Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi

1. Defenisi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal yeng mengakibatkan peningkatan

angka kesakitan ( morbiditas) dan angka kematian ( mortalitas). Tekana darah

140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu

fase sidtolik 140 menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung

dan fase diastolic 90 menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung

(Endang T, 2014).

Hipertensi adalah kondisi tekanan darah seseorang yang berada diatas

batas-batas tekanan darah normal. Hipertensi disebut juga pembunuh gelap

atau silent killer. Hipertensi dengan secara tiba-tiba dapat mematikan

seseorang tanpa diketahui gejalanya terlebih dahulu ( Sulilo Y & Wulandari

A, 2011).

2. Etiologi

Menurut Yayasan Jantung Indonesia (2007) dalam ( Sharif 2012)

penyebab hipertensi dapat dibedakan menurut jenis hipertensi yaitu hipertensi

primer (essensial) merupakan tekanan darah tinggi yang disebabkan karena

retensi air dan garam yang tidak normal, sensitifitas terhadap angiontensin,
obesitas, hiperkolesteroemia, emosi yang terganggu atau stress dan merokok.

Sedangkan hipertensi sekunder merupakan tekanan darah tinggi yang

disebabkan karena penyaki kalenjer adrenal, penyakit ginjal, toxemia

gravidarum, peningkatan tekanan intra cranial, yang disebabkan tumor otak,

dan pengaruh obat tertentu missal obat kontraseps.

3. Klasifikasi

Tekanan darah diklasifikasikan berdasarkan pada pengukuran rata-rata

dua kali pengukuran pada masing-masing kunjungan.

Tabel 2.1

Klasifikasi tekanan darah

Klasifikasi Tekanan darah Tekanan darah

tekanan darah Sistol (mmHg) diastolik (mmHg)

Normal < 120 < 80

Prhipertensi 120 – 139 80 – 89

Hipertensi Stage 1 140 – 159 90 – 99

Hipertensi Stage 2 ≥ 160 ≥ 100

Hipertensi Srage 3 ˃ 180 ˃ 110

Sumber : American Heart Assosiation (AHA 2014)


4. Patofisiologi

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui

beberapa cara yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih

banyak cairan setiap detiknya arteri besar kehilangan kelenturan dan menjadi

kaku sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa

darah melalui arteri tersebut. Darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk

melalui pembuluh darah yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan

naik tekanan darah. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding

arterinya telah menebal dan kaku karena arteriokalierosis (Endng T, 2014).

Cara yang sama, tekana darah juga meningkat pada saat terjadi

vasokonstriks, yaitu juka arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu

mengkerut karena perangsangan saraf atau hormone di dalam darah.

Bertambahnya cairan didalam sirkulasi bisa menyebabkan peningkatan

tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga

tidak mampu membuang sejumlah garam dan air di dalam tubuh. Volume

darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga meningkat

(Endang T, 2014).

Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembangan

garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali

normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan

enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormone angiotensin,

yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormone aldosterone. Ginjal yng


merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena itu

berbagai penyakit dan kelainan pada ginjl dapat menyebabkan terjadinya

tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju kesalah satu

ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebaabkan hipertensi. Peradangan dan

cidera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyababkan naiknya

tekanan darah (Endang T, 2014)

5. Komplikasi

Tekanan darah tinggi apabila tidak diobati dan ditanggulangi, maka

dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan kerusakan arteri didalam

tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut.

Komlikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ sebagai berikut :

a. Jantung

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan

penyakit jantung coroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja

jantung akan meningkat, otot jantung akan menggendor dan berkurang

elastisitasnya, yang disebut dekompresasi. Akibatnya jantung tidak

mampu memompa sehingga banyak cairan tertahan diparu maupun

jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak napas atau oedema.

Kondisi ini disebut gagal jantung.

b. Otak

Komlikasi pada otak, menimbulkan resiko stoke, apabila tidak diobati

resiko terkena strok 7 kali lebih besar.


c. Ginjal

Tekanan darah tinggi juga menyebabkan kerusakan ginjal, tekanan

darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan sistem penyaringan di

dalam ginjal akibatnya lambat laun ginjal tidak mampu membuang

zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah

dan terjadi menumpukan didalam darah.

d. Mata

Pada mata, hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati

hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan (wijaya & putri, 2013).

