Anda di halaman 1dari 91

STUDI PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

PEMASANGAN INFUS PADA PASIEN DEWASA


DI IGD RSU BAHTERAMAS PROVINSI
SULAWESI TENGGARA

KARYA TULIS ILMIAH

Di Susun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan
Pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari

OLEH :

NI WAYAN SINTIA DEWI


NIM : P00320014032

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEHNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN D III KEPERAWATAN
2017

i
ii
iii
RIWAYAT HIDUP

I. Identitas

1. Nama : Ni Wayan Sintia Dewi

2. Tempat tanggal lahir : Kendari, 10 Oktober 1996

3. Agama : Hindu

4. Suku/Bangsa : Bali / Indonesia

5. Alamat : Jln. Padaelo Desa Lalowosula, Kec. Ladongi

Kab. Kolaka Timur

II. Pendidikan

1. TK Dian Ekawati tamat tahun 2002

2. SDN 02 Putemata tamat tahun 2008

3. SMPN 1 Ladongi tamat tahun 2011

4. SMAN 1 Ladongi tamat tahun 2014

5. Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan, tahun 2014 sampai

sekarang.

iv
Motto

Teruslah berkarya…
Lakukan apa yang ada di dalam pikiran mu
Lakukanlah menggunakan hati mu
Pilihlah teman-teman yang sehati dengan mu
Yang bisa di ajak maju bersama dengan semangat dan tanggung jawab

Saat melakukan kesalahan….


Tak perlu berhenti dan berkecil hati, teruslah berkarya
Itu menandakan kita telah mencoba untuk menjadi sukses
Karena sukses berasal jika kita belajar dari kesalahan

Yang terpenting adalah karya mu dapat bermanfaat bagi orang lain


Karya mu dapat membuat orang disekitar mu merasa bahagia dan berguna

Karya tulis ini ku persembahkan untuk

kedua orang tuaku, adikku, keluarga besarku,

serta almamaterku

v
ABSTRAK

Ni Wayan Sintia Dewi (P00320014032). Studi Penerapan Standar Operasional


Prosedur (SOP) Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa Di Ruang IGD RSU
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Yang dibimbing oleh Ruth Mongan dan
Akhmad Pemasangan infus merupakan prosedur invasif dan merupakan tindakan
yang sering dilakukan di rumah sakit, namun hal ini berisiko tinggi terjadinya
Hospital Acquired Infection, jika dilakukan tidak sesuai dengan SOP yang telah
ditetapkan oleh rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran
penerapan SOP pemasangan infus pada pasien dewasa di Ruangan IGD RSU
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017. Variabel penelitian yaitu
variabel bebas: fase persiapan dan fase pelaksanaan serta variabel terikat: pasien
dewasa. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan survey. Populasi penelitian ini berjumlah 508 orang pasien dan sampel
diambil 10% dari populasi menggunakan tekhnik assidental sampling. Tekhnik
analisis data dan penyajian data adalah secara deskriptif dan disajikan dengan tabel
distribusi frekuensi serta grafik frekuensi dan di narasikan. Hasil penelitian
menggambarkan bahwa dari 51 pasien yang menjadi obyek penelitian, yang
diterapkan SOP pemasangan infus fase persiapan sebanyak 22 responden (43,14%)
dan yang tidak diterapkan sebanyak 29 resoponden (56,86%), yang diterapkan SOP
pemasangan infus fase pelaksanaan sebanyak 21 responden (41,18%) dan yang tidak
diterapkan SOP pemasangan infus sebanyak 30 responden (58,82%). Secara
keseluruhan yang diterapkan SOP pemasangan infus sebanyak 21 responden
(41,18%) dan yang tidak diterapkan sebanyak 30 responden (58,82%).
Kesimpulannya bahwa SOP pemasangan infus di RSU Bahteramas hanya sebagian
kecil diterapkan, maka dari itu saran peneliti agar penerapan SOP pemasangan infus
lebih ditingkatkan sehingga dapat menciptakan pelayanan yang maksimal kepada
masyarakat.

Daftar Pustaka 28 (2005-2017)

Kata Kunci : Penerapan SOP Pemasangan Infus, Fase Persiapan, Fase Pelaksanaan

vi
KATA PENGANTAR

“Om Swastiastu”

Puji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan

Yang Maha Esa), karena atas limpahan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Studi Penerapan Standar Operasional

Prosedur (SOP) Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa Di Ruang IGD RSU

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara”.

Penulis sadar dan mengakui bahwa karya tulis ini masih jauh dari

kesempurnaan, masih banyak terdapat kekeliruan, kesalahan dan kekurangan

walaupun penulis telah berupaya semaksimal mungkin. Oleh karena itu kritik dan

saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi

kesempurnaan karya tulis ini kedepannya.

Terselesaikannya karya tulis ini tentu banyak mendapat petunjuk dan

bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh

karena itu, penulis dengan penuh rasa ikhlas menyampaikan ucapan terimakasih dan

penghargaan setinggi-tingginya kepada Ibu Ruth Mongan, BSc.,SPd.,M.Pd selaku

pembimbing pertama dan Bapak Akhmad,SST.,M.kes selaku pembimbing kedua,

yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dengan penuh kesabaran dan tanggung

jawab.

vii
Tak lupa penulis juga ucapkan terimakasih dari berbagai pihak yang telah

membantu terselesaikannya karya tulis ilmiah ini baik secara langsung maupun tidak

langsung, terimakasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Petrus,SKM,M.Kes selaku direktur Poltekes Kemenkes Kendari.

2. Bapak Muslimin L,A.Kep.,S.Pd.,M.Si selaku Ketua Jurusan

Keperawatan Poltekes Kemenkes Kendari.

3. Bapak dan Ibu Dosen Penguji, Pengajar dan seluruh Staf Poltekes

Kemenkes Kendari khususnya Jurusan Keperawatan yang telah

memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis dan pelayanan kepada

penulis selama mengikuti proses pendidikan hingga penyusunan karya

tulis ilmiah ini.

4. Bapak Kepala Kantor Badan Riset Sultra yang telah memberikan izin

penelitian kepada penulis dalam penelitian ini.

5. Kepada Kepala RSU Bahteramas yang telah memberikan kesempatan

kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian di RSU Bahteramas.

6. Kepala Bidang Keperawatan dan Kepala Bidang Diklat RSU Bahteramas

beserta staf, serta perawat maupun tenaga medis yang telah banyak

membantu selama melaksanakan penelitian di RSU Bahteramas.

7. Ayahanda yang paling tercinta Wayan Gunada dan Ibunda Ni Made

Sudri yang saya sangat sayangi serta saudaraku I Made Widana, yang
banyak memberikan dukungan dan motivasi serta bantuan baik materi

maupun moril selama penulis mengikuti pendidikan di Poltekes Kemenkes

Kendari.

8. Kakanda I Wayan Sukardiasa yang telah meluangkan waktu serta

pikirannya dan selalu memotivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan

karya tulis ilmiah ini tepat pada waktunya.

9. Teman-teman sejawat mahasiswa Poltekes Kemenkes Kendari khususnya

Jurusan Keperawatan angakatan 2014/2015 yang telah berjuang bersama-

sama selama ± 3 tahun dalam suka maupun duka untuk mencapai cita-cita.

Dan yang terkhusus teman-teman GGK yang paling saya cintai dan

sayangi,terimakasih atas waktu dan pengalaman yang telah kita bagikan

selama ini baik dalam suka maupun duka, dalam gelap maupun terang.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dapat

membalas segala kebaikan yang telah semua pihak berikan dalam penyelesaian karya

tulis ilmiah ini.

Akhir kata, semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua

khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian dibidang

Keperawatan.

“Om shanti,shanti,shanti Om”

Kendari, Juli 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP .................................................................................................... iv
MOTTO ....................................................................................................................... v
ABSTRAK .................................................................................................................. vi
KATA PENGANTAR ............................................................................................... vii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ...................................................................................................... ix
DAFTAR GRAFIK ..................................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xi
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 4
D. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Pemasangan Infus ............................................................... 6
B. Tinjauan Tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) ................................. 21
C. Tinjauan Tentang Pasien ................................................................................ 27
D. Tinjauan Dewasa ............................................................................................ 30
BAB III KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran .............................................................................................. 32


B. Kerangka Konsep Penelitian .......................................................................... 32
C. Variabel Penelitian .......................................................................................... 33
D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif ..................................................... 33

viii
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ................................................................................................ 35
B. Waktu dan Tempat Penelitian ......................................................................... 35
C. Populasi dan Sampel ....................................................................................... 35
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ................................................................. 37
E. Pengelolahan Data ........................................................................................... 38
F. Analisa Data .................................................................................................... 38
G. Penyajian Data ................................................................................................ 39
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .............................................................................................. 40
B. Pembahasan .................................................................................................... 52

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................... 59
B. Saran ............................................................................................................... 60
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Jenis dan Jumlah Ketenagaan RSU Bahteramas Tahun 2011 46
Sampai Dengan 2015 …………………………...

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Ruang 48


IGD Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi
Tenggara tahun 2017 …………………………

Tabel 5.3 Distribusi Umur Responden di Ruang IGD Rumah Sakit 48


Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun
2017
………………………………………………………

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Penerapan SOP Pemasangan Infus 49


Fase Persiapan ……………………………………………

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Penerapan SOP Pemasangan Infus Fase 50


Pelaksanaan …………………………………………

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Penerapan SOP Pemasangan Infus Di 52


IGD RSU Bahteramas ………………………………

ix
DAFTAR GRAFIK

Grafik 5. 1 Penerapan SOP Fase Persiapan ……………………... 50

Grafik 5.2 Penerapan SOP Fase Pelaksanaan …………………... 51

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Surat Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 2: Surat Pernyataan Persetujuan Responden

Lampiran 3: Lembar Kuisioner

Lampiran 4: Surat Pengambilan Data Awal

Lampiran 5: Surat Izin Penelitian dari Badan Riset

Lampiran 6: Surat Izin dari Litbang RSU Bahteramas

Lampiran 7: Tabulasi Data Hasil Penelitian

Lampiran 8: Master Tabel Penelitian

Lampiran 9: Surat Hasil Penelitian

Lampiran 10: Dokumentasi Kegiatan Penelitian

Lampiran 11: Lembar Konsultasi Hasi Penelitian

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan keperawatan gawat darurat meliputi pelayanan keperawatan yang

ditujukan kepada pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan

menjadi gawat dan terancam nyawanya bila tidak mendapat pertolongan secara

cepat dan tepat (Musliha,2010 dalam Tirsa,2016). Pemasangan infus (pemberian

cairan infus) merupakan tindakan pada kondisi gawat darurat yang sangat

menentukan keselamatan hidup pasien (Riyadi S & Harmoko, 2012 dalam Kaloa,

2016). Namun, hal ini bisa menjadi tempat risiko tinggi terjadinya infeksi

nosokomial atau disebut juga Hospital Acquired Infection (HAI).

Penelitian yang dilakukan Tippins (2005) pada sebuah rumah sakit

pendidikan di London didapatkan bahwa perawat IGD tidak selalu memberikan

tindakan keperawatan dengan hasil yang optimal pada pasien, walaupun mereka

memiliki pengalaman pengetahuan tentang bagaimana melakukan intervensi

keperawatan pada pasien dengan berbagai macam tingkat kegawatan, namun

terkadang masih ada yang mengalami kegagalan yang membuat pasien mengalami

perburukan kondisi klinis (Kaloa 2016).

Menurut Andares (2009), tindakan pemasangan infus akan berkualitas apabila

dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan. Maka

perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dituntut untuk memiliki

kemampuan lebih dibandingkan dengan yang lain, karena IGD merupakan

1
pelayanan awal pada rumah sakit, sehingga semua perawat dituntut memiliki

kemampuan dan keterampilan mengenai pemasangan infus yang sesuai Standar

Operasional Prosedur (SOP).

