Anda di halaman 1dari 2

Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada

tubuh,misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang


terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang
menyala .Korban dapat mengusahakannya dengan cepat
menjatuhkan diri dan berguling agar bagian pakaian yang
terbakar tidak meluas .kontak dengan bahan yang panas juga
harus cepat di akhiri ,misalnya dengan mencelupkan bagian
yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin ,atau
melepaskan baju yang tersiram air panas.
Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan
adalah merendam daerah luka bakar dalam air atau
menyiramnya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya
lima belas menit.Upaya pendinginan ini,dan upaya
mempertahankan suhu dingin pada jam pertama akan
menghentikan proses koagulasi protein sel dijaringan yang
terpajan suhu tinggi yang akan terus berlangsung walaupun api
telah dipadamkan ,sehingga destruksi tetap meluas.Oleh karena
itu ,merendam bagian -bagian yang terbakar selama lima belas
menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan
suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil
,luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat berhenti pada
derajat satu,atau luka yang akan menjadi tingkat tiga dihentikan
pada tingkat dua atau satu.Pencelupan atau penyiraman dapat
dilakukan dengan air apa saja yang dingin,tidak usah steril.
Pada luka bakar ringan,prinsip penanganan utama adalah
mendinginkan daerah yang terbakar dengan air,mencegah
infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk
berproliferasi,dan menutup permukaan luka.Luka dapat dirawat
secara tertutup dan terbuka.
Pada luka bakar luas dan dalam ,pasien harus segera dibawa
kerumah sakit terdekat yang punya tenaga terlatih dan unit luka
bakar yang memadai untuk penanganan luka bakar
tersebut.Dalam perjalanan penderita sudah dilengkapi dengan
infuse dan penutup kain yang bersih serta mobil ambulans atau
sejenisnya yang bisa membawa penderita dalam posisi tidur
(Telentang/telungkup).
Walaupun terdapat trauma penyerta,luka bakarlah yang paling
berpotensi menimbulkan mortalitas dan morbiditas.Jika trauma
penyerta yang lebih berpotensi tinggi menimbulkan mortalitas
dan morbiditas,pasien distabilkan terlebih dahulu ditrauma
center sebelum ditransfer ke unit luka bakar.
Pasien anak sebaiknya tidak dirawat dirumah sakit yang tidak
memiliki petugas dan fasilitas pelayanan pediatric yang
memadai,demikian juga penderita luka bakar yang memerlukan
penanganan khusus masalah emosional dan sosial atau
memerlukan tindakan rehabilitative khusus.
Pada luka bakar berat,selain penanganan umum seperti pada
luka bakar ringan,kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila
penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita
menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas ,diberikan
campuran udara lembab dan oksigen.Kalau terjadi udem laring
,dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi.Trakeostomi
berfungsi untuk membebaskan jalan napas,mengurangi ruang
mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau
kotoran .Bila ada dugaan keracunan CO,segera diberikan
oksigen murni.
Luka akibat asam hidrofluorida perlu dilavase(cuci bilas)
sebanyak-banyaknya dan diberi gel kalsium glukonat
tropical.Pemberian kalsium sistemik juga diperlukan karena
asam hidrofluorida mengendapkan kalsium pada luka bakar.
Perawaan local adalah mengoleskan luka dengan antiseptic dan
membiarkannya terbuka untuk perawatan terbuka atau
menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan
tertutup.Kalau perlu ,penderita dimandikan dahulu.