Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KUNJUNGAN DI TEMPAT

PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SUKAWINATAN

DISUSUN OLEH : KELOMPOK VIII


NAMA : BAGJA DIRAKSA (03011281621046)
DWI ASMARANI (03011181621153)
M. RONALDO ALVIAN 03011281621039)
NADIA DARIN PUTRI ADINDA (03011281621068)
NITA ASTASYA (03011181621152)
DOSEN PEMBIMBING : FEBRINASTI ALIA, S.T., M.T.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Kami panjatkan pula dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan laporan
mengenai sampah dan pengelolaannya di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di
Sukawinatan.

Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan laporan ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
laporan ini.

Akhir kata kami berharap semoga laporan mengenai sampah dan pengelolaannya di
tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Sukawinatan dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Indralaya, November 2016

Kelompok VIII

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................................2
DAFTAR ISI....................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang.......................................................................................4
B. Tujuan ..................................................................................................4
C. Rumusan Masalah.................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengolahan Air Lindi............................................................................6
B. Pengolahan Sampah Menjadi Gas.........................................................6
C. Pembuatan Kompos..............................................................................6
D. Fasilitas-fasilitas Pengolahan Sampah..................................................7
E. Perencanaan Di Lahan Kosong.............................................................7
F. Kegiatan Workshop 3R.........................................................................7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................8
B. Saran.....................................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................9

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, sampah adalah sesuatu yang tidak asing lagi di
telinga maupun mata yang memandang di situ ada sampah. Sampah merupakan
kotoran ; bisa sesuatu yang tak terpakai dan dibuang; semua barang yangdibuang
karena dianggap tak berguna lagi.
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang
sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor
pembuangan limbah sampah plastik. Sampah plastik telah menjadi limbah yang
berbahaya dan sulit dikelola.
Sampah yang paling mendominasi dan dinilai sebagai masalah yang paling
dekat dengan kehidupan manusia adalah sampah rumah tangga, karena hampir
setiap aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya dalam sebuah rumah
tangga yang setiap harinya berpeluang menghasilkan sampah-sampah baru.
Berbicara mengenai timbunan sampah perkotaan, pastinya tidak terlepas dari
tiga faktor utama yang mempengaruhi yaitu tingkat konsumsi, tingkat kepadatan
dan kepadatan penduduk di daerah perkotaan (World Bank).
Seharusnya sampah tersebut dimanfaatkan, diolah dan dikelola sesuai
dengan prosedur pengelolaan sampah yang baik. Dalam kenyataannya , pengelolaan
sampah dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti yang kita bayangka. Sampah
banyak dijumpai dimana-mana tanpa adanya pengelolaan yang baik. Pengelolaan
sampah yang buruk mengakibatkan pencemaran air, udara maupun tanah, serta
munculnya berbagai maca penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat.
Sampah sering menjadi barangtidak berarti bagi manusia, sehingga menyebabkan
sikap acuh tak acuh terhadap keberadaan sampah. Orang sering membuang sampah
sembarangan, seolah-olah mereka tidak memilik salah apapun. Padahal membuang
sampah merupakan perbuatan yang menunjukka peduli atau tidaknya terhadap
lingkungan.
Disini kami ingin memaparkan mengenai sistem pengelolaan sampah di kota
Palembang khususnya di tempat pembuangan akhir sampah di Sukawinatan.

B. Tujuan
Mengetahui cara pengelolaan dan pemanfaataan sampah yang baik dan benar,
sehingga dapat diterapkan dalam masyarakat. Dengan kegiatan ini diharapkan
masyarakat mampu menerapkan sistem pengelolaan sampah tersebut dalam
kehidupan sehari-hari dan tentunya dalam skala yang kecil. Agar masyarakat tidak
membuang sampah sembarangan dan lebih peduli lagi terdahap lingkungan, karena
jika lingkungan sehat yang akan merasakan dampaknya tentu masyarakat itu
sendiri. Lingkungan yang sehat bebas dari pencemaran air, udara maupun tanah
yang disebabkan oleh masyarakat yang belum mengetahui bahaya dari sistem
pengelolaan sampah yang tidak benar, misalnya pembakaran. Pembakaran sampah
menyebabkan udara tercemar oleh gas-gas yang berbahaya bagi pernapasan kita.
Selain itu kebiasaan masyarakat yang membuang limbah ke sungai tanpa
mengalami proses pengolahan yang tepat dapat mencemari air sungai yang
merupakan sumber kebutuhan mandi, minum dan memasak dan lain-lain yang
berdampak menimbulkan penyakit pada tubuh kita. Dengan kegiatan ini kota
Palembang diharapkan dapat mewujudkan visi kota Palembang yaitu Palembang
EMAS (Elok, Madani, Aman , dan Sejahtera) dan tetap mampu mempertahankan
gelar adipura ynag telah diraih kota Palembang tercinta ini.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses pengolahan air lindi?