Berdasarkan hasil penelitian Andares (2009) di Rumah Sakit Badrul Aini

Medan, menunjukkan bahwa perawat kurang memperhatikan kesterilan luka pada

pemasangan infus. Perawat biasanya langsung memasang infus tanpa

memperhatikan tersedianya bahan-bahan yang diperlukan dalam prosedur tindakan

tersebut, seperti tidak tersedia sarung tangan, kain kasa steril, alkohol, dan

pemakaian yang berulang pada selang infus yang tidak steril.

Menurut Depkes RI Tahun 2006 jumlah pemasangan infus di Rumah Sakit di

Indonesia sebanyak (17,11%) (Suprapto, 2015). Dan menurut data surveilans World

Health Organisation (WHO) dinyatakan bahwa angka kejadian pemasangan infus di

Instalasi Gawat Darurat cukup tinggi yaitu 85% per tahun dan 120 juta orang dari

190 juta pasien yang di rawat di rumah sakit menggunakan infus serta didapatkan

juga 70% perawat tidak patuh dalam melaksanakan standar pemasangan infus

berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

Data yang diperoleh dari RSUD Bahteramas di Ruangan Instalasi Gawat

Darurat oleh perawat, jumlah tindakan pemasangan infus yang dilakukan di Instalasi

Unit Gawat Darurat mencapai 12.749 pasien pada tahun 2015 dan 13.393 pasien

pada tahun 2016, jumlah pasien dalam 1 (satu) bulan mencapai 1.100 pasien dengan

jumlah pasien dewasa mencapai 508 pasien atau 46% dari jumlah total pasien

2
dalam 1 (satu) bulan dengan jumlah tenaga perawat pelaksana 31 orang. Angka

kejadian flebitis yang terjadi di RSUD Bahteramas mencapai 13,06 % pada tahun

2016.

Infeksi dari tindakan pemasangan infus (flebitis) bagi pasien menimbulkan

dampak yang nyata yaitu ketidaknyamanan pasien, pergantian kateter baru,

meningkatkan length of stay (LOS), menambah biaya perawatan di rumah sakit,

dampak lanjutnya bahkan dapat menyebabkan kematian.

Salah satu faktor yang berperan pada kejadian flebitis terhadap pasien dengan

pemasangan infus adalah kepatuhan petugas dalam melaksanakan standar

operasional prosedur pemasangan infus, hasil penelitian yang dilakukan Ayu,S

(2014 dalam Kaloa 2016) dari 36 responden hanya 15 responden (41,7%) dikatakan

patuh sedangkan 21 responden (58,3%) tidak patuh. Dalam hal ini dapat dilihat

bahwa masih banyak perawat yang belum melakukan pemasangan infus sesuai

dengan standar yang berlaku.

Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di Instalasi Unit Gawat Darurat

RSUD Bahteramas pada bulan Juni 2017, berdasarkan pengamatan ditemukan

bahwa dari 5 pasien yang dilakukan pemasangan infus, 2 pasien atau 40% dilakukan

pemasangan infus sesuai dengan SOP dan sebanyak 3 pasien atau 60% dilakukan

pemasangan infus tidak sesuai dengan SOP. Hal ini ditunjukkan dengan, tenaga para

medis yang melakukan pemasangan infus (perawat) tidak mencuci tangan terlebih

dahulu, tidak membawa bengkok dan alat yang telah digunakan diletakkan pada

tempat yang sama dengan alat yang belum digunakan, serta saat pemasangan infus

3
tenaga medis (perawat) tidak menggunakan tourniquet tetapi menggunakan

handscoon.

Berdasarkan uraian di atas, maka akan dilakukan penelitian tentang Studi

Penerapan Standar Operasional Prosedur Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa di

Ruangan IGD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembahasan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan

masalah “Bagaimana penerapan standar operasional prosedur pemasangan infus

pada pasien dewasa di Ruangan IGD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara

Tahun 2017?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Penerapan Standar Operasional Prosedur Pemasangan Infus

Pada Pasien Dewasa di Ruangan IGD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk memperoleh gambaran penerapan standar operasional prosedur (SOP)

fase persiapan alat pemasangan infus pada pasien dewasa di Ruangan IGD

Bahteramas Provinsi Sulwesi Tenggara Tahun 2017.

b. Untuk memperoleh gambaran penerepan standar operasional prosedur (SOP)

fase pelaksanaan pemasangan infus pada pasien dewasa di Ruangan IGD

Bahteramas Provinsi Sulwesi Tenggara Tahun 2017.

4
D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi Rumah Sakit

a. Memberikan informasi mengenai evaluasi tindakan pemasangan infus yang

telah dilakukan.

b. Memberikan informasi atau masukan kepada institusi pelayanan

keperawatan tentang kinerja perawat terutama dalam penatalaksanaan terapi

infus sehingga dapat dijadikan masukan dalam menyusun perencanaan

terutama untuk meningkatkan kinerja perawat dalam meningkatkan

penetalaksanaan terapi infus sesuai dengan protap yang telah ditetapkan

sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang menjadi

salah satu penilaian akreditasi rumah sakit.

2. Manfaat bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan acuan bagi pendidikan tentang penerapan standar

operasional prosedur (SOP) khususnya tindakan pemasangan infus pada pasien

dewasa di IGD RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017.

3. Manfaat bagi Peneliti

Menjadi tambahan materi dan masukan untuk peneliti selanjutnya dalam

melakukan penelitian pada prosedur pemasangan infus agar penerapan standar

opersional prosedur (SOP) pada pemasangan infus lebih efektif dan dapat

mencegah resiko flebitis.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Pemasangan Infus

1. Pengertian

Pemasangan infus adalah memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam

pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan waktu yang lama, dengan

menggunakan alat infus set. Pemasangan infus adalah teknik penusukan/

pemasukan jarum atau kateter infus (Abocat) melalui transkutan dengan stilet

tajam, berbentuk kaku dan steril yang disambungkan dengan spuit (Tim Penulis

Poltekkes Kemenkes Maluku, 2011) .

Pemasangan infus merupakan tindakan invasif karena meliputi fungsi

vena. Fungsi vena adalah tekhnik yang mencakup penusukan vena melalui

transkutan dengan suatu jarum atau stilet tajam yang kaku, seperti angiokateter,

atau dengan jarum yang disambungkan pada spuit. Penggunaan utama tekhnik

ini adalah untuk memulai dan mempertahankan terapi cairan intravena (Potter &

Perry, 2005).

2. Tujuan

1. Mempertahankan, mengganti, serta menjaga keseimbangan cairan dan

elektrolit tubuh. Tubuh mengandung cairan, elektrolit, vitamin, protein,

lemak, dan kalori yang dalam keadaan tertentu pemasukannya tidak dapat

dipertahankan secara oral.

6
2. Memperbaiki asam basa tubuh.

3. Memelihara nutrisi.

4. Memberikan obat-obatan intravena ke dalam tubuh.

5. Memonitor hemodinamik tubuh.

6. Merupakan akses dalam keadaaan darurat.

7. Memonitor tekanan vena sentral (central venous pressure-CVP). CVP

adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan memompa cairan masuk ke

dalam tubuh dengan menggunakan cairan dalam dosis tertentu sesuai dengan

program terapi yang diberikan.

8. Menjadi terapi bagi klien yang diduga hipovolemik dan mengalami trauma

berat.

3. Keuntungan dan kerugian

Menurut (Perry dan Potter 2005), keuntungan dan kerugian terapi

intravena adalah :

a. Keuntungan

Keuntungan terapi intravena antara lain: Efek terapeutik segera dapat

tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat,

absorbs total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat

diandalkan kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik

dapat dipertahankan maupun dimodifikasi, rasa sakit dan iritasi obat-obat

tertentu jika diberikan intramuscular atau subkutan dapat dihindari, sesuai

7
untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi denga rute lain karena molekul yang

besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.

b. Kerugian

Kerugian terapi intravena adalah : tidak biasa dilakukan ´”drug recall” dan

mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas

tinggi. Kontrol pemberian yang tidak baik biasa menyebabkan “speed

shock” dan komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu : kontaminasi mikroba

melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vascular,

misalnya flebitis kimia, dan inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai

obat tambahan.

4. Lokasi pemasangan infus

Menurut (Perry dan Potter 2005), tempat atau lokasi vena perifer yang

sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer

kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk

terapi intravena. Daerah tempat infus yang memungkinkan adalah peternaan

dorsal tangan (vena supervisial dorsalis, vena basalika, vena sefalikal), lengan

bagian dalam (vena basalika, vena sefalika, vena kubital median, vena median

lengan bawah, dan vena radialis), permukaan dorsal (vena sevena magma,

ramusdorsalis).

a. Vena Supervisial dorsalis pada tangan, ditemukan pada dorsum manus,

mengalir masuk ke atas bagian lateral vena sefalika, sedangkan bagian

8
medial masuk ke vena basilica, vena ini menuju permukaan anterior lengan

bawah kemudian berjalan ke atas menuju lengan atas.

b. Vena sefalika pada tangan, berakhir dengan menembus faia profunda pada

trigonum denum pektorale dan bermuara pada vena aksilaris.

c. Vena basilica; dari dorsum manus sisi medial lengan bawah menembus fasia

profunda. Pada pertengahan lengan atas bercabang menjadi vena kubitis

melalui vena basilica, dan vena sefalika, lalu bermuara ke vena aksilaris.

d. Vena kubital median, merupakan vena yang berasal dari vena lengan bawah

dan umumnya terbagi dalam dua pembuluh darah, satu berhubungan dengan

vena basilica dan yang lainnya berhubungan dengan vena sefalika. Vena ini

biasanya digunakan untuk pengambilan sampel darah.

e. Vena radialis, merupakan vena yang terdapat pada lenga atas yang bersatu

dengan vena ulnaris, kedua vena ini bersatu di siku dan menjadi vena

brakialis; kemudian menjadi vena aksilaris dan akhirnya vena subklavia

f. Vena savena magna; mengangkut darah dari ujung medial arkus venosus

dorsalis pedis lalu berjalan naik ke depan maleolus medialis kemudian ke

belakang lutut melalui sisi medial paha pada fasia profunda dan bergabung

dengan vena fermoralis yang berhubungan dengan vena savena magna

dengan vena profunda sepanjang sisi medial betis. Pada hiatus safenus di

fasia profunda, vena savena magna mempunyai cabang tiga yaitu:

1) Vena sirkumfleksa ilium superfisialis

2) Vena epigastrika superfisialis

9
3) Vena pudenda interna superfisialis

Menurut (Tim Penulis Poltekkes Kemenkes Maluku, 2011). Lokasi

penusukan adalah :

1) Bagian punggung telapak tangan, yaitu vena metacarpal. Jika

memungikinkan lakukan pada vena digitalis.

2) Lengan bawah pada vena basilika atau sefalika.

3) Siku bagian dalam fosa antekubital, media basilica, dan media sefalika untuk

penusukan infus jangka pendek.

4) Ekstremitas bawah:

1) Kaki pada vena pleksus dorsum, arkus vena dorsalis, dan vena medical

marginalis;

2) Mata kaki pada vena safena magna.

Menurut Dougherty dkk (2010), Pemilihan lokasi pemasangan terapi

intravena mempertimbangkan beberapa faktor yaitu :

a. Umur pasien: misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting

dan mempengaruhi berapa lama intravena terakhir.

b. Prosedur yang diantisipasi : misalnya jika pasien harus memenuhi jenis

terapi intravena tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti

pembedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun.

c. Aktivitas pasien : misalnya gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan

tingkat kesadaran.

