Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan pembangunan bidang kesehatan sebagaimana tercantum dalam

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan ayat 3 yaitu

pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 033 Tahun 2012 tentang Bahan

Tambahan Pangan menyebutkan, Bahan Tambahan Pangan yang

selanjutnya disebut BTP adalah yang ditambahkan kedalam pangan untuk

mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. Termasuk didalamnya adalah

pewarna, penyedap rasa dan aroma, pengawet, dan pengental. Menurut

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No.4 Tahun 2014

mengenai nama bahan tambahan pangan, atau jenis bahan tambahan

pangan adalah nama kimia/generik/umum/lazim yang digunakan untuk

identitas bahan tambahan pangan.

Makanan yang sehat tentunya makanan yang memenuhi standar

kesehatan, yakni makanan yang bebas dari zat-zat berbahaya seperti

pewarna sintetis, pengawetan, serta pemanis buatan yang dilarang

penggunaannya dalam makanan (Stella, 2017). Pemakaian bahan pewarna

pangan sintetis dalam pangan walaupun mempunyai dampak positif bagi

produsen dan konsumen, diantaranya dapat membuat suatu pangan lebih

menarik, meratakan warna pangan, dan mengembalikan warna dari bahan

dasar yang hilang atau berubah selama pengolahan (Lestina, 2013).


2

Menurut Permenkes R.I Nomor 033 tahun 2012 tentang Bahan

Tambahan Pangan, ada beberapa tambahan bahan yang tidak diperbolehkan

untuk makanan antara lain Rhodamin B (pewarna merah), Methanyl Yellow

(pewarna kuning), Dulsin (pemanis sintesis) dan Pottasium Bromat

(pengeras). Rhodamin B adalah pewarna merah terang sering ditemukan di

pangan dan kosmetik dan bersifat racun serta karsinogenik. Rhodamin B

bahaya jika tertelan, terhirup, atau terserap oleh kulit. Penggunaan Rhodamin

B dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan merupakan zat

karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) (Imam, 2012).

Makanan jajanan juga merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian

masyarakat, karena terdapat beberapa makanan jajanan yang tidak higienis

sehingga sangat berisiko terhadap cemaran yang dapat mengganggu

kesehatan. Anak sekolah dasar sangat rentan dalam masalah ini karena anak

tersebut belum mengerti cara memilih jajanan yang sehat sehingga dapat

berakibat buruk pada kesehatannya sendiri (Suci, 2009). Anak sekolah

biasanya sering melupakan sarapan pagi dan memilih membeli makanan

jajanan di sekolah. Anak-anak membeli makanan jajanan menurut

kesukaannya tanpa memikirkan bahanbahan yang terkandung di dalamnya

(Judarwanto, 2008). Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang

berisiko tinggi tertular penyakit melalui makanan maupun minuman (Antara,

2004). Anakanak sering menjadi korban penyakit bawaan makanan akibat

konsumsi makanan yang dibeli di kantin sekolah atau penjaja kaki lima (WHO,

2006).

Frekuensi kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan pada anak di

sekolah meningkat pada tahun 2004. KLB tertinggi terjadi pada anak sekolah

2 dasar (SD) yaitu 19 kejadian dengan jumlah korban sakit sebanyak 575

orang (Sekretariat Jenderal Jejaring Intelijen Pangan, 2005).. Hasil


3

pemantauan BPOM tahun 2011 menunjukkan ada 35.5% makanan jajanan

anak sekolah tidak memenuhi syarat keamanan. Laporan surveilan Direktorat

Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan BPOM menunjukkan selama

tahun 2004 di seluruh Indonesia telah terjadi kejadian luar biasa (KLB)

keracunan makanan sebanyak 164 kejadian di 25 provinsi yang mencakup

7.366 kasus dan 51 diantaranya meninggal dunia. Rendahnya tingkat

keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) masih menjadi

permasalahan penting. Data pengawasan PJAS yang dilakukan Badan POM

RI cq Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan bersama 26 Balai Besar/Balai

POM di seluruh Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan bahwa 45% PJAS

tidak memenuhi syarat karena mengandung bahan kimia berbahaya seperti

formalin, boraks, rhodamin, mengandung 3 Bahan Tambahan Pangan (BTP),

seperti siklamat dan benzoat melebihi batas aman, serta akibat cemaran

mikrobiologi.

