Anda di halaman 1dari 2

Hal ini yang sering diabaikan

Hasirun, SKM.,M.Epid
Praktisi Kesehatan
Founder Cita Center
FETP Universitas Airlangga
hasirunfetp@gmail.com

Pusat Kesehatan Masyarakat atau lebih dikenal dengan Puskesmas merupakan keeper di
level akar rumput agar masyarakat tidak jatuh sakit. Dalam prosesnya, Puskesmas harus lebih
mengutamakan untuk memberi pelayanan preventif dan promotif tanpa mengabaikan kuatif
dan rehabilitatif tentunya.
Anggaran kesehatan masih lebih banyak mengintervensi sektor kuratif dibandingkan promotif
dan preventif. Padahal kita tau bersama, sektor yang paling penting untuk mewujudkan
Indonesia sehat adalah promotif dan preventif.
Oleh sebab itu, programer di level Puskesmas harus gesit dan all out dalam mengajak
masyarakat untuk hidup sehat. Mereka harus menjalakan program yang tepat guna dan
berhasil guna. Saat ini, banyak bermunculan inovasi puskesmas dalam mengedukasi
masyarakat. Namun, tak sedikit juga Puskesmas yang memiliki program jalan ditempat atau
tidak efektif. Mengapa? Tulisan ini semoga bisa menggugah programmer Puskesmas untuk
aktif dalam menyelenggarakan pelayanan yang berkualitas.
Promosi Kesehatan, yang dulunya disebut sebagai Pendidikan Kesehatan,
Advokasi
Upaya pendekatan kepada pimpinan atau pengambil keputusan supaya dapat memberikan
dukungan, kemudahaan, dan semacamnya pada upaya pembangunan kesehatan. Mengapa
strategi ini sangat penting? Karena advokasi adalah kunci untuk mengajak sektor lain agar
mau terlibat dan memberikan dukungan pada kegiatan Puskesmas.
Pertama, programer harus mengidentifikasi dan analisis masalah yang memerlukan advokasi
sektor lain.
Kedua, Identifikasi dan analisis individu / kelompok sasaran advokasi (perhatikan
karakteristiknya, pada kecenderungannya, apa potensi yang diharapkan, dan lain
sebagainya).
Ketiga, menyiapkan dan mengemas bahan informasi (diantaranya memuat latar belakang /
rumusan masalah, data pendukung, pesan penting, target / indikator keberhasilan bagi kedua
belah pihak, langkah-langkah monev).
Keempat, merencanakan strategi advokasi (apakah konsultasi, lobi, negosiasi, pertemuan
khusus, rapat terbuka, dan lain sebagainya.
Kelima, melaksanakan kegiatan dan terpenting tetap menindak lanjuti hasil dari advokasi
yang dilakukan.

Kemitraan
Kemitraan adalah kunci dalam menyelenggarakan pelayanan di masyarakat. Sumber daya
petugas tentu terbatas untuk melayani masyarakat satu wilayah kerja Puskesmas. Jadi,
Programer harus aktif menjalin kemitraan dengan pemangku kepentingan dan penentu
kebijakan agar mereka mau mendukung program kesehatan.
Puskesmas harus melakoni seni bermitra dengan baik tentu harus memperhatikan prinsip
kesamaan kepentingan, kejelasan tujuan, kesetaraan kependudukan, transparansi di bidang
kesehatan.
Bukankah dalam menyurun rencana kerja pun harus melibatkan lintas sektor / mitra dan
masyarakat sehingga ide-ide inovasi dari masyarakat bisa terfasilitasi? Dan Bukankah
Puskesmas juga harus mengidentifikasi peran masing-masing lintas sektor sebagai mitra
Puskesmas sebagai wujud mengakselerasi upaya kesehatan mencapai tujuan bersama yaitu
Kecamatan Sehat.
Gerakkan Masyarakat atau Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mengajak masyarakat sadar, mau dan mampu
baik individu, keluarga, dan kelompok masyarakat dalam rangka meningkatkan kepedulian
dan peran aktif melaksanakan kegiatan kesehatan untuk memeliharan dan meningkatkan
kesehatan.
Dalam pelaksanaannya, masih ada Puskesmas yang sering melupakan hal ini. Mereka
melaksanakan kegiatan masih berorientasi pada petugas sebagai pelaku kesehatan
sedangkan masyarakat masih dijadikan sebagai objek atau sasaran tanpa mau melibatkan
kebutuhan, potensi dan sosial budaya yang ada di masyarakat.
Saat ini banyak Puskesmas yang telah menghidupkan “ruh” promosi kesehatan. Salah
satunya Puskesmas Sapala, di Kabupaten Hulu Sungai Utara, yang membentuk Posyandu
Remaja. Dalam proses merintis ini, Puskesmas Sapala melakukan pendekatan dan
melibatkan remaja lokal sebagai kader remaja. Para remaja ini, yang berangkat dari
permasalahan remaja yang disekitarnya dan berbekal pendampingan dari Puskesmas Sapala
dan Nusantara Sehat, mampu menjadi peer educator bagi remaja lainya.
Remaja diajak mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan kesehatan mereka sendiri dan
mengambil tindakan untuk mengatasinya. Puskesmas Sapala bergerak bersama para remaja
yang sadar, mau dan mampu secara pro aktif mengajak masyarakat mempraktikkan perilaku
hidup bersih dan sehat di wilayah kerjanya.
Strategi Promosi Kesehatan bukan hanya harus dipraktikkan oleh programmer Promkes di
Puskesmas, namun sejatinya strategi promosi kesehatan ini harus aplikasikan juga oleh
program lainnya agar upaya kesehatan yang dilakukan dapat berdampak lebih luas.
Begitupun dengan program lainnya, ajak masyarakat menjadi pelaku perubahan perilaku
sehat di sekitarnya. Hal ini kembali ke prinsip masyarakat diajak untuk sadar, mau dan mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatannya.