Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH BAHASA INDONESIA

“ KALIMAT EFEKTIF “

Dosen : Asri Wahyuni Sari, M. Pd

Anggota Kelompok IV :
1. Riri Arika Putri ( 1710105065 )
2. Ummiyati Latipa ( 1710105073 )
3. Winda Rahmat Armanda ( 1710105075 )
4. Gita Reviliani ( 1710105051 )

Kelas : IA

PRODI KEPERAWATAN

STIKES ALIFAH PADANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya
yang berjudul “Kalimat Efektif” sebagai tugas kelompok dosen Ibu Asri Wahyuni Sari, M. Pd
mata kuliah Bahasa Indonesia.
Makalah ini berisikan tentang informasi penyusunan kalimat efektif yang baik dan
benar. Diharapkan makalah ini dapat memberikan pemahaman tentang konsep penggunaan
kalimat efektif.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam proses penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

Padang, 15 September 2017


Penyusun

Kelompok IV
DAFTAR ISI

Pengantar ............................................................................................................ ii
Daftar Isi................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................1
C. Tujuan Pembahasan..................................................................................1
D. Manfaat.....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat Efektif...................................................................... 2
B. Syarat-syarat Kalimat Efektif...................................................................
C. Unsur-unsur Kalimat Efektif....................................................................
D. Struktur Kalimat.......................................................................................
E. Ciri-ciri Kalimat Efektif...........................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................... 7
B. Saran ....................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 8

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi paling penting untuk mempersatukan seluruh
bangsa. Kepribadian Indonesia dapat tercipta dari kemahiran berbahasa Indonesia, bagi
mahasiswa Indonesia semua itu dapat tercermin dalam tata pikir, tata tulis, tata ucapan dan
tata laku. Berbahasa Indonesia dalam konteks Ilmiah dan Akademis, sebagai mahasiswa
harus lebih dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar supaya negeri ini
bisa tetap utuh terjaga.
Mahasiswa selain berbahasa Indonesia juga dapat menggunakan kalimat efektif. Kalimat
yang disampaikan secara mudah dipahami oleh pembaca. Karya ilmiah ditulis untuk
dipahami oleh pembaca. Penulis hendaknya memperhatikan kalimat yang disusun. Kalimat
sangat penting dalam sebuah tulisan, kalimat yang baik mudah dipahami pembaca.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif ?
2. Apa saja unsur-unsur kalimat ?
3. Apa ciri-ciri kalimat efektif ?
4. Apa syarat yang mendasari kalimat efektif ?
5. Bagaimana struktur kalimat efektif ?

C. Tujuan Pembahasan
1. Sebagai tugas kelompok dari mata kuliah Bahasa Indonesia.
2. Penulis dapat lebih mengerti pembahasan mengenai konsep dasar penggunaan kalimat
efektif
3. Dapat menambah wawasan bagi pembaca.

D. Manfaat
Dari rumusan masalah yang ada maka manfaat penulisan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui gambaran umum kalimat efektif.
2. Memahami syarat yang mendasari kalimat efektif.
3. Mengerti struktur kalimat efektif.
4. Memberi pemahaman mengenai kalimat tanya, bernalar, suruh (perintah), sederhana,
luas, luas bertingkat, luas tidak setara.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian kalimat efektif.


Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan
informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca.Kalimat yang baik mudah dipahami oleh
pembaca dan hendaknya memiliki struktur kalimat bahasa Indonesia yaitu S P O K/pel.
Apabila struktur tersebut tidak dipenuhi, maka kalimat yang disusun menjadi tidak
lengkap Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan,
maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud sipembicara atau penulis.

Contoh:
ira ira belajar ira belajar bahasa Indonesia ira belajar bahasa Indonesia dikampus.
S P O K

B. Persyaratan kalimat efektif secara formal


1. Koherensi
Adalah Hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur - unsur (kata atau
kelompok kata) yang membentuk kata itu.

2. Kesatuan
Suatu kalimat efektif harus mempunyai struktur yang baik. Artinya, kalimat itu harus
memiliki unsur - unsur subyek dan predikat, atau bisa ditambah dengan obyek, keterangan,
dan pelengkap yang bisa melahirkan arti yang merupakan ciri - ciri keutuhan kalimat.

3. Kehematan
Yang dimaksud disini adalah kehematan dalam pemakain kata, frase atau bentuk lainnya
yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan tersebut menyangkut soal gramatikal dan makna
kata. Namun, dalam hal ini tidak berarti bahwa kata yang menambah kejelasan kalimat boleh
dihilangkan.

4. Paralelisme atau kesejajaran


Adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunaka dalam kalimat itu Jika
pertama menggunakan verba, maka bentuk kedua juga menggunakan verba. Lalu, jika
kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya juga
harus menggunakan kata kerja berimbuhan me-, juga.
5. Penekanan
Gagasan pokok atau misi yang ingin ditekankan oleh pembicara biasanya dilakukan
dengan memperlambat ucapan, melirihkan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi.

6. Kevariasian
Untuk menghindari kebosanan dan keletihan saat membaca, diperlukan variasi dalam
teks. Ada kalimat yang dimulai dengan subyek, predikat atau keterangan. Ada kalimat yang
pendek dan panjang

7. Logis/Nalar
Suatu kalimat dikatakan logis apabila informasi dalam kalimat tersebut dapat diterima
oleh akal atau nalar. Logis atau tidaknya kalimat dilihat dari segi maknanya, bukan
strukturnya. Suatu kalimat dikatakan logis apabila gagasan yang disampaikan masuk akal,
hubungan antar gagasan dalam kalimat masuk akal, dan hubungan gagasan pokok serta
gagasan penjelas juga masuk akal.

C. Unsur- unsur Kalimat Efektif


Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama
lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S),
predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia
baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain
(objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir,
atau wajib tidak hadir.

1. Subjek (S)
Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal,
suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis
kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh
sebagai berikut ini:
a) Ayahku sedang melukis.
b) Meja direktur besar.
c) Yang berbaju batik dosen saya.

d) Berjalan kaki menyehatkan badan.

e) Membangun jalan layang sangat mahal.

Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas adalah S. Contoh S yang diisi oleh kata
dan frasa benda terdapat pada kalimat (a) dan (b), contoh S yang diisi oleh klausa terdapat
pada kalimat (c), dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada kalimat (d) dan (e).

Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada
benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada
kalimat (c), (d) dan (e) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada benda.
Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (c) dan (d), yang berbaju batik dan berjalan kaki
tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan layang yang menjadi S pada
kalimat (e), secara implisit juga merujuk pada “hasil membangun” yang tidak lain adalah
benda juga. Di samping itu, kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada nomina yang lesap,
pada awal kalimat (c) sampai (e), yaitu orang pada awal kalimat (c) dan kegiatan pada awal
kalimat (d) dan (e).

Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata
tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas
pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis
berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S
karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
a) Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
b) Di sini melayani obat generic.
c) Memandikan adik di pagi hari.
Contoh (a) sampai (c) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena tidak mempunyai
S. Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (a) siapa yang melayani
resep pada contoh (b) dan siapa yang memandikan adik pada contoh (c), tidak ada
jawabannya. Kalaupun ada, jawaban itu terasa tidak logis.
2. Predikat (P)
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau
dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain
memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi,
status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang
jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian
besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
Perhatikan contoh berikut:
a) Kuda meringkik.
b) Ibu sedang tidur siang.
c) Putrinya cantik jelita.
d) Kota Jakarta dalam keadaan aman.
e) Kucingku belang tiga.
f) Robby mahasiswa baru.

Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P. kata meringkik pada kalimat
(a) memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok kata sedang tidur siang pada kalimat (b)
memberitahukan melakukan apa ibu,cantik jelita pada kalimat (c) memberitahukan
bagaimana putrinya, dalam keadaan aman pada kalimat (d) memberitahukan situasi kota
Jakarta, belang tiga pada kalimat (e) memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada
kalimat (f) memberitahukan status Robby.

Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk
pada perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.
a) Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
a) Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
b) Bandung yang terkenal kota kembang.
Walaupun contoh (a), (b), (c) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, yaitu diawali
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, namun di dalamnya tidak ada satu kata
pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa adik yang
gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh (a), tidak ada jawaban atas pertanyaan kenapa atau ada
apa dengan kantor di Jalan Gatot Subroto dan Bandung terkenal sebagai kota kembang itu
pada contoh (b) dan (c). karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat, atau hal lain yang
dituntut oleh P, maka contoh (a), (b), (c) tidak mengandung P. Karena itu, rangkaian kata-kata
yang cukup panjang pada contoh (a), (b), (c) itu belum merupakan kalimat, melainkan baru
merupakan kelompok kata atau frasa.

3. Objek (O)
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh
nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif,
yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pad contoh di bawah ini.
a) Nurul menimang

a) Arsitek merancang

b) Juru masak menggoreng

Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P
yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah
yang dinamakan objek.
Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam
kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P
dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
1. Nenek mandi.
2. Komputerku rusak.
3. Tamunya pulang.
Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan.
Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan ubahan posisinya bila
kalimatnya dipasifkan.
a) Martina Hingis mengalahkan Yayuk Basuki (O)
b) Yayuk Basuki (S) dikalahkan oleh Martina Hingis.
c) Orang itu menipu adik saya (O)
d) Adik saya (S) ditipu oleh oran itu.

4. Pelengkap (pel)
Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak
Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh
O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa
nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di
bawah ini:
a) Ketua MPR membacakan Pancasila.

S P O

b) Banyak orpospol berlandaskan Pancasila.

S P Pel
Kedua kalimat aktif (a) dan (b) yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh nomina
Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a) yang menempatkan
Pancasila sebagai O. Ubahan kalimat (a) menjadi kalimat pasif adalah sebagai berikut:

Pancasila dibacakan oleh ketua MPR.


S P O

Posisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat (b) tidak bisa dipindah ke depan menjadi S
dalam kalimat pasif. Contoh berikut adalah kalimat yang tidak gramatikal.
Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol.

Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina
dan frasa nominal, Pelengkap dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa preposisional.
Di samping itu, letak Pelengkap tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam
kalimatnya terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian
kalimat menjadi S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.
a) Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.
b) Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.
c) Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.
d) Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru.
e) Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.

5. Keterangan (ket)
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian
kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya
bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa
nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa. Ciri - ciri keterangan :
 Bukan unsur utama.  Keterangan sebab
 Tidak terkait posisi.  Keterangan akibat
 Keterangan waktu  Keterangan tambahan
 Keterangan tempat  Keterangan aposisi
 Keterangan tujuan  Keterangan aspek

E. CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF


1.Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.
2.Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku.
3.Menggunakan diksiyang tepat.
4.Menggunakankesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logisdansistematis.
5.Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
6.Melakukan penekanan ide pokok.
7.Mengacu pada kehematan penggunaan kata.
8.Menggunakan variasi struktur kalimat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi
tersebut mudah dipahami oleh pembaca. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili
pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami
pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau
pembicaranya.
Struktur kalimat efektif haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab
kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya
benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kesatuan arti. Sebaliknya kalimat yang
strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu
pernyataan yang salah. Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas.
Unsur-unsur dalam kalimat meliputi : subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel),
dan keterangan (Ket).
Ciri-ciri kalimat efektif yaitu :
Kesepadanan, keparalelan, ketegasan, kehematan, kecermatan, kepaduan, kelogisan.

B. Saran
Kritik dan saran yang membangun, kami harapkan untuk perbaikan dan kemajuan karya tulis

DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/# psj=1&q=kalimat+efektif
http://kalimatefektif2013.blogspot.com/
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/ JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_
INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/KALIMAT_EFEKTIF.pdf
http://www.docstoc.com/ docs/79011391/Kalimat-Efektif---DOC