Pencemaran terhadap jajanan yang dikonsumsi oleh anak sekolah dapat

mengganggu proses metabolisme tubuhnya. Anak-anak juga memiliki tingkat

imunitas yang lebih rendah dari pada orang dewasa. Asupan nutrisi yang

masuk kedalam tubuh anak-anak sangat mempengaruhi proses tumbuh

kembang anak tersebut, maka pastikan anak kita mendapatkan asupan nutrisi

dari makanan yang memiliki gizi seimbang dan higienis. Anak-anak adalah

tunas penerus generasi bangsa, sudah sepantasnya setiap anak bertumbuh

dengan asupan makanan dan minuman yang baik bagi kesehatan. Masalah

pencemaran jajanan di sekolah sudah sepantasnya mendapatkan perhatian

lebih dari Pemerintah bahkan dari Orang Tua dan Pihak Sekolah selaku

lingkup terdekat dengan anak-anak kita. Oleh sebab kegiatan BPJS ini

merupakan kegiatan untuk pencegahan dan mengantisipasi terjadinya kasus

yang di akibatkan dari pengaruh buruk jajanan yang mengandung bahan atau
4

zat berbahaya yang akan terakumulasi dalam tubuh anak dan berdampak

pada penurunan derajat kesehatan di kemudian hari.

Dari hasil wawancara dengan beberapa pedagang di sekolah mengenai

pengetahuan tentang bahaya pangan yang terkandung dalam dagangan yang

mereka jual, kebanyakan pedagang menjual bahan dagangannya yg dibeli di

pasar dan di perjual belikan kembali di sekolah.

Inovasi ini lahir karna ke khawatiran terhadap jajanan yang kurang sehat,

serta kurangnya pengetahuan pedangang mengenai bahaya pangan yang

berresiko memberikan potensi besar memperjual belikan makanan yang tidak

sesuai standar dan aman untuk di konsumsi, sebagaimana anak anak milenial

lebih menyukai makanan siap saji dengan warna mencolok yang menarik

perhatian, yang sebetulnya berpotensi mengadung zat berbahaya (Rhodamin

B, Metanil Yellow, Formalin dan Borax), serta di buat bentuk-bentuk yang

bermacam-macam yang sangat menarik perhatian anak anak.

Inovasi ini bukan hanya ditujukan untuk anak anak disekolah saja,

melainkan untuk berbagai lintas sektor, dimana masalah ini perlu kerjasama

dari berbagai pihak yang terlibat, mulai dari guru di sekolah, murid maupun

pedagang itu sendiri. Adanya kegiatan “BPJS” ini bertujuan memberikan

pembinaan terhadap pedagang mengenai kandungan dalam jajanan yang di

perjual belikan, selain itu pedagang diberikan pengetahuan mengenai

keamanan pangan serta diberikan pengetahuan bagaimana membedakan

makanan yg dicurigai mengandung bahan tambahan berbahaya yang tidak

layak dikonsumsi dengan yang layak untuk dikonsumsi, selain itu juga

kegiatan ini memberikan kesadaran kepada guru agar lebih memperhatikan

jajanan di perjual belikan pedagang dilingkungan sekolah, dan memberi

perhatian lebih terhadap apa yang di konsumsi oleh murid dilingkungan

sekolah selama jam sekolah berlangsung, bukan hanya memberikan dampak


5

kepada pedagang dan guru saja, kegiatan “BPJS” ini juga memberikan

dampak positif bagi murid murid tersebut, dimana murid juga diberikan

pengetahuan mengenai bahaya mengkonsumsi jajanan yang mengandung

bahan pangan berbahaya dan bagaimana membedakan jajanan yang

dicurigai mengandung bahan tambahan pangan berbahaya dengan yang

tidak, sehingga murid lebih sadar pentingnya memilah milih jajanan yang baik

di konsumsi dengan yang tidak baik di konsumsi.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi permasalahan dalam

makalah ini yaitu “Bagaimana Upaya Keamanan Pangan dan Peningkatan

Kualitas Kesehatan Anak melalui kegiatan “BPJS” (Bersama Peduli Jajanan

Anak Sekolah) di puskesmas Kutawaringin.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Terwujudnya Upaya Keamanan Pangan dan Peningkatan Kualitas

Kesehatan Anak melalui kegiatan “BPJS” (Bersama Peduli Jajanan

Anak Sekolah) di puskesmas Kutawaringin..

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Adanya Kerjasama antar lintas sektor ( antara Guru,Pedangang dan

murid)

b. Meningkatnya pengetahuan pedagang terhadap keamanan pangan

c. Adanya kepedulian Guru dalam memperhatikan jajanan yang di

jajakan disekolah dan yang di konsumsi oleh murid di lingkungan

sekolah.
6

d. Meningkatnya pengetahuan murid terhadap pentingnya memilah

milih jajanan di sekolah.


7

BAB II

KERANGKA PIKIR

2.1 Kerangka Pikir

Kasus
Keamanan
Pangan

Pendataan

Pengambilan dan
pemeriksaan
sampel

Koordinasi
degan Sekolah

Penyuluhan pada Pelatihan pada


anak sekolah pedagang dan
guru UKS
8

BAB III

KEGIATAN YANG SUDAH DILAKUKAN

3.1 Kegiatan

Dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja

Puskesmas Kutawaringin beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan antara

lain :

a. Kegiatan Pendataan

Kegiatan pendataan pedagang dan jenis dagangannya yang berjualan

di lingkungan sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin

yang dilaksankan pada hari sabtu setiap 2 minggu 1 kali setiap

bulannya.kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pedagang dan

jenis dagangannya.

b. Pengambilan sampel dan pemeriksaan sampel

Kegiatan pengambilan sampel dan pemeriksaan sampel dilaksankan

pada hari sabtu setiap 2 minggu 1 kali setiap bulannya.Pemeriksaan

sampel dilaksanakan di Puskesmas Kutawaringin, kegiatan ini bertujuan

untuk mengetahui kadat BTP ( Bahan tambahan Pangan yang tidak

diperbolehkan seperti Pormalin, Boraks, Rhodamin B, Metanil yellow yang

berbahaya bagi kesehatan ) yang ada pada jajanan yang di jual

c. Koordinasi dengan pihak sekolah

Setelah diketahui hasil dari pemeriksaan sampel hasilnya di

koordinasikan dengan pihak sekolah untuk kegiatan tindak lanjut, kegiatan

ini bertujuan agar pihak sekolah ( Kepala Sekolah dan guru UKS) turut

serta dalam membina pedagang yang jualan di lingkungan sekolah.


9

d. Penyuluhan tentang jajanan sehat

Kegiatan penyuluhan kepada anak sekolah tentang jajanan yang sehat

dilaksanakan setiap jumat atau sabtu setiap bulannya, kegiatan ini

bertujuan mengedukasi anak anak supaya bisa memilah milih jajanan yang

aman dikonsumsi , kaya gizi dan menyehatkan.

e. Pelatihan tentang keamanan pangan

Pelaksanaan pelatihan keamanan pangan dengan sasaran pedagang

dan guru UKS dilaksankan pada bulan Maret 2019, kegiatan ini bertujuan

untuk memberikan edukasi kepada pedagang dan guru uks tentang

keamanan pangan dan membuat kesepakatan antara puskesmas pihak

sekolah dan pedagang bersama sama peduli pangan jajanan anak

sekolah.

