Anda di halaman 1dari 88

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU

GUNA MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PRODUKSI


PADA PT. ANEKA BOGA MAKMUR

Oleh :
Dwi Asih Retnosari
NPM: 07.2.02.03473

Program Studi: Manajemen


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
(STIESIA) SURABAYA
2012
ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
GUNA MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PRODUKSI
PADA PT. ANEKA BOGA MAKMUR

Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

Guna memperoleh gelar sarjana ekonomi

Program Studi : Manajemen

Konsentrasi : Manajemen Keuangan

Oleh :

Dwi Asih Retnosari

NPM: 07.2.02.03473

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


(STIESIA) SURABAYA
2012
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI

Yang bertanda tangan dibawah ini , saya :

Nama : Dwi Asih Retnosari

NPM : 07.2.02.03473

Menyatakan bahwa skripsi dengan judul :

“ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU GUNA


MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PRODUKSI PADA PT. ANEKA
BOGA MAKMUR”

Dan diajukan untuk diuji pada tanggal 05 Juni 2012, adalah sebagai hasil karya
saya.

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi


ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil
dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol
yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang
saya akui seolah – olah sebagai tulisan saya sendiri, dan atau tidak terdapat bagian
atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya ambil dari tulisan
orang lain tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.

Apabila saya melakukan hal tersebut diatas, baik sengaja maupun tidak,
dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil
tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan
tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya
sendiri, berarti gelar dan ijazah yang telah diberikan Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya batal saya terima.

Surabaya, 05 Juni 2012

Yang membuat pernyataan

Dwi Asih Retnosari.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. MAHASISWA
Nama : Dwi Asih Retnosari
NPM : 07.2.02.03473
Program Studi : Manajemen
Konsentrasi : Manajemen Keuangan
Tempat / tanggal Lahir : Surabaya, 29 Oktober 1984
Agama : Islam
Jumlah Saudara / Anak ke : 2 (dua) / 1 (satu)
Alamat Rumah : Keputih gang 3c No. 2b
Status : Belum menikah

B. ORANG TUA
Nama : Sujarno
Alamat Rumah / telepon : Keputih gang 3c No. 2b
Alamat Kantor / telepon :
Pekerjaan / Jabatan : Polri

C. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Tamat SD : SDN Menur 2 Surabaya
2. Tamat SMP : SMP Negeri 19 Surabaya
3. Tamat SMU : SMU Negeri 7 Surabaya
4. Pendidikan Tinggi (PT) :
Nama PT Tempat Semester Tahun Keterangan
UNAIR Surabaya I – VI 2003 - 2006
STIESIA Surabaya VI – XVI 2007 - 2012

D. RIWAYAT PEKERJAAN
Tahun Bekerja di. Pangkat / Jabatan
Golongan
2006 PT Garam (Persero) Admin HRD
2006 – 2009 PT Pakuwon Jati Asisten Manajer HRD
2009 – 2012 IRD RSUD Dr. Sekretariat IRD
Soetomo Surabaya

Dibuat dengan sebenar-benarnya


Surabaya, 05 Juni 2012

Dwi Asih Retnosari


KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkat, rahmat

dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

“Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Guna Meningkatkan Efisiensi

Biaya Produksi pada PT Aneka Boga Makmur, Makassar” yang diajukan untuk

memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Program

Studi Manajemen Keuangan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia

(STIESIA) Surabaya.

Pada kesempatan yang berharga ini, tidak lupa penulis meyampaikan

rasa terima kasih yang tulus dan tidak terhingga kepada :

1. Dr. Akhmad Riduwan, S.E., M.S.A.,Ak selaku Ketua Sekolah Tinggi

Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya.

2. Dr. Suwitho., M.Si. selaku Ketua Prodi Manajemen Sekolah Tinggi

Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya, dan dosen

pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk

membimbing serta memberikan petunjuk yang bermanfaat sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Ibu dan bapak yang selalu memberikan doa, kasih sayang dan motivasi

kepada penulis.
4. Seluruh Dosen Prodi Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi

Indonesia (STIESIA) Surabaya yang telah memberikan ilmu,

wawasan, dan pengalaman.

5. Seluruh staf dan karyawan PT. Bridgestone Tire Indonesia atas

bantuan dankerjasamanya selama penulis melaksanakan penelitian.

6. Semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu, terima

kasih atas semua bantuannya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih

banyakkekurangan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran

yangbersifat membangun. Akhirnya, Penulis berharap semoga skripsi ini

dapatbermanfaat bagi kita semua

Surabaya, 05 Juni 2012

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL LUAR SKRIPSI ....................................................... i
HALAMAN SAMPUL DALAM SKRIPSI ................................................... ii
HALAMAN JUDUL SKRIPSI ....................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI ............................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ vi
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vii
DAFTAR ISI ................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xv
INTISARI ........................................................................................................ xvi
ABSTRACT ...................................................................................................... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ...................................................................... 3
1.3. Tujuan Penelitian ....................................................................... 3
1.4. Manfaat Penelitian ..................................................................... 4
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................... 5

BAB 2. TINJAUAN TEORITIS .................................................................. 6


2.1. Tinjauan Teoritis ........................................................................ 6
2.1.1. Pengertian Bahan Baku .................................................... 6
2.1.2. Pengertian Persediaan ...................................................... 6
2.1.3. Jenis – Jenis Persediaan ................................................... 7
2.1.4. Fungsi-fungsi Persediaan ................................................. 8
2.1.5. Biaya-biaya Persediaan .................................................... 10
2.1.6. Penggunaan Bahan Baku ................................................. 11
2.1.7. Model Pengendalian Persediaan ...................................... 16
2.1.7.1. Model Q (Continuous Review Method) ................ 16
2.1.7.2. Sistem P (Periodic Review Method) .................... 22
2.1.7.3. Persediaan Pengaman .......................................... 23
2.1.7.4. Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) ......... 23
2.2. Kerangka Penelitian ................................................................... 24

BAB 3. METODE PENELITIAN ................................................................ 28


3.1. Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi(Obyek Penelitian) ..... 28
3.2. Teknik Pengambilan Sampel ..................................................... 28
3.3. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 29
3.1.1. Sumber Data ...................................................................... 29
3.1.2. Teknik Pengumpulan Data ................................................ 29
3.4. Definisi Operasional Variabel ................................................... 30
3.5. Teknik Analisis Data ................................................................. 32

BAB 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 36


4.1. Hasil Penelitian .......................................................................... 36
4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan .............................................. 36
4.1.2. Fasilitas Perusahaan ......................................................... 36
4.1.3. Struktur Organisasi ........................................................... 37
4.1.4. Tahapan Pengolahan Produksi ......................................... 40
4.1.5. Jenis Produk ..................................................................... 47
4.2. Analisis dan Pembahasan ........................................................... 48
4.2.1. Bahan Baku ...................................................................... 48
4.2.3. Mekanisme Pengadaan Bahan Baku ................................ 50
4.3. Kebijakan Pengendalian Bahan Baku Menurut PT Aneka
BogaMakmur ............................................................................. 50
4.4. Analisis Persediaan Bahan Baku Menurut Metode EOQ ........... 55
4.5. Analisis Persediaan Bahan Baku Menurut Metode EPQ ............
4.6. Analisis Efisiensi Pemesanan Bahan Baku yang optimal
dengan pemesanan bahan baku yang dilakukan dengan
kebijakan PT Aneka Boga Makmur ........................................... 60
4.7. Analisis Perbandingan antara metode EOQ dan EPQ dengan
Kebijakan perusahaan ................................................................ 63

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 66


5.1. Kesimpulan ................................................................................ 66
5.2. Saran .......................................................................................... 67

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 68


LAMPIRAN ....................................................................................................
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Daftar Produk yang diproduksi oleh PT Aneka Boga Makmur ..... 47

Tabel 2. Total Penggunaan Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak
pada Tahun 2011 ............................................................................. 51

Tabel 3 Kuantitas dan Frekuensi Pemesanan Bahan Baku Tepung Terigu,


Gula dan Minyak pada Tahun 2011 ................................................ 52

Tabel 4 Harga Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak di


PT Aneka Boga Makmur pada Tahun 2011 .................................... 53

Tabel 5. Total Biaya Persediaan Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan
Minyak di PT Aneka Boga Makmur pada Tahun 2011 .................. 55

Tabel 6 Jumlah Penggunaan, Biaya Pemesanan per Pesanan dan Biaya


Penyimpanan per kg Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan
Minyak di PT Aneka Boga Makmur pada Tahun 2011 .................. 57

Tabel 7. Kuantitas Pemesanan, Frekuensi dan Total Biaya Persediaan


Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak menurut metode
Economic Order Quantity ............................................................... 58

Tabel 8 Besarnya Safety Stock Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan
Minyak optimal menurut metode Economic Order Quantity.......... 59

Tabel 9 Reorder Point Optimal Persediaan Bahan Baku Tepung Terigu,


Gula dan Minyak Optimal Menurut Metode Economic Order
Quantity ........................................................................................... 59

Tabel 10 Kuantitas Pemesanan, Frekuensi dan Total Biaya Persediaan


Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak menurut metode
Economic Production Quantity ....................................................... 61

Tabel 11 PerbandinganKuantitas dan Frekuensi Pembelian Bahan


Bakuantara kebijakan Perusahaan dengan metode Economic
Order Quantity ................................................................................ 60

Tabel 12 PerbandinganTotal Biaya Persediaan Bahan Baku antara


kebijakan Perusahaan dengan metode Economic Order Quantity .. 61
Tabel 13 Perbandingan Kuantitas Persediaan Pengaman Bahan Baku antara
kebijakan Perusahaan dengan metode Economic Order Quantity .. 62

Tabel 14 Perbandingan Reorder Point Bahan Baku antara kebijakan


Perusahaan dengan metode Economic Order Quantity ................... 63
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.Hubungan antara kedua jenis biaya persediaan............................. 17

Gambar 2. Skema Kerangka Berpikir Pendekatan masalah


pengefisiensian persediaan bahan baku menggunakan metode
Economic Order Quantity di PT Aneka Boga Makmur .......... 25

Gambar 3. Struktur Organisasi PT Aneka Boga Makmur ......................... 38

Gambar 4. Bagan Proses Produksi, Packing dan Penyimpanan pada


PT Aneka Boga Makmur ......................................................... 46
Gambar 5. Tingkat Pemakaian Bahan Baku pada PT Aneka Boga
Makmur pada tahun 2011 ......................................................... 51
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Pengantar Bimbingan ..................................................... 17

Lampiran 2. Kartu Konsultasi Bimbingan Skripsi ..................................... 25

Lampiran 3. Ijin Riset ................................................................................

Lampiran 4. Berita Acara Bimbingan Skripsi ............................................

Lampiran 5. Surat Keterangan Riset PT Aneka Boga Makmur .................

Lampiran 6. Sertifikat Seminar ..................................................................


INTISARI

Kegiatan yang paling penting dalam suatu perusahaan adalah kegiatan


produksi. Untuk mengadakan kegiatan produksi, perusahaan membutuhkan bahan
baku.Adanya persediaan bahan baku yang terlalu besar dibandingkan kebutuhan
perusahaan akan menambah beban bunga, biaya pemeliharaan dan penyimpanan
dalam gudang, serta kemungkinan terjadinya penyusutan dan kualitas yang tidak
bisa dipertahankan, sehingga semuanya ini akan mengurangi keuntungan
perusahaan. Demikian pula sebaliknya,Oleh karena itu diperlukan pengendalian
persediaan bahan baku, agar proses produksi tetap berjalan dengan lancar dan
diperoleh biaya persediaan yang rendah.
Dalam tulisan ini penulis meneliti penggunaan bahan baku inti dari
proses produksi di PT Aneka Boga Makmur, yaitu tepung terigu, gula dan minyak
dengan menggunakan metode Economic Order Quantity dan Economic
Production Quantity untuk menganalisa apakah kebijakan perusahaan yang
berkaitan dengan jumlah pemesanan bahan baku, frekuensi pemesanan bahan
baku, biaya pemesanan bahan baku, reorder point serta safety stock yang telah
ditetapkan oleh perusahaan sudah mencapai efisiensi yang maksimal atau tidak.
Hasil penelitian menunjukkan untuk bahwa kebijakan perusahaan belum
mencapai tingkat efisiensi dalam biaya persediaan, dengan menggunakan metode
EOQ perusahaan jauh bisa menghemat biaya pemesanan bahan baku dengan cara
menambah jumlah pemesanan dan mengurangi frekuensi pemesanan bahan baku,
menetapkan safety stock dan reorder point untuk pemesanan kembali.

Kata kunci : Economic Order Quantity, Economic Production Quantity, Safety


Point, Reorder Point , Biaya Persediaan.
ABSTRACT

The most important activities in a company is manufacturing activities.