10
d. Jenis intravena : jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering

memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimentasi adalah

sangat mengiritasi vena-vena perifer).

e. Durasi terapi intravena terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk

memelihara vena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-

hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (mulainya mulut di tangan dan

pindahkan ke lengan).

f. Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada, pemilihan sisi

dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting; jika sedikit vena

pengganti.

g. Terapi intravena sebelumnya : flebitis sebelumnya membuat vena menjadi

tidak baik untuk di gunakan kemoterapi sering membuat vena menjadi buruk

(misalnya mudah pecah atau sklerosis).

h. Pembedahan sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada

pasien dengan kelenjar limfe yang telah di angkat (misalnya pasien

masektomi) tanpa izin dari dokter.

i. Sakit sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien

dengan stroke.

j. Kesukaan pasien: jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk

sebelah kiri atau kanan dan juga sisi.

11
5. Prosedur pemasangan infus sesuai dengan teori

Karena infeksi dapat menjadi komplikasi utama dari terapi intravena,

peralatan intravena harus steril, juga wadah dan selang parenteral. Tempat

insersi harus dibersihkan dengan kapas povidoneiodine selama 2-3 menit, mulai

dari tengah ke arah tepi. Tindakan ini diikuti dengan alcohol 70% (Hanya

alcohol yang digunakan jika pasien alergi pada iodine). Perawat harus

menggunakan sarung tangan sekali pakai tidak steril selama prosedur fungsi

vena karena tingginya kemungkinan kontak dengan darah pasien (Asmadai,

2008 dalam Irawati 2014).

a. Persiapan klien

1) Monitoring keadaan umum klien.

a) Tingkat kesadaran.

b) Tanda-tanda vital.

c) Keadaan kulit atau turgor.

2) Memberikan informasi kepada klien terkait beberapa hal berikut:

a) Kapan dan tujuan diberikan infus.

b) Berapa lama pemasangan infus.

c) Hal yang harus dilakukan selama pemasangan infus.

(1) Menjaga/mempertahankan tempat insersi agar tidak

kotor/dikotori.

(2) Tidak boleh mengatur tetesan sendiri.

(3) Tidak boleh menarik sedang infus sendiri.

12
(4) Bila ada yang dikeluhkan berhubungan dengan tempat insersi,

harus diberitahukan kepada perawat.

b. Persiapan alat

1) Cairan yang diberikan

2) Kasa steril.

3) Kapas steril.

4) Alcohol 70%

5) Povidone iodone.

6) Plester.

7) Standar infus.

8) Infus set.

9) IV kateter sesuai usia (Abocat).

10) Sarung tangan steril sekali pakai.

11) Perlak/pengalas.

12) Bengkok

13) Alat pencukur

14) Gunting

15) Tornikuet/manset

16) Perban

17) Spalk dalam keadaan siap pakai, bila perlu.

18) Obat-obatan jika akan diberikan terapi obat lewat IV.

13
c. Prosedur kerja

1) Tahap preinteraksi

a) Cek atau baca status dan terapi cairan klien

b) Cuci tangan

c) Siapkan alat-alat dan dekatkan pada klien.

2) Tahap orientasi

a) Beri salam, panggil klien dengan nama kesukaannya.

b) Jelaskan maksud dan tujuan prosedur, serta lamanya yang akan

dilakukan oleh perawat untuk klien.

3) Tahap kerja

a) Bila dimungkinkan tindakan sebaiknya dilakukan oleh dua orang

perawat.

b) Beri kesempatan pada klien untuk bertanya sebelum melakukan

tindakan..

c) Tanyakan keluhan utama atau keluhan yang dirasakan klien

sekarang.

d) Jaga privasi klien.

e) Posisikan klien semi fowler atau berikan posisi supine jika tidak

memungkinkan.

f) Bebaskan lengan klien dari baju/kemeja.

g) Letakkan manset/tornikuet 5-15 cm di atas tempat tusukan.

h) Letakkan alas plastik di bawah lengan klien.

14
i) Hubungkan cairan infus dengan infus set lalu gantungkan pada

standar infus.

j) Periksa label klien apakah telah sesuai dengan instruksi cairan yang

akan diberikan.

k) Alirkan cairan infus melalui selang infus untuk menghilangkan udara

di dalamnya.

l) Kencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan

kesterilan sampai pemasangan pada tangan disiapkan.

m) Kencangkan tourniket/manset.

n) Anjurkan klien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali, lalu

palpasi dan pastikan tempat yang akan ditusuk.

o) Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alcohol, lalu

ulangi dengan menggunakan kapas betadin. Arah melingkar dari

dalam keluar lokasi tusukan.

p) Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena dengan jarak

sekitar 5 cm di atas atau bawah tusukan.

q) Pegang jarum pada posisi 300 pada vena yang akan ditusuk, setelah pasti

masuk, lalu tusuk perlahan dengan pasti.

r) Rendahkan posisi jarum sejajar pada kulit dan tarik jarum sedikit lalu

teruskan plastic IV kateter ke dalam vena.

s) Tekan dengan jari ujung plastik IV kateter.

t) Tarik jarum infus keluar.

15
u) Sambungkan plastic IV kateter dengan ujung selang infus.

v) Lepaskan manset.

w) Buka klem infus sampai cairan mengalir lancar.

x) Oleskan dengan salep betadine di atas tempat penusukan, kemudian

ditutup dengan kasa steril.

y) Fiksasi posisi plastic IV kateter dengan plester.

z) Atur tetesan infus sesuai dengan ketentuan, selanjutnya pasang stiker

yang sudah diberi tanggal. Untuk IV kateter bersayap ( wing needle ):

(1) Letakkan plester pertama di bawah sayap kemudian lipat di atas

sayap searah dan sejajar ujung IV kateter

(2) Letakkan plester kedua di atas pangkal IV kateter dan sayap

dengan posisi melintang

(3) Tutp bagian kasa steril dan letakkan dengan plester sesuai dengan

kebutuhan

(4) Tulis tanggal dan jam pemasangan IV kateter pada plester

penutup kasa.

4) Tahap terminasi

a) Evaluasi klien dan hasil kegiatan.

b) Lakukan kontrak dengan sapaan atau salam.

c) Akhiri kegiatan dengan sapaan atau salam.

d) Buka sarung tangan lalu lanjutkan dengan mencuci tangan.

16
5) Dokumentasi

Catat hasil dalam melakukan perawatan.

6. Komplikasi Pemasangan Infus

Terapi intravena diberikan secara terus menerus dan dalam jangka waktu

yang lama tentunya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi.

Komplikasi dari pemasangan infus yaitu flebitis, hematoma, infiltrasi,

tromboflebitis, emboli udara (Hinlay 2006).

a. Flebitis

Inflamasi vena yang disebabakan oleh iritasi kimia maupun mekanik.

Kondisi ini dikarakteristikan dengan adanya daerah yang memerah dan

hangat di sekitar daerah insersi/pemasukan atau sepanjang vena, nyeri atau

rasa lunak pada area insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan.

b. Infiltrasi

Infiltasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di

sekeliling tempat fungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya

pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan) di sekitar area insersi,

ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata. Infiltrasi

mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar dari pada tempat yang di

ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya untuk

memastikan infiltasi adalah dengan memasang tornikuet di atas atau di

daerah proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan

17
tornukuet tersebut secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus

tetap menetes meskipun ada obstruksi vena,berarti terjadi infiltrasi.

c. Iritasi vena

Kondisi ini ditandai degan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit

di atas area insersi. Iritasi vena biasa terjadi karena cairan dengan pH tinggi,

pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin, vancomcyn,

eritromycin, dan nafcillin)

d. Hematoma

Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah kejaringan di

sekitar area insersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya dinding vena yang

berlawanan selama penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang

tidak sesuai yang diberikan ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter

dilepaskan. Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan

segera pada tempat penusukan, dan kebocoran darah pada tempat penusukan.

e. Tromboflebitis

Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan

dalam vena. Karakteristik tromboflebitis adalah nyeri yang terlokalisasi,

kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau

sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman

dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, dan

leukositosis.

18
f. Thrombosis

Thrombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena,

dan aliran infus berhenti. Thrombosis disebabkan oleh injuri sel endotel

dinding vena, pelekatan platelet.

g. Occlusion (kemacetan)

Kemacetan ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika

botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada

area pemasangan infus/insersi. Kemacetan disebabkan oleh gangguan aliran

IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.

h. Spasme vena

Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kuit pucat disekitar

vena, aliran berhenti meskipun klem sudah di buka maksimal. Spasme vena

biasa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena

oleh obat atau cairan yang sudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu

cepat.

i. Reaksi vasovagal

Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kolaps pada vena, dingin,

berkeringat, pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi

vasovagal biasa disebabkan oleh nyeri atau kecemasan.

j. Kerusakan syaraf, tendon dan ligament

Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi

otot. Efek lambat yang biasa muncul adalah paralysis, mati rasa dan

19
deformitas. Efek lambat oleh tekhnik pemasangan yang tidak tepat sehingga

menimbulkan injuri disekitar syaraf, tendon dan ligament.

7. Pencegahan komplikasi pemasangan intravena

Menurut (Hidayat 2008), selama proses pemasangan infus perlu

memperhatikan hal-hal untuk mencegah komplikasi yaitu:

a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru.

b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi.

c. Observasi tanda/ reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain.

d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan.

e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir.

f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus

perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus.

g. Bersihkan lokasi penusukan dengan antiseptic. Bekas-bekas plester

dibersihkan memakai kapas alcohol.

h. Gunakan alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan teknik sterilisasi

dalam pemasangan infus.

i. Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang telah rusak, vena pada

daerah fleksi dan vena yang tidak stabil.

j. Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus dengan tepat.

k. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan mili meter

perjam (ml/h) dan perhitungan tetes permenit.

20
B. Tinjauan Tentang Standar Operasional Prosedur

1. Pengertian

Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah suatu standar / pedoman

tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok

untuk mencapai tujuan organisasi. Standar operasional prosedur merupakan

tatacara atau tahapan yang dilakukan dan yang harus dilalui untuk

menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Perry dan Potter 2005).

Menurut Moekijat (2008), Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah

urutan langkah-langkah (atau pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan), di mana

pekerjaan tersebut dilakukan, berhubungan dengan apa yang dilakukan,

bagaimana melakukannya, bilamana melakukannya, di mana melakukannya, dan

siapa yang melakukannya.

Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah dokumen yang berkaitan

dengan prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu

pekerjaan yang bertujuan untuk memperoleh hasil kinerja yang paling efektif

dari para pekerja dengan biaya yang serendah-rendahnya. SOP biasanya terdiri

dari manfaat, kapan dibuat atau direvisi, metode penulisan prosedur, serta

dilengkapi bagan flowchart dibagian akhir (Laksmi, 2008 : 52).

2. Tujuan SOP

Tujuan Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah sebagai berikut (Indah

Puji, 2014;30):

21
a. Untuk menjaga konsistensi tingkat penampilan kinerja atau kondis tertentu

dan kemana petugas dan lingkungan dalam melaksanakan sesuatu tugas atau

pekerjaan tertentu.

b. Sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan tertentu bagi sesama pekerja,

dan supervisor.

c. Untuk menghindari kegagalan atau kesalahan (dengan demikian

menghindari dan mengurangi konflik), keraguan, duplikasi serta

pemborosan dalam prosese pelaksanaan kegiatan.

d. Merupakan parameter untuk menilai mutu pelayanan.

e. Untuk lebih menjamin penggunaan tenaga dan sumber daya secara efesien

dan efektif.

f. Untuk menjelaskan alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas

yang terkait.

g. Sebagai dokumen yang akan menjelaskan dan menilai pelaksanaan proses

kerja bila terjadi suatu kesalahan atau dugaan mal praktek dan kesalahan

administrative lainnya, sehingga sifatnya melindungi rumah sakit dan

petugas.

h. Sebagai dokumen yang digunakan untuk pelatihan.

i. Sebagai dokumen sejarah bila telah di buat revisi SOP yang baru.

