Anda di halaman 1dari 19

URANUS

Uranus (berasal dari nama Latin Ūranus untuk nama dewa Yunani Οὐρανός) adalah planet
ketujuh dari Matahari. Uranus merupakan planet yang memiliki jari-jari terbesar ketiga sekaligus
massa terbesar keempat di Tata Surya. Uranus juga merupakan satu-satunya planet yang
namanya berasal dari tokoh dalam mitologi Yunani, dari versi Latinisasi nama dewa langit
Yunani Ouranos. Komposisi Uranus serupa dengan Neptunus, dan keduanya mempunyai
komposisi kimiawi yang berbeda dari raksasa gas yang lebih besar, Yupiter dan Saturnus.
Karenanya, para astronom sering menempatkan Uranus dan Neptunus dalam kategori "raksasa
es" untuk membedakan keduanya dari raksasa gas. Atmosfer Uranus serupa dengan Yupiter dan
Saturnus karena kandungan utamanya adalah hidrogen dan helium, tetapi mengandung lebih
banyak unsur "es" seperti air, amonia dan metana, bersama dengan sisa hidrokarbon. Atmosfer
Uranus merupakan atmosfer planet terdingin di Tata Surya, dengan suhu terendah mencapai
49 K (−224 °C; −371 °F). Atmosfer Uranus mempunyai struktur awan berlapis-lapis dan
kompleks, serta diperkirakan lapisan awan terendahnya terdiri atas air dan lapisan awan
tertingginya terdiri atas metana. Bagian dalam Uranus sebagian besar terdiri atas es dan
bebatuan.

Seperti planet raksasa lain, Uranus memiliki sistem cincin, magnetosfer, serta banyak satelit
alami. Sistem Uranus mempunyai konfigurasi yang unik di antara planet-planet karena
kemiringan sumbunya miring ke samping, hampir pada bidang revolusinya mengelilingi
Matahari. Oleh karena itu, kutub utara dan selatannya terletak pada tempat yang merupakan
khatulistiwa bagi planet lain. Pada tahun 1986, citra yang diabadikan oleh wahana antariksa
Voyager 2 menunjukkan Uranus sebagai planet yang terlihat tidak memiliki ketampakan pada
cahaya tampak, yaitu tanpa pita awan atau badai yang biasanya dimiliki oleh planet raksasa.
Meskipun demikian, pengamat di Bumi melihat tanda-tanda perubahan musim dan aktivitas
cuaca yang meningkat ketika Uranus mencapai ekuinoksnya pada tahun 2007. Kecepatan angin
di permukaan Uranus dapat mencapai 250 meter per detik (900 km/h; 560 mph).

Sejarah

Penemuan

Uranus telah diamati pada banyak kesempatan sebelum penemuannya sebagai planet, namun ia
dianggap secara salah sebagai bintang. Pengamatan yang tercatat paling awal adalah pada tahun
1690 saat John Flamsteed mengamati planet itu sedikitnya enam kali, mengkatalogkannya
sebagai 34 Tauri. Astronom Prancis, Pierre Lemonnier, mengamati Uranus setidaknya dua puluh
kali antara tahun 1750 dan 1769,[14] termasuk pada empat malam berturut-turut.
Replika teleskop yang dipakai oleh Herschel untuk menemukan Uranus di Museum William Herschel,
Bath

Sir William Herschel mengamati planet itu pada 13 Maret 1781 saat berada di taman di
rumahnya di 19 New King Street di kota Bath, Somerset (sekarang Herschel Museum of
Astronomy),[15] namun mulanya melaporkannya (pada 26 April 1781) sebagai sebuah
"komet".[16] Herschel "melakukan serangkaian pengamatan terhadap paralaks pada bintang-
bintang yang tetap",[17] menggunakan teleskop yang ia desain sendiri.

Dia mencatat dalam jurnalnya "Pada kuartil dekat ζ Tauri … bisa merupakan bintang Nebula
atau sebuah komet".[18] Tanggal 17 Maret, dia mencatat, "Aku mencari Komet atau Bintang
Nebula itu dan menemukan bahwa ia adalah sebuah Komet, karena ia berubah letaknya".[19] Saat
dia mempresentasikan penemuannya pada Royal Society, ia terus menegaskan bahwa dia telah
menemukan sebuah komet sementara secara implisit membandingkannya pada planet:[20]

Daya yang aku miliki saat pertama kali Aku melihat komet itu adalah 227. Dari
“ pengamatan Aku tahu bahwa diameter dari bintang-bintang diam tidak secara
proporsional membesar dengan daya yang lebih besar, sebagaimana planet; oleh
karena itu sekarang Aku menyetel dayanya pada 460 dan 932 dan menemukan
bahwa diameter komet itu naik sebanding dengan dayanya, sebagaimana
mestinya, dengan perkiraan bahwa ia bukan bintang diam, sementara diameter
bintang-bintang yang Aku bandingkan dengannya tidak meningkat dengan rasio
yang sama. Lebih dari itu, komet itu diperbesar jauh di luar apa yang mestinya
akan terjadi pada cahayanya, tampak kabur dan kurang-jelas dengan kekuatan
yang besar ini, sementara bintang-bintang itu mempertahankan kilau dan
kekhasannya dari ribuan pengamatan aku tahu mereka akan
mempertahankannya. Kelanjutannya menunjukkan bahwa dugaanku berdasar
baik, ini terbukti adalah Komet yang belakangan ini kami amati.

Herschel memberitahu Astronomer Royal, Nevil Maskelyne, akan penemuannya dan menerima
jawaban keheranan ini darinya pada tanggal 23 April: "Aku tidak tahu menyebutnya apa.
Mungkin ia planet reguler yang bergerak pada orbit yang hampir melingkar pada Matahari
karena Komet bergerak pada elips yang sangat eksentrik. Aku belum melihat koma atau ekor
apapun padanya".[21]

Sementara Herschel secara hati-hati terus menggambarkan objek baru ini sebagai sebuah komet,
para astronom lain sudah mulai menduga secara lain. Astronom Rusia Anders Johan Lexell
memperkirakan jaraknya 18 kali jarak Matahari dari Bumi dan belum satu kometpun yang
diamati dengan perihelion empat kali jarak Bumi-Matahari.[22] Astronom Berlin Johann Elert
Bode mendeskripsikan penemuan Herschel sebagai "bintang bergerak yang dapat dianggap
hingga sekarang ini objek tak diketahui mirip planet yang berkeliling di luar orbit Saturnus".[23]
Bode menyimpulkan bahwa orbitnya yang hampir berbentuk lingkaran lebih mirip sebuah planet
daripada komet.[24]

Objek itu dengan segera diterima secara universal sebagai sebuah planet. Tahun 1783, Herschel
sendiri mengakui fakta ini kepada direktur Royal Society Joseph Banks: "Dengan pengamatan
dari para Astronom paling terkenal di Eropa tampaknya bintang baru itu, yang membuatku
dihormati karena kutunjukkan kepada mereka pada Maret 1781, adalah sebuah Planet Primer
pada Tata Surya kita."[25] Untuk mengakui pencapaian ini, Raja George III memberi Herschel
gaji tetap tahunan £200 dengan syarat ia pindah ke Windsor sehingga Keluarga Kerajaan
mendapat kesempatan untuk melihat melalui teleskopnya.[26]

Penamaan

Maskelyne meminta Herschel untuk "do the astronomical world the faver [tertulis demikian,
'membantu dunia astronomi'] untuk memberi nama planetmu, yang sepenuhnya milikmu, & yang
kami merasa berhutang budi padamu atas penemuannya."[27] Untuk menjawab permintaan
Maskelyne, Herschel memutuskan untuk menamai objek itu Georgium Sidus (Bintangnya
George), atau "Planet Georgian" untuk menghormati penyokong dirinya yang baru, Raja George
III.[28] Dia menjelaskan keputusan ini dalam sebuah surat kepada Joseph Banks:[25]

William Herschel, penemu Uranus


Pada masa dahulu kala sebutan Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus diberikan
“ kepada planet-planet tersebut, sebagai nama pahlawan dan dewa mereka. Pada
masa sekarang yang eranya lebih filosofis sulit memungkinkan untuk mendapat

pengganti metode yang sama dan menyebutnya Juno, Pallas, Apollo atau Minerva,
untuk menjadi nama bagi benda langit kita yang baru. Pertimbangan pertama
berupa peristiwa tertentu, atau kejadian luar biasa, tampaknya merupakan
kronologinya: jika suatu saat akan ditanyakan, kapan Planet yang terakhir-
ditemukan ini ditemukan? Akan menjadi jawaban yang sangat memuaskan
mengatakan, 'Pada masa pemerintahan Raja George Ketiga.

Nama yang diusulkan Herschel tidak populer di luar Britania dan beberapa alternatif segera
diusulkan. Astronom Jérôme Lalande mengusulkan planet itu dinamai Herschel untuk
menghormati penemunya.[29] Namun, Bode, memilih Uranus, versi Latin dewa langit Yunani,
Ouranos. Bode berargumen bahwa seperti Saturnus yang merupakan ayah dari Jupiter, planet
baru itu mesti diberi nama dari nama ayah Saturnus.[26][30][31] Pada tahun 1789, kolega Bode dari
Royal Academy, Martin Klaproth menamai unsur yang baru ditemukan dengan "uranium" untuk
mendukung pilihan Bode.[32] Pada akhirnya, saran Bode menjadi yang paling luas digunakan dan
menjadi universal pada 1850 saat HM Nautical Almanac Office, yang terakhir yang tidak
menggunakannya, beralih dari menggunakan Georgium Sidus kepada Uranus.[30]

Tata nama

Pengucapan nama Uranus dalam bahasa Inggris yang disukai di antara para astronom adalah
/ˈjʊərənəs/, dengan tekanan pada suku kata pertama seperti dalam bahasa Latin Ūranus;[33]
kontras dengan bahasa sehari-hari /jʊˈreɪnəs/, dengan tekanan pada suku kata kedua dan a
panjang, meskipun dua-duanya dianggap dapat diterima. Karena pada daerah yang berbahasa
Inggris, ū·rā′·nəs kedengaran seperti "your anus" ('anusmu'), ejaan sebelumnya juga
menyembunyikan malu: seperti yang Dr. Pamela Gay, astronom di Southern Illinois University,
sebutkan dalam siarannya, untuk menghindari "dikerjai oleh anak kecil sekolahan ... saat ragu-
ragu, jangan menekankan apapun dan hanya katakan ūr′·ə·nəs. Dan merekapun lari dengan
cepat."[34]

Uranus merupakan satu-satunya planet yang namanya berasal dari tokoh dari mitologi Yunani
bukan dari mitologi Romawi. Adjektif dari Uranus adalah "Uranian". Simbol astronomisnya
adalah . Simbol itu merupakan gabungan dari simbol untuk Mars dan Matahari karena Uranus
adalah Langit dalam mitologi Yunani, yang dianggap didominasi oleh gabungan kekuatan
Matahari dan Mars.[35] Simbol astrologisnya adalah , disarankan oleh Lalande tahun 1784.
Dalam sebuah surat kepada Herschel, Lalande mendeskripsikannya sebagai "un globe surmonté
par la première lettre de votre nom" ("sebuah globe yang diatasnya adalah huruf pertama
namamu").[29] Dalam bahasa Cina, Jepang, Korea dan Vietnam, nama planet Uranus secara
literal dialihbahasakan sebagai bintang raja langit (天王星).[36][37]
Orbit dan rotasi

Orbit Uranus

Gambar teleskop Hubble dari Uranus menunjukkan pita awan, cincin dan satelit-satelit.

Uranus mengitari Matahari sekali dalam 84 tahun. Jarak rata-ratanya dari Matahari kira-kira 3
miliar km (sekitar 20 SA). Intensitas sinar Matahari di Uranus sekitar 1/400 yang ada di Bumi.[38]
Elemen orbitnya dihitung pertama kali tahun 1783 oleh Pierre-Simon Laplace.[22] Dengan
berjalannya waktu, perbedaan mulai terlihat antara orbit yang diprediksikan dan yang diamati
dan pada tahun 1841, John Couch Adams pertama kali mengajukan bahwa perbedaan itu
mungkin disebabkan sentakan gravitasi oleh sebuah planet yang tidak terlihat. Pada tahun 1845,
Urbain Le Verrier mulai riset mandirinya sendiri tentang orbit Uranus. Pada 23 September 1846,
Johann Gottfried Galle menemukan lokasi satu planet baru, yang kemudian diberinama
Neptunus, hampir pada posisi yang diprediksikan oleh Le Verrier.[39]

Periode rotasi interior Uranus adalah 17 jam, 14 menit. Akan tetapi, seperti semua raksasa gas
lainnya, atmosfer atasnya mengalami angin badai yang sangat kuat pada arah rotasi. Akibatnya,
pada beberapa garis lintang, seperti dua per tiga lintang dari khatulistiwa ke kutub selatan, fitur-
fitur atmosfer itu yang tampak bergerak jauh lebih cepat, menjadikan rotasi penuhnya sekecil 14
jam.[40]

