah dispesifikasikan pada bagian sebelumnya
3.6.4.2.a. Center Sleeve,

b. Mur dan Baut


Mur dan baut harus dibuat dari carbon steel yang memenuhi atau lebih tinggi dari
persyaratan dari JIS G B101 Class 2.

2.1.7. Lapisan Coating


a. Sarana di bawah tanah
Permukaan luar dan dalam sleeve couping harus dilapisi dengan special hot fusion
bonded nylon coating yang memiliki ketebalan lapisan kering sebesar 150 mikron. Baut
dan mur harus di galvanisir dan ditambah lapisan special nylon coating tersebut,
sehingga ketebalan kering lapisan mencapai 75 mikron.

b. Sarana di atas tanah.


Semua permukaan center sleeve harus dilapisi lapisan primer pada bagian luarnya dan
system epoxy atau coal tar epoxy untuk pelapisan bagian dalamnya sesuai dengan

Bab XIA -16


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

yang ditentukan pada bagian 3.5. Semua permukaan end rings yang terlihat/terpapar
harus dicat dengan lapisan primer seperti yang dispesifikasikan pada bagian 3.5.
Semua mur dan baut harus dilapisi dengan lapisan galvanis.

2.1.8. Special Sleeve Couplings


1. Umum
Special Sleeve coupling harus didesain untuk penyambungan pipa berujung polos dari
berbagai ukuran diameter luar dengan ukuran diameter nominalnya seperti diberikan
dibawah ini, dan harus terdiri dari center sleeve, 2 (dua) buah end ring, 2 (dua) gasket
serta mur dan baut untuk pemasangan coupling.
Diameter luar yang diizinkan adalah sebagai berikut :

Range Diameter Luar (mm)


Diamater Nominal
Dan Toleransinya (°I°)
(mm)
Min – Max.

50 60.2±1.0 – 63.0 + 0.6


80 88.9±1.0 – 98.0 + 2,2
100 110.0±1.6 – 118.0 + 1.7
150 160.0±0.6 – 170.0 + 1.2
200 200.0±0.6 – 222.0 + 0.9
50 250.0±0.6 – 273.0 + 0.7

2. Konstruksi dan Bahan


Center sleeve dan end ring harus dibuat dari malleable cast iron (besi tuang yang bias
ditempa) yang mengikuti standar JIS G 5702 Class 3 FCMB 340 atau BS 6681 Grade
B32-10 atau bahan lain yang disetujui oleh engineer. Mur dan baut harus dibuat dari
carbon steel yang memenuhi atau lebih tinggi dari standar JIS G 3101 Class 2.
Gasket harus terbuat dari karet sintetis, styrene butadiene rubber (SBR) yang
divulkanisir/dicetak (molded) sesuai dengan standar JIS K 6353 atau nitrile butadiene
rubber (NBR) atau ethylene propylene diene monometer (EPDM).
Mur dan baut harus terbuat dari carbon steel yang memenuhi atau lebih dari
persyaratan JIS G 3101 class 2.
Permukaan luar dan dalam dari special sleeve coupling harus dilapisi dengan special
hotfusion bonded nylon coating yang mempunyai ketebalan kering lapisan minimum
sebesar 150 mikron. Mur dan baut harus diberi pengerjaan akhir (finish) dengan
lapisan galvanis ditambah special nylon coating tersebut yang mempunyai ketebalan
kering lapisan minimum sebesar 70 mikron.

Bab XIA -17


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.1.9. Flange Insulasi


Flange insulasi harus dipasang pada jalur pipa pada bagian dari jalur pipa yang
bersebelahan dan terisolasi secara eklektris, dan atau menyediakan alat untuk menjaga
agar bagian yang bersebelahan pada potensial yang berbeda.
Flange insulasi berkaitan dengan pengetesan tekanan hidrostatis yang dispesifikasikan
untuk pipa. Ketahanan elektris diseberang sambungan insulasi tidak boleh kurang dari 50
megohms sebelum dan sesudah pekerjaan pengetesan hidrostatis.
Flange insolasi harus terdiri dari gasket dengan insulasi penuh baut serta mur yang
diinsulasi oleh lapisan teflon dengan jumlah yang cukup, pembersih insulasi dan pencuci
logam.
Kontraktor harus menyediakan pelindung korosi petrolatum dengan kuantitas yang cukup
untuk digunakan pada semua flange insulasi.

Bab XIA -18


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.2. PENGADAAN PIPA POLIETILENA (PE) DAN PERLENGKAPANNYA

2.2.1. Umum
Semua pipa dan alat penyambung harus didesain untuk menerima tekanan kerja minimum
sebesar 0.98 Mpa (10.0 kg/cm2) kecuali ditentukan lain.

Referensi
Standar lain yang digunakan adalah :
 SNI 06–4829-2005 Pipa polietilena untuk air minum.
 SNI 06–4821-1998 Metode pengujian dimensi pipa polietilena untuk air minum
 SNI 06–2552-1991 Metoda pengambilan contoh uji pipa PVC untuk air minum
 ISO 4427 : 1996 Polyethylene pipes for water supply spesifications
 ISO 6964 - 1986 Polyolefin pipes and fittings – Determination of carbon black
content by calcinations pyrolysis – Test method and basic
spesification
 ISO / TR 10837 - 1991 Determination of the thermal stability of polyetilene for us in
gas pipes and fitting’s
 ISO 11420 : 1996 Method for the assesment of the degree of carbon black
dispersion in polyolefin pipes, fittings and compound’s
 ISO 6259 / 1985 Pipe for polyethylene – Part 1 : determination of tensile
properties
 ISO 3126 : 1974 Plastic pipe – measurement of dimension
 ISO 1167 : 1996 thermoplastic pipes for the conveyance of fluids resistance to
internal pressure – Test Method
 ISO 1133 : 1991 Plastic – Determination of the melt mass – flow rate (MFR) and
melt volume flow rate (MFR) of thermoplastics
 ISO 2505-1-1994 Thermoplastics pipe – Longitudinal reversion – part 1 :
determination methods
 ISO 3607 : 19977/E Tolerances on outside diameters and wall thickenesses
 AS / NZS 4130 : 97 Polyethylene pipes for pressure aplication
 ASTM D 3350 - 1999 Standard spesification polyethylene plastics pipe and fittings
material
 JIS 6762 - 1998 Double Wall polyethylene pipes for water supply

2.2.2. Spesifikasi Teknis


1. Ovalitas
Ovalitas pipa di pabrik setelah ekstrusi namun sebelum digulung harus sesuai dengan
kelas N. Kelas N :
a. Untuk diameter luar nominal ≤ 75, toleransi sama dengan (0,008dn + 1) mm,
dibulatkan menjadi 0,1 mm, dengan angka minimum 1,2 mm

Bab XIA -19


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

b. Untuk diameter luar nominal > 75, tetapi ≤ 250, toleransi sama dengan 0,02dn,
dibulatkan menjadi 0,1 mm
c. Untuk diameter luar nominal > 250, toleransi sama dengan 0,035dn, dibulatkan
menjadi 0,1 mm.
Garis tengah minimum sebuah drum bagi pipa yang digulung harus 18 dn dan pipa
jangan sampai menjadi kaku. Bagi pipa yang digulung, diperlukan peralatan untuk
penggulungan ulang.

2. Panjang Pipa
Panjang pipa bentuk batangan lurus atau gulungan tidak boleh kurang dari persetujuan
antara pemasok dan pengguna barang dengan toleransi ± 0,05 m. diameter drum
gulungan minimum harus 18 x dn.

2.2.3. Sifat Mekanik


1. Ketahanan Hidrostatik
Pipa harus memenuhi persyaratan uji hidrostatik yang diberikan sebagaimana tabel
dibawah ini :

KETAHANAN HIDROSTATIK PIPA


TEGANGAN UJI (Mpa)
JENIS BAHAN
100 jam pada 20ºC 165 jam¹) pada 80ºC 1000 jam pada 80ºC

PE 100 12.4 5.5 5.0

PE 80 9.0 4.6 4.0

Catatan :
¹) Hanya kegagalan rpuh yang diperhitungkan
Pecah karena rapuh (britle failure) pada kurang dari 165 jam adalah merupakan
kegagalan. Jika pengujian dilaksanakan pada 165 jam ternyata gagal dalam bentuk
kenyal (ductile), uji ulang supaya dilaksanakan pada tegangan yang lebih rendah.
Tegangan uji yang baru, dan waktu kegagalan minimum yang baru supaya dipilih
sebagaimana table dibawah.

Bab XIA -20


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

KETAHANAN HIDROSTATIK PADA KEKUATAN SUHU 80ºC


KEBUTUHAN UJI ULANG
PE 80 PE 100
Tegangan Waktu Kegagalan Waktu Kegagalan
Tegangan Mpa
Mpa Minimum (jam) Minimum (jam)
4.6 165 5.5 165
4.5 219 5.4 233
4.4 283 5.3 332
4.3 394 5.2 476
4.2 533 5.1 688
4.1 727 5.0 1000
4.0 1000

2. Kuat Tarik
Nilai kuat tarik minimum harus 20 Mpa dan perpanjangan minimum harus 400%, bila
diuji pada suhu 20ºC.

2.2.4. Sifat Fisik


1. Stabilitas Panas
Waktu induksi untuk pengujian contoh yang diambil dari pipa PE minimum harus 20
menit jika diuji pada suhu 200ºC. contoh yang diuji supaya diambil dari permukaan
sebelah dalam pipa.

2. Nilai Perubahan Arah Panjang


Nilai perubahan arah panjang maksimum 3 %

2.2.5. Dimensi Pipa


1. Ketebalan Pipa
Ketebalan diameter luar pipa harus mengacu kepada SNI 06-4829-2005 tentang pipa
polietilena untuk air minum.

2. Bahan Baku Pipa


Bahan baku yang digunakan untuk membuat pipa polietilena, harus merupakan bahan
baku yang merupakan bahan baku yang menyatakan layak digunakan untuk air minum
yang dikeluarkan oleh pemasok bahan baku, hal tersebut dibuktikan dengan Certificate
Independen BODYCOTE.

Bab XIA -21


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.2.6. Sambungan
Penyambungan pipa dapat dilakukan dengan cara pemanasan yaitu dengan menggunakan
Butt fusion dan sambungan elektrofusion, atau dengan Mechanical Joint.
Penyambungan dengan menggunakan Butt Fusion dilakukan untuk pipa dengan diameter
mulai dari 63 mm dengan ketebalan minimum 4,7 mm dengan SDR 13,6. Penyambungan
dengan Mechanical Joint direkomendasikan untuk pipa dengan diameter 20 – 110 mm.
sedangkan dengan penyambungan dengan elektrofusion dapat digunakan untuk semua
ukuran pipa.

2.2.7. Pengujian Pipa


Acuan normatif untuk pengujian pipa polietilena adalah SNI 06-2552-1991 tentang metoda
pengambilan contoh uji pipa PVC untuk air minum dan SNI 06-4821-1998 tentang metode
pengujian dimensi pipa polietilena untuk air minum.

2.2.8. Penandaan Pipa


Penandaan pada batang pipa, sekurang-kurangnya mencantumkan :
 Nama pabrik pembuat atau merek dagang
 Dimensi luar pipa
 Tekanan kerja nominal
 Jenis material yang digunakan
 Seri pipa
 Tanggal produksi

2.3. PERSIAPAN PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA


2.3.1. LINGKUP PEKERJAAN
Kontraktor harus menyediakan peralatan pekerjaan sementara, tenaga kerja, dan bahan
serta memobilisasikan yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan cara
yang baik, termasuk sambungan ke pipa induk yang ada, pengujian, penggelontoran
(flushing), desinfeksi jalur pipa dan semua pekerjaan yang diperlukan untuk penyelesaian
pemasangan pipa sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam spesifikasi teknis ini.
Jika ada pekerjaan yang tidak tercakup dalam spesifikasi teknis ini akan dilakukan sesuai
dengan cara yang telah digunakan untuk bidang teknis yang bersangkutan di Indonesia dan
menurut perintah direksi.
Data hasil penyelidikan tanah yang telah dilakukan untuk lokasi jembatan pipa atau daerah
sekitarnya disimpan oleh pemilik dan kontraktor akan diijinkan dan menelitinya dikantor
proyek.
Semua penjelasan dalam persyaratan teknis ini khususnya yang bersifat teknis selalu
berpedoman pada standar yang umum dipakai di Indonesia. Semua standar yang digunakan,
menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dalam hal belum diatur dalam SNI, standar
yang digunakan menunjuk kepada :
AISI : American Iron and Steel Institute
ANSI : American National Standards Institute

Bab XIA -22


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

API : American Petrolium Institute


ASTM : American Society of Testing Material
AWWA : American Water Works Association
DIN : Deutsche Institut fur Norming
IEC : International Electrotecnical Commision
ISO : International for Standardization Organization
JIS : Japanese Industrial Standard
KIWA : Dutch Institute for the testing of water supply Material
NEMA : National Electrical Manufactures’s Assosiation
PBI 71 : Peraturan Beton Indonesia tahun 1971
SNI : Standar Nasional Indonesia

2.3.2. PENYERAHAN GAMBAR KERJA DAN GAMBAR PELAKSANAAN


Jadwal pekerjaan dan gambar kerja harus diserahkan untuk disetujui oleh direksi sebelum
pekerjaan dimulai.
Kontraktor harus membuat gambar pelaksanaan (as-built) yang digambar dengan skala yang
sama dengan skala gambar perencanaan. Gambar pelaksanaan tersebut harus diserahkan
selama pekerjaan berlangsung maupun setelah selesai pekerjaan.
Gambar tersebut harus memperlihatkan semua perlengkapan pipa (fitting/accessories)
perubahan lain seperti pada arah jalur pipa, ruang valve (katup), lubang kontrol (manholes)
ukuran pipa atau sejenisnya. Kesemuanya harus diperlihatkan dengan adanya peningkatan
terhadap muka tanah pada bangunan permanen.

2.3.3. TANDA PAPAN NAMA


Kontraktor harus menyediakan, memasang dan memelihara sejumlah tanda atau papan
nama yang diperlukan sebagaimana yang diperintahkan oleh direksi.
Tanda atau papan nama tersebut nama pemilik dan kontraktor, nama proyek, dan juga
lokasi yang menunjukkan jalur pemasangan pipa dengan perkiraan lama pekerjaan dan juga
perubahan arus lalu lintas dan sebagainya, semuanya dimaksud sebagai informasi kepada
masyarakat luas.
Papan nama harus dipasang ditempat yang telah ditentukan oleh direksi. Pada saat
penyelesaian pekerjaan papan nama tersebut harus disingkirkan.

2.3.4. RAMBU-RAMBU LALU LINTAS


Ditempat-tempat yang dipandang perlu, kontraktor harus menyediakan rambu-rambu
(tanda-tanda) untuk keperluan kelancaran lalu lintas. Tanda-tanda tersebut harus cukup
jelas untuk menjamin keselamatan lalu lintas. Apabila pekerjaan harus
memotong/menyeberangi jalan dengan lalu lintas padat, kontraktor harus melaksanakan
pekerjaan secara bertahap atau apabila dipandang perlu dilaksanakan pada malam hari.
Segala biaya untuk keperluan tersebut harus sudah termasuk didalam penawaran
kontraktor.

Bab XIA -23


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.3.5. SUMBER TENAGA DAN PENERANGAN


Kontraktor harus menyediakan semua peralatan dan melakukan pengaturan untuk
pemakaian tenaga listrik serta penerangan yang perlu bagi pelaksanaan pekerjaan. Harus
tersedia cukup penerangan sehingga semua pekerjaan dapat dilakukan secara wajar bila
keadaan kurang cukup sinar matahari atau/pada saat malam hari.

2.3.6. TRASE DAN ELEVASI PIPA


2.3.6.1. Biaya Pemeriksaan Pekerjaan Pemasangan Pipa
Instalasi yang berwenang atau direksi, akan memeriksa trase dan elevasi (ketinggian)
jalur pipa pada gambar dan akan mematok (stake out) trase tersebut di lapangan.
Kontraktor harus membayar sejumlah biaya untuk pemeriksaan dan pematokan
tersebut kepada instansi yang berwenang.

2.3.6.2. Tanggung Jawab Kontraktor


Kontraktor harus bertang jawab agar persyaratan dasar untuk pipa induk diletakkan
dan dipasang pada jalur dan ketinggian yang ditetapkan dan dengan fitting, valve dan
saluran pembuang pada lokasi yang ditentukan. Untuk maksud ini, kontraktor harus
diminta membuat patok pekerjaan atau titik referensi atas biaya kontraktor sendiri.

2.3.6.3. Penyimpangan Akibat Bangunan Lain


Apabila ditemukan hambatan yang tidak terlihat dalam rencana dan mempengaruhi
pekerjaan sedemikian rupa, sehingga diperlukan perubahan rencana, maka pemilik
berhak untuk merubah rencana tersebut.
Jika menurut direksi terjadi perubahan dalam rencana, yang menyebabkan perubahan
volume pekerjaan yang dikerjakan oleh kontraktor, maka perubahan volume pekerjaan
tersebut akan dikerjakan sesuai dengan pasal yang berkaitan dengan hal
tersebutdalam persyaratan umum.

2.3.6.4. Kedalaman Pipa


Semua pipa harus dipasang pada kedalaman tanah sebagaimana yang telah ditentukan
atau sebagaimana diminta direksi.

2.3.7. JALAN SEMENTARA


2.3.7.1. Umum
Dalam hal jalan sementara harus dibuat sepanjang jalur pipa sesuai dengan kontrak,
kontraktor harus melakukan tindakan sebagaimana penjelasan dibawah ini. Kontraktor
harus menyelidiki keadaan tanah sepanjang jalur, pekerasan, jalan sementara dan
mengumpulkan data atau informasi tentang kondisi daerahtersebut pada musim
kemarau dan musim penghujan. Dengan dasar informasi yang diperoleh tersebut,
kontraktor harus memulai pengukuran topografi berdasarkan gambar perencanaan
dan berada dibawah pengarahan direksi.
Pekerjaan pembuatan jalan sementara harus mencakup pekerjaan sebagai berikut :

Bab XIA -24


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

a. Pengukuran topografi sepanjang bentang trase pipa yang melalui pipa tersebut.
Survey ditujukan untuk menetapkan lokasi tepat trase jalur pipa.kontraktor harus
memperhatikan saran dan arahan dari instansi yang berwenang atau direksi,
karena trase mungkin telah ditetapkan berdasarkan Rencana Tata Kota.
b. Pekerjaan persiapan seperti pelebaran jalan lokal yang ada, pembongkaran
dinding, pengamanan, kompensasi dan pekerjaan lain yang diperlukan harus
dilaksanakan sebelum dimulainya pekerjaan pemasangan pipa.
Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja yang diperlukan, peralatan dan bahan
untuk membuat jalan sementara sebagaimana telah ditentukan.

2.3.7.2. Pembuatan Jalan Sementara


Pembuatan jalan sementara apabila menurut direksi diperlukan, harus dilakukan atau
diatur dengan baik sebagai berikut :
a. Bila tidak ditetapkan lain oleh direksi, pengupasan muka tanah yang ada dengan
kedalaman tidak kurang 0,3 m dan lebar disesuaikan dengan kebutuhan atau
sesuai petunjuk direksi.
b. Tanah bawah jalan (sub grade) terdiri dari lapisan tanah “ tanah merah atau yang
sejenis sesuai persetujuan direksi” yang dipadatkan dengan baik dengan ketebalan
minimum 0,5 m.
c. Lapisan bawah dasar (sub base course) terdiri dari lapisan agregat yang dipadatkan
dengan baik dengan ketebalan minimum 0,2 m dan juga diisi dengan kerikil.
d. Perkerasan permukaan yang terbuat dari kerikil pasir dengan ketebalan minimum
tidak kurang 0,1 m dipadatkan dan dirawat dengan baik sampai selesainya
pekerjaan. Jika diperlukan perbaikan, kontraktor harus bertanggung jawab
terhadap biaya perbaikan tersebut.

2.3.7.3. Pekerjaan Perbaikan Kembali


Setelah penyelesaian pemasangan pipa, bila diperintahkan oleh direksi, jalan
sementara tersebut harus dibongkardan dikembalikan seperti keadaan semula.
Semua bahan yang tersisa harus dibuang, lapisan tanah harus dikembalikan menutup
lokasi pekerjaan semula.
Semua bangunan yang rusak dan utilitas yang ada harus diperbaiki secara memadai,
sampai serupa keadaan semula.

2.3.7.4. PEMBANGUNAN KANTOR SEMENTARA DAN GUDANG MILIK KONTRAKTOR


Kontraktor harus menyediakan kantor sementara dan gudang yang akan digunakan
sendiri oleh kontraktor agar diperoleh kelancaran dalam pelaksanaan pekerjaan.
Kantor sementara digunakan untuk pengelolaan yang baik, membangun dan
mengawasi pekerjaan sesuai dengan kontrak dan gudang sementara kontraktor untuk
penyimpanan alat, mesin dan bahan lainnya mencakup material penyambung (jointing
material).

Bab XIA -25


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kontraktor harus menempatkan dan memilih lokasi-lokasi untuk kantor dan/atau


gudang dan memberitahu pemilik untuk persetujuannya. Kecuali ditetapkan lain oleh
direksi.
Sebelum dimulainya pembangunan kantor sementara dan gudang tersebut, kontraktor
harus menyerahkan desain untuk memperoleh persetujuan direksi.
2.3.7.5. Kantor Sementara Kontraktor
Kantor harus memiliki ruangan yang cukup dilengkapi dengan perabot kantor, ruang
rapat dan ruangan kerja untuk direksi dan stafnya.
Kontraktor harus menyimpan paling sedikit satu set dokumen kontrak, jadwal
pelaksanaan dan data-data terkait dengan kontrak dan gambar kerja dan/atau gambar
pelaksanaan.
Kantor harus dilengkapi dengan :
a. Fasilitas air bersih dan penerangan yang memadai
b. Kamar kecil dan tanki septik dengan bidang resapannya.

2.3.7.6. Gudang Sementara Kontraktor


Kontraktor harus mengatur gudang sementara dengan atap yang memadai untuk
melindunginya dari hujan dan dengan peralatan pengatur sirkulasi udara. Lantai
gudang harus bebas dari rembesan air tanah dan sekeliling gudang dijaga dari
kemungkinan pencurian dan kerusakan selama periode pelaksanaan pembangunan.

2.4. PEKERJAAN TANAH DAN PERBAIKAN KEMBALI PERMUKAAN


2.4.1. Umum
Dalam bagian ini, kontraktor harus menyediakan peralatan, tenaga kerja, peralatan dan
bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan cara yang baik
untuk bangunan dan jalur pipa, yang mencakup kegiatan atau hal seperti pembongkaran;
penggalian; penimbunan; pembongkaran bahan pengurugan kembali; pemilihan bahan
untuk pengurugan dan pelapisan dasar; penurapan dan penopangan; peralatan,
pemindahan pagar dan perbaikan kembali; cara perlindungan lokasi; perbaikan permukaan;
lubang pengujian (test pit); akomodasi lalu lintas dan pemeliharaan perkerasan;
perlindungan harta benda; bangunan yang ada dan lansekap dan semua peralatan kerja
sesuai dengan dokumen kontrak dan memungkinkan diperintahkan oleh direksi.

2.4.2. Pembersihan dan Pengupasan


Jalur pipa harus dibersihkan dan dikupas sebelum melakukan penggalian atau melakukan
pengurugan.
Pembersihan dan pengupasan berupa membersihkan akar-akar, tonggak, tumbuhan,
perkerasan, jalur pejalan kaki dan hambatan apapun dipermukaan yang perlu disingkirkan
secara permanen atau untuk sementara waktu dan semua itu terdapat di area yang akan
digali.
Tidak boleh ada pohon yang ditebang, dirusak, atau diganggu oleh kontraktor tanpa
persetujuan direksi.

Bab XIA -26


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Semua kotoran, buangan, tumbuhan, dan bahan bongkaran seluruhnya harus disingkirkan
dari lokasi pekerjaan dan dibuang oleh kontraktor dengan cara yang baik, kecuali bagi
bahan atau bangunan yang akan disingkirkan untuk sementara waktu dan nantinya akan
dipasang dan diperbaiki kembali seperti semula.
Bahan maupun bangunana yang disingkirkan untuk sementara waktu dan nantinya akan
dipasang dan diperbaiki kembali harus dijaga dan disimpan dengan baik.

2.4.3. Pengeringan (dewatering)


Kontraktor harus menyediakan dan memelihara cara dan peralatan pengeringan serta
membuang air yang masuk ke lubang galian maupun pada bagian pekerjaan lainnya dengan
cara yang baik.
Semua galian harus tetap dalam keadaan kering dan tidak ada bahan pondasi, pipa atau
beton yang diletakkan dalam air kecuali dengan persetujuan direksi.
Air harus dibuang sedemikian rupa sehingga terhindar kerusakan harta benda dan
gangguan terhadap masyarakat luas dan lingkungan sekitarya.
Jika kontraktor memilih membuat saluran bawah pembuang, hal ini harus mendapat
persetujuan direksi terlebih dahulu.
Pemasangan rambu-rambu pengaman pada galian atau lokasi yang membahayakan atau
yang lalu lintasnya padat harus dipasang rambu-rambu pengaman yang mudah dilihat dan
terbaca dengan jelas.

2.4.4. Penggalian Lapisan Bawah Permukaan (sub surface) dan Lubang Pengujian (test pit)
Kontraktor harus memberi tanda pada galian dan parit persiapan sehingga lokasi tepat
bangunan bawah tanah dapat ditentukan.
Kontraktor harus bertanggung jawab bagi perbaikan bangunan tersebut bila pecah atau
rusak karena kelalaiannya.
Apabila, menurut pemikiran direksi perlu mencari dan menggali untuk tujuan penyelidikan
keadaan tanah, kontraktor harus menggali lubang pengujian setiap 50 m sepanjang jalur
pipa, kecuali ditentukan lain oleh direksi. Disamping itu kontraktor harus menggali lubang
pengujian yang cukup untuk menetapkan tempat utilitas bawah tanah bila hal itu memang
diperlukan untuk membuat konstruksi khusus dalam melintasi utilitas tersebut.
Lubang pengujian ini akan digali dengan tangan (manual) dan dalam jarak yang cukup
didepan jalur pipa sehingga kemajuan pemasangan pipa tidak terhambat.

2.4.5. Penggalian Permukaan dan Perbaikan


2.4.5.1. Umum
Sebelum penggalian, kontraktor harus menyingkirkan semua benda permukaan,
menyimpan, menjaga, mencadangkan bahan tersebut dengan baik yang nantinya
mungkin diperlukan untuk perbaikan kembali daerah yang terkena pekerjaan.
Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kalender atau segera setelah pengujian pipa
sebagaimana yang diperintahkan oleh direksi, semua permukaan yang terkena
pekerjaan kontraktor pada alur penggalian dan pada daerah kerja lainnya harus

Bab XIA -27


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

diperbaiki kembali seperti keadaan semula, atau dalam keadaan yang lebih baik.
Setelah perbaikan kembali, kontraktor harus memeriksa secara bulanan cekungan
yang terjadi sepanjang jalur penggalian akibat penurunan, dan hal ini harus diperbaiki
sampai pada ketinggian semula.

2.4.5.2. Daerah Lansekap / Pertamanan


Pada daerah lansekap yang ada, kontraktor harus menyingkirkan semua benda
permukaan, menyimpan, menjaga dengan baik pohon kecil, pagar tanaman, semak
belukar atau bagian lansekap yang mungkin dapat rusak selama pemasangan jalur
pipa, untuk perbaikan kembali daerah tersebut nantinya.
Pohon besar sebaiknya jangan ditebang selama pemasangan pipa. Bila keadaan
menuntut penebangan pohon untuk pemasangan pipa, kontraktornya sebelumnya
harus mendapatkan ijin pohon dari pemilik atau instansi terkait yang memeliharanya
dan melaporkannya pada direksi.
Semua biaya yang diperlukan untuk penebangan pohon termasuk biaya kompensasi
ditanggung oleh kontraktor sendiri.

2.4.5.3. Daerah Berumput


Lapisan atas atau lempung, bilamana ditemukan harus ditimbun secara terpisah dari
bahan galiannya, dan nantinya dikembalikan ke tempat semula pada kedalaman
terpadatkan yang sama dengan kondisi semula.
Lempeng rumput didaerah berumput yang akan terkena galian, atau yang akan rusak
karena terkena peralatan, harus disingkirkan, dijaga/dipelihara selama
berlangsungnya pekerjaan konstruksi dan diletakkan kembali setelah penyelesaian
urugan.
Bilamana karena pekerjaan kontraktor, tanah berumput menjadi rusak untuk
diletakkan kembali seperti semula, kontraktor harus menyediakan dan menempetkan
tanah berumputbaru atau dengan cara lain, memupuk, menyiangi, dan
memeliharaarea tersebutsampai didapatkan tunas baru.

2.4.5.4. Daerah Berbatu


Pada daerah yang berbatu, kontraktor harus menyediakan peralatan yang sesuai
untuk menggalinya. Bila tidak mungkin dilakukan penggalian,sedangkan bila dalam
gambar rencana ada pipa yang ditanam dibawah batu, maka apabila direksi
mengijinkan dapat dilakukan pemasangan pipa baja yang diletakan diatas tanah
berbatu tersebut.

2.4.5.5. Daerah Persawahan/Perkebunan


Untuk pemasangan di daerah persawahan/perkebunan, kontraktor sebelumnya
mendapatkan ijin dari pemilik. Biaya kompensasi yang diperlukan ditanggung oleh
kontraktor sendiri. Bila melewati saluran-saluran air (irigasi), harus diusahakan tidak
mengganggu pengairan sawah dan tidak merusak saluran irigasi tersebut.

Bab XIA -28


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.4.5.6. Jalan Batu dan Bahu Jalan


Perbaikan kembali permukaan jalan batu ataupun bahu jalan yang diperkeras harus
diganti dengan batu sebagaimanatelah ditentukan.

2.4.5.7. Jalan yang Diperkeras


Perbaikan kembali jalan yang diperkeras harus sebagaimana yang diperlihatkan dalam
gambar atau sesuai dengan ketentuan dinas pekerjaan umum setempat.

2.4.5.8. Jalur Pejalan Kaki


Jalur pejalan kaki harus diganti sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar.

