Anda di halaman 1dari 18

PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG

DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS MENGWI II
Jl. Raya TumbakBayuh, Br. Gunungpande Tumbakbayuh
Tlp. (0361) 8442063 Email: mengwidua@gmail.com

PEDOMAN AUDIT KLINIS

UPT. PUSKESMAS MENGWI II


TAHUN 2019
PEDOMAN AUDIT KLINIS

Tanggal

No Revisi: 00

Mengetahui
Kepala UPT.Puskesmas Mengwi II Ketua Tim Audit Klinis

dr. I Putu Milantika,M.P.H drg. Ida Ayu Adnyaningsih


NIP.19780121 200501 1 006 NIP. 19640602 199803 2 003
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada saat pasien berkunjung ke sebuah pelayanan kesehatan, harapan pasien adalah
mendapatkan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya dan dengan waktu sesingkat-
singkatnya. Pelayanan kesehatan pada puskesmas sesungguhnya tidak hanya memberikan
pelayanan medis profesional namun juga memberikan pelayanan umum kepada masyarakat.
Selain mendapatkan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya, pasien dan keluarga juga
mengharapkan kenyamanan dan keamanan baik dari segi petugas yang cekatan,
kenyamanan ruang tunggu, antrian yang tidak terlalu lama, kebersihan toilet maupun dari
sumber daya manusia yang bertugas ditempat pelayanan kesehatan tersebut harus
profesional. Selain itu pelayanan klinis puskesmas merupakan salah satu tempat pelayanan
yang pertama, yang diharapkan pasien maupun keluarga pasien adalah sebagai tempat
pemberi informasi yang jelas sebelum pasien mendapatkan tindakan / pelayanan berikutnya
bahkan sampai memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
Pelayanan klinis di UPT. Puskesmas Mengwi II berupaya meningkatkan pelayanan
kesehatan dan berusaha memenuhi segala aspek mutu kesehatan. Dalam pertumbuhan dan
perkembangannya serta tuntutan masyarakat akan pemenuhan kesehatan yang prima maka
layanan klinis dipuskesmas berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan dan sumber daya
manusia serta sarana dan prasarananya.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan khusus
Terwujudnya penyelenggaraan pelayanan klinis di UPT. Puskesmas Mengwi II dengan
mutu tinggi serta mengutamakan keselamatan pasien.
2. Tujuan umum
a. Pelayanan klinis dapat berjalan dengan baik berdasarkan SOP sehingga
keselamatan pasien dapat dimaksimalkan.
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau dengan pengutamaan
pada upaya preventif dan kuratif.
c. Menciptakan Pelayanan klinis yang nyaman dan lingkungan yang aman.
d. Menjadi pelayanan klinis dengan SDM yang tanggung jawab, disiplin,
kebersamaan.

C. SASARAN PEDOMAN
Sasaran dari pedoman ini adalah semua penyelengara pelayanan klinis baik itu staf
medis (dokter/dokter gigi), paramedis (perawat, bidan), ahli gizi, promosi kesehatan,
laboratorium, farmasi serta administrasi loket dan rekam medis serta pasien yang terkait
untuk bekerjasama dalam pelaksanaan pelayanan klinis di UPT. Puskesmas Mengwi II.

D. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Ruang lingkup pedoman pelayanan klinis ini adalah rawat jalan tingkat pertama.
Rawat jalan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi
observasi diagnosis pengobatan tanpa tinggal diruang rawat inap disarana kesehatan strata
pertama. Poliklinik rawat jalan UPT. Puskesmas Mengwi II memiliki beberapa unit
pelayanan klinis :
1. Loket dan rekam medis
2. Poli Umum
3. Poli KIA (kesehatan ibu dan anak) dan KB (Keluarga Berencana)
4. Poli MTBS
5. Poli Gigi
6. Ruang Tindakan Layanan Gawat darurat
7. Laboratorium
8. Apotek