Dari semua kegiatan yang telah dilaksanakan, belum menunjukan hasil

yang optimal, maka untuk mempercepat terwujudnya keamanan pangan di

sekolah di wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin salah satunya melalui strategi

“BPJS “ ( Bersama Peduli Jajanan Anak Sekolah)


10

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Geografi Wilayah Kerja Puskesmas Kutawaringin

Batas wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin adalah :

a. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan cililin.

b. Sebelah timur berbatasab dengan Kecamatan katapang

c. Sebelah Utara Berbatasan dengan Kecamatan Margaasih

d. Sebelah selatan berbatasan dengan Wilayah Desa Kopo

4.2 Nama Desa/ Kelurahan Jumlah RW dan RT

Berikut ini adalah desa-desa yang termasuk wilayah kerja Puskesmas

Kutawaringin, lengkap dengan luas wilayah , Jumlah RT dan RW :

No. Nama Desa/Kelurahan Luas Wilayah Jumlah

RT RW

1 Desa Gajahmekar 193.744 ha 46 14

2 Desa Pameuntasan 62.900 ha 34 13

3 Desa Jelegong 312.269 ha 69 19

4 Desa Jatisari 257.163 ha 42 13

5 Desa Cibodas 549.047 ha 46 18

Sumber : Kecamatan Kutawaringin


11

4.3 Peta Wilayah

Wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin terdiri dari 5 Desa yaitu : Desa Gajah

Mekar, Desa Jatisari, desa Jelegong, Desa Pameuntasan dan Desa Cibodas
12

4.4 Nama nama sekolah dan jumlah murid dan jumlah pedagang jajanan di
wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin Kec. Kutawaringin Kab.
Bandung

No. Nama Sekolah Desa Jumlah Jumlah

Murid Pedagang

1. SD MI Yapiq Pameuntasan 143 3

2. SDN Ciseah Pameuntasan 392 5

3. SDN Pameuntasan Pameuntasan 379 6

02

4. SDN Pameuntasan Pameuntasan 256 2

04

5. SDN Pameuntasan Gajah Mekar 333 2

01

6. SDN Pameuntasan Gajah Mekar 367 5

03

7. SDN Gajah Karamat Gajah Mekar 185 4

8. MI Assalaf Gajah Mekar 219 2

9. SDIT Assaidiyah Gajah Mekar 272 1

10. SDS Nurul El Hikmah Gajah Mekar 219 2

11. SDN Jelegong 1 Jelegong 331 3

12. SDN Jelegong 2 Jelegong 475 3

13. SDN Jelegong 3 Jelegong 256 5

14. SDN Ciharuman Jelegong 273 2

15 SDN Gunung Pancir Jelegong 523 4

16. SDN Cibodas 1 Jatisari 255 3

17. SDN Cibodas 2 Jatisari 176 3

18 SDN Jatisari Jatisari 328 5


13

19. SDN Barokah Jatisari 405 5

20. SDN Buana Mekar Jatisari 261 3

21. MI Nurul Huda Jatisari 110 1

22. SDN Mekarwangi Cibodas 213 2

23 SDN Cipeundeuy Cibodas 138 2

24 MI Atturmuzi Cibodas 121 3

4.5 Jumlah sampel jajanan yang diperiksa dan Positip mengandung bahan

yang berbahaya pada tahun 2019 .

Hasil Pemeriksaan
Sampel
Pormalin Boraks Rhodamin B Metanil Yelow

Mie Golosor

Positif Negatif Negatif Negatif

Sosis Cabe

Positif Negatif Negatif Negatif

Kerupuk

Negatif Negatif Positif Negatif

Baso Ikan

Negatif Negatif Negatif Negatif

Sosis
Negatif Negatif Negatif Negatif

Aromanis
Negatif Negatif Negatif Negatif
14

4.6 Jumlah Sampel yang mengandung Bahan berbahaya

0
Sampel Pormalin Rhodamin B

4.7 Kegiatan “BPJS” ( Bersama Peduli Jajanan anak Sekolah )

4.7.1 Latar belakang Kegiatan “BPJS” ( Bersama Peduli Jajanan anak


Seekolah)

Salah satu strategi di wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin untuk

menanggulangi jajanan yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak

sekolah yang dapat mengakibatkan dampak yang buruk bagi

kesehatan, serta koordinasi yang baik antara pihak sekolah, Puskesmas

dan Penjual Jajanan demi terciptanya masyarakat yang sehat mandiri.