2.4.5.9. Bingkai Trotoar dan Saluran Tepi Jalan


Bingkai trotoar dan saluran tepi jalan harus diganti dengan bahan yang sama
sedemikian pula permukaannya harus kembali seperti keadaan semula. Semua
pemotongan beton harus pada garis potongan yang terdekat bila tidak maka perlu
digunakan alat pemotong.

2.4.6. PENGGALIAN
Bagian berikut yaitu “ PENGGALIAN “ harus digunakan bagi pekerjaan semua pemasangan
dan penyambungan semua jenis pipa.

2.4.6.1. Umum
Penggalian mencakup penyingkiran semua bahan apapun yang ditemui termasuk pula
semua hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan.
Penyingkiran bahan tersebut harus sesuai jalur dan kemiringan yang diperlihatkan
dalam gambar rencana ataupun yang diminta oleh direksi.
Batu dan bahan galian lainnya yang diklasifikasikan oleh direksi sebagai yang tidak
sesuai untuk pengurugan harus disingkirkan dari lokasi pekerjaan.
Kontraktor harus menyediakan, memasang dan memelihara semua pendukung dan
penopang yang mungkin diperlukan untuk dinding sisi galian dan semua pemompaan,
pengeringan atau cara lain yang disetujui untuk penyingkiran atau pengeringan air,
termasuk penanganan terhadap air hujan dan air limbah yang berasal dari berbagai
sumber yang mencapai lokasi guna mencegah terjadinya kerusakan pada pekerjaan
maupun kepemilikan yang berada didekatnya.
Dinding dan permukaan seluruh galian dimana pekerja kemungkinan mengalami
bahaya dari tanah yang tidak stabil harus distabilkan terlebih dahulu dengan
penurapan/penopangan, membuat sudut galian yang aman atau cara lainnya.
Kontraktor harus menyediakan, memasang dan menjaga turap, penopang dan lain-
lain, yang perlu untuk melindungi pekerja, mencegah pergerakan tanah yang dapat
menyebabkan musibah, tertundanya pekerjaan ataupun membahayakan bangunan
yang ada disekitarnya.

Bab XIA -29


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.4.6.2. Perlindungan Terhadap Bangunan Yang Ada


Bilamana perlu dapat dipakai cara penggalian yang sesuai guna melindungi bangunan,
utilitas, tiang listrik, pepohonan, perkerasan ataupun hambatan yang ada. Di daerah
didekat fasilitas atau jalur pipa gas dan bahan bakar, kontraktor harus melakukan
tindakan pencegahan guna menghindari kemungkinan pecah, gangguan, atau
menyebabkan kerusakan pada fasilitas dan jalur tersebut.
Lebih lanjut kontraktor harus menjaga dan memperhatikan pada kemungkinan adanya
uap bahan bakar dan gas yang mungkin merembes ke tanah atau telah terganggu
selama penggalian dan pemasangan jalur pipa.

2.4.6.3. Penggalian Tanpa Ijin


Kontraktor tidak diperkenankan menggali diluar jalur dan ketinggian yang ditujukan
dalam gambar, kecuali diperintahkan oleh direksi. Penggalian tanpa ijin harus diurug
kembali dengan bahan yang sesuai sebagaimana yang diperintahkan oleh direksi.
Bilamana menurut keputusan direksi, penggalian yang tidak diijinkan tersebut
memerlukan penggunaan beton tumbuk atau batu pecah, kontraktor harus
menyediakan dan menempatkan bahan tersebut dengan baik.

2.4.6.4. Galian Terbuka


a. Umum
Galian terbuka harus digali sehingga pipa dapat diletakkan pada trase dan
kedalaman yang diminta, dan galian tersebut dilakukan sampai didepan perletakan
pipa sebagaimana yang diijinkan oleh direksi dan/atau persyaratkan yang
ditetapkan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Galian terbuka tersebut harus
dikeringkan dan dipelihara selama pekerjaan agar pekerjaan dapat bekerja secara
aman dan efisien.

b. Lebar Galian Terbuka


Lebar galian harus cukup agar memungkinkan pipa dapat diletakkan dan
disambung dengan baik, dan pengurugan serta pemadatan dapat dilakukan
sebagaimana yang telah ditentukan.
Bilamana diperlukan, lebar galian harus sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan kemudahan dalam penempatan penopang kayu, turap dan penopang
lainnya, maupun penanganan khusus lainnya.

c. Lubang Galian Untuk Penyambungan


Lubang galian untuk penyambungan harus dibuat disetiap lokasi sambungan agar
penyambungan dapat dilakukan dengan baik.

d. Panjang Galian
Galian terbuka bagi suatu pemasangan pipa tidak boleh melebihi panjang yang
diijinkan direksi. Galian harus diselesaikan paling sedikit 10 (sepuluh) meter
didepan perletakan pipa terakhir.

Bab XIA -30


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Bilamana diperlukan oleh direksi, penggalian dan pengurugan harus dilakukan


dalam 24 jam, atau galian harus diurug penuh di akhir hari kerja setiap hari atau
ditutupi dengan pelat baja yang ditopang dengan cukup aman serta mampu
menahan beban arus lalu lintas kendaraan.

e. Galian Terbuka dan Jarak Pipa


Galian harus digali sampai kedalaman yang telah ditentukan sebagaimana yang
diperlihatkan dalam gambar standar agar memberikan dukungan yang menerus
dan seragam dan penopang pipa pada tanah yang padat dan atk terganggu pada
setiap titik diantara lubang galian sambungan.
Bagian dasar tanah yang digali melampui kedalaman yang ditentukan harus diurug
kembali secara merata sebagaimana diperintahkan oleh direksi sampai pada
kedalaman yang ditetapkan dengan pasir atau bahan lain yang telah disetujui atau
dipadatkan.
Muka akhir lapisan ini harus dilakukan dengan tepat dengan memakai peralatan
tangan (manual).
Bongkahan batu dan batu besar, bilamana ditemukan harus disingkirkan agar
memberikan jarak bebas paling sedikit 15 cm dibawah dari setiap sisi pipa dan
fitting untuk pipa dengan diameter 600 mm atau lebih kecil dan 20 cm untuk pipa
dan fitting dengan diameter lebih besar 600 mm.

f. Penggalian di Tanah yang Kondisinya Buruk


Bilamana muka akhir dasar galian tidak stabil atau terdiri dari bahan yang kurang
baik seperti abu, bahan sampah dan lain-lain, dan atas keputusan direksi bahan
tersebut harus disingkirkan, kontraktor harus menggali dan menyingkirkan bahan
tersebut.

g. Penopangan Dan Penurapan


Galian tanah lebih dari 1 meter harus ditopang dan diturap sehingga galian tidak
gugur/runtuh, agar pekerja dapat bekerja secara aman dan menjaga permukaan
jalan dan bangunan lainnya sebagaimana ditujukan dalam gambar kondisi tanah,
lalu lintas atau yang diperintahkan oleh direksi.
Perhatian perlu diberikan untuk mencegah terjadinya rongga diluar turap, tetapi
jika terjadi rongga, rongga tersebut harus segera diisi dan dipadatkan. Sebelum
memasang penopang dan turap, kontraktor harus memberitahu lokasi galian
dengan turap dan penopang beserta dengan jadwal pelaksanaannya untuk
mendapat persetujuan dari direksi.
Kecuali ditentukan lain atau diperintahkan direksi, galian terbuka diperkerasan
sepanjang jalan utama dan atau jalan strategis harus dilakukan dengan penurapan
dan penopangan.
Semua penopang dan turap yang tidak digunakan harus dipindahkan dengan hati-
hati tanpa membahayakan pemasangan yang baru dilakukan utilitas yang ada, atau
kepemilikan yang berada didekatnya.

Bab XIA -31


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Semua rongga yang timbul akibat dicabutnya turap harus segera diisi kembali
dengan pasir dan dipadatkan dengan cara penumbukan menggunakan alat yang
sesuai dengan membasahinya atau cara lain yang diperintahkan.
Direksi dapat memerintahkan kontraktor secara tertulis setiap saat selama
pekerjaan berlangsung untuk tidak mencabut semua turap, penopang dan lain-lain,
untuk ditimbun pada saat pengurugan dengan tujuan mencegah kerusakan
bangunan, utilitas dan kepemilikan.
Hak direksi memerintahkan semua turap dan penopang serta bahan lain
ditinggalkan/dibiarkan ditempatnya tidak boleh ditafsirkan sebagai kewajiban di
pihak direksi untuk mengeluarkan perintah seperti itu, dan kegagalan
melaksanakan hak seperti itu tidak mengurangi tanggung jawab kontraktor
terhadap kerusakan yang terjadi pada pihak ketiga yang diakibatkan oleh
kepemilikan oleh kelalaian dalam pekerjaan sebagai akibat tidak ditinggalkannya
penopang atau turap untuk mencegah longsor atau bergeraknya tanah.

h. Penimbunan Bahan Galian


Kontraktor harus menyusun jadwal penggalian dan pemasangan pipa sehingga
tidak terjadi penimbunan bahan galian dijalan utama maupun jalan nasional.
Bahan hasil galian dapat ditimbun dibagian jalan lain dengan syarat menggunakan
kotak penampung tanah galian agar tidak menghambat arus lalu lintas. Bahan
galian yang tidak dapat dipakai untuk urugan harus ditimbun atau dibuang dengan
cara yang disetujui direksi yang jauh dari jalan. Bilamana diperlukan dan
diperintahkan oleh direksi, kontraktor harus mengangkut bahan galian untuk
dibuang atas beban biaya sendiri.

2.4.7. URUGAN
Bagian berikut mengenai “URUGAN” harus diterapkan untuk semua jenis pekerjaan
pemasangan dan penyambungan pipa.

2.4.7.1. Umum
Urugan mencakup menyediakan, menetapkan dan memadatkan semua bahan untuk
mengisi/mengurug galian pemasangan pipa dan galian untuk bangunan lainnya. Urugan
tidak boleh dijatuhkan secara langsung pada pipa atau bangunan lainnya. Kecuali
ditentukan lain, bahan yang digunakan untuk pengurugan harus berupa bahan yang
terpilih. Jika urugan pasir atau kerikil tidak ditentukan dalam gambar, tetapi menurut
pendapat direksi harus digunakan dibeberapa bagian pekerjaan, kontraktor harus
menyediakan dan mengurug dengan pasir atau kerikil sebagaimana ditentukan dan
diperintahkan oleh direksi. Urugan harus dikerjakan setelah semua pipa terpasang,
diperiksa dan disetujui direksi.

Bab XIA -32


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.4.7.2. Bahan Urugan


Bilamana tidak disebutkan lain dalam spesifikasi dan gambar rencana, bahan untuk
urugan ditentukan sebagai berikut :
1. Bahan Terpilih
Bahan terpilih adalah bahan yang telah diambil dengan penggalian atau diangkat
yang tidak mengandung batu atau benda padat yang ukurannya tidak lebih besar 5
cm dalam bentuk apapun dan juga tidak mengandung bahan organik seperti rumput,
akar, semak atau tubuhan lainnya, dan tidak bersifat mengembang (non exresive
nature).

2. Urugan Pasir
Semua pasir yang digunakan untuk urugan harus pasir alam berbutir halus hingga
sedang, tidak menggumpal, dan bebas dari kotoran, arang, abu, sampah atau benda
lainnya yang merupakan pendapat direksi dapat ditolak.
Bahan tersebut tidak boleh mengandung lempung dan tanah liat lebih dari 10 berat
bahan keseluruhan.

3. Urugan Kerikil
Kerikil yang dipakai untuk urugan harus berupa kerikil alam, memiliki partikel yang
kuat berbutir halus sampai sedang dalam bentuk yang cukup seragam dan tidak
mengandung batu besar atau batu dengan ukuran lebih besar dari 5 cm.
Bahan tersebut harus terbebas dari kotoran, arang, abu, bahan tak terpakai/ruangan
atau bahan yang tidak boleh ada atau bahan buangan lainnya. Bahan tersebut tidak
boleh mengandung tanah liat, lempung dan tidak boleh bergumpal.

2.4.7.3. Urugan pada Galian


1. Lapisan Alas
Pipa harus didasari dan dialasi hingga kedalaman minimum sebagaimana
diperlihatkan dalam gambar.
Bahan bagi lapisan alas ini harus berupa pasir, ditempatkan dalam bentuk lapisan
dengan ketebalan tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan tongkat pemadat
atau cara lain yang disetujui oleh direksi pada kepadatan kering maksimum 95%.
Pemberian lapisan atas pipa dengan memakai kerikil diperlukan sebagai pengganti
pasir pada tempat yang dianggap perlu dan yang diperintahkan untuk dilakukan oleh
direksi.

2. Urugan di Bawah Pipa


Semua galian diurug kembali dengan pasir atau bahan lain yang disetujui dengan
tenaga manusia mulai dengan lapisan pasir alas hingga garis tengah pipa, ditetapkan
secara berlapis dengan ketebalan tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan
tongkat pemadat atau cara lain yang disetujui oleh direksi pada kepadatan kering
maksimum 95%.

Bab XIA -33


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Bahan urugan ditempatkan dalam galian secara penuh selebar galian dimasing-
masing sisi pipa, dan perlengkapan lainnya secara menerus.
Dalam hal pipa Ductile Cast Iron, dari garis tengah pipa ke permukaan, dalam
”Urugan Sampai Permukaan” harus diterapkan bagi pengurugannya.

3. Urugan di Atas Pipa


Pada garis tengah pipa dan perlengkapannya sampai pada kedalaman 10 cm diatas
pipa baja (steel), galian harus diurug dengan peralatan tangan (manual) atau cara
mekanis lainnya yang telah disetujuinya.
Bahan dan cara pengurugan harus sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar
rencana, dan ditempatkan secara berlapis dengan ketebalan melebihi 20 cm dan
dipadatkan dengan tongkat pemadat dengan ketebalan kering maksimum 95%.
Dalam Pipa Polyvinyl Chloride, galian harus diurug dengan cara konvensional atau
cara mekanis yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm diatas puncak pipa PVC
dan tidak merusak pipa.

4. Urugan Sampai Permukaan


Dari kedalaman 10 cm diatas pipa baja sampai permukaan, galian harus diurug
dengan peralatan tangan (manual) atau yang disetujui, ditempatkan berlapis dengan
ketebalan tidak melebihi 20 cm, dan ditempatkan dengan tongkat pemadat untuk
mencegah amblasnya permukaan tanah setelah penyelesaian pekerjaan pengurugan.
Dalam Pipa Polyvinyl Chloride, galian harus diurug dengan tangan (manual) atau cara
mekanis yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm diatas pipa PVC dan tidak
merusak pipa.

2.4.7.4. PENGUJIAN KEPADATAN DI LAPANGAN


Dimana urugan perlu dipadatkan sampai pada kepadatan tertentu, pengujian
pemadatan dapat dilakukan oleh direksi, menggunakan prosedur pengujian yang
ditetapkan dalam ASTM D-1556.
Referensi kepadatan tanah maksimum harus ditentukan menggunakan standard
compaction test. ASTM D-698. Pengujian dapat dilakukan dalam zona pipa, dan diatas
zona pipa.

2.4.7.5. PERLINDUNGAN TERHADAP LERENG SUNGAI, SALURAN DAN SELOKAN


Dimana pipa menyeberang sungai atau selokan, dan juga pada titik buang katup
penguras (blow offs), pada bangunan ini harus diberikan perlindungan terhadap lereng
dengan menggunakan batu lapis lindung (riprop) atau cara lain yang telah disetujui guna
mencegah runtuhnya kemiringan tersebut.
Batu lapis lindung yang ada atau perlindungan kemiringan harus diperbaiki kembali
sebagaimana yang ditetapkan dalam bagian “ GALIAN PERMUKAAN DAN PERBAIKAN “.
Pemasangan lapisan lindung secara umum harus dimulai dari bahu hingga ke dasar
kemiringan dan memenuhi sudut kemiringan yang ada dan bentuk topografi daerah

Bab XIA -34


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

sekitarnya. Sebagaimana diputuskan direksi, pemasangan lapis lindung dilakukan dari


bahu hingga kedalaman untuk mencegah keruntuhan.
Bahan yang digunakan untuk pemasangan batu harus batu alam yang keras dan
berbetuk bundar, batu berbentuk pipih dan panjang tidak boleh digunakan.
Ketebalan pasangan batu harus sekitar 35 cm, kecuali ditetapkan dan diperintahkan lain
oleh direksi. Ketebalan yang disebutkan diatas, mungkin berbeda sesuai dengan lokasi
pekerjaan, yaitu sudut kemiringan, kedalaman atau bentuk topografi sungai, saluran dan
selokan.
Kontraktor harus menyerahkan gambar kerja sebelum memasang pasangan batu untuk
persetujuan direksi.
Rongga diantarabatu harus diisi dengan beton tumbuk dan dipadatkan dengan baik atau
dengan semen bila disetujui. Area dibawah lapisan batu harus diisi dengan kerikil yang
dipadatkan dengan ketebalan 20 cm.
Pipa pengering harus dipasang bilamana menurut anggapan direksi memang diperlukan.
Pipa pengering ini harus berdiameter 50 mm dipasang setiap (2 – 3) m2 pasangan batu.
Dasar sungai, saluran atau selokan mungkin perlu dilindungi sesuai dengan keadaan
lapangan sebagaimana yang diperintahkan oleh direksi.

2.5. KONSTRUKSI BANGUNAN KHUSUS


2.5.1. KONSTRUKSI JEMBATAN PIPA
2.5.1.1. Umum
Kontraktor harus menyediakan tenaga, bahan, perkakas, peralatan lainnya yang
diperlukan, diluar yang disediakan atau dipinjamkan oleh pemilik untuk pekerjaan
konstruksi jembatan pipa sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar dan/atau
ditentukan disini.
Batas konstruksi dan setiap jembatan pipa adalah pada kedua ujung sambungan
“flexible” dan/atau “fitting” yang digunakan untuk hubungan flexible sebagaimana
diperlihatkan dalam gambar. Dikarenakan perbedaan dan ketinggian alignment
jembatan dan jalur pipa, diperlukan bentang transisi guna menghubungkannya
sebagaimana diperlihatkan dalam gambar dan harus dilaksanakan sesuai dengan
perintah direksi sesuai dengan kondisi lapangan.
Penyambungan jalur pipa pada jembatan dengan jalur pipa biasa harus dilakukan
setelah penyelesaian pekerjaan pipa dan setelah persetujuan direksi.
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan konstruksi jembatan pipa dengan benar
sesuai dengan ketentuan butir-butir yang dapat diterapkan dalam spesifikasi teknik ini.
Kontraktor atas biayanya sendiri memeriksa semua ukuran jembatan pipa pipa yang
diperlihatkan dalam gambar dengan melakukan survey sendiri di lokasi pekerjaan.
Kontraktor harus melakukan, mengkoordinasikan dengan instansi terkait, dan
membantu pemilik mendapatkan ijin dari Instansi Pemerintah yang terkait dalam
pelaksanaan pekerjaan perlintasan ini.

Bab XIA -35


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.5.1.2. Gambar Kerja dan Jadwal Pelaksanaan


Kontraktor berdasarkan pemeriksaan lapangan dan peta geologi tersebut, harus
menyusun jadwal pelaksanaan dan gambar kerja jembatan pipa yang memperlihatkan
semua ukuran, rincian pipa, bangunan bawah (abutment), pilar, pancang, pekerjaan
sementara termasuk penurapan, perancah dan lain-lain, perbaikan kembali atau,
membuat lapisan lindung (revetment) pada sungai atau saluran dimana diperlukan,
termasuk perhitungan yang diperlukan serta menyerahkannya kepada Direksi untuk
persetujuannya, sebelum memulai pekerjaan pembangunannya.
Setelah itu, dengan aliran air tetap dipertahankan tetapi pada kecepatan yang lebih
rendah, air ditambah dengan cairan desinfektan yang sudah disediakan oleh
Pemborong dengan cara dipompakan melalui lubang berdiameter kecil di ujung pipa di
bor.
Volume air dan jangka waktunya sekurang-kurangnya 24 jam harus sedemikian
sehingga air yang dikeluarkan mengandung sekurangnya 20 mg sisa Khlorin per liter.
Jika air ini masih mengandung khlorin bebas setelah periode kontak selama 24 jam
dalam pemberian desinfektan, maka proses harus diulangi. Sebelum pemberian
desinfektan pada tiap bagian pipa dengan cairan yang mengandung khlorin diatas,
Pemborong harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi Tenaga Ahli untuk
menggunakannya.

2.5.1.3. Desinfeksi Pipa


Sebelum jaringan pipa dipakai untuk mengalirkan air bersih ke pelanggan maka
terlebih dahulu harus dilakukan pembersihan pipa dari kotoran/endapan yang ada
dalam pipa dan membersihkan pipa dari kuman-kuman penyakit dengan larutan
desinfektan.

2.5.1.4. Perancah
Kontraktor harus menyediakan perancah yang memadai melintas sungai atau saluran
dengan lebar yang cukup agar dapat meletakkan, menyambung, mengelas dan
mengecat pipa dan membuat pipa dengan aman dan efisien
Tindakan khusus harus dilakukan dalam melaksanakan dan membangun perancah di
lokasi jembatan dimana pendirian pilar termasuk kedalam pekerjaan, sehingga dapat
menopang dengan baik atau mendukung berat peralatan pancang dan tekanan atau
kejutan dari pelaksanaan pancang.

2.5.1.5. Konstruksi Bangunan Bawah


Kontraktor harus menyediakan turap/atau perlengkapan kedap air untuk pembuatan
bangunan bawah, sehingga dapat dilaksanakan dalam kondisi kering dan aman.

1. Pondasi
Kontraktor harus membuat pondasi sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan
atau yang diperlihatkan dalam gambar.

Bab XIA -36


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

a) Pondasi Langsung
Kontraktor harus melakukan pengujian kapasitas daya dukung tanah
dilapangan sebagaimana diminta oleh Direksi, sesuai dengan standar yang
disetujui, bilamana penggalian dilakukan hingga gradien yang direncanakan
sebagaimana terlihat dalam gambar.
Pembuatan lantai kerja dengan beton K 100 tidak boleh dilakukan sebelum
diperoleh persetujuan dari direksi.
Tanah yang tidak sesuai untuk pondasi harus disingkirkan dan diganti dengan
pasir atau batu pecah sampai kedalaman tertentu dan ditempatkan
sebagaimana diperlihatkan dalam gambar atau sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi.
Setiap lapisan bahan tersebut harus disebar dengan ketebalan maksimum 15
cm dan dipadatkan dengan alat pemadat tangan, minimum empat kali
sebagaimana disetujui oleh direksi.
Pengujian lapangan harus dilakukan setelah pengisian mencapai ketinggian
yang direncanakan sebagaimana dijelaskan diatas untuk memenuhi kapasitas
daya dukung.
Ketebalan akhir 10 cm tanah asli, harus disingkirkan dengan tangan sehingga
akan diperoleh tanah dasar rata tak terganggu.
Jika tanah pada gradien galian yang direncanakan dan yang diperintahkan
Direksi tidak sesuai untuk pondasi, Kontraktor harus menggali lebih dalam
lagi dibawah gradien tersebut sampai kedalaman tertentu sebagaimana
diperintahkan direksi.

b) Pondasi Pancang
Semua pancang harus disediakan dan dipasang pada lokasi yang tepat yang
diperlihatkan dalam gambar dan sebagaimana ditentukan dalam bab
selanjutnya.
Pancang tidak boleh dipasang sebelum diperiksa, dan disetujui oleh Direksi.
Kepala pancang direncanakan sebagai sendi dan harus disisipkan kedalam
bangunan bawah sedalam 10 cm.

2. Pekerjaan Beton
Setelah mengecor lantai kerja, dan setelah diperiksa dan disetujui Direksi, kontraktor
harus menyelesaikan pekerjaan sebagaimana diperlihatkan dalam gambar dan sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan dalam bagian selanjutnya, yaitu “Pekerjaan Beton”.
Harus digunakan beton dengan kuat tekan karateristik minimum 175 kg/cm. Pipa yang
ditanam dalam bangunan bawah harus dimantapkan ke besi tulangan dengan cara
yang disetujui serta menghindari pergeseran dari lokasi semula selama pengecoran
beton.

Bab XIA -37


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.5.1.6. Konstruksi Pilar


Pilar terdiri dari sepasang pancang dan dihubungkan dengan bantalan beton. Berkaitan
dengan pancang yang dipancang disungai atau saluran, kontraktor harus memilih
secara teliti cara dan peralatan yang sesuai agar tetap pada jalur dan ketinggian yang
benar sebagaimana diperlihatkan dalam gambar.
Puncak pancang harus digabungkan kedalam bantalan beton dengan kedalaman yang
cukup sebagaimana diperlihatkan dalam gambar. Setelah penyelesaian pekerjaan,
semua bahan yang digunakan bagi pekerjaan konstruksi, seperti perancah, pelantar
kerja sementara dan lain-lain, harus disingkirkan semuanya agar tidak mengganggu
aliran sungai atau saluran.

2.5.1.7. Konstruksi Bangunan Atas


Kontraktor harus menyediakan bekisting yang kualitasnya untuk beton expose dan
peralatan water stop untuk penyambungan antar dinding.

2.5.1.8. Pemasangan Pipa


Kontraktor harus memasang dan menyambung semua pipa “fitting” dan “coupling”
sesuai dengan jalur dan ketinggian yang diperlihatkan dalam gambar.

1. Anti Lendutan (cambering)


Pada setiap bentang jembatan pipa, pipa harus dipasang dalam bentuk bekisting
lengkung. Besarnya anti lendutan ini harus 1/1250 persatuan pancang bentang di
bagian garis tengah bentang sebagaimana diperlihatkan dalam gambar.
Kontraktor harus menyiapkan gambar kerja yang memperlihatkan susunan rinci
bahan pipa dan juga garis pemotongan dan sudut masing-masing pipa untuk anti
lendutan dan harus menyerahkannya ke Direksi untuk persetujuannya setelah
pekerjaan pemasangan pipa.

2. Pendukung Berbentuk Cincin (ring support)


“Fixed Type Ring Support” yang ditunjukkan dalam gambar harus dianggap
pendukung berbentuk cincin yang dipasang dibantalan pilar.
“Sliding Type Ring Support” harus dianggap pendukung berbentuk cincin yang
dapat digeser secara horizontal dibantalan pilar ke sumbu dalam pipa.
Pendukung harus terbuat dan baja yang memenuhi standar yang ditentukan
Direksi atau yang dianggap setara, dan dibuat sebagaimana diperlihatkan dalam
gambar.
Demikian pula dengan baut, angker dan sekrup harus terbuat dari baja yang
memenuhi standard yang sesuai seperti tersebut diatas. Pendukung berbentuk
cincin harus dilas merata melingkari pipa baja.

3. Pengujian Pengecatan
(a) Umum

Bab XIA -38


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Semua sambungan yang dilas pada jembatan pipa harus diuji secara radiografi
sebagaimana dinyatakan dibawah ini.
Setelah disetujui oleh Direksi, semua permukaan bagian dalam (interior),
sambungan las, dan permukaan bagian luar (exterior) harus dicat.

(b) Pengujian Radiografi untuk Hasil Pengelasan


Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk
pengujian radiografi hasil pengelasan.
Pengujian radiografi harus dilakukan oleh penguji yang mampu, memiliki
pengalaman dan kualifikasi yang cukup untuk pekerjaan pengujian.
Kontraktor harus menyerahkan pengalaman dan kualifikasi yang dimilikinya
untuk persetujuan Direksi. Semua pelaksanaan pengujian harus dikerjakan
dengan dihadiri oleh Direksi atau Wakilnya.
Pengujian hasil pengelasan harus dilakukan sesuai dengan JIS Z 3104 “Method
of Radiografic Test and Classification of (Radiographs)” cara pengujian
radiografi dan klasifikasi radiograf untuk pengelasan baja, atau standar lain
yang dapat diterima oleh Direksi.
Hasil pengujian radiografi diklasifikasikan dalam standar sebagai berikut :

Kelas 1 2 3

Tingkatan 1 sampai 4 1 sampai 4 Tidak ada tingkatan

Kelas dan tingkatan yang diterima harus kelas 1, tingkat 1, sampai tingkat 3 dan
kelas 2, tingkat 1 sampai 3.

Jika hasil pengujian memperlihatkan kelas dan tingkat lain daripada yang
disebutkan diatas, Kontraktor harus mengulas dan menguji ulang atas beban
biayanya sendiri sampai hasil yang diperoleh diterima oleh Direksi.

(c) Lapisan Pelindung Luar dan Lapisan Pelindung Dalam


Semua pipa baja yang terekpos, “Fitting”, sambungan dan pipa yang akan
dipendam dalam tanah harus dilindungi sesuai denga yang dicantumkan dalam
bab III 8.4. LAPISAN PELINDUNG LUAR DAN LAPISAN PELINDUNG DALAM.

2.5.1.9. PEKERJAAN PENEMBUSAN PIPA (PIPE DRIVING WORK)


2.5.1.9.1. Umum
Bahan pipa untuk pekerjaan penembus pipa disediakan oleh pemilik bila pipa induk
berdiameter 700 mm atau lebih besar, tetapi bila diameter 600 mm atau lebih kecil,
bahan pipa untuk penembus harus digunakan sebagai selubung (casing) dan harus
disediakan oleh kontraktor.

Bab XIA -39


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, bahan, perkakas dan peralatan, kecuali
yang ditetapkan dalam BAGIAN SYARAT KHUSUS dan keperluan lain guna
melaksanakan pekerjaan penembusan pipa sebagaimana diperlihatkan dalam
gambar dan/atau ditetapkan di sini.
Sebelum pekerjaan konstruksi, Kontraktor harus menyelidiki struktur lapisan bawah
yang ada, utilitas dan sumur yang berada disekitar lokasi pekerjaan supaya tidak
merusak fasilitas tersebut selama tahap pembangunan.
Sebelum, selama dan setelah berjalannya penembusan, kontraktor harus membuat
pengukuran secara mekanis dan mendata ketinggian tanah, permukaan jalan yang
ada dan muka air sumur, jika ada, dan harus melakukan penanggulangan yang
memadai terhadap penurunan ketinggian, Kontraktor harus segera menghentikan
pekerjaan penembusan dan hal tersebut segera pula dilaporkan ke Direksi.
Kerusakan terhadap perkerasan permukaan jalan, struktur lapisan bawah, peralatan
dan lainnya yang diakibatkan pekerjaan penembusan harus diperbaiki dan/atau
diperbaharui oleh kontraktor atas beban biayanya sendiri serta memuaskan Direksi.
Kontraktor harus melakukan pekerjaan penembusan pipa dengan benar sesuai
dengan butir penerapan yang dicantumkan dalam spesifikasi teknik.
Kontraktor atas biayanya sendiri harus mencek semua ukuran yang diperlihatkan
dalam gambar dengan mensurvei sendiri lokasi pekerjaan.