3. Fungsi SOP

Fungsi Standar Opersional Prosedur adalah sebagai berikut (Indah Puji,

2014:35):

22
a. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja

b. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.

c. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatan dan mudah dilacak.

d. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama dsiplin dalam bekerja.

e. Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.

4. Manfaat SOP

Standar Operasi Oprasional (SOP) memiliki manfaat bagi organisasi antara

lain (Permenpan No.PER/21/M-PAN/11/2208):

a. Sebagai standarisasi cara yang dilakukan pegawai dalam menyelesaikan

pekerjaan khusus, mengurangi kesalahan dan kelalaian.

b. SOP membantu staf menjadi lebih mandiri dan tidak tergantug pada

intervensi manajemen, sehingga akan mengurangi keterlibatan pimpinan

dalam pelaksanaan proses sehari-hari.

c. Meningkatkan akuntabilitas dengan mendokumentasikan tanggung jawab

khusus dalam melaksanakan tugas.

d. Menciptakan ukuran standar kinerja yang akan memberikan pegawai cara

konkret untuk memperbaiki kinerja serta membantu mengevaluasi usaha

yang telah dilakukan.

e. Menunjukkan kinerja bahwa organisasi efesien dan dikelola dengan baik.

f. Menyediakan pedoman bagi setiap pegawai di unit pelayanan dalam

melaksanakan pemberian pelayanan sehari-hari.

g. Menghindari tumpang tindih pelaksanaan tugas pemberian pelayanan.

23
h. Membantu penelusuran terhadap kesalahan-kesalahan prosedural dalam

memberikan pelayanan. Menjamin proses pelayanan tetap berjalan dalam

berbagai situasi.

5. SOP Pemasangan Infus Menurut RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi


Tenggara
a. Pengertian

Tata cara pemasangan jalur untuk pemberian cairan infus melalui pembuluh

darah vena perifer.

b. Tujuan

1) Didapatkan jalur untuk pemberian cairan infus maupun obat-obatan yang

aman, aseptic dan benar.

2) Untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan cairan dan elektrolit.

3) Sebagai jalur untuk memasukkan nutrisi untuk penderita yang tidak

dapat / boleh makan minum melalui mulut.

c. Kebijakan

Peraturan Direktur RSUD Bahteramas No. Tentang Pedoman Pelayanan

Rawat Inap

d. Prosedur

1) Persiapan

a) Standar infus

b) Cairan yang akan diberikan

c) Infus set

24
d) Kapas alcohol 70% atau alcohol swab

e) Gunting

f) Plester/ hipafix

g) Hansaplas

h) Emla

i) Pengalas ( Perlak Kecil)

j) Bengkok

k) Tourniquet

l) Surflo atau abocath

m) Hand schoen

n) Alat cukur

o) Bak instrument

2) Pelaksanaan

a) Cuci tangan ( Sesuai dengan SOP cuci tangan)

b) Salam dan kenalkan nama petugas

c) Identifikasi pasien (sesuai dengan SOP Indentifikasi Pasien)

d) Salam dan kenalkan nama petugas

e) Jelaskan kepada pasien / keluarga tentang tindakan yang akan

dilakukan.

f) Pasang infus set ke botol infus dengan cara : infus set diklem dulu

kemudian tusukan ke botol infus, gantung cairan pada standart infus

dengan ketinggian kurang lebih 1 m dari tempat penusukan. Isi

25
tabung pengontrol (pada selang infus) sesuai batas. Klem di buka

penuh sampai cairan memenuhi selang.

g) Atur posisi pasien

h) Kenakan hand schoen

i) Tentukan vena yang akan ditusuk ( dimulai dari vena bagian distal)

j) Cukur daerah yang akan dipasang infus yang banyak rambutnya,

dilakukan pencukuran dulu

k) Pasang tourniquet

l) Desinfeksi area yang akan ditusuk arahnya melingkar ke luar dimulai

dari area tengah ke tepi dengan alcohol swab dengan diameter 5 – 10

cm

m) Beri emla cream pada vena yang akan ditusuk, tunggu 3 s/d 5 menit

n) Tusuk jarum infus / abbocath pada vena yang telah ditentukan

o) Lepaskan tourniquet

p) Lakukan fiksasi abbocath dengan hansaplas

q) Hubungkan abbocath dengan selang infus

r) Buka klem pada selang infus, observasi adanya extravasasi

s) Fikasasi abocath dengan plester

t) Atur jumlah tetesan cairan infus sesuai dengan kebutuhan

u) Perhatikan reaksi pasien

v) Beri label ( yang berisi tanggal dan jam pemasangan) pada tempat

fiksasi

26
w) Rapikan pasien dan rapikan alat-alat

x) Perawat cuci tangan

y) Catat tindakan dalam dokumen keperawatan

C. Tinjauan Tentang Pasien

1. Pengertian Pasien

Menurut PMK No. 69 Tahun 2014 pasal 1 tentang Kewajiban Rumah

Sakit dan Kewajiban Pasien, pasien adalah setiap orang yang melakukan

konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang

diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pasien adalah orang sakit (yang

dirawat dokter) atau pasien adalah penderita (sakit). Ada beberapa macam

pasien :

a. Pasien opname/dalam/rawat inap adalah pasien yang memperoleh pelayanan

tinggal atau dirawat pada suatu unit pelayanan kesehatan tertentu; pasien

yang dirawat di rumah sakit atau pasien yang memperoleh pelayanan

kesehatan menginap dan dirawat di rumah sakit; pasien rawat inap.

b. Pasien jalan/luar adalah pasien yang hanya memperoleh layanan kesehatan

tertentu, tidak menginap pada unit pelayanan kesehatan.

2. Hak Pasien

Menurut PMK No. 69 Tahun 2014 (pasal 24 ayat 2) Tentang Kewajiban

Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien, hak-hak pasien meliputi:

a. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;

27
b. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi

dan standar prosedur operasional;

c. Memperoleh pelayanan yang efektif dan efesien sehingga pasien terhindar

dari kerugian fisik dan materi;

d. Memilih Dokter dan dokter Gigi serta kelas perawatan sesuai dengan

keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;

e. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada Dokter dan

Dokter Gigi lain yang mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) baik di dalam

maupun di luar Rumah Sakit;

f. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-

data medisnya;

g. Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan

medis, tujuan tindakan medis, alternative tindakan, risiko dan komplikasi

yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta

perkiraan biaya pengobatan;

h. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan

oleh Tenaga Kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;

i. Didampingi keluarga dalam keadaan kritis;

j. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama

hal tersebut tidak menganggu pasien lainnya;

k. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di

Rumah Sakit;

28
l. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap

dirinya;

m. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan

kepercayaan yang dianut;

n. Mendapatkan perlindungan atas rahasia kedokteran termasuk kerahasiaan

rekam medik;

o. Mendapatkan akses terhadap isi rekam medik;

p. Memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi bagian dalam suatu

penelitian kesehatan;

q. Menyampaikan keluhan atau pengaduan atas pelayanan yang diterima;

r. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai standar pelayanan

melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentua peraturan

perundang-undangan;

s. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga

memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata

ataupun pidana.

3. Kewajiban Pasien

Menurut PMK No. 69 Tahun 2014 (pasal 28) Tentang Kewajiban Rumah

Sakit dan Kewajiban Pasien, dalam menerima pelayanan dari Rumah Sakit

pasien mempunyai kewajiban:

a. Mematuhi peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;

b. Menggunakan fasilitas Rumah Sakit secara bertanggungjawab;

29
c. Menghormati hak-hak pasien lain, pengunjung dan hak Tenaga Kesehatan

serta petugas lainnya yang bekerja di Rumah sakit;

d. Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai kemampuan

dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;

e. Memberikan informasi mengenai kemampuan finansial dan jaminan

kesehatan yang dimilikinya;

f. Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan di

Rumah Sakit dan disetujui oleh pasien yang bersangkutan setelah

mendapatkan penjelasan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

g. Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak

rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan dan/atau tidak

mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan dalam rangka

penyembuhan penyakit atau masalah kesehatannya; dan

h. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

D. Tinjauan Dewasa

1. Dewasa

Dewasa, istilah dewasa berasal dari bahasa latin yaitu adultus yang berarti

tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi

dewasa. Seorang dikatakan dewasa apabila mampu menyelesaikan pertumbuhan

dan menerima kedudukan yang sama dalam masyarakat atau orang dewasa

lainnya. Para ahli psikologi berpendapat bahwa masa dewasa memiliki berbagai

30
masalah seperti masalah fisik,psikis, dan sosial (Pieter & Lubis, 2011). Secara

umum, masa dewasa dikelompokkan atas tiga bagian:

a. Dewasa dini (early adulthood) : 21 - 35 tahun

b. Dewasa madya (middle adulthood) : 35 – 45 tahun

c. Dewasa akhir (late adulthood) : 45 – < 60 tahun

Faktor resiko kesehatan bagi individu masa dewasa berasal dari komunitas,

gaya hidup, dan riwayat keluarga. Semua kebiasaan gaya hidup yang

mempengaruhi respons terhadap stress dapat meningkatkan risiko untuk

mendapatkan penyakit. Selain itu kebiasaan higiene personal, kematian dan

trauma akibat kekerasan, penyalahgunaan obat, kehamilan yang tidak

direncanakan, penyakit menular seks (PMS), dan faktor pekerjaan juga menjadi

penyebab timbulnya penyakit (Potter & Perry 2009).

31
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran

Pemasangan infus merupakan tindakan invasif karena meliputi fungsi vena

dimana fungsi vena adalah tekhnik yang mencakup penusukan vena melalui

transkutan dengan suatu jarum atau stilet tajam yang kaku, seperti angiokateter,

atau dengan jarum yang disambungkan pada spuit. Pemasangan infus harus

diterapkan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Standar operasional prosedur merupakan tata cara atau tahapan yang

dilakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja

tertentu. Dalam SOP pemasangan infus, terdiri dari dua tahapan yaitu tahap

persiapan alat dan tahap pelaksanaan yang harus diterapkan.

Penerapan atau psikomotor merupakan aplikasi dari adanya sikap yang

memerlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan.

B. Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen

Penerapan SOP Pemasangan Pada Pasien


Infus Dewasa di IGD
Fase Persiapan Alat

Fase Pelaksanaan

32
C. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen (bebas) yang termasuk dalam penelitian ini adalah Standar

Operasional Prosedur (SOP) pemasangan infus yang meliputi: tahap persiapan

alat dan tahap pelaksanaan.

2. Variabel Dependen (terikat) yang termasuk dalam penelitian ini adalah pasien

dewasa di IGD.

D. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Pasien yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua pasien dewasa berusia

21 sampai < 60 tahun yang masuk IGD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara tahun 2017.

2. Pemasangan infus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemasangan infus

yang dilakukan pertama kali pada pasien dewasa di IGD.

3. Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penelitian ini adalah

penerapan seluruh tahapan atau prosedur pemasangan infus yang ditetapkan di

RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kriteria objektif :

Ya : Jika semua tahapan SOP pemasangan infus fase persiapan dan

pelaksanaan diterapkan.

Tidak: Jika salah satu tahapan SOP pemasangan infuse fase persiapan dan

pelaksanaan tidak diterapkan.

