Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan Nila merupakan salah satu ikan air tawar yang polpuler diindonesia.
Ikan ini banyak dibudidayakan dan dikomsumsi karna memiliki rasa yang enak dan
harga yang relative murah. Selain itu karna ikan ini memiliki toleransi tinggi
terhadap lingkungan. Nama nila ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan tahun
1972, diambil dari nama spesies ikan ini yaitu niloticus menjadi nila. konsep awal
pengembangan budidaya ikan nila hanya pada cara agar ikan nila bisa berkembang
dan diterima masyarakat dengan tujuan meningkatkan gizi masyarakat
bertingkatkan ekonomi rendah. Kemudian berubah setelah memperoleh perhatian
cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah perikanan didunia, terutama
berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat di negara-negara yang sedang
berkembang. Salah satu media yang dipadukan dengan ikan nila dalam system
bioremidiasi dalam akuaponik ialah tanaman kangkung
Bioremidiasi merupakan suatu system yang menggunakan tanaman dalam
menghilangkan pencemaran yang ada di air, system biomediriasi salah satunya
menggunakan Akuaponik yang merupakan alternatif budidaya tanaman dan ikan
dalam satu tempat, atau dengan kata lain akuaponik merupakan kombinasi antara
akuakultur dan hidroponik yang mampu mendaur-ulang air bernutrisi dengan
menggunakan sebagian kecil air untuk pertumbuhan ikan dan tanaman secara
terpadu. Sistem ini hampir sama dengan mina padi yaitu budidaya ikan dan padi di
suatu tempat. Dalam budidaya ikan banyak ikan yang cocok untuk digunakan dalam
system akuaponik salah satunya Ikan Nila..
Tanaman kangkung merupakan tumbuhan yang termasuk jenis sayur-
sayuran dan ditanam sebagai makanan.Kangkung banyak dijual di pasar-pasar.
Struktur kangkung memiliki akar yang tidak kuat dan mudah dalam
pemeliharaannya. Seperti tanaman pada umumnya tanaman kangkung
membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhannya. Nutrisi tanaman kangkung diperoleh
dari penyerapan oleh akar-akar tanaman kangkung terhadap nutrisi yang ada. Pada
sistem akuaponik tanaman menyerap nitrat yang ada pada perairan. Nitrat yang
dihasilkan dari proses nitrifikasi tersebut dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi oleh
tanaman kangkung. Setelah proses tersebut maka air yang telah diserap limbahnya
oleh tanaman air pada sistem akuaponik dapat kembali dialirkan pada kolam
budidaya sehingga tidak memberikan pengaruh yang buruk berupa penurunan
kualitas air dan konsentrasi amonia menurun.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pertumbuhan kangkung dengan menggunakan system biomediriasi?
2. Bagaimana sirkulasi air pada system bioremediasi?
3. Bagaimana hubungan system bioremediasi dalam dunia perikanan?
1.3. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Bagaimana pertumbuhan kangkung dengan menggunakan
system bioremediasi.
2. Untuk Mengetahui Bagaimana sirkulasi air pada system bioremediasi.
3. Untuk Mengetahui Bagaimana hubungan system bioremediasi dalam dunia
perikanan?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Ikan Nila
Ikan nila merupakan jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai konsumsi
cukup tinggi. Bentuk tubuh memanjang dan pipih ke samping dan warna putih
kehitaman atau kemerahan. Ikan nila berasal dari Sungai Nil dan danau-danau
sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang
beriklim tropis dan subtropis. Di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat
hidup baik (Sugiarto, 2008). Ikan nila (Oreochromis niloticus) mempunyai
klasifikasi sebagai berikut (Agus, 2008) :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichtyes
Subkelas : Acanthopterygii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Doc. Pribadi
2.2. Habitat dan Morfologi Ikan Nila
Menurut Agus (2008), mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh bulat pipih,
punggung lebih tinggi, pada badan dan sirip ekor ditemukan garis lurus. Pada sirip
punggung ditemukan garis lurus memanjang. Ikan Nila dapat hidup diperairan
tawar dan mereka menggunakan ekor untuk bergerak, sirip perut, sirip dada dan
penutup insang yang keras untuk mendukung badannya. Nila memiliki lima buah
Sirip, yaitu sirip punggung, sirip data sirip perut, sirip tiga anal, dan sirip ekor.
Sirip punggungnya memanjang dari bagian atas tutup ingsang sampai bagian atas
sirip ekor. Terdapat juga sepasang sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil
dan sirip anus yang hanya satu buah berbentuk agak panjang. Sementara itu, jumlah
sirip ekornya hanya satu buah dengan bentuk bulat.
Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang umum hidup di perairan tawar,
terkadang ikan nila juga ditemukan hidup di perairan yang agak asin (payau). Ikan
nila dikenal sebagai ikan yang bersifat euryhaline (dapat hidup pada kisaran
salinitas yang lebar). Ikan nila mendiami berbagai habitat air tawar, termasuk
saluran air yang dangkal, kolam, sungai dan danau. Ikan nila dapat menjadi masalah
sebagai spesies invasif pada habitat perairan hangat, tetapi sebaliknya pada daerah
beriklim sedang karena ketidakmampuan ikan nila untuk bertahan hidup di perairan
dingin, yang umumnya bersuhu di bawah 21 ° C (Arifin, 2010).
2.3. Fungsi Tumbuhan Air Kelompok Kangkung
Tanaman kangkung (Ipomoea aquatica) merupakan tanaman yang dapat
tumbuh lebih dari satu tahun. Tanaman kangkung memiliki sistem perakaran
tunggang dan cabang-cabangnya akar menyebar kesemua arah, dapat
menembus tanah sampai kedalaman 60 hingga 100 cm, dan melebar secara
mendatar pada radius 150 cm atau lebih, terutama pada jenis kangkung air
(Djuariah, 2007). secara morfologi tanaman kangkung memiliki dua varietas yaitu
kangkung air dan kangkung darat. Kangkung daratmempunyai daun-daun yang
panjang dengan ujung yang runcing, berwarna hijau keputih-putihan dan
bunganya berwarna putih. Misal:sutera, Bangkok, dan lain-lain.Batang
kangkung bulat dan berlubang, berbuku-buku, banyak mengandung
air (herbacious) dari buku-bukunya mudah sekali keluar akar. Memiliki
percabangan yang banyak dan setelah tumbuh lama batangnya akan menjalar
(Agus,2008).
2.4. Manfaat Tumbuhan Kangkung
Kangkung dapat hidup di air karena morfologi kangkung air terdapat
jaringan aerenkim yang berongga dan juga menyebabkan kangkung dapat terapung
di air karena adanya jaringan parenkim aerenkim. Bagian pucuk kangkung air
merupakan tempat akumulasi hormon tanaman berupa auksin, sitokinin, dan
giberelin yang berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman. Kangkung
air dapat digunakan sebagai stimulant alami karena selain mengandung hormon
tumbuh dan kandungan gizi tinggi, kangkung air juga mampu merespon perubahan
lingkungan yang tinggi, sehingga tanaman ini mampu tumbuh dan bertahan hidup
pada kondisi lingkungan yang jelek. Kangkung air juga memiliki daya adaptasi
yang tinggi pada beberapa jenis habitat, yaitu dengan cara berkembang biak secara
efisien dan memiliki daya serap unsure hara yng efektif, sehingga tanaman tersebut
mampu berkompetisi dengan tanaman lain dalam satu habitat. Fungsi kangkung air
dalam ekosistem perairan air tawar biasanya dipergunakan dalam system akuaponik
berperan sebagai fitoremediasi, yakni mampu membersihkan beberapa jenis
poulutan. Adaptasi kangkung air tersebut menjadikan kangkung sebagai penjernih
air. (Said,2010)
2.5. Kualitas Perairan Tawar
Tabel 1. Kualitas Perairan Tawar menurut standart baku mutu PP. No. 82
Tahun 2001
No parameter Standar baku mutu PP. No 82 Perairan yang
Tahun 2001 untuk kegiatan baik untuk
budidaya ikan air tawar (kelas II) menunjunjang
kegiatan budidaya
ikan air tawar
Fisika
1 suhu Deviasi 3 28 – 32 oC

2 kecerahan - 2m
Kimia
3 DO 4 mg/L ≥ 5 mg/L
4 pH 6–9 6,8 – 8,5
5 Amoniak ≤ 0,02 mg/L (untuk ikan yang ≤ 1 mg/L
peka)
6 Nitrat 10 mg/L 5 mg/L
7 Fosfat 0,2 mg/L ≤ 1 mg/L
8 BOD 3 mg/L 0 – 10 mg/L
2.5.1. Suhu
Suhu air merupakan factor yang banyak mendapatkan perhatian dalam
pengkajian-pengkajian. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja hanya untuk
mempelajari gejala-gejala fisika dalam laut tetapi juga dalam kaitannya dengan
kehidupan hewan atau tumbuhan, bahkan dapat juga dimanfaatkan untuk mengkaji
metodologi Warm water fish (ikan yang hidup di daerah tropis atau daerah yang
beriklim panas) paling baik berkembang pada suhu antara 25ºC dan 32ºC. Suhu air
semacam ini terdapat pada daerah-daerah tropis dengan ketinggian dari permukaan
laut yang rendah. Akan tetapi pada temperate region (daerah bermusim empat),
suhu air sangat rendah pada musim dingin bagi pertumbuhan yang cepat dari ikan
dan organisme makanan ikan (ikan yang dimaksud adalah warm water fish). (Tika,
2012).
Nila dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan perairan
dengan kadar Suhu optimum 27-30 °C, Dissolved Oxygen(DO) optimum antara
2,0-2,5 mg/l. Secara umum nilai pH air pada budidaya ikan nila antara 5 sampai 10
tetapi nilai pH optimum adalah berkisar 6-9.Ikan nila umumnya hidup di perairan
tawar, seperti sungai, danau, waduk, rawa, sawah dan saluran irigasi, memiliki
toleransi terhadap salinitas sehingga ikan nila dapat hidup dan berkembangbiak
diperairan payau dengan salinitas 20-25 ppt (Agus, 2008).
2.5.2. DO
Oksigen terlarut (DO) merupakan parameter yang penting dalam
menentukan kualitas perairan. DO berperan dalam proses oksidasi dan reduksi
bahan organik dan anorganik, seperti diketahui bahwa DO dibutuhkan oleh semua
jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang
kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu,
DO juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam
proses aerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi
bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang dapat
memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang
dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam
bentuk nutrien dan gas. oksigen terlarut juga diperlukan untuk mendekomposisi
limbah organik dalam perairan. Kadar oksigen terlarut di perairan yang baik untuk
budidaya adalah < 3 mg/l. Namun untuk merombak/ mengurai 1 kg limbah organik
pakan diperlukan oksigen terlarut sebesar 0,2 kg. (Said, 2010)
Nila dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan perairan
dengan kadar Suhu optimum 27-30 °C, Dissolved Oxygen(DO) optimum antara
2,0-2,5 mg/l. Secara umum nilai pH air pada budidaya ikan nila antara 5 sampai 10
tetapi nilai pH optimum adalah berkisar 6-9.Ikan nila umumnya hidup di perairan
tawar, seperti sungai, danau, waduk, rawa, sawah dan saluran irigasi, memiliki
toleransi terhadap salinitas sehingga ikan nila dapat hidup dan berkembangbiak
diperairan payau dengan salinitas 20-25 ppt (Arifin, 2010).
2.5.3. pH
Derajat keasaman (pH) merupakan suatu parameter penting untuk
menentukan kadar asam/basa dalam air. Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion
hidrogen dalam suatu larutan. Kemampuan air untuk mengikat atau melepas
sejumlah ion Hidrogen akan menunjukkan apakah larutan tersebut bersifat asam/
basa. Di dalam air yang bersih jumlah konsentrasi ion H+ dan OH- berada dalam
keseimbangan, sehingga air yang bersih akan bereaksi normal. Peningkatan ion
hidrogen akan menyebabkan nilai pH turun dan disebut sebagai larutan asam.
Sebaliknya apabila ion hidrogen berkurang akan menyebabkan nilai pH naik dan
keadaan ini disebut sebagai larutan basa. Nilai pH yang ideal untuk mendukung
kehidupan organisme aquatik pada umumnya terdapat antara 7-8,5 (Barus, 2014).
Derajat keasaman (pH) selama penelitian berada pada kisaran pH optimal
yakni 6,5-7,6. pH optimal untuk ikan lele adalah 6,5-8. Derajat keasaman (pH)
diluar kisaranoptimal dapat menyebabkan ikan stress, mudah terserang penyakit
dan pertumbuhan rendah (Ridwan, 2010).
2.5.4. Amonia
Sumber utama amoniak dalam air adalah hasil perombakan bahan organik,
sedangkan sumber bahan organik terbesar dalam budidaya udang intensif adalah
pakan. Sebagian besar pakan yang diberikan akan dimanfaatkan udang untuk
pertumbuhannya, namun sebagian lagi akan dieksresikan dalam bentuk kotoran
padat dan amoniak terlarut (NH2) dalam air. Kotoran padat pun selanjutnya akan
mengalami perombakan menjadi NH2 dalam bentuk gas. Amonia (NH4+) pada
suatu perairan berasal dari urin dan feses yang dihasilkan oleh ikan. Kandungan
amonia ada dalam jumlah yang relatif kecil jika dalam perairan kandungan oksigen
terlarut tinggi. Sehingga kandungan amonia dalam perairan bertambah seiring
dengan bertambahnya kedalaman, Optimum ammonia untuk ikan dibawa 0,2 mg/L
(Supriono, 2014).
2.5.5. Nitrat
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan
nitrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah
larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi
sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrifikasi yang merupakan proses yang
penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung aerob. Nitrat adalah salah satu jenis
senyawa kimia yang sering ditemukan di alam, seperti dalam tanaman dan air.
Senyawa ini terdapat dalam tiga bentuk, yaitu ion hitrat (ion NO3) ketiga bentuk
senyawa nitrat ini menyebabkan efek yang sama terhadap ternak meskipun pada
konsentrasi yang berbeda (Agus, 2008)
2.5.6. Nitrit (NO2)
Nitrit dan nitrat merupakan senyawa nitrogen yang terbentuk dari hasil
ikatan nitrogen dan oksigen melalui siklus nitrogen dengan bantuan bakteri
Nitrosomonas dan Nitrobacter, dan apabila melebihi standar kualitas air bersih
maka kadar nitrit dan nitrat ini akan menjadi bahan pencemar bagi air. Karena
penurunan dari kualitas air yang disebut dengan eutrofikasi tersebut berdampak
pada biota perairan seperti ikan. Nitrit masuk kedalam sistem budidaya ikan setelah
pakan dicerna oleh ikan dan nitrogen yang berlebihan dirubah dlam bentuk
amoniayang kemudian dikeluarkan sebgagai kotoran dalam air. Pakan yang tidak
termkan dan material organik lainnya juga terurai menjadi amonia,nitrit dan nitrat
pada proses yang sama. Menurut (Tika, 2012), Kadar nitrit yang berlebihan di
perairan menyebabkan penyakit darah cokelat pada ikan, penyakit ini terjadi pada
ikan ketika perairan mengandung nitrit yang tinggi. Nitrit masuk ke dalam aliran
darah melalui insang dan mengubah darah menjadi bewarna cokelat. Hemoglobin
yang membawa oksigen ke dalam darah bereaksi dengan nitrit membentuk
methamoglobin yang tidak ammpu membawa oksigen, darah tidak dapat
mengangkut oksigen dalam jumlah yang cukup dan ikan dapat mati meskipun
konsenterasi oksigen cukup di perairan.
2.5.7 TOM (Total Organik Matter)
Menurut Said (2010), Kalium perman ganat (KMnO4) telah lama dipakai
sebagai oksidator pada penentuan konsumsi oksigen untuk mengoksidasi bahan
organik yang terkenal sebagai parameter nilai permanganate atau sering disebut
sebagai kandungan bahan organik total atau TOM (Total Organic Matter). Akan
tetapi, kemampuan oksidasi oleh permanganat sangat bervariasi, tergantung pada
senyawa-senyawa yang terkandung dalam air.
Menurut Supriono (2014) bahan organik dibagi atas dua bagian yaitu:
Bahan organik terlarut yang berukuran < 0,5 cm
Bahan organik yang tidak terlarut yang berukuran > 0,5 cm
Terdapat empat macam sumber penghasil bahan organik terlarut
dalam air yaitu (1) berasal dari daratan, (2) proses pembusukan organisme yang
telah mati (3) perubahan matabolik-metabolik ekstra seluler oleh algae, larutan
sitoplankton dan (4) eksresi zooplankton.
Hampir seluruh organik karbon terlarut di dalam air laut berasal dari
karbondioksida yang dihasilkan oleh fitoplankton. Konsentrasinya tergantung pada
keseimbangan antara rata-rata organik karbon terlarut yang dibentuk oleh hasil
pembusukan eksresi dan rata-rata hasil penguraian atau pemanfaatannya (Surpiono,
2014)
2.5.8 Alkalinitas
Alkalinitas atau yang lebih dikenal total alkalinitas adalah konsentrasi total
dari unsur basa-basa yang terkandung dalam air dan biasa dinyatakan dalam mg/ L
atau setara dengan kalsium karbonat (CaCO2) dalam air, basa-basa yang terkandung
biasanya dalam bentuk ion karbonat dan bikarbonat (Arifin, 2010)
Alkalinitas adalah jumlah asam (ion hidrogen) air yang dapat menyebar
(buffer) sebelum mencapai pH yang diinginkan. Total alkalinitas diungkapkan
sebagai milligram per liter atau bagian per juta kalsium karbonat (mg/l atau ppm
CaCO3-alkalinitas total 20 mg/ l atau lebih banyak diperlukan untuk tambak yang
berproduksi baik).
Faktor-faktor yang mempengaruhi alakalinitas Menurut Kordi (2009),
konsentrisi total alkalinitas sangat erat hubungannya dengan konsentrasi total
kesadahan air. di lahan umumnya total alkalinitas mempunyai konsentrasi yang
sama dengan total kesadahan air. Hal ini disebabkan kesadahan atau yang disebut
juga dengan konsentrasi ion-ion logam bervalensi 2. seperti Ca2+ dan Mg2+ dipasok
dalam jumlah yang sama dari lapisan tanah dengan HCO3- dan CO32- yang
merupakan unsur pembentuk total alkalinitas
Di larutan alkalinitas total akan berubah karena adanya perubahan salinitas
sebagai akibat adanya konsentrasu ion na+ dan ion Cl- lainnya. Selain itu yang dapat
mempengaruhi perubahan alkalinitas kalsium karbonat atau adanya produksi
partikel senyawa organik oleh mikroalga.
2.5.9 Karbon Dioksida (CO2)
Menurut Said (2010), karbondioksida (CO2) atau disebut asam arang sangat
mudah larut dalam suatu larutan. Pada umumnya perairan alami mengandung
karbondioksida sebesar 2 mg/ L. karbondioksida (CO2) merupakan gas yang
dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan air renik maupun tingkat tinggi untuk
melakukan fotosintesis.
Istilah karbondioksida bebas (free CO2) digunakan untuk menjelaskan CO2
yang terlarut dalam air, selain yang berada dalam bentuk terikat sebagai ion
bikarbonat (HCO3) dan ion karbonat (CO3-2) CO2 bebas menggambarkan
keberadaan gas CO2 di perairan yang membentuk kesetimbangan dengan CO2 di
atmosfer. Nilai CO2 yang terukur biasanya berupa CO2 bebas.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi CO2 di perairan yaitu Adanya arus dan angin
diduga menyebabkan bergeraknya massa CO2 terlarut ini. Selain faktor cuaca
seperti kecepatan angin, arah angin dan curah hujan, salinitas dan pH juga
mempengaruhi konsentrasi karbondioksida terlarut (CO2).
2.5.10 TSS ( Total Suspended Solid)
Uji TSS (Total suspended Solid) merupakan suatu cara untuk menguji
kadar total padatan terlarut. Zat Padat Tersuspensi dapat bersifat organis dan
inorganis. Zat Padat Tersuspensi dapat diklasifikasikan sekali lagi menjadi antara
lain zat padat terapung yang selalu bersifat organis dan zat padat terendap yang
dapat bersifat organis dan inorganis. Jumlah padatan tersuspensi dapat dihitung
menggunakan Gravimetri, padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar
matahari ke dalam air sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen serta
fotosintesis (Tika, 2012).
Material tersuspensi mempunyai efek yang kurang baik terhadap kualitas air
karena dapat menyebabkan menurunkan kejernihan air dan dapat mempengaruhi
kemampuan ikan untuk melihat dan menangkap makanan serta menghalangi sinar
matahari masuk ke dalam air. Endapan tersuspensi dapat juga menyumbat insang
ikan, mencegah telur berkembang. Ketika suspended solid tenang di dasar badan
air, dapat menyembunyikan telur dan terjadi pendangkalan pada badan air sehingga
memerlukan pengerukan yang memerlukan biaya operasional tinggi. Kandungan
TSS dalam badan air sering menunjukan konsentrasi yang lebih tinggi pada bakteri,
nutrien, pestisida, logam didalam air (Supriono, 2014).

BAB III
METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum manajemen Kualitas Air tentang Budidaya ikan Nila Dengan
Sistem Aquaponik dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2019 bertempat di
Laboratorium Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
No Nama alat Fungsi
1 Kolam Terpal 50 Wadah pembudidaya ikan Nila
cm
2 Pompa air Untuk memompa air yang di kolam menuju ke media
tanaman
3 Pipa Untuk menyalurkan air dari kolam menuju media
tanaman
4 Penggaris Untuk mengukur panjang tubuh ikan
5 Timbangan Untuk menimbang bobot dan kebutuhan pakan
analitik
6 Termometer Untuk mengukur suhu perairan
7 Beaker gelas 50 Untuk mengambil air sampel
ml, 100 ml dan
250 ml
8 Erlenmeyer 250 Untuk mengisi sampel air hasil titrasi
ml dan 100 ml
9 Pipet tetes Untuk mengambil bahan dalam volume yang sedikit
10 gergaji Untuk memotong pipa
11 Cawan petri Sebagai wadah pada pengukuran TSS
12 Kaki tiga Untuk meletakan wadah pada saat pemanasan
menggunakan bunsen
13 Pipet ukur Untuk mengambil sampel dan larutan pada volume yang
akurat
14 Botol winkler Untuk mengisi sampel pada pengukuran DO
15 Buret Sebagai alat untuk mengtitrasi
16 Handphone Untuk mendokumentasikan hasil praktikum
17 Sikat Untuk membersihkan kolam
18 Baskom Sebagai wadah untuk mensampling ikan
19 Corong Untuk memindahkan larutan ke wadah lain agar tidak
mudah tumpah
20 Seser Untuk mengambil ikan dari dalam kolam
21 meteran Untuk mengukur panjang kayu, pipa
22 Oloran Untuk mengaliri listrik agar dapat menghidupkan pompa
dan aerasi
21 Bunsen Untuk memanaskan larutan
3.2.2 Bahan
No Nama Bahan Fungsi
1 Ikan nila Sabagai ikan yang di budidaya dalam praktikum
2 Test kit Nitrit Untuk mengetahui kadar nitrit di kolam
3 Test kit nitrat Untuk mengetahui kadar nitrat di kolam
4 Test kit amonia Untuk mengetahui kadar amonia di kolam
5 Pakan Sebagai makanan ikan
6 Air sampel Sebagai sampel untuk pengujian kualitas air
7 Indikator PP Untuk mengukur CO2 dan alkalinitas di perairan
8 0,1 N CaCO3 Untuk mengukur CO2
9 Kertas Lakmus Untuk mengukur kadar pH perairan
10 KMnO4 0,01 N Untuk mengukur TOM perairan
11 H2 SO 4 Untuk mengukur TOM perairan
12 Na Oktalat Untuk mengukur TOM perairan
13 MnSO 4 Untuk mengukur kadar DO
14 NaOH- Ki Untuk mengukur kadar DO
15 H2SO4 Pekat Untuk mengukur kadar DO
16 Na2S2O3 Untuk mengukur kadar DO
17 Amilum Untuk mengukur kadar DO
18 Indikator MO Untuk mengukur kadar alkalinitas perairan
19 HCl 0,02N Untuk mengukur kadar alkalinitas perairan
20 Kertas saring Untuk mengukur TSS

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Persiapan Wadah Budidaya
1. Menyiapkan alat dan Bahan
2. Membersihkan kolam dengan air bersih
3. Memotong dan memsang pipa sesuai dengan ukuran kolam
4. Masukan air ke dalam kolam
5. Memasang pompa air
6. Memasang aerator di kolam
7. Merapikan alat dan bahan
3.3.2 Persiapan Media Tanam
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Melobangi bagian samping dan bawah gelas aqua dengan menggunakan
Paku dan menyiapkan media gelas untuk penanaman kangkung.
3. Memasukan sekam yang digunakan sebagai substrat tanaman kangkung
pada gelas aqua yang telah di bolongi dengan paku
4. Memasukan gelas aqua yang berisi sekam ke dalam pipa yang ada di
atas kolam ikan
3.3.3 Sampling
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengukur panjang ikan satu kali seminggu
3. Menimbang bobot ikan satu kali seminggu
4. Menghitung rata – rata panjang dan bobot ikan
5. Mencatat hasil perhitungan
6. Membersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.4 Kebutuhan Pakan
1. Menyiapkan alat dan Bahan
2. Menghitung kebutuhan pakan per minggu dengan menggunakan rumus
total berat ikan x 5%
3. Mencatat kebutuhan pakan yang dibutuhkan
4. Menimbang kebutuhan pakan yang di butuhkan setiap minggu
5. Memberikan pakan pada ikan sebanyak 2 kali sehari setiap pagi dan sore
hari
6. Merapikan alat dan bahan
3.3.5 Pengukuran Kualitas Air
3.3.5.1 pH
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Memasukan kertas lakmus ke dalam kolam selama 5 menit
3. Menyesuaikan warna kertas lakmus dengan indikator untuk menentukan
nilai pH
4. Mencatat hasil
5. Merapikan alat
3.3.5.2 Suhu
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Memasukan termometer ke dalam kolam selama 5 menit
3. Melihat skala pada termometer
4. Mencatat hasil
5. Merapikan alat
3.3.5.3 Amonia
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengambil sampel air sebanyak 5 ml
3. Menambahkan reagen amoniak 1, 2 dan 3 masing – masing sebanyak 5
tetes ke dalam air sampel
4. Menghomogen kanlarutan dan melihat warna pada skala
5. Mencatat dan mendokumentasikan hasil
6. Mambersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.5.4 Nitrat
1 Menyiapkan alat dan bahan
2 Mengambil sampel air sebanyak 5 ml
3 Menambahkan 5 tetes reagen test kit nitrat ke dalam air sampel
4 Menghomogenkannya dan melihat warna pada skala
5 Mencatat dan mendokumentasikan hasil
6 Mambersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.5.5 Nitrit
1 Menyiapkan alat dan bahan
2 Mengambil sampel air sebanyak 5 ml
3 Menambahkan 5 tetes reagen test kit nitrat ke dalam air sampel
4 Menghomogenkannya dan melihat warna pada skala
5 Mencatat dan mendokumentasikan hasil
6 Mambersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.5.6 DO
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengambil sampel air dengan menggunakan botol BOD sebanyak 125
ml
3. Menambahkan 1 ml H2SO4 dan 1 ml NaOH- Ki, lalu ditutup dan botol
di kocok hingga larutan mengendap
4. Menambahkan 1 ml H2SO4 pekat kemudian ditutup dan di kocok botol
BOD hingga kuning
5. Mengambil 50 ml sampel ke erlenmeyer 250 ml
6. Melakukan titrasi 0,025 N Na2S2O3 0,025 hingga kuning muda
7. Menambahkan 2 tetes amilum apabila ada warna biru kemudian titrasi
Na2S2O3 0,025 N hingga bening
8. Menghitung hasil pengukuran DO dengan menggunakan rumus :
ml titran x N titran x 8 x 1000
DO (mg/L) = sampel

9. Mencatat hasil perhitungan DO


10. Membersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.5.7 TOM
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengambil sampel air menggunakan pipet sebanyak 25 ml ke dalam
erlemmeyer 250 ml
3. Menambahkan KMnO4 0,01 N sebanyak 10 ml
4. Menambahkan 10 ml H2SO4 1: 4 berat zat organik
5. Memanaskan hingga suhu 80˚C
6. Menambahkan Na oktalat 0,01 N sebanyak 10 ml
7. Titrasi dengan KMnO4 0,01 N hingga merah muda
8. Mencatat volume pemakaian KMnO4
9. Menghitung hasil pengukuran TOM dengan menggunakan rumus :
(x−y)x 31,6 x 0,01 x 1000
TOM = Volume sampel

10. Mencatat dan mendokumentasikan hasil pengikuran TOM


11. Memebersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.5.8 Alkalinitas
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengambil sampel air 50 ml di masukkan ke dalam erlenmeyer
3. Menambahkan 2 tetes indikator PP dan 2 tetes indikator metil orange
4. Mengtitrasi dengan HCl 0,02 N sampai orange salmon
5. Menghitung alkalinitas dengan menggunakan rumus :
(A x N) x 1000
Alkalinitas = ml sampel

6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil pengukuran alkalinitas


7. Membersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.3.5.9 CO2
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengambil 100 ml sampel ditambah pps tetes
3. Mengtitrasi dengan 0,1 N CaCO3 sampai warna merah muda
4. Menghitung CO2 dengan menggunakan rumus :
(1000 ml)
CO2 = x (0,4) x (0,1)
(100 𝑚𝑙)

5. Mencatat dan mendokumentasikan hasil pengukuran CO2


6. Membersihkan serta merapikan alat dan bahan
3.5.5.10 TSS
1. menyiapkan alat dan baahan
2. menimbang kertas saring kering
3. merendam kertas saring dengan air 50 ml dalam cawan petri selama 3
Menit agar di peroleh penyaringan sempurna dan mentiriskan air
4. Keringkan dalam suhu ruangan sampai berat konstan (24 Jam)
5. Manghitung Tss dengan menggunakan rumus :
(A−B)x 1000
TSS = ( 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙)

6. Mencatat dan mendokumentasikan hasil perhitungan Tss


7. Membersihkan serta merapikan alat dan bahan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tabel Sampling Ikan Tiap Minggu
Tanggal Ikan Jumlah
Panjang (cm) Bobot (gram) Ikan (ekor)
Awal Tebar 12,4 35,7 10
27/04/2019
Minggu ke 2 13,06 38,75 8
4/05/2019
Minggu ke 3 11,8 33,73 5
11/05/2019
Panen 12,2 36,044 5
18/05/2019
4.1.2 Tabel Kebutuhan Pakan Tiap Minggu
Tanggal Kebutuhan Pakan
Awal Tebar Berat = 357 gr x 5% biomassa
27 april 2019 = 17,85 gr
Kebutuhan pakan 1 minggu
17, 85 gr x 7 hari = 124,9 gr
Kebutuhan pakan sekali makan
17,58 gr : 2 kali = 8,9 gr
Minggu ke 2 Berat = 310 gr x 5% biomassa
4 mei 2019 = 15,5 gr
Kebutuhan pakan 1 minggu
15,5 gr x 7 hari = 108,5 gr
Kebutuhan pakan sekali makan
15,5 : 2 kali = 7,75 gr
Minggu ke 3 Berat = 168, 65 gr x 5% biomassa
11 mei 2019 = 8,43 gr
Kebutuhan pakan 1 minggu
8,43 gr x 7 hari = 59,01 gr
Kebutuhan pakan sekali makan
8,43 gr : 2 kali = 4,21 gr

4.1.3 Tabel Sampling Tanaman


Tanggal Kangkung
Panjang akar Panjang tanpa Bobot (gr)
(cm) Akar(cm)
Awal Tebar 0 0 0
27/04/2019
Panen 12,5 13,25 8,89
18/05/2019

4.1.4 Tabel Pengamatan Kualitas Air Kualitas Air


4.1.4.1 Tabel Pengamatan kualitas air Tiap hari
Tanggal Waktu pH suhu (oC)
Minggu Pagi : 08.00 - 26
28/04/2019 Sore : 15.00 - 25
Senin Pagi : 08.00 6,5 25
29/04/2019 Sore : 15.00 6,5 27
Selasa Pagi : 08.00 6,5 26
30/04/2019 Sore : 15.00 6,5 27
Rabu Pagi : 08.00 6,5 24
01/05/2019 Sore : 15.00 7 27
Kamis Pagi : 08.00 7 26
02/05/2019 Sore : 15.00 6,5 28
jumat Pagi : 08.00 6,5 26
03/05/2019 Sore : 15.00 6,5 25
sabtu Pagi : 08.00 6,5 27
04/05/2019 Sore : 15.00 7 26
Minggu Pagi : 08.00 7 26
05/05/2019 Sore : 15.00 7 26
Senin Pagi : 08.00 7 26
06/05/2019 Sore : 15.00 7 25
Selasa Pagi : 08.00 7 27
07/05/2019 Sore : 15.00 6,5 27
rabu Pagi : 08.00 6,5 24
08/05/2019 Sore : 15.00 6,5 26
kamis Pagi : 08.00 6,5 26
09/05/2019 Sore : 15.00 7 26
jumat Pagi : 08.00 7 26
10/05/2019 Sore : 15.00 6,5 27
Sabtu Pagi : 08.00 6,5 27
11/05/2019 Sore : 15.00 7 25
minggu Pagi : 08.00 7 25
12/05/2019 Sore : 15.00 7 26
Senin Pagi : 08.00 6,5 25
13/05/2019 Sore : 15.00 6,5 26
selasa Pagi : 08.00 7 27
14/05/2019 Sore : 15.00 7 26
rabu Pagi : 08.00 6,5 27
15/05/2019 Sore : 15.00 6,5 25
kamis Pagi : 08.00 7 26
16/05/2019 Sore : 15.00 7 27
jumat Pagi : 08.00 6,5 25
17/05/2019 Sore : 15.00 6,5 25
Sabtu Pagi : 08.00 7 25
18/05/2019
4.1.4.2 Tabel Pengamatan Kualitas air Tiap Minggu
Tanggal Paremater Kualitas Air
Nitrat Nitrit Amo TSS DO Alkal TOM CO2
niak initas
Awal tebar - - - 0 11,2 20 8,08 3,6
30/04/2019 mg/L mg/L mg/L mg/L ppm
Minggu ke 2 5 2,0 2.0 50 48 8 156,7 0,4
04/05/2019 mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L ppm
Minggu ke 3 0 0 1 50 12 45 15,16 1,5
11/05/2019 mg/l mg/l mg/l mg/l ppm mg/l ppm
Panen 0 1 mg/ 0,25 50 14 4 88,48 4,9
18/05/2019 mg/l l mg/l mg/L mg/L mg/L mg/L ppm

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pertumbuhan Ikan
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui pertumbuhan
ikan nila pada setiap minggunya naik dengan rata-rata 10 ekor = 35,7 gr dengan
panjang rata – rata = 12, 4 cma. Pada minggu ke 2 jumlah ikan nila berkutang
menjadi 8 ekor dengan berat rata – rata 38, 75 dengan panjang rata - rata 13,06 cm.
Pada minggu ke 3 jumlah ikan nila semakin berkurang yaitu hanya 5 ekor dengan
berat rata – rata 33,73 gr dengan panjang rata – rata yaitu 11,8 cm dan pada saat
panen jumlah ikan yang tersisa hanya 5 ekor dengan berat rata – rata 36,044 gr dan
panjang rata – rata 12,2 cm. Pertumbuhan ikan nila cukup bisa dirasakan karena
adanya factor dari perubahan dan filterasi air yang cukup banyak unsur hara yang
dihasilkan dari tumbuhan serta manajemen pakan yang optimal..
Hal ini sesuai dengan pernyataan Supriono (2014) yang menyatakan
bahwa Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang
meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan
dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan
fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan penyakit. Meskipun
secara umum, faktor lingkungan yang memegang peranan sangat penting adalah
zat hara dan suhu lingkungan. Akan tetapi, di daerah tropis zat hara lebih penting
dibandingkan lingkungan. Tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan
digunakan untuk pertumbuhan. Sebagian besar energi dari makanan digunakan
untuk aktivitas, pertumbuhan dan reproduksi.
4.2.2 Pertumbuhan Tanaman
berdasarkan hasil praktikum dapt praktikan ketahui pengamatan
berat dan tinggi tanaman kangkung mengalami pertumbuhan selama praktikum
mulai bulan april sampai bulai mei 2019 dengan berat awal yaitu 0 gr dan berat
akhir tanaman kangkung yaitu 8,89 gr. Tanaman mengalami kenaikan karena
dibantu oleh sisa sisa pakan yang tidak termakan yang dijadikan tanaman sebagai
salah satu bahan untuk fotosintesis untuk kelangsungan hidup.
Hal ini sesuai dengan pernayataan Tika (2012) yang menyatakan
bahwa laju pertumbuhan tanaman kangkung pada sistem aquaponik dipengaruhi
oleh intensitas cahaya matahari, suhu di daerah akar, suhu lingkungan, pH dan
konsenterasi nutrien bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada
umumnya dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor pertama atau yang lebih dikenal
dengan faktor internal yaitu faktor yang berasal dari tubuh tanaman itu sendiri yang
meliputi sifat gen dan hormon tumbuhan. Faktor kedua atau yang lebih dikenal
dengan faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan tanaman yang berasal dari lingkungan, faktor ini diantaranya
radiasi matahari, temperatur, unsur hara dalam tanah, air, angin dan aktifitas dari
mahluk hidup lain seperti hewan yang dapat membantu proses penyerbukan dan
manusia dalam usaha pertaniannya
4.2.3 Kualitas Air
4.2.3.1 Suhu
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan selama bulan april
sampai bulan mei 2019 dapat praktikan ketahui suhu perairan kolam pada kolam
budidaya masih dalam kisaran yang normal untuk pertumbuhan ikan nila. suhu pada
media pemeliharaan ikan nila berkisar antara 25 - 27 oC, terjadinya suhu yang
normal karena terdapat sirkulasi yang baik pada system akuaponik ini serta
pencahayaan yang bagus berimbang.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Said (2010) yang menyatakan
bahwa Suhu sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan biota,
peningkatan suhu menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan
tersebut serta peningkatan konsenterasi karbon dioksida. Keadaan akan
mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh organisme misalnya laju
pernapasan dan konsumsi oksigen terlarut, kisaran suhu yang sesuai untuk budidaya
perikanan yaitu 25 – 31 Celcius.
4.2.3.2 pH
Berdasarkan hasil praktikum dapat didapatkan rata-rata pH yang
dihasilkan sekitar 6, 5 – 7. Hal ini menandakan pH pada ikan nila masih mengalami
keaadaan normal karena pH kebanyakan factornya dari kurangnya pemanfaatan
sisa-sisa pakan maupun metabolism serta dibantunya dengan tanaman kangkong
yang menstabilkan pH pada budidaya ikan nila.
Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Arifin (2010) yang
menyatakan bahwa Variasi nilai pH perairan sangat mempengaruhi biota di suatu
perairan. selain itu, tingginya nila pH sangat menentukan dominasi fitoplankton
yang mempengaruhi tingkat produktivitas primer atau perairan dimana keberadaan
fitoplankton didukung oleh ketersediaannya nutrien di perairan. Kondisi perairan
yang sangat basa maupun sangat asam akan membahayakan kelangsungan hidup
organisme karena akan mengganggu proses metabolisme dan respirasi, nilai pH
antara 6,5 – 8,0 sebagai batas aman untuk kehidupan biota di dalamnya.
4.2.3.3 Nitrat
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar nitrat
selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama adalah 5 mg/L
sedangkan pengukuran ke dua dan ke tiga yaitu 0 mg/L. Kandungan nitrat tertinggi
terjadi pada saat awal kegiatan praktikum. Hal ini masih jauh sekali dari batas
normal yaitu 0,2 mg/L, Bila lebih dari itu akan mengakibatkan terkadinya bloming
plankton..
Hal ini sesuai dengan pernyataan (Rudiyanti, 2009) yang
menyatakan bahwa kadar nitra di perairan yang lebih dari 0,2 mg/L dapat
menyebabkan terjadinya eurifikasi perairan dan selanjutnya dapat menyebabkan
blooming sekaligus merupakan faktir pemicu bagi pesatnya pertumubuhan
tumbuhan air. nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan
sumber nutrisi utama nitrogen di perairan alami dan merupakan sumber nutrisi
utama bagi tumbuhan air. kadar nitrat yang lebih dari 5 mg/L menggabarkan telah
terjadinya pencemaran.
4.2.3.4 Nitrit
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar nitrit
selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama adalah 2 mg/L
sedangkan pengukuran ke dua 0 mg/L dan ke tiga yaitu 1 mg/L. Nitrit (NO2). Hal
ini menandakan bahwa terjadi timbulna nitrit di minggu ketiga karena kesalahan
kurang terkontrolnya kolam hingga sirkulasi air yang terhambat bila tidak
tertangani akan mengakibatkan Amonia.
Hal ini sesuai dengan pernyataan (Agus., 2009) uang menyatakan
bahwa baku mutu kadar nitrit untuk budidaya ika nila sebaiknya tidak melebihi 0,06
mg/L. Ini diperkuat oleh Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001 tentang
pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, kelas I baku mutu nitrit
untuk kualitas air budidaya adalah 0,06 mg/L. Nitrit merupakan bentuk peralihan
antara ammonia dan nitrat (Nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen
(denitrifikasi) oleh karena itu, nitrit bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen.
Kandungan nitrit pada perairan alami mengandung nitrat sekitar 0,001 mg/l. Kadar
nitrit yang lebih dari 0,06 mg/l adalah bersifat toksik bagi organisme perairan.
Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan
bahan organik yang memiliki kafar oksigen terlarut yang rendah, nitrit juga bersifat
racun karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah ikan, sehingga darah
tidak dapat mengangkut oksigen.
4.2.3.5 Amonia
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar amonia
selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama adalah 2 mg/L
sedangkan pengukuran ke dua 1 mg/L dan ke tiga yaitu 0,25 mg/L. Terdapat kadar
ammonia yang tinggi dikarenkan sirkulasi air yang kurang maksimal antara air dan
tanaman kangkungnya serta juga karena sisa-sisa pakan dan metabolism tidak
terurai. Amonia sendiri merupakan toksin yang bisa menyebabkan kematian secara
massal dan cepat.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Agus (2009) yang
menyatakan bahwa Ammonia dalam air ada yang bersifat tidak terionisasi atau
amonia bebas dan yang mengalami ionisasi. Amonia bebas merupakan senyawa
yang bersifat toksik di perairan. Kadar amonia dalam perairan dapat disebabkan
karena adanya peningkatan proses pembusukan sisa tanaman atau Daya racun
amonia disebabkan oleh amonia yang tidak terionisasi yang dapat dipengaruhi oleh
pH, suhu dan faktor lainnya. Daya racun amonia terhadap organisme perairan akan
meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, pH dan suhu. Dalam
kegiatan budidaya, kadar maksimal amonia bebas yang diperbolehkan adalah 0,1
ppm, apabila kadar amonia bebas di perairan melebihi batas maksimal maka akan
dapat mempengaruhi kelangsungan hidup biota budidaya

4.2.3.6 TSS
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar TSS
selama dilakukan praktikum pada pengukuran pertama adalah 0 mg/L dan pada
pengukuran ke 2 sampai ke 4 adalah 50 mg/L. Kadar TTS yang tinggi dikarenakan
airnya yang keruh kurangnya cahaya yang masuk serta menghambat kinerja
fotosintesis dari tanaman kangkong yang menjaga sirkulasi air tetap terjaga.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Ridwan (2010) yang menyatakan
bahwa TSS merupakan tempat berlangsung nya reaksi – reaksi kimia yaitu
heterogen dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan
dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan. TSS
umumnya dihilangkan dengan flokuasi dan penyaringan. TSS memberikan
kontribusi untuk kekeruhan dengan membatasi penetrasi cahaya untuk fotosintesis
dan visiabilitas di perairan. Batas ambang dari TSS di perairan tawar yaitu 50 mg/L,
estimasi nilai TSS diperoleh dengan cara menghitung perbedaan antara padatan
terlarut total dan padatan total.
4.2.3.7 DO
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar DO
selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama adalah 11,2
mg/L sedangkan pengukuran ke dua 48 mg/L dan ke tiga yaitu 12 mg/L dan yang
ke empat 14 mg/L masih dalam kisaran yang baik untuk pemeliharaan ikan Nila.
Kadar oksigen berpengaruh pada proses respirasi ikan untuk bernafas. Tinggi
rendahnya DO karena fotosintesis dari mahkluk hidup.
Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Ridwan (2010) Sumber utama
oksigen dalam suatu perairan berasal dari fotosintesis organisme yang hidup dalam
perairan tersebut, selain dari proses difusi udara bebas. Kandungan DO pada suatu
perairan sangat berhubungan dengan tingkat pencemaran, jenis limbah dan
banyaknya bahan organik di suatu perairan. Kandungan oksigen dalam air (DO)
yang ideal adalah berkisar 3 – 7 mg/l
4.2.3.8 Alkalinitas
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar
alkalinitas selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama
adalah 20 mg/L sedangkan pengukuran ke dua 8 mg/L dan ke tiga yaitu 45mg/L
dan yang ke 4 adalah 4 mg/L. Alkalinitas merupakan salah satu parameter yang
penting untuk kesuksesan budidaya.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Tika (2012) Alkalinitas atau yang
dikenal dengan total alkalinitas adalah konsenterasi total unsur – unsur basa yang
terkandung dalam air yang dinyatakan dalam mg/l. Alkalinitas sebagai kapasitas air
untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan pH larutan, sama halnya
dengan larutan buffer, alkalinitas merupakan pertahanan air terhadap pengasaman.
Alkalinitas adalah hasil – hasil reaksi – reaksi terpisah dalam larutan hingga
merupakan sebuah analisa makro yang menggabungkan reaksi. Alkinitas menjadi
salah satu dari parameter kimia dalam perairan. Parameter ini dapat mempengaruhi
keadaan kualitas dari perairan itu sendiri.otot .
4.2.3.9 TOM
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar TOM
selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama adalah 8,08
mg/L sedangkan pengukuran ke dua 156,7 mg/L dan ke tiga yaitu 15,16 dan yang
ke empat adalah 88,48 mg/L. TOM sebagai kandungan total bahan organik yang
berada di perairan. Bahan organik yang berada di perairan bersifat masih kompleks
yang dapat berasal dari sisa pakan dan tanaman. Kadar TOM di perairan dapt
dipengaruhi oleh suhu, pH, ketersediaan zat hara dan oksigen di perairan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Tika (2010) Bahan Organik Total
atau Total Organic Metter (TOM) menggambarkan kandungan bahan organik total
suatu perairan yang terdiri dari bahan organik terlarut, tersuspensi dan koloid.
Bahan organik merupakan bahan yang bersifat kompleks dan dinamis yang bisa
berasal dari sisa tanaman dan hewan yang terdapat di dalam tanah yang mengalami
perombakan. Bahan ini terus menerus mengalami perubahan bentuk karena
dipengaruhi oleh faktor Fisika, kimia dan biologi. Dekomposisi bahan organik
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain susunan residu, suhu, pH, ketersediaan
zat hara dan oksigen.
4.2.3.10 CO2
Berdasarkan hasil praktikum dapat praktikan ketahui kadar CO2
selama dilakukan praktikum adalah pada pengukuran yang pertama adalah 3, 6 ppm
sedangkan pengukuran ke dua 0,4 ppm dan ke tiga yaitu 1,5 ppm dan yang ke 4
adalah 4,9 ppm. Kadar CO2 yang tertinggi yaitu 4,9 mg/L. Karbondioksida
merupakan salah satu bahan untuk proses fotosintesis bagi fitoplankton dan
tanaman air.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Said (2010) yang menyatakan
bahwa kenaikan kadar CO2 pada malam hari dikarenakan pada malam hari sampai
pagi hari makhluk yang berada di dalam kolam budidaya mengalami proses
respirasi, sehingga kadar CO2 meningkat. Sedangkan penurunan kadar CO2 pada
siang hari disebabkan oleh penggunaan CO2 pada proses fotosintesis oleh
fitoplankton, mikroalga dan tanaman air lainnya sehingga kadarnya berkurang
karena gas CO2 diubah menjadi oksigen. Penurunan kadar CO2 pada siang hari juga
disebabkan oleh terjadinya pembentukan sejumlah kecil senyawa karbonat dan
bikarbonat karena adanya proses fotosintesis pada waktu siang dan menghasilkan
senyawa oksigen, sehingga siang hari kadar kesadahan dalam kolam sedikit
meningkat. Konsenterasi CO2 yang tinggi akan berdampak pada ginjal ikan.
Kandungan CO2 yang baik untuk ikan nila minimal 4 mg/L.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pertumbuhan kangkong dengan system biomediriasi sangat bagus karena
kangkong dapatkan bahan untuk fotosintesis dari sisa-sisa pakan yang
dijadikan sumber makanan..
2. Sirkulasi air pada system biomediriasi sangat lancer mengingat, air yang
digunakan selalu di filterisasi oleh tanaman kangkong untuk mencegah
terjadinya amonia
3. Hubungan system biomediriasi dengan perikanan sangat berkaitan karena
akan memberi wawasan bagaimana cara budidaya tampa harus terus
menerus mengganti air kolam..
5.2 Saran
1. Sebaiknya laboratorium Perikanan memilki alat praktikum yang lebih
banyak lagi, agar pada saat pelaksanaan pengukuran kualitas air di
laboratorium setiap kelompok bisa memiliki alat tanpa bergantian
dengan kelompok lain agar pada saat pelaksanaan praktikum lebih
efisien.

Daftar Pustaka
Agus. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. Rosdakarya
Arifin. 2010. Efektifitas sistem akuaponik dalam mereduksi konsentrasi amonia
pada sistem budidaya ikan. Jurnal rekayasa dan teknologi budidaya
perairan. 3 (1) : 297–302.
Ridwan 2010. Evaluasi Plasma Nutfah Kangkung di Dataran Rancaekek. Jurnal
Hortikultura 7(3) : 756-762.
Rudiyanti. 2009 . Status indeks pencemaran perairan kawasan
mangrove berdasarkan penilaian fisika-kimia di pesisir
Kecamatan Brebes Jawa Tengah. EnviroScienteae, 13(2),
171-180.
Said. 2010. Ekosistem Mangrove. Jakarta. Rineka Cifta
Supriono. 2014. Kelangsungan hidup, pertumbuhan dan
efesiensi pakan ikan gabus (Channa striata) yang diberi pakan berbahan
baku tepung keong mas (Pomacea sp). Jurnal akuakultur rawa indonesia. 1
(2) : 161–172.
Tika. 2012 Effects of inorganic nitrogenforms on growth, morphology, nitrogen
uptake capacity and nutrient allocation of four tropical aquatic
macrophytes (Salvinia cucullata, Ipomoea aquatica, Cyperus involucratus,
and Vetiveria zizanioides) Aquatic botany. 97:10-16.