2.5.1.9.2. Penyelidikan Tanah


Dalam memeriksa sifat tanah lokasi pekerjaan, Kontraktor diijinkan untuk melihat
dan memeriksa data penyelidikan tanah di Kantor Pemilik yang memperlihatkan
keadaan tanah pada lokasi strategis sepanjang jalur pipa.
Kontraktor harus, bila diminta oleh Direksi, melakukan pemboran mencakup
pengujian penetrasi standar (standard – penetration test) di lubang bor. Konsolidasi
dan pengujian lain yang diperlukan pada contoh tanah yang didapat dari pengeboran
tersebut untuk mengetahui sifat tanah seperti daya dukung, kuat geser,
permeabilitas, nilai banding rongga (void ratio) dan kandungan air.
Tambahan penggantian dalam hal ini akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

2.5.1.9.3. Gambar Kerja, Perhitungan dan Data yang Berkaitan Lainnya.


Kontraktor berdasarkan pemeriksaan dan pengujian tanah tersebut, harus
menghitung tenaga penembus (driving power) yang diperlukan. Bila memang
diperlukan sekali, untuk membelokkan pipa dengan sambungan ”solvent cement”
agar membentuk lengkungan dengan jari-jari panjang besarnya belokan harus sesuai
dengan petunjuk dari pabrik dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.

2.5.1.9.4. Tanah Penutup Kedalaman Pipa.


Ketebalan tanah penutup kedalaman pipa yang ditembus harus mengikuti peraturan
setempat.

Bab XIA -40


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.5.1.9.5. Ruang Penembus (driving vit)


Ruang penembus harus dibuat sedemikian guna memberikan ruang yang cukup bagi
pekerja untuk menurunkan, menembuskan dan menyambung pipa secara aman dan
efisien dalam ruang tersebut.
Keperluan untuk keamanan dan pemeliharaan, terhadap umum dan lalu lintas harus
benar-benar dipenuhi oleh Kontraktor.
Didasari setiap ruang penembus harus dilengkapi dengan ruang pengering dan
pompa yang menjaga agar ruang tetap kering sepanjang waktu pekerjaan
penembusan.
Setiap ruang penembusan juga harus memiliki alat yang memadai untuk menaruh
pipa dan peralatan penembus dan untuk menyingkirkan tanah hasil galian:
1. Penurapan dan Penopangan
Sebelum penggalian ruang penembus, turap tiang baja (steel seet pile) harus
dipancangkan sepanjang dinding ruang sebagaimana diperlihatkan dalam gambar
dan sebagaimana ditentukan di sini.
Tiang turap harus dipancang sepanjang permukaan luar penopang. Yang
dipasang sebelum pemancangan tiang turap, dan memanfaatkan penopang
sebagai pedoman pemancangan guna mencegah turap melintir atau melentur
selama pemancangan.
Seluruh tiang turap harus dipancangkan ke tanah sampai kedalaman tidak kurang
dari 8 (delapan) meter. Ukuran dan dimensi penopang baja harus direncanakan
sedemikian agar mampu mendukung tiang turap yang dipancang disisi luarnya.
Penyusunan kerangka penopang baja harus dibuat sama dengan ukuran yang
diperlihatkan dengan pengelasan atau pembautan, dan kerangka setelah tiang
turap dipancang harus dikencangkan sesuai dengan perintah Direksi. Walau
demikian kerangka tersebut tidak boleh dilaskan ke tiang turap.

2. Pondasi dan Beton Penahan Desakan


Setelah dilakukan perataan dan pemasangan pondasi batuan pada permukaan
dasar ruang penembus dengan ketebalan 15 cm pada seluruh permukaannya.
Kemudian pada pondasi batuan terpasang diberi lantai kerja dengan mutu kelas E
dengan ketebalan 15 cm dan disediakan pula tempat, pengeringan serta
penyambungan pipa dengan ukuran sebagaimana diperlihatkan dalam gambar
dengan lebar 2 meter.
Beton penahan desakan harus sanggup menahan desakan tenaga dorong tanpa
mengalami pergeseran atau kerusakan, maka agar memungkinkan semua gaya
dorong secara efisien bekerja pada pipa penembus, harus disusun seperti
ditunjukkan pada gambar.
Sebagai langkah utama pembuatan beton penahan desakan. Kontraktor harus,
berdasarkan pada kebutuhan daya dorong, menghitung kekuatan tulangan beton
yang diperlukan sehingga mampu mencegah kerusakan atau pecahnya beton dan
harus menyerahkan kepada Direksi hasil perhitungan kekuatan dan tata letak
tulangannya.

Bab XIA -41


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.5.1.9.6. Ruang Penerima Tembusan (arriving pit)


Ruang penerima tembusan dipasangi turap dan penopang oleh kontraktor
sedemikian rupa sehingga dapat menerima pipa penembus pada posisi dan
ketinggian/elevasi yang tepat serta dapat untuk menyambungkan dengan pipa biasa
seperti ditunjukkan pada gambar setelah ujung pipa penembus diangkat.

2.5.1.9.7. Penembusan Pipa – Pipa


Kontraktor harus melakukan penembusan pipa sesuai dengan Instruksi Pabrik
pembuatnya serta persyaratan berikut ini :
1. Persiapan
Setelah melakukan penyetelan ujung pipa penembus pada posisi dan
ketinggian/elevasi yang benar, sebagian dari dinding turap di depan alat
penembus tersebut dipotong dengan pengelasan atau cara lain sehingga
memungkinkan pipa ditembuskan pada bukaan yang dibuat.
Ukuran dari bukaan harus kira-kira 20 cm lebih besar daripada diameter pipa
tembus yang akan didorong. Bentuk pemotongan bukaan harus dikerjakan
sedemikian rupa rapinya dan menunjukkan hasil kerja berketrampilan tinggi.
Setelah pendorongan pipa pertama. Ruangan antara pipa dan bukaan turap
harus diisi dengan karung pasir atau material lainnya yang disetujui oleh Direksi
untuk mencegah masuknya gumpalan tanah ke dalam ruangan penembus.

2. Pemasangan Ujung Pipa Penembus dan Bantalan Pendorong (leading pipe)


Dalam usaha mengurangi hambatan geser tanah, ujung pipa penembus harus
dipasangkan pada ujung spigot pipa tembus pertama sebagaimana ditunjukkan
pada gambar.
Bantalan pendorong harus dipasangkan pada pipa penembus sebagai usaha
meneruskan gaya dorong secara tersebar dan merata pada seluruh permukaan
dari ujung pipa tembus yang didorong.

3. Penembusan
Kecuali diminta oleh Direksi, pelaksanaan penembusan pipa harus dilakukan
semua terus menerus hingga selesai untuk menghindari peningkatan lekatan
geser antara pipa dengan tanah.
Namun, pada keadaan daya dorong penembusan melampui batas taksiran
kekuatan untuk kondisi tertentu, Kontraktor harus dengan segera menghentikan
pekerjaan penembusan pipa dan memberitahukan keadaan ini tanpa menunda,
kepada Direksi yang akan memberikan petunjuk/pengarahan yang sesuai.
Dalam hal lebih dari dua buah kaki pendorong digunakan untuk penembusan,
perlu diperhatikan untuk mengupayakan semua kaki-kaki pendorong tersebut
bekerja secara serempak.

4. Penyambungan Pipa-Pipa Penembus

Bab XIA -42


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Setelah pipa didorong masuk sampai panjang tertera hingga perlu


penyambungan, penyambungan dengan berikutnya dilakukan didalam ruang
penembus.
Penyambungan harus dilakukan sesuai denga persyaratan dari bab-bab yang
telah disebutkan terlebih dahulu sesuai dengan instruksi pabrik pembuatnya
dengan cara memuaskan Direksi.

5. Pembuangan Tanah dari Dalam Pipa


Tanah yang berada didalam ujung kepala pipa penembus sepanjang kurang lebih
satu meter diukur dari ujung terdepan tidak perlu dibuang. Selama pembuangan
tanah, perlu diperhatikan jangan sampai menimbulkan kerusakan pada lapisan
lindung dalam pipa.

6. Survey
Sepanjang waktu pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor melakukan pengukuran
datar, titik henti dan survey lainnya diperlukan untuk penembusan pipa sehingga
berlangsung dengan tepat sesuai jalur dan ketinggian yang diminta.
2.5.1.9.8. Pengujian Sambungan
Segera dan sedapat mungkin setelah panjang jalur pipa diminta telah tembus
tertanam sesuai dengan rencana, Kontraktor harus segera melakukan uji tekanan air
sesuai dengan persyaratan yang diminta pada spesifikasi ini.
Bila kebocoran terjadi atau terdapat cacat lain yang ditemukan pada pengujian,
Kontraktor harus memperbaharui dengan biaya menjadi tanggungannya hingga
memuaskan Direksi.

2.5.1.9.9. Pemasangan Pipa-Pipa


Setelah menyelesaikan pekerjaan penembusan dan telah disetujui oleh Direksi.
Kontraktor harus melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut sebagaimana pada
gambar yang diserahkan Kontraktor :
 Dalam hal diameter pipa 700 mm atau lebih, pipa tembus dipergunakan langsung
sebagai dari jalur pipa utama
 Dalam hal pipa tembus berdiameter 800 mm dan dari pipa baja, pipa tembus
dipergunakan sebagai selubung untuk jalur pipa utama, dan pipa-pipa lain seperti
Ductile Cast Iron Pipe, pipa baja dan PVC yang lebih kecil dipasang kedalam
selubung tersebut.

1. Pemasangan Pipa Ductile Cast Iron


Pipa harus disambungkan dengan penyambung ditunjukkan pada gambar. Semua
bagian pipa yang menanjak termasuk “bend” atau “fitting” harus dilindungi
dengan selimut beton bertulang dengan cara yang sama seperti blok-blok
penahan tekanan untuk “blend” vertikal.
Penyambungan dari pipa-pipa harus dilaksanakan sebagaimana diatur pada butir
sebelumnya.

Bab XIA -43


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2. Pemasangan Pipa Baja atau PVC


a) Penyambungan
Pipa yang dimasukkan dalam selubung harus dikerjakan penyambungannya
didalam ruang penembus seperti yang diatur pada bab sebelumnya dan di
dorong masuk ke dalam selubung dengan peralatan dan cara yang memadai
serta hati-hati.
b) Pengujian Sambungan
Setelah memasang pipa ke dalam selubung, Kontraktor harus melaksanakan
uji tekanan air sesuai dengan persyaratan yang diminta pada spesifikasi.
Bilamana kebocoran terjadi atau cacat lain ditemukan pada waktu pengujian,
Kontraktor harus memperbaiki dan mengganti atas tanggungan biaya sendiri
hingga memenuhi syarat.
c) Perlindungan dengan Beton
Setiap bagian yang menanjak dari pipa yang dipasang termasuk “bend” atau
“fitting” harus dilindungi dengan selimut beton bertulang sebagaimana
layaknya pembuatan blok beton penahan tekanan untuk “bend” vertikal.
Sambungan pipa harus dipasang seperti yang dijelaskan pada bab
sebelumnya.
d) Penyelubungan dengan Beton
Rongga-rongga yang terbentuk antara pipa selubung dengan pipa-pipa yang
dimasukkan ke dalamnya harus diisi dengan beton tumbuk (kelas E) memakai
pompa beton. Ukuran maksimum batuan untuk beton kelas E sebesar 25 mm.

2.5.1.9.10. Pengurugan Ruang Penembus


Sebelum memulai pengurugan ruang penembus dan ruang penerima, beton
penahan desakan, bila diminta oleh Direksi, harus dibuang dari ruang-ruang
tersebut.
Setelah pekerjaan penembusdan penyambungan pipa sebagaimana dimaksudkan
telah selesai dilapisi dengan lapisan pelindung luar dan lapisan pelindung dalam pada
setiap sambungan pipa baja seperti dijelaskan dimuka, serta Direksi menyetujui
untuk keperluan tersebut, Kontraktor harus mengurug ruang-ruang yang dimaksud.
Ruang-ruang tersebut harus ditimbun dengan pasir atau batu pecah dari dasar
hingga ke dasar selubung beton.
Material timbunan harus dipadatkan setiap ketebalan 15 cm dengan menggunakan
pemadat tangan atau peralatan yang disetujui. Bagian selanjutnya, diatas timbunan
pasir atau batu pecah hingga sampai pada permukaan awal harus diurug dengan
material terpilih sesuai dengan persyaratanpada butir yang sesuai dengan
persyaratan pada butir yang sesuai dengan spesifikasi ini.

2.6. PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA


2.6.1. UMUM

Bab XIA -44


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.6.1.1. Lingkup Pekerjaan


a. Kontraktor harus mengerjakan pekerjaan pemasangan pipa berupa perletakan pipa
dan penyambungan, dengan cara yang memuaskan direksi dengan spesifikasi ini
dan sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar kerja.
b. Kontraktor harus mempelajari brosur-brosur teknis atau pedoman teknis yang
dikeluarkan oleh pabrik pipa, fitting dan perlengkapan yang digunakan dalam
pekerjaan ini, tentang spesifikasi dan petunjuk pemasangan produksi mereka.
Penggunaan brosur dan pedoman teknis dari pabrik tersebut oleh Rekanan harus
diketahui dan disetujui Direksi pengawas.
c. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak tercakup dalam spesifikasi ini dapat dilaksanakan
berdasarkan ketentuan-ketentuan praktis yang berlaku di Indonesia dan harus
disetujui oleh Direksi.

2.6.1.2. Penanganan Bahan Pipa, Perkakas dan Peralatannya


Perhatian perlu diberikan dalam menangani semua bahan pipa yang disediakan oleh
pemilik untuk menghindari kerusakan pada bahan tersebut selama pengangkutan,
penurunan, pemasangan dan penyambungan sampai pada penyelesaian pada
pekerjaan. Kerusakan pada bahan pipa yang disebutkan tadi harus diperbaiki hingga
memuaskan direksi atas beban biaya kontraktor.
Kontraktor juga harus menangani perkakas dan peralatan yang disediakan oleh pemilik
sedemikian rupa guna menghindari kerusakan pada peralatan tersebut.
Semua perkakas dan peralatan harus dijaga kebersihannya dan dipelihara dengan baik
sehingga selalu siap digunakan dalam kondisi yang baik.
Kerusakan yang terjadi pada perkakas dan peralatan tersebut harus diperbaiki hingga
memuaskan direksi atas biaya beban kontraktor. Dalam hal perkakas dan peralatan
tidak dapat diperbaiki atau hilang, kontraktor harus memberi konpensasi kepada
pemilik.

2.6.1.3. PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA BAJA (STEEL)


2.6.1.3.1. Umum
Kontraktor harus menyediakan dan memelihara dalam kondisi baik perkakas dan
peralatan untuk menangani dan memasang pipa, dan valve, cara pemasangan pipa
dan penggunaan perkakas dan peralatan juga harus sesuai dengan rekomendasi
pabrik.
Penopang pipa yang memadai harus disediakan bagi pemasangan pipa walaupun
bahan penopang tidak diperlihatkan dalam gambar kerja.
Bagian dalam semua pipa, dan valve yang dipasang, harus dijaga tetap bersih dan
bebas dari benda asing dan kotoran disepanjang waktu.
Langkah pencegahan mencakup penggunaan kain pembersih dan alat Bantu lain
yang memadai menurut petunjuk direksi selama pemasangan pipa, dan
penyumbatan yang rapat semua lubang/celah yang ada pada setiap akhir hari kerja.
Pipa dipasang secara seragam dan menerus pada jalur dan ketinggian sebagaimana
diperlihatkan dalam gambar kerja dan sesuai dengan cara pemasangan yang

Bab XIA -45


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

ditetapkan terlebih dahulu. Sebelum menempatkan pipa pada posisinya, ketinggian


dan alinyemen akhir harus diperiksa terlebih dahulu dengan menggunakan peralatan
survei.
Pipa, Valve, dan fitting harus diperiksa secara teliti dari kerusakan pada saat
pemasangan. Bahan yang didapati rusak sebelum, selama, atau setelah dipasang
harus diberi tanda secara permanen, disingkirkan dari lokasi pekerjaan, dan diganti
dengan yang baik.
Secara umum, setiap tiga batang pipa disambung diatas tanah agar pelaksanaan
penyambungan lebih mudah dan pada kondisi yang stabil.
Pipa-pipa yang disambung menjadi satu diangkat dan diletakkan kedalam galian dan
didalam galian pipa tersebut disambung dengan pipa lainnya dengan menggunakan
“coupling”.
Jika kontraktor mengusulkan menggunakan “Heat – Shinkable Sleeves” untuk lapisan
pelindung sambungan daripada “Heat – Shinkable Sleeves”,”Sleeves” tersebut perlu
dipasang pada pipa sebelum diletakkan.
Galian sekitar daerah yang diperkirakan tempat sambungan dan tempat untuk “Heat
– Shinkable Sleeves” atau “Sleeves” harus diganti lebar untuk kemudahan
pelaksanaan pekerjaan yang diperlukan.

2.6.1.3.2. Pemasangan Pipa


1. Penurunan Pipa kedalam Galian.
Semua pipa “Fitting”, dan “Valve” harus diturunkan secara hati-hati kedalam
galian, satu persatu, dengan batasabn diameter pemakai “Crane”, Derek, tali,
atau dengan mesin, perkakas, atau peralatan, lainnya yang sesuai, dengan cara
sedemikian rupa agar mencegah kerusakan terhadap bahan, lapisan pelindung
luar (Protective Coating) serta lapisan pelindung (linning).bahan tersebut sama
sekali tidak diperkenankan dijatuhkan atau dilemparkan kedalam galian.
Jika kerusakan terjadi pada pipa “Valve” atau perlengkapan dapat saat
penanganannya, harus segera dilaporkan kepada direksi. Direksi akan
menentukan perbaikan yang diperlukan atau menolak bahan yang rusak
tersebut.

2. Pemeriksaan sebelum Pemasangan


Semua pipa “Fitting” harus diperiksa secara hati-hati dari kemungkinan
kerusakan, pada saat diatas galian sesaat sebelum dipasang pada posisi akhir.
Setiap ujung pipa harus diperiksa secara khusus, karena daerah ini paling mudah
mengalami kerusakan dalam penanganannya.
Pipa atau “fitting” yang rusak/cacat harus diletakkan terpisah untuk pemeriksaan
oleh direksi yang akan menentukan perbaikan yang diperlukan ataupun
menolaknya.

3. Pembersihan Pipa dan “Fitting”

Bab XIA -46


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Bagian luar dan dalam ujung pipa harus dibersihkan dengan kain kering dan
bersih, dikeringkan dan bebas dari minyak dan lemak sebelum pipa dipasang.
Bila ada profil pengaku badan (Stiffeners) guna melindungi ujung pipa, semua
profil pengaku tersebut harus disingkirkan sampai bersih demikian pula benda
asing lainnya dalam pipa.

4. Perletakan Pipa
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah benda asing masuk
kedalam pipa pada saat pipa diletakkan pada jalur.
Selama berlangsungnya peletakan, tidak boleh ada kotoran, perkakas, kain,
ataupun benda-benda lainnya ditempatkan dalam pipa.
Saat satuan panjang pipa dalam galian, setiap ujung pipa harus dipasang
berhadapan dengan pipa yang sebelumnya, pipa dipasang dan ditempatkan pada
jalur dan ketinggian yang benar. Pipa dimantapkan ditempatkan dengan bahan
urugan yang telah disetujui dan didapatkan dengan ketinggian yang sama kecuali
pada ujung pipa. Tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah tanah
atau kotoran lainnya masuk kesambungan.
Setiap saat bila pemasangan pipa sedang berlangsung, ujung pipa harus
ditutup/disumbat dengan bahan yang memadai dan dengan cara yang disetujui
oleh direksi.

5. Pemotongan Pipa
Pemotongan pipa untuk menyiapkan “Tee”, “Bend” atau “Valve” atau tujuan
lainnya, harus dilakukan dengan mesin potong yang sesuai dengan cara yang rapi
dan baik, tanpa menyebabkan kerusakan pada pipa maupun lapisan pelindung
dalamnya dan menghasilkan ujung yang halus pada sudut yang tepat terhadap
sumbu pipa.
Pemotongan pipa baja harus dikerjakan dengan mesin pemotong yang sesuai
menghasilkan potongan yang halus pada sudut yang benar atau sudut yang
diminta terhadap sumbu pipa.
Pemotongan perlu dijaga agar jangan sampai merusak lapisan pelindung luar
maupun lapisan pelindung pipa dalam. Ujung pemotongan pipa yang dipotong
tersebut, harus dipotong serong (Beveled) dengan ukuran yang sama
sebagaimana yang ditentukan dalam spesifikasi.
Tidak boleh ada “Fitting” seperti “Bend”, “Tee” dan “Flange” dan “Spigot”
dipotong untuk pekerjaan pemasangan pipa, sejauh tidak ada instruksi tertulis
yang diberikan kepada kontraktor dan direksi.

2.6.1.3.3. Penyambungan dengan Pengelasan dilapangan


1. Umum

Bab XIA -47


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pengelasan pipa baja dilapangan harus disesuaikan dengan persyaratan yang


ditentukan berikut ini. Hal-hal yang tidak dijelaskan dalam spesifikasi ini,
mengacu pada standar ataupun pedoman (Code) berikut ini.
(a). Codes of Japanese Waterworks Steel Pipes Manufactures’ Association
(WSP)
(b). Codes of Welding Engineering Standard (WES), Japan.
Bila pengelasan dilakukan dalam galian, galian harus dilebarkan dan dibuat lebih
dalam agar memungkinkan pngelasan sebagaimana diminta.
Jumlah pipa yang akan menjadi satu, dengan panjang yang sesuai yang dilakukan
diatas permukaan tanah, serta cara meletakkannya ke posisi yang sesuai, harus
disetujui terlebih dahulu oleh direksi.
Pengelasan yang diminta oleh direksi harus diuji dengan cara pengujian yang
dicantumkan dalam “ 4 PENGUJIAN TANPA MERUSAK PADA PENGELASAN
DILAPANGAN” DALAM 3.3.4 atau cara yang diterima oleh direksi.
Untuk jembatan pipa, harus diuji sepanjang seluruh pinggiran setiap sambungan
dengan cara pengujian radiografi kecuali ditentukan lain.
Penyambungan dengan pengelasan harus dilakukan baik dengan sambungan
dengan las tumpul tunggal (Singgle - Welded Butt Joint) atau las – tumpul ganda
(Double-welded butt joint) sesuai yang ditentukan.

2. Juru Las (Welder)


Kontraktor harus memasukkan pengalaman dan kualifikasi juru las yang
diusulkan untuk persetujuan direksi.
Juru las tersebut harus memiliki pengalaman dan kualifikasi yang cukup bagi
pekerjaan pengelasan, dan memegang sertifikat atau ijazah yang dikeluarkan
oleh badan yang berwenang.

3. Batang Las dan Mesin Las


Batang las harus sesuai persyaratan yang ditentukan dalam JIS Z 3211 dan 3212
atau yang memiliki kuat tarik yang setara atau lebih baik dari logam dasar bahan
pipa.
Batang las yang menyerap lengas (moisture) tidak boleh digunakan dan tingkat
lengas harus lebih kecil dari 2,5% untuk batang yang diiluminasi (Illuminated rod)
dan 0,5% untuk batang yang hidrogennya rendah (Low hydrogenous rod).
Mesin las, harus mesin pengelasan busur nyala (Arc Welding Machine) dengan
arus AC atau pengelasan busur nyala DC, sebagaimana yang ditentukan dalam JIS
C 9301 atau pada standar yang telah diterima oleh direksi.

4. Penyiapan Ujung Pipa


Ujung pipa seluruhnya harus mempunyai arus menyudut/serong (bewel) yang
sesuai sebelum pengelasan. Kecuali ditentukan lain atau disetujui oleh direksi,
alur tersebut harus dibuat pada bagian permukaan luar (Exterior) untuk pipa

Bab XIA -48


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

dengan diameter 700 mm dan yang lebih kecil dan pada permukaan dalam
(Interior) untuk pipa dengan diameter 800 mm dan yang lebih besar.
Pipa yang mempunyai ketebalan dinding 16 mm atau lebih, harus alur dikedua
sisi pipa agar dapat dilakukan sambungan las tumpul ganda (double-welded butt
joint). Bentuk dan ukuran celah yang terbentuk oleh alur menyudut tersebut,
harus sesuai dengan JIS G – 3443 atau sebagaimana yang disetujui oleh direksi.

5. Pengelasan
Sebelum mengerjakan pengelasan, permukaan alur harus dibersihkan dari debu,
tanah dan karat dengan menyikat dan mengasah (grinding).
Bila pipa akan dipotong dilapangan, lapisan pelindung dalam maupun lapisan
pelindung luar pada kedua ujung pipa, harus dikupas minimum 10 cm, kemudian
ujung pipa dibuat alur sebagaimana yang ditentukan. “Fitting” tidak boleh
dipotong dilapangan.
Atas pengelasan dan kecepatan harus dijaga selama pekerjaan pengelasan, harus
terus menerus (berlanjut) dari bagian dasar ke bagian atas pinggiran pipa.
Bila pengelasan dilakukan dilapangan, kontraktor harus memperhatikan keadaan
cuaca seperti hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Pekerjaan tidak boleh
dilakukan dalam kondisi cuaca seperti yang telah disebutkan tanpa perlindungan
atau persetujuan dari direksi.
Permukaan hasil pengelasan harus seragam tanpa ada sempalan yang
berlebihan, tumpang tindih dan ketidakrataan.

2.6.1.3.4. Pengujian Tanpa Merusak pada Pengelasan di Lapangan


1. Umum
Bagian ini dipakai untuk pengujian tanpa merusak sambungan dengan
pengelasan setelah pemasangan pipa. Bagian pipa baja bawah tanah, semua
pengelasan dilapangan harus diuji dengan cara uji cairan penembus dengan
pewarna (dye penetrant test).
Pengujian harus dilakukan oleh perusahaan pemeriksa yang independent yang
memiliki sertifikat dari badan yang berwenang.
Kontraktor harus memberikan keterangan mengenai perusahaan pemeriksa yang
diusulkan beserta pengalamannya, bersama dengan kualifikasi Kepala pengawas
disebutkan untuk persetujuan Direksi.
Kontraktor harus menunjuk kepala pengawas yang mampu, yang bertanggung
jawab dalam mengawasi prosedur pengujian sambungan dengan pengelasan.
Kontraktor harus menyusun dan menyerahkan laporan mengenai hasil pengujian
sambungan dengan pengelasan yang dilakukan dilapangan kepada direksi.
Laporan harus berisi analisa dari pengujian, film, rekaman fotograpi dan
sebagainya, yang ditanda tangani oleh pengawas dan diserahkan sebanyak 2
(dua) copy kepada direksi.

2. Pemeriksaan Secara Amatan (visual inspection)

Bab XIA -49


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pengelasan alur dan pengelasan kedua harus diperiksa secara amatan. Kerusakan
berikut ini dapat menyebabkan ditolaknya hasil pengelasan dan kontraktor harus
mengelas dan menguji kembali atas biayanya sendiri.
a. Adanya lubang (pit) dipermukaan
b. Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman 1 mm atau lebih.
c. Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman lebih dari 0,5 mm
dan kurang dari 1,0 mm dan lebih dari ketebalan dinding.
d. Adanya tumpang tindih (overlap)
e. Adanya penguatan berlebihan

Ketebalan Dinding Maximum Reinforcement


(mm) (mm)

12,1 atau lebih kecil 3,2

Lebih besar dan 12,7 4,8

f. Butiran yang tidak merata (unven beads), dan


g. Adany kerusakan akibat nyala (are strike)

3. Uji Cairan Penembus dengan Warna


Penetrasi warna harus dipakai pada pengelasan terakhir dan prosedur
pelaksanaan harus memenuhi rekomendasi pabrik.
Adanya retakan dan/atau lubang harus diperbaiki dan diuji ulang atas biaya
kontraktor sendiri.
Direksi dapat meniadakan uji cairan menembus dengan warna, bila kemampuan
pengelasan kontraktor dapat diterima atas dasar pengujian yang diserahkan oleh
perusahaan pemeriksa yang independen.

2.6.2. PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA “POLYETHYLINE”


2.6.2.1. Umum
Dalam spesifikasi dan dokumen ataupun gambar, pipa “POLYETHYLINE” disingkat
dengan nama “PE” termasuk jenis thermoplastic. Untuk air minum spesifikasi pipanya
adalah PE 100 yang diproduksi dari jenis HDPE atau MDPE.
Kontraktor harus menyediakan dan memelihara dalam keadaan baik perkakas dan
peralatan yang sesuai bagi penanganan dan pemasangan pipa “Valve” dan “Fitting”.
Cara pemasangan pipa dan penggunaan perkakas serta peralatan harus sesuai dan
memahami petunjuk dari pabrik atau mengikuti pengarahan dari Direksi.

Bab XIA -50


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.6.2.2. Pemasangan Pipa


1. Penurunan pipa kedalam galian Perkakas, peralatan yang baik, dan fasilitas yang
memuaskan Direksi harus disediakan dan digunakan oleh kontraktor bagi
keamanan kelancaran pekerjaan.
Pipa PE diameter kecil diproduksi dalam bentuk roll. Penurunan kedalam galiannya
dapat dengan 2 cara : baik dilepas dulu dari gulungannya baru diturunkan atau
diturunkan dulu kedalam galian dalam bentuk rool baru dilepas. Pipa PE diameter
besar diproduksi dalam bentuk batang.
Semua pipa, “Fitting” dan “Valve” harus diturunkan kedalam galian satu persatu,
dengan menggunakan derek, tali/tambang, atau dengan perkakas atau peralatan
lainnya yang sesuai sedemikian rupa untuk mencegah kerusakan pada bahan
tersebut maupun lapisan pelindung luar dan dalamnya. Bahan tersebut dengan
alasan apapun tidak boleh dijatuhkan atau dilemparkan kedalam galian.
Jika terjadi kerusakan pada pipa “Fitting”, “Valve” atau perlengkapan lain dalam
penanganannya kerusakan tersebut harus segera diberitahukan kepada Direksi.
Direksi harus menetapkan perbaikan atau penolakan bahan yang rusak tersebut.

