Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri. Manusia


membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya seperti berinteraksi satu
sama lain. Salah satu bentuk interaksi manusia adalah komunikasi. Komunikasi
adalah proses pertukaran informasi dari satu individu ke individu lainnya yang lahir
dari respons antara dua atau lebih ketika mereka mengirim dan menerima stimuli dan
pesan, yang mencakup komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal.
(Fundamental Keperawatan. 2007. 4th ed).

Dalam keperawatan, komunikasi merupakan inti dari setiap tahapan asuhan


keperawatan. Dalam asuhan keperawatan, perawat akan menghadapi berbagai jenis
klien dari latar belakang yang berbeda. Segala bentuk perbedaan ini dapat menjadi
hambatan dalam berkomunikasi. Untuk menyelesaikan segala hambatan dalam
berinteraksi, perawat harus menguasai konsep dari komunikasi itu sendiri, serta
strategi yang tepat dalam melakukan hubungan antara perawat dengan klien yang
saling menguntungkan.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka hal yang dirumuskan antara lain :
1. Bagaimana konsep komunikasi secara umum?
2. Bagiamana strategi komunikasi yang tepat digunakan dalam pemicu
satu?
3. Apa saja komponen dalam hubungan terapeutik yang diperlukan bila
ditinjau dari pemicu satu?
4. Dari pemicu satu, apa saja hambatan yang dihadapi perawat A dalam
berkomunikasi dengan Ny.S?
5. Sesuai pemicu satu, model komunikasi apakah yang tepat digunakan
oleh perawat A ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1
1. Mampu mendefinisikan konsep umum komunikasi.
2. Mampu mendefinisikan hubungan terapeutik klien- perawat.
3. Mengenal beberapa model struktur komunikasi.
4. Mampu mendefinisikan hambatan dalam berkomunikasi.
5. Mampu menerapkan strategi komunikasi dalam implementasi asuhan
keperawatan.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam memperoleh informasi adalah metode
Problem Solve Learning (PBL). Mengkaji pemicu satu setelah itu membuat hipotesis
penyebab dari pemicu satu yang menghasilkan beberapa pertanyaan. Kemudian setiap
anggota kelompok diberi tugas mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Pada
pekan kedua, setiap anggota kelompok berbagi informasi sesuai materi yang
ditugaskan. Pada akhir sesi pekan kedua, kelompok berdiskusi mencari solusi dari
pemicu satu.

E. Sistematika Penulisan
Makalah ini dibuat dengan sistematika sebagai berikut.
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Penulisan
E. Sistematika Penulisan

BAB II Tinjauan Pustaka


A. Konsep Umum Komunikasi
B. Hubungan Terapeutik Perawat-klien
C. Tahapan dan Strategi Komunikasi
D. Model Struktur Komunikasi
E. Hambatan dalam Komunikasi
BAB III Pembahasan
BAB IV Penutup

2
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
KONSEP KOMUNIKASI KEPERAWATAN

A. Konsep Umum Komunikasi

Secara etimologi, komunikasi berasal dari bahasa Latin “Communis” yang


berarti sama atau menjadikan milik bersama. Sedangkan secara terminologi
komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan atau proses pertukaran ide,
perasaan, dan pikiran antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk terjadinya

3
perubahan sikap dan tingkah laku serta penyesuaian yang dinamis antara orang-orang
yang terlibat dalam komunikasi.

Berikut pengertian komunikasi dari beberapa pendapat para ahli.

Haber (1987), komunikasi adalah suatu proses di mana informasi ditransmisikan


melalui sebuah sistem oleh simbol, tanda, atau prilaku yang umum.
Taylor, et.al. (1993), komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi atau
prosespemberian arti sesuatu.
Jane (1994), komunikasi merupakan proses yang sedang berlangsung, seri dinamis
dari kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan dari pengirim pesan ke penerima
pesan.

Komunikasi terjadi pada tingkat intrapersonal, interpersonal, dan umum.