To conduct production activities, the company needed raw materials. Lack of
supplies of raw materials that are too large compared to the needs of the company
will increase interest expense, maintenance and storage in the warehouse, as well
as the possibility of shrinkage and quality that can not be sustained, so that all
this will reduce corporate profits. Vice versa, is therefore required inventory
control of raw materials, production processes in order to keep it running
smoothly and lower inventory costs.
In this paper the authors examine the use of core materials from the
production process in PT Aneka Boga Makmur, ie flour, sugar and oil using the
Economic Order Quantity and Economic Production Quantity to analyze whether
the company's policies relating to the ordering of raw materials, the frequency of
ordering raw material, raw material ordering cost, reorder point and safety stock
are determined by the company has reached maximum efficiency or not.
The results show for the company's policy has not reached the level of
efficiency in the cost of inventory, using the EOQ method is much the company
can save money ordering raw materials by increasing the number of orders and
reduce the frequency of ordering raw materials, setting safety stock and reorder
point for reorder.

Key words: Economic Order Quantity, Economic Production Quantity, Safety


Point, Reorder Point, Inventory Costs.
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Kegiatanperusahaanmempunyaihubungan yang

sangateratdengankegiatanproduksi.Perusahaan

mengadakankegiatanproduksiuntukmemenuhikebutuhanpasar dan yang

terpenting adalah untuk menghasilkan laba bagi

perusahaan.Untukmengadakankegiatanproduksi, perusahaan

membutuhkanbahanbaku.Olehkarenaitudidalamduniausahamasalahbahanba

kuadalahmasalah yang sangatpenting.

Perusahaan memiliki persediaan dengan maksud untuk menjaga

kelancaran proses produksi. Tanpa adanya persediaan maka perusahaan

dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya suatu waktu tidak dapat

memenuhi keinginan pelanggan yang memerlukan barang atau jasa yang

dihasilkan.

Untuk itu persediaan bahan baku harus selalu tersedia.

Pengendalian persediaan bahan baku menjadi sangat penting. Adanya

persediaan bahan baku yangterlalu besar dibandingkan kebutuhan

perusahaan akan menambah beban bunga,biaya pemeliharaan dan

penyimpanan dalam gudang, serta kemungkinanterjadinya penyusutan dan

kualitas yang tidak bisa dipertahankan, sehinggasemuanya ini akan


mengurangi keuntungan perusahaan. Demikian pulasebaliknya, persediaan

bahan baku yang terlalu kecil dalam perusahaan akanmengakibatkan

terhambatnya proses produksi, mengakibatkan tidak

terpenuhinyapermintaan konsumen sehingga perusahaan akan menyebabkan

kerugian juga.Oleh karena itu diperlukan pengendalian persediaan bahan

baku, agar prosesproduksi tetap berjalan dengan lancar dan diperoleh biaya

persediaan yang rendah.

PT. Aneka BogaMakmur (ABM) adalah salah satu perusahaan

yangbergerak dalam bidangmanufakturanekamacam produk biskuit.PT

Aneka Boga Makmur bertekaduntukmenghasilkanproduk yang

berkualitastinggidanharganyaterjangkauolehberbagaikalangan.Untukitumak

adilakukanpengendaliandalam proses produksinya, agar

tidakterjadikelebihanbiayadanmengakibatkankerugianbagiperusahaan.

Pengendalianpersediaanbahanbakumerupakansalahsatuaspek

yangsangatpentingbagiberlangsungnyakelancaransuatuproduksi. Hal

iniberlakuuntuksemua industriterutamaindustri yang bergerakdalambidang

manufakturing, Pengendalianpersediaanbahanbakupada proses produksi

merupakansalahsatusistem yang

dapatmenjaminkelancaranakanketersediaanbahanbaku, sehingga proses

produksiakanberjalandenganlancar.Pengendaliantersebutdapatmencegahterj

adinyakekuranganbahanbaku yangdapatmengakibatkanterhambatnya proses

produksiataudapatmenghentikankegiatanproduksi yang

menyebabkanperusahaanmenderitakerugian.
Berdasarkan latar belakang masalah dan alasan yang telah

dikemukakan diatas, maka penulismelakukanpenelitian dengan judul

“Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Guna Meningkatkan

Efisiensi Biaya Produksi Pada PT. Aneka Boga Makmur “.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Komponen Apa sajakah yang berpengaruhterhadap pengendalian

persediaanbahan bakupada PT Aneka Boga Makmur?

2. Apakahmetodepengendalianpersediaanbahanbaku yang digunakan oleh

PT Aneka Boga Makmur sudah berhasil untuk meningkatkan efisiensi

biaya persediaan ?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengumpulkan

data dan menganalisis pengendalian persediaanbahanbaku yang di

lakukanoleh PT Aneka BogaMakmur. Tujuan penelitian secara khusus

adalah untuk mendapatkan jawaban dari rumusan masalah diatas yaitu :

1. Untuk mengetahui komponen apa yang berpengaruh terhadap

pengendalian persediaan bahan baku pada PT Aneka Boga Makmur.


2. Untuk mnenganalisis apakah metodepengendalianpersediaanbahanbaku

yang digunakan oleh PT Aneka Boga Makmur sudah berhasil untuk

meningkatkan efisiensi biaya persediaan.

1.4. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat – manfaat yang penulis harapkan dari adanya

penelitian ini adalah :

1. Kontribusi Praktis

a. Memberikan masukan mengenai PengendalianPersediaanBahan

Baku yang mungkin dapat bermanfaat bagi PT Aneka

BogaMakmur dan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat

perencanaan persediaan bahan baku, yang mampu

meminimumkanbiayaproduksi yang timbul.

b. Data empiris mengenai Pengendalianpersediaanbahanbaku dapat

dijadikan sebagai input pada PT Aneka BogaMakmur dalam rangka

melakukanefisiensidalampersediaanbahanbaku.

2. Kontribusi Teoretis

a. Merupakan sarana belajar untuk mengidentifikasi, menganalisis

dan merencanakan masalah yang nyata sehingga akan lebih

meningkatkan pengertian-pengertian dan teori di bangku kuliah.

b. Diharapkan dapat memperluas dan memperkaya pengetahuan di

bidang keuangan, khususnya menyangkut tentang

Pengendalianpersediaan bahanbaku dalam proses produksisuatu

perusahaan.
c. Memperoleh tambahan pengetahuan dari hasil penelitian yang

dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti yang lain.

3. Kontribusi Kebijakan

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran serta

bahan pertimbangan bagi perusahaan dan pihak yang berkompeten

dalam mengambil keputusan.

1.5. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Dalam penelitian ini ditekankan pada pembahasan mengenai

mencari efisiensi biaya persediaan perusahaan dengan menggunakan metode

Economic Order Quantity (EOQ). Adapun variabel-variabel yang diteliti

tersebut terkait dengan laporan Gudang Persediaan Bahan Baku pada

perusahaan manufaktur PT Aneka Boga Makmur, Makassar. Mengingat

keterbatasan yang dimiliki peneliti dalam hal kemampuan, waktu maupun

biaya maka dalam penelitian ini tidak membahas keseluruhan dari metode-

metode pengendalian persediaan yang lain melainkan hanya meneliti

variabel yang terkait dengan perhitungan persediaan dengan metode

Economic Order Quantitydan Economic Production Quantityyang

meningkatkan efisiensi biaya persediaan pada PT Aneka Boga Makmur,

Makassar yang disesuaikan dengan judul skripsi ini.


BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1. TINJAUAN TEORITIS

2.1.1. Pengertian Bahan Baku

Bahan baku merupakan bahan yang harus diperhitungkan dalam

kelangsungan proses produksi. Banyaknya bahan baku yang tersedia akan

menentukan besarnya penggunaan sumber-sumber di dalam perusahaan dan

kelancarannya. Hal ini menunjukkan bahwa bahan baku merupakan faktor

penting dalam suatu proses produksi karena bila terjadi kekurangan bahan

baku maka kegiatan perusahaan tidak dapat berjalan lancar.

Menurut Mulyadi (1999 : 118) Bahan Baku adalah bahan yang

membentuk bagian integral produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam

perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, pembelian

import atau dari pengolahan sendiri.

2.1.2. PengertianPersediaan

Beberapa pendapat mengenai Persediaan yang dikemukakan oleh

para ahli antara lain dari Grobner yang dikutipolehBaroto (2002:52)


Persediaan adalahsegalasumberdayaorganisasi yang

disimpandalamantisipasinyaterhadappemenuhanpermintaan.

Persediaankomponenmaterial atauprodukjadi yang

tersediaditanganmenungguuntukdigunakan.

Sedangkanmenurut Riggs yang dikutipjugaolehBaroto(2002:52)

mengartikanPersediaanadalahBahanmentahbarangdalam proses (Work in

proses), BarangJadi, BarangPembantu, BahanPelengkap, komponen yang

disimpandalamantisipasinyaterhadappemenuhanpermintaan.

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa

persediaan adalahsegalasumberdaya yang berupabahanmentah, barang

dalam proses, barangjadi, barangpembantu, bahanpelengkap,

maupunkomponen yang

disimpandalamantisipasinyaterhadappemenuhanpermintaanmenunggudigun

akan.

2.1.3. Jenis- Jenis Persediaan

Persediaan mempunyai berbagai macam jenis dan spesifikasi serta

pengelolaan yang berbeda, Menurut Handoko (2008:334) Persediaan di

bedakan atas :

1. Persediaan Bahan Mentah (Raw Material)

Yaitu, persediaan barang-barang berwujud seperti baja, kayu dan

komponen-komponen lainnya, yang digunakan dalam proses produksi.

Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari
para supplier dan atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan

dalam proses produksi selanjutnya.

2. PersediaanKomponen - Komponen Rakitan (Purchased

Parts/Components)

Yaitu, persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen

yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat

dirakit menjadi suatu produk.

3. Persediaan Bahan Pembantu atau Penolong (Supplies)

Yaitu, persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses

produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.

4. Persediaan Barang Dalam Proses (Work In Process)

Yaitu, persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-

tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu

bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.

5. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods)

Yaitu, persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah

dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada langganan.

2.1.4. Fungsi – Fungsi Persediaan

Efisiensi biaya operasional suatu perusahaan dapat ditingkatkan

karena berbagai fungsi penting dalam persediaan. Harus dingat bahwa

persediaan adalah sekumpulan produk phisikal pada berbagai tahap proses

transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses dan kemudian


menjadi barang jadi. Menurut Handoko (2008:335), fungsi – fungsi

persediaan itu antara lain :

1. Fungsi “Decoupling”

Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasi operasi

perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan

(independence). Persediaan “Decouples” ini memungkinkan perusahaan

dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.

Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan

sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitatif dan

waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar

departemen-departemen dan proses-proses individual perusahaan tetap

terjaga kebebasannya. Persediaan barangjadi diperlukan untuk

memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para langganan.

Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan

konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut

fluctuation stock.

2. Fungsi “Economic Slot Sizing”

Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi dan

membeli sumber daya – sumber daya dalam kuantitas yang dapat

mengurangi biaya –biaya perunit. Persediaan “lot size” ini perlu

mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan pembelian,

biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) karena

perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar.


Dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya

persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko, dll)

3. Fungsi Antisipasi

Sering perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat

diperkirakan dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau data –data

masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat

mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories)

Disamping itu, perusahaan juga sering menghadapi ketidak pastian

jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang –barang selama

periode persamaan kembali, sehingga memerlukan kuantitas persediaan

ekstra yang sering disebut persediaan pengaman (safety inventories).

Pada kenyataannya, persediaan pengaman merupakan pelengkap fungsi

“decoupling” yang telah diuraikan diatas. Persediaan antisipasi ini

penting agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.

2.1.5. Biaya – Biaya Persediaan

Biaya Biaya yang harus dipertimbangkan dalah pengambilan

keputusan adalah sebagai berikut :

1. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying cost) terdiri dari biaya

– biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan.

Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas

bahan yang dipesan semakin banyak, atau rata-rata persediaan semakin

tinggi. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah :


a. Biaya fasilitas – fasilitas penyimpanan (termasuk, penerangan,

pemanas atau pendingin)

b. Biaya modal (opportunty costs of capital, yaitu alternatif

pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan)

c. Biaya Keuangan

d. Biaya penghitungan phisik dan konsiliasi laporan

e. Biaya asuransi persediaan

f. Biaya pajak persediaan

g. Biaya pencurian, pengrusakan atau perampokan

h. Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.

Biaya biaya ini adalah variabel bila bervariasi dengnan tingkat

persediaan. Bila biaya fasilitas penyimpanan (gudang) tidak variabel,

tetapi tetap, maka tidak dimasukkan dalam biaya penyimpanan per

unit.