33
4. Fase persiapan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tahapan atau prosedur

persiapan alat yang terdiri dari 15 tahapan sesuai dengan SOP pemasangan infus

RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara

Kriteria objektif :

Ya : Jika seluruh tahapan persiapan pemasangan infus diterapkan sesuai

dengan SOP.

Tidak : Jika salah satu dari tahapan persiapan pemasangan infus tidak diterapkan

sesuai dengan SOP.

5. Fase pelaksanaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tahapan atau

prosedur pelaksanaan pemasangan infus yang terdiri dari 25 tahapan sesuai

dengan SOP pemasangan infus RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kriteria objektif :

Ya : Jika seluruh tahapan pelaksanaan pemasangan infus diterapkan sesuai

dengan SOP.

Tidak: Jika salah satu dari tahapan pelaksanaan pemasangan infus tidak

diterapkan sesuai dengan SOP.

34
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan

observasional, yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk mengetahui suatu

gambaran secara obyektif mengenai Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP)

Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa di Ruangan IGD RSU Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara Tahun 2017.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 6 Juli sampai dengan 12 juli

2017.

2. Tempat penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Ruang IGD RSU Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara Tahun 2017.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2012).

35
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien dewasa yang masuk di IGD RSU

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 508 pasien dalam 1 bulan.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah yang dimiliki oleh populasi tersebut

(Sugiyono, 2012).

a. Besar Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien dewasa yang masuk di IGD RSU

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Besar sampel ditentukan apabila

subyek penelitian < 100 lebih baik di ambil semua sehingga penelitiannya

merupakan penelitian populasi. Tetapi jika jumlah subyeknya > 100 dapat

diambil 10-15 % atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 2006).

Jadi besar sampel dalam penelitian ini diambil 10% dari jumlah populasi,

sehingga 508 x 10% = 50,8 dibulatkan menjadi 51 pasien.

b. Tekhnik Pengambilan Sampel

Tekhnik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode

Assidental Sampling dimana pengambilan sampel dilakukan pada pasien

yang kebetulan ada pada saat penelitian berlangsung.

c. Kriteria Sampel

Kriteria sampel dalam penelitian ini terdiri dari:

36
1) Kriteria Inklusi

a) Pasien dewasa yang masuk di Ruang IGD RSU Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara saat penelitian berlangsung.

b) Pasien yang dilakukan pemasangan infus

c) Bersedia menjadi responden penelitian

2) Kriteria Ekslusi

a) Bukan pasien dewasa

b) Pasien yang tidak dilakukan pemasangan infus

c) Pasien yang tidak bersedia menjadi responden

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

1. Jenis Data

a. Data primer

Data primer dalam penelitian ini adalah data tentang observasi langsung

penerapan SOP pemasangan infus oleh tenaga medis yang terdiri dari fase

persiapan alat dan fase pelaksanaan.

b. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari instansi/medical record yang berhubungan

mengenai penelitian ini yaitu data jumlah perawat IGD, jumlah pasien

dewasa yang masuk IGD dalam 1 bulan, jumlah pemasangan infus dalam

setahun serta gambaran umum RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara.

37
2. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi

langsung dengan metode checklist kepada responden dengan menggunakan

daftar SOP pemasangan infus yang ada di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara dalam bentuk lembar observasi.

E. Pengolahan Data

Data yang telah dikumpul dari responden diolah dengan langkah – langkah

sebagai berikut:

1. Coding, yaitu kegiatan memberikan kode terhadap data dari bentuk huruf

menjadi angka yang berguna untuk memudahkan pada waktu memasukkan data.

2. Editing, yaitu memeriksa ulang kelengkapan data, kemungkinan kesalahan dan

kelengkapan jawaban responden.

3. Scoring, adalah memberi skor pada data yang telah dikumpulkan.

4. Tabulating, menyusun data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi setelah

dilakukan perhitungan data secara manual.

F. Analisa Data

Untuk mengetahui gambaran pemasangan infus pada pasien dewasa sesuai

standar operasional prosedur di RSU Bahteramas dengan menggunakan jenis analisa

data Univariate (analisa deskriptif). Menggunakan rumus sebagai berikut :

38
𝒇
𝑿= 𝐱 𝟏𝟎𝟎%
𝐧

Keterangan :

X = Presentase hasil yang dicapai (frekuensi relative)

f = Frekuensi kategori variabel yang di amati

n = Jumlah sampel penelitian

100% = Konstanta (Hidayat, 2009)

G. Penyajian Data

Penyajian data disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan grafik frekuensi

kemudian dinarasikan atau deskripsikan selanjutnya didapatkan kesimpulan

penelitian.

39
BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

a. Letak Geografis

Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum (RSUD)

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara, sejak tanggal 21 November 2012

pindah lokasi dari Jln. Dr. Ratulangi No. 151 Kelurahan Kemaraya

Kecamatan Mandonga ke Jln. Kapt. Piere Tendean No. 40 Baruga. Lokasi

ini sangat strategis karena mudah dijangkau dengan kendaraan umum.

Adapun batas-batas rumah sakit sebagai berikut:

a. Sebelah utara: Jalan Kapt. Piere Tendean

b. Sebelah Timur: Perumahan Penduduk

c. Sebelah Selatan: Perumahan Penduduk

d. Sebelah Barat: Balai Pertanian Provinsi

b. Lingkungan Fisik

Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum (RSUD)

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara berdiri di atas tanah seluas 17,5 Ha.

Luas seluruh bangunan adalah 53,269 m2, luas bangunan yang terealsasi

sampai dengan akhir tahun 2015 adalah 35,410 m2. Pengelompokkan

ruangan berdasatrkan fungsinya sehingga menjadi empat kelompok, yaitu

40
kelompok kegiatan pelayanan rumah sakit, kelompok kegiatan penunjang

medis, kelompok kegiatan penunjang non medis, dan kelompok kegiatan

administrasi

c. Sejarah dan Status Rumah Sakit

RSU Prov. Sulawesi Tenggara dibangun secara bertahap pada tahun

1969/1970 dengan sebutan “Perluasan Rumah Sakit Kendari” adalah milik

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dengan klasifikasi type C

berdasarkan SK Menkes No.51/Menkes/III/1979 tanggal 22 Februari 1979.

Susunan Struktur Organisasi berdasarkan SK Gubernur Provinsi Sulawesi

Tenggara No.77 tahun 1983 tanggal 28 Maret 1983.

Pada tanggal 21 Desember 1998., RSU Provinsi Sulawesi Tenggara

meningkat klasifikasinya menjadi type B (Non Pendidikan) sesuai dengan

SK Menkes No.1482/Menkes/SK/XII/1998, yang ditetapkan dengan Perda

No. 3 tahun 199. Kedudukan Rumah sakit Secara teknis berada di bawah

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara dan secara oprasional berada

di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur. Sesuai dengan

kebutuhan pendidikan medik di Sulawesi Tenggara maka sejak tahun 2013

RSU Bahteramas Prov. Sultra telah terakreditasi menjadi RS type B

Pendidikan.

Pada tanggal 18 Januari 2005, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara telah

terakreditasi untuk 5 pelayanan yaitu Administrasi Manajemen, Pelayanan

Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan dan Rekam

41
Medis sesuai dengan SK Dirjen Yanmed No. HK.00.06.3.5.139. Selanjutnya

Akreditasi 12 Pelayanan sesuai dengan SK Dirjen Yanmed No.

HK.00.06.3.5.139. Tanggal 31 Desember 2010, yang meliputi pelayanan

Administratif dan Manajemen, Pelayanan Medik, Pelayanan Gawat Darurat,

Pelayanan Keperawatan, Pelayanan Rekam Medis, Pelayanan Radiologi,

Pelyanan Farmasi, Pelayanan Laboratorium, Pelayanan Peristi, Pelayanan

Kamar Operasi, Pelayanan Pencegahan Infeksi, Pelayanan Keselamatan dan

Kesehatan Kerja.

Sesuai dengan Undang-Undang Rumah Sakit No. 44 tahun 2009 dan

untuk meningkatkan mutu pelayanan, maka RSU Prov Sultra telah menjadi

Badan Layanan Umum Daerah yang ditetapkan melalui Surat Keputusan

Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor: 635 Tahun 2010 tanggal 15 Oktober

2010. Pada tanggal 21 November 2012 RSU Prov. Sultra pindah lokasi dan

berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara (RSUD Bahteramas Prov.Sultra), yang diresmikan

penggunaanya oleh Mentri Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan RI,

Ir. H. Hatta Rajasa dan Gubernur Sulawesi Tenggara, H.Nur Alam SE. Pada

tahun 2013 telah terakreditasi menjadi Rumah sakit Pendidikan (SK Mentri

Kesehatan No. Tahun 2013).

d. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Bahteramas

RSU Provinsi Sulawesi Tenggara dalam memberikan pelayanan

kepada masyarakat mengacu pada Visi da Misi Pemerintah Daerah dan Visi

42
pembangunan Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, Visi RSUD Provinsi

Sulawesi Tenggara adalah “Rumah Sakit Unggulan Dalam Pelayanan

Kesehatan Rujukan, Pendidikan Dan Penelitian Di Sulawesi Tenggara

Tahun 2018”.

Untuk mencapai Visi yang telah ditetapkan tersebut Rumah Sakit

Umum Bahteramas mempunyai Misi sebagai berikut:

1) Meningkatkan pelayanan kesehatan prima berlandaskan etika profesi.

2) Menyelenggarakan pendidikan profesi Dokter, pendidikan kesehatan

lainnya serta pelatihan dan penelitian.

3) Pengembangan sarana dan prasarana untuk menunjang rumah sakit

pendidikan.

4) Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dan kesejahteraan

karyawan.

e. Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit

Tugas pokok dan fungsi RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara berdasarkan pada Perda No. 5 Tahun 2008 Tentang Susunan

Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah RSU Provinsi Sulawesi

Tenggara dan Pola Tata Kelola RSUD Prov. Sultra adalah melaksanakan

upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan

mengutamakan penyembuhan, pemulihan yang dilaksanakan secara serasi,

terpadu dengan upaya peningkatan serta pencegahan dan melaksanakan

upaya rujukan.

43
Untuk meyelenggarakan tugas pokok sebagaimana tersebut di atas,

RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai fungsi, yakni:

1) Menyelenggarakan pelayanan medik;

2) Menyelenggarakan pelayanan penunjang medik;

3) Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan;

4) Meyelenggarakan pelayanan rujukan;

5) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan;

6) Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan;

7) Menyelenggarakan administarsi umum dan keuangan;

8) Menyelenggarakan upaya promotif dan preventif.

f. Sarana dan Prasarana

1) Luas Lahan dan Bangunan

RSU Bahteramas Prov. Sultra dengan luas lahan 17 Ha, memiliki

17 bangunan fisk, yang sampai saat ini masih terus menerus di tambah

sesuai dengan master plan pengembangan rumah sakit. Luas seluruh

bangunan adalah 22.5577,38 m2, dan halaman parker seluas ± 1.500 m2.

Semua bangunan tingkat aktivitas yang sangat tinggi. Disamping

kegiatan pelayanan kesehatan kepada pasien, kegiatan yang tidak kalah

pentingnyaadalah kegiatan administrasi, pengelolaan makanan,

pemeliharaan atau perbaikan instalansi listrik dan air, kebersihan dan

lain-lain.

44
2) Prasarana

Prasarana rumah sakit antara lain terdiri dari:

a) Listrik dari PLN tersedia 1100 KVA dibantu dengan 2 unit genset (2

x 250 KVA).

b) Air yang digunakan di RSU Bahteramas berasal sumur dalam, sumur

bor dan PDAM

c) Sarana komunikasi berpa jaringan PABX dan jaringan internet.

d) Sentral Instalansi Oksigen Cair untuk ruangan yang membutuhkan.

e) System Alarm Kebakaran, Hidrant, dan Tabung Pemadam

Kebakaran di semua gedung.

f) Pembuang limbah: Limbah padat : insenerator dan Limbah cair :

IPAL

g. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara hingga 31 Desember 2015 berjumlah 789 orang yang merupakan

pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pegawai kontrak, terdiri atas tenaga medis,

paramedis dan non medis.

Jumlah keseluruhan tenaga masih belum memenuhi standar jumlah

tenaga untuk tipe Rumah Sakit Umum Pendidikan Kelas B. Beberapa tenaga

dengan keterampilan tertentu masih sangat diperlukan pada saat ini, sehingga

disamping permintaan tambahan tenaga, perlu juga pelatihan dan penelitian

45
formal lanjutan untuk staf RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tabel 5.1 Jenis dan Jumlah Ketenagaan RSU Bahteramas


Tahun 2011 Sampai Dengan 2017

Tahun
No Jenis Tenaga
2011 2012 2013 2014 2015
1. Tenaga Medis 62 50 71 70 68
Dokter Spesialis (S-2) 28 26 32 30 28
Dokter Umum (S-1) 30 20 35 37 37
Dokter Gigi (S-1) 4 4 4 3 3
2. Para Medis Perawatan 261 286 315 378 330
Sarjana (S-1 dan D-IV) 10 13 17 27 26
Akademi (D-III) 153 180 212 276 278
Diploma I (D-I) 18 16 16 3 3
SLTA 80 77 81 72 71
3. Para Medis Non 128 158 183 207 207
Perawatan
Pasca Sarjana (S-II) 15 16 18 20 22
Sarjana (S-1 dan D-IV) 54 62 72 83 78
Akademi (D-III) 32 43 61 76 81
Diploma (D-I) 13 17 11 11 10
SLTA 21 19 21 17 16
4. Non Medis 100 111 111 116 98
Sarjana (S-1) 17 21 22 27 27
Akademi (D-III) 2 3 15 6 4
SLTA 70 76 76 83 67
SLTP 6 7 7 0 1
SD 5 4 3 0 0
Total 549 617 700 771 703
Sumber: profil Rumah Sakit Umum Bahteramas Tahun 2017

46
h. Gambaran IGD RSU Bahteramas

Ruangan IGD (Instalasi Gawat Darurat) adalah ruangan dimana

tempat pasien ditindaki secara medis oleh dokter dan perawat. Ruangan ini

termasuk ruangan dimana keadaan pasien dengan resiko tinggi. Aktivitas di

ruangan IGD berbeda dengan ruang perawatan lainnya, karena di ruangan ini

merupakan tempat dimana pasien gawat darurat pertama kali ditangani oleh

para tenaga kesehatan, biasanya pasien yang masuk di ruangan IGD adalah

pasien kecelakaan, pasien penyakit dalam, pasien rujukan dari berbagi

daerah di Sulawesi Tenggara.

Ada 4 ruangan di IGD dimana pasien diberi tindakan yaitu ruangan

triase, ruangan bedah, dan ruangan non bedah serta terdapat ruang tindakan

untuk pasien kecelakaan yang mengalami luka-luka.

2. Variabel Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan mulai tanggal 6 Juli – 12

Juli 2017 dengan total sampel sebanyak 51 responden. Berdasarkan hasil

pengolahan data yang dilakukan, maka disajikan hasil penelitian sebagai berikut:

a. Karakteristik Responden

1) Jenis Kelamin Responden

Untuk mengetahui distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis

kelamin dapat dilihat dari tabel berikut:

47
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
di Ruang IGD Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara tahun 2017
No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

1. Laki-Laki 23 45,10

2. Perempuan 28 54,90

Jumlah 51 100

Sumber : Data Primer IGD RSU Bahteramas 2017

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa, sebagian besar

responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 28 orang (54,90%) dan

laki-laki sebanyak 23 orang (45,10%).

2) Umur responden

Untuk umur responden terdiri dari 3 kategori. Untuk lebih jelasnya

dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.3 Distribusi Umur Responden di Ruang IGD Rumah Sakit


Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017
No Umur Jumlah Persentase (%)

1. 21-35 Tahun 20 39,22

2. 36-45 Tahun 6 11,76

3. 46-59 Tahun 25 49,02

Jumlah 51 100

Sumber : Data Primer IGD RSU Bahteramas 2017

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 51 responden yang

diteliti, persentase tertinggi yaitu pada golongan umur dewasa akhir

48
46-59 tahun sebanyak 25 responden (49,02%), kemudian golongan umur

dewasa pemula 21-35 tahun sebanyak 20 responden (39,22%) dan

persentase terendah pada golongan umur dewasa madya 36-45 tahun

yaitu sebanyak 6 responden (11,76%).

b. Penerapan SOP Pemasangan Infus

1) Penerapan SOP Pemasangan Infus Fase Persiapan

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Penerapan SOP Pemasangan Infus


Fase Persiapan
No Fase Orientasi Frekuensi Persentase (%)

1. Diterapkan 22 43,14

2. Tidak Diterapkan 29 56,86

Jumlah 51 100

Sumber : Data Primer IGD RSU Bahteramas 2017

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 51 responden yang

diteliti, responden yang tidak diterapkan Pemasangan Infus sesuai SOP

pada fase persiapan adalah sebanyak 29 responden (56,86%) dan yang

diterapkan Pemasangan Infus sesuai dengan SOP pada fase persiapan

adalah sebanyak 22 responden (43,14%).

Deskrpsi penerapan SOP Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa

Di Ruangan IGD RSU Bahteramas pada fase persiapan secara visual

dapat digambarkan pada grafik berikut:

49
Grafik 5.1 Penerapan SOP Fase Persiapan
60
50
Responden
40
30
51 51 51 51 50 49 51
20 41 45 45 43

10 24 27 28 23 27 24 25 26
0 0 0 0 10 1 6 2 0 6 8
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Tidak Dilakukan Prosedur Fase Persiapan

Dilakukan x y

Berdasarkan grafik 5.1 penerapan SOP pemasangan infus pada fase

persiapan yang paling banyak tidak diterapkan pada responden yaitu pada

fase persiapan 8,9,10,7,5,15,11,14 dan 12.

2) Penerapan SOP Pemasangan Infus Fase Pelaksanaan

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Penerapan SOP Pemasangan Infus


Fase Pelaksanaan
No Fase Pelaksanaan Frekuensi Persentase (%)

1. Diterapkan 21 41,18

2. Tidak diterapkan 30 58,82

Jumlah 51 100

Sumber : Data Primer IGD RSU Bahteramas 2017

Beradasarkan tabel 5.5 di atas menunjukkan bahwa dari 51

responden yang diteliti, responden yang tidak diterapkan Pemasangan

Infus sesuai SOP pada fase pelaksanaan adalah sebanyak 30 responden

50
(58,82%) dan responden yang diterapkan Pemasangan Infus sesuai SOP

pada fase pelaksanaan adalah sebanyak 21 responden (41,18%).

Deskrpsi penerapan SOP Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa

Di Ruangan IGD RSU Bahteramas pada fase persiapan secara visual

dapat digambarkan pada grafik berikut:

Grafik 5.2 Penerapan SOP Fase Pelaksanaan


60
50
51 50 50 51 51 50 50 51 50 51 51 50 51 51 50
Responden

40 44 45 46
40 41
30 36
30 28 29 28
20 23 23
21 22
10 15
11 7 6 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 5 0 10 1
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
Tidak Dilakukan Prosedur Fase Pelaksanaan

Dilakukan x y

Berdasarkan grafik 5.2 penerapan SOP pemasangan infus pada fase

pelaksanaan yang tidak diterapkan pada responden yaitu terutama pada

fase pelaksanaan 9,22,13,1,16,2,24,3,4,6,7 dan 25.

51
3) Penerapan SOP Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa di IGD

RSU Bahteramas

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Penerapan SOP Pemasangan Infus


Di IGD RSU Bahteramas
No Penerapan SOP Pemasangan Frekuensi Persentase

Infus (%)

1. Diterapkan 21 41,18

2. Tidak diterapkan 30 58,82

Jumlah 51 100

Sumber : Data Primer IGD RSU Bahteramas 2017

Berdasarkan tabel 5.6 di atas menunjukkan bahwa secara

keseluruhan dari 51 responden yang diteliti, sebanyak 30 responden

(58,82%) tidak diterapkan Pemasangan Infus sesuai dengan SOP dan

sebanyak 21 responden (41,18%) yang diterapkan Pemasangan Infus

sesuai dengan SOP.

B. Pembahasan

Setelah dilakukan pengolahan data, penyajian data dan analisis data,

selanjutnya dilakukan pembahasan hasil penelitian masing-masing variabel.

1. Penerapan SOP Pemasangan Infus Fase Persiapan

Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi dari 51 responden yang

diteliti, frekuensi tertinggi yaitu sebanyak 29 responden (56,86%) tidak

diterapkan SOP pemasangan infus pada fase persiapan, sedangkan frekuensi

52
terendah yaitu sebanyak 22 responden (43,14%) yang diterapkan SOP

pemasangan infus pada fase persiapan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa dari

15 item aspek yang dinilai, sarana dan prasarana yang paling banyak tidak

disiapkan saat pemasangan infus yaitu emla cream dengan persentase

responden yang tidak diterapkan sebanyak 28 responden (54,90%), emla cream

merupakan cream yang digunakan untuk anestesi lokal sebelum operasi minor

seperti penggunaan jarum suntik atau prosedur pembedahan superficial dan

berfungsi untuk meringankan nyeri pada saat penusukan. Sehingga

ketidaktersediaan emla cream dapat menimbulkan nyeri yang dapat

mengganggu kenyamanan pasien.

Selanjutnya alat yang tidak dipersiapkan saat pemasangan infus yaitu

pengalas (perlak kecil) dengan persentase yang tidak diterapkan sebanyak 27

responden (52,94%), dimana fungsi pengalas dapat mencegah terjadinya

infeksi nosokomial yang berasal dari cairan tubuh pasien seperti darah serta

dapat menjaga kesterilan daerah yang akan dilakukan pemasangan infus,

sehingga jika alat ini tidak disiapkan maka tingginya kejadian infeksi pada

pemasangan infus dapat terjadi, kemudian bengkok dengan persentase yang

tidak diterapkan sebanyak 25 responden (49,01%), jika alat ini tidak disiapkan

maka sampah medis yang berasal dari pemasangan infus seperti jarum abocath

dapat saja melukai dokter atau perawat yang melakukan pemasangan infus hal

53
ini dapat disebut sebagai human eror yang bisa mengakibatkan terjadinya

infeksi nosokomial.

Sedangkan berdasarkan teori alat-alat yang harus digunakan berdasarkan

dalam SOP Pemasangan Infus yaitu sebanyak 15 alat (standar infus, cairan

yang akan diberikan, infus set, kapas alkohol, gunting, plester atau hipafix,

hansaplas, emla cream, pengalas atau perlak kecil, bengkok, tourniquet,

abocath, handschoon, alat cukur, dan bak instrument). Namun pada

kenyataanya saat penelitian sebagian besar penggunaan alat yang digunakan

tidak sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Bahteramas

sehingga hal ini dapat menyebabkan tingginya resiko infeksi nosokomial dan

terjadinya infeksi akibat dari pemasangan infus (flebitis) yang dampaknya bagi

pasien meningkatnya lama masa perawatan/length of stay (LOS) dan

menambah biaya perawatan di rumah sakit.

