Anda di halaman 1dari 49

WARGA NEGARA DAN PEWARGANEGARAAN

Pengertian Warga Negara


A.

dalam UU
1. Warga Negara secara
umum : Anggota suatu
negara yang mempunyai
keterikatan timbal balik
dengan negaranya
2. Warga Negara Indonesia
menurut Pasal 26 UUD
1945 adalah : Orang-orang
bangsa Indonesia asli dan
bangsa lain yang disahkan
Undang-undang sebagai
warga negara
3. Bangsa Indonesia asli
adalah Orang-orang
pribumi / penduduk asli
Indonesia yang ; (Lahir,

1
besar, berdomisili, berkarya
di Indonesia, serta
mengakui Indonesia
sebagai tanah airnya)
4. Warga Negara Indonesia
Menurut ( Pasal 4 UU No.
12 Tahun 2006 Tentang
Kewarganeggaraan ) yaitu:
• Setiap orang yang
berdasarkan peraturan
perundangan dan/atau
berdasarkan perjanjian
pemeirntah RI dengan
negara lain sebelum
Undang-undang ini
berlaku sudah menjadi
WNI.

2
• Anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
ayah dan ibu WNI .
• Anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
ayah WNI dan ibu WNA.
• Anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
ibu WNI dan ayah WNA.
• Anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
seorang ibu WNI, tetapi
ayahnya tidak mepunya
kewarganegaraan atau
hukum asal ayahnya tidak
memberiikan
kewarganegaraan pada
anak tersebut.

3
• Anak yang lahir diluar
perkawinan yang sah dari
ibu WNI, dan jika ayahnya
WNA maka harusdisertai
pengakuan dari ayahnya.
• Anak yang lahir dalam
tenggang waktu 300 hari
setelah ayahnya
meninggal dunia dari
perkawinan yang sah dan
ayahnya WNI.
• Anak yang lahir di wilayah
RI yang pada waktu lahir
tidak jelass status
kewarganegaraan ayah
ibunya.
5. Bangsa lain Menurut
Penjelasan UUD 1945
adalah Peranakan Belanda,
4
Cina, Arab, dll. Yang
menetap di wilayah RI
dimana mereka mengakui
Indonesia sebagai Tanah
Air-nya, dan bersikap setia
kepada NKRI
B. Pengertian warga
negara secara umum
Warga negara merupakan
terjemahan kata citizens
(bahasa Inggris) yang
mempunyai arti warga
negara, petunjuk dari sebuah
kota, sesama warga negara ,
sesama penduduk, orang
setanah air; bawahan atau
kaula.Warga mengandung arti
peserta, anggota atau warga
dari suatu organisasi atau
5
perkumpulan. Warga negara
artinya warga atau anggota
dari organisasi yg bernama
negara. Ada istilah rakyat,
penduduk dan warga negara.
Rakyat lebih merupakan
konsep politis. Rakyat
menunjuk pada orang-orang
yang berada dibawah satu
pemerintahan dan tunduk
pada pemerintahan itu. Istilah
rakyat umumnya dilawankan
dengan penguasa. Penduduk
adalah orang-orang yang
bertempat tinggal di suatu
wilayah negara dalam kurun
waktu tertentu.
Kewarganegaraan
(citizenship) artinya

6
keanggotaan yang
menunjukkan hubungan atau
ikatan antara negara dengan
warga negara.
Istilah kewarganegaraan
dibedakan menjadi dua
yaitu :
a. kewarganegaraan dalam
arti yuridis dan sosiologis, dan
b. kewarganegaraan dalam
arti formil dan materiil
Yang menjadi warga Negara
Indonesia ialah orang-orang
bangsa Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain yang
disahkan dengan undang-
undang sebagai warga
negara.Penduduk ialah warga
7
negara Indonesia dan orang
asing yang bertempat tinggal
di Indonesia. Hal-hal
mengenai warga negara dan
penduduk diatur dengan
undang- undang (pasal 26
UUD 1945).
Undang-undang yang
mengatur tentang warga
negara adalah UU No 12 th
2006 tentang
Kewarganegaraan Indonesia.
Asas –asas yang dipakai
dalam UU ini adalah; asas isu
sanguinis, asas ius soli
terbatas, asas
kewarganegaraan tunggal dan
asas kewarganegaraan ganda
terbatas.
8
Selain itu ditentukan pula hak
dan kewajiban yang dimiliki
negara terhadap warga
negara. Hak dan kewajiban
negara terhadap warga
negara pada dasarnya
merupakan kewajiban dan
hak warga terhadap negara.
• Di Negara Indonesaia di
atur dalam:
• UUD 1945 pasal 26
• UU No. 12 Tahun 2006
tentang Kewarganegaraan
RI + Peraturan
Pelaksananya
C. Cara Memperoleh
Kewarganegaraan
1. Asas Kelahiran

9
a. Ius Soli (Menurut
Tempat Kelahiran) yaitu;
Penentuan status
kewarganegaraan
seseorang berdasarkan
tempat dimana ia
dilahirkan. Seseorang yang
dilahirkan di negara A maka
ia menjadi warga negara A,
walaupun orang tuanya
adalah warga negara B.
asas ini dianut oleh negara
Inggris, Mesir, Amerika dll
b. Ius Sanguinis (Menurut
Keturunan/Pertalian Darah)
yaitu; Penentuan status
kewarganegaraan
seseorang berdasarkan
keturunan dari negara

10
mana seseorang berasal
Seseorang yg dilahirkan di
negara A, tetapi orang
tuanya warga negara B,
maka orang tersebut
menjadi warga negara B.
(dianut oleh negara RRC)

2. Naturalisasi Adalah suatu


perbuatan hukum yang
dapat menyebabkan
seseorang memperoleh
status kewarganegaraan,
Misal : seseorang
memperoleh status
kewarganegaraan akibat
dari pernikahan,
mengajukan permohonan,

11
memilih/menolak status
kewarganegaraan :