Biaya penyimpanan persediaan biasanya berkisar antara 12 sampai 40

persen dari biaya atau harga barang. Untuk perusahaan –perusahaan

manufacturing biasanya biaya penyimpanan rata-rata secara konsisten

sekitar 25 persen.

2. Biaya pemesanan (pembelian). Setiap kali suatu bahan dipesan,

perusahaan menanggung biaya pemesanan (order costs/ procurement

costs).Biaya-biaya pemesanan secara terperinci meliputi :

a. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi

b. Upah.
c. Biaya telepon

d. Pengeluaran surat menyurat

e. Biaya pengepakan dan penimbangan

f. Biaya pemeriksaan (inspeksi) dan penerimaan

g. Biaya pengiriman ke gudang

h. Biaya hutang lancar , dsb.

Secara normal biaya perpesanan (diluar biaya bahan dan potongan

kuantitaas) tidak naik bila kuantitas pesanan bertambah besar, Tetapi

bila semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan,

jumlah pesanan perperiode turun maka biaya pemesanan total akan

turun. Ini berarti biaya pemesanan total perperiode (tahunan adalah

sama dengan jumlah pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan

biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pesan

3. Biaya Penyiapan (manufacturing)

Bila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri dalam pabrik

perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup costs)

untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :

a. Biaya mesin mesin menganggur

b. Biaya persiapan tenaga kerja langsung

c. Biaya scheduling

d. Biaya ekspedisi, dsb

Biaya penyiapan total per periode adalah sama dengan biaya

penyiapan dikalikan jumlah penyiapan per periode. Karena konsep


biaya ini analog dengan biaya pemesanan. Maka untuk selanjutnya

akan digunakan istilah “biaya pemesanan” yang dapat berarti

keduannya.

4. Biaya Kehabisan atau kekurangan bahan

Dari semua baiya – biaya yang berhubungan dengan tingkat

persediaan, biaya kekurangan bahan adalah yang paling sulit

diperkirakan. Biaya ini timbul bilamana persediaan tidak mencukupi

adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya

kekurangan bahan adalah sebagai berikut :

a. Kehilangan penjualan

b. Kehilangan langganan

c. Biaya pemesanan khusus

d. Biaya ekspedisi

e. Selisih harga

f. Terganggunya operasi

g. Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial, dsb.

Biaya kekurangan bahan sulit diukur dalam praktek, terutama karena

kenyataan bahwa biaya ini sering merupakan opportunity costs, yang

sulit diperkirakan secara obyektif

2.1.6. Penggunaan Bahan Baku

Bahan merupakan bagian yang integral dari produk yang akan

dihasilkan oleh suatu perusahaan. Pengendalian terhadap bahan ini akan


dapat menjamin peningkatan efisiensi penggunaan material. Ketidak

efisiensian dalam pemakaian bahan akan sangat berpengaruh pada tingginya

pokok barang yang akan dihasilkan. Bahan yang dijadikan dalam proses

produksi perlu selalu dicatat sehingga kita dapat mengetahui informasi

tentang efisiensi penggunaan material tersebut.

Dalam suatu periode produksi (satu tahun atau bulan) dapat terjadi

adanya fluktuasi harga pembelian bahan sehingga harga pembelian

persatuan pada pembelian yang satu berbeda dengan harga pembelian

berikutnya. Hal ini mengakibatkan kesulitan dalam hal mengadakan

penilaian dari sisa barang yang ada di gudang maupun di dalam

memperhitungkan biaya pemakaian bahan dalam proses produksi. Untuk

mengatasi hal ini sering dipergunakan beberapa cara penilaian bahan baku,

yaitu :

1. Metode First In First Out (FIFO)

Metode ini menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa

harga pokok per satuan bahan baku yang pertama masuk ke dalam

gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama

kali di pakai.

2. Metode Last In First Out (LIFO)

Metode LIFO menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai

dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan

bahan baku yang terakhir masuk dalam persediaan di gudang yang


dipakai untuk menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai

pertama kali dalam produksi.

3. Metode Rata-rata

Menurut metode biaya rata-rata, diasumsikan bahwa biaya persediaan

dihitung berdasarkan biaya rata-rata dari barang tersedia untuk dijual

selama periode tersebut.

Biaya rata-rata dihitung dengan membagi total biaya barang tersedia

untuk dijual berdasarkan unit tersedia untuk dijual. Hal ini

memberikan biaya rata-rata unit yang diterapkan pada unit dalam

persediaan akhir.

4. Metode Rata-rata Bergerak

Metode ini mengitung harga pokok rata-ratanya dengan cara membagi

total harga pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi

pembelian yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga

pokok satuan barang yang ada di gudang, harus dilakukan perhitungan

harga pokok rata-rata per satuan yang baru.

5. Metode Rata-rata tertimbang

Metode perhitungan biaya persediaan akhir. Dibutuhkan harga pokok

tersedia untuk dijual dan membaginya dengan jumlah total barang dari

persediaan awal dan pembelian hasilnya merupakan biaya rata-rata

tertimbang per unit. Perhitungan dilakukan dilakukan pada persediaan

akhir untuk menentukan jumlah barang yang tersisa. Akhirnya, jumlah


ini dikalikan dengan biaya rata-rata tertimbang per unit untuk

memberikan perkiraan biaya persediaan akhir.

2.1.7. Model Pengendalian Persediaan

2.1.7.1. Metode Q (Continuous Review Method)

Dikatakan metode Q karena variabel keputusan dalam metode ini

adalah Q (Quantity) pesanan. Kriteria optimal adalah total biaya

persediaan yang minimal. Untuk memudahkan implementasinya, sering

digunakan visual review system dengan metode yang disebutTwo Bin

System:

a. Dibuat dua bin (tempat) penyimpanan; Bin I berisi persediaan sebesar

tingkat reorder point; Bin II berisi sisanya.

b. Penggunaan stock dilakukan dengan mengambil isi Bin II; jika sudah

habis artinya pemesanan harus dilakukan kembali; sementara

menunggu pesanan datang, stock pada Bin I digunakan

Asumsi yang perlu dperhatikan pada saat menggunakan metode

pengendalian Sistem Q ini adalah:

 Biaya simpan per unit tetap

 Biaya setiap kali dilakukan pemesanan ulang adalah tetap

 Waktu tunggu tetap (dalam keadaan normal), sehingga keterlambatan

bahan baku tidak ada

 Permintaan bahan baku bervariasi

 Setiap jenis item diperoleh dari penjualan yang berlainan


 Pembelian tidak mendapat potongan harga

 Kedatangan bahan yang tidak sekaligus akan menimbulkan biaya

tambahan

Model – model dari metode ini antara lain :

a. Model Economic Order Quantity (EOQ) Sederhana

Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Ford Harris pada tahun

1915. Metode EOQ (Economic Order Quantity), yang merupakan model

persediaan yang sederhana. Model ini bertujuan untuk menentukan ukuran

pemesanan yang paling ekonomis yang dapat meminimasi biaya-biaya

dalam persediaan.

Model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan

persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpaan persediaan

dan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikan (inverse

cost) pemesanan persediaan.

BiayaTotal (TC=H+S )
Biaya Total

Q
Biaya Penyimpanan H=
Z

D
Biaya Pemesanan S=
Q

Kuantitas (Q)
EOQ
Gambar 1. Hubungan antara kedua jenis biaya persediaan

Grafik tersebut menunjukkan hubungan antara kedua biaya tersebut, biaya

penyimpanan (holding atau carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering

atau set up cost). Rumusan EOQ yang biasa digunakan adalah :

𝟐 𝑨𝑫
𝑬𝑶𝑸 = √
𝑰𝑪

Dimana :

A = Order Cost

D = Permintaan per periode

I = Holding Cost (dalam decimal)

C= Harga per unit

Model EOQ diatas dapat diterapkan bila anggapan berikut ini dipenuhi :

 Permintaan akan produk adalah konstan, seragam dan diketahui

(deterministic)

 Harga per unit produk adalah konstan

 Biaya penyimpanan per unit per tahun (H) adalah konstan

 Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan


 Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang diterima (lead

time,L) adalah konstan

 Tidak terjadi kekurangan barang atau “back orders”

Menentukan kapan melakukan order digunakan rumus

ROP = d.L

Dimana : ROP = Reorder Point

d= Permintaan Harian

L= Lead Time

Memperkirakan Jarak Waktu antar pesan dengan menggunakan

persamaan :

T = WQ* /D

Dimana : W = Jumlah hari kerja dalam setahun

b. Model EOQ dengan Potongan harga

Model EOQ untuk potongan harga dihitung dengan menggunakan

rumusan sebagai berikut :

Order Size Unit Variable Cost


0 < Q < Q1 C1
Q1 ≤ Q < Q2 C2
Q2 ≤ Q < Q3 C3
Q ≥ Q3 C4
Q dari atas ke bawah semakin besar, C semakin ke bawah semakin

menurun (semakin banyak Q, harga (C) semakin turun / ada diskon.

Prosedur penentuan Q optimal (Q*) adalah :

Langkah 1.Hitung EOQ dengan nilai C paling rendah (C4).Bila

Q* > Q3, maka Q* tersebut layak.Perhitungan dihentikan.Perhitungan

TIC (TIC0) didasarkan pada Q* ini. Jika Q* < Q3, maka tidak layak

(Q* ini bila diterapkan tidak mendapat harga C4, karena jumlahnya out

of range)

Langkah 2.Jika tidak layak, hitung TIC (misal disebut TIC1) pada Q

terendah pada C4 ini (berarti Q3).Adakah tingkat diskon lagi. Bila tidak

ada, bandingkan TIC0 dnegan TIC1, jika TIC1 < TIC0, maka Q* = Q3,

jika TIC1 > TIC0, maka Q* =Q* hasil perhitungan pertama tadi.

Langkah 3.Jika masih ada tingkat diskon lagi, hitung EOQ pada harga

terendah berikutnya. Proses selanjutnya kembali seperti langkah 1.

Terakhir nilai-nilai TIC dari seluruh perhitungan dilihat, intinya, Q*

adalah Q yang memberikan TIC minimal.

c. Model EOQ dengan Back Orders.

Bila kekurangan persediaan atau keterlambatan pemenuhan kebutuhan

(shortage diizinkan dengan biaya pengadaan / keterlambatan

tertentu.Maka model EOQ sederhana dapat dimodifikasi. :

2 𝐴𝐷 𝐵 + 𝐻
𝐸𝑂𝑄 = √ √
𝐻 𝐻

Dimana : A= Order cost


D= Demand rata-rata dalam satu horizon perencanaan

H= Holding cost (H=IC)

B= Biaya back order per unit per periode

Persediaan maksimal adalah :

2 𝐴𝐷 𝐵
𝐼= √ √
𝐻 𝐵+𝐻

Total Inventory Cost :

𝐴𝐷 (𝑄 − 1)2 𝐼2
𝑇𝐼𝐶 = +𝐵 +𝐻
𝑄 2𝑄 2𝑄

d. Model EOQ dengan Economic Production Quantity (EPQ)

Untuk menghitung jumlah lot optimal untuk setiap kali produksi adalah

dengan menggunkana rumus sebagai berikut :

2𝐴𝐷
𝑄 ∗= √ 𝑑
𝐻(1 − 𝑝)

𝐷 𝑄(1 − 𝑑⁄𝑝)
𝑇𝐼𝐶 = 𝐴 = + 𝐻
𝑄 2

e. Metode EPQ Banyak Item

Untuk kasus banyak item model EOQ yang digunakan adalah

merupakan modifikasi dari persamaan model EOQ sebelumnya dimana


EOQ ditentukan dengan mempertimbangkan seluruh komponen yang

harus diproduksi .

2 ∑ 𝑘𝑛
𝑡=√ 𝐷𝑛 ℎ𝑛
𝐷𝑛 ℎ𝑛 (1 − )
𝑃𝑛

2.1.7.2. Sistem P (Periodic Review Method)

Sistem pengendalian dengan sistem P adalah suatu sistem

pengendalian persediaan yang variabel keputusannya adalah periode

pemeriksaan persediaan (berapa hari/minggu/bulan/periode sekali

pemeriksaan dilakukan pada persediaan). Dalam model ini jarak waktu

antar dua pesanan adalah tetap sedangkan jumlah unit yang dipesan akan

berubah-ubah tergantung sisa atau jumlah persediaan saat diperiksa.

Persediaan pengaman dalam sistem ini tidak hanya dibutuhkan untuk

meredam fluktuasi permintaan selama lead time, tetapi juga untuk seluruh

konsumsi persediaan.

Pada sistem P ini setiap kali pesan jumlah yang dipesan sangat

bergantung pada sisa persediaan pada saat periode pemesanan tercapai;

sehingga setiap kali pemesanan dilakukan, ukuran lot pesanan tidak sama.

