Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn.S


DENGAN MASALAH UTAMA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI
DI RUANG SRIKANDI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO JAWA TENGAH

Disusun oleh :
CATUR FITRIYANA
P1337420117048

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG


PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEMARANG
2019
LAPORAN KASUS KELOLAAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn.S


DENGAN MASALAH UTAMA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI
DI RUANG SRIKANDI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO JAWA TENGAH

Ruang Rawat : Ruang Srikandi Tanggal dirawat/MRS : 11 Juni 2019

I. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. S
Umur : 38 tahun
Nomor CM : 00106853
Alamat : Kangkung karang RT/RW 06/05
Mranggen, Demak, Jawa Tengah

II. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB


Nama : Tn. K
Alamat : Kangkung karang RT/RW 06/05
Mranggen, Demak, Jawa Tengah
Hubungan : Adik

III. ALASAN MASUK


Saat dirumah klien tidak mau minum obat dan mengalami kesulitan untuk tidur.
Klien berbicara hal-hal yang kurang jelas yang tidak masuk akal dan merasa seperti
mendengar suara atau perintah dari pikirannya sehingga oleh keluarga dibawa ke
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Jawa Tengah pada hari Selasa 11 Juni 2019 pukul
11.15 WIB.
Masalah Keperawatan  Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
IV. FAKTOR PREDISPOSISI
Klien pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya dan pernah dirawat di rumah
sakit jiwa 1 kali. Saat ini adalah kedua kalinya klien dirawat. Klien terakhir dirawat
yaitu 1 tahun yang lalu. Setelah pulang dari rumah sakit, klien rutin kontrol, namun
obatnya kadang tidak diminum. Klien sudah dapat beradaptasi dan berinteraksi,
namun masih ada gejala sisa seperti bicara yang aneh dan tidak dimengerti oleh orang
lain.
Klien tidak pernah mengalami aniaya fisik, seksual, kekerasan dalam rumah
tangga maupun melakukan tindak kriminal. Anggota keluarga yang lain tidak ada
yang mengalami gangguan kejiwaan. Klien pernah mengalami kejadian kurang
mengenakkan sebelumnya. Klien mengatakan anggota keluarganya tidak ada yang
percaya kepadanya tentang suara yang didengar dan kelebihan yang dimiliki klien
yang dianggap tidak masuk akal dan keluarganya menganggap klien kurang waras.

V. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda vital :
a. TD : 130/90 mmHg
b. N : 80 x/menit
c. S : 36,7 C
d. P : 20 x/menit
2. Berat Badan (BB) : 50 kg
Tinggi Badan (TB) : 168 cm
3. Keluhan Fisik
Klien mengatakan tubuhnya terasa lemas, tidak bisa berdiri dengan tegap dan kaki
klien terasa sakit apabila berdiri terlalu lama. Klien terlihat segar dan tidak pucat.

Head to Toe
a. Keadaan Umum : baik
b. Kesadaran : compos mentis
c. GCS : E4 M5 V6
d. Kepala
Inspeksi : kebersihan terjaga, rambut hitam, pasien tidak ada sedikit
ketombe, sedikit berminyak, beruban.
Palpasi : tidak terjadi nyeri saat ada tekanan.
e. Mata
Inspeksi : sklera tidak ikterus, konjungtiva tidak anemis.
Palpasi : tidak terjadi nyeri saat ada tekanan.
Penglihatan: penglihatan normal, tidak mengalami gangguan.
f. Hidung
Inspeksi : tidak terdapat cuping hidung, tidak ditemukan sekret,
hidung simetris.
Palpasi : tidak terjadi nyeri saat ada tekanan.
g. Mulut
Inspeksi : mulut pasien bau, bibir kering, lidah kotor, gigi kuning dan hitam,
mukosa basah, tidak ada kesulitan menelan.
h. Kulit
Kulit kering, turgor elastis, tidak ada edema, warna kulit sawo matang.
i. Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
j. Thorax/dada
Inspeksi : simetris antara kiri dan kanan
Palpasi : tidak ada nyeri
Auskultasi : suara nafas vestikuler
k. Abdomen
Inspeksi : datar
Auskultasi : peristaltik normal
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : tidak kembung, terdengar ronchi
l. Ekstremitas
Atas : akral hangat, tidak ada edema
Bawah : akral hangat dan tidak ada edema
VI. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Klien merupakan anak ke 2 dengan 2 bersaudara. Klien tinggal satu rumah


