Anda di halaman 1dari 12

KERUKUNAN HIDUP UMAT BERAGAMA

(TRI HITA KARANA)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, beraneka ragam ras, bermacam-
macam golongan, beragam budaya. Penduduknya menganut berbagai macam agama serta
penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda-beda. Hal itu merupakan
Anugrah dari tuhan Yang Maha Esa.

Namun kalau tidak rukun dan bercerai-berai maka akan menimbulkan kehancuran..
Kehancuran dan penderitaan terjadi karena sifat-sifat manusia yang serakah, mudah marah, dan
nafsu yang tidak terkendali. Sifat manusia yang penuh nafsu, serakah dan cepat marah sering kali
menimbulkan komplik di masyarakat. Kelalaian dalam menyikapi setiap komplik kecil
dimasyarakat dapat meluas menjadi bentrokan antar suku, agama, ras dan antar golongan (SARA),
sehingga menimbulkan perpecahan yang sangat merugikan kerukunan dan kesatuan bangsa.

Dalam konsep Hindu untuk mewujud keharmonisan dan kerukunan sesama Umat manusia
terutama Umat Beragama serta lingkungan dan semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ( Brahman
/ Ida Sang Hyang Widi Wasa ) adalah Berpedoman pada ajaran Tri Hita Karana dan Tat Twam
Asi. Ajaran tersebut dijadikan konsep yang sangat essensial mengenai bagaimana caranya bisa
hidup rukun dan harmonis dalam suasana multicultural di NegaraIndonesiayang mempunyai
karakter tersendiri di bandingkan Negara-negara lain di Dunia. Ajaran ini bersumber dari Kitab
Suci Weda sebagai sumber ajaran bagi Umat Hindu yang harus diketahui, dipahami dan di amalkan
dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan
bernegara.

1
Oleh karena itu setiap pemimpin umat beragama, tokoh-tokoh adat, komponen masyarakat
lainnya maupun pemerintahan agar selalu mewaspadai, munculnya potensi konflik
dilingkungannya. Dapat mendeteksi dan mengambil langkah cepat dalam mengatasi setiap potensi
komplik. Dan tetap menjaga Kerukunan Antara umat beragama, suku, ras dan antar golongan.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah kerukunan antar umat beragama adalah:
1. Apa pengertian kerukunan umat beragama?
2. Bagaimana Sejarah Tri Hita Karana
3. Apa itu Tri Hita Karana?
4. Apa saja unsur-unsur dari Tri Hita Karana?
5. Apa saja bagian-bagian dari Tri Hita Karana?
6. Apa tujuan dari ajaran Tri Hita Karana?
7. Apa saja musuh-musuh dalam diri manusia penyebab terganggunya kerukunan umat
beragama?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan pada makalah kerukunan antar umat beragama adalah:
1. Mengetahui definisi dari kerukunan umat beragama
2. Mengetahui sejarah Tri Hita Karana
3. Mengetahui definisi Tri Hita Karana
4. Mengetahui unsur-unsur dari Tri Hita Karana
5. Mengetahui bagian-bagian dari Tri Hita Karana
6. Mengetahui tujuan dari ajaran Tri Hita Karana
7. Mengetahui musuh-musuh dalam diri manusia penyebab terganggunya kerukunan umat
beragama

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kerukunan Umat Beragama


Kerukunan umat beragama berarti antara pemeluk-pemeluk agama yang berbeda
bersedia secara sadar hidup rukun dan damai. Hidup rukun dan damai dilandasi oleh toleransi,
saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan dan bekerjasama
dalam kehidupan sosial di masyarakat. Hidup rukun artinya hidup bersama dalam masyarakat
secara damai, saling menghormati dan saling bergotong royong/bekerjasama.
Manusia ditakdirkan Hyang Widdhi sebagai makhluk sosial yang membutuhkan
hubungan dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia
memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik
kebutuhan material, kebutuhan spiritual, maupun kebutuhan akan rasa aman.
Kitab Weda (Kitab suci Umat Hindu) memerintahkan manusia untuk selalu
menjalankan Tri Hita Karana Yaitu : selalu berbakti kepada Hyang Widdhi, hidup rukun
dengan alam lingkungan, serta hidup rukun dengan sesama umat manusia. Dalam menjalin
hubungan dengan umat manusia, diperintahkan untuk selalu rukun tanpa memandang : ras,
kebangsaan, suku, agama, orang asing, pribumi maupun pendatang, dls. Sehingga umat Hindu
selalu berdoa sebagai berikut :

Samjnanam nah svebhih, Samjnanam aranebhih, Samjnanam asvina yunam, ihasmasu ni


‘acchalam.(Atharvaveda VII.52.1)

Artinya :
Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang yang dikenal dengan
akrab, Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang asing, semoga
Engkau memberkahi kami dengan keserasian (kerukunan/keharmonisan)

Janam bibhrati bahudha vivacasam, nanadharmanam prthivi yathaukasam, sahasram dhara


dravinasya me duham, dhruveva dhenur anapasphuranti ( Atharvaveda XII.I.45)

3
Artinya :
Semua orang berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda, dan memeluk Agama
(kepercayaan) yang berbeda-beda, Sehingga Bumi Pertiwi bagaikan sebuah keluarga
yang memikul beban. Semoga Ia melimpahkan kemakmuran kepada kita dan
menumbuhkan penghormatan diantara kita, seperti seekor sapi betina kepada anak-
anaknya

Bahkan umat Hindu selalu berdoa untuk keselamatan seluruh mahluk hidup, seperti bait ke 5
Puja Trisandya yang wajib dilantunkan tiga kali dalam sehari oleh umat Hindu yang taat :

Om Ksamasva mam mahadewa, sarwaprani hitangkara, mam moca sarwa papebyah,


palayaswa Sadasiwa

Artinya :
Hyang Widdhi ampunilah hamba, semoga semua mahluk hidup
(Sarwaprani) memperoleh keselamatan (hitangkara), bebaskan hamba dari segala dosa
dan lindungilan hamba. (Keterangan. : Mahadewa dan Sadasiwa adalah nama-nama
ke-Maha Kuasa-an Hyang Widdhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa).

B. Sejarah Tri Hita Karana


Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 November 1966, pada
waktu diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di
Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat
Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat
sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini
berkembang, meluas dan memasyarakat hingga sekarang

4
C. Pengertian Tri Hita Karana
Tri Hita Karana terdiri dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan
dan “Karana” berarti dengan penyebab. Jadi Tri Hita Karana dapat diartikan tiga penyebab
kebahagiaan. Di dalam falsafah Tri Hita Karana disebutkan bahwa Sang Hyang Widhi adalah
Maha Ada. Adanya beliau adalah mutlak, beliau tidak pernah ada, karena beliau selalu ada.
Beliaulah yang menciptakan alam semesta ini dengan segenap isinya. Proses penciptaan ini
disebut sresti, beliau terlebih dahulu menciptakan bhuana atau alam, maka munculah
palemahan. Setelah itu barulah beliau menciptakan manusia (termasuk makhluk hidup
lainnya). Setelah manusia berkembang dan menghimpun diri dalam kehidupan bersama dan
mendiami suatu wilayah tertentu, maka muncullah masyarakat yang disebut Pawongan.
Demikianlah Tri Hita Karana, yang mencakup Parhyangan, Palemahan, dan Pawongan.
Dalam hidup kita mempunyai dua kewajiban, yaitu sebagai berikut :

1. Menyelaraskan hubungan badan dengan Paramaatma (Sang Hyang Widhi).


2. Menyelaraskan hubungan dengan makhluk yang berbeda-beda, yaitu dewa-dewa, rsi,
pitra, manusia dan makhluk lainnya.

D. Unsur-unsur Tri Hita Karana

Unsur-unsur Tri Hita Karana ini meliputi :


 Sanghyang Jagatkarana
 Bhuana
 Manusia

Unsur - unsur Tri Hita Karana itu terdapat dalam kitab suci Bagawad Gita (III.10), berbunyi
sebagai berikut :
Sahayajnah prajah sristwa pura waca prajapatih anena prasawisya dhiwan esa
wo'stiwistah kamadhuk (Bagawad Gita III.10)

5
Artinya :

Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda
: dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari
keinginanmu.