√ Naturalisasi Biasa Syarat –


syarat :
1. Telah berusia 21
Tahun
2. Lahir di wilayah RI /
bertempat tinggal yang
paling akhir min. 5 thn
berturut-turut atau 10
tahun tidak berturut-
turut
3. Apabila ia seorang
laki-laki yg sdh kawin, ia
perlu mendpt
persetujuan istrinya
4. Dapat berbahasa
Indonesia
12
5. Sehat jasmani &
rokhani
6. Bersedia membayar
kepada kas negara uang
sejumlah Rp.500 sampai
10.000 bergantung
kepada penghasilan
setiap bulan
7. Mempunyai mata
pencaharian tetap
8. Tidak mempunyai
kewarganegaraan lain
apabila ia memperoleh
kewarganegaraan atau
kehilangan
kewarganegaraan RI
√ Naturalisasi Istimewa
Naturalisasi ini dapat
diberikan bagi mereka (warga
13
asing) yang telah berjasa
kepada negara RI dengan
penyataan sendiri
(permohonan) untuk menjadi
WNI, atau dapat diminta oleh
negara RI
3. Permasalahan dalam
Pewarganegaraan
a. Apatride adalah
Seseorang yang tidak
memiliki status
kewarganegaraan Contoh :
Seorang keturunan bangsa A
(Ius Soli) lahir di negara B (Ius
Sanguinis) Maka orang tsb
bukan warga negara A
maupun warga negara B
b. Bipatride adalah
Seseorang yang memiliki
14
kewarganegaraan rangkap
Contoh : Seorang keturunan
bangsa C (Ius Sanguinis) lahir
di negara D (Ius Soli).
Sehingga karena ia keturunan
negara C, maka dianggap
warga negara C, tetapi negara
D juga menganggapnya
sebagai warga negara,karena
ia lahir di negara D
c. Multipatride : Seseorang
yang memiliki 2 atau lebih
kewarganegaraan Contoh :
Seorang yang BIPATRIDE juga
menerima pemberian status
kewarganegaraan lain ketika
dia telah dewasa, dimana saat
menerima kewarganegaraan
yang baru ia tidak

15
melepaskan status bipatride-
nya

Permasalahan tersebut di
atas harus di hindari
dengan upaya:
• Memberikan Kepastian
hukum yang lebih jelas
akan status hukum
kewarganegaran seseorang
• Menjamin hak-hak serta
perlindungan hukum yang
pasti bagi seseorang dalam
kehidupan bernegara
4. Cara Memperoleh
Kewarganegaraan
Indonesia ( Berdasarkan
Penjelasan UU No. 62
Tahun 1958 )
16
• Karena kelahiran
• Pengangkatan
• Dikabulkannya Permohonan
• Pewarganegaraan
(Opsi/Repudiasi)
• Akibat Perkawinan
• Turut Ayah atau Ibu
• Pernyataan
Pengertian WNI (Warga
Negara Indonesia
Dalam UU 12 tahun 2006
tentang Kewarganegaraan RI,
dijelaskan bahwa yang
dimaksud WNI adalah seperti
diatur dalam pasal 4.
Bunyi Pasal 4 UU No 12 Th
2006 sbb.:

17
Warga Negara Indonesia
adalah:
a. Setiap orang yang
berdasarkan peraturan
perundang- undangan
dan/atau berdasarkan
perjanjian Pemerintah
Republik Indonesia dengan
negara lain sebelum
Undang-Undang ini berlaku
sudah menjadi Warga
Negara Indonesia
b. anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
seorang ayah dan ibu Warga
Negara Indonesia;
c. anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
seorang ayah Warga Negara
18
Indonesia dan ibu warga
negara asing;
d. anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
seorang ayah warga negara
asing dan ibu Warga Negara
Indonesia;
e. anak yang lahir dari
perkawinan yang sah dari
seorang ibu Warga Negara
Indonesia, tetapi ayahnya
tidak mempunyai
kewarganegaraan atau
hukum negara asal ayahnya
tidak memberikan
kewarganegaraan kepada
anak tersebut;
f.anak yang lahir dalam
tenggang waktu 300 (tiga

19
ratus) hari setelah ayahnya
meninggal dunia dari
perkawinan yang sah dan
ayahnya Warga Negara
Indonesia;
g. anak yang lahir di luar
perkawinan yang sah dari
seorang ibu Warga Negara
Indonesia;
h. anak yang lahir di luar
perkawinan yang sah dari
seorang ibu warga negara
asing yang diakui oleh
seorang ayah Warga Negara
Indonesia sebagai anaknya
dan pengakuan itu dilakukan
sebelum anak tersebut
berusia 18 (delapan belas)
tahun atau belum kawin;

20
i. anak yang lahir di wilayah
negara Republik Indonesia
yang pada waktu lahir tidak
jelas status
kewarganegaraan ayah dan
ibunya;
j. anak yang baru lahir yang
ditemukan di wilayah Negara
Republik Indonesia selama
ayah dan ibunya tidak
diketahui;
k. anak yang lahir di wilayah
negara Republik Indonesia
apabila ayah dan ibunya
tidak mempunyai
kewarganegaraan atau tidak
diketahui keberadaannya;
l. anak yang dilahirkan di luar
wilayah negara Republik

21
Indonesia dari seorang ayah
dan ibu Warga Negara
Indonesia yang karena
ketentuan dari negara
tempat anak tersebut
dilahirkan memberikan
kewarganegaraan kepada
anak yang bersangkutan;
m. anak dari seorang ayah
atau ibu yang telah
dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya,
kemudian ayah atau ibunya
meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau
menyatakan janji setia.