Permasalahan pada sistem P ini adalah terdapat kemungkinan persediaan

sudah habis sebelum periode pemesanan kembali belum tercapai.

Akibatnya, safety stock yang diperlukan relatif lebih besar.

Metode P relatif tidak memerlukan proses administrasi yang

banyak, karena periode pemesanan sudah dilakukan secara periodik.


Untuk memudahkan implementasinya, digunakan visual review

system dengan metode yang disebutOne Bin System:

a. Dibuat Bin yang berisikan jumlah inventory maksimum.

b. Setiap kali periode pemesanan sampai tinggal dilihat berapastock tersisa

dan pemesanan dilakukan untuk mengisi Bin penuh.

2.1.7.3. Persediaan Pengaman

Untuk menghitung nilai persediaan pengaman dengan pendekatan

service level yaitu peluang tidak terjadi kekurangan persediaan selama

waktu tunggu. Untuk menghitung jumlah safety stock, terlebih dahulu

ditentukan peluang kumulatif dari safety stock yaitu dengan rumus sebagai

berikut:


𝑃𝑟 (𝑑𝐿 ≤ 𝑅) = 1 − 𝐷
𝑝𝑄

Dimana : Pr = Peluang Kumulatif

h= Biaya penyimpanan komponen per unit

p= Biaya kekurangan persediaan per unit

D= Jumlah persediaan

Q= Economic Order Quantity

2.1.7.4. Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point)


Titik pemesanan kembali adalah suatu batas dari jumlah persediaan yang

ada pada saat pesanan harus diadakan kembali (Render & Heizer,

2001).Besarnya titik pemesanan kembali dihitung melalui rumus berikut :

R = dL + SS

Dimana : R= Reoder point

d= Permintaan bahan baku

L= Lead time

SS = Persediaan pengaman

2.2. Kerangka Penelitian

Bagi perusahaan manufaktur, mengolah bahan baku menjadi

produk jadi dengan kualitas yang baik merupakan hal yang penting dalam

menghadapi persaingan global. Dalam mengolah bahan baku menjadi

produk jadi diperlukan proses produksi yang lancar. Proses produksi yang

berjalan dengan lancar akan meningkatkan pendapatan perusahaan. Dalam

proses produksinya, perusahaan membutuhkan ketepatan perhitungan dalam

pengadaan bahan bakunya, oleh karena itu perusahaan membutuhkan

pengendalian persediaan bahan baku, sehingga bahan baku yang nantinya

akan diproses tidak mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas dan

proses produksi yang dijalankan perusahaan efektif dan menghasilkan

produk sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan.

Bahan baku merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan

keberhasilan jalannya proses produksi suatu perusahaan. Apabila jumlah

bahan baku tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan maka akan


menyebabkan ketidaklancaran proses produksi, sehingga output yang

diperoleh tidak maksimal. Jumlah bahan baku yang terlalu banyak akan

menyebabkan biaya persediaan yang terlalu besar, begitu pula dengan

jumlah bahan baku yang terlalu sedikit tidak dapat mencukupi kebutuhan

untuk proses produksi.

Setiap perusahaan selalu dihadapkan pada persoalan tentang

bagaimana mengefisiensikan biaya produksinya agar dapat tercapai jumlah

produksi yang maksimal. Biaya-biaya produksi tersebut meliputi biaya

pengelolaan bahan baku, biaya proses produksi hingga biaya pemasaran

produk yang telah jadi. Biaya pengelolaan bahan baku atau biaya persediaan

merupakan salah satu dari jenis biaya produksi yang jumlahnya cukup besar,

sehingga diperlukan adanya pengendalian persediaan bahan baku.

Dengan adanya pertimbangan tersebut maka penulis membuat suatu

kerangka berpikir seperti tergambar dalam gambar berikut :

Pengendalian bahan baku Bahan Baku Inti dalam proses produksi :


menurut kebijakan PT Aneka - Tepung terigu
Boga Makmur : - Gula
- Kuantitas pemesanan - Minyak
- Jumlah Safety Stock
- Reorder Point
- Total Biaya Persediaan

Biaya Biaya Data Lead time


Penyimpanan Pemesanan Penggunaan

Analisis Pengendalian Persediaan Analisis Pengendalian Persediaan


dengan Metode EPQ dengan Metode EOQ
Analisis Selisih perhitungan pengendalian persediaan

Apakah Kebijakan perusahaan


sudah efisien?

Gambar 2. Skema Kerangka Berpikir Pendekatan masalah pengefisiensian


persediaan bahan baku menggunakan metode Economic Order
Quantity di PT Aneka Boga Makmur
PT. Aneka Boga Makmur menetapkan kebijaksanaan-

kebijaksanaandalam pengadaan produksi bahan baku.Kebijaksanaan

tersebut meliputi biaya-biaya pengadaan bahan baku, kuantitas pemesanan,

dan frekuensi pemesanan. Kemudian dilakukan perhitungan mengenai biaya

total persediaan.Langkah selanjutnya yaitu mengadakan analisis

denganmenggunakan perhitungan metode Economic Order Quantity.

Metode EOQ(Economic Order Quantity) merupakan suatu metode yang

memperhitungkanjumlah kuantitas barang yang diperoleh dengan biaya

yang minimal, atausering disebut sebagai jumlah pembelian yang optimal

serta melakukan pengujian kedua dengan metode Economic Production

Quantity (EPQ) untuk membandingkan apakah metode EOQ merupakan

metode dengan jumlah pembelian yang optimal.

Unsur-unsur yangmempengaruhi jumlah optimal per pemesanan

yaitu permintaan bahan baku, kuantitas bahan baku per pemesanan, biaya

pemesananper pemesanan, dan biaya penyimpanan bahan baku.Kemudian

hasil perhitungan menurut kebijaksanaan perusahaan, menurutmetode


Economic Order Quantityserta menurut Economic Production

Quantitydibandingkan, dari hasil perbandingantersebut dapat dilihat

efisiensi pengendalian persediaan yang diterapkanperusahaan. Apabila total

biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaanmenunjukkan nilai yang

lebih besar daripada total biaya produksi menurutperhitungan metode

Economic Order Quantitydan Economic Production Quantity, hal ini berarti

biaya produksiyang dikeluarkan oleh perusahaan belum menunjukkan nilai

yang ekonomisdan perusahaan harus melakukan penghematan-penghematan

terhadappengeluaran yang tidak perlu. Apabila hal tersebut terjadi, maka

sebaiknyakebijaksanaan pengelolaan bahan baku pada tahun-tahun

mendatangmenggunakan metode Economic Order Quantity, agar biaya

yang dikeluarkanuntuk pengadaan bahan baku dapat seminimal mungkin

dan optimasipersediaan bahan baku dapat tercapai.


BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi (Obyek Penelitian)

Jenis penelitian dalamskripsi ini adalah penelitian kuantitatif dan

deskriptif dimana variabel-variabel yang diamati dapat diidentifikasikan dan

hubungan antar variabel dapat diukur. Dari teknik analisisnya, penelitian ini

merupakan penelitian korelasi yang mengkaji hubungan antara besar

kecilnya variabel tidak bebas dan variabel bebas. Pada pendekatan ini,

informasi yang tersedia telah memadai sehingga memungkinkan untuk

dilakukan pendugaan tentang adanya hubungan antara satu variabel dengan

variabel yang lain.

Gambaran populasi yang dijadikan objek peneliti adalah pada PT

Aneka Boga Makmur, Makassar. Adapun populasi ini adalah keseluruhan

elemen yang menjadi penelitian, sedangkan yang dimaksud sampel ini

adalah data-data Gudang Persediaan Bahan Baku pada PT Aneka Boga

Makmur.

3.2. Teknik Pengambilan Sampel

Yang dimaksud dengan teknik pengambilan sampel adalah

sebagian dari elemen-elemen populasi (Indriantoro dan Supomo, 2002:15).

Dalam skripsi ini penulis tidak memerlukan pengambulan sampel data sebab

data yang diperoleh adalah data yang berupa catatan catatan dari
perusahaan. Cara inilah yang digunakan oleh penulis karena prosedurnya

sederhana dan memungkinkan penyelewengan terhadap data dapat dihindari

3.3. Teknik Pengumpulan data

3.3.1. Sumber Data

Dalam penyusunan Skripsi ini, sumber data berasal dari sumber

internal (perusahaan) yang berupa : data primer adalah data yang diperoleh

melalui pengamatan dan wawancara secara langsung dari pejabat

perusahaan yang ada hubungannya dengan masalah ini. Dimana data yang

digunakan adalah Laporan Gudang Persediaan yang dikeluarkan oleh PT

Aneka Boga Makmur.

3.3.2. Teknik Pengumpulan data

Metode ini dilakukan dengan mengadakan peninjauan langsung

terhadap obyek yang diteliti untuk memperoleh data-data dari perusahaan.

Adapun cara-cara yang digunakan adalah dengan dokumentasi yaitu usaha

mendapatkan data dengan menyalin data arsip arsip milik perusahaan yang

berkaitan dengan pokok pembahasan, data data yang digunakan antara lain:

1. Profil Perusahaan PT Aneka Boga Makmur

2. Tahapan Produksi dan jenis – jenis produk yang dihasilkan oleh

PT Aneka Boga Makmur

3. Data pemakaian persediaan bahan baku PT Aneka Boga Makmur tahun

2011
4. Biaya-biaya persediaan yang timbul akibat adanya proses produksi di

PT Aneka Boga Makmur tahun 2011

5. Kebijakan-kebijakan oleh perusahaan dalam melakukan pengendalian

persediaan bahan baku.

3.4. Definisi Operasional Variabel

1. Persediaan Bahan Baku (Raw Material Inventory) adalah persediaan

barang-barang berwujud yang akan digunakan dalam proses produksi

dalam hal ini yang berupa tepung terigu, gula dan minyak.

2. Pengendalian Persediaan Bahan Baku merpakan upaya perusahaan untuk

menjamin kelancaran proses produksi yang meliputi pembelian bahan,

penyimpanan dan pemeliharaan bahan, mengatur pengeluaran bahan

saatbahan dibutuhkan dan mempertahankan persediaan dalam jumlah

yang optimal.

3. Biaya pemesanan adalah biaya yang timbul sehubungan dengan

pemesanan bahan baku oleh perusahaan. Biaya pemesanan berubah

sesuai dengan frekuensi pemesanan. Biaya-biaya yang termasuk biaya

pemesanan antara lain biaya administrasi, biaya transportasi dan biaya

komunikasi. Biaya pemesanan diukur dalam satuan Rupiah.

4. Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk

melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan baku. Biaya-biaya yang

termasuk biaya penyimpanan antara lain biaya penggunaan ruang 20


5. pengimpanan, biaya asuransi, biaya tenaga kerja yang berhubungan

dengan penyimpanan. Biaya pemesanan diukur dalam satuan Rupiah.

6. Metode EOQ (Economic Order Quantity) merupakan metode dimana

perusahaan memesan bahan baku dengan kuantitas barang yang

diperoleh dengan biaya minimal, atau sering disebut sebagai jumlah

pembelian yang optimal.

7. Metode EPQ (Economic Production Quantity) merupakan metode yang

mempertimbangkan tingkat persediaan barang jadi dan permintaan produk

jadi. Metode ini juga mempertimbangkan jumlah persiapan produksi yang

berpengaruh terhadap biaya persiapan.

8. Waktu tunggu (lead time) merupakan tenggang waktu yang diperlukan

antara saat pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan baku yang

dipesan.

9. Safety stock merupakan persediaan minimal dari bahan baku yang harus

dipertahankan untuk menjamin kontinuitas produksi. Safety stock

dinyatakan dalam persentase.

10. Reorder point merupakan titik di mana harus diadakan pemesanan lagi

sedemikian rupa sehingga penerimaan bahan baku yang dipesan tepat

waktu di saat persediaan safety stock sama dengan nol.

11. Total biaya persediaan bahan baku merupakan penjumlahan total biaya

pemesanan dan total biaya penyimpanan bahan baku. Total biaya

persediaan bahan baku diukur dalam satuan rupiah.


12. Kebijakan pengendalian bahan baku oleh PT. Aneka Boga Makmur

merupakan kebijakan persediaan bahan baku tepung terigu, gula dan

minyak yang selama ini telah dilaksanakan PT. Aneka Boga Makmur

(2011), mengenai jumlah dan frekuensi pemesanan, safety stock, reorder

point dan total biaya persediaan bahan baku.

3.5. Teknik analisis Data

1. Analisis Biaya Pemesanan Menurut Kebijakan Perusahaan

Analisis Biaya pemesanan bahan baku dilakukan dengan

menghitung pengendalian persediaan bahanbaku menurut kebijakan

perusahaan yang meliputi jumlah permintaan persediaan baku selama

periode tertentu, frekuensi pemesanan persediaan, biaya persediaan bahan

baku. Biaya persediaan yang dikeluarkan perusahaan dapat diketahui dari

informasi yang diperoleh langsung dari PT Aneka Boga Makmur.