dengan ketiga anaknya dan istrinya. Orang tua klien dan mertua klien sudah
meninggal. Komunikasi dalam keluarga kurang bagus. Klien mengatakan jarang
berbincang-bincang saat di rumah. Di rumah, keluarga memperhatikan klien
dengan mengingatkan minum obat, memberikan pekerjaan supaya klien tidak
hanya berdiam diri. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit jiwa.

2. Konsep diri
a. Gambaran diri
Klien senang dengan kondisi tubuhnya, klien tidak merasa malu dan
minder dengan rambutnya yang sudah beruban dan badannya yang kurus.
b. Identitas diri
Klien senang menjadi laki-laki dan tidak ada keinginan untuk
merubahnya. Klien berusia 38 tahun dan sudah menikah.
c. Peran
Klien sebagai seorang suami tidak melaksanakan perannya dengan baik
karena klien tidak bekerja hanya dirumah.
d. Ideal diri
Klien berharap penyakitnya cepat sembuh dan dapat bekerja kembali
secara aktif.
e. Harga diri
Klien merasa sulit untuk berinteraksi saat berada di rumah karena anggota
keluarganya tidak ada yang percaya dengan klien dan menganggap klien
gangguan jiwa. Oleh karena itu klien lebih suka menyendiri dan jarang
bersosialisasi. Saat di rumah klien sering berdiam diri dan lebih suka
memendam masalahnya, tidak mau mengutarakan kepada orang lain.

3. Hubungan Sosial
a. Orang terdekat klien
Orang terdekat klien yaitu istrinya. Anggota keluarga yang lain sesekali
mendekati dan mangajak berbincang klien tentang keadaannya.
b. Peran serta kegiatan kelompok/masyarakat
Klien jarang mengikuti kegiatan dan aktivitas yang ada di masyarakat.
Saat di rumah, klien lebih sering berdiam diri dan jarang keluar rumah.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengalami kesulitan untuk memulai interaksi dengan orang lain.
Klien kurang percaya diri dan minder untuk keluar rumah dikarenakan
anggota keluarganya tidak ada yang percaya dengan klien dan menganggap
klien gangguan jiwa
.
4. Spiritual
a. Nilai dan Keyakinan
Klien beragama Islam dan yakin dengan adanya Tuhan. Klien juga
mengatakan bahwa bisa agama Kristen dan tahu kitabnya.
b. Kegiatan Ibadah
Saat di rawat di rumah sakit klien tidak menjalankan ibadah.