2. Bagaimana proses pengolahan sampah hingga menjadi gas?

3. Bagaimana proses pengolahan kompos?

4. Apa saja fasilitas-fasilitas yang ada di TPA Sukawinatan tersebut?

5. Apa rencana yang akan dilakukan terhadap lahan yang masih kosong di TPA tersebut?

6. Bagaimana proses kegiatan workshop 3R dan produk hasilnya?

D. Tinjauan Pustaka

1. Infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan,


drainase, bangunanbangunan gedung dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi
(Grigg, 1988 dalam Kodatie, 2003). Sistem infrastruktur merupakan pendukung
utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat. Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai fasilitas atau struktur-
struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan
untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat (Grigg, 1988
dalam Kodatie, 2003). Definisi teknik juga memberikan spesifikasi apa yang
dilakukan sistem infrastruktur dan mengatakan bahwa infrastruktur adalah aset fisik
yang dirancang dalam sistem sehingga memberikan pelayanan publik yang penting
(Kodatie, 2003).

2. Di dalam UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah disebutkan bahwa


sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang
berbentuk padat. Menurut SNI 19-2454-2002, sampah adalah limbah yang bersifat
padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan
harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi
pembangunan. Sampah adalah limbah yang berbentuk padat dan juga setengah
padat, dari bahan organik atau anorganik, baik benda logam maupun benda bukan
logam, yang dapat terbakar dan yang tidak dapat terbakar. Bentuk fisik benda-benda
tersebut dapat berubah menurut cara pengangkutannya atau cara pengolahannya
(Rizaldi dalam Aswadi dan Hendra, 2011).

3. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan


Sampah, sumber sampah adalah asal timbulan sampah. Menurut Damanhuri
(2010:6), sumber sampah berasal dari: a. Kegiatan penghasil sampah seperti pasar,
rumah tangga, pertokoan (kegiatan komersial /perdaganan), penyapuan jalan, taman,
atau tempat umum lainnya, dan kegiatan lain seperti dari industri dengan limbah
yang sejenis sampah. b. Sampah yang dihasilkan manusia sehari-hari kemungkinan
mengandung limbah berbahaya, seperti sisa batere, sisa oli/minyak rem mobil, sisa
bekas pemusnah nyamuk, sisa biosida tanaman, dsb.

4. Berdasarkan SNI 19-3241-1994, tipe atau jenis sampah umum dapat


diklasifikasikan sebagai berikut : a. Sampah organik basah (garbage), yaitu sampah
yang terdiri dari bahan-bahan organik dan mempunyai sifat mudah membusuk. b.
Sampah organik kering (rubbish), yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan
organik maupun yang cukup kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga
sulit membusuk. c. Sampah yang berukuran besar (bulky waste), dalam kategori ini
termasuk sampah yang berukuran besar dan berat. d. Sampah abu (ashes), yaitu
sampah padat yang berasal dari pembakaran kayu, batu bara atau insenerator.
Ukurannya kecil, lembut, ringan dan mudah terbawa angin. e. Sampah berupa
lumpur dari pengolahan air bersih dan air limbah. Lumpur dari kolam pengolahan
harus dihindarkan langsung masuk ke air permukaan. f. Sampah bangkai binatang
(dead animal), yaitu semua sampah yang berupa bangkai binatang. g. Sampah
sapuan jalan yaitu segala jenis sampah atau kotoran yang berserakan di jalan karena
dibuang oleh pengendara mobil ataupun masyarakat yang tidak bertanggung jawab.
h. Sampah konstruksi umumnya berupa logam, beton, kaca, pipa, plumbing dan
kayu. i. Sampah B3 merupakan buangan berbahaya dan beracun bersifat toksik
karena itu perlu penanganan khusus. Banyak dihasilkan dari kegiatan industri
ataupun produk yang dipakai sehari-hari. Semakin banyak industri yang berdiri akan
semakin beragam limbahnya.