6. Manifestasi Klinik

Pemeriksaan fisik mungkin tidak ditemukan kelainan selain tekanan

darah yang tinggi, akan tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina

seperti perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah dam pada kasus

berat terdapat edema pupil (Smeltzer & Bare, 2010). Tanda gejala lain yang

meskipun secara tidak sengaja terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan

dengan tekanan darah tinggi yaitu sakit kepala, perdarahan di hidung, pusing

yang terkadang terjadi pada seseorang dengan tekanan darah normal. Jika

hipertensi berat atau menahun dan tidak terobati, dapat timbul gejala-gejala

seperti sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan

kabur hal itu karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal

(Ruhyanudin, 2007).
7. Penatalaksanaan

a. Farmakologis

Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yg di anjurkan oleh JNC

VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron

antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonist,

Angiotensin Coverting Enzyme Inhibilator (ACEI), Angiotensin II

Receotor (ATI) receptor antagonist blocker (ARB).

b. Non Farmakologis

Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan

merokok, menurunkan berat badan berlebih, kosumsi alcohol berlebih,

asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan kosumsi

buah dan sayur yang berfungsi :

1. Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih.

2. Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap

tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat

penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.

3. Maningkatkan aktifitas fisik.

4. Mengurangi asupan natrium.

5. Menurunkan konsumsi kafein dan alcohol (wijaya & putri, 2013)


8. Prosedur Pengukuran Tekanan Darah

a. Persiapan alat

1) Stetoskop

2) Tensimeter

b. Prosedur Pengukuraan Tekanan Darah

1) Menyuruh pasien membebaskan lengan atas

2) Meletakan tensimeter sejajar dengan posisi jantung pasien

3) Melakukan palppasi pada arteri brachialis di fossa cubiti

4) Memasang manset di lengan atas, dengan bagian bawah manset 2-3

cm diatas fossa cubiti

5) Meraba arteri brachialis dengan 2 jari dan letakan stetoskop pada nadi

yang teraba

6) Memompa manset dengan satu tangan hingga nadi tidak terdengar

7) Menurunkan tekanan manset perlahan 2-3mmHg perdetik,

menentukan suara denyut nadi yang pertema kali terdengar/sistolik

8) Melanjutkan menurunkan tekanan manset, suara denyut nadi terakhir

yang terdengan/diastolic kemudian turunkan sampai tekanan 0

9) Manset dilepaskan dari lengan atas

10) Memberitahu hasil pemeriksaan tekanan darah pada pasien


B. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang cukup merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang

dikategorikan dalam pengobatan non farmakologi bagi penderita hipertensi.

Aktivitas fisik yang cukup dapat membantu menguatkan jantung. Jantung yang

lebih kuat tentu dapat memompa yang lebih banyak darahdengan hanya sedikit

usaha. Semakin ringan kerja jantung, maka semakin sedikit tekanan darah pada

pembuluh darah arteri sehingga tekanan darah akan menurun (Marliani dan

Tantan, 2007).

Aktivitas fisik meliputi semua gerakan tubuh mulai dari gerakan kecil yang

ditimbulkan oleh otot-otot skeletal dan mengakibatkan pengeluaaran energy. Pada

lansia berkurangnya aktivitas fisik lebih banyak disebabkan oleh kegiatan nonton

televise (TV). Menonton Tv tergolong aktivitas fisik ringan berarti tidak banyak

energy tubuh yang terpakai. Aktivitas fisik yang ringan merupakan factor resiko

terjadinya berbagai penyakit kronis, termasuk salah satunya adalah hipertensi

(susanto, 2010).

Tingkatan aktivitas fisik merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal)

per kilogram berat badan dalam 24 jam (FAO, 2011). Perbaikan tingkat hidup

mendorong terjadinya perubahan perilaku berbagai kemudahan dan kenyamanan

hidup sebagai hasil berbagai kemajuan teknologi memicu perubahan kebiasaan

hidup.
Adapun tingkat aktivitas fisik sebagai berikut (FOA, 2011) :

a. Aktivitas sangat ringan adalah aktivitas yang dilakukan sambil duduk atau

hanya sedikit gerakan tengan seperti menonton TV, membaca, termasuk

membaca yang memerlukan pikiran melamun atau merenung.

b. Aktivitas ringan adalah yang dilakukan sambil duduk tetapi disertai

banyak menggunakan tangan dengan kekuatan sedikit gerakan seperti

pekerjaan guru sedang mengajar, dokter ditempat praktek, pekerjaan

rumah tangga menggunakan mesin dan pekerjaan kantor.

c. Aktivitas sedang adalah aktivitas yang banyak menggunakan tenaga kaki

dan tangan seperti pekerjaan tukang bangunan, petani yang menggunakan

alat mesin, mahasiswa yang aktif dan tukang sayur yang menggunakan

gerobak dorong.

d. Aktivitas berat adalah pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan

tangan dan kaki seperti tukang tukang pengrajin kayu tanpa mesin,

penarik rickshow yang membawa becak yang berisi penumpan sambil

berlari.