VII. STATUS MENTAL


1. Penampilan
Penampilan klien secara keseluruhan rapi. Klien dapat berpakaian dengan
baik dan sesuai. Kacing baju tidak dikancingkan semua. Rambut klien acak-
acakan. Mulut klien kotor, bibir dan gigi terlihat kotor karena klien jarang
melakukan gosok gigi setiap pagi.
2. Pembicaraan
Klien kooperatif, jika ditanya klien akan menjawab. Tempo bicara klien
cenderung cepat. Tata bahasa sesuai. Nada dan volume suara sedang.
3. Aktifitas motorik
Klien masih tampak bingung. Klien terkadang terlihat mondar-mandir.
Saat tidak ada kegiatan klien lebih sering duduk dan diam menonton TV. Klien
ikut serta saat kegiatan senam pagi dan juga aktivitas kelompok dalam ruangan.
4. Afek
Ekspresi wajah dan apa yang dirasakan klien terlihat selaras dan sesuai.
Klien dapat berekspresi sesuai dengan keadaannya. Sebagai contoh saat klien
bercanda wajah klien terlihat senang.
5. Alam Perasaan
Klien mengatakan bingung dan sesekali terlihat melamun.
6. Interaksi selama wawancara
Selama proses wawancara, klien tidak menunjukkan sikap bermusuhan,
kooperatif saat pembicaraan berlangsung. Klien menjawab saat ditanya, klien
mau diajak untuk duduk, dan klien dapat berinteraksi dengan teman yang lain.
Kontak mata yang dilakukan klien cukup.
7. Persepsi sensori
Klien mengatakan mendengar suara-suara yang selalu menyalahkan klien.
Klien mengatakan ia seperti korban padahal klien tidak melakukan hal tersebut.
Klien merasakan hal tersebut sudah cukup lama. Klien mengatakan bahwa
dirinya memiliki “jagat” yaitu berbentuknkeris yang ada didalam dada sebelah
kirinya sejak klien kecil. Jagat tersebut bisa berkembang menjadi 7 orang yang
serupa dengan wajah klien dan jagat tersebut sering digunakan untuk bercinta
dengan wanita wanita diluar sana.
Kemudian klien mendapat bisikan-bisikan berupa wanita-anita yang
menyalahkan klien itu bisa setiap saat. Klien mengatakan jika saat malam hari
sulit untuk tidur karena bisikan-bisikan itu sering datang sehingga saat tidur
sering terbangun. Klien juga mengatakan lebih baik dibuat mengobrol karena
bisikan-bisikan tersebut dapat sedikit terabaikan dibandingkan dengan saat klien
berdiam diri tidak melakukan kegiatan apapun.
Masalah Keperawatan  Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
8. Proses pikir (arus dan bentuk pikir)
Proses pikir
Klien termasuk dalam sirkumtansial yaitu dimana pembicaraan klien
terbelit-belit, namun sampai pada tujuan pembicaraan. Klien juga termasuk ke
dalam logorea karena klien saat melakukan pembicaraan itu cenderung cepat dan
sedikit sulit untuk menghentikan pembicaraan klien.
Isi pikir
Isi pikir klien yaitu obsesif dimana suara pikiran tersebut selalu muncul
meski klien sudah berusaha untuk menghilangkannya.
9. Tingkat kesadaran
Klien sadar dan kooperatif dalam pembicaraan. Klien tidak mengalami
gangguan orientasi. Klien dapat menyebutkan dengan benar saat ini pagi, siang,
sore atau malam. Klien masih ingat dengan hari, bulan dan tanggal. Klien mampu
mengetahui identitas dirinya., contohnya klien dapat mengenal yang mana
perawat dan yang mana dokter. Klien juga tahu sekarang sedang dirawat di RSJD
Dr. Amino Gondohutomo dan berada di ruang Srikandi.
10. Memori
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat. Klien dapat menjawab
kegiatan yang baru saja dilakukan dan mampu menjawab kejadian yang sudah
lampau seperti kejadian masa kecilnya.
11. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
Konsentrasi klien kurang, telihat dari saat pembicaraan klien sesekali tidak
sinkron menjawab pertanyaan yang ada.
12. Kemampuan Penilaian
Klien termasuk ke dalam gangguan kemampuan evaluasi ringan dimana
klien dapat mengambil keputusan secara mandiri ataupun dengan bantuan orang
lain. Sebagai contoh saat ditanya setelah ini klien mau ngapain, klien dapat
menjawab keinginannya yaitu ingin mandi dan setelah itu istirahat.
13. Daya Tilik Diri
Klien dapat menyadari tentang penyakit yang di deritanya dan merasa
butuh pertolongan. Klien tidak menyalahkan orang lain dengan keadaanya
sekarang ini.

VIII. KEBUTUHAN KLIEN MEMENUHI KEBUTUHAN


1. Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
Klien dapat memenui kebutuhan secara mandiri. Klien dapat makan
dengan lahap, pakaian dapat memakai sendiri dan berpakaian dengan rapi. Klien
tinggal bersama dengan istri dan ketiga anaknya.
2. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
a. Perawatan diri
Klien dapat melakukan perawatan diri dengan baik. Klien melakukan
ADL secara mandiri dengan mandi dan gosok gigi setelah melakukan sarapan
pagi.
b. Nutrisi
Klien mengatakan tidak puas dengan makanannya dan tidak napsu makan.
Selama dirawat rumah sakit klien juga tidak pernah menghabiskan porsi
makannya. Klien makan bersama sama dengan teman temannya diruang
makan.
c. Tidur
Klien mengalami gangguan tidur. Saat malam hari, klien sering terbangun
ditengah tidurnya sehingga tidur tidak nyenyak. Klien mengatakan
mendengar bisikan dari pikirannya itu sehingga tidur sering terbangun saat
malam hari.
4. Sistem pendukung
Klien sudah tidak memiliki kedua orang tua lengkap. Klien tinggal
bersama istri dan ketiga anaknya. Salah satu kakaknya juga ada yang rumahnya
berdekatan dengan tempat tinggal klien, sehingga klien kadang berkunjung
kesana.
IX. MEKANISME KOPING
Saat klien mengalami masalah, klien cenderung diam saja tidak bercerita dengan
orang lain. Saat ada orang yang menyakiti hatinya ataupun saat ada yang
memarahinya, klien hanya tetap diam karena ia merasa tidak punya kemampuan
untuk melawannya. Klien hanya dapat diam, dan memendam masalah yang ada.

X. ASPEK MEDIS
Diagnosa medis : Halusinasi dan Skizofrenia Tipe Manik
Terapi medik : P/O
1. Depakote 2x250 mg
2. Haloperidol 2x5 mg
3. Merlopam 1x2 mg

XI. POHON MASALAH

Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

Isolasi diri : manarik diri


XII. ANALISA DATA

Tgl/Jam Data Fokus Diagnosis Paraf


Rabu, 12 DS : Perubahan persepsi Catur
- Keluarga mengatakan klien sering melamun
Juni 2019 sensori: halusinasi
sendiri dan suka ngomong sendiri
Pukul - Pasien sering mengatakan mendengar suara- pendengaran
suara yang belum tentu ada orangnya.
07.30 WIB
DO :
- Klien tampak gelisah dan berbicara sendiri.
- Pasien melamun dan pandangan kosong

Rabu, 12 DS : Resiko menciderai Catur


Juni 2019 - Klien mengatakan apabila mendengar suara diri, orang lain dan
Pukul suara tersebut seperti robot yang mengikuti lingkungan
07.30 WIB perintah
- Klien juga mengatakan apabila mendengar
suara suara tersebut tidak mau makan dan
tidak tidur

DO :
- Pasien terlihat pucat dan lemas karena tidak
mau makan dan tidak tidur
- Pasien terkadang terlihat seperti menonjok
nonjok dadanya
Rabu, 12 DS : Isolasi diri : Catur
- klien mengatakan pengen sendiri dan tidak
Juni 2019 manarik diri
mau bergabung dengan teman-temannya
Pukul
07.30 WIB
DO :
- Klien tidak memperdulikan lingkungan
sekitar
- Klien jarang berbicara dengan teman teman
disekitarnya
XIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran b.d isolasi sosial : menarik diri

XIV. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Tgl/Jam Diagnosis Rencana Keperawatan


Tujuan Tindakan Rasional
Rabu, 12 Gangguan TUM: 1. Bina hubungan saling percaya 1. Hubungan saling
Juni persepsi Klien tidak dengan menggunakan prinsip percaya merupakan
2019 sensori: mencederai komunikasi terapeutik dasar komunikasi
halusinasi diri, orang a. Sapa klien dengan ramah, terapeutik antara
Pukul
pendengara lain, atau baik verbal maupun non perawat dengan klien
07.30
n b.d isolasi lingkungan verbal 2. Saat klien sudah trust
WIB
sosial: b. Perkenalkan diri dengan dengan perawat
menarik diri TUK 1: sopan biarkan klien
Klien dapat c. Tanyakan nama lengkap mengungkapkan
membina klien dan nama panggilan perasaanya kare hal
hubungan kesukaan klien tersebut mampu
saling percaya d. Jelaskan maksud dan mengurangi sedikit
tujuan berinteraksi beban yang diderita
e. Berikan perhatian pada klien
klien, perhatikan 3. Agar klien merasa
kebutuhan dasarnya nyaman dan tetap
2. Beri kesempatan klien percaya dengan
mengungkapkan perasaannya perawat maka perlu
3. Dengarkan ungkapan klien rasa empati saat klien
dengan empati bercerita
TUK 2: 1. Adakan kontak sering dan 1. Supaya klien tetap
Klien dapat singkat secara bertahap merasa percaya
mengenal 2. Tanyakan apa yang didengar dengan perawat
halusinasinya dari halusinasinya 2. Agar tidak salah
3. Tanyakan kapan halusinasinya dalam memberikan
datang penanganan kepada
4. Tanyakan isi halusinasinya klien
5. Bantu klien mengenal 3. Apabila klien
halusinasi mengenal
a. Jika menemukan pasien halusinasinya maka
sedang halusinasi tanyakan akan mempermudah
apakah ada suara yang untuk penyembuhan
didengar klien
b. Jika pasien menjawab ada,
lanjutkan apa yang
dikatakan
c. Katakan bahwa perawat
percaya, pasien mendengar
suara itu, namun perawat
sendiri tidak
mendengarnya
( dengan nada bersahabat
tanpa menuduh/
menghakimi)
d. Katakan bahwa pasien lain
juga ada yang seperti
pasien
e. Katakan bahwa perawat
akan membantu pasien
6. Diskusikan dengan klien:
a. Situasi yang menimbulkan/
tidak menimbulkan
halusinasi
b. Waktu, frekwensi
terjadinya halusinasi (pagi,
sore, siang dan malam/
atau jika sendiri, jengkel
atau sedih)
7. Diskusikan dengan klien apa
yang dirasakan jika terjadi
halusinasi (marah, takut, sedih,
senang, beri ksempatan pasien
mengungkapkan perasaannya)
TUK 3: 1. Identifikasi bersama pasien 1. Agar klien mengerti
Klien dapat tindakan yang bisa dilakukan cara apa saja yang
mengontrol bila terjadi halusinasi bisadilakukan saat
halusinasinya 2. Diskusikan manfaat dan cara halusinasi tiba
yang digunakan klien, jika 2. Adanya
bermanfaat beri pujian reinforcement
3. Diskusikan cara baik memutus membuat klien
atau mengontrol halusinasi semakin percaya diri
a. Tutup mata, telinga, 3. Agar proses
katakana “ Saya tidak mau menghadardik
dengar, kamu suara palsu” berjalan dengan baik
b. Temui orang lain atau dan klien merasa
perawat untuk bercakap- nyaman
cakap atau mengatakan 4. Agar klien tidak
halusinasi yang didengar terpaksa melakukan
c. Membuat jadwal kegiatan proses menghardik
sehari-hari maka anjurkan klien
d. Meminta teman, keluarga untuk memilih
atau perawat menyapa 5. Adanya
klien jika tampak bicara reinforcement
sendiri atau melamun membuat klien
4. Bantu klien memilih dan semakin percaya diri
melatih cara mengontrol 6. Agar klien tidak
halusinasi secara bertahap melamun sendirian
5. Beri kesempatan untuk dan membiarkan
melakukan cara yang dilatih, halusinasinya datang
evaluasi hasilnya jika benar
beri pujian
6. Anjurkan klien mengikuti
TAK jenis orientasi realita atau
stimulasi persepsi
TUK 4: 1. Anjurkan klien memberitahu 1. Agar klien segera
Klien dapat keluarga jika mengalami mendapat bantuan
dukungan dari halusinasi ketika halusinasinya
keluarga 2. Diskusikan dengan keluarga datang
dalam (Pada saat keluarga berkunjung 2. Agar keluarga tahu
mengontrol atau kunjungan rumah) apa itu halusinasi dan
halusinasinya a. Gejala halusinasi yang cara penangannya
dialami pasien ketika klien
b. Cara klien dan keluarga mengalamai
yang dapat memutus halusinasi dan supaya
halusinasi tidak menciderai
c. Cara merawat anggota orang lain
keluarga yang mengalami
halusinasi dirumah
d. Beri kegiatan, jangan
biarkan sendiri
e. Beri informasi waktu
follow up atau kapan perlu
mendapat bantuan
halusinasi tidak terkontrol
dan risiko mencederai
orang lain
TUK 5: 1. Anjurkan klien bicara dengan 1. Agar klien mengerti
Klien dapat dokter tentang manfaat dan efek samping yang
menggunakan efek samping obat yang ditimbulkan setelah
obat dengan dirasakan minum obat
benar untuk 2. Diskusikan akibat berhenti (contohnya pusing
mengendalika obat tanpa konsultasi dan mengantuk)
n halusinasi 3. Bantu klien menggunakan obat 2. Agar klien tahu
dengan prinsip 5 benar akibat apa yang
ditimbulkan dan
memiliki semangat
minum obat agar
segera sembuh
3. Agar pengobatan
berjalan dengan baik
dan pasien segera
sembuh
XV. CATATAN KEPERAWATAN

Tgl/Jam Diagnosis Catatan Keperawatan Evaluasi

Rabu, 12 Gangguan 1. Membina hubungan saling percaya S:


Juni persepsi dengan menggunakan prinsip
- Klien mampu
2019 sensori: komunikasi terapeutik: dengan
memperkenalkan diri dengan
halusinasi menyapa klien dengan ramah, baik
Pukul cukup baik
pendengaran verbal maupun non verbal,
08.15 - Klien menceritakan
b.d isolasi memperkenalkan diri dengan sopan
WIB masalahnya, pada awalnya
sosial: dan menjelaskan maksud dan
klien menceritakan bahwa
menarik diri tujuan berinteraksi dengan klien
sejak kecil klien memiliki
saat ini
gaman bernama “jagat” yang
2. Memberi kesempatan kepada klien
berbentuk keris dan berada
untuk mengungkapkan perasaannya
pada dadanya sebelah kiri,
3. Berikan rasa empati kepada klien
kemudian jagat itu
saat klien bercerita dengan perawat
disalahgunakan oleh orang
4. Tanyakan jenis, isi, frekuensi yang
lain untuk bercinta dengan
didengar dari halusinasinya
wanita lain yang memiliki
5. Tanyakan kapan dan apa yang
wujud rupa dan fisik sama
dilakukan klien saat halusinasinya
seperti klien. Klien juga
datang
mengatakan bahwa jagat
6. Bantu klien mengenal halusinasi
tersebut bisa berkembang
7. Jika menemukan pasien sedang
sebanyak 7 wujud manusia.
halusinasi tanyakan apakah ada
- Klien mampu mengatakan
suara yang didengar
dirinya mendengar suara
8. Jika pasien menjawab ada,
bisikan wanita wanita yang
lanjutkan apa yang dikatakan
menyalahkan dirinya.
9. Katakan bahwa perawat percaya,
Wanita tersebut korban dari
pasien mendengar suara itu, namun
disalahgunakannya jagat
perawat sendiri tidak
yang ada didalam dirinya.
mendengarnya Dan klien merasa bahwa
( dengan nada bersahabat tanpa dirinya tidak bersalah karna
menuduh/ menghakimi) yang menggunakan jagatnya
10. Katakan bahwa pasien lain juga tersebut orang lain bukan
ada yang seperti pasien dirinya.
11. Katakan bahwa perawat akan - Klien mengatakan klien
membantu pasien mendengar bisikan tersebut
12. Diskusikan dengan klien situasi setiap saat terutama saat
yang menimbulkan / tidak klien menyendiri dan
menimbulkan halusinasi melamun
- Klien mengatakan saat
mendengar bisikan tersebut
klien melakukan penolakan
bahwa diirnya tidak salah
dengan menanggapi bisikan
bisikan tersebut
- Klien mengatakan bahwa
saat ini dia tahu kalau
dirinya terkena halusinasi
dan hal tersebut harus
dihilangkan tetapi klien
masih belum percaya