2. Analisa Dengan Menggunakan Metode EOQ

Analisis dengan metode EOQdigunakan untuk mengetahui

kuantitas pembelian bahan baku yang optimal (setiap kali pesan). Kuantitas

pembelian bahan baku yang optimal dicapai pada saat biaya pemesanan

taunan sama dengan biaya penyimpanan per tahun.

a. Biaya Pemesanan per tahun

= Jumlah pemesanan yang dilakukan per tahun x biaya pemesanan

setiap kali pesan

= Permintaan bahan baku setahun x biaya pesan tiap kali pesan


Jumlah pemesanan tiap kali pesan

𝐷
= (𝑄 ) × 𝑆

b. Biaya Penyimpanan per Tahun

= tingkat persediaan rata-rata x biaya penyimpanan per kg per tahun

= (jumlah pesanan / 2) x biaya penyimpanan per kg per tahun

𝑄
= (2) × 𝐻

c. Jumlah Pesanan bahan baku optimal diperoleh saat biaya pemesanan

per tahun sama dengan biaya penyimpanan per tahun

𝐷 𝑄
( ) ×𝑆 = ( ) ×𝐻
𝑄 2

d. Jumlah optimal per pemesanan

𝐷 𝑄
( ) ×𝑆= ( ) ×𝐻
𝑄 2

2DS = Q2H

2𝐷𝑆
Q2 =( )
𝐻

2𝑥𝐷𝑥𝑆
Q* =√ 𝐻

3. Frekuensi Pembelian (I)

Frekuensi pembelian yang optimal (I) dapat diperoleh setelah nilai

Q* optimal diketahui :

𝐷
𝐼=
𝑄∗
4. Total Biaya persediaan bahan baku (Total Inventory Cost)

Total persediaan bahan baku yang optimal ialah penjumlahan dari

total biaya pesan dan total biaya simpan bahan baku. Q* ialah jumlah

optimal per pemesanan (kg). H. ialah biaya penyimpanan per kg per tahun

dan Smerupakan biaya pemesanan setiap kali pesan (Rp).

TIC = Total biaya pesan + Total biaya simpan

𝑄∗ 𝐷
TIC = ( 2 𝑥𝐻) + (𝑄 𝑥 𝑆)

5. Penentuan persediaan pengaman (Safety Stock)

Persediaan pengaman adalah persediaan tambahan yang

diadakanuntuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya

kekuranganbahan baku (stock out) sehingga tidak mengganggu kelancaran

proses produksi.

SS = Z x SL

Keterangan:

SS = Persediaan pengaman (kg)

Z = Nilai α dengan penyimpangan sebesar 5 % yang dilihat pada tabel

Z(kurva normal). Penggunaan nilai α den`gan penyimpangan sebesar

5% karena semakin kecil penyimpangan maka makin besar

koefisienkepercayaan sehingga interval kepercayaan makin lebar.

SL= Standar penyimpangan permintaan selama waktu tunggu

∑(𝑥 − 𝑦)
𝑆𝐿 = √{ }
𝑛
Keterangan :

SL= Standar Deviasi

x = Pemakaian bahan baku sebenarnya (kg)

y = Perkiraan penggunaan bahan baku (kg)

n = Jumlah data (bulan)

6. Penentuan Waktu / titik pemesanan kembali (ROP)

ROP = SS + (LT x AU)

ROP = titik yang menunjukkan tingkat persediaan sehingga perusahaan

harus memesan kembali (kg)

LT = tenggang waktu antara pemesanan sampai kedatangannya di

gudang (hari)

AU = pemakaian rata-rata dalam satu satuan waktu tertentu (kg/hari)

SS = Safety stock (kg)

7. Analisa Dengan Menggunakan Metode EPQ

Untuk menghitung jumlah lot optimal untuk setiap kali produksi adalah

dengan menggunkana rumus sebagai berikut :

2𝐴𝐷
𝑄 ∗= √ 𝑑
𝐻(1 − )
𝑝
8. Analisis selisih efisiensi pemesanan bahan baku yang optimal dengan

pemesanan bahan baku yang dilakukan dengan kebijakan PT Aneka Boga

Makmur.

Analisis efisiensi persediaan bahan bakumenggambarkan perbandingan

hasil pengendalian persediaan bahan baku sesuai dengan kebijakan

perusahaan dan yang dilakukan dengan metode Economic Order

Quantityserta metode Economic Production Quantity. Apabila total biaya

persediaan yang diperoleh dari analisis kedua metode itulebih besar

daripada total biaya persediaan berdasarkan kebijakan pengendalian yang

telah dilakukan perusahaan berarti pengendalian persediaan bahan baku di

perusahaan tersebut sudah efisien.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL PENELITIAN

4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan

PT. Aneka Boga Makmurmerupakan anak perusahaan dari PT

Aneka Indo Makmur yang didirikan pada tanggal 29 September 2000 yang

diprakarsai oleh Sasmito Agung dan Randy Sutanto yg kemudian

didaftarkan akte pendiriannyapada Notaris Monika Melanny, S.H yg

berkedudukan di jalan Andalas No. 30 Makassarpada hari Sabtu tanggal 28

Juli 2001 dan diterbitkan akte pendirian nomor 5.Adapun PT. Aneka Boga

Makmur pada awalnya dibidang produsen biskuit untuk skala lokal saja,

khususnyaarea kota Makassar. Tapi seiring dengan perkembangan pasar dan

market PT. Aneka Boga Makmur maka saatini PT. Aneka Boga Makmur

bergerak dibidang produsen biskuit berskala multi nasional. Adapun

perkembangan marketnya meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku

dan sekitarnya.

4.1.2. Fasilitas Perusahaan

PT Aneka Boga Makmur memiliki fasilitas antara lain :

1. Bangunan kantor

2. Bangunan pabrik

3. Bangunan mess
4. Kendaraan direksi dan staff

5. Kendaraan kanvaser

6. Mesin oven

7. Mesin mixer

8. Mesin molen

9. Mesin packing

10. Mesin cream

11. Genset

4.1.3. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan susunan tugas-tugas yang akan

dilaksanakan oleh para petugas sesuai dengan wewenang dan tanggung

jawabnya. Untuk suatu perusahaan struktur organisasi mutlak diperlukan

karena struktur organisasi merupakan suatu alat untuk mengendalikan

jalannya kegiatan yang beranekaragam dan harus dilakukan dengan tepat,

terarah dan bermanfaat sehingga tujuan perusahaan tercapai.Dasar dalam

organisasi ini adalah pembagian kekuasaan (authority) dan tanggung jawab

(responsibility).Ada beberapa bentuk struktur organisasi yang digunakan

oleh perusahaan yaitu organisasi garis, garis dan staf, fungsional, komite,

dan matrik.

Struktur organisasi perusahaan PT. Aneka Boga Makmur disusun

berdasarkan standar yang menerangkan “Organizatiton Chart” dari masing-

masing departemen di PT. Aneka Boga Makmur dan dijelaskan tentang

“Job Description & Authority” di masing-masing seksi.


DIREKTUR UTAMA

DIREKTUR

SEKRETARIS

MANAGER MARKETING MANAGER KEUANGAN & ACC MANAGER PABRIK MANAGER PERSONALIA

BAG. KARYAWAN

SALES DISTRIBUSI KASIR ACCOUNTING SUPERVISOR R&D


BAG. LEGAL DAN UMUM

BAG. LINGKUNGAN PABRIK


BAG. PENJUALAN BAG.PEMBELIAN BAG. HUT & PIUT BAG. PERSEDIAAN MIXER OVEN PACKING GUDANG BENGKEL

Gambar 3. Struktur Organisasi PT Aneka Boga Makmur


Secara general, tugas dan tanggung jawab masing-masing level

adalah sebagai berikut :

A. Direktur Utama

- Menentukan strategi perusahaan serta target yang harus dicapai

- Menyediakan sumberdaya yang harus diperlukan

- Menentukan segala keputusan yang berkaitan dengan pencapaian

target

B. Direkur

- Membantu Direktur dalam menentukan kebijakan dan target

- Mencapai target yang sudah ditentukan oleh Direktur Utama.

C. Manager

- Bertanggung jawab atas semua hal–hal yang berhubungan

dengankelancaran pelaksanaan proses produksi secara efektif dan

efisisen.

- Memberikan bantuan dalam menyusun rencana produksi.

- Melakukan penelitian kualitas bahan baku dan kualitas produk jadi.

D. Supervisor

- Membantu section management dalam mencapai target yang ada,

khususnya di jobnya sendiri.

- Mengawasi langsung proses produksi yang sedang berjalan di setiap

lini.

- Memberikan laporan mengenai hasil proses produksi kepada manajer

produksi
Dari uraian di atas, dijelaskan struktur organisasi yang ditetapkan

di PT.Aneka Boga Makmur telah menunjukkan tugas dan wewenang yang

jelaspada semua bagian. Untuk pengelolaan persediaan, bagian yang terkait

di PT.Aneka Boga Makmur ialah:

1. Fungsi penguasaan persediaan khususnya bahan baku yang akan

digunakan dalam proses produksi di pegang oleh departemen

Production Planning (PP) yang menetapkan kebutuhan bahan baku

setiap bulan yang telah disusun dalam data rencana kebutuhan bahan

baku.

2. Fungsi pembelian atas persediaan bahan baku dipegang oleh bagian

Purchasing.

3. Fungsi penyimpanan persediaan khususnya bahan baku dipegang

sepenuhnya oleh bagian gudang persediaan bahan baku (Raw Material

House).

4. Fungsi pencatatan atas persediaan bahan baku, dipegang oleh bagian

pembukuan tepatnya akuntansi (Accounting).

4.1.4. Tahapan Pengolahan Produksi

Secara umum tahap pengolahan biskuit, pengepakan dan

penyimpananadalah sebagai berikut :


1. Persiapan Bahan

Semua bahan baku disiapkan dalam ruangan terpisah sesuai dengan

jenis biskuit yang akan di produksi, begitu juga dengan bahan untuk

pembuatan cream filling dan harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a. Bebas dari kontaminasi, kotoran,batu,jamur,mikroba, serangga dan

tikus.

b. Memenuhi standart berlaku.

2. Mixer (Pencampuran)

Proses pencampuran dilakukan setelah masing-masing bahan

ditimbang sesuairesep.Tujuan dari proses mixer adalah untuk

menghasilkan adonan yang homogen,biasanya membutuhkan waktu

antara 15-30 menit, tergantung dari jenis biskuit.Dari proses

pencampuran ini dapat dibedakan menjadi beberapa jenis

adonansesuai dengan biscuit yang akan diproduksi, antara lain :

- Adonan pendek

- Adonan keras

- Adonan fermentasi

Proses mixer juga dilakukan untuk pembuatan cream filling, proses

ini biasanyamembutuhkan waktu selama 10 menit.

3. Pencetakan (Proses Cetak)

Berdasarkan jenis adonan, maka proses pencetakan dapat

dilakukan denganbeberapa metode, antara lain :


a. Pembuatan lembaran, pelebaran adonan dan pencetakan.

Metode ini dipakai biasanya untuk jenis adonan keras dan fermentasi

yangmemerlukan proses pengembangan terlebih dahulu. setelah

adonan siap,maka dimasukkan ke dalam hopper (corong)

kemudian masuk sheeter(alat pembuat lembaran).Didalam sheeter

adonan ditekan sehingga kompak membentuk lembaranadonan yang

halus. Dari sheeter, lembaran adonan diterima oleh gaugerools

atau roler untuk melebarkan, menipiskan serta

menghaluskanlembaran adonan.Proses pencetakan adonan dapat

dilakukan dengan reciprocating cutter(pencetak dengan

mekanisme stamping ) atau rotary cutter ( pencetak dengan

mekanisme roller).Adonan yang tidak dapat tercetak sempurna

dapat dikumpulkan dan diputar kembali.

b. Rotary Moulding (Percetakan berputar)

Jenis pencetakan ini digunakan untuk adonan pendek dan lunak.

Adonanmasuk melalui hopper, lalu didorong oleh roller A ke

roller B ( rollercetak ) yang terbuat dari kuningan sehingga

mudah di ukir membentukcetakan biscuit. Adonan tercetak

sesuai bentuknya, untuk mengaturnyapisau D diletakkan diantara

2 roller A dan B. Pisau D akan membuang kelebihan adonan.

Roller C merupakan roller ekstruksi, yang terbuat daribaja berlapis

karet tebal. Fungsinya untuk menarik adonan yang tercetak dari

roller B dan memindahkannya ke ban berjalan yang terbuat dari


kaintebal ( dalam keadaan basah ). Untuk membuang remah-

remah adonan,maka pisau F yang terdapat dibawah ban berjalan

akan membersihkannya.