4.5.2 Pengertian “BPJS”

BPJS (Bersama Peduli Jajanan anak Sekolah) adalah suatu

kegiatan pemberdayaan untuk menigkatkan derajat kesehatan dengan

upaya koordinasi dalam pengawasan jajanan yang dijual di sekitar

sekolah yang berakibat buruk bagi pertumbuhan dan derajat kesehatan

anak-anak sebagai generasi penerus dan tulang punggung bangsa.


15

4.5.3 Tujuan kegiatan “BPJS” (Bersama Peduli Jajanan anak Sekolah)

a. Kesadaran Pedagang dalam menjajakan jajanan sekolah yang aman

,bersih dan layak dikonsumsi oleh anak-anak.

b. Kerjasama dengan pihak sekolah untuk memantau dan mengawasi

jajanan sekolah .

c. Pelaporan kepada pihak puskesmas dari pihak sekolah jika ada

jajanan yang dicurigai mengandung zat yang berbahaya .

d. Anak-anak dapat mengetahui ciri-ciri jajanan yang mengandung zat

yang berbahaya.

e. Peran serta orang tua dalam mengawasi jajanan di sekolah yang

dikonsumsi oleh anaknya.

4.5.4 Sasaran kegiatan”BPJS”

a. Kepala Sekolah.

b. Guru UKS.

c. Pedagang jajanan di sekolah

d. Murid

e. Orang tua murid

4.5.5 Gambaran pembentukan kegiatan “BPJS”

Tahapan pembentukan kegiatan “BPJS” dimulai dari

a. Lokakarya Mini bulanan (lokbul )

Sosialisasi di kegiatan lokbul bertujuan supaya terjalin koordinasi

lintas program di puskesmas


16

b. Lokakarya Mini Triwulan (Loktri)

Sosialisasi di kegiatan loktri dengan lintas sektor supaya terjalin

koordinasi dari lintas sektor ( Kecamatan,Disdik,Kapolsek,

Desa,Depag)

c. Pelatihan Keamanan pangan

Sosialisasi dan pelatihan tentang materi keamanan pangan dengan

sasaran guru UKS dan perwakilan pedagang.

d. Penyuluhan kepada anak sekolah

Setiap hari sabtu melaksanakan penyuluhan tentang jajanan sekolah

yang aman di konsumsi serta bahayanya apabila mengkonsumsi

jajanan yang tidak aman.

e. Pemeriksaam Sampel Jajanan

Adanya laporan dari pihak sekolah kemudian ditindak lanjuti oleh

petugas (Sanitarian) untuk di periksa sampel jajanan yang dicurigai

mengandung zat berbahaya.

f. Laporan hasil pemeriksaan kepada pihak sekolah.

Hasil dari pemeriksaan diberitahukan kepada pihak sekolah untuk

menjadi dasar dalam membina pedagang jajanan di sekolah.


17

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.6 KESIMPULAN

1. Kegiatan “BPJS” sudah dilaksanakan di 7 Sekolah Dasar dari total

24 Sekolah Dasar di wilayah kerja Puskesmas Kutawaringin.

2. Pendataan Pedagang Jajanan di semua Sekolah Dasar di wilayah

kerja Puskesmas Kutawaringin.

3. Pemeriksaan sebanyak 6 sampel jajanan dari 3 Sekolah Dasar

dengan hasil didapat 2 sampel jajanan mengandung formalin dan 1

sampel mengandung Rhodamin B.

4. Hasil pemeriksaan sampel sudah dilaporkan kepada pihak sekolah.

5. Pelatihan keamanan pangan dilaksanakan di Sekolah Dasar.

6. Penyuluhan kepada siswa Sekolah Dasar.

4.7 SARAN

1. Dukungan dari berbagai sektor untuk pelaksanaan kegiatan ini.

2. Sekolah ikut berperan aktif dalam kegiatan ini.

3. Sekolah menyediakan kantin sehat sebagai sarana untuk m

4. empermudah pihak sekolah mengawasi pedagang jajanan.


18

LAMPIRAN –LAMPIRAN
19
20
21
22
23
24