Anda di halaman 1dari 20

METODOLOGI PENELITIAN

Field Research Methodology

Oleh:
Putu Genta Ananda Este Bagus 1605521033

Program Studi Arsitektur


Fakultas Teknik
Universitas Udayana
2019
Field Research Methodology
Pengertian Penelitian Lapangan (Field Research)
Menurut Kenneth D. Bailey (1994:254) istilah studi lapangan merupakan
istilah yang sering digunakan bersamaan dengan istilah studi etnografi
(ethnographic study atau ethnography). Lawrence Neuman (2003:363) juga
menjelaskan bahwa penelitian lapangan juga sering disebut etnografi atau
panelitian participant observation. Akan tetapi, menurut Neuman etnografi
hanyalah merupakan perluasan dari penelitian lapangan. Etnografi mendefinisikan
kembali bagaimana penelitian lapangan harus dilakukan. Menurut Roice Singleton
(1988:308), penelitian lapangan berasal dari dua tradisi yang terkait yakni
antropologi dan sosiologi, dimana etnografi merupakan studi antropologi dan
etnometodologi merupakan studi sosiologi. Etnografi memberikan jawaban atas
pertanyaan apakah budaya suatu kelompok individu, sedangkan etnomethodologi
memberikan jawaban atas bagaimanakah orang memahami kegiatan mereka
sehari-hari sehingga mereka dapat berprilaku dengan cara yang diterima secara
sosial.
Penelitian lapangan merupakan penelitian kualitatif di mana peneliti
mengamati dan berpartisipasi secara langsung dalam penelitian skala sosial kecil
dan mengamati budaya setempat. Banyak mahasiswa senang dengan penelitian
lapangan karena terlibat langsung dalam pergaulan beberapa kelompok orang
yang memiliki daya tarik khas. Tidak ada matematika yang menakutkan atau
statistik yang rumit, tidak ada hipotesis deduktif yang abstrak. Sebaliknya, adanya
interaksi sosial atau tatap muka langsung dengan orang-orang yang nyata dalam
suatu lingkungan tertentu.
Dalam penelitian lapangan, peneliti secara individu berbicara dan
mengamati secara langsung orang-orang yang sedang ditelitinya. Melalui interaksi
selama beberapa bulan atau tahun mempelajari tetang mereka, sejarah hidup
mereka, kebiasaan mereka, harapan, ketakutan, dan mimpi mereka. Peneliti
bertemu dengan orang atau komunitas baru, mengembangkan persahabatan, dan
menemukan dunia sosial baru, hal ini sering dianggap menyenangkan. Akan
tetapi, penelitian lapangan juga memakan waktu, menguras emosi, dan kadang-
kadang secara fisik berbahaya.
Kapan sebaiknya kita menggunakan penelitian lapangan? Penelitian
lapangan dilakukan ketika pertanyaan penelitian mencakup belajar tentang,
memahami, atau menggambarkan interaksi sekelompok orang. Hal ini biasanya
dilakukan jika pertanyaannya adalah: Bagaimana orang Y di dunia sosial? atau
Seperti apakah dunia sosial dari X? Hal ini dapat digunakan ketika metode lain
(misalnya, survei, eksperimen) dianggap tidak praktis. Douglas menyatakan
bahwa sebagian dari apa yang peneliti sosial benar-benar ingin belajar, dapat
dipelajari hanya melalui keterlibatan langsung seorang peneliti di lapangan.
Secara sederhana Metode pengamatan penelitian lapangan (field
research) dapat didefinisikan yaitu secara langsung mengadakan pengamatan
untuk memperoleh informasi yang diperlukan, misalnya ketika peneliti ingin
meneliti bagaimana peran opinion leader dalam suku tertentu menggiring
audience-nya untuk mempercayai hal-hal tertentu. Hal ini menggunakan metode
field research guna mendapatkan hasil yang akurat dan pasti, dimana peneliti ikut
tinggal, bergaul dan melakukan kegiatan sosial lainnya demi mendapatkan
kesimpulan yang sesuai dari apa yang ada dilapangan.
Studi Lapangan (Field Research) adalah pengumpulan data secara
langsung ke lapangan dengan mempergunakan teknik pengumpulan data sebagai
berikut :
a. Observasi
Observasi menurut Guba dan Lincoln, ada beberapa alasan mengapa
dalam penelitian kualitatif, observasi/pengamatan dimanfaatkan sebesar-besarnya:
Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung. Tampaknya
pengamatan langsung merupakan alat yang ampuh untuk mengetes suatu
kebenaran. Jika suatu data yang diperoleh kurang meyakinkan, biasanya peneliti
ingin menanyakannya kepada subyek, tetapi karena ia hendak memperoleh
keyakinan tentang keabsahan data tersebut, jalan yang ditempuh adalah
mengamati sendiri yang berarti mengalami langsung peristiwanya. Teknik
pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian
mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan
sebenarnya. Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi
yang berkaitan dengan pengetahuan proposisional maupun pengetahuan yang
langsung diperoleh dari data. Sering terjadi ada keraguan pada peneliti, jangan-
jangan pada data yang dijaringnya ada yang “menceng” atau bias. Teknik
pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi yang rumit.
Dalam kasus-kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak
dimungkinkan, pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. (Guba
dan Lincoln, 1981: 191-193). Observasi, yaitu : mengadakan pengamatan
terhadap obyek yang diteliti. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi
tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan. Dengan observasi
dapat kita peroleh gambaran yang lebih jelas tentangkehidupan sosial, yang sukar
diperoleh dengan metode lain. Observasi ini dilakukan oleh peneliti yang
bertindak sebagai orang luar atau pengamat, dengan tujuan untuk lebih memahami
dan mendalami masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sosial dan
dokumen lainnya yang berkaitan dengan proses penelitian.
b. Wawancara
Menurut Black & Champion yaitu: “Wawancara adalah teknik penelitian
yang paling sosiologis karena bentuknya yang berasal dari interaksi verbal antara
peneliti dan responden dan juga cara yang paling baik untuk menentukan kenapa
seseorang bertingkah laku, dengan menanyakan secara langsung.” (Black &
Champion, 1992: 305). Wawancara, yaitu mengadakan aktivitas tanya jawab
secara langsung kepada responden.
c. Studi Dokumentasi
Dokumentasi Menurut McDonough dan Garrett yaitu : “Dokumentasi
adalah merupakan sejumlah bahan bukti yang terekam/tercatat yang
memperlihatkan karakteristik-karakteristik dari sebagian atau semua dari suatu
sistem manajemen, termasuk di dalamnya : seluruh berkas bahan bukti tentang
pilihan-pilihan ataupun keputusan-keputusan yang pernah dibuat sebelumnya
selama pengkajian suatu sistem.”(maksudnya, pembinaan dan pengembangan
sistem informasi manajemen). (McDonough dan Garrett, 1992: 2).
Dalam studi dokumentasi dapat diartikan sebagai pencatatan atau
perekaman suatu peristiwa/obyek yang dilanjutkan dengan kegiatan penelusuran
lebih lanjut serta pengolahan atasnya sehingga menjadi sekumpulan/seberkas
bahan bukti yang perlu dibuat dan ditampilkan kembali bila diperlukan pada
waktunya, ataupun sebagai pelengkap atas laporan yang sedang disusunnya.
Ilmu dokumentasi itu sendiri semula berasal dari ilmu perpustakaan, dan
mungkin saja ia dapat dipandang sebagai bagian dari ilmu perpustakaan itu sendiri
dalam artian yang luas. Banyak teknik yang digunakan oleh para pustakawan
dipandang esensial oleh para dokumentalis, walaupun pada tahap perkembangan
selanjutnya oleh para dokumentalis diberikan penekanan-penekanan yang jauh
berbeda dari yang semula. Yang telah menjadi pokok argumentasinya adalah: para
dokumentalis, terutama sekali. Tidak berkepentingan atas penanganan buku-buku,
pamflet, dan bahan sejenisnya sebagai unit-unit, tetapi mereka lebih banyak
berkepentingan atas penyusunan/pengolahan informasi yang terkandung dalam
dokumen-dokumen itu sendiri bersama-sama dengan data-data dari sumber-
sumber informasi lainnya untuk dijadikan suatu kumpulan data/informasi yang
baru.

Studi Kasus
Dapat dikatakan bahwa studi kasus bukan merupakan metode ilmiah
yang spesifik melainkan lebih merupakan suatu metode yang lazim diterapkan
untuk memberikan penekanan pada spesifikasi dari unit–unit atau kasus–kasus
yang diteliti. Dengan kata lain, metode ini berorientasi pada sifat – sifat unik
(casual) dari unit–unit yang sedang diteliti berkenaan dengan permasalahan –
permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Patton (2004: 447) melihat bahwa
studi kasus merupakan upaya mengumpulkan dan kemudian mengorganisasikan
serta menganalisis data tentang kasus–kasus tertentu berkenaan dengan
permasalahan–permasalahan yang menjadi perhatian peneliti untuk kemudian data
tersebut dibandingkan atau dihubung–hubungkan satu dengan yang lainnya
(dalam hal lebih dari satu kasus) dengan tetap berpegang dalam perinsip holistik
dan kontekstual. Disini yang dapat diangkat menjadi kasus mungkin adalah
individu, keluarga, kelompok organisasi, institusi nilai atau corak budaya atau
bahkan wilayah. Penerapan studi kasus sebagaimana yang lazim adalah
menggunakan metode standar seperti observasi, interview, Focus Group
Discussion (FGD) atau penggabungan dari metode–metode itu.
Dalam konteks penelitian komunikasi, studi kasus memiliki karakter
dinamis di dalam penggunaannya untuk memperoleh gambaran mengenai
berbagai persoalan menarik dalam kehidupan sosial. Dalam kaitan ini, studi kasus
memiliki semacam keistimewaan yakni bukan hanya studi kasus dalam penelitian
komunikasi dikembangkan sesuai dengan yang sudah sejak lama digunakan dalam
studi sosiologis dan antropologis melainkan studi kasus dalam penelitian
komunikasi juga digunakan untuk meneliti gejala–gejala humaniora. Dalam
hubungan ini studi kasus misalnya digunakan untuk melacak nilai – nilai yang
terkandung dalam berbagai bentuk naskah cerita seperti novel dan drama. Lacakan
terhadap teknik – teknik retorika yang dikembangkan oleh para elit kekuasaan dan
tokoh – tokoh masyarakat juga dapat dilakukan dengan menggunakan studi kasus
ini, misalnya mencermati penggunaan bahasa seperti metafor, ironi, parado,
anekdot, dan eufeminisme.
Studi kasus adalah sebuah eksplorasi dari “suatu sistem yang terikat”
atau “suatu kasus/beragam kasus” yang dari waktu ke waktu melalui
pengumpulan data yang mendalam serta melibatkan berbagai sumber informasi
yang “kaya” dalam suatu konteks. Sistem terikat ini diikat oleh waktu dan tempat
sedangkan kasus dapat dikaji dari suatu program, peristiwa, aktivitas atau suatu
individu. Dengan perkataan lain, studi kasus merupakan penelitian dimana peneliti
menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan
(program, event, proses, institusi atau kelompok sosial) serta mengumpulkan
informasi secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur
pengumpulan data selama periode tertentu.
Studi kasus berguna apabila seseorang/peneliti ingin memahami suatu
permasalahan atau situasi tertentu dengan amat mendalam dan dimana orang
dapat mengidentifikasi kasus yang kaya dengan informasi , kaya dalam pengertian
bahwa sua tu persoalan besar dapat dipelajari dari beberapa contoh fenomena dan
biasanya dalam bentuk pertanyaan. Studi kasus pada umumnya berupaya untuk
menggambarkan perbedaan individual atau variasi “unik” dari suatu
permasalahan. Suatu kasus dapat berupa orang, peristiwa, program, insiden
kritis/unik atau suatu komunitas dengan berupaya menggambarkan unit dengan
mendalam, detail, dalam konteks dan secara holistik. Untuk itu dapat dikatakan
bahwa secara umum, studi kasus lebih tepat digunakan untuk penelitian yang
berkenaan dengan how atau why.

Fenomenologi
Kalangan fenomenologi memandang bahwa tindakan bahwa tingkah laku
manusia, yaitu apa yang dikatakan dan dilakukan seseorang, sebagai produk dari
cara orang tersebut menafsirkan dunianya. Tugas ahli fenomenologi dan ahli
metodologi kualitatif adalah menangkap proses interprestasi ini. Untuk melakukan
hal itu diperlukan apa yang disebut Weber Verstehen, yaitu pengertian empatik
atau kemampuan untuk mengeluarkan dalam pikirannya sendiri, perasaan, motif
dan pikiran-pikiran yang ada dibalik tindakan orang lain. Untuk dapat memahami
arti tingkah laku seseorang, ahli fenomenologi berusaha memandang sesuatu dari
sudut pandang orang lain (Bogdan & Taylor, 1975).
Fenomenologi tidak menganggap dirinya tahu apa makna sesuatu bagi
orang-orang yang dipelajarinya. “Penyelidikan fenomologis bermula dari “diam”.
Keadaan “ diam” ini merupakan upaya untuk menangkap apa gerangan yang
sedang dipelajari. Dengan demikian, apa yang ditekankan kaum fenomologi
adalah segi subjektif tingkah laku orang. Fenomenolog berusaha untuk bisa masuk
kedalam dunia konseptual subjek penyelidikan (Geerz, 1973) agar dapat
memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subjek tersebut disekitar
kejadian-kejadian dalam kehidupan kesehariannya. Fenomenologi berkepercayaan
bahwa bagi manusia ada banyak cara penafsiran pengamalan yang tersedia bagi
kita masing-masing melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa makna dari
pengalaman itulah yang membentuk kenyataan atau realitas. Sebagai akibatnya,
kenyataan itu “bentukan sosial”. Jadi, tujuan dari semua paham fenomenologi
yang beragam sifatnya pada dasarnya sama,yakni memahami subjek dari sudut
pandang subjek sendiri (Bogdan & Bikken, 1982:24).
Fenomenologi pada dasarnya adalah sebuah tradisi yaitu tradisi
pengkajian yang digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman manusia.
Fenomenologi adalah suatu tradisi untuk mengeksplorasi pengalaman manusia.
Dalam konteks ini diasumsikan bahwa manusia aktif memahami dunia
disekelilingnya sebagai sebuah pengalaman hidupnya dan aktif
menginterpretasikan pengalamannya tersebut yang dapat disederhanakan bahwa
fenomenologi berasumsi bahwa setiap manusia secara aktif menginterpretasikan
pengalaman dengan memberikan makna atas suatu yang dialaminya, dengan kata
lain pemahaman adalah suatu tindakan kreaif dan bersifat subjektif. Satu hal lagi
yang ditekankan dalam fenomenologi adalah bahwa objek dan peristiwa tersebut
dilihat dalam perspektif manusia itu sendiri. Dan analisis atas kehidupansehari –
hari dilakukan dari sudut pandang orang yang hidup dalam kehidupannya sendiri.
Setiap makhluk hidup pasti punya interpretasi berbeda atas kehidupannya masing
– masing meski sekalipun mereka hidup dalam satu keluarga akan tetapi cara
mereka menginterpretasikan dunia disekeliling mereka berbeda.
Metode fenomenologi ini terrmasuk kedalam metode penelitian kualitatif
yang cenderung bersifat deskriptif dimana fenomenologi dapat memberikan
peluang bagi peneliti untuk menggali informasi pengalaman manusia. Dibanding
metode lain, salah satu metode yang menggunakan paradigma konstruktifistik ini
lebih memberikan fleksibilitas dan kemudahan membangun konstruksi sosial
realitas. Metode ini dapat memberikan informasi yang kaya atas realitas yang
diteliti, mungkin secara teoritik sulit dipahami akan tetapi sebenarnya lebih mudah
untuk dilakukan. Untuk cara pengumpulan datanya dalam metode fenomenologi
dapat dengan melakukan wawancara selain itu diikuti dengan data sekunder yakni
observasi.

Etnometodologi
Pendekatan ini dikembangkan oleh Harold Garfinkel pada tahun 1967
dengan mengajukan pertanyaan: bagaimanakah orang memahami kegiatan sehari
– hari sehingga perilakunya dapat diterima oleh masyarakat? Berbeda dengan
penyelidikan hueristis yang memperhatikan pengalaman intens, entnometodologi
lebih memerhatikan hal yang begitu lumrahnya dalam kehidupan sehari–hari
sehingga tidak pernah terpikirkan secara mendalam oleh para pelakunya. Berakar
dalam fenomenologi, etnometodelogi berusaha memahami akal sehat yang
digunakan oleh sekelompok manusia untuk dapat berfungsi dalam suatu
kelompok yang hendak mencapai suatu tujuan tertentu.
Perspektif ini pada dasarnya menunjuk pada persoalan yang akan diteliti,
sebagaimana yang diceritakan oleh Harold Garfinkel, istilah etnometodologi
dijumpainya ketika ia mempelajari arsip silang budaya di Yale yang memuat kata-
kata seperti etnobotani, etnofisika, etnomusik, dan etnoastronomi. Beberapa istilah
tersebut mempunyai arti sebagaimana para warga suatu kelompok tertentu
(biasanya kelompok suku yang terdapat di arsip Yale) memahami, menggunakan,
dan menata segi-segi lingkungan mereka; dalam hal etnobotani, subjek atau pokok
kajiannya adalah tanaman. Dengan demikian, etnometodologi berarti studi tentang
bagaimana orang-orang menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari.
Subjek bagi etnometodologi bukan hanya warga suku primitif. Mereka adalah
orang-orang dari berbagai situasi didalam masyarakat kita sendiri (Bogdan &
Biklen, 1982:30).
Untuk membuktikan kompleks dan tidak lumrahnya suatu gejala,
etnometodologi menggunakan teknik sengaja melanggar pola keseharian yang
berlaku dan dari reaksi terhadap pelanggaran itu mencoba memahami
kompleksitasnya. Dengan begitu metode pengumpulan datanya dapat dengan
studi kasus setelah itu dibantu dengan data sekunder berupa wawancara dan
observasi.
Etnometodologi tidak menunjukkan kepada metode penelitian, tetapi
pada persoalan-persoalan penyelidikan, yaitu cara (metodologi yang digunakan)
orang untuk memahami situasi tempat mereka berada.bagi ahli etnometodologi,
arti suatu tindakan selalu tidak jelas dan merupakan persoalan bagi oarang-orang
dalam situasi tertentu. Tugas ahli etnometodologi adalah menyelidiki bagaimana
cara orang menetapkan kaidah-kaidah abstrak dan pengertian akal sehat dalam
berbagai situasi sehingga tindakan tersebut kelihatan rutin, dapat diterangkan, dan
tidak meragukan. Dengan demikian, arti itu adalah penyelesaian praktis yang
dilakukan oleh warga suatu masyarakat (Bogdan & Taylor, 1975).
Untuk memperjelas pengertian akal sehat tersebut kita dapat mengambil
contoh apa yang telah dilakukan oleh Jack Douglas. Ia telah menyelidiki proses
yang digunakan oleh koroner (pegawai yang memeriksa sebab-sebab kematian
seseorang) untuk menentukan suatu kematian sebagai akibat bunuh diri. Ia
mencatatbahwa untuk menentukan hal itu, koroner harus menggunakan pengertian
akal sehat (yaitu “apa yang diketahui oleh setiap orang”) tentang alasan orang
bunuh diri sebagai dasar menetapkan adanya unsur kesengajaan. Koroner tersebut
mengumpulkan beberapa pertanda (misalnya, bukti bahwa seseorang bersedih
karena kehilangan pekerjaannya) sehingga sampai kepada sebuah kesimpulan
dengan kata-kata “bunuh diri karena berbagai sebab praktis”. Penyelidikan lain
yang dilakukan oleh D. Lawrence Wieder menyelidiki bagaimana “pecandu
narkoba” disuatu rumah diluar kota menggunakan “kode etik narapidana”. Yaitu
Aksioma seperti “jangan mencuri” dan “bantulah penghuni yang lain”, guna
menerangkan, membenarkan, dan mempertanggungjawabkan tingkah laku
mereka. Ia memberikan contoh bagaimana para penghuni memberitahukan dan
menerapkan kode etik itu pada situasi khusus jika mereka diminta untuk
menerangkan alasan tindakan mereka. Dengan demikian, lewat penyelidikan
terhadap hal-hal yang didasarkan pada pikiran sehat, ahli etnometodologi berharap
dapat mengerti cara orang melihat, melukiskan, dan menerangkan tata dunia yang
mereka tinggali ini (Bogdan & Taylor, 1975).

Interaksi Simbolik
Asumsi dalam pandangan perspektif interaksi simbolik adalah
pengalaman manusia diperoleh dengan perantara interpretasi (Blumer dalam
Rulam Ahmadi (2014:48)). Benda (objek), orang, situasi, dan kejadian itu tidak
memiliki maknanya sendiri. Bogdan & Taylor (1975) juga menyatakan bahwa
orang selalu berada dalam proses interpretasi dan definisi sewaktu mereka beralih
dari satu situasi ke situasi lain. Beberapa situasi ada yang sudah dikenal baik dan
mungkin merupakan hal yang baru ditemui satu kali saja. Semua situasi itu terdiri
atas pelaku, orang lain dan tindakannya, dan objek fisik. Bagaimanapun juga,
suatu situasi hanya dapat mempunyai makna lewat interpretasi dan definisi orang
mengenai situasi tersebut. Sementara itu, tindakan orang tersebut berasal dari
makna ini. Jadi, proses interpretasi berfungsi sebagai perantara bagi setiap
kecendrungan untuk bertindak disamping juga sebagai tindakan itu sendiri. Untuk
bisa memahami tingkah laku orang, kita harus memahami definisi dan proses
terbentuknya. Manusia itu selalu aktif menciptakan dunianya maka memahami
persimpangan biografi dan masyarakat menjadi esensial (Geertz dan Millis, 1953).
Karena berbagai sebab, setiap peserta memandang (memberikan definisi
mengenai) situasi atau aspek dari situasi itu (yakni pelaku itu sendiri, pelaku yang
lain) dengan cara yang berlainan. Salah satu sebab tersebut adalah setiap pelaku
membawa masa lalunya yang unik dan mempunyai cara tersendiri pula untuk
menafsirkan apa yang dilihatnya. Tentu semua peserta dalam satu situasi mungkin
mempunyai pandangan yang sama terhadap situasi tersebut, atau beberapa peserta
yang menempati posisi sama mungkin memandang hai itu dengan cara yang
berbeda. Disamping itu, faktor-faktor lain (misalnya, latar belakang budaya, jenis
kelamin, pendidikan/ latihan yang diperoleh) mungkin juga dapat mempengaruhi
perspektif peserta tersebut.
Bagian lain yang terpenting teori interaksi sosial adalah konstruk
tentang “diri sendiri” (self). Diri sendiri tidak dipandang terletak didalam individu
seperti ego atau kebutuhan, motif, dan norma-norma atau nilai-nilai yang
terinternalisasi. Diri adalah definisi yang diciptakan orang (melalui interaksinya
dengan orang lain) mengenai siapa dirinya. Dalam membentuk atau
mendefiniskan diri, orang berusaha melihat dirinya sebagaimana orang-orang lain
melihat dia dengan menafsirkan gerak isyarat dan perbuatan yang ditunjukkan
kepadanya dan dengan jalan menempatkan dirinya pada peranan orang lain.
Pendeknya, kita memandang diri kita sendiri sebagian sebagaimana orang-orang
lain memandang kita. Dengan demikian, konstruksi sosial merupakan hasil dari
mempersepsi diri sendiri dan kemudian menyusun definisi melalui proses
interaksi (Bogdan & Bikken, 1998:27).
Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer,
proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan
kehidupan kelompok. Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada
dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Mereka
tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan
apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga
pengaruh yang ditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku
pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi sosial. Penganut interaksi simbolik
berpandangan, perilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari interpretasi
mereka atas dunia disekeliling mereka, jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu
dipelajari atau ditentukan, sebagaimana dianut oleh teori behavioristik atau teori
struktural. Alih-alih, perilaku dipilih sebagai hal yang layak dilakukan
berdasarkan cara individu mendefinisikan situasi yang ada.
Interaksi simbolik termasuk ke dalam salah satu dari sejumlah tradisi
penelitian kualitatif yang berasumsi bahwa penelitian sistematik harus dilakukan
dalam suatu lingkungan yang alamiah dan bukan lingkungan artifisial seperti
eksperimen. Secara lebih jelas Denzin dalam Mulyana (2002:149) mengemukakan
tujuh prinsip metodologis berdasarkan teori interaksi simbolik, yaitu :
1. Simbol dan interaksi harus dipadukan sebelum penelitian tuntas.
2. Peneliti harus mengambil perspektif atau peran orang lain yang bertindak
(the acting other) dan memandang dunia dari sudut pandang subjek, namun
dalam berbuat demikian peneliti harus membedakan antara konsepsi realitas
kehidupan sehari-hari dengan konsepsi ilmiah mengenai realitas tersebut.
3. Peneliti harus mengaitkan simbol dan definisi subjek hubungan sosial dan
kelompok- kelompok yang memberikan konsepsi demikian.
4. Setting perilaku dalam interaksi tersebut dan pengamatan ilmiah harus
dicatat.
5. Metode penelitian harus mampu mencerminkan proses atau perubahan,
juga bentuk perilaku yang yang statis.
6. Pelaksanaan penelitian paling baik dipandang sebagai suatu tindakan
interaksi simbolik.
7. Penggunaan konsep-konsep yang layak adalah pertama-tama mengarahkan
(sensitizing) dan kemudian operasional, teori yang layak menjadi teori
formal, bukan teori utama (grand theory) atau teori menengah (middle
theory), dan proposisi yang dibangun menjadi interaksional dan universal.
Dari penjelasan diatas bahwa dapat disimpulkan interaksionisme simbolik
dapat menggunakan observasi sebagai data premiernya dan wawancara dapat
ditambahkan sebagai data sekundernya.

Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok
sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku,
kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah
penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang
terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat
dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan
anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap
perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.
Metode ini cenderung meneliti suatu kebudaayan di sebuah wilayah
tertentu, apa yang dilakukan masyarakat dan apa tujuannya mereka melakukan hal
tersebut. hal ini ditegaskan dalam pernyataan bahwa secara historis, penelitian
etnografi telah mengembangkan suatu perhatian untuk memahami pandangan
dunia dan cara hidup manusia dalam konteks pengalaman hidup sehari – hari
merka (Crang dan Cook, 2007:37). Secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau
laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil
penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi,
baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian dianggap
sebagai asal-usul ilmu antropologi. Margareth Mead (1999) menegaskan,
“Anthropology as a science is entirely dependent upon field work records made by
individuals within living societies".
Istilah etnografi kerap digunakan untuk menunjukkan dua hal yang
sebenarnya berbeda yakni (a) Metode Penelitian dan (b) hasil laporan penelitian
atau kajian. Dalam arti metode istilah etnografi biasanya diartikan sebagai
“fieldwork conducted by a single investigator who lives with and lives like whose
who are studies, usually for a year or more”. Penelitian lapangan, kata lain dari
metode observasi – terlibat, yang dilakukan oleh seorang peneliti yang untuk itu ia
tinggal bersama dan hidup sebagaimana layaknya orang – orang yang diteliti,
untuk waktu satu tahun atau lebih.
Dalam arti hasil penelitian, etnografi berarti “the written respresentation of
a culture” (suatu bentuk laporan tertulis mengenai suatu kebudayaan). Kendati
demikian, secara umum istilah etnografi biasa dipakai untuk menunjuk “a study of
the culture that a given group of people more or less share” (studi tentang
kebudayaan yang ada pada kelompok masyarakat tertentu). Terdapat tiga moment
(tahap kegiatan yang berbeda) pada etnografi: (a)Kegiatan Pengumpulan
Informasi atau data mengenai suatu kebudayaan yang diteliti, (b) penyusunan
laporan etnografi dan (c) bacaan dan penerimaan (reading and reception) karya
etnografi oleh khalayak yang relevan dan beraneka ragam. Para ilmuwan sosial
biasanya lebih tertarik pada yang pertama.
Contoh menggunakan metode etnografi adalah berkenaan dengan dampak
televisi terhadap nilai – nilai kehidupan orang lokal didaerah Nanggroe Aceh
Darussalam. Dalam hal ini lebih mengkaji dengan sisi bagaimana kebudayaan
mereka menerima dan menginterpretasikannya kedalam kebudayaan mereka.

Biografi
Penelitian biografi merupakan penelitian mengenai kehidupan seseorang
dan pengalamannya yang dianggap penting dan bermanfaat bagi masyarakat
umum maupun komunitas tertentu yang dituliskan kembali dengan
mengumpulkan dokumen, arsip-arsip, keterangan dari orang yang ditulis
biografinya maupun keterangan dari orang lain yang mengetahui tentang orang
yang ditulis. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap epipani yaitu pengalaman
menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Data yang
diperoleh diinterpretasi oleh si peneliti seolah-olah peneliti sedang menuliskan
pengalaman dirinya sendiri.
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang
dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan
penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu
pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang.
Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya
sendiri.
Biografi merupakan riwayat hidup tokoh yang ditulis oleh orang lain baik
tokoh tersebut masih hidup atau sudah meninggal. Sedangkan riwayat hidup yang
ditulis sendiri disebut otobiografi. (Daud, Safari, 2013). Dalam menganalisis data
pada penelitian biografi dilakukan langkah-langkah berikut:
1. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti
tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap
kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis
atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan;
2. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode;
3. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis;
4. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang
dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut;
5. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi
sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah,
kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu;
6. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang
berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan
dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.
Pada daur hidup seseorang, kelahiran sampai kematian, ada banyak
kejadian yang dialami oleh individu. Pengalaman ini merupakan unsur yang
sangat menarik untuk diketahui, dengan metode Biografi pengalaman yang
terakumulasi direkam dan dipaparkan. Inilah yang membuat Biografi merupakan
sejarah individual menyangkut tahapan kehidupan dan pengalaman seseorang
yang dialami dari waktu ke waktu.
Terdapat dua macam biografi yaitu portrayal (portrait) dan scientific
(ilmiah). Biografi dalam potret portrayal menurut Kunto adalah kategori biografi
dalam potret hanya mencoba memahami, kecenderungan metode biografi ini pada
makna memahami sang tokoh sekaligus memberi makna. Biografi scientific
menurut Kunto merupakan usaha menerapkan tokoh berdasarkan analisis ilmiah
dengan penggunaan konsep-konsep tertentu sehingga menjadi sejarah yang
menerangkan.
Dalam ranah komunikasi, Biografi dapat dilakukan dalam penelusuran
tokoh dan pemikirannya sekaligus, yang mempengaruhi komunikasi baik secara
keilmuan maupun praktek komunikasi. Bahan yang digunakan dalam metode
biografi ini adalah dokumen (termasuk surat-surat pribadi), wawancara, tidak
hanya dengan orang yang bersangkutan, tetapi juga dengan orang yang
disekelilingnya dan lainnya.

Grounded Research
Pengertian grounded research merupakan suatu metode penelitian yang
mendasarkan diri kepada fakta dan menggunakan analisis perbandingan yang
bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep,
membuktikan teori dan mengembangkan teori ketika pengumpulan data dan
analisis data berjalan pada waktu bersamaan (Nazir dalam Andi Prastowo
(2011:65)). Dari definisi ini, dapat kita lihat bahwa metode yang digunakan
dalam grounded research merupakan reaksi metode penelitian yang pada
dasarnya digunakan untuk memverifikasi teori. Grounded research adalah
metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan teori. Sumber
teorinya adalah data tersebut. Dengan demikian, teori disebut grounded karena
berdasarkan data.
Metode grounded research menghasilkan teori yang disebut grounded theory.
Dalam metode ini, digunakan pendekatan grounded theory, yaitu suatu
pendekatan kualitatif yang memiliki maksud pokok untuk mengembangkan teori
berdasarkan data empiris, bukan membangun teori secara deduktif logis
(Muhadjir, 2000:121). Jadi, pendekatan grounded theory bukan hanya
merupakan teoritis abstrak. Menurut Moleong (2006:30) dalam Andi Prastowo
(2011:66) ada empat kriteria pokok untuk suatu penelitian grounded research,
yaitu sebagai berikut :
1. Hal itu harus sesuai dengan fenomena
2. Diperoleh dari berbagai macam data
3. Dipercaya dari segi kenyataan sehari-hari dibidangnya
4. Hal itu harus menyediakan pemahaman dan harus komprehensif
terhadap orang-orang yang diteliti maupun yang lainnya yang terlibat
5. Hal itu harus menyediakan kesimpulan umum (dengan catatan, data itu
komprehensif)
6. Interpretasinya konseptual dan luas
7. Teori memasukkan variasi ekstensif di bidangnya
8. Hal itu menyediakan pengawasan (dalam hal ini menyediakan kondisi
dimana teori diaplikasikan dan menyediakan landasan untuk tindakan di
bidangnya)
Menurut Nazir (1988:88),terdapat tujuh tujuan metode Grounded Research, yaitu :
1. Untuk mengadakan generalisasi empiris
2. Untuk menetapkan konsep-konsep
3. Untuk membuktikan teori
4. Untuk mengembangkan teori
5. Untuk menentukan sampai seberapa jauh suatu kasus berlaku umum
Ciri khas Grounded research adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan data sebagai sumber teori
2. Peranan data dalam penelitian ini lebih ditonjolkan
3. Pemilihan sampel mengarah ke pemilihan kelompok atau sub kelompok
yang akan memperkaya penemuan ciri-ciri utama
4. Pengumpulan data dan analisis data berjalan pada waktu yang bersamaan
5. Hubungan teori dan tesis terletak pada terisinya data secara penuh pada tesis
substantif
Menurut Nazir dalam Andi Prastowo (2011:72) prosedur kerja utama dalam
metode
grounded research terdiri atas empat langah sebagai berikut :
1. Menentukan masalah yang ingin diselidiki
2. Mengumpulkan data
3. Menganalisis dan menjelaskannya
4. Pembuatan laporan penelitian

Referensi Pustaka :
Kothari, C.R. 2004. Research Methodology : Methods and Techniques ( Second Revised Edition).
New Delhi: New Age International (P) Ltd, Publishers
Ratodi, Muhamad. 2014. Metode Perancangan Arsitektur Edisi 1. Nulisbuku
Gulo, W. 2000. Metodologi Penelitian. Penerbit Grasindo
Siyoto, Sandu. 2015. Dasar Metodologi Penelitian. Karanganyar : Literasi Media Publishing
Mishra, Shanti B & Alok, Shashi. 2017. Handbook of Research Methodology : A Compendium for
Scholars & Researchers. New Delhi :Educreation Publishing
Laksito, Boedhi. 2014. Metode Perencanaan & Perancangan Arsitektur. Cibubur : Griya Kreasi
( Penebar Swadaya Grup )
Ashadi dkk. 2018. Penerapan Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Penelitian
Arsitektur. Arsitektur UMJ Press

Nama : Putu Genta Ananda Este Bagus


NIM : 1605521033
Jurusan : Teknik Arsitektur Reguler
Semester / Tahun : VI ( Genap ) / 2018 - 2019

Resume Review Makalah


Mahasiswa yang melakukan review :
Nama : Erwin Trisnajaya Karthana
NIM : 1605521018

Mahasiswa yang direview :


Nama : Putu Genta Ananda Este Bagus
NIM : 1605521033
Judul Paper : Information Technology pada Arsitektur
Resume :
Pada karya paper ini, penulis menuliskan tentang apa itu field research
serta beberapa metode penelitian yang bisa dilakukan yang masih berhubungan
dengan kategori field research dalam metodologi penelitian. Makalah ini juga
menyampaikan beberapa cara data bisa diperoleh dari pelaksanaan field research,
yaitu dari observasi, wawancara, ataupun studi dokumentasi. Selain itu dijelaskan
beberapa kategori metode field research, yaitu, Studi Kasus, Fenomenologi,
Etnometodologi, Interaksi Simbolik, Etnografi, Biografi, dan Grounded Research.
Keunggulan dari paper ini adalah dijelaskan beberapa macam dari metode
peneltian dengan cara field research serta sifat – sifatnya, sedangkan
kekurangannya terletak pada kurangnya tata cara dari masing – masing metode
field research

Paper Review

Mahasiswa yang melakukan review :


Nama : Putu Genta Anada Este Bagus
NIM : 1605521033

Mahasiswa yang direview :


Nama : Erwin Trisnajaya Karthana
NIM : 1605521018
Judul Paper : Penelitian Kuantitatif Dalam Arsitektur

Resume :
Pada karya paper ini, penulis menuliskan tentang metode penelitian
lapangan mulai dari pengertian hingga langkah-langkah melakukannya, serta
contoh kasus penelitian lapangan dalam dunia arsitektur.
Penelitian lapangan adalah suatu penelitian kualitatif di mana peneliti
mengamati dan berpartisipasi secara langsung dalam penelitian skala sosial kecil
dan mengamati budaya setempat. Tujuan dilaksanakan field research antara lain
peserta didik memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya dan
dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya
jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan
yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum.
Metode penelitian lapangan terdapat komponen-komponen, dasar dalam
pemilihan lokasi penelitian, bagaimana partisipasi peneliti dalam suatu penelitian
lapangan, serta langkah-langkah melakukan metode ini. Kemudian makalah ini
juga membahas tentang macam-macam metode penelitian lapangan, hal-hal yang
perlu diperhatikan saat menjalankan metode tersebut, dan jenis-jenis catatan
lapangan. Dalam melakukan penelitian lapangan, terdapat permasalahan yang
timbul seperti aspek waktu, biaya, etika, objektivitas Peneliti, dan masalah-
masalah lainnya. Makalah ini juga memberikan sebuah contoh kasus penelitian
lapangan di bidang arsitektur, yaitu “Penelitian Lapangan Dalam Arsitektur –
Penelitian Lapangan Tentang Arsitektur Vernakular”.