2. Penerapan SOP Pemasangan Infus Fase Pelaksanaan

Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi dari 51 responden yang

diteliti, frekuensi tertinggi sebanyak 30 responden (58,82%) tidak diterapkan

SOP pemasangan infus pada fase pelaksanaan, sedangkan frekuensi terendah

sebanyak 21 responden (41,18%) yang diterapkan SOP pemasangan infus pada

fase pelaksanaan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan masih tingginya frekuensi

perawat atau dokter yang tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah

melakukan tindakan pemasangan infus, berdasarkan hasil observasi terdapat

54
21 responden (41,17%) yang dilakukan pemasangan infus dengan tenaga medis

tidak mencuci tangan terlebih sebelum melakukan pemasangan infus, dan

sebanyak 10 responden (40%) yang dilakukan pemasangan infus dengan

tenaga medis tidak mencuci tangan setelah melakukan pemasangan infus.

Selain itu masih ada yang tidak menggunakan hanschoon atau

menggunakan hanschoon secara berulang kali antara pasien yang satu dengan

pasien yang lain. Kewaspadaan universal yaitu tindakan pengendalian infeksi

yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko

penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh

dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal dari pasien maupun

petugas kesehatan (Nursalam ,2007 dalam Irawati 2014). Hal ini menunjukk

bahwa kebersihan hanschoon dapat mencegah terjadinya flebitis, namun

berdasarkan hasil observasi kewaspadaan universal yang dilakukan tenaga

medis dan perawat dalam melakukan tindakan pemasangan infus belum sesuai

dengan apa yang telah diharapkan. Jika diuraikan bakteri dan virus yang telah

menempel di hanschoon sudah pasti menempel pula pada kapas alkohol yang

dipakai untuk desinfektan kulit pasien yang akan dipasang infus. Kapas alkohol

yang dipakai untuk membersihkan kulit sebelum infus dipasang dalam keadaan

kotor bagaimana kulit tersebut bisa dikatakan bersih bahkan steril dan siap

untuk dilakukan pemasangan infus.

Hal ini tentu dapat menyebabkan tingginya komplikasi akibat dari

pemasangan infus, salah satunya pasien yang terpasang infus akan mudah

55
mengalami flebitis akibat dari tindakan pemasangan infus yang tidak steril.

Seperti yang diungkapkan Hidayat (2008), ada beberapa hal yang harus

diperhatikan untuk mencegah komplikasi dari pemasangan infus salah satunya

yaitu menggunakan tekhnik sterilisasi dalam pemasangan infus.

Berdasarkan penelitian ini juga didapatkan bahwa dari 25 item aspek

yang dinilai, prosedur pelaksanaan yang paling banyak tidak diterapkan pada

responden yaitu tidak dipasangnya pengalas, dari 51 responden, sebanyak 28

responden (54,90%) tidak terpasang pengalas saat dilakukan pemasangan infus.

Perlak atau pengalas saat melakukan pemasangan infus adalah salah satu syarat

untuk terlaksananya pemasangan infus sesuai SOP, fungsi dari pengalas atau

perlak saat melakukan pemasangan infus adalah untuk melindungi daerah yang

akan terpasang infus dalam keadaan bersih dari kuman yang ada di tempat tidur

pasien. Menjaga tidak ada darah atau cairan tubuh yang terjatuh ditempat tidur

yang akan membuat bakteri atau virus berpindah dari satu tempat ke tempat

yang lain yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial.

Selanjutnya dari 25 item aspek yang dinilai prosedur pelaksanaan yang

paling banyak tidak diterapkan pada responden yaitu dari 51 responden

sebanyak 22 responden (43,13%) tidak diberikannya emla cream pada vena

yang akan ditusuk kemudian tidak memberi label (yang berisi tanggal dan jam

pemasangan) pada tempat fiksasi sebanyak 23 responden (45,09%).

56
3. Penerapan SOP Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa Di IGD RSU

Bahteramas

Berdasarkan hasil penelitian dari 51 responden, SOP pemasangan infus

tidak diterapkan sebanyak 30 responden (58,82%) sedangkan yang diterapkan

SOP Pemasangan infus sebanyak 21 responden (41,18%).

Pemasangan infus dikatakan sesuai dengan SOP jika seluruh tahapannya

pada fase persiapan dan fase pelaksanaan dilaksanakan, sedangkan berdasarkan

hasil observasi hanya sebagian dari fase persiapan dan fase pelaksanaan yang

diterapkan kepada responden

Peneliti berasumsi terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sehingga

penerapan SOP Pemasangan Infus pada pasien dewasa di IGD RSU

Bahteramas sebagian besar tidak diterapkan, karena pada fase persiapan

pemasangan infus hanya menggunakan alat yang dianggap penting atau utama

untuk digunakan seperti abocat, infus set, cairan infus, handscoon, kapas

alcohol, dan tiang infus. Dan pada fase pelaksanaan yang paling banyak tidak

diterapkan yaitu prosedur pemasangan pengalas/perlak kecil, hal ini ini

disebabkan karena pada fase persiapan pengalas/perlak kecil tidak disiapkan.

Menurut PMK No. 69 Tahun 2014 (Pasal 24 ayat 2) tentang kewajiban

rumah sakit dan kewajiban pasien salah satu hak pasien adalah memperoleh

layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar

prosedur operasional serta pasien berhak memperoleh pelayann yang efektif

dan efesien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi.

57
Oleh karena itu seharusnya pemasangan infus diterapkan sesuai dengan

SOP yang telah ditetapkan oleh pihak rumah sakit. Agar mencegah terjadinya

kerugian fisik dan materi pada pasien akibat dari komplikasi pemasangan infus

yang tidak sesuai SOP dan untuk menciptakan pelayanan yang bermutu serta

hak pasien dapat terpenuhi .

58
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian di atas yang berjudul Studi Penerapan Standar

Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Infus Pada Pasien Dewasa Di IGD RSU

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara dapat ditarik kesimpulan bahwa dari 51

orang pasien yang dijadikan sampel umunya sebagian kecil telah diterapkan SOP

pemasangan infus di IGD Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara dengan penjabaran:

1. Secara kesuluruhan Penerapan standar operasional prosedur (SOP)

pemasangan infus pada pasien dewasa di IGD Rumah Sakit Umum Bahteramas

Provinsi Sulawesi Tenggara, dari total 51 pasien yang dijadikan obyek

penelitian, yang tidak diterapkan SOP Pemasangan Infus sebanyak 30

responden (58,82%) dan yang diterapkan SOP pemasangan infus sebanyak 21

responden (41,18%).

2. Penerapan standar operasional prosedur (SOP) pemasangan infus pada pasien

dewasa di IGD Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara,

dari total 51 pasien yang dijadikan obyek penelitian, yang tidak diterapkan

SOP pemasangan infus sebanyak 29 responden (56,86%) dan yang diterapkan

SOP pemasangan infus fase persiapan sebanyak 22 responden (43,14%).

3. Penerapan standar operasional prosedur (SOP) pemasangan infus pada pasien

dewasa di IGD Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara,

59
dari total 51 pasien yang dijadikan obyek penelitian, yang tidak diterapkan

Pemasangan Infus sesuai SOP pada fase pelaksanaan adalah sebanyak 30

responden (58,82%) dan yang diterapkan SOP pemasangan infus fase

pelaksanaan sebanyak 21 responden (41,18%).

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian diatas maka peneliti sarankan:

1. Bagi rumah sakit

a. Agar lebih meningkatkan penerapan SOP pemasangan infus, yang secara

keseluruhan tindakan pemasangan infus di RSU Bahteramas masih

sebagian kecil diterapkan sesuai SOP yang telah ditetapkan.

b. Bagi sebagian besar yang belum menerapkan pemasangan infus sesuai

dengan SOP untuk dilakukannya sosialisasi kepada seluruh tenaga medis

yang berkaitan dengan pemasangan infus agar dapat menerapakan SOP

pemasangan infus secara benar. Dan bagi yang telah menerapkan agar

tetap dipertahankan serta di beri reward oleh pihak rumah sakit sehingga

dapat terciptakanya pelayanan yang maksimal dan berkualitas kepada

masyarakat.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Untuk menekankan kepada mahasiswa agar selalu memperhatikan dan

menerapkan SOP di setiap prosedur tindakan keperawatan.

60
3. Bagi Peneliti

Adanya hal-hal yang kurang dalam penelitian ini bisa menjadi bahan oleh

peneliti lain agar meneliti lebih lanjut dengan variabel penelitian yang lebih

luas.

61
LAMPIRAN 1

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth,
Bapak/Ibu Responden
di-
Tempat

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan, maka saya :

Nama : Ni Wayan Sintia Dewi

Nim : P00320014032

Sebagai mahasiswa Politehnik Kesehatan Kemenkes Kendari Jurusan


Keperawatan, bermaksud akan melaksanakan penelitian berjudul “Studi Penerapan
Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Infus Pada Paisen Dewasa di
IGD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara”.

Sehubungan dengan hal itu, mohon kesediaan bapak/ibu untuk meluangkan


waktu menjadi responden dalam penelitian ini, Anda berhak untuk menyetujui atau
menolak menjadi responden. Apabila setuju, maka bapak/ibu dipersilahkan untuk
mendatangani surat persetujuan responden ini.

Atas kesediaan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, sebelumnya


diucapkan terima kasih.

Peneliti,

Ni Wayan Sintia Dewi


LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3

LEMBAR OBSERVASI
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN INFUS
DI RUANG IGD RSU BAHTERAMAS TAHUN 2017

A. Identitas Responden
Nama responden : No. urut:
Jenis kelamin : Tanggal Obseravsi :
Umur :

B. Variabel Penelitian
1. Fase persiapan
DILAKUKAN
NO PROSEDUR YA TIDAK

1. Standar Infus

2. Cairan yang akan diberikan


3. Infus set atau blood set
4. Kapas alcohol 70% alcohol swab
5. Gunting
6. Plester/hipafix
7. Hansaplas
8. Emla
9. Pengalas (perlak kecil)
10. Bengkok
11. Tourniquet
12. Surflo atau abocath
13. Handscoon
14. Alat cukur
15. Bak instrument
Jumlah
LAMPIRAN 3

2. Fase Pelaksanaan

DILAKUKAN
NO PROSEDUR
YA TIDAK
1. Cuci tangan (sesuai dengan SOP Cuci tangan)
2. Salam dan kenalkan nama petugas
3. Identifikasi pasien (sesuai dengan SPO identifikasi pasien)
4. Jelaskan kepada pasien/keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
5. Pasang infus set ke botol infus dengan cara: infus set diklem dulu
kemudian tusukkan ke botol infus, gantung cairan pada standart infus
dengan ketinggian kurang lebih 1 m dari tempat penusukan. Isi tabung
pengontrol (pada slang infus) sesuai batas. Klem dibuka penuh sampai
cairan memenuhi seluruh slang.
6. Atur posisi pasien
7. Kenakan hand scoon
8. Tentukan vena yang akan ditusuk (dimulai dari vena bagian distal)
9. Pasang pengalas
10. Cukur daerah yang akan dipasang infus yang banyak rambutnya,
dilakukan pencukuran dulu*
11. Pasang torniquet
12. Desinfeksi area yang akan ditusuk arahnya melingkar keluar dimulai
dari area tengah ke tepi dengan alcohol sweep dengan diameter 5-10 cm
13. Beri emla cream pada vena yang akan ditusuk, tunggu 3 s/d 5 menit
14. Tusuk jarum infus/abbocatch pada vena yang telah ditentukan
15. Lepaskan torniquet
16. Lakukan fiksasi abbocatch dengan hansaplas
17. Hubungkan abocatch dengan slang infus
18. Buka klem pada slang infus, observasi adanya extravasasi/ rembesan
19. Fiksasi abbocatch dengan plester
20. Atur jumlah tetesan cairan infus sesuai dengan kebutuhan
21. Perhatikan reaksi pasien
22. Beri label (yang berisi tanggal dan jam pemasangan) pada tempat
fiksasi
23. Rapikan pasien dan rapikan alat-alat
24. Perawat cuci tangan
25. Catat tindakan dalam dokumen keperawatan
Jumlah