5. Di dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah,


disebutkan bahwa pengelolaan sampah adalah kegiatan sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
Pengelolaan persampahan mempunyai tujuan yang sangat mendasar yang meliputi
meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat, melindungi sumber daya alam
(air), melindungi fasilitas sosial ekonomi dan menunjang sektor strategis (Rahardyan
dan Widagdo, 2005). Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 Tentang
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
disebutkan bahwa pengaturan pengelolaan sampah bertujuan untuk menjaga
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat dan menjadikan
sampah sebagai sumber daya.

6. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan Palembang adalah tempat


pengelolaan aktif sampah seluas 25 hektar dengan volume sampah yang masuk
setiap hari sebanyak lebih kurang 600 ton. Di TPA Sukawinatan ini juga terdapat
pengolahan sampah dengan memanfaatkan gas sampah menjadi tenaga listrik
dengan kapasitas 1 mw, kegiatan worksop 3R, dan kegiatan pembuatan kompos.

7. Tugas Pokok Tempat Pembuangan Akhir Sukawinatan : 1) Membersihkan dan


menyapu jalan; 2) Mengangkut dan membuang sampah dari TPS ke TPA; 3)
Mengosongkan septik tank dari lingkungan perumahan dan perkantoran, lalu
membuangnya ke IPLT; 4) Pengelolaan, pemanfaatan, dan pemusnahan sampah di
TPA; 5) Memelihara dan merawat, menyimpan dan menyiapkan kendaraan angkutan
sampah serta sarana kebersihan lainnya; 6) Melakukan pendataan, pendaftaran,
penagihan, pembukuan retribusi kebersihan; 7) Memberikan penyuluhan kepada
masyarakat mengenai kebersihan.

8. Controlled landfill adalah sistem pembuangan yang lebih berkembang dibanding


open dumping. Pada metode ini, sampah yang datang setiap hari diratakan dan
dipadatkan dengan alat barat. Sampah dipadatkan menjadi sebuah sel. Kemudian,
sampah yang sudah dipadatkan tersebut dilapisi dengan tanah setiap lima atau
seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi bau, mengurangi
perkembangbiakan lalat, dan mengurangi keluarnya gas metan. Selain itu, dibuat
juga saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan, saluran pengumpul air
lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya, pos pengendalian operasional, dan
fasilitas pengendalian gas metan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengolahan air lindi


Pada dasarnya tidak terdapat pengolahan secara khusus pada air lindi ini,
melainkan hanya menggunakan ijuk. Tidak ada proses yang terjadi pada
pengolahan air lindi, hanya saja air lindi dialirkan menggunakan pipa kemudian
ditampung di dalam drum dan menyerap sampai ke 7 drum. Selanjutnya
dialirkan ke kolam dan dialirkan sungai, dan dilakukan pengecekan setiap 3
bulan sekali.

B. Pengolahan sampah menjadi gas

Seperti yang kita ketahui pada tumpukan sampah terdapat gas metan yang dapat
diolah dan diubah menjadi tenaga listrik yang bermanfaat. Pembangkit listrik tenaga
sampah adalah pembangkit listrik thermal dengan uap supercritical steam dan berbahan
bakar sampah atau gas sampah metan. Sampah dibakar menghasilkan panas yang
memanaskan uap pada boiler steam supercritical. Uap kompresi tinggi kemudian
menggerakkan turbin uap dan flywheel yang tersambung pada generator dinamo dengan
perantara gear transmisi atau transmisi otomatis sehingga menghasilkan listrik.

Konsep pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PLTSa adalah sebagai
berikut

1. Sampah dipilah untuk memanfaat sampah yang masih dapat didaur ulang. Sisa
sampah dimasukkan kedalam tungku insenerator untuk dibakar.
2. Pembakaran sampah menggunakan teknologi pembakaran yang memungkinkan
berjalan efektif dan aman bagi lingkungan. Suhu pembakaran dipertahankan dalam
derajat pembakaran yang tinggi (di atas 1300o C). Asap yang keluar dari
pembakaran juga dikendalikan untuk dapat sesuai dengan standar baku mutu emisi
gas buang.
3. Pemanfaatan panas, hasil pembakaran sampah akan menghasilkan panas yang dapat
dimanfaatkan untuk memanaskan boiler. Uap panas yang dihasilkan digunakan
untuk memutar turbin dan selanjutnya menggerakkan generator listriik.
PLTSa ini diperkirakan memproduksi listrik sebesar 500 kilo watt (watt).
Jadi kemungkinan besar warga yang tinggal di sekitar kawasan Tempat Pembuangan
Akhir (TPA) Sukawinatan yang akan menikmati hasilnya,”ujar Sekretaris Dinas
Kebersihan Kota, Mahbuk.
C. Proses pembuatan kompos