4. Pemanggangan

Pemanggangan biscuit dilakukan dengan menggunakan oven

secara tunnelproses yang didalamnya ada ban berjalan, dimana suhu,

turbulensi (aliran udara) dan kelembabannya dapat dikontrol. Suhu

yang biasa digunakan adalah sekitar 250 C selama kurang lebih 15

menit (tergantung jenis biscuitnya).Warna biscuit yang dikendaki

setelah proses pemanggangan ini adalah coklatkekuningan, dan

terbentuk aroma (flavour) khas biscuit.

5. Pendinginan

Proses pendinginan harus dilakukan sebelum proses packing,

dengan tujuanuntuk menurunkan suhu dengan cepat dari suhu

pemanggangan ke suhu ruang,mencegah penyerapan kembali uap air,

dan pengerasan struktur biscuit. Selainitu juga untuk mempercepat

proses packing (pengemasan).Proses pendinginan juga harus

dilakukan sesegera mungkin dan biasanyamenggunakan kipas

angin di sepanjang ban berjalan, karena jika penanganan selama

proses pendinginan jika tidak hati-hati dapat mengakibatkan retak-

retakpada biskuit.Untuk biskuit yang dilapisi cream, setelah proses

pendinginan dapat dilanjutkan dengan proses pengisian

(filling)cream sebelum proses packing.


6. Packing (Pengemasan)

Proses ini dilakukan setelah biskuit benar-benar memenuhi syarat untuk

dikemasdengan cara mensortir biskuit yang rusak akibat proses

pemanggangan yang kurang baik atau kerusakan pada proses lainnya.

Biskuit termasuk produk yang cepat atau mudah menyerap air dan

oksigen, olehsebab itu bahan yang digunakan untuk pengemasan

harus memenuhi syaratsebagai berikut :

- Kedap air

- Kedap oksigen

- Kedap terhadap komponen volatile (terutama flavour)

- Kedap terhadap sinar

- Mampu melindungi terhadap kerusakan mekanis

- Terjamin keamanannya

7. Penyimpanan (Warehouse)

Proses penyimpanan dilakukan sebelum biskuit didistribusikan ke

agen-agen,dengan tujuan untuk mempermudah pemeriksaan keluar

masuk produk (biskuit)dengan menggunakan sistem kartu stock yang

menyebutkan :

- Nama produk

- Tanggal produksi

- Kode produksi

- Tanggal penerimaan di gudang

- Jumlah penerimaan di gudang


- Tanggal pengeluaran dari gudang

- Jumlah pengeluaran dari gudang

- Sisa akhir

- Tanggal pemeriksaan

- Hasil Pemeriksaan

Gudang yang digunakan untuk penyimpanan produk akhir harus

benar – benardalam keadaan bersih dan bebas dari kontaminasi.


Gambar 4. Bagan Proses Produksi, Packing dan Penyimpanan pada PT Aneka Boga Makmur
4.1.5. Jenis Produk

Untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen, PT. Aneka

Boga Makmur memproduksi berbagai jenis biskuit, antara lain :

Tabel 1. Daftar Produk yang diproduksi oleh PT Aneka Boga Makmur

NO NAMA ITEM SATUAN


ABM KARTON
1 Jagung Bakar 100 100 PAK / 20 GR
2 Crispy Chicken 100 100 PAK / 25 GR
3 Jagung Bakar 50
4 Gabin Manis 240 240 PAK / 12 GR
5 Coconut/Durian/Coklat 30 30 PAK / 60 GR
6 Durian/ Coconut/ Coklat 168 168 PAK /
7 Durian Stick / Bunga Gem 30 30 PAK / 80 GR
8 Bear Durian / Coklat 30 30 PAK / 80 GR
9 Rose / Nanas / Coklat Cream 30 30 PAK / 70 GR
10 Marie Kecil / Coklat 120 120 PAK / 35 GR
11 Marie Super 40 40 PAK / 85 GR
12 Marie Susu 12 12 PAK / 150 GR
13 See Hong Puff M 24 24 PAK / 230 GR
14 See Hong Puff H 36 36 PAK / 200 GR
15 Square Puff 24 24 PAK / 300 GR
16 Chocolate / Peanut / Durian Cream 42 42 PAK / 170 GR
17 Peanut / Durian / Coklat Cream 72 72 PAK / 70 GR
18 Mini Puff 12 PAK / 230 GR
19 Chocolate / Peanut / Durian Cream 30 30 PAK / 140 GR
20 Bunga Gem /Durian Stick 160 160 PAK / CTN
21 Bunga Gem 200 200 PAK / CTN
22 Durian Stick 180 180 PAK/CTN

ABM BALL
1 Ho Bunga Gem / Durian Stick / Fishly 4 KG / BAL
2 Ho Bear Durian / Coklat 3 Kg 3 KG / BAL
3 Ho Bear Durian / Coklat 4 Kg 4 KG / BAL
4 Ho Marie Biskuit 4 Kg 4 KG / CTN
5 Ho Marie Coklat 3 Kg 3 KG / BAL
6 Ho Bunga Gem 4 KG / CTN
NO NAMA ITEM SATUAN
7 Ho Durian Stick 3,5 KG / CTN
8 Ho Durian Stick 4 KG / CTN
9 Ho Durian / Coconut / Coklat 4 Kg 4 KG / BAL
10 Ho Fishly 4 Kg 4 KG / CTN
11 Ho Durian/Coklat /Coconut /Orange /Fishly 3 Kg 3 KG / BAL
12 Ho Durian Stick 3 Kg 3 KG / BAL
13 Ho Durian / Coconut / Coklat / Orange 4 KG /CTN
14 Ho Bear Durian 4 Kg 4 KG / CTN
15 Ho Durian Stick 3 Kg 3 KG / CTN
16 Mini Puff 4 Kg 4 KG / CTN
17 Bon Bon Coklat / Durian /Peanut / Rose Cream 4 KG / BALL
18 Durian / Peanut / Coklat Cream 4 KG / CTN
19 Bon Bon Coklat / Rose Cream 4 KG / CTN
20 Abm Crispy Chicken / Jagung Bakar 4 Kg 4 KG / BALL

BOGABIS KARTON
1 Bogabis Durian 2b 30 PAK / 60 GR
2 Bogabis Durian 3b 36 PAK / 90 GR
3 Bogabis Bon-Bon / Rose Cream 42 42 PAK / 170 GR
4 Bogabis Bon-Bon / Rose Cream 72 72 PAK / 70 GR
5 Bogabis Square Puff 24 24 PAK / 275 GR
6 Bogabis Rose Cream / Bon Bon 30 30 PAK / 140 GR

4.2. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.2.1. Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan di Aneka Boga Makmur

dapatdibedakan menjadi dua bagian besar yaitu bahan baku utama dan

bahan bakutambahan. Bahan baku utama yang digunakan dalam

memproduksi ban terdiri daridelapan bagian besar yaitu terdiri dari:

1. Amonium Jepang ( Kg )

2. Beras ( Kg )
3. Citrid Acid ( Kg )

4. Cassava Bbq ( Kg )

5. Chicken Bbq Season ( Kg )

6. Curry Chicken ( Kg )

7. Chicken Garlic ( Kg )

8. Centage Instant ( Kg )

9. Garam Halus Unichem ( Kg )

10. Garam Halus Untuk Produksi ( Zak )

11. Gula Pasir ( Zak )

12. Golden Flake ( Kg )

13. Garlic Smt ( Kg )

14. Minyak Goreng ( Kg )

15. Natron Powder ( Kg )

16. Puron Ag ( Kg )

17. Palmia Butter Oil ( Kg )

18. Sodium Bicarbonate ( Kg )

19. Sasa Plus ( Kg )

20. Sasa Powder ( Kg )

21. Tepung Terigu ( Kg )

22. Tepung National Strach( Kg )

Untuk Penelitian ini, penulis menggunakan 3 bahan bakuinti dalam proses

produksi yaitu tepung terigu, gula dan minyak.


4.2.2. Mekanisme Pengadaan Bahan Baku

Mekanisme pengadaan bahan baku di PT Aneka Boga Makmur :

1. Kepala gudang mengajukan pesanan pembelian

2. Bagian pembelian membuat purchase order

3. Purchase order ditandatangani dan disetujui oleh kepala produksi

4. Bagian pembelian melakukan konfirmasi purchase order

5. Barang datang dilakukan pengecekan sesuai order atau tidak

6. Kalau barang tidak sesuai order ataupun rusak dilakukan retur ke

supplier

4.3. Kebijakan Pengendalian Persediaan Bahan Baku menurut PT Aneka

Boga Makmur

1. Pemakaian Bahan Baku

Metode yang dipergunakan oleh PT. Aneka Boga Makmur

dalampemakaian persediaan bahan baku adalah Metode Average yaitu

mengitung harga pokok rata-ratanya dengan cara membagi total harga

pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga

pokok per satuannya berbeda dengan harga pokok satuan barang yang ada di

gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan yang

baru.Perkembangan pemakaian bahan bakutepung terigu, gula dan

minyakPT. Aneka Boga Makmur selama tahun 2011 dapat dilihat pada tabel

dan gambar berikut.


Tabel 2. Total Penggunaan Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak
pada Tahun 2011

No. Bulan Pemakaian (Kg)


Tepung Gula Minyak
1 Januari 22.700 12.800 3435
2 Februari 19.375 17.700 4100
3 Maret 21.875 29.700 5480
4 April 14.875 28.450 7760
5 Mei 17.000 23.300 7080
6 Juni 19.325 15.300 6140
7 Juli 16.250 18.600 5000
8 Agustus 19.550 9.700 4320
9 September 19.675 6.300 6220
10 Oktober 24.575 12.500 5080
11 November 17.275 16.250 3940
12 Desember 17.275 10.000 4500
Total 229.750 200.600 63.055
Rata-Rata 19.145,83 16.716,67 5.254,58

Tingkat Pemakaian Bahan Baku


30,000
25,000
Kuantitas(Kg)

20,000
15,000 Tepung
10,000 Gula
5,000 Minyak
-
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Bulan

Gambar 5. Tingkat Pemakaian Bahan Baku pada PT Aneka Boga Makmur


pada tahun 2011

Tabel 2 dan gambar 4 menggambarkan pemakaian bahan baku

tepung terigu, gula dan minyak di PT Aneka Boga Makmur, ketiga bahan

baku utama itu pemakaiannya tidak sama setiap bulannya. Pemakaian bahan
bakutergantung pada permintaan pasar yang berbeda setiap bulan masih

dalam kisaran normal.

Pemakaian bahan baku tepung terigu terkecil terjadi pada bulan

April sebesar 14.875kg, pemakaian gula terkecil terjadi pada bulan

September yaitu sebanyak 6.300 kg dan pemakaian minyak terkecil pada

bulan Januari sebanyak 3.435 Kg. pemakaian bahan baku terbesar untuk

tepung terjadi pada bulan Oktober sebanyak 24.575 kg dan untuk gula

terbesar pada bulan Maret sebesar 29.700 kg sedangkan untuk minyak

terjadi pada bulan April sebanyak 7.700 kg. Pemakaian bahan baku tepung

di PT Aneka Boga Makmur selama tahun 2011 adalah sebesar 229.750 kg,

untuk gula sebesar 200.600 kg sedangkan untuk minyak sebesar 63.055 kg.

2. Frekuensi Pemesanan

Selain mengetahui jumlah penggunaan bahan baku, manajer pabrik

juga harus menentukan jumlah pemesanan dan frekuensi pemesanan

pertahun yang dibutuhkan oleh proses produksi, Kuantitas dan frekuensi

pemesanan dapat dilihat melalui tabel berikut :

Tabel 3 Kuantitas dan Frekuensi Pemesanan Bahan Baku Tepung Terigu,


Gula dan Minyak pada Tahun 2011

Jenis Bahan baku Kuantitas Pemesanan per Frekuensi Total Penggunaan (kg)
pesanan (kg) (kali)
Tepung Terigu 2.393,23 96 229.750,00
Gula 2.089,58 96 200.600,00
Minyak 656,82 96 63.055,00
Berdasarkan tabel tersebut maka dapat diketahui bahwa untuk tahun 2011

frekuensi pemesanan pada tiap bahan baku sama, yaitu sebanyak 96 kali

dalam setahun. Kuantitas pemesanan tepung terigu dalam sekali pesan

sebanyak 2.393,23 kg, untuk Gula sebanyak 2.089,58 kg sedangkan untuk

Minyak rata-rata kuantitas pemesanan yaitu sebanyak 656,82 kg.