O:

- Klien berbicara dengan cepat


dan tidak jelas, perlu
focusing untuk menggali
lebih dalam masalah klien
- Kontak mata klien cukup
- Terkadang bicara klien suka
ngelantur

A:

Klien mengalami gangguan


persepsi sensori : halusinasi dan
belum teratasi

P:

Optimalkan intervensi

Kamis, 1. Mengucapkan salam terapeutik, S :


13 Juni kontrak waktu, tempat dan topik.
- Klien mengatakan saat ini
2019 2. Lakukan kontak sering dan singkat
percaya bahwa dirinya
secara bertahap dengan klien
Pukul terkena gangguan persepsi
3. Mengidentifikasi bersama pasien
08.35 sensori halusinasi dan ingin
tindakan yang bisa dilakukan bila
WIB sembuh
terjadi halusinasi
- Klien mengerti cara
4. Mendiskusikan manfaat dan cara
memutus halusinasi dengan
yang digunakan klien, jika
cara pertama dan kedua yaitu
bermanfaat beri pujian
menghardik dan ngobrol
5. Mendiskusikan cara baik memutus
dengan teman teman saat
atau mengontrol halusinasi
halusinasi itu dating
a. Tutup mata, telinga, katakan “
- Klien mengatakan mau
Saya tidak mau dengar, kamu
memilih menggunakan cara
suara palsu”
yang pertama dan kedua
b. Temui orang lain atau perawat
terlebih dahulu
untuk bercakap-cakap atau
mengatakan halusinasi yang O:
didengar
- Klien mampu
c. Membuat jadwal kegiatan
memperagakan cara pertama
sehari-hari
yaitu menghardik saat
d. Meminta teman, keluarga atau halusinasi dating
perawat menyapa klien jika - Klien terlihat tidak banyak
tampak bicara sendiri atau melamun dan kooperatif
melamun
A:
6. Membantu klien memilih dan
melatih cara mengontrol halusinasi Masalah teratasi sebagian
secara bertahap
P:
7. Memberi kesempatan untuk
melakukan cara yang dilatih, Optimalkan intervensi
evaluasi hasilnya jika benar beri mengajarkan cara menghardik
pujian
8. Menganjurkan klien mengikuti
TAK jenis orientasi realita atau
stimulasi persepsi
Jumat, 1. Mengucapkan salam terapeutik, S :
14 Juni kontrak waktu, tempat dan topik.
- Klien mengatakan setiap
2019 2. Memberi kesempatan untuk
halusinasinya datang klien
melakukan cara yang dilatih oleh
Pukul mampu menerapkan cara
perawat kemarin, evaluasi hasilnya
09.00 menghardik dan ngobrol
jika benar beri pujian
WIB dengan teman teman yang
3. Anjurkan klien bicara dengan
ada disekelilingnya
dokter tentang manfaat dan efek
- Klien mengetahui manfaat
samping obat yang dirasakan
obat yang diminum dan efek
4. Diskusikan akibat berhenti obat
samping yang ditimbulkan
tanpa konsultasi
apabila minum obat
5. Bantu klien menggunakan obat
- Klien juga mengetahui
dengan prinsip 5 benar
akibat apa yang timbul
apabila tida rutin minum
obat
O:

- Klien sudah lancer dalam


memperagakan cara
menghardik
- Klien juga tidak terlihat
kebingungan dan sering
melamun

A:

Masalah teratasi sebagian

P :

Optimalkan intervensi,
menganjurkan klien untuk
berinteraksi dengan teman-
teman disekelilingnya