22
Hak dan Kewajiban
Sebagai Warga Negara
Indonesia
Berikut ini adalah beberapa
contoh hak dan kewajiban kita
sebagai rakyat Indonesia.
Setiap warga negara memiliki
hak dan kewajiban yang sama
satu sama lain tanpa
terkecuali. Persamaaan antara
manusia selalu dijunjung
tinggi untuk menghindari
berbagai kecemburuan sosial
yang dapat memicu berbagai
permasalahan di kemudian
hari. Namun biasanya bagi
yang memiliki banyak uang
atau tajir bisa memiliki
tambahan hak dan
23
pengurangan kewajiban
sebagai warga negara
kesatuan republik Indonesia.
A. Contoh Hak Warga
Negara Indonesia
1. Setiap warga negara
berhak mendapatkan
perlindungan hukum
2. Setiap warga negara
berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak
3. Setiap warga negara
memiliki kedudukan yang
sama di mata hukum dan di
dalam pemerintahan
4. Setiap warga negara
bebas untuk memilih,
memeluk dan menjalankan
agama dan kepercayaan
24
masing-masing yang
dipercayai
5. Setiap warga negara
berhak memperoleh
pendidikan dan pengajaran
6. Setiap warga negara
berhak mempertahankan
wilayah negara kesatuan
Indonesia atau nkri dari
serangan musuh
7. Setiap warga negara
memiliki hak sama dalam
kemerdekaan berserikat,
berkumpul mengeluarkan
pendapat secara lisan dan
tulisan sesuai undang-
undang yang berlaku
B. Contoh Kewajiban
Warga Negara Indonesia
25
1. Setiap warga negara
memiliki kewajiban untuk
berperan serta dalam
membela,
mempertahankan
kedaulatan negara
indonesia dari serangan
musuh
2. Setiap warga negara
wajib membayar pajak dan
retribusi yang telah
ditetapkan oleh pemerintah
pusat dan pemerintah
daerah (pemda)
3. Setiap warga negara
wajib mentaati serta
menjunjung tinggi dasar
negara, hukum dan
pemerintahan tanpa

26
terkecuali, serta dijalankan
dengan sebaik-baiknya
4. Setiap warga negara
berkewajiban taat, tunduk
dan patuh terhadap segala
hukum yang berlaku di
wilayah negara indonesia
5. Setiap warga negara
wajib turut serta dalam
pembangunan untuk
membangun bangsa agar
bangsa kita bisa
berkembang dan maju ke
arah yang lebih baik.
Syarat Menjadi WNI
(Warga
Negara Indonesia)

Berdasar UU Nomor 12 tahun


27
2006 tentang
Kewarganegaraan Republik
Indonesia dijelaskan bahwa
orang asing dapat menjadi
warga negara Indonesia (WNI)
setelah memenuhi syarat dan
tatacara yang diatur dalam
peraturan dan undang-
undang. Pada pasal 8,
disebutkan
“Kewarganegaraan Republik
Indonesia dapat juga
diperoleh melalui
pewarganegaraan.”
Sedangkan pengertian
pewarganegaraan adalah tata
cara bagi orang asing untuk
memperoleh
Kewarganegaraan Republik

28
Indonesia melalui
permohonan.
Syarat :
Permohonan
pewarganegaraan dapat
diajukan oleh pemohon jika
memenuhi persyaratan
seperti disebut dalam pasal 9,
yakni:
a.Telah berusia 18
(delapan belas) tahun
atau sudah kawin.
b. Pada waktu mengajukan
permohonan sudah
bertempat tinggal di
wilayah negara Republik
Indonesia paling singkat 5
(lima ) tahun berturut-turut

29
atau paling singkat 10
(sepuluh) tahun tidak
berturut-turut;
c. Sehat jasmani dan
rohani;
d. dapat berbahasa
Indonesia serta mengakui
dasar negara Pancasila dan
Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
e. tidak pernah dijatuhi
pidana karena melakukan
tindak pidana yang
diancam dengan pidana
penjara 1 (satu) tahun atau
lebih;
f. jika dengan memperoleh
Kewarganegaraan Republik

30
Indonesia, tidak menjadi
berkewarganegaraan
ganda;
g. mempunyai pekerjaan
dan/atau berpenghasilan
tetap; dan
h. membayar uang
pewarganegaraan ke Kas
Negara.
Prosedur berikutnya antara
lain permohonan harus ditulis
dalam bahasa Indonesia di
atas kertas bermeterai.
Keputusan akhir atas
permohonan adalah pada
Presiden. Bila dikabulkan oleh
Presiden maka status WNI
dinyatakan berlaku efektif
sejak pemohon mengucapkan
31
sumpah atau janji setia
kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Kedudukan Warga Negara
di Indonesia
Dalam sistem
kewarganegaraan di
Indonesia, Kedudukan warga
negara pada dasarnya adalah
sebagai pilar terwujudnya
Negara. Sebagai sebuah
negara yang berdaulat dan
merdeka Indonesia
mempunyai kedudukan yang
sama dengan negara lain di
dunia, pada dasarnya
kedudukan warga negara bagi
negara Indonesia diwujudkan
dalam berbagai peraturan
32
perundang-undangan tentang
kewarganegaraan, yaitu :

1. UUD 1945
Dalam konteks UUD 1945,
Kedudukan warga negara dan
penduduk diatur dalam pasal
26 yaitu :
a. Yang menjadi warga
negara ialah orang-orang
warga Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain
yang disahkan dengan UU
sebagai warga negara.
b. Penduduk ialah warga
negara Indonesia dan orang
asing yang tinggal di
Indonesai.

33
c. Hal-hal mengenai warga
negara penduduk di atur
dengan UU.
2. UU No. 3 tahun 1946
Undang-undang No.3 ialah
tentang warga negara dan
penduduk negara adalah
peraturan derivasi dibawah
dibawah UU 1945 yang
digunakan untuk menegakan
kedudukan Negara RI dengan
warga negaranya dan
kedudukan penduduk negara
RI.

3. UU No. 62 tahun 1958


UU No.62 tahun 1958 merupakan penyempurnaan dari UU tentang
kewarga negaraan yang terdahulu. UU No. 62 tahun 1958 tenang
kewarganegaraan RI merupakan produk hukum derivasi dari pasal 5
dan 144 UUD RI 1950 yang sampai saat ini masih berlaku dan tetap
digunakan sebagai sumber hakum yang mengatur masalah
kewarganegaraan di Indonesai setelah kurang lebih 48 tahun berlaku,
dan saat ini dinilai sudah tidak sesuai lagi. Permasalahan

34
kewarganegaraan yang semakin kompleks ternyata tidak mampu
ditampung oleh undang-undang ini.

4. UU No.12 tahun 2006


RUU Kewarganegaraan yang baru ini memuat beberapa subtansi dasar
yang lebih revolusioner dan aspiratif, seperti :

1. Siapa yang mnjadi warga negara Indonesia


2. Syarat dan tata cara memperoleh kewarganegaraan Republik
Indonesia
3. Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia
4. Syarat dan tata cara memperoleh kembali kewarganegaraan
Republik Indonesia
5. Ketentuan pidana

Persamaan Kedudukan Warga Negara Indonesia


Warga negara adalah sama kedudukannya, hak dan kewajibannya.
Setiap individu mendapat perlakuan yang sama dari negara. Ketentuan
ini secara tegas termuat dalam konstitusi tertinggi kita, yaitu UUD
1945 Bab X sampai Bab XIV pasal 27 sampai pasal 34. berikut ini
dijelaskan secara lebih rinci terntang persamaan kedudukan warga
negara, dalam berbagai bidang kehidupan.

1. Persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintah


Pasal 27 ayat (1) menyatakan bahwa “segala warga negara
bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya.” Pasal ini juga memperlihatkan kepada kita
adanya kepedulian adanya hak asasi dalam bidang hukum dan
politik.
2. Persamaan atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan (ekonomi)
Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa “tiap-tiap warga negara
berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.” Pasal ini memencarkan persamaan akan keadilan
sosial dan kerakyatan. Ini berarti hak asasi ekonomi warga
negara dijamin dan diatur pelaksanaanya.
3. Persamaan dalam hal kemerdekaan berserikat dan berkumpul
(politik)
Pasal 28 E ayat (3) menetapkan warga negara dan setiap orang
untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Pasal
ini mencerminkan bahwa negara Indonesia bersifat demokratis
dan memberi kebebasan yang bertanggung jawab bagi setiap
warga negaranya untuk melaksanakan hak dan kewajibannya
dalam bidang politik.

35
4. Persamaan dalam HAM
Dalam Bab X A tentang hak asai manusia dijelaskan secara
tertulis bahwa negara memberikan dan mengakui persamaan
setiap warga negara dalam menjalankan HAM. Mekanisme
pelaksanaan HAM secara jelas ditetapkan melalui pasal 28 A
sampai dengan pasal 28 J.
5. Persamaan dalam agama
Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa “negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu.” Berdasar pasal ini tersurat
jelas bahwa begara menjamin persamaan setiap penduduk untuk
memeluk agama sesuai dengan keinginannya. Agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan YME dijalankan tanpa ada paksaan
dari pihak manapun.
6. Persamaan dalam upaya pembelaan negara
Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa “setiap warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara.” Lebih lanjut, pasal 30 UUD 1945 memuat ketentuan
pertahanan dan keamanan negara. Kedua pasal tersebut secara
jelas dapat kita ketahui bahwa negara memberikan kesempatan
yang sama kepada setiap warga negara yang ingin membela
Indonesia.
7. Persamaan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan : Pasal 31
dan 32 UUD 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara
mempunyai hak dan kedudukan yang sama dalam masalah
pendidikan dan kebudayaan. Kedua pasal ini menunjukan bahwa
begitu konsen dan peduli terhadap pendidikan dan kebudayaan
warga negara Indonesia. Setiap warga negara mendapat porsi
yang sama dalam kedua masalah ini.
8. Persamaan dalam perekonomian dan kesejahteraan sosial
Persamaan kedudukan warga negara dalam perekonomian dan
kesejahteraan diatur dalam Bab XIV pasal 33 dan 34. pasal 33
mengatur masalah perekonomian nasional yang diselenggarakan
berdasar atas asas kekeluargaan dengan prinsip demokrasi
ekonomi untuk kemakmuran rakyat secara keseluruhan.
Selanjutnya pasal 34 memuat ketentuan tentang kesejahteraan
sosial dan jaminan sosial diman fakir miskin dan anak-anak
terlantar dipelihara oleh negara (pasal 1) dan negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak (pasal 3).

Kewarganegaraan Republik Indonesia

Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) adalah orang yang diakui oleh
UU sebagai warga negara Republik Indonesia. Kepada orang ini akan

36
diberikan Kartu Tanda Penduduk, berdasarkan Kabupaten atau (khusus
DKI Jakarta) Provinsi, tempat ia terdaftar sebagai penduduk/warga.
Kepada orang ini akan diberikan nomor identitas yang unik (Nomor
Induk Kependudukan, NIK) apabila ia telah berusia 17 tahun dan
mencatatkan diri di kantor pemerintahan. Paspor diberikan oleh
negara kepada warga negaranya sebagai bukti identitas yang
bersangkutan dalam tata hukum internasional.

Kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam UU no. 12 tahun


2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Menurut UU ini,
orang yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) adalah

Selain itu, diakui pula sebagai WNI bagi :

1. anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia
18 tahun dan belum kawin, diakui secara sah oleh ayahnya yang
berkewarganegaraan asing
2. anak WNI yang belum berusia lima tahun, yang diangkat secara
sah sebagai anak oleh WNA berdasarkan penetapan pengadilan
3. anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada
dan bertempat tinggal di wilayah RI, yang ayah atau ibunya
memperoleh kewarganegaraan Indonesia
4. anak WNA yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak
secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh
WNI.