E. Bagian – bagian Tri Hita Karana

Ada tiga hal yang tidak apat dipisahkan dari satu dengan yang lainnya dalam Tri Hita Karana,
yaitu :

1. Parhyangan (Hubungan antara manusia dan Tuhan)


Parhyangan berasal dari kata Hyang yang berarti Tuhan. Parhyangan berarti
ketuhanan atau hal hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja Sang
Hyang Widhi atau hubungan antara manusia dengan tuhan (Ida Sang Hyang Widhi).
Parhyangan mempunyai dasar dan bentuk yang beraneka warna, baik dalam bidang
rohani maupun jasmanikarena alam semesta beserta isinya ini berasal daripadanya dan
beliau pula yang mengatur semua itu.menyelaraskan hubungan badan (manusia) dengan
Sang Hyang Widhi Wasa (Paramatma), berarti menjadikan badan sendiri tempat untuk
mewujudkan sifat dari Sang Hyang Widhi Wasa. Oleh karena itu, badan jasmani kita
harus bersih dan sehat serta pikiran (rohani) harus suci murni sehingga kita bisa
memperoleh sinar sici tuhan.

Sebagai Umat beragama atas dasar konsep theology yang diyakininya khususnya
Umat Hindu yang pertama harus dilakukan adalah bagaimana berusaha untuk
berhubungan dengan Sang Pencipta melalui kerja keras sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya. Untuk hal ini ditempuh dengan Catur Marga yaitu empat jalan menuju Sang
Pencipta yakni :

1. Karma Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong Umat untuk berbuat
semaksimal mungkin untuk kepentingan orang banyak atau dirinya sendiri berada

6
dalam lingkungan itu. Apa yang dikerjakannya tersebut di landasi dengan rasa tulus
iklas dan tanpa pamrih. Yang dapat diperbuat dan mempunyai nilai spiritual yang
tinggi adalah membangun dan membantu pembangunan tempat-tempat ibadah baik
melalui memberikan dana punia ( memberikan sumbangan berupa uang atau bahan-
bahan bangunan ), sehingga dapat memperlancar kegiatan pembangunan tempat-
tempat ibadah tersebut dan terwujud dengan baik serta dapat dimanfaatkan sebagai
mana mestinya oleh Umat beragama untuk kegiatan Keagamaan.
2. Bhakti Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong Umat untuk tulus iklas
mengabdi atas dasar kesadaran pengabdiaan, yang dimaksudkan disini adalah selain
berbhakti kepada Hyang Widi Wasa (Tuhan) juga mengabdi untuk kepentingan
masyarakat, Bangsa, dan Negara.
3. Jnana Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong umat untuk yang
mempunyai kemampuan pemikiran – pemikiran yang cemerlang dan positif untuk
disumbangkan secara sukarela dan tanpa imbalan untuk kepentingan masyarakat,
bangsa dan Negara.
4. Raja Yoga Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong umat untuk selalu
menghubungkan diri dengan Tuhan melalui kegiatan sembahyang, tapa ( mengikuti
untuk tidak melanggar larangan/ pantangan ), brata ( mengendalikan diri ) dan semadi
( selalu menghubungkan diri dengan berpasrah diri kepada Tuhan melalui
berjapa/jikir ).

Dengan demikian, jelaslah bagaimana hubungan antara Sang Hyang Widhi dengan
alam semesta beserta isinya ini khususnya antara beliau (Tuhan) dengan manusia.
Hubungan ini harus kita pupuk dan tingkatkan terus ke arah yang lebih tinggi dan lebih
suci lahir batin, sesuai dengan swadharmaning umat yang riligius “susilawan”, yakni
untuk dapat mencapai moksartham jagadhita ya ca iti dharma, yaitu kebahagiaan hidup
duniawi dan kesempurnaan kebahagiaanrohani yang langgeng (moksa), yakni sesuai
dengan tujuan agama Hindu Satyam evam jayate na anetram.

2. Pawongan ( Hubungan antara manusia dengan manusia)


Pawongan berasal dari kata wong ( dalam bahasa jawa ) yang artinya orang.
Pawongan berarti prihal yang berkaitan dengan orang – orang atau perorangan dalam

7
kehidupan masyarakat atau menyelaraskan hubungan manusia dengan manusia. Selain
menyelaraskan hubungan antara atman dan paramatman atau antara manusia dengan
manusia, kita sebagai mahluk sosial juga harus membina hubungan yang rukun antara
manusia dengan manusia lainnya. Yang dimaksud dengan hubungan antara manusia dan
manusia adalah anggota – anggota keluarga dan anggota – anggota masyarakat. Misalnya
hubungan suami isrti, saudara dengan keluarga, dan anggota masyarakat lainnya yang
umur dan kedudukannya sama dengan kita.

Hubungan dengan orang – orang sederajat hendaklah sampai tercitanya suasana


rukun, harmonis, dan damai serta saling bantu membantu satu sama lain dengan penuh
kasih sayang, kasih mendorong rasa korban, rasa mengekang diri, rasa mengabdi untuk
kebahagiaan sesama. Kasih adalah dasar semua kebijakan (dharma) dan sebaliknya
dengki adalah dasar kedursilaan (adharma), kasih muncul dari dalam kalbu yang
merupakan alam Paramatma, yaitu alam ananda (kebahagiaan).

3. Palemahan (Hubungan antara Bhuana Alit dengan Bhuwana Agung)


Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berarti
bhuwana atau alam. Manusia hidup di dunia ini memerlukan ketentraman, kesejukan,
ketenangan, dan kebahagiaanlahir batin. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia tidak
bisa hidup tanpa bhuwana agung (alam semesta). Manusia hidup di alam dan dari hasil
alam. Hal inilah yang melandasi hubungan harmonis antara manusia dengan alam dimana
mereka bertempat tinggal.

Untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, umat Hindu


melaksanakan upacara tumpek uye, (tumpek kandang) yang bertujuan untuk melestarikan
hidup binatang dan melaksanakan upacara tumpek wariga (tumpek uduh, tumpek bubuh)
untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan serta memperingati hari lingkungan hidup sedunia.
Disamping itu pemerintah membuat suaka marga satwa. Lengkap dengan kebun raya dan
kebun binatang, tujuannya adalah untuk menjaga jangan sampai binatang dan tumbuhan
langka itu sampai rusak atau punah.

8
F. Tujuan Ajaran Tri Hita Karana

Dalam Bhagavadgita XVI.21-22. Kama (nafsu sex), krodha (marah) dan lobha
(serakah) disebutkan sebagai tiga jalan menuju neraka (Triwidham narakasye’dam), Jalan
untuk menuju kehancuran diri (dwaram nasanam atmanah ), sehingga ketiganya harus
disingkirkan (tasmad etat trayam tyajet) dari diri manusia. Orang yang bisa membebaskan diri
dari Kemarahan, Keserakahan, dan Nafsu sexual yang tidak pantas dan berbuat untuk
kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa akhirnya bisa mencapai tempat yang tertinggi ( sorga
bahkan moksa)

Arti penting dari falsafah Tri Hita Karana itu merupakan inti hakikat dari ajaran agama
Hindu secara universal. Ajaran Tri Hita Karana mengarahkan manusia untuk selalu
mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan sang pencipta, hubungan manusia
dengan sesama, dan hubungan manusia dengan lingkungan alamnya. Arah atau sasaran yang
ingin dicapai oleh ajaran Tri Hita Karana adalah untuk mencapai Moksartham Jagadhita ya
ca iti dharma yang artinya tujuan agama atau dharma adalah tujuan mencapai kesejahteraan
di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat.

Tujuan ajaran Tri Hita Karana adalah untuk mencapai keharmonisan antara manusia
dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan
hubungan manusia dengan lingkungan alam. Dengan adanya keharmonisan alam semesta
(bhuana agung) dengan manusia (bhuana alit) maka tercapailah tujuan akhir agama Hindu
yaitu Moksa, yang berarti bersatunya atman dengan brahman.

G. Musuh-Musuh Dalam Diri Manusia Penyebab Terganggunya Kerukunan


Umat Beragama
Ada enam musuh utama dalam diri manusia yang harus dikalahkan untuk
meningkatkan spiritualitas manusia, sekaligus bermanfaat menciptakan kerukunan umat
beragama. Ke-enam musuh yang ada pada manusia disebut Sad Ripu yaitu :

9
1. Kama artinya sifat penuh nafsu indriya terutama nafsu sex.
2. Lobha artinya sifat loba dan serakah.
3. Krodha artinya sifat pemarah/mudah marah.
4. Mada artinya sifat suka mabuk-mabukan
5. Moha artinya sifat angkuh dan sombong.
6. Matsarya artinya sifat dengki dan iri hati

Selain enam musuh utama dalam diri manusia yang harus dikalahkan, adalagi yang
disebut Sad Atatayi, yaitu enam kejahatan yang membuat manusia menderita, sehingga
dilarang untuk dilakukan yaitu :

1. Agnida : membakar milik orang lain.


2. Wisada : meracuni orang lain atau mahluk lain.. menggunakan racun insektisida
maupun bahan kimia atau obat-obat terlarang lainnya
3. Atharwa : menggunakan ilmu hitam untuk menyengsarakan orang lain. Misalnya
black magic, santet/cetik, sihir, leak, dll
4. Sastraghna : mengamuk atau membunuh .
5. Dratikrama : memperkosa termasuk juga pelecehan sexual.
6. Rajapisuna : memfitnah

10
BAB III

PENUTUP

Kerukunan umat beragama berarti antara pemeluk-pemeluk agama yang berbeda bersedia
secara sadar hidup rukun dan damai. Hidup rukun dan damai dilandasi oleh toleransi, saling
pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan dan bekerjasama dalam
kehidupan sosial di masyarakat. Hidup rukun artinya hidup bersama dalam masyarakat secara
damai, saling menghormati dan saling bergotong royong/bekerjasama.

Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 November 1966, pada waktu
diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan
Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan
dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil
dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas dan
memasyarakat hingga sekarang
Tri Hita Karana terdiri dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan
“Karana” berarti dengan penyebab. Jadi Tri Hita Karana dapat diartikan tiga penyebab
kebahagiaan. Unsur-unsur Tri Hita Karana ini meliputi Sanghyang Jagatkarana, Bhuana, dan
Manusia. Ada tiga hal yang tidak apat dipisahkan dari satu dengan yang lainnya dalam Tri Hita
Karana, yaitu :

1. Parhyangan (Hubungan antara manusia dan Tuhan)


Parhyangan berasal dari kata Hyang yang berarti Tuhan. Parhyangan berarti ketuhanan
atau hal hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja Sang Hyang Widhi
atau hubungan antara manusia dengan tuhan (Ida Sang Hyang Widhi).

2. Pawongan ( Hubungan antara manusia dengan manusia)


Pawongan berasal dari kata wong ( dalam bahasa jawa ) yang artinya orang. Pawongan
berarti prihal yang berkaitan dengan orang – orang atau perorangan dalam kehidupan
masyarakat atau menyelaraskan hubungan manusia dengan manusia.

11
3. Palemahan (Hubungan antara Bhuana Alit dengan Bhuwana Agung)
Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berarti bhuwana
atau alam. Manusia hidup di dunia ini memerlukan ketentraman, kesejukan, ketenangan, dan
kebahagiaanlahir batin.

Tujuan ajaran Tri Hita Karana adalah untuk mencapai keharmonisan antara manusia dengan
Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia
dengan lingkungan alam. Dengan adanya keharmonisan alam semesta (bhuana agung) dengan
manusia (bhuana alit) maka tercapailah tujuan akhir agama Hindu yaitu Moksa, yang berarti
bersatunya atman dengan brahman.

Ada enam musuh utama dalam diri manusia yang harus dikalahkan untuk meningkatkan
spiritualitas manusia, sekaligus bermanfaat menciptakan kerukunan dan kedamaian Umat manusia
yaitu Sad Ripu. Selain itu ada lagi yang disebut Sad Atatayi, yaitu enam kejahatan yang membuat
manusia menderita, sehingga dilarang untuk dilakukan.

12