Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No.

2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

PENELITIAN
PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI
PADA IBU NIFAS
Yusari Asih*
*Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang
e-mail: yusariasih@gmail.com

ASI tidak keluar adalah kondisi tidak diproduksinya ASI atau sedikitnya produksi ASI. Hal ini disebabkan
pengaruh hormon oksitosin yang kurang bekerja sebab kurangnya rangsangan isapan bayi yang
mengaktifkan kerja hormon oksitosin. Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi
ketidaklancaran produksi ASI. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi perbedaan produksi ASI pada
ibu nifas yang diberi perlakuan pijat oksitosin dan tanpa perlakuan di BPM Lia Maria Kecamatan
Sukarame Bandar Lampung tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
eksperimental dengan desain rancangan posttest dengan kelompok kontrol. Populasi pada penelitian ini
adalah ibu nifas 3 jam postpartum di BPM Lia Maria berjumlah 80 orang. Sampel dalam penelitian ini
diambil melalui cara purposive sampling. Sampel berjumlah 32 orang yang terdiri dari 16 orang sebagai
responden yang di intervensi dan 16 orang sebagai variabel kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan
berupa lembar observasi untuk mengamati produksi ASI pada hari ke 6 dan timbangan. Hasil Uji statistik
menggunakan chi-square (x2) diperoleh p-value= 0,037 (p-value ≤0,05) yang berarti ada pengaruh
signifikan antara pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu post partum di BPM Lia Maria Sukarame
Bandar Lampung Tahun 2017. Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan
bagi tenaga kesehatan terutama bidan sebagai pelaksana sehingga dapat meningkatkan pengetahuan ibu
akan pijat oksitosin dan dapat memotivasi ibu dan keluarga untuk melakukan pijat oksitosin dan
memberikan bimbingan serta penyuluhan kepada ibu nifas tentang manfaat pijat oksitosin.

Kata kunci: Pijat oksitosin, Produksi ASI

LATAR BELAKANG Hubungan antara perkembangan bayi


dan pemberian ASI telah banyak diteliti.
Di Indonesia hampir 9 dari 10 ibu Meta-analisis yang dilakukan Anderson et
pernah memberikan ASI, namun penelitian al. (1999) menyimpulkan bahwa bayi yang
IDAI (Yohmi dkk, 2015) menemukan diberikan ASI memiliki tingkat
hanya 49,8% yang memberikan ASI secara perkembangan kognitif yang lebih tinggi
eksklusif selama 6 bulan sesuai dibandingkan bayi yang diberilan susu
rekomendasi WHO. Rendahnya cakupan formula. Salah satu penjelasan dari hasil
pemberian ASI ekslusif ini dapat penelitian tersebut adalah 60% dari otak
berdampak pada kualitas hidup generasi bayi tersusun dari lemak, terutama DHA
penerus bangsa dan juga pada dan asam arachidonat (AA), dan ASI
perekonomian nasional. (IDAI, 2016) mengandung asam lemak tak jenuh rantai
Dalam Riskesdas 2013 yang menjadi panjang (LCPUFAs) seperti DHA dan AA
salah satu indikator yang dapat digunakan yang merupakan zat gizi ideal untuk
untuk PHBS sesuai dengan kriteria PHBS pertumbuhan otak bayi yang belum matang
yang ditetapkan oleh Pusat Promkes pada (Fikawati dkk, 2015)
tahun 2011, yaitu memberi ASI eksklusif. Kekurangan gizi yang terjadi pada
Proses mulai menyusui terbanyak terjadi awal kehidupan dapat mengakibatkan
pada 1-6 jam setelah kelahiran (35,2%) terjadinya growth faltering (gagal tumbuh)
dan kurang dari 1 jam (inisiasi menyusui sehingga bayi akan tumbuh menjadi anak
dini) sebesar 34,5%. Sedangkan proses yang lebih pendek dari normal. Selain itu,
mulai menyusui terendah terjadi pada 7-23 kekurangan gizi juga dapat berpengaruh
jam setelah kelahiran yaitu sebesar 3,7% terhadap perkembangan kognitif,
(Kemenkes RI, 2015) morbiditas dan mortalitas bayi. Gizi yang
baik akan mempercepat pemulihan dan

[209]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

mengurangi intensitas (kegawatan) ASI tidak keluar adalah kondisi tidak


penyakit infeksi pada bayi. Kejadian diproduksinya ASI atau sedikitnya
infeksi pada bayi tidak dapat disepelekan, produksi ASI. Hal ini disebabkan pengaruh
mengingat infeksi merupakan penyebab hormon oksitosin yang kurang bekerja
utama kematian bayi di negara sebab kurangnya rangsangan isapan bayi
berkembang( Fikawati dkk, 2015) yang mengaktifkan kerja hormon
Kasus kematian bayi di Kota Bandar oksitosin.( Fikawati dkk, 2015: 83)
Lampung selama tahun 2009-2014 Hormon oksitosin bekerja merangsang otot
fluktuatif. Kematian bayi tersebut tahun polos untuk meremas ASI yang ada pada
2009 menjadi 127 kasus, dalam kurun alveoli, lobus serta duktus yang berisi ASI
waktu 2 tahun berikutnya, AKB di Kota yang dikeluarkan melalui putting susu.
Bandar Lampung dalam dua tahun terakhir (Walyani dan Purwoastuti, 2015)
meningkat. Tahun 2010 tercatat AKB Menurut Fikawati, dkk (2015)
menjadi 195 kasus. Tahun 2011 menurun menyebutkan bahwa salah satu tindakan
menjadi 167 kasus, namun pada tahun yang perlu dilakukan untuk
2012 ini meningkat kembali menjadi 204 memaksimalkan kualitas dan kuantitas
kasus, tahun 2013 menurun 168 kasus dan ASI, yaitu pemijatan punggung. Pemijatan
tahun 2014 meningkat menjadi 169 kasus. punggung ini berguna untuk merangsang
Dari 169 kasus kematian bayi, bila dilihat pengeluaran hormon oksitosin menjadi
berdasarkan kelompok umur maka lebih optimal dan pengeluaran ASI
kematian neonatal (0-28 hari) menjadi lancar. Menurut Lowdermik,
menyumbang angka tertinggi dari Perry & Bobak (2000), pijat oksitosin
kematian bayi yang ada, kematian neonatal merupakan salah satu solusi untuk
tahun ini sebanyak 135 kasus dan kematian mengatasi ketidaklancaran produksi ASI.
bayi 34 kasus. Beberapa penelitian Pijat Oksitosin adalah pemijatan pada
diperoleh bahwa salah satu faktor-faktor sepanjang tulang belakang (vertebrae)
yang turut mempengaruhi kematian bayi sampai tulang costae kelima-keenam dan
adalah masih rendahnya pemberian air merupakan usaha untuk merangsang
susu ibu (ASI) eksklusif. (Profil Kesehatan hormon prolaktin dan oksitosin setelah
Lampung 2014, hal. 82) melahirkan.
Kasus kematian bayi tahun 2014 Dari hasil pre survey yang dilakukan
sebanyak 168 kasus tersebar di 30 oleh peneliti di BPM Lia Maria Kec.
puskesmas, dengan kasus tertinggi berada Sukarame Bandar Lampung belum
di Puskesmas Kemiling 14 kasus dan yang melakukan pijat oksitosin pada saat
tidak memiliki kasus terdapat di memberikan asuhan kebidanan pada ibu
Puskesmas Permata Sukarame, Korpri, dan post partum baik untuk merangsang
Way Laga. Kematian bayi ini meliputi keluarnya ASI maupun untuk involusi
kematian neonatal 135 kasus dan kematian uterus dan BPM Lia Maria yang
bayi 34 kasus. Data jumlah kelahiran hidup merupakan BPM yang berada di wilayah
pada tahun 2014 sebanyak 20.427 bayi. kerja Puskesmas Permata Sukarame yang
Melihat target nasional sebanyak 23 per tidak terdapat jumlah kasus kematian bayi.
1000 KH, maka kematian bayi yang
tercatat di Bandar Lampung 169 per
20.427 KH (0,0082) masih jauh di bawah METODE
angka nasional (0,023). Walaupun
demikian masih diperlukan peningkatan Penelitian ini dilakukan bertujuan
pelayanan kesehatan ibu dan bayi guna untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin
lebih menekan angka kematian bayi terhadap produksi ASI pada ibu nifas di
melalui berbagai kegiatan baik promotif, BPM Lia Maria. Metode penelitian yang
preventif maupun kuratif, dan digunakan dalam penelitian ini adalah
meningkatkan peran serta masyarakat serta eksperimental dengan desain rancangan
lintas sektor tentunya. posttest dengan kelompok kontrol.

[210]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

Populasi pada penelitian ini adalah ibu Tabel 3: Distribusi Frekuensi Responden
nifas 3 jam postpartum di BPM Lia Maria Berdasarkan Pekerjaan
berjumlah 80 orang. Sampel dalam
penelitian ini diambil melalui cara Pekerjaan f %
purposive sampling. Sampel berjumlah 32 Bekerja 2 6,2
orang yang terdiri dari 16 orang sebagai Tidak bekerja 30 93,8
responden yang di intervensi dan 16 orang Jumlah 32 100
sebagai variabel kontrol.
Data penelitian dikumpulkan dengan Berdasarkan tabel 3 diketahui dari 32
melakukan pemijatan oksitosin setelah 3 responden sebagian besar responden tidak
jam postpartum dan selama 5 hari tiap pagi bekerja yaitu 30 responden (93,8%).
dan sore hari selanjutnya dilakukan
observasi pada hari ke-6. Data yang Tabel 4: Distribusi Frekuensi Responden
terkumpul selanjutnya diproses dan Berdasarkan Paritas
dianalisis secara univariat dan bivariat
menggunakan uji chi-square dengan Paritas f %
bantuan perangkat lunak komputer.
Primigravida 9 28,1
Multigravida 23 71,9
Jumlah 32 100
HASIL

Analisis Univariat Berdasarkan tabel 4 diketahui dari 32


responden sebagian besar responden
Tabel 1: Distribusi Frekuensi Responden multigravida yaitu 23 responden (71,9%).
Berdasarkan Usia
Analisis Bivariat
Usia f %
Tabel 5: Distribusi Pengaruh Pijat
<20 1 3,1
Oksitosin terhadap Produksi ASI
20-30 21 65,6
pada Ibu Post Partum
>30 10 31,2
Jumlah 32 100 Produksi ASI p
Pijat OR
Cukup Kurang value
Oksitosin
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui f % f %
Pijat 15 93,75 1 6,25 11,667
dari 32 responden sebagian besar
Tidak Pijat 9 56,2 7 43,8 0,037 (1,227-
mempunyai usia 20-30 tahun yaitu 21 110,953)
responden (65,6%). Total 24 75 8 25

Tabel 2: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan analisis pengaruh pijat


Berdasarkan Pendidikan oksitosin terhadap produksi ASI diketahui
bahwa dari 16 responden yang melakukan
Pendidikan f % pijat oksitosin terdapat 15 orang
SD 2 6,2 mengalami produksi ASI yang cukup,
SMP 11 34,4 sedangkan dari 16 responden yang tidak
SMA 14 43,8 melakukan pijat oksitosin terdapat 9 orang
PT 5 15,6 mengalami produksi ASI yang cukup.
Jumlah 32 100 Hasil Uji statistik menggunakan chi-square
(x2) diperoleh p-value= 0,037 (p-value
≤0,05) yang berarti ada pengaruh
Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui
signifikan antara pijat oksitosin terhadap
dari 32 responden sebagian besar
produksi ASI pada ibu post partum di
mempunyai pendidikan SMA yaitu 14
BPM Lia Maria Sukarame Bandar
responden (43,8%).
Lampung Tahun 2017. Dari hasil analisis

[211]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

diperoleh pula nilai OR =11,667 (1,227- frekuensi bayi BAK dan lama bayi tidur
110,953), yang artinya ibu post partum setelah menyusu.
yang melaksanakan pijat oksitosin Menurut analisa peneliti kecukupan
mempunyai peluang 11,667 kali produksi ASI pada ibu nifas di BPM Lia
mengalami produksi ASI cukup Maria Kecamatan Sukarame Bandar
dibandingkan dengann ibu yang tidak Lampung adalah baik. Pijat oksitosin yang
melakukan pijat oksitosin. dilakukan pada ibu nifas dapat membuat
rileks dan nyaman, sehingga dapat
mengurangi rasa lelah setelah melahirkan
PEMBAHASAN terutama pijat yang dilakukan setelah 3
jam postpartum. Ibu nifas yang dilakukan
Produksi ASI pada Ibu Nifas yang pijat oksitosin mengatakan bahwa selama
Melakukan Pijat Oksitosin dilakukannya pijat oksitosin ibu merasa
Berdasarkan hasil penelitian nyaman dan rileks sehingga selama
diketahui bahwa dari 16 responden yang pemijatan ibu merasakan adanya aliran
melakukan pijat oksitosin terdapat 15 ASI yang menetes keluar.
orang memiliki produksi ASI yang cukup Pijat oksitosin juga mudah dilakukan
dan 1 responden yang memiliki produksi dengan gerakan yang tidak terlalu banyak
ASI yang kurang. sehingga dapat diingat oleh keluarga untuk
Hal ini sejalan dengan teori yang ada dilakukan dan tak membutuhkan waktu
bahwa pijat stimulasi oksitosin untuk ibu yang lama. Dukungan dari suami dan
menyusui berfungsi untuk merangsang keluarga juga berperan penting dalam
hormon oksitosin agar dapat memperlancar menyusui. Salah satu wujud dukungan
ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu. tersebut dapat dilihat dari suami dan
Pijat oksitosin merupakan salah satu keluarga menyetujui untuk melakukan pijat
solusi untuk mengatasi ketidaklancaran oksitosin sehingga ibu dapat termotivasi
produksi ASI. Pijat oksitosin adalah untuk menyusui bayinya serta adanya
pemijatan pada sepanjang tulang belakang anggota keluarga yang bersedia membantu
(vertebrae) sampai tulang costae kelima- melakukan pekerjaan rumah yang biasa
keenam dan merupakan usaha untuk dilakukan ibu.
merangsang hormon prolaktin dan
oksitosin setelah melahirkan. (Rahayu, Produksi ASI pada Ibu Nifas yang
2016) Pijat ini dilakukan untuk Tidak Melakukan Pijat Oksitosin
merangsang refleks oksitosin atau refleks Berdasarkan hasil penelitian
pengeluaran ASI. Ibu yang menerima pijat diketahui bahwa dari 16 responden yang
oksitosin akan merasa lebih rileks. tidak melakukan pijat oksitosin terdapat 9
(Monika, F.B. Monika, 2014). orang memiliki produksi ASI yang cukup
Hasil penelitian yang dilakukan oleh dan 7 orang memiliki produksi ASI yang
Emy Suryani dan Kh Endah Widhi Astuti kurang.
di BPM wilayah kabupaten Klaten Beberapa faktor yang diidentifikasi
didapatkan Hasil Analisa bivariat dapat mempengaruhi laktasi di antaranya
menunjukan adanya perbedaan rata rata adalah Faktor Biologis (Nutrisi, kondisi
berat badan bayi dengan p value : 0.001 payudara, sistem endokrin, paritas, umur
,ada perbedaan frekuensi BAK yang kehamilan, kebiasaan, istirahat), faktor
bermakna dengan p value=0,001 dan ada psikologis, faktor sosial (sosio-emosional,
perbedaan frekuensi menyusu yang sosio-ekonomi, tingkat pendidikan, faktor
bermakna dengan p value=0,001 serta ada lainnya (perawatan payudara, pijat
perbedaan lama tidur yang bermakna oksitosin, teknik marmet)
dengan p value=0,001. Dapat disimpulkan Hasil penelitian yang dilakukan Siti
bahwa ada pengaruh pijat oksitosin Nur Endah dan Imas Masdinarsah di
terhadap produksi ASI dengan indikasi Ruang Kebidanan Rumah Sakit
berat badan bayi, frekuensi bayi menyusu, Muhammadiyah Bandung Tahun 2011

[212]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

yaitu, waktu pengeluaran kolostrum Sukarame Bandar Lampung Tahun 2017.


kelompok perlakuan rata – rata 5,8 jam, Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=
sedangkan lama waktu kelompok kontrol OR =11,667 (1,227-110,953) yang artinya
adalah rata – rata 5,89 jam . Jumlah ibu post partum yang melakukan pijat
kolostrum yang dikeluarkan kelompok oksitosin mempunyai peluang 11,667 kali
perlakuan rata – rata 5,333 cc sedangkan memiliki peluang produksi ASI yang
kelompok kontrol adalah rata – rata cukup dibandingkan dengan ibu yang tidak
0,0289 cc . Pijat oksitosin berpengaruh melakukan pijat oksitosin.
terhadap jumlah produksi kolostrum Produksi ASI sangat dipengaruhi
dengan P-value 0,009 ,dan pijat oksitosin oleh kondisi psikologis ibu menyusui. Saat
tidak berpengaruh terhadap lama waktu ibu menyusui merasa nyaman dan rileks
pengeluaran kolostrum ibu post partum pengeluaran oksitosin dapat berlangsung
dengan P-value 0,939. dengan baik. Terdapat titik-titik yang dapat
Menurut analisa peneliti kecukupan memperlancar ASI di antaranya, tiga titik
produksi ASI baik karena pada umumnya di payudara yakni titik di atas puting, titik
produksi ASI yang tidak melakukan pijat tepat pada puting dan titik dibawah puting,
oksitosin cukup karena sebagian besar serta titik di punggung yang segaris dengan
paritas responden adalah multipara payudara. Pijat stimulasi oksitosin untuk
sehingga kehamilan atau persalinan yang ibu menyusui berfungsi untuk merangsang
ke-2 memiliki kecenderungan lebih baik hormon oksitosin agar dapat memperlancar
daripada yang pertama dalam hal ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu.
laktogenesis dan galaktopoesis serta Pijatan di bagian punggung ibu yang
memiliki pengalaman dalam menyusui. membuat ibu rileks juga dapat merangsang
Selain itu, ibu nifas yang menjadi pengeluaran oksitosin.
responden tidak memiliki pantangan dalam Hormon oksitosin merangsang
makanan sehingga pola nutrisi baik protein kontraksi lapisan miometrium uteri dalam
dari ikan, kacang-kacangan yang dapat proses persalinan. Hormon ini juga
meningkatkan produksi ASI dapat menghasilkan pengeluaran air susu melalui
terpenuhi. Mayoritas pekerjaan ibu adalah pengadaan kontraksi sel-sel mioepitel di
ibu rumah tangga sehingga saat siang hari kelenjar payudara sebagai respons terhadap
ibu memiliki waktu untuk beristirahat. pengisapan putting susu yang dilakukan si
Dimana ibu menyusui sangat memerlukan bayi, yang kemudian terjadilah refleks
tidur yang cukup dan efektif agar neurogenik (aliran listrik saraf) yang
metabolisme dalam tubuhnya berjalan dihantarkan ke hipotalamus melalui
lancar. serabut-serabut saraf di medula spinalis
(daerah tulang belakang) (Hendrik H.,
Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap 2006)
produksi ASI pada Ibu Nifas Menurut Hockenberry (2002)
Berdasarkan analisis pengaruh pijat menuliskan bahwa pijat oksitosin lebih
oksitosin terhadap kecukupan produksi efektif diberikan sebanyak dua kali dalam
ASI pada ibu nifas diketahui bahwa dari 16 sehari yaitu pagi dan sore. Hal ini juga
responden yang melakukan pijat oksitosin didukung oleh Biancuzzo (2003) bahwa
terdapat 15 orang yang memiliki produksi pijat oksitosin dilakukan dua kali dalam
ASI cukup, sedangkan dari 15 responden sehari dapat memperngaruhi produksi ASI
yang tidak melakukan pijat oksitosin ibu postpartum.
terdapat 9 orang memiliki produksi ASI Pijat oksitosin adalah suatu tindakan
cukup. pemijatan tulang belakang mulai dari
Hasil Uji statistik menggunakan Chi nervus ke 5 - 6 sampai scapula yang akan
Square (x2) diperoleh p-value= 0,037 (p- mempercepat kerja saraf parasimpatis
value ≤ 0,05) yang berarti bahwa ada untuk menyampaikan perintah ke otak
pengaruh signifikan antara pijat oksitosin bagian belakang sehingga oksitosin keluar
terhadap produksi ASI di BPM Lia Maria (Suherni, 2008 Suradi, 2006; Hamranani

[213]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

2010) ( Dalam Fakultas Ilmu Keperawatan ibu nifas cara melakukan pijat oksitosin,
Universitas Padjadjaran, Leli Khairani dkk, melakukan penyuluhan mengenai pijat
2012) oksitosin di kelas ibu dan dapat
Hasil penelitian yang dilakukan Leli memotivasi ibu dan keluarga untuk
Khairani, Maria Komariah, dan Wiwi melakukan pijat oksitosin selama masa
Mardiah mengenai pengaruh pijat oksitosin nifas, dan menyediakan leaflet atau brosur
terhadap involusi uterus pada ibu post mengenai pijat oksitosin sehingga dapat
partum di ruang post partum kelas III meningkatkan pengetahuan ibu nifas akan
RSHS Bandung yaitu teridentifikasi pijat oksitosin.
pengaruh oksitosin terhadap involusi
uterus pada ibu post partum di Ruang Post
Partum Kelas III RSHS Bandung, melalui DAFTAR PUSTAKA
uji statistik Chi-square dengan nilai p <
0.05. Endah, Siti Nur dan Imas Masdinarsah.
Berdasarkan teori dan hasil 2011. Pengaruh Pijat Oksitosin
penelitian di atas menurut peneliti adanya terhadap Pengeluaran Kolostrum
pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi pada Ibu Post Partum di Ruang
ASI di BPM Lia Maria Kecamatan Kebidanan di Rumah Sakit
Sukarame Bandar Lampung Tahun 2017 Muhammadiyah Bandung Tahun
karena dengan melakukan pijat oksitosin 2011. Stikes Jendral A. Yani Cimahi
dapat merangsang hormon oksitosin yang F.B. Monika. 2014. Buku Pintar ASI dan
berfungsi dalam pengeluaran ASI. Dilihat Menyusui. Jakarta: Noura Books
dari segi pekerjaan, sebagian besar Fikawati, Sandra; dkk. 2015. Gizi Ibu dan
responden tidak bekerja, seharusnya Bayi. Jakarta: PT Rajagrafindo
memungkinkan untuk melaksanakan pijat Persada
oksitosin baik oleh suami di pagi dan sore Hendrik, H. 2006. Problema Haid. Solo:
hari ataupun dilakukan oleh keluarga. PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan
Indonesia 2014. BandarLampung:
KESIMPULAN Dinas Kesehatan Kota Bandar
Lampung
Berdasarkan hasil analisis data dan Khairani, Maria dkk. 2012. Pengaruh Pijat
pembahasan penelitian dapat disimpulkan Oksitosin Terhadap Involusi Uterus
ada pengaruh pijat oksitosin terhadap pada Ibu Post Partum Di Ruang Post
produksi ASI pada ibu nifas di BPM Lia Partum Kelas III RSHS Bandung.
Maria Kecamatan Sukarame Tahun 2017 Fakultas Ilmu Keperawatan
yaitu 93,8% ibu nifas yang melakukan Universitas Padjadjaran
pijat oksitosin sebagian besar memiliki Rahayu, Anik Puji. 2016. Panduan
produksi ASI yang cukup, 56,2% ibu nifas Praktikum Keperawatan Maternitas.
yang tidak melakukan pijat oksitosin Yogyakarta:DeepublishRamadhy,
terdapat 9 orang yang memiliki produksi Suryani, Emy & Kh Endah Widhi Astuti.
ASI yang cukup. 2013. Pengaruh Pijat Oksitosin
Hasil analisis statistik lebih lanjut Terhadap Produksi Asi Ibu
menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang Postpartum Di BPM Wilayah
signifikan antara pijat oksitosin terhadap Kabupaten Klaten. Jurusan
produksi ASI pada ibu nifas dengan p- Kebidanan Poltekkes Surakarta.
value 0,037. Walyani, Elisabeth Siwi dan Endang
Berdasarkan kesimpulan tersebut Purwoastuti. 2015. Asuhan
penulis menyarankan kepada BPM Lia Kebidanan Masa Nifas dan
Maria untuk melakukan pijat oksitosin Menyusui. Yogyakarta: PT. Pustaka
setelah 3 jam postpartum dan mengajarkan Baru.

[214]