Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Pengemas untuk sediaan parenteral harus dipertimbangkan secara seksama


sebab sangat mempengaruhi stabilitas, potensi, toksisitas dan keamanan produk.
Sediaan parenteral khususnya larutan, memerlukan evaluasi lebih teliti dengan
adanya kompabilitas pengemas terhadap produk dan stabilitas bentuk sediaan lain.

Akhir-akhir ini pengemasan plastik semakin banyak digunakan untuk


penyimpanan dalam industri farmasi. Pengemas plastik yang digunakan untuk
produk farmasetik dibuat polimer-polimer, polietilen, polipropilen, polivinil
klorida, polisterin dan kadang-kadang dalam jumlah kecil menggunakan poli
metal mtakrilat, polietilen, tereftalat, politrifluoroetilen, amino formaldehidea dan
poliamida. Salah satu contoh jenis plastic yang banyak digunakan adalah jenis low
density polietilen (LDPE) yang dapat disterilisasi pada suhu di bawah 121ºC
(Lachman,et al 1986).

Beberapa keuntungan penggunaan plastik adalah mudah dibentuk, ringan,


tahan terhadap benturan dan ekonomis. Tetapi plastik juga dapat menimbulkan
masalah diantaranya adalah adanya permeabilitas pengemas terhadap pelunturan,
migrasi, penyerapan dan efek cahaya serta pengaruh sifat-sifat plastik atau produk
(Ansel,1989). Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat penyerapan plastik terhadap
produk adalah stuktur kimia, pH, system pelarut, konsentrasi bahan aktif, bahan
tambahaan pada sediaan bahan tambahan plastic, temperature, jarak kontak dan
daerah kontak (Lachman, et al, 1986 dan Dean, 2000).

Innjeksi D-Manitol sampai saat ini masih digunakan sebagai zat diagnostic
fungsi ginjal dan sebagai diuretika osmotic. Menurut farmakope Indonesia IV,
injeksi D-Manitol adalah larutan lewat jenuh D-Manitol dalam air untuk injeksi.
Bila terjadi penghabluran perlu dilakukan penghangatan atau pemanasan dalam
autoklaf sebelum digunakan. Mengandung tidak kurang dari 95 % dan tidak lebih
dari 105.0 % D-Manitol, dari jumlah yang tertera dalam etiket. Tidak
mengandung zat antimikroba (Anonim, 1995).

1
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu sterilisasi
autoklaf dan bahan pengemas plastik low density polyethylene (LDPE) terhadap
penurunan kadar larutan D-Manitol sediaan parenteral (Injeksi D-Manitol). Di
samping itu bertujuan untuk mencari suhu sterilisasi yang aman dan efektif.

2
BAB II

MATERI DAN METODE

ALAT DAN BAHAN

A. ALAT

1. Autoklaf
2. Neraca analitik
3. pH meter
4. Laminar Air Flow (LAF)
5. Alat gelas

B. BAHAN
1. Plastik LDPE dari PT Otsuka
2. D-Manitol pro injeksi (Roquette)
3. Aquadest pro injeksi
4. Asam sulfat
5. Kalium periodat
6. Kalium iodide
7. Natrium tiosulfat
8. Media nutrient agar
9. Alkohol 70 %
Bila tidak disebutkan lain, maka bahan-bahan tersebut berkualitas
pro analisis.

3
BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

Penelitian menggunakan Metode Eksperimental, karena :

1. Melaksanakan eksperimen.
2. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
3. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang
telah ditentukan.
4. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika
yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
5. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan
pembuatan laporan.

4
BAB IV

PENGUJIAN

Persiapan dan pencucian botol infus:

1. Botol infuse dipotong-potong dengan ukuran 3 X 2 cm².


2. Potongan botol plastik dicuci dengan aquadest sebanyak 3 kali, kemudian
dikeringkan.
Pembuatan injeksi D-Manitol:
1. Dibuat larutan D-Manitol sesuai dengan Formularium Nasional Edisi II
(D-Manitol 200 g + Aqua pro injeksi ad 1000 ml).
2. Larutan kemudian dicek pH-nya agar isohidris.
3. Larutan dibagi menjadi 6 bagian, masing-masing larutan berisi 40 ml, lalu
dimasukkan kedalam botol infus kaca kapasitas 100 ml.
Botol dikelompokkan menjad i dua kelompok, pada
Kelompok I : Berisi larutan D-Manitol tanpa potongan botol infus plastik.
Sedangkan,
Kelompok II : Berisi larutan D-Manitol + potongan botol infus plastik
dengan berat 2.0293 g (6 potongan plastik = @ 3 X 2 cm²), botol
kemudian ditutup dan disterilisasi.

STERILISASI

Sterilisasi dikerjakan menggunakan autoklaf dengan variasi suhu dan lama


sterilisasi sebagai b̊̊̊̊ erikut :

a. Suhu 100ºC selama 45 menit


b. Suhu 102ºC selama 45 menit
c. Suhu 105ºC selama 45 menit

5
PENETAPAN KADAR D-MANITOL

1. Diambil 0,5 ml larutan injeksi yang telah disterilkan kemudian


dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambah air hingga tanda.
2. Dipipet 2,0 ml larutan dan dimasukkan dalam Erlenmeyer 250 ml.
3. Ditambahkan 25,0 ml pereaksi yang dibuat dengan mencammpur 40 ml
asam sulfat 2N dengan 60 ml larutan kalium periodat P (1 dalam 1000),
kemudian diasamkan dengan 3 sampai 5 tetes asam sulfat pekat.
4. Larutan dipanaskan diatas tangas air selama 15 menit, didinginkan sampai
suhu kamar, ditambah 1 gram kalium iodida.
5. Lalu didiamkan selama 5 menit, kemudian dititrasi dengan natrium
tiosulfat 0,02N menggunakan indikator 3 tetes kanji LP. Penetapan
blangko dilakukan menggunakan air sebagai ganti larutan D-Manitol
injeksi yang dibuat (Anonim, 1995).
6. 1 ml natrium triosulfat 0,02 N setara dengan 0,3643 mg C6H14O6
(manitol).

UJI STERILISASI

1. Dibuat media nutrien agar (NA) dengan cara memanaskan campuran


Nutrien Broth (NB) 1,2 gram dan 2,25 gram agar ditambah dengan 150 ml
aquadest.
2. Pemanas tidak sampai mendidih, kemudian dibagi kedalam erlenmeyer 50
ml masing-masing sebanyak 20 ml.
3. Media disterilisasi pada suhu 120ºC selama 1 jam dalam autoklaf, setelah
itu media dituang dalam petri kkemudian dibiarkan memadat.
4. Setelah memadat, diambil 1000µ larutan uji D-Manitol dengan mikropipet.
Kemudian dilarutkan dengan spreadet glass, ditutup kemudian diinkubasi
selama 1 hari pada suhu 37ºC.
5. Diamati adanya pertumbuhan bakteri.

6
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebelum dipergunakan untuk penelitian, larutan D-Manitol yang telah


disiapkan harus ditetapkan kadarnya terlebih dahulu. Tabel 1 memuat hasil
pengukuran konsentrasi awal larutan D-Manitol.

Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa kadar awal D-Manitol yang digunakan


untuk meneliti ini adalah 18.499 ± 0,100 %. Kadar awal ini digunakan sebagai
pembanding pada hasil penetapan kadar D-Manitol setelah perlakuan sterilisasi
dengan penambahan plastik atau tanpa penambahan plastik.

Tabel 1
Hasil pengukuran konsentrasi
D-Manitol awal

No Konsentrasi D-Manitol (%)

1. 18.559

2. 18.559

3. 18.381

Rerata 18.499 ± 0.100

Hasil perhitungan persentase penurunan kadar D-Manitol akibat


pemanasan selama sterilisasi dapat dilihat pada tabel 2. Dari hasil pegamatan,
ternyata apabila suhu sterilisasi dinaikkan maka akan memperbesar penurunan
kadar D-Manitol. Akan tetapi penurunan ini tidak begitu berarti karena hanya
menurunkan sebesar 1%.