1. Pemilihan sampah organik, anorganik dan B3 (3 hari)

2. Pencacahan sampah organik (1 hari)

3. Hasil pencacahan dicampur EM4 lalu difermentasi (selama 7 hari dan dibalik
setiap 3 hari)

4. Pematangan kompos (selama 7 hari dan dibalik setiap 3 hari)

5. pengayakan dan pengepakan (1 hari)

D. Fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk pengolahan sampah

Dalam memproses atau mengolah sampah agar menjadi barang atau produk yang
masih bisa digunakan lagi kita membutuhkan faslitas-fasilitas untuk mengolahnya.
Berikut adalah fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:

1. Kendaraan pengangkut sampah berjumlah 103 unit yang terdiri dari 24 unit
amroll dan 79 unit dump truk.
2. Buldozer berjumlah 2 unit.
3. Excavator berjumlah 3 unit.
4. Jembatan timbang 1 unit.
5. IPLT berjumlah 9 buah.
6. Tempat pencucian mobil.
7. PLTSa.
8. Ruang 3R.
9. Tempat pengomposan.
10. Sumur pantau.

F. Kegiatan workshop 3R

Prinsip-prinsip 3R yaitu
1. Reduce (mengurangi), sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau
material yang kita pergunakan . semakin banyak kita menggunakan material,
semakin banyak sampah yang dihasilkan.
2. Reuse (memakai kembali), sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa
dipakai kembali. Hindarilah pemakaian barang yang disposable(sekali pakai). Hal ini
dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
3. Recycle (mendaur ulang), sebisa mungkin barang-barang yang sudah tidak
berguna lagi bisa didaur ulang.

Hasil dari kegiatan workshop 3R ini antara lain tas, bros cantik, karpet, hiasan
bunga, dan lain-lain. Produk tersebut dipamerkan dan dijual kepada pengunjung
yang berminat.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan kunjungan yang telah dilakukan, dapat kita ketahui bahwa Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan telah beroprasi sejak tahun 1994 hingga sekarang.
Dengan jumlah sampah yang masuk setiap harinya sebanyak 500 sampai dengan 600 ton.
Dengan tugas pokok seperti: 1) Membersihkan dan menyapu jalan; 2) Mengangkut dan
membuang sampah dari TPS ke TPA; 3) Mengosongkan septik tank dari lingkungan
perumahan dan perkantoran, lalu membuangnya ke IPLT; 4) Pengelolaan, pemanfaatan, dan
pemusnahan sampah di TPA; 5) Memelihara dan merawat, menyimpan dan menyiapkan
kendaraan angkutan sampah serta sarana kebersihan lainnya; 6) Melakukan pendataan,
pendaftaran, penagihan, pembukuan retribusi kebersihan; 7) Memberikan penyuluhan
kepada masyarakat mengenai kebersihan.

Berlokasi di Kelurahan Suka Jaya, Kecamatan Sukarami, Tempat Pembuangan Akhir


Sukawinatan dengan luas 25 hektar menganut sistem control landfill, yaitu sistem
pembuangan yang lebih berkembang dibanding open dumping. Pada metode ini, sampah
yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat. Sampah dipadatkan
menjadi sebuah sel. Kemudian, sampah yang sudah dipadatkan tersebut dilapisi dengan
tanah setiap lima atau seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi bau,
mengurangi perkembangbiakan lalat, dan mengurangi keluarnya gas metan. Selain itu,
dibuat juga saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan, saluran pengumpul air
lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya, pos pengendalian operasional, dan fasilitas
pengendalian gas metan. Di TPA Sukawinatan ini juga terdapat pengolahan sampah dengan
memanfaatkan gas sampah menjadi tenaga listrik dengan kapasitas 1 mw, kegiatan worksop
3R, dan kegiatan pembuatan kompos.

B. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Sebaiknya pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan di


Kota Palembang dibuat lebih terstruktur dan lebih diimbangi dengan kinerja dan
fasilitas yang memadai agar pengolahan sampahnya dapat lebih maksimal.

2. Dapat melakukan pengolahan sampah dengan tepat agar sampah-sampah yang ada
dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga mengurangi limbah yang ada.
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA