Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 12 tahun 2012 tentang
RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Sleman tahun 2011-2013 pasal 90
sebelum kegiatan pemanfaatan ruang dilaksanakan maka pelaku bisnis harus menjamin
kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. Pendirian bangunan di sebuah
wilayah tidak akan lepas dengan perijinan dalam pembangunannya, contohnya adalah
ANDAL. Bangunan yang akan kami tinjau adalah bangunan dari SLEMAN CITY HALL,
yang beralamatkan di Jalan Magelang KM 9, Jl. Gito Gati No.18, Tridadi, Kec. Sleman,
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lokasi yang sangat strategis yaitu didaerah Kabupaten Sleman yang jaraknya tidak
jauh dari pusat Kota Yogyakarta, tepat didepan dari Taman Denggung dan dekat dengan
pusat kantor pemerintahan Kabupaten Sleman. Pusat perbelanjaan ini berdiri diatas tanah
yang memiliki luas 43.461 m². Luas tanah Sleman City Hall tersebut dibagi menjadi
beberapa bangunan, yaitu pusat jajanan seluas 20.620 m², gedung pertemuan dan pameran
seluas 11.215 m², dan taman edukasi seluas 11.626 m².
Melihat dari kacamata perencanaan pembangunan Sleman City Hall (SCH) berada
tepat di sekitar area pemukiman yang tergolong sebagai pemukiman padat penduduk, dan
berada di jalur yang merupakan akses utama menuju dan keluar kota Yogyakarta. Dengan
adanya pembangunan pusat perbelanjaan modern dengan skala yang besar dan memiliki
tingkat mobilitas yang tinggi, tentunya akan mengakibatkan dampak lingkungan yang
terjadi dan dirasakan banyak pihak. Terlebih bila tidak menerapkan manajemen lingkungan
secara tepat, tentunya dampak negatif yang timbul pasca bangunan tersebut beroprasi akan
jauh mendominasi dibanding dengan dampak positif nya.
Pada proses pendirian bangunan perbelanjaan ini tentu saja akan membutuhkan
bahan baku yang sangat banyak, serta tentunya menggunakan alat-alat besar. Kegiatan
konstruksi yang terjadi dapat meningkatkan kadar debu yang ada. Proses konstruksi atau
pembangunan tidak akan lepas dari bahan-bahan bangunan yang digunakan. Tanpa kita
sadari ternyata banyak material dan bahan bangunan yang mengandung racun, meskipun
tidak semuanya memiliki sifat yang membahayakan. Namun beberapa gas yang awalnya
tidak membahayakan jika bercampur dengan gas yang lain mampu mengganggu kesehatan
jika terhirup oleh manusia. Dan beberapa partikel yang beterbangan dan bersumber dari
material-material bahan bangunan, contohnya seperti semen, asbes, serbuk kayu. Akan
sangat mampu menimbulkan gangguan kesehatan meskipun dampak yang dirasakan akan
muncul dalam jangka waktu yang lama.
Bahan pencemar yang dihasilkan dari proses pembangunan ini adalah limbah yang
berbentuk cair, padat, dan gas. Salah satu limbah yang akan ditinjau adalah limbah padat
khususnya partikel-partikel debu yang mampu beterbangan disekitaran lokasi
pembangunan hingga yang mampu sampai ke pemukiman penduduk. Media penyebaran
partikel debu ini melalui udara yang dibantu dengan angin. Bahan pencemar yang akan
ditinjau lebih dalam adalah bahan pencemar yang bersumber dari kegiatan proyek
pembangunan SCH sehingga bahan pencemar tersebut mampu dan berpotensi
menyebabkan gangguan kesehatan bagi pekerja, penduduk disekitar, maupun lingkungan.

B. Tujuan umum
Mengetahui keluhan masyarakat mengenai dampak proyek pembangunan,
khususnya terkait dengan polutan atau debu.

C. Tujuan khusus
1. Mengetahui analisis dampak lingkungan pembangunan Sleman City Hall
2. Mengetahui kadar debu yang dihasilkan dari proyek pembangunan Sleman City
Hall
3. Mengetahui kandungan apa saja yang menjadi bahan utama pencemar di
lingkungan sekitar proyek
BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang
1. Deskripsi latar belakang riwayat
Sleman City Hall terletak di Jalan Magelang KM 9, Jl. Gito Gati No.18, Tridadi,
Kec. Sleman, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55511. Sleman City Hall
berada di Jalan Magelang, persis di seberang lapangan Denggung. Lokasi ini membuat
Sleman City Hall berada didekat pusat kantor pemerintahan Kabupaten Sleman. Pusat
perbelanjaan ini berdiri diatas tanah yang memiliki luas 43.461 meter persegi. Luas
tanah Sleman City Hall tersebut dibagi menjadi beberapa bangunan, yaitu pusat jajanan
seluas 20.620 meter persegi, gedung pertemuan & pameran seluas 11.215 meter
persegi, dan taman edukasi seluas 11.626 meter persegi.

Sebelum pembangunan, Sleman City Hall adalah bekas pabrik General Electric
Lighting.

2. Kunjungan Lapangan
a. Kunjungan hari I
1) Hari/Tanggal : Kamis , 28 Maret 2019
2) Waktu : 13.00 – 14.00 WIB
3) Pengunjung : Semua anggota kelompok (5 orang)
4) Materi : Survey awal lokasi

b. Kunjungan hari ll
1) Hari/Tanggal : Jum’at , 29 Maret 2019
2)
3) Waktu : 14.00 – 16.00 WIB
4) Pengunjung : Semua anggota kelompok (5 orang)
5) Materi : Pengambilan sampel debu

c. Kunjungan hari lll


1) Hari/Tanggal : Selasa, 2 April 2019
2) Waktu : 13.30 – 15.00 WIB
3) Pengunjung : Semua anggota kelompok (5 orang)
4) Materi : Wawancara penduduk sekitar

d. Demografi penggunaan lahan & SDA


Sleman City Hall terletak di Jalan Magelang KM 9, Jl. Gito Gati No.18,
Tridadi, Kec. Sleman, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sleman City Hall
berada di Jalan Magelang, persis di seberang lapangan Denggung. Pusat
perbelanjaan ini berdiri diatas tanah yang memiliki luas 43.461 meter persegi. . Luas
tanah Sleman City Hall tersebut dibagi menjadi beberapa bangunan, yaitu pusat
jajanan seluas 20.620 meter persegi, gedung pertemuan & pameran seluas 11.215
meter persegi, dan taman edukasi seluas 11.626 meter persegi.
Bangunan delapan lantai seluas 100.900 m2 dilengkapi dengan tiga
ballroom, dua atrium dan tempat foodcourt di lantai dua. Mall ini merupakan satu
– satunya mall di Jogja yang mempunyai fasilitas ballroom.

e. Data outcome kesehatan


f. Kepedulian masyarakat
Dampak negatif yang diterima warga disekitar Sleman City Hall adalah debu
yang sangat bertebaran, bangunan yang berada disekitar pembangunan rusak dan
air Sungai Bedog menjadi keruh. Namun meskipun begitu, pembangunan Sleman
City Hall tetap mempunyai dampak positif. Diantaranya ekonomi masyarakat
sekitar meningkat seperti halnya peagang di sekitar Sleman City Hall menjadi ramai
dan kos – kosan cepat penuh.

3. Kepedulian masyarakat sekitar terhadap dampak negatif debu pembangunan sleman


city hall

4. Kontaminasi dan bahan lain.


1) Kontaminasi di dalam komplek
2) Kontaminasi di luar komplek dari sumber lain
5. Bahaya fisik dan bahan lainnya
a. Bahaya fisik
b. Bahaya kimia
c. Bahaya mekanik
d. Bahaya ergonomic

B. Analisa Jalur
1. Jalur pemajanan lengkap
a. Jalur 1 : sumber pencemar
Kegiatan konstruksi yang meningkatkan kadar debu yang ada. Proses konstruksi
atau pembangunan tidak akan lepas dari bahan-bahan bangunan yang digunakan.
Tanpa kita sadari ternyata banyak material dan bahan bangunan yang mengandung
racun, meskipun tidak semuanya memiliki sifat yang membahayakan. Namun
beberapa gas yang awalnya tidak membahayakan jika bercampur dengan gas yang
lain mampu mengganggu kesehatan jika terhirup oleh manusia. Contoh beberapa
cairan yang mampu menghasilkan gas yang dapat membahayakan pernafasan
manusia, yaitu tinner, bitumaen hidrokarbon, asbes, dust dari semen, debu yang
beterbangan dari proses penghalusan kayu, pasir, cat yang mengandung etylalkohol
akan sangat meimbulkan bahaya jika terkena panas matahari.

b. Jalur 2 : media lingkungan


Udara
c. Jalur 3 : titik pemajanan
Area potensial terjadi kontak antara manusia dengan media lingkungan tercemar
khusus nya udara. Titik pemajanan pada proyek ini yaitu di sekitar proyek
pembangunan Sleman City Hall, Jalan Magelang KM 9, Jl. Gito Gati No.18,
Tridadi, Kec. Sleman, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55511
d. Jalur 4 : cara pemajanan
Cara pencemar masuk (port of the entry) atau melalui pernafasan adalah dengan
tubuh manusia yaitu debu-debu atau ceceran material dan bahan bangunan akan
masuk dan terhirup oleh manusia pada saat proses pengangkutan. Dan dapat
mengakibatkan penurunan kualitas udara, ditambah lagi jika intensitas angina
yan;g cukup kencang. Selain itu, gas buangan dari kendaraan yang keluar masuk
proyek akan memperburuk kualitas udara sekitar dan dalam jumlah besar akan
menyebabkan polusi udara yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti :
a. Gangguan pernapasan
b. Batuk
c. Gangguan penglihatan
d. Eksim pada kulit, dan atau alergi
e. Mata buta atau gangguan pada syaraf mata

Selain dari segi udara, pada tahap konstruksi mampu menimbulkan dampak lain
seperti peningkatan volume kendaraan disektiar bangunan, sebuah pembangunan
tentunya memerlukan material dan bahan bangunan. Pengangkutan bahan dan
material bangunan dengan kendaraan berkapasitas besar, seperti truk tentunya dapat
mengganggu kelancaran lalu lintas ditambah dengan letak proyek yang cukup dekat
dari akses jalan poros propinsi. Hal ini akan menciptakan kondisi yang rawan
kecelakaan. Begitu pun pada saat pembuatan jalan, akan mempersempit jalur lalu
lintas sehingga sewaktu-waktu dapat mengakibatkan kejadian yang fatal

e. Jalur 5 : penduduk berisiko


Penduduk berisiko adalah orang-orang yang terpajan atau berpotensi terpajan
oleh pencemar pada titik-titik pemajanan. Penduduk berisiko pada proyek
pembangunan Sleman City Hall ini adalah penduduk sekitar proyek, yaitu warga
Padukuhan Tridadi dan Gito Gati, sekitar Jalan Magelang KM 9, Jl. Gito Gati No.18,
Tridadi, Kec. Sleman, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55511. Penduduk
terpajan jenis polutan debu (dust) dari proses pembangunan tersebut dalam jangka
waktu panjang berisiko :
a. Mengalami penyakit silicosis jika bahan bangunan mengandung kristalin silicon
dioksida.
b. Penyakit asbestosis akibat terhirupnya debu asbes sehingga menyebabkan
pneumoconiosis yang ditandai dengan fibrosis paru
c. Asma bagi pekerja karena sensitivitas saluran nafas terhadap paparan zat di
tempat kerja.
d. Kanker paru karena dipicu oleh zat yang bersifat karsinogenik seperti uranium,
asbes, arsen, kalsium klorida.
e. ISPA, infeksi saluran pernafasan akut yaitu udara yang mengandung partikel
akan terhirup ke dalam paru-paru. Ukuran partikel debu yang masuk ke paru-
paru akan menentukan letak penempelan atau pengendapan. Sifat dari debu ini
yaitu persisten dan tetap pada bentuk nya, akan terus mengendap sampai
menimbulkan gejala dan sakit.

2. Jalur pemajanan potensial


a. Sumber pencemar
b. Media lingkungan dan mekanisme penyebaran
c. Titik pemajanan
d. Cara pemajanan

C. Dampak kesehatan masyarakat