Anda di halaman 1dari 4

Asal Usul Kerajaan Samudera Pasai

(1272-1514 M)
Dari Kabupaten Aceh Utara

Pada zaman dahulu kala ada dua orang bersaudara, seorang bernama raja ahmad dan seorang

lagi bernama raja Muhammad. Kedua orang ini ingin membangun sebuah negeri di Samerlanga

(Samalanga sekarang). Pada saat raja Muhammad dan rakyatnya hendak menebas hutan, ditemukan

serumpun batang bambu (Betong bahasa Aceh) yang amat tebal rumpunnya. Kemudian raja

Muhammad menebas rumpun tersebut dan tiba-tiba muncullah seorang anak perempuan, melihat anak

perempuan tersebut yang amat cantik rupanya timbul keinginan raja Muhammad untuk mengangkatnya

menjadi anak. Raja Muhammad kemudian membawa pulang ke istana dan memberitahukan kepada

istri.

Raja Muhammad berkata “ Adinda, Kakanda menemukan seorang anak yang sangat cantik

rupawan parasnya, kemudian kakanda bawa anak ini ke istana kita. Permansuri menjawab “ Dimana

Kakanda menemukan anak ini?, sungguh elok parasnya jawab raja Muhammad. Raja Muhammad

berkata “ Kanda menemukannya diantara rerumpunan beutong (bamboo). Lanjut Raja Muhammad

berkata “ bagaimana kalau anak ini kita namakan putrid Beutong”.

Putri Beutong diperlihara oleh baginda seperti anak-anak raja dengan penjagaan inang-inang

pengasuh serta dayang-dayangnya dan lengkap dengan pakaian seperti layaknya seorang raja. Baginda

dan permaisurinya sangat bersuka cita melihat perkembanngan Putri Betong yang semakin cantik

nrupanya.

Mendengar saudaranya Raja Muhammad menemukan seorang putri raja Ahmad kemudian

bersuka cita. Selang beberapa kemudian Raja Ahmadpun membangun sebuah negeri baru , kira-kira

jauhnya sehari perjalanan dari negeri Raja Muhammad. Negeri baru itu lengkap dengan kota, parit serta

1
istana dan balairungnya. Tak lama kemudian, Raja Ahmad berburu ke rimba belantara, tetapi tidak ada

seekor binatang didapatnya, hanya Raja Ahmad bertemu dengan sebuah surau ditengah rimba

belantara. Dalam surau itu ada seorang kakek yang sedang duduk, lalu Raja Ahmad member salam

kepada kakek itu. Kemudian Raja Ahmad pun menceritakan perihal saudaranya mendapat seorang putri

di dalam rebung betong. Berkatalah kakek tersebut, “ hai anakku jikalau tuan hendak akan anak, baiklah

aku tunjukkan dia kepada tuan”. “ tunggulah barang sesat’.

Tak lama kemudian datanglah seekor gajah yang amat besar membawa seorang anak duduk di

atas badannya, gajah itu berjalan kearah sungai untuk mandi. Melihat hal itu Raja Ahmad segera

mengambil anak kecil itu dan membawa pulang kenegerinya. Setelah sampai di istana, Raja Ahmad

memanggil pemainsuri, “ hai adinda, kanda menemukan seorang anak laki-laki yang tampan rupanya,

pada saat kanda temukan sedang mandi dengan seekor gajah yang amat besar, lalu kanda segera

menggambil anak ini untuk kanda bawa pulang”. Permainsuri menjawah, “ O, kakanda sungguh tampan

rupa anak ini, nama apakah yang akan kita berikan?” kemudian raja menjawab, “ bagaimana kalau kita

berikan nama anak ini meurah gajah”.

Berita raja Ahmad memperoleh seorang anak terdengarlah sampai ke kuping saudaranya raja

Muhammad, kemudian raja Muhammad pergi ke negeri raja Ahmad untuk melihat, Meurah Gajah, raja

Muhammad pun bersuka cita melihat anak tersebut yang amat rupawan. Timbul kenginan raja

Muhammad untuk menjodohkan Putri Betong dengan Meurah Gajah.

Dari pernikahan Meurah Gajah dan Putri Betong lahirlah dua orang putra yang bernama Meurah

Hasum dan Meurah Selu. Pada suatu hari Meurah Gajah melihat sehelai rambut putri Betong berwarna

emas, Meurah Gajah meminta agar rambut putih Putri Betong untuk dicabut, “ wahai adinda bolehkan

kanda cabut rambut adinda yang berwarna putih itu? Ujar Meurah Gajah. Putri Betong menjawab, “ jika

kanda cabut sehelai rambut ini, maka akan terjadi perpisahan antara kanda dengan dinda”. Meurah

2
Gajah pun terdiam, tak lama kemudian Meurah Gajah memaksa mencabut rambut emas Putri Betong

sehingga keluarlah darah putih dari kepala Putri Betong dan wafatlah dia.

Melihat kejadian itu Meurah Gajah merasa sangat takut maka larilah ia ke negeri ayahnya raja

ahmad, karena peristiwa ini terjadilah peperangan antara Raja Muhammad dan Raja Ahmad banyak

prajurit dari kedua belah pihak gugur, dan kedua Raja tersebut pun menemui ajalnya, begitu juga

dengan Meurah Gajah.

Setelah perang usai Meurah Selu dan Meurah Hasum sepakat meninggalkan Semarlenga

(Samalanga) untuk membuka negeri baru. Mereka berjalan sampai ke Beurana (Bireun). Negeri Bireun

tersebut belum mempunyai raja, oleh rakyat negeri Bireun diangkatlah Meurah Hasum menjadi raja.

Meurah Selu melihat abangnya menjadi raja, Meurah Selu bermaksud membuka negeri lain di hulu

sungai Peusangan. Dihulu sungai itu menemukan cacing-cacing gelang yang kemudian berubah menjadi

emas dan perak, dengan emas itu mengupah orang untuk menangkap kerbau-kerbau liar untuk

dijinakkan. Pekerjaan itu tidak disukai Meurah Hasum abangnya, maka diusirlah Meurah Selu dari negeri

Bireun.

Setelah berjalan jauh sampai Meurah Selu kesebuah negeri yang bernama Simanda yaitu bagian

dari negeri rimba Jruen (limba Jruen ini yang letaknya sekarang dihulu sungai Blang Mangat sekarang),

nama rajanya Meghat Iskandar. Di negeri itu Meurah Selu diperkenankan tinggal. Meghat Iskandar

sangat menyukai Meurah Selu dia bermusyawarah dengan rakyat dan sepakat menobatkan Meurah Selu

menjadi Raja negeri Jruen. Akan tetapi, saudara Meghat Iskandar tidak setuju maka terjadi peperangaan

, diantara keduanya, dimana saudara Meghat Iskandar mengalami kekalahan.

Pada suatu hari Meurah Selu berburu dengan seorang pengawalnya , lalu melihat sebuah tanah

tinggi yang dihuni oleh semut yang amat besar, “ Lihatlah sungguh besar semut itu”, kata Meurah Selu

kepada pengawalnya. “ kata penduduk itu semut dara ya…… tuanku” jawab pengawal. kemudian

3
Meurah Selu tertarik mendirikan istana di tanah tinggi itu, daerah itu diberi nama oleh Merurah Selu

semut dara diambil dari nama semut besar itu, yang lama kelamaan berubah menjadi Samudera.

Negeri Samudera yang dipimpin oleh Meurah Selu berkembang pesat dan bertambah maju,

sehingga raja Syarif dari Negeri Mekah mengirimkan utusan ke Negeri Samudera untuk mengembangkan

agama islam. Menurut cerita sebelum datangnya Syech Ismail utusan dari Mekah. Meurah Selu

bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, yang mengajari dua kalimah syahadat dan tata cara

shalat. Karena itu apa saja yang diajarkan oleh Syech Ismail Kepada Meurah Selu langsung memahami

dan mengerti semua ajaran Syech Ismail. Setelah masuk islam Meurah Selu diberi gelar dengan nama

Sultan Malikulsaleh, arti kata Malikulsaleh adalah raja yang pertama memeluk agama islam. Kemudian

seluruh rakyat Samudera berbondong-bondong memeluk agama islam. Sultan Malikulsaleh menambah

wilayah kerajaannya yaitu sebuah kota yang strategis sebagai pelabuhan dagang di selat Malaka,

diberikan nama Pasai mengikuti nama anjing kesayanannya yang berhasil menangkap seekor pelanduk

ketika negeri baru ini mulai dibuka. Akhirnya nama negeri Samudera berubah menjadi Samudera Pasai

sampai dengan sekarang.

Dibawah pemerintahan Sultan Malikulsaleh negeri Samudera Pasai banyak didatangi oleh

bangsa-bangsa asing yang bertujuan berdagang dan menyebarkan agama islam seperti; dari Gujarat,

India, Cina dll. Demikianlah asal usul berdirinya negeri Samudera Pasai yang sekarang terletak di Kota

Geudong, Makam Malikulsaleh terdapat juga di Kecamatan Geudong.

Sumber dari “Hikayat Raja-Raja Pasai” – dari Tarikh Aceh dan Nusantara karya H.M.Zainuddin