Anda di halaman 1dari 22

AKUNTANSI PERKEBUNAN

DISUSUN OLEH

AHMAD TAUFAN
BESTIA SILVI
FADILAH INDRIYANI
1. Kelapa Sawit

Tanaman Kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer, skunder, tertier
dan kuartier. Akar-akar primer pada umumnya tumbuh ke bawah, sedangkan akar skunder,
tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. Akar kuartier berfungsi
menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di
lapisan tanah atas sampai kedalaman sekitar 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit
(Setyamidjaja, 2006).
Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Pada
pertumbuhan awal setelah fase muda (seedling) terjadi pembentukan batang yang melebar
tanpa terjadi pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di
pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun. Di batang terdapat pangkal pelepah-pelepah
daun yang melekat kukuh (Sunarko, 2008). Pertumbuhan awal daun berikutnya akan
membentuk sudut. Daun pupus yang tumbuh keluar masih melekat dengan daun lainnya.
Arah pertumbuhan daun pupus tegak lurus ke atas dan berwarna kuning. Anak daun (leaf let)
pada daun normal berjumlah 80-120 lembar (Setyamidjaja, 2006).
Tanaman kelapa sawit berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai
mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang,
sedangkan bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan
bersilang (cross pollination). Artinya bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga
jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaan angin dan atau serangga penyerbuk
(Sunarko, 2008).
Tandan buah tumbuh di ketiak daun. Semakin tua umur kelapa sawit, pertumbuhan
daunnya semakin sedikit, sehingga buah terbentuk semakin menurun. Hal ini disebabkan
semakin tua umur tanaman, ukuran buah kelapa sawit akan semakin besar. Kadar minyak
yang dihasilkannya pun akan semakin tinggi. Berat tandan buah kelapa sawit bervariasi, dari
beberapa ons hingga 30 kg (Setyamidjaja, 2006).
Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah
antara 120º Lintang Utara 120º Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang dikehendaki
antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan pembagian yang merata sepanjang tahun. Lama
penyinaran matahari yang optimum antara 5-7 jam per hari dan suhu optimum berkisar 24º -
38º C. Ketinggian di atas permukaan laut yang optimum berkisar 0-500 meter (Setyamidjaja,
2006).
Di daerah-daerah yang musim kemaraunya tegas dan panjang, pertumbuhan vegetatif
kelapa sawit dapat terhambat, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada produksi
buah. Suhu berpengaruh pada produksi melalui pengaruhnya terhadap laju reaksi biokimia
dan metabolisme dalam tubuh tanaman. Sampai batas tertentu, suhu yang lebih tinggi
menyebabkan meningkatnya produksi buah. Suhu 200C disebut sebagai batas minimum bagi
pertumbuhan vegetatif dan suhu rata-rata tahunan sebesar 22-230C diperlukan untuk
berlangsungnya produksi buah (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).
Kelapa sawit dapat tumbuh baik pada sejumlah besar jenis tanah di wilayah tropika.
Persyaratan mengenai jenis tanah tidak terlalu spesifik seperti persyaratan faktor iklim. Hal
yang perlu ditekankan adalah pentingnya jenis tanah untuk menjamin ketersediaan air dan
ketersediaan bahan organik dalam jumlah besar yang berkaitan dengan jaminan ketersediaan
air (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).
Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai tanaman kelapa
sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek bisa menghambat
kelancaran penyerapan unsur hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman
akan kekurangan unsur nitrogen (N).Karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi
perkebunan kelapa sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang
(Sunarko, 2008).
2. Syarat Tumbuh

Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi


lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi secara
maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain
keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan
kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan teknologi.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Arecidae
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus : Elaeis
Spesies :Elaeis guineensis Jacq.

2.1 Iklim
· Penyinaran matahari
Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam per
hari.pertumbuhan kelapa sawit di Sumatera Utara terkanal baik karena berkat iklim yang
sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup.
Umumnya turun pada sore atau malam hari.

· Suhu
Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Suhu rata-
rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada antara 25-27 0C, yang
menghasilkan banyak tandan. Variasi suhu yang baik jangan terlalu tinggi. Semakin
besar variasi suhu semakin rendah hasil yang diperoleh. Suhu, dingin dapat membuat
tandan bunga mengalami merata sepanjang tahun.

· Curah hujan dan kelembaban


Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah yang panas,
dan lembab. Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000 mm per tahun yang turun merata
sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah
dataran rendah yakni antara 200-400 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian
tempat lebih 500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan
terhambat dan produksinya pun akan rendah.

2.2 Tanah

Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada karakter
lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan. Jenis tanah yang baik
untuk bertanam kelapa sawit adalah tanah latosol, podsolik merah kuning, hidromorf kelabu,
aluvial, dan organosol/gambut tipis. Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam kelapa sawit
ditentukan oleh dua hal, yaitu sifat-sifat fisis dan kimia tanah.

· Sifat kimia tanah


Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH 4,0-6,5 dan pH
optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah biasanya dijumpai pada
daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah organosol atau gambut mengandung
lapisan yang terdiri atas lapisan mineral dengan lapisan bahan organik yang belum
terhumifikasi lebih lanjut memiliki pH rendah.

· Sifat fisik tanah


Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah yang datar atau sedikit miring,
solum dalam dan mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur, permeabilitas
sedang, dan lapisan padas tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah. Tanah yang baik
bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi
secara alamiah maupun hara tambahan. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai
berpasir dan tanah gambut tebal. Dalam menentukan batas-batas yang tajam mengenai
kesesuaian sifat fisis tanah di antara tipe-tipe tanah memang relatif sulit.

3. Teknik Budidaya Tanaman Kelapa Sawit

3.1 Persiapan Lahan

Pembukaan lahan merupakan salah satu tahapan kegiatan dalam budidaya Kelapa
Sawit yang sudah ditentukan jadwalnya berdasarkan tahapan pekerjaan yang akan dilakukan
sesuai dengan jenis lahannya (areal) hutan, areal alang-alang, areal gambut. Supaya areal
tersebut dapat ditanami Kelapa sawit maka areal tersebut harus bersih dari vegetasi atau
semak belukar yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman pokok.
Sedangkan untuk memudahkan dalam pengelolaan tanaman Kelapa sawit dibutuhkan suatu
perencanaan tata ruang kebun yang direncanakan pada saat pembukaan lahan dan sebelum
penanaman Kelapa sawit (Setyamidjaja, 2003).

3.2 Pembibitan Bibit


Merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses pengadaan bahan tanaman yang
dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan
merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit.
Melalui tahap pembibitan sesuai standar teknis diharapkan dapat dihasilkan bibit yang baik
dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan
penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman
lingkungan pada saat pelaksanaan penanaman (transplanting). Menurut Setyamidjaja, (2006),
untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas seperti tersebut di atas, diperlukan
pedoman kerja yang dapat menjadi acuan, sekaligus kontrol selama pelaksanaan di lapang.
Untuk itu berikut ini disampaikan tahapan pembibitan, mulai dari persiapan, pembibitan awal
dan pembibitan utama.

3.2.1 Pemilihan Lokasi

Penentuan lokasi pembibitan perlu memperhatikan beberapa persyaratan sebagai berikut:


1) Lokasi Pembibitan mempunyai jalan yang mudah dijangkau dan mempunyai kondisi
baik.
2) Areal harus jauh dari sumber hama dan penyakit, serta mempunyai sanitasi yang baik.
3) Dekat dengan tenaga kerja lapangan sehingga memudahkan dalam pengawasan.
4) Dekat dengan tempat pengambilan media tanam untuk pembibitan. Drainase baik,
sehingga pada musim hujan tidak tergenang air.
5) Dekat dengan sumber air dan air tersedia cukup untuk penyiraman, dengan kualitas
yang memenuhi syarat.
6) Areal diusahakan mempunyai topografi datar dan berada di tengah-tengah Kebun.
7) Areal pembibitan harus terletak sedekat mungkin dengan daerah yang direncanakan
untuk ditanami dengan memperhitungkan biaya pengangkutan bibit
3.2.2 Luas Pembibitan

Kebutuhan areal pembibitan umumnya 1,0–1,5% dari luas areal pertanaman yang
direncanakan. Luas areal pembibitan yang dibutuhkan bergantung pada jumlah bibit dan jarak
tanam yang digunakan. Dalam menentukan luasan pembibitan perlu diperhitungkan
pemakaian jalan, yang untuk setiap hektar pembibitan diperlukan jalan pengawasan
sepanjang 200 m dengan lebar 5 m.

3.2.3 Sistem Pembibitan

Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tahapan
pekerjaan, tergantung kepada persiapan yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke lokasi
pembibitan. Untuk pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), berarti
penanaman kecambah kelapa sawit langsung dilakukan ke pembibitan utama (Main Nursery).
Sedangkan pada sistem pembibitan dua tahap (double stage), dilakukan pembibitan awal (Pre
Nursery) terlebih dahulu selama ± 3 bulan pada polybag berukuran kecil dan selanjutnya
dipindah ke pembibitan utama (Main Nursery) dengan polybag berukuran lebih besar. Sistem
pembibitan dua tahap banyak dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan, karena memiliki
beberapa keuntungan, antara lain:
1) Terjaminnya bibit yang akan ditanam ke lapangan, karena telah melalui beberapa
tahapan seleksi, baik di pembibitan awal maupun di pembibitan utama.
2) Seleksi yang ketat (10%) di pembibitan awal dapat mengurangi keperluan tanah dan
polybag besar di pembibitan utama.
3) Kemudahan dalam pengawasan dan pemeliharaan serta tersedianya waktu persiapan
pembibitan utama pada tiga bulan pertama.
3.2.4 Media Tanam

Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik,
misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm. Tanah yang digunakan harus
memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan penyakit, pelarut,
residu dan bahan kimia). Bila tanah yang akan digunakan kurang gembur dapat dicampur
pasir dengan perbandingan pasir : tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum
dimasukkan ke dalam polybag, campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar
berdiameter 2 cm. Proses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisa-
sisa kayu, batuan kecil dan material lainnya.

3.2.5 Kantong Plastik (Polybag)

Ukuran polybag tergantung pada lamanya bibit di pembibitan. Pada tahap pembibitan
awal (Pre-Nursery), polybag yang digunakan berwarna putih atau hitam dengan ukuran
panjang 22 cm, lebar 14 cm, dan tebal 0,07 mm. Setiap polybag dibuat lubang diameter 0,3
cm sebanyak 12-20 buah. Pada tahap pembibitan utama (Main-Nursery) digunakan polybag
berwarna hitam dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 37-40 cm dan tebal 0,2 mm. Pada setiap
polybag dibuat lubang diameter 0,5 cm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10 cm dari bawah
polybag.

3.2.6 Pembibitan Awal (Pre-Nursery)

Benih yang sudah berkecambah dideder dalam polybag kecil, kemudian diletakkan
pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya. Ukuran
polybag yang digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm ( lay flat ). Polybag diisi dengan
1,5 – 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase.
Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Setelah bibit
dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 – 4 bulan dan berdaun 4 – 5 helai, bibit
dederan sudah dapat dipindahkan ke pembibitan utama (main-nursery).
Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek.
Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan
oleh bibit. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha
memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan
karena siraman. Pembibitan Utama ( Main-Nursery ) Untuk penanaman bibit pindahan dari
dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm
(lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase. Polybag
diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 – 30 kg per polybag, disesuaikan
dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) di pesemaian bibit
(Setyamidjaja, 2006).
Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan
tanah polybag besar dan tanah sekitar bibit di padatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada
polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur
dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100 cm
(Setyamidjaja, 2006).
3.2.7 Pemeliharaan (pada pembibitan)

Bibit yang yang telah ditanam di prenursery atau nursery perlu dipelihara dengan baik
agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang
sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat.
Pemeliharaan bibit meliputi :
1. Penyiraman
2. Penyiangan
3. Pengawasan dan seleksi
4. Pemupukan
· Penyiraman
1. Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7 – 8
mm pada hari yang bersangkutan.
2. Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan semprotan
halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat.
3. Kebutuhan air siraman ± 2 liter per polybag per hari, disesuaikan dengan umur bibit.
· Penyiangan
1. Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus dibersihkan,
dikored atau dengan herbisida
2. Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan
pertumbuhan gulma.
· Pengawasan dan seleksi
1. Pengawasan bibit ditujukan terhadap pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan
hama dan penyakit.
2. Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis
harus dibuang.
3. Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main nursery,
yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat pemindahan bibit ke
lapangan. Menurut (Setyamidjaja, 2006), seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi
pertama dilakukan pada waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua
dilakukan setelah bibit berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir
dilakukan sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan
setelah berumur 12-14 bulan.
4. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri:
a. Bibit tumbuh meninggi dan kaku
b. Bibit terkulai
c. Anak daun tidak membelah sempurna
d. Terkena penyakit
e. Anak daun tidak sempurna.
3.2.8 Pemupukan

· Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat
dan subur.
· Pupuk yang diberikan adalah Urea dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk.
4. Hama dan Penyakit

4.1 Hama

· Hama Tungau
Penyebabnya tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala
terlihat pada daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian dapat dilakukan
dengan cara Semprot Pestisida atau Natural BVR.
· Ulat Setora
Penyebabnya adalah (Setora nitens). Bagian yang diserang adalah daun. Gejala
yang terlihat pada daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian dengan cara
penyemprotan dengan Pestisida
4.2 Penyakit

· Root Blast
Penyebab dari penyakit ini yaitu (Rhizoctonia lamellifera) dan (Phythium Sp).
Bagian diserang akar. Gejala dapat dilihat dari bibit di persemaian mati mendadak,
tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian dengan cara
pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan
bibit berumur lebih dari 11 bulan (Zaman, 2006).
· Garis Kuning
Penyebab dari penyakit ini yaitu (Fusarium oxysporum). Bagian diserang daun.
Gejala terdapat bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada
daun, daun mengering. Pengendalian dengan cara inokulasi penyakit pada bibit dan
tanaman muda.
· Dry Basal Rot
Penyebab penyakit ini yaitu (Ceratocyctis paradoxa). Bagian diserang batang.
Gejala terdapat pada pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati
dan kering. Pengendalian dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit
5. Panen

Dalam budidaya kelapa sawit panen merupakan salah satu kegiatan penting dan
merupakan saat-saat yang ditunggu oleh pemilik kebun, karena saat panen adalah indikator
akan dimulainya pengembalian inventasi yang telah ditanamkan dalam budidaya. Melalui
pemanenan yang dikelola dengan baik akan diperoleh produksi yang tinggi dengan mutu
yang baik dan tanaman mampu bertahan dalam umur yang panjang. Berbeda dengan tanaman
semusim, pemanenan kelapa sawit hanya akan mengambil bagian yang paling bernilai
ekonomi tinggi yaitu tandan buah yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan inti kelapa
sawit dan tetap membiarkan tanaman berproduksi secara terus menerus sampi batas usia
ekonomisnya habis. Secara umum batas usia ekonomis kelapa sawit berkisar 25 tahun.
Kelapa sawit mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah
penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah
matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen
adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg
atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.
6. Pasca Panen

Pasca panen tanaman kelapa sawit dalam pengolahan bahan baku berupa Tandan
Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit CPO (Crude Palm Oil) terdiri dari beberapa
tahapan yaitu :
a) Jembatan Timbang

Pada Pabrik Kelapa Sawit jembatan timbang yang dipakai menggunakan sistem
komputer untuk meliputi berat. Prinsip kerja dari jembatan timbang yaitu truk yang melewati
jembatan timbang berhenti sekitar 5 menit, kemudian dicatat berat truk awal sebelum TBS
dibongkar dan sortir, kemudian setelah dibongkar truk kembali ditimbang, selisih berat awal
dan akhir adalah berat TBS yang ditrima dipabrik.
b) Penyortiran
Kualitas buah yang diterima pabrik harus diperiksa tingkat kematangannya. Jenis
buah yang masuk ke PKS pada umumnya jenis Tenera dan jenis Dura. Kriteria matang panen
merupakan faktor penting dalam pemeriksaan kualitas buah distasiun penerimaan TBS
(Tandan Buah Segar).
Pematangan buah mempengaruhi terhadap rendamen minyak dan ALB (Asam
Lemak Buah) yang dapat dilihat pada tabel berikut
KEMATANGAN BUAH Rendamen minyak% Kadar ALB (%)
Buah mentah 14 – 18 1,6 – 2,8
Setengah matang 19 – 25 1,7 – 3,3
Buah matang 24 – 30 1,8 – 4,4
Buah lewat matang 28 - 31 3,8 – 6,1
Setelah disortir TBS tersebut dimasukkan ketempat penimbunan sementara (Loding ramp )
dan selanjutnya diteruskan ke stasiun perebusan (Sterilizer ).
c) Proses Perebusan (Sterilizer)
Sterilizer memiliki bentuk panjang 26 m dan diameter pintu 2,1 m. Dalam sterilizer
dilapisi Wearing Plat setebal 10 mm yang berfungsi untuk menahan steam, dibawah sterilizer
terdapat lubang yang gunanya untuk pembuangan air condesat agar pemanasan didalam
sterilizer tetap seimbang.
Dalam proses perebusan minyak yang terbuang 0,7%. Dalam melakukan proses
perebusan diperlukan uap untuk memanaskan sterilizer yang disalurkan dari boiler. Uap yang
masuk ke sterilizer 2,8 – 3 kg/cm2, 140 derajat celcius dan direbus selama 90 menit.
d) Proses Penebah (Thereser Process)

· Hoisting Crane
Fungsi dari Hoisting Crane adalah untuk mengangkat lori dan menuangkan isi lori ke
bunch feeder (hooper). Dimana lori yang diangkat tersebut berisi TBS yang sudah
direbus.
· Thereser
Fungsi dari Theresing adalah untuk memisahkan buah dari janjangannya dengan cara
mengangkat dan membantingnya serta mendorong janjang kosong ke empty bunch
conveyor.

e) Proses Pengempaan (Pressing Process)


Proses Kempa adalah pertama dimulainya pengambilan minyak dari buah
Kelapa Sawit dengan jalan pelumatan dan pengempaan. Baik buruknya pengoperasian
peralatan mempengarui efisiensi pengutipan minyak. Proses ini terdiri dari :
· Digester
Setelah buah pisah dari janjangan, maka buah dikirim ke Digester dengan cara buah
masuk ke Conveyor Under Threser yang fungsinya untuk membawa buah ke Fruit
Elevator yang fungsinya untuk mengangkat buah keatas masuk ke distribusi conveyor
yang kemudian menyalurkan buah masuk ke Digester.
· Screw Press
Fungsi dari Screw Press adalah untuk memeras berondolan yang telah dicincang, dilumat
dari digester untuk mendapatkan minyak kasar. Buah – buah yang telah diaduk secara
bertahap dengan bantuan pisau – pisau pelempar dimasukkan kedalam feed screw
conveyor dan mendorongnya masuk kedalam mesin pengempa ( twin screw press ).
f) Proses Pemurnian Minyak ( Clarification Station )
Setelah melewati proses Screw Press maka didapatlah minyak kasar / Crude Oil dan
ampas press yang terdiri dari fiber. Kemudian Crude Oil masuk ke stasiun klarifikasi dimana
proses pengolahannya sebagai berikut :

1) Sand Trap Tank ( Tangki Pemisah Pasir)

Setelah di press maka Crude Oil yang mengandung air, minyak, lumpur masuk ke
Sand Trap Tank. Fungsi dari Sand Trap Tank adalah untuk menampung pasir.
Temperatur pada sand trap mencapai 95 0C

2) Vibro Seperator / Vibrating Screen

Fungsi dari Vibro Separator adalah untuk menyaring Crude Oil dari serabut –
serabut yang dapat mengganggu proses pemisahan minyak. Sistem kerja mesin
penyaringan itu sendiri dengan sistem getaran – getaran pada Vibro kontrol melalui
penyetelan pada bantul yang di ikat pada elektromotor. Getaran yang kurang
mengakibatkan pemisahan tidak efektif.

3) Vertical Clarifier Tank (VCT)

Fungsi dari VCT adalah untuk memisahkan minyak, air dan kotoran (NOS)
secara gravitasi. Dimana minyak dengan berat jenis yang lebih kecil dari 1 akan berada
pada lapisan atas dan air dengan berat jenis = 1 akan berada pada lapisan tengah
sedangkan NOS dengan berat jenis lebih besar dari 1 akan berada pada lapisan bawah.
Fungsi Skimmer dalam VCT adalah untuk membantu mempercepat pemisahan
minyak dengan cara mengaduk dan memecahkan padatan serta mendorong lapisan
minyak dengan Sludge. Temperatur yang cukup (95 0C) akan memudahkan proses
pemisahan ini.
Prinsip kerja didalam VCT dengan menggunakan prinsip keseimbangan antara
larutan yang berbeda jenis. Prinsip bejana berhubungan diterapkan dalam mekanisme
kerja di VCT.

4) Oil Tank
Fungsi dari Oil Tank adalah untuk tempat sementara Oil sebelum diolah oleh
Purifier. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan Steam Coil untuk mendapatkan
temperatur yang diinginkan yakni 95o C. Kapasitas Oil Tank 10 Ton / Jam.

5) Oil Purifier

Fungsi dari Oil Purifier adalah untuk mengurangi kadar air dalam minyak dengan
cara sentrifugal. Pada saat alat ini dilakukan proses diperlukan temperatur suhu 95o C.

6) Vacuum Dryer

Fungsi dari Vacuum Dryer adalah untuk mengurangi kadar air dalam minyak
produksi. Sistem kerjanya sendiri adalah minyak disimpan kedalam bejana melalui
Nozel. Suatu jalur resirkulasi dihubungkan dengan suatu pengapung didalam bejana,
sehingga bilamana ketinggian permukaan minyak menurun pengapung akan membuka
dan mensirkulasi minyak kedalam bejana.

7) Sludge Tank

Fungsi dari Sludge Tank adalah tempat sementara sludge ( bagian dari minyak
kasar yang terdiri dari padatan dan zat cair) sebelum diolah oleh sludge seperator.
Pemanasan dilakukan dengan menggunakan sistem injeksi untuk mendapatkan
temperatur yang dinginkan yaitu 95o C.

8) Sand Cyclone / Pre- cleaner

Fungsi dari Sand Cyclone adalah untuk menangkap pasir yang terkandung dalam
sludge dan untuk memudahkan proses selanjutnya.

9) Brush Strainer ( Saringan Berputar )

Fungsi dari Brush Strainer adalah untuk mengurangi serabut yang terdapat pada
sludge sehingga tidak mengganggu kerja Sludge Seperator. Alat ini terdiri dari saringan
dan sikat yang berputar.

10) Sludge Seperator

Fungsi dari Sludge Seperator adalah untuk mengambil minyak yang masih
terkandung dalam sludge dengan cara sentrifugal. Dengan gaya sentrifugal, minyak yang
berat jenisnya lebih kecil akan bergerak menuju poros dan terdorong keluar melalui
sudut – sudut ruang tangki pisah.

11) Storage Tank


Fungsi dari Storage Tank adalah untuk penyimpanan sementara minyak produksi
yang dihasilkan sebelum dikirim. Storage Tank harus dibersihkan secara terjadwal dan
pemeriksaan kondisi Steam Oil harus dilakukan secara rutin, karena apabila terjadi
kebocoran pada pipa Steam Oil dapat mengakibatkan naiknya kadar air pada CPO.
7. Perlakuan Akuntansi
7.1 Standar akuntansi pada sektor pertanian
Saat ini Indonesia sudah mempunyai standar yang mengatur tentang pada sektor
pertanian peraturan tersebut masuk pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 69
yang telah di sahkan oleh Dewan Standar akuntansi Keuangan (DSAK) dan efektif pada
tahun 2018. Dari pernyataan tersebut Indonesia akhirnya sudah mempunyai standar akuntansi
pertanian yang diadopsi sesuai dengan standar IAS 41. Dalam hal ini peraturan IAS 41 dan
PSAK 69 tidak ada perbedaan yang sangat banyak hanya saja ada penyesuaian-penyesuaian
terhadap kondisi di Indonesia. Standar akuntansi diatur oleh IAS 41/PSAK 69 mengatur
tentang aturan akuntansi pada pertumbuhan dan perubahan secara biologis pada tumbuhan
maupun hewan.
Menurut Martani et. al (2017) IAS 41 mengatur prosedur akuntansi yang terkait
dengan pengelolaan oleh entitas transformasi biologis (peningkatan dan penurunan kualitas /
kuantitas, produksi, dan penciptaan aset biologis baru) dan panen aset biologis yang dijual
atau untuk konversi menjadi hasil pertanian, atau menjadi aset biologis tambahan. Miranda
et. al (2017) menyatakan bahwa standar Akuntansi Internasional atau IAS 41 tentang
pertanian merupakan standar pertama yang secara khusus mencakup akuntansi untuk sektor
pertanian. Aset biologis dideskripsikan dalam standar akuntansi mewakili makhluk hidup
seperti hewan dan tumbuhan (Aryanto, 2011). Menurut Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) No. 69 paragraf 05 Aset biologis adalah “Hewan Dan Tanaman Hidup”.
Secara umum IAS 41 mengatur tentang akuntansi pada saat proses pertumbuhan pada
tumbuhan maupun hewan sampai dengan hasil panen dari proses pertumbuhan tersebut.
Menurut Sytnik (2013), Akuntansi keuangan di bidang pertanian harus mencerminkan
karakteristik aset biologis berikut:
1. Mempunya sifat dan tahapan siklus pertanian pada aset biologis tersebut,
2. Memiliki tujuan pengelolaan dan model bisnis yang menghasilkan arus kas masa
depan.
7.2 Pengakuan
Dalam PSAK no 69 paragraf 10, entitas mengakui aset biologis atau produk pertanian jika,
dan hanya jika
1. Entitas mengendalikann aset biologis sebagai akibat dari peristiwa masa lalu
2. Besar kemungkinan manfaat ekonomik masa depan yang terkait dengan aset biologis
tersebut akan mengalir ke entitas.
3. Mempunyai Nilai wajar atau biaya perolehan aset biologis yang mampu diukur secara
andal.
Martani et. al (2017) menjelaskan secara jelas bahwa aset biologis dan hasil pertanian diakui
kapan, dan hanya bila:
1. Pengertian pengendalian aset sebagai akibat dari peristiwa masa lalu adalah
pengendalian yang dapat dimiliki oleh suatu entitas dengan cara kepemilikan secara
legal atas perolehan aset biologis dan hasil pertanian.
2. Besar kemungkinan manfaat ekonomik masa depan yang terkait dengan aset biologis
tersebut akan mengalir ke entitas. Manfaat ekonomi masa depan yang dimaksud ada
lah aset dapat dinilai dengan mengukur atribut fisik yang signifikan.
3. Mempunyai nilai wajar atau biaya perolehan aset biologis yang mampu diukur secara
andal. Aset biologis dan hasil pertanian diukur sebesar nilai wajar dikurangi biaya
jual, kecuali untuk kasus tertentu jika nilai wajar tidak dapat diukur dengan andal.
Aset biologis diukur pada pengakuan awal dan pada akhir setiap periode pelaporan,
sementara hasil pertanian diukur pada titik panen. Pengolahan hasil pertanian setelah
panen diukur dengan menggunakan pendekatan inventarisasi.
IAS 41/PSAK 69 adalah peraturan yang sangat kontroversial karena pada peraturan ini
menggunakan nilai wajar sebagai dasar penilaiannya. Nilai wajar merupakan sebuah konsep
yang relevan dalam penyusunan lapran keuangan sebuah perusahaan karena mampu
menggambaran nilai pasar yang sesungguhnya (Sukendar, 2012). IAS 41 mensyaratkan
bahwa nilai wajar dari perubahan fisik ini diakui dalam laporan laba rugi periode yang
bersangkutan terlepas dari apakah aset tersebut dijual atau tidak (Elad dan Herbohn, 2011).
Aryanto (2011) sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan oleh The Institute of
Chartered Accountants of Scotland menunjukkan bahwa penerapan IAS 41 yang memberikan
konsep nilai wajar tampaknya menemui banyak masalah. Menurut Sytnik (2013),
menyatakan bahwa IAS 41 tidak terlalu bersahabat pada tanaman dengan siklus pendek atau
semusim semacam gandum yang di Rusia di tanam pada musim dingin saja, tentu saja ini
sulit untuk mengukur nilai wajar pada tanaman tersebut dan tidak mencerminkan nilai arus
kas masa depan.
7.3 Pengukuran
Dari segi tanaman semusim IAS 41 sulit dalam pengakuan dan pengukuran daripada
entitas yang memiliki periode tahunan. Dengan demikian, Entitas diminta untuk memberikan
penjelasan dalam pengukurannya untuk setiap aset biologis dengan membedakan consumable
dan bearer biological yang sesuai (Murtianingsih dan setiawan, 2016). Berikut ini adalah
perlakuan aset biologis melalui diagram menurut Aryanto et.al (2015):
Pengukuran aset biologis pada saat pengakuan awal dan akhir periode nilai wajar di
kurangi biaya penjualan. Produk agrikultur yang dipanen dari aset biologis milik entitas
diukur pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual pada titik panen. Pengukuran nilai
wajar juga dapat dilakukan dengan mengelompokkan umur atau kualitas aset biologis
tersebut. Martani et. al (2017) menyatakan bahwa Hasil panen merupakan pendapatan bagi
usaha pertanian. Biaya jual hasil pertanian relatif kecil dan biasanya bisa diestimasi secara
andal. Jeda waktu antara panen dan penjualan relatif singkat, sehingga pendapatan diakui
pada saat panen, bukan penjualan.
Keuntungan dan kerugian yang timbul pada saat awal aset biologis pada nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual dan dari perubahan nilai wajar dikurangi biaya untu menjual
aset biologis dimasukan dalam laba rugi pada periode saat keuntungan dan kerugian tersebut
terjadi (PSAK No 69 Paragraf 26). Keuntungan atau kerugian yang timbul pada saat
pengakuan awal produk pertanian sebagai akibat dari hasil panen.
7.4 Pengungkapan
Entitas yang memiliki aset biologis dan hasil pertanian harus memberikan
pengungkapan yang cukup lengkap mengenai kegiatan yang dilakukan, nilai aset pertanian
(aset biologis dan hasil pertanian), dan keuntungan / kerugian yang dilaporkan dalam laporan
laba rugi (Martani et. al, 2017).
PSAK No 69 Paragraf 43 Entitas dianjurkan memberikan deskroptif kuantitatif dari
setiap kelompok aset biologis, antara lain membedakan aset biologis yang dapat dikonsumsi
dan aset biologis yang produktif, atau antara aset yang belum menghasilkan (immature) dan
aset yang sudah menghasilkan (mature).
Jika tidak diungkapkan dibagian manapun dalam informasi yang dipublikasikan bersama
dengan laporan keuangan, maka entitas mendeskripsikan: sifat aktivitasnya yang melibatkan
setiap kelompok aset biologis, dan ukuran atau estimasi nonkeuangan dari keuantitas fisik
(PSAK No 69 Paragraf 46).
Entitas mengungkapkan keberadaaan dan jumlah tercatat ast biologis yang
kepemilikannya dibatasi, dan jumlah tercatat aset biologis yang dijaminkan untuk liabilta,
jumlah komitmen untuk pengembangan atau akuisisi aset biologis dan strategi manajemen
risiko keuangan yang terkait dengan aktivitas pertanian (PSAK No 69 Paragraf 49).
PSAK No 69 Paragraf 50 menjelaskan Entitas menyajikan rekonsiliasi perubahan jumlah
tercatat aset biologis antara awal dan akhir periode berjalan. Rekonsiliasi tersebut mencakup:
1. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar dikurangi biaya
untuk menjual
2. Kenaikan karena pembelian
3. Penurunan yang diatribusikan pada penjualan dan aset biologis yang diklasifikasikan
sebagai dimiliki untuk dijual.
4. Penurunan karena panen
5. Kenaikan yang dihasilkan dari kombinasi bisnis
6. Selisih kurs neto yang timbul dari penjabaran laporan keuangan kedalam mata uang
penyajian yang berbeda, dan penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri kedalam mata
uang penyajian entitas pelapor.
8. Pencatatan Transaksi yang Berhubungan dengan Aset Biologis Berupa Tanaman
Perkebunan pada PT. Perkebunan Nusanatara XIV (Persero) ke dalam Jurnal
a. Pencatatan transaksi pengakuan tanaman belum menghasilkan.
Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa pengukuran tanaman belum
menghasilkan diakui sebesar harga perolehannya yang didapatkan dari kapitalisasi biaya
lagsung dan biaya tidak langsung yang berkaitan dengan perkembangan tanaman belum
menghasilkan. Biaya yang dikategorikan sebagai biaya langsung adalah semua biaya yang
manfaatnya berhubungan langsung dengan aset biologis, contohnya adalah harga peroleh
bibit tanaman, biaya pembibitan, biaya persiapan lahan, biaya pemupukan dan biaya
pemeliharaan. Biaya yang dikategorikan sebagai biaya tidak langsung adalah biaya yang
tidak terkait langsung dengan aset biologis contohnya adalah alokasi biaya administrasi
umum dan administrasi.
Misalkan, PTPN XIV membeli bibit tanaman kelapa sawit sebanyak 600 batang
untuk membuat 4 (empat) blok tanaman kelapa sawit dengan harga
satuan Rp. 20.000,- , maka jurnal dari transakis tersebut adalah:

Tanaman belum menghasilkan (D) Rp. 12.000.000,-

Kas/Utang Usaha (K) Rp. 12.000.000,-

Nilai yang dimasukkan dalam jurnal di atas adalah nilai dari biaya yang dibayarkan
oleh perusahan yang dikapitalisasi ke dalam akun tanaman belum menghasilkan.
Penjurnalan ini dilakukan setiap kali terjadi transaksi kas yang dibayarkan untuk
biaya yang dikapitalisasi ke dalam tanaman belum menghasilkan sampai dengan tanaman
belum menghasilkan tersebut telah memenuhi kriteria untuk berubah menjadi tanaman
telah menghasilkan.
b. Pencatatan transaksi reklasifikasi tanaman belum menghasilkan menjadi tanaman
telah menghasilkan.
Setelah tanaman belum menghasilkan telah memenuhi kriteria untuk diakui
menjadi tanaman telah menghasilkan berdasarkan tingkat pertumbuhan vegetatif dan
ketentuan yang telah ditetapkan oleh manajemen, maka tanaman belum menghasilkan
harus segera direklasifikasi ke dalam tanaman telah menghasilkan. Misalkan, setelah
dilakukan oleh pengecekan oleh pekerja lapangan diperoleh informasi bahwa lebih dari
60% tanaman sawit belum menghasilkan pada blok A dapat dikategorikan sebagai
tanaman menghasilkan, maka semua nilai dari tanamaman sawit pada blok A harus
direklasifikasi menjadi tanaman telah menghasilkan, jurnal reklasifikasi dari kejadian
tersebut adalah:
Tanaman telah menghasilkan (D) Rp. 507.330.200,-

Tanaman belum menghasilkan (K) Rp. 507.330.200,-


(estimasi nilai kelapa sawit untuk satu blok dengan kapasitas 130 batang pohon
kelapa sawit)
Tanaman telah menghasilkan dinilai berdasarkan nilai tanaman belum
menghasilkan yang direklasifikasi ke dalam tanaman telah menghasilkan. Proses
kapitalisasi biaya-biaya yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan
tanaman perkebunan tidak lagi dilakukan seperti pada tanaman belum menghasilkan, maka
nilai tanaman belum menghasilkan tidak akan berubah kecuali jika ada kondisi lain yang
mengharuskan diadakannya perubahan nilai tersebut, misalnya terjadi penghapusan
tanaman telah menghasilkan karena alasan yang dapat diterima.
c. Pencatatan penyusutan pada tanaman telah menghasilkan
Tanaman telah menghasilkan karena telah mampu memberikan kontribusi manfaat
ke dalam perusahaan berupa kemampuan untuk menghasilkan produk agrikultur, maka
perlu diadakan pengakuan terhadap pemakaian manfaat tersebut ke dalam setiap periode
dimana manfaat tersebut dipakai. Cara untuk mengakui pemakaian manfaat dari tanaman
telah menghasilkan adalah dengan mengadakan penyusutan terhadap nilai tanaman telah
menghasilkan yang dimanfaatkan ke dalam setiap periodenya. PTPN XIV (Persero)
melakukan penyusutan terhadap tanaman telah menghasilkan menggunakan metode garis
lurus.
Misalkan tanaman sawit telah menghasilkan dengan nilai total Rp.
31.855.869.000,-dengan umur ekonomis 25 tahun akan disusutkan dengan menggunakan
metode garis lurus, maka akan didapatkan penyusutan per tahun sebesar Rp.
12.742.347.760,-Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:
Biaya Penyst. Tanaman Telah Menghasilkan (D) Rp. 12.742.347.760,-
Akum. Penyst. Tanaman Telah Menghasilkan (K) Rp. 12.742.347.760,-
Nilai dari pembebanan penyusutan tanaman telah menghasilkan pada setiap
periodenya didasarkan pada estimasi manfaat yang dipakai pada setiap periodenya, dalam
hal ini PTPN XIV (Persero) mengakui penyusutan tanaman telah menghasilkan dengan
menggunakan metode garis lurus, yaitu dengan membagi manfaat ekonomi dari tanaman
telah menghasilkan sama besar setiap periodenya sampai dengan masa manfaat dari
tanaman telah menghasilkan dapat digunakan. Masa manfaat dari tanaman telah
menghasilkan diperoleh dari estimasi pihak manajemen dengan mempertimbangkan proses
pertumbuhan vegetatif dari tanaman telah menghasilkan.
d. Pencatatan pengakuan produk agrikultur ke dalam akun persediaan
Produk agrikultur sebagai hasil dari tanaman telah menghasilkan langsung diakui
sebagai persediaan dan dinilai berdasarkan nilai yang lebih rendah antara harga perolehan
dan nilai realisasi bersih (net realizable value). Harga perolehan dari produk agrikultur
meliputi biaya-biaya yang terjadi untuk memperoleh produk agrikultur pada saat dipanen
serta biaya untuk membawanya ke lokasi sampai dengan produk agrikultur siap untuk
dijual atau dipakai dalam proses produksi lebih lanjut. Pengakuan awal persediaan berupa
produk agrikultur diukur berdasarkan harga perolehannya. Misalkan pada saat panen
diperoleh hasil berupa tandan buah segar (TBS) sebesar 24.000 kg per blok, dalam rangka
panen tersebut dikeluarkan biaya sewa alat panen sebesar Rp. 17.000.000,- kemudian biaya
angkut jasil panen ke gudang sebesar Rp. 14.300.000,-. Maka jurnal atas transaksi tersebut
adalah:
Persediaan (D) Rp. 31.300.000,-