Kemiringan sumbu
Sumbu rotasi Uranus terletak pada sisinya dipandang dari bidang Tata Surya, dengan kemiringan
sumbu 97,77°. Ini memberinya perubahan musim yang sama sekali tidak seperti planet utama
lain. Planet-planet lain dapat dibayangkan sebagai gasing yang berputar termiring-miring relatif
terhadap bidang tata surya, sementara Uranus berotasi lebih seperti bola yang menggelinding
termiring-miring. Berdekatan dengan waktu solstis Uranian, satu kutubnya menghadap Matahari
terus-menerus sedangkan kutub lainnya menghadap ke arah sebaliknya. Hanya segaris daerah
sempit di sekitar ekuator yang mengalami pergantian siang-malam dengan cepat, namun dengan
Matahari sangat rendah dari kaki langit seperti di daerah kutub di Bumi. Pada sisi orbit Uranus
yang lain orientasi kutub-kutubnya terhadap Matahari adalah sebaliknya. Tiap kutub terus-
menerus disinari Matahari sekitar 42 tahun, diikuti dengan 42 tahun yang gelap.[41] Dekat waktu
ekuinoks, Matahari menghadap ekuator Uranus memberi periode pergantian siang-malam sama
seperti yang terlihat pada kebanyakan planet lain. Uranus mencapai ekuinoks terkininya pada
tanggal 7 December 2007.[42][43]

Belahan Utara Tahun Belahan Selatan


Solstis Musim Dingin 1902, 1986 Solstis Musim Panas
Ekuinoks Musim Semi 1923, 2007 Ekuinoks Musim Gugur
Solstis Musim Panas 1944, 2028 Solstis Musim Dingin
Ekuinoks Musim Gugur 1965, 2049 Ekuinoks Musim Semi

Salah satu akibat orientasi sumbu rotasi ini adalah bahwa, rata-rata dalam satu tahun, daerah
kutub menerima masukan energi yang lebih besar dari Matahari daripada daerah ekuatornya.
Namun, Uranus lebih panas ekuatornya daripada kutubnya. Mekanisme yang mendasari yang
menyebabkan hal ini tidak diketahui. Alasan tidak biasanya kemiringan sumbu Uranus juga tidak
diketahui pasti, namun perkiraan umum adalah bahwa selama pembentukan Tata Surya,
protoplanet seukuran Bumi bertubrukan dengan Uranus, menyebabkan orientasinya yang miring
tersebut.[44] Kutub selatan Uranus menunjuk hampir kepada Matahari saat terbang dekat Voyager
2 tahun 1986. Penyebutan kutub ini sebagai "selatan" menggunakan definisi yang sekarang
disetujui oleh Persatuan Astronomi Internasional, yaitu bahwa kutub utara suatu planet atau
satelit adalah kutub yang menunjuk ke atas bidang invariabel Tata Surya, kemanapun arah planet
itu berputar.[45][46] Akan tetapi, perjanjian yang berbeda kadang digunakan, di mana kutub utara
dan selatan suatu benda didefinisikan menurut aturan tangan kanan sehubungan dengan arah
rotasi.[47] Menurut sistem koordinat yang belakangan ini, kutub utara Uranus adalah yang
disinari Matahari pada tahun 1986.

Kecemerlangan

Dari tahun 1995 sampai 2006, magnitudo tampak Uranus berfluktuasi antara +5,6 dan +5,9;
menempatkannya hampir pada batas daya lihat mata telanjang pada +6.5.[8] Diameter angularnya
antara 3,4 dan 3,7 detik busur, dibandingkan dengan 16 hingga 20 detik busur untuk Saturnus
dan 32 sampai 45 detik busur untuk Jupiter.[8] Saat oposisi, Uranus terlihat dengan mata
telanjang dalam langit yang gelap dan tidak terpolusi cahaya dan menjadi sasaran yang mudah
bahkan dalam kondisi perkotaan dengan teropong.[6] Dalam teleskop amatir yang lebih besar
dengan diameter lensa objektif antara 15 dan 23 cm, planet itu tampak sebagai piringan biru
pucat dengan penggelapan tepi yang khas. Dengan teleskop besar yang ukurannya 25 cm atau
lebih lebar, pola-pola awan, begitu pula beberapa satelit yang lebih besar, seperti Titania dan
Oberon, mungkin juga kelihatan.[48]

Struktur internal

Perbandingan ukuran Bumi dan Uranus

Secara kasar Uranus massanya 14,5 kali massa Bumi, menjadikannya planet yang paling ringan
di antara planet-planet raksasa, sementara itu kerapatannya 1,27 g/cm³ membuatnya planet paling
tidak padat kedua setelah Saturnus.[7] Meskipun bergaristengah sedikit lebih besar daripada
Neptunus (kira-kira garis tengah Bumi), Uranus lebih ringan.[5] Nilai ini menandakan bahwa ia
terutama terdiri dari beragam es, seperti air, amonia dan metana.[9] Massa total es di bagian
dalam Uranus tidak diketahui secara tepat, dengan munculnya gambaran-gambaran berbeda
tergantung dari model yang dipilih; namun pasti antara 9,3 dan 13,5 massa Bumi.[9][49] Hidrogen
dan helium hanya menyusun sebagian kecil dari keseluruhan, sebesar antara 0,5 dan 1,5 massa
Bumi.[9] Massa sisanya (0,5 hingga 3,7 massa Bumi) diperhitungkan untuk massa material
batuan.[9]

Model standar struktur Uranus adalah ia terdiri dari tiga lapisan: inti di bagian tengah, mantel
ber-es di lapisan tengah dan selubung hidrogen/helium gas.[9][50] Intinya relatif kecil, dengan
massa hanya 0,55 massa Bumi dan jari-jari kurang dari 20 persen jari-jari Uranus; mantelnya
merupakan bagian terbesar planet tersebut, dengan sekitar 13,4 massa Bumi, sementara itu
atmosfer atas relatif kecil, dengan berat sekitar 0,5 massa Bumi dan meluas sampai 20 persen
terakhir jari-jari Uranus.[9][50] Inti Uranus kerapatannya sekitar 9 g/cm³, dengan tekanan di
tengahnya 8 juta bar (800 GPa) dan suhu sekitar 5000 K.[49][50] Mantel esnya nyatanya tidak
terdiri dari es dalam pengertian pada umumnya, tetapi dari fluida panas dan rapat yang terdiri
atas air, amonia dan volatil lain.[9][50] Fluida ini, yang berdaya hantar listrik tinggi, kadang-
kadang disebut lautan air–amonia.[51] Komposisi terbesar Uranus dan Neptunus sangat berbeda
dari Jupiter dan Saturnus, dengan es mendominasi atas gas, oleh karenanya memberi alasan
klasifikasi mereka yang terpisah sebagai raksasa es.

Sementara model yang diperkirakan di atas lebih atau kurang standar, ia tidaklah unik; model-
model lain juga sesuai dengan pengamatan. Contohnya, jika jumlah substansial hidrogen dan
materi batuan bercampur dalam mantel es, massa es total di interior akan lebih kecil dan begitu
pula, massa batuan total akan lebih besar. Data yang ada sekarang tidak memungkinkan sains
menentukan model mana yang benar.[49] Struktur interior fluida Uranus berarti bahwa ia tidak
memiliki permukaan padat. Atmosfer gasnya sedikit demi sedikit berganti menjadi lapisan cairan
internal.[9] Namun, demi kemudahan, sebuah bola pepat yang berevolusi ditetapkan di titik
dimana tekanan sama dengan 1 bar (100 kPa), dibuat secara kondisional sebagai suatu
‘permukaan’. Uranus mempunyai jari-jari ekuator dan kutub masing-masing 25 559 ± 4 dan 24
973 ± 20 km.[5] Permukaan ini akan digunakan di seluruh artikel ini sebagai titik nol untuk
ketinggian.

Panas internal

Panas internal Uranus tampak lebih rendah daripada planet raksasa lain; dalam istilah astronomi,
fluks panasnya rendah.[52][53] Penyebab begitu rendahnya suhu internal Uranus masih tidak
diketahui secara pasti. Neptunus, yang hampir merupakan kembaran Uranus dalam hal ukuran
dan komposisi, meradiasikan sebanyak 2,61 kali energi yang diterimanya dari Matahari ke
angkasa.[52] Di sisi lain, Uranus hampir tidak meradiasikan panas berlebih sama sekali. Daya
total yang diradiasikan oleh Uranus dalam bagian inframerah jauh dari spektrum adalah 1,06 ±
0,08 kali energi Matahari yang diserap dalam atmosfernya.[10][54] Kenyataannya, fluks panas
Uranus hanya 0,042 ± 0,047 W/m², yang lebih rendah daripada panas internal Bumi yang sekitar
0,075 W/m².[54] Suhu terendah yang tercatat di tropopause Uranus adalah 49 K
(−224 °C),menjadikan Uranus sebagai planet terdingin dalam Tata Surya.[10][54]

Hipotesis dari perbedaan ketidaksesuaian ini di antaranya bahwa saat Uranus "dipukul" oleh
penabrak yang sangat berat yang menyebabkan kemiringan sumbunya yang ekstrem, peristiwa
itu juga menyebabkan keluarnya sebagian besar panas primordialnya, meninggalkannya dengan
suhu intinya yang sangat menurun.[55] Hipotesis lain adalah bahwa beberapa bentuk penghalang
ada di lapisan atas Uranus yang mencegah panas inti mencapai di permukaan.[9] Contohnya,
konveksi mungkin berlangsung pada sekumpulan lapisan yang komposisinya berbeda, yang
menghalangi penghantaran panas ke atas.[10][54]

Atmosfer

Meskipun tidak ada permukaan padat yang terdefinisi dengan jelas dalam interior Uranus, bagian
terluar dari selimut gas Uranus yang dapat diakses oleh penginderaan jauh disebut
atmosfernya.[10] Kemampuan penginderaan jauh berlanjut ke bawah hingga kira-kira 300 km di
bawah level 1 bar (100 kPa), dengan tekanan yang bersesuaian sekitar 100 bar (10 MPa) dan
suhu 320 K.[56] Korona yang tipis atmosfer itu meluas jauh hingga lebih dari dua jari-jari planet
dari permukaan nominal pada tekanan 1 bar.[57] Atmosfer Uranian dapat dibagi menjadi tiga
lapisan: troposfer, antara ketinggian −300 dan 50 km dan tekanan dari 100 sampai 0,1 bar;
(10 MPa sampai 10 kPa), Stratosfer, kisaran ketinggiannnya antara 50 dan 4000 km dan tekanan
antara 0,1 and 10–10 bar (10 kPa to 10 µPa) dan termosfer/korona yang meluas dari 4.000 km
hingga setinggi 50.000 km dari permukaan.[10] Mesosfer tidak ada.

Komposisi

Komposisi atmosfer Uranian berbeda dari komposisi Uranus secara keseluruhan, ia terutama
terdiri dari hidrogen molekuler dan helium.[10] Fraksi mol helium, yaitu jumlah atom helium per
molekul gas, adalah 0,15 ± 0,03[12] di troposfer atas, yang bersesuaian dengan fraksi massa 0,26
± 0,05.[10][54] Nilai ini sangat dekat dekat fraksi massa helium protosolar 0,275 ± 0,01,[58]
menandakan bahwa helium tidak pernah berada di tengah-tengah planet seperti halnya pada
raksasa-raksasa gas.[10] Penyusun yang paling melimpah ketiga dari atmosfer Uranian adalah
metana (CH4).[10] Metana memiliki pita penyerapan yang kuat pada cahaya tampak dan dekat-
inframerah membuat Uranus tampak berwarna hijau-biru atau sian.[10] Molekul metana
menempati 2,3% atmosfernya dalam fraksi mol di bawah lapisan awan metana pada level
tekanan 1,3 bar (130 kPa); ini menyatakan kira-kira 20 hingga 30 kali limpahan karbon yang
ditemukan di Matahari.[10][11][59] Rasio pencampuran [e] jauh lebih rendah di atmosfer atas
dikarenakan suhunya yang sangat rendah, yang menurunkan level kejenuhan dan menyebabkan
metana yang berlebih membeku.[60] Kelimpahan senyawa yang kurang volatil seperti amonia, air
dan hidrogen sulfida pada atmosfer yang dalam tidak begitu diketahui. Namun, mungkin nilainya
juga lebih tinggi daripada yang ada di Matahari.[10][61] Selain metana, sejumlah kecil berbagai
hidrokarbon ditemukan di stratosfernya Uranus, yang diperkirakan dihasilkan dari metana oleh
fotolisis yang diinduksi oleh radiasi ultraviolet Matahari.[62] Mereka termasuk etana (C2H6),
asetilena (C2H2), metilasetilena (CH3C2H), diasetilena (C2HC2H).[60][63][64] Spektroskopi juga
mengungkapkan jejak-jejak uap air, karbon monoksida dan karbon dioksida di atmosfer atas,
yang hanya dapat berasal dari sumber luar seperti debu yang jatuh dan komet.[63][64][65]

Troposfer

Profil suhu troposfer dan stratosfer bawah Uranian. Lapisan awan dan kabut juga ditandai.

Troposfer adalah bagian atmosfer terbawah dan paling rapat dan bercirikan dengan turunnya
suhu bersama dengan naiknya ketinggian.[10] Suhu menurun dari sekitar 320 K di dasar troposfer
nominal pada −300 km hingga 53 K pada 50 km.[56][59] Suhu di daerah atas terdingin dari
troposfer (tropopause) sebenarnya bervariasi dalam kisaran antara 49 dan 57 K bergantung pada
ketinggian di planet.[10][53] Daerah tropopause bertanggungjawab bagi kebanyakan pancaran
inframerah jauh panas planet itu dan oleh karenanya menentukan suhu efektif 59,1 ± 0,3 K.[53][54]

Troposfernya dipercaya memiliki struktur awan yang sangat kompleks; awan air dihipotesiskan
terletak dalam kisaran tekanan 50 sampai 100 bar (5 sampai 10 MPa), awan amonium
hidrosulfida dalam kisaran 20 sampai 40 bar (2 sampai 4 MPa), awan amonia atau hidrogen
sulfida antara 3 dan 10 bar (0,3 to 1 MPa) dan terakhir awan metana tipis yang terdeteksi
langsung pada 1 sampai 2 bar (0,1 sampai 0,2 MPa).[10][11][56][66] Troposfer Uranus merupakan
bagian atmosfernya yang sangat dinamis, menunjukkan angin yang kuat, awan yang cerah dan
perubahan musim, yang akan dibahas di bawah.[52]

Atmosfer atas

Lapisan tengah atmosfer Uranian adalah stratosfer, dimana suhu umumnya naik sesuai dengan
naiknya ketinggian dari 53 K di tropopause sampai antara 800 dan 850 K di dasar termosfer.[57]
Pemanasan stratosfer disebabkan oleh penyerapan radiasi UV dan inframerah Matahari oleh
metana dan hidrokarbon lain,[67] yang terbentuk di bagian atmosfer ini sebagai hasil dari fotolisis
metana.[62] Panas juga dihantarkan dari termosfer yang panas itu.[67] Hidrokarbon menempati
lapisan yang relatif sempit pada ketinggian antara 100 dan 280 km yang bersesuaian dengan
kisaran tekanan 10 hingga 0,1 mbar (1000 hingga 10 kPa) dan suhu antara 75 dan 170 K.[60][63]
Hidrokarbon yang paling melimpah adalah metana, asetilena dan etana dengan rasio
pencampuran sekitar 10−7 relatif pada hidrogen. Rasio pencampuran karbon monoksida sama
pada ketinggian-ketinggian ini.[60][63][65] Hidrokarbon yang lebih berat dan karbon dioksida rasio
pencampurannya sebesar tiga kali lebih rendah.[63] Rasio kelimpahan air adalah sekitar
7×10−9.[64] Etana dan asetilena cenderung berkondensasi bagian bawah stratosfer dan tropopause
yang lebih dingin (di bawah level 10 mBar) membentuk lapisan kabut,[62] yang mungkin
sebagian bertanggungjawab bagi penampilan Uranus yang biasa. Akan tetapi, konsentrasi
hidrokarbon di stratosfer Uranian di atas kabut tersebut rendah sekali dibandingkan dengan
konsentrasi pada stratosfer planet raksasa lain.[60][68]

Lapisan terluar atmosfer Uranian adalah termosfer dan korona, yang suhunya seragam sekitar
800 hingga 850 K.[10][68] Sumber panas yang diperlukan untuk mempertahankan nilai sedemikian
tidak dimengerti, karena baik radiasi UV jauh dan UV ekstrem maupun aktivitas aurora tidak
dapat memberi energi yang diperlukan. Efisiensi pendinginan yang lemah itu yang diakibatkan
kurangnya hidrokarbon di stratosfer di atas level tekanan 0,1 mBar mungkin juga ikut
menyebabkannya.[57][68] Selain hidrogen molekuler, termosfer-korona mengandung bagian besar
atom hidrogen. Massa mereka yang kecil bersama dengan suhu yang tinggi menjelaskan
mengapa korona itu meluas sejauh 50 000 km atau dua jari-jari Uranian dari planet itu.[57][68]
Korona yang meluas ini merupakan fitur Uranus yang unik.[68] Efeknya termasuk gaya hambat
terhadap partikel kecil yang mengorbit Uranus, secara umum menyebabkan berkurangnya debu
pada cincin Uranian.[57] Termosfer Uranian, bersama dengan bagian atas stratosfer, bersesuaian
dengan ionosfer Uranus.[59] Pengamatan menunjukkan bahwa ionosfer tersebut berada pada
ketinggian dari 2 000 sampai 10 000 km.[59] Ionosfer Uranian lebih rapat daripada ionosfer
Saturnus maupun Neptunus, yang mungkin muncul dari konsentrasi rendah dari hidrokarbon di
stratosfer.[68][69] Ionosfer itu dipertahankan terutama oleh radiasi UV Matahari dan kerapatannya
bergantung pada aktivitas Matahari.[70] Aktivitas Aurora di sini kecil dibandingkan dengan pada
Jupiter dan Saturnus.[68][71]
Cincin planet

Cincin-cincin dalam Uranus. Cincin luar yang terang adalah cincin ε, delapan cincin lain juga ada.

Sistem cincin Uranian

Uranus mempunyai sistem cincin planet yang rumit, yang merupakan sistem demikian yang
kedua yang ditemukan di Tata Surya setelah cincin Saturnus.[72] Cincin-cincin tersebut tersusun
dari partikel yang sangat gelap, yang beragam ukurannya dari mikrometer hingga sepersekian
meter.[73] Tiga belas cincin yang berbeda saat ini diketahui, yang paling terang adalah cincin ε
(epsilon). Semua cincin Uranus (kecuali dua) sangat sempit—umumnya mereka lebarnya
beberapa kilometer. Cincin tersebut mungkin cukup muda; pertimbangan dinamis menandakan
bahwa mereka tidak terbentuk bersamaan dengan pembentukan Uranus. Materi di cincin-cincin
itu mungkin dulu adalah bagian dari satu (atau beberapa) satelit yang terpecah oleh tubrukan
berkecepatan tinggi. Dari banyak pecahan-pecahan yang terbentuk sebagai hasil dari tabrakan itu
hanya beberapa partikel yang bertahan dalam jumlah terbatas zona stabil yang bersesuaian
dengan cincin yang ada sekarang.[72][74]

William Herschel mendeskripsikan cincin yang mungkin ada di sekitar Uranus pada 1789.
Penampakan ini umumnya dianggap meragukan, karena cincin-cincin itu cukup redup dan pada
dua abad berikutnya tak satupun yang diketahui oleh pengamat lain. Namun Herschel masih
membuat deskripsi akurat tentang ukuran cincin epsilon, sudut relatifnya terhadap Bumi, warna
merahnya dan perubahannya yang tampak bersamaan dengan Uranus mengitari Matahari.[75][76]
Sistem cincin itu benar-benar ditemukan pada 10 Maret 1977 oleh James L. Elliot, Edward W.
Dunham dan Douglas J. Mink menggunakan Kuiper Airborne Observatory. Penemuan itu
merupakan keberuntungan; mereka berencana menggunakan okultasi bintang SAO 158687 oleh
Uranus untuk mempelajari atmosfer planet itu. Akan tetapi, saat pengamatan mereka dianalisis,
mereka menemukan bahwa bintang itu telah menghilang sebentar dari pandangan lima kali
sebelum dan sesudah ia tidak tampak di balik planet itu. Mereka menyimpulkan bahwa pasti ada
suatu sistem cincin di sekitar planet tersebut.[77] Kemudian mereka mendeteksi empat cincin
tambahan.[77] Cincin-cincin itu langsung dicitrakan saat Voyager 2 lewat dekat Uranus pada
1986.[73] Voyager 2 juga menemukan dua cincin tambahan yang tampak redup sehingga total
jumlahnya menjadi sebelas.[73]

Pada Desember 2005, Teleskop angkasa Hubble mendeteksi sepasang cincin yang sebelumnya
tidak diketahui. Yang terbesar terletak pada dua kali jarak cincin yang telah diketahui dari planet
itu. Cincin-cincin baru ini begitu jauh dari planet tersebut hingga mereka disebut sistem cincin
"luar". Hubble juga melihat dua satelit kecil yang salah satunya, Mab, berbagi orbit dengan
cincin terluar yang baru ditemukan. Cincin-cincin baru ini membuat jumlah keseluruhan cincin
Uranian menjadi 13.[78] Pada April 2006, gambar cincin baru tersebut dengan Observatorium
Keck menghasilkan warna cincin-cincin luar: yang terluar biru dan yang lainnya merah.[79][80]
Satu hipotesis mengenai warna biru cincin luar tersebut adalah bahwa ia terdiri atas partikel kecil
air es dari permukaan Mab yang cukup kecil untuk menghamburkan cahaya biru.[79][81] Kontras
dengan itu, cincin-cincin dalam planet itu tampak abu-abu.[79]

Medan magnet

Medan magnet Uranus seperti dilihat oleh Voyager 2 pada tahun 1986. S dan N adalah kutub selatan
dan utara magnetik.

Sebelum kedatangan Voyager 2, tidak ada pengukuran magnetosfer Uranian yang dilakukan,
sehingga sifatnya tetap jadi misteri. Sebelum tahun 1986, para astronom telah memperkirakan
medan magnet Uranus segaris dengan angin surya , maka karenanya ia akan segaris dengan
kutub planet itu yang terletak di ekliptika.[82]

Pengamatan Voyager' mengungkapkan bahwa medan magnet Uranus aneh, baik karena ia tak
berasal dari pusat geometrik planet tersebut dan karena ia miring 59° dari poros rotasi.[82][83]
Faktanya dwikutub magnetiknya bergeser dari tengah planet itu ke kutub rotasi selatan sejauh
sepertiga radius planet itu.[82] Geometri yang tidak biasa ini menyebabkan magnetosfer yang
sangat tidak simetris, dimana kuat medan magnet pada permukaan di belahan selatan dapat
serendah 0,1 gauss (10 µT), sedangkan di belahan utara kuatnya dapat setinggi 1,1 gauss
(110 µT).[82] Medan rata-rata di permukaan adalah 0,23 gauss (23 µT).[82] Sebagai perbandingan,
medan magnet Bumi kuatnya kira-kira sama pada kedua kutub dan "ekuator magnetik"nya kira-
kira sejajar dengan ekuator geografisnya.[83] Momen dipol Uranus 50 kali momen dipol
Bumi.[82][83] Neptunus juga punya medan magnetik yang bergeser dan miring, menyarankan
bahwa ini mungkin fitur umum raksasa es.[83] Satu hipotesis ialah bahwa, tidak seperti medan
magnet planet kebumian dan raksasa gas, yang dibangkitkan dalam inti mereka, medan magnet
raksasa es dibangkitkan oleh gerakan pada kedalaman yang relatif dangkal, contohnya, di lautan
air–amonia.[51][84]

Meskipun penjajarannya mengundang keingintahuan, dalam segi lain magnetosfer Uranian mirip
seperti planet lain: ia memiliki kejutan busur yang berlokasi 23 radius Uranian darinya,
magnetopause pada 18 jari-jari Uranian, ekor magnetofer yang terbentuk penuh, serta sabuk
radiasi.[82][83][85] Secara keseluruhan, struktur magnetosfer Uranus berbeda dari Jupiter dan lebih
mirip dengan Saturnus.[82][83] Ekor magnetosfer Uranus memanjang di balik planet itu ke luar
angkasa sejauh jutaan kilometer dan terpuntir oleh rotasi menyamping planet itu menjadi seperti
pembuka tutup botol yang panjang.[82][86]

Di magnetosfer Uranus terdapat partikel bermuatan: proton dan elektron dengan sejumlah kecil
ion H2+.[83][85] Tidak ada ion yang lebih berat yang terdeteksi. Banyak partikel ini mungkin
berasal dari korona atmosfernya yang panas.[85] Energi ion dan elektron masing-masing bisa
setinggi 4 dan 1,2 megaelektronvolt.[85] Kerapatan ion berenergi rendah (di bawah
1 kiloelektronvolt) di magnetosfer dalam adalah sekitar 2 cm−3.[87] Populasi partikel ini sangat
dipengaruhi oleh satelit-satelit Uranus yang melalui magnetosfer itu meninggalkan celah-celah
yang dapat diketahui.[85] Fluks partikelnya cukup tinggi untuk menyebabkan penggelapan atau
pencuacaan angkasa dari permukaan satelit dalam skala waktu yang secara astronomis cepat
100.000 tahun.[85] Ini mungkin penyebab dari warna satelit-satelit dan cincin-cincinnya yang
gelap seragam.[74] Uranus mempunyai aurora yang terbentuk dengan baik, yang terlihat sebagai
busur yang terang di sekitar kedua kutub magnetik.[68] Namun, tidak seperti pada Jupiter, Uranus
auroranya tampak tidak penting bagi keseimbangan energi termosfer planetnya.[71]

Iklim

Belahan selatan Uranus dalam warna yang kira-kira alami (kiri) dan pada panjang gelombang yang lebih
tinggi (kanan), menunjukkan pita-pita awannya yang redup dan "tudung" atmosfer seperti
dilihat oleh wahana Voyager 2

Pada panjang gelombang ultraviolet dan cahaya tampak, atmosfer Uranus tampak biasa sekali
dibandingkan dengan raksasa gas lain, bahkan dengan Neptunus, yang sangat mirip dengannya
dari segi lain.[52] Saat Voyager 2 terbang mendekati Uranus pada 1986, ia mengamati total 10
fitur awan di seluruh bagian planet itu.[73][88] Satu penjelasan yang diajukan atas kurangnya fitur
ini adalah bahwa panas internal Uranus tampak jelas lebih rendah daripada panas internal planet-
planet raksasa lain. Suhu terendah yang tercatat di tropopause Uranus adalah 49 K, menjadikan
Uranus planet terdingin dalam Tata Surya, lebih dingin daripada Neptunus.[10][54]

Struktur berpita, angin dan awan

Kecepatan angin zona di Uranus. Daerah yang diberi bayangan menunjukkan kerah selatan dan
pasangan utaranya nanti. Kurva merah adalah penyesuaian simetris terhadap data itu.

Pada 1986 Voyager 2 menemukan bahwa belahan selatan Uranus yang terlihat dapat dibagi
menjadi dua daerah: kap kutub yang terang dan pita ekuator yang gelap (lihat gambar di
kanan).[73] Perbatasan mereka terletak pada sekitar −45° garis lintang. Suatu pita sempit yang
menempati kisaran garis lintang dari −45 sampai −50° merupakan fitur besar paling terang pada
permukaan kentara planet Uranus.[73][89] Ia disebut "kerah" selatan. Kap dan kerah tersebut
diduga sebagai daerah yang rapat dari awan metana yang terletak dalam kisaran tekanan 1,3
sampai 2 bar (lihat atas).[90] Namun sayang Voyager 2 tiba selama tinggi musim panas planet itu
dan tidak bisa mengamati belahan utara. Akan tetapi, pada permulaan abad kedua puluh satu,
saat daerah kutub utara terlihat, Teleskop angkasa Hubble dan Keck tidak mengamati ada kerah
maupun kap di belahan utara.[89] Jadi Uranus kelihatannya asimetris: terang dekat kutub selatan
dan gelap seragam di daerah di utara kerah selatan.[89] Selain struktur berpita skala besar,
Voyager 2 mengamati sepuluh awan terang kecil, kebanyakan letaknya beberapa derajat ke utara
dari kerah itu.[73] Dalam semua segi lain Uranus terlihat seperti planet yang mati dinamis pada
tahun 1986.
Bintik gelap pertama yang diamati di Uranus. Gambar didapat oleh ACS pada HST pada 2006.

Namun pada tahun 1990-an, jumlah fitur awan terang yang teramati meningkat pesat sebagian
karena teknik pencitraan resolusi tinggi yang baru menjadi tersedia.[52] Mayoritas mereka
ditemukan di belahan utara Uranus saat ia mulai kelihatan.[52] Penjelasan mula-mula—bahwa
awan-awan terang itu lebih mudah diidentifikasi di bagian gelap planet tersebut, sedangkan di
belahan selatan kerah terangnya menutupi mereka—ditunjukkan tidak benar: banyak sebenarnya
fitur-fitur itu memang meningkat pesat.[91][92] Namun, ada perbedaan antara awan-awan di tiap
belahan planet itu. Awan-awan di utara lebih kecil, lebih tajam dan lebih terang.[92] Tampaknya
mereka terletak pada tempat yang lebih tinggi.[92] Awan-awan itu masa hidupnya beragam.
Beberapa awan kecil bertahan beberapa jam, sementara sedikitnya satu awan selatan mungkin
telah ada sejak terbang dekatnya Voyager.[52][88] Pengamatan terbaru juga menemukan bahwa
fitur awan di Uranus punya banyak persamaan dengan yang ada di Neptunus.[52] Sebagai contoh,
bintik-bintik gelap yang umum terdapat di Neptunus tidak pernah diamati di Uranus sebelum
tahun 2006, saat fitur demikian yang pertama dicitrakan.[93] Diperkirakan bahwa Uranus menjadi
lebih mirip Neptunus selama musim ekuinoksnya.[94]

Pelacakan banyak fitur-fitur awan memungkinkan penentuan angin zona yang berhembus di
troposfer atas Uranus.[52] Di ekuator arah angin adalah retrograd, yang artinya bahwa mereka
berhembus ke arah sebaliknya dari rotasi planet itu. Kecepatan mereka dari −100 hingga
−50 m/s.[52][89] Kecepatan angin meningkat dengan jarak dari ekuator, mencapai nilai nol pada
garis lintang dekat ±20°, dimana suhu troposfer minimum berada.[52][53] Dekat kutub-kutubnya,
angin berganti arahnya menjadi prograd, mengalir searah dengan rotasi planetnya. Kecepatan
angin terus meningkat mencapai nilai maksimanya pada garis lintang ±60° sebelum jatuh ke nol
di kutub.[52] Kecepatan angin pada garis lintang −40° berkisar dari 150 hingga 200 m/s. Karena
kerah di situ mengaburkan semua awan di bawah paralel itu, kecepatan yang ada di antaranya
dan kutub selatan tidak mungkin diukur.[52] Kontras dengan itu, di belahan utaranya kecepatan
angin maksimum setinggi 240 m/s diamati dekat garis lintang +50°.[52][89][95]

Variasi musim
Uranus pada 2005. Cincin-cincin, kerah selatan dan sebuah awan terang di belahan utara terlihat.

Untuk periode singkat dari Maret hingga Mei 2004, sejumlah awan besar muncul di atmosfer
Uranian, memberinya penampilan yang mirip Neptunus.[92][96] Pengamatan-pengamatan
termasuk kecepatan angin pemecah rekor 229 m/s (824 km/jam) badai petir yang bertahan lama
yang disebut sebagai "Fourth of July fireworks" ("kembang api empat Juli") .[88] Pada tanggal 23
Augustus, 2006, peneliti-peneliti di Space Science Institute (Boulder, CO) dan University of
Wisconsin mengamati sebuah bintik gelap di permukaan Uranus, memberi para astromon
pengetahuan lebih terhadap aktivitas atmosfer planet tersebut.[93] Sebab kenaikan aktivitas secara
tiba-tiba ini mesti terjadi tidak sepenuhnya diketahui, tetapi tampak bahwa kemiringan sumbu
Uranus yang ekstrem menyebabkan variasi musim yang ekstrem pada cuacanya.[43][94]
Menentukan sifat variasi musim ini adalah sulit karena data yang baik tentang atmosfer ini telah
ada kurang dari 84 tahun, atau satu tahun Uranian penuh. Sejumlah penemuan telah dibuat.
Fotometri selama masa setengah tahun Uranian (mulai pada tahun 1950-an) menunjukkan variasi
yang beraturan dalam kecerahan pada dua pita spektrum, dengan nilai maksimal terjadi saat
soltis dan nilai minimal saat ekuinoks.[97] Variasi periodik yang mirip, dengan nilai maksimal
saat soltis, telah diketahui dalam pengukuran gelombang mikro dari troposfer dalam yang
dimulai tahun 1960-an.[98] Pengukuran suhu stratosfer yang dimulai tahun 1970-an juga
menunjukkan nilai minimum dekat soltis 1986.[67] Mayoritas variabilitas ini dipercaya terjadi
karena perubahan dalam geometri pengamatan.[91]

Akan tetapi ada beberapa alasan untuk dipercaya bahwa perubahan-perubahan musim fisik
terjadi di Uranus. Sementara planet tersebut diketahui memiliki daerah kutub selatan yang
terang, kutub utaranya cukup redup, yang tidak cocok dengan model perubahan iklim yang
diuraikan di atas.[94] Selama solstis utara sebelumnya tahun 1944, Uranus menampilkan kenaikan
tingkat kecemerlangan, yang menyarankan bahwa kutub utara tidaklah selalu gelap sekali.[97]
Informasi ini menandakan bahwa kutub yang terlihat menjadi terang pada suatu waktu sebelum
solstis dan mejadi gelap setelah ekuinoks.[94] Analisis terperinci data cahaya tampak dan
gelombang mikro mengungkapkan bahwa perubahan terang yang berkala itu tidak sepenuhnya
simetris di sekitar waktu solstis, yang juga menandakan suatu perubahan pada pola-pola albedo
meridional.[94] Akhirnya pada 1990-an, bersamaan dengan Uranus meninggalkan solstisnya,
Teleskop Hubble dan teleskop permukaan Bumi mengungkapkan bahwa kap kutub selatan
menjadi gelap dengan jelas (kecuali kerah selatan, yang tetap terang),[90] sementara belahan
utaranya menunjukkan aktivitas yang meningkat,[88] seperti pembentukan awan dan angin yang
lebih kencang, menguatkan perkiraan bahwa ia akan segera menjadi terang.[92]

Mekanisme perubahan-perubahan fisik itu masih tidak jelas.[94] Berdekatan dengan solstis musim
panas dan musim dingin, belahan-belahan Uranus terletak secara bergantian pada penyinaran
penuh Matahari atau menghadap angkasa jauh. Menjadi terangnya belahan yang disinari
Matahari itu dipekirakan hasil dari penebalan lokal awan dan kabut metana yang terletak
troposfer.[90] Kerah yang terang pada garis lintang −45° juga berhubungan dengan awan-awan
metana.[90] Perubahan-perubahan lain di daerah kutub selatan dapat dijelaskan oleh perubahan-
perubahan pada lapisan awan rendah.[90] Variasi pancaran gelombang mikro dari planet itu
mungkin disebabkan oleh suatu perubahan pada sirkulasi troposfer dalam, karena awan dan
kabut yang tebal mungkin menghambat konveksi.[99] Sekarang dengan sedang tibanya ekuinoks
musim semi dan musim gugur di Uranus, dinamikanya juga berubah dan konveksi dapat
berlangsung lagi.[88][99]

Pembentukan
Artikel utama: Pembentukan dan evolusi Tata Surya

Banyak yang berargumen bahwa perbedaan antara raksasa es dengan raksasa gas berlanjut pada
pembentukan mereka.[100][101] Tata Surya dipercaya terbentuk dari bola gas dan debu raksasa
yang berotasi yang dikenal sebagai nebula pramatahari. Sebagian besar gas nebula itu, terutama
hidrogen dan helium, membentuk Matahari, sementara butiran debu berkumpul bersama
membentuk protoplanet pertama. Saat planet-planet tersebut tumbuh, beberapa dari mereka
akhirnya mengumpulkan cukup materi untuk gravitasi mereka untuk menarik gas nebula itu yang
ditinggalkan.[100][101] Semakin banyak gas yang mereka tarik, mereka menjadi semakin besar;
semakin besar mereka, semakin banyak gas yang mereka tarik sampai titik kritis tercapai dan
ukuran mereka mulai meningkat secara eksponensial. Raksasa-raksasa es, dengan gas nebular
hanya bermassa beberapa kali Bumi, tidak pernah mencapai titik kritis itu.[100][101][102] Simulasi
terbaru migrasi planet menyarankan bahwa kedua raksasa es itu terbentuk lebih dekat kepada
Matahari daripada posisi mereka sekarang dan bergerak ke arah luar setelah pembentukannya,
satu hipotesis yang terperinci dalam model Nice.[100]

Satelit

Satelit utama Uranus dibandingkan, pada ukuran relatif mereka yang sesuai (gabungan foto Voyager 2)
Sistem Uranus. Kredit ESO

Uranus memiliki 27 satelit alam yang telah diketahui.[102] Nama bagi satelit-satelit ini dipilih dari
karakter karya Shakespeare dan Alexander Pope.[50][103] Lima satelit utamanya adalah Miranda,
Ariel, Umbriel, Titania dan Oberon.[50] Sistem satelit Uranian adalah yang paling kurang masif di
antara raksasa gas; memang, massa gabungan kelima satelit utamanya itupun hanya kurang dari
setengah massa Triton.[7] Satelit yang terbesar, Titania, radiusnya hanya 788,9 km, atau kurang
dari setengah jari-jari Bulan, tetapi sedikit lebih besar daripada Rhea, satelit kedua terbesar
Saturnus, menjadikan Titania satelit berukuran terbesar kedelapan dalam Tata Surya. Satelit itu
memiliki albedo yang relatif rendah; berkisar dari 0,20 untuk Umbriel hingga 0,35 untuk Ariel
(dalam cahaya hijau).[73] Satelit itu merupakan kumpulan es-batu yang kira-kira terdiri lima
puluh persen es dan lima puluh persen batu. Es itu mungkin termasuk amonia dan karbon
dioksida.[74][104]

Di antara satelit-satelit itu, Ariel tampak memiliki pemukaan termuda dengan kawah tabrakan
paling sedikit, sedangkan Umbriel tampaknya yang tertua.[73][74] Miranda memiliki ngarai
patahan sedalam 20 kilometer, lapisan-lapisan berpetak dan variasi yang kacau dalam umur dan
fitur permukaan.[73] Aktivitas geologis Miranda pada masa lalu dipercaya didorong oleh
pemanasan pasang-surut pada suatu ketika saat orbitnya lebih eksentrik daripada sekarang,
mungkin hasil dari resonansi orbital dengan Umbriel yang dulu ada.[105] Proses perenggangan
yang diasosiasikan dengan diapir yang naik mungkin merupakan asal dari korona-korona yang
mirip 'lintasan balap' di satelit itu.[106][107] Sama dengan itu, Ariel dipercaya pernah berada dalam
resonansi 4:1 dengan Titania.[108]
Eksplorasi

Foto Uranus yang diambil dari Voyager 2 saat ia menuju Neptunus

Pada 1986, wahana Voyager 2 milik NASA mengunjungi Uranus. Kunjungan ini adalah satu-
satunya usaha untuk menginvestigasi planet itu dari jarak dekat dan tidak ada kunjungan lain
yang direncanakan untuk saat ini. Diluncurkan pada tahun 1977, jarak Voyager 2 paling dekat ke
Uranus pada tanggal 24 Januari 1986, berada dalam 81 500 kilometer puncak awan planet
tersebut, sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Neptunus. Voyager 2 mempelajari struktur
dan komposisi kimia atmosfernya,[59] menemukan 10 satelit dan mempelajari cuaca unik planet
itu yang disebabkan kemiringan sumbunya yang 97,77°; dan memeriksa sistem cincinnya.[73][109]
Ia juga mempelajari medan magnetnya, struktur tidak beraturannya, kemiringannya dan ekor
magnetosfer "pembuka tutup botol"nya yang unik yang disebabkan orientasi Uranus yang
menyamping.[82] Ia melakukan investigasi terperinci pertama dari lima satelit terbesarnya dan
mempelajari semua cincin sistem itu yang diketahui yang banyaknya sembilan dan menemukan
dua cincin yang baru.[73][74]