Kendari Juni 2017


LAMPIRAN 4
LAMPIRAN 5
LAMPIRAN 6
LAMPIRAN 7
TABULASI DATA HASIL PENELITIAN
STUDI PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN INFUS PADA PASIEN DEWASA
DI IGD RSU BAHTERAMAS PROV. SULTRA MULAI TANGGAL 6 - 12 JULI 2017

A. FASE PERSIAPAN

Tanggal Nama SOP PEMASANGAN INFUS Kriteria


JK Umur (THN)
No Fase Persiapan Diterapkan
Observasi Res.
L P 21-35 36-45 46-59 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Ya Tidak
1 6/7/2017 Tn. Al √ 21 √ √ √ √ √ √ √ x x x √ √ √ √ x √
2 7/7/2017 Tn. L √ 52 √ √ √ √ x √ x x x x x x √ √ √ √
3 7/7/2017 Ny. M √ 31 √ √ √ √ x √ √ x x x x √ √ √ √ √
4 7/7/2017 Ny. Am √ 59 √ √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √
5 7/7/2017 Ny. AA √ 59 √ √ √ √ √ √ √ x x x √ √ √ √ √ √
6 7/7/2017 Ny. Asy √ 50 √ √ √ √ √ √ x x x x x √ √ √ √ √
7 7/7/2017 Ny. Ast √ 35 √ √ √ √ √ √ x x x x x √ √ √ √ √
8 7/7/2017 Tn. B √ 53 √ √ √ √ x √ x x x x x x √ √ √ √
9 7/7/2017 Ny. H √ 57 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
10 7/7/2017 Tn. M √ 50 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
11 7/7/2017 Tn. L √ 50 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ x √
12 7/7/2017 Tn. R √ 42 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
13 7/7/2017 Tn. Y √ 36 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
14 7/7/2017 Ny. WR √ 49 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
15 7/7/2017 Ny. W √ 52 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
16 8/7/2017 Tn. S √ 55 √ √ √ √ x √ x x x √ √ √ √ x √ √
17 8/7/2017 Tn. J √ 36 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ x x √
18 8/7/2017 Tn. E √ 44 √ √ √ √ x √ √ x x √ √ √ √ √ √ √
19 8/7/2017 NY. S √ 23 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
20 9/7/2017 Ny. M √ 59 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ √ √ √
21 9/7/2017 Ny. R √ 23 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ √ √ √
22 9/7/2017 Tn. J √ 53 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ x √ √
23 9/7/2017 Tn. H. H √ 55 √ √ √ √ x x x x x x √ √ √ x x √
24 9/7/2017 Ny. K √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
25 9/7/2017 Tn. O √ 28 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √
26 9/7/2017 Tn. A √ 45 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
LAMPIRAN 7
Tanggal Nama SOP PEMASANGAN INFUS Kriteria
JK Umur (THN)
No Fase Persiapan Diterapkan
Observasi Res.
L P 21-35 36-45 46-59 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Ya Tidak
27 9/7/2017 Ny. W.M √ 59 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
28 9/7/2017 Tn. T.Y √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
29 9/7/2017 Ny. W √ 45 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
30 10/7/2017 Tn. H √ 28 √ √ √ √ √ √ x x √ √ √ √ √ √ √ √
31 10/7/2017 Ny. E √ 27 √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √
32 10/7/2017 Ny. As √ 28 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
33 10/7/2017 Ny. U √ 53 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
34 10/7/2017 Tn. B √ 51 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
35 10/7/2017 Tn. H √ 24 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
36 10/7/2017 Ny. R √ 21 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √
37 10/7/2017 Tn. MN √ 56 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √
38 10/7/2017 Ny. S √ 24 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √
39 10/7/2017 Ny. T √ 46 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
40 10/7/2017 Ny. A √ 25 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √
41 10/7/2017 Ny. W √ 54 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ x √
42 10/7/2017 Ny. I √ 57 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
43 10/7/2017 Tn. H √ 25 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ x √
44 10/7/2017 Ny. S √ 56 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
45 10/7/2017 Ny. MN √ 55 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ x √
46 11/7/2017 Ny. Hj. I √ 54 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
47 11/7/2017 Ny. KR √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
48 11/7/2017 Tn. B √ 47 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
49 11/7/2017 Tn. A √ 32 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √
50 11/7/2017 Tn. W √ 28 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ x √ √
51 12/72017 Ny. RP √ 22 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ x x √
Total 23 28 20 6 25 22 29
Persentase % 45,10 54,90 39,22 11,76 49,02 43,14 56,86
LAMPIRAN 7
B. FASE PELAKSANAAN

Tanggal Nama SOP PEMASANGAN INFUS Kriteria


JK Umur (THN)
No Fase Pelaksanaan Diterapkan
Observasi Res.
L P 21-35 36-45 46-59 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Ya Tidak
1 6/7/2017 Tn. Al √ 21 x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √
2 7/7/2017 Tn. L √ 52 x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √
3 7/7/2017 Ny. M √ 31 x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √
4 7/7/2017 Ny. Am √ 59 x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √
5 7/7/2017 Ny. AA √ 59 √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √
6 7/7/2017 Ny. Asy √ 50 x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x x √
7 7/7/2017 Ny. Ast √ 35 x √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √
8 7/7/2017 Tn. B √ 53 x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √
9 7/7/2017 Ny. H √ 57 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
10 7/7/2017 Tn. M √ 50 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
11 7/7/2017 Tn. L √ 50 x x x x √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ √ √
12 7/7/2017 Tn. R √ 42 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
13 7/7/2017 Tn. Y √ 36 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
14 7/7/2017 Ny. WR √ 49 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
15 7/7/2017 Ny. W √ 52 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
16 8/7/2017 Tn. S √ 55 √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ √ √
17 8/7/2017 Tn. J √ 36 x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √
18 8/7/2017 Tn. E √ 44 x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √
19 8/7/2017 NY. S √ 23 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
20 9/7/2017 Ny. M √ 59 x √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √
21 9/7/2017 Ny. R √ 23 √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ x √ √
22 9/7/2017 Tn. J √ 53 x x √ √ √ √ x √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √
23 9/7/2017 Tn. H. H √ 55 x √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ x x √ √ √ √
24 9/7/2017 Ny. K √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
25 9/7/2017 Tn. O √ 28 x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √
26 9/7/2017 Tn. A √ 45 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
27 9/7/2017 Ny. W.M √ 59 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
28 9/7/2017 Tn. T.Y √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
29 9/7/2017 Ny. W √ 45 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
30 10/7/2017 Tn. H √ 28 √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ x x √ √ √ √
31 10/7/2017 Ny. E √ 27 x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
32 10/7/2017 Ny. As √ 28 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
33 10/7/2017 Ny. U √ 53 x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √
34 10/7/2017 Tn. B √ 51 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
35 10/7/2017 Tn. H √ 24 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
36 10/7/2017 Ny. R √ 21 √ √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ x √ x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √
LAMPIRAN 7
LAMPIRAN 8
MASTER TABEL
STUDI PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN INFUS PADA PASIEN DEWASA DI IGD RSU BAHTERAMAS PROV.SULTRA

SOP PEMASANGAN INFUS Penerapan SOP


Tanggal Nama Jenis
Umur (THN) Kriteria Kriteria Pemasangan Infus
No Fase Persiapan Fase Pelaksanaan
Kelamin Diterapkan Diterapkan Diterapkan
Observasi Res.
L P 21-3536-4546-59 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 ya tidak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 ya tidak Ya Tidak
1 6/7/2017 Tn. Al √ 21 √ √ √ √ √ √ √ x x x √ √ √ √ x √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
2 7/7/2017 Tn. L √ 52 √ √ √ √ x √ x x x x x x √ √ √ √ x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
3 7/7/2017 Ny. M √ 31 √ √ √ √ x √ √ x x x x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
4 7/7/2017 Ny. Am √ 59 √ √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
5 7/7/2017 Ny. AA √ 59 √ √ √ √ √ √ √ x x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
6 7/7/2017 Ny. Asy √ 50 √ √ √ √ √ √ x x x x x √ √ √ √ √ x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x x √ √
7 7/7/2017 Ny. Ast √ 35 √ √ √ √ √ √ x x x x x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
8 7/7/2017 Tn. B √ 53 √ √ √ √ x √ x x x x x x √ √ √ √ x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
9 7/7/2017 Ny. H √ 57 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
10 7/7/2017 Tn. M √ 50 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
11 7/7/2017 Tn. L √ 50 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √
12 7/7/2017 Tn. R √ 42 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
13 7/7/2017 Tn. Y √ 36 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
14 7/7/2017 Ny. WR √ 49 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
15 7/7/2017 Ny. W √ 52 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
16 8/7/2017 Tn. S √ 55 √ √ √ √ x √ x x x √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √
17 8/7/2017 Tn. J √ 36 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ x x √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
18 8/7/2017 Tn. E √ 44 √ √ √ √ x √ √ x x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √
19 8/7/2017 NY. S √ 23 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
20 9/7/2017 Ny. M √ 59 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
21 9/7/2017 Ny. R √ 23 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ x √ √ √
22 9/7/2017 Tn. J √ 53 √ √ √ √ x √ x x x x √ √ √ x √ √ x x √ √ √ √ x √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
23 9/7/2017 Tn. H. H √ 55 √ √ √ √ x x x x x x √ √ √ x x √ x √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ x x √ √ √ √ √
24 9/7/2017 Ny. K √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
25 9/7/2017 Tn. O √ 28 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
26 9/7/2017 Tn. A √ 45 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
27 9/7/2017 Ny. Wm √ 59 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
28 9/7/2017 Tn. T.Y √ 21 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
LAMPIRAN 8

SOP PEMASANGAN INFUS Penerapan SOP


Tanggal Nama Jenis
Umur (THN) Kriteria Kriteria Pemasangan Infus
No Fase Persiapan Fase Pelaksanaan
Kelamin Diterapkan Diterapkan Diterapkan
Observasi Res.
L P 21-35 36-4546-59 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 ya tidak 1 2 3 4 5 6 78 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 ya tidak Ya Tidak
29 9/7/2017 Ny. W √ 45 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
30 10/7/2017 Tn. H √ 28 √ √ √ √ √ √ x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ x √√ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ x x √ √ √ √ √
31 10/7/2017 Ny. E √ 27 √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
32 10/7/2017 Ny. As √ 28 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
33 10/7/2017 Ny. U √ 53 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x x √ √ √ √ √√ x √ √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
34 10/7/2017 Tn. B √ 51 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
35 10/7/2017 Tn. H √ 24 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
36 10/7/2017 Ny. R √ 21 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √√ x √ √ √ x √ x √ √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
37 10/7/2017 Tn. MN √ 56 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √ x x x √ √ √ √√ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ x x √ √ √ √ √
38 10/7/2017 Ny. S √ 24 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √ √ √ x x √ √ √√ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √
39 10/7/2017 Ny. T √ 46 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
40 10/7/2017 Ny. A √ 25 √ √ √ √ √ √ x x x x √ √ √ √ √ √ x x √ √ √ √ √√ x √ √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ √ √ x √ √ √
LAMPIRAN 8
LAMPIRAN 9
LAMPIRAN 10

DOKUMENTASI KEGIATAN PENELITIAN

Saat melakukan observasi penerapan SOP Pemasangan Infus pada pasien dewasa