2. Pemeriksaan sebelum Pemasangan.


Pipa “Valve” dan “ Fitting” harus diperiksa dengan seksama dari kerusakan pada
saat pemasangannya. Bahan yang rusak yang ditemukan sebelum, selama atau
sesudah pemasangan pada kedudukan akhir, pipa harus diperiksa secara seksama
dari retakan dan kerusakan. Pipa atau “Fitting” yang rusak harus diletakkan
terpisah untuk pemeriksaan Direksi.

2.6.2.3. Penyambungan Pipa


Jenis sambungan pipa Polyetheline adalah sbb:
a. Sambungan Mekanis
- Mechanical-joint : sambungan plastik, injection (20 mm-63 mm) imulded, tipe
push-in dengan O-ring dan ulir
- Sambungan dari metal

b. Welding (heat fusion)


- But welding ( 63 mm – 250 mm)
- Socket welding (20 mm – 125 m)
- Saddle welding

c. Electro welding (25 mm – 125 mm)


- Las otomatis dari fitting PE yang sudah ada kumparan pemanas.

Cairan pembersih serta peralatan penyambungan harus disediakan oleh kontraktor.


Kontraktor harus menyerahkan data teknis dan contoh untuk persetujuan direksi.

1. Penyambungan dengan sambungan mekanis.

Bab XIA -51


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pipa dimasukkan kedalam sambungan lalu mur menekannya dikencangkan.


Penyambungan sistem mekanik lainnya juga sama seperti halnya penyambungan-
penyambungan yang biasa dilakukan.

2. Penyambungan pipa dengan welding (Heat fision)


- Butt Welding
Pipa diklem pada alat penekan. Kedua permukaan pipa harus dibersihkan dan
diratakan dengan mengetap.
Setelah alat pengetap dilepaskan, plat pemanas dijepit diantara kedua
permukaan pipa dengan sedikit tekanan untuk beberapa detik.
Kemudian plat pemanas dilepaskan. Tekan kedua pipa dengan tekanan
tertentu sampai mendapatkan lebar yang dikehendaki dari bagian yang
menyatu. Hilangkan tekanan untuk beberapa saat, setelah dingin klem dapat
dibuka.

- Socket Welding
Pipa dipotong tegak lurus dengan sumbunya. Permukaan luar pipa dan bagian
dalam socket harus dibersihkan dengan cairan pembersih khusus. Jepit bagian
ujung pipa yang sebelumnya telah diukur dengan mall yang sudah ditentukan.
Masukkan ujung pipa dalam socket pemanas dan socket sambungan kedalam
spigot pemanas untuk beberapa detik. Keluarkan alat pemanas dan bagian pipa
harus segera dimasukkan kedalam socket sambungan. Biarkan beberapa saat
sampai dingin.

- Suddle Welding
Mula-mula kedua permukaan yang akan dilas harus dibersihkan dengan cairan
pembersih. Taruh piringan pemanas diantara pipa suddle dengan tekanan
tertentu untuk beberapa saat. Lepaskan piringan pemanas dan sambung segera
pipa dengan suddle tersebut dengan tekanan tertentu untuk beberapa saat.
Setelah sambungan dingin baru pipa dilubangi dengan alat yang biasanya sudah
ada pada sambungannya.

3. Penyambungan dengan Elektro Welding


Kontraktor harus menyediakan KONTROL BOX khusus dengan tegangan yang harus
sama dengan tegangan dari spesifikasi sambungan yang ditentukan oleh produsen
sambungan tersebut. Mula-mula kedua permukaan yang akan disambung harus
dibersihkan dengan cairan pembersih. Sambung pipa dengan sambungan yang
akan dilas.
Kemudian kabel dari control box disambung kedalam sambungan yang tersedia.
Hidupkan control box dan secara otomatis akan berhenti sendiri bila proses bila
penyambungan selesai. Sebagai kontrol, material dari dalam akan keluar dari
lubang indicator pada sambungan.

Bab XIA -52


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.6.3. PEMASANGAN GALVANIZED IRON PIPE


2.6.3.1. Umum
Singkatan GIP yang digunakan dalam spesifikasi dan dokumen ataupun gambar berarti
galvanized iron pipe.
Kontraktor harus menyediakan dan memelihara dalam keadaan baik perkakas
peralatan yang sesuai bagi pengamanan dan pemasangan pipa, valve dan fitting.
Cara pemasangan pipa dan penggunaan perkakas serta peralatan harus sesuai dan
memahami petunjuk dari pabrik atau mengikuti pengarahan direksi.

2.6.3.2. Pemasangan Pipa


1. Penurunan Pipa Kedalam Galian
Peralatan, Perkakas, dan fasilitas yang memuaskan direksi harus disediakan dan
digunakan oleh kontraktor untuk keamanan dan kenyamanan pekerjaan. Semua
pipa, fitting dan valve harus diturunkan secara hati-hati kedalam galian, satu
persatu dengan batasan diameter memakai crane, derek, tali atau dengan mesin
perkakas atau peralatan lainnya yang sesuai dengan cara sedemikian rupa agar
mencegah kerusakan terhadap bahan lapisan pelindung luar (protective coating)
serta lapisan pelindung dalam (linning). Bahan tersebut sama sekali tidak
diperkenankan dijatuhkan atau dilemparkan kedalam galian.
2. Pemeriksaan Sebelum Pemasangan
Semua pipa dan fitting harus diperiksa secara hati-hati dari kemungkinan
kerusakan pada saat berada diatas bagian sesaat sebelum dipasang pada posisi
akhir.
Setiap ujung pipa harus diperiksa dengan secara khusus, karena daerah ini paling
mudah mengalami kerusakan dalam penanganannya. Pipa atau fitting yang
rusak/cacat harus diletakkan terpisah untuk pemeriksaan oleh direksi yang
menetukan perbaikan yang diperlukan ataupun menolaknya.
3. Pembersihan Pipa dan Fitting
Bagian luar dan dalam ujung pipa harus dibersihkan dengan kain kering dan bersih,
dikeringkan dan bebas dari minyak, lemak sebelum dipasang.
Bila ada profil pengaku badan (Stiffeners) guna melindungi pipa, semua profil
pengaku tersebut harus disingkirkan sampai bersih demikian pula benda asing
lainnya dalam pipa.
4. Perletakan Pipa
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah benda asing masuk
kedalam pipa pada saat pipa diletakkan pada jalur.
Selama berlangsungnya peletakan, tidak boleh ada kotoran, perkakas, kain,
ataupun benda-benda lainnya ditempatkan dalam pipa.
Saat satuan panjang pipa dalam galian, setiap ujung pipa harus dipasang
berhadapan dengan pipa yang sebelumnya, pipa dipasang dan ditempatkan pada
jalur dan ketinggian yang benar. Pipa dimantapkan ditempatkan dengan bahan
urugan yang telah disetujui dan dipadatkan dengan ketinggian yang sama kecuali

Bab XIA -53


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

pada ujung pipa. Tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah tanah
atau kotoran lainnya masuk ke sambungan.
Setiap saat bila pemasangan pipa sedang berlangsung, ujung pipa harus
ditutup/disumbat dengan bahan yang memadai dan dengan cara yang disetujui
oleh direksi.
5. Pemotongan Pipa
Pemotongan pipa untuk menyisipkan “Tee”, “Bend” atau “valve” atau tujuan
lainnya, harus dilakukan dengan mesin potong yang sesuai dengan cara yang rapih
dan baik, tanpa menyebabkan kerusakan pada pipa maupun lapisan pelindung
dalamnya dan menghasilkan ujung yang halus pada sudut yang tepat terhadap
sumbu pipa.
Pemotongan pipa besi harus dikerjakan dengan mesin pemotong yang sesuai
menghasilkan potongan yang halus pada sudut yang benar atau sudut yang diminta
terhadap sumbu pipa.
Pemotongan perlu dijaga agar jangan sampai merusak lapisan pelindung luar
maupun lapisan pelindung pipa dalam. Ujung potongan pipa yang dipotong
tersebut, harus dipotong serong (Beveled) dengan ukuran yang sama sebagaimana
yang ditentukan dalam spesifikasi.
Tidak boleh ada “Fitting” seperti “Bend”, “Tee”, dan “Flange dan Spigot” dipotong
untuk pekerjaan pemasangan pipa, sejauh tidak ada instruksi tertulis yang
diberikan kepada kontraktor kepada direksi.

2.6.3.3. Penyambungan Pipa Galvanized


Penyambungan pipa galvanized dilakukan dengan memakai sok seperti yang
ditentukan sebelum pipa disambung, maka bagian ulir dari sok atau ujung-ujung pipa
harus dibersihkan dari kotoran-kotoran. Setelah itu pada ulir pipa dipasang serat nanas
dan baru dimasukkan secara hati-hati pada sok dan diputar sampai kencang betul.

2.6.3.4. Penyambungan Dengan Pengelasan


1. Umum
Pengelasan pipa galvanized di lapangan harus disesuaikan dengan persyaratan
yang ditentukan berikut ini. Hal-hal yang tidak dijelaskan dalam spesifikasi ini,
mangacu pada standar ataupun pedoman (Code) berikut ini.
a. Codes of Japanese Waterworks Steel Pipes Manufactures’ Association (WSP)
b. Codes of Welding Engineering Standard (WES), Japan.
Bila pengelasan dilakukan dalam galian, galian harus dilebarkan dan dibuat lebih
dalam agar memungkinkan pengelasan sebagaimana diminta.
Jumlah Pipa yang akan menjadi satu, dengan panjang yang sesuai yang dilakukan
diatas permukaan tanah, serta cara perletakannya ke posisi yang sesuai, harus
disetujui terlebih dahulu oleh direksi.

Bab XIA -54


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Untuk jembatan pipa, harus diuji sepanjang seluruh pinggiran setiap sambungan,
dengan cara pengujian radiografi kecuali ditentukan lain.
Penyambungan dengan pengelasan harus dilakukan baik dengan sambungan
dengan las tumpul tunggal (singgle-welded butt joint) atau las-tumpul ganda
(double-welded butt joint) sesuai yang ditentukan.

2. Juru Las (welder)


Kontraktor harus memasukkan pengalaman dan kualifikasi juru las yang diusulkan
untuk persetujuan direksi.
Juru las tersebut harus memiliki pengalaman dan kualifikasi yang cukup bagi
pekerjaan pengelasan, dan memegang sertifikat dan ijazah yang dikeluarkan oleh
badan yang berwenang.

3. Batang Las dan Mesin Las


Batang las harus sesuai persyaratn yang ditentukan dalam JIS Z 3211 dan 3212
atau yang memiliki kuat tarik yang setara atau lebih baik dari logam dasar bahan
pipa.
Batang las yang menyerap lengas (moisture) tidak boleh digunakan dan tingkat
lengas harus lebih kecil dari 2.5 % untuk batang yang diiluminasi (Illuminated rod)
dan 0.5 % untuk batang yang hydrogennya rendah (Low Hydrogenous rod).
Mesin las, harus mesin pengelasan busur nyala (Arc Welding Machine) dengan
arus AC besar atau pengelasan busur nyala DC, sebagaimana yang ditentukan
dalam JIS C 9301 atau pada standar yang telah diterima oleh direksi.

4. Penyiapan Ujung Pipa


Ujung pipa seluruhnya harus mempunyai alur menyudut/serong (Bewel) yang
sesuai sebelum pengelasan. Kecuali ditentukan lain atau disetujui oleh direksi,
alur tersebut harus dibuat pada bagian permukaan luar (Exterior) untuk pipa
dengan diameter 700 mm dan yang lebih kecil dan pada permukaan dalam
(Interior) untuk pipa dengan diamter 800 mm dan yang lebih besar.
Pipa yang mempunyai ketebalan dinding 16 mm atau lebih, harus alur di kedua
sisi pipa agar dapat dilakukan sambungan las tumpul ganda (double welded butt
joint). Bentuk dan ukuran celah yang terbentuk oleh alur menyudut tersebut,
harus sesuai dengan JIS G-3443 atau sebagaimana yang disetujui oleh direksi.

5. Pengelasan
Sebelum pekerjaan pengelasan, permukaan alur harus dibersihkan dari debu,
tanah dan karat dengan menyikat dan mengasah (grinding).
Bila pipa akan dipotong di lapangan, lapisan pelindung dalam maupun lapisan
pelindung luar pada kedua ujung pipa, harus dikupas minimum 10 cm, kemudian
ujung pipa dibuat alur sebagaimana yang ditentukan. “Fitting” tidak boleh
dipotong di lapangan.

Bab XIA -55


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kualitas pengelasan dan kecepatan harus dijaga selama pekerjaan pengelasan,


harus terus-menerus (berlanjut) dari bagian dasar ke bagian atas pinggiran pipa.
Bila pengelasan dilakukan di lapangan, kontraktor harus memperhatikan keadaan
cuaca seperti hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Pekerjaan tidak boleh
dilakukan dalam kondisi cuaca seperti yang telah disebutkan tanpa perlindungan
atau persetujuan dari direksi.
Permukaan hasil pengelasan harus seragam tanpa ada sempalan yang berlebihan,
tumpang tindih dan ketidakrataan.
2.6.3.5. Pengujian Tanpa Merusak Pada Pipa dengan Sambungan Pengelasan di Lapangan.
1. Umum
Bagian ini dipakai untuk Pengujian Tanpa Merusak Sambungan dengan pengelasan
setelah pemasangan pipa. Bagian pipa baja bawah tanah, semua pengelasan di
lapangan harus diuji dengan cara uji cairan penembus dengan pewarna (dye
penetrant test).
Pengujian harus dilakukan oleh Lembaga Pemeriksa yang independen yang
memiliki sertifikat dari badan yang berwenang.
Kontraktor harus memberikan keterangan mengenai lembaga pemeriksa yang
diusulkan beserta pengalamannya, bersama dengan kualifikasi kepala pengawas
yang disebutkan untuk persetujuan direksi.
Kontraktor harus menyediakan semua tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk
pengujian tanpa merusak pada sambungan dengan pengelasan di lapangan.
Semua pengujian harus dilakukan dengan di hadiri Direksi atau wakilnya, kecuali
disetujui lain oleh Direksi.
Kontraktor harus menunjuk kepala pengawas yang mampu, yang bertanggung
jawab dalam mengawasi prosedur pengujian sambungan dengan pengelasan.
Kontraktor harus menyusun dan menyerahkan laporan mengenai hasil pengujian
sambungan dengan pengelasan yang dilakukan dilapangan kepada Direksi. Laporan
harus berisis analisa dari pengujian, film, rekaman fotografi dan sebagainya, yang
ditanda tangani oleh pengawas dan diserahkan sebanyak 5 (lima) copy kepada
Direksi.

2. Pemeriksaan dengan Pengamatan Mata (visual inspection)


Pengelasan alur dan pengelasan kedua harus diperiksa secara amatan. Kerusakan
berikut ini dapat menyebabkan ditolaknya hasil pengelasan dan Kontraktor harus
mengelas dan menguji kembali atas biayanya sendiri.
 Adanya lubang (pit) di permukaan
 Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman 1 mm atau lebih
 Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman lebih dari 0,5 mm dan
kurang dari 1,0 mm dan lebih dari ketebalan dinding
 Adanya tumpang tindih (overlap)
 Adanya penguatan berlebihan

Bab XIA -56


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Ketebalan Dinding Maximum Reinforcement


(mm) (mm)
12,1 atau lebih kecil 3,2
Lebih besar dari 12,7 4,8

 Butiran yang tidak merata (unven beads), dan


 Adanya kerusakan akibat nyala (are strike)

3. Uji Cairan Penembus dengan Warna


Penetrasi warna harus dipakai pada pengelasan terakhir dan prosedur pelaksanaan
harus memenuhi rekomendasi pabrik.
Adanya retakan dan/atau lubang harus diperbaiki dan diuji ulang atas biaya
kontraktor sendiri.
Direksi dapat meniadakan uji cairan penembus dengan warna, bila kemampuan
pengelasan kontraktor dapat diterima atas dasar pengujian yang diserahkan oleh
perusahaan pemeriksa yang independen.

2.6.3.6. LAPISAN PELINDUNG LUAR (PROTECTIVE COATING) DAN LAPISAN PELINDUNG


DALAM (LINNING)
2.6.3.6.1. Umum
Bilamana perlu atau ditetapkan semua sambungan pipa baja dan “fitting” termasuk
“coupling”, sambungan “flexible” harus dilindungi sesuai dengan persyaratan yang
dicantumkan dalam spesifikasi ini.
Bahan pelindung yang dipakai untuk pekerjaan, harus produk pabrik yang
menghasilkan produksi bahan tersebut dalam jumlah besar.
Pengarahan petunjuk dan penjelasan teknik dari pabrik, yang diperlukan oleh
pemilik, harus disediakan/diberikan terlebih dahulu. Warna dan lainnya, bila tidak
ditentukan akan dipilih oleh Direksi.

2.6.3.6.2. Pelapisan Pipa Baja dan “Fitting”


1. Pipa Baja yang Terekspos
Seluruh permukaan pipa baja dan “fitting” yang terekspos udara, harus diberi
tiga lapisan cair sebagai tambahan pada lapisan primer dan lapisan pertama dari
pabrik, dan dilakukan setelah pembersihan dan pengeringan permukaan lapisan
tersebut.
Jika ditemui kerusakan sebelum pelapisan di lapangan, kerusakan tersebut harus
diperbaiki sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi. Pelapisan tersebut
harus dilakukan sesuai dengan urutan sebagai berikut :
 Lapisan Pertama Meni besi, total minimum ketebalan lapisan kering, 35
microns.
 Lapisan Kedua Cat dasar, total minimum ketebalan lapisan kering, 25 microns

Bab XIA -57


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

 Lapisan Ketiga dua lapis cat akhir, masing-masing 20 microns


Lapisan pertama harus memenuhi “JIS K5622, red-Lead Anticorrosive Paint.
Class 2” atau “JIS K5523 Lead Suboxide Anticorrosive Paint. Class 2” atau yang
setara.
Lapisan pertama, kedua dan ketiga, jika dimungkinkan haruslah produk dari
pabrik yang samasebagaimana pula lapisan primer dan lapisan pertama dari
pabrik. Produk tersebut haruslah produk terdaftar.
Semua penopang, angker dan perlengkapan lainnya harus dicat sebagaimana
ditentukan untuk pipa dan “fitting”.

2. Pipa Baja yang Terendam


Lapisan pelindung digunakan pada pipa baja yang akan dipendam, dalam proyek
terdiri dari :
1) “Head-Shrinkable Sleeve” atau ”Sheet System” (untuk sambungan dengan
pengelasan)
2) “epoxy Lining” atau ”Coal Tar Epoxy Lining System” (untuk “Sleeve Coupling),
dan
3) “Petrolatum Corrosin Protective Tape S Nsteni” (untuk sambungan expansi)
(expansion Joint).
Spesifikasi ini hanya mencakup hal-hal yang bersifat dasar dan hal-hal yang tak
dapat dihindarkan. Semua rincian cara pemasangan mengikuti sebagaimana yang
ditunjukkan/direkomendasikan oleh pabrik.

(a) “Head-Shrinkable Sleeve” atau “Sheet”


Semua sambungan yang dilas yang dipendam dibawah tanah harus dilindungi
dengan “Head-Shrinkable Sleeve” atau “Sheet”.
Bahan tersebut akan disediakan oleh pemilik.
Kontraktor dalam melakukan pekerjaan pemasangan, harus dibawah
petunjuk instruktur yang ditugaskan oleh pemasok bahan tersebut. Nama
pemasok bahan akan diberitahukan kepada Kontraktor oleh Pemilik, dan
semua biaya bagi penugasan Instruktur tersebut menjadi beban Kontraktor.

1) “Head-Shrinkable Sleeve” :
Pemasangan “Sleeve”
Panjang tumpang tindih (overlapping) antara lapisan dari pabrik dan
lapisan yang dipasang di lapangan harus lebih dari 50 mm pada kedua
sisinya. Sebelum pekerjaan pengelasan sambungan, sejumlah sleeve
yang diperlukan harus dipotong dengan panjang yang sesuai, dan
disisipkan ke pipa sebelum ditempatkan dalam galian. “sleeve” tersebut
harus berada ditempat yang tidak terpengaruh oleh panas pengelasan.

Bab XIA -58


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Penanganan Pendahuluan Permukaan Pipa


Semua percikan, butiran dan lain sebagainya yang timbul di daerah
pengelasan harus disingkirkan dengan alat pembersih yang memadai,
dan setiap permukaan pipa yang akan ditutup dengan “sleeve” harus
dihaluskan terlebih dahulu.

Pemanasan Pendahuluan Pada Pipa


Area yang akan ditutupi dengan “wrapping”, harus dipanasi dahulu
dengan pembakar (burner) sampai kurang lebih 60 derajat, dan
“wrapping” harus diletakkan ditempatnya untuk menutupi daerah
sambungan, setelah menyingkirkan lapisan pemisah dari ”wrapping”.
Panjang tumpang tindih antara lapisan dari pabrik dan lapisan yang
dipasang di lapangan harus lebih besar dari 50 mm.

Pemanasan dan Pengerutan “Sleeve”


Pemanasan “Sleeve” harus dilakukan dengan pembakar yang disetujui
oleh Direksi dan dilakukan mulai dari bagian tengah “Sleeve”. Udara yang
berada diantara “Sleeve” dan pipa, harus disingkirkan seluruh secara
perlahan dan pasti. Pengerutan akan berlanjut secara merata, sampai
sifat adhesive “Sleeve” timbul.

2) “Head-Shrinkable Sheet”
Penanganan Pendahuluan Permukaan Pipa
Penanganan komponen terdahulu (a) dan 1) “Head-Shrinkable
Sleeve”.kata “Sleeve” harus dibaca “Sheet”,

Pemanasan Pendahuluan Pipa


Bagian yang akan ditutup dengan “sheet”, harus dipanskan dahulu
dengan pembakar sampai kurang lebih 60 derajat.
Panjang tumpang tindih antara pelapisan dari pabrik dan pelapisan di
lapangan haurs lebih dari 50 mm, dan tumpang tindih untuk “sheet” itu
sendiri harus lebih dari 100 mm.

Pemanasan dan Pengerutan “Sheet”


Setelah melakukan “Sheet” pada pipa, “Sheet” tersebut harus dikerutkan
dengan pembakar, secara merata, dan udara yang berada diantara
“Sheet” dan pipa harus disingkirkan seluruhnya secara perlahan tapi pasti.
Pengerutan harus dilanjutkan sampai bahan perekatnya timbul dari
“Sheet”.

(b) Pelapisan “Epoxy” atau Pelapisan “Coat Tar Epoxy”


“Sleeve Coupling” yang disediakan oleh Pemilik harus dilindungi dengan
bahan khusus. Kontraktor harus menangani bahan tersebut dengan sangat

Bab XIA -59


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

hati-hati jangan sampai merusak ataupun menggores permukaan bahan


pelapis.
Semua bagian yang rusak atau tergores dan bagian sekitarnya pada
permukaan lapisan pelindung “Sleeve Coupling” harus diberi lapisan kembali
sebagaimana berikut ini.
Semua biaya bagi bahan pelapisan “Epoxy” atau pelapisan “coal tar epoxy”,
tenaga kerja, peralatan dan perkakas harus ditanggung oleh Kontraktor.
Kontraktor harus memasukkan data teknis dan contoh (sample) bahan
pelapisan tersebut untuk persetujuan Direksi.
1) Pelapisan ”Epoxy”
- Satu (1) lapisan “epoxy primer”
- Satu (I) lapisan “epoxy finish coat”
2) Pelapisan “Coal Tar epoxy”
- Satu (1) lapisan “epoxy primer”
- Dua (2) lapisan “epoxy finish coat”

(c) Pipa Pelindung Korosi “Petrolatum”


Semua sambungan “expansion” harus dilindungi dengan pelindung korosi
”petrolatum” Bahan yang digunakan oleh Kontraktor.
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan pemasangan di bawah
pengawasan instruktur yang ditugaskan oleh pemasok bahan.
Kontraktor harus memasukkan data teknis dan contoh (sample) bahan
tersebut dengan data pengalaman instruktur yang akan ditugaskan oleh
pabrik, untuk persetujuan Direksi.
Pembungkusan pita pelindung oleh bahan tersebut, harus dilanjutkan ke
bagian beton tidak kuran dari 15 cm sesuai dengan petunjuk dari pabrik.
Permukaan yang akan dilapisi dengan pelindung korosi “petrolatum” harus
dibersihkan. Karat, kotoran dan debu, air, minyak dan lemak harus
disingkirkan seluruhnya dari permukaan yang akan dilapisi.
Setelah membersihkan permukaan, permukaan tersebut harus ditutup
dengan pasta. Cekungan harus diisi dengan bahan pengisi (filter) sampai
permukaan rata dan halus. Pasta tersebut dan bahan pengisi harus produk
yang disuplai oleh pabrik, pita pelindung korosi “petrolatum”.
Pita pelindung korosi “petrolatum” harus ditarik dengan tegangan yang cukup
agar cukup merenggangkan pita tersebut. Paling sedikit 150 mm permukaan
pita harus ditekan dengan tangan agar dapat mengikatnya dengan baik dan
mantap.
Dalam hal pita yang disediakan pemilik habis, Kontraktor harus menyediakan
pita yang sama atau setara yang disetujui Direksi atas biaya Kontraktor
sendiri.

Bab XIA -60


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.6.4. PENGUJIAN HIDROSTATIS DAN DESINFEKSI


2.6.4.1. UMUM
Setelah pemasangan jalur pipa, termasuk pipa induk, “valve”, bangunan khusus
jembatan pipa, penembusan pipa (pipe driving), perlintasan pipa dan perlengkapan
lainnya, harus dilakukan pengujian pada jalur pipa tersebut sesuai dengan spesifikasi
ini.
Pengujian tekanan air (hydrostatic-pressure test) pada jalur pipa dilakukan dengan
tujuan untuk meyakinkan/menjamin bahwa sambungan pipa dan perlengkapannya
dalam keadaan baik, kuat dan tidak bocor serta blok-blok penahan (thrus block
permanen) sanggup menahan tekanan sesuai dengan tekanan kerja pipa.
Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk pengulian
tekanan air dan pengujian kebocoran. Peralatan meter yang diperlukan untuk
penguatan tekanan dan kebocoran harus disediakan oleh Kontraktor.
Bagian jaringan pipa yang akan diuji diisi penuh dengan air. Pemborong dapat
menggunakan sumber air yang ada tanpa biaya atau menyediakan sumber air
tersendiri dengan biaya sendiri. Pengisian air ini dilakukan dengan pemompaan
(electric piston type test pump) yang dilengkapi meteran air, harus dicegah terjadinya
gelombang-gelombang tekanan, semua udara di dalam pipa harus dilepas, dan
sebuah manometer dengan kran penutupnya harus dihubungkan pada cabang
jaringan pipa yang diuji. Apabila bagian pipa yang di uji ini tidak terdapat katup udara
maka cara pengeluaran udara akan ditentukan oleh Tenaga Ahli.
1) Air untuk pengujian akan disediakan oleh Pemilik atas beban biaya Kontraktor.
2) Seluruh pekerjaan pengujian harus dilakukan dengan disaksikan oleh Direksi atau
wakilnya
2.6.4.2. UJI TEKAN
Setelah pipa dipasang, semua pipa baru yang dipasang atau setiap bagian pipa baru
yang dipasang katup harus bertekanan hidrostatis minimal 1,5 kali tekanan kerja pada
saat pengujian.

2.6.4.2.1. Batasan Tekanan


Pengujian tekanan harus sebagai berikut :
1. Tidak boleh lebih kecil dari 1,25 kali tekanan kerja pada tekanan tertinggi selama
pengujian.
2. Tidak melebihi tekanan yang direncanakan
3. Paling sedikit dilaksanakan 2 jam
4. Tidak bervariasi > ± 5 psi (0,35 bar) untuk selama pengujian
5. Tekanan yang diberikan tidak boleh melebihi 2 kali tekanan yang diijinkan untuk
katup atau hidran bila batas tekanan pengujian termasuk pada gate valves atau
hidran.
Catatan :
Katup tidak boleh dioperasikan pada saat tekanan menyebar ke semua arah
melebihi tekanan yang diijinkan

Bab XIA -61


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

6. Tidak boleh melebihi tekanan katup yang diijinkan bila batas tekanan bagian yang
diuji dari bagian uji termasuk pada saat katup tertutup, baik untuk gate valves
atau katup buterfly.

2.6.4.2.2. Tekanan Udara


Setiap bagian pipa yang dipasang katup harus diisi dengan air perlahan-lahan dan
ditentukan uji tekan, berdasarkan evaluasi dari titik terendah dari jalur pipa atau
bagian yang diuji dan dikoreksi terhadap evaluasi alat ukur pengujian, harus dilakukan
dengan cara menyambungkan pompa ke pipa. Katup-katup tidak boleh dioperasikan
baik dalam keadaan tertutup pada tekanan differensial melebihi tekanan yang
diijinkan. Cara ini berguna untuk menstabilkan uji tekan sebelum uji kebocoran.

2.6.4.2.3. Pelepasan Udara


Sebelum pelaksanaan uji tekan ditentukan, udara harus dibuang seluruhnya dari
katup dan hidran. Apabila ventilasi udara tidak dipasang pada semua titik tertinggi,
kontraktor harus memasang katup cock pada titik tersebut diatas sehingga udara
dapat dikeluarkan, katup cock harus ditutup dan uji tekan dilaksanakan.
Pada akhir uji tekan cock harus dilepas dan disumbat atau tinggalkan ditempat sesuai
dengan permintaan pemilik.

