Anda di halaman 1dari 4

TUGAS INDIVIDU

Nama : Desny Putri Sunjaya

NPM : 1306376004

Mata Kuliah : Dasar K3

Hazard, Risk, and Risk Management

Hazard represents a source of energy with the potential of causing immediate injury to personnel
and damage to equipment, environment or structure (ILO encyclopaedia dama Hendra). Menurut
Hendra (2014) Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh suatu bahan/material,
proses, atau kondisi untuk menimbulkan kerusakan atau kesakitan (kerugian). Hal ini termasuk
bahankimia (toksisitas, korosifitas), fisik (daya ledak, listrik, dapat terbakar), biologis (dapat
menginfeksi), dan lain-lain. Jadi, Hazard adalah potensi yang dimiliki suatu zat atau proses yang
dapat menyebabkan kerusakan. Risiko merupakan seberapa besar kemungkinan suatu
bahan/material, proses, atau kondisi untuk menimbulkan kerusakan atau kesakitan (kerugian).
Namun, definisi risiko telah berubah dari 'kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan berdampak
pada tujuan' to 'pengaruh ketidakpastian pada tujuan' (AS/NZS ISO 31000:2009). Jadi, risiko
adalah pengaruh ketidakpastian pada tujuan yang dapat menimbulkan kerusakan atau kesakitan.
Manajemen Risiko adalah Proses yang terlibat dengan mengidentifikasi, menganalisis, dan
menanggapi risiko. Termasuk memaksimalkan hasil risiko positif dan meminimalkan
konsekuensi dari peristiwa negatif.

Manajemen Risiko perlu dilakukan karena dengan mengelola risiko kita mendapat banyak
manfaat seperti perencanaan strategis yang lebih efektif sebagai akibat dari peningkatan
pengetahuan dan pemahaman tentang eksposur risiko utama, hasi yang lebih baik dalam hal
efektivitas dan efisiensi program, adanya keterbukaan dan transparansi dalam pengambilan
keputusan dan proses manajemen yang sedang berlangsung, adanya sebuah kesiapan yang lebih
baik untuk memfasilitasi hasil positif dari proses internal dan eksternal review dan audit, serta
tidak diherankan apabila mahal karena kita mencegah apa yang tidak diingnkan terjadi.

Jenis-jenis cara mengelola risiko:


1. Risk avoidance
Yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung risiko sama sekali.
Dalam memutuskan untuk melakukannya, maka harus dipertimbangkan potensial
keuntungan dan potensial kerugian yang dihasilkan oleh suatu aktivitas
2. Risk reduction
Risk reduction atau disebut juga risk mitigation yaitu merupakan metode yang
mengurangi kemungkinan terjadinya suatu risiko ataupun mengurangi dampak kerusakan
yang dihasilkan oleh suatu risiko.
3. Risk transfer
Yaitu memindahkan risiko kepada pihak lain, umumnya melalui suatu kontrak (asuransi)
maupun hedging.
4. Risk deferral
Dampak suatu risiko tidak selalu konstan. Risk deferral meliputi menunda aspek suatu
proyek hingga saat dimana probabilitas terjadinya risiko tersebut kecil.
5. Risk retention
Walaupun risiko tertentu dapat dihilangkan dengan cara mengurnagi maupun
mentransfernya, namun beberapa risiko harus tetap diterima sebagai bagian penting dari
aktivitas.

Langkah-langkah manajemen risiko meliputi :

1. Establish the context

Menetapkan konteks eksternal, internal, dan manajemen risiko di mana seluruh proses akan
berlangsung. Kriteria terhadap risiko yang akan dievaluasi harus ditetapkan dan struktur analisis
didefinisikan.

2. Risk Identification

Identifikasi bahaya dan risiko merupakan langkah awal dan penting dalam penerapan K3.
Dengan melakukan identifikasi bahaya dan risiko di tempat kerja akan membantu dalam
menyusun dan mengembangkan program K3 yang diperlukan.

3. Risk Analysis
Mengidentifikasi dan mengevaluasi kontrol yang ada. Menentukan konsekuensi dan
kemungkinan dan karenanya tingkat risiko. Analisis ini harus mempertimbangkan berbagai
konsekuensi potensial dan bagaimana hal ini bisa terjadi.

4. Risk Evaluation

Membandingkan perkiraan tingkat risiko terhadap kriteria yang ditetapkan sebelumnya dan
mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat potensial dan hasil yang merugikan. Hal ini
memungkinkan keputusan yang harus dibuat tentang tingkat dan sifat perawatan yang diperlukan
dan tentang prioritas.

5. Risk Treatment

Mengembangkan dan menerapkan strategi khusus hemat biaya dan rencana aksi untuk
meningkatkan potensi keuntungan dan mengurangi biaya potensial.

Selain ke lima langkah di atas, dalam proses manajemen risiko diperlukan monitoring dan review
untuk memantau efektivitas semua langkah dari proses manajemen risiko. Hal ini penting untuk
perbaikan terus-menerus. Risiko dan efektivitas tindakan pengobatan perlu dipantau untuk
memastikan perubahan keadaan tidak mengubah prioritas.

Dari kelima langkah di atas, yang paling penting adalah langkah pertama yaitu Establish the
context karena menetapkan konteks eksternal, internal, dan manajemen risiko di awal
manajemen risiko, maka langkah-langkah manajemen risiko selanjutnya dapat dijalankan. Selain
itu, yang sangat penting adalah monitoring dan review untuk memnatau dan memastikan
perubahan keadaan agar dapat dilakukan perbaikan terus-menerus.

Dengan melakukan manajemen risiko tidak djamin 100% kecelakaan dan penyakit akibat kerja
dapat dicegah. Karena menurut AS/NZS ISO 31000:2009 (2010) manajer risiko akan terus
mempertimbangkan kemungkinan risiko yang terjadi, mereka sekarang harus menerapkan
pilihan pengobatan risiko untuk memastikan bahwa ketidakpastian agensi mereka memenuhi
tujuannya akan dihindari, dikurangi, dihapus atau diubah dan / atau dipertahankan bukan
mencegah 100% kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Datar Pustaka :

AS/NZS ISO 31000:2009 . 2010. Risk Management – Principles and Guidelines. Didapat dari :
http://www.finance.gov.au/sites/default/files/COV_216905_Risk_Management_Fact_She
et_FA3_23082010_0.pdf diakses pada 16 Oktober 2014.

Hendra. 2014. Prinsip dasar manajemen risiko (pdf). Depok : Universitas Indonesia

Hendra. 2014. Hazard dan risk (pdf). Depok : Universitas Indonesia

http://www.jiscinfonet.ac.uk/infokits/risk-management/