Kewarganegaraan Indonesia juga diperoleh bagi seseorang


yang termasuk dalam situasi sebagai berikut:

1. Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan
bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia, yang ayah atau
ibunya memperoleh kewarganegaraan Indonesia
2. Anak warga negara asing yang belum berusia lima tahun yang
diangkat anak secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai
anak oleh warga negara Indonesia

Di samping perolehan status kewarganegaraan seperti tersebut di


atas, dimungkinkan pula perolehan kewarganegaraan Republik
Indonesia melalui proses pewarganegaraan. Warga negara asing yang
kawin secara sah dengan warga negara Indonesia dan telah tinggal di
wilayah negara Republik Indonesia sedikitnya lima tahun berturut-turut
atau sepuluh tahun tidak berturut-turut dapat menyampaikan
pernyataan menjadi warga negara di hadapan pejabat yang
berwenang, asalkan tidak mengakibatkan kewarganegaraan ganda.
Berbeda dari UU Kewarganegaraan terdahulu, UU Kewarganegaraan
tahun 2006 ini memperbolehkan dwikewarganegaraan secara terbatas,

37
yaitu untuk anak yang berusia sampai 18 tahun dan belum kawin
sampai usia tersebut. Pengaturan lebih lanjut mengenai hal ini
dicantumkan pada Peraturan Pemerintah no. 2 tahun 2007.

Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan


politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa
hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan
keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga
negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya.

Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan


(citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau
kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena
keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah,
kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik
akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi
warganya.

Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan


(nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam
perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa
menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan
subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak
berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak
politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.

Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan
kewajiban. Dalam filosofi "kewarganegaraan aktif", seorang warga negara disyaratkan
untuk menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi
ekonomi, layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk
memperbaiki penghidupan masyarakatnya. Dari dasar pemikiran ini muncul mata
pelajaran Kewarganegaraan (Civics) yang diberikan di sekolah-sekolah.

Perbedaan antara penduduk dan warga


negara.
Pada hakekatnya, pengertian mengenai penduduk lebih
ditekankan pada komposisi penduduk. Pengertian ini mempunyai arti
yang sangat luas, tidak hanya meliputi pengertian umur, jenis kelamin
dan lain-lain, tetapi juga klasifikasi tenaga kerja dan watak ekonomi,
tingkat pendidikan, agama, ciri sosial, dan angka statistik lainnya yang
menyatakan distribusi frekuensi Penduduk adalah setiap orang baik
Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing yang bertempat
tinggal tetap di dalam wilayah Negara Indonesia dan telah memenuhi
ketetnuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. WARGA

38
NEGARA adalah warga suatu Negara yang ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan. (Penjelasan UUD 1945 Psl 26).
Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) adalah orang yang
diakui oleh UU sebagai warga negara Republik Indonesia. Kepada
orang ini akan diberikan Kartu Tanda Penduduk, berdasarkan
Kabupaten atau (khusus DKI Jakarta) Provinsi, tempat ia terdaftar
sebagai penduduk/warga. Kepada orang ini akan diberikan nomor
identitas yang unik (Nomor Induk Kependudukan, NIK) apabila ia telah
berusia 17 tahun dan mencatatkan diri di kantor pemerintahan. Paspor
diberikan oleh negara kepada warga negaranya sebagai bukti identitas
yang bersangkutan dalam tata hukum internasional.
Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam
satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya
membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang
dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang
warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya.
Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan
(citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau
kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena
keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah,
kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik
akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi
warganya.
Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan
(nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam
perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa
menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan
subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak
berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak
politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.

PROSEDUR PERKAWINAN CAMPURAN DI INDONESIA


Hal-hal yang terkait dengan perkawinan campuran, khususnya bagi
Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan menikah di Indonesia
dengan laki-laki Warga Negara Asing (WNA) berdasarkan UU yang
berlaku saat ini (UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).

1. PERKAWINAN CAMPURAN. Perkawinan antara dua


orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan,
karena perbedaan kewarganegaraan, dikenal dengan
Perkawinan Campuran (pasal 57 UU No. 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan). Artinya perkawinan yang akan anda lakukan adalah
perkawinan campuran.
2. Sesuai dengan UU Yang Berlaku
Perkawinan Campuran yang dilangsungkan di Indonesia
dilakukan menurut Undang-Undang Perkawinan dan harus

39
memenuhi syarat-syarat perkawinan. Syarat Perkawinan
diantaranya: ada persetujuan kedua calon mempelai, izin dari
kedua orangtua/wali bagi yang belum berumur 21 tahun, dan
sebagaimua (lihat pasal 6 UU Perkawinan).
3. Surat Keterangan dari Pegawai Pencatat
Perkawinan
Bila semua syarat telah terpenuhi, anda dapat meminta pegawai
pencatat perkawinan untuk memberikan Surat Keterangan dari
pegawai pencatat perkawinan masing-masing pihak, --anda dan
calon suami anda,-- (pasal 60 ayat 1 UU Perkawinan). Surat
Keterangan ini berisi keterangan bahwa benar syarat telah
terpenuhi dan tidak ada rintangan untuk melangsungkan
perkawinan. Bila petugas pencatat perkawinan menolak
memberikan surat keterangan, maka anda dapat meminta
Pengadilan memberikan Surat Keputusan, yang menyatakan
bahwa penolakannya tidak beralasan (pasal 60 ayat 3 UU
Perkawinan).
Surat Keterangan atau Surat Keputusan Pengganti Keterangan
ini berlaku selama enam bulan. Jika selama waktu tersebut,
perkawinan belum dilaksanakan, maka Surat Keterangan atau
Surat Keputusan tidak mempunyai kekuatan lagi (pasal 60 ayat 5
UU Perkawinan).
• Surat-surat yang harus dipersiapkan
Ada beberapa surat lain yang juga harus disiapkan, yakni:
A. UNTUK CALON SUAMI
Anda harus meminta calon suami anda untuk melengkapi surat-
surat dari daerah atau negara asalnya. Untuk dapat menikah di
Indonesia, ia juga harus menyerahkan "Surat Keterangan" yang
menyatakan bahwa ia dapat kawin dan akan kawin dengan WNI.
SK ini dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di negaranya.
Selain itu harus pula dilampirkan:
• Fotokopi Identitas Diri (KTP/pasport)
• Fotokopi Akte Kelahiran
• Surat Keterangan bahwa ia tidak sedang dalam status kawin;
atau
Akte Cerai bila sudah pernah kawin; atau
Akte Kematian istri bila istri meninggal
• Surat-surat tersebut lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh penterjemah yang disumpah dan kemudian harus
dilegalisir oleh Kedutaan Negara WNA tersebut yang ada di
Indonesia.