2.6.4.3. Pemeriksaan
Setiap pipa, fitting, hidran dan sambungan-sambungan yang terlihat harus diperiksa
secara cermat selama pengujian. Setiap pipa, fitting, hidran yang rusak atau cacat
ditemukan pada saat uji tekan harus diperbaiki atau diganti dengan bahan yang baik,
dan pengujian akan diulangi sampai memuaskan pemilik.

2.6.4.4. UJI KEBOCORAN


Uji kebocoran harus dilakukan segera setelah uji tekan.

2.6.4.4.1. Definisi Kobocoran


Kebocoran harus diartikan sebagai sejumlah air yang harus disuplay kedalam pipa
yang baru dipasang atau setiap bagian yang baru dipasang katup, untuk menjaga
tekanan pada 5 psi (0,35 bar) sebagai tekanan uji yang ditentukan sesudah udara
pada jalur pipa sudah dihilangkan dan pipa telah diisi dengan air. Kebocoran tidak
boleh diukur dalam keadaan tekanan turun pada saat pengujian melebihi periode
waktu pengujian yang ditentukan.

2.6.4.4.2. Kebocoran yang diijinkan


Pemasangan pipa dianggap gagal apabila tingkat kebocoran melebihi dari yang
ditentukan dalam persamaan berikut :

Bab XIA -62


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

L = SD√P
33200

Dimana :
L : Kebocoran yang diijinkan, dalam gallon/jam
S : Panjang pipa uji, dalam feet
D : Diameter pipa nominal, dalam inch
P : Tekanan uji rata-rata selama uji kebocoran, dalam pound/inch atau gauge

Dalam satuan metrik :

Lm = SD√P
2816

Dimana :
Lm : Kebocoran yang diijinkan, dalam liter/jam
S : Panjang pipa uji, dalam meter
D : Diameter pipa nominal, dalam inch
P : Tekanan uji rata-rata selama uji kebocoran, dalam bar

Formula berdasar pada kebocoran yang diijinkan dari 11,65 gpd per mil, dengan
diameter nominal D = 1 inch dan tekanan P = 150 psi
1. Kebocoran yang diijinkan, dengan variasi tekanan ditunjukkan pada tabel 11.
2. Pada pengujian terhadap dudukan katup tertutup, penambahan kebocoran
sebesar 0,0012 lt/jam dari ukuran katup nominal dapat diijinkan.
3. bila hidran pada bagian uji pengujian harus dilakukan pada hidran tertutup.

Bab XIA -63


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Tabel 11.1
Bocoran yang diijinkan untuk setiap 1000 ft (305 m) panjang pipa

Tekanan Diameter Normal Pipa (inch)


Uji
rata-rata
psi
(bar) 3 4 6 8 10 12 14 16 18 20 24 30 36 42 48 54

45 0.4 0.6 0.9 1.2 1.5 1.9 2.2 2.5 2.8 3.1 3.8 4.7 5.7 6.6 7.6 8.0
0 (31) 8 4 5 7 9 1 3 5 7 8 2 8 3 9 4 0

40 0.4 0.6 0.9 1.2 1.5 1.8 2.1 2.4 2.7 3.0 3.6 4.5 5.4 6.3 7.2 8.1
0 (28) 5 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1

35 0.4 0.6 0.8 1.1 1.4 1.6 1.9 2.2 2.5 2.8 3.3 4.2 5.0 5.9 6.7 7.5
0 (24) 2 0 4 2 0 9 7 2 3 1 7 1 6 0 4 8

30 0.3 0.5 0.7 1.0 1.3 1.5 1.8 2.0 2.3 2.6 3.1 3.9 4.6 4.4 6.2 7.0
0 (21) 9 6 8 4 0 6 2 8 4 0 2 0 8 6 4 2

27 0.3 0.5 0.7 1.0 1.2 1.4 1.7 1.9 2.2 2.4 2.9 3.7 4.4 5.2 5.9 6.7
5 (19) 7 2 5 0 4 9 4 9 4 9 9 3 8 3 8 2

25 0.3 0.5 0.7 1.9 1.1 1.4 1.6 1.9 2.1 2.3 2.8 3.5 4.2 4.9 5.7 6.4
0 (17) 6 0 1 5 9 2 6 0 4 7 5 6 7 9 0 1

22 0.3 0.4 0.6 1.9 1.1 1.3 1.5 1.8 2.0 2.2 2.7 3.3 4.0 4.7 5.4 6.0
5 (16) 4 7 8 0 3 5 8 0 3 5 0 8 5 3 1 3
20 (14)
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

0 0.3 0.4 0.6 1.8 1.0 1.2 1.4 1.7 1.9 2.1 2.5 3.1 3.8 4.4 5.0 5.7
2 5 4 5 6 8 8 0 1 2 5 9 2 6 9 3

27 0.3 0.5 0.5 1.8 0.9 1.1 1.3 1.5 1.7 1.9 2.3 2.9 3.5 4.1 4.7 5.3
5 (12) 0 9 9 0 9 9 9 9 9 8 8 8 8 7 7 6

15 0.2 0.5 0.5 1.7 0.9 1.1 1.2 1.4 1.6 1.8 2.2 2.7 3.3 3.8 4.4 4.9
0 (10) 8 5 5 4 2 0 9 7 6 4 1 6 1 6 1 7

12 0.2 0.5 0.5 1.6 0.8 1.0 1.1 1.3 1.5 1.6 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5
5 (9) 5 0 0 7 4 1 8 4 1 8 1 2 2 3 3 3

10 0.2 0.4 0.4 1.6 0.7 1.9 1.0 1.2 1.3 1.5 1.8 2.2 2.7 3.1 3.6 4.0
0 (7) 3 5 5 0 5 0 5 0 5 0 0 5 0 5 0 5

 Semua bagian jaringan yang di uji, dengan berbagai diameter, kebocoran yang diijinkan
akan merupakan jumlah kebocoran dari setiap pipa
 Untuk memperoleh kebocoran dalam liter
/ jam. Kalikan dengan 3,785

Bab XIA -65


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

2.6.4.4.3. Penerimaan Hasil Pemasangan


Penerimaan harus ditentukan sesuai dengan tingkat kebocoran
yang diijinkan. Bila pada suatu uji pipa ternyata mengeluarkan
bocoran yang lebih besar dari pada yang disyaratkan pada butir
10.3.3., kontraktor akan menentukan lokasi kebocoran dan
melakukan perbaikan seperlunya sampai kebocoran sesuai
persyaratan yang diijinkan, dan atas biaya sendiri.
Semua kebocoran yang kelihatan harus diperbaiki.

2.6.4.5. PENGGELONTORAN PIPA


Air untuk pengelontoran akan disediakan oleh Pemilik atas beban
biaya Kontraktor dan Kontraktor harus membersihkan semua pipa
yang terpasang dengan pengelontoran memakai air bersih
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.
Pengelontoran dilakukan dengan membuka / menguras cabang
pembuang (drainase branch), mulai dari hulu dan secara bertahap
kearah hilir. Jangka waktu pengurasan cabang pembuang akan
diperintahkan oleh Direksi.
Kontraktor harus dengan segera menentukan lokasi dan
memperbaiki apabila ditemukan kebocoran selama pengelontoran,
sebagaimana diperintahkan Direksi, walaupun hasil pengujian yang
disebutkan diatas disetujui oleh Direksi.

2.6.4.6. DESINFEKSI
Sebelum berfungsi dalam sistem layanan, dan sebelum dinyatakan
selesai oleh Direksi, semua pipa induk baru, perluasan atau
sambungan ke sistem yang ada, atau “valve” yang ada dalam
jaringan perluasan harus didesinfeksi dengan Chlorine sesuai
dengan prosedur berikut ini, atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi.
1) Desinfeksi harus dilakukan dengan mengisi jalur pipa dengan air
bersih yang telah diolah yang mengandung paling sedikit 10
mg/liter sisa Chlorine.
2) Setelah 24 jam, sisa Chlorine harus diperiksa dan jika lebih dari
5 mg/lt hal tersebut dapat dianggap desinfeksi telah dicapai
dengan memuaskan.
3) Walaupun demikian, jika sisa Chlorine memperlihatkan kurang
dari 5 mg/liter, harus ditambah Chlorine, diikuti dengan
tambahan periode kontrak selama 24 jam.

Desinfeksi termasuk pengukuran sisa Chlorine merupakan tanggung


jawab Kontraktor, tetapi air dan bahan kimia akan disediakan oleh
Pemilik atas beban biaya Kontraktor.

Bab XIA -66


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pekerjaan akan mencakup pemasangan pipa sementara atau


pengambilan sesuai kebutuhan bagi injeksi air Chlorine dan
pengambilan contoh air untuk pengujian di bawah pengarahan
Direksi.
Pekerjaan yang dilakukan di atas harus dilakukan setelah
penyelesaian dan diterimanya pengujian kebocoran dan tekanan
yang disyaratkan.

Bab XIA -67


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN SIPIL


3.1. UMUM
3.1.1. Pendahuluan
Spesifikasi teknis ini merupakan ketentuan yang harus dibaca bersama-
sama dengan gambar-gambar yang keduanya sama-sama menguraikan
pekerjaan yang harus dilaksanakan. Istilah pekerjaan mencakup suplai
dan instalasi seluruh peralatan dan material yang harus dipadukan
dalam konstruksi-konstruksi, yang diperlukan menurut dokumen-
dokumen kontrak, dan semua tenaga kerja yang dibutuhkan untuk
memasang dan menjalankan peralatan dan material tersebut. Spesifikasi
untuk pekerjaan yang harus dilaksanakan dan material yang harus
dipakai, harus diterapkan baik pada bagian dimana spesifikasi tersebut
ditemukan maupun bagian-bagian lain dari pekerjaan dimana pekerjaan
atau material tersebut dijumpai.

3.1.2. Lokasi Pekerjaan


Lokasi pekerjaan akan ditunjukan oleh direksi dan dapat dilihat pada
gambar-gambar rencana terlampir.

3.1.3. Ruang Lingkup Pekerjaan


Ruang lingkup pekerjaan sesuai dengan yang tertera pada daftar
kuantitas (form rencana anggaran biaya).

3.1.4. Perijinan
Setelah kontraktor ditunjuk, bila pekerjaan ini memerlukan ijin dari
instansi lain yang berwenang, maka kontraktor yang bersangkutan harus
menyelesaikan perijinan tersebut. Direksi, dalam batas-batas
kewenangannya, akan membantu untuk menyiapkan surat-surat
resminya, tetapi segala biaya yang diperlukan untuk perijinan tersebut
merupakan tanggung jawab kontraktor.
Pekerjaan di lapangan tidak diperkenankan dimulai apabila perijinan
yang diperlukan belum diperoleh.
Apabila pada saat melaksanakan pekerjaan terdapat suatu bangunan
atau material yang menghalangi pekerjaan, jika harus membongkar
bangunan/material tersebut akan memerlukan perijinan dan biaya
tambahan, maka hal tersebut terlebih dahulu harus didiskusikandengan
direksi untuk mencari jalan keluarnya.

3.1.5. Pekerjaan Pekerjaan Sementara


Jalan masuk ke lokasi, termasuk pada sarana pelengkap lain seperti
jembatan darurat dan sebagainya, yang bersifat sementara harus
disiapkan oleh kontraktor. Jika diperlukan jembatan-jembatan darurat
maka kontraktor harus merencanakannya dengan lebar minimal 3,50
meter dari kayu yang cukup kuat untuk menahan muatan gander 5 ton,
ataupun dengan perencanaan yang disetujui oleh pihak direksi.
Kontraktor wajib memelihara sarana tersebut dan semua biaya yang

Bab XIA -68


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

dikeluarkan untuk pemeliharaan tersebut menjadi tanggungan


kontraktor. Pada kahir pekerjaan,atas perintah direksi, segala sarana
tersebut kalau tidak dipergunakan lagi harus dibongkar, dirapihkan
kembali seperti keadaan semula atau seperti yang disyaratkan untuk
direksi.
Kontraktor harus membuat saluran-saluran untuk pembuangan semua
air bekas dan sisa buangan dari pekerjaan-pekerjaan, termasuk
pekerjaan sementara, yang ditimbulkan dimana saja. Cara pembuangan
harus tidak merusak lingkungan setempat dan tidak mengganggu pihak-
pihak yang mempunyai kepentingan terhadap tanah atau saluran / anak
sungai dimana air bekas dan sisa buangan akan dibuang.

3.1.6. Penyediaan Air, Tenaga Listrik dan Lampu Penerangan


Alat yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan
oleh kontraktor, termasuk penyediaan peralatan dan perpipaan
sementara untuk mengangkut air ke lokasi pekerjaan, sehingga tidak
mempengaruhi lancarnya pekerjaan. Biaya untuk keperluan tersebut
menjadi tanggungan kontraktor. Kualitas air yang disyaratkan
ditentukan pada bagian lain dari spesifikasi teknis ini.
Tenaga listrik yang diperlukan bagi pelaksanaan pekerjaan harus
disediakan sendiri oleh kontraktor dengan jenis dan kapasitas yang
sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan dan harus ada
persetujuan dari direksi. Penyediaan tenaga listrik tersebut termasuk
pula kabel-kabel, alat-alat pengukur serta fasilitas pengaman yang
diperlukan dan lampu-lampu penerangan untuk menjamin lancarnya
pelaksanaan pekerjaan.

3.1.7. Gambar Gambar Kerja


Gambar-gambar rencana untuk pekerjaan ini akan diberikan kepada
kontraktor dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dokumen
kontrak. Gambar-gambar tersebut adalah gambar-gambar yang paling
akhir setelah diadakan perubahan-perubahan dan merupakan patokan
bagi pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor wajib melaksanakan pekerjaan
sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi yang berhubungan
dengan hal tersebut.
Tidak dibenarkanya untuk menarik keuntungan dari kesalahan-
kesalahan, kekurangan-kekurangan pada gambar atau perbedaan
ketentuan antar gambar rencana dan spesifikasi teknis. Apabila
ternyata terdapat kesalahan, kekurangan, perbedaan dan hal-hal lain
yang meragukan, kontraktor harus mengajukannya kepada direksi
secara tertulis, dan direksi akan mengoreksi atau menjelaskan gambar-
gambar tersebut untuk kelengkapan yang telah disebutkan dalam
spesifikasi teknis. Koreksi akibat penyimpangan keadaan lapangan
terhadap gambar rencana akan ditentukan oleh direksi dan
disampaikan secara tertulis kepada kontraktor.
Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelumnya pelaksanaan pekerjaan,
kontraktor harus menyerahkan gambar kerja ( shop drawing) kepada

Bab XIA -69


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

pihak direksi sebanyak 3 (tiga) rangkap, termasuk perhitungan-


perhitungan yang berhubungan dengan gambar tersebut.
Gambar kerja untuk semua pekerjaan harus senantiasa disimpan
dilapangan. Gambar-gambar tersebut harus berada dalam kondisi baik,
dapat dibaca dan merupakan hasil revisi terakhir. Kontraktor juga harus
menyiapkan gambar-gambar yang menunjukan perbedaan antara
gambar rencana dan gambar kerja. Semua biaya untuk itu menjadi
tanggungan kontraktor.

3.1.8. Ukuran Ukuran


Ukuran-ukuran yang tertera pada gambar adalah ukuran sebenarnya
dan gambar tersebut adalah gambar berskala. Jika terdapat perbedaan
antara ukuran dan gambarnya, maka kontraktor harus segera meminta
pertimbangan dari para ahli untuk menetapkan mana yang benar.

3.1.9. Peralatan
Semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini
harus disediakan oleh kontraktor. Sebelum suatu tahapan pekerjaan
dimulai, kontraktor harus mempersiapkan seluruh peralatan yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan tahap pekerjaan tersebut. Penyediaan
peralatan ditempat pekerjaan, dan persiapan peralatan pekerjaan
harus terlebih dahulu mendapat penelitian dan persetujuan dari
direksi. Tanpa persetujuan direksi, kontraktor tidak diperbolehkan
untuk memindahkan peralatan yang diperlukan dari lokasi pekerjaan.
Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan peralatan yang
akan mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan harus segera
diperbaiki atau diganti hingga direksi menganggap pekerjaan dapat
dimulai.

3.1.10. Penyediaan Material


Kontraktor harus menyediakan sendiri semua material seperti yang
disebutkan dalam daftar kuantitas (daftar rencana anggaran biaya)
kecuali ditentukan lain dalam dokumen kontrak.
Untuk material-material yang disediakan oleh direksi, kontraktor harus
mengusahakan transportasi dari gudang yang ditentukan ke lokasi
pekerjaan. Kontraktor harus memeriksa dahulu material-material
tersebut dan harus bertanggung jawab atas pengangkutan sampai
dilokasi pekerjaan. Kontraktor harus mengganti material yang rusak
atau kurang akibat oleh cara pengangkutan yang salah atau hilang
akibat kelalaian kontraktor.
Semua peralatan dan material yang disediakan dan pekerjaan yang
dilaksanakan harus sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditentukan
dalam dokumen kontrak. Nama produsen material dan peralatan yang
digunakan, termasuk cara kerja, kemampuan, laporan pengujian dan
informasi penting lainnya mengenai hal ini harus disediakan bila

Bab XIA -70


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

diminta untuk di pertimbangkan oleh direksi. Bila menurut pendapat


direksi hal-hal tersebut tidak memuaskan atau tidak sesuai dengan
spesifikasi teknis yang ditentukan dalam dokumen kontrak, maka harus
diganti oleh kontraktor tanpa biaya tambahan.
Semua peralatan dan material harus disuplai dengan urutan dan waktu
sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan
pekerjaan dengan memperhitungkan jadwal waktu untuk pekerjaan
lainnya.

3.1.11. Contoh Contoh Material


Contoh-contoh material harus segera ditentukan dan diambil dengan
cara pengambilan contoh menurut standar yang disetujui direksi.
Contoh-contoh tersebut harus menggambarkan secara nyata kualitas
material yang akan dipakai pada pelaksanaan pekerjaan.
Contoh-contoh yang telah disetujui direksi harus disimpan terpisah dan
tidak tercampur atau terkotori yang dapat mengurangi kualitas
material tersebut. Penawaran kontraktor harus sudah termasuk biaya
yang diperlukan untuk pengujian material.
Jika dalam spesifikasi teknis ini tidak disebutkan harus menggunakan
material-material dari jenis atau merk tertentu, maka kontraktor harus
meminta petunjuk direksi untuk menentukan jenis atau merk material
yang baik dan diperbolehkan untuk digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini. Kontraktor dapat mengganti dengan produk atau merk
lain yang sekurang-kurangnya mempunyai kualitas yang sama dengan
kualitas yang ditentukan oleh direksi.

3.1.12. Perlindungan Terhadap Cuaca


Kontraktor, atas tanggungan sendiri dan dengan persetujuan direksi
terlebih dahulu, harus mengusahakan langkah-langkah dan peralatan
yang diperlukan untuk melindungi pekerjaan dan bahan-bahan serta
peralatan yang digunakan agar tidak rusak atau berkurang mutunya
karena pengaruh cuaca.

3.1.13. Pematokan
Kontraktor harus mengerjakan pematokan untuk menentukan
kedudukan dan peil bangunan sesuai dengan gambar rencana.
Pekerjaan ini seluruhnya harus mendapat persetujuan direksi terlebih
dahulu sebelum memulai pekerjaan selanjutnya. Direksi dapat
melakukan revisi pemasangan patok tersebut bila dipandang perlu.
Kontraktor harus mengerjakan revisi tersebut sesuai dengan petunjuk
direksi.
Sebelum memulai pekerjaan pemasangan patok, kontraktor harus
memberitahukan kepada direksi sekurang-kurangnya 2 (dua) hari
sebelumnya, sehingga direksi dapat mempersiapkan segala sesuatu
yang diperlukan untuk melakukan pengawasan.
Pekerjaan pematokan yang telah selesai, diukur oleh kontraktor untuk
mendapat persetujuan direksi. Hanya hasil pengukuran yang telah

Bab XIA -71


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

disetujui direksi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk


pembayaran pekerjaan. Kontraktor wajib menyediakan alat-alat ukur
dengan perlengkapannya, juru ukur serta pekerjaan lain yang
diperlukan oleh direksi untuk melakukan pemeriksaan/pengujian hasil
pengukuran.
Semua tanda-tanda dilapangan yang diberikan oleh direksi atau
dipasang sendiri oleh kontraktor harus tetap dipelihara dan dijaga
dengan baik oleh kontraktor. Apabila ada yang rusak harus segera
diganti dengan yang baru dan meminta kembali persetujuan dari
direksi. Bila terdapat penyimpangan dari gambar rencana, kontraktor
harus mengajukan 3 (tiga) rangkap gambar penampang dari daerah
yang dipatok tersebut. Direksi akan membubuhkan tanda tangan
persetujuan dari pendapat/revisi pada satu copy gambar tersebut dan
mengembalikannya kepada kontraktor. Setelah diperbaiki, kontraktor
harus mengajukan kembali gambar hasil memungkinkan untuk di
reproduksi. Semua gambar-gambar yang telah disetujui harus
diserahkan kepada direksi dalam kalkir asli dan 2 copy hasil
reproduksinya. Ukuran dan huruf yang digunakan pada gambar
tersebut harus sesuai dengan ketentuan direksi.

3.1.14. Rambu-rambu
Ditempat-tempat yang dipandang perlu, kontraktor harus menyediakan
rambu-rambu untuk keperluan kelancaran lalu lintas. Tanda-tanda
tersebut harus cukup jelas untuk menjamin keselamatan lalu lintas.
Apabila pekerjaan harus memotong/menyeberangi jalan dengan lalu
lintas padat, kontraktor harus melaksanakan pekerjaan secara bertahap
atau apabila dipandang perlu dilaksanakan pada malam hari. Segala
biaya untuk keperluan tersebut harus sudah termasuk didalam
penawaran kontraktor.

3.1.15. Program Kerja


Kontraktor harus menyiapkan rencana kerja secara detail dan harus
diserahkan kepada direksi paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum
pelaksanaan suatu tahapan pekerjaan dimulai.
Rencana kerja tersebut harus mencakup :
a. Usulan waktu untuk pengadaan, pembuatan dan suplai berbagai
bagian pekerjaan.
b. Usulan waktu untuk pengadaan dan pengangkutan bagian-bagian
lain ke lapangan.
c. Usulan waktu dimulainya serta rencana selesainya setiap bagian
pekerjaan dan/atau pemasangan berbagai bagian pekerjaan
termasuk pengujiannya.
d. Usulan jumlah jam kerja bagi tenaga-tenaga yang disediakan oleh
kontraktor.
e. Jumlah tenaga kerja yang dipakai pada setiap tahapan pekerjaan
dengan disertai latar belakang pendidikan, pengalaman serta
penugasannya.

Bab XIA -72


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

f. Jenis serta jumlah mesin-mesin dan peralatan yang akan dipakai


pada pelaksanaan pekerjaan.
g. Cara pelaksanaan pekerjaan.

Program kerja tersebut antara lain dituangkan dalam bentuk kurva-S


beserta lampiran penjelasannya.

3.1.16. Pemberitahuan Untuk Memulai Pekerjaan


Kontraktor diharuskan untuk memberikan penjelasan tertulis
selengkapnya apabila direksi memerlukan penjelasan tentang tempat-
tempat asal mula material yang didatangkan untuk suatu tahap
pekerjaan sebelum mulai pelaksanaan tahapan tersebut. Dalam
keadaan apapun, kontraktor tidak dibenarkan untuk memulai
pekerjaan yang sifatnya permanen tanpa mendapat persetujuan
terlebih dahulu dari direksi.
Pemberitahuan yang jelas dan lengkap harus terlebih dahulu
disampaikan kepada direksi sebelum memulai pekerjaan, agar direksi
mempunyai waktu yang cukup untuk mempertimbangkan
persetujuannya.
Pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan yang menurut direksi penting, harus
dihadiri dan diawasi langsung oleh direksi atau wakilnya.
Pemberitahuan tentang akan dilaksanakannya pekerjaan-pekerjaan
tersebut harus sudah diterima oleh direksi selambat-lambatnya 2 (dua)
hari sebelum pekerjaan dilaksanakan.

3.1.17. Rapat Rapat


Apabila dipandang perlu, direksi dan/ atau kontraktor dapat
mengadakan rapat-rapat dengan mengundang kontraktor dan
konsultan serta pihak-pihak tertentu yang berkaitan dengan
pembahasan dan permasalahan pelaksanaan pekerjaan. Semua hasil /
risalah rapat merupakan ketentuan yang bersifat mengikat bagi
kontraktor.

3.1.18. Prestasi Kemajuan Pekerjaan


Prestasi kemajuan pekerjaan ditentukan dengan jumlah prosentasi
pekerjaan yang telah diselesaikan kontraktor dan disetujui oleh direksi.
Prosentase pekerjaan ini dihitung dengan membandingkan nilai volume
pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap nilai kontrak keseluruhan.
Pembayaran akan dilakukan sesuai dengan prestasi kemajuan
pekerjaan berdasarkan harga satuan yang tercantum dalam kontrak.

3.1.19. Penyelesaian Pekerjaan


Pekerjaan harus mencakup seluruh elemen yang diperlukan walaupun
tidak diuraikan secara khusus dalam spesifikasi teknis dan gambar-
gambar, namun tetap diperlukan agar hasil pelaksanaan pekerjaan
dapat berfungsi dengan baik secara keseluruhan sesuai dengan
kontrak.

Bab XIA -73


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kontrak harus menguji hasil pekerjaansetiap tahap dan/ atau secara


keseluruhan sesuai dengan ketentuan spesifikasi teknisnya. Apabila
dari hasil pengujian terdapat bagian pekerjaan yang tidak memenuhi
syarat, kontraktor dengan biaya sendiri harus melaksanakan perbaikan
sampai dengan hasil pengujian ulang berhasil dan dapat diterima oleh
direksi.

3.1.20. Laporan Laporan


Selama periode pekerjaan di lapangan, kontraktor harus membuat
laporan harian dan laporan mingguan yang menggambarkan kemajuan
pekerjaan. Laporan tersebut harus memuat sekurang-kurangnya
informasi yang mencakup :

a. Uraian mengenai kemajuan kerja yang sesungguhnya dicapai


menjelang akhir minggu.
b. Jumlah personil yang bertugas selama minggu tersebut.
c. Material dan barang-barang serta peralatan yang disediakan.
d. Kondisi cuaca.

3.2. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN SIPIL


Semua pekerjaan sipil mengacu kepada acuan normative yang telah ada,
antara lain :
SNI 07-0076-4987 Tali kawat baja
SNI 03-0349-1989 Bata beton untuk pasangan dinding
SNI 03-1727-1989 Pedoman perencanaan pembebanan untuk rumah
dan gedung
SNI 03-1738-1989 Panduan pengujian CBR lapangan
SNI 03-1742-1989 Metode pengujian kepadatana ringan untuk tanah
SNI 03-1743-1989 Metode pengujian kepadatana berat untuk tanah
SNI 03-1744-1989 Metode pengujian CBR laboratorium
SNI 05-0820-1989 Baja profil I, C dan L
SNI 03-1749-1990 Cara penentuan butir agregat untuk adukan dan
beton
SNI 03-1750-1990 Mutu dan cara uji agregat beton
SNI 03-1753-1990 Cara penentuan butir halus lebih kecil dari 70 mikron
agregat kasar untuk beton
SNI 03-1754-1990 Cara penentuan butir halus lebih kecil dari 50 mikron
agregat kasar untuk beton
SNI 03-1756-1990 Cara penentuan kadar zat organik agregat halus untuk
beton
SNI 03-1765-1990 Cara uji butiran pipih dan panjang agregat untuk
beton
SNI 03-1964-1990 Metode pengujian berat jenis tanah
SNI 03-1965-1990 Metode pengujian kadar air tanah
SNI 03-1966-1990 Metode pengujian batas plastis
SNI 03-1967-1990 Metode pengujian batas cair dengan alat casagrande

Bab XIA -74


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

SNI 03-1968-1990 Metode pengujian tentang analisis saringan agregat


halus dan kasar
SNI 03-1969-1990 Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air
agregat kasar
SNI 03-1970-1990 Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air
agregat halus
SNI 03-1971-1990 Metode pengujian tentang kadar air agregat
SNI 03-1972-1990 Metode pengujian slump beton
SNI 03-1974-1990 Metode pengujian kuat tekan beton
SNI 03-2417-1991 Metode pengujian keausan agregat dengan mesin los
angeles
SNI 03-2455-1991 Metode pengujian laboratorium traxial A
SNI 03-2458-1991 Metode pengambilan contoh untuk campuran beton
segar
SNI 03-2493-1991 Pembuatan dan perawatan benda uji beton di
laboratorium
SNI 03-2495-1991 Spesifikasi bahan tambahan untuk beton
SNI 15-2530-1991 Metode pengujian kehalusan Semen Portland
SNI 15-2531-1991 Metode pengujian berat jenis Semen Portland
SNI 03-2647-1992 Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan
gedung
SNI 03-2813-1992 Metode pengujian geser langsung tanah
terkonsolidasi dengan drainase
SNI 03-2815-1992 Metode pengujian laboratorium traxial B (benda uji
tanah)
SNI 03-2816-1992 Metode pengujian kotoran organic dalam pasir untuk
campuran mortar dan beton
SNI 03-1969-1990 Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air
agregat kasar
SNI 03-2819-1992 Metode pengukuran debit sungai dan saluran terbuka
dengan alat ukur tipe baling-baling
SNI 03-2828-1992 Metode pengujian kepadatan lapangan dengan alat
konus pasir
SNI 03-2832-1992 Metode pengujian untuk mendapatkan kepadatan
tanah maksimum dengan kadar air optimum
SNI 03-2914-1992 Spesifikasi beton bertulang kedap air
SNI 03-3402-1994 Metode pengujian berat isi beton ringan struktural
SNI 03-3407-1994 Sifat kekekalan bentuk agregat terhadap larutan
sodium sulfat
SNI 03-3422-1994 Metode pengujian batas susut tanah
SNI 03-3423-1994 Metode pengujian analisis ukuran butir tanah dengan
alat hydrometer
SNI 15-2049-1994 Semen Portland
SNI 03-3976-1995 Tata cara pengadukan dan pengecoran beton
SNI 15-3758-1995 Semen adukan pasangan
SNI 03-4142-1996 Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang
lolos saringan no. 200 (0,0075 mm)

Bab XIA -75


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

SNI 03-4431-1997 Metode pengujian lentur beton normal dengan 2 titik


pembebanan
SNI 03-4804-1998 Metode pengujian berat isi rongga udara dalam
agregat
SNI 03-6154-1999 Kawat beronjong
SNI 03-2094-2000 Bata merah pejal untuk pasangan dinding
SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton
normal
SNI 03-6451-2000 Metode pengujian kuat lentur semen hidrolik
SNI 03-6477-2000 Metode penentuan nilai 10% kehalusan untuk agregat
SNI 07-6401-2000 Spesifikasi kawat baja dengan proses kanal dinding
untuk tulangan beton
SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan
gedung
SNI 03-2491-2002 Metode pengujian kuat tarik belah beton
SNI 03-2835-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah
SNI 03-3449-2002 Tata cara perancangan campuran beton ringan
dengan agregat ringan
SNI 03-6762-2002 Metode pengujian tiang pancang terhadap bahan
lateral
SNI 03-6796-2002 Metode pengujian untuk menentukan daya dukung
tanah dengan beban statis pada pondasi dangkal
SNI 03-6806-2002 Tata cara perhitungan beton tidak bertulang
structural
SNI 03-6812-2002 Anyaman kawat baja polos yang dilas untuk tulangan
beton
SNI 03-6814-2002 Tata cara pelaksanaan sambungan mekanis untuk
tulangan beton
SNI 03-6817-2002 Metode pengujian mutu air untuk digunakan dalam
beton
SNI 03-6820-2002 Spesifikasi agregat halus untuk pekerjaan adukan dan
plesteran dengan bahan dasar semen
SNI 03-6821-2002 Spesifikasi agregat ringan untuk batu cetak beton
pasangan dinding
SNI 03-6825-2002 Metode pengujian kekuatan tekan mortar semen
portland untuk pekerjaan sipil
SNI 03-6861.2-2002 Spesifikasi bahan bangunan bagian B (bahan
bangunan dari (besi/baja)
SNI 03-6880-2002 Spesifikasi beton structural
SNI 03-6882-2002 Spesifikasi motar untuk pekerjaan pasangan
SNI 03-6889-2002 Tata cara pengambilan contoh agregat
SNI 03-6897-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan dinding
AASHTO M133-86 Pengawetan kayu untuk tiang pancang.

Bab XIA -76


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

3.2.1. PEKERJAAN TANAH


1. Umum
Sebelum pekerjaan lapangan dimulai, lokasi dari tempat pekerjaan harus
ditinjau dahulu oleh tenaga ahli.
Kalau sekiranya tidak ada kesamaan antara keadaan lapangan dan keadaan
seperti yang ditunjukan dalam gambar, pemborong harus segera
menyampaikan kepada Direksi secara tertulis untuk mendapatkan
penyelesaian lebih lanjut, juga pemborong harus menentukan letak
bangunan pelengkap seperti Direksi keet, gudang dan sebagainya.

2. Pembersihan Tempat Pekerjaan


Seluruh pepohonan, semak belukar dan akar-akar pohon didalam daerah
batas pekerjaan untuk seluruh panjang dari bangunan harus dibersihkan
dan ditebang, termasuk setiap pohon diluar batas-batas ini yang
diperkirakan dapat jatuh dan menghalangi bangunan, kecuali ada
pernyataan lain yang tertuang didalam syarat-syarat khusus dan gambar
rencana.
Bagian atas tanah tanaman harus tersendiri digali sampai kira-kira
kedalaman 20 cm dan ditimbun diatas tempat yang layak, agar dapat
digunakan lagi.
Pembersihan dan pengupasan diluar batas daerah pekerjaan tidak diberikan
pembayaran kepada pemborong, kecuali pekerjaan tersebut atas
permintaan dari Direksi dan persetujuan dari pemberi tugas.
Bila dinyatakan syrat-syrat khusus atau diperintahkan oleh Direksi bahwa
pepohonan rindang dan tanaman ornamen tertentu akan diperintahkan,
maka pepohonan/tanaman tersebut harus dijaga betul dari kerusakan atas
biaya pemborong.
Pepohonan yang harus disingkirkan, harus ditebang sedemikian rupa
dengan tidak merusak pepohonan/tanaman lain yang dipertahankan,
semua pohon, batang pohon, akar dan sebagainya harus dibongkar dengan
kedalaman minimal 0 cm dibawah permukaan tanah aslidari permukaan
akhir (ditentukan oleh permukaan mana yang lebih rendah). Dan bersama-
sama dengan seluruh tempat sampah dalam segala bentuknya pada tempat
yang tidak terlihat segala bentuknya harus dibuang pada tempat yang tidak
terlihat dari tempat pekerjaan menurut cara yang praktis atau dibakar.
Seluruh pekerjaan termasuk pagar, yang terjadi pada saat pembersihan,
harus diperbaiki oleh pemborong atau tanggungannya sendiri. Bila akan
diberitahukanpembakaran hasil penebangan, pemborong harus
memberitahukan kepada penghuni, dari milik-milik yang berbatasan dengan
pekerjaan minimal 48 jam sebelumnya. Pemborong akan selalu bertindak
sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku mengenai pembakaran
ditempat terbuka.
Pada pelaksanaan pembersihan, pemborong harus berhati-hati untuk tidak
mengganggu setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atau tanda-tanda
lainnya. Perhitungan pembiayaan untuk pekerjaan ini mencakup
penyediaan peralatan, tenaga dan pembuangan bahan-bahan sisa

Bab XIA -77


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

dibebankan kepada pemborong dan dikerjakan sesuai dengan petunjuk


Direksi.

3. Galian Tanah
a. Umum
Galian tanah dilaksanakan pada :
 Semua galian dari bangunan yang masuk dalam tanah
 Semua bagian dari tanah yang harus dibuang
 Semua bagian dari tanah yang harus dibuang
Galian tanah yang harus dilaksanakan seperti yang tertera dalam gambar,
baik mengenai lebar, panjang, dalam, kemiringan, dan sebagainya, dan
benar-benar waterpass. Kalau ternyata akan menimbulkan kesulitan-
kesulitan pelaksanaan kalau dilaksanakan menurut gambar, Pemborong
boleh mengajukan usul kepada Direksi mengenai cara pelaksanaannya.

b. Klasifikasi Galian
Galian akan diklasifikasikan dalam pengukuran dan pembiayaan sebagai
berikut:
 Galian tanah biasa
 Galian tanah sedang, misalnya : pasir, lempung, cadas muda, dan
sebagainya.
 Galian batu terdiri dari galian material yang umumnya menurut Direksi
perlu menggunakan bor dan atau bahan peledak atau alat-alat khusus
lainnya.
 Galian dimana timbul persoalan air tanah pada kedalamanlebih dari 20
cm dari permukaan air konstan, dimana biasanya air tanah naik pada
penggalian pondasi.

c. Cara Pelaksanaan Pekerjaan


Pemborong harus memberitahukan kepada Direksi sebelum mulai
mengerjakan pekerjaan galian, sehingga penampang,peil,dan
pengukurannya dapat dilakukan pada keadaan tanah yang belum diganggu
tanpa seijin dari Direksi.
Galian dari pondasi pada batas-batas kemiringan dan peil yang dicantumkan
pada gambar rencana atau atas petunjuk Direksi, galian tersebut harus
mempunyai ukuran yang cukup, agar penempatan konstruksiatau lantai
pondasi dengan dimensi yang sesuai dengan gambar rencana mudah
dilaksanakan.
Peil dasar lantai pondasi seperti yang tercantum pada gambar rencana,
tidak boleh dianggap bersifat pasti. Direksi dapat menentukan perubahan
dimensi peil dari lantai pondasi jika dipandang perlu, agar pondasi tersebut
dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya. Batu-batu besar, kayu, serta
rintangan-rintangan lain yang mungkin ditemui dalam galian harus dibuang.
Sesudah galian selesai, pemborong harus memberitahukan Direksi akan hal
ini, dan tidak diperkenankan untuk melaksanakan penaikan tanah dasar
pondasi dan melaksanakan lantai pondasi sebelumDireksi setuju dengan
ukuran dan kedalaman ukuran material-material pondasi serta konstruksi-

Bab XIA -78


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

konstruksi yang akan dipasang pada lubang galian tersebut. Semua retakan
atau celah-celah yang ada harus dibersihkan dan, diisi dengan spesi (injeksi),
serta semua material lepas, batu-batuan lapuk, lapisan-lapisan yang tipis
harus dibuang.

d. Coffer Dam
Untuk galian dibawah air atau di bawah permukaan air tanah, harus
digunakan coffer dam. Sebelum dimulainya pekerjaan, Pemborong harus
memberikan gambar rencana coffer dam yang akan dikerjakan kepada
Direksi untuk disetujui.
Coffer dam untuk galian pondasi harus dibuat cukup dalam dibawah
permukaan dasar pondasi yang cukup kedap air, dan diperkuat dengan
silang-silang penguat yang cukup kuat, agar keselamatan kerja terjamin.
Luas Coffer Dam harusdirencanakan cukup untuk penempatan perancah
atau acuan pondasi serta besiuntuk keperluan pemompaan air keluar acuan
beton.
Coffer Dam harus direncanakan sedemikian rupa agar cukup memenuhi
syarat untuk melindungi beton muda dari arus air deras atau erosi, silang-
silang penguat dan bagian-bagian lain dari Coffer Dam tidak diperbolehkan
masuk ke dalam dan menjadi bagian permanen dari pondasi tanpa
persetujuan Direksi, jadi harus dibongkar dengan hati-hati agar tidak
merusak konstruksi.
Pohon-pohon yang ditebang, tidak diperkenankan jatuh pada milik
perorangan, tanpa ijin khusus dari pemiliknya, dan kontraktor atas
tanggungannya menyingkirkan pohon-pohon tersebut atau membiarkan di
tempat semula asal ada persetujuan tertulis dari pemiliknya.
Seluruh kerusakan termasuk pagar, yang terjadi pada saat pembersihan,
harus diperbaiki oleh Pemborong atas tanggungannya sendiri. Dalam hal
akan dilakukan pembakaran, pemborong akan memberitahukan kepada
penghuni dari milik-milik yang berbatasan dengan pekerjaan, pemborong
akan selalu bertindak sesuai dengan peraturan-peraturan Pemerintah yang
berlaku mengenai pembakaran ditempat terbuka.
Pada pelaksanaan pembersihan, pemborong harus berhati-hati untuk tidak
mengganggu setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atau tanda-tanda
lainnya. Perhitungan biaya untuk pekerjaan ini mencakup penyediaan
peralatan, tenaga dan pembuangan bahan-bahan sisasedemikian, sehingga
sesuai dengan petunjuk Direksi.

e. Genangan Air di Dalam Galian


Pemborong harus menjaga pada waktu pelaksanaan pekerjaan, agar lubang
galian tidak digenangi air yang ditimbulkan oleh air hujan ataupun yang
keluar dari mata air. Kalau lubang galian digenangi air, maka Pemborong
harus mengeluarkan dengan jalan memompa, menimba, atau mengalirkan
lewat parit-parit pembuang. Bila terjadi keadaan dimanamenurut
pandangan Direksi adalah tidak mungkin memompa air tanah yang cepat
sekali naik atau karena sebab-sebab lain sehubungan dengan adanya daya
angkat air, maka mungkin diperlukan suatu lantai beton sealdengan

Bab XIA -79


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

dimensi cukup.agar penempatan besi/pengecoran beton untuk pondasi


dapat dikerjakan sebagaimana layaknya.
Usaha pemompaan air ini tidak dalam Coffer Dam hendaknya dilengkapi
dan dikerjakan sedemikian agarbeton muda atau bagian-bagian dari
padanya tidak ikut terbawa dalam proses pemompaan.
Pemompaan tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum lantai beton seal
cukupmenjadi keras.

f. Pemeriksaan Penggalian dan Pengisian


Penggalian dan pengisian harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi dan
kalau perlu oleh pengawas setempat sebelum dimulainyatahap konstruksi.
Direksi akan segera memberitahukan kalau pengisian selesai sehingga ia
dapat bersiap-siap untuk mengetes secara tepat kepadatannya.
Setelah penggalian disetujui kontraktor harus segera mulai dengan tahap
konstruksi berikutnya dan tidak boleh membiarkan parit penggalian
ditinggal terbuka dalam jangka waktu lama untuk hal-hal yang tidak perlu.

4. Urugan Tanah
a. Umum
Urugan dilaksanakan pada :
 Semua bekas lubang pondasi
 Semua bagian yang harus ditinggikan, dengan jalan menimbun, urugan
tanah harus dilaksanakan menurut gambar serta peil-peil yang telah
ditetapkan, juga termasuk perataan dan penyelesaian tanah halaman
sekitarnya.

b. Penggunaan Material Bekas Galian


Pemborong harus menjamin bahwa semua material bekas galian yang akan
dipergunakan kembali ditempatkan secara terpisah dan dilindungi dari
segala pengotoran-pengotoran seperti bahan-bahan yang dapat merusak
beton, akar dari pohon, kayu dan sebagainya.
Berbagai jenis dan material sebaiknya diletakkan terpisah, misalnya material
yang sifatnya keras dipisahkan dari yang sifatnya lembek, seperti lempung
dan sebagainya. Penggunaan jenis-jenis material yang akan dipakai untuk
keperluan penggunaan harus ada persetujuan dari Direksi.

c. Urugan Tanah
Semua pekerjaan pengurugan harus dilaksanakan lapis demi lapis horizontal
dan dipadatkan.
Tebal dari tiap lapis diambil 15 cm dan selama proses pemadatan, harus
dibasahi dengan air untuk mendapatkan hasil pemadatan yang maksimum.
Pemadatan harus dilakukan dengan alatpemadat mekanis (compactor) dan
untuk pekerjaan yang besar sifatnya, dapat dipakai roller dan sebagainya,
dengan kapasitas yang sesuai.
Tanah harus dipisahkan terlebih dahulu dari bahan-bahan yang dapat
membahayakan, misalnya dapat merusak permukaan beton ataupun
lapisan finishing yang lain.

Bab XIA -80


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pengurugan dilaksanakan sampai mencapai peil yang ditetapkan dan


diratakan sampai nantinya tidak akan timbul cacat-cacat seperti turunnya
permukaan, bergelombang, dan sebagainya.

5. Urugan Pasir
Pada prinsipnya, pekerjaan pengurugan dengan pasir dilaksanakan sama
seperti pada pengurugan dengan tanah timbunan.
6. Lain-lain
Pengurugan dengan bahan-bahan lain, misalnya dengan gravel, pecahan
batu merah, dan sebagainya harus bersih, bebas dari kotoran-kotoran, serta
mempunyai gradasi yang sesuai dengan yang diperuntukkan.
7. Cara Pengukuran Hasil Kerja dan Dasar Pembiayaan
Jumlah yang akan dibayar, adalah jumlah kubikasi dalam m³ dari tanah
galian yang diukur dalam keadaan asli dengan cara luas ujung rata-rata atau
kubikasi dalam m³ dari tanah yang dipadatkan dari tanah yang dipadatkan
pada pekerjaan urugan.
Volume tanah atau batu-batuan yang diukur adalah volume dari prisma
yang dibatasi bidang-bidang, sebagai berikut :
a. Bidang atas, adalah bidang horizontal seluas bidang pondasi yang
melewati titik terendah dari pertokoan tanah asli. Di atas bidang
horizontal ini galian tanah diperhitungkan sebagai galian tanah biasa
yang sesuai dengan sifatnya.
b. Bidang bawah, adalah bidang dasar pondasi.
c. Bidang tegak, adalah bidang vertikal keliling.

Pengukuran volume tidak diperhitungkan untuk galian yang dilakukan di


bawah bidang dasar pondasi atau di bawah bidang batas bawah yang
ditentukan oleh Direksi. Juga tidak diperhitungkan untuk galian yang
diakibatkan oleh pengembangan tanah, pemancangan, longsor, bergeser,
runtuh atau karena sebab-sebab lain.
Kedudukan dasar pondasi yang tercantum pada gambar rencana, hanya
bersifat pendekatan dan perubahan-perubahan sesuai dengan ketentuan
Direksi dapat diadakan tanpa tambahan pembiayaan.
Volume galian konstruksi untuk tanah-tanah dibawah muka air tanah, akan
dibayar tersendiri, yaitu untuk volume tanah galian yang terletak
minimum20 cm dibawah muka air tanah konstan pada lubang galian.
Jumlah yang diukur dengan cara seperti tersebut diatas tanpa
mempertimbangkan cara dimana material tersebut akan dibuang, dibayar
menurut harga satuan sesuai dengan mata pembiayaan yang akan disebut
dibawah ini.
Harga tersebut harus telah mencakup semua pekerjaan yang perlu dan hal-
hal lain yang umum dikerjakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan
sebaik-baiknya.

Bab XIA -81


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

3.2.2. PEKERJAAN BETON


1. Umum
Beton harus merupakan campuran dari semen, agregat halus, agregat kasar
dan air, dengan perbandingan sedemikian sehingga dalam beton yang
dihasilkan, jumlah semen yang terdapat didalamnya minimal sesuai dengan
persyaratan dalam spesifikasi. Hasil akhir pekerjaan harus berupa beton
yang baik, padat dan tahan lama serta memiliki kekuatan dan sifat-sifat lain
sebagaimana disyaratkan.
Perbandingan antara agregat halus dan agregat kasar tergantung dari
gradasi bahannya, tetapi jumlah agregat harus minimal sehingga
menghasilkan kemudahan untuk dikerjakan dan kosistensi yang sesuai
dengan kondisi dan cara pengecoran beton.
Semua bahan, pengujian lain-lain yang diuraikan dalam spesifikasi ini
mengikuti standar Indonesia yang telah diterapkan dengan tujuan
menerapkan suatu standar yang dapat diterima. Standar lokal atau standar
lainnya dapat pula diterapkan asal sudah disetujui oleh dreksi sebagai
setara.

2. Bahan Bangunan Secara Umum


Semua bahan harus merupakan mutu terbaik yang tersedia dan sesuai
dengan “Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia ( NI – 3 )”, British
Standard yang relevan atau yang setara.
Kontraktor harus menyediakan contoh dari semua bahan yang dipakai
untuk pekerjaan beton, untuk memperoleh persetujuan dari Direksi dan
tidak boleh memesan bahan tersebut dalam jumlah besar sebelum
diberikan persetujuan untuk pemakaian bahan.
Direksi akan menahan contoh-contoh bahan yang sudah disetujui sebagai
patokan, pengiriman-pengirimanbahan selanjutnya akan dicek
kesesuaiannya dengan contoh tersebut.
Kontraktor tidak boleh melakukan penyimpangan yang berarti terhadap
contoh yang sudah disetujui, tanpa persetujuan dari Direksi.
Semua bahan yang ditolak dari Direksi harus segera disingkirkan dari
lapangan atas biaya kontraktor.

3. Semen
Semen harus berupa semen portland (PC) biasa yang sesuai dengan standar
NI – 8 sebagaimana yang dinyatakan dalam PBI 71 atau British Standard No.
12 : 1958 untuk kelas I – Z 475.
Semua semen yang berasal dari pabrikan yang sudah disetujui oleh Direksi
dan harus dikirim ke lapangan dalam kantor yang tertutup auat dalam
tempat lain dari pabrikan yang sudah disetujui.
Bilamana dikehendaki oleh Direksi, Kontraktor harus memberikan pada
Direksi, satu faktur untuk tiap pemasangan semen, dimana tertera nama
pabrikan, jenis dan jumlah semen yang dikirim, bersama dengan sertifikat

Bab XIA -82


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

pengujian dari pabrikan yang menyatakan bahwa semen yang dikirim sudah
diuji dan dianalisa dalam segala hal sesuai dengan standar.
Semua semen harus diangkut dan disimpan dalam dalam tempat yang tidak
tembus air serta dilindungi dari kelembaban sampai saat pemakaian, semen
yang membatu atau menggumpal atau yang rusak kantongnya akan ditolak.
Semen harus menjalani pengujian tambahan yang sesuai dengan standar
bila dianggap perlu oleh Direksi. Direksi berhak untuk menolak semen yang
tidak memuaskan, sekalipun sudah terdapat sertifikat dari perbaikan.
Semua semen yang ditolak harus segera disingkirkan dari lapangan atas
biaya kontraktor. Kontraktor harus menyediakan semua contoh pengujian
dan memberikan bantuan yang mungkin diperlukan oleh Direksi untuk
melakukan pengujian.
Kontraktor harus menjamin agar setiap saat terdapat persediaan semen
dalamjumlah yang cukup dilapangan sehingga kemajuan kerja tidak
terganggu dan memberikan waktu yang cukup untuk pelaksanaan
pengujian.
Kontraktor harus menyediakan dan mendirikan gudang-gudang ditempat
yang sesuai untuk menyimpan dan menangani semen, gudang-gudang
tersebut harus benar-benar kering, berventilasi baik, tidak tembus air dan
berkapasitas cukup. Lantai gudang minimal harus 30 cm diatas air yang
mungkin tergenang dilantai. Ketika diangkut kelapangan dengan
lori/gerobak, semen harus ditutup dengan terpal atau bahan penutup lain
yang tidak tembus air, semen harus sesegera mungkin digunakan setelah
dikirim dan setiap semen yang menurut pendapat Direksi sudah rusak atau
tidak sesuai lagi akibat penyerapan air dari udara atau dari manapun, harus
ditolak dan disingkirkan dari lapangan atas biaya kontraktor.
Semen-semen yang berlainan jenis harus disimpan dalam gudang terpisah,
semen-semen harus disimpan menurut pengiriman sedemikian sehingga
yang dikirim dahulu dapat dipakai lebih dahulu.
4. Agregat
Agregat harus sesuai dalam segala hal dengan PBI 1971, bagian 2 atau B.S
No. 852 1965.
Agregat kasar adalah agregat yang tertahan pada saringan 5 mm dan
agregat halus adalah agregat yang lolos saringan 5 mm.
Untuk struktur atas dan beton tumbuk, agregat kasarnya harus bergradasi
dari 25 mm sampai 5 mm. Pemakaian agregat all – in (semua gradasi) tidak
diperbolehkan.
Untuk beton kurus harus bergradasi dari 38 mm – 5 mm sebelum
pembetonan dimulai, sejumlah contoh tiap ukuran dan jenis agregat harus
diserahkan kepada Direksi untuk disetujui. Dari jumlah tiap tersebut
kontraktor harus mengambil dua contoh yang refresentatif dan
mengadakan analisa gradasi serta pengujian lain sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi. Semuanya harus sesua dengan Brtish Standard
No. 812 : 1968 atau yang setara.

Bab XIA -83


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Bila agregat yang disetujui oleh Direksi sudah terpilih, kontraktor harus
mengusahakan agar seluruh pemasukan untuk tiap bahan berasal dari satu
sumber yang disetujui untuk menjaga agar mutu gradasi dapat
dipertahankan pada seluruh pekerjaan.
Pengujian lebih lanjut untuk menentukan variasi kemurnian atas gradasi
bahan harus dilakukan sekurang-kurangnya satu kali untuk tiap 25 ton yang
dipasok.
Harus disediakan kapasitas penyimpangan yang mencukupi, baik disumber
pemasokan atau dilapangan untuk agregat halus dan kasar yang mutu serta
gradasinya sudah disetujui guna menjaga kesinambungan kerja.

5. Unsur-unsur Tambahan/Additif
Pada umumnya pemakaian additif dalam beton diperbolehkan asalkan
sudah memperoleh persetujuan tertulis dari Direksi.
Untuk beton kelas K 225 dianjurkan pemakaian super plasticizer, pada
dasarnya untuk mengurangi rasio semen air guna membatasi penyusutan.
Kontraktor harus memenuhi bahwa waktu pengadukan yang sangat tepat
sangat penting dan jika dipakai aditif ini, kontraktor memberikan usulan
secara terinci.

6. Adukan Percobaan
Dari adukan yang diusulkan harus diambil kubus uji sebagai berikut :
Untuk setiap 6 beton harus dibuat 6 kubus.
Tiga kubus harus diuji pada umur 7 hari dan tiga kali pada umur 28 hari.
Pada tiap umur pengujian kekuatan kubus tidak ada boleh yang lebih
rendah dari 1 1/3 kali kekuatan kerja kubus uji yang disyaratkan, sebelum
memulai pekerjaan, detil lengkap mengenai pengujian ini bersama analisa
gradasi dan perhitungan rencana campuran (mix design) kontraktor tidak
boleh melakukan pengecoran bagian manapun sebelum rencana
campurannya disetujui oleh Direksi. dIreksi berwenang untuk meminta agar
kontraktor menyerahkan hasil pengujian pada tenggang waktu tertentu dari
beton yang dicor dalam pekerjaan kontraktor harus sudah
memperhitungkan biayanya dalam nilai kontraktor.
Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor harus menyediakan 6 kubus beton
dari tiap kelas, kubus harus diuji pada tiap kekuatan 28 hari setelah dibuat.
Kontraktor harus menyerahkan pada Direksi detil lengkap mengenai
pengujian ini bersama dengananalisa gradasi dan perhitungan rencana
campuran. Kontraktor tidak boleh melakukan pengecoran dibagian sebelum
Direksi menyetujui rencana campuran,

Bab XIA -84


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

7. Kelas Beton
Tabel 5-1 Kelas Beton
Mutu Ukuran Agregat Maks.(mm) Rasio Air/Semen Kadar Semen
Beton Maks. (terhadap Min. (kg/m3 dari
berat) campuran)
K-350 37 0,45 315
25 0,45 335
19 0,45 365
K-300 37 0,45 300
25 0,45 320
19 0,45 350
K-225 37 0,50 290
25 0,50 310
19 0,50 340
K-175 - 0,57 300
K-125 - 0,60 250

Perbandingan campuran yang diberikan diatas telah diperkirakan guna mencapai kekuatan yang disyaratkan pada
umur 28 hari setelah pengecoran, dengan ketentuan bahwa bahan yang dipakai bermutu baik dan pengawasan
dilakukan dengan baik.
Beton dinilai dengan pengertian bahwa kekuatan yang disyaratkan untuk kelas tertentu lebih menentukan
daripada perbandingan campuran yang diperlihatkan.
Jika ternyata kekuatan tidak terpenuhi, Direksi berwenang untuk memperbaiki perbandingan campuran atas biaya
kontraktor untuk mencapai kekuatan rencana.

Tabel 5-2 Mutu Beton

Mutu Kuat tekan karakteristik min. (kg/Cm2) Slump(mm)


Beton Benda uji kubus Benda uji silinder digetarkan Tidak
15x15x15 cm 15x30 cm digetarkan
7 hari 28 hari 7 hari 28 hari
K-350 250 350 210 290 20-50 50-100
K-300 215 300 180 250 20-50 50-100
K-225 150 225 125 190 20-50 50-100
K-175 115 175 95 145 20-50 50-100
K-125 80 125 70 105 20-50 50-100

8. Pengujian Beton dan Bahan-bahan Beton


Pada umumnya metode pengujian sesuai dengan PBI 1971 bagian 4.7 dan
dapat juga mencakup pengujian slum dan kompresi. Jika beton tidak dapat
memenuhi syarat percobaan slump, adukan yang tidak disetujui tidak boleh
dipakai dan harus disingkirkan dari lapangan oleh kontraktor. Jika pengujian
tekan (kompresi) gagal, harus diterapkan prosedur perbaikan sebagaimana
diuraikan dalam PBI 1971.
Percobaan kubus harus dilaksanakan menurut instruksi dari Direksi, tetapi
sekurang-kurangnya 1 kubus untuk setiap 10 m³ atau 5³ minimal 3 kubus
tiap hari.

Bab XIA -85


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kubus-kubus tersebut harus ditempatkan dalam kondisi yang sama dengan


kondisi yang sebenarnya dan harus diuji setelah 7 atau 28 harus menurut
keputusan Direksi. Biaya percobaan ini akan dibebankan pada kontraktor.

9. Pengontrolan Mutu Beton dan Pengujian Kekuatan di lapangan


Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya untuk menghasilkan beton yang
seragam yang memiliki kekuatan serta sifat-sifat lain sebagaimana
ditetapkan. Untuk ini kontraktor harus menyediakan dengan biaya sendiri
serta mempergunakan alat penimbang yang akurat, sistem volumetrik yang
akurat untuk mengukur air, peralatan yang sesuai untuk mengaduk dan
mengecor beton serta peralatan dan fasilitas lain yang diperlukan untuk
pengujian sebagaimana yang diuraikan disini atau menurut petunjuk
Direksi.

10. Penolakan Beton


Jika pengujian kekuatan tekan dari suatu kelompok kubus uji gagal
mencapai standar yang ditetapkan, maka Direksi berwenang untuk menolak
seluruh pekerjaan beton darimana kubus-kubus tersebut diambil.
Direksi juga berwenang untuk menolak beton yang berongga,poros atau
yang permukaan akhirnya tidak baik, Dalam hal kontaktor harus
menyingkirkan beton yang ditolak tersebut dan menggantinya menurut
instruksi dari Direksi sehingga hasilnya menurut penilaian Direksi sudah
memuaskan.

11. Pengukuran Bahan Bahan Beton


Semua bahan untuk beton harus ditetapkan proporsinya menurut berat,
kecuali air yang boleh diukur menurut volume, agregat halus dan kasar
harus diukur menurut volume terpisah dengan alat penimbang yang
disetujui, yang memenuhi ketepatan ± 1%. Pengukuran volume dapat
diijinkan asal disetujui oleh Direksi.
Peralatan yang dipakai untuk menimbang semua bahan dan mengukur air
yang ditambahkan serta metode penentuan kadar air harus sudah disetujui
oleh Direksi sebelum Direksi beton dicor.

12. Pengadukan Beton


Beton harus diaduk ditempat yang sedekat mungkin dengan tempat
pengecor, pengadukan harus menggunakan mixer yang digerakkan dengan
gaya yang kontinue serta mempunyai kapasitas minimal 1 m³ jenisnya harus
disetujui oleh Direksi dan dijalankan dengan kecepatan sebagaimana
dianjurkan oleh pabrikan.
Pengadukan beton dengan tangan tidak diijinkan, kecuali jika sudah
disetujui oleh Direksi untuk mutu beton tertentu.
Pengadukan harus sedemikian sehingga beton tersebar merata ke seluruh
massa, tiap partikel terbungkus mortar dan mampu menghasilkan beton
padat dan homogen tanpa adanya air yang berlebihan.

