Anda di halaman 1dari 13

257

SUPREMASI KONSTITUSI ADALAH TUJUAN NEGARA


Johannes Suhardjana
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
E-mail: johannes.suhardjana@unsoed.ac.id

Abstract

Contitution or Fundamental norms is the supreme law governing the operation of the working rules
of the state as an organization, so that the constitution would give the direction and under the laws
and regulation. In the constitution there must be an effective system, regularly to the mechanism or
the operations of the government and the main of the constitutions is the existence of restriction of
the authority and respect for the human rights, because human rights is human nature that
possesses from birth.

Keywords: constitution, restriction, human rights

Abstrak

Konstitusi atau Ketentuan yang bersifat Pokok adalah hukum yang paling utama untuk menjalankan
negara sebagai suatu organisasi, sehingga suatu konstitusi akan memberikan arah dan berdasar
ketentuan hukum yang ada dan peraturan. Dalam konstitusi harus ada suatu sistem yang efektif,
bersifat tetap dalam menjalankan pemerintahan dan tujuan utama suatu konstitusi adalah
mempertahankan dan menjaga kekuasaan untuk menghormati hak asasi manusia karena hak asasi
manusia adalah hak yang dipunyai mahluk hidup sejak lahir

Kata kunci: konstitusi, pembatasan, hak asasi manusia

Pendahuluan yang ditentukan oleh norma aturan itu (elemen


Setiap pembentukan negara, selalu mem- subyektif dan kultural)2.
punyai tujuan dan cita-cita, termasuk Indo- Untuk mencapai tujuan negara, dalam
nesia, tercermin dalam suatu Undang Undang suatu negara sebagai suatu organisasi, maka
Dasar, untuk Indonesia adalah Undang Undang diperlukan naskah aturan (hukum) yang disebut
Dasar 1945. Untuk mencapai tujuan negara konstitusi atau Undang Undang Dasar3, karena
diperlukan suatu mekanimsme pencapaian pengertian konstitusi menurut Brian Thompson
tujuan yaitu melalui sederet ketentuan atau adalah ”... a constitution is a document which
kebijakan-kebijakan, yang mendasar sifatnya, contains the rules for the opereation of an
karena negara Indonesia adalah negara yang organization”,4 sehingga sebenarnya konstitusi
berdasar hukum sesuai dengan ketentuan Pasal dalam pengertian yang terluas dan umum ada-
1 ayat (3) Undang Undang Dasar 1945 mekanis- lah aturan untuk menjalankan suatu organisasi
me pencapaian tujuan negara selalu berlandas- apapun bentuknya dan komplek strukturnya,
kan hukum, hukum hendaknya dapat dipahami terutama organisasi yang berbentuk badan
dan dikembangkan sebagai kesatuan sistem, hukum (legal entity), tidak terkecuali suatu
sebagai suatu konsep hukum.1 organisasi (kekuasaan) yang disebut negara,
Hukum sebagai suatu kesatuan sistem seperti halnya negara Indonesia.
terdapat (1) elemen kelembagaan (elemen ins- Di Indonesia, Undang Undang Dasar seba-
titutional); (2) elemen kaedah aturan (elemen gai suatu aturan hukum yang tertinggi, sesuai
instrumental); dan elemen perilaku para subjek
hukum yang menyandang hak dan kewajiban 2
Ibid., hlm. 2.
3
Jimly Asshiddiqie, 2006, Konstitusi dan Konstitusiona-
1
Jimly Asshiddiqie, Pembangunan Hukum dan penegakan lisme Indonesia, ed. Revisi, cet. Kedua, Jakarta: Setjen
Hukum di Indonesia, Lustrum XI Fakultas Hukum UGM, dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, hlm. 20
4
Yogyakarta, 16 Pebruari 2006, hlm. 1. Ibid., hlm. 19.
258 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 10 No. 3 September 2010

dengan ketentuan tata urutan peraturan per- other government functions. Legislati-
undang-undangan No. 10 Tahun 2004, dimana ve, judicial, and executive are separate
seluruh aturan hukum harus sesuai dengan ke- and distinct, modern law em-phasized its
unity, uniformity, and universality 6
tentuan Undang Undang Dasar, Undang Undang
Dasar adalah bagian dari piramida aturan Sementara menurut Lawrence Friedman, ter-
hukum Hans Nawiasky. Menurut Hans Nawiasky, dapat 3 (tiga) komponen pada setiap sistem
isi Staatsfundamentalnorm, ialah norma yang hukum (legal system), yaitu:
merupakan dasar bagi pembentukan konstitusi Pertama, substansi (Substance of the ru-
atau undang undang dasar suatu negara (staats- lers), kedua, struktur (Structure), ke-
verfassung), termasuk norma pengubahannya5 tiga, budaya hukum (legal culture).
Undang Undang Dasar sebagai bagian atas Struktur sistem hukum (the structure of
piramida aturan hukum dan diharapkan akan legal system) berkaitan dengan hal pene-
gakan hukum (law enforcement), yaitu
menerangi dan memberi dasar-dasar pemben- bagaimana 'the substance rules of law'
tukan sistem hukum dibawahnya, dan yang ditegakan serta dipertahanakan. Apara-
diharapkan hukum dibawahnya modern atau tur hukum merupakan bagian komponen
meminjam istilah Marc Galanter yaitu 'modern 'the structure of legal system'7
legal system' , dimana 'modern legal system'nya
Marc Galanter yanmg harus mengandung: Berdasarkan hal-hal yang telah disebut-
First, modern law consists of rules that kan diatas, maka permasalahan yang ada apa-
are uniform and unvarying in their ap- kah supremasi konstitusi adalah tujuan negara,
plication. Second, modern law is tran- sehingga akan dibahas mengenai konstitusi,
sactional. Rights and obligations are konstitusionalisme, kekuasaan dan kaitan ke-
apportioned as they result from tran- tiganya yang ada dalam Undang Undang Dasar
sactions (contractual, tortuous, criminal,
and so on) between parties rather than. 1945 sehingga akan terlihat arti pentingnya
Third, modern legal norms are univer- supremasi konstitusi adalah tujuan negara.
salitic. Particular instances of regulating
are devised to exemply a valid standard Konstitusi
of general applicability, rather than to Istilah konstitusi berasal dari bahasa Pe-
express that which is unique and intuit-
ed. Thus the application of law is re- rancis, constituer, yang berarti membentuk.
producible and predictable. Fourth, the Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan
system is hierarchical. Fifth, the system ialah pembentukan suatu negara atau menyu-
is organized bureaucratically. In order to sun dan mengatakan suatu negara8, dari apa
achieve uniformity, the system must yang dikatakan di atas dapat dimengerti bahwa
operate impersonally, following prescrib-
ed procedures in each case and deciding konstitusi itu adalah suatu pernyataan untuk
each case in accordance with written membentuk, menyusun suatu negara.
rules. In order to permit review, written Konstitusi dalam pengertian hukum sering
records in prescribed form must be kept dipersamakan dengan Undang Undang Dasar
in case. Sixth, the system is rational. Se- atau gronnwet, tetapi seorang sarjana Belanda
venth, the system is run by proffessio-
nals. Eighth, as the system becomes mo- yaitu L.J. van Apeldoorn telah membedakan
re technical and complex. Ninth, the secara jelas, yaitu Gronwet (Undang Undang
system is amendable. Finally, let us
consider the relation of law to political 6
Marc Galanter, 1966, The modernization of Law, dalam
authority, Tenth, the system is political. Change as a Condition of Modern Life, (In Moderni-
Eleventh, the task of finding law and zation: The Dynamic of Growth), ed. By Myron Weiner,
Cambridge, Massachusets: Voice of America Forum Lec-
applying it to concrete cases is differen-
tures, hlm. 168 -171.
tiated in personnel and technique from 7
Laica Marzuki, 2005, Berjalan-jalan di Ranah Hukum:
Pikiran-pikiran Lepas Prof. Dr. HM Laica Marzuki,
Jakarta: Konstitusi Press, , hlm. 2-3
5 8
Maria Farida Indrati Soeprapto, 1998, Ilmu perundang- Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, Ni'matul Huda, 2005, Teori
undangan, dasar-dasar dan pembentukannya, Kanisius: dan Hukum Konstitusi, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
Yogyakarta, hlm. 28. hlm. 7.
Supremasi Konstitusi adalah Tujuan Negara 259

Dasar) adalah bagian tertulis dari suatu kons- tahan dibandingkan dengan apa yang secara
titusi, sedangkan constitution (konstitusi) me- baku disebut hukum.
muat baik peraturan tertulis maupun yang tidak Kedua, untuk menggambarkan bukan se-
tertulis.9 luruh kumpulan peraturan, baik legal maupun
Adanya persamaan dan perbedaaan an- non-legal, tetapi hasil seleksi dari peraturan-
tara konstitusi dan undang undang dasar se- peraturan yang biasanya terwujud dalam satu
benarnya telah berlangsung lama, yaitu dimulai dokumen atau beberapa dokumen yang terkait
sejak Oliver Cromwell yang menamakan Undang secara erat atau konstitusi merupakan hasil se-
Undang Dasar itu sebagai Instrument of Go- leksi dari peraturan-peraturan hukum yang me-
vernment dengan pengertian bahwa undang ngatur pemerintahan negara tersebut dan telah
Undang Dasar itu dibuat sebagai pegangan un- diwujudkan dalam sebuah dokumen13
tuk memerintah,10 sedang sarjana lain yaitu KC Wheare lebih lanjut mengatakan ”kita
ECS Wade mengatakan Undang Undang Dasar maksud dengan Konstitusi, jika kita ingin
adalah naskah yang memaparkan rangka dan berbicara secara tepat dan pasti, adalah kum-
tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerin- pulan hukum, institusi, dan adat kebiasaan,
tahan suatu negara dan menentukan pokok- yang ditarik dari prinsip-prinsip rasio tertentu
pokoknya carakerja badan-badan tersebut11, yang membentuk sistem umum, dengan mana
sedangkan James Bryce sebagaimana dikutip masyarakat setuju untuk diperintah”.14 Dari apa
oleh CF Strong menyatakan A frame of political yang dikatakan di atas, maka dapat ditarik
society, organized through and by law, that is kesimpulan bahwa dengan konstitusi itulah
to say on in which law has established perma- dibentuk sistem umum, yang oleh masyarakat
nent institutions with recognized function and disetujui sebagai landasan untuk memerintah
definite rights12 atau mengatur sehingga konstitusi adalah dasar
Pengertian konstitusi, adalah dalam rang- landasan umum untuk menjalankan otoritas/
ka pengertian hukum maka apa yang diorganisir wewenang/authority, sebab menurut Ivo D.
itu juga melalui hukum, yang mana hukum itu Duchasek: Constitution, identify the sources,
menetapkan pengaturan mengenai pendirian purposes, uses and restraint of public power15
lembaga-lembaga permanen dan fungsi alat (Konstitusi mengidentifikasikan sumber, tuju-
kelengkapan negara serta hak-hak tertentu an-tujuan, penggunaan-penggunaan dan pem-
yang telah ditentukan. Konstitusi mempunyai batasan-pembatasan kekuasaan umum).
banyak pengertian, dalam diskusi atau wacana Landasan untuk memerintah atau untuk
politik kata 'konstitusi' digunakan dalam 2 (dua) menjalankan otoritas/wewenang berarti mem-
pengertian, yaitu: pertama, untuk menggam- berikan kekuasaan untuk berbuat sesuatu. Isti-
barkan seluruh sistem ketatanegaraan suatu lah wewenang ini disejajarkan dengan istilah
negara, kumpulan peraturan-peraturan yang 'bevoegdheid' dalam istilah hukum Belanda,
mendasari dan mengatur atau mengarahkan meskipun ada perbedaan karakter hukum, yaitu
pemerintahan. Peraturan-peraturan ini sebagi- istilah ''bevoegdheid' digunakan dalam konsep
an bersifat legal, dalam arti pengadilan hukum hukum publik dan privat dan dalam hukum
mengakui dan menerapkan peraturan-peraturan Indonesia, istilah ini seharusnya digunakan da-
tersebut, dan sebagian bersifat non legal atau lam konsep hukum publik dan dideskripsikan
ekstra-legal, yang berupa kebiasaan, persetuju- sebagai kekuasaan hukum, sehingga berkaitan
an, adat atau konvensi, sesuatu yang tidak dengan kekuasaan (otoritas, authority)16, lebih
diakui oleh pengadilan sebagai hukum tetapi ti-
dak kalah efektifnya dalam mengatur pemerin- 13
KC Wheare, 2003, Konstitusi-konstitusi Modern, terj.
Muhammad Hardani, Surabaya: Pustaka Eureka, hlm. 1-3
14
Ibid, hlm. 3-4.
9 15
Ibid, hlm. 8. Jimly Asshidiqie, op. cit., hlm. 21.
10 16
Ibid, hlm. 8. Johannes Suhardjana, 2003, Wewenang Kabupaten dalam
11
Ibid, hlm. 9. pembangunan perumahan, Disertasi, UNAIR, Surabaya,
12
Ibid, hlm. 11. hlm. 113.
260 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 10 No. 3 September 2010