3. Harga Bahan Baku

Dalam memenuhi kebutuhan bahan baku, PT Aneka Boga Makmur

menggunakan supplier dalam negeri, dengan pertimbangan bahan baku

bisa segera di terima dan harga nya lebih terjangkau dari supplier luar

negeri. Perusahaan juga melakukan beberapa kontrak harga flat dengan

pertimbangan bahwa harga bahan baku akan berubah. Berikut harga bahan

baku dari supplier bahan baku periode tahun 2011.

Tabel 4 Harga Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak di


PT Aneka Boga Makmur pada Tahun 2011

Jenis Bahan baku Harga (Rp)

Tepung Terigu 4.960


Gula 9.080
Minyak 4.800

Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa harga gula yang tertinggi dari

bahan baku inti yang lain yaitu sebesar Rp. 9.080 sedangkan harga bahan

baku inti yang terendah adalah minyak sebesar Rp. 4.800.


4. Total Biaya Persediaan

Pengadaan bahan baku untuk kegiatan proses produksi tidak akan

terlepas dari biaya produksi yang menyertainya. PT Aneka Boga Makmur

mengeluarkan sejumlah biaya atas persediaan bahan baku yang dapat

dibagi menjadi dua jenis yaitu biayapemesanan dan biaya penyimpanan.

Biaya pemesanan adalah biaya yang harusdikeluarkan untuk

melakukan pemesanan sampai barang tersebut berada atausampai di lokasi

perusahaan. Biaya ini besarnya dipengaruhi oleh kuantitas

pesananbertambah dengan jumlah pemesanan yang dilakukan dan total

biayanyaadalah perkalian keduanya. Biaya pemesanan yang dikeluarkan

PT Aneka Boga Makmur meliputi ongkos angkut pemesanan, biaya

administrasi dan biaya pemeriksaan bahan baku.

Biaya penyimpanansebagai akibat kegiatan menyimpan bahan baku

di gudang dalam periode waktu tertentu. Pada PT. Aneka Boga Makmur

biaya gudang tidak dihitungsebagai biaya penyimpanan karena gudang

adalah milik perusahaan yangmerupakan investasi sebagai asset

perusahaan. Biaya pergudangan yang terdiriatas biaya tenaga kerja, biaya

peralatan material handling digudang, dan biaya administrasi gudang. Jadi

biayapenyimpanan hanya terdiri dari biaya asuransi atas persediaan dan

biaya yangtimbul atas risiko-risiko yang mungkin terjadi seperti risiko

kerusakan, kecurian, dan penyusutan persediaan.

Untuk mengetahui total biaya persediaan yang sudah dikeluarkan

oleh PT Aneka Boga Makmur pada tahun 2011 adalah sebagai berikut.
Tabel 5. Total Biaya Persediaan Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan
Minyak di PT Aneka Boga Makmur pada Tahun 2011

Jenis Bahan baku Biaya Pemesanan Biaya Penyimpanan Total Biaya


(Rp) (Rp) Persediaan (Rp)
Tepung Terigu 1.407.360 5.697.800 7.105.160
Gula 1.311.840 9.107.240 10.419.080
Minyak 1.459.200 1.513.320 2.972.520

Berdasarkan tabel diatas, biaya pemesanan tertinggi pada tahun 2011 yaitu

untuk bahan baku Minyak sebanyak Rp. 1.459.200 sedangkan biaya

pemesanan terendah yaitu pada bahan baku Gula sebanyak Rp. 1.311.840.

Biaya penyimpanan terendah pada tahun 2011 yaitu pada bahan baku

Minyak sebesar Rp. 1.513.320,- sedangkan biaya penyimpanan tertinggi

yaitu pada bahan Gula yaitu sebesar Rp. 9.107.240. biaya penyimpanan

gula yang tinggi disebabkan oleh adanya pemesanan dalam jumlah besar di

bulan Maret sampai dengan Juni 2011.

5. Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Persediaan pengaman (Safety Stock) merupakan persediaan bahan

minimum yang harus tersedia digudang. Pengadaan persediaan pengaman

dilakukan untuk menghindari terjadinya kekurangan barang sehingga tidak

menghambat proses produksi. tepung terigu, gula dan minyak merupakan

bahan baku inti yang digunakan oleh PT Aneka Boga Makmur. Selama ini

PT Aneka Boga Makmur menerapkan kebijakan safety stock sebesar 20%

dari rata-rata persediaan akhir periode sebelumnya.


6. Waktu tunggu (lead time)

Waktu tunggu (lead time) merupakan tenggang waktu yang diperlukan

antara saat pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan baku itu

sendiri, jarak antara waktu pemesanan bahan baku sampai dengan

datangnya bahan baku di PT Aneka Boga Makmur untuk bahan baku

tepung terigu dan gula yaitu selama 7 hari sedangkan untuk bahan baku

minyak yaitu selama 3 hari.

7. Reorder point

Reorder Point (ROP) merupakan titik dimana harus mengadakan

pemesanan bahan baku lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau

penerimaan bahan baku yang dipesan tepat pada waktu dimana persediaan

diatas safety stock sama dengan dengan nol. Untuk PT Aneka Boga

Makmur tidak menerapkan prinsip reorder point, Pemesanan bahan baku

dilakukan dengan prinsip perkiraan pemakaian selama 2 bulan.

4.4. Analisis Persediaan Bahan Baku Menurut Metode EOQ (Economic

Order Quantity)

1. Jumlah Pemesanan, Frekuensi dan Total biaya Persediaan Optimal

menurut metode EOQ

Perhitungan pembelian bahan baku Tepung terigu, gula dan

Minyak yang optimal padaperiode produksi tahun 2011 dengan

menggunakan metodeEOQ (Economic Order Quantity) di PT. Aneka


Boga Makmur membutuhkandata persediaan bahan baku yang dimiliki

oleh PT. Aneka Boga Makmur pada periode produksi tahun 2011. Data-

data yangdigunakan antara lain jumlah bahan baku yangdibutuhkan selama

satu tahun (D), biaya pemesanan setiap kali pesan(S) dan biaya

penyimpanan per kg (H).

Tabel 6 Jumlah Penggunaan, Biaya Pemesanan per Pesanan dan Biaya


Penyimpanan per kg Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan
Minyak di PT Aneka Boga Makmur pada Tahun 2011

Jenis Bahan Baku D(kg) S(Rp) H(Rp)


Tepung Terigu 229.750 14.660,00 24,80
Gula 200.600 13.665,00 45,40
Minyak 63.055 15.200,00 24,00

Dari tabel data diatas dapat diketahui bahwa penggunaan bahan baku

tertinggi pada tahun 2011 adalah Tepung terigu sebanyak 229.750 kg dan

terendah adalah minyak sebanyak 63.055 kg. Biaya pemesanan tertinggi

adalah minyak sebesar Rp. 15.200 per pesanan dan terendah adalah gula

sebesar Rp. 13.665,- per pesanan. Biaya Penyimpanan tertinggi terjadi

pada bahan baku Gula yaitu sebesar Rp. 45,40 per kg dan terendah yaitu

minyak sebesar Rp. 24,00 per kg.

Dari data tersebut dapat dilakukan analisis untuk menentukan

jumlah pemesanan optimal setiap kali pesan, frekuensi pemesanan optimal

serta biaya total minimal yang dikeluarkan selama satu periode produksi

menurut metode EOQ.


Tabel 7. Kuantitas Pemesanan, Frekuensi dan Total Biaya Persediaan
Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak menurut metode
Economic Order Quantity

Jenis Bahan Baku Kuantitas Per Frekuensi (kali) Total Biaya


Pemesanan (Kg) Persediaan (Rp)
Tepung Terigu 16.481 14 613.094
Gula 10.989 18 748.349
Minyak 8.937 7 321.731

Dari tabel tersebut diatas, diketahui pemesanan optimal setiap kali

pemesanan untuk bahan baku Tepung terigu sebesar 16.481 kg dengan

frekuensi pembelian dalam satu periode sebanyak 14 kali, dan total biaya

persediaan yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 613.094,-.Pemesanan

optimal setiap kali pemesanan untuk bahan baku Gula adalah sebesar

10.989 kg dengan frekuensi pembelian dalam satu periode sebanyak 18

kali, total biaya persediaan yang dikeluarkan sebesar Rp. 748.349,-. Dan

pemesanan optimal setiap kali pemesanan untuk bahan baku Minyak

adalah sebesar 8.937 kg dengan frekuensi pembelian dalam satu periode

sebanyak 7 kali, dan total biaya persediaan yang dikeluarkan sebesar Rp.

321.731,-. Darihasil analisis tersebut diperoleh bahwa untuk

meminimalisir total biayapersediaan, maka pembelian bahan baku

dilakukan dalamjumlah yang besar dan dengan frekuensi pembelian yang

rendah setiapperiode produksinya.

2. Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Besarnya persediaan pengaman (safety stock) dipengaruhi

olehbesarnya penggunaan bahan baku setiap bulan.Besarnya safety


stockbahanbaku optimal menurut metode Economic Order Quantitydapat

dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8 Besarnya Safety StockBahan Baku Tepung Terigu, Gula dan


Minyak optimal menurut metode Economic Order Quantity

Jenis Bahan baku Safety Stock (kg)

Tepung Terigu 2.109,74


Gula 1.183,73
Minyak 243,78

Dari tabel tersebut diatas diketahui bahwa besarnya safety stock untuk

bahan baku tepung terigu adalah sebesar 2.109,74 kg, untuk gula sebanyak

1.183,73 kg sedangkan minyak sebanyak 243,78 kg.

3. Reorder Point

Dari hasil perhitungan mengenai reorder point maka diperolehhasil

sebagai berikut:

Tabel 9 Reorder Point Optimal Persediaan Bahan Baku Tepung Terigu,


Gula dan Minyak Optimal Menurut Metode Economic Order
Quantity

Jenis Bahan Baku Lead time Permintaan harian ROP

Tepung terigu 7 736,38 5.154,65


Gula 3 642,95 1.928,85
Minyak 7 202,10 1.414,70

Dari tabel diatas diketahui bahwa untuk periode tahun 2011 perusahaan

harus melakukan pemesanan bahan baku kembali pada saat persediaan

digudang untuk bahan baku tepung terigu sebesar 5.154,65 kg, untuk
bahan baku gula sebesar 1.928,85 kg dan untuk bahan baku minyak

sebesar 1.414,70 kg.

4.5. Analisis Persediaan Bahan Baku Menurut Metode EPQ (Economic

Production Quantity)

1. Jumlah Pemesanan, Frekuensi dan Total biaya Persediaan Optimal

menurut metode EPQ

Untuk melakukan perbandingan dengan metode sebelumnya maka penulis

akan melakukan perhitungan dengan metode EPQ, yang ditunjukka dalam

tabel berikut.

Tabel 10. Kuantitas Pemesanan, Frekuensi dan Total Biaya Persediaan


Bahan Baku Tepung Terigu, Gula dan Minyak menurut metode
Economic Production Quantity

Jenis Bahan Baku Kuantitas Per Frekuensi (kali) Total Biaya


Pemesanan (Kg) Persediaan (Rp)
Tepung Terigu 5.233 44 773.433
Gula 3.461 58 949.202
Minyak 2.647 24 425.587

Dari tabel tersebut diatas, diketahui pemesanan optimal setiap kali

pemesanan untuk bahan baku Tepung terigu sebesar 5.233 kg dengan

frekuensi pembelian dalam satu periode sebanyak 44 kali, dan total biaya

persediaan yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 773.433,-.Pemesanan

optimal setiap kali pemesanan untuk bahan baku Gula adalah sebesar

3.461 kg dengan frekuensi pembelian dalam satu periode sebanyak 58 kali,

total biaya persediaan yang dikeluarkan sebesar Rp. 949.202,-. Dan

pemesanan optimal setiap kali pemesanan untuk bahan baku Minyak


adalah sebesar 2.647 kg dengan frekuensi pembelian dalam satu periode

sebanyak 24 kali, dan total biaya persediaan yang dikeluarkan sebesar Rp.

425.587,-. Darihasil analisis tersebut diperoleh bahwa untuk

meminimalisir total biayapersediaan, maka pembelian bahan baku

dilakukan dalamjumlah yang besar dan dengan frekuensi pembelian yang

rendah setiapperiode produksinya.

2. Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Metode EPQ tidak menggunakan sistem persediaan pengaman. Bahan

baku yang datang setelah pemesanan akan langsung digunakan untuk

proses produksi.

3. Reorder Point

Demikian pula dengan reorder point, metode EPQ menerapkan prinsip

bahan baku dipesan setelah proses produksi selesai.

