Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Pengertian Alam Semesta Alam Semesta


2.1.1 Pengertian Alam Semesta Alam Semesta Dalam Pandangan Science
Pengertian alam semesta yang sebenarnya adalah suatu ruangan yang maha besar,
dimana didalamnya terjadi segala peristiwa alam yang dapat diungkapkan manusia maupun
yang belum diungkap manusia, dan pendapat ini dijelaskan kembali oleh Nicolas Copernicus
dalam bukunya yang berjudul “ De Revolutionisme Orbium Coelestium “ yang menyatakan
bahwa alam semesta adalah tempat tinggal bagi makhluk hidup di Bumi. Ada pandangan lain
mengenai konsep alam semesta, diantaranya :
A. Pengertian Alam Semesta Alam Semesta Dalam Pandangan Fisika Klasik
Isaac Newton (abad XVII-XVIII), menggagas bahwa alam semesta ini bersifat statis,
tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak terhingga lamanya yang telah lampau,
sampai waktu tak terhingga lamanya yang akan datang. Pandangan ini kemudian
dikukuhkan oleh Lavoisier pada akhir abad XVIII dengan “Hukum Kekekalan Materi”.
Pandangan bahwa alam ini kekal kemudian dikenal sebagai Pandangan Klasik Newtonian.
B. Pengertian Alam Semesta Alam Semesta Dalam Pandangan Fisika Modern
Albert Einstein (Awal abad XX ) yang berusaha melukiskan bahwa alam benar-benar
statis dalam bentuk rumus matematika yang rumit. Hasil pemikiran tersebut bermuara
pada kesimpulan bahwa Alam semesta merupakan ruang kosong maha luas tanpa batas,
tanpa sinar terang, tanpa gaya apapun, tanpa gravitasi apapun, tidak ada pengertian atas
dan bawah, juga tidak ada pengertian utara-selatan, timur-barat, yang didalamnya berisi 1
miliar galaksi dan tiap-tiap galaksi terdiri dari 100 miliar bintang, dimana tiap-tiap bintang
adalah matahari dengan tata suryanya sendiri-sendiri.

2.1.2 Pengertian Alam Semesta Alam Semesta Dalam Pandangan Islam


Alam semesta merupakan ciptaan Allah yang diurus dengan kehendak dan perhatian
Allah. Allah menciptakan alam semesta ini dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi,
fisika, kimia, dan geologi beserta semua kaidah sains. Alam syahadah atau alam materi sering
juga disebut dengan alam fisik karena alam syahadah merupakan alam yang dapat dicapai
oleh indera manusia baik dengan menggunakan alat atau tidak, berbeda dengan alam ghoib
yang tidak dapat tercapai oleh indera.

2.2 Teori Penciptaan Alam Semesta dari Sisi Perpektif Ilmu Sains
A. Teori Kabut
James Clark Maxwell yang memeberikan kesimpulan bahwa bila bahan pembentuk
planet terdistribusi disekitar matahari membentuk suatu cakram atau suatu piringan, maka
gaya yang disebabkan oleh perbedaan perputaran (kecepatan anguler) akan mencegah
terjadinya pembekuan planet. Namun pada abad ke-20 menunjukkan bahwa medan magnet
dan medan listrik matahari telah merusak proses pembekuan batu-batuan. Jadi tidak ada
alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa cincin gas dapat membeku membantuk planet.

B. Teori Planetisimal
Teori planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan
Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Matahari
terdiri dari massa gas bermassa besar sekali, Pada suatu saat melintas bintang lain yang
begitu dekat sehingga hampir menjadi tabrakan. Karena pengaruh gaya gravitasi tersebut
sebagian materi terlempar meninggalkan permukaan matahari dan permukaan bintang.
Materi-materi yang terlempar mulai menyusut dan membentuk gumpalan-gumpalan yang
disebut planetisimal.

C. Teori Pasang Surut Gas / Teori Tidal


Teori pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold
Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak
pendek, sehingga menyebabkan terjadinya pasang surut pada tubuh matahari, saat matahari
itu masih berada dalam keadaan gas. Tetapi, jika sebuah bintang yang bermassa hampir sama
besar dengan matahari mendekat, maka akan terbentuk semacam gunung-gunung gelombang
raksasa pada tubuh matahari, yang disebabkan oleh gaya tarik bintang tadi.

D. Teori Kondensasi/Kuiper
Teori kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P.
Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Teori Kuiper mengemukakan bahwa pada mulanya ada
nebula besar berbentuk piringan cakram. Pusat piringan yang merupakan protomatahari
menjadi sangat panas, sedangkan protoplanet menjadi dingin. Unsur ringan tersebut menguap
dan menggumpal menjadi planet-planet.

E. Teori Bintang Kembar


Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli Astronomi R.A Lyttleton. Menurut teori ini,
galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar. Menurut teori ini, dahulu matahari
merupakan bintang kembar. Kemudian bintang kembarannya meledak menjadi kepingan-
kepingan. Karena pengaruh gaya gravitasi bintang yang tidak meledak (matahari), maka
kepingan-kepingan itu bergerak mengitari bintang tersebut dan menjadi planet-planet.

