Anda di halaman 1dari 4

Nama : Vincencia Dian P.

Hia / 29
Kelas : 8-2 D4 Akuntansi

Soal 2

Pelajari dan lakukan riset mini atas kasus penyajian kembali Laporan Keuangan Bank Bukopin
tahun 2018 kemarin.

 Jelaskan fakta-fakta peristiwa dan


 Menurut Anda apa yang terjadi? Apakah ada rekayasa laporan keuangan? Jika ya,
mengapa manajemen melakukan rekayasa tersebut?

Jawaban

Fakta-fakta

 Bukopin melakukan rekayasa atas jumlah pendapatan provisi dan komisi kartu kredit yang
seharusnya Rp 317,88 M menjadi Rp 1,06 T. Ada piutang kartu kredit yang seharusnya tak
dibukukan sebagai pendapatan tapi dicatat sebagai pendapatan. Jumlah kartu kredit yang
dimodifikasi datanya adalah 100.000 kartu dan telah dilaksanakan selama 5 tahun
 Rekayasa pada akun piutang dan pendapatan mengakibatkan kenaikan nilai aset dan ekuitas
Bukopin
 Koreksi terhadap piutang macet berimplikasi pada penurunan aset dan menambah beban
(penyisihan atau cadangan kerughian penurunan nilai)
 Bukopin merekayasa saldo cadangan kerugian penurunan nilai debitur sehingga beban
perseroan terlihat lebih kecil, yaitu yang seharusnya Rp 797,65 M dicatat Rp 649,05 M.
 Hasil uji penurunan nilai dilakukan di akhir periode. Namun anehnya adalah, hasil uji tersebut
didasarkan pada hasil analisis manajemen kemudian dikoreksi lagi oleh manajemen sehingga
menimbukan tanda tanya bagi para pembaca laporan keuangan.

Yang terjadi dan rekayasa yang dilakukan:

 Perubahan angka dalam laporan keuangan yang disajikan kembali sangat signifikan. total
kredit dan pembiayaan Syariah mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 72,47 triliun, turun
Rp 1,9 triliun menjadi Rp 70,56 triliun. Total asset juga direvisi turun Rp 2,62 triliun menjadi Rp
102,78 triliun dari sebelumnya Rp 105,4 triliun. Adapun total ekuitas direvisi turun sebesar Rp
2,62 triliun dari Rp 9,53 triliun menjadi Rp6,91 triliun. Penurunan total ekuitas dipengaruhi oleh
revisi saldo laba sebesar Rp 2,62 triliun menjadi Rp 5,52 triliun.

Selain masalah kartu kredit, revisi juga terjadi pada pembiayaan anak usaha Bank Syariah
Bukopin (BSB) terkait penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai debitur tertentu.
Akibatnya, beban penyisihan kerugian penurunan nilai atas aset keuangan direvisi meningkat
dari Rp649,05 miliar menjadi Rp797,65 miliar. Hal ini menyebabkan beban perseroan meningkat
Rp148,6 miliar.

 Bank Bukopin terindikasi melakukan transaksi abnormal kartu kredit yang melibatkan 100.000
kartu dalam 5 tahun terakhir. Keabnormalan transaksi kartu kredit ini ditemukan oleh auditor
internal dari Bank Bukopin yang selanjutnya menyampaikan hasil temuan kepada manajemen,
sehingga manajemen memutuskan untuk melakukan penyajian kembali. Koreksi salah saji
piutang kartu kredit Bank Bukopin disebabkan oleh perubahan data kartu.

Pada tanggal penyelesaian dan persetujuan untuk penerbitan laporan keuangan entitas induk,
Bank telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menangani hal terkait perubahan
data kartu kredit. Inisiden modifikasi data kartu kredit ini memaksa Bukopin menyiapkan action
plan untuk menyehatkan CAR ke level 14%. Langkah yang dilakukan adalah rights issue dengan
menerbitkan saham baru sebesar 30% dan divestasi 40% saham BSB.

 Dari catatan atas laporan keuangan tahun 2017 sudah terlihat jelas bahwa penyajian kembali
laporan keuangan disebabkan karena penyesuaian nilai piutang kredit yang diakibatkan oleh
adanya modifikasi data kartu kredit tertentu. Hal ini tentu saja menjadi sebuh red flag, bahwa
ada pihak-pihak yang terlibat dalam melakukan modifikasi kartu kredit ini.

 Dalam surat Bank Bukopin juga nampak jelas bahwa permasalahan pada kartu adalah karena
adanya penjurnalan transaksi abnormal kartu kredit yang dihasilkan oleh sistem yang tidak
sesuai dengan standar akuntansi. Saat sistem yang seharusnya dibangun untuk mendukungn
pelaporan keuangan yang sesuai dengan sandar akuntansi ternyata malah mengakibatkan data
akuntansi keuangan yang disajikan justru tidak sesu ai dengan standar maka ada kemungkinan
terjadi upaya untuk mengaburkan informasi sebenarnya dari kondisi keuangan perusahaan.

 Kejadian ini lolos dari berbagai layer pengawasan dan audit selama bertahun-tahun. Mulai
dari audit internal Bukopin, Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai auditor independen, Bank
Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran yang menangani kartu kredit, serta OJK sebagai
lembaga yang bertanggungjawab dalam pengawasan perbankan. Auditor independen Bukopin
selama ini adalah KAP Purwantono, Sungkoro, dan Surja yang terafiliasi dengan salah satu big
four auditor internasional Ernst & Young.

KAP Purwantono, Sungkoro, dan Surja melakukan audit atas laporan keuangan Bank Bukopin
cukup lama. Indikasi manipulasi data kartu kredit telah terjadi dalam kurun waktu 5 tahun,
namun KAP gagal untuk mendeteksi adanya upaya manipulasi. Bahkan berdasarkan alasan dari
manajemen Bukopin dimana penyajian kembali laporan keuangan disebabkan karena adanya
pencatatan transaksi abnormal kartu kredit akibat sistem yang tidak sesuai dengan standar
akuntansi, KAP yang harusnya memberikan keyakinan memadai bahwa laporan keuangan yang
disusun sudah sesuai dengan standar akuntansi dan bahwa SPI perusahaan sudah mendukung
untuk penyusunan Laporan keuangan yang sesuai dengan standar, namun pada kenyataannya
KAP gagal untuk mengungkap ketidakwajaran laporan keuangan. Malahan KAP terus
memberikan opini “WTP”.

 Dikutip dari CNBC, 2018 bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank
Bukopin Tbk (BBKP), Rabu (10/1/2018) memutuskan untuk menunjuk Eko Rachmansyah Gindo
sebagai Direktur Utama. Eko Rachmansyah menggantikan Glen Glenardi yang beberapa hari
yang lalu memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya . Padahal pada saat itu,
Bukopin mencatat laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp 808 miliar hingga kuartal ketiga
tahun 2017. Di sisi lain Bukopin berhasil membukukan pertumbuhan asset 13,3% secara
setahunan menjadi Rp 113,2 triliun. Pertumbuhan aset ditopang oleh peningkatan mobilisasi
dana pihak ketiga yang meningkat 18,7 persen dibandingkan dengan angka pada periode yang
sama tahun lalu yaitu menjadi Rp 93,1 triliun.

Kemudian berdasarkan artikel CNBC tertanggal 25 April 2018, Direktur Bukopin yakni Setiawan
Sudarmaji, Direktur Pelayanan dan Operasi, mengundurkan sejak 23 April 2018. Pada saat
mengundurkan diri, skinerja Bukopin sedang tertekan karena peningkatan rasio kredit
bermasalah (non performing loan). Bukopin juga merevisi laporan keuangan 2016 secara
signifikan sehingga laba bank yang dikendalikan oleh Bosowa Group ini telah anjlok, meski
sebelumnya terlihat tumbuh. Revisi laporan keuangan juga terjadi pada kuartal I/2017.

Pengunduran direksi memang wajar terjadi apalagi dalam hal direksi gagal memenuhi keinginan
dari shareholder yang membawa rapor buruk pada kinerja perusahaan. Namun pada
pengunduran diri Glen Glenardi, pengunduran diri dilakukan sebelum laporan keuangan hasil
restatement dirilis, pada saat itu kin erja Bukopin masih terlihat bagus. Lalu mengapa ia
mengundurkan diri? Hal ini tentu menjadi tanda tanya dan seolah mengisyaratkan ada
ketidakberesan yang dihadapi Bukopin.

Motivasi manajemen melakukan rekayasa

 Berdasarkan teori keagenan


Salah satu dari masalah keagenan adalah masalah horizon yaitu, Pemegang saham
berkepentingan atas arus kas masa depan untuk jangka waktu yang tidak terbatas sedangkan
manajer hanya untuk jangka waktu yang menjadi kepentingannya atau selama manajer tersebut
ingin tetap bersama perusahaan tersebut.

Dalam menentukan status piutang kredit dari diragukan menjadi status macet sering kai
menimbulkan perbedaan pendapat dalam manajemen. Karena saat status piutang masih
diragukan maka, perusahaan masih bisa mengakui sebagai asset bank. Namun, begitu status
kreditnya menjadi macet maka bank tidak boleh lagi mencatatnya sebagai aset piutang,
melainkan harus dicatat sebagai penyisihan atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN),
yang nilainya negatif (sehingga mengurangi nilai aset/ekuitas perusahaan).

 Berdasarkan teori signaling


Teori Sinyal berhubungan dengan setiap perspektif dengan memprediksi bahwa manajer secara
sukarela akan memberikan informasi/sinyal yang dalam pengambilan keputusan mereka yang
yang tercermin dalam ketentuan kontrak atau keputusan investasi. Laporan akuntansi sering
digunakan untuk memberi sinyal informasi tentang suatu perusahaan, terutama ketika tren
pendapatan disorot utnuk mengindikasikan kemungkinan laba di masa depan. Teori ini mirip
dengan kontrak yang efisien, selaran dengan hipotesis informasi. Manajer memberikan sinyal
atas harapan dan niat tentang masa depan. Manajer memiliki insentif dalam menyampaikan
sinyal tersebut baik itu berita yang baik, netral, dan buruk.

Manajemen Bukopin melakukan rekayasa untuk memberi kesan bahwa perusahaan memiliki
profit dan aset yang tinggi sehingga berpengaruh juga pada nilai ekuitas perusahaan yang
semakin tinggi. Hal ini akan memberi sinyal kepada pengguna laporan keuangan bahwa Bukopin
merupakan perusahaan yang menguntungkan dan manajemen telah bekerja sesuai dengan
kepentingan pemilik perusahaan; sehingga manajemen berhak atas insentif dan bonus atas
kinerjanya tersebut.