4.6. Analisis Efisiensi Pemesanan Bahan Baku Yang Optimal Dengan

Pemesanan Bahan Baku Yang Dilakukan Dengan Kebijakan PT Aneka

Boga Makmur

Untuk dapat mengetahui metode mana yang lebih efisien

dalampenyediaan bahan baku, maka diperlukan perbandingan antara

penyediaanbahan baku menurut kebijakan perusahaan dan penyediaan

menurutperhitungan metode Economic Order Quantitydan metode


Economic Production Quantity. Perbandingan tersebutdapat dilihat pada

Tabel berikut :

Tabel 11 PerbandinganKuantitas dan Frekuensi Pembelian Bahan


Bakuantara kebijakan Perusahaan dengan metode Economic
Order Quantitydan Economic Production Quantity

Jenis Bahan Kebijakan Perusahaan Metode EOQ Metode EPQ


Baku Q(Kg) Frek (kali) Q(kg) Frek (kali) Q(kg) Frek (kali)
Tepung Terigu 2.393,23 96 16.481,01 14 5.232,78 44
Gula 2.089,58 96 10.988,98 18 3.460,74 58
Minyak 656,82 96 8.936,98 7 2.647,22 24

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa perbedaan antara

kuantitas bahan baku yang dipesan serta frekuensi pemesanan sangat jauh

berbeda antara kebijkan perusahaan, dengan perhitungan menggunakan

metode Economic Order Quantity serta Economic Production Quantity.

Selisih yang besar pada kuantitas dan frekuensi pembelianbahan

baku antara kebijakan perusahaan dengan hasilperhitungan menurut metode

Economic Order Quantitydan Economic Production Quantity ini

disebabkankarena faktor ketersediaan bahan baku. Pada keadaan di

lapangan, dalammemenuhi kebutuhan bahan bakunya, PT Aneka Boga

Makmur melakukanpembelian dalam jumlah yang sedikit, hal ini terkait

dengan kemampuansupplier dalam menyediakan bahan baku sehingga PT.

Aneka Boga Makmur melakukan pembelian bahan baku dengan frekuensi

pembelian yang tinggi untuk memenuhi kebutuhanproduksinya.

Untuk dapat mengetahui metode mana yang lebih efisien

dalampengeluaran total biaya persediaan bahan baku, maka diperlukan

perbandingan antara perhitungan total biaya persediaanmenurut kebijakan


perusahaan dan menurut perhitungan metode dengan Economic Order

Quantitydan metode Economic Production Quantity. Perbandingan tersebut

dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 12 PerbandinganTotal Biaya Persediaan Bahan Baku antara


kebijakan Perusahaan dengan metode Economic Order
Quantitydan Economic Order Quantity

Jenis Bahan Total Biaya (Rp)


Baku Kebijakan Perusahaan Metode EOQ Metode EPQ
Tepung Terigu 7.105.160,00 408.729,12 773.433,37
Gula 10.419.080,00 498.899,66 949.201,89
Minyak 2.972.520,00 214.487,59 425.587,47

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa terjadi selisih total biaya

persediaan bahan baku antara kebijakan perusahaan dengan metode

Economic Order Quantitydan metode Economic Production Quantity.

Untuk dapat mengetahui metode mana yang lebih efisien dalam

penyediaan persediaan pengaman bahan baku, maka diperlukan

perbandingan antara penyediaan persediaan pengaman bahan baku menurut

kebijakan perusahaan dan menurut metode Economic Order Quantity dan

metode Economic Production Quantity. Perbandingan tersebut dapat dilihat

pada table sebagai berikut :

Tabel 13Perbandingan Kuantitas Persediaan Pengaman Bahan Baku antara


kebijakan Perusahaan dengan metode Economic Order Quantitydan
metode Economic Production Quantity

No. Bulan Persediaan Pengaman (Kg)


Kebijakan Metode EOQ Metode EPQ
perusahaan
1 Tepung Terigu 3.829,17 2.109,74 0
2 Gula 3.343,33 1.183,73 0
3 Minyak 1.050,92 243,78 0
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat selisih persediaan pengaman

bahan baku antara kebijakan perusahaan dengan metode Economic Order

Quantitydan metode Economic Production Quantitydimana tidak ada

persediaan pengaman dalam metode EPQ dan hal ini sangat menimbulkan

resiko yang besar dalam proses produksi.

Untuk dapat mengetahui metode mana yang lebih efisien

dalampengadaan pemesanan kembali bahan baku, maka diperlukan

perbandingan antara pengadaan pemesanan kembali bahan baku

menurutkebijakan perusahaan dan pengadaan pemesanan kembali bahan

bakumenurut perhitungan metode Economic Order Quantitydan metode

Economic Production Quantity. Perbandingantersebut dapat dilihat pada

Tabel sebagai berikut :

Tabel 14 Perbandingan Reorder Point Bahan Baku antara kebijakan


Perusahaan dengan metode Economic Order Quantity dan metode
Economic Production Quantity

No. Bulan Reorder Point (Kg)


Kebijakan perusahaan Metode EOQ Metode EPQ
1 Tepung Terigu 0 5.154,65 0
2 Gula 0 1.928,85 0
3 Minyak 0 1.414,70 0

Berdasarkan Tabel tersebut dapat dilihat bahwa metode EOQ

menerapkan reorder point untuk pembelian bahan baku agar tidak terjadi

stock out di gudang persediaan sehingga mengganggu jalannya proses

produksi.
4.7. Analisis Perbandingan Antara Metode Economic Order Quantity dan

metode Economic Production QuantityDengan Kebijakan Perusahaan

Analisis pengendalian persediaan antara metode Economic Order

Quantitydan metode Economic Production Quantitydengan kebijakan

perusahaan dilakukan untuk mengetahui jumlah pemesanan bahan baku dan

besarnya biaya mana yang lebih efisien untuk dapat diterapkan oleh PT

Aneka Boga Makmur, sehingga diharapkan adanya perbaikan kinerja dari

perusahaan. Dalam hal ini setiap perusahaan lebih menginginkan

memperoleh kuantitas produksi yang optimum dengan biaya yang

ekonomis. Oleh karena itu, diperlukan analisis dari segi penyediaan bahan

baku baik itu saat terjadi persediaan yang telah pasti, kelebihan bahan baku

maupun pada saat terjadi kekurangan bahan.

Berdasarkan hasil analisis diatas dapat diketahui bahwa terjadi

perbedaan yang cukup besar antara kebijakan yang dilakukan oleh

perusahaan dengan metode Economic Order Quantitydan metode Economic

Production Quantitydalam hal kuantitas pembelian bahan baku yang

dilakukan per pemesanan dan jumlah frekuensi pemesanan. Dari hasil

analisis tersebut juga diketahui bahwa kuantitas pemesanan bahan baku

perusahaan mempunyai nilai yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan

perhitungan Economic Order Quantity ataupun dengan menggunakan

metode Economic Production Quantitydengan kata lain kebijakan yang

dikeluarkan oleh perusahaan belum mencapai tingkat efisiensi.


Setelah melihat perbandingan kuantitas pemesanan bahan baku

perusahaan dengan kuantitas pemesanan bahan baku menurut perhitungan

metode Economic Order Quantitydan metode Economic Production

Quantity, maka perlu juga memperhatikan biaya – biaya yang berkaitan

dengan penyediaan bahan baku tersebut. Total biaya yang dikeluarkan juga

perlu diperhatikan untuk dapat mengetahui apakah biaya yang telah

dikeluarkan oleh perusahaan sudah mencapai tingkat efisiensi biaya

persediaan atau belum.

Metode Economic Order Quantitydapat meminimalkan biaya yang

dikeluarkan perusahaan. Hal ini dapat diamati dari total biaya yang

dikeluarkan oleh PT Aneka Boga Makmur sendiri dengan total biaya yang

dikeluarkan menurut perhitungan metode Economic Order Quantityatapun

dengan metode Economic Production Quantity. Dari hasil analisis dapat

diketahui bahwa hasil yang didapat antara kedua perhitungan sangat besar,

hal ini membuktikan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh PT Aneka Boga

Makmur sangat besar apabila dibandingkan dengan perhitungan biaya

menurut metode Economic Order Quantityataupun metode Economic

Production Quantity.Hal ini berarti apabila perusahaan metode Economic

Order Quantity, maka biaya yang dikeluarkan lebihsedikit dan perusahaan

dapat menghemat pengeluaran terutama dari segibiaya persediaan.

Metode Economic Order Quantity sangat berguna

untukmengetahui jumlah pemesanan bahan baku yang optimal, dengan

diketahuijumlah pemesanan yang ekonomis ini maka dapat diketahui pula


biayapemesanan yang seharusnya dikeluarkan oleh pihak perusahaan.

Jumlahpemesanan bahan baku yang dilakukan perusahaan ternyata

menunjukkanhasil yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kuantitas

yangseharusnya (Q) menurut perhitungan metode Economic Order

Quantity.
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

1. Pembelian bahan baku tepung terigu, gula dan minyak untuk produksi

biskuit yangoptimal menurut metode Economic Order Quantity selama

tahun 2011 di PT. Aneka Boga Makmur untuk setiap kali pesan

lebihbesar daripada kebijakan perusahaan. Pembelian bahan bakuuntuk

proses produksi biscuit yang optimal tahun 2011 untuk bahan baku

tepung terigu sebesar 16.481 kg, untuk bahan baku gula sebesar 10.989

kg.dan bahan baku minyak sebesar 8.937 kg per pemesanan. Dan hasil

perhitungan dengan menggunakan metode Economic Production

Quantityuntuk bahan baku Tepung terigu sebesar 5.233 kg, Gula sebesar

3.461 kg dan minyak sebesar 2.467 kg

2. Kuantitas persediaan pengaman menurut metode Economic

OrderQuantity tahun 2011 untuk bahan bakutepung terigu adalah sebesar

2.109,74 kg. Kuantitas persediaan pengaman bahan baku gula yang

optimal sebesar 1.183,73 kg dan persediaan pengaman untuk bahan baku

minyak yaitu sebesar 243,78 kg. sedangkan untuk metode Economic

Production Quantitytidak menggunakan persediaan pengaman

3. Waktu tunggu (lead time) kedatangan bahan baku yangoptimal di PT.

Aneka Boga Makmur tahun 2011 untuk bahan baku tepung terigu dan
gula adalah selama 7 hari dan untuk bahan baku minyak adalah selama 3

hari.

4. Selama tahun 2011 PT. Aneka Boga Makmur tidak menerapkanadanya

titik pemesanan kembali (ROP) sedangkan reorder point menurutmetode

Economic Order Quantity tahun 2011untuk bahan baku tepung terigu

sebesar 5.154,65 kg untuk bahan baku gula sebanyak 1.928,85 kg

sedangkan untuk bahan baku minyak sebesar 1.414,70 kg. sedangkan

untuk Economic Production Quantitytidak menggunakan metode reorder

point.

5. Total biaya persediaan bahan baku untuk proses produksiyang

dikeluarkan PT. Aneka Boga Makmur pada tahun 2011menurut metode

Economic Order Quantity lebih kecil dari kebijakanperusahaan. Total

biaya persediaan bahan baku menurutmetode Economic Order Quantity

tahun 2011 untuk bahan baku tepung terigu adalah sebesar Rp. 613.094,-

untuk bahan baku gula sebesar Rp. 748.349,- dan untuk bahan baku

minyak sebesar Rp. 321.731,-. Hasil perhitungan dengan menggunakan

metode Economic Production Quantityuntuk tepung terigu sebesar Rp.

773.433,- untuk bahan baku gula sebesar Rp. 949.202,- dan untuk bahan

baku minyak sebesar Rp. 425.587,-

1.2. SARAN

1. Dalam pengadaan bahan bakunya, PT. Aneka Boga Makmur sebaiknya

melakukan pembelian dalam jumlah yang besar dan dengan frekuensi


yang rendah per periode produksi, hal ini dilakukan untuk meminimalisir

biaya persediaan.

2. PT. Aneka Boga Makmur sebaknya melakukan pemesanan kembali pada

saat bahan baku mencapai pada titik dimana jumlah safety stock dan

jumlah penggunaan bahan baku pada masa lead time.


DAFTAR PUSTAKA

Baroto, Teguh. 2002. Perencanaan dan pengendalian produksi. Bogor : Ghalia


Indonesia

Blocher, E. J., Chen, K. H., & Lin, T. W. 2007. Manajemen Biaya. Jakarta :
Salemba Empat

Gitosudarmo, H. Indriyo. 1999. Manajemen Operasi. Yogyakarta: BPFE

Handoko, T. Hani. 1999. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi.


Yogyakarta: BPFE

Indriantoro, dan Supomo, 2002.Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan


Manajemen, Edisi Pertama, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.

Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi. Edisi Ketiga. Jakarta : Salemba Empat

Schroeder, R.G. 1997. Manajemen Operasi: Pengambilan Keputusan Dalam


Fungsi Operasi. Jakarta: Erlangga

Soeratno dan Arsyad L. 1999. Metode Penelitian untuk Ekonomi dan Bisnis.
Yogyakarta: UPP AMP YKPN.