B. UNTUK CALON ISTRI


Anda harus melengkapi diri anda dengan:
• Fotokopi KTP
• Fotokopi Akte Kelahiran

40
• Data orang tua calon mempelai
• Surat pengantar dari RT/RW yang menyatakan bahwa anda tidak
ada halangan bagi anda untuk melangsungkan perkawinan

4. Pencatatan Perkawinan (pasal 61 ayat 1 UU Perkawinan)


Pencatatan perkawinan ini dimaksudkan untuk memperoleh kutipan
Akta Perkawinan (kutipan buku nikah) oleh pegawai yang berwenang.
Bagi yang beragama Islam, pencatatan dilakukan oleh pegawai
Pencatat Nikah atau Pembantu Pegawai Pencatat Nikah Talak Cerai
Rujuk. Sedang bagi yang Non Islam, pencatatan dilakukan oleh
Pegawai Kantor Catatan Sipill
5. Legalisir Kutipan Akta Perkawinan
Kutipan Akta Perkawinan yang telah anda dapatkan, masih harus
dilegalisir di Departemen Hukum dan HAM dan Departemen Luar
Negeri, serta didaftarkan di Kedutaan negara asal suami.
Dengan adanya legalisasi itu, maka perkawinan anda sudah sah dan
diterima secara internasional, baik bagi hukum di negara asal suami,
maupun menurut hukum di Indonesia
6. Konsekuensi Hukum
Ada beberapa konsekuensi yang harus anda terima bila anda
menikah dengan seorang WNA. Salah satunya yang terpenting yaitu
terkait dengan status anak. Berdasarkan UU Kewarganegaraan
terbaru, anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan
pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita
WNA dengan pria WNI, kini sama-sama telah diakui sebagai warga
negara Indonesia. Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda,
dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus
menentukan pilihannya. Pernyataan untuk memilih tersebut harus
disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18
tahun atau setelah kawin. Jadi bersiaplah untuk mengurus prosedural
pemilihan kewarganegaraan anak anda selanjutnya.

Catatan :
1. Bagi perkawinan campuran yang dilangsungkan di luar
Indonesia, harus didaftarkan di kantor Catatan Sipil paling
lambat 1 (satu) tahun setelah yang bersangkutan kembali
ke Indonesia. Bila tidak, maka perkawinan anda belum
diakui oleh hukum kita. Surat bukti perkawinan itu
didaftarkan di Kantor Pencatatan Perkawinan tempat
tinggal anda di Indonesia (pasal 56 ayat (2) UU No 1/74).
2. Untuk prosedur PELAPORAN PERUBAHAN STATUS
KEWARGANEGARAAN

Status Negara salah satunya syaratnya adalah diakuinya


sebuah Negara yang diatur menurut ketentuan hukum tertentu,

41
sehingga warga negara yang bersangkutan dapat dibedakan dari
warga dari negara lain. Terdapat dua prinsip mengenai
kewarganegaraan, yaitu prinsip ‘ius soli’ atau prinsip ‘ius sanguinis’.
Prinsip ‘ius soli’ adalah prinsip yang mendasarkan diri pada pengertian
hukum mengenai tanah kelahiran, sedangkan prinsip ‘ius sanguinis’
mendasarkan diri pada prinsip hubungan darah.

Menurut prinsip ‘ius soli’, setiap orang yang lahir di negara


tersebut, maka secara hukum dianggap menjadi warga negara tempat
kelahiran seseorang tersebut dilahirkan. Terdapat beberapa negara
yang menganut kedua prinsip tersebut, contohnya adalah negara
Amerika Serikat dan Eropa. Oleh karena itu, sering terjadi warga
negara Indonesia yang sedang tinggal di negara-negara di luar negeri,
misalnya karena sedang mengikuti kegiatan pendidikan, bahkan ada
pula melahirkan anak, maka status anaknya diakui oleh Pemerintah
Amerika Serikat sebagai warga negara Amerika Serikat. Padahal kedua
orangtuanya berkewarganegaraan Indonesia.

Pada masa kini kita menyaksikan banyak sekali penduduk dalam


suatu negara yang berpergian keluar negeri untuk sesuatu yang
penting bahkan sesuatu yang tidak begitu penting, misalnya adalah
liburan ke luar negeri. Mereka rela menghabiskan uang mereka hanya
untuk dapat berlibur ke luar negeri. Padahal secara fasilitas, Negara
Indonesia tidak jauh dari Negara lain. Selain itu ada juga alasan
mereka untuk melahirkan anak-anak mereka di luar negeri. Bahkan
dapat pula terjadi, karena alasan pelayanan medis yang lebih baik,
orang sengaja melahirkan anak di rumah sakit di luar negeri yang
dapat lebih menjamin kesehatan dalam proses persalinan. Padahal
pelayanan medis di Negara kita tidak begitu berbeda dengan Negara
lain. Berbeda dengan prinsip kelahiran itu, di beberapa negara, dianut
prinsip ‘ius sanguinis’ yang mendasarkan diri pada faktor hubungan
darah seseorang dengan status orangtuanya. Apabila orangtuanya
berkewarganegaraan suatu negara, maka otomatis kewarganegaraan
anak-anaknya dianggap sama dengan kewarganegaraan orangtuanya
itu. Akan tetapi, zaman sekarang ini kita tidak dapat membatasi
pergaulan antar penduduk yang berbeda status kewarganegaraannya.

Buktinya adalah sering terjadi perkawinan campuran yang


melibatkan status kewarganegaraan yang berbeda-beda antara
pasangan suami dan isteri. Biasanya perkawinan campuran ini selalu
menimbulkan persoalan berkenaan dengan status kewarganegaraan
dari putera-puteri mereka.

Oleh karena itu ada sebuah pengaturan bahwa status


kewarganegaraan seseorang ditentukan karena kelahirannya. Siapa
saja yang lahir dalam wilayah hukum suatu negara, terutama yang

42
menganut prinsip ‘ius soli’ sebagaimana dikemukakan di atas, maka
yang bersangkutan secara langsung mendapatkan status
kewarganegaraan, kecuali apabila yang bersangkutan ternyata
menolak atau mengajukan permohonan sebaliknya. Tetapi terdapat
juga masalah mengenai kewarganegaraan yang lainnya contohnya,
banyak warga negara Indonesia yang karena sesuatu, bermukim di
Belanda, di Republik Rakyat Cina, ataupun di Australia dan negara-
negara lainnya dalam waktu yang lama sampai melahirkan keturunan,
tetapi tetap mempertahankan status kewarganegaraan Republik
Indonesia. Proses yang harus dilakukan untuk masing-masing alasan
tersebut sudah semestinya berbeda-beda satu sama lain. Yang pokok
adalah bahwa setiap orang haruslah terjamin haknya untuk
mendapatkan status kewarganegaraan agar menghindari masalah
tidak berkewarganegaraan.

Masalah Hak dan Kewajiban :

masalah hak :
1. kurangnya pemenuhan untuk kesejahteraan WN
2. kurangnya kepedulian pemerintah terhadap kondisi WN
3. kurangnya pemerataan pembangunan untuk kesejahteraan WN
4. dlsb.

masalah kewajiban :
1. masih banyak WN yg kurang peduli terhadap kebersihan
lingkungan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian bangsa
2. masih banyak WN yg molor untuk membayar pajak
1. dlsb.

cara mengatasinya :
1. pendekatan pemerintah dengan WN
2. pemerataan kesejahteraan
3. pemerataan keadilan
4. dan strategi2 lain yg bisa memakmurkan WN

Masalah Bangsa dan Negara


Berbagai masalah didalam Negara terus bertambah seiring dengan
berjalannya waktu, namun tidak semua masalah belum terselesaikan.
Diantara masalah-masalah yang melanda Negara, Pengangguranlah
yang sampai saat ini masih menjadi masalah bagi Pemimpin Negara.
Denagn berjalannya waktu, dan bertambahnya tingkat pertumbuhan
penduduk yang begitu cepat juga banyaknya penduduk yang datang
(pendatang) ke Ibu kota untuk mencari pekerjaan dan hasilnya hanya

43
menambah angka pengangguran saja. Itu juga dipicu dengan
minimnya pendidikan dan juga krisis yang berkepanjangan. Berikut
adalah bahasan mengenai masalah bangsa dan Negara yaitu
pengangguran.

Pengangguran

Pengangguran Struktural / Structural Unemployment

Pengangguran struktural adalah keadaan di mana yang menunjukkan


betapa sulitnya mencari kerja di Indonesia

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang


tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari
dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha
mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya
disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak
sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu
menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam
perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas
dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat
menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial
lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan


jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan
dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus
mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan
menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran
yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang
buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran
yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik
keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya
GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara
berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah “pengangguran
terselubung” di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan
dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

Jenis & macam pengangguran

Pengangguran Friksional / Frictional Unemployment

Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya


sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan
kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran

44
pekerna penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu
memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.
Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan
kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang
lebih baik dari sebelumnya.

Pengangguran Musiman / Seasonal Unemployment

Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya


fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan
seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti
musim tanam, tukan jualan duren yang menanti musim durian.

Pengangguran Siklikal

Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat


imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja
lebih rendah daripada penawaran kerja.

Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja


tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu
menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam
perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas
dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat
menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial
lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan


jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan
dalam persen.Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus
mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan
menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran
yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang
buruk terhadap penganggur dan keluarganya.

Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan


kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang
adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.Di
negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah
“pengangguran terselubung” di mana pekerjaan yang semestinya bisa
dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak
orang.

Masalah hak & kewajiban WNI

45
HAK ASASI MANUSIA
Hak asasi manusia adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan dari
sejak lahir. Hak adalah sesuatu yang layak di terima oleh setiap
manusia. Seperti mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak,
hak memeluk agama, dan hak untuk mendapat pengajaran. Hak selalu
beriringan dengan kewajiban-kewajiban, ini merupakan sesuatu yang
harus kita lakukan bagi bangsa, negara, dan kehidupan sosial.

1. Macam Hak Asasi Manusia


a. Hak Asai Manusia tidak perlu diberikan, dibeli ataupun
diwarisi
b. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa
memandang
c. Hak asasi manusia tidak boleh dilanggar.

HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

1. Pengakuan Bangsa Indonesia akan HAM


Pengakuan HAM pada Pembukaan UUD 1945 Alenia 1 dan Alenia 4,
batang
Tubuh UUD 1945, Ketetapan MPR, Peraturan Perundang-Undangan.
2. Penegakan HAM
Memberi jaminan perlindungan terhadap HAM, selain dibentuk
peraturan hukum, juga dibentuk kelembagaan yang menengani
masalah yang berkaitan dengan penegakan HAM.
3. Konvensi Internasional tentang HAM
Konvensi Internasional terhadap HAM adalah wujud nyata kepedulian
masyarakat internasional akan pengakuan, perlindungan, penegakan
HAM.
4. Keikutansertaan Indonesia dalam Konvensi Internasional
Tanggung jawab dan menghormati atas berbagai konvensi
internasional tantang HAM tersebut diwujudkan dengan keikutsertaan
indonesia untuk merafisifikasi instrumen internasional.