Komunikasi interpersonal di dalam diri sendiri, merupakan model bicara seorang diri
atau dialog internal yang terjadi secara konstan dan tanpa disadari. Sedangkan
komunikasi internal adalah interaksi antara dua orang atau di dalam kelompok kecil.
Serta komunikasi umum adalah interaksi dengan sekumpulan orang dalam jumlah
yang besar.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa


elemen dasar dalam proses komunikasi antara lain :

1. Referen, yaitu stimulus memotivasi seseorang untuk berkomunikasi dengan


orang lain yang berupa objek, pengalaman, emosi, ide, atau tindakan.
2. Pengirim atau encoder, yaitu orang yang memprakarsai pesan atau komunikasi
interpersonal
3. Pesan, adalah informasi yang dikirim atau diekspresikan oleh pengirim.
4. Saluran (channel), yaitu untuk membawa pesan seperti melalui sarana visual,
pendengaran, dan taktil.
5. Penerima atau decoder, adalah orang yang menerima pesan yang dikirimkan.
6. Respons, tanggapan balik atau dapat membantu untuk mengungkapkan apakah
makna dari pesan yang disampaikan.

4
Bentuk komunikasi ada dua, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi
nonverbal. Komunikasi verbal meliputi kata-kata yang diucapkan maupun yang
ditulis yang digunakan untuk mengekspresikan ide atau perasaan, atau menimbulkan
respons emosional. Sedangkan komunikasi nonverbal adalah adalah transmisi pesan
tanpa menggunakan kata-kata, dan merupakan salah satu cara yang terkuat bagi
seseorang untuk mengirimkan pesan kepada orang lain, sebab gerakan tubuh memberi
makna yang lebih jelas dari pada kata-kata.

Komunikasi dalam ilmu keperawatan dikenal dengan istilah komunikasi


terapeutik, adalah proses di mana perawat yang menggunakan pendekatan terencana
mempelajari klien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang mampu
memberikan dampak terapi terhadap klien. Komunikasi terapeutik mengembangkan
hubungan interpersonal antara perawat dengan klien demi meningkatkan status
kesehatan klien tersebut. Menurut Northouse (1998: 12), komunikasi terapeutik
adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi
terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan
dengan orang lain. Agar mampu mengaplikasikan komunikasi secara terapeutik
seorang psikolog Carl Rogers memperkenalkan prinsip-prinsip ataupun konsep dalam
berkomunikasi, yaitu sebagai berikut:

1. Perawat sebagai tenaga kesehatan harus menguasai perasaannya sendiri


2. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan konsisten
3. Perawat harus paham akan arti empati
4. Perawat harus jujur dan berkomunikasi secara terbuka
5. Perawat harus dapat berperan sebagai role model
6. Mampu mengekspresikan perasaan
7. Altruisme (panggilan jiwa) untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong
orang lain
8. Berpegang pada etika
9. Tanggung jawab

B. Hubungan Terapeutik Perawat- Klien

Hubungan terapeutik antara perawat dengan klien merupakan hubungan


timbal balik yang saling menguntungkan. Parameter hubungan terapeutik berfokus

5
pada tugas perawat untuk menentukan peran, tujuan, dan masalah dari klien. Ada hal
–hal yang harus perawat perhatikan saat hendak berinteraksi dengan klien. Sikap
merupakan hal terpenting bagi perawat dalam berkomunikasi terapeutik. Hendaknya
seorang perawat memperhatikan gerakan tubuh, jarak untuk berinteraksi, sentuhan,
diam, serta volume dan nada suara yang digunakan untuk berkomunikasi. Gerakan
tubuh dalam berkomunikasi sebaiknya jangan melipat tangan, tersenyum, kontak
mata dengan klien, tidak menyilangkan kaki, tidak memasukan tangan ke dalam
kantong, dan sedikit membungkuk. Selain itu terdapat batasan arak yang digunakan
dalam berkomunikasi dengan klien, seperti jarak intim sekitar 50 cm, jarak pribadi
50-120 cm, jarak konsultasi sosial 265-365 cm. Ada juga sentuhan yang digunakan
perawat misalnya tepuk tangan, bersalaman, menepuk bahu, dan mengangkat jempol.
Sikap diam perawat juga komunikasi yang bermakna bagi klien seperti
mendengarkan aktif disertai kontak mata.

Komunikasi perawat dengan klien hendaknya dapat membina hubungan


saling percaya, berempati, menerima, dan bersifat positif. Sikap saling percaya
sangat dibutuhkan oleh kedua belah pihak agar tebina hubungan yang baik sehingga
dapat memecahkan masalah klien. Perawat harus mampu menciptakan sikap empati
terhadap masalah klien, seperti menempatkan diri terhadap posisi klien, bukan berarti
perawat memiliki pengalaman yang sama dengan klien, tetapi mendengarkan dan
merasakan situasi tersebut bagi klien, membayangkan perasaan klien tentang
pengalaman klien. Selain itu perawat juga harus mempunyai sikap penerima. Sikap
menerima dibutuhkan oleh seorang perawat, perawat menerima individu sebagai
orang yang berguna. Perawat menunjukan sikap yang menerima klien akan merasa
utuh walaupun tetap menyampaikan bahwa perilakunya tidak dapat dterima. Bersikap
positif terhadap apa saja yang dikatakan dan disampaikan lewat komunikasi
nonverbal sangat penting baik dalam membina hubungan saling percaya maupun
dalam membuat rencana tindakan bersama klien. Bersikap positif ditunjukkan dengan
bersikap hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien.

6
Di samping itu, ada sikap yang harus dihindari dalam membina hubungan
terapeutik antara lain batasan yang tidak tepat, terlalu bersimpati, serta sikap tidak
menerima. Perawat tetap bersikap hangat dan empati tetapi, tidak boleh berupaya
menjadi teman klien. Salah satu contoh tindakan yang melampaui batasan ialah
perawat memanggil kliennya dengan “sweety” hal tersebut sudah melampaui batasan.
Hendaknya perawat tetap mempertahankan batasan profesionalnya. Perawat juga
tidak diperbolehkan untuk terlalu bersimpati kepada kliennya. Perawat tidak boleh
membiarkan perasaan empatinya berubah menjadi simpati. Ketika perawat
memperlihatkan perilaku simpati, klien akan mudah untuk memanipulasi perasaan
perawat tersebut. Keadaan ini dapat menghambat klien untuk mengeksplorasi
masalah, pikiran, dan perasaannya sehinga dapat menghambat pertumbuhan kliennya.
Perawat harus mengetahui latar belakang dan perilaku klien sebelum memulai
hubungan. Apabila perawat belum mengetahui perilaku dan latar belakang klien
perawat bisa mempunyai rasa tidak suka terhadap perilaku kliennya tersebut.
Perasaan tidak suka tersebut menunjukan sikap tidak menerima dari seorang perawat
kepada kliennya. Karena ketidaksukaannya perawat mungkin memperlihatkan
perasaan tersebut dengan menghindar, atau berespon secara verbal atau ekspresi
wajah yang menunujukan kejengkelan dan penolakan terhadap klien.

Dalam membina hubungan terapeutik perawat juga perlu menganalisis diri.


Kesadaran dan perkembangan diri perawat perlu ditingkatkan agar dalam penggunaan
diri secara terapeutik lebih efektif. Jendela Johari merupakan alat yang digunakan
untuk memepelajari lebih banyak tentang diri sendiri (Luft, 1970). Dalam jendela
Johari membagi individu dalam empat area dan mengindikasikan seberapa baik
individu mengenal dirinya sendiri dan berkomunikasi dengan orang lain. Empat area
tersebut antara lain, sebagai berikut.

Kuadran 1 : Pribadi yang umum/terbuka: individu mengetahui kualitas dirinya sendiri


dan orang lain juga mengetahuinya.
Kuadran 2 : Pribadi yang buta/ tidak sadar: kualitas hanya diketahui oleh orang lain.
Kuadran 3: Pribadi yang tersembunyi/ tersendiri: kualitas hanya diketahui oleh diri
sendiri.

7
Kuadran 4 : Tidak diketahui : kuadran kosong yang menunjukan kualitas yang sampai
saat ini tidak diketahui oleh diri sendiri ataupun orang lain.

C. Tahapan dan Strategi Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dan Klien

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur yang terdiri


dari empat tahap yaitu fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.
Dimana setiap fase terdapat strategi yang harus dilakukan oleh perawat pada saat
melakukan komunikasi terpeutik dengan klien agar komunikasi tersebut dapat
berjalan sesuai dengan harapan.

1. Fase pra-interaksi, merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan


berkomunikasi dengan klien. Pada fase ini perawat melakukan pengkajian terhadap
dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Perawat mencari
informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan, perawat
membuat strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tujuan dalam fase ini
mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat
sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan klien. Pada saat perawat merasa
cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan
baik (Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active
listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).

2. Fase orientasi atau perkenalan, merupakan fase yang dilakukan perawat


pada saat pertama kali bertemu dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap
kali perawat dan pasien mengadakan pertemuan dengan klien. Tujuan dalam tahap ini
adalah memastikan keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan
keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.G.W,
1998). Selama fese ini perawat mulai membangun rasa saling percaya dengan klien.
Dibutuhkan beberapa sesi pertemuan sampai klien yakin bahwa perawat dapat
dipercaya. Apabila hubungan dimulai dengan awal yang positif, hubungan tersebut
lebih cendrung berhasil dan mencapai tujuan yang ditetapkan (Forchuk,1994a,b).

8
Selain itu pada fase ini juga dikenal kontrak perawat-klien yaitu suatu bentuk
tanggung jawab yang harus disepakati perawat-klien dan hal ini sangat penting bagi
perawat untuk menjelaskan tanggung jawab perawat-klien. Kontrak tersebut harus
berisi : waktu, tempat, lama sesi pertemuan, kapan sesi pertemuan berakhir, siapa
yang terlibat dalam rencana terapi, tanggung jawab klien yang tiba, selesai tepat
waktu, dan tanggung jawab perawat yang tiba, selesai tepat waktu, menjaga
kerahasiaan, mengevaluasi dan mendokumentasikan sesi pertemuan.

3. Fase kerja, merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait
erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada fase ini dibagi menjadi dua subfase :
identifikasi masalah yaitu ketika klien mengidentifikasi kekhawatiran yang
menyebabkan masalah, dan eksploitasi yaitu ketika perawat memandu klien mengkaji
perasaan dan responnya untuk yang lebih positif serta mendorong perubahan prilaku
yang lebih mandiri. Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi
terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung
klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa
respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh
klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh
perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang
sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.
Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya
dengan klien.

4. Fase terminasi, merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Fase ini
dimulai ketika masalah selesai dan berakhir ketika hubungan tersebut berakhir. Jika
klien mencoba membuka kembali isu lama yang telah teratasi, perawat harus
menghindari perasaan sesi pertama seolah-olah tidak berhasil.

Tahap terminasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir
(Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan perawat

9
dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali
pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati
bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan
seluruh proses keperawatan.

Menurut Kozier et. All (1991) ada beberapa teknik dalam komunikasi terapeutik,
antara lain:

1. Attentive Listening (mendengarkan dengan penuh perhatian).


2. Paraphrasing (Pernyataan ulang).
3. Mengklarifikasi.
4. Menggunakan pernyataan dan pertanyaan terbuka, dengan contoh
kalimatnya adalah “ saya ingin mendengar tentang…” atau “ceritakan pada
saya tentang…”.
5. Fokus
6. Being specific, tentative dan informative.
7. Dengan sentuhan.
8. Diam.
9. Providing general leads,dengan pengertian bahwa seorang perawat
menganjurkan kliennya untuk bercerita dan pada waktu yang sama memilih
topik percakapan.
10. Summarizing (Meringkas). merupakan poin utama setelah sesi percakapan
dan diskusi terjadi. Teknik ini merupakan tahap awal untuk pelaksanaan
asuhan yang akan datang.

D. Model-Model Struktur Komunikasi

Menurut Effendy (2003) teori dan model komunikasi yang tampil pada tahun
awal sekitar dekade 1940-an dan 1950-an adalah sebagai berikut :

1. Dance's Helical Model


Helix adalah suatu bentuk yang melingkar dan semakin membesar. Hal ini
menunjukkan komunikasi bergerak serta mengalami kemajuan dengan pusat
perhatian dan fakta. Dance menganggap proses komunikasi itu bersifat dinamik.

10
2. Newcomb’s ABX Model
Model ini berkaitan dengan interaksi manusia, misalnya dalam kegiatan
komunikasi sehari-hari. Jadi, komunikasi dari model ini merupakan cara yang
biasa dan efektif dimana orang mengorientasikan dirinya terhadap
lingkungannya.

3. The Theory of Cognitive Dissonance

Disonansi kognitif adalah perasaan tidak nyaman seseorang akibat sikap dan
pemikiran karena ketidaksesuaian kognisi. Solusinya dengan pemikiran terbuka
dan mengubah persepsi. Teori ini dipelopori oleh Leon Festinger.

4. Innoculation Theory
Nama lainnya adalah Teori Suntikan dikemukakan oleh Mcguire. Beliau
menanalogikan komunikasi dengan peristiwa medis. Seseorang yang tidak diberi
suntikan vaksin cacar suatu hari nanti akan mengalami penyakit cacar.
Begitupula dengan seseorang yang tidak mengetahui suatu informasi akan mudah
dipersuasi atau dibujuk tanpa memikirkan resiko dari apa yang diikutinya.
Solusinya adalah dengan "menyuntikan" argumen balasan.

5. The Bullet Theory of Communication (Teori Peluru)


a. Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis, merupakan proses
komunikasi berdasarkan penangkapan pesan yang dilakukan dengan
menggunakan panca indra.

b. Teori Komunikasi Relasional. Gregory Bateson mengemukan dua


proposisi yang mendasari teorinya. Pertama, setiap komunikasi yang bersifat
relasional membawa dua pesan, yakni pesan “report” menyangkut isi komunikasi
dan pesan “command” menyangkut pernyataan mengenai hubungan. Kedua,
hubungan-hubungan yang dicirikan oleh komplementaris, perilaku diikuti bentuk
anonimnya, misalnya perilaku dominan dijawab dengan kepatuhan, dan simetri,
perilaku seseorang yang menentang.

11
c. Biologi Komunikasi dalam Pembelajaran. Pendekatan biologi ilmu
komunikasi memulai studinya aspek-aspek hayati pada diri manusia misalnya,
kondisi otak, telinga, mata, dan mulut (lidah dan bibir untuk komunikasi verbal),
sedangkan pendekatan psikologi memulai dengan studi terhadap perilaku
individu manusia.

E. Hambatan dalam Berkomunikasi

Dalam asuhan keperawatan, komunikasi merupakan elemen penting yang


perlu diperhatikan setiap perawat. Dengan cara berkomunikasi yang baik , efektif dan
benar, seorang perawat mampu membantu klien dalam mengatasi permasalahannya.
Selain itu, klien juga dapat mengerti dan dapat mengaplikasikan segala anjuran
perawat untuk merawat dirinya sendiri dalam rangka pencegahan penyakit secara
dini. Namun, dalam berkomunikasi banyak ditemukan kendala yang dapat
mengurangi informasi yang disampaikan. Beberapa hambatan yang sering ditemui
dalam berkomunikasi antara lain :

1. Bahasa. Bahasa menjadi faktor terpenting dalam proses komunikasi. Perbedaan


bahasa dapat menyebabkan kesalahan dalam mendefinisikan suatu kata atau term.
2. Budaya. Pantangan sebagai seorang perawat beranggapan bahwa setiap klien
memiliki filosofi, gaya hidup dan adat istiadat yang sama dengan kita. Sesuai prinsip
transkultural dalam keperawaran, perawat tidak boleh menyamaratakan teknik
komunikasi pada setiap klien karena setiap klien mempunyai cara yang berbeda
dalam menyelesaikan permasalahannya.
3. Kendala fisik menyebabkan ketidakmampuan berbicara dengan benar sehingga
artikulasi yang kurang jelas atau tidak mampu menemukan kosakata.
Ketidakseimbangan neurologis seperti autism dapat menghambat perkembangan
kemampuan berbicara. Oleh karena itu, perlu dibantu dengan penggunaan alat dalam
berkomunikasi seperti papan tulis, computer atau komunikasi non verbal seperti
bahasa isyarat.

12
4. Kendala psikologis. Penyakit psikologis seperti psikosis atau depresi dapat
mempengaruhi kelancaran berkomunikasi. Klien mengungkapkan sesuatu dengan
maksud yang kurang jelas atau samar-samar, yang membuat perawat kurang mengerti
maksud klien.
5. Persepsi. Persepsi adalah pandangan seseorang terhadap suatu kejadian, sehingga
setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang suatu kejadian. Persepsi
terbentuk dari sesuatu yang dilihat, dirasakan, diharapkan maupun pengalaman
individu.
6. Motivasi. Dalam berkomunikasi, keadaan setiap orang berbeda-beda. Beberapa
pendengar atau klien mungkin tidak termotivasi untuk mendengarkan informasi yang
perawat berikan. Tergantung motivasi klien, apakah ingin mendengarkannya atau
tidak.
7. Pengalaman. Pengalaman setiap orang berbeda-beda. Pengalaman mempengaruhi
konsep berfikir serta persepsi seseorang terhadap sesuatu.
8. Emosi. Emosi merupakan perasaan subjektif seseorang terhadap suatu kejadian.
Emosi mempengaruhi kesuksesan seseorang dalam menerima pesan yang
disampaikan dalam berkomunikasi yang berkibat pada salah menginterpretasikan
sesuatu atau tidak mendengar pesan.
9. Kompetisi. Kompetisi yang dimaksud adalah kegiatan lain yang dilakukan
seseorang dalam proses keomunikasi yang dapat membagi konsentrasi seseorang
sehingga pesan yang disampaikan kurang efektif.

13
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

A. Indentifikasi Masalah

Seorang perawat generalis (Ners) laki-laki berusia 24 tahun, suku Jawa, mendapat
tugas rawat inap pada 5 pasien post operasi masektomi yang salah satunya bernama
Ny. S. Setelah sadar, Ny. S menolak untuk dirawat oleh perawat A tersebut. Lalu
perawat A melaporkan masalah ini ke kepala ruangan. Kepala ruangan meminta
perawat A yang baru bekerja selam 3 bulan untuk melakukan analisa diri dan
mengetahui strategi apa yang tepat dalam melakukan komunikasi kepada pasien
tersebut agar terwujudnya hubungan terapeutik yang dapat menigkatkan kondisi
kesehatan pasien.

B. Membuat Hipotesis

Berdasarkan kasus tersebut, kita dapat memprediksikan bahwa terjadinya


miskomunikasi antata perawat A dengan Ny. S ketika berinteraksi. Hal tersebut dapat
berupa hambatan-hambatan sebagai berikut.

1. Kemungkinan perbedaan latar belakang sosiokultural. Budaya merupakan bentuk


kondisi yang menunjukkan dirinya melalui tingkah laku. Budaya mempengaruhi cara
perawat A dan Ny. S melakukan hubungan interaksi satu sama lain dalam berbagai
situasi. Perawat A harus mampu belajar untuk mengetahui makna budaya dalam

14
proses komunikasi. Pengaruh kebudayaan menetapkan batas bagaimana perawat A
bertindak dan berkomunikasi sehingga bisa menyebabkan ketidaknyamanan Ny. S
ketika berinteraksi dengan perawat A.

2. Perbedaan jender. Perbedaan jenis kelamin antara perawa A dan Ny. S


mempengaruhi proses komunikasi. Pria dan wanita memiliki gaya komunikasi yang
berbeda dan satu sama lain mempengaruhi proses komunikasi secara unik.

3. Faktor fisik dan psikologis. hambatan lainnya yang mungkin mempengaruhi


komunikasi antara perawat A dengan Ny. S dalam berinteraksi dan menjalin
hubungan terpeutik ialah faktor fisik dan psikologis seorang pasien post-operasi
masektomi yang dirawat oleh perawat laki-laki yang bernama A.

C. Melakukan Penerapan Konsep Komunikasi Keperawatan dan Mencari


Solusinya

Dari analisis kasus tersebut, ada beberapa hal yang direkomendasikan oleh kepala
ruangan kepada perawat A seperti membuat analisis diri, membuat strategi konsep
komunikasi, serta menerapkan konsep komunikasi Carl Rogers dan komunikasi
kesehatan.

1. Analisa diri.

Perawat A harus terlebih dahulu menganalisa kesadaran dirinya. Kesadaran diri


merupakan salah satu prasyarat sebelum perawat melakukan komunikasi terapeutik
dgn klien. Untuk dapat meningkatkan kesadaran dirinya, perawat A perlu menjawab
“Siapakah saya?” Perawat A harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan perilakunya
secara pribadi maupun sebagai pemberi pelayanan. Kesadaran diri akan membuatnya
dapat menerima perbedaan dan keunikan klien.