Kas/Utang (K) Rp. 31.300.000,-


Nilai yang diakui dalam jurnal adalah senilai dengan harga pokok produk
agrikultur.
Penyajian nilai persediaan berupa produk agrikultur pada laporan keuangan
didasarkan pada harga yang terendah antara harga perolehan dan nilai realiasi bersihnya
(lower cost or net realizable value). Maka ketika akan disajikan dalam laporan keuangan
terlebih dahulu dilakukan penyesuaian terhadap nilai dari produk agrikultur tersebut. Jika
didapatkan bahwa yang menjadi harga terendah adalah harga perolehan maka tidak
diadakan penyesuaian, sebaliknya jika didapatkan bahwa harga terendah adalah nilai
realisasi bersih (net realizable value) maka harus diadakan penyesuaian terhadap nilai
tercatat dari persediaan berupa produk agrikultur. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai
yang harus diakui pada tanggal neraca diakui sebagai laba (gain) atau rugi (losses) atas
penilai persediaan. Misalkan dari contoh kasus sebelumya hasil panen berupa tandan buah
segar (TBS) sebanyak 24.000 kg dinilai sebesar Rp. 31.300.000,-, maka dapat diperoleh
harga per kilo dari TBS tersebut sebesar Rp. 1.304,- , setelah diadakan penilaian terhadap
net realizable value atas TBS diperoleh harga sebesar Rp. 1.300,-, karena nilai net
realizable value dari TBS lebih rendah dibandingkan dengan harga perolehan TBS maka
perlu diadakan penyesuaian. Jurnal penyesuaian atas nilai dari Persediaan TBS adalah
Kerugian revaluasi persediaan (D) Rp. 100.000,-

Persediaan (D) Rp. 100.000,-

Nilai yang dimasukkan dalam jurnal adalah selisih antara harga perolehan sebesar
Rp. 31.300.000,- dengan nilai realisasi bersih (net relizable value) sebesar Rp.
31.200.000,- (24.000 kg x Rp. 1.300,-) Jika didapatkan bahwa nilai net realizable value
lebih tinggi maka tidak diadakan penyesuaian atas nilai Persediaan.
9. Penyajian Aset Biologis Berupa Tanaman Perkebunan pada Laporan Keuangan
PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero)
Dalam laporan keuangan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) aset
biologis berupa tanaman perkebunan disajikan pada Neraca dalam kelompok aset tidak
lancar (non-current asset) berupa tanaman telah menghasilkan dan tanaman belum
menghasilkan. Tanaman telah menghasilkan disajikan dengan nilai setelah dikurangi
dengan akumulasi penyusutannya. Sedangkan produk agrikultur yang diakui sebagai
persediaan disajikan dalam kelompok aset lancar (current asset), produk agrikultur yang
siap dijual ditampilkan sebagai persediaan barang jadi dan produk agrikultur yang akan
digunakan dalam proses produksi berikutnya ditampilkan sebagai persediaan bahan
baku/pelengkap. Tampilan aset biologis berupa tanaman perkebunan dalam laporan
keuangan pada Neraca adalah sebagai berikut:
PER 31 DESEMBER 2005 DAN 2004
(Disajikan dalam Ribuan Rupian)

URAIAN 2005 2004


ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 23.704.827 10.387.484
Deposito - -
Piutang Usaha 16.188.562 2.259.373
Piutang Lain-lain 15.022.622 16.564.700
Persediaan Hasil Jadi 19.567.670 18.470.284
Persediaan Barang Gudang 10.594.253 11.120.098
Biaya Dibayar Dimuka 32.376.832 34.471.231
Jumlah Aset Lancar 117.454.766 93.273.170
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Hubungan Istimewa 2.660.000 2.235.000
Investasi pada Perusahaan Asosiasi 65.879.650 64.098.320
Investasi Jangka Panjang Lain 4.098.760 3.987.890
Tanaman Perkebunan :
Tanaman telah Menghasilkan 95.567.609 94.535.706
(setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan)
Tanaman Belum Menghasilkan 112.657.980 111.985.806
Aset Tetap 175.005.961 168.347.446
(setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan)
Aset Lain-lain 2.318.922 2.197.012
(setelah dikurangi dengan amortisasi)
Jumlah Aset Tidak Lancar 458.188.882 447.387.180
JUMLAH ASET 575.643.648 540.660.350

KEWAJIBAN
KEWAJIBAN LANCAR
Hutang Lancar 49.575.619 45.556.292
Hutang Lain-lain 134.899.804 109.214.275
Hutang Bank 51.305.000 51.305.000
Hutang Jangka Panjang kpd Pemerintah Jatuh Tempo 147.818.884 136.692.658
Hutang Jangka Panjang Jatuh Tempo - -
Jumlah Kewajiban Lancar 383.599.307 342.768.225
KEWAJIBAN TIDAK LANCAR
Hutang Bank Jangka Panjang 50.521.880 50.521.880
Titipan Dana KKPA 107.279.736 103.602.629
Hutang Kepada Pemerintah RI 34.256.291 41.943.027
Imbalan Pasca Kerja SHT 6.840.000
Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 198.897.907 196.067.536
JUMLAH KEWAJIBAN 582.497.214 538.835.761
EKUITAS
Modal Saham: Modal Dasar 450.000 lembar
dengan nilai nominal Rp. 1.000.000,- per saham,
modal yang ditempatkan dan disetor penuh 135.000
saham 135.000.000 135.000.000
Cadangan 30.590.779 30.590.779
(163.766.190
Laba ditahan (172.444.345) )
Jumlah Ekuitas (6.853.566) 1.824.589
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 575.643.648 540.660.350

Keterangan: Ilustrasi Laporan Neraca PTPN XIV (Persero) Makassar


- -

Anda mungkin juga menyukai