lanjut Philipus M Hadjon mengatakan mengenai edict' (titah raja atau ratu)20, meskipun ini
wewenang atau bevoegdheid ini haruslah sah/ harus dipahami sebagai atau dalam kaitan
absah atau rechtmatig yang memiliki 3 (tiga) dengan faham atau teori kedaulatan (sou-
fungsi, yaitu pertama, bagi aparat pemerin- vereignity) yang ada, sebab kedaulatan bukan
tahan, asas keabsahan berfungsi sebagai norma hanya merupakan atribut negara dan fungsi
pemerintahan (bestuurnormen); kedua, bagi esensial yang ada di dalamnya di samping ke-
masyarakat, asas keabsahan berfungsi sebagai daultan adalah jiwa dari negara, dan konsep
alasan mengajukan gugatan terhadap tindak inilah, kedaulatan yang membedakan organisasi
pemerintahan (beroepsgronden); ketiga, bagi negara dengan organisasi sosial.
hakim, asas keabsahan berfungsi sebagai dasar Dikatakan oleh Brian Thompson, bahwa
pengujian suatu tindak pemerintahan (toets- ”a constitution is a document which contains
ingsgronden). Ruang lingkup keabsahan tindak the rules for the operation of an organi-
pemerintahan meliuputi: Kewenangan, prose- zation”,21 ini mengindikasikan bahwa konstitusi
dur dan substansi.17 selalu menjadikan kekuasaan sebagai titik
Robert Bierstedt mengatakan, bahwa we- pusat perhatian dan secara teoritis maupun
wenang adalah institionalized power (kekuasa- praktis, kekuasaan itu perlu diatur dan dibatasi
an yang dilembagakan),18 karena wewenang sebagaimana mestinya, karena kalau kekuasaan
adalah otoritas yang dimiliki oleh suatu itu tidak dibatasi dan diatur maka akan
lembaga untuk melakukan sesuatu atau tidak menyebabkan apa yang dikatakan oleh John
melakukan sesuatu dan merupakan wujud nyata Emerich Edward Dalberg-Acton atau lebih
dari kekuasaan sedangkan kekuasaan kemam- dikenal sebagai Lord Acton, Acton sebetulnya
puan untuk mempengaruhi tingkah laku pelaku adalah merupakan nama kebangsawanan
lain sedemikian rupa, sehingga tingkah laku terkait statusnya sebagai baron, dan dalilnya
terakhir menjadi sesuai dengan keinginan dari yang terkenal adalah 'Power tends to corrupt,
pelaku yang mempunyai kekuasaan.19 Suatu ke- and absolute power corrupts absolutely'
kuasaan dipandang sebagai hubungan 2 (dua) Konstitusi itu mempunyai pengertian-pe-
atau lebih kesatuan, sehingga kekuasaan di- ngertian yang luas, bukan hanya sebagai Un-
anggap bersifat rasional sehingga perlu ada dang Undang Dasar seperti yang sekarang di-
pembedaan antara ruang lingkup kekuasaan kenal, Herman Hiller membagi konstitusi dalam
yang menunjuk pada kegiatan, tingkah laku, 3 (tiga) pengertian. Pertama, konstitusi men-
serta sikap dan keputusan-keputusan yang men- cerminkan kehidupan politik di dalam suatu
jadi obyek dari kekuasaan atau biasa disebut masyarakat sebagai suatu kenyataan. Dalam
scope of power dan domain of power yaitu konteks ini, konstitusi masih dalam pengertian
yang menunjuk pada pelaku, kelompok, atau sosiologis atau politis dan belum merupakan
kolektivitas yang terkena kekuasaan. pengertian hukum; kedua, orang-orang (masya-
Beberapa sarjana berpendapat, misalnya rakat) mencari unsur-unsur hukumnya dari
Charles Howard McIlwain, perkataan constitu- konstitusi yang hidup dalam masyarakat; dan
tion di jaman Kekaisaran Romawi, digunakan ketiga, orang mulai menuliskan menjadi naskah
sebagai istilah tehnis untuk menyebut 'the act sebagai UUD tertinggi dan berlaku dalam suatu
of legislation by the Emperor', atau Glanvill, negara22
menggunakan kata constitution untuk 'a royal Leon Duguit, sosiolog, mengatakan bahwa
konstitusi bukanlah sekedar Undang Undang
17
Philipus M. Hadjon, 1994, Fungsi normatif Hukum Admi- Dasar yang memuat kumpulan norma semata-
nistrasi dalam mewujudkan Pemerintahan yang bersih,
mata tetapi meliputi juga struktur yang nyata-
Pidato Peresmian Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Hukum,
UNAIR, Surabaya, hlm. 7.
18 20
Firmansyah Arifin, dkk., 2005, Lembaga Negara dan Jimly Asshididqie, op.cit., hlm. 3-4.
21
Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara, Ed. 1 Cet. Jimly Asshiddiqie, 2006, Pengantar Ilmu Hukum Tata Ne-
1, Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional gara Jilid I, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepanite-
(KRHN), hlm. 16. raan Mahkamah Konstitusi, hlm. 113.
19 22
Loc.cit. Firmansyah Arifin, op.cit., hlm. 20.
Supremasi Konstitusi adalah Tujuan Negara 261

nyata terdapat dalam kenyataan di masyarakat, yaitu mengenai bentuk dan tujuan ataucita-cita
hal ini diperkuat oleh Maurice Haurion dimana bersama, pemikiran dan mekanisme pembagian
menurutnya, konstitusi tidak lain adalah hukum kekuasaan yang melandasi pemerintahan dan
yang hidup dalam masyarakat yang merupakan penyelenggaraan negara, serta mengenai ben-
penjelmaan kembali pemikiran atau ide-ide tuk kelembagaan dan prosedur serta mekanis-
yang baik atau positif yang menjelma dalam me pengaturan negara yang dicita-citakan.
masyarakat, dimana sebagian unsur-unsur nor- Ada 3 (tiga) elemen kesepakatan umum
matifnya dirumuskan oleh pembuat Undang untuk tegaknya konstitusionalisme, yaitu: per-
Undang Dasar menjadi lembaga hukum23 tama, Kesepakatan tentang tujuan atau cita-
cita bersama (the generalo goals of society or
Konstitusionalisme general acceptance of the same philosophy of
Adanya kata constitutio dalam bahasa government); kedua, Kesepakatan tentang the
Latin24 , inilah yang menjadi permulaan adanya rule of law sebagai landasan pemerintahan
gagasan konstisionalisme, meskipun pertum- atau penyelenggaraan negara (the basic of go-
buhannya bermula dari atau sebagai peraturan vernment); dan ketiga, Kesepakatan tentang
dari kaisar kemudian sesuai dengan per- bentuk institusi dan prosedur ketatanegaraan
tumbuhan jaman menjadi titah raja atau ratu. (the form of institution and procedures)28.
Pada jaman modern ini, konstitusi adalah suatu Kesepakatan-kesepakatan yang ada ini
konsep yang harus ada pada setiap negara adalah sebagai filosofische grondslag dan com-
modern, dan rakyat dalam melaksanakan mon platforms di antara sesama warga dalam
kedaulatannya terikat dan patuh pada aturan konteks kehidupan bernegara. Dari ke tiga
konstitusi25, karena seperti apa yang dikatakan kesepakatan umum, yang sangat prinsipiil
Thomas Paine, ”... is not the act of a govern- adalah kesepakatan ke dua, yaitu kesepakatan
ment but of the people constituting a govern- tentang the rule of law sebagai landasan pe-
ment,26 sehingga seperti yang dikatakan Tho- merintahan atau penyelenggaraan negara (the
mas Paine yaitu bahwa konstitusi adalah bukan basic of government), sebab dalam konteks
perbuatan pemerintah, melainkan rakyatlah penyelenggaraan negara haruslah berdasar pa-
yang menjadikan pemerintah dan juga dapat da dasar aturan permainan yang telah di-
ditarik kesimpulan bahwa konstitusi itu adalah tentukan sebelumnya. Dikatakan the rule of
superior dan mempunyai wewenang untuk me- law adalah berbeda dengan the rule by law,
ngikat karena memang dimaksudkan untuk sebab kedudukan hukum bukan hanya bersifat
mengatur kekuasaan sehinmgga akan berjalan instrumentalis dan kepimpinannya ada pada
sesuai apa yang dikehendaki oleh rakyat. orang atau manusia, dengan the rule of law
Konstitusi itu memang harus ada pada setiap maka hukum dipandang sebagai satu kesatuan
negara modern karena seperti yang dikatakan sistem yang berpuncak pada pengertian hukum
oleh CJ Friedrich yaitu, constitutionalism is an dasar yang tidak lain adalah konstitusi itu
institutionalized system of effective, regulari- sendiri baik dalam arti atau pengertian tertulis
zed restraint upon government action.27 maupun tidak tertulis.
Suatu konstitusi adalah berdasar suatu Kembali kepada apa yang dikatakan
kesepakatan umum dari seluruh rakyat (general Friedrich mengenai institutionalized system of
agreement) bagi suatu bentuk bangunan negara effective yaitu adanya kelembagaan sistem
yang didasarkan pada ideal mayoritas rakyat, yang efektif, yang mana ini akan membawa
akibat pada efisiensi kelembagaan sehingga
23
Loc. cit.
24 secara tidak langsung dari segi manajemen
Jimly Asshiddiqie, 2006, Konstitusi & konstitusionalisme
Indonesia, cet. Kedua, Jakarta: Sekjen dan Kepani- pemerintahan, konstitusi itu telah menggaris-
teraan Mahkamah Konstitusi, hlm. 1.
25
Laica Marzuki, Jurnal Konstitusi Vol. 6 No. 3 September
kan efisiensi dan efektifitas seluruh mekanisme
2009, Setjen Mahkamah Konstitusi, Jakarta, hlm. 20.
26
Jimly Asshiddiqie, op.cit., hlm. 5.
27 28
Ibid., hlm 25. Ibid., hlm. 27.
262 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 10 No. 3 September 2010

manajemen ketatanegaraan, sehingga apabila restriksi (atau batasan); kedua, hak asasi boleh
tidak berjalan efisien dan efektif maka setiap direstriksi dalam keadaan darurat; ketiga, ada
bentuk kebijaksanaan yang diatur di bawah hak asasi yang boleh direstriksi oleh undang-
konstitusi haruslah segera dirubah sebab sesuai undang: Pasal 19 (mempunyai pendapat), Pasal
dengan pendapat Marc Galanter dengan 21 (berkumpul secara damai, Pasal 22 (berseri-
'modern legal system'nya yaitu: First, modern kat); dan keempat, ada hak asasi yang tidak
law consits of rules that are uniform and boleh direstriksi dalam keadaan apapun (non
unvarying in their application; Second, modern derogable): Pasal 6 (hak atas hidup), Pasal 7
law Is transactional; Third, modern legal norms (siksaan), Pasal 8 (anti perbudakan), Pasal 11
are universalitic; Fourth, the system is hie- (anti pasang badan), Pasal 15 (sifat kedaluwar-
rarchical; Fifth, the system is organized bu- sa tindakan kriminal atau non retroaktif), Pasal
reaucratically; Sixth, the system Is rational; 16 (pribadi atau person di hadapan hukum),
Seventh, the system Is run by professional; Pasal 18 (berfikir, berkeyakinan, beragama)30
Eighth, as the system becomes more technical Berdasarkan kriteria Miriam Budiardjo
and complex; Ninth, the systems is amendable; itu, ada perbedaan pembatasan dan konsep
Tenth, the system is political; Eleventh, the derogable rights dan non derogable rights, hal
task of finding law and applying it to concrete ini adalah dikarenakan adanya ktetentuan dari
cases is differentiated in personnel and tech- PBB yaitu Pasal 2 yang menentukan bahawa
nique from other governmental functions.29 badan itu tidak diperkenankan campur tangan
Apabila ketentuan dari Marc Galanter itu dalam hal-hal yang berkenaan dengan yurisdiksi
dipenuhi, maka sebuah sistem hukum dapat domestik masing-masing negara (Nothing con-
dikatakan sebagai 'modern legal system' tained in the present Charter shall authorize
meskipun begitu paling tidak, juga menurut the UN to intervene in matters which are
Marc Galanter, modern law emphasized its essentially within the domestic jurisdiction of
unity, uniformity, and universality. any state)
Prinsip konstitusionalisme modern juga Ketentuan dalam Pasal 2 ini secara tidak
menyangkut prinsip pembatasan kekuasaan langsung bobot dari hak politik karena dalam
negara atau limited government, konstitusi di pelaksanaanya haruys diperhatikan keadaan
satu pihak merupakan pembatasan terhadap atau kondisi perundang-undangan yang ada
kekuasaan tetapi di lain pihak merupakan pada masing-masing negara, hak asasi yang ada
legitimasi kekuasaan, sedang fungsi yang lain dalam deklarasi dirumuskan secara gamblang
konstitusi ialah sebagai instrumen pengalih seolah-olah tanpa batas maka dianggap dan
otoritas asal (rakyat) kepada organ kekuasaan dirasakan perlu untuk adanya batasan atau
negara. restriksi, sebab banyak negara yang terganggu
Adanya pembatasan kekuasaan negara adanya kebebasan tanpa batas yang dapat
atau limited government ini juga mendukung mengganggu stabilitas dalam negerinya dan
adanya keadilan dalam arti bahwa kekuasaan mengerogoti sistem perundang-undangannya,
negara itu dibatasi oleh apa yang disebut meskipun begitu banyak negara yang setuju
dengan hukum kodrat, yaitu bahwa kekuasaan juga terhadap hal-hal yang bersifat non de-
negara itu tidak boleh melampui hal yang rogable rights itu, karena memandang itu ada-
secara kodrati ada atau diberikan kepada lah hak utama dalam hak asasi manusia.
manusia sebagai insan ciptaan Tuhan yang biasa Secara umum dalam penyelenggaraan ne-
disebut dengan hak asasi manusia. gara dan mekanisme pemerintahan yang ada
Miriam Budiardjo mengemukakan bahwa adalah sudah dipandang memadai apabila de-
mengenai hak asasi ini ada beberapa sifat. ngan adanya konstitusi yang telah mendasarkan
Pertama, hak asasi umumnya tidak terkena pada rule of law sebagai landasan pemerin-
30
Miriam Budiardjo, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakar-
29
MarcGalanter, loc.cit., hlm. 168-170. ta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 222-223.
Supremasi Konstitusi adalah Tujuan Negara 263

tahan atau penyelenggaraan negara (the basic ditinggalkan, kesepakatan yang pertama adalah
of government), sedangkan yang lain-lain bisa merupakan dasar utama untuk terbentuknya
diatur dengan peraturan perundangan yang negara, dimana masyarakat pendukung negara
akan diterapkan kemudian, meskipun kalau bisa itu telah menentukan tujuan atau cita-cita
semua kesepakatan yang ada sperti diuraikan di bersama yang akan diujudkan dalam suatu ne-
atas bisa diatur sekaligus akan sangat bagus. gara, hal ini sebetulnya juga menyangkut kese-
Menurut Jimly Asshiddiqie, fungsi-fungsi pakatan ke tiga, khususnya mengenai bentuk
konstitusi dapat diperinci sebagai berikut. Per- institusi, sedangkan mengenai prosedur ketata-
tama, fungsi penentu dan pembatas kekuasaan negaraan itu dapat dilakukan setelah kesepa-
organ negara; kedua, fungsi pengatur hubungan katan ke dua disetujui, karena bagaimanapun
kekuasaan antar organ negara; ketiga, fungsi ini adalah menyangkut mekanisme dari sistem
pengatur hubungan kekuasaan antar orgaan ketatanegaraan yang ada.
negara dengan warganegara; keempat, fungsi Landasan atau dasar pemerintahan dan
pemberi atau sumber legitimasi terhadap ke- penyelenggaraan negara dalam suatu sistem
kuasaan negara ataupun kegiatan penyeleng- pemerintahan adalah hal yang sangat esensial,
garaan kekuasaan negara; kelima, fungsi pe- sebab dengan wewenang yang dipunyai, pe-
nyalur atau pengalih kewenangan dari sumber nyelenggara negara dapat bertindak sesuai de-
kekuasaan yang asli (yang dalam sistem demo- ngan tugasnya atau secara legal dalam arti sah
krasi adalah rakyat) kepada organ negara; ke- dapat menjalankan fungsi yang dipunyainya
enam, fungsi simbolik sebagai pemersatu (sym- meskipun perangkat hukum dalam sistem kene-
bol of unity); ketujuh, fungsi simbolik sebagai garaan belum mampu mengatasi pelanggaran
rujukan identitas dan keagungan kebangsaan HAM32 , yaitu fungsi kewenangan dan mengatur,
(identity of nation); kedelapan, fungsi simbolik sebab wewenang (bevoegdheid)33 adalah kon-
sebagai pusat upacara (center of ceremony); sep hukum publik dan privat dan dalam hukum
kesembilan, fungsi sebagai sarana pengendalian Indonesia seharusnya digunakan dalam konsep
masyarakat (social control), baik dalam arti hukum publik dan dideskripsiklan sebagai ke-
sempit hanya di bidang politik maupun dalam kuasaan hukum sehingga berkaitan dengan ke-
arti luas mencakup bidang sosial dan ekonomi; kuasaan (otoritas, authority), wewenang atau
kesepuluh, fungsi sebagai sarana perekayasaan bevoegdheid ini haruslah sah atau rechtmatig
dan pembaharuan masyarakat sosial (social yang memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu sebagai bes-
engineering atau social reform), baik dalam tuursnormen, beroepsgropnden dan toetsings-
arti sempit maupun dalam arti luas31 gronden.
Wewenang yang dikaitkan dengan ke-
Kekuasaan kuasaan hukum publik atau wewenang meng-
Secara teoritis ada 3 (tiga) elemen kese- atur sebagai konsep hukum, didapatkan dengan
pakatan umum untuk tegaknya konstitusionalis- suatu kekuasaan atau otoritas (legal) karenanya
me, yaitu yang pertama adalah kesepakatan dapat dipaksakan dimana dikatakan oleh Robert
tentang tujuan atau cita-cita bersama, kedua, Paul Wolf ... authority is the right to command
yaitu tentang the rule of law sebagai landasan and correlatively, the rights to be obeyed34,
pemerintahan atau penyelenggaraan negara hal yang hampir sama juga dikatakan oleh Lu-
(the basic government), dan kesepakatan ke- cas meskipun dengan sedikit pelebaran ruang
tiga yaitu mengenai bentuk institusi, memang
menurut hematnya bahwa mekanisme pemerin- 32
Mukhtar Luftfi, Jurnal Konstitusi Vol. 1 No. 1, November
2009, hlm. 60.
tahan adalah sebagai titik sentral dalam setiap 33
Philipus M Hadjon, 1994, Fungsi normatif Hukum
pemerintahan negara, meskipun kesepakatan Administrasi dalam mewujudkan pemerintahan yang
bersih, Pidato peresmian Jabatan Guru Besar dalam Ilmu
yang pertama dan ke tiga tidak juga dapat Hukum di Fakultas Hukum UNAIR tgl. 10 Oktober 1994 di
Surabaya.
34
Joseph Raz, 1979, The authority of Law, Essays on Law
31
Loc.cit., hlm. 33-34. and Morality, Oxford: Clarendon Press.
264 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 10 No. 3 September 2010

lingkupnya karena meliputi juga mengenai si- aturan perundang-undangan yang lebih rendah
tuasi tempat yang sekaligus memperjelas mak- tidak boleh bertentangan dengan peraturan
na dalam kekuasaan hukum (dan kemampuan perundang-undangan yang lebih tinggi; oleh
melakukan perbuatan) authority as an ability karena suatu norma hukum itu selalu ber-
to perform an action, and he regards the rele- sumber dan berdasar pada norma hukum yang
vant action as that of changing the normative lebih tinggi; Kedua, pembentukan peraturan
situation35, sedangkan otoritas yang diperoleh perundang-undangan di Indonesia haruslah se-
oleh badan hukum publik, di kerajaan Roma suai dengan cita hukum dan cita negara yang
pada jaman Constatine adalah sebagai berikut: diakui di negara Republik Indonesia; dan ke-
... the emperor possed plenitudopotestatis, or tiga, pembentukan peraturan perundang-un-
the fullness of legal power. He also possessed dangan di Indonesia harus disesuaikan dengan
influence and the prestige to carry through fungsi dan materi muatan dari masing-masing
measurers therefore he had authority (auc- jenis peraturan perundang-undangan tersebut39
toritas) … legal and political superiority in- Ketiga, konformitas hukum, mengandung
creasingly centered on the emperor as the makna adanya standar wewenang, yaitu yang
linchpin of the whole organization, the centre terdiri dari, Pertama, standar umum, untuk
of dignity and majesty, an office that was the semua jenis wewenang, misalnya tidak boleh
source of law and not subject to it. This was melanggar kesusilaan; dan Kedua, standar
effectively the first formulation of the theory khusus, yaitu untuk jenis wewenang tertentu,
of public power, … authority is in a sense, the misalnya wewenang dalam memungut pajak
legitimate use of force.36 bumiu dan bangunan.
Wewenang mengatur sebagai konsep Pembatasan kekuasaan dikenal adanya
hukum menyangkut 3 (tiga) hal.37 Pertama, bentuk Rechtsstaat yang diperkenalkan oleh
bentuk hukum, ini adalah menyangkut bentuk Friedrich Julius Stahl, di mana dalam sistem
hukum (formal), yang akan berbeda pada setiap Eropa Kontinental ini terdapat elemen pem-
negara; kedua, ruang lingkup wewenang, istilah batasan kekuasaan sebagai salah satu ciri pokok
kewenangan atau wewenang seharusnya di- negara hukum,40 dimana unsurnya adalah,
gunakan dalam konsep hukum publik, dan men- pertama, hak asasi manusia; kedua, pemisahan
dasarkan pada pendapat yang ada, ada kompo- atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak
nen wewenang sebanyak 2 (dua) komponen, hak itu (di negara-negara Eropa Kontinental
yaitu, pertama, pengaruh, komponen ini ialah biasanya disebut trias politica); ketiga, pe-
bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan un- merintah berdasarkan peraturan-peraturan
tuk mengendalikan perilaku subyek hukum; ke- (wetmatig heid van bestuur); dan Keempat,
dua, dasar hukum, yaitu bahwa wewenang atau peradilan administrasi dalam perselisihan41
kewenangan itu selalu harus dapat ditunjuk Adanya pembedaan fungsi kekuasaan se-
dasar hukumnya, sehingga dengan menunjuk betulnya adalah juga merupakan pembatasa ke-
dasar hukumnya dapatlah diasumsikan bahwa kuasaan, salah satunya adalah John Locke yang
dasar hukum wewenang yang ada haruslah lebih membagi kekuasaan negara dalam 3 (tiga) fung-
tinggi tingkat kedudukan atau tingkat tata si tetapi berbeda isinya. Menurut John Locke,
urutan peraturan perundangannya.38 fungsi-fungsi kekuasaan negara itu meliputi:
Apabila tingkat kedudukan atau tingkat
tata urutan peraturan perundangan ini, Maria
Farida Indrati Soeprapto memberikan beberapa
39
Maria Farida Indrati Soeprapto, 1998, Ilmu Perundang-
pedoman, yaitu: pertama, pembentukan per-
undangan, Dasar-dasar dan Pembentukannya, Kanisius:
Yogyakarta
35 40
Ibid, hlm. 12. Jimly Asshiddiqie, 2006, Pengatar Ilmu Hukum Tata
36
Andrew Vincent, 1987, Theories of the State, Oxford: Negara jilid II, Jakarta: Setjen dan Kepaniteraan MKRI,
Basil Backwell Ltd. Cet. Pertama, hlm. 11.
37 41
Johannes Suhardjana, op.cit, hlm. 114-118. Miriam Budiardjo, 1982, Dasar-dasar Ilmu Politik, Cet.
38
Ibid, hlm. 117. VII, Jakarta: Gramedia, hlm. 58.
Supremasi Konstitusi adalah Tujuan Negara 265

fungsi Legislatif; fungsi Eksekutif; dan fungsi sendi pemerintahan negara46 dan juga sesuai
Federatif42 dengan batasan dari Oxford Dictionary of law,
C. van Vollenhoven membagi kekuasaan yaitu 'the rules and practices that determine
dalam 4 (empat) fungsi, yang kemudian biasa the composition and functions of the organs of
disebut dengan 'catur praja', yaitu: Pertama, the central and local government in a state
regeling (pengaturan) yang kurang lebih identik and regulate the relationship between indi-
dengan fungsi legislatif menurut Montesquieu; vidual and the state'.47
Kedua, bestuur yang identik dengan fungsi pe- Lebih jauh malah Abdul Mukthie Fadjar,
merintahan eksekutif; Ketiga, rechtspraak (per- dalam bukunya "Hukum Konstitusi dan Mah-
adilan) dan Keempat, politie yang menurutnya kamah Konstitusi mengatakan:
merupakan fungsi untuk menjaga ketertiban Konstitusi yang kokoh hanyalah Konstitusi
dalam masyarakat (social order) dan peri ke- yang jelas faham konstitusinya atau
hidupan bernegara43 konstitusionalismenya, yaitu yang meng-
atur secara rinci batas-batas kewenangan
dan kekuasaan lembaga legislatif, ekse-
Undang Undang Dasar 1945 kutif dan yudisial secara seimbang dan
Di muka telah dikatakan bahwa ada per- saling mengawasi (checks and balances),
bedaan pendapat diantara sarjana, dimana ada serta memberikan jaminan yang cukup
yang berpendapat bahwa konstitusi adalah luas dal;am arti penghormatan (to
respect), perlindungan (to protect), dan
berbeda dengan undang undang dasar misalnya pemenuhan (to fulfill) hak warganegara
van Apeldoorn yang membedakan dengan dan hak asasi manusia (HAM)48
tegas, yaitu:
Gronwet (Undang Undang Dasar) adalah Konstitusi dikatakan oleh William G An-
bagian tertulis dari suatu konstitusi, drews mempunyai fungsi The constitution
sedangkan constitution (konstitusi) imposes restraint an government as a function
memuat baik peraturan tertulis maupun of constitutionalism; but it also legitimizes the
tidak yang tidak tertulis44
power of the government. It is the document-
Sementara Sri Sumantri Martosuwignjo, dalam tary instrument for the transfer of authority
disertasinya mengartikan konstitusi sama de- from the residual holders-the people under
ngan Undang Undang Dasar.45 Bagi yang me- democracy, the king under monarchy- to the
mandang negara sebagai organisasi kekuasaan organs of State power49
maka Undang Undang Dasar dapat dipandang Setiap konstitusi itu adalah menentukan
kumpulan asas yang menetapkan bagaimana pembatasan terhadap kekuasaan sebagai salah
kekuasaan itu disebarkan ataupun dibagi di satu fungsi konstitusionalisme tetapi juga mem-
antara lembaga-lembaga kenegaraan yang ada berikan penegesahan terhadap kekuasaan pe-
dan menentukan cara bekerjasama pusat ke- merintahan di samping itu juga berfungsi se-
kuasaan itu bekerja dan berhubungan dengan bagai instrumen atau agregat untuk mengalih-
kekuasaan satu dengan yang lain, Indonesia dari kan kewenangan dari pemegang kekuasaan
ketentuan yang ada ternyata menganut faham asal, rakyat kepada alat-alat kekuasaan negara.
kosntitusi adalah Undang Undang Dasar, hal ini Jimly Asshiddiqie secara rinci memberi-
sama dengan pengertian ke dua konstitusi dari kan fungsi-fungsi konstitusi sebagai berikut.
Ferdinand Lasalle yaitu sebagai pengertian Pertama, fungsi penentu dan pembatas ke-
yuridis dimana oleh Lasalle dikatakan sebagai kuasaan organ negara; Kedua, fungsi pengatur
satu naskah hukum yang memuat ketentuan
46
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara,
dasar mengenai bangunan negara dan sendi-
jilid 1, op.cit., hlm. 123.
47
Ibid., hlm. 120.
42 48
Jimly asshiddiqie, op.cit., hlm. 13. Abdul Mukthie Fadjar, 2006, Hukum Konstitusi dan Mah-
43
Ibid., hlm. 14. kamah Konstitusi, Cetakan Pertama, Jakarta: Setjen dan
44
Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, Ni'matul Huda, loc.cit., Kepeniteraan Mahkamah Konstitusi,
49
hlm. 8. Jimly Asshiddiqie, Konstitusi &Konstittusionalisme Indo-
45
Ibid., hlm. 8. nesia, op.cit., hlm. 29.
266 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 10 No. 3 September 2010

hubungan kekuasaan antar organ negara; Ke- lenggaraan negara, sehingga Jimly Asshiddiqie
tiga, fungsi pengatur hubungan kekuasaan an- memberikan penekanan pada prinsip-prinsip
tar organ dengan warga negara; Keempat fungsi yang ada, sebagai berikut.53
pemberi atau sumber legitimasi terhadap Pertama, Prinsip Ketuhanana Yang Maha
kekuasaan negara ataupun kegiatan penyeleng- Esa. Undang Undang Dasar 1945, didahului de-
garaan kekuasaan negara; Kelima, fungsi pe- ngan Pembukaan dimana dalam Pembukaan ini
nyalur atau pengalih kewenangan dari sumber terdapat Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, ar-
kekuasaan yang asli (yang dalam sistem demo- tinya adanya keprcayaan kepada Tuhan Yang
krasi adalah rakyat) kepada organ negara; Ke- Maha Esa dimana pandangan dasar yang ber-
enam, fungsi simbolik sebagai pemersatu (sym- sifat substansial ini menjiwai keseluruhan wa-
bol of unity); Ketujuh, fungsi simbolik sebagai wasan kenegaraan bangsa Indonesia, jiwa ke-
rujukan identitas dan keagungan kebangsaan beragaman dalam kehidupan bermasyarakat
(identity of nation); Kedelapan, fungsi simbolik serta berbangsa ini diujudkan dalam kerangka
sebagai pusat upacara (center of ceremony); kehidupoan bernegara yang tersusun ddalam
Kesembilan, fungsi sebagai sarana pengen- Undang Undang Dasarnya, yang mana tentang
dalian masyarakat (social control), baik dalam pengakuan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa
arti sempit hanya di bidang politik maupun ini juga diujudkan dalam faham kemanusiaan
dalam arti luas mencakup bidang sosial dan yang adail dan beradab yang berisis juga
ekonomi; dan Kesepuluh, fungsi sebagai sarana adanya faham persamaan kemanusiaan yang
perekayasaan dan pembaruan masyarakat menjamin kehidupan yang adil dan dengan
(social engineering atau social reform), baik demikian kualitas peradabanan dapat dibina
dalam arti sempit maupun dalam arti luas.50 sebaik-baiknya, prinsip ini juga terujud dalam
Jimly Asshiddiqie Dalam bukunya Kons- faham kedaulatan rakyat dan kedaulatan
titusi & Konstitusionalisme Indonesia, ternyata hukum sehingga setiap warga Indonesia adalah
menganut faham bahwa konstitusi adalah hu- berkesamaan dalam bidang hukum.
kum dasar yang dijadikan pegangan dalam pe- Kedua, Cita Negara Hukum atau Nomo-
nyelenggaraan suatu negara. Konstitusi dapat krasi. Cita negara hukum ini ada pada Bab I
berupa hukum dasar tertulis yang lazim disebut Pasal 1, yaitu bentuk negara adalah Republik
Undang Undang Dasar, dan dapat pula tidak dan berujud negara kesatuan, sehingga faham
tertulis51 kerajaan dan paternalisme tidaklah dikehen-
Undang Undang Dasar 1945 terdapat daki di Indonesia, karena kedaulatan adalkah di
prinsip-prinsip penyelenggaraan negara yang tangan rakyat dan dilaksanakan dengan Undand
terdiri dari: Pertama, Ketuhanan Yang Maha Undang Dasar dan Indonesia adalah negara
Esa; Kedua, Cita Negara Hukum atau Nomo- hukum, dimana dalam faham negara hukum ada
krasi; Ketiga, Paham Kedaulatan Rakyat atau pengakuan terhadap supremasi hukum. Dalam
Demokrasi; Keempat, Demokrasi Langsung atau supremasi hukum dikandung juga adanya pemi-
Demokrasi Perwakilan; Kelima, Pemisahan Ke- sahan dan pembatasan kekuasaan menurut sis-
kuasaan dan Prinsip Checks and Balances; Ke- tem konstitusional atau yang diatur dalam
enam, Sistem Pemerintahan Presidensiil; Ke- Undang Undang Dasar dan juga menjamin
tujuh, Prinsip Persatuan dan Kergaman dalam adanya persamaan hukum dan menjamin ke-
Negara Kesatuan; Kedelapan, Demokrasi Eko- adilan yang bebas dan tidak memihak, sehingga
nomi dan Ekonomi Pasar Sosial; dan Kesembil- yang memimpin negara adalah hukum itu
an, Cita Masyarakat Madani52. sendiri sesuai dengan prinsip rule of law.
Undang Undang Dasar (UUD) 1945 di da- Ketiga, Paham Kedaulatan Rakyat atau
lamnya memuat 9 (sembilan) prinsip penye- Demokrasi. Paham kedaulatan rakyat ada pada
Bab II Pasal 2 dan 3 yaitu Majelis Permusyawa-
50
Ibid., hlm. 33-34.
51
Ibid., hlm. 36.
52 53
Ibid., hlm. 66-67. Ibid., hlm. 67-81.
Supremasi Konstitusi adalah Tujuan Negara 267

ratan Rakyat (MPR)terdiri dari anggota Dewan dalam hal terjadi kekosongan dalam jabatan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan anggota Dewan presiuden dan wakil presiden, pengisiannya
Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih dalam dapat dilakukan melalui pemilihan dalam
pemilihan umum yang diatur dengan undang sidang MPR. Kelima, para menteri adalah pem-
undang, dan segala keputusan MPR ditetapkan bantu presiden dan wakil presiden, menteri di
dengan undang-undang, karena MPR ini adalah angkat dan diberhentikan oleh presiden, se-
perujudan rakyat maka ia berhak mengubah hingga menteri bertanggung jawab kepada
dan menetapkan UUD. presiden, karena pentingnya kedudukan men-
Keempat, Demokrasi Langsung dan teri maka kewenangan presiden untuk meng-
Demokrasi Perwakilan. Demokrasi di Indonesia angkat dan memberhentikan menteri tidak
pada prinsipnya adalah demokrasi perwakilan, boleh bersifat mutlak, tanpa kontrol parlemen,
dalam arti rakyat diwakili oleh nggota MPR, karenanya mentyeri hendaknya bekerjasama
DPR dan DPD, hanya saja karena ingin adanya yang seerat-eratnya dengan DPR dan DPD,
kemapanan dalam pemerintahan dalam arti sehingga meskipun tidak mengikat, presiden
agar posisinya 'kuat' atau 'legitimate' maka harus sungguh-sungguh memperhatikan pen-
diadakanlah pemilihan secara langsung. dapat DPR
Kelima, Pemisahan Kekuasaan dan Prinsip Ketujuh, Prinsip Persatuan dan Keraga-
Checks and Balances. Dalam UUD 45 setelah man dalam Negara Kesatuan. Prinsip persatuan
Amandemen, maka tidak nada lagi Lembaga di Indonesia sangat memegang peranan pen-
Tertinggi negara dan Lembaga Tinggi Negara ting, karena adanya banyak suku bangsa dan
yang ada adalah Lembaga Negara karena pem- budaya, keragaman ini tidak boleh disatukan
bagian kekuasaan itu tidak dibagikan secara atau diseraghamkan (uniformed) tetapi harus
vertikal tetapi secara horizontal dengan cara dipersatukan (united) tanpa meninggalkan ciri
memisahkan menjadi kekuasaan-kekuasaan budaya masing-masing, sehingga persatuan
yang dijadikan fungsi lembaga-lembaga negara yang ada adalah persatuan dikarenakan prinsip
yang sederajat dan saling mengendalikan satu kewargaan yang bersamaan kedudukan dalam
sama lain berdasarkan sistem checks and hukum dan pemerintahan.
balances. Kedelapan, Demokrasi Ekonomi dan Eko-
Keenam, Sistem Pemerintahan Presiden- nomi Pasar Sosial. Paham kedaulatan rakyat,
siil. Secara garis besar sistem pemerintahan selain berkenaan dengan demokrasi politik juag
presidensiil ini mempunyai kelemahan sehingga mencakup demokrasi ekonomi, kelemahan
dibuatlah ketentuan-ketentuan agar terhindar dalam sistem perwakilan politik (political rep-
dari kesulitan. Pertama, tidak dikenal atau ti- resentation) diatasi dengan mengadopsi sistem
dak perlu dibedakan antara kepala negara dan perwakilan fungsional (functional representa-
kepala pemerintahan, keduanya adalah presi- tion) sebagai pelengkap yang diujudkan melalui
den dan wakil presiden, dalam menjalan peme- lembaga DPD yang berorientasi teritorial dan
rintahan negara, kekuaan dan sedang tanggung kedaerahan, dalam demokrasi sosial (social de-
jawab politik berada di tangan Presiden (con- mocracy) negara berfungsi sebagai alat kese-
centration of power and responsibility upon jahteraan (welfare state). Karena itu paham
the President).54 Kedua, presiden dan wakil market socialism akan terus berkembang dalam
presiden karena dipilih secara langsung, tidak pengertian pasar sosial.
dapat bertanggung jawab kepada MPR atau Kesembilan, Cita Masyarakat Madani.
lembaga parlemen. Ketiga, presiden dan atau Menjelang berakhirnya abad ke 20, gelombang
wakil presiden dapat dimintai pertanggungan liberalisme baru berkembang dimana-mana dan
jawaban secara hukum apabila melakukan diiringi kegagalan paham sosialisme lama di
pelanggaranb hukum dan konstitusi. Keempat, berbagai penjuru dunia sehingga hubungan an-
tara negara, masyarakat dan pasar ini akan ber-
54
Ibid., hlm. 75.
tambah penting, sehingga masing-masing harus
268 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 10 No. 3 September 2010

dikembangkan keberdayaannya dalam hubung- DAFTAR PUSTAKA


an yang fungsional, sinergis dan seimbang, se- Asshiddiqie, Jimly. Pembangunan Hukum dan
hingga hendaknya negara tidak terlalu jauh penegakan Hukum di Indonesia. Lustrum
mencampuri ke dalam mekanisme pasar, se- XI Fakultas Hukum UGM 16 Pebruari
hingga paham welfare state dari negara hen- 2006. Yogyakarta;
daklah dibatasi sebagaimana mestinya, sehing- -------. 2006. Konstitusi & Konstitusionalisme
ga saling menguntungkan dan bisa berjalan Indonesia, ed. Revisi, cet. Kedua, Jakar-
ta: Setjen dan Kepaniteraan Mahkamah
secara harmonis.
Konstitusi RI;
-------. 2006. Pengantar Ilmu Hukum Tata Nega-
Penutup
ra Jilid I. Jakarta: Sekretariat Jenderal
Simpulan dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi;
Dari uraian yang ada, maka terlihat de- -------. 2006. Pengatar Ilmu Hukum Tata Negara
ngan jelas bahwa konstitusi adalah jalan keluar jilid II. Cet. Pertama. Jakarta: Setjen
untuk pembatasan kekuasaan, yang membentuk dan Kepaniteraan MKRI;
sistem umum, kata KC Wheare, pengertian Budiardjo, Miriam. 2008, Dasar-dasar Ilmu Poli-
sistem dalam artian sistem hukum (legal sys- tik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama;
tem) tidak dapat dipandang sebagai sekedar Fadjar, Abdul Mukthie. 2006. Hukum Konstitusi
kaidah hukum (materi hukum) yang abstrak dan Mahkamah Konstitusi. Cetakan
normatif yang lazim disebut 'de wettenpapieren Pertama. Jakarta: Setjen dan Kepeni-
teraan Mahkamah Konstitusi;
muur' melainkan sistem harus dipahami sebagai
perangkat unsur yang secara teratur saling Firmansyah Arifin, dkk. 2005. Lembaga Negara
dan Sengketa Kewenangan Antar Lem-
berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. baga Negara. Ed. 1 Cet. 1, Jakarta: Kon-
Supremasi konstitusi adalah tujuan nega- sorsium Reformasi Hukum Nasional
ra"' maka ketiga komponen sistem hukum harus (KRHN);
dapat berjalan secara serasi dalam kaitannya Galanter, Marc. 1966. The modernization of
dengan, dan ini sudah dilakukan melalui Aman- Law, dalam Change as a Condition of
demen Undang Undang Dasar (UUD) 1945, kare- Modern Life, (In Modernization: The
Dynamic of Growth), ed. By Myron Wei-
na konstitusi, atau dalam hal ini UUD adalah
ner, Cambridge, Massachusets: Voice of
hukum dasar yang dijadikan pegangan dalam America Forum Lectures;
penyelenggaraan negara, dan dengan adanya
Hadjon, Philipus M. 1994. Fungsi normatif
Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga peng- Hukum Administrasi dalam mewujudkan
awal konstitusi dan penafsir konstitusi (the Pemerintahan yang bersih. Pidato
guardian and the interpreter of the consti- Peresmian Jabatan Guru Besar dalam
tution) yang benar maka supremasi konstitusi Ilmu Hukum. Surabaya: UNAIR;
adalah tujuan negara. -------. 1994. Fungsi normatif Hukum Adminis-
Negara hukum tidak boleh ditegakan de- trasi dalam mewujudkan pemerintahan
yang bersih. Pidato peresmian Jabatan
ngan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi
Guru Besar dalam Ilmu Hukum di Fakultas
yang diatur dalam Undang Undang Dasar, kare- Hukum UNAIR tgl. 10 Oktober 1994. Sura-
nanya perlu ditegaskan bahwa kedaulatan ber- baya;
ada di tangan rakyat yang dilakukan menurut Luftfi, Mukhtar. Jurnal Konstitusi Vol. 1 no. 1,
UUD (constitutional democracy) yang diimbangi November 2009;
bahwa Indonesia adalah negara hukum yang Marzuki, Laica. 2005, Berjalan-jalan di Ranah
berkedaulatan rakyat atau demokratis (demo- Hukum: Pikiran-pikiran Lepas Prof. Dr.
cratische rechtsstaat) dan rakyat dalam melak- HM Laica Marzuki. Jakarta: Konstitusi
Press;
sanakan kedaulatannya terikat dan patuh pada
aturan konstitusi. -------. Jurnal Konstitusi. vol 6 no. 3 September
2009;
Supremasi Konstitusi adalah Tujuan Negara 269

Raz, Joseph. 1979. The authority of Law,


Essays on Law and Morality. Oxford:
Clarendon Press;
Soeprapto, Maria Farida Indrati. 1998. Ilmu
Perundang-Undangan, Dasar-Dasar dan
Pembentukannya, Kanisius: Yogyakarta;
Suhardjana, Johannes. 2003. Wewenang Kabu-
paten dalam pembangunan perumahan.
Disertasi. Surabaya: UNAIR;
Thaib, Dahlan dkk. 2005. Teori dan Hukum
Konstitusi. Jakarta: Raja Grafindo Persa-
da;
Vincent, Andrew. 1987. Theories of the State.
Oxford: Basil Backwell Ltd.;
Wheare, KC. 2003. Konstitusi-konstitusi Mo-
dern. terj. Muhammad Hardani. Suraba-
ya: Pustaka Eureka.