F. Teori Ledakan Maha Dahsyat (Big Bang)


Teori ini berbunyi: “Alam semesta diciptakan kira-kira 15.000.000.000 (lima belas
trilyun) tahun yang lalu, kejadiannya berawal dari meledaknya atom prima atau atom awal
(Primeval Atom). Ledakan itu sangat besar dan dasyat yang menyebabkan berhamburannya
seluruh isi (Materi dan energi)atom prima itu ke segala arah.”
2.3 Teori Penciptaan Alam Semesta dari Sisi Perpektif Filosofis
A. Thales
Menurut Thales (595-549 SM), bahwa asal mula alam semesta adalah Air, karena air
adalah pusat dan sumber dari segala kehidupan. Segala sesuatu bersumber dari air dan
kembali lagi menjadi air misalnya tumbuh-tumbuhan dan binatang lahir ditempat yang
lembab, bakteri-bakteri hidup dan berkembang ditempat yang lembab, dan bakteri pun
memakan makanan yang lembab dan kelembaban itu bersumber dari air.

B. Anaximandros
Menurut Anximandros (610–547 SM) segala sesuatu itu berasal
dari “to aperion” yaitu yang tak terbatas dan sesuatu yang tak terhingga. Didalam buku
filsafat, aperion itu kadang-kadang diartikan sebagai the bnundies the idenfinite, atau the
infinite yaitu tidak terhingga, tak terbatas, atau tidak tersusun dinamakan demikian karena
yang dijadikan dalam alam ini tidak terhingga banyaknya.

C. Anaximenes
Anaximenes (585 – 524 SM) mengajarkan bahwa asal dari alam ini satu dan tidak
terhingga. Pandangan Anaximenes didasarkan atas alasan-alasan berikut: Dunia ini diliputi
oleh udara, tidak ada satu ruangan pun yang tidak terdapat udara didalamnya. Tidak ada
sesuatupun yang hidup tanpa udara. Dalam pandangan tentang asal, Anaximenes turun
kembali ketingkat yang sama dengan Thales.

2.4 Teori Penciptaan Alam Semesta dari Sisi Perpektif Religius


A. Penciptaan Alam Semesta Menurut Islam (Al-Qur'an)
Matahari adalah benda angkasa yang menyala-nyala yang telah berputar keliling
sumbuhnya sejak berjuta-juta tahun. Dalam proses perputarannya dengan kecepatan tinggi
itu, maka terhamburkan bingkah-bingkahan yang akhirnya menjadi beberapa benda
angkasa termasuk bumi. Masing-masing bingkah beredar menurut garis tengah lingkaran
matahari, semakin lama semakin bertambah jauh, hingga masing-masingnya menempati garis
edarnya yang sekarang. Dan seterusnya akan tetap beredar dengan teratur sampai batas waktu
yang hanya diketahui oleh Allah S.W.T

Jadi terbentuknya alam raya ini terjadi dalam 6 rangkaian waktu atau 6 masa. Dari
sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 di
atas tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa
tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, sehingga kira-kira dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali
2. Masa II (ayat 28): pengembangan dan penyempurnaan
3. Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk Bumi
4. Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di Bumi
5. Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet
6. Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat
dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan dia
menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan
Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”.

B. Kejadian Alam Semesta Menurut Konsep India (Agama Hindu)


Di dalam filsafat Hindu, faham emanasi tertuang di dalam kitab Upanishad (kitab
kedua dalam agam Hindu). Kitab itu memberikan gambaran tentang terjadinya alam
semesta. Dinyatakan bahwa alam semesta ini oleh Brahman (Ada Tertinggi, Tuhan)
ditimbulkan oleh unsur-unsur semesta itu sendiri sambil melakukan tapas, lalu masuk ke
dalam semesta itu.

C. Kejadian Alam Semesta dalam Konsep Nasrani


Menurut kepercayaan kaum Nasrani, alam ini diciptakan Tuhan Allah selama enam
hari dengan perantaraan Firman-Nya. Dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia
(1962) ada pernyataan bahwa yang pertama dijadikan Allah adalah langit dan bumi. Pada saat
itu kondisi bumi tertutup kabut tebal dan Roh Allah melayang-layang di atas muka air (Pasal
1, ayat 1-2). Pada hari pertama Allah membuat terang dan gelap sebagai penanda adanya
siang dan malam (Pasal 1: 3-5). Selanjutnya di hari kedua barulah dibuat langit yang
membentang di antara air (Pasal 1: 6-7). Pada hari ketiga Allah membuat daratan dan lautan
serta menciptakan rumput, tanaman berbiji dan berbuah dengan segala tabiatnya (Pasal 1: 9-
13).
Selanjutnya di hari keempat, baru diciptakan matahari, bulan dan bintang (Pasal 1: 14-
19). Pada hari kelima Allah menciptakan binatang-binatang laut dan burung-burung (Pasal 1:
20-23). Sedangkan pada hari keenam diciptakan binatang liar dengan segala tabiatnya. Pada
hari keenam ini pula manusia laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai peta Allah. Segala
isi bumi ini diperuntukkan bagi manusia (Pasal 1: 24-31). Pada hari ketujuh Allah beristirahat
(Pasal II: 1-4). Kata beristirahatlah pada pasal II itu sebagai terjemahan dari bahas Ibrani
"chabbat " (Sabat). Sampai hari ini pun hari sabtu adalah hari libur/istirahat bagi kaum
Yahudi (Buchaile, 1978:42).