Bab XIA -86


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

13. Pengangkutan dan Pengecoran Beton


Pengecoran beton dibagian manapun tidak boleh dimulai sebelum Direksi
memeriksa dan menyetujui bekisting, penulangan, angker-angker dan
lainnya dimana beton akan dicor.
Isi pengaduk beton, (mixer) harus dikeluarkan dalam satu operasi menerus
dan beton harus diangkut tanpa terjadi segregasi komponen-komponennya.
Beton harus diangkut dalam ember yang bersih dan tidak tembus air atau
gerobak dorong, metode pengangkutan yang lain dapat dipakai asalkan
sudah mendapat persetujuan dari Direksi dan harus tepat mengikuti
instruksi terinci yang diberikan untuk maksud tersebut. Alat-alat yang
dipakai untuk mengangkut dan mencor beton harus dibersihkan dan dicuci
setiap hari setelah dipakai bekerja dan bila pengecoran dihentikan selama
lebih dari 30 menit.
Semua beton yang diaduk dilapangan harus ditempatkan pada posisi
akhirnya dan dipadatkan dalam waktu 40 menit setelah dari ditambahkan
dalam mixer.
Pada umumnya beton tidak boleh dijatuhkan bebas dari ketinggian lebih
dari 1.50 m tetapi jika bagian pekerjaan tertentu memerlukan agar beton
dijatuhkan dari tempat tinggi maka dikerjakan sedemikian sehingga
mencegah segregasi dan harus dijaga agar aliran beton tidak terputus-
putus. Seluruh operasi ini harus mendapat persetujuan dari Direksi.
Pengecoran suatu unit atau bagian pekerjaan harus dilaksanakan dalam
satu operasi menerus atau hingga mencapai sinar yang ditentukan.
Beton dan penulangan yang menonjol tidak boleh diganggu dengan cara
apapun sekurang-kurangnya empat puluh delapan jam sesudah beton dicor,
kecuali jika diperoleh ijin tertulis dari Direksi. Semua beton harus dicorkan
pada siang hari, pengecoran bagian manapun tidak boleh dimulai jika dapat
diselesaikan dalam siang hari kecuali jika sudah diperoleh ijin dari Direksi
untuk pengerjaan malam hari, ijin yang memadai, yang disetujui oleh
Direksi.
Kontraktor harus membuat catatan lengkap mengenai tanggal, waktu dan
kondisi. Pengecoran beton pada tiap bagian pekerjaan, catatan ini harus
tersedia untuk diperiksa oleh Direk. Pekerjaan.

14. Pemadatan Beton


Beton harus dipadatkan seluruhnya dengan memakai vibrator mekanis yang
dioperasikan oleh tenaga ahli, berpengalaman dan terlatih.
Hasil pekerjaan beton berupa masa yang seragam, bebas dari rongga,
segregasi dan sarang lebah (Honey comb) memperlihatkan permukaan
merata ketika bekisting dibuka dan mempunyai kepadatan yang mendekati
kepadatan uji kubus.
Vibratoe bertipe “rotary out of balance “ (berputar diluar keseimbangan)
dengan frekuensi tidak kurang dari 8000 putaran permenit dan mampu
menghasilkan percepatan sebesar 69 pada beton yang disentuhnya.
Harus diperhatikan agar semua bagian beton terkena vibrasi tanpa timbul
segregasi akibat vibrasi yang berlebihan.

Bab XIA -87


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Vibrartor tidak boleh langsung mengenai penulangan terutama jika


penulangan menerus pada beton yang sudah mulai mengeras. Jumlah
vibrator yang dipakai didalam suatu pengecoran harus sesuai dengan laju
pengecoran. Kontraktor harus juga menyediakan sekurang-kurangnya satu
vibrator cadangan untuk dipakai bila terjadi kerusakan.

15. Lantai Kerja


Beton bertulang tidak boleh diletakkan langsung diatas permukaan tanah,
kecuali jika ditetapkan lain, maka harus dibuat lantai kerja minimal setebal 5
cm, (1:3:5) diatas tanah sebelum tulangan beton ditempatkan.

16. Spesi Semen (Cement Mortar)


Spesi harus terdiri dari satu bagian semen sebanding sejumlah bagian
agregat halus yang ditetapkan dan ditambah air bersih sedemikian sehingga
dihasilkan campuran akhir yang konsistensi plastisnya disetujui oleh Direksi.
Spesi harus diaduk pada suatu landasan kayu atau logam dalam jumlah kecil
menurut keperluan dan setiap spesi yang sudah mulai mengeras atau telah
dicampur dalam waktu lebih dari 30 menit tidak boleh dipakai dalam
pekerjaan. Spesi yang sudah mengeras sebagian tidak boleh diolah lagi
untuk dipakai.

17. Perlindungan dan pengeringan Beton


Semua permukaan yang terbuka dilindungi dari matahari dan semua beton
harus dijaga tetap lembab dengan cara dibasahi sekurang-kurangnya
setelah pengecoran. Perlindungan diberikan menutupi dengan pasir basah
sekurang-kurangnya setebal 5 cm, atau dengan kantong-kantong goni basah
ataupun dari pengaruh lain yang dapat merusak permukaan yang lunak
sebelum terjadi pengerasan.
Kontraktor harus menjaga agar pekerjaan beton yang baru selesai tidak
diberi beban yang instansitasnya dapat menimbulkan kerusakan. Setiap
kerusakan yang timbul akibat pembebanan yang terlalu dini atau
pembebanan berlebihan harus diperbaiki oleh kontraktor atas biaya sendiri
hingga memuaskan Direksi.

18. Pengerjaan Permukaan Beton dengan Sendok Semen (Trowelling)


Bila dilaksanakan perataan permukaan atas dari cor yang dicor setempat,
permukaan yang dihasilkan harus datar dengan nilai akhir yang rata tetapi
berstektur kasar sebelum pengerasan pertama dimulai, permukaan tersebut
harus diratakan lagi dengan sendok dimana perlu untuk menutupi retakan
dan mencegah timbulnya lelehan yang berlebihan pada permukaan beton
yang baru terbuka.

19. Siar –Siar Konstruksi


Semua siar konstruksi beton harus dibentuk rata horizontal atau vertikal.
Siar-siar tersebut harus berakhir pada bekisting yang kokoh yang ditunjuk

Bab XIA -88


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

dengan baik, jika perlu dibor guna melewati penulangan. Bila pengecoran
ditunda sampai pengecoran beton mulai mengeras, maka dianggap
terdapat siar konstruksi.
Pengecoran beton harus dilaksanakan menerus dari satu siar ke siar
berikutnya, tanpa memperhatikan jam-jam makan
Siar-siar konstruksi pada permukaan yang terbuka harus sungguh horizontal
atau vertikal dan jika diperlukan dipasang juga beading didalam dinding
bekisting pada permukaan yang terbuka untuk menjamin penampilansiar
yang memuaskan sebelum menempatkan beton baru pada beton yang
sudah mengeras, permukaan siar beton yang sudah dicor harus dibersihkan
seluruhnya dari benda-benda asing atau serpihan.
Jika umur beton kurang dari 3 hari, permukaan tersebut harus disiapkan
dengan penyikatan seluruhnya, tetapi jika umurnya sudah lebih dari 3 hari
atau sudah terlalu keras, permukaan tersebut harus dicetak secara ringan
atau diembus dengan pasir (send blasted) untuk memperlihatkan agregat.
Setelah permukaan tersebut dibersihkan dan disetujui oleh Direksi bekisting
akan diperiksa dan dikencangkan. Siar-siar konstruksi harus dikerjakan
sebagaimana ditetapkan pada gambar atau spesifikasi.

20. Bekisting
Semua bekisting harus dirancang dan dibuat hingga dibuat dinilai
memuaskan oleh Direksi. Kontraktor harus menyerahkan rancangannya
untuk menyetujui dalam jangka waktu yang cukup sebelum pekerjaan
dimulai.
Semua bekisting harus diperkuat dengan klam dari balok kecil dan harus
yang kuat serta cukup jumlahnya untuk menjaga agar tidak terjadi distorsi
ketika beton dicorkan, dipadatkan dan mengeras, bekisting dari kayu dan
triplek harus dibuat dari kayu yang sudah diolah dengan baik, semua
sambungan harus cukup kencang agar tidak terjadi kebocoran.
Pengikat baja untuk didalam atau blok antara (spacer) yang sudah disetujui
atau dipakai, bagian dari pengikat atau pengantara yang ditanam permanen
dalam beton sekurang-kurangnya harus berjarak 5 cm dari permukaan akhir
beton.
Setiap lubang dalam beton yang timbul akibat pengikat atau pengantara
yang harus ditutup dengan rapih segera setelah bekisting dibuka dengan
spasi semen yang campuran serta konsistensinya sama dengan mutu beton
induknya.
Semua permukaan beton yang terbuka harus licin dan halus, bekisting harus
dilapisi dengan tripleks bermutu tinggi yang sudah disetujui oleh Direksi.
Pada umumnya bekisting, Direksi akan lebih dari 3 kali. Sebelum memasang
kayu bekisting, Direksi akan memilih panil kayu yang boleh dipakai ulang,
panil kayu lapis yang ditolak oleh Direksi harus disingkirkan. Direksi sama
sekali tidak bertanggung jawab atas mutu permukaan akhir setelah
memberikan persetujuan atas bekisting.
Semua sudut kolom dan balok yang terbuka harus diberi alur (1,5 cm)
kecuali jika ditetapkan lain oleh Direksi.

Bab XIA -89


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Direksi untuk kolomdan dinding harus diberi lubang agar kotoran, debu, dan
benda lainnya dapat disingkirkan sebelum beton dicorkan.

21. Penulangan
Semua baja tulangan harus bebas dari serpihan karat lepas, minyak, gemuk,
cat, debu atau zat lainnya yang dapat mengganggu perletakan yang
sempurna antara tulangan beton, jika diinstruksikan oleh Direksi, baja harus
disikat atau dibersihkan sebelum dipakai.
Beton tidak boleh dicorkan sebelum penulangan diperiksa dan disetujui
oleh Direksi.
a. Bahan – Bahan
Baja tulangan sedang harus BJTP 24 yang sesuai dengan SII 0136-1984,
Bristish Standard No. 785 atau yang setara untuk baja tulangan yang
polos.
Baja tulangan bertegangan tinggi harus BJTP 40 yang sesuai dengan SII
0136-1984.
British Standard No. 4449 : 1969 atau yang setara untuk baja ulir
bertegangan tinggi. Tegangan leleh baja tulangan bertegangan tinggi
harus minimal 40.0 kg/cm².

b. Penyimpangan
Bila baja tulangan harus disimpan dibawah atap yang tahan air dan
diberi alas kaki dari permukaan tanah atau air yang tergenang atau
harus dilindungi dari kemungkinan kerusakan dan karat.

c. Penekukan
Pada tahap awal pekerjaan, kontraktor harus mempersiapkan daftar
tekukan (Bendung schedule) untuk disetujui oleh Direksi.
Semua baja tulangan harus ditekuk secara tepat menurut bentuk dan
dimensi yang memperlihatkan dalam gambar dan sesuai dengan British
Standard 4466 :1969 atau yang setara yang dipasang pada posisi yang
ditetapkan dapat dipenuhi semua tempat. Baja harus ditekuk dengan
alat yang sudah disetujui oleh Direksi. Tulangan tidak boleh ditekuk atau
diluruskan dengan cara yang dapat menimbulkan kerusakan, tulangan
yang mempunyai lengkungan atau tekanan yang tidak sesua dengan
gambar tidak boleh dipakai.
Bila diperlukan suatu radius untuk tekukan atau lengkungan, maka
dikerjakan dengan sebuah per yang mempunyai diameter 4 kali lebih
besar diameter batang yang ditekuk.

d. Pemasangan
Tulangan harus dipasang dengan tepat pada posisi yang diperlihatkan
pada gambar dan harus ditahan jaraknya dari bekisting dengan memakai
dudukan beton atau gantungan logam menurut kebutuhan dan pada
persilangan diikat dengan kawat baja yang pilar dingin dengan diameter
tidak kurang dari 2.6 mm, ujung-ujung kawat harus diarahkan kebagian
tubuh utama beton.

Bab XIA -90


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Bila pengatur jarak dari spesi pracecak untuk mengatur tebal beton
deking sekurang-kurangnya harus mempunyai kekuatan yang sama
dengan kekuatan yang ditetapkan untuk beton yang sedang dicor dan
harus sekecil mungkin.block-block ini harus dikencangkan dengan kawat
yang ditanam didalamnya dan harus dicelupkan dalam air sebelum
dipakai.
Tulangan yang untuk sementara dibiarkan menonjol keluar dari beton
pada siar konstruksi atau lainnya tidak boleh ditekuk selama pengecoran
ditunda kecuali diperoleh persetujuan dari Direksi.
Sebelum pengecoran, seluruh tulangan harus dibersihkan dengan teliti
dai beton yang sudah mengering atau mengering sebagian yang
mungkin menempel dari pengecoran sebelumnya. Sebelum pengecoran,
tulangan yang sudah dipasang pada tiap bagian pekerjaan harus
disetujui oleh Direksi. Pemberitahuan kepada Direksi untuk melakukan
pemeriksaan harus disampaikan dalam tenggang waktu pekerjaan.
Jarak minimal dari permukaan suatu batang termasuk sengkang ke
permukaan beton terdekat dengan gambar untuk tiap bagian pekerjaan.

22. Beton Ready Mix


Beton ready mix harus berasal dari suatu sumber yang disetujui oleh Direksi
dan harus memenuhi persyaratan yang diuraikan pada ayat 6 dari bristish
Standard No. 1926, 1962, kontraktor harus bertanggung jawab untuk
mngusahakan agar beton memenuhi persyaratan dalam spesifikasi ini
termasuk pengontrolan mutu. Keteraturan pengiriman serta pemasokan
beton secara sinambung. Jika salah satu dari persyaratan dalam spesifikasi
ini tidak dipenuhi, Direksi akan menarik kembali persetujuannya dan
mengharuskan kontraktor mengganti pemasok.
Kontraktor harus menyediakan dilapangan satu timbangan dan saringan-
saringan standard dengan penggetar (shaker) untuk mengecek secara
teratur campuran yang sudah direncanakan.
Kontraktor harus mengatur agar Direksi dapat memeriksa alat pembuat
beton ready mix bilamana diperlukan.
Kontraktor harus membuat catatan-catatan yang diperlukan, catatan-
catatan mengenai semen, agregat dan kadar air kedap tiap adukan harus
diserahkan kepada Direksi setiap hari. Berat semen dan agregat kasar serta
halus harus terus dicatat dalam dokumen pengiriman, harus dilakukan
pengujian secara periodik untuk menentukan kadar air agregat dan jumlah
air yang ditambahkan pada setiap adukan harus disesuaikan menurut hasil
test tersebut.
Pada dokumen pengiriman harus dicantumkan catatan waktu pengadukan
dan penambahan air. Dikirimkan bersama dengan pengemudi lori diparaf
oleh pencatat waktu yang bertanggung jawab ditempat pengadukan.
Dilapangan dibuat catatan yang meliputi hal-hal berikut ini :
1. Waktu kedatangan lori
2. Waktu registrasi lori dan nama depot
3. Waktu ketika beton telah dicorkan dan dibiarkan tanpa gangguan

Bab XIA -91


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

4. Mutu beton atau kekuatan yang ditentukan oleh ukuran agregat


maksimum
5. Posisi dimana beton dicorkan
6. Tanda-tanda referensi dari kubus uji yang diambil dari pengiriman
tersebut
7. Slump (atau faktur kompaksi)
Beton harus ditempatkan dan dibiarkan tanpa gangguan, dalam posisi
akhirnya dalam waktu 1 jam dari saat semen pertama kali bertemu dengan
air pengaduk.
Buku catatan harus selalu tersedia untuk diperisa oleh Direksi atau
wakilnya.

23. Toleransi untuk Beton yang Tidak Terbuka (tidak Diekspos)


Posisi bagian-bagian struktur antara lain as-as balok/dinding/pelat harus
tepat dalam batas-batas toleransi 1 cm tetapi akumulasi toleransi tidak
diperbolehkan. Ukuran bagian antara lain pada potongan-potongan
balok/pelat harus tepat dengan toleransi 0.3 cm sampai + 0.3 cm.

24. Toleransi dengan Muka Beton yang Halus (Fair Face)


Toleransi untuk beton dengan muka halus adalah 0.6 cm, posisi bagian
struktur maksimum 0.3 cm untuk bagian struktur. Pergeseran papan
bekisting pada siar-siar tidak boleh melebihi 0.1 cm dan perbedaan garis
sepadan (aligment) bagian struktur harus dalam batas 0.1% akumulasi
toleransi tidak diperbolehkan.

25. Pemasangan kolom-kolom Pracetak


Kolom-kolom pracetak harus dipasang sedemikian sehingga tidak timbul
kerusakan pada kolom. Sebelum mulai pemasangan kolom, level yang tepat
harus ditentukan dengan memakai blok-blok datar yang dicor pada pondasi,
semuanya harus disetujui oleh Direksi.
Posisi kolom yang dapat selama pengerasan spesi dijaga dengan penopang-
penopang yang didesain dengan baik dan dianker pada balok atau pelat
pondasi.
Penopang-penopang ini dapat dilepaskan menurut persyaratan kekuatan
bahan spesi, tetapi tidak boleh kurang dari 7 hari setelah spesi diterapkan.
Direksi berhak untuk menolak kolom yang mengalami kerusakan.

26. Pemberian Lapisan Permukaan


Lantai permukaan sebagaimana ditunjukkan pada gambar harus merupakan
master cron, non metalic floor Herdaner, Pemberian lapisan harus
mengikuti petunjuk dari pabrikan.

Bab XIA -92


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

27. Kemiringan Plat Lantai


Semua kemiringan plat lantai sebagaimana ditunjukkan pada gambar harus
dihitung dari tebal plat lantai yang diperlukan, bagian bawah yang
diperlukan, bagian bawah dari plat lantai ini miring dan horizontal.
28. Cacat Pada Beton
Walaupun hasil uji kubus sudah memuaskan, Direksi tetap berhak untuk
menolak yang ternyata memiliki salah satu atau lebh dari cacat berikut :
 Beton tidak sesuai bentuk atau posisinya dengan yang diperlihatkan
pada gambar.
 Beton tidak tegak lurus atau datar menurut ketentuan
 Beton mengandung kayu atau benda asing lainnya.

Setiap permukaan yang terlihat bersarang lebah tetapi diterima oleh Direksi
harus diisi dengan spesi semen yang memakai perbandingan semen dan
agregat halus yang sama seperti beton yang harus dikerjakan hingga
mencapai permukaan yang benar dengan memakai kikir.
29. Percobaan Bekisting untuk Finishing
Untuk menghasilkan akhir yang halus, kontraktor harus melakukan
percobaan finishing untuk permukaan halus, percobaan ini akan dilakukan
pada balok pondasi dan kepala tiang menurut petunjuk Direksi.
Jika percobaan ini tidak memenuhi standar beton muka halus sebgaimana
disebutkan dalam spesifikasi ini, kontraktor harus mengubah rencana
campuran beton dan/ atau rencana bekisting dan selanjutnya melakukan
percobaan lagi sampai dihasilkan standar beton muka halus yang disetujui
oleh Direksi.
Rencana kontraktor untuk percobaan ini diserahkan kepada Direksi dalam
jangka waktu yang cukup lama sebelum pekerjaan beton dimulai.

30. Air
Air untuk mengaduk dan mengeringkan beton harus bebas dari unsur-unsur
atau kotoran yang berbahaya yang dapat mempengaruhi daya pengikatan
semen.
Direksi dapat meminta agar dilakukan kimia setiap saat dan biaya pengujian
ini dibebankan pada kontraktor.

31. Pengujian Struktur-Struktur Hidrolis


a. Umum
Pengujian struktur hidrolis, semua dinding harus bersih dari timbunan
supaya kebocoran pada dinding dapat diketahui dengan jelas.
Setiap Konstruksi harus diisi air bersih dalam pengujian ini dan dibiarkan
terisi sekurang-kurangnya 48 jam ketinggian air selama waktu tersebut
harus diamati dan tidak boleh terlihat adanya penurunan muka air,
penurunan maksimum yang diijinkan selama 24 jam :1 (satu) cm.

b. Perbaikan

Bab XIA -93


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Setiap kebocoran yang diketahui harus diperbaiki sampai tidak terlihat


lagi adanya kebocoran.
Bila kebocoran melebihi nilai penurunan maksimum yang diijinkan
kontraktor harus mengadakan perbaikan secara umum atas biaya sendiri.
Setelah perbaikan selesai, metode pengujian hidrolis harus diulangi
sebagaimana diuraikan pada ayat ini.
Pengujian tidak perlu diulangi jika :
1. Tidak terlihat adanya kebocoran dan
2. Penurunan taraf muka air tidak melebihi nilai yang ditetapkan yaitu 1
cm.

Perbaikan tempat yang mengalami kebocoran harus dikerjakan misalnya


dengan sumber air dari expandite atau produk lain yang disetujui Direksi.
Semua bahan harus dipakai dan diterapkan tepat sesuai dengan petunjuk
pabrikan.

3.2.3. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN


1. U m u m
Semua ukuran dari pekerjaan pasangan harus mengikuti gambar
rencana. Apabila ternyata ada kekurangan-kekurangan dalam gambar
tersebut maka pemborong harus meminta persetujuan Direksi untuk
menetapkannya.
Untuk dinding-dinding penahan tanah atau bangunan-bangunan lain
seperti pasangan batu dan lain sebagainya., harus diberi lubang drainase
dengan diameter sekurang-kurangnya 5,0 cm kecuali dinyatakan lain
dalam gambar rencana, maka lubang-lubang drainase tersebut harus
ditempatkan pada jarak yang merata, yakni berselang 1,5 m dari
diletakkan sedikit diatas peil pembuangan air. Pekerjaan ini tidak
dibayarkan tersendiri tetapi merupakan bagian dari pekerjaan tembok
atau beton atau pasangan lain yang digunakan untuk bagian dari
konstruksi tembok penahan tanah atau pelindung-pelindung erosi.

2. Bahan – bahan
a. Sement Portland
Semen yang dipakai disini adalah dari jenis kualitas seperti yang
dipakai pada beton dan secara umum harus memenuhi syarat-syarat
yang tertera pada Peraturan Semen Portland Indonesia NI - 8

b. Pasir
Pasir untuk adukan pasangan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
1. Butir-butir pasir harus tajam dan keras dan tidak dapat
dihancurkan dengan tangan.
2. Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5%.

Bab XIA -94


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

3. Warna larutan pada pengujian dengan 3% natrium hidroksida,


akibat adanya zat-zat organik tidak boleh lebih tua dari larutan
normal atau larutan the yang sedang kepekatannya.
4. Bagian yang hancur pada penggergajian dengan larutan jernih
natrium sulfat tidak boleh lebih dari 10%.
5. Jika dipergunakan untuk adukan dengan semen yang
mengandung lebih dari 0,6% alkali, dihitung sebagai natrium
oksida pada pengujian tidak boleh menunjukkan sifat reaktif
terhadap alkali.
6. Keteguhan adukan percobaan dibandingkan dengan adukan
pembanding yaitu yang menggunakan semen sama dengan pasir
normal tidak boleh . . . (65% pada pengujian 7 hari)
7. Pasir laut untuk adukan tidak diperkenankan.
8. Butir-butirnya harus dapat melalui ayakan berlubang 3 mm.

c. Batu Alam
Pada umumnya untuk pasangan batu bisa dipakai batu bulat (dari
gunung), batu belah atau batu karang asalkan harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikit :
a. Harus cukup keras, bersih dan sesuai besarnya serta bentuknya.
b. Batu, bulat ataupun belah, tidak boleh memperlihatkan tanda-
tanda lapuk.
c. Batu karang harus sebagian besar berwarna putih atau kuning
muda dan tidak hitam, biru atau kecoklat-coklatan tanpa garis-
garis kelapukan, mempunyai keteguhan yang tinggi serta bidang
patahnya harus mempunyai kepadatan dan warna putih yang
merata.

d. Bata Merah
Bata merah harus batu biasa dari tanah liat melalui proses
pembakaran, dapat digunakan produksi lokal dengan ukuran
nominal 6 cm x 12 cm x 24 cm dan ukuran diusahakan tidak jauh
menyimpang.
Bata merah yang dipakai harus bata kualitas nomor 1 berwarna
merah tua yang merata tanpa cacat atau mengandung kotoran. Bata
merah minimum harus mempunyai daya tekan ultimate 30 kg/cm².
Kalau blok-blok tersebut dibuat sendiri maka campurannya harus
terdiri dari 1 bagian Portland Cement dan 5 bagian pasir dan bagian
batuan yang dihaluskan.
Blok-blok semen yang baru dicetak harus dilindungi dari panas
matahari dan dirawat selama tidak kurang dari 10 hari dengan jalan
membasahi atau menutupi dengan memakai karung basah.

e. Air
Untuk keperluan membuat adukan maka air yang disyaratkan dan
boleh dipakai semua seperti yang dipakai untuk pekerjaan beton.

Bab XIA -95


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

f. Kapur
Kapur yang dipakai harus kapur aduk yang bermutu tinggi yang telah
disetujui Direksi.

g. Lain-lain
Bahan-bahan lain yang dipakai untuk pelaksanaan seperti tegel-tegel
teraso, keramik dan lain-lain harus sesuai dengan yang disyaratkan
oleh Direksi atau seperti yang disyaratkan pada saat rapat
penjelasan.

3. Adukan
a. Mencampur
Adukan dicampur ditempat tertentu yang bersih dari kotoran,
mempunyai alas yang rata dan keras, tidak menyerap air yang
sebelumnya harus ada persetujuan dari Direksi.
Kalau tidak ditentukan lain, mencampur dan mengaduk tidak boleh
dilakukan dengan tangan (dengan memakai cangkul dan sebagainya)
sampai diperlihatkan warna adukan yang merata.

b. Komposisi
Jenis adukan berikut harus dipakai dengan yang disebutkan dalam
gambar atau dalam uraian dan syarat-syarat ini.

Jenis Spesi
M1 1 pc : 1 kpr : 6 psr
atau 1 pc : 3 psr
M2 1 pc : 2 psr
M3 1 pc : 4 psr

4. Blok-blok Beton
a. Type dari blok-blok
Karena tidak adanya kesamarataan produksi daerah yang satu
dengan daerah lainnya maka tidak diadakan penentuan mengenai
ukuran asalkan tidak melampui batas dan disetujui oleh Direksi.
Blok-blok beton tersebut harus bersih, tidak menunjukkan tanda-
tanda retak ataupun cacat lain yang dapat mengurangi mutu dari
blok-blok tersebut.

b. Campuran adukan
Kalau blok-blok tersebut dibuat sendiri maka campurannya harus
terdiri dari 1 bagian portland cement dan 5 bagian pasir dan batuan
yang dihaluskan.
Tegangan tekan minimum dari blok beton tidak boleh lebih kecil dari
30 kg/cm² pada umur 40 hari.

c. Perawatan blok-blok beton

Bab XIA -96


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Blok-blok beton yang baru saja dibuat harus dilindungi dari matahari
dan dirawat untuk jangka waktu paling tidak 10 hari dengan jalan
membasahi atau menutupi dengan memakai karung basah.

d. Tembok-tembok Ventilasi
Blok-blok yang khusus ventilasi dapat dibuat dari campuran M1.
Pasangan ventilasi tersebut harus cukup baik dan antara yang satu
dengan yang lain harus lurus, seragam dengan menarik garis lurus
diantara dua ujungnya.
Ventilasi tersebut nantinya harus dicat dengan cat tembok sesuai
dengan yang ditetapkan oleh Direksi.

5. Pasangan Bata Merah


a. Mortar
Semua penembokan yang diletakkan diatas balok pondasi beton
sampai 20 cm diatas bidang lantai harus dipakai mortar type M2.
Untuk penembokan kamar mandi, toilet, tempat mencuci, dan
sebagainya dipakai mortar type M2 sampai setinggi 150 cm diatas
bidang lantai jika tidak dilakukan dengan cara lain untuk selebihnya
dipakai mortar type M1.
b. Pemasangan
Penembokan harus dipilih dan dipasang dengan ukuran seperti pada
gambar rencana juga mengenai tinggi dan tebalnya. Sebelum
pemasangan bata merah harus dibasahi dulu dengan air untuk
menjamin pelekatan yang lebih baik antara mortar dan bata merah.
Pasangan bata merah dan lainnya harus disusun dan diberi jarak
minimal 1 cm antara bata merah yang satu dengan yang lainnya.
Penembokan harus dilaksanakan pada keadaan cuaca yang baik,
ataupun dengan perlindungan yang khusus dan tiap hari tidak
diperbolehkan melaksanakan pasangan dengan tinggi melebihi 1 cm.
c. Mengorek
Semua hubungan harus dikorek paling sedikit 0,5 cm agar daya
pelekat antara mortar plesteran dan tembok dapat bekerja dengan
sebaik-baiknya.

6. Pasangan Batu
a. Umum
Batu-batu yang dipakai untuk pekerjaan pondasi dan sebagainya
harus keras dengan ukuran yang sesuai dan tidak menunjukkan
pelapukan ataupun retak. Pemasangan dari batu-batu tersebut
harus rapi dan cocok sehingga dapat menghasilkan pekerjaan yang
sebaik-baiknya.

Bab XIA -97


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

b. Mortar
Campuran yang dipakai untuk pondasi dan sebagainya kalau
disyaratkan lain dapat dipakai campuran M3. Kecuali kalau
disyaratkan lain misalnya untuk bangunan reservoir ataupun
bangunan lain yang fungsinya hampir sama yang dipakai campuran
M 2.

3.2.4. PEKERJAAN LAIN-LAIN


1. Pemasangan Kaca.
a. Material
Material yang harus dipakai dalam produksi pabrik yang terkenal
dan mempunyai tebal 3 mm atau 5 mm seperti yang ditentukan oleh
Petunjuk Direksi. Kaca-kaca yang akan dipasang mati ataupun tidak,
bagian yang tajam harus dikelilingi kaca tersebut serta kepada kedua
sisi permukaannya. Bahan-bahan untuk menambah kecuali celah
antara kaca-kaca dengan rangka-rangka kayu halus yang bermutu
tinggi dari supplier yang disetujui. Bahan-bahan tersebut diterima
dalam keadaan baik dan tidak mengeras pada tempatnya.

b. Pemasangan Kaca pada Rangka Kayu.