Aktivisik fisik yang teratur membantu meningkatkan efisiensi jantung secara

keseluruhan. Salah satu petunjuk ke arah itu adalah denyut jantung yang lebih

lambat (biasanya kurang dari 60 denyut per menit). Mereka yang secara fisik aktif

umumnya mempunyai tekanan darah yang lebih rendah dan lebih jarang terkena

tekanan darah tinggi. Mereka yang secara fisik aktif cenderung untuk mempunyai
fungsi otot dan sendi yang lebih baik, karena orang-orang demikian lebih kuat

dan lebih lentur. Aktivitas fisik yang dianjurkan bagi penderita hipertensi adalah

aktivitas sedang yang dilakukan selama 30-60 menit setiap hari. Kalori yang

terbakar sedikitnya 150 kalori per hari (Marliani dan tantan, 2007 : 57).

Untuk menentukan berat ringannya aktivitas fisik seseorang dapat dilakukan

dengan menggunakan Quisioner (FOA, 2011), yang membagi pola aktivitas fisik.

Aktivitas fisik menentukan kondisi kesehatan seseorang. Angka kebutuhan energi

individu disesuaikan dengan aktivitas fisik (FOA, 2011) yang menyatakan bahwa

aktivitas fisik adalah variable utama setelah angka metabolisme basal dalam

perhitungan energi. Angka Metabolisme Basal (AMB) yang sesuai dengan

kelompok umurnya, tingkat kegiatan, alikasi waktu setiap kegiatan dan factor

energi kegiatan yang merupakan kelipatan AMB.

Pada prinsipnya angka kecukupan energi individu adalah penjumlahan energi

kegiatan (EK) dan energi pertumbuhan (EP) dimana AMB dan Energi Spesific

Dynamic Action (ESDA) telah diperhitungkan implicit dalam EK. Pada

umumnya kegiatan dikelompokkan menjadi energy untuk tidur, kegiatan ringan,

sedang dan berat. Lebih rinci dapat disusun semua kegiatan selama 24 jam sesuai

jenis-jenis kegiatan yang dinyatakan dalam kelipatan Angka Metabolisme Basal

(AMB) (FOA, 2011).

Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan

dalam Physical Activity Level (PAL) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan
besarnya energy yang dikeluarkan (kkal) per kilogram berat badan dalam 24 jam.

PAL ditentukan dengan rumus sebagai berkut (FAO, 2011) :

PAL : (PAR X alokasi waktu riap aktivitas)

24 jam

Keterangan : Nilai PAR terlampir dalam lamapiran

Selanjutnya PAL akan dikategorikan menjadi beberapa kategori menurut FAO

2011, yaitu :

a. Aktivitas ringan : <1,69

b. Aktivitas berat : ≥1,69 (FAO,2011)

C. Konsep Lansia

1. Pengertian Lansia

Orang lanjut usia adalah sebutan bagi mereka yang telah memsuki usia

60 tahun keatas, Undang-undang Republik Indonesia Nomer 13 tahun 1998

tentang kesejahteraan lanjut usia, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah

seorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Lanjut usia potensia adalah

lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat

menghasilkan barang atau jasa. Lanjut usia tidak potensial adalah lanjut usia

yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada

bantuan orang lain (Indriana, 2012).

Banyak istilah yang dikenal masyarakat untuk menyebutkan orang

lanjut usia antara lansia yang merupakan singkatan dari lanjut usia lanjut,
usila singkatan dalam usia lanjut. Istilah lain yang terasa lebih enak didengar

adalah wulan yang merupakan singkatan dari warga usia lanjut ( Indriana,

2012).

Pada seseorang memasuki masa lanjut usia, terjadi berbagai perubahan

baik bersifat fisik, mental maupun sosial. Perubahan yang bersifat fisik, antara

lain adalah penurunan kekuatan fisik, stamina dan penampilan hal ini dapat

menyebaban beberapa orang menjadi depretif atau merasa tidak senang saat

memasuki masa usia lanjut (indriana, 2012).

2. Batas Umur Lanjut Usia

Menurut pendapat berbagai para ahli dalam Efendi (2009), batasan-

batasan umur yang mencakup lansia adalah sebagai berikut :

a. Menurut undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 dala Bab 1 pasal 1 Ayat 2

yang berbunyi ‘’ Lanjut usia adalah seseotang yang mencapai usia 60

tahum keatas.

b. Menurut WHO

Usia lanjut dibagi menjdi empat kriteria berikut :

1. Usia pertengangan (middle age ) ialah 45-59 tahun

2. Lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun

3. Lanjut usia (old) ialah 75-90 tahun

4. Usia sangat tua (ve ry old) diatas 90 tahun.

c. Menurut Dra. Jos Masdani (psikolog UI) terdapat empat fase, yaitu:

1. Fase inventus ialah 24-40 tahun


2. Fase virilities ialah 40-55 tahun

3. Fase presenium ialah 55-65 tahun

4. Fase senium ialah 65 hingga menutup usia.

3. Factor-faktor yang mempengaruhi proses menua

a. Hereditas (keturunan/genetik) yang melibatkan ‘’jam gen’’, perbaikan

DNA , respon terhadap stress dan pertahanan terhadap antioksidan.

b. Lingkungan yang melibatkan pemasukan kalori, penyakit-penyakit dan

stress dari lubur (misalkan radiasi, bahan-bahan kimia).

Kedua faktor tersebut akan mempengaruhi aktivitas metbolisme se

yang akan menyebabkan terjadinya stress oksidasi sehingga terjadi kerusakan

pada sel yang menyebabkan terjadinya proses menua (Nugroho, 2008).

4. Penyakit yang sering terjadi pada lansia

Ada 4 penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua, yaitu :

a. Gangguan sirkulasi darah seperti hipertensi, kelainan pembukuh darah,

gangguan pembuuh darah ke otak, koroner dan ginjal.

b. Gangguan metabolisme hormonal seperti diabetes melitus, klimakterium

dan ketidak seimbangan tiroid.

c. Gangguan persendian seperti osteoporosis, artritis gout, ataupun penyakit

kologen lainnya.

d. Berbagai macam neoplasma.


5. Perubahan yang dapat terjadi pada lansia

Perubahan yang dapat terjadi pada lansia dimana semua sistem yang

ada mengalami perubahan salah satunya pada sistem muskosketal. Penurunan

sistem muskolosketal pada lansi dapat diperparah oleh penyakit-penyakit

seperti osteoartritis, rematik, artritis gout dan penyakit lainnya yang

menyerang sistem muskulosketal pada lansi. Perubahan yang terjadi pada

sistem muskulosketal lansia adalah tulang kehilangan density (cairan) dan

makin rapuh, osteoporosis, kifosis, gerakkan pinggang, lutut dan jari-jari

pergelangan terbatas dan otot-otot polos tidak begitu berpengaruh. Salah satu

penyakit yang sering dialami oleh pergolongan pada lansia adalah penyakit

artritis gout (Reny, 2014).

Perubahan yang terjadi pada sistem muskulosketal lansia adalah :

a. Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh

b. Gangguan tulang, yakni mudah mengalami demineralisasi

c. Kekuatan dan stabilitas tulang menurun

d. Kartilago yang meliputi permukaan sendi tulang penyangka rusak dan

haus.

e. Kifosis

f. Gerakkan pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas

g. Aliran darah keotot berkurang sejalan dengan proses menua. (Nugroho,

2008).
D. Kerangka Teori

Bagan 2.1
Kerangka Teori
Hubungan aktifitas fisik dengan tekanan darah pada lansia penderita
hipertensi di Puskemas Pasar Usang Padang Pariaman.

Factor yang umur


tidak dapat jenis kelamin
diubah factor genetik

Komsumsi Obesitas
makanan
tinggi lemak kolesterol
H
Pola makan
Komsumsi I
makanan
Factor yang P
tinggi garam
dapat diubah
E
Kosumsi
Gaya hidup stess
alcohol, R
merokok
T
Farmakologi :
E
Diuretic, ACE-inhibitor, antagonis
kalsium N
Non farmakologi :
penatalaksanaan
S
a. Menurunkan berat
badan I
b. Mengurangi asupan
natrium
c. Aktivitas fisik
d. Menghindari alcohol
dan rokok

Sumber : (Syukraini, 2010), (Triyanto, 2014),


(Wijayakusuma, 2008)