Analisa kesadaran diri yang dilakukan perawa A tersebut dapat menggunakan konsep
Johari Window. Menurut Johari Window dalam Stuart G.W. (1998) menggambarkan
perilaku, pikiran dan perasaan seseorang dalam 4 kuadran, yaitu :

15
Dirinya dan orang Hanya orang lain
lain tahu (I) yang tahu (II)

Hanya dirinya Dirinya dan orang


yang tahu (III) lain tidak tahu (IV)

Dalam membuat jendela Johari, langkah pertama yang harus dilakukan oleh perawat
A ialah menilai kualitas diri sendiri dengan membuat daftar kualitas yang meliputi
sikap, perasaaan, kekuatan, perilaku, prestasi, kebutuhan, keinginan, dan pikiran.
Langkah kedua, ialah perawat A harus menemukan bagaimana Ny. S berpikir tentang
dirinya dengan cara mewawancarai dan meminta Ny. S mengidentifikasi kualitas
yang dia lihat pada diri perawat A, baik positif maupun negatif.
Langkah ketiga adalah perawat A harus membandingkan daftar tersebut dan mampu
menempatkan kualitas dirinya pada kuadran yang tepat.

Dalam menganalisis kesadaran diri ini, diharapkan perawat A mampu mengendalikan


dirinya saat berinteraksi dengan Ny. S serta menampilkan sosok yang menyenangkan
dan menarik sehingga Ny. S dapat menerimanya.

Hal yang perlu diperhatikan


perawat A dalam menganalisa diri :
a. Kesadaran tentang uniknya sistem nilai tiap individu. Apa dan bagaimana nilai-
nilai yang dianut oleh seseorang akan memengaruhi dirinya pada saat
berinteraksi dengan orang lain. Dengan menyadari sistem nilai yg dimilikinya
seperti nilai budaya, nilai keluarga dan agama yg dianutnya, perawat akan siap
mengidentifikasi situasi yg bertentangan dgn sistem nilai yg ia miliki.
b. Eksplorasi Perasaan. Eksplorasi perasaan yaitu mengkaji atau menggali perasaan-
perasaan yg muncul sebelum dan sesudah berinteraksi dengan orang lain.
Sebagai perawat, perlunya keterbukaan dan sadar terhadap perasaan kita dan
mengontrolnya agar kita dapat menggunakan diri kita secara terapeutik. Seorang
perawat yg merasa cemas pada saat interaksi akan membuat klien merasa tidak

16
nyaman dan karena adanya “pemindahan perasaan” (transfer feeling) mungkin
klien akan menjadi cemas juga.
c. Kemampuan Menjadi Model. Seorang pasien membutuhkan sosok pribadi yg
dapat diteladaninya dalam mengubah perilaku. Perawat sbg pemberi askep
diharapkan mampu menjadi model bagi klien dlm menjalani kehidupannya.
d. Panggilan Jiwa (Altruisme). Perawat harus menjawab pertanyaan, “Mengapa
saya ingin menolong orang lain?”. Altruisme adalah perhatian terhadap
kesejahteraan orang lain, ingin menolong ikhlas tanpa pamrih. Akan tetapi perlu
diperhatikan bahwa perawat merupakan profesi, karena itu perawat perlu
mendapat penghargaan atau imbalan yg sesuai. Keseimbangan antara altruisme
dengan reward akan memengaruhi bagaimana perawat menolong kliennya.
e. Etika dan Tanggung Jawab. Dalam melaksanakan tugas dan peran, perawat A
harus bertanggung jawab terhadap semua tindakan yg dilakukannya. Demikian
pula dalam berkomunikasi, perawat seharusnya bertanggung jawab atas
perilakunya dan mampu mengatasi semua kelemahannya.

2. Membuat strategi dalam berkomunikasi

Dalam menempuh setiap tahapan komunikasi, perawat A harus memiliki strategi yang
tepat untuk membina hubungan terapeutik.

a. Tahapan Pra Orientasi, strategi komunikasi yang harus dilakukan perawat A


dalam tahapan ini adalah:

1) Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi


kecemasan Ny. S.
2) Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.
3) Mengumpulkan data dan informasi tentang Ny. S dari keluarga
terdekatnya.
4) Merencanakan pertemuan pertama dengan Ny.S dengan bersikap positif
dan menghindari prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.
b. Tahapan Orientasi, strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini
adalah:

17
1) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan
komunikasi terbuka terhadap Ny.S dengan tidak membebani diri dengan
sikap Ny.S yang melakukan penolakan diawal pertemuan.
2) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan)
bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi
kembali kontrak yang telah disepakati bersama.
3) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi
masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik
komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika Ny.S diam saja atau memalingkan
muka, perawat A bisa menanyakan apakah Ny.S merasakan sakit dan apa
yang membuat Ny.S merasa tidak nyaman.
4) Merumuskan tujuan interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan
Ny.S, perawat A memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya
dengan kliennya. Maka, perawat A harus berusaha agar tujuan awal
tersebut dapat tercapai.
c. Tahapan kerja, strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap Ny.S ialah
mengatasi penolakan perilaku adaptif Ny.S dengan cara menciptakan suasana
komunikasi yang nyaman bagi Ny.S dengan cara:

1) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan


kesiapannya (”saya siap untuk anda”).
2) Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan) Sikap
tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk
mendukung terciptanya komunikasi.
3) Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara
Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap untuk merespon dalam
komunikasi (berbicara-mendengar).
4) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar
perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.
5) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara
dan menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural.
d. Tahapan terminal, strategi yang dilakukan oleh perawat A dalam tahap ini
adalah:

1) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan


(evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa

18
meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan
merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.
2) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien
setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat A bisa langsung
menanyakan perasaan Ny. S dalam setiap akhir pertemuan dengannya.
3) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan.
Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru
saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya.
Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan
berikutnya.

19
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hubungan dalam keperawatan didasarkan pada hubungan merawat dan


membantu antara perawat dan klien. Melalui hubungan tersebut maka antara perawat
dan klien berusaha untuk memenuhi kebutuhan klien. Hubungan tersebut berupa
komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Komunikasi yang baik akan menciptakan
hubungan yang baik pula antara perawat dan klien. Saat berkomunikasi dengan klien,
perawat mendengarkan, berbicara serta bertindak untuk membuat klien merasa
nyaman dan berusaha untuk meningkatkan status kesehatan klien.

Komunikasi yang terjadi dapat berupa komunikasi verbal dan nonverbal yang
terdiri atas beberapa tingkatan yaitu, intrapersonal, interpersonal, serta komunikasi
publik. Penggunaan metode komunikasi yang tepat serta efektif menentukan
keberhasilan dalam berkomunikasi. Keberhasilan dalam berkomunikasi menentukan
keberhasilan perawatan. Selain itu, analisa diri juga diperlukan khususnya ketika
menghadapi hambatan dalam berkomunikasi. Sehingga, seorang perawat perlu
mengerti dan memahami konsep komunikasi yang baik dan efektif serta paham
mengenai analisa diri.

B. SARAN

Pembahasan ini dapat menjadikan pembelajaran yang sangat penting


khususnya bagi mahasiswa keperawatan yang belum memiliki pengalaman langsung.
Oleh karena itu, agar dapat menjadi seorang perawat profesional yang mampu
menangani setiap permasalahan dengan baik, diharapkan mahasiwa keperawatan
dapat menerapkan konsep dan strategi dalam komunikasi ini ke dalam kehidupan
sehari-hari. Penerapan ini disarankan untuk pembiasaan diri dalam menghadapi
berbagai masalah saat berkomunikasi dengan orang lain.

20
DAFTAR PUSTAKA

Crisp, J., Taylor, C., Potter, P. A., and Perry, A. G. (2001). Fundamental of Nursing.
Singapore: Mosby.

Potter, P.A & Perry, A.G. (1997). Fundamental of Nursing Concepts, Process and
Practice. Four edition. St.Louis: Mosby Year Book.

Potter, P.A. dan Perry, A. G.. (2005). Fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan
praktik Ed 4; alih bahasa: Yasmin Asih-[et al.]; editiredisi bahasa
Indonesia, Devi Yulianti dan Monica Ester. Jakarta: EGC.

Potter, P.A & Perry, A.G. (2009). Fundamental of Nursing Concepts, Process and
Practice. Seven edition. St.Louis: Mosby Year Book.

Purnomo, Yuni. “Konsep Umum Komunikasi”. http://www.docstoc.com (26 Februari


2012)

Rosyidi, Imron. 2008. Model-Model Komunikasi. Halaman dari


http://imron46.wordpress.com (23 Februari 2012)

Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan: Model – Model Kepribadian Sehat.


Kanisius : Jogjakarta.

Simamora, R.H. (2010). Komunikasi dalam Keperawatan. Jember : DKKD PSIK


Universitas Jember.

Stuart, G. W., dan Sundeen, S. J. (1987). Principles and Practice of Psychiatric


Nursing. (3rd ed). St. Louis: The C. V. Mosby Company

Videbeck,sheila.dkk. (2008) .Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran EGC

21