Celah-celah kayu yang akan digunakan untuk pemasangan harus
dibersihkan, dipaku dan dicat satu lapis dengan minyak cat sebelum
pemasangan kaca. Kaca dipotong sedikit lebih dari ukuran
sebenarnya dan dijepit dengan lis kayu pada tempat yang benar
memakai sekrup yang sesuai ukurannya. Celah antara kayu dengan
kaca harus ditutup kembali dengan memakai dempul atau bahan
yang sesuai untuk maksud tertentu.

c. Pemasangan Rangka pada Rangka Logam.


Kaca harus dipotong sesuai dengan yang dikehendaki panjangnya
dengan mengurangi ukuran bersih 1 mm pada keempat sisinya
kemudian baru disisipkan dan dipasang pada rangka.

d. Pembersihan dan Perbaikan.


Pada pekerjaan tahap akhir kaca-kaca tersebut harus dibersihkan
dan diganti atau diperbaiki kalau retak, pecah, cacad dan lainnya.

2. Pengecatan.
a. Material, Ketentuan Umum.
Semua jenis material harus dari merk terkenal baik (Danapaint, I.C.I
atau sejenis yang disetujui oleh Direksi). Semua cat penggunaannya
harus sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh pabrik
pembuatnya dengan tenaga ahli yang sesuai dengan pekerjaan
tersebut. Isi daripada cat yang akan dipakai dikeluarkan dan
ditempatkan pada tempat tertentu serta diaduk sampai rata betul

Bab XIA -98


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

baik mengenai warna serta kekentalannya sebelum dipakai serta


pada selang waktu tertentu pada saat dipakai.

b. Ketentuan Khusus.
Untuk pekerjaan kayu, cat yang digunakan dari jenis synthetic resin.
Untuk pekerjaan besi sebagai dasar digunakan dari jenis red oxide
baru. Sedang untuk finishing digunakan dari jenis synthetic resin dan
yang khusus diperuntukkan untuk jenis pekerjaan besi, untuk
pekerjaan-pekerjaan besi pada reservoir-reservoir air hot deep
galvanishing, cat-cat yang dipergunakan untuk tembok baik untuk
sebelah luar atau dalam dari jenis emulsion paint yang teridri dari
alkyid resin.

c. Daftar Bahan.
Pemborong melaksanakansesuai dengan kontrak yaitu dua bulan
sebelum pekerjaan pengecatan dimulai mengajukan kepada Direksi
Pekerjaan semua material yang akan digunakan untuk pekerjaan
pengecatan dan dikoreksi, semua material tersebut harus disetujui
oleh Direksi.

d. Pemilihan Warna.
Semua warna ditentukan bersama-sama antara Direksi dengan
pemborong dari contoh-contoh yang diberikan supplier.

e. Persiapan.
Sebelum pengecatan dimulai, permukaan yang akan dicat harus
dibersihkan dari kotoran dan debu. Semua permukaan yang akan
dicat harus sudah dihaluskan terlebih dahulu dengan peralatan serta
cara yang lazim dipergunakan.
Persiapan kerja untuk kayu retak celah lubang harus diperbaiki
dengan cara memotong, menambal, atau dengan cara lain yang
disetujui. Lubang-lubang kecil harus diperbaiki dengan dicat atau
tempat untuk menutupnya. Untuk lubang yang lebih besar harus
ditutup dulu dengan kayu yang keras, dipotong dan diratakan
dengan permukaan disekitarnya samapi halus.
Setelah pekerjaan pembersihan dari baja dilaksanakan, semua
permukaannya harus dicat dua lapis dari jenis red oxide dengan
tebal 30 – 35 mikron.
Persiapan dari pekerjaan besi yang dicat dengan epoxi-point segera
setelah pembersihan dari pekerjaan besi, “ Upox Calcium plumbate
pimer “ dari merek yang disetujui. Tebal dari setiap pengecatan
adalah 50 micron dan diberikan dua lapis. Sebelum lapisan dicat
tersebut diberikan suatu pekerjaan besi harus diperiksa dan harus
bersih dari segala kotoran dan debu. Pengecatan harus diperiksa
setelah 24 jam dari pengecatan pertama.
Persiapan dari pekerjaan pengecatan tembok adalah harus benar-
benar kering dan pengecatan tidak boleh dilaksanakansebelum ada

Bab XIA -99


RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

persetujuan dari Direksi. Semua cacad-cacad harus diperbaiki seperti


pada bagian yang menonjol harus diratakan sedangkan bagian yang
rusak ataupun berlubang harus ditutup dengan plester dari jenis
yang sesuai. Pecah yang harus diperbaiki dengan memotong
sekeliling bagian yang pecah tersebut dan kemudian memboboknya
sampai cacat tersebut tidak menampakan bekas.

f. Pengecatan Akhir.
Pengecatan akhir harus terdiri dari :
 Kayu (dicat).
Dua lapis zat dari jenis synthetic resin adalah dasar yang
memberikan permukaan yang mengkilat.
 Kayu (divernis).
Dua lapis vernis dari synthetic resin adalah adalah dasar yang
memberikan permukaan yang mengkilat.
 Besi yang dilapisi dengan Epoxy.
Dua lapis dari “Opoxemuel” yang dicampur dulu dengan “Upox
Hardener” dengan perbandingan yang seperti diberikan pabrik
pembuatnya dengan masing-masing tebalnya 40 microns.
 Besi Galvanized.
Tanpa pengecatan akhir, tembok-tembok kolom dan sebagainya,
dua lapis cat emulsion untuk sebelah dalam dari gedung dan tiga
lapis untuk permukaan sebelah luar.

3. Kayu dengan Natural Finishing.


Kayu dengan natural finishing harus rata, halus dan digosok dengan
amril sehingga tidak ada cacat yang dapat merusak sifat asli dar kayu
tersebut. Pada akhirnya lapisan terakhir diberikan untuk menutupi
permukaannya. Semua bahan yang dipakai harus dengan persetujuan
Direksi.

4. Tanda – Tanda.
Pemborong harus menyiapkan dan memakai tenaga ahli untuk
mengerjakan pekerjaan sebagai berikut :
a. Menulis atau memberi nomor pintu diatas setiap plat kunci pada
kedua sisi dari pintu-pintu tersebut.
b. Menulis atau memberi nomor dari setiap kunci.

5. Perancah.
Perancah untuk keperluan pengecatan harus dipersiapkan dan harus
sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan.

6. Tenaga Kerja.
Hanya tenaga terampil dan ahli yang dipakai untuk mengerjakan
pemasangan kaca, pengecatan dan sebagainya. Harus ada kepala tukang
kayu yang ahli yang mengawasi selama pekerjaan berlangsung.

Bab XIA -
100
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

7. Persediaan Bahan untuk Pekerjaan.


Sesudah pekerjaan selesai seluruhnya maka pemborong harus
menyediakan sejumlah bahan yang tergantung dari warna setiap bahan
dan setiap jenis bahan yang dipakai yang akan digunakan apabila ada
perbaikan-perbaikan yang diperlukan selama jangka waktu perawatan.
Jumlah dari bahan tersebut sangat tergantung dari kuantitas setiap jenis
pekerjaan yang akan ditentukan kemudian.
8. Perpipaan/Plumbing.
a. Umum.
Pemborong harus melaksanakan semua pekerjaan seperti yang
terlihat pada gambar rencana untuk memasang :
 Sistem pipa distribusi air bersih untuk gedung tersebut
 Sistem pembuangan air kotor
 Pelengkap-pelengkap air
Pemborong harus bertanggung jawab penuh tentang penyediaan
dan pemasangan seluruh sistem sampai pada pengetesan sehingga
semua sistem bekerja sesuai dengan rencana.

b. Material.
Pipa-pipa baja Galvavized, semua pipa baja galvanized serta
perlengkapannya harus dari jenis yang disetujui serta standard yang
berlaku (ditentukan kemudian)

c. Pipa-pipa PVC.
Semua pipa yang terlindung dapat dipakai pipa-pipa PVC dari jenis
yang disetujui serta dari standard yang berlaku (ditentukan
kemudian).

d. Material - Material Pelengkap.


Material-material pelengkap seperti westafel dsb, harus disesuaikan
dengan gambar kalau tidak ditentukan lain oleh Direksi. Semua
perlengkapan tersebut harus dari jenis dan merek yang disetujui.
Semua unit perlengkapan tersebut harus dipasang pada tempatnya
dengan sambungan yang kaku dan kuat dikerjakan oleh tenaga-
tenaga yang ahli.

e. Penyesuaian dengan Peraturan yang ada.


Semua cara pemasangan harus memenuhi persyaratan yang
ditetapkan oleh standard atau peraturan-peraturan yang
dikeluarkan oleh badan yang berwenang. Atau kalau tidak ada
dibuat oleh tenaga ahli yang berpengalaman dibawah pengawasan
seorang insinyur.

Bab XIA -
101
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

f. Klem dan Pendukung.


Pipa yang tidak ditanam harus dipasang dengan klem dengan jarak
tidak lebuh dari 2,5 m untuk yang berdiameter lebih besar 100 mm
dan 2 m untuk yang berdiameter 80 mm dan lebih kecil.

g. Pemasangan.
Semua pekerjaan perpipaan harus dilaksanakan dengan ketentuan-
ketentuan seperti tersebut dibawah ini :
1) Pipa-pipa air harus dipasang bebas dari kantong-kantong udara
dan lurus-lurus
2) Seluruh panjang pipa harus dipakai apabila perlu kecuali jika
panjang yang terpasang lebih kecil daripada panjang pipa.
3) Pipa yang ditempatkan diatas tanah sedapat mungkin harus
didukung secara merata dan material yang langsung
berhubungan dengan pipa harus bersih atau bebas dari batu
besar atau bahan-bahan yang merusak pipa.
4) Pipa dan sambungannya harus dilaksanakan secara seksama
untuk menjamin lancarnya aliran air terutama sekali pada
saluran pembuangan air kotor dan juga untuk memudahkan
pengontrolan dari sistem.
5) Ujung-ujung pipa yang terbuka kadang-kadang harus ditutup
selama jangka waktu pelaksanaan untuk menghindarkan kotoran
atau lumpur yang akan masuk kedalam pipa.
6) Test yang akan menguji apakah seluruh sistem telah dapat
bekerja dengan baik harus dilaksanakan sebelum penyelesaian
pekerjaan akhir

h. Test Pelayanan Sistem Air Bersih.


Semua pipa pelayanan dan pipa utama harus ditest dengan tekanan
hidrolis 7 kg/cm² atau dua kali tekanan yang dua kali nanti bekerja.
Air harus diberikan pada sistem tersebut dengan pompa tekan dan
diberikan secara terus menerus selama 1 jam. Tidak boleh ada pipa-
pipa potongan pipa ataupun peralatan/pelengkap lain yang ditutup
atau ditimbun kembali tanpa ada persetujuan dari Direksi. Sesudah
selesainya pemasangan dan sebelum sistem tersebut dipakai maka
untuk menaikkan kuman-kuman diberi chor yang ditentukan oleh
Direksi.

9. Sistem Drainage
a. Penggalian
Pengalian parit untuk sistem drainage dan pembuangan air kotor
harus merupakan garis lurus dengan kedalaman, kemiringan seperti
yang ditunjukkan pada gambar rencana. Parit tersebut harus
mempunyai lebar sehingga memungkinkan pekerja dapat
melaksanakan pekerjaan dengan baik karena ruang geraknya
mencukupi. Tanah galian tidak diperbolehkan ditimbun melebihi 50
cm pada sisi parit tersebut dan sisa-sisanya diberikan penahan dan

Bab XIA -
102
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

sebagainya jika diperlukan untuk menjaga ternyata penggalian tanah


melebihi dari yang direncanakan maka harus ditutup dengan beton
tumbuk atau beton lain sesuai dengan permintaan Direksi. Pada saat
pelaksanaan, tanah galian yang akan dipergunakan kembali untuk
tanah timbunan harus dijaga agar tanah tersebut bebas dari
pengotoran yang dapat merusak mutu pekerjaan. Bagian bawah dari
galian tanah harus menunjukkan daya dukung yang baik agar dapat
mendukung beban yang akan bekerja diatasnya. Juga harus dihindari
dari genangan air yang dapat mengganggu lancarnya pekerjaan.

b. Pipa PVC untuk Drainage


Jika digunakan pipa PVC untuk sistem drainage seperti yang
ditunjukkan pada gambar rencana maka harus dipakai pipa PVC dari
jenis serta merk yang disetujui oleh pabrik pembuatnya.

c. Pipa Beton / Buis Beton


Ukuran pipa beton maupun sambungannya harus sesuai dengan
gambar rencana. Bentuk pipa harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut :
 Pipa harus lurus, dengan ukuran sesuai, ujungnya tajam dan
tidak rusak.
 Permukaannya harus menunjukkan sifat-sifat yang merata dan
tanpa cacat berupa lubang-lubang ataupun retak-retak.
 Pipa harus kering betul dan siap untuk dipasang.
Sambungan antara pipa yang satu dengan yang lain harus
dilaksanakan dengan mortar dengan perbandingan campuran 1pc :
3psr.

d. Letak Pipa Drainage.


Setiap pipa harus diperhatikan secara seksama pada saat tiba
ditempat pekerjaan. Pipa-pipa yang tidak sempurna tidak boleh
dipakai dan harus dipisahkan. Pipa drainage harus diletakkan
merupakan garis lurus dengan kemiringan seperti yang
ditunjukkanpada gambar rencana. Perhatian khusus harus diberikan
agar penempatan pipa tersebut sesuai dengan hasil yang
direncanakan dengan penempatan patok-patok tetap dan
sebagainya.

e. Penimbunan Parit.
Tidak satupun yang boleh ditimbun selama belum diadakan
pengecekan dan pengetesan. Tanah timbunan dibawah muka tanah
asli dari pipa sampai kurang lebih 30 mm diatasnya harus dari
material yang terpilih. Pemadatan harus dilaksanakan lapis demi
lapis dan harus dilaksanakan dengan hati-hati supaya tidak merusak
pipa.

Bab XIA -
103
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

f. Test Sistem Drainage.


Setelah dirasa cukup maka sistem drainage harus ditest terlebih
dahulu untuk menguji apakah seluruh sistem bisa bekerja dengan
baik. Test tersebut harusmenunjukkan hasil yang baik dan tidak
boleh menunjukkan hambatan yang berarti kurang berfungsinya
seluruh sistem dengan baik. Jika dipandang perlu oleh Direksi, maka
bagian yang cacad tersebut harus dibongkar dan diperbaharui
dengan kerja dan atas biaya pemborong.

g. Pembetulan Jalan, dan Sebagainya.


Jika pipa-pipa dan sebagainya memotong jalan maka setelah
pemasangannya berakhir bagian bangunan atau jalan yang terkena
pemotongan tersebut harus dikembalikan seperti semula. Kerusakan
akibat pemasangan pipa dan sebagainya harus diperbaiki sedia kala.
Dan segala biaya yang dikeluarkan akibat kerusakan tersebut
menjadi tanggungan pemborong.

10. Pagar dan Pintu Halaman.


Pagar dan pintu halaman harus dibuat dan dilaksanakan seperti yang
ditunjukkan pada gambar rencana dan gambar detail. Pekerjaan
tersebut harus rapi sehingga disamping berfungsi sebagai pelindung
halaman juga untuk memperindah halaman.
11. Pekerjaan Instalasi Listrik.
a. Scope Pekerjaan.
Kalau ditentukan lain maka pekerjaan instalasi listrik meliputi
penyediaan material peralatan serta tenaga untuk keperluan
pemasangannya.

b. Ketentuan dan Standar.


Ketentuan dalam spesifikasi ini hanya bersifat umum sedangkan
kalau diperlukan akan dibuat secara khusus pada buku ini. Semua
pemasangan dari instalasi listrik harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
 Ketentuan dari Perusahaan Listrik Negara
 Standar-standar lain yang bisa digunakan dan dapat
dipertanggungjawabkan.

c. Kabel – Kabel.
- Umum.
Semua type kabel, kemampuan serta ukurannya harus sesuai
dengan yang diperuntukkan, penyimpangan dan pemasangan harus
memenuhi standar-standar yang ada.

- Sambungan Kabel.

Bab XIA -
104
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pemborong harus menggunakan tenaga yang terampil/ahli dan jika


perlu tenaga spesialis yang khusus yang didatangkan untuk
keperluan tersebut.
Pemborong harus minta persetujuan dulu untuk memakai tenaga-
tenaga tersebut. Jika sambungan dengan solder yang dipakai maka
harus dengan panas minimal 185° celcius yang dipakai untuk
menghasilkan hubungan yang baik. Semua hubungan tersebut
kemudian dilindungi dengan memberikan isolasi-isolasi yang sesuai
dengan keperluan tersebut.

d. Ujung-Ujung Kabel.
Sesudah dipotong, ujung-ujung kabel sebaiknya dijaga dengan cara
tertentu agar air jangan sampai masuk sampai sambungan yang
permanen selesai dibuat.

e. Kabel-Kabel didalam Tanah.


Kabel-kabel yang ditanam langsung harus dipasang dengan
kedalaman minimal 60 cm lapisan sebelah atas. Semua kabel harus
diletakkan sedapat mungkin pada lapisan yang sama. Sebelum kabel-
kabel diletakkan, bagian bawah dari parit harus diratakan dan
ditutup dengan tebal minimal 7,5 cm kemudian ditutup dengan
tebal lapisan yang sama setelah kabel-kabel diletakkan.

f. Saluran/Pipa Kabel.
Semua saluran kabel harus dibuat sesuai dengan gambar rencana,
kalau tidak ditentukan pada gambar maka bisa dibuat dari pipa PVC
dengan diameter minimal 100 mm dengan tebal 2.2 mm atau seperti
yang ditentukan oleh Direksi. Kalau saluran kabel dibuat dari pipa
PVC maka disekeliling pipa tersebut harus diisi dengan kabel harus
tumbuk sampai 15 cm dibawah atau disekeliling pipa. Semua kabel
harus dipasang dan ditarik melewati saluran dengan tangan. Semua
pemasangan kabel harus rapi dan dipasang oleh tukang yang
berpengalaman dan persilangan sedapat mungkin dihindari. Pada
tahap akhir dari pemasangan kabel, bagian ujung cairan lain tidak
masuk dalam dengan menyumbat ujungnya dengan bahan yang
disetujui oleh Direksi.

g. Perlindungan Kabel.
Kabel yang menembus beton atau yang melalui pinggiran tertentu
harus dilindungi dengan timah atau baja yang disediakan sendiri
oleh pemborong. Cara pemasangannya harus ada persetujuan dari
Direksi.

h. Gambar – Gambar.
Pemborong harus memelihara catatan-catatan kabel dan
menyiapkan gambar-gambar untuk memberikan detail secara teliti,
layout seluruh kabel ditambah potongan melintang dan lokasi kabel.

Bab XIA -
105
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Catatan-catatan asli dibuat satu copynya serta gambar-gambarnya


diajukan Direksi untuk disetujui.
Pemborong harus menyiapkan perlengkapan/perlengkapan untuk
memperoleh sambungan, penyambungan yang layak ke pipa-pipa
yang telah ada. Biaya ini dianggap sudah termasuk dalam harga
kontrak..
Gangguan pelayanan untuk pekerjaan sambungan dari pipa baru ke
pipa yang lama harus dikerjakan sedemikian rupa, sehingga tidak
banyak mengganggu langganan dan tidak terlalu lama menghentikan
aliran. Daerah yang terganggu diharapkan sekecil mungkin. Tidak
ada satupun katub (valve) dari sistem yang telah ada. Yang diubah
oleh pemborong untuk tujuan apapun juga. PAM setempat akan
mengatur semua valve jika diperlukan.

i. Perlengkapan Sambungan dan Alat-alat Pengatur.


Pemasangan katup, perlengkapan sambungan dan sebagainya harus
mendapatkan pengawasan dan perhatian yang seksama terhadap
kebersihan penopang dan sambungan seperti tersebut diatas
mengenai perpipaan. Katup masuk bawah tanah yang terbuat
daribesi yang dapat ditempa, harus cocok terhadap pipa pada posisi
mendatar. Sedangkan porosnya ditempatkan secara tegak lurus.
Kecuali bila arah pipa tidak mendatar.
Katup-katup harus tersedia lengkap dengan susunan katup, yang
terdiri dari poros, pembungkus dan kotak luar, mur dari katup harus
dapat dioperasikan dengan mudah melalui lubang pembukaan atau
lubang kontrol.

j. Pemasangan Lampu – Lampu Penerangan.


Semua pemasangan lampu penerangan harus dilaksanakan sesuai
dengan yang ditunjukkan pada gambar rencana dengan
memperhatikan kode-kode yang ada. Pemborong harus
menyediakan peralatan tersebut sesuai dengan ketentuan seperti
pada gambar rencana baik mengenai model, kapasitas, kualitas,
warna dan sebagainya. Bila ada kekurangan mengenai hal tersebut
tidak jelas apa yang ditunjukkan pada gambar maka bisa minta
persetujuan Direksi untuk menetapkannya.

12. Pemasangan Pipa didalam Tanah.


Pipa harus dipasang lurus dan pada kedalaman yang tepat sesuai
dengan gambar rencana. Dasar parit harus dibentuk sedemikian rupa
agar memberi penopangan keliling yang merata dan kuat bagi bagian
bawah dari setiap pipa. Pipa tidak boleh dipasang bila menurut
anggapan Direksi/tenaga ahli keadaan parit memenuhi syarat.
Pemborong harus menyediakan fasilitas yang memadai dan layak untuk
melaksanakan pekerjaan dengan baik. Semua pipa dan alat bantu harus
diperiksa dengan teliti untuk mengetahui bila ada keretakan sesaat

Bab XIA -
106
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

sebelum dipasang pada posisi akhir. Semua pipa dan alat bantu harus
diturunkan kedalam saluran secara hati-hati, batang demi batang
dengan memakai derek. Tambang atau peralatan lain yang sesuai
sehingga tidak timbul kerusakan pada cat atau lapisan pelindung.
Material sama sekali tidak boleh dijatuhkan atau dihempaskan kedalam
saluran.

13. Perpipaan Penyediaan Air Minum.


Pekerjaan perpipaan yang merupakan bagian dari proses penyediaan air
minum termasuk sebagian dari pekerjaan sipil ini, seperti pipa-pipa
dinding. Pipa-pipa dibawah pondasi dan sebagainya. Semua proses
perpipaan dan pemasangannya harus sesuai dengan spesifikasi.

14. Pengujian Bangunan-bangunan Hidraulik.


a. Umum.
Pengujian bangunan hidrolik untuk membuktikan kekedapan air dari
pipa beton, dilakukan terhadap reservoir air bersih, bak
pengedapan/bak flokuasi dan filter-filter.
b. Cara pengujian.
Setelah selesai,semua dinding harus bersih dari bekas tanah urugan,
sehingga setiap kebocoran dinding dapat terlihat, semua bagian
bangunan selama pengujian harus diisi air bersih dan ditahan
sekurang-kurangnya selama 48 jam. Ketinggian permukaan akan
diperhatikan selama waktu tersebut diatas. Menurunnya tinggi
permukaan air didalam reservoir yang tidak kelihatan
diperbolehkan.
Ketentuan nilai selama 24 jam, adalah sebagai berikut :
 Reservoir air bersih : kurang dari 1 cm
 Bangunan pengolahan : kurang dari 2 cm
Jika kebocoran melampui nilai-nilai diatas, kontraktor diharuskan
memperbaikinya dengan biaya sendiri.

c. Perbaikan.
Setiap kebocoran yang ditemukan harus diperbaiki sampai tidak
ditemukan lagi kebocoran.
Pengujian tidak perlu diulang, jika :
 Tidak ditemukan lagi kebocoran.
 Penurunan permukaan air tidak melebihi ketentuan.

Biaya yang termasuk dalam pengujian adalah :


 Memperoleh air untuk mengisi bangunan pengolahan pada saat
pengujian.

Bab XIA -
107
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

 Menghentikan kebocoran.

3.3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN KAYU


1. Persiapan
Sebelum pekerjaan kayu dimulai maka pemborong harus
mempersiapkan rencana kerja, material, serta peralatan yang lengkap
untuk pekerjaan kayu tersebut, sehingga pekerjaan tersebut dapat
dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

2. Standard
Semua pekerjaan konstruksi kayu yang belum tercakup dalam peraturan
ini harus memenuhi syarat-syarat dalam :
 Peraturan umum Bahan Bangunan di Indonesia NI – 3.
 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI – 5.

3. Kayu
a. Mutu Kayu
Kalau tidak ditentukan lain, maka semua kayu yang digunakan untuk
penyangga harus kayu dengan mutu A sesuai dengan PPKI. Semua
kayu harus bebas dari getah-getah, cacad-cacad kayu seperti mata
kayu, retak-retak, bengkok, dan sebagainya dan harus sudah
mengalami proses pengeringan udara minimum tiga bulan.
b. Kadar Air
Kadar air dari semua kayu yang dipakai untuk pekerjaan :
Harus lebih kecil atau sama dengan 15%, sedangkan untk pekerjaan-
pekerjaan yang kasar harus lebih kecil atau sama dengan 20%.
Harus dijaga agar supaya kadar air tersebut konstan baik pada saat
penyimpanan, pengerjaan, maupun sampai pada penyelesaian
pekerjaan.

4. Macam-macam Kayu
Macam kayu yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan ini akan
disebutkan atau ditentukan kemudian pada saat rapat penjelasan.

5. Penyimpanan Kayu
Segera setelah kayu diterima ditempat pekerjaan, maka kayu-kayu
ditumpuk agar tidak menyentuh tanah pada tempat-tempat yang
disetujui Direksi.
Kayu bundar disusun sedemikian rupa sehingga setiap batang
mempunyai jarak tidak kurang dari 7,5 cm dari batang yang
berdampingan.
Papan-papan disusun seperti batang bundar atau disusun tegak lurus
terhadap lapisan dibawahnya atau dipisahkan dengan tumpukan pada
jarak tertentu untuk mencegah perubahan bentuk dari kayu.

Bab XIA -
108
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Kayu pada setiap lapisan harus dipisahkan dari kayu-kayu yang


berdampingan dengan jarak horizontal 2,5 cm.
Semua kayu yang disusun ditempat pekerjaan harus selalu dilindungi
dengan baik dan bila kayu-kayu itu menjadi rusak atau tidak sesuai
untuk digunakan, maka kayu itu akan ditolak dan harus diganti oleh
pemborong atas tanggungannya.

6. Ukuran – Ukuran
Ukuran-ukuran kayu harus sesuai dengan yang disyaratkan, kecuali
penyimpangan-penyimpangan sedikit akibat penggergajian di
perkebunan. Ukuran-ukuran yang menyimpang harus disesuaikan
seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana.

7. Permukaan Kayu yang Terbuka


Semua kayu yang pada penyelesaian akhir dibiarkan permukaannya
terbuka, misalnya pada pekerjaan meubelair, pintu, jendela, dan
sebagainya, permukaannya harus dikerjakan kembali jika tidak
ditentukan lain dalam spesifikasi ini. Semua kayu pada pekerjaan
konstruksi kayu harus dibiarkan kasar dari penggergajian jika tidak
ditentukan bahwa harus dikerjakan lagi.

8. Penyusutan Kayu
Persiapan, penyambungan, dan pemasangan dari pekerjaan kayu harus
sedemikian rupa sehingga penyusutan pada bagian-bagian tertentu atau
arah-arah tertentu harus tidak mempengaruhi kekuatan dan bentuk
terakhir dari pekerjaan dan tidak merusak bahan-bahan secara terus
menerus.

9. Pabrikasi
Pemborong harus menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi
persiapan pekerjaan pabrikasi juga termasuk penyediaan semua plat-
plat penyambung, sekrup-sekrup, paku, dan lain sebagainya, sehingga
pekerjaan dapat dilakukan sebaik-baiknya sesuai dengan gambar
rencana. Pemborong harus menyiapkan pula segala keperluan untuk
pemasangan seperti perancah-perancah dan lain sebagainya.
Untuk mendukung dan memasang konstruksi tersebut pada tempat
yang sesuai dengan gambar rencana.

10. Pengawetan dan Pengecatan Kayu


Direksi dapat memerintahkan untuk menggunakan bahan-bahan untuk
pengawetan kayu jika dipandang perlu, yang dapat berupa minyak
pengawet kayu ataupun pengguaan ter. Semua sambungan pada ujung-
ujung kayu perlu mendapat perhatian khusus dan pada penyelesaian
pekerjaan, minyak pengawet kayu harus dituangkan pada sambungan-
sambungan.

Bab XIA -
109
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Semua bagian-bagian yang diminyaki harus diselesaikan dahulu sebelum


mulai pekerjaan pengecatan dan tidak ada satu bagianpun yang
diminyaki selama atau segera setelah hujan atau selama permukaan
kayu masih basah. Diperlukan sekurang-kurangnya 48 jam berselang
setiap penggunaan minyak pada bagian yang sama.
Jika digunakan ter untuk pengawetan kayu maka bagian kayu tersebut
harus kering dulu sebelum dipasang. Untuk bagian-bagian yang nantinya
tidak tertutup oleh lapisan tanah dan sebagainya bisa dilaksanakan
pengetaran setelah bangunan tersebut dipasang.
Setelah pengolahan bagian-bagian kayu dengan minyak-minyak
pengawet kayu maka dapat dilapisi dengan satu lapisan menie atau
bahan lain yang telah disetujui. Setelah lapisan menie maka harus
diplamir dan setelah digosok dengan amplas dilapisi dengan tiga lapis
cat yang disetujui mutunya. Semua sambungan dan bagian lain yang
tidak dapat dicapai setelah pemasangan kayu konstruksi, harus terlebih
dahulu diberi lapisan menie 2 kali sebelum pemasangan.

Tidak diperkenankan mencat selama permukaan kayu terpengaruh oleh


air hujan atau selama permukaan kayu atau besi masih basah.
Setelah sekurang-kurangnya 24 jam baru lapisan zat yang berikut dapat
diberikan dan setiap lapisan cat harus kering betul sebelum yang
berikutnya diberikan.

Bab XIA -
110