Hak dan Kewajiban telah dicantumkan dalam UUD 1945 pasal


26, 27, 28, dan 30, yaitu sebagai berikut.

1. Pasal 26, ayat (1), yang menjadi warga negara adalah orang-orang
bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan
dengan undang-undangsebagai warga negara. Dan pada ayat (2),
syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-
undang.
2. Pasal 27, ayat (1), segala warga negara bersamaan dengan
kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahannya, wajib

46
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya. Pada ayat (2), taip-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
3. Pasal 28, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan
pikiran dengan lisan, dan sebagainya ditetapkan dengan undang-
undang.
4. Pasal 30, ayat (1), hak dan kewajiban warga negara untuk ikut
serta dalam pembelaan negara. Dan ayat (2) menyatakan pengaturan
lebih lanjut diatur dengan undang-undang

Konsep Hak dan Kewajiban dalam UUD 1945

Memasukkan hak-hak asasi manusia ke dalam pasal-pasal konstitusi


merupakan salah satu ciri konstitusi moderen. Setidaknya, dari 120an
konstitusi di dunia, ada lebih dari 80 persen diantaranya yang telah
memasukkan pasal-pasal hak asasi manusia, utamanya pasal-pasal
dalam DUHAM. Perkembangan ini sesungguhnya merupakan
konsekuensi tata pergaulan bangsa-bangsa sebagai bagian dari
komunitas internasional, utamanya melalui organ Perserikatan Bangsa-
Bangsa. Sejak dideklarasikannya sejumlah hak-hak asasi manusia
dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau biasa disebut
DUHAM 1948 (Universal Declaration of Human Rights), yang kemudian
diikuti oleh sejumlah kovenan maupun konvensi internasional tentang
hak asasi manusia, maka secara bertahap diadopsi oleh negara-negara
sebagai bentuk pengakuan rezim normatif internasional yang
dikonstruksi untuk menata hubungan internasional.

Dalam konteks sejarah dan secara konsepsional, Undang-Undang


Dasar 1945 yang telah lahir sebelum DUHAM memiliki perspektif hak
asasi manusia yang cukup progresif, karena sebagaimana ditegaskan
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, alinea 1 :

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan


oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,
karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Sebagai warga negara yang baik kita wajib membina dan


melaksanakan hak dan kewajiban kita dengan tertib. Hak dan
kewajiban warga negara diatur dalam UUD 1945 yang meliputi :

Hak dan kewajiban dalam bidang politik

• Pasal 27 ayat (1) menyatakan, bahwa “Tiap-tiap warga negara


bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemeritahan itu dengan tidak ada

47
kecualinya”. Pasal ini menyatakan adanya keseimbangan antara hak
dan kewajiban, yaitu :

1. Hak untuk diperlakukan yang sama di dalam hukum dan


pemerintahan.
2. Kewajiban menjunjung hukum dan pemerintahan.

• Pasal 28 menyatakan, bahwa “Kemerdekaan berserikat dan


berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Arti pesannya :

1. Hak berserikat dan berkumpul.


2. Hak mengeluarkan pikiran (berpendapat).

Kewajiban untuk memiliki kemampuan beroganisasi dan melaksanakan


aturan-aturan lainnya, di antaranya: Semua organisasi harus
berdasarkan Pancasila sebagai azasnya, semua media pers dalam
mengeluarkan pikiran

Hak dan kewajiban dalam bidang sosial budaya

• Pasal 31 ayat (1) menyatakan, bahwa “Tiap-tiap warga negara


berhak mendapat pengajaran”.
Pasal 31 ayat (2) menyatakan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu
sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”.
• Pasal 32 menyatakan bahwa “Pemerintah memajukan kebudayaan
nasional Indonesia”.
Arti pesan yang terkandung adalah :

1. Hak memperoleh kesempatan pendidikan pada segala tingkat,


baik umum maupun kejuruan.
2. Hak menikmati dan mengembangkan kebudayaan nasional dan
daerah.
3. Kewajiban mematuhi peraturan-peraturan dalam bidang
kependidikan.
4. Kewajiban memelihara alat-alat sekolah, kebersihan dan
ketertibannya.
5. Kewajiban ikut menanggung biaya pendidikan.
6. Kewajiban memelihara kebudayaan nasional dan daerah.
7. Hak untuk mengembangkan dan menyempurnakan hidup moral
keagamaannya, sehingga di samping kehidupan materiil juga
kehidupan spiritualnya terpelihara dengan baik.
8. Kewajiban untuk percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Hak dan kewajiban dalam bidang Hankam

48
• Pasal 30 menyatakan, bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”. Arti pesannya :
bahwa setiap warga negara berhak dan wajib dalam usaha pembelaan
negara.

Hak dan kewajiban dalam bidang Ekonomi

• Pasal 33 ayat (1), menyatakan, bahwa “Perekonomian disusun


sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”.
• Pasal 33 ayat (2), menyatakan bahwa “Cabang-cabang produksi
yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara”.
• Pasal 33 ayat (3), menyatakan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
• Pasal 34 menyatakan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar
dipelihara oleh negara”.

Arti pesannya adalah :

1. Hak memperoleh jaminan kesejahteraan ekonomi, misalnya dengan


tersedianya barang dan jasa keperluan hidup yang terjangkau oleh
daya beli rakyat.
2. Hak dipelihara oleh negara untuk fakir miskin dan anak-anak
terlantar.
3. Kewajiban bekerja keras dan terarah untuk menggali dan mengolah
berbagai sumber daya alam.
4. Kewajiban dalam mengembangkan kehidupan ekonomi yang
berazaskan kekeluargaan, tidak merugikan kepentingan orang lain.
5. Kewajiban membantu negara dalam pembangunan

49