7
Tabel 2
Persentase Penurunan Kadar
D-Manitol Akibat Pemanasan
Selama Sterilisasi

Suhu Persentase Penurunan


Sterilisasi Kadar (X ± SD %
(ºC)
100 0.92 ± 0.00

102 0.92 ± 0.00

105 0.92 ± 0.00

Tabel 3 berikut ini adalah hasil perhitungan penurunan kadar D-Manitol


akibat penyerapan oleh plastik. Terlihat bahwa semakin besar suhu sterilisasi,
maka semakin besar pula terjadinya resiko penyerapan D-Manitol oleh plastik.
Nilai SD terlihat konstan, mengindikasi bahwa perbedaan harga disebabkan oleh
kesalahan sistemik. Ha ini terkait dengan ketelitian metode titrasi menggunakan
buret 25ml. bila ditinjau dari data volume titrasi, menunjukkan bahwa setiap
replikasi hanya berbeda 0.05 ml (1 tetes), dan perbedaan ini sudah tidak dapat
diperkecil lagi kecuali menggunakan buret dengan volume tetesan yang lebih
kecil atau metode yang lain.

8
Tabel 3
Persentase Penurunan Kadar
D-Manitol Akibat Penyerapan
Oleh Plastik

Suhu Persentase Penurunan


Sterilisasi Kadar (X ± SD %
(ºC)
100 0.24 ± 0.44

102 0.36 ± 0.49

105 1.08 ± 0.49

Untuk mengetahui perbedaan persentase penurunan kadar antara kadar


perlakuan selama sterilisasi maka telah dilakukan uji statistik menggunakan cara
anova.

Untuk melihat efektifitas sterilisasi pada suhu percobaan, maka telah


diuji sterilisasi masing-masing larutan setelah proses sterilisasi. Hasil uji sterilisasi
disajikan pada table 4.

Seluruh paket suhu sterilisasi terbukti dapat mensterilkan larutan D-


Manitol, karena tidak ada pertumbuhan bakteri pada media tanam. Oleh karena itu
sediaan parenteral (injeksi) larutan D-Manitol sebaiknya disterilkan pada suhu
100ºC karena resiko hilangnya bahan aktif (D-Manitol) oleh pengaruh panas dan
penyerapa oleh plastik paling rendah serta memenuhi syarat sterilitas.

9
Tabel 4
Hasil Uji Sterilisasi Larutan Injeksi D-Manitol

Perlakuan Cawan Petri 1 Cawan Petri 2 Cawan Petri 3

Kontrol - - -

Suhu 100ºC - - -

Suhu 102ºC - - -

Suhu 105ºC - - -

Keterangan : (-) = Tidak terjadi pertumbuhan bakteri


= Media tanpa larutan uji

10
BAB VI

KESIMPULAN

1. Penurunan kadar D-Manitol karena pemanasan selama sterilisasi berkisar


0.92% hingga 1.16%. Perbedaan penurunan kadar antar suhu perlakuan
tidak berbeda nyata.
2. Plastik LDPE mempunyai kemampuan untuk menyerap D-Manitol
semakin tinggi suhu sterilisasi penyerapan semakin besar.
3. Semua suhu sterilisasi yang digunakan (100ºC, 102ºC, 105ºC), mampu
mensterilkan sediaan injeksi larutan D-Manitol karena tidak ditemukan
pertumbuhan bakteri pada media.
4. Suhu sterilisasi 100ºC selama 45 menit, merupakan suhu sterilisasi yang
aman digunakan untuk sediaan injeksi larutan D-Manitol, karena
hilangnya bahan aktif (D-Manitol) oleh pengaruh panas sterilisasi dan
penyerapan oleh plastik sangat rendah, serta telah memenuhi syarat uji
sterilisasi.

11
BAB VII

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim,1978, Formularium Nasional Edisi II, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta 180.
2. Anonim,1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Epartemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta, 519-520.
3. Ansel, H.C. 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, edisi ke IV, UI-Press, Jakarta.
4. Dean, D.A., Evans, E.R., Hall, H.I., 2000. Pharmaceutical Packaging
Tecnology, Tailor&Francis, London.
5. Fischer, A and Thomas, R.H., 1976, Packaging Material Science in The
Theory and in Practise of industrial Pharmacy, 2nd edition, Lea and
Febiger.
6. Lachman, A and Thomas, R.H ., Kanig, J.L, 1986, Teori dan Praktek
Farmasi Industry, Edisi III, Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, Ul-Press,
Jakarta.
7. Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Diterjemahkan oleh
Soedani Noerono, edisi ke-5, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

12