E. BATASAN OPERASIONAL
1. Pelayanan unit pelayanan klinis :
a. Poli Umum : dimana didalamnya mencakup pelayanan pemeriksaan dan penentuan
diagnosa maupun tindakan. Didukung oleh dokter umum dan tenaga paramedis
(perawat).
b. Poli KIA dan KB : Menangani pasien antenatal care, pasien kebidanan dan
penyakit kandungan, neonatus (bayi 0-1 bulan) dan pasien yang ingin mendapatkan
akses KB. Didukung oleh tenaga bidan.
c. Poli MTBS : Menangani pasien balita umur 0 bulan sampai dengan umur dibawah
5 tahun. Didukung oleh dokter, bidan dan paramedis.
d. Poli Gigi dan mulut (BP Gigi) : Menangani penyakit gigi dan mulut dengan
didukung oleh tenaga dokter gigi dan perawat gigi.
e. Layanan gawat darurat : Menangani pasien yang datang ke puskesmas dengan
keadaan yang memerlukan pertolongan segera dan melakukan rujukan emergensi
ke fasilitas yang lebih baik bila diperlukan . Layanan gawat darurat dilakukan
setiap hari selama 24 jam didukung oleh tenaga dokter, perawat dan bidan.
Ruangan untuk layanan gawat darurat dilakukan di ruang tindakan.
f. Laboratorium : Didukung oleh analis kesehatan. Laboratorium puskesmas mampu
melayani pemeriksaan darah rutin (hemoglobin, leukosit, eritrosit, trombosit,
hematokrit), pemeriksaan glukosa strip, cholesterol strip, asam urat strip, golongan
darah, widal test, urine rutin (warna, kejernihan, albumin, reduksi bilirubin,
urobilin, sedimen urine), test kehamilan /PPT, sputum/BTA.
g. Apotek : Pasien yang sudah mendapat resep dokter selanjutnya menyerahkan ke
apotek untuk pengambilan obat.
2. Pelayanan Administrasi
Loket dan Rekam medis
Pasien saat datang untuk berobat, mengambil nomor antrian terlebih dahulu, kemudian
di panggil sesuai urutan antrian untuk dicatat datanya dan jenis tanggungan jaminan
kesehatan (umum, BPJS) serta dicarikan rekam mediknya, selanjutnya diarahkan ke
unit layanan rawat jalan yang dituju sesuai dengan keluhan pasien.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Semua karyawan puskesmas wajib berpartisipasi dalam pelayanan klinis mulai dari
Kepala Puskesmas, dokter, perawat, bidan, analis laboratorium, S1 apoteker, asisten
apoteker, ahli gizi, petugas administrasi (loket dan rekam medis) serta petugas keamanan
(satpam) dan petugas kebersihan (cleaning service). Kualifikasi sumber daya manusia yang
ada di pelayanan klinis puskesmas adalah :
1. Tenaga Medis
Tenaga medis yang ada di pelayanaan klinis adalah tenaga medis yang bersertifikat, dan
berkompeten dibidangnya dalam arti sudah lulus dari pendidikan kedokteran umum
sebagai dokter umum atau lulus dari pendidikan kedokteran gigi sebagai dokter gigi.
2. Tenaga Perawat
Untuk menunjang pelayanan klinis di puskesmas harus di dukung oleh tenaga perawat
yang memiliki keterampilan, pendidikan dan pelatihan yang mendukung dalam
pelayanan klinis.
3. Tenaga kesehatan lain
Dalam hal ini tenaga kesehatan lain juga juga diperlukan dalam pelayanan klinis untuk
mendukung berjalannya pelayanan klinis, diantaranya ahli gizi, farmasi,dan pekarya
kesehatan yang terdidik dan terlatih (petugas administrasi).

B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadwalan penyelenggara pelayanan klinis dikoordinir oleh kepala
puskesmas bersama penanggung jawab UKP (Upaya Kesehataan Perorangan) dan
koordinator tiap unit layanan klinis sesuai dengan kesepakatan.
Jumlah
No. Jenis Ketenagaan
2018 2019
1 Kepala Puskesmas dan dokter umum 6 7
2 Dokter gigi 3 3
3 Perawat gigi 4 4
4 Perawat 18 21
5 Apoteker 1 1
6 Asisten apoteker 1 1
7 Bidan 25 26
8 Rekam medis 0 1
9 Nutrisionis dan pelaksana gizi 1 1
10 Ka. TU, Pekarya, Administrasi, Loket, 29 32
dan Fungsional umum
11 Analis kesehatan 1 1
12 Promosi kesehatan 1 1
JUMLAH 90 99

C. JAdwal Kegiatan.
UPT. Puskesmas Mengwi II melakukan pelayanan setiap hari senin sampai dengan sabtu.
Jam buka loket pelayanan UPT. Puskesmas Mengwi II yaitu:
1. Senin - kamis : 08.00 - 12.00 WITA
2. Jumat dan Sabtu : 08.00 - 11.00 WITA
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
Pelayanan klinis dilakukan oleh penyelenggara pelayanaan klinis pada tiap-tiap unit layanan
klinis. Pelaksanaan rapat untuk koordinasi dilakukan di aula UPT. Puskesmas Mengwi II.
(Denah ruangan UPT. Puskesmas Mengwi Ii di lampirkan).

B. Standar Fasilitas
BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan Pelayanan


Lingkup kegiatan pelayanan klinis ini untuk melakukan tata laksana pelayanan terhadap
pasien, yaitu :
1. Pasien umum dan Pasien BPJS (Askes PNS, Jamkesmas(kartu Indonesia sehat, BPJS
Mandiri) yang rawat jalan/rujukan
2. Layanan gawat darurat.
Kegiatan layanan klinis gawat darurat terhadap pasien ini mencakup :
a. Pendaftaran Pasien dan rekam medis
b. Pengkajian, keputusaan, rencana layanan klinis pasien
c. Pelaksanaan layanan klinis pasien
d. Rencana rujukkan/pemulangan Pasien

B. Metode
1. Pendaftaran Pasien
Metode yang dilakukan pada pendaftaran pasien menggunakan metode antrian
dan untuk rekam medis menggunakan metode pemberian nomor cara unit dan juga
menggunakan metode buku bantu berdasarkan tempat tinggal. Metode antrian
merupakan suatu garis tunggu dari satuan yang memerlukan layanan dari satu atau lebih
pelayanan (fasilitas layanan). Jadi teori atau pengertian antrian adalah studi matematikal
dari kejadian atau gejala garis tunggu (P. Siagian, 1987, hal. 390). Kejadian garis
tunggu timbul disebabkan oleh kebutuhan akan layanan melebihi kemampuan
(kapasitas) pelayanan atau fasilitas layanan, sehingga pelanggan yang tiba tidak bisa
segera mendapat layanan disebabkan kesibukan pelayanan.
Metode pemberian nomor secara unit, pada pasien datang pertama kali untuk
berobat jalan maka pasien tersebut mendapat satu nomor rekam medis. Yang mana pada
nomor tersebut akan dipakai selamanya untuk melakukan kunjungan-kunjungan
selanjutnya. Dan berkas rekam medis tersebut akan tersimpan dalam satu berkas dengan
satu nomor pasien berdasarkan per tempat tinggal (RT) dan luar wilayah.
2. Metode Pengkajian, keputusan, rencana layanan klinis dan pelaksanaan layanan serta
rencana rujukaan dan pemulangan pada pasien meliputi :
a. Anamnesis
Hasil Anamnesis berisi keluhan utama maupun keluhan penyerta yang sering
disampaikan oleh pasien atau keluarga pasien. Penelusuran riwayat penyakit yang
diderita saat ini, penyakit lainnya yang merupakan faktor risiko, riwayat keluarga,
riwayat sosial, dan riwayat alergi menjadi informasi lainnya pada bagian ini. Pada
beberapa penyakit, bagian ini memuat informasi spesifik yang harus diperoleh
dokter dari pasien atau keluarga pasien untuk menguatkan diagnosis penyakit.
b. Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)
Bagian ini berisi hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
spesifik, mengarah kepada diagnosis penyakit (pathognomonis). Meskipun tidak
memuat rangkaian pemeriksaan fisik lainnya, pemeriksaan tanda vital dan
pemeriksaan fisik menyeluruh tetap harus dilakukan oleh dokter layanan primer
untuk memastikan diagnosis serta menyingkirkan diagnosis banding.
c. Penegakan Diagnosis (Assessment)
Bagian ini berisi diagnosis yang sebagian besar dapat ditegakkan dengan
anamnesis, dan pemeriksaan fisik. Beberapa penyakit membutuhkan hasil
pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis atau karena telah menjadi
standar algoritma penegakkan diagnosis. Selain itu, bagian ini juga memuat
klasifikasi penyakit, diagnosis banding, dan komplikasi penyakit.
d. Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Bagian ini berisi sistematika rencana penatalaksanaan berorientasi pada
pasien (patient centered) yang terbagi atas dua bagian yaitu penatalaksanaan non
farmakologi dan farmakologi. Selain itu, bagian ini juga berisi edukasi dan
konseling terhadap pasien dan keluarga (family focus), aspek komunitas lainnya
(community oriented) serta kapan dokter perlu merujuk pasien (kriteria rujukan).
Dokter akan merujuk pasien apabila memenuhi salah satu dari kriteria
“TACC” (Time-Age-Complication-Comorbidity) berikut:
1) Time : jika perjalanan penyakit dapat digolongkan kepada kondisi kronis atau
melewati Golden Time Standard.
2) Age : jika usia pasien masuk dalam kategori yang dikhawatirkan meningkatkan
risiko komplikasi serta risiko kondisi penyakit lebih berat.
3) Complication : jika komplikasi yang ditemui dapat memperberat kondisi
pasien.
4) Comorbidity : jika terdapat keluhan atau gejala penyakit lain yang
memperberat kondisi pasien.
Selain empat kriteria di atas, kondisi fasilitas pelayanan juga dapat menjadi dasar
bagi dokter untuk melakukan rujukan demi menjamin keberlangsungan penatalaksanaan
dengan persetujuan pasien.
3. Langkah Kegiatan
Tata laksana palayanan dalam instalasi rawat jalan pada umumnya dikerjakan
secara team work, dilakukan sesuai pelayanan klinis dokter, asuhan keperawatan,
asuhan kebidanan dan terdokumentasikan dengan baik.
1. Pendaftaran pasien
Pada pendaftaran terdapat ketentuan seperti alur pendaftaran sebagai berikut :
Pada proses pendaftaran pasien dipandu dengan prosedur yang jelas dan
dilakukan oleh petugas yang kompeten yaitu SMK administrasi perkantoran.
Identitas pasien harus dipastikan minimal dengan dua cara identifikasi, yaitu :
nama pasien, tanggal lahir, alamat dan nomor rekam medis. Adanya informasi
tentang jenis pelayanan klinis yang tersedia, dan informasi lain yang dibutuhkan
masyarakat yang meliputi: tarif, jenis pelayanan, dan informasi tentang
kerjasama dengan fasilitas kesehatan yang lain harus dapat disediakan di tempat
pendaftaran. Hak dan kewajiban pasien harus diperhatikan pada keseluruhan
proses pelayanan yang dimulai dari pendaftaran.
2. Hak-hak pasien meliputi :
a. Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan
peraturan yang berlaku di Puskesmas
b. Pasien berhak atas pelayanan yang menusiawi, adil dan jujur
c. Pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai
dengan standar profesi kedokteran atau kedokterran gigi tanpa
diskriminasi
d. Pasien berhak mendapatkan kenyamanan dan kecepatan dalam
pelayanan
e. Pasien berhak mendapatkan informasi yang meliputi :
1) Penyakit yang diderita
2) Tindakan medis yang akan dilakukan
3) Kemungkinan penyakit sebagai akibat tindakan tersebut dan
tindakan untuk mengatasinya
4) Alternatif terapi yang lainnya
5) Prognosa (perjalanan penyakit)
f. Pasien berhak menyetujui / memberikan ijin atas tindakan yang akan
dilakukan oleh petugas sehubungan dengan penyakit yang diderita
g. Pasien berhak menolak tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya
dan memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya
h. Pasien berhak atas privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya
3. Kewajiban pasien meliputi :
a. Pasien berkewajiban mematuhi pesyaratan administrasi yang ditetapkan
berdasarkan Perda
b. Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan jujur dan
selengkap-lengkapnya tentang penyakit yang diderita kepada dokter
dan perawat
c. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dan
perawat dalam pengobatannya
4. Pengkajian, keputusan dan rencana layanan
Pengkajian awal dilakukan secara paripurna dilakukan oleh tenaga yang
kompeten melakukan pengkajian. Kajian awal meliputi kajian medis, kajian
keperawatan, kajian kebidanan, dan kajian lain oleh tenaga profesi kesehatan
sesuai dengan kebutuhan dan diidentifikasi serta dicatat dalam rekam medis
dengan langkah SOAP. Proses kajian tersebut mengacu pada standar profesi
masing-masing profesi.
Dimana proses pelaksanaan pelayanan klinis ini harus didukung oleh
peralatan dan tempat yang memadai dan menjamin keamanan bagi petugas dan
pasien. Untuk tiap pasien rencana layanan yang disusun dikelola dengan rencana
layanan terpadu dan berkesinambungan dan melibatkan pasien serta
mempertimbangkan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, spiritual dan
memperhatikan tata nilai budaya pasien. Pemberian informasi mengenai efek
samping dan risiko pelaksanaan layanan dan pengobatan diberitahukan kepada
pasien begitu juga hal-hal yang memuat pendidikan dan penyuluhan pasien
dilakukan dalam rencana layanan klinis. Semua hal yang dilakukan selama
pengkajian dicatat di rekam medis.
Pada pasien dengan kondisi gawat atau darurat harus diprioritaskan dalam
pelayanan berdasarkan SOP TRIAGE / PEDOMAN TRIAGE. Adanya
pembentukan tim kesehataan antar profesi diperlukan bila dilakukan pelayanan
klinis secara tim.
Pendelegasian wewenang pada layanan klinis diperlukan untuk diperlukan
agar terjaga kesinambungan pelayanan dan pelayanan terjaga dan tertata dengan
baik sehingga penanganan pasien dapat dilakukan dengan baik. Namun dalam
pelaksanan pendelegasian wewenang baik dalam kajian mapun keputusan
layanan harus dilakukan melalui proses pendelegasian wewenang dan
pendelegasian wewenang diberikan kepada tenaga kesehatan profesional yang
memenuhi persyaratan dimana diatur dalam SOP pendelegasian wewenang.
5. Pelaksanaan layanan
Pelaksanaan layanan dipandu dengan pedoman dan prosedur pelayanan
klinis (pelayanan medis, keperawatan, kebidanan, dan pelayanan profesi
kesehatan yang lain) sesuai dengan rencana layanan dan perkembangan serta
perubahan rencana layanan tercatat dalam rekam medis oleh tenaga
medis/paramedis dan profesi kesehatan lainya. Pelaksanaan layanan ini
dilaksanakan secara tepat dan terencana untuk menghindari pengulangan yang
tidak perlu. Dalam pelaksanaan layanan klinis ini, pasien dimonitor, dievaluasi,
dan ditindak lanjut.
Bila dalam pelaksanaan layanan dilakukan tindakan medis/pengobatan
yang beresiko (Anestesi, pembedahan dan tindakan lainya) maka dilakukan
pemberian informasi kepada pasien dan adanya persetujuan pasien (pasien
mengisi form informed consent) serta didokumentasikan pada rekam medis.
Pasien berhak untuk menolak pengobatan,berhak untuk menolak jika dirujuk ke
sarana kesehatan lain. Jika pasien menolak untuk pengobatan atau rujukan, maka
pasien tersebut diberikan informasi tentang hak pasien untuk membuat
keputusan, akibat dari keputusan, dan tanggung jawab mereka berkenaan dengan
keputusan tersebut.
Kasus-kasus gawat darurat harus diprioritaskan dan dilaksanakan sesuai
prosedur pelayanan pasien gawat darurat dan kasus-kasus berisiko tinggi harus
ditangani sesuai dengan prosedur pelayanan kasus berisiko tinggi. Kasus-kasus
yang perlu kewaspadaan universal terhadap terjadinya infeksi harus ditangani
dengan memperhatikan prosedur pencegahan (kewaspadaan universal).
Pemberian obat/cairan intravena harus dilaksanakan dengan prosedur pemberian
obat/cairan intravena yang baku dan mengikuti prosedur aseptik. Untuk
pelayanan anestesi lokal dan pembedahan harus dipandu dengan SOP Anestesi
local dan pembedahan serta dilaksanakan oleh petugas yang kompeten. Status
pasien wajib dimonitor setelah pemberian anestesi dan pembedahan.
Dalam pelaksanan pelayanan ini tenaga medis/paramedis/tenaga kesehatan
lainya harus memperhatikan hak dan kewajiban pasien serta mengidentifikasi
keluhan pasien dan tindak lanjutnya.
6. Rencana rujukan dan rawat jalan (pemulangan)
Dokter yang menangani bertanggung jawab untuk melaksanakan proses
rawat jalan (pemulangan) atau pun proses rujukan. Adanya umpan balik dari
fasilitas rujukan, maka dokter yang menangani wajib menindak lanjuti. Pada
rujukan pasien ditulis resume klinis. Resume klinis meliputi: nama pasien,
kondisi klinis, prosedur/tindakan yang telah dilakukan, dan kebutuhan akan
tindak lanjut dan diberi informasi pilihan tempat rujukan untuk pasien umum
atau BPJS (berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk tempat rujukan BPJS).
Kriteria merujuk pasien meliputi:
1) Dari hasil pemeriksaan, sudah terindikasi bahwa keadaan pasien tidak dapat
diatasi dipuskesmas
2) Dari hasil pemeriksaan fisik dengan hasil pemeriksaan penunjang medis
dipuskesmas ternyata tidak mampu diatasi.
3) Pasien memerlukaan pelayanaan medis spesialis /subspesialis dirumah sakit
berdasarkan keadaan penyakit yang diderita pasien
4) Pasien memerlukan pelayanan penunjang medis yang lebih lengkap yang
tidak tersedia di fasilitas pelayanan puskesmas.
5) Apabila telah diobati berulang kali di puskesmas ternyata pasien
memerlukan pemeriksaan dan pengobatan di sarana kesehatan yang lebih
mampu.
6) Pada saat pemulangan (rawat jalan), pasien/ keluarga pasien diberi informasi
tentang tindak lanjut layanan.
BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan logistik untuk pelaksanaan pelayanan klinis berdasarkan permintaan tiap unit
layanan. Dimana untuk kebutuhan logistik peralatan kantor berupa: form informed consent,
form rujukan BPJS, form rujukan umum, kertas resep, permintaan laboratorium, Ballpoint,
kertas A4, catridge print, tinta stampel, bantalan stampel, buku register, buku untuk rujukan
dan buku tindakan, map, type x, peralatan untuk kebersihan, serta sabun handwash
(handscrub), bayclin, Plastik, dll.
Untuk kebutuhan logistik bahan habis pakai medis unit layanan meminta kebutuhan
tersebut sesuai dengan keperluan kepada unit layanan farmasi. Logistik bahan habis pakai
medis di unit layanan klinis berupa kasa kotak steril, kasa gulung, jarum, spuit 3/5/10cc,
benang, povidene iodine (Betadine), plester, Nacl 0,9%, surflo, infuse set, obat-obat
emergency, oksigen, dll.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Dalam perencanaan pelayanaan klinis perlu diperhatikan keselamatan pasien dengan


melakukan identifikasi risiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat
pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap pasien harus dilakukan untuk tiap-
tiap unit layanan klinis. Keselamatan pasien puskesmas adalah suatu sistem dimana
puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman. Didalam pelayanan klinis ada beberapa
standar yang harus dilaksanakan dalam keselamatan pasien :
1. Ketepatan identitas, dalam hal ini target yang harus terpenuhi adalah 100%. Label
identitas tidak tepat apabila salah penulisan nama, salah jenis kelamin dan salah alamat.
2. Bagi perawat atau petugas kesehatan yang memerlukan konsul dengan dokter via telpon
harus menggunakan metode SBAR, target yang harus terpenuhi 100 %.
3. Ketepatan penyampaian hasil penunjang harus 100 %. yang dimaksud tidak tepat apabila
salah ketik, salah memasukkan diberkas pasien / list pasien lain.
4. Ketepatan pemberian obat yang meliputi tepat identitas/pasien, tepat obat, tepat dosis,
tepat cara/rute (oral, parental, topikal,rektal,inhalasi), tepat waktu dan tepat dokumentasi.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA DAN PENGENDALIAN MUTU

A. KESELAMATAN KERJA
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan pelayanan klinis perlu diperhatikan
keselamatan kerja karyawan puskesmas dengan melakukan identifikasi risiko terhadap
segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan layanan klinis. Upaya
pencegahan risiko terhadap kemungkinan yang dapat terjadi harus dilakukan di unit-unit
layanan klinis. Keselamatan kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan
aman baik itu bagi pekerjanya,perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungannya.
Mengacu pada pengertian tersebut maka diharapkan setiap petugas medis maupun non
medis dapat menerapkan sistem keselamatan kerja diantaranya :
1. Tersedianya APD yang memenuhi standart serta dapat menggunakanya dengan
benar baik itu masker, penutup kepala, kaos tangan, skoret/apron, kacamata,
pelindung kaki dan sebagainya.
2. Tersedianya tempat pembuangan sampah yang dibedakan infeksius dan non infeksius
serta terdapatnya tempat khusus untuk pembuangan jarum ataupun spuit bekas.
3. Aturan untuk tidak melakukan recuping jarum suntik setelah dipakai ke pasien.
4. Setiap petugas medis menganggap bahwa setiap pasien dapat menularkan penyakit
sehingga unsur keselamatan kerja dapat terus dilaksanakan.

B. PENGENDALIAN MUTU
Kinerja pelaksanaan pelaksanaan layanan klinis dimonitor dan dievaluasi dengan
menggunakan indikator sebagai berikut:
1. Ketersediaan jenis unit-unit layanan klinis yang sesuai dengan standar pelayanan
minimal puskesmas
2. Ketepatan pelaksanaan pelayanan klinis sesuai dengan jadwal
3. Kesesuaian petugas yang melaksanakan pelayanaan klinis
4. Memperhatikan keselamataan pasien (tepat identifikasi pasien)
5. Kepuasan pelanggan
6. Permasalahan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini maupun pada audit
internal.
BAB VIII
PENUTUP

Pada prinsipnya pelayanan klinis adalah bagian pelayanan kesehatan puskesmas yang
mengedepankan akan Tanggung Jawab, Disiplin, Kebersamaan dan mengutamakan keselamatan
pasien. Semoga dengan adanya pedoman pelayanan klinis ini, pelayanan klinis dapat berjalan
dengan baik serta